Pengalaman Luar Biasa Melahirkan Anak Ketiga

Alhamdulillaah, segenap syukur kepada Allah Ta'ala,
Telah lahir anak ke-3 kami, perempuan, Normal, 13-09-2018/3 Muharram 1440H  jam 2.09 waktu Saudi (GMT+3) di DR  Sulaiman Al Habib Ar Rayyan Hospital, Riyadh dengan BB/TB 3.180 kg/52 cm.

Mohon do'anya agar menjadi anak yang shalihah, bertaqwa, sehat, qurrata' a'yun, dan menambah bobot kebaikan pada dunia...

❤❤❤❤❤

Ketika menulis ini, adalah 10 jam setelah kelahiran anak ketiga kami, Maryam. Sudah leyeh-leyeh di bed dengan suhu pendingin ruangan yang kata Abu Aafiya sangat dingin, tapi terasa gak begitu dingin bagiku. Hehehe.

Setiap kelahiran, jangankan dari individu (ibu) yang berbeda, dari individu yang sama pun ceritanya bisa berbeda. Begitupun dengan kisah kelahiran kali ini.

Sedikit kilas balik, dulu pas anak pertama kami Aafiya, aku mengalami pembukaan 1 sejak 2 hari sebelum lahiran. Aafiya termasuk baby yang pre-term karena lahir di usia kehamilan 35 minggu. Kontraksi yang aku rasakan paling 'dahsyat' memang pas Aafiya sih yaa. Karena air ketubannya banyak. Jam 10 malam mengalami pecah ketuban. Setelah pecah ketuban, nyerinya makin berasaaa banget sampai aku sempat bilang, "udah ga tahan lagi". Petidin yang golongan narkotik aja ga ngaruh sama sekali sebagai pain killer. Tapi, ketika pembukaan lengkap, Aafiya lahir dengan sangat mudah alhamdulillaah... Cuma 2x mengejan. Itupun yang pertama kali mengejan karena aku salah mengejan. Hehe... Aafiya lahirnya juga kecil, 2.115 kg sahajaa... Dan sempat menginap di NICU semalaman untuk diobservasi.

Berbeda dengan Aafiya, pas lahiran Aasiya aku datang ke ER (emergency room) juga karena "penasaran" apakah kontraksi yang aku rasakan adalah labor pain bukan kontraksi palsu. Datang-datang masi bisa senyam-senyum. Nyerinya baru sedikit. Ehhh ternyata sudah pembukaan 3. Ketika ditransfer ke LDR (labor and delivery room), dipecahkan ketubannya oleh dokter (salah satu cara "mengakselerasi" persalinan adalah dengan metode memecahkan ketuban), baru deh nyerinya mulai menguat hingga sakiiiitt banget banget di mana aku meremas tangan suami sampai berubah jadi warna ungu 😆. Tapi sakit kontraksi pas lahiran Aasiya ga sesakit pas Aafiya deh. Alhamdulillaah. Cumaa, pas mengejannya lumayaan sih... agak sedikit lebih lama dari pada Aafiya. Sekitar 5x mengejan. Beratnya juga lebih berat; 3.150 kg di usia kehamilan persis 37 minggu (versi HPHT).

Pas baby Maryam ini, lebih banyaaak ceritanya. Dan totally berbeda dengan kisah kelahiran uni-uni nya. Baby Maryam paling sering ngajakin bundanya ke ER dan berakhir dengan PHP ekekekeke... Pas hamil anak ketiga ini, rekor ke ER sebanyak 5x! Ma shaa Allah...

Ke ER pertama kali pas minggu ke 26, kala itu aku merasakan nyeri yang nonstop seharian. Tepat di hari ke-23 Ramadhan. Setelah diobservasi alhamdulillah semuanya baik. Ke ER kedua adalah di minggu ke-35 di Idul Adha 1439 H (sudah aku ceritakan di postingan sebelumnya). Waktu itu aku merasakan nyeri kontraksi juga. Tapii, masi kontraksi palsu kayaknya. Nginep di RS karena ada indikasi detak jantung bayi yang tinggi. Sejak minggu ke-35 ini aku sudah merasakan nyeri kontraksi palsu ini.

Di minggu ke 36-37, nyeri kontraksi makin sering. Masih kontraksi palsu sebenarnya. Tapi, kontraksi palsu rasa asli hehe. Katanyaa, konpal dapat menghilang dengan beraktifitas atau beristirahat. Tapi aku merasakan nyeri yang ilang timbul sampai ke area punggung bawah. Juga nyeri di perut bawah dan area tulang paha. Mengingat anak2 sebelumnya lahir di usia kehamilan yang lebih cepat (35 & 37 week), maka aku pikir ini juga waktunya lahiran. Eehhh, pas sampai di RS setelah masuk ke ER malah nyerinya ilaaang. Kata dokter, aku sudah pembukaan 1. Aku tanya, seberapa lama lagi sampai pembukaan full? Kata dokternya, bisa 1-2 hari. Jadi, aku diperbolehkan untuk melakukan aktifitas seperti biasa.

Jika pas hamil Aafiya aku banyak jalan lalu anaknya lahir cepat, maka pas di Aasiya aku ga melakukan aktifitas banyak berjalan lagi untuk menghindari lahir cepat hehe. Aku pikir yg sekarang juga sama. Makanya santai aja ga memperbanyak aktifitas jalan kaki. Eehh ga taunya pembukaan 1 nya lamaa banget. Ada sekitar 9 hari. Di sinilah akhirnya kami baru start untuk memperbanyak jalan kaki. Sehari sekitar 3 km di jogging area taman Raudah. Selain itu, aku juga menggunakan birthing ball untuk bounching di atasnya.

Sempat merasa sedikit "frustate" dengan pembukaan 1 yang ga nambah-nambah. Kontraksinya hilang timbul. Tapi nyeri perut bawah berasa terus. Kayak ada sesuatu yang menyesakki tulang pelvis. Hehe... Kontraksi palsu rasa asli masi terus berasa. Tapi, kadang menghilang juga sih...

Naah, di minggu ke-38, aku merasakan kontraksi lagi yang lebih dari sebelum-sebelumnya. Datang lagi ke ER. Sampai perawat ER bilang, "hah? Kamu lagiiii???" Kekekeke. Kebetulan ketemu perawat yang sama yg lagi jaga di ER. Tapiiii, seperti sebelumnyaa ketika di ER, taraaa... kontraksinya ilang! Cuma ada 1 kontraksi yang asli, sisanya masi belum. Tapi polanya sudah mulai kelihatan. Kata dokternya, pembukaan sudah bertambah jadi 2. Dokternya bilang, bisa jadi cepet niih karena pola kontraksi sudah mulai kelihatan.

Di sini ga bisa sering2 ngecek bukaan tentunya. Ga bisa capcus pergi ke bidan terdekat hanya buat ngecek pembukaan. Datengnya yaa langsung ke ER rumah sakit. Daaan, kalau semisal belum ada kemajuan rasanya down lagi deeeh... 😆.

Ternyata pembukaan 2 juga berlangsung lamaaa. Yang awalnya aku pikir 1-2 hari bakal lahiran ternyata molor jadi 4 hari! Hari minggu-rabu. Nah kemarin (hari Rabu) aku merasakan pas pagi-pagi dini hari kontraksinya mulai agak teratur tiap 10 menit. Tapii, pas abis subuh sampai siang ilang timbul lagiii. Aku berpikir, "ahh ini paling kontraksi palsu lagi." Capek juga kaan bolak balik ke ER terus dan kalo harus pulang lagi, masi kontraksi palsu, itu bikin sedikit down heuheu... Sorenya sudah tiap 5 menit sekali. Tapi nyerinya yaa gitu-gitu ajaa. Ga yang nyelekit banget gituuh.. hehe. Aku WA suami, kata Abu Aafiya, yuks siap2 pulang ngantor langsung berangkat ke RS. Aku masi sempet nyuci piring, beberes kamar Anak-anak, mencuci baju, memandikan anak-anak. Begitu suami pulang, kontraksinya ilang lagiiii. Ya salaaam. Aku masi berpikir ini kontraksi palsu lagi kalii.. Jadii, ga ada pola yang teratur gitu lho.

