. Fathu Alvi | ام عافيه

Fathu Alvi | ام عافيه

  Sunday, July 19, 2015   0 Comment

Tidak ada orang tua yang sempurna... Tapi setiap orang tua mencintai dengan cara yang sempurna...

^__^

  Sunday, July 05, 2015   0 Comment

Long Distance Relationship alias hubungan jarak jauh (selanjutnya kita singkat LDR ajah kali yaa) memang bukan pilihan yang mudah... Apalagi bagi sepasang suami istri. Tapi ada kalanya, LDR menjadi satu-satunya pilihan terbaik. Ada kondisi di mana memang mengharuskan untuk LDR. Ada yang seminggu sekali berjumpa. Sebulan sekali. Setiap 6 bulan. Dan bahkan ada yang sampai hitungan tahun!

"Saya 6 tahun menikah. Tapi 75% dari pernikahan itu adalah LDR."

"Kami pernah 6 tahun tidak berjumpa setelah nikah. Suami ga pulang. Dan saya menghabiskan waktu dengan kesibukan yang padat."

Dua pernyataan tersebut aku dengar langsung dari yang bersangkutan (dengan redaksional berbeda).

"Dulu, kala belum ada skype dan video call lainnya... kami LDR sekian tahun hanya dengan mengandalkan telpon saja."

"Di negara kami yang masih terbelakang, saya berkomunikasi dengan istri hanya lewat surat. Itupun suratnya baru sampai 1 bulan kemudian."

Dua pernyataan terakhir adalah cerita yang didengar suami dari teman-temannya.

Aahh.. pasti beraaat banget. Aku yang LDR cuma 7 bulan saja sebelum berangkat ke Riyadh (dan itupun sebagian waktu LDR nya diisi dengan kesibukan mengejar target tesis yang supeeerr extra menyita waktu) sudah terasa beraaaat... Padahal juga sudah didukung dengan teknologi video call (dan kami video call hampir tiap hari), tetap saja beraaaat rasanya. Apatah lagi yang LDR bertahun-tahun dan tidak didukung dengan teknologi yang mendekatkan yang jauh semisal video call. Duuhh.. yang pasti... berat bangeeett...

Ada yang lebih nyesek lagi. Ada salah seorang teman dari rekan kerja Abu Aafiya yang bercerita memilukan. Karena LDR, si anak beranggapan bapaknya ada di laptop. Ceritanya mereka tiap hari video call... Biar ada komunikasi antara anak dan bapak mungkin maksudnya. Suatu ketika si bapak pulang ke kampung halaman. Si anak tak mengenali bapaknya dan bilang, "bapakku yg ada di laptop bukan yg ini... " ahhh pasti sedih bangeeett...

Memang tak mudah untuk menjalani LDR. Aku... jika memang masi ada pilihan untuk tidak LDR, aku pasti memilih untuk tidak LDR. LDR adalah pilihan terakhir yang akan dipilih--di saat tak ada pilihan lain--.

Tapiii...
LDR akan membuat kita mengerti... akan berartinya sebuah rasa rindu. Dan akan membuat kita lebih menghargai saat-saar kebersamaan... :)
#Eaaaaaa
Salah satu hikmah LDR... :D

*****

Yang LDR lagiii... meski sebentar... tapi berasa beraaaat... separuh jiwaku masi di Riyadh.. ;)

  Thursday, July 02, 2015   0 Comment

"Don't judge the book by the cover..."

Nasihat ini terdengar begitu klise. Jangan nilai buku dari covernya, jangan nilai orang dari penampilannya.
Klise, bukan?
Sederhana, bukan?
Tapi... pada penatalaksanaannya; tak semudah pengucapannya.

Dulu sebelum berangkat ke Riyadh, aku dikira TKW yang akan bekerja di sektor domestik. Pun saat memenuhi persyaratannya. Sempat diperlakukan semena-mena dan dipandang "rendah". Tak mengapa. Bukan masalah bagiku. Hehe
Tapi hal yang sangat berharga adalah, aku jadi mengerti ternyata beginilah nasib orang-orang yang tidak seberuntung kita, yang memilih untuk bekerja di sektor domestik karena memang tidak punya pilihan lain. Mestinya kita yang sempat mengenyam pendidikan yang lebih (bukan berarti lebih baik dan lebih tinggi!) Lebih banyak bersyukur dan juga sekaligus ujian; apakah ilmu yang didapat sudah memberi kemanfaatan bagi sesama.

