Tentang Pindah Rumah

Sukirno (nama samaran) dan Sutedjo (juga nama samaran) adalah dua orang yang bersahabat. Mereka pun dulunya bekerja di kantor yang sama. Keluarga mereka pun saling mengenal satu sama lainnya termasuk istri dan anak-anaknya. Suatu ketika Sukirno memutuskan untuk pindah ke kota lain disebabkan dia ingin berdikari, mengembangkan usaha sendiri dan tentu saja resign dari kantornya. Kota itu berjarak jauh yang hanya bisa ditempuh dengan penerbangan dan tentu saja Kirno tidak bisa mengangkut semua barangnya untuk pindahan ini. Akhirnya sebagian besar barangnya dijual. Pun begitu juga dengan kontrakan yang selama ini ditempatinya. Kebetulan, sahabatnya Sutedjo sedang mencari rumah kontrakan baru karena rumah kontrakan lamanya sudah jatuh tempo, harganya cukup mahal untuk spek dan Tedjo memutuskan untuk mencari rumah baru yang lebih cocok dengan anggaran rumah tangganya.

"Eh kamu mau ndak gantiin rumah kontrakan aku, Tedjo?" tawar Kirno. "Harganya murah. Memang sih agak jauh dari kantor."
Tedjo yang memang sedang mencari kontrakan baru berpikir sejenak, "Aku pikir-pikir dulu, Kirno. Aku juga akan mendiskusikannya dengan istriku."
Setelah berdiskusi, akhirnya Tedjo sekeluarga memutuskan untuk menggantikan kontrakan Kirno. Tapi sebelumnya mereka akan melakukan survey dulu ke rumah kontrakan Kirno.

Kirno menjamu Tedjo dengan baik. Bahkan istrinya yang memang hobi memasak, menyambut Tedjo sekeluarga dengan beraneka masakan yang menggugah selera. Aroma masakan istri Kirno memenuhi segenap rumah. Istri Kirno bercerita pada istri Tedjo bahwasannya pemilik rumahnya baik banget, air lancar, halaman bermain untuk anak-anak luas dan segenap kelebihan lainnya. Satu-satunya kekurangan yang istri Kirno sebutkan hanyalah bahwasannya area dapurnya bagian lantai sudah menghitam yang merupakan "warisan" dari pengontrak sebelumnya dan sulit dihilangkan. Ketika bersilaturrahim itu, memang Kirno belum genap setahun mengontrak di sana.

Akhirnya tibalah masanya Kirno terbang ke kota tujuannya meninggalkan  kota perjuangan dan perantauan yang selama ini ditempatinya. Kirno dan Tedjo pun sudah berbicara dengan pemilik rumah bahwasannya dia akan menggantikan Kirno mengontrak. Kunci rumah pun sudah di hand over.

Akhirnya Tedjo pun mulai beberes dan menyicil mengangkut barang-barangnya ke kontrakan Kirno. Terutama istri Tedjo, dialah yang mulai memeriksa satu persatu household yang ditinggalkan Kirno sekeluarga. Agak sedikit kaget bercampur heran ketika istri Tedjo menemukan banyak sekali kapur barus, pengharum ruangan, obat kecoa, obat semut, obat semprot insektisida dan juga germisida di kamar mandi. Dan juga ada perangkap tikus halaman (catatan: istri Tedjo adalah seorang phobia tikus!!). Wowww... barang-barang ini?! Awalnya istrinya Tedjo heran kenapa ada barang beginian di rumah peninggalan Kirno. Di rumah kontrakan sebelumnya, mereka tak pernah memikirkan barang-barang "antik" seperti ini.

Setelah dua minggu pindah ke ex-kontrakan Kirno, barulah keheranan istri Tedjo terjawab. Rumah kontrakan Kirno yang "kelihatan bagus" itu dan apalagi juga murah, ternyata tak seindah harapan. Emak-emak kan senang yang murah yaaa... Apalagi keliatannya bagus.. murah lagi. Siapa sih yang ga tergiur! Ga tau deh kalo ibu bangsa, apakah suka juga yang murmer. Itu kan tadi judulnya emak-emak. Wkwkwk..

Gak cuma istri Tedjo, istri Andoko, istri Wicaksono dan istri Padjo yang juga merupakan istri teman kerja Kirno dan Tedjo juga menyukai rumah itu dan men-support untuk pindah ke sana aja. Tapi, ternyata oh ternyata jauh lebih buruk dari perkiraan. Baru sebulan pindah ke bekas kontrakan Kirno, keluarga Tedjo terutama istrinya sudah ga betah sama sekali.

Ada banyak masalah di rumah itu ternyata. Pertama: saluran pembuangan kamar mandi sepertinya satu jalur dengan westafel di dapur. Jangan lupakan juga bahwa saluran airnya juga menyatu dengan penghuni di lantai 2 rumah itu. Dan baunya menguap dengan amat sangat bau. Setiap pagi, dan juga sewaktu-waktu ketika intensitas pemakaian kamar mandi cukup tinggi, bau busuk memenuhi dapur dan tak jarang merembet ke seisi rumah. Bayangkan kalau ada yang sedang menguras septik tank, baunya seperti apa. Nah kira-kira begitulah aroma yang  setiap pagi harus "dinikmati" Tedjo sekeluarga. Meskipun tak sepanjang waktu, tapi menciumi aroma bau tersebut setiap 2-3 kali sehari sangat membuat tak nyaman.

Aroma bau yang lain berasal dari arah lubang westafel dapur. Yang mana, bau westafel ini selalu ada setiap kali mendekat ke westafel dan membuat istri Tedjo sangat tak nyaman setiap kali mencuci piring. Terjawablah kenapa ketika "survey" bau ini tak tercium. Karena tertutup oleh aroma masakan istri Kirno yang mendominasi rumah. Dan ketika tak sedang memasak, aroma busuklah yang mendominasi. Padahal Tedjo sudah membantu istrinya melakukan deep cleaning pada westafel, menyingkirkan segala macam dan dibiarkan kosong begitu saja biar tidak ada yang mengganggu. Tapi agaknya bau itu memang sudah dari sononya. Hal ini semakin membuat istri Tedjo tak betah.

Belum sampai di situ, ternyata di salah satu sudut kitchen set ex-Kirno terdapat sarang kecoa. Hewan kecoklatan itu bergeriliya sekitaran dapur dan kamar mandi. Juga semut-semut yang membuat sekujur badan anak Tedjo bengkak, bibir dowel, kelopak mata bengkak. Bertambah-tambahlah daftar keburukan rumah ex-Kirno tersebut.

Udah cukup sampai di sana?!
Sayangnya belum sodara-sodara! Masih ada lagi masalah lainnya! Ternyata di kamar mandinya juga banyak berkeliaran cacing yang menjijikan. Hewan pipih hitam kemerahan itu meliuk-liuk di lantai kamar mandi yang bikin istri Tedjo mau muntah saking geli dan jijiknya. Kadang sehari berjumpa si hewan meliuk itu satu kali, kadang dua kali dan pernah juga sampai 5x sehari jumpa terus ama si cacing. Mulai yang panjangnya kira-kira 10 inchi hingga yang imut-imut (ehhh amit-amit dink!) seukuran 1 inchi yang masi kecil kecil. Germisida yang ditinggal Kirno di kamar mandi itu ternyata tak mempan membunuh cacing menjijikan itu. Dan jelas, cacing ini berbahaya bagi kesehatan.

Aarrgghhh... jelas saja Tedjo sekeluarga sangat ga betaaaaaahhh. Biar kata murah, tapi kenyamanan tetap lebih utama. Sangat mengherankan kenapa Kirno sekeluarga bisa-bisanya betah di rumah itu dan menawarkan pula kepada Tedjo. Kalo Tedjo jadi Kirno, mungkin dia akan segera angkat kaki dari rumah itu dan takkan pernah menawarkan rumah itu kepada temannya. Apalagi ke teman dekat.

Tedjo sungguh sangat kecewa pada Kirno. Terutama istrinya Tedjo. Kenapa sejak awal terutama ketika survey  Kirno tidak membicarakan hal tersebut kepada Tedjo. Hal sepenting itu???!!! Apalagi itu semua tak akan terdeteksi ketika survey sebentar dan tidak mendetil. Kan ga mungkin juga Tedjo ngobrak-abrik kitchen set nya Kirno sementara pemiliknya masi di sana. Cacing bisa jadi sedang tak unjuk wajah alias pamer diri ketika Tedjo berkunjung. Apalagi, Istri Tedjo hanya menggunakan kamar mandi sebentar saja ketika menemani anaknya buang air kecil. Dan masalah bau westafel, ketika Tedjo berkunjung tertutupi oleh aroma masakan dan lagian ngapain juga istri Tedjo mengendus-ngendus westafel orang. Kurang kerjaan amat! Aroma septik tank yang menguap itu mostly di pagi hari sementara Tedjo berkunjung pada malam hari. Nah jelas kan kalau semua itu tak terlihat ketika survey. Okelah kalau misalnya Kirno ga menganggap serentetan hal di atas adalah masalah dan dia sekeluarga bisa "berdamai" dengan itu semua, setidaknya ketika menawarkan rumah kepada orang lain penting untuk memberi tau (jika pun bukan masalah bagi mereka) dan menggambarkan kondisi real tersebut sebagai bahan pertimbangan bagi pengontrak berikutnya. Kalau Kirno bisa membeberkan kelebihan, harusnya dia juga bisa menceritakan kekurangan rumahnya. Itu sangat penting lho, seharusnya. Kekurangan yang diceritakan Kirno itu justru bukan apa-apa sebab dapur yang menhitam itu ternyata kinclong kembali dalam sekali usapan cairan clorox. Maksudnya ga butuh berkali-kali nuang clorox untuk bikin noda menghitam itu hilang. Yang masalah utama justru tidak disampaikan. Sebenarnya kalau bagi Kirno serentetan "temuan" itu bukan masalah, enggak juga kayaknya. Buktinya barang-barang "antik" berupa kapur barus, pengharum ruangan, obat kecoa, obat semut, obat semprot insektisida dan juga germisida di kamar mandi menjadi bukti bahwa mereka sebelum ini juga tengah mencari solusi permasalahan yang ada. Soal perangkap tikus?! Hiiiiyyy semoga saja cuma aksesoris pajangan (kali Kirno suka aksesoris anti mainstream wkwkwk) dan tikusnya benar-benar ga ikut nebeng tinggal di rumah itu. Na'udzubillah.

Sempurna sudah kekecewaan Tedjo sekeluarga. Terutama istrinya. Karena yang paling bersemangat untuk pindah ke ex kontrakan Kirno awalnya adalah istrinya. Apalagi sebagai ibu rumah tangga, istrinya lah yang selalu di rumah hampir 24 jam.