Naah aku masi sempat tuh, ngerjain desain selebaran acara semarak muharam. Hihi... Tapi, pas ngedesain ini, kembali aku rasakan kontraksi yang lebih sakit dari sebelumnya. Pas enggak kontraksi masi bisa senyam senyum sih. Pas kontraksi udah meringis, hihi. Karena polanya yang masi belum beraturan, kadang rentang 5 menit, kadang 10 menit, kadang 7 menit trus 15 menit. Ga jelas banget kaaan... Makanya masi maju mundur untuk berangkat ke RS. Masi ngulur waktu dulu untuk memastikan kontraksinya bener-bener asli atau masi palsu rasa asli lagi. Hehehehe...

Karena sakitnya yang sudah lumayan berasa, meskipun kontraksinya masi ga reguler intervalnya, akhirnya kami berangkatlah ke RS. Selama di perjalanan ke RS, nyerinya mulai bertambah. Kata suami, "ini udah beda nih nyerinya." Dari remasan tangan, suami mendeteksi 'tingkat nyeri' yang aku rasakan. Di RS, nyari toilet dulu. Jalan dari toilet ke ER lumayan juga, aku sempat merasakan 3x nyeri. Pas di ER, mungkin mukaku udah kayak orang yang nyeri banget kali yaaa. Hihi... Masuk ER obgyene no 1, dicek sama dokternya sudah bukaan 3 menuju 4. "Hah? Baru Bukaan 3 nyerinya udah segini? Gimana entar bukaan 9?" Aku mencelos. Seingatku dulu pas lahiran Aasiya, bukaan 3 itu aku masi bisa ketawa ketiwi deeh.

Dokter ER memutuskan aku ke ruang bersalin malam ini juga (jam menunjukkan hampir jam 12 malam). Uniknya lagii, pas di ER malah kontraksinya yang tadi lumayan sering, jadi ilang lagi, cuma ada 1 kontraksi yang tinggi (diamati dari CTG). Aku mbatin, "hah? Koq setiap ke ER kontraksinya ga ada siih?" Tapi karena dokter sudah memutuskan untuk menginap di RS, jadi aku sedikit lebih tenang. Ga harus bolak-balik lagi.

Pas ke LDR (aku dapat ruangan di LDR 5, ruangan yang persis sama ketika lahiran Aafiya dulu. Kalau pas lahiran Aasiya ruangannya LDR 12), aku masi bisa senyam senyum dan belum ada lagi kontraksi sejak di ER. Tapi pas di cek sama dokternya, sudah bukaan 4.

"She's progress fast" komen dokternya. Aku senang banget ma shaa Allah kalo memang progressnya cepat. Pas dicek di LDR sudah bukaan 4. Tak lama kemudian bukaan 5. Dan... ma shaa Allah... aku benar-benar ga nyangka kalo dalam waktu 1.5 jam bukaannya sudah lengkap!! Aku sampai melongo pas dokternya bilang "completed"! Bisa dibilang ini kontraksi "paling menyenangkan" dari ketiga kehamilan yang aku rasakan. Aku ga menyangka secepat itu, alhamdulillaah. Mungkin karena nyerinya dah dicicil dr sebulan yang lalu yaa hehehe...

Perjuangan yang sesungguhnya pas lahiran Maryam adalah pas mengejan. Nge-push nya lamaaa bangeeett ga keluar-keluar anaknya. Ya Rohman. Lebih dari 10x mengejan kayaknya. Daan, menghabiskan tenaga banget.. ma shaa Allah. Setelah perjuangan panjang mengejan, lahirlah baby Maryam di jam 2.09 di usia kehamilan persis 39 week (versi HPHT), alhamdulillaah tsumma Alhamdulillaah...

Teknik "take a deep breath" benar-benar sangat membantu untuk mengurangi nyeri kontraksi. Alhamdulillaah. Aku juga lahiran bukan dengan konsultan yang biasa aku cek up karena dokternya ga bisa datang kalo tengah malam. Digantikan oleh konsultan lain yang in shaa Allah sama oke nya. Dokter asli Saudi. Dulu sempat nyeletuk sama suami pengen lahiran sama dokter Saudi (konsultan yang sebelumnya kebangsaan pakistani), alhamdulillah Allah kabulkan. Aku suka sama dokternya meskipun baru ketemu di ruang bersalin. Dokternya easy banget dan asyik, ma shaa Allah.

Akhir kata, tiada kata yang pantas aku ucapkan selain segenap kesyukuran kehadirat-Nya. Alhamdulillaah... Alhamdulillaah.... Alhamdulillaah bini'mah.

=====
Jazakallahu khair katsir ya Zaujiy, yang selalu siaga dan ada untukku ketika melewati perjuangan ini... Uhibbuka fillah ❤

Read More

Software Photoshop GRATIS dan LEGAL!

Ini bermula dari request bikin design standing banner yang mana pasti membutuhkan software desain. Kalo sebatas leaflet, pamflet dan derivatnya sih masi bisa diakomodir oleh freeware atau aplikasi yang ga berbayar kan yaa. Tapi untuk big size semacam spanduk, baliho, banner, ga ada pilihan lain selain menggunakan sofware desain yang mostly berbayar.

Sejak berusaha meninggalkan program/software bajakan, aku memang dengan berat hati harus "berpisah" dengan si photoshop. Selama ini, aku memang sudah "ketergantungan" sama software yang satu ini untuk keperluan desain. Kalo sofware lain kayak adobe flash, ulead video studio, de el el itu masi bisalah aku meninggalkannya dengan ga begitu berat (ulead masi butuh sih cuma udah jarang ngedit video sekarang, apalagi bikin flash. Udah emak-emak beranak begini emang agak rada susah buat stay tune di depan laptop seharian. Pasti deeeeh dijamin ada dua wonderful girl yang bakalan ngerecokin, hihihi. Lagian jelas mereka lebih prioritas daripada flash atau video editing kan yaa... Tapii, untuk keperluan desain flyer, leaflet, dll itu masi sangat butuh secara emak Aafiya Aasiya ini kalo jadi panitia pasti ga jauh-jauh dari bidang humas dan publikasi... Hehehe... Jadi, withdrawal dari photoshop mirip-mirip withdrawal dari psikotropika lah. Wkwkwkwkwkwkwk.... Alhamdulillaah... Alhamdulillaah... meski berat, akhirnya memang si photoshop sudah tak tersentuh lagi. Alasannya?! Yang tertarik boleh ceki-ceki alasan kenapa aku menahan diri untuk tidak memakai software bajakan lagi sama sekali. Lupa kapan aku ceritakan di blog ini. Search aja kalo tertarik ngebacanya. Hihi...

Mulaiah aku bergeriliya mencari software yang kira-kira bisa menggantikan si photoshop (selanjutnya disingkat PSD aja lah yaaa biar ga panjang ngetiknya kekeke), yang free dan legal. Udah mencoba GIMP versi linux tapiii kayaknya memang susah move on dari si PSD ini... Hehe... Akhirnya ketemu sama si Canva. So far, aplikasi canva sangat membantu lah meskipun teteeep aja si PSD lebih baik menurut aku. Canva lebih instan tentunya. Dirancang untuk easy to use bagi pengguna. Tapi, aku memang ga bgitu suka yang instan begini karena ga begitu leluasa dalam urusan edit mengedit. Dari sekian banyak aplikasi, canva paling the best menurutku. Jika tujuanku adalah bikin desain untuk keperluan publikasi, canva more than enough untuk memenuhinya. Tapi, tetap tak bisa digantikan oleh PSD.

Dulu ada request bikin spanduk dengan ukuran 3x5 meter. Aku bingung mau pakai aplikasi apa. Ga ada aplikasi yang gratisan untuk bikin desain ukuran besar begini, even canva sekalipun. Mau ga mau harus pakai software desain kaaan yang berbayar. Akhirnya aku pakai versi trialnya aja. Tapi trial kan cuma 30 hari. Hiks... hiks....

