Memori dan PJJ Online


Jika ingin re-memori, kira-kira ketika TK hingga kelas 2 SD, apa yang masih kita ingat dari pelajaran sekolah? Materi-materi ajar kah? Sepertinya tidak. Bagi aku sendiri, memori yang paling diingat ketika TK adalah punya teman yang suka jahil, pulang sekolah botol minum tumpah di seragam jadi dikira ngompol. Sedangkan ketika kelas 1 SD, memori yang paling diingat adalah ketika "cabut" pergi ke pasar jum'at ketika jam pelajaran  ke-3 (setelah jam istirahat) 😂😂. Dan juga, ketika buku tugas matematikaku (yang bahkan topik pelajarannya aja sudah lupa tentang apa) direbut seorang teman (yang sampai saat ini masih kuingat namanya) lalu dicontek, setelah itu diludahin oleh yang bersangkutan. Sangat mengesalkan kan? Waktu kelas 1 SD caturwulan 1 pun, aku tidak mengerti apa itu arti peringkat 1 di kelas. Kekekeke... 

Saat pandemi ini yang mengharuskan anak belajar online, menurutku tidak perlu "memaksakan" anak harus paham semua pelajaran apalagi untuk usia TK, usia pendidikan dasar awal (kelas 1 , 2). Belajar dari pengalaman, bahwasannya hampir semua pelajaran itu kita lupa saat ini. Kita juga lupa kapan persisnya kita benar-benar bisa membaca dengan lancar. Jangan sampai karena anak belum paham lalu kita kesal dan marah-marah. Sebab, bisa jadi ... belasan tahun kemudian yang tersisa diingatan anak bukan apa yang kita ajarkan melainkan tentang kita yang marah-marah ketika PJJ online. 

Jika pun ingin mengajarkan, ajarkanlah ketika kita dan anak sama-sama dalam kondisi happy. Ketika happy, in shaa Allah mereka lebih mudah menerima dan juga memahami tanpa tekanan. Semoga suatu saat yang mereka kenang adalah ketika mereka bahagia belajar bersama bundanya. Bukan momen marah-marahnya. 

Dan lagi, bukan karena kepiawaian kita mengajarkan sehingga anak menjadi mengerti dan paham. Sungguh, Allah-lah yang menanamkan ilmu di hati dan fikiran anak-anak kita. Mengajarkan; hanyalah sebuah wasilah saja. Maka, sudah semestinya yang pertama kita lakukan sebelum mengajarkan adalah mendo'akan mereka agar Allah menganugrahkan rizki kepahaman dan ilmu yang bermanfaat untuk mereka.

#NtMS
Read More

Sushi Super Simpel

Sushi yang benar-benar simpel. Isinya cuma udang tempura ekekekeke. Tapi, ini snack kesukaannya anak-anak. Gampang banget ma shaa Allah. Tinggal ngegulung nasi+udang tempura di atas selembar nori, trus potong deh. Sederhana banget. Alhamdulillah. 

Kadang anak-anak itu maunya sederhana aja yaa. Emaknya aja yang bikin dan mikir ribet. 😂

Read More

Suka Duka Belajar Online

Kayaknya sekarang setiap emak-emak sedunia yang punya anak sekolah mungkin sekarang tengah dipusingkan dengan sekolah online kecuali yang homeschooling. Hehehe.

Awalnya memang tidak ada dalam fikiranku untuk lanjut sekolah Aafiya dulu (yang sebelumnya TK B) ke grade 1. Aku pikir tak ada salahnya menunggu tahun depan untuk lanjut sekolah. Tapi, pemikiran Ayah Aafiya beda. Tidak masalah untuk lanjut sekolah aja karena pandemi ini tidak tau kapan akan berakhir. Dan belum bisa dipastikan apakah tahun depan pandemi sudah berakhir atau kah masih akan tetap berlanjut. Sementara sekolah harus tetap berjalan dengan atau tanpa adanya pandemi. Dengan adanya gap 1 tahun, bisa jadi pelajarannya banyak yang lupa lagi. Begitu pikir suami. Pas diskusi sama teman yang anaknya sepantaran Aafiya juga pendapatnya semakin menguatkan. Kata temanku, sekolah online juga ndak apa tapibada kurikulum yang jelas. Setelah melewati pertimbangan panjang, akhirnya kami memutuskan Aafiya lanjut sekolahnya ke grade 1. Selain itu, kakak Aafiya juga bersemangat untuk lanjut sekolah. Berkali-kali aku tawarkan untuk lanjut di tahun depan saja dan dia tetap istiqomah untuk memilih lanjut sekolah tahun ini. Termasuk konsekuensi dia harus belajar, harus bikin tugas, PR dan sebagainya dan Aafiya bilang siap. Ya sudah. Cuuss daftaaar. Apalagi sekolah di masa pandemi ini alhamdulillaah ada diskon juga 35% dari total tuition fee yang harus dibayarkan. Lumayan banget alhamdulillaah.

