Jalan-Jalan di Kota Doha, Qatar

Judulnya terlalu 'datar' yaah? Hihihi..
Baiklaah, in shaa Allah ini akan menjadi ceritra yang (cukup) panjang, setelah sekian lama tidak menulis lagi.

Alhamdulillah, kami telah di Riyadh kembali setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan.Ceritanya, kami menuju Depok sehari sebelum keberangkatan ke Riyadh dari kota Garut-Bandung. Qadarullah, ketika sampai di Jakarta, kami terjebak macetnya Jakarta yang kebajiran. Fiiuuff, lelahnya di jalan berjam-jam tanpa ada kemajuan yang berarti (100 meter aja bisa menghabiskan 6 jam!!), anak-anak yang sudah capek dan rewel, perut yang keroncongan. Kumplit dah. Subhanallah... This is the worst traffic jam ever I face. Terpaksa akhirnya kami menginap di hotel dekat pusat kemacetan mengingat anak-anak dan baby yang sudah kelelahan dan rewel. Apalagi, besoknya kami akan menempuh perjalanan panjang 7000 km lebih. Tentu harus menyiapkan tenaga dan kami butuh istirahat.


Kami sampai di Depok jam 11.30-an siang dan aku langsung packing-packing barang yang akan dibawa nantinya. Iya, kami berangkat maghribnya dan barang-barang yang totalnya sekitar 140 kg (mungkin lebih) itu masih berantakan, dan belum tersusun dengan rapih di siangnya. Capek sebenarnya, but it must to do! Packing pun di sela-sela ngurusin baby dan si uninya. Hihi... Akhirnya, ketika sore, packing beres, tinggal ngurus baby and toddler; mandiin dan nyiapin keperluannya.

Ba'da maghrib (mendekati isya) kami berangkat ke Bandara pake grab car (penting yaa buat di-mention?! wkwkwk). Alhamdulillah, ga semacet hari sebelumnya. Kami sampai di Bandara jam 9.30-an pm. Aku udah susaaaah nahan ngantuk di mobil. Hahaha....
Pas check in bikin deg-deg an banget karena kalo bagasi kami over, apa yang harus dilakukan? Alhamdulillaah, bisa tersenyum lega ketika tau bagasinya 125 kg sahaja, plus hand carry yang lumayan beraat. Karena kami akan transit di Doha selama 11 jam, jadi mesti bawa perangkat 'perang' per-baby-an yang cukup banyak. Hehe.. Habis check in, makan sebentar, langsung ke imigrasi, trus ke ruang tunggu. Masih di pintu gate, sudah ada panggilan boarding. Tapii, pas sampai di ruang tunggu ternyata masih pada nunggu. Hehehe. Tapi, hanya sempat mengganti pampers Aasiya aja, kami sudah masuk ke pesawat. Alhamdulillah ga pake nunggu lama.

Perjalanan 8 jam lebih dari Cengkareng ke Doha alhamdulillah lancar disertai beberapa kali turbulensi. Dan yang lebih membahagiakan sebenarnya adalah alhamdulillaah Aafiya dan Aasiya ndak rewel selama di pesawat. Kami memang sengaja memilih penerbangan jam 12 malam (jam 00.15 waktu take off nya) agar berbarengan dengan jam tidur anak-anak. Nda kebayang aja kalau anaknya rewel dan emaknya panik. Perjalanan dari BIM ke Bandung sebelumnya Aasiya sempat rewel. Ditambah turbulensi yang lumayaaan, bikin emaknya panik dan nge-ASI di pesawat pun terkendala.

Sampai di Doha jam 4.21 am. Nah, yang bikin agak berat itu adalah cabin bagasinya kitah. Meskipun cuma 1 ransel dan 1 hand carry bag tapi dua-duanya berraaattt. Ditambah dua anak yang minta digendong. Capeknyaaaa, Subhanallaah... Heuuu... Setelah muter-muter, shalat subuh, ngantri buat City Tour akhirnya bisa sedikit bernafas lega. Sarapan sampai menunggu jam 07.15 pagi untuk ngumpul dekat counter city tour.

Inilah alasan mengapa kami mengambil transit 11 jam. Kami ingin mencoba fasilitas City Tour yang disediakan di bandara Hammad International Airport. Fasilitas ini gratis. Menjadi daya tarik tersendiri buat pengguna Qatar Airways yang mengalami transit lama (atau menyengajakan transit lama seperti kami? hehe). Lumayaaan kaaan bisa jalan-jalan di kota Doha tanpa perlu bayar visa exit re-entry dari Saudi, daan gratis pulak! Hihihi...
Kita disediakan 1 bus untuk mengelilingi kota Doha dan diperkenalkan dengan kota Doha, sejarah negara Qatar, dan segala informasi terkait Qatar.

Jam 7.15 kami sudah siap-siap di depan counternya bersama yang lainnya yang akan mengikuti city tour juga. Kebanyakan dari mereka adalah para turist dari western (entah itu dari US atau Eropa), tapi dari wajahnya, sopan santunnya, sepertinya kebanyakan kayaknya dari Eropa especially Britania. Ga nanya jugak sih, cuma sotoy aja akuh nya. Wkwkwkwk. Satu turis dari |Jepang. Dan aku satu-satunya wanita berjilbab di sana. :D

Daaaaan, prosesinyaaa.. wow banget ma shaa Allah. Wow, karena kami harus melintasi bandara Hammad yang sangaaaaat bessaaaar (dan juga megah) dengan membawa tentengan berat dan 2 baby. Kami juga melewati proses check di imigrasinya. Rempong banget sebenarnya. Nah, jika kamu ingin menikmati fasilitas city tour ini, enaknya pas honeymoon yang cuma bawa sling bag plus camera atau pas anak-anak udah gede sekalian (4 tahun ke atas). Karena ketika kamu membawa bayi, kamu bakalan menjumpai kerepotan yang amat sangaaaat!! Hihi... Tapi, kalau kamu tipe petualang, rempong sekalipun tetap membahagiakan in shaa Allah...
Bus City tour

Setelah beres semua rangkaian panjang itu, bus kami datang. Kami dipersilakan menduduki bangku depan (horreeee, alhamdulillaaaah....) dan barang bawaan kami ditaruh di bagasi bus bagian bawah. Daan, tour pun dimulai. Aku benar-benar excited! Tapii, sayangnya Aafiya yang udah kecapean akhirnya tertidur di pangkuan ayahnya. Padahal pada awalnya Aafiya excited banget mau naik bus besaar. Hihi..

Salah satu sudut kota doha

Pada awalnya pekerjaan penduduk aslinya adalah pencari mutiara hingga kemudia minyak ditemukan dan menjadikan negara yang berukuran kecil ini kaya raya. Makanya di sini ada munumen mutiara. 