Aku sebenarnya pengen bayar lisensi itu PSD. Tapiii, sayang aja rasanya kalo ga dipakek tiap hari. Hanya untuk even tertentu saja. Lagian, laptopku masi terbilang jadul untuk menampung photoshop CC (yang keluaran terbarunya) yang memakan space sampai 2 GB lebih. Apalagi fokusku bukanlah ngedesain, jadi lisensi software ataupun beli laptop dengan kapasitas besar bukanlah prioritasku saat ini tentunya. Beda kalo case nya aku memang bekerja untuk ngedesain yang memang dipakek tiap hari.

Singkat cerita, tentu saja 30 hari trial dulu itu sudah expire. Hehehe... Aku hampir aja give up dan pengen bilang ke panitia lainnya kalo aku ga bisa menyanggupi bikin desain standing banner karena ga punya software nya. Tapi, tetiba iseng search tentang PSD yang free dan legal. Kaliii si adobe mau berbagi yang versi jadulnya secara gratis. Daaaaan ma shaa Allah... ternyata adobe memang ngasi gratisan yang CS2 dengan alasan technical issue. Woooowwww ma shaaa Allah... aku langsung download laah tuuhhh si Cs2 ini dengan mata berbinar-binar. Hihihi...
PSD CS2

Sempat degdegan juga kalo si PSD CS2 ini ga bisa di-running di laptop window 10. Ternyata alhamdulillaah bisaaaa! Ma shaa Allah... rasanya excited banget. Pernah ngerasain ketemu sohib lama yang udah bertahun-tahun ga ketemu? Gimana rasanya? Senang banget kaan? That's what I feel ketika ketemu photoshop lagi... hihihi...

Buka CS2 ini serasa kembali ke jaman baheulak ketika aku baru-baru kenal photoshop dulu. Hihihihi... Meskipun sangat sangat jadul, yang penting aku bisa bikin desain dengan ukuran yang besar seperti spanduk dll. Jadiii, buat akuu, si PSD CS2 ini more more more than enough laaah. Meskipun dibandingkan dengan versi PSD CC yang terbaru memang udah ketinggalan banget tapiii yang penting kan fungsinya. Sama kayak beli furniture, yang jadul pun okee karena kita butuh fungsinya kan yaaa. Hehehehe....

Bagi kamu yang tertarik untuk menginstall PHOTOSHOP CS2 secara GRATIS dan LEGAL, boleh berkunjung ke link ini dan tinggal ikuti aja step-stepnya.

Semoga sukses yaaa nginstallnya hehehehe...
Read More

Merayakan Malam Takbiran dan Idul Adha dari ER, LDR dan Kamar Inap

Malam takbiran selalu saja menjadi momen yang membahagiakan tentunya bagi seluruh muslim di penjuru dunia. Tapi, ada kalanya malam takbiran harus dirayakan dari tempat yang tidak kita bayangkan. Begitu pula dengan malam takbiran idul adha kami di tahun 1439 H ini.


Hasil CTG nya sudah mulai normal alhamdulillaah...

Sore hingga malam ini, aku merasakan kontraksi yang tidak biasanya. Lebih regular dan kuat, menjalar dari arah punggung, pinggang dan perut bawah. Mirip seperti kontraksi waktu lahiran Aasiya dulu. Actually, aku sudah merasakan nyeri di perut bawah ini sejak dari seminggu yang lalu. Tapi ga beraturan, dan masih bisa ditoleransi. Kadang memang mengganggu tidur. Tapi sepertinya masih kontraksi palsu.

Dengan riwayat kelahiran dua anak sebelumnya yang memang maju dari due date, aku pikir di week ke-36 ini aku bakalan lahiran mengingat kontraksinya yang sudah sangat berasa. Dulu pas lahiran Aasiya aja, dengan kontraksi yang ga begitu nyeri kayak sekarang, ternyata sudah pembukaan 3 ketika datang ke ER dan anaknya lahir 8 jam kemudian di usia kandungan 37 week. Naah, akhirnya kita ke ER(emergency room) setelah berkumandangnya adzan maghrib di hari arafah ini. Pas di cek sama CTG, ternyata kontraksinya masi irragular dan belum ada pembukaan. Kenapa ada nyeri kontraksi yang cukup tinggi ya?!

Nah, awalnya aku pikir kitah bakalan pulang lagi karena belum ada bukaan maupun kontraksi asli. Tapii, di menit ke berapaaa gituh yaa aku lupa, dokter mendeteksi kalo bayinya takikardi (detak jantung di atas normal), padahal awalnya normal-normal aja. Kemungkinan distress oleh sebab yang tidak diketahui. Bisa jadi terlilit tali pusar, atau yang lainnya. Kata dokternya, jika takikardi ini terus berlanjut, maka aku harus segera menjalani SC. Ohh... Ya Allah, ga kebayang aja kalo harus SC. Dokter juga memberikan suntikan dexamethasone untuk paru si baby, jika ada kemungkinan SC mengingat ini masih 36 week.

Aku diberikan infus RL untuk menurunkan takikardi ini, dugaannya kekurangan cairan dan harus menjalankan observasi sampai besok. Jadi, mau ga mau harus nginap di RS. Hiks... qadarullah, malam takbiran bermalam di RS dan tidak bisa ikut shalat ied. Setelah beres urusan admission, aku ditransfer ke LDR (labor and delivery room) untuk observasi dengan CTG selama 4 jam. Dan alhamdulillah hasil CTG nya udah bagus. Abis itu aku ke ruang rawat inap. Karena hasil CTG di LDR udah bagus. Di ruang rawat inap, aku kembali di CTG. Kata perawatnya kalo semisal besoknya CTG nya udah OK aku boleh pulang.

Nah, sekarang aku lagi nunggu dokter nih buat USG dulu dan keputusan untuk discharge dari RS. Mohon do'a yaa supaya sehat2 dan lancar2, lahir di waktu yang terbaik menurut-Nya dengan selamat. Menjadi anak yang shalih/ah dunia dan akhirat.
Pada udah kecapean di midnight dan tertidur di sofa nemenin bundanya CTG di LDR 😣 Jazakumullahu khair katsir, my dear 😘❤

Jazakallahu khair katsir yaa Zaujiy, always full support dan juga dua bidadari kecil shalihah yang senantiasa mendo'akan "sehat-sehat yaa Bundaaa... aamiin yaa Allah...". Love all of you fillaah... 😘😘❤❤❤


Finally, dari ruang rawat inap Ward A no 102, HMG Ar Rayyan Hospital, aku dan keluarga mengucapkan:
"IED ADHA MUBARAK"

Read More

Low Budget Home Decor

Seperti yang aku bilang di postingan sebelumnya bahwasannya aku mau share soal home decor ala-ala yang dikerjain sama emak Aafiya di rumah yang baru. Rumah baru sih bukan berarti bangunan baru. Justru rumah yang kami tempati sekarang adalah bangunan lama. Hehehe...

Home decor adalah salah satu hobi emak Aafiya. Semacam leisure time lah. Hehe... Seruu ajaaa. Kali ini mencoba hal baru yang lebih advance: yaitu 'bermain' dengan cat. Kekekeke... Selain cat, dua benda yang sangat bermanfaat lainnya adalah lem silicone dan mesin jahit. Sebenarnya kalau dibilang home decor, gak fully home decor juga sih. Soalnya, yang lebih banyak aku lakukan adalah me-renewal furniture usang menjadi "wajah baru". Yang home decornya sendiri justru ga banyak. Cuma hiasan dinding sederhana dan white corner. Dan bagaimana tataletak segala furniture di rumah. Rumah kontrakan minimalis kami, hihi...

