. Fathu Alvi!

Fathu Alvi!

  Friday, November 28, 2014   0 Comment

Baiklah..
Mari bercerita yang ringan-ringan sahaja... Haha emang biasanya ceritanya berat apaah? -_-

Salah satu perbedaan mendasar (ehh salah tiga dink) agenda 'melingkar' (baca: Liqo) di negeri Riyadh ini dibandingkan liqo yang pernah aku tempuh di Indonesia sejak tahun 2004 lalu adalah:
1. Tempat
2. Konsumsi
3. Alasan Syar'i untuk ijin

Mareee kita jabarkan satu persatu.

Tempat. Kalau dulu di Indonesia, tempat 'melingkar' selalu hampir sama setiap kali pertemua . Misal di rumah MR. Atau di markaz-markaz dakwah, di wisma-wisma, nebeng di SDIT, bahkan di pelataran masjid kampus. Jika sudah ditetapkan di satu tempat tersebut, maka liqo akan berlangsung di tempat itu setiap kalinya kecuali ada pengalihan agenda.

Kalau di sini, tempatnya selalu berubah-ubah. Semua anggota akan kebagian untuk menjadi tempat 'melingkar'. Jika anggotanya ada 7 orang plus 1 MR, maka akan ada 8 giliran sahibul bait/tuan rumah. Pun begitu dengan agenda melingkar bapak-bapak (para suami). Semua pernah ketempatan. Dan ini berkaitan erat dengan point kedua yaitu konsumsi.

Konsumsi. Dulu sewaktu di Indonesia, masalah konsumsi bukan sesuatu yang perlu terlalu diagendakan. Bahkan pernah satu periode 'melingkar', kita ga pake konsumsi sama sekali even itu cuma segelas air mineral. Kalau ada yang bawa yaa syukur... Kalau enggak... tak jadi masalah. Bisa beli di warung sebelah. Ehehehehe...
Pernah juga--saking ga ada konsumsi berupa snack kudapan--iqob keterlambatan adalah harus bawa snack. Hehehe...
Atau, pernah juga... snack disediakan MR secukupnya atau sekedarnya. Ma syaa Allah.... baiknya MR, udah bagi-bagi ilmu, nge-charge ruhiyah kita, beliin snack lagi.

Nah, kalau di sini... sekali 'melingkar', heboooohhh banget!!!
Ada makanan berat (boleh nasi rames, soto, pecel, mie ayam, sate,dll) apa ajaaaa sesedianya shahibul bait alias tuan rumah yang ketempatan.
Gak cukup makanan berat! Ada snack juga yang terdiri dari snack manis (bisa kue lumpur, pie, bolu, kue sus, sadar gulung, onde-onde wijen de el el). Trus snack asin (bisa bakwan, risol, lemper, arem-arem, pastel, de el el). Ada juga buah (kurma, anggur, apel, pisang de el el). Dan jangan lupaa, ada minuman berupa asir (jus buah) dan atau teh manis serta air mineral botol.
Heboh ga tuuh???
Hihihi...

Pokoknya kalau setiap liqo, udah kayak ngundang acara syukuran dah! Ibu-ibu udah sibuk pontang-panting bereksperimen di dapur. Kadang dicicil dari dua atau satu hari sebelum liqo. Bukan cuma buat liqo ibu-ibu, tapi juga buat liqo bapak-bapak alias para suami. Jadi dalam 1-2 bulan, kemungkinan besar kita akan menyiapkan konsumsi baik utk liqo sendiri maupun untuk liqo suami. Hehe...