Akhirnya Tedjo sekeluarga memutuskan untuk pindah lagi. Meskipun pindah rumah adalah hal yang paling ga disukai Tedjo. Yaiyalaah.... capeeek brooo, nge-load, packing, moving dan unpacking lagi. Siapa sih yang suka?! Tapi, tetap lebih baik dari pada bertahan dengan sesuatu yang bikin makan hati tiap hari kan yaaa.... Masi untung kalo makan sambel ati wkwkwkwk. Jika sedari awal Tedjo dapat gambaran mengenai kondisi rumah tersebut, tentulah ia bisa mempertimbangkan dan mungkin memilih kontrakan yang lain. Ga perlu repot-repot 2x pindah macam tuu. Udahlah capeknya 2x, pun biaya pindahannya juga dobel (harus nyewa truk buat ngangkutin barang atau sewa mover lagi kan?).

Cerita di atas sebenarnya cuma deskripsi sebagai pengantar aja atas inti tulisan kali ini.

Whaaaattt?? Pengantaaaarr???

Kekeke... iyaaa... boleh lah sesekali kata pengantar lebih panjang dari isi. Wkwkwkwk... Jadi intinya mana??? Kuuy lanjut bacaa lagi yaak. Hehe...

Pertama, Begitulah sebenarnya ilustrasi menikah via ta'aruf vs pacaran. Ketika pacaran, cendrung yang keluar manis-manisnya doang. Masi jaim lah... Setelah menikah, baru deeeh keluar aslinya. Seberapa lama sih seseorang bisa memakai topeng? Pasti ada masanya ia melepasnya dan menunjukkan wajah asli kan yaa... Nah pasti kecewanya luar biasa kan yaa ketika tau belakangan.

Berbeda dengan pacaran, ta'aruf justru haruslah sedari awal mendeskripsikan kondisi real. Meski mungkin saja setelah dihadapi ternyata jauh lebih berat dari pada deskripsi di awal, tetap saja ia sangat penting. Setidaknya, potensi kecewa lebih kecil karena sudah mendapat gambaran dari awal.

Memaaang, banyak yang awet pernikahannnya yang menempuh jalur pacaran. Tapi, yang menikah lewat jalur ta'aruf pun sangat banyak yang awet dan romantis. Sesuatu yang dimulai dengan cara yang baik in shaa Allah lebih barokah. Sesuatu yang dimulai dengan maksiat, tetap saja berbeda dengan yang bermula dalam jalan ridha-Nya. Tapi yang memulai dengan jalan yang benar juga jangan merasa jumawa, sebab bisa jadi yang memulai dengan jalan yang salah telah bersih dengan taubatnya, sementara yang merasa lebih baik karena memulai dengan cara yang baik justru terpeleset pada jurang kesombongan dan terperangkap dalam tipuan "merasa diri lebih baik". Na'udzubillah

Kedua, deskripsi panjang lebar di atas mungkin hampir menjadi ilustrasi dari fenomena yang sedang ramai sekarang. Walaupun ga sama persis hehe. Ada yang beramai-ramai sedang "pindah rumah" (dalam makna kias). Percayalah, ketika engkau telah berada di suatu "rumah" yang nyaman menurutmu, jangan langsung begitu mudah tergiur dengan rumah lain yang dari luar tampak indah. Tak selalu sesuatu yang "tampak indah" itu benar-benar indah di dalamnya. Kenapa tak fokus saja memperindah dan mempercantik rumah sendiri selagi itu di jalan kebenaran, kebaikan, dan kemashlahatan. 😍

Semoga Allah tetapkan kita pada jalan yang benar di tengah kehidupan dunia yang penuh lika liku berduri ini. Dan semoga pula penghujung hari-hari kita ditutup-Nya dengan sebaik-baik penutup; husnul khatimah. Aamiin yaa Allah...

Read More

Hanya Sebentar Saja

Hari ini, tiga little princesses sedang tidur siang. Tiga-tiganya. Biasanya, duo uni memang susah tidur siangnya. Pengennya main mulu. Dengan terang-terangan Uni Aafiya bilang, "Uni ga suka tidur. Pengennya bangun aja, biar bisa main." Hehe...

Siang ini, ketika mereka tidur, emaknye muhasabah. Iyapp, baru ditinggal tidur sebentar saja, rumah terasa sangat sepiiii. Biasanya ada suara celoteh mereka, suara ketawa, suara bertengkar, suara tangis. Lengkap. Ahh, sebuah tanya tiba-tiba hadir di jiwa, "Begini kah beberapa tahun lagi?" (jika Allah memanjangkan umur kami dan semoga umur yang barokah). Mungkin, hari ini, ketika mereka masih kecil-kecil, mengintil ke mana pun kita pergi, ada masa-masa di mana merasa pada titik saturasi, lelah, pengen menyendiri, pengen me time tanpa ada rengekan, suara tangis dan sederet paket lainnya. Tapi, aku menyadari bahwasannya ini tak akan lama. Sungguh, tak akan lama. Kelak, ada masanya sunyi. Sunyi. Sepi. Hening. Dan kita akan sangat sangat sangat teramat sangat merindukan masa-masa seperti ini. Masa di mana anak-anak masih heboh berteriak sana sini, ingin selalu dekat-dekat dengan kita. Mengikuti kita ke manapun raga kita bergerak. Kelak, ketika mereka memiliki dunianya sendiri, kita akan sangat merindukan masa-masa ketika mereka "merecoki" kita dengan berbagai hal khas anak-anak, ketika mereka mengajak kita bermain.

Rumah berantakkan penuh mainan, yang seketika dibereskan, seketika itu pula kembali berserakan, sungguh ini tak akan lama. Tak akan lama. Ada masanya ketika rumah rapi jali, tapi kita sangat merindukan ketika tangan-tangan kecil itu mengacak-acaknya kembali. Ketika mereka perlahan pergi meninggalkan kita, menjemput takdir mereka masing-masing. Bersekolah. Hingga kemudian memiliki keluarga mereka masing-masing. Maka kita akan terbata-bata mengeja rindu. Ingin kembali pada masa di mana rumah selalu ramai dengan kegaduhan mereka.

Ahh, sekian masa berlalu. Menoleh jejak ke belakang dengan segenap penyesalan. Ternyata diri ini masih jauh. Jauh dari kata "madrasatul 'ula" yang baik. Masih lalai. Banyak lengah. Sementara waktu-waktu berharga ini terus saja berlalu. Hanya sebentar saja. Hingga kita (diri ini) terutama tersentak dengan sesal. 'Ke mana saja aku selama ini??'.

Ahh, sekali lagi. Berbenahlah wahai diri. Waktu ini hanyalah sebentar saja. Berikanlah yang terbaik untuk mereka. Sebab pengasuhan takkan pernah bisa di-undo. Masakan tak enak bisa dimodifikasi. Desain yang kurang bagus, masih bisa diperbaiki. Menyia-nyiakan masa emas pengasuhan dan mendidik anak, dapatkah kita mengulanginya kembali?! TIDAK!

Ya, Rabb.... Tunjukilah kami, agar dapat menjalankan amanah sebagai orang tua. Ilhamkan dan pahamkan kami cara terbaik dalam mengasuh dan mendidik mereka. Agar kelak, ketika Engkau menanyainya, kami telah punya jawabannya...

my Aasiya

My Aafiya

my Maryam
Read More

Make Up The Kids Bedroom

Sejak kira-kira 4 bulan yang lalu ketika belum pindah rumah, kami mencoba mengajak anak-anak untuk tidur di kamar sendiri. Pertama, pengen mereka punya area privacy sendiri. Kedua melatih mereka mandiri. Ketiga (alasan paling utama) karena mau ada adeknya yang otomatis ga muat di 1 tempat tidur. Hehehe... Ketika dulu awal-awal pisah kamar, mereka terutama Aafiya terlihat sangat excited. Kalo Aasiya sih jadi follower uni nya ajah. Hihi... Apalagi ketika mainan mereka di tata di kamar mereka (yang sebelumnya ada di ruang tengah/sholah). Jadiii, senang deeh bisa main sepuasnya tanpa harus bolak-balik kamar-ruang tengah. Tapiii, pas udah pindahan ini, anaknya makin lengkeeet deeh. Ga mau tidur di kamar sendiri kalau ndak ditemani. Dulu sih juga ditemani sebelum mereka tidur. Trus ketika udah merem, emaknya kabur ke kamar sebelah. Hehe... Tapi belakangan (sebelum baby Maryam lahir) malah minta ditemenin whole night dan bahkan berempat sama ayah juga. Jadinya tidur di kamar sendiri tapi bareng ayah bunda wkwkwkwkwk... Sama aja ga pisah kamar.

Yaa begitulah, pindah rumah terkadang menciptakan suasana berbeda yaah... Kadang sebelum tidur itu penuh drama jugaaa... Apalagi dengan pola tidur yang sebelumnya agak berantakkan. Tapi kita lagi perlahan memperbaiki pola tidur mereka dan juga udah bikin semacam agreement bahwa nanti ketika umur uni Aafiya genap 4 tahun, uni harus bobo di kamar sendiri tanpa ditemani ayah dan atau bunda lagi. Dan so far Aafiya sudah setuju. Semoga nanti prakteknya bisa terealisasi.

Nah, setelah Maryam lahir, sekarang berganti formasi. Dua lawan tiga. Kekeke... Maryam bersama emaknya di kamar ayah bunda. Aafiya dan Aasiya bersama ayah di kamar anak-anak. Meski, Aafiya dan Aasiya yang biasa tidur bersama bunda terlihat agak berat ketika harus pisah bobo sama bunda sampai-sampai ada adegan cipika cipiki, peluk-peluk, ngucap "bundaa baik2 yaa sama Maryaam, bye bye assalaamu'alaykum bundaa" sebelum bobo. Udah kayak mau pisah pergi jauh ajaaah... ekekekeke...

Pisah kamar menurutku memang harus dimulai sejak dini. Ada ruang privacy buat mereka dan tentu saja ruang privacy buat orang tua. Bahkan ada yang menyarankan, pisah kamar dimulai sejak masa penyapihan malah. Begitu selesai disapih, kamar pun misah dari orang tua Di barat sono kabar-kabarnya bayi punya kamar sendiri malah. Kalau aku sih ga seekstrem itu jugaa hehehe. Tapii, ga ingin juga anak-anak pisah kamarnya udah gede apalagi udah mukallaf. Bahkan ada yang sampai kelas 6 SD masih sekamar dengan orang tua!! Kan mereka udah mengerti tentang segala aktifitas orang tuanya.