Sejujurnya, aku sangat suka warna putih untuk interior rumah maupun furniture nya. Kenapa? Ketika warna lain menyerap cahaya, warna putih justru memberikan hal yang sebaliknya. Putih akan menangkap dan kembali memancarkan cahaya dan membuat ruangan terasa lebih luas. Itulah sebabnya aku ga begitu suka rumah dengan interior warna warni apalagi warna yang cendrung gelap karena akan menyerap cahaya. Jadinya rumah terasa lebih"pengap" menurutku. Hehe... Yap, selera orang berbeda-beda tentunya. Dan aku juga ga mungkin dongs memaksa orang satu selera denganku, kekeke...

ini "karya masterpiece" emak aafiya (wkwkwkwk, ke-GR-an). Di antara semua yang di-renewal, ini yang benar-benar totally dan penuh perencanaan. Awalnya ini lemari lebih layak dianter ke tukang loak (emang ada yaa tukang loak yang terima lemari kekekeke). Tapi setelah didekor lagi, ternyata aku jadi sukaaa banget alhamdulillaah...
Lemari di atas awalnya udah jelek banget lho. Ekekeke... Seperti yang aku bilang dulunya, ketika membeli furniture di sini, aku lebih memilih fungsinya. Bukan "penampakannya". Secara kami kan bukan permanent resident di sini. Sewaktu-waktu bisa saja final exit. Sayang aja beli furniture mahal-mahal untuk nanti kembali dijual dengan harga yang sangat murah. Jadi--sebagai emak-emak yang lebih berpikir ekonomis--membeli barang baru not too mandatory menurutku. Yang secondhand pun boleh asalkan fungsinya bisa dimanfaatkan sedemikian rupa. Jika ini di Indonesia, bolehlah kita bikin plan yang matang soal tata ruang dan home decor [Hobby emak Aafiya banget ini hihi]. Karena namanya juga di negeri sendiri, meskipun merantau jauh, akhirnya kan in shaa Allah pulang ke kampung jua. Berbeda kalo kita merantau di luar negri yang bukan kampung halaman. Kekeke... Kalau di Indonesia kita bisa plan dari awal mau seperti apa, sementara kalau di luar negri ini, kan kita cuma "terima jadi" rumah kontrakan yang isinya harus kita sesuaikan.

Lemari di atas awalnya berwarna coklat tua, dengan cat yang sudah mulai keropos dan pintunya udah ga tau kemana, dari awal dibeli. Ngenes banget wkwkwkwk...Fungsinya buat taruh barang-barang craft emak Aafiya. Itu knob drawer nya juga udah copot 3, juga sejak awal dibeli. Belinya juga murah meriah banget. Bekas orang yang final exit. Selama hampir 2 tahun, lemari itu aku biarkan begitu saja. Cuma dibikinin kain penutupnya biar ga terlalu "naked" dan kelihatan isinya (yang lebih sering berantakan. wkwkwkwkwk... Akhirnya, aku pengen all out buat lemari ini, supaya lemarinya jadi lebih eye catching dan berwajah baru lagi. Aku bilang sama Abu Aafiya kalo aku mau ngecat ini lemari. Awalnya suamiku heran juga, ngapain istrinya kepikiran buat ngecat-ngecat segala. Wkwkwkwkwk... Tapi, mungkin bagian dari ngidam kali yaa buahaha... "Yakin mau beli cat, Bund?" tanya Abu Aafiya masi sangsi. "Iya, yakin banget Yah." Akhirnya, sore itu pergilah kami ke toko jotun buat beli cat dan tentu saja warnanya putih sesuai plan yang sudah aku susun dari awal. Heuheu... Langkah selanjutnya adalah mengganti knob dan merapikan rak atas dengan box poliester. Aku taunya yang jual knob cuma di Ikea. Nyaris ga pernah ke toko bangunan di sini mah. Dan box poliesternya juga di Ikea. Suatu sore yang berdebu, akhirnya kami ke Ikea untuk menlengkapi kekurangan lemari ini. Dan beginilah jadinya, alhamdulillah more than my expectation si lemari dan drawernya. Sayang lupa motoin versi before and after nya. Hehehe....

Dari lemari craft ini awalnya, akhirnya timbul "ide liar" lainnya buat bikin wall decor. Seperti yang aku bilang tadi, karena sifatnya yang sementara di sini yang bukan permanent resident, aku sebagai emak-emak yang berpikir ekonomis wkwkwkwk ogah banget menyediakan budget buat home decor yang mahal-mahal. Ngapain menghamburkan uang untuk beli yang "sunnat" (baca: cuma pelengkap dan riasan) begini, wong yang "wajib" (baca: butuh) aja aku lebih memilih yang preloved. Ya ga sih?! Secaraa, kalo lihat di buku-buku inspirasi home decor dan ketika survey di lapangan soal harga untuk pernak-[ernik home decor, harganya was biyasaah. Mahaal kebanyakan. Ogaaah ahh beli beginian wkwkwkwk. Nah, tapi aku juga senang ada sedikit wall decornya wkwkwk... Jadinya aku memilih model home decor yang very very low budget. Beginilah jadinya. Sedari dulu, aku memang lebih senang yang menjadi wall decor itu adalah kata-kata nasihat bukan foto-foto. Lagian, kalo ga salah ada larangan makhluk bernyawa menjadi pajangan di rumah kan yaaa... CMIIW... 

Awalnya bingung mau nempelin pakek apa yaa. Sempat kepikiran di bor aja. Ehh, lalu ada ide pakek lem silicone yang biasa digunakan untuk ngelem keramik, besi, kayu dll. Ternyata lem ini benar-benar sangat bermanfaat dan sangat kuat. Lem alt*co kalah jauh deehh pokoknya. Hihihi...
Low budget ini maah... dengan canvas murmer, cat akrilik murmer dan jam IKEA murmer yang sudah "dikuliti" wkwkwkwkwk...

Selanjutnya adalah si white corner ini. Maap yaa ini versi berantakannya. Kekeke... difoto apa adanya aja. Ada kisah menarik di balik white corner ini. Meja putih ini awalnya akan kami jual karena berpikir ga fix di rumah ini. Secara kan rumahnya minimalis. Tapi qadarullaah ga laku, dan ternyata alhamdulillah banget ga laku karena masih dibutuhkan dan fix di rumah kami yang baru. Sebelumnya, meja ini adalah meja kerja Abu Aafiya yang warnanya merah, sudah tergores-gores bagian atasnya (yang kemudian aku bikinin custom buat alasnya sehingga nutupin goresannya) dan kakinya warna merah. Sementara kursinya berwarna abu-abu tua yang juga sudah kusam kekeke... Karena lagi hobbi ngecat, akhirnya mejanya aku cat ulang dan kain buat kursinya diganti warna putih juga. Jadinya ini adalah white corner untuk tempat kerja Abu Aafiya. Abaikan keberantakannya yaak... belum ditata dengan baik printer dan laptop di atasnya soalnya kekekke...
white corner special for Abu Aafiya kalo lagi kerja dari rumah

Selanjutnya adalah wardrobe dan rak sepatu yang kebagian kenak cat ulang. Hihihi... Setelah dicat ulang, furniture jadi terlihat baru lagi ma shaa Allah... And always warna putih jadi pilihan...

Seprai yang custom DIY. Susah nyari seprai dengan ukuran bed super jumbo begini kekekeke...
seprai pun tak ketinggalan. Jadi bed nya kebetulan ukuran agak jumbo (king size) 2x2 meter dengan ketebalan 30 cm. Kebanyakan seprai ukurannya cuma 180x200 cm dan ketebalan 15-20 cm. Jadinya mau ga mau harus dijahit sendiri dengan menyambungkan beberala lembar kain. Kekekeke....
wardrobe ini awalnya berwarna cokelat muda yang sudah berwarna agak kusam dan agak memudar diconvert menjadi putih dengan "the power of paint" lagi-lagi. (Abaikan barang-barang bagian atas yang belum diberesin, kekeke)

seprai custom (secara ukuran springbed nya 2x2 meter dan tebal springbed30 cm, susah nyari seprainya. Jadinya, jahit sendiri dengan karet sekeliling jadinya ga mudah lepas apalagi dipakek lompat-lompat sama duo bocah kekeke. semoga ga ada yang nyadar kalo ini seprai adalah sambungan beberapa kain karena sulit mencari kain dengan lebar 260 cm hihihi)

rak sepatu usang di renewal lagi dengan "the power of paint" lagi hehehe...
Maap cuma foto ala kadarnya, dengan kamera HP dan pencahayaan seadanya. Nanti deh difotoin lagi yang versi lebih oce oye nya in shaa Allah kekekeke...
Kapan-kapan disambung lagi, anaknya udah rewel minta dikelonin... jadinya distop dlu deh kekkeke...
Read More

Living in Riyadh [part 23]: Move on

Sudah bulan agustus. Belum ada postingan sama sekali. Hehe... Baiklah, mari kita posting sesuatu agar tidak melewatkan 1 bulan kekeke...