Dulu aku sempat kaget. Mana pengalaman memasak dalam jumlah banyak juga minim. Adeuuuhhh... deg deg an banget deeh kalo kebagian giliran konsumsi dan ketempatan. Pengalaman pertama kala itu pas liqo suami. Masak dari sehari sebelum liqo. Dibantuin suami uleg cabe, iris bawang, dan segenap pernak perniknya. Meski dengan rasa kurang PD, kala itu terhidang juga Dedeng balado ijau dan sayur tauco. Snacknya sambosa dan puding. Fiiuufft... abis itu langsung tepar. Wkwkwkwk...
Pengalaman selanjutnyaaa??? Hahaha kapan-kapan kita share lagi yak. Gak janji loh... :P

Alasan syar'i untuk ijin. Jika suami ndak bisa mengantarkan kita (para ibu-ibu) untuk liqo dan tidak ada teman seliqo yang berdekatan yang bisa ditebengi, maka itu menjadi alasan syar'i untuk tidak datang liqo. Dulu kalau di indonesia, jika suami ga bisa antar ya udah, naik angkot kan bisa. Naik ojek kan bisa. Hehehe... jadi, gak datang karena alasan suami ga bisa ngantar bukanlah alasan syar'i. Nah kalau di sini, ke rumah tetangga pun mesti diantar suami. Apalagi liqo dengan jarak tempuh 30-an KM. Naik taxi sendiri? Hiiiiyyy syereeeeeeemmnyyaaaaa...

Baiklah... itu perbedaan yang aku rasakan. Bukan cerita penting sih. Hehe.. Yang terpenting adalah esensi dari liqo itu tetap sama, di manapun buminya... bahwasannya ia adalah sarana untuk re-charge ruhiy, sarana untuk berkumpul dengan orang-orang yang (in syaa Allah shalih), sarana untuk saling memotivasi dan menguatkan serta berukhuwah. Daaaan jugaaaa, sarana untuk menikmati makanan indonesia setelah yang diliat di sekeliling hanya nasi briyani, kabsyah, shawarma dll. Ups! Xixixixixi...
*kabur sebelum ditimpuk... :P

  Thursday, November 13, 2014   0 Comment

Kalau ada lagu anak-anak yang bunyinya begini,
"Libur telah tiba.. libur telah tiba.. horee... horee.. hatikuu gembiraa...",
Maka bolehlah aku plesetin dikit yaa..
"Winter telah tiba... winter telah tiba... horee... horee... hatiku gembira..."
Hihihi...

I love winter so much...
Alhamdulillaah musim dingin datang jugaaa..
Dan in syaa Allah ini musim dingin kedua yang aku jalani di Riyadh sini. Ma syaa Allah... gak berasa, begitu cepat waktu berlalu. Musim dingin tahun lalu masih berdua... Musim dingin tahun ini alhamdulillaah sudah bertiga. Produk musim dingin. Hihihi... :D
*kidding

  Saturday, October 25, 2014   0 Comment

Sudah lama ga posting di blog. Hehe.. maklum kesibukan newmom... Semua ibu baru pasti tau dan pasti pernah merasakannya. Tak perlulah dijabarkan panjang lebar kali tinggi (volume dooong...) Hehehe...

Adalah lumrah di kalangan masyarakat, jika ada seorang wanita yang melahirkan apalagi anak pertama dari wanita tersebut, maka mereka hampir dipastikan akan ditemani oleh ibunya atau minimal keluarga lah. Dulu aku kira itu cuma budaya yang ada di kampungku saja. Dan kemudian aku baru tau bahwa hampir di seluruh Indonesia hal tersebut sangatlah biasa.
Jika ada seorang wanita yang melahirkan di kampung/kota yang berbeda dengan sang ibu, pertanyaan yang hampir selalu muncul adalah : "ibu datang ga menemani?"

Setelah melintasi samudera ternyata... aku mendapati pertanyaan yang sama dari orang yang berbeda negara. Sebutlah warga Filipina, perawat asisten DSOG-ku. Dia bertanya; "Did your mama accompany you here?"

    2 Comment

Ketika di ruang rawat selama 5 hari, pertanyaan yang paling sering aku dengar dari para perawat (dan kadang juga dokter) adalah;
"What is your nasionality, Madam?"
Atau,
"Are you Philipine or Malaysia?"
Tentu dengan segera aku jawab, "I'm Indonesia". Proud to be Indonesian.
Pertanyaan susulan,
"Are you working here?"