Awalnya aku pikir seperti KG dulu di mana ibunya yang mengajar. Akan tetapi, ternyata sekolah kakak bentuknya regular kayak sekolah biasa. Sehari ada 5 sesi belajar online dengan diselingi 20 menit waktu istirahat. Mata pelajaran kakak juga cukup banyak yaitu: Islamic, Arabic, Al Qur'aan, Math, Science, Social Studies, Computer, French.  Tiga pelajaran pertama semuanya bahasa pengantarnya adalah bahasa Arab. Sedangkan sisanya adalah bahasa Inggris. Untuk pelajaran french sepertinya bahasanya mix antara bahasa Inggris dan bahasa prancis sendiri.

Seminggu pertama adalah minggu yang stressfull untukku. Karena kakak sudah lama ndak ngomong english maupun arabic. Terakhir cuma pas dia KG dulu yang masih sekolah offline. Bahasa inggris dan arab bukan bahasa sehari-hari kami tentunya. Ditambah lagi ga keluar-keluar (kayak belanja dll) mesti berinteraksi dengan orang asing. Jadi bener-bener ga fluent deh english nya apalagi arabic nya. Sementara bahasa pengantar kakak di sekolah adalah english dan juga arabic. Gimana gak stressfull emaknya. Jangankan untuk memahami pelajarannya. Kakak harus struggling dulu untuk memahami bahasanya. Online pulak. Subhanallaah. Kalau offline mungkin lebih enak. Karena cara penyampaian gurunya bagus ma shaa Allah. Tapi online? Agak susah kan membuat anak usia 6 tahun untuk fokus.
Maafkan gambar bukunya miring. Ini PR Kakak yang aku fotoin untuk dikirim ke gurunya. PR kakak sendiri dikirim melalui aplikasi classera. Jadi ga ada whatsapp group antara orang tua dan guru juga sih. Lumayan ga bikin senewen kalo semisal temen-temennya udah ngirim tugas sementara si kakak belum wkwkwkwkwkwk. Aplikasi classera sendiri menurutku sangat baguuus karena lengkap banget. Ada online assasement, ada exam nya juga, jadwal dikirim lengkap, bahan ajar lengkap dan video pembelajaran juga lengkap bisa diakses, bisa di donwload juga. Ma shaa Allah. Naah dari PR ini coba... ini kalau bahasanya aja belum dipahami, gimana menjawab pertanyaannya? Soal nomor 8. Dari cerita disuruh membuat persamaannya. Lha, ini baru kelas 1 SD lho.

Salah satu contoh lainnya.
Ini pertanyaan untuk bahasa inggris. Jadi, ada cerita tentang Henry. Nah, si anak diminta untuk menganalisa (1) apa yang settingan yang membuat cerita ini terlihat realistis. (2) kenapa Author bikin cerita henry ini cuma sepedaan sekitar blok rumahnya aja (3) ceritakan bagaimana lingkungan sekitarmu dan use text evidence. Ini pertanyaan udah butuh analisa dan logika kan yaa. Mana mau dijadiin bahan buat quiz besok in shaa Allah. Tapi, akunya kebingungan bagaimana cara membuat kakak paham sebuat cerita dan menganalisanya dan dituliskan dalam bahasa inggris sementara kakak baru belajar baca dan nulis. 😩😩😩

Memang sekolah kakak pakai kurikulum amrik yang di-mix dengan kurikulum saudi. Jika ini buat anak yang native english mungkin masih OK. Tapi kalau sehari-hari bukan bahasa Inggris menurutku agak sulit. Selain itu kakak sudah belajar juga apa itu verbs, noun, adjective dan disuruh tentukan mana yang verb, nound, adjective di suatu kalimat. Whoaaaaaa ... mamak kebingungan gimana ngejelasin ke anaknyaa 😫😫😫😫.