Bulan agustus ini bulan yang istimewa. Karena selain kemerdekaan RI (yang tentu saja jamak diketahui semua WNI), adalah bulan berhaji. Ya, bulan dzulhijjah jatuh pada bulan agustus di tahun ini. Beberapa teman-teman di sini yang akan berangkat haji sudah bersiap-siap akan berangkat. Hati jadi rindu untuk berangkat jua. Semoga Allah memudahkan langkah kami untuk menunaikan haji juga nantinya, apakah dari sini atau dari Indonesia atau dari negara manapunlah jika Allah masih karuniakan umur yang panjang (dan semoga umur yang barokah). Sungguh, Haji itu ibadah fisik yang memang melelahkan tapi benar-benar membahagiakan ma shaa Allah....

Sesuai judulnya, aku pengen cerita tentang move on. Hehehe... Move on di sini adalah dalam artian pindah yang sebenarnya dan juga move on dalam pengertian banyak orang saat ini: move on hati wkwkwkwkwkwk... Setelah hampir 5 tahun tinggal di An Nahda district, akhirnya kami move on jugaa... ke Naseem district. Sesungguhnya berat juga meninggalkan Nahda. Ada banyak kenangan di Nahda. Dekat dari kantor suami sudah pasti. Dan yang terberat adalah meninggalkan masjid jami' di dekat kontrakan kami yang lama. Jami' Maiman namanya. Masjid ini the best menurut kami di area Nahda. Imamnya baguus bacaannya ma shaa Allah. Ada program tahfidz (yang tentu saja free) untuk anak-anak dan ibu-ibu juga. Masjidnya adeem, luas dan bersih. Ini salah satu yang bikin berat untuk move on hehe.

Ceritanya kami memang mau pindah juga sih setelah kontrakan yang ini habis. Tapi ga kepikiran akan pindah ke Naseem (district tetangga sebenarnya dengan Nahda cuma secara 'socio-culture' agak berbeda menurutku ekekekekekeke...). Kebetulan ada teman yang final exit ke Indonesia, dan kami akhirnya memutuskan untuk menggantikan kontrakannya. Di Naseem ini. Yang sebelumnya ga kepikiran mau ke naseem, ehh akhirnya malah sekarang tinggal di Naseem. Kekeke... meskipun kadang serasa masi belum move on dari nahda... ekekekeke...

Pindah rumah selalu saja bukan hal yang mudah. Ini bukan pekerjaan yang ringan tentunya. Mulai dari load, packing, moving, unload... semuanya menguras tenaga dan fikiran dan juga cost tentunya. Tidak mudah mem-fix kan dan menata kembali dari rumah yang sebelumnya tipe 115 meter persegi ke rumah yang tipe 65 meter persegi. Hehe... Banyak yang akhirnya harus kami "remove". Apalagi karena rumah yang kami tempati ini adalah ex-rumah teman yang notabene masi tersisa banyak barang-barang juga di sana. Fiiuufft....

Pengalaman Menjual Barang-barang
Karena kami pindah ke rumah yang secara ukurannya hampir setengah ukuran rumah sebelumnya, tentu saja banyak barang-barang yang harus dikeluarkan. Apalagi ketambahan barang-barang dari teman yang ex-kontraktor rumah ini. Beuuhh... ma shaa Allah... ga akan muat deeh kalo semua barang di keep sendiri. Belum lagi pertanggungjawaban di hadapan-Nya nanti. Jadi, keep yang perlu dan remove yang tidak digunakan/jarang digunakan atau can't fix in this house. Bisa dijual kembali atau dibagikan secara gratis. Pertama-tama aku menawarkannya ke teman-teman yang sesama komunitas indonesia dulu. Lalu, menjualnya di situs expatriates.. Just throw away price. Hehe...

Pengalaman menjual preloved item ini jadi kesan tersendiri. Urusan jual menjual ini secara online nya hingga deal, menjadi bagianku. Abu Aafiya tinggal nanti yang ketemu sama yang mau ngebeli atau yang mau ngambil barangnya. Hehe... Kebanyakan yang membeli/mengambil barang-barang ini bukanlah orang pertama yang menawar. Kebanyakan yang pertama kali menawar, malah cuma PHP doang. Tak ada kabar yang jelas. Meskipun dikasi gratis sekalipun, banyak juga yang akhirnya cancel. Sebenarnya agak rada kesal juga sih (apalagi yang free item) yang awalnya sudah deal mau ngambil, tapi tiba-tiba di injury time malah cancel. Kan kasian ada orang yang benar-benar serius mau ngambil dan terhalang oleh orang yang asal membuat deal lalu cancel seenaknya.

Kalau yang seriusnya, cuma demi sesuatu yang rasa-rasanya bisa dia beli di dekat rumahnya dengan harga yang ga mahal, dia rela menempuh perjalanan hampir 40 menit. Tapi, yang kebanyakan sih cancel sepihak. Kekeke... Benar-benar harus banyak sabar deeh kalo soal ini. Hihi...
Ada juga pengalaman lain. Beberapa barang ex-teman yang dikasi secara free berupa dressing table, meja kerja,kursi yang pada awalnya banyak peminatnya. Tapi PHP doang. Gayanya aja mau ambil, tapi ga ada kejelasan lagi. Kabar kabur... Hihi... Hingga ada salah seorang yang awalnya aku cuekin karena dia ga kirim message via WA dan malah ngirim rekaman sound yang ga aku mengerti. Pakai bahasa arab. Aku bilang ga ngerti bahasa arab. Trus dia malah pake bahasa urdu. Tambah ga ngerti dong akuuu... wkwkwkwkwk... Nah, ternyata dia ga bisa bahasa inggris. Aku bilang english only please. Baru deh dia (mungkin via temannya) pakek english dan katanya dia tertarik sama barang yang aku iklankan via expatriates. Ehh, ternyata emang rizki nya si bapak ini yaa... alhamdulillah akhirnya dia yang awalnya kita cuekin malah jadi ngambil, enggak PHP doang. Hehe...
Sebenarnya ini semacam simbiosis mutualisme juga sih yaaa... Karena kami butuh mengeluarkan barangnya, dan si peng-hire butuh mengambil barangnya. Impas kan. Dari pada harus mengeluarkan sendiri dan terbuang begitu saja, alangkah lebih baiknya dimanfaatkan oleh orang yang membutuhkan.

Pelajaran berharga: Rizki itu sudah ada ketetapan-Nya. Bisa jadi, si A yang akan mengambil barangnya, ehh malah akhirnya si B yang mendapatkannya. Bisa jadi kita sudah berharap pada X, ehh ternyata rizkinya malah Y. Jadi, soal rizki dari Allah semestinya bukanlah sesuatu yang perlu terlalu dikhawatirkan. Sudah ditakar-Nya koq. Yang perlu dikhawatirkan itu justru bagaimana nasib kita kelak, ketika kita telah melewati fase dunia. Iya, kehidupan setelah dunia. Tapi, kebanyakan hari-hari kita justru lebih sering mengkhawatirkan rizki yang sudah ditakarkan-Nya ketimbang kehidupan setelah mati. Ini note to my self terutama niih dengan segudang kelalaian, astaghfirullaah....

Ada barang yang tak laku even itu dikasi gratis sekalipun?
Tentu sajaaaa ada!!!
Hehe...

Awalnya sedikit kecewa ketika ada yang hire tapi cancel hingga di hari kepindahan kami ke tempat yang baru, barang itu tetap saja ga terjual atau tidak jadi diambil. Lagi-lagi di PHP in hiks... hiks...

Tapiii, itulah takdir-Nya. Dia selalu Maha Mengetahui apa yang terbaik buat diri kita. Ternyata, barang-barang yang tidak laku itu adalah barang-barang yang sebenarnya masih kami butuhkan! Dan pada akhirnya, kami bersyukur bahwa barang-barang itu tidak laku. All can fix here, ma shaa Allah.... Ternyata kami masi sangat butuh barang-barang itu yang dikira ga muat di rumah ini. Aku takjub juga, ma shaa Allah... tak terpikirkan sebelumnya bahwa semua bisa fix di rumah ini. Ter-utilisasi dengan maksimal dan optimal.