Bagaimana biar anak mau pisah kamar?!
Yang kami lakukan adalah:

1. Sounding
Ini the most important thing deh pokonya. Kita ajah kalo ujug2 disuru pindah, pasti ga senang kaan? Apalagi kalo sudah di zona nyaman. Ga mauu dong disuru pindah tanpa sebab musbab. Apalagi anak yang di dalam masa kelekatannya. Kita kasi tau kenapa dia mesti punya kamar sendiri. Dengan alasan yang tentu bisa diterima logika anak seusianya tentunya. Meskipun kadang, aku merasa takjub ma shaa Allah dengan anak usia 3-4 tahun yang ternyata logikanya sudah jalan.

Satu pertanyaan Aafiya ketika berusia 3 tahun 9 bulan 9yang masi bingung untuk emaknya memberikan jawaban, "gimana caranya dedek bayi ada di perut bunda?"
Untung pertanyaannya ga ditanyakan lagi sebelum emaknya sempat menjawab. Wkwkwkwk... Dan ga ditagih lagi sampai sekarang. Alhamdulillaah... Dan banyak pertanyaan dan pernyataannya lainnya yang sudah menghubungkan sesuatu dengan logis. Jadi, emak2 kudu hati2 dan tidak memberi jawaban ngasal apalagi sampai ngarang bohong sama anak. Ye kan?

2. Make an agreement.
Anak seusia Aafiya ternyata sudah bisa bikin agreement. Dan, anak adalah sosok paling jujur ketika kita sudah bikin kesepakatan. Jadi, kita sebagai orang tua jangan jadi orang pertama yang melanggarnya. Misal, kita bikin kesepakatan untuk tidak makan di atas tempat tidur. Maka, sebagai orang tua kita tidak boleh melakukannya jika tidak ingin kehilangan kepercayaan dari anak kita. Tapi, ketika kita lupa dan tak sengaja melakukannya, jangan segan untuk meminta maaf kepada anak. "Maaf yaa Nak, bunda lupa. Harusnya kan ga makan di tempat tidur". Jangan malah mencari alibi atau pembenaran. "Bunda kan makannya ga berantakan kayak kamu, jadi bunda boleh aja makan di atas tempat tidur." Emaknya secara tak langsung mengajarkan ketidakkonsistenan dong yaa.. hehehe...

Nah soal agreement ini, kita bisa bikin pakai usia. Contoh, "nanti kalau uni Aafiya sudah genap 4 tahun, uni bobo sendiri yaaa di kamar sendiri. Kalau sekarang masi boleh ditemani ayah atau bunda." Agreement seperti ini biasanya leboh diingat oleh anak.

3. Decoration
Ini niih bagian yang paling menyenangkan buat emak Aafiya. Hehe. Iyesss. Merias kamar anak. Bikin mural ala-ala di dinding. Nyoret-nyoret dinding, jait properti ini itu dan tempel. Kekeke... Salah satu daya tarik biar anak mau tidur di kamarnya sendiri adalah merias kamarnya secantik mungkin. Jangan lupa mengakomodir keinginannya, misal warnanya, gambarnya dll. Berhubung (entah kenapa dan sejak kapan) Aafiya menyukai Hello Kitty (yang emaknya ga ngenalin sama sekali hehe) dia request di dindingnya ada gambar hello kitty nya. Dan jadilah emaknya melukis hello kitty di dinding. Sebagian yang lain emang ide emaknya aja yang alhamdulillaah anaknya sukaa. Kekeke...

Kalau ingin serius mendekor kamar anak, memang harus di plan sebaik mungkin sejak kamar itu kosong. Sebelum mengisi segala furnitur dan pernak perniknya. Jadi kita bisa merencanakan sebaik mungkin. Nah, case kamar Aafiya dan Aasiya sekarang adalah karena barang2 yang ada di dalamnya bukanlah sesuatu yang di plan dari awal, alias barang yang ada sebelumnya aja plus warisan dari teman sebelumnya yang tinggal di sini. Sudah barang tentu ga bisa di plan dari awal dongs. Hehe... Kasurnya yaa kasur aja tanpa bed alias dipan karena berpotensi bikin anak jatuh dengan tidurnya yang masih ngeguling ke sana kemari. Terutama Aasiya. Aku juga ga bisa pilih warna karena memang kan ga ada plan dari awal. Headboard nya juga homemade hihihi... Bukan buat gaya-gayaan sebenarnya, cuma untuk menghindari benturan kepala anak dengan dinding yang keras. Itu dibikin ketika 3x kepala Aasiya kejedot dinding yang tentu sama sekali bukan terbuat dari busa melainkan beton. Sakitnya yang aduhai ga isah ditanya. Dari suara tangisnya, emak-emak pasti sudah mengetahui level nyerinya. Sisi dinding yang satunya lagi pakek foam yang ditempel dengan lem silicon. Gunanya sama dengan headboard hanya saja ketika mau bikin yang mirip, bahannya sudah ga ada. Jadi beli foam aja. Hehe... Naah... lukisan (baca: coretan) di dinding itu pakai cat akrilik. Meski sejujurnya aku ga suka dinding yang terlalu meriah kayak gini, tapi buat kamar anak-anak masi tolerable laah. Namanya juga anak-anak, pasti seneng yang rame. Hehehe...

Berikut beberapa potret hasil make up kamar anak-anak yang masi jauh dari kata bagus. Yang penting anak-anaknya happy dan merasakan ada nuansa berbeda di kamar mereka yang membuat mereka tertarik untuk tidur di kamar mereka sendiri. 

penampakan dr pintu masuk

aafiya & aasiya's bedroom



pojok mainan



Read More

Seminggu Berlalu

Seminggu berlalu setelah kelahiran baby Maryam. Seminggu ini pula aku begadang hehehe. Baby Maryam meleknya selalu dini hari. Iya sih pas masi di perut, anaknya berasa aktif kalau udah dini hari sampai menjelang subuh gituh. Hehe...

Selama seminggu ini pula Aafiya dan Aasiya hampir selalu bersama Ayahnya. Mulai dari mandi, makan, main, tidur... semuanyaa... Aku fokus bersama baby Maryam sekaligus memulihkan tenaga dan merecovery segala nyeri-nyeri mulai dari nyeri episiotomi yang ngilu-ngilu sedap hehe, nyeri kontraksi pasca lahiran yang aduhai banget di lahiran ketiga ini. Belum lagi nyeri menyusui karena ada luka juga. Hehe... Banyak bet nyerinya. Alhamdulillah Abu Aafiya cuti... tapi cuma request seminggu hiks. Ngerasa bisa in shaa Allah seminggu ajaa. Ehh ga taunya kelahiran ketiga ini beda banget dengan kelahiran sebelumnya. Tau begini, request nya kemarin cuti 2 minggu aja sekalian. Karena masi ada sisa jatah cuti harusnya. Hiks hiks... Alhamdulillah 'ala kulli haal.

Agak sedikit merasa gamang dan gagap nih ketika abu Aafiya akan mulai masuk kerja lagi ahad in shaa Allah. Pasca lahiran seperti yang aku ceritakan di atas, duo uni-uni (Aafiya dan Aasiya) hampir selalu bersama ayah mereka. Nah pas ayah masuk kerja, mau ga mau emaknya harus ngurusin ketiganya sekaligus kan yaa. Heuheu... Maklum di perantauan, lahiran di sini memang begini. Ga cuma aku, teman lain pun begitu. Kalau di kampung kan biasanya lahiran ditemani orang tua, banyak yg ngurusin. Nah kalo lahiran di luar nagari dan negeri, tentu apa-apanya mesti ngurus sendiri. Makanya kudu setroong hehehehe.

Kelahiran ketiga ini agak berbeda. Kalo kelahiran sebelumnya, recoverynya relatif lebih cepat. Luka episiotomi  dalam 4 hari udah mulai terlihat membaik meski tanpa analgetik. Pas lahiran ketiga ini, luka episiotominya koq yaa lamaaa banget recoverynya. Hari ke-4 terasa ngiluuu banget sampai sedikit 'trauma' mau beraktifitas apalagi ke kamar mandi. Sebab kalau kena air nyerinya luar biasa. Huhu... Mau duduk juga susaah banget nyari posisi yang PW.   Jadi, banyakan berdiri aja (lebih berkurang nyerinya), tapi lama-lama capek juga nyusuin sambil berdiri hehehe. Sempat sedih dan frustate jugaa kalo nyerinya begini, ngurus diri sendiri aja susaaah apalagi ngurus anak jugaa. Akhirnya aku ingat cream epicure yang dikasi konsultanku pas lahiran Aasiya dulu masi ada 1 yang utuh. Aku pakek buat gantiin krim yang sekarang, ehh ma shaa Allah... fast progress... Efektif banget dalam merecovery si episiotomi. Alhamdulillaah di hari ke-8 ini, bisa dibilang luka epis nya sudah ga begitu nyeri lagi. Paling ngilu-ngilu dikit lah.

Masalah lainnya ada di nyeri kontraksi pasca melahirkan. Adalah normal rahim berkontraksi lagi pasca melahirkan untuk meluruhkan sisa-sisa plasenta dan mengembalikan ukuran rahim ke size semula sebelum kehamilan. Tapi di kelahiran ketiga ini, kontraksi pasca lahirannya terasa jauhhh lebih nyeri dan lebih lama durasinya. Hingga tadi (hari ke-8) nyerinya masi terasa sangat sakit. Aku masi ingat pas masi di RS, nyeri kontraksinya bener-bener deeh ya Allah... sakiit banget sampai aku minta dobel pain killer. Beberapa malam yang lalu, nyerinya juga menghebat. Huhu... Dalam kondisi nyeri seperti ini, aku ga bisa pay attention ke siapapun even ke Baby Maryam. Huhu... Biasanya Abu Aafiya langsung ambil alih anak-anak. Ini kegalauan kedua ketika menjelang suami masuk kerja lagi.

Dengan kondisi baby Maryam yang selalu ngajakin begadang, aku merasa dizziness juga. Jadi, kalau baby Maryam lagi tidur, biasanya aku ikutan tidur. Naaahh, kalau sudah mulai ngantor, otomatis aku juga ga bisa tidur kaan karena ada Aafiya dan Aasiya yang butuh diberi perhatian jugaa, dipenuhi kebutuhan dasar mereka. Apalagi mereka sekarang lagi 'latihan' untuk memperbaiki pola tidur: bangun lebih pagi, tidur siang, dan tidur lebih cepat di malam hari (Pola tidur sebelumnya, mereka baru bangun tidur jam 9-an, nyaris ga pernah tidur siang dan malamnya tidur di jam 10-jam 11-an). Kan ga lucu kalo emaknya bangunin anaknya pagi2 trus emaknya lanjutt tidurr lagi karena abis begadang. Hehe...