Munumen mutiara
Kunjungan pertama adalah di pinggir laut (lebih tepatnya semacam teluk gitu) yang diseberangnya terlihat bangunan menjulang yang dikenal dengan "The New Doha". Kotanya kota Doha. Megah. Jadi, view nya kota The New Doha gituuh.
The New Doha



Lalu, setelahnya kami diajak mengelilingi The New Doha itu sendiri yang terdiri dari bangunan menjulang.Tidak ada recident area di sana. Murni hanyalah gedung perkantoran dan gedung komersial. Selama perjalanan ini, guide nya memberikan arahan-arahan mengenai sejarah, dan segala hal tentang kota Doha. Tetiba, suara guide malah jadi dongeng pengantar tidur. Hahahha. AKu malah ketiduran di setengah perjalanan. Karena memang udah kecapean sih. Hihihi...



dekat pelabuhan
Pelabuhan

Aafiya ketiduran :D
Alhamdulillah, setelah keliling-keliling, akhirnya di kunjungan terakhir kita mampir di Souq (pasar) tradisionalnya Doha. Di sana kami menikmati chicken wrap dan pancakes. Setelah balik ke Bandara, cek imigrasi kembali, makan siang dengan chicken wrap yang kami bawa dari souq, siap-siap untuk take off ke Riyadh...

Meskipun capek, alhamdulillaah sangat menyenangkan...
Semoga next time bisa berkunjung lagi ke kota Doha dan negara tetangga Saudi lainnya... ^_^

Read More

Masalahkah Membawa Bayi Usia 1 Bulan Terbang?

Masalahkah Membawa Bayi Usia 1 Bulan Terbang?
Ini juga adalah pertanyaanku ketika membawa Baby Aasiya mudik ke Indonesia dengan jarak penerbangan lebih dari 6000 km (sekitar 10 jam penerbangan) dan dua kali transit!  Artinya, kami berganti pesawat 3 kali!


Ketika ayahku sakit, keinginan untuk pulang menggebu-gebu sekali. Tapi, kendalanya adalah aku dalam kondisi hamil besar. Dan jika aku pulang dengan kondisi begitu, mostly penerbangan sudah melarangku untuk terbang. Karena mereka khawatir juga kaan kalo ada yang lahiran di ketinggian lebih dari 30.000 kaki😃? Akhirnya, aku dan suami memutuskan untuk mudik ke Indonesia setelah lahiran. Nah, Pertanyaannya, di usia berapa kah bayi boleh terbang?

Sebelum memutuskan untuk membeli tiket, kami check up dulu ke dokter terkait kondisi Aasiya yang masi baby merah. Apalagi penerbangannya juga ga jarak dekat. Riyadh-Jakarta, lalu Jakarta-Padang. Seperti yang sebelumnya aku ceritakan, semua dokter spesialis anak yang kami kunjungi mengatakan "No problem!" Dengan syarat baby harus disusui ketika take off dan landing. Kami pun meminta medical report Aasiya sebagai jaga-jaga jika sekiranya nanti pas di pesawat diminta. Apalagi pas mau booking pesawat domestik Jakarta-Padang. Ya salaaam, susahnya nge booking karena situs pembelian online ticket mostly hanya menerima bayi yang berusia 3 bulan ke atas. Sebagian maskapai juga tidak bisa dibooking dengan usia bayi yang masi 1 bulan. Malah lebih enakan nge booking pesawat jarak jauh, ga ada syarat baby nya mesti 3 bulan.


Akhirnya, bayi merah Aasiya terbang di usia 1 bulannya. Persis 1 bulan usisnys waktu itu. Alhamdulillah semuanya baik. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah. Yang agak berat buat aku adalah karena harus 3x take off dan 3x landing. Baby Aasiya tidak selalu dalam kondisi bangun dan ingin menyusu pas take off atau landing. Susah juga kaan, maksain anaknya nenen. Apalagi, total perjalanan kami memakan waktu 32 jam. Jadi, anaknya juga kayaknya pengin bobo karena cape' terutama di penerbangan Jakarta-Padang. Kasian kalo dibangunin. Aafiya (2 tahun 1 bulan) pas terbang dari Jakarta ke Padang pun ga melek. Dari masuk pesawat (belum take off padahal) sampai landing dan masuk gedung terminal untuk nungguin bagasi, anaknya masiii aja bobo. 😀

Alhamdulillah, over all baby Aasiya ga rewel pas di perjalanan. Ga banyak nangisnya, alhamdulillah. Sesampainya di Padang pun, alhamdulillah masi sama kayak di Riyadh. Emaknya yang tepaaar apalagi kita ga bawa stroller, jadi mesti digendong terus. Pegel juga ya sehari semalam gendong baby 4 kg. Hihi.. Pas di Jakarta, alhamdulillah sempat beberapa kali digantiin nge gendong. Tapi, mostly kan emaknya yang gendong. Hehe.... Jadi, buat kamu yang bepergian jarak jauh dengan baby, worth it laah bawa stroller. Lumayan, bisa mengistirahatkan tangan emaknya kalo anaknya lagi bobo. Emaknya juga bisa leyeh-leyeh beberapa saat. Apalagi yang pakek transitnya lamaa. Sebenarnya kita sempat diskusiin soal bawa stroller ini sebelum berangkat. Tapi, akhirnya diputuskan untuk ga bawa stroller karena mikir ribetnya apalagi dengan barang bawaan yang buanyaaaak. Tapi setelah dijalani, ternyata malah kayaknya enakan dan lebih simple bawa stroller deh. Kita bisa istirahat. Barang bawaan yang handbag pun bisa ditaruh di bagasi stroller. Kalo anaknya kebetulan lagi digendong, strollernya bisa dipakek jadi trolley barang jugak... 😆. Tapi, 'ala kulli haal, alhamdulillaah. Ga papa. Jadi pengalaman untuk bawa baby lagi nanti in shaa Allah.


Jadi, kesimpulannya; membawa bayi di usia 1 bulan untuk terbang in shaa Allah tidak masalah! Tapi ada syaratnya.
Syarat pertama, bayi harus dalam kondisi FIT. Tidak dalam kondisi lagi ga enak badan, demam misalnya. Karena, sebenarnya yang dikahwatirkan dari penerbangan membawa bayi bukanlah kondisi telinga yang 'budeg' atau sakit karena tekanan udara di kabin. Ini sifatnya hanyalah temporelaly. Yang dikhawatirkan adalah penyebaran infeksi, karena sirkulasi udara di kabin yang bersifat tertutup. Jadi, virus dan bakteri gampang banget menyebarnya dengan sirkulasi udara yang begitu. Bayi dengan imunitas yang masih rendah, rentan terhadap kondisi ini. Syarat kedua, seperti yang sudah aku bilang, mesti ngenyot anaknya pas take off dan landing untuk mengurangi tekanan di telinga. Tekanan di telinga yang bikin telinga budeg dan sakit ini pasti bikin bayi ga nyaman, kan ya.


Sepanjang perjalanan di bandara, banyak yang ngeliatin baby Aasiya. Mungkin heran, kenapa bawa bayi merah naik pesawat. Ada juga sih satu dua yang komen langsung atau bergumam yang kedengeran sama aku, "ih ga kasian apa, bawa baby merah gitu.", "emang boleh yaa bawa baby masi kecil gini?", "masi kecil bangeeet yaaa..." Ya, kadang memang kita (aku sendiri terutama) sangat cepat men-judge mengapa seseorang melakukan begini dan begitu tanpa mengetahui latar belakang apa orang melakukan itu. Jika hanya buat berlibur atau tamasya, aku juga mikir-mikir kalii bawa bayi 1 bulan untuk terbang. Aku hanya ingin segera bertemu ayahku--semoga Allah rahmati beliau dan lapangkan kubur beliau--ketika ayah sedang sakit. Tapi, aku ga baper juga sih ketika ditatap begitu atau ditanya begitu. We are not what people think. Dan lagian, fokusku juga ga kesitu sih waktu mudik itu. Jadi, ga mikirin gimana tatapan atau komen orang lain.