Belum lagi pas arabic. Pas ditunjuk gambar dan disuruh sebutkan dalam bahasa arab, mamak kudu siap-siap ama gugel translet pas nemenin kakak belajar. Karena emaknya juga ga tau apa bahasa arab nya 🤣🤣🤣. Untuk islamic, alhamdulillah sedikit banyak aku ngerti. Materi awal awal adalah tentang Tauhid; Allahu khaliq. Allahu razzaq. Untuk Qur'an setiap pertemuan hafalan 1 surat. Jadi setiap minggu harus ada nambah hafalannya.

Tapi, tentu saja setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Itu sudah janji Allah. Ikhtiar yang kami lakukan adalah, pertama kami memilih untuk mem-fluent kan englishnya kakak. Yaitu dengan rules: Ayah harus speak english sama anak-anak. No excuse. Dan bunda tetap dengan bahasa Indonesia. Kalau bahasa Arab, kayaknya kakak lebih jago dibanding emaknya 🤣🤣🤣. Kemudian kami ga internvensi belajarnya kakak. Jadi, kami biarkan kakak menyerap apa yang dijelaskan oleh gurunya. Alhamdulillah kakak bisa fokus (sesekali memang ada juga yang ga fokusnya tapi mostly fokus alhamdulillaah). Dalam 5 minggu pertama kakak sudah aktif di kelas alhamdulillah. Sering juga dia bertanya (yang mana tentu harus menyesuaikan bahasa) dan menjawab pertanyaan dari teacher nya. Ketika ada PR French pun kakak alhamdulillah bisa menjawab sebagian besar sedangkan emaknya nol besar kalo french ini. Tapi, masih bisa laaah intip-intip gugel translate. Wkwkwkwk.

Gak kebayang gimana belajar online yang para ibunya tidak mengerti apa yang dipelajari anaknya. Buta sama sekali. Gimana mau ngajarin sementara ibunya sendiri tidak paham kan yaa.

Alhamdulillaah kulihat ada progress yang cukup pesat di proses belajar kakak. Anaknya juga fun alhamdulillaah. Jika ada waktu yang cukup, biasanya aku bantu menjelaskan bab yang mau dipelajari kakak dulu. Jika sekiranya tidak sempat, ya cukup mendengarkan dari gurunya aja. Nanti aku bantu jelaskan ketika mengerjakan PR nya aja. Atau menjelang quiz kayak sekarang. Ternyata benar yaa, anak-anak itu sangat cepat menyerap bahasa ma shaa Allah tabarakallah.

Aku sekarang tinggal fokus mengajarkan kakak baca Al Qur'an. Perlahan-lahan in shaa Allah. Tinggal belajar syaddah dan ghunnah in shaa Allah kakak sudah bisa baca Al Qur'an ma shaa Allah tabarakallaah. Aku ingin mengajari kakak baca bahasa indonesia (membaca buku berbahasa indonesia) nanti ketika grade 3 plan nya. Biar kakak bisa differentiate mana yang bahasa inggris mana yang bahasa indonesia. Tapi, sekarang dia juga udah bisa baca buku bahasa indonesia alhamdulillaah. Tapi tidak aku fokuskan dulu karena sekarang butuhnya bahasa inggris untuk pelajaran sekolahnya. Jadi, paling untuk buku bahasa indonesia aku bacakan saja.

Salah satu kunci dalam mengajarkan anak pelajaran apapun itu (apalagi belajar membaca Al Qur'an) adalah ... mengenyahkan segala emosi/marah dan tergesa-gesa. Menjadikan proses belajar itu sesuatu yang menyenangkan bagi anak. Jangan sampai, ketergesaan kita ... terlalu besarnya keinginan kita agar anak cepat bisa, membuat emosi terpantik ketika anak tak kunjung bisa. Jangan. Biarkan kita maupun mereka menikmati setiap proses itu. Agar kelak yang tertanam dalam hati mereka adalah: bahwa belajar (apatah lagi bersama bundanya) adalah sesuatu yang menyenangkan. Sesuatu yang menyejukkan dan selalu dinantikan.