Soal makan, beberes rumah, nyuci dan segala macam tetekbengek urusan rumah semua sudah dihandle sama suami.. ma shaa Allah jazakallahu khair katsir yaa Zaujiy 😘😘😘.

Kalo semua kelihatan susahnya aja, kapan senangnya dongs? Hehe... Iyaa, di kelahiran ketiga ini tentu saja ada sisi yang berasa mudah dan dimudahkan-Nya, ma shaa Allah tabarakallah.

Unexpexted, di kelahiran ketiga ini kami dapat kamar perawatan yang Suite Room. Ma shaa Allah, rizki baby Maryam ini... Alhamdulillaah. Sebelum-sebelumnya kami biasanya dapat yang Private Room. Allah Maha Mengetahui bahwasannya kami memiliki dua princess selain baby Maryam yang butuh ruangan yang lebih besar dan luas agar mereka nyaman di RS dan tidak merasa bosan 😊. Di kelahiran ketiga ini, alhamdulillah ada mba Tyas dan keluarga yang membantu menjaga anak-anak selama proses lahiran jadi suami bisa nemenin di LDR. Jazakumullaahu khair mba Tyas dan keluarga. Di kelahiran ketiga ini, tiga hari berturut-turut ada Mba Rahma Ummu Kautsar mengirimi kami makanan yang ma shaa Allah ladziiiz dan kami jadi ga repot harus beli makanan di luar ataupun masak. Jazakumullahu khair katsir buat mba Rahma dan keluarga. Dan Allah mudahkan pula urusan-urusan dokumen kelahiran Maryam, mulai dari sertifikat kelahiran dari rumah sakit, syahadah milad (semacam akte kelahiran dari catatan sipil saudi), proses pembuatan passport dan akte kelahiran dari KBRI yang in shaa Allah tinggal menunggu hasilnya. Mudah-mudahan nanti urusan iqoma juga gampang dan dimudahkan-Nya. Aamiin yaa Allah...

Di balik kesulitan pasti ada kemudahan! Aku harus yakin akan hal itu. Meskipun sedikit gamang menghadapi masa-masa Abu Aafiya mulai masuk kerja, seharusnya aku yakin pertolongan Allah itu jauh lebih dekat. Tiadalah kesusahan dan kesulitan melainkan ada kemudahan yang menyertainya...

Hayooo semangaattt!!!
Masa seperti ini tidaklah lama. Mumpung anak-anak masih dekat dengan emaknya dan bapaknya. Maka tak bolehlah sia-sia masa pengasuhan ini. Sebab, Akan ada masa anak-anak satu persatu meninggalkan kita menuju kehidupan mereka masing-masing nantinya. Jangankan setelah anak-anak menikah dan punya kehidupan sendiri, masa mereka sekolah saja mungkin sudah cukup membuat kita merasa sepi di rumah. Jadi, Masa-masa saat ini (yang mungkin terasa sulit sekarang) justru akan menjadi kenangan yang dirindukan nantinya. Jangan sampai sebuah penyesalan hadir ketika kita terlambat menyadari bahwa banyak waktu kebersamaan yang kita lewatkan begitu saja karena kita sibuk dengan dunia sendiri. Yuk ukir kenangan indah dengan sebaik-baik pengasuha , sebab masa ini tak tergantikan. Apalagi cuma terisi dengan liat henpon dan baca wattpad aja. Betapa sia-sianya waktuuu. Astgahfirullaah. NTMS tentu saja ini mah. Yuk menej lagi diri dan waktumu, Fathel!!!!!!

Read More

Pengalaman Luar Biasa Melahirkan Anak Ketiga

Alhamdulillaah, segenap syukur kepada Allah Ta'ala,
Telah lahir anak ke-3 kami, perempuan, Normal, 13-09-2018/3 Muharram 1440H  jam 2.09 waktu Saudi (GMT+3) di DR  Sulaiman Al Habib Ar Rayyan Hospital, Riyadh dengan BB/TB 3.180 kg/52 cm.

Mohon do'anya agar menjadi anak yang shalihah, bertaqwa, sehat, qurrata' a'yun, dan menambah bobot kebaikan pada dunia...

❤❤❤❤❤

Ketika menulis ini, adalah 10 jam setelah kelahiran anak ketiga kami, Maryam. Sudah leyeh-leyeh di bed dengan suhu pendingin ruangan yang kata Abu Aafiya sangat dingin, tapi terasa gak begitu dingin bagiku. Hehehe.

Setiap kelahiran, jangankan dari individu (ibu) yang berbeda, dari individu yang sama pun ceritanya bisa berbeda. Begitupun dengan kisah kelahiran kali ini.

Sedikit kilas balik, dulu pas anak pertama kami Aafiya, aku mengalami pembukaan 1 sejak 2 hari sebelum lahiran. Aafiya termasuk baby yang pre-term karena lahir di usia kehamilan 35 minggu. Kontraksi yang aku rasakan paling 'dahsyat' memang pas Aafiya sih yaa. Karena air ketubannya banyak. Jam 10 malam mengalami pecah ketuban. Setelah pecah ketuban, nyerinya makin berasaaa banget sampai aku sempat bilang, "udah ga tahan lagi". Petidin yang golongan narkotik aja ga ngaruh sama sekali sebagai pain killer. Tapi, ketika pembukaan lengkap, Aafiya lahir dengan sangat mudah alhamdulillaah... Cuma 2x mengejan. Itupun yang pertama kali mengejan karena aku salah mengejan. Hehe... Aafiya lahirnya juga kecil, 2.115 kg sahajaa... Dan sempat menginap di NICU semalaman untuk diobservasi.

Berbeda dengan Aafiya, pas lahiran Aasiya aku datang ke ER (emergency room) juga karena "penasaran" apakah kontraksi yang aku rasakan adalah labor pain bukan kontraksi palsu. Datang-datang masi bisa senyam-senyum. Nyerinya baru sedikit. Ehhh ternyata sudah pembukaan 3. Ketika ditransfer ke LDR (labor and delivery room), dipecahkan ketubannya oleh dokter (salah satu cara "mengakselerasi" persalinan adalah dengan metode memecahkan ketuban), baru deh nyerinya mulai menguat hingga sakiiiitt banget banget di mana aku meremas tangan suami sampai berubah jadi warna ungu 😆. Tapi sakit kontraksi pas lahiran Aasiya ga sesakit pas Aafiya deh. Alhamdulillaah. Cumaa, pas mengejannya lumayaan sih... agak sedikit lebih lama dari pada Aafiya. Sekitar 5x mengejan. Beratnya juga lebih berat; 3.150 kg di usia kehamilan persis 37 minggu (versi HPHT).

Pas baby Maryam ini, lebih banyaaak ceritanya. Dan totally berbeda dengan kisah kelahiran uni-uni nya. Baby Maryam paling sering ngajakin bundanya ke ER dan berakhir dengan PHP ekekekeke... Pas hamil anak ketiga ini, rekor ke ER sebanyak 5x! Ma shaa Allah...

Ke ER pertama kali pas minggu ke 26, kala itu aku merasakan nyeri yang nonstop seharian. Tepat di hari ke-23 Ramadhan. Setelah diobservasi alhamdulillah semuanya baik. Ke ER kedua adalah di minggu ke-35 di Idul Adha 1439 H (sudah aku ceritakan di postingan sebelumnya). Waktu itu aku merasakan nyeri kontraksi juga. Tapii, masi kontraksi palsu kayaknya. Nginep di RS karena ada indikasi detak jantung bayi yang tinggi. Sejak minggu ke-35 ini aku sudah merasakan nyeri kontraksi palsu ini.

Di minggu ke 36-37, nyeri kontraksi makin sering. Masih kontraksi palsu sebenarnya. Tapi, kontraksi palsu rasa asli hehe. Katanyaa, konpal dapat menghilang dengan beraktifitas atau beristirahat. Tapi aku merasakan nyeri yang ilang timbul sampai ke area punggung bawah. Juga nyeri di perut bawah dan area tulang paha. Mengingat anak2 sebelumnya lahir di usia kehamilan yang lebih cepat (35 & 37 week), maka aku pikir ini juga waktunya lahiran. Eehhh, pas sampai di RS setelah masuk ke ER malah nyerinya ilaaang. Kata dokter, aku sudah pembukaan 1. Aku tanya, seberapa lama lagi sampai pembukaan full? Kata dokternya, bisa 1-2 hari. Jadi, aku diperbolehkan untuk melakukan aktifitas seperti biasa.

Jika pas hamil Aafiya aku banyak jalan lalu anaknya lahir cepat, maka pas di Aasiya aku ga melakukan aktifitas banyak berjalan lagi untuk menghindari lahir cepat hehe. Aku pikir yg sekarang juga sama. Makanya santai aja ga memperbanyak aktifitas jalan kaki. Eehh ga taunya pembukaan 1 nya lamaa banget. Ada sekitar 9 hari. Di sinilah akhirnya kami baru start untuk memperbanyak jalan kaki. Sehari sekitar 3 km di jogging area taman Raudah. Selain itu, aku juga menggunakan birthing ball untuk bounching di atasnya.

Sempat merasa sedikit "frustate" dengan pembukaan 1 yang ga nambah-nambah. Kontraksinya hilang timbul. Tapi nyeri perut bawah berasa terus. Kayak ada sesuatu yang menyesakki tulang pelvis. Hehe... Kontraksi palsu rasa asli masi terus berasa. Tapi, kadang menghilang juga sih...

Naah, di minggu ke-38, aku merasakan kontraksi lagi yang lebih dari sebelum-sebelumnya. Datang lagi ke ER. Sampai perawat ER bilang, "hah? Kamu lagiiii???" Kekekeke. Kebetulan ketemu perawat yang sama yg lagi jaga di ER. Tapiiii, seperti sebelumnyaa ketika di ER, taraaa... kontraksinya ilang! Cuma ada 1 kontraksi yang asli, sisanya masi belum. Tapi polanya sudah mulai kelihatan. Kata dokternya, pembukaan sudah bertambah jadi 2. Dokternya bilang, bisa jadi cepet niih karena pola kontraksi sudah mulai kelihatan.

Di sini ga bisa sering2 ngecek bukaan tentunya. Ga bisa capcus pergi ke bidan terdekat hanya buat ngecek pembukaan. Datengnya yaa langsung ke ER rumah sakit. Daaan, kalau semisal belum ada kemajuan rasanya down lagi deeeh... 😆.