Okeh, finally, sebagai penutup, bagi kamu yang misalnya pada kondisi mengharuskan membawa baby usia 1 bulan terbang, jangan terlalu khawatir, moms. Selama kondisi bayi nya fit, in shaa Allah biidznillah, semuanya akan baik-baik saja. Jangan lupa berdo'a dan mohon kekuatan sama Allah tentunya selama di perjalanan... 😊
Ma'assalamah 😘

Read More

Bilingual Programme for Aafiya

Judulnya sih pakek bahasa inggrih... tapii isinya masi teteeup endonesia.. kekeke...😅
Baiklah.
No problem. Mari mixed bahasa aja deh. Heuu.. 😃


Ceritanya, alhamdulillah sudah hampir 2,5 bulan kami di Indonesia, di Padang kota tercinta kujaga dan kubela. Daan itu artinya, ini adalah LDR ketiga kalinya dengan Abu Aafiya. Big thanks to Skype, Line, dan Imo yang udah connecting people in LDR stage. Hihi... Ya, LDR pertama kami masi menggunakan skype. Pas LDR kedua, skype diblokir, tapi alhamdulillah ada line. Naah, pas LDR ketiga ini awalnya kita bingung mau pakek apkikasi apa lagi yaaa, karena pada diblokir euy termasuk line jugak😣. Akhirnya berlabuhlah di IMO. Imooo, you save us alhamdulillah... 💕.


Alhamdulillaah, Allah beri kesempatan untuk bertemu Ayah--semoga Allah merahmati beliau--sebelum ayah berpulang kepada-Nya. Rasanya, udah nda sabaran banget segera pulang setelah Aasiya lahir begitu mendengar berita tentang Ayah. Kami nanya dokternya Aasiya apakah boleh terbang bayi mungil gitu. Alhamdulillah, kata dokternya no problem as long as she suction when take off and landing. Jadilah akhirnya baby merah Aasiya terbang di usianya yang masi 1 bulan.


Aafiya, alhamdulillah di usianya belum genap 2 tahun, sudah mulai belajar bercerita, satu dua kalimat singkat, ma shaa Allah. Dan di usianya  Membuat paragraf singkat yang dia sendiri alhamdulillah sudah memahami maknanya.
"Bunda, aafiya naik angkot. Angkot wana (warna) meyah (merah). Penuuh angkotnya. Aafiya pegi (pergi) ke pasan (pasar) sama ayah. Beli susu, beli pempes (pampers). Aafiya senaang banget. Aafiya jatuh, pegang sama oyang (orang)."
Ini salah satu contoh cerita Aafiya lengkap dengan mimiknya 😍😘. Aafiya memang belum bisa menyebut dua huruf yaitu R dan L. Hehe...


Setelah 2 bulanan di kampung, ternyata Aafiya sudah mulai mengerti bahasa kampuang. Ma shaa Allah. Semisal,
"Bunda, Aasiya jagooo." Begitu Aafiya memberi tahu aku kalo adiknya terbangun dari tidur. Atau, "iko apa ini?" 😁. Dan beberapa bahasa minang lainnya yang dia pahami. Padahal tidak diajarkan. Padahal ngomong sama Aafiya juga pakek bahasa indonesia. Sama seperti anak lain pada umumnya, Aafiya belajar dari mendengar!

Maka benarlah kata Eriks Levy, Ph.D, seorang asisten profesor yang menangani masalah patologi di bidang speech dan language dari universitas Columbia, NYC, "Kids this age (2-3 yo. Ed) are developing language skills rapidly, and they quickly absorb whatever they hear.They can learn to understand new words in two different languages at an incredibly fast rate."


Dulu, aku sempat meragukannya. Apakah dengan belajar dwibahasa, anak akan mengalami kebingungan bahasa bahkan bisa jadi terlambat bicara? Ternyata tidak juga. Ya, aku sendiri sudah menyaksikannya. Baru 2 bulan, sudah lumayan banyak bahasa minang yang diserap oleh Aafiya. Itu baru mendengarkan saja. Apalagi kalau benar-benar diajarkan. Jadi, rasanya tak ragu lagi untuk memulai bilingual programme buat Aafiya. Apalagi Usia bayi, usia toddler, adalah usia yang sangat bagus untuk memulai billingual, in shaa Allah... Setidaknya, untuk bahasa ibu (baca: bahasa negara asalnya) Aafiya alhamdulillah sudah mengerti dan sudah berkomunikasi. Sekarang, tinggal bagaimana membuat program untuk second language nya lagi, in shaa Allah.


Dulu, aku tidak terlalu aware dengan pentingnya mengenal berbagai bahasa asing. Jika ada brosur atau apapun itu, aku pasti nyari yang bahasa indonesianya aja 😆. Kecuali textbook farmasi klinis dan jurnal, rasanya dulu malas sekali membaca artikel berbahasa inggris. (Emak aafiya parah yak 😌). Naaah, ketika sudah keluar dari tempurung (baca: keluar negeri), mau ga mau mesti interaksi kaan sama orang dan mesti baca petunjuk ini itu kaan kalo beli sesuatu, misal buku petunjuk penggunaan suatu barang elektronik. Segala penunjuk arah, instruksi, apapun itu mesti deh ga ada bahasa indonesianya. Yaiyalah! Mau ga mau harus baca yang english kan (since my arabic not too good enough to understand an instruction 😶). Lama-lama akhirnya terbiasa juga. Meski pun, untuk ngomong, cuap2--kalo ga dalam kondisi terpaksa, misalnya lagi ga bareng suami dan mau nanya sesuatu ama SPG mall misalnya 😀 atau ngobrol sama dokter misalnya, masi kadang kurang confident 😣.


Soalnya, aku punya pengalaman buruk tentang ketidak-PD-an ku ini. Daan, susah payah banget force my self to wake up from less confident. Terlalu banyak ketakutan. Takut grammernya ga pas. Takut orang lain ga ngerti apa yang aku omongin. Takut pronounciation nya gaje dan malah bikin orang berkerut dahi 7 lipat 😂 dan sederet ketakutan lainnya. Ketakutan yang menyeretku pada pusaran ketidakpercayaan diri yang luar biasa yang aku bersusah payah sekali untuk bangkit dari lubang gelap tersebut. Aku lupa dengan hakikat bahasa yang sesungguhnya. Bahasa buatku (baca: sebagai orang umum, bukan dari sudut pandang seorang ahli sastra) bukanlah ilmu pengetahuan. Tapi bahasa adalah alat komunikasi. Selama komunikasi berlangsung dua arah, saling mengerti, maka that's all! Meski bukan berarti harus menafikan grammer juga! Alhamdulillah, sekarang much better lah aku dibanding aku yang sebelumnya. Selain memang mau ga mau aku mesti komunikasi sama orang, terutama sekali sebenarnya support dari suami yang memberikan great influance bagaimana aku keluar dari mindset ketidakpercayaan diriku. Toh, kalau soal pronounciation--sebagaimana kata suamiku--no problem at all jika logatnya masi kecampur sama logat bahasa ibu--heritage language. Toh kita bukanlah native. Wajar doong, logatnya ga persis sama kayak bule. Toh kalo bule ngomong bahasa indonesia dengan logat english bikin kita punya alasan buat ngetawain? Enggak kaaan? Dan, setelah berbincang-bincang dengan orang dari Ind*a, P*kistan, Ph*lipine, mereka juga sangat-sangat kental logat heritage language mereka. Jadi, ga ada alasan sebenarnya aku untuk tidak PD sih. #edisimenyemangatidiri 😉.