Pada mulanya, aku agak tergesa ketika belajar arabic dan qur'an. Kadang sampai berpikir "kenapa sih kakak koq belum bisa-bisa?". Menyegerakan agar cepat bisa. Al hasil, malah mentok. Tapi, setelah kita sama-sama memulai dengan hal yang tenang, happy, suasana yang menyenangkan, alhamdulillaah kakak jauh lebih cepat dari sebelumnya. Meski mungkin anak seusia kakak, banyak yang sudah jauh lebih bisa, bahkan sudah lancar membaca Al Qur'an. Tidak mengapa. Toh, tidak elok membandingkan mereka dengan yang lain. Cukup bandingkan dengan diri mereka yang telah lalu. Setiap anak memiliki proses yang berbeda. Bukan. Bukan nilai akhir yang menjadi tujuan utama, tapi bagaimana kita menikmati prosesnya.

Tentu saja tidak lupa, kita sisipkan do'a terbaik untuk anak-anak. Oleh sebab, bukan kepiawaian kita mengajar atau hebatnya seorang guru yang membuat anak-anak bisa menyerap segala ilmu. Akan tetapi, ilmu itu Allah yang memberikan kepada mereka. Maka, adalah hal terpenting mendo'akan mereka. Agar Allah karuniakan kepada mereka ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat mereka.

Aku masih berharap, agar hal mendasar bagi kakak, dan adik-adiknya; bisa membaca, menulis dan terutama membaca Al Qur'an adalah melalui perantara kami sebagai orang tua. Bukan oleh orang lain. Meskipun tidak menafikan juga peran besar guru mereka. Tapi, aku ingin yang basic-basic ini ada peran orang tua yang lebih besar. Yaa, ikhtiar yang terbaik saja yang bisa kita lakukan tentunya ☺☺☺.
Read More

HOBI (2)

Ini soal verita hobi part 2. 
Seperti yang aku bilang di postingan sebelumnya, bahwasannya aku dan suami memiliki hobby yang 100% berbeda. Tidak ada satu pun hobbi kami yang memiliki irisan. Ibarat diagram arsir pelajaran matematika jaman SMP, kalau ada bagian yang beririsan maka akan diarsir. Buat kami, itu hanyalah diagram lingkaran yang terpisah. Tidak ada arsirannya. Kekeke. Tapi, justru banyaknya perbedaan ini jadi seni tersendiri dalam rumah tangga (menurutku). Ciyeee.. sok pakar padahal masih amatiran akunyaa 🤣🤣🤣🤣.

Kalau aku hobinya ... seperti yang udah aku bilang sebelumnya. Hehe.. Kalau suami, hobinya mesti yang berkaitan dengan aktifitas olahraga. Renang, futsal, daaaan terutama adalah badminton. Badminton adalah hobi utama beliau. Aku? Tak satu pun dari cabang olah raga yang aku suka. Ekekekeke... 

Sama-sama liat laptop, tapi kalo suami liat laptopnya buat ngotak-atik "bahasa alien" wkwkwk.. maksudnya bahasa yang aku tidak pahami apa itu. Aku liatnya kayak kumpulan huruf-huruf atau angka-angka di layar hitam aja. Hahahaha. Apa itu namanya yaa? Script kalo ga salah. Ini keknya anak² IT aja yang paham niih. Kalo aku liat laptopnya yaa ga jauh-jauh dari ngotak atik coreldraw, paint tool SAI, photoshop, atau nguprek sofwer video editing. Dan sebagainya. Beda bangeett kaan. Suami prefrensi hemisfer dominan otak kiri dan aku otak kanan. Beda banget.
Kalau aku suka jalan-jalan, suami senengnya di rumah. Xixixi. Tapii, kalau udah jalan-jalan biasanya kita semua jadi happy alhamdulillaah. Kayak me-time (ehh our time) nya keluarga. Kalo pengakuan Ayahnya Aafiya; "pas mau jalan itu rasanya maleees banget. Tapi pas udah on the spot, alhamdulillaah ... menyenangkan."

Naah, bagi kebanyakan keluarga, tidak jarang masalah hobi ini menjadi salah satu pemicu konflik. Hehe. 

Sekian tahun mengalami perbedaan hobi ini membuatku mengerti bahwasannya: yang terpenting dari hobi ini adalah bagaimana kita saling memahami dan memberi ruang untuk hobi pasangan. Selama hobi itu tidak dilakukan berlebihan dan banyak melalaikan hal yang utama.

