Martabak Manis

Martabak manis homemade first trial... 😍

Martabak manis, siapa sih yang ga kenal? Hehe... Kalo sudah dekat-dekat penjual martabak, aromanya bisa bikin ngiler. Apalagi kalo lagi laper dan lagi ngidam martabak. Lengkap sudah deehh keinginan untuk menikmati martabak. Actually, abu Aafiya lah yang penyuka martabak manis.
Aku sendiri sebenarnya bukan martabak lover meski bukan berarti ga suka. Sesekali, martabak memang sangat menggiurkan tapi bukan sesuatu yang bener-bener dikangenin. Aku lebih  suka martabak telur aka martabak kubang aka martabak mesir. Etapiii... kadang selera suka aneh yaa kalo lagi ngidam. Hahaha...

Di sini jelas ga ada yang jual martabak manis. Kalo mutabaq adaa sih... Sejenis martabak telor kalo di kita tapi bedaa dari segi bebumbuan. Mungkin disebut martabak mesir karena dari timur tengah sinilah si mutabaq itu berasal. Bumbunya lebih berasa rempahnya. Dan rempahnya middle east cuisine ini koq aku ngerasa kental banget cardamom dan cumin nya. Secaraaa dua bumbu tersebut ga familiar banget di lidahku...
 
Karena Abu Aafiya penyuka martabak manis, rasanya sangat istimewa ketika suatu hari ada temen yang open PO martabak manis. Aku pesen doooongs.. Hehe... Tapiii, sayangnyaaa... pas aku yang lagi kepengen banget martabak manis, hiks... koq yaa ga ada yg open PO martabak. Mau ga mau opsinya bikin sendiri... dengan peralatan tempur seadanya...

Dari duluuu banget sebenarnya aku pengen bikinin martabak buat suami, tapi karena aku pikir butuh pan khusus martabak yang beratnya aja 1 pc 8 kilogram dan yang pasti, ga dijual di riyadh, aku ga pernah berpikiran bikin martabak manis versi homemade. Tapi aku ga pernah kepikiran mencoba martabak ala teflon doang sih yaa sebelumnyaa.. Oleh sebab aku yang ngidam martabak manis akhirnya bikin versi teflon nya. Daaaaaan... ma shaa Allah... ternyataaa bikin martabak itu mudaaaaah alhamdulillaah. Rasanyaa (meski masi jauh dari abang-abang martabak di persimpangan jalan sono) ternyata sangat acceptable dan matabak-able bangeet.. Alhamdulillaah... ma shaa Allah tabarakallah...

Sekarang, kalo seneng banget kalo lagi pengen tinggal bikin. Resepnya sampai hapal di dalam kepalaaa dan ga perlu nyontek lagi... Hihi.. 1 martabak 30 menit juga kelar.. ma shaa Allah... Aku coba-coba bikin versi pandan. Next challange mau coba martabak yang versi red velvet ama green tea in shaa Allah...

Pelajaran berharga: selama kita menganggap sesuatu itu sulit dan tak pernah mau mencoba, selama itu pula kita akan 'terkungkung' dan terbelenggu dengan pemikiran tersebut dan takkan pernah ada improvememt. Selamanyaa kita akan berpikir  itu SULIT padahal belum pernah mencoba. Jadii, berpikir positiflah sebelum melakukan sesuatu.
Read More

Tunas dan Harapan

Tunas. Photo by emak Aafiya Aasiya

Terkadang harapan itu berbahaya.
Ketika tunas harapan mulai bertumbuh tapi kemudian seletika harus layu ketika ia tak menjumpai nyata.
Sesaknya lebih berasa jika tak pernah ada harapan yang mendahului. Sebab harapan selalu saja menginginkan wujud nyata.

Melabuhkan harap pada manusia, berarti harus siap menerima risikonya. Sebab apalah yang dipunya manusia? Sama daifnya dengan diri kita. Ya, manusia bukanlah tempat menyandarkan harapan. 
Maka, hanyalah satu tempat di mana harapan takkan pernah mengecewakan. Berharap hanya pada-Nya. Ya, hanya pada-Nya saja, tempat di mana harapan akan selalu terjawab indah: menjumpai nyata atau diganti-Nya dengan yang lebih baik. Takkan pernah mengecewakan. Selalu ada jawaban.



Short contemplation, 25.04.2018
Read More

Ketika Badai Pasir Menerpa

Judulnya koq kayak gimanaa gitu yaaah kesannya... Kayak badai kehidupan ajah.. hehehe... Tapi ini bukan cerita tentang badai kehidupan tentunya. Ini cerita tentang badai pasir yang sebenarnya. Bukan badai secara makna konotatif.