Nah... di apartemen kami kan multinasional tuh yah... Biasanya Abu Aafiya "mengenalkan" beberapa penghuni dari mobilnya. Misal, "bapak yang punya mobil ini adalah orang saudi asli. Orangnya baik dan ramah." "Yang punya mobil ini adalah dokter, sangat taat beribadah dan hampir selalu datang awal untuk shalat berjama'ah. Ma syaa Allah." Begitulah cara kami "mengenali" tetangga. Bukan kenalan secara langsung (khusus perempuan). Hehe.. Beda sosioculture tentunya. Kalau sesama laki-laki sih seperti biasa, kenalan, salaman, ngobrol singkat. Tapi kalau wanita, nyaris tertutup dan tidak saling berkenalan dengan siapapun. Pun mengenakan niqob kan yah. Hehe...

Nah suatu ketika, Abu Aafiya bercerita serius tentang salah satu tetangga kami. Pada mulanya, kata Abu Aafiya, si tetangga terlihat sangat sederhana dan biasa saja. Penampilannya sama seperti teman-temannya yang berasal dari Bangladesh pada umumnya. Tapi, di luar dugaan... ternyata dia adalah seorang dokter spesialis anak yang bekerja di rumah sakit milik kerajaan khususnya bidang pertahanan. Sudah menyelesaikan pendidikan doktor (S3) di Jepang.

Setelah sering ngobrol, bareng ke masjid, dan interaksi lainnya, Abu Aafiya cukup dekat dengan sang tetangga ini. Setelah lebaran nanti in syaa Allah mereka pindah ke Jepang se keluarga. Baru kali ini Abu Aafiya terlihat sedikit merasa kehilangan. Dengan sosioculture yang sangat menjaga privacy dan kehidupan pertetanggaan yang tidak begitu intens, berganti tetangga adalah hal yang lumrah dan tak ada rasa kehilangan. Toh akan berganti dengan tetangga baru lagi. Hehe... Namun kali ini kata Abu Aafiya, ada sedikit kesedihan ketika mendengar mereka akan final exit.

Hmm...
Benar yaah... don't judge book by the cover. Mudah sekali mengucapkannya. Tapi pada pelaksanaannya; tak semudah mengucapkannya!

Jadi... mari belajar berprasangka baik terhadap siapapun.. :)

****

Suatu ketika kami berdiskusi tentang; 'seberapa penting mengedepankan penampilan ketika bepergian.' Penampilan di sini bukan berarti tabarruj.. penampilan rapih dan necis lebih tepat konteksnya.

"Penting sih. Tapii... not too mandatory." Ini jawaban Abu Aafiya. Sering kali kalo para engineer itu ngantor cuma pake jeans dan kaos oblong ajah. Hihihi... Tapi aku suka euy. :P

Kadang (atau sering bahkan) aku juga terlalu easy going dan cuek soal penampilan. Apalagi di negeri Riyadh yang semua terbungkus Abaya hitam. Jadii, cuek ajah daah mau pakek apapun sebelum 'dibungkus' Abaya. Hihihi...
Aku menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwasannya kecuekan itu sangat mengundang perhatian para madam-madam yang sedang mencari ART alias asisten rumah tangga dan melakukan penawaran untuk menjadi ART atau sekurang-kurangnya; menananyakan 'ente punya link kaga nyariin ART buat ane'. Hehe...

Tapi walaubagaimana pun, berpenampilan baik (bukan dalam hal tabarruj) tentu lebih baik dari pada berpenampilan cuek bin amburadul. Setidaknya, kita menjaga orang lain dari prasangka judge book by the cover.
Setuju?

Yang ga setuju bole komen koq.. :P

  Wednesday, July 01, 2015   0 Comment

Lagi di indonesia malah kepikiran pengen lanjutin cerita seri "living in riyadh" hihihi. Abisnya... 'separuh jiwa' masi di Riyadh... :) <3

To be honest, aku liat mobil-mobil  mewah dan super mewah itu ya di Riyadh. Ngeliat mobil mewah di Riyadh sama seperti melihat av*nza atau x*nia beredar di sini. Banyaak sangaaatt. Di kampungku, sekelas inn*va, h*nda CRV itu sudah tergolong sangat sangat mewah. Di sini? Itu maaaah standar ajaah. Masi buanyaaaak cuuy mobil mewah dan berkelas lainnya.

Sampai-sampai ada rumor beredar, "kalo pengen ngerasain mobil mewah, di sini kesempatan emasnya, bro! Di indonesia ga bisa kayak gini."
Meskipun begitu... kami bukanlah pengendara mobil mewah. Hehehe....

Itu soal mobil. Lalu soal gejet. Di sini, pengguna iPh*ne bisa dibilang bejibuuuun. Sampai-sampai si iPh*ne hampir ga terlihat sebagai barang mewah lagi. Di manapun berada--di ranah publik tentunya--pengguna handphone canggih keluaran terbaru bukanlah sebuah prestise yang perlu diunjukkan kepada segenap khalayak. Sudah banyaaaak beredaaaar...