Buat Aafiya (dan Aasiya next in shaa Allah), akan sangat berguna sekali (apalagi dengan kondisi kita tinggal di negara asing, bukan negara sendiri). Dia punya teman-teman, ketemu dan bertegur sapa dengan orang di sekeliling, even cuma yang ketemu di jalan, di mall, taman, hingga ketemu sama dokter misalnya, she needs to communicate with others. Since i know bilingual for baby and toddler is totally no problem, i and my husband have programme to realize it, in shaa Allah.


For the first step, second language nya masi english. Aku dan suami masi punya cita-cita mengajarkan anak-anak berbahasa arab. Saat ini, kemampuan bahasa arabku masi sekedar bertanya berapa harga, mafi, la ba'sa, dan beberapa kosakata umum lainnya wkwkwkwk 😂. Jika ada yang ngomong bahasa arab, aku mulai ngerti sedikit. Ya, baru sedikit. Pengennya sih belajar bahasa arab fushah, di mana kalo yang di dengar di jalan kan yang amiyah. Emak Aafiya in shaa Allah mau lanjut sekolah lagi. Mudah-mudahan bisa sampai level 5 atau 6 dan bisa ngajarin anak-anak juga. Sekarang baru lulus level 2. Waah, jadi semangat lagi nih buat ngelanjutin sekolah di Daar Adh-DHIKR. In shaa Allah, next time...


Ingin tau bagaimana program menciptakan lingkungan bilingual di IMoreFamily? Nantikan kisah selanjutnya yaa. In shaa Allah aku posting di sini.


=====
Sebagai referensi, sila baca beberapa artikel berikut tentang bilingual pada anak.


[1: http://www.asha.org/public/speech/development/BilingualChildren/
[2: http://www.parents.com/toddlers-preschoolers/development/language/teaching-second-language/
[3: http://www.babycenter.com/0_raising-a-bilingual-child-the-top-five-myths_10340869.bc
[4: http://www.parenting.com/article/raising-bilingual-children
Read More

Menguatkan Pondasi

setelah sekian lamaa libur nge-blog, akhirnya aku kepingin nge-blog lagi. bukan karena malas nulis mengapa tulisan di blog ini sepi dalam 2 bulan terakhir, tapi hanya karena tidak sempat menulis. ada banyak hal yang ingin aku ceritakan di blog ini. banyaaaak haaal (versi lebaynya, hehe). tapi pada akhirnya terlewat begitu saja. tapi, tak apa. mari mencoba bercerita dari apa yang masi menyesakkan dada.

ada satu hal yang ingin sekali aku ceritakan yang (sekali lagi) menyesakkan dada. tentang betapa pentingnya menguatkan pondasi akidah pada jiwa-jiwa anak yang masih polos dengan kesucian fitrahnya dan menanamkan serta memupuk keimanan di hati mereka. ini berangkat dari fenomena betapa banyaknya pendangkalan akidah yang baru aku sadari mekar dan bersubur. sayangnya, aku baru menyadari (tepatnya lebih peduli) akan maraknya hal ini, baru belakangan ini. tapi, alhamdulillah, tersadar jua aku pada akhirnya, bahwa aku selama ini mungkin apatis dengan lingkungan mengenai pendangkalan akidah yang sangat marak di sekelilingku ini. ya, this is like a sand storm in my face. menampariku dan berkata, "kau tak seharusnya membiarkannya begitu saja, fathel!"

apa yang sedari kecil ditanamkan kepada anak dengan fitrahnya yang masih polos, akan jauh lebih melekat (dan bahkan sampai ke alam bawah sadarnya), hingga hal itu menjadi cara ia memandang sesuatu ketika ia beranjak dewasa dan ketika ia pun kemudian menjadi orang tua. penanaman pondasi itu dimulakan dengan hal-hal yang salah, akidah yang "menyimpang" yang terus menerus diwarisi dari generasi ke generasi. akhirnya, semuanya dianggap lumrah dan biasa. dan sampailah pada masa di mana seseorang yang benar, yang berada di jalan yang lurus malah dianggap fanatik dan berlebihan!

pertama, soal khurafat dan takhayyul.
ini sepertinya, menjadi hal yang sudah biasa saja. "kata orang tua-tua..." dijadikan landasan. padahal, tidak seharusnya "kata orang tua-tua" dijadikan dasar sebab banyak sekali hal tak berdasar yang disebabkan oleh "kata orang tua-tua" ini yang isinya khurafat dan tahayyul semua. seharusnya, yang menjadi dasar dan landasan adalah, "kata Allah dalam al qur'an dan kata Rasulullah saw dalam hadits".

"jangan menyapu halaman siang-siang, nanti ga punya anak"
"jangan melilitkan kain ke kepala, nanti anaknya terlilit tali pusarnya"
"pakai bawang putih dan daun selasih, biar bayi aman ketika di jalan"
"jangan begini... nanti begitu..."

semua takhayyul dan khurafat... sesuatu yang dibuat-buat yang kemudian turun temurun, yang pada akhirnya menjadi budaya dan kepercayaan. padahal, itu tak lain hanyalah kebohongan dan berita dusta yang diperindah, dipengaruhi oleh animisme dan dinamisme--kepercayaan jaman dulu sebelum islam masuk dan memerangi itu semua.

فَمَنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
barangsiapa mengada-adakan dusta terhadap Allah sesudah itu, maka merekalah orang-orang yang zalim. (QS. an-Nisa: 94).
انْظُرْ كَيْفَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَكَفَى بِهِ إِثْمًا مُبِينًا
Lihatlah bagaimana mereka berbuat dusta atas nama Allah. dan cukuplah itu sebagai perbuatan dosa yang nyata. (QS. an-Nisa: 50).
(bersambung, in shaa Allah)
Read More

Dan Ini Januari yang Basah

Januari.
bersua juga akhirnya dengan januari kembali. ini adalah januari ke-30 ku.
dan januari kali ini basah bersimbah air mata.


3 Januari 2017
jam 11.45 pagi (menjelang siang), ayah kami tercinta kembali ke hadirat-Nya setelah melewati perjuangan yang cukup lama, bolak balik ke rumah sakit untuk indikasi yang tidak ringan: adenokarsinoma.

semoga Allah merahmati ayahku tercinta.
smoga Allah ampuni dosa-dosa Ayah.
semoga penyakit itu menjadi penggugur dosa-dosa ayah.
semoga Allah melapangkan kubur ayah, dan menjadikan tempat tersebut sebaik-baik penantian sebelum semua makhluk menerima buku catatan amalnya.

ayah, kami menyayangi ayah.
tapi Allah lebih sayang.


kelak, cepat atau lambat, kami pun akan berada di alam yang sama. pasti!
dunia ini, hanyalah sebentar saja. sebentar yang sangat menentukan.

berkali lagi, mari berbenah wahai diriku!
karena anak shalih/ah adalah amal jariyah bagi orang tuanya.
maka, berbenahlah!
Read More

Begitulah Jodoh...