Ternyata pembukaan 2 juga berlangsung lamaaa. Yang awalnya aku pikir 1-2 hari bakal lahiran ternyata molor jadi 4 hari! Hari minggu-rabu. Nah kemarin (hari Rabu) aku merasakan pas pagi-pagi dini hari kontraksinya mulai agak teratur tiap 10 menit. Tapii, pas abis subuh sampai siang ilang timbul lagiii. Aku berpikir, "ahh ini paling kontraksi palsu lagi." Capek juga kaan bolak balik ke ER terus dan kalo harus pulang lagi, masi kontraksi palsu, itu bikin sedikit down heuheu... Sorenya sudah tiap 5 menit sekali. Tapi nyerinya yaa gitu-gitu ajaa. Ga yang nyelekit banget gituuh.. hehe. Aku WA suami, kata Abu Aafiya, yuks siap2 pulang ngantor langsung berangkat ke RS. Aku masi sempet nyuci piring, beberes kamar Anak-anak, mencuci baju, memandikan anak-anak. Begitu suami pulang, kontraksinya ilang lagiiii. Ya salaaam. Aku masi berpikir ini kontraksi palsu lagi kalii.. Jadii, ga ada pola yang teratur gitu lho.

Naah aku masi sempat tuh, ngerjain desain selebaran acara semarak muharam. Hihi... Tapi, pas ngedesain ini, kembali aku rasakan kontraksi yang lebih sakit dari sebelumnya. Pas enggak kontraksi masi bisa senyam senyum sih. Pas kontraksi udah meringis, hihi. Karena polanya yang masi belum beraturan, kadang rentang 5 menit, kadang 10 menit, kadang 7 menit trus 15 menit. Ga jelas banget kaaan... Makanya masi maju mundur untuk berangkat ke RS. Masi ngulur waktu dulu untuk memastikan kontraksinya bener-bener asli atau masi palsu rasa asli lagi. Hehehehe...

Karena sakitnya yang sudah lumayan berasa, meskipun kontraksinya masi ga reguler intervalnya, akhirnya kami berangkatlah ke RS. Selama di perjalanan ke RS, nyerinya mulai bertambah. Kata suami, "ini udah beda nih nyerinya." Dari remasan tangan, suami mendeteksi 'tingkat nyeri' yang aku rasakan. Di RS, nyari toilet dulu. Jalan dari toilet ke ER lumayan juga, aku sempat merasakan 3x nyeri. Pas di ER, mungkin mukaku udah kayak orang yang nyeri banget kali yaaa. Hihi... Masuk ER obgyene no 1, dicek sama dokternya sudah bukaan 3 menuju 4. "Hah? Baru Bukaan 3 nyerinya udah segini? Gimana entar bukaan 9?" Aku mencelos. Seingatku dulu pas lahiran Aasiya, bukaan 3 itu aku masi bisa ketawa ketiwi deeh.

Dokter ER memutuskan aku ke ruang bersalin malam ini juga (jam menunjukkan hampir jam 12 malam). Uniknya lagii, pas di ER malah kontraksinya yang tadi lumayan sering, jadi ilang lagi, cuma ada 1 kontraksi yang tinggi (diamati dari CTG). Aku mbatin, "hah? Koq setiap ke ER kontraksinya ga ada siih?" Tapi karena dokter sudah memutuskan untuk menginap di RS, jadi aku sedikit lebih tenang. Ga harus bolak-balik lagi.

Pas ke LDR (aku dapat ruangan di LDR 5, ruangan yang persis sama ketika lahiran Aafiya dulu. Kalau pas lahiran Aasiya ruangannya LDR 12), aku masi bisa senyam senyum dan belum ada lagi kontraksi sejak di ER. Tapi pas di cek sama dokternya, sudah bukaan 4.

"She's progress fast" komen dokternya. Aku senang banget ma shaa Allah kalo memang progressnya cepat. Pas dicek di LDR sudah bukaan 4. Tak lama kemudian bukaan 5. Dan... ma shaa Allah... aku benar-benar ga nyangka kalo dalam waktu 1.5 jam bukaannya sudah lengkap!! Aku sampai melongo pas dokternya bilang "completed"! Bisa dibilang ini kontraksi "paling menyenangkan" dari ketiga kehamilan yang aku rasakan. Aku ga menyangka secepat itu, alhamdulillaah. Mungkin karena nyerinya dah dicicil dr sebulan yang lalu yaa hehehe...

Perjuangan yang sesungguhnya pas lahiran Maryam adalah pas mengejan. Nge-push nya lamaaa bangeeett ga keluar-keluar anaknya. Ya Rohman. Lebih dari 10x mengejan kayaknya. Daan, menghabiskan tenaga banget.. ma shaa Allah. Setelah perjuangan panjang mengejan, lahirlah baby Maryam di jam 2.09 di usia kehamilan persis 39 week (versi HPHT), alhamdulillaah tsumma Alhamdulillaah...

Teknik "take a deep breath" benar-benar sangat membantu untuk mengurangi nyeri kontraksi. Alhamdulillaah. Aku juga lahiran bukan dengan konsultan yang biasa aku cek up karena dokternya ga bisa datang kalo tengah malam. Digantikan oleh konsultan lain yang in shaa Allah sama oke nya. Dokter asli Saudi. Dulu sempat nyeletuk sama suami pengen lahiran sama dokter Saudi (konsultan yang sebelumnya kebangsaan pakistani), alhamdulillah Allah kabulkan. Aku suka sama dokternya meskipun baru ketemu di ruang bersalin. Dokternya easy banget dan asyik, ma shaa Allah.

Akhir kata, tiada kata yang pantas aku ucapkan selain segenap kesyukuran kehadirat-Nya. Alhamdulillaah... Alhamdulillaah.... Alhamdulillaah bini'mah.

=====
Jazakallahu khair katsir ya Zaujiy, yang selalu siaga dan ada untukku ketika melewati perjuangan ini... Uhibbuka fillah ❤

Read More

Software Photoshop GRATIS dan LEGAL!

Ini bermula dari request bikin design standing banner yang mana pasti membutuhkan software desain. Kalo sebatas leaflet, pamflet dan derivatnya sih masi bisa diakomodir oleh freeware atau aplikasi yang ga berbayar kan yaa. Tapi untuk big size semacam spanduk, baliho, banner, ga ada pilihan lain selain menggunakan sofware desain yang mostly berbayar.

Sejak berusaha meninggalkan program/software bajakan, aku memang dengan berat hati harus "berpisah" dengan si photoshop. Selama ini, aku memang sudah "ketergantungan" sama software yang satu ini untuk keperluan desain. Kalo sofware lain kayak adobe flash, ulead video studio, de el el itu masi bisalah aku meninggalkannya dengan ga begitu berat (ulead masi butuh sih cuma udah jarang ngedit video sekarang, apalagi bikin flash. Udah emak-emak beranak begini emang agak rada susah buat stay tune di depan laptop seharian. Pasti deeeeh dijamin ada dua wonderful girl yang bakalan ngerecokin, hihihi. Lagian jelas mereka lebih prioritas daripada flash atau video editing kan yaa... Tapii, untuk keperluan desain flyer, leaflet, dll itu masi sangat butuh secara emak Aafiya Aasiya ini kalo jadi panitia pasti ga jauh-jauh dari bidang humas dan publikasi... Hehehe... Jadi, withdrawal dari photoshop mirip-mirip withdrawal dari psikotropika lah. Wkwkwkwkwkwkwk.... Alhamdulillaah... Alhamdulillaah... meski berat, akhirnya memang si photoshop sudah tak tersentuh lagi. Alasannya?! Yang tertarik boleh ceki-ceki alasan kenapa aku menahan diri untuk tidak memakai software bajakan lagi sama sekali. Lupa kapan aku ceritakan di blog ini. Search aja kalo tertarik ngebacanya. Hihi...

Mulaiah aku bergeriliya mencari software yang kira-kira bisa menggantikan si photoshop (selanjutnya disingkat PSD aja lah yaaa biar ga panjang ngetiknya kekeke), yang free dan legal. Udah mencoba GIMP versi linux tapiii kayaknya memang susah move on dari si PSD ini... Hehe... Akhirnya ketemu sama si Canva. So far, aplikasi canva sangat membantu lah meskipun teteeep aja si PSD lebih baik menurut aku. Canva lebih instan tentunya. Dirancang untuk easy to use bagi pengguna. Tapi, aku memang ga bgitu suka yang instan begini karena ga begitu leluasa dalam urusan edit mengedit. Dari sekian banyak aplikasi, canva paling the best menurutku. Jika tujuanku adalah bikin desain untuk keperluan publikasi, canva more than enough untuk memenuhinya. Tapi, tetap tak bisa digantikan oleh PSD.

Dulu ada request bikin spanduk dengan ukuran 3x5 meter. Aku bingung mau pakai aplikasi apa. Ga ada aplikasi yang gratisan untuk bikin desain ukuran besar begini, even canva sekalipun. Mau ga mau harus pakai software desain kaaan yang berbayar. Akhirnya aku pakai versi trialnya aja. Tapi trial kan cuma 30 hari. Hiks... hiks....

Aku sebenarnya pengen bayar lisensi itu PSD. Tapiii, sayang aja rasanya kalo ga dipakek tiap hari. Hanya untuk even tertentu saja. Lagian, laptopku masi terbilang jadul untuk menampung photoshop CC (yang keluaran terbarunya) yang memakan space sampai 2 GB lebih. Apalagi fokusku bukanlah ngedesain, jadi lisensi software ataupun beli laptop dengan kapasitas besar bukanlah prioritasku saat ini tentunya. Beda kalo case nya aku memang bekerja untuk ngedesain yang memang dipakek tiap hari.

Singkat cerita, tentu saja 30 hari trial dulu itu sudah expire. Hehehe... Aku hampir aja give up dan pengen bilang ke panitia lainnya kalo aku ga bisa menyanggupi bikin desain standing banner karena ga punya software nya. Tapi, tetiba iseng search tentang PSD yang free dan legal. Kaliii si adobe mau berbagi yang versi jadulnya secara gratis. Daaaaan ma shaa Allah... ternyata adobe memang ngasi gratisan yang CS2 dengan alasan technical issue. Woooowwww ma shaaa Allah... aku langsung download laah tuuhhh si Cs2 ini dengan mata berbinar-binar. Hihihi...
PSD CS2

Sempat degdegan juga kalo si PSD CS2 ini ga bisa di-running di laptop window 10. Ternyata alhamdulillaah bisaaaa! Ma shaa Allah... rasanya excited banget. Pernah ngerasain ketemu sohib lama yang udah bertahun-tahun ga ketemu? Gimana rasanya? Senang banget kaan? That's what I feel ketika ketemu photoshop lagi... hihihi...

Buka CS2 ini serasa kembali ke jaman baheulak ketika aku baru-baru kenal photoshop dulu. Hihihihi... Meskipun sangat sangat jadul, yang penting aku bisa bikin desain dengan ukuran yang besar seperti spanduk dll. Jadiii, buat akuu, si PSD CS2 ini more more more than enough laaah. Meskipun dibandingkan dengan versi PSD CC yang terbaru memang udah ketinggalan banget tapiii yang penting kan fungsinya. Sama kayak beli furniture, yang jadul pun okee karena kita butuh fungsinya kan yaaa. Hehehehe....