Juga soal brand bermerek. Di sini sangat sangat sangat mudah dijumpai. Perlengkapan apaaaaa sajaaaa. Jika dulu di Indonesia hanya ada di mall tertentu, di sini koq kayak "tiap 'gang' ada".

Ya begitulah lifestyle di sini. Bukan karena produk yang masuk ke sini adalah produk KW sehingga banyak beredar dan harganya relatif lebih murah dibanding di negara lain. Murah banget juga enggak kalii.. Rasional lah lebih tepatnya. Menurut analisaku (dan juga hasil diskusi dengan teman-teman), ada beberapa poin yang melatarinya:

1-Negara ini adalah negara dengan masyarakat yang memiliki daya beli tinggi. Namanya juga negara kaya. Sebagaimana orang kaya, beli apa aja nda perlu mikir panjang kan. Nah, dengan taraf hidup masyarakatnya yang tinggi, daya beli masyarakat juga tentu tinggi. Jadi, membeli barang bermerek bukanlah masalah. Sepatu harga 1,5jt bagi kita tentu hal yang sangat mewaaah dan perlu mikir sampai ratusan kali. Bagi mereka, ini bukanlah sesuatu yang perlu dipikir berulang kali.

2-negara ini adalah negara tanpa pajak. Negara yang bersandar pada prinsip dan landasan syar'i, tentu akan sangat meminimalisir hal-hal yang tidak bersesuaian. Pajak salah satunya.
Sebagaimana kita ketahui, pajak akan dibebankan pada harga barang. Itulah sebabnya harga barang (termasuk mobil) harganya memang tidak semahal di negara-negara yang berpajak. Relatif lebih murah. Ditambah lagi harga bensin yang murah dan kualitas bensin palinh rendah adalah setara pertamax nya kita, jadi mobil mewah adalah sesuatu yang why not bagi mereka.

3-real discount adalah untuk mempercepat turn over barang. Diskon di sini bukanlah mark up. Seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya di sini. Diskon sepertinya hanyalah sebentuk "jual untung" dan untuk mempercepat turn over barang. Yang aku rasakan juga gitu sih. Turn over barang cepeeeet banget. Dengan daya beli masyarakat yang tinggi, maka mereka (pemilik toko dan grupnya) sebenarnya sudah untung. Wong yang beli banyak koq. Hehe... Jadi diskon itu yaa buat nambah untung ajah... sekali lagi--turn over barang. Perputaran barang jadi cepat. Pernah nyesek banget... di m*thercare pas kami beli jaket winter buat Aafiya harganya 200 SAR. Pas diskon, barang yang sama harganya jadi 90 SAR. Hiihihi...
Jika sampai ada yg mark up diskonnya, siap-siap saja ditutup tokonya sama kementrian perdagangan.
Diskon inilah yang dimanfaatkan banget oleh emak-emak "antu diskon" wkwkwkwkwk.

Ini bukan berarti kesimpulannya bahwasannya barang-barang di sini branded semua loh yaa... Juga banyaaak koq barang-barang yang ga branded. Barang-barang dengan harga terjangkau dan ga perlu nunggu diskon. Hihihi...

Dengan lifestyle yang begini, sedikit banyaknya memberikan pengaruh sih. Dulu mana akuuh tau barang-barang branded. Hihihi... Tapi.. tidak semua keinginan itu mesti diikuti. Meskipun statisfy treshold akan meningkat seiring dengan peningkatan konsumsi kita terhadap barang branded. Eh si statisfy treshold ini cuma istilahku saja. Si ambang batas kepuasan. Misal, dulu kita terpuaskan dengan es mambo. Tapi setelah berjumpa es kacang ijo atau es mambo pake santan, statisfy treshold kita menjadi meningkat. Begitu pula ketika sudah berjumpa es w*lls... si es kacang ijo jadi terasa biasa saja. Yang mewah adalah w*lls. Tapiii setelah berjumpa si b*skin robb*n, statisfy treshold kitapun semakin meningkat... W*lls yang dulu terasa mewah kini menjadi biasa saja. Begitulah manusia... tak pernah puaas.

Tidak semua yang kita beli mesti branded. Dan lagiii... kualitas diri seseorang tidak tergantung seberapa branded apa yang dipakainya kan ya. Taqwa-lah yang di hadapan-Nya yang menjadi pembeda. Dan ilmulah yang meninggikan derjat, bukan branded.
#Nasihat untuk diri sendiri terutama ini mah :)

    0 Comment

Sambil menemani Aafiya yang ceria banget abis video call sama ayahnya (tentu saja aku seneng banget bisa video call sama Abu Aafiya. Dan jarak tentu saja akan membuat kita mengerti artinya Rindu), aku dan adekku bercerita panjang dan lebaaaaarrr... Oh iya... aku sekarang lagi di Indonesia alhamdulillaah. Dari kemarin mau nulis tulisan tersendiri tentang perjalanan dari Riyadh ke Padang yang hanya berdua Aafiya saja.. Tulisannya sudah setengah jalan... gak ter-save.. jadi mesti ngetik ulang lagii?? Pasti takkan sama feel nya.... Ya..., akhirnya tulisannya "menguap" dan dibiarkan jadi 'draft' saja. Hihihi...