Masih kelanjutan cerita kemarin: tentang hunting household. Ini edisi khusus kitchen cabinet. Ceritanya, di rumah yang kita sewa dapurnya benar-benar kosong! Ga ada kitchen cabinet maupun kitchen sink. Akhirnya hunting lagi di expatriates.

Ternyata nyari kitchen cabinet ga mudah juga. Kebanyakan nda sesuai dengan selera kita. Ada yang sesuai,harganya supeerrr mahal! Ada yang cucook tapi jauuh dan di pusat kemacetan yg sangat kita hindari. Ada yg oke tapii, ternyata kitchen sinknya ga ada! Ada yang disuka tapi mesti langsung beli,ga boleh liat2 dulu. Ada yang kita suka,harganya oke,jaraknya dekat,pas kita mau hire ehh ternyata udah diembat orang lain!

Kita udah hampir nyerah soal kitchen cabinet ini. Sempet ada opsi mau beli baru aja yg sekalian assembling nya. Hingga akhirnya ada satu orang yang ngiklan tanpa nge-attach gambar. Nothing to lose,kita hubungi saja orang tersebut. Ga ada respon awalnya. Tapi kemudian setelah beberapa lama dia ngerespon jugak. Minta dikirimin gambar tapi dia nda kirim gambar. Yaudah,kita sambangi sekalian aja.


Pas nyampe di sana,emak Aafiya langsung berbinar-binar. Ini sukaak bangeet! Simple. Dan bagus! Suami juga suka. Kan kita memang satu selera hehehe. Meski harus nunggu sekitar 1 bulan,akhirnya kita deal dengan kitchen cabinet ini. Alhamdulillaah hunting-menghunting beres! Beginilah penampakannya sesudut dapur yang kitchen cabinetnya sudah terpasang. Masih ada dua cabinet lagi yang ga ikut kepoto.

sesudut dapuur, abaikan keberantakannya :P

Memilih kitchen cabinet ini serasa kayak jodoh. Hihi... 
Yaa begitulah jodoh!
Ada yang available tapi ternyata ga sreg di hati. Ada yang sebenarnya cocok,tapi prinsip hidup beda banget. Daan,pada satu titik, di waktu yang terbaik,dari arah yang ga disangka, Dia hadirkan si dia, yang terbaik yang menggenapkan sebelah sisi untuk mengangkasa bersama, menuju jannah-Nya in shaa Allah...
Read More

Living in Riyadh [part 18]: Hunting Household

Ini kelanjutan kisah pindahan sebelum lahiran yang masih kepending. Dari pada cuma disimpan di draft, mending diposting ajah. Dibuang sayang... Dibuang sayang... Hihi..

Alhamdulillaah, setelah memilih rumah seperti yang diceritakan seelumnya, saatnya untuk hunting household. Ini fase yang cukup berat buat kita karena sebelumnya berada di apartemen yang furnished yang segala perabotannya tersedia. Itu artinya, kita mesti ngisi furniture dan household sendiri di rumah yang baru.
Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Pertama, yang dilakukan adalah budgeting. Menentukan seberapa budget kita untuk membeli household yang penting. Kedua, membuat list household yang penting dan prioritas hingga yang bisa ditunda dulu (tidak urgent dalam waktu dekat). Ketiga, setelah ada budget dan list; mulai menghunting, Maka situs expatriates.com situs yang sering dibuka pada periode ini.

Sedikit cerita, Saudi adalah negara dengan expatriates yang cukup banyak. Sepertiga dari total penduduk yang berdomisili di Saudi adalah expatriates. Dan, turn over orang-orang yang 'hilir mudik' masuk negara ini cukup tinggi. Meskipun, saat ini pemerintah sini sedang berusaha untuk membatasi dan mengurangi arus masuk ke sini (baca: saudisasi). Nah, karena expatriates di sini hanyalah sementara (tidak menetap selamanya), maka kami (dan mungkin juga kebanyakan expatriates di sini) tidak keberatan dengan yang namanya secondhand furniture and household. Rasanya sayang aja beli furniture mahal-mahal tapi ga dipake seterusnya, karena ga akan selamanya berdomisili di sini. Maka, kalau ada temen-temen yang final exit dan garage sale barang-barang furniture nya, kita beli seperlunya. Situs expatriates.com adalah situsnya para expatriate dan salah satu opsinya adalah jual beli, baik itu furniture, household, buku, sepeda, appliance, mobil, dan banyak macam lainnya hingga yang ngasi gratisan alias free item. Ada yang baru 5 bulan di sini trus harus final exit, barangnya masih bagus, harga miring, why not? Heuheu..

Ada beberapa pertimbangan kami ketika memilih household.
- soal selera, hehe.
Ini penting loh! Kami memilih yang memang cucook dengan selera, heuu... Alhamdulillaah kalo soal per-funitur-an, aku dan suami punya cita rasa 'selera' yang sama. Suka yang modelnya simpel, nda ribet, polosan, dan elegant. Hehe...
- Jarak dari rumah
Biasanya kami memilih yang jaraknya nda terlalu jauh atau pusat kemacetan seperti daerah Batha dan Hara
- Timing collected household nya
Household yang Bisa di pick up  bersamaan, lokasi berdekatan, lebih dipilih dari pada yang lokasinya jauhan apalagi waktu utk collection nya berbeda. Ini menyangkut cost untuk pemindahan barangnya. Karena untuk 1 kali pick up, cost nya lumayan besaaar, jadi untuk meminimalisir ini, kita juga memilih yang timingnya samaan. Total pick up, dismentle, dan assembly alhamdulillaah cuma 2 kali untuk proses pindahan kami. Pertama untuk AC dan bedset. Kedua untuk kitchen cabinet dan beberapa furnitur "jeroan" yang kita beli dari orang yang sama. Hehee...

Untuk beberapa barang elektronik (mostly barang elektronik) seperti free standing cooker (bahasa bekennya "kompor" wkwkwk), kulkas, mesin cuci, kita memang prefer beli baru. Bukan nda mau yang second hand sih sebenarnya. Ini murni karena soal pick up dan installment. Karena kita mesti pertimbangkan jarak dan waktu pick up juga. Mostly, kan masi dipakek karena itu barang yang penting untuk perumahtanggaan hihi. Kalau nunggu yang bersangkutan benar-benar berangkat, kita mesti mikirin lagi cost untuk pick up nya yang kalo dihitung-hitung hampir sama dengan beli yang baru (apalagi kalo dapet yang diskonan, free delivery and installment), kenapa tidak pilih yang baru sahaja? Hihi...

JUST MODIFY

Barang yang kita beli, adalah fungsinya. Soal penampilan, nomor dualah. Selagi sesuai "selera" (baca: gak norak dan ribet), masih kuat dan bagus, fungsinya termanfaatkaan, angkuuut! Nanti tinggal modify! Keluarkan jurus kreasinya. Hihi...

Ini salah satu contoh hasil modify, our shoe cabinet. Yang awalnya penampakannya yaa begitu deeh, ada harga ada rupa laah, oleh emak Aafiya di-modify jadi kayak ginii niih (liat di gambarnya ^•^). Secara fisik alhamdulillaah masih kuat dan memah kita pengen fungsinya! Cuma ada penampakannya sedikit mengganjal. Jadiii, tinggal modify ajah. Mainkan kreasinya, hehe.
sebelum dikreasikan

setelah kenak sentuhan craft :D


BERSIAP UNTUK HAL TAK TERDUGA!