Badai pasir di sini adalah hal yang sangat lumrah terjadi ketika pergantian musim. Dari musim panas ke musim dingin dan sebaliknya. Badai pasir serinh terjadi antara bulan oktober november untuk peralihan musim panas ke musim dingin dan bulan maret april untuk peralihan musim dingin ke musim panas.

Seperti yang kita ketahui bahwa negeri ini sebagian besarnya dalah hamparan gurun. Gurun bermacam-macam juga ternyata. Mulai dari yang bebatuan hingga pasir sangat halus.
Ini gurun pasir yang sangat sangat haluuusss... ma shaa Allah.. pasir di gurun inilah yang "beterbangan" ketika badai pasir melanda. Di pinggir jalan pasti selalu ada tanda peringatan "sandstorm area".
Naah, ketika badai pasir menerpa, pasir yang sangat halus ini beserta debu akan memenuhi udara. Gimana rasanya berada dalam kepungan debu dan pasir halus? Bayangkan saja kalo kita lagi berdiri di depan orang yang sedang menyapu debu setebal 1 cm di suatu rumah yang ga dihuni 10 tahun (hehe perumpamaannya lebay tapi memang begitulah kenyataannya). Hidung serasa dicekoki oleh debuu berjam-jam... Butuh air purifier kalo ingin bernafas dengan normal.

Badai debu terparah yang pernah aku alami di sini adalah pada tahun 2015 di mana debunya berhasil membuat pemandangan siang jadi terlihat gelaappp. Daan, jarak pandang hanyalah sekitar 1-2 meter saja. Tapii, badai debu terpanjang masanya yang pernah aku alami selama di sini adalah peralihan musim dingin ke musim panas tahun ini. Badai debu dan pasirnya berlangsung sangat lamaa... huhu. Biasanya 2-3 hari langit kembali cerah. Ini sudah lebih dari 3 minggu cerahnya cuma beberapa hari saja (sekitar 4 hari an) sisanya langit seperti gelap karena tertutup debu.

Begini kondisi udara kalau badai debu (poto tanpa editan). Diambil dari jendela sesaat sebelum ditutup. Ini foto rumah tetangga kami dan istiraha sebelah rumah.
Nah kemarin itu kami ada acara rihlah ke taman. Walaupun tidak terlalu cerah, awalnya tak terlihat akan ada badai debu. Tapi ketika menjelang maghrib, ternyata ada badai debu disertai hujan gerimis. Gerimisnya bukanlah hujan yang jernih melainkan seperti hujan pasir/lumpur. Jadi debu dan pasir halusnya turun bersama gerimisnya.
Ini stroller anal-anak bekas debu yang disertai gerimis. Belum sempat dibersihkan hehe...

Abaya, tas, stroller dan semua barang bawaan langsung berubah menjadi bintik-bintik kecoklatan. Yaa, namanya juga hujan debu yaa.. Hihi. Apalagi jarak tempat kita duduk agak nauh dengan posisi parkiran. Jadii, lumayan juga paparan debunya. Sejujurnya, ini kali pertama aku merasakan badai debu dengan posisi berada di luar rumah. Biasanya kalau badai debu, pasti ga ada yang mau keluar rumah. Dan sekolah-sekolah biasanya juga diliburkan kalo sudah badai debu begini.

Semogaa, badai debu ini cepat berlalu... Aamiin

Read More

Setengah Dasawarsa Cinta


Hari ini, 5 tahun Cinta.
Meski aku (kita tentunya) tidak pernah merayakan momen-momen semisal wedding anniversary ataupun hari milad, tetap saja selalu Indah setiap mengenang hari 5 tahun silam, ketika debaran ini begitu manis terasa. Dan aku menyadari bahwa hanya engkaulah suamiku tercinta yang menjadi satu-satunya pengisi hati di lokus Cinta, menggenapkan setengah sayap untuk terbang bersama, semoga menuju cinta-Nya dan surga-Nya.

Aku mencintaimu, dan akan terus mencintaimu...
Semoga Allah senantiasa menjaga cinta ini dan mengekalkannya hingga ke tempat yang kenikmatan tiada berujung.

5 Tahun Cinta, setengah dasawarsa cinta...
In shaa Allah menuju 5 anggota keluarga kecil kita πŸ’•πŸ˜—

Uhibbukum fillaah...
Another design πŸ˜—πŸ’•


Read More

Membuat Sarden Homemade

Hai hai...
Assalaamu'alaykum 😁✋

Sudah lamaaa syekali tidak ngapdet blog. Lebih dari 1 bulan kayaknya. Ohoho... Baiklaah... Mari kita mulai dari yang ringan-ringan sahaja. Hehe...
Ini sarden homemade pertama ala emak aafiya aasiya. Penampakannya mirip kaan sama sarden kalengan? Tapi rasanya lebih enak daei pada sarden kalengan menurutku *bukan ke-GR-an* wkwkwkw... Dimana2 yang namanya homemade jauh lebih ocreee.. hihi...