Pelajaran berharga: segala ketetapan-Nya pastilah yang terbaik untuk diri kita. Pada awalnya mungkin kita bersedih karena sesuatu terjadi di luar pengharapan. Kelak, kita akan mengetahui bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita yang telah ditetapkan-Nya, pastilah YANG TERBAIK untuk diri kita. Terbaik untuk urusan kita. Dan semoga kita juga bisa berupaya yang terbaik untuk akhirat kita. Maka benarlah bahwa sebaik-baik pengharapan hanyalah pada-Nya yang takkan pernah mengecewakan kita.

Alhamdulillah, akhirnya di sinilah kami sekarang. Di rumah yang baru. Semoga barokah... Aamiin yaa Allah. Meskipun, ada kekurangan yang unpleasant lah jika dibanding rumah sebelumnya, tapi over all rumah ini pun banyak kelebihannya dan menyenangkan. Di antaranya posisinya di ground floor yang ga perlu lagi naik turun tangga. Memiliki halaman yang cukup luas untuk area bermain anak-anak (meskipun sekarang musim panas dengan suhu mencapai 45° C yang ga memungkinkan setiap saat bermain di halaman dengan panasnya yang menyengat). Dapur yang sangat minimalis (kurang dari setengah ukuran dapur sebelumnya), menguntungkan karena jadinya lebih rajin beberes. Kalo dapurnya luas, jadi lebih lalai beberesnya... kekekekeke... Dan yang terpenting, tentu saja bukan soal seberapa mewah dan seberapa luasnya rumah, melainkan apakah dari rumah ini lahir kebahagiaan, ketentraman, kekeluargaan, kebersamaan dan terutama ketaatan. Jika semua ini missing, rumah tiadalah artinya lagi. Bahkan sekedar tempat untuk tidurpun, takkan memadamkan kegelisahan hati. Apalah artinya kan yaa? Heuu...

Do'akan yaa rumah ini menjadi rumah yang barokah... Aamiin yaa Allah...

In shaa Allah lanjut ke cerita selanjutnya tentang home decor yang murah meriah ala emak Aafiya... Hihi...

Read More

Nama dan Menamai

Sudah lama tak ngeblog. Hehe... Sambil menunggu Banana Sponge Cake dipanggang, akhirnya ngebuka blog juga. Betewe, aku nge baking bukan karena rajin (semacam disclaimer kah? Ekekekeke 😂). Tapi karena kepengeeeeen cake-cake an yang mana akhir-akhir ini semakin menjadi-jadi. Wkwkwk... Kemarin habis meng-kholas-kan kue sarang semut. Sebelumnya marmer cake jadul. Apaaah??? Sejak kapan emak Aafiya doyan ngebaking beginiiih. Hihi... Padahal sebelum-sebelumnya bukanlah penggemar yang namanya cake. Sudahlah, bukankah ini berdampak positif? Hehehe.... Selain itu, karena ga kepengen membuang pisang yang kelupaan dikeluarkan dari plastiknyee abis beli di supermarket. Jadinya itu pisang mulai membusuk jika tidak cepat-cepat dimakan (aka dijadikan kue) 😁...


Baiklah, tanpa memperpanjang cerita, akhirnya kepada blog juga aku pulang. Blog itu bagiku ibarat rumah. Cape aktifitas di medsos (yang pada kenyataannya cuma dilihat-lihat ajeee, dan sempat off dari medsos beberapa bulan dengan menonaktifkannya) tanpa ngapdet status de el el..., akhirnya tetap sajaa aku cuma bisa berpanjang lebar cerita apaaaa ajaah cuma di blog. Sekedar leisure time, atau me time lah yaaa... Aku bukan viewer hunter. Ini adalah 'rumah' untuk me-release sahajaaa.... Postingan blog ini jauh berkurang setelah menikah bukan karena malas ngeblog sih. Karena sudah ada seseorang yang menjadi tempat merelease segala rasa di hati di mana menceritakan apapun kepadanya selalu menyenangkan. 😍😘😘
Jadi, yang di blog tinggal residunya ekekekekekeke....


Lho, belum masuk ke inti cerita? Ekekekeke... seperti biasaaaa, muqaddimah lebih panjang dari intinya... 😋

Jadi kembali ke judul tentang Nama dan Menamai. Dulu aku juga pernah cerita kan yaa, tentang orang minang (kayaknya bukan orang minang doang deeh) yang senang menamai anaknya dengan nama yang agak kebarat-baratan (maklumi sahajaaaa, kan sumatera BARAT) hihihi.... Nah, namaku termasuk nama yang sering dipertanyakan sejak jaman masi SD hingga jauhhh keperantauan sini, di Riyadh. Tetaaappp sahajaaa banyak orang yang kepo mengenai namaku. Apa sih artinya. Komen2 yang tendesius mengatakan "Namanya kamu unik deh" (ini mah ke-PD-an tingkat tinggi wkwkwkwkwk). Meskiii, asal katanya berbahasa arab, orang arab pun ga ngerti... hihi... Kebanyakan begitu sih yaaa... Karena ada modifikasi kreatifnya kalii wkwkwkwkwk...


Nah, cerita soal nama ini, aku pernah dapat pertanyaan dari seorang dokter ketika kita ke klinik dulu. Dia seorang sudanese.
"Are you convert?"
Hah? Aku melongo dongs. Ini kali pertamanya aku dipertanyakan begituuu. Hiks...
"No" jawabku
"Because your name not an islamic name. Why your name "Fathelvi", not Aisyah, Khadeejah etc. So i think you are convert." Even namaku asal katanya bahasa arab sekalipun, tapi aku dipertanyakan apakah aku seorang muallaf. Huhu...
"I growth in muslim family. My father, my mother and all my family is muslims. But it's common in my country to named by another name. I mean not islamic name."

Lain ceritanya dengan suami, yang juga sempat dikira bukan seorang muslim oleh salah seorang teman suami yang berkebangsaan Syiria. Hingga suatu hari, dia berjumpa dengan suami di masjid habis shalat.
"Woww.. i'm so sorry, I think you are not a muslim." Katanya sedikit menyesal mungkin yaa ehehehe (dugaanku ajah sih. Abu Aafiya tolong luruskan yaaa 😘). "Because your name not a muslim name"
Dan mengalirlah cerita bahwasannya kalo di Syiria, MUSTAHIL AQLI orang yang bernama kebarat-baratan semisal Dave, Antonius, Angel dll (maaf buat yang bernama sama, bukan bermaksud menyinggung. Toh aku sendiri juga sama koq, sempat dikira bukan muslim jugaa) adalah pemeluk agama ISLAM. Dan juga mustahil aqli orang yang bernama Mahmud, Ahmed, Aisyah dll beragama selain islam.
Lalu suami menjawab, bahwasannya di Indonesia biasa saja terjadi bahwa seseorang bernama David, Antonio, Angel, dan nama kebarat-baratan lainnya tapi mereka adalah seorang muslim. Iya, itulah perbedaan kulturnya.


Mungkin oleh sebab itulah, aku yang dulunya sempat kepikiran memberi nama anak dengan nama yang unik (katanya asal kata bahasa arab tapi nyatanya orang arab sendiri susah mengartikannya) dengan ejaan yang mungkin agak sulit dibaca (ekekekeke... nama anak2 jaman now kadang memang sulit untuk aku eja) akhirnya berpindah haluan. Dulu, ingin sekali memberi nama anak dengan kata yang unik, nama yang tak biasa. Tapi begitulah. Hidup itu dinamis. Segalanya mungkin saja berubah. Preferensi apalagi. Hehe...