Bagi yang mau pindahan, sebaiknya perlu menyiapkan diri (dan juga dana cadangan tentunya) untuk hal tak terduga. Banyak hal tak terduga yang tidak kita prediksi sebelumnya. Karena kita baru perta kali miih pindah ke rumah yang nda furnished di sini. Misal, instalasi AC Split yang ternyata ribet dan butuh cost besar. Berbeda dengan window AC yang instalasinya bisa dibilang lebih mudah dan nda butuh cost besar. Contoh lainnya adalah cerita soal kompor. Hehe...

Semenjak awal kita emang pengennya kompor listrik sahaja, karena kalo kompor gas capek ngangkutin gasnya ke lantai 2! Hihi... Intinya males ribet lah! Dan lagi, penggunaan kompor listrik di sini (meski 5100 watt) sama aja dengan beli gas. Aku sebenarnya cukup terkesima ketika pertama kali datang ke sini dan liat watt barang elektronik di sini yang besuaaarr banget! Di Indonesia, untuk satu rumah watt nya biasanya rerata 1300-an kan yaa. Bahkan rumah jadul masih ada yang 700. Di sini? Setrikaan sendiri aja 2200 watt! Kompor 5100 watt. Kulkas 1500 watt. AC 2100 watt. Ada 4 AC di rumah. Vacum cleaner 1500 watt. Food processor dan blender 800 watt. Water heater untuk musim dingin 1800 watt,dan ada 3 water heater di rumah. Dan barang elektronik lainnya yang nda bisa disebutkan satu persatu. Coba aja hitung, berapa banyak penggunaan listriknya!
kompor lagi proses instalasi, kabelnya lagi diobrakabrik, hehe

Back to kisah kompor listrik. Kita pilih yang free standing cooker karena memang mayoritas di sini free standing cooker. Ada ovennya sekalian, jadi nda perlu beli oven lagi. Hehe. Meskipun emak Aafiya nda begitu hobby baking, setidaknya buat bikin lazy pizza jadi sangat kepake deeh. Awalnya kita pikir tinggal colok aja tuh si kompor listrik! Ehh ternyata prosesnya ribet juga! Harus narik kabel yang 20 Ampere. Harus manggil electrician. Daaan butuh 2 hari untuk menyelesaikannya! Bukan 2 hari full (seharinya paling sekitar 3 jam-an lah). Ini unpredictable buat kita sih. Tapi jadi pelajaran berharga lah.

Alhamdulillaah 'ala kulli haal, meski pada awalnya terasa berat dan berasa PR banget soal hunting household ini, tapi finally selesai juga persis 1 bulan sebelum lahiran Aasiya. Setelah beberes dan settle, alhamdulillaah anaknya baru lahir.
Read More

Living in Riyadh (part 17): Lahiran di Riyadh

Ketika habis lahiran, beberapa teman datang berkunjung. Menjenguk new baby ceritanya. Naah, pertanyaan yang muncul dari beberapa teman-teman yang tidak pernah lahiran di sini atau tak pernah jauh dari orang tua adalah,

"Gimana lahiran di sini? Susah nda? Apa-apa urus sendiri.. Gak ada yang bantuin."
"Masaknya gimana? Catering?"
"Aduuh, saya nda berani euy lahiran di sini. Dulu pas tau hamil, kami akhirnya menunda berangkat ke sini, nunggu sampai si baby nya lahir dulu."

Pertanyaan itu ternyata tidak hanya muncul dari teman-teman di sini, tapi juga teman-teman yang dari Indonesia. Secara, sekarang media komunikasi sudah sangat mudah kan yaa...


Yaa, begitulah. Terkadang, sesuatu terlihat sulit ketika kita belum menjalaninya. Akan tetapi, kita akan benar-benar mengerti sesuatu itu sulit atau mudah ketika kita benar-benar sudah berada di situasinya dan harus menghadapinya. Alhamdulillaah, so far semuanya relative bisa dihandle dengan cuti suami yang hanya 1 minggu selama prosesi lahiran ini. Kadang, kita tidak tau kalau kita bisa melewatinya ketika sesuatu hanya berada di ruang imajiner belaka. Hehe...

Apa perbedaan lahiran jauh dari keluarga di sini dibandingkan lahiran di kampung halaman yang dekat dengan keluarga?
Pertama, Jika lahiran di kampung halaman/dekat dengan keluarga, banyak saudara dan keluarga yang bantuin. Alhasil, relative dimanja lah ibu-ibu yang baru lahiran. Kebanyakan aktifitasnya hanyalah makan lalu menyusui, makan lagi, menyusui lagi. Haha. Pekerjaan dapur, beberes, bebersih, di take over sama keluarga lainnya. Berbeda dengan lahiran jauh dari kampung halaman. Apa-apanya urus sendiri. Seminggu setelah lahiran, pekerjaan dapur udah diurus sendiri. Nyuci juga. Hmm.. Lahiran di negeri yang jauh, orang tua/mertua nda bisa datang, daan tidak meminta bantuan dari mba-mba yang kerja buat beberes dan bebersih, tanpa catering makanan jugak, mungkin bagi kita yang belum pernah merasakannya akan terasa berat dan ingin give up sahaja... tapiii, alhamdulillaah banyaaak kemudahannya. Semua adalah pertolongan Allah. Allah-lah yang menguatkan. Dan juga, support dari suami juga. alhamdulillaah, sekali lagi, banyaaak kemudahannya. Apalagi dengan support suami, yang turun tangan membantu pekerjaan rumah. Semuanya terasa indaah, alhamdulillaah...

Kedua, Jika lahiran di kampung halaman, biasanya suka ada 'aturan tak tertulis' bahwasannya ibu-ibu yang habis lahiran mesti stay di rumah sekurang-kurangnya 30-40 hari. Kecuali keluar rumah untuk urusan yang sangat sangat penting, misal imunisasi si bayi atau kontrol ke dokter pasca lahiran. Selain itu, hampir bisa dipastikan si ibu yang habis lahiran ini mesti teteeeepp di rumah sahaja. Kalau di sini, Aasiya usia 5 hari sahaja kita udah ajak jalan ke luar, dan usia 7 hari udah di ajakin belanja keperluan dapur. Hihi.. Usia seminggu kurang udah ikut ngelingker alias ngaji mingguan emaknya, pokonya aktifitas normal lainnya deh. Jadi, ga ada yang namanya cuti lahiran, wkwkwkwk.

Ketiga, Lahiran di kampung ma shaa Allah, kuatnya ibu-ibu yang melahirkan mempertaruhkan nyawanya tanpa pain killer. Sungguh angkat topii...
Lahiran di sini relative 'manja' dengan adanya pain killer pada proses lahirannya. Ya, kita boleh request pain killer kalo kita mau. Kebijakan di sini memperbolehkannya. Sebut saja golongan narkotik semacam pethidine, bahkan naloxone hingga ke epidural bisa di request kita memang nda sanggup menghadapi rasa sakit yang hebat ketika melahirkan. Kalau lahiran di kampung, rasa sakit melahirkan haris filalui tanpa pain killer. Meski buat orang yang ambang nyerinya rendah macam emak aafiya dan aasiya ini, pain killer nda begitu ngaruh, teteep ajah sakiiit heuheu, tapi setidaknya bisa ngurangin dikit laah. Bagi sebagian orang, mulas dan kontraksi malah jadi hilang dengan bantuan pethidine, tapi ndak berlaku sih buat aku. Hehe. Kadang mau idealis juga, untuk memilih opsi no medication selama proses lahiran. Tapi, jika ada yang mudah, kenapa milih yang sulit? Hehe..