Mengapa memahami? Karena kalau kita tidak hobi dengan sesuatu, bisa dipastikan kita tak memahami apa 'kebutuhan' hobi tersebut. Yang hobinya dandan, gak akan habis pikir kenapa orang yang hobinya mancing rela menghabiskan waktu berjam-jam di empang demi seekor ikan saja. Wasting time banget. Begitu pikir orang yg hobi dandan. Sebaliknya, yang hobi mancing juga akan heran kenapa muka didempul-dempul gituh, kayak unfaedah banget. Belum lagi sebotol kosmetik yang kecil banget ukurannya, koq bisa harganya 5-6 digit. Ya, begitulah kalau tidak saling memahami. Makanya urutan pertamanya adalah al fahmu dulu. Meski kita tidak memiliki pasangan yang sehobi dengan kita, sudah semestinya kita memahami. Memahami juga bukan berarti kita harus ikutan hobi suami kecuali memang hobinya melibatkan keluarga. Misal, hobi suami adalah berpetualang bersama keluarga (baca jalan-jalan), ya sebagai istri tentu mesti ngikut 😁😆.

Setelah memahami, selanjutnya memberi ruang untuk hobi tersebut (selama bukan pada perkara haram atau mubah yang berlebih-lebihan) tentunya. Memberi ruang terhadap hobi suami akan meningkatkan kasih-sayang pasangan, in shaa Allah biidznillah. Misal, kalau kita ngambek, ketika suami melakukan hobinya akan berbeda efeknya dengan ketika kita memberi ruang buat hobi pasangan. Trust me. Hehehehehehe.

Alhamdulillaah, have been there. Telah melewati pengalaman berkaitan dengan hobi ini. Intinya saling support. Ketika suami badminton, aku berusaha untuk memberi ruang kepada beliau (ketimbang ngerajuk, yee kan? Wkwkwkwk). Sebaliknya, suami juga support dengan hobinya aku (ngasi waktu buat nguprek-nguprek, beliin sofwer yang dibutuhkan) ma shaa Allah tabarakallah. Ini justru (menurutku lho yaaa) malah menjadi saling menguatkan kasih-sayang. Hehehe. Sejenak men-jeda dengan kesukaan masing-masing untuk kembali bersama-sama dan saling bersinergi untuk banyak urusan lainnya.

Semisal di jum'at pagi adalah jadwal badminton suami. Selama masa itu, aku bisa lakukan aktifitas lain misal denger kajian (sambil masak misalnya), ekekekeke ... Salah satu keuntungan masa pandemi ini, bisa denger kajian online sambil ngerjain pekerjaan rumah. Alhamdulillaah tabarakallaah. Dulu, aku selalu absen deeh kalo ada kajian jum'at pagi karena suami ke badminton dan otomatis aku jadi ga bisa ke mana-mana kan yaaa. Secara di sini kalo ke mana-mana kan mesti sama suami. 🤗🤗🤩🤩.

Ya begitulah. Selalu ada hikmah atas segala sesuatu. Semoga kita dapat memanfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya (nasihat buat diri sendiri terutama niih), yang masih banyak rombengan, banyak alfa, ngerjain hal laghwi. Semoga juga hobi kita (yang mubah) ini adalah sesuatu yg juga mendatangkan manfaat dan bukan hal yang sia-sia.

Barakallahu fii kum jami'an

Read More

HOBI


Aku termasuk yang memiliki banyak hobi. Mulai dari nulis-nulis (dulu sempat nulis novel segala 😂) yang "sisa-sisa ke-eksisan-nya" masih terabadikan di akun wattpad, teenlit zaman-zaman baheulak yang kalau dibaca ulang bikin ngakak sembari mbatin "koq bisaa yaa aku bikin tulisan begini dulunya". Tapi di sisi yang lain, tulisan itu menjadi saksi 'perjalanan' fikroh dari yang picisan hingga momen hijrah (semoga Allah jadikan kita semua istiqomah di jalan-Nya), aamiin. Hobi berikutnya njahit-njahit mulai dari tas-tas simpel, gamis anak-anak, hingga sempat bikin puffer jacket segala yang semuanya masih level beginner. Hobi mfoto-mfoto tapi yaa kemampuannya masih jauh lah. Hasilnya masih begitu-begitu aja. Hobi nguprek sofwer desain tapi ya masih jauh lah dari kata profesional. Hobi videografi dan juga animasi sederhana tapii... masih gitu-gitu aja. Kayaknya lebih cocok disebut tukang ngedit video. Ekekeke.
Dan hobiku dan suami sangat bertolak belakang. Ibarat bainal masyriki wal maghrib. Antara timur dan barat dan tidak ada satu pun yang ber-arsir-an, bahkan hanya sekedar bersisian pun tidak. Xixixi.