Sekarang, aku lebih senang dengan nama-nama yang yaaa katakanlah terlalu mainstream. Ada jutaan orang dengan nama yang sama mungkin. Nama sahabat dan sahabiya misalnya. Dan nama yang lebih mencerminkan kalau si anak adalah seorang muslim/muslimah. Bukan nama yang kebarat-baratan atau nama yang terdengar unik atau bahkan sulit dieja. Biar dikata, nama sejuta umat (hehehehe...), yang penting dalam do'a tersebut ada sebuncah do'a dan harapan bahwasannya si anak meneladani sahabat atau sahabiyah yang kami sematkan padanya.

Ini tentulah bukan menyalahkan apalagi menganggap remeh dan memandang sebelah mata para orang tua yang menamai anaknya dengan nama kebarat-baratan. Wallahi, tidak sama sekali! Aku percaya, setiap orang tua pastilah menamai anaknya dengan nama yang baik, terkandung do'a dan harapan membersamai nama itu. Aku juga tidak sinis terhadap orang yang preferensinya memberi nama anak bukan dengan "nama islami" yang dimaksud oleh teman Syiria suamiku atau Dokter Sudan yang sempat bercakap denganku itu. Selama itu bukanlah nama yang buruk yang jelas dilarang oleh Rasulullah, it's OK. Ini hanyalah menyoal preferensi saja koq. Hehe...
Aku juga tidak sedang menggiring opini agar orang-orang berbondong-bondong untuk menamai anaknya dengan preferensi sama denganku. Selama itu baik, tidak ada yang salah in shaa Allah...


Aku ingin menamakan anak ketiga kami nantinya; Khaleed (jika dia seorang laki-laki dengan harapan setangguh panglima perang Khaleed bin Waleed) atau Maryam (jika seorang perempuan dengan harapan meneladani wanita suci yang menjaga kehormatannya, salah satu dari 4 wanita yang mulia). Hehe.. Semoga anaknya sihat-sihat lahir dan batinnya, lancar-lancar segala prosesnya nanti. Aamiin yaa Rabb... Bantu do'a yaa teman-teman...
Read More

Tips Sederhana Ketika Ziarah ke Masjid Nabawi bersama Bayi dan Balita

Kota Madinah adalah kota yang sangat dicintai Rasulullah. Di kota inilah beliau dimakamkan. Kota ini selalu saja menawarkan kedamaian, ketenangan dan kerinduan. Semoga muslim dan muslimah yang belum pernah menziarahi Masjid Nabawi diberikan kemudahan untuk datang berziarah. Aamiin yaa Rabb...

Ini bukanlah perkara ibadah. Maklum aku tidak memiliki kafaah ilmu syariah. Ini hanyalah tips sederhana berdasarkan pengalaman untuk para ibu yang membawa anak (baik itu bayi maupun balita) ke masjid Nabawi. Terutama untuk yang ziarah secara mandiri dari KSA atau negara tetangga KSA ataupun umrah backpacker dari berbagai negara di dunia.

1. Memilih lokasi hotel.
Lokasi hotel (jika bepergian bukan dengan travel agent tapi berangkat dengan membooking hotel sendiri) sebaiknya pilihlah yang dekat dengan king Fahd gates (sebelah utara masjid, berlawanan arah dengan arah qiblat). Karena dari pintu inilah akses ke area tempat shalat wanita lebih dekat. Sebaiknya jangan memilih lokasi di sebelah selatan (dekat masjid nabi, di depan arah qiblat) karena akses untuk ke area tempat shalat perempuan akan lebih jauh. Kalau laki-laki saja (tanpa membawa istri dan anak) bagus di area sini karena akses ke area laki-laki lebih dekat.

2. Ketika membawa pushchair/buggy/stroller.
Meskipun di masjid al haram, jangan terlalu naif untuk meninggalkannya tanpa pengamanan dan merasa berada di masjid yang suci, karena pencuri tetap selalu ada. Maka, sebaiknya berhati-hatilah ketika membawa kereta bayi (apalagi yang jual-able hehe). Karena kadang, kita juga diuji dengan kehilangan stroller heuheu... Ingat! Kereta bayi dilarang untuk dibawa ke dalam masjid. Yang diperbolehkan hanyalah kursi roda. Jadi, kereta bayi pasti disuruh tinggal di luar.

3. Perhatikan tanda untuk area yang dibolehkan membawa anak dan area yang tidak dibolehkan membawa anak. Jika membawa anak ke area yang tak dibolehkan membawa anak, beresiko "diusir" ke area yang dibolehkan membawa anak. Kan ga enak ajaa, udah Pewe ehh malah disuru pindah. Belum tentu juga dapat tempat di area yang baru. Heuheu...

4. Jangan memaksakan diri ke Raudah apalagi bersama bayi atau anak. Biasanya pengunjung raudah itu (khususnya perempuan) lebih 'chaos' dan crowded dibanding pengunjung laki-laki karena waktunya terbatas. Sebaiknya mengunjungi raudah di malam hari (jam 11-an malam) untuk perempuan.

5. Sebaiknya hindari arrival time bertepatan dengan waktu shalat atau berdekatan dengan waktu shalat.
Ketika jam shalat, banyak askes jalan yang ditutup. Setelah selesai shalat pun, biasanya jalanan di sekitar masjid nabawi akan mengalami kemacetan. Jadi, sebaiknya perkirakan waktu sampai di madinah pada waktu yang bukan jam shalat.

Semoga bermanfaat

Read More

Final Exit

Hari ini dan in shaa Allah tidak sampai dalam 1 minggu ke depan, aku melepas tetangga (tetangga di sini bukanlah yang rumahnya di sebelah tapi 1 district aka kecamatan masi cocok disebut tetangga hehe) final exit ke indonesia. Iya, adanya dependent fee sangat berhasil "mengusir" para expatriates di sini untuk keluar dari KSA sebagai resident. Kalau umrah maah tetaaaapp yaaa selalu ramai berdatangan hehehe.. dependent fee ga ngaruh sama sekali. Meskipun kepulangan kedua temanku ini bukanlah dependent fee sebagai alasannya, tetap saja arus final exit ini terasa semakin menderas saja... Sementara yang datang sangat sedikit. Ibarat keran yang mengaliri suatu bak mandi, yang masuk sedikit tapi yang keluar deras banget. Heuheu...

Final exit.
Suatu saat akan terjadi juga. Final exit dari KSA atau yang PASTI adalah final exit dari dunia menuju kehidupan yang sesungguhnya; Akhirat.

Saat final exit, semua barang-barang yang selama ini kita gunakan baik itu kebutuhan harian (semisal kulkas, mesin cuci, kompor, dsb) maupun kebutuhan sekunder (akibat lapar mata mungkin yaaa... beli ini dan itu tapi tak terutilisasi dengan baik, astaghfirullaah) pasti akan ditinggalkan. Kalau dulu, menjual barang-barang preloved di sini sangatlah mudah. Begitu diiklankan, yang beli bisa rebutan. Maklum, sepertiga penduduk sini adalah expatriates. Sekarang?! Kadang dijual murah dan bahkan digratiskan sekalipun, peminatnya sedikit. Rumah-rumah pun sewanya pada turun karena rendahnya penawaran dan berkurangnya expatriates secara drastis. Daan, aku sudah lihat sendiri (dan merasakan sendiri) betapa susahnya menjual barang-barang ini di masa-masa ini.

Ya, sama.
Sama seperti final exit dari dunia. Barang-barang duniawi (meski dicintai setengah mati) pasti akan ditinggalkan. Yang dibawa hanyalah "barang yang kekal". Barang yang ada di rumah orang lain, di panti asuhan, di masjid, di jalan,  yang dibangun atas sadaqah, infaq, hibah dari harta kita. Barang-barang inilah yang kelak yang hanya bisa kita bawa. Tapi, kadang dunia ini silau dan menyilaukan. Sering kali kita (aku terutama) ikut terjerat silaunya... Hingga lupa bahwa semuanya pasti kan ditinggalkan.

Saat beberes seperti ini dan ketika packing-packing (kebetulan kami mau pindah rumah kontrakan), aku menyadari betapa banyaknya 'penimbunan' barang-barang di dalam rumah. Ini dan itu. Dan ada sebagian darinya yang tidak dipergunakan dengan optimal. Dibeli karena tergiur diskonan misalnya. Ahh... apa kabar hisabnya kelak?! Astaghfirullaah... astaghfirullaah... Padahal dulu sudah dikurangi. Tetaap saja ada yang baru. Ya Salaam...