Bagi kamu yang tertarik untuk menginstall PHOTOSHOP CS2 secara GRATIS dan LEGAL, boleh berkunjung ke link ini dan tinggal ikuti aja step-stepnya.

Semoga sukses yaaa nginstallnya hehehehe...
Read More

Merayakan Malam Takbiran dan Idul Adha dari ER, LDR dan Kamar Inap

Malam takbiran selalu saja menjadi momen yang membahagiakan tentunya bagi seluruh muslim di penjuru dunia. Tapi, ada kalanya malam takbiran harus dirayakan dari tempat yang tidak kita bayangkan. Begitu pula dengan malam takbiran idul adha kami di tahun 1439 H ini.


Hasil CTG nya sudah mulai normal alhamdulillaah...

Sore hingga malam ini, aku merasakan kontraksi yang tidak biasanya. Lebih regular dan kuat, menjalar dari arah punggung, pinggang dan perut bawah. Mirip seperti kontraksi waktu lahiran Aasiya dulu. Actually, aku sudah merasakan nyeri di perut bawah ini sejak dari seminggu yang lalu. Tapi ga beraturan, dan masih bisa ditoleransi. Kadang memang mengganggu tidur. Tapi sepertinya masih kontraksi palsu.

Dengan riwayat kelahiran dua anak sebelumnya yang memang maju dari due date, aku pikir di week ke-36 ini aku bakalan lahiran mengingat kontraksinya yang sudah sangat berasa. Dulu pas lahiran Aasiya aja, dengan kontraksi yang ga begitu nyeri kayak sekarang, ternyata sudah pembukaan 3 ketika datang ke ER dan anaknya lahir 8 jam kemudian di usia kandungan 37 week. Naah, akhirnya kita ke ER(emergency room) setelah berkumandangnya adzan maghrib di hari arafah ini. Pas di cek sama CTG, ternyata kontraksinya masi irragular dan belum ada pembukaan. Kenapa ada nyeri kontraksi yang cukup tinggi ya?!

Nah, awalnya aku pikir kitah bakalan pulang lagi karena belum ada bukaan maupun kontraksi asli. Tapii, di menit ke berapaaa gituh yaa aku lupa, dokter mendeteksi kalo bayinya takikardi (detak jantung di atas normal), padahal awalnya normal-normal aja. Kemungkinan distress oleh sebab yang tidak diketahui. Bisa jadi terlilit tali pusar, atau yang lainnya. Kata dokternya, jika takikardi ini terus berlanjut, maka aku harus segera menjalani SC. Ohh... Ya Allah, ga kebayang aja kalo harus SC. Dokter juga memberikan suntikan dexamethasone untuk paru si baby, jika ada kemungkinan SC mengingat ini masih 36 week.

Aku diberikan infus RL untuk menurunkan takikardi ini, dugaannya kekurangan cairan dan harus menjalankan observasi sampai besok. Jadi, mau ga mau harus nginap di RS. Hiks... qadarullah, malam takbiran bermalam di RS dan tidak bisa ikut shalat ied. Setelah beres urusan admission, aku ditransfer ke LDR (labor and delivery room) untuk observasi dengan CTG selama 4 jam. Dan alhamdulillah hasil CTG nya udah bagus. Abis itu aku ke ruang rawat inap. Karena hasil CTG di LDR udah bagus. Di ruang rawat inap, aku kembali di CTG. Kata perawatnya kalo semisal besoknya CTG nya udah OK aku boleh pulang.

Nah, sekarang aku lagi nunggu dokter nih buat USG dulu dan keputusan untuk discharge dari RS. Mohon do'a yaa supaya sehat2 dan lancar2, lahir di waktu yang terbaik menurut-Nya dengan selamat. Menjadi anak yang shalih/ah dunia dan akhirat.
Pada udah kecapean di midnight dan tertidur di sofa nemenin bundanya CTG di LDR 😣 Jazakumullahu khair katsir, my dear 😘❤

Jazakallahu khair katsir yaa Zaujiy, always full support dan juga dua bidadari kecil shalihah yang senantiasa mendo'akan "sehat-sehat yaa Bundaaa... aamiin yaa Allah...". Love all of you fillaah... 😘😘❤❤❤


Finally, dari ruang rawat inap Ward A no 102, HMG Ar Rayyan Hospital, aku dan keluarga mengucapkan:
"IED ADHA MUBARAK"

Read More

Low Budget Home Decor

Seperti yang aku bilang di postingan sebelumnya bahwasannya aku mau share soal home decor ala-ala yang dikerjain sama emak Aafiya di rumah yang baru. Rumah baru sih bukan berarti bangunan baru. Justru rumah yang kami tempati sekarang adalah bangunan lama. Hehehe...

Home decor adalah salah satu hobi emak Aafiya. Semacam leisure time lah. Hehe... Seruu ajaaa. Kali ini mencoba hal baru yang lebih advance: yaitu 'bermain' dengan cat. Kekekeke... Selain cat, dua benda yang sangat bermanfaat lainnya adalah lem silicone dan mesin jahit. Sebenarnya kalau dibilang home decor, gak fully home decor juga sih. Soalnya, yang lebih banyak aku lakukan adalah me-renewal furniture usang menjadi "wajah baru". Yang home decornya sendiri justru ga banyak. Cuma hiasan dinding sederhana dan white corner. Dan bagaimana tataletak segala furniture di rumah. Rumah kontrakan minimalis kami, hihi...

Sejujurnya, aku sangat suka warna putih untuk interior rumah maupun furniture nya. Kenapa? Ketika warna lain menyerap cahaya, warna putih justru memberikan hal yang sebaliknya. Putih akan menangkap dan kembali memancarkan cahaya dan membuat ruangan terasa lebih luas. Itulah sebabnya aku ga begitu suka rumah dengan interior warna warni apalagi warna yang cendrung gelap karena akan menyerap cahaya. Jadinya rumah terasa lebih"pengap" menurutku. Hehe... Yap, selera orang berbeda-beda tentunya. Dan aku juga ga mungkin dongs memaksa orang satu selera denganku, kekeke...

ini "karya masterpiece" emak aafiya (wkwkwkwk, ke-GR-an). Di antara semua yang di-renewal, ini yang benar-benar totally dan penuh perencanaan. Awalnya ini lemari lebih layak dianter ke tukang loak (emang ada yaa tukang loak yang terima lemari kekekeke). Tapi setelah didekor lagi, ternyata aku jadi sukaaa banget alhamdulillaah...
Lemari di atas awalnya udah jelek banget lho. Ekekeke... Seperti yang aku bilang dulunya, ketika membeli furniture di sini, aku lebih memilih fungsinya. Bukan "penampakannya". Secara kami kan bukan permanent resident di sini. Sewaktu-waktu bisa saja final exit. Sayang aja beli furniture mahal-mahal untuk nanti kembali dijual dengan harga yang sangat murah. Jadi--sebagai emak-emak yang lebih berpikir ekonomis--membeli barang baru not too mandatory menurutku. Yang secondhand pun boleh asalkan fungsinya bisa dimanfaatkan sedemikian rupa. Jika ini di Indonesia, bolehlah kita bikin plan yang matang soal tata ruang dan home decor [Hobby emak Aafiya banget ini hihi]. Karena namanya juga di negeri sendiri, meskipun merantau jauh, akhirnya kan in shaa Allah pulang ke kampung jua. Berbeda kalo kita merantau di luar negri yang bukan kampung halaman. Kekeke... Kalau di Indonesia kita bisa plan dari awal mau seperti apa, sementara kalau di luar negri ini, kan kita cuma "terima jadi" rumah kontrakan yang isinya harus kita sesuaikan.

Lemari di atas awalnya berwarna coklat tua, dengan cat yang sudah mulai keropos dan pintunya udah ga tau kemana, dari awal dibeli. Ngenes banget wkwkwkwk...Fungsinya buat taruh barang-barang craft emak Aafiya. Itu knob drawer nya juga udah copot 3, juga sejak awal dibeli. Belinya juga murah meriah banget. Bekas orang yang final exit. Selama hampir 2 tahun, lemari itu aku biarkan begitu saja. Cuma dibikinin kain penutupnya biar ga terlalu "naked" dan kelihatan isinya (yang lebih sering berantakan. wkwkwkwkwk... Akhirnya, aku pengen all out buat lemari ini, supaya lemarinya jadi lebih eye catching dan berwajah baru lagi. Aku bilang sama Abu Aafiya kalo aku mau ngecat ini lemari. Awalnya suamiku heran juga, ngapain istrinya kepikiran buat ngecat-ngecat segala. Wkwkwkwkwk... Tapi, mungkin bagian dari ngidam kali yaa buahaha... "Yakin mau beli cat, Bund?" tanya Abu Aafiya masi sangsi. "Iya, yakin banget Yah." Akhirnya, sore itu pergilah kami ke toko jotun buat beli cat dan tentu saja warnanya putih sesuai plan yang sudah aku susun dari awal. Heuheu... Langkah selanjutnya adalah mengganti knob dan merapikan rak atas dengan box poliester. Aku taunya yang jual knob cuma di Ikea. Nyaris ga pernah ke toko bangunan di sini mah. Dan box poliesternya juga di Ikea. Suatu sore yang berdebu, akhirnya kami ke Ikea untuk menlengkapi kekurangan lemari ini. Dan beginilah jadinya, alhamdulillah more than my expectation si lemari dan drawernya. Sayang lupa motoin versi before and after nya. Hehehe....

Dari lemari craft ini awalnya, akhirnya timbul "ide liar" lainnya buat bikin wall decor. Seperti yang aku bilang tadi, karena sifatnya yang sementara di sini yang bukan permanent resident, aku sebagai emak-emak yang berpikir ekonomis wkwkwkwk ogah banget menyediakan budget buat home decor yang mahal-mahal. Ngapain menghamburkan uang untuk beli yang "sunnat" (baca: cuma pelengkap dan riasan) begini, wong yang "wajib" (baca: butuh) aja aku lebih memilih yang preloved. Ya ga sih?! Secaraa, kalo lihat di buku-buku inspirasi home decor dan ketika survey di lapangan soal harga untuk pernak-[ernik home decor, harganya was biyasaah. Mahaal kebanyakan. Ogaaah ahh beli beginian wkwkwkwk. Nah, tapi aku juga senang ada sedikit wall decornya wkwkwk... Jadinya aku memilih model home decor yang very very low budget. Beginilah jadinya. Sedari dulu, aku memang lebih senang yang menjadi wall decor itu adalah kata-kata nasihat bukan foto-foto. Lagian, kalo ga salah ada larangan makhluk bernyawa menjadi pajangan di rumah kan yaaa... CMIIW... 