Tapi salah satu hal yang aku garis bawahi adalah: di antara sederet hobiku tersebut, tidak ada satu pun yang benar-benar sangat optimal dan professional. Ya, paling begitu-begitu aja. Intinya belum ada yang sampai pada level max. Tidak ada target capaian dan fokus tertentu. Juga tidak ada jadwal rutin. Hanyalah berdasarkan mana yang sedang mood untuk dikerjakan.

Sampai di sini, pelajaran yang dapat dipetik adalah ... betapa pentingnya fokus dan tujuan. Jika tidak ada fokus, betapa "mengambangnya" hidup kita. Padahal, jelas Allah telah menggariskan untuk apa tujuan kita diciptakan. Dan tujuan itu dicapai tentulah dengan action. Ada tindakan yang kita kerjakan untuk mencapai tujuan tersebut.

Menyoal hobi mungkin tidak mengapa asalkan jangan sampai hal "mubah" ini justru mengalahkan hal yang wajib dan utama serta berlebih-lebihan terhadapnya. Dan semoga pula hobi yang kita lakukan dapat memberikan manfaat, meskipun sedikit. Tapi, untuk hidup kita mesti punya fokus dan tujuan. Bahwa fokus dan tujuan kita adalah untuk kehidupan yang sebenar-benar kehidupan. Tentang akan ke mana kita setelah fananya dunia ini. Untuk hal ini, kita HARUS memiliki tujuan yang jelas tentunya. Fokus dan juga apa action yang telah kita persiapkan dan lakukan.
Read More

Kenangan


~KENANGAN~
.
Ini adalah sebotol jus yang mengingatkan pada kenangan hampir 7 tahun silam. Ketika pertama kali Allah memberikan aku kesempatan untuk mengunjungi kota terbaik di dunia; kota Makkah. Kala itu--ketika masih berdua saja, belum ada anak anak--kami berangkat naik hamla Arab. Dengan biaya sekitar 125 SAR (kalau tidak salah) atau sekitar 300-400rb rupiah kala itu, sudah mendapat fasilitas bus pulang pergi plus penginapan yang bagus (kamar hotel yang cukup lengkap fasilitasnya setara bintang 1 atau 2 yang lokasinya juga tidak begitu jauh dari al Haram dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi bukan di depan al Haram banget tentunya. Masuk agak ke gang kecil dan sedikit mendaki bukit hehe). Ketika kembali ke Riyadh, bus berhenti di rest area dan kami hanya membeli jus ini dan beberapa camilan. Tidak ikut makan seperti penumpang lainnya karena lidah yang belum bersahabat dengan masakan timur tengah. Sudah berlalu hitungan tahun setelah masa itu, tapi kenangan itu masih lekang di ingatan.
.
.
Sejatinya ... segala sesuatu akan menjadi kenangan pada akhirnya. Detik yang berlalu yang tak akan mungkin dijemput kembali. Akan tetapi, ternyata kenangan ini tak hanya berakhir dengan "final exit" nya kita dari dunia ini. Kenangan itu ternyata akan terus kita bawa hingga hari ketika ditegakkannya balasan. Kala itu, orang-orang yang meninggalkan kenangan buruk yang tak selesai ketika di dunia, akan menuntut haknya dan berkata "Ya Rabb, si fulan dulu telah mencelaku, si fulan dulu telah memfintahku, membully ku" dan sebagainya sehingga ketika segenap urusan itu tak selesai di dunia, akan berakhir dengan berpindahlah amal baik kepada yang terdzalimi atas keadilan Allah. Jika tak cukup untuk menebusnya, maka dosanyalah yang dipindahkan kepada pelaku. Sebaliknya, kenangan baik juga akan menjadi ingatan di kala itu. Ketika tak dilihatnya sahabat sepengajian, sahabat seperjuangan bersama-sama berada di surga, ia juga akan berkata "Wahai Rabb-ku,dahulu fulan adalah temanku di pengajian. Wahai Allah, si fulan adalah orang yang dulu sama-sama berjuang di jalan-Mu bersamaku. Si fulan telah banyak berbuat baik kepadaku ketika di dunia. Ijinkan aku menjemputnya jika ia berada di neraka."
.
.
Duhai teman. Tentang diriku yang tempatnya salah, alpa dan dosa; semoga engkau berkenan memanggilku kelak, jika tak engkau temukan aku di surga. Semoga, kenangan itu menjadi ingatanmu kelak, ketika tak lagi berlaku mata uang untuk menebus segala salah. Mohon maafkan jika ada di antara engkau yang pernah tersakiti olehku. Semoga Dia senantiasa tunjukkan kita jalan yang lurus yang menuntun kita "pulang" ke tempat sebaik-baik penghidupan. 
Read More