Ah... final exit.
Final exit yang PASTI adalah final exit dari kehidupan dunia. Apa kabar bekal? Apakah dunia ini terlalu cantik dan menyilaukan, hingga lupa bahwa dunia hanyalah sementara saja?! Ibarat menginap di hotel. Dari hotel yang tak berbintang hingga berbintang lima, tetap saja hotel bukanlah rumah. Sementara saja. Tak ada orang yang berniat mempercantik hotel, menambahi furniture ini dan itu, mengecat dindingnya sesuai selera. Sebab semua orang tau, bahwa hotel hanyalah sementara. Penginapan yang sekedar menumpang rehat. Orang pasti akan kembali ke rumahnya. Pada rumahnyalah orang berbenah, memikirkan furniturenya, catnya, desainnya. Begitulah seharusnya hakikatnya dunia. Seperti hotel; Berbintang lima atau tanpa bintang, tak ada orang yang ingin meriasnya, menambahi furniturnya, mengecatnya, mendesainnya. Setiap orang menyadari bahwa hotel hanyalah persinggahan saja. Dan akhirat itu seperti rumah. Akan seperti apa rumah kita, kita sendirilah yang menentukan, merancang, mendesainnya.

Semoga Allah menjadikan kehawatiran terbesar kita hanyalah akhirat, bukan dunia. Kehidupan dunia sudah dalam jaminan-Nya. Sementara, akhirat kita? Siapakah yang menjamin kita akan mencapai surga-Nya?!

Ah diriku... Berbenahlah...
Ingatlah... ingatlah.... segala sesuatu ada hisabnya. Janganlah engkau tergiur dengan moleknya dunia, wahai diriku... Sebab final exit dari dunia itu adalah SUATU KEPASTIAN dan TERAMAT DEKAT!!!!!

*ntms
*muhasabah diri

Read More

Cerita Lebaran 1439 H

Setiap lebaran selalu punya cerita berbeda. Tahun lalu, deg deg an gerbang KBRI mau ditutup dan hampir kehilangan kesempatan shalat ied setelah menempuh perjalanan Nahda-DQ menjadi cerita yang tak terlupakan. Oleh sebab kami tak menemukan gate nya Diplomatic Quarter  yang satu laginya dan sukses bikin "tawaf" sekeliling King Khaleed Road... ekekekeke...

Tahun ini kami ikut shalat Ied masih di KBRI. Kenapa KBRI? Hehe... sebenarnya banyaak tempat shalat ied di negeri sejuta masjid ini. Boleh pilih di mana ajaa. Dan yang paling precious untuk orang yang berdomisili di Saudi adalah bisa merasakan shalat ied di Masjid Al Haram atau Masjid Nabawi (meskipun kami memang sulit untuk mewujudkan hal ini karena no vacation in ied holiday khusus untuk kerjaan suami... Tapi, alhamdulillaah 'ala kulli haal). Jadi, kenapa di KBRI? Karena ada sarapan dan bazaar makanan indonesia 😂😂😂. Dan lebih ramah anak... Anak-anak bisa lelarian dan bisa ketemu masyarakat Indonesia di sini lah.

Setiap ada teman yang bertanya, "mudik ga lebaran?" Jawabannya hampir selalu TIDAK. Lima kali merasakan Ramadan di Riyadh, hanya 1x aku mudik dan itu pun ketika masih ada Aafiya (Aasiya belum lahir). Dan aku harus pulang ke Indonesia berdua doang sama Aafiya tentunya karena seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, lebaran adalah peak season kerjaan suami.

Ramadan dan idul fitri kali ini adalah yang paling great dari semua shift2an yang pernah Abu Aafiya alami di awal dan akhir Ramadan dan idul fitri. Dulu-dulu, selalu saja ada yang missing, ga bareng-bareng (maksudnya; aku di rumah dan suami di kantor). Kalo ga sahur pertama atau sahur terakhir, ya buka pertama atau buka terakhir ramadan yang ga barengan dan duduk bersama. Heuheu... Ramadan kali ini dapat shift yang lumayan bagus. Ga ada yang missing. Kita sahur dan buka pertama dan terakhir ramadan full bersama-sama dan dapat melaksanakan shalat ied. Kalo semisal suami dapat shift malam hingga pagi (jam 12 malam sampai jam 8 pagi), bisa dipastikan aku mungkin akan melewatkan momen shalat ied (karena di sini shalat ied dilaksanakan sekitar jam 5.10 - 5.30 an, jadiii kalo dapat shift sampai jam 8 yaaa bakalan kelewat...). Di ramadan ini, hari terakhir puasa suami dapat shift pagi dan pas hari ied dapat shift malam. Jadinya bisa menghadiri sahalat ied, alhamdulillaah...

Alhamdulillaah anak-anak kooperatif banget mau dibangunin pagi-pagi. Jam 4.30 dah mulai dress up. Emaknya yang kudu bangun jam 2.30 buat siap-siap hihi. Tapi karena biasanya bangun untuk sahur juga sekitar jam segitu, jadi ga terasa begitu berat sih alhamdulillah. Kita berangkat dari rumah sekitar 4.50 pagi biar ga telat dan mendapati gerbang KBRI udah ditutup hehe (jarak tempuh dari rumah ke KBRI sekitar 34 km). Ya, di sini karena malam sedikit lebih singkat (sekitar 9 jam), maka anak-anak umumnya nyaris tidak tidur di malam hari sampai sahur. Baru tidur habis sahur. Begitulah budayanya kalo di sini. Aafiya dan Aasiya juga sering tidurnya agak telat ketika ramadan ini. Kebawa suasana juga kayaknya.

Oh iyaa, selain itu di sini ga ada i'tiqaf kayak di Indonesia yang full di masjid. Jadi, di 10 malam terakhir ramadan itu, shalat tarawih dilaksanakan 4 rakaat. Terus nanti dilanjutkan 4 rakaat lagi plus witir di jam 1-an sampai jam setengah 3 malam. Siang pun di masjid juga i'tiqafnya paling 1-2 jam setelah jam shalat. Ga full stay di masjid gituh. Hehe...

Idul fitri kali ini, kami sempat menyaksikan juga firework yang memang dikhususkan buat hari raya saja. Jika pesta kembang api di indonesia adalah malam pergantian tahun, di sini pesta kembang api justru pas lebaran. Walau ga ada malam takbiran. Hehe... Aku excited selaluu kalo liat kembang api besuaaaaarrr yang bunyinya udah kayak ledakan. Heuheu.. *katro banget deh akuuh. Makluuum pas di indo ga pernah menyaksikan kembang api besar begituuu karena emang ga berniat ikut-ikutan acara tahun baruan. Hihi... Di lebaran sebelumnya hampir tidak pernah karena biasanya (lagi-lagi) suami masuk kerja.

Dulu pas awal-awal di sini, lebaran pertama di sini aku sempat ngeri-ngeri sedap mendengar koq kayak bunyi letusan aka ledakan sesuatu. "Apakah terjadi sesuatuuu?" Pikirku waktu itu. Mana suami lagi masuk kerja dan aku sendirian di rumah. Ehh baru belakangan aku tau kalo itu "ied fireworks" ekekekeke... Excited begitu punya kesempatan untuk menyaksikannya.

Daaan yang paling special di lebaran 1439 H adalah libur hari rayanya. Biasanya, nyaris ga ada libur hari raya utk kerjaan Abu Aafiya. Kalau pun ada, paling ya cuma 2 hari dan bahkan pernah ga dapat liburan malah. Liburan kali ini lebih panjang (6 hari). Dan untuk pertama kalinya dalam 5 tahun ini kami berkesampatan untuk vacation ke dua kota terbaik di dunia di eid holiday. Alhamdulillah bini'mah... It's really priceless..

__________

Note:

*ini postingan udah ditulis setengah trus terpotong kesibukan-kesibukan ala emak-emak. Eehh pas ngelanjutin postingannya, udah lupa apa yang mau ditulis ekekeke... harap maklum kalo garing banget wkwkwkwkw...

Read More