Okeeh...
Pertama, aku agak rada geli gimana gituh yaa dipanggil "Madam".
Lebih lengkapnya begini, "Madam Fathelef" begitu mereka memanggilnya.
Madam?
Hahay... masi berasa jiwa anak mudanya yang sedikit keberatan dipanggil madam. Aku kan baru 17 tahun plus. Ciyeeehhh... Plusnya 10 tahun :P
Madam itu koq kesannya nyonya-nyonya usia empat puluhan yaak? Xixixixixi...
Sama seperti agak geli gimana gituh dipanggil "nyonya". Sekali lagi, aku kan masi anak mudaaa. Halaaaah..
#abaikan!
Lama-lama akhirnya terbiasa juga. Wes lah... Kapan lagi tho yaa dipanggil "Madam".
*ngakak mode ON :P

  Tuesday, October 21, 2014   0 Comment

Apa dopping ASI yang paling populer di Indonesia?
Hampir semua orang bilang rebusan daun Katuk. Sudah jadi rahasia umum dan hampir semua orang di berbagai belahan bumi Indonesia akan menjawab hal yang sama.

Nah, di Indonesia memang sangat mudah memperoleh daun katuk. Bertebaran di mana-mana. Mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional. Tapi, di Saudi daun katuk adalah barang langka. Setidaknya, sampai detik ini aku belum pernah menjumpai si daun katuk. Jadi gimanaaa iniiihh? Hehehe...

Pas silaturrahim idul adha di rumah salah seorang WNI di Riyadh (eh apa udah pindah kewarganegaraan yaa? :D) yaitu mba Dana yang sebelumnya tinggal di Toronto, Canada, kita bercerita-cerita soal ASI karena banyak newborn baby dan para bumil, ehehehehe... Nah, mba Dana cerita kalau dulu di Toronto, tetangganya yang orang Korea menceritakan bahwa tradisi tradisional di Korea, jika ingin doping ASI mereka mengkonsumsi sop Rumput Laut kering. Dry seaweed soup. Dan setelah dicobakan ternyata alhamdulillaah sangat manjur untuk meningkatkan produksi ASI.

Pada hari pertama hingga ketiga, sangat sedikit ASI aku. Bahkan nyaris ga ada. Pumping di hari kedua pasca melahirkan malah ga sampai 1 ml... how sad...
Aku teringat akan cerita tentang dry seaweed. Akhirnya, di hari keempat, suami ke salah satu mini market Korea di area Olaya. Alhamdulillaah nemu dry seaweed nya. Alhamdulillaah...

Prosesi masaknya adalah terlebih dahulu direndam kira-kira 1 jam sampai mengembang lalu dimasak semacam soup gitu. Dry seewed nya cuma direbus dengan air dan garam saja.
Rasanya? Hihi.. to be honest memang ga seenak soup iga... :P
Tapi aku sudah bertekad untuk menghabiskannya.

Alhamdulillaah ternyata dry seaweed nya manjur... Produksi ASI meningkat. Alhamdulillaah... nemu juga pengganti daun katuk di sini...
:)

Bagi kamu yang butuh doping ASI, sepertinya sop dry seaweed layak dicoba...
^_^

Happy breastfeeding,
Happy motherhood
<3

Blogger Blogger Blogger Blogger Blogger Blogger

Sekapur Sirih

Assalaamu’alaykum

Trima kasih yaah Teman-teman, saudara saudari sekalian telah berkunjung ke blog diriku ini.Aku hanya ingin memungut yang terserak…. Mencoba mengambil sedikit pelajaran dari setiap peristiwa hidup.

Selamat membaca yah. Semoga ada hikmah yang bisa dipetik dari blog ini

Sekelumit Tentang Fathel

Hmm...sebenarnya diriku bukanlah siapa-siapa. hehe. hanya sedikit mencoba menaklukkan tantangan kehidupan. Jiaaahh...

selengkapnya tentang diriku di sini...

Info