Manis dan Sesuatu yang Lebih Manis


Siapapun tidak ada yang menyangkal betapa ice cream cake ini manis. Manisnya manis sekali. Melihatnya saja sudah cukup ngiler untuk segera memakannya. Tapi, apakah kemanisan ini membuat kita sanggup menghabiskan seluruhnya sendirian dalam sekali waktu? Tentu tidak! Ada masanya kita merasa eneg dengan manisnya. Belum lagi bayangan penyakit akibat banyak makan manis-manis kayak gula darah. Jadi, manisnya bukan manis yang berkelanjutan. Hanya manis untuk 5 gigitan pertama sepertinya. Setelahnya, mungkin kita akan segera menympannya lagi di dalam freezer.

Tapi, ada manis yang lekang ... tak peduli yang merasakannya adalah orang kaya, orang miskin, orang terpelajar orang tak terpelajar, orang kota orang desa ... ia adalah manisnya iman.

Salah satu hal terberat bagi seorang muslim yang jarang disadari adalah ketika manisnya iman sedang dicabut oleh Allah. Rizki di dunia ini telah Allah jamin. Sedangkan nasib diakhirat, di dunia ini lah kita mengupayakannya. Iman adalah energi. Hanya dengan iman seseorang bisa bangun malam meskipun baru tidur sedikit. Hanya dengan iman, seseorang bisa melakukan amal shalih lainnya. Ya, bahan bakar itu adalah iman. Apa yang terjadi jika kendaraan kehabisan bahan bakar? Demikian pula dengan kita. Maka wasapadalah, jika kita telah mulai berpaling! Tidak lagi menyegerakan kebaikan.
Aku menuliskan ini bukan berarti aku memiliki iman sekuat baja. Ketahuilah, postingan-postingan yang di permukaan terlihat baik ini tidak selalu menunjukkan dan mencerminkan kondisi hati seseorang yang menuliskannya. Bisa jadi, postingan itu sebenarnya adalah caranya untuk mengingatkan dan menyentil dirinya sendiri. Kadang kala, itu dijadikannya pengingat dirinya. Pengingat ketika telah banyak salah yang ia lakukan.


Semoga Allah tetapkan keimanan di hati kita hingga saat kita diwafatkannya. Dan semoga Allah wafatkan kita dalam kondisi husnul khotimah sebagai seorang muslim. 
Read More

Si Tukang Bikin Pamflet

Bagi yang biasa mengerjakan "proyek" desain, pasti mengerti bahwasanya mengganti, menambahkan atau mengurangi 1 kata itu bisa melibatkan banyak proses. Tidak seperti mengetik di MS word yang typo kemudian tinggal ditambahkan atau dihapus begitu saja. Hanya tukang desain yang mengerti ini kayaknya... 😂😂😂 Meski pun tukang desainnya masih amatiran kayak aku yang levelnya masih beginner begini. Udah 12 tahun ++ ngerjain desain leaflet, tampaknya belum naik juga ke level intermediete inih. Hehehe. Masih begitu-begitu ajah. Gapapa.. semoga jadi semakin bersemangat menuntut ilmu dan belajar. Meski pun memang tukang desain ini pekerja belakang layar bukan ustadz/ustadzah yang memberi ilmu secara langsung, aku berharap mudah-mudahan kecipratan pahala juga karena desainnya menjadi wasilah untuk menyebarkan kebaikan selama yang jadi tukang desainnya ikhlas. Ikhlas kuncinya. Gampang diucapkan, tapi berat dilaksanakan. Semoga Allah jadikan kita bagian dari hamba-Nya yang ikhlas. Aamiin.