Awalnya bingung mau nempelin pakek apa yaa. Sempat kepikiran di bor aja. Ehh, lalu ada ide pakek lem silicone yang biasa digunakan untuk ngelem keramik, besi, kayu dll. Ternyata lem ini benar-benar sangat bermanfaat dan sangat kuat. Lem alt*co kalah jauh deehh pokoknya. Hihihi...
Low budget ini maah... dengan canvas murmer, cat akrilik murmer dan jam IKEA murmer yang sudah "dikuliti" wkwkwkwkwk...

Selanjutnya adalah si white corner ini. Maap yaa ini versi berantakannya. Kekeke... difoto apa adanya aja. Ada kisah menarik di balik white corner ini. Meja putih ini awalnya akan kami jual karena berpikir ga fix di rumah ini. Secara kan rumahnya minimalis. Tapi qadarullaah ga laku, dan ternyata alhamdulillah banget ga laku karena masih dibutuhkan dan fix di rumah kami yang baru. Sebelumnya, meja ini adalah meja kerja Abu Aafiya yang warnanya merah, sudah tergores-gores bagian atasnya (yang kemudian aku bikinin custom buat alasnya sehingga nutupin goresannya) dan kakinya warna merah. Sementara kursinya berwarna abu-abu tua yang juga sudah kusam kekeke... Karena lagi hobbi ngecat, akhirnya mejanya aku cat ulang dan kain buat kursinya diganti warna putih juga. Jadinya ini adalah white corner untuk tempat kerja Abu Aafiya. Abaikan keberantakannya yaak... belum ditata dengan baik printer dan laptop di atasnya soalnya kekekke...
white corner special for Abu Aafiya kalo lagi kerja dari rumah

Selanjutnya adalah wardrobe dan rak sepatu yang kebagian kenak cat ulang. Hihihi... Setelah dicat ulang, furniture jadi terlihat baru lagi ma shaa Allah... And always warna putih jadi pilihan...

Seprai yang custom DIY. Susah nyari seprai dengan ukuran bed super jumbo begini kekekeke...
seprai pun tak ketinggalan. Jadi bed nya kebetulan ukuran agak jumbo (king size) 2x2 meter dengan ketebalan 30 cm. Kebanyakan seprai ukurannya cuma 180x200 cm dan ketebalan 15-20 cm. Jadinya mau ga mau harus dijahit sendiri dengan menyambungkan beberala lembar kain. Kekekeke....
wardrobe ini awalnya berwarna cokelat muda yang sudah berwarna agak kusam dan agak memudar diconvert menjadi putih dengan "the power of paint" lagi-lagi. (Abaikan barang-barang bagian atas yang belum diberesin, kekeke)

seprai custom (secara ukuran springbed nya 2x2 meter dan tebal springbed30 cm, susah nyari seprainya. Jadinya, jahit sendiri dengan karet sekeliling jadinya ga mudah lepas apalagi dipakek lompat-lompat sama duo bocah kekeke. semoga ga ada yang nyadar kalo ini seprai adalah sambungan beberapa kain karena sulit mencari kain dengan lebar 260 cm hihihi)

rak sepatu usang di renewal lagi dengan "the power of paint" lagi hehehe...
Maap cuma foto ala kadarnya, dengan kamera HP dan pencahayaan seadanya. Nanti deh difotoin lagi yang versi lebih oce oye nya in shaa Allah kekekeke...
Kapan-kapan disambung lagi, anaknya udah rewel minta dikelonin... jadinya distop dlu deh kekkeke...
Read More

Living in Riyadh [part 23]: Move on

Sudah bulan agustus. Belum ada postingan sama sekali. Hehe... Baiklah, mari kita posting sesuatu agar tidak melewatkan 1 bulan kekeke...

Bulan agustus ini bulan yang istimewa. Karena selain kemerdekaan RI (yang tentu saja jamak diketahui semua WNI), adalah bulan berhaji. Ya, bulan dzulhijjah jatuh pada bulan agustus di tahun ini. Beberapa teman-teman di sini yang akan berangkat haji sudah bersiap-siap akan berangkat. Hati jadi rindu untuk berangkat jua. Semoga Allah memudahkan langkah kami untuk menunaikan haji juga nantinya, apakah dari sini atau dari Indonesia atau dari negara manapunlah jika Allah masih karuniakan umur yang panjang (dan semoga umur yang barokah). Sungguh, Haji itu ibadah fisik yang memang melelahkan tapi benar-benar membahagiakan ma shaa Allah....

Sesuai judulnya, aku pengen cerita tentang move on. Hehehe... Move on di sini adalah dalam artian pindah yang sebenarnya dan juga move on dalam pengertian banyak orang saat ini: move on hati wkwkwkwkwkwk... Setelah hampir 5 tahun tinggal di An Nahda district, akhirnya kami move on jugaa... ke Naseem district. Sesungguhnya berat juga meninggalkan Nahda. Ada banyak kenangan di Nahda. Dekat dari kantor suami sudah pasti. Dan yang terberat adalah meninggalkan masjid jami' di dekat kontrakan kami yang lama. Jami' Maiman namanya. Masjid ini the best menurut kami di area Nahda. Imamnya baguus bacaannya ma shaa Allah. Ada program tahfidz (yang tentu saja free) untuk anak-anak dan ibu-ibu juga. Masjidnya adeem, luas dan bersih. Ini salah satu yang bikin berat untuk move on hehe.

Ceritanya kami memang mau pindah juga sih setelah kontrakan yang ini habis. Tapi ga kepikiran akan pindah ke Naseem (district tetangga sebenarnya dengan Nahda cuma secara 'socio-culture' agak berbeda menurutku ekekekekekeke...). Kebetulan ada teman yang final exit ke Indonesia, dan kami akhirnya memutuskan untuk menggantikan kontrakannya. Di Naseem ini. Yang sebelumnya ga kepikiran mau ke naseem, ehh akhirnya malah sekarang tinggal di Naseem. Kekeke... meskipun kadang serasa masi belum move on dari nahda... ekekekeke...

Pindah rumah selalu saja bukan hal yang mudah. Ini bukan pekerjaan yang ringan tentunya. Mulai dari load, packing, moving, unload... semuanya menguras tenaga dan fikiran dan juga cost tentunya. Tidak mudah mem-fix kan dan menata kembali dari rumah yang sebelumnya tipe 115 meter persegi ke rumah yang tipe 65 meter persegi. Hehe... Banyak yang akhirnya harus kami "remove". Apalagi karena rumah yang kami tempati ini adalah ex-rumah teman yang notabene masi tersisa banyak barang-barang juga di sana. Fiiuufft....

Pengalaman Menjual Barang-barang
Karena kami pindah ke rumah yang secara ukurannya hampir setengah ukuran rumah sebelumnya, tentu saja banyak barang-barang yang harus dikeluarkan. Apalagi ketambahan barang-barang dari teman yang ex-kontraktor rumah ini. Beuuhh... ma shaa Allah... ga akan muat deeh kalo semua barang di keep sendiri. Belum lagi pertanggungjawaban di hadapan-Nya nanti. Jadi, keep yang perlu dan remove yang tidak digunakan/jarang digunakan atau can't fix in this house. Bisa dijual kembali atau dibagikan secara gratis. Pertama-tama aku menawarkannya ke teman-teman yang sesama komunitas indonesia dulu. Lalu, menjualnya di situs expatriates.. Just throw away price. Hehe...

Pengalaman menjual preloved item ini jadi kesan tersendiri. Urusan jual menjual ini secara online nya hingga deal, menjadi bagianku. Abu Aafiya tinggal nanti yang ketemu sama yang mau ngebeli atau yang mau ngambil barangnya. Hehe... Kebanyakan yang membeli/mengambil barang-barang ini bukanlah orang pertama yang menawar. Kebanyakan yang pertama kali menawar, malah cuma PHP doang. Tak ada kabar yang jelas. Meskipun dikasi gratis sekalipun, banyak juga yang akhirnya cancel. Sebenarnya agak rada kesal juga sih (apalagi yang free item) yang awalnya sudah deal mau ngambil, tapi tiba-tiba di injury time malah cancel. Kan kasian ada orang yang benar-benar serius mau ngambil dan terhalang oleh orang yang asal membuat deal lalu cancel seenaknya.

Kalau yang seriusnya, cuma demi sesuatu yang rasa-rasanya bisa dia beli di dekat rumahnya dengan harga yang ga mahal, dia rela menempuh perjalanan hampir 40 menit. Tapi, yang kebanyakan sih cancel sepihak. Kekeke... Benar-benar harus banyak sabar deeh kalo soal ini. Hihi...
Ada juga pengalaman lain. Beberapa barang ex-teman yang dikasi secara free berupa dressing table, meja kerja,kursi yang pada awalnya banyak peminatnya. Tapi PHP doang. Gayanya aja mau ambil, tapi ga ada kejelasan lagi. Kabar kabur... Hihi... Hingga ada salah seorang yang awalnya aku cuekin karena dia ga kirim message via WA dan malah ngirim rekaman sound yang ga aku mengerti. Pakai bahasa arab. Aku bilang ga ngerti bahasa arab. Trus dia malah pake bahasa urdu. Tambah ga ngerti dong akuuu... wkwkwkwkwk... Nah, ternyata dia ga bisa bahasa inggris. Aku bilang english only please. Baru deh dia (mungkin via temannya) pakek english dan katanya dia tertarik sama barang yang aku iklankan via expatriates. Ehh, ternyata emang rizki nya si bapak ini yaa... alhamdulillah akhirnya dia yang awalnya kita cuekin malah jadi ngambil, enggak PHP doang. Hehe...
Sebenarnya ini semacam simbiosis mutualisme juga sih yaaa... Karena kami butuh mengeluarkan barangnya, dan si peng-hire butuh mengambil barangnya. Impas kan. Dari pada harus mengeluarkan sendiri dan terbuang begitu saja, alangkah lebih baiknya dimanfaatkan oleh orang yang membutuhkan.

Pelajaran berharga: Rizki itu sudah ada ketetapan-Nya. Bisa jadi, si A yang akan mengambil barangnya, ehh malah akhirnya si B yang mendapatkannya. Bisa jadi kita sudah berharap pada X, ehh ternyata rizkinya malah Y. Jadi, soal rizki dari Allah semestinya bukanlah sesuatu yang perlu terlalu dikhawatirkan. Sudah ditakar-Nya koq. Yang perlu dikhawatirkan itu justru bagaimana nasib kita kelak, ketika kita telah melewati fase dunia. Iya, kehidupan setelah dunia. Tapi, kebanyakan hari-hari kita justru lebih sering mengkhawatirkan rizki yang sudah ditakarkan-Nya ketimbang kehidupan setelah mati. Ini note to my self terutama niih dengan segudang kelalaian, astaghfirullaah....