'Ala kulli haal, alhamdulillaah...
Meski jauh dari keluarga, di sini banyak saudara-saudari sebangsa yang ma shaa Allah juga memberikan support, membawakan makanan di kala busui napsu makannya lagi on banget. Hihi. Apalagi makanan yang Indonesia bangeeet. Hiiyy, jadi takut liat timbangan! Udah nambah berapa kilogram yak sekarang? Wkwkwkwk...


Naah, buat ibu-ibu mahmud yang mau lahiran jauh dari keluarga, baik di luar negeri maupun luar nagari, don't worry, in shaa Allah bisaaa ngelewatinnya. Sebagaimana janji Allah, bahwa setiap kesulitan itu pasti ada kemudahan yang menyertainya. Semangaaatt!!


Read More

Pojok Creativity

Inii adalah project pertama emak Aafiya di rumah yang baru, first project in "pojok creativity".
Ceritanya, sudah lamaaa banget nda utakatik mesin jahit (kecuali melakukan permak sedikit) semenjak pindahan. Karena masih sibuk pindahan rumah. Alhamdulillaah pindahan mulai beres daan aku punya kesempatan untuk me time lagi di pojok creativity.

Pojok creativity adalah salah satu pojok di ruang shalah rumah kontrakan kami yang spesial dihadiahkan buatku oleh suami tercinta. Jazakallaah khair katsir Zaujiiy... Kiss kiss hug *mmmuuaach...
Sederhana saja, meja letter L dengan mesin jahit,mesin obras dan cutting mat di atasnya. Ada satu lemari khusus craft tapi dengan posisi yang bersilangan. Di atas cutting mat,bisa digunakan untuk ngedesain pake laptop, buat ngedit2 photo jugak, hehehe.

Naah,karya pertama di pojok creativity ini adalah tas sling bag dari kulit sintetis. Pertama, penasaran banget apakah aku bisa jahit kulit sintetis apa nda. Kedua, pengen menguji apakah mesin jahitku bisa diajak kerja heavy duty dengan kulit sintetis yang lumayan tebal meskipun belum tergolong mesin jahit tipe HD. Ketiga, pengen sling bag yang bisa dipakek kemana-mana berbahan kulit. Keempat,lumayaaan jadi refreshing banget sambil nungguin lahiran adek Aafiya kemarin. Project kilat! Cuma sekitar 1,5 jam pengerjaannya. Sayangnya kurang perencanaan yang matang.

Alhamdulillaah setelah jadi, lumayan puas dengan hasilnya. Meski sedikit menyesal karena minim perencanaan, tanpa pola, design spontaneous, langsung gunting di kulitnya, tapi alhandulillaah feel statisfy overall. Next time, memang harus ada perencanaan yang matang,pengukuran yang presisi lagi! Agar hasilnya lebih memuaskan :)

Berikut pojok  creativity aku dan produk pertamanya :)
Belum sempat photo-photo cantik,cuma pake kamera HP ajah :D

Read More

Welcome To The World, Our Mujahidah

Alhamdulillaah bini'mati-Hi,telah lahir our Mujahidah, our second little princess 18 Oktober 2016 (selisih 3 hari dengan Aafiya-15 oktober) jam 18.21 waktu Saudi Arabia (GMT +3) di DR Sulaiman Al Habib, Ar Rayyan Hospital, Riyadh. Berat badannya 1 kg lebih besar dari Aafiya :D, 3,150 kg dan panjang 54 cm.

Smoga menjadi anak yg shalihah,sehat-sehat selalu,menjadi anak bertaqwa,taat pada Allah & Rasul-Nya,patuh kepada orang tua selama dalam koridor syari'at-Nya dan menjadi penyejuk hati ayah dan bunda.

Alhamdulillaah bini'mati-Hi...

****

Aku merasakan kontraksi sebenarnya sudah cukup lama (sekitar 2 minggu sebelumnya). Tapi sepertinya kontraksi palsu (Braxton Hicks),karena baby nya sudah dropping. Nah, sejak sore tanggal 17 oktober 2016,kontraksinya mulai berasa teratur tiap 5-10 menit walaupun masi tolerable nyerinya Alhamdulillaah.

Sekitar jam 10-an kita ke emergency room. Ceritanya, cuma pengen make sure apakah ini kontraksi asli dan bersiap lahiran apa kontraksi palsu. Karena nyerinya masi on dan off,datang dan pergi,belum yang sakit banget. Masi bisa tersenyumlaah. Itu kalo dicek pake facial analog scale mungkin masi tinggi hehee. Tapi, Setelah di cek dengan CTG plus examination,ternyata dilatasinya sudah 3 cm dan kontraksinya juga sudah regular. Bukan kontraksi palsu lagi. Setelah sekitar 2 jam-an di ER (emergency room), aku ditransfer ke LDR (labor and delivery room).

Daaaan, ma shaa Allah perjuangan dimulai! Bagi wanita yg pernah merasakan melahirkan, akan tahu bagaimana rasanya,bagaimana nyerinya, ma shaa Allah... Allahu akbar!!!

Alhamdulillaah suami tercinta selalu memberikan support terbaik,membisikkan untuk senantiasa mengingat Allah saat gelombang nyeri yang dahsyat,menyediakan tangan untuk dipegang erat, ma shaa Allah... Jazakallaahu khair katsir Zaujiy. Uhibbuka fillah jiddan.

Alhamdulillaah juga support dari Ayah dan Ibu (meskipun bermil-mil jarak di seberang samudra ayah juga sedang berada di Rumah Sakit untuk ujian sakit yang tidak ringan), Support dari Mama, support dari semua keluarga dan sahabat. Alhamdulillaah,do'a dari orang tercinta sangat berarti. Kita tak pernah tau,dari tengadah tangan yang mana yang do'anya diijabah-Nya untuk memudahkan segala proses ini. Jazakumullaahu khairan katsir.

Jazakumullah khair katsir buat kluarga Tsabita (mba Tyas,mas Nizar, Dinda dan Ihsan) atas supportnya membantu menjaga Aafiya selama prosesi lahiran. Ma shaa Allah... Ma shaa Allah...
Smoga Allah balas kebaikan keluarga Tsabita ^^

Alhamdulillaaah bini'ati-Hi

***

Setiap kelahiran punya cerita. Bahkan antara kelahiran Aafiya dan adiknya ceritanya pun juga berbeda!
Setiap negeri punya kebiasaan yang berbeda pula. Menurut cerita dari teman-teman dan yang sempat disaksikan sendiri,lahiran di kampung halaman jika bukaan 1,2,3 malah disarankan untuk banyak bergerak,jalan ke sana ke mari untuk memudahkan proses lahirannya dan juga untuk mengurangi nyerinya.