Ceritanya, ada rekues desain untuk suatu acara. Sebut saja acara X. Sejujurnya, aku memang agak mood dependent kalo mengerjakan suatu desain. Tetap bisa dikerjakan akan tetapi hasilnya ketika mood baik akan lebih optimal dan maximal dibanding ketika sedang tidak mood. Dan pagi itu aku sebenarnya tidak begitu mood untuk mengerjakan desain. Apalagi ada pekerjaan yang mendesak. Pertama, memasak untuk makan siang, kedua ada urusan yang harus diselesaikan di sekolah kakak Aafiya, dan beberapa urusan lain. Belum lagi kakak yang udah gak sabaran ingin segera berangkat. Ini tentu kondisi yang tidak mudah untuk membuat desain di waktu sesempit ini. Tapi karena diminta, aku tetap mengusahakan untuk mengerjakannya. Sekitar 1.5 jam pamfletnya selesai didesain. Pas laptop sudah dimatikan, diminta revisi lagi. Sudah aku kerjakan. Matikan laptop lagi. Daaaan.. ada revisi lagi. Nyalain laptop lagi, kerjain lagi. Akhirnya urusanku tertunda. Ke sekolah kakak yang harusnya lagi, jadi mundur jam 11. Masak buat makan siang, baru bisa setelah dzuhur yang artinya sekeluarga jadi agak telat makan siangnya.

Tapi ..., setelah dipublish, yang dipakek malah pamflet yang dibikin oleh orang lain. Yang ngerjainnya pakai App HP aja. Alasannya karena pamflet yang kubikin ga bisa diedit sama mereka yang rikues. Padahal tinggal ngomong aja, bisa kuedit lagi. Tapi tidak ada ngomong apa-apa dari mereka, dengan sepihak ngerjain sendiri dan dibatalkan begitu saja tanpa pemberitahuan kepadaku. 😁😁

Ada terbersit rasa kesal di hati. Bukan karena pamfletku tidak jadi dipakai tapi ... karena seolah tidak memikirkan waktu yang kuhabiskan untuk membuatnya. Kayak bikin pamflet itu "sim salabim" langsung jadi. Padahal kan harus mikirin idenya, ngejainnya, dan banyak hal yang tertunda karena mengerjakan pamflet tersebut. Jika aku membuatnya dengan kondisi santai, ga menunda banyak hal untuk itu, aku mungkin tak akan terbersit rasa kesal. Kuanggap aja ini me time. Tapi, aku sudah mengorbankan banyak hal untuk membuatnya. Heuheu... Jika memang tidak akan dipakai dan memang ada tim yang akan bikin (karena aku bukan panitia) kenapa harus rikues dan sampai harus revisi beberapa kali. Sejak awal ga usah rekues aja kalo gitu.

Tapi kemudian aku menyadari bahwasannya ini adalah ujian keikhlasan. Ternyata untuk ujian yang masih sederhana ini, sulit untuk ikhlas, bagaimana dengan ujian yang lebih besar?!?!
Aku berusaha untuk berpikir positif (meskipun kadang nafsu membisikkan hal jelek untuk marah) ... Aku mengusahakan untuk menanamkan pada hati bahwasannya tidak ada kebaikan yang sia-sia. Walaupun tidak jadi dipakai, waktu yang telah dihabiskan untuk membuatnya semoga tetap dinilai Allah sebagai kebaikan. Tidak ada yang hilang in shaa Allah. Syaratnya, selama ikhlas. Nah pertanyaannya, apa aku sudah ikhlas?! 

Memang, ikhlas itu sesuatu yang tidak mudah. Seperti mencari setitik biji sawi di goa yang gelap di malam hari. Berat banget. Aku sendiri masih tertatih dan terseok-seok untuk bisa mengikhlaskan niat, mengikhlaskan amal dan segalanya hanya semata karena-Nya. Masih jauuuuuh banget. Dan syaithan selalu membisikkan dan berupaya mengajak pada ketidak-ikhlasan. Dan tugas kita pula untuk melawan itu semua. Aku berdo'a semoga aku, kamu dan kita semua dijadikan-Nya hamba yang ikhlas. Aamiin.
Read More