Cerita kami adalah soal "masalah" yang terjadi di seputar kampung. Kampung kecil saja. Nun jauh terpelosok.. Walau tidak sampai di pinggang bukit. Hehe...
Orang-orang selalu mengira kampung lebih baik dari kota soal sosiologi... soal kemasyarakatan. Tapi, kalo menyoal "masalah" kadang hidup serba individualis ada nilai positifnya meskipun pendapat ini tidak bisa sepenuhnya dibenarkan.

Ceritanya di kampung akan mengadakan suatu acara, sebutlah acara X. Nah, sebab persoalan yang sepele... orang-orang kampung yang semula damai tentram bahagia menjadi terusik. Kita sebut itu "masalah". Ada oknum tertentu yang "senang" dengan perpecahbelahan (yang seneng pecah belah sih banyak.. biasanya emak-emak, itu loh piring, gelas, mangkok; apalagi sedang diskon... qiqiqiqiqi), tapi ini pecah belah persatuan maksudnya. Usut punya usut ternyata ada yang senang fitnah sana fitnah sini. Astaghfirullaah... Semoga Allah mengampuniku dan mengampuninya...

Akhirnya... obrolan kami menjadi seru memperbincangkan si masalah ini. Kalo chicken masala di Riyadh sono sih adalah salah satu menu favorit native. Tapi ini bukan chicken masala tentunya xixixixixi. Seru bukan karena kasusnya asyik... tapi karena sempat menyentuh ranah emosi, meski aku hanya pendengar saja. Walau sebenarnya ini tidak perlu kami masukkan ke dalam daftar hal yang mesti kami pikirkan. Tapi ini adalah wujud keinginan kami yang besar terhadap persatuan di kampung tercinta ini. Hehehe...

Masalah ini adalah masalah global (jika bisa dibilang begitu) untuk taraf kampung kecilku. Situasi tengah sedikit memanas. Aku--jika boleh--tentu gak perlu ambil pusing. It's not my bussiness... but I'm part of this people, this society. Tapi... aku tentu tidak akan bercerita panjang lebar soal masalahnya. Aku ga tau detilnya juga koq. Hihihi...

Hanya saja pelajaran berharga yang dapat dipetik dari masalah tersebut. Bahwasannya bahagianya kita, emosinya tidak perlu bergantung pada orang lain. Ini juga nasihat dari Abu Aafiya. Memangnya mereka yang menentukan kebahagiaan kita? Ahh terlalu picisan rasanya jika kita memggantungkan kebahagiaan, emosi, dan segenap rasa pada orang lain. Jadii... ngapain juga kita membuang energi untuk hal yang tidak penting ini. Alangkah lebih baiknya energi itu kita manfaatkan untuk hal yang lebih baik. Kebaikan dan keburukan adalah seperti bumerang. Adapun jika kebaikan yang kita lakukan sebenarnya akan kembali pada diri kita. Pun begitu dengan keburukan, akan kembali pula pada diri kita. Jika ada hak-hak kita yang terambil atau sengaja diambil oleh orang lain, anggaplah itu investasi jangka panjang... investasi kita di akhirat kelak.
Dari masalah yang diceritakan hingga larut ini juga menjadi reminders bagi diri kita agar tidak membicarakan keburukan orang lain selain untuk mencari solusi atas permasalahan tersebut. Kita belum tentu lebih baik. Bisa jadi itulah yang menjadi penggugur amalan yang susah payah kita lakukan. Astaghfirullaah... na'udzubillaah...

Okeeh... let's be smart to manage our emotion :)


#nasihat ini ditujukan terutama untuk diri sendiri...

Blogger Blogger Blogger Blogger Blogger Blogger

Sekapur Sirih

Assalaamu’alaykum

Trima kasih yaah Teman-teman, saudara saudari sekalian telah berkunjung ke blog diriku ini.Aku hanya ingin memungut yang terserak…. Mencoba mengambil sedikit pelajaran dari setiap peristiwa hidup.

Selamat membaca yah. Semoga ada hikmah yang bisa dipetik dari blog ini

Sekelumit Tentang Fathel

Hmm...sebenarnya diriku bukanlah siapa-siapa. hehe. hanya sedikit mencoba menaklukkan tantangan kehidupan. Jiaaahh...

selengkapnya tentang diriku di sini...

Info