Kontras dengan di sini, setelah masuk LDR,aku malah mesti stay di atas tempat tidur,bahkan even cuma ke toilet saja nda diijinkan. Jadi,selama kurang lebih 7 jam prosesi melahirkan,aku hanya stay di tempat tidur saja. Padahal tadinya pengen bergerak,jalan ke sana sini,poto2 'mengabadikan' momen di LDR nyaa,hihi. Tapiii di sini bedanya secara prosedural kita boleh memilih untuk diberikan pain killer-Pethidine (golongan narkotik), atau mau ditingkatkan dengan naloxone atau sekalian epidural (tapi yang epidural kayaknya di RS besar di Indonesia juga sudah banyak kali yaa). Dulu pas lahiran Aafiya aku cuma pake pethidine. Yang sekarang ditambah dengan naloxone (kalo nda salah kebijakan di Indonesia tidak membolehkan naloxone,tapi di Saudi diperbolehkan. Cmiiw).

Bagaimana pun prosesnya, Alhamdulillaah semua tidak terlepas dari kemudahan yang diberikan-Nya. Setiap orang punya cerita, yang pasti tidak sama :)
Semoga, apapun itu, bagaimanapun caranya, senantiasa membuat kita untuk bersyukur atas karunia-Nya dan bersabar atas ujian-Nya. Semoga diri ini yang penuh dengan segenap rombengan,gudangnya khilaf dan salah, bisa mengimplementasikannya,bukan hanya sekedar kata.

Read More

Memilih Jalan Cinta yang Salah

Sungguh, Cinta adalah anugrah yang Indah dari Allah.
Dia yang Maha Cinta, menganugrahkan rasa cinta itu kepada hamba-Nya, yang dengannya hadirlah kasih sayang antara orang tua dan anaknya, antara sepasang kekasih yang dihalalkan-Nya.
Sungguh, tanpa adanya cinta dan kasih sayang, hampalah dunia ini, gersanglah hati segenap makhluk di muka bumi.

Maha Suci Allah yang telah menganugrahkan makhluk-Nya rasa cinta.
Cinta yang menumbuhkan, cinta yang membangun, cinta yang memberi kekuatan untuk memberi, cinta yang mendorong rasa melindungi. Ya, semuanya berbahan bakar: CINTA.

Namun, ada kalanya cinta memiliki luka.
Di saat kita memilih jalan cinta yang salah, ketika jalan cinta itu justru mengingkari Sang Maha Pemilik Cinta!
Saat itu, cinta bukan lagi sebuah anugrah, melainkan petaka.
Bagaimana mungkin mengingkari dan menjauhi Sang Pemilik Cinta, sedangkan Dia-lah yang maha Rahman, Dia-lah yang Maha Rahim, Dia-lah yang Maha Cinta.

Ah, kembalilah, pada jalan cinta yang benar.
Sebelum ampunan-Nya tertutup.

=======

Sakit, adalah ujian dari-Nya.
Ujian sekaligus "anugrah" agar terampuni segala dosa selama bersabar dalam menghadapinya. Meskipun, bersabar terhadap penyakit itu tidak mudah.

Berikhtiar untuk kesembuhan adalah perintah-Nya. Tapi, tetap dalam jalan yang benar. Tidak mengangkangi syari'at-Nya.

Adalah orang-orang yang datang dengan penuh cinta, kepedulian dan kasih sayang, namun mereka datang dengan berkendara yang salah. Memilih jalan mencintai dengan cara yang salah. "Memaksakan" kesembuhan dengan jalan yang tidak diridho-Nya, dan bahkan sangat dibenci-Nya.

Subhanallah...
Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Sungguh, dunia ini hanyalah sebentar.
Alangkah ruginya, ketika mencintai dengan jalan mengingkari syari'at-Nya.
Bukan hanya merugikan tapi menggadaikan akhirat pada jalan cinta yang salah.

=======

Smoga Allah menunjuki mereka dan juga diriku pada jalan kebenaran, pada hidayah-Nya, agar tidak menggunakan cinta pada jalan yang salah.
Smoga Allah mengkaruniakan pintu taubat dan keampunan bagi mereka dan juga diriku, sebelum kalimat taubat tiada lagi gunanya.

=======

Astaghfirullaah lii wa lahum
Read More

Living in Riyadh [part 16]: Memilih Villa

Ini adalah kelanjutan kisah sebelumnya, Pindah ke Villa (cekidot di sini ).
Setelah kita memutuskan untuk pindah ke Villa, lanjut ke step berikutnya yaitu mulai meng-hunting dan memilih Villa. Yang unik dari prosesi memilih villa ini adalah, bukan mencari rumah yang ada tulisan "Lil Ijaar" (disewakan) melainkan mendatangi maktab Akari. Pilihan kita jatuh pada akari-akari yang tersebar di sepanjang Ibn Haitham street. Secaraaa, kantor Abu Aafiya memang berada di Ibn Haitham Street. Mumpung belum punya anak yang usia sekolah, kita memilih lokasi yang dekat dengan kantor saja.

Tiga hari pertama hunting, belum ada yang sreg di hati. Ada yang sreg di hati, tapi ndak sreg di budget. Hihihi...
Kita bahkan mulai hunting akari yang ada di Salman Al Farisi street (ngedekitin Lulu ceritanya :D), tapiii lagi-lagi ga ada yang sreg di hati.
Ternyataa, memilih rumah itu tak semudah yang dibayangkan.
Akhirnya pilihan jatuh pada 2 opsi. Tapi, dua-duanya sama-sama sulit untuk diputuskan, yang mana yang akan dipilih.

Tapi, di tengah prosesi pencarian rumah itu, ternyata ada hambatan pada proses haji kemarin yang membuat kita sempat ingin mundur saja, ga jadi pindah ke villa dan memilih untuk move on dari sini. Tapi, setelah proses cancel tasreeh clear, akhirnya kita kembali ke keputusan awal untuk pindah ke villa.

Malam itu, habis magrib (emang waktunya cuma malam siy kalo mau hunting villa, karena siang umumnya akari tutup hehehe dan Abu Aafiya baru pulang kerja mendekati maghrib) kita coba ke akari depan apartemen, tapi benar-benar nda sreg dengan rumahnya. Akhirnya balik lagi ke akari yang dulu pernah kita datangi.

Daaaan, ma shaa Allah, kita langsung sreg dengan rumahnya! Meskipun kali ini sedikit overbudget juga, tapii yang namanya udah kadung jatuh hati dan sukaa, ya udaah kitaa lanjutkaaan deh :)

Alhamdulillaah, akhirnya ketemu jugaa dengan villa yang cucook buat IMoreFamiliy. Lokasinya juga sangat dekat dengan kantor Abu Aafiya. Alhamdulillaah bini'matiHi.

Pelajaran berharga: memilih rumah itu sama seperti memilih jodoh; ada kesesuaian hati dan kenyamanan jiwa ;)
Tak perlu mengutarakan apa alasannya,sebab kadang kita tak tau apa alasan mengapa kita jatuh cinta. Biarlah hati yang memilih ;)

Smoga hati yang memilih itu,bukan karena alasan duniawi semata tapi karena tuntunan dari-Nya, Rabb Sang Maha pemilik hati.

***
In shaa Allah bersambung ke part selanjutnya; hunting household ;)

Read More