Ada barang yang tak laku even itu dikasi gratis sekalipun?
Tentu sajaaaa ada!!!
Hehe...

Awalnya sedikit kecewa ketika ada yang hire tapi cancel hingga di hari kepindahan kami ke tempat yang baru, barang itu tetap saja ga terjual atau tidak jadi diambil. Lagi-lagi di PHP in hiks... hiks...

Tapiii, itulah takdir-Nya. Dia selalu Maha Mengetahui apa yang terbaik buat diri kita. Ternyata, barang-barang yang tidak laku itu adalah barang-barang yang sebenarnya masih kami butuhkan! Dan pada akhirnya, kami bersyukur bahwa barang-barang itu tidak laku. All can fix here, ma shaa Allah.... Ternyata kami masi sangat butuh barang-barang itu yang dikira ga muat di rumah ini. Aku takjub juga, ma shaa Allah... tak terpikirkan sebelumnya bahwa semua bisa fix di rumah ini. Ter-utilisasi dengan maksimal dan optimal.

Pelajaran berharga: segala ketetapan-Nya pastilah yang terbaik untuk diri kita. Pada awalnya mungkin kita bersedih karena sesuatu terjadi di luar pengharapan. Kelak, kita akan mengetahui bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita yang telah ditetapkan-Nya, pastilah YANG TERBAIK untuk diri kita. Terbaik untuk urusan kita. Dan semoga kita juga bisa berupaya yang terbaik untuk akhirat kita. Maka benarlah bahwa sebaik-baik pengharapan hanyalah pada-Nya yang takkan pernah mengecewakan kita.

Alhamdulillah, akhirnya di sinilah kami sekarang. Di rumah yang baru. Semoga barokah... Aamiin yaa Allah. Meskipun, ada kekurangan yang unpleasant lah jika dibanding rumah sebelumnya, tapi over all rumah ini pun banyak kelebihannya dan menyenangkan. Di antaranya posisinya di ground floor yang ga perlu lagi naik turun tangga. Memiliki halaman yang cukup luas untuk area bermain anak-anak (meskipun sekarang musim panas dengan suhu mencapai 45° C yang ga memungkinkan setiap saat bermain di halaman dengan panasnya yang menyengat). Dapur yang sangat minimalis (kurang dari setengah ukuran dapur sebelumnya), menguntungkan karena jadinya lebih rajin beberes. Kalo dapurnya luas, jadi lebih lalai beberesnya... kekekekeke... Dan yang terpenting, tentu saja bukan soal seberapa mewah dan seberapa luasnya rumah, melainkan apakah dari rumah ini lahir kebahagiaan, ketentraman, kekeluargaan, kebersamaan dan terutama ketaatan. Jika semua ini missing, rumah tiadalah artinya lagi. Bahkan sekedar tempat untuk tidurpun, takkan memadamkan kegelisahan hati. Apalah artinya kan yaa? Heuu...

Do'akan yaa rumah ini menjadi rumah yang barokah... Aamiin yaa Allah...

In shaa Allah lanjut ke cerita selanjutnya tentang home decor yang murah meriah ala emak Aafiya... Hihi...

Read More

Nama dan Menamai

Sudah lama tak ngeblog. Hehe... Sambil menunggu Banana Sponge Cake dipanggang, akhirnya ngebuka blog juga. Betewe, aku nge baking bukan karena rajin (semacam disclaimer kah? Ekekekeke 😂). Tapi karena kepengeeeeen cake-cake an yang mana akhir-akhir ini semakin menjadi-jadi. Wkwkwk... Kemarin habis meng-kholas-kan kue sarang semut. Sebelumnya marmer cake jadul. Apaaah??? Sejak kapan emak Aafiya doyan ngebaking beginiiih. Hihi... Padahal sebelum-sebelumnya bukanlah penggemar yang namanya cake. Sudahlah, bukankah ini berdampak positif? Hehehe.... Selain itu, karena ga kepengen membuang pisang yang kelupaan dikeluarkan dari plastiknyee abis beli di supermarket. Jadinya itu pisang mulai membusuk jika tidak cepat-cepat dimakan (aka dijadikan kue) 😁...


Baiklah, tanpa memperpanjang cerita, akhirnya kepada blog juga aku pulang. Blog itu bagiku ibarat rumah. Cape aktifitas di medsos (yang pada kenyataannya cuma dilihat-lihat ajeee, dan sempat off dari medsos beberapa bulan dengan menonaktifkannya) tanpa ngapdet status de el el..., akhirnya tetap sajaa aku cuma bisa berpanjang lebar cerita apaaaa ajaah cuma di blog. Sekedar leisure time, atau me time lah yaaa... Aku bukan viewer hunter. Ini adalah 'rumah' untuk me-release sahajaaa.... Postingan blog ini jauh berkurang setelah menikah bukan karena malas ngeblog sih. Karena sudah ada seseorang yang menjadi tempat merelease segala rasa di hati di mana menceritakan apapun kepadanya selalu menyenangkan. 😍😘😘
Jadi, yang di blog tinggal residunya ekekekekekeke....


Lho, belum masuk ke inti cerita? Ekekekeke... seperti biasaaaa, muqaddimah lebih panjang dari intinya... 😋

Jadi kembali ke judul tentang Nama dan Menamai. Dulu aku juga pernah cerita kan yaa, tentang orang minang (kayaknya bukan orang minang doang deeh) yang senang menamai anaknya dengan nama yang agak kebarat-baratan (maklumi sahajaaaa, kan sumatera BARAT) hihihi.... Nah, namaku termasuk nama yang sering dipertanyakan sejak jaman masi SD hingga jauhhh keperantauan sini, di Riyadh. Tetaaappp sahajaaa banyak orang yang kepo mengenai namaku. Apa sih artinya. Komen2 yang tendesius mengatakan "Namanya kamu unik deh" (ini mah ke-PD-an tingkat tinggi wkwkwkwkwk). Meskiii, asal katanya berbahasa arab, orang arab pun ga ngerti... hihi... Kebanyakan begitu sih yaaa... Karena ada modifikasi kreatifnya kalii wkwkwkwkwk...


Nah, cerita soal nama ini, aku pernah dapat pertanyaan dari seorang dokter ketika kita ke klinik dulu. Dia seorang sudanese.
"Are you convert?"
Hah? Aku melongo dongs. Ini kali pertamanya aku dipertanyakan begituuu. Hiks...
"No" jawabku
"Because your name not an islamic name. Why your name "Fathelvi", not Aisyah, Khadeejah etc. So i think you are convert." Even namaku asal katanya bahasa arab sekalipun, tapi aku dipertanyakan apakah aku seorang muallaf. Huhu...
"I growth in muslim family. My father, my mother and all my family is muslims. But it's common in my country to named by another name. I mean not islamic name."

Lain ceritanya dengan suami, yang juga sempat dikira bukan seorang muslim oleh salah seorang teman suami yang berkebangsaan Syiria. Hingga suatu hari, dia berjumpa dengan suami di masjid habis shalat.
"Woww.. i'm so sorry, I think you are not a muslim." Katanya sedikit menyesal mungkin yaa ehehehe (dugaanku ajah sih. Abu Aafiya tolong luruskan yaaa 😘). "Because your name not a muslim name"
Dan mengalirlah cerita bahwasannya kalo di Syiria, MUSTAHIL AQLI orang yang bernama kebarat-baratan semisal Dave, Antonius, Angel dll (maaf buat yang bernama sama, bukan bermaksud menyinggung. Toh aku sendiri juga sama koq, sempat dikira bukan muslim jugaa) adalah pemeluk agama ISLAM. Dan juga mustahil aqli orang yang bernama Mahmud, Ahmed, Aisyah dll beragama selain islam.
Lalu suami menjawab, bahwasannya di Indonesia biasa saja terjadi bahwa seseorang bernama David, Antonio, Angel, dan nama kebarat-baratan lainnya tapi mereka adalah seorang muslim. Iya, itulah perbedaan kulturnya.


Mungkin oleh sebab itulah, aku yang dulunya sempat kepikiran memberi nama anak dengan nama yang unik (katanya asal kata bahasa arab tapi nyatanya orang arab sendiri susah mengartikannya) dengan ejaan yang mungkin agak sulit dibaca (ekekekeke... nama anak2 jaman now kadang memang sulit untuk aku eja) akhirnya berpindah haluan. Dulu, ingin sekali memberi nama anak dengan kata yang unik, nama yang tak biasa. Tapi begitulah. Hidup itu dinamis. Segalanya mungkin saja berubah. Preferensi apalagi. Hehe...


Sekarang, aku lebih senang dengan nama-nama yang yaaa katakanlah terlalu mainstream. Ada jutaan orang dengan nama yang sama mungkin. Nama sahabat dan sahabiya misalnya. Dan nama yang lebih mencerminkan kalau si anak adalah seorang muslim/muslimah. Bukan nama yang kebarat-baratan atau nama yang terdengar unik atau bahkan sulit dieja. Biar dikata, nama sejuta umat (hehehehe...), yang penting dalam do'a tersebut ada sebuncah do'a dan harapan bahwasannya si anak meneladani sahabat atau sahabiyah yang kami sematkan padanya.

Ini tentulah bukan menyalahkan apalagi menganggap remeh dan memandang sebelah mata para orang tua yang menamai anaknya dengan nama kebarat-baratan. Wallahi, tidak sama sekali! Aku percaya, setiap orang tua pastilah menamai anaknya dengan nama yang baik, terkandung do'a dan harapan membersamai nama itu. Aku juga tidak sinis terhadap orang yang preferensinya memberi nama anak bukan dengan "nama islami" yang dimaksud oleh teman Syiria suamiku atau Dokter Sudan yang sempat bercakap denganku itu. Selama itu bukanlah nama yang buruk yang jelas dilarang oleh Rasulullah, it's OK. Ini hanyalah menyoal preferensi saja koq. Hehe...
Aku juga tidak sedang menggiring opini agar orang-orang berbondong-bondong untuk menamai anaknya dengan preferensi sama denganku. Selama itu baik, tidak ada yang salah in shaa Allah...


Aku ingin menamakan anak ketiga kami nantinya; Khaleed (jika dia seorang laki-laki dengan harapan setangguh panglima perang Khaleed bin Waleed) atau Maryam (jika seorang perempuan dengan harapan meneladani wanita suci yang menjaga kehormatannya, salah satu dari 4 wanita yang mulia). Hehe.. Semoga anaknya sihat-sihat lahir dan batinnya, lancar-lancar segala prosesnya nanti. Aamiin yaa Rabb... Bantu do'a yaa teman-teman...
Read More