Btw, jika ingat sarden apa yang kamu pikirkan? Kalo aku sarden itu yaa sarden kaleng. Tapii, maraknya isu cacing di sarden (yang memang sih ga ada isu nya di Saudi), tapii ternyata cukup bikin aku bergidik ngeri setiap kali mengingatnya dan membuat aku enggan membeli sarden tentunya.

Sejujurnya, sarden ketika semasa kecil dulu adalah lauk yang istimewa buat kami. Apalagi kalo dimasak bareng kentang dan tahu. Ma shaa Allah nikmaaattt. Meskiii, sardennya cuma bersisa serpihan dagingnya doang, tapi tasty sardennya kan masi ada and for us that's more than enough. Ketika alhamdulillah kita bisa beli sarden dengan ukuran yang lebih besar dan jumlah yang lebih banyaak, kita bisa menikmati daging sardennya (yang bukan serpihan aja hehe) dan tetaaapp sarden itu terasa istimewa... πŸ˜„

Tapiii semenjak isu cacing di sarden, tentu saja aku ogah membeli sarden lagi. Hiks hiks... Dan sama sekali tak pernah kepikiran untuk membuat yang versi homemade nya. Karena bagi aku, sarden itu yaa sarden kaleng! πŸ˜‚
Hingga suatu ketika di grup akhwat Saudi ada yang nge share tentang homemade sarden. Aku langsung tertariiik. Woow.. ma shaa Allah... koq ga pΓ©rnah kepikiran yaa mau bikin yang versi homemade selama ini?!

Pas belanja aku beli laah ikan sarden segar plus bahan-bahan lainnya yang ternyata ga susaah. Daan alhamdulillaah, first trial sukses ma shaa Allah. Gimana rasanya sarden homemade? Hmm.. ternyata mirip banget sama sarden kalengan dan ternyataa aku lebih suka yang versi homemade nyaaa...


Jazakillahu khair untuk akhwat yang bersedia berbagi resepnya. Dan biar ga lupaa, aku juga mau share di sini aaahhh... Ntar kalo bikin lagi ga repot ngubek2 grup whatsapp yang pasti udah tenggelam chat nya hihi....


🌺Sarden Homemade🌺

Bahan :
• 1 kg ikan sarden, buang kepala dan ekor serta bersihkan
• 1 buah jeruk nipis
• garam secukupnya

Bagan saus :
• 500 gr tomat, rebus sampai mengelupas lalu buang kulitnya
• 5 buah cabe merah(sesual selera pedasnya)

Bumbu :
• 1 buah bawang bombay ukuran besar, potong sesuai selara
• 5 siung bawang putih
• 1 ruas jahe, geprek
• 7 butir bawang merah, iris lalu goreng
• 5 siung bawang putih, iris lalu goreng
• merica bubuk secukupnyanya
• daun salam
• garam secukupnya
• gula pasir secukupnya
• kaldu bubuk(saya pake kaldu alami,ekstrak kaldu jamur)
• air secukupnya
• minyak sayur untuk menumis

Cara membuatnya :
1. Cuci bersih ikan, buang kepalanya dan ekornya, lalu lumuri ikan dengan air perasan jeruk nipis dan garam, diamkan kurang lebih selama 10 menit, bilas lalu tata di dalam panci presto

2. Blender tomat rebus, cabai merah dan bawang putih

3. Tumis bawang bombay, jahe serta salam sampai harum

4. Masukkan blenderan tomat, bawang merah goreng dan bawang putih goreng, aduk rata .
Tambahkan garam, gula, merica, kaldu bubuk aduk rata

5. Masak sampai meletup-letup

6. Tuangkan ke dalam panci presto, tambahkan air hingga ikan terendam

7. Masak sampai bunyi berdesis panci prestonya, kemudian kecilkan api yang paling kecil kurang lebih 30 menit, setelah dingin buka panci presto dan periksa apakah tulang sudah cukup lunak, jika belum tambahkan air sedikit lagi serta garam, lalu masak kembali sebentar

8. Angkat dan siap sajikan

Silahkan di coba buibu resep nya..semoga betmanfaat dan sesuai selara yaa...πŸ˜‰πŸ’


Read More

Laa Tusrifu!

Alhamdulillah, bulan ini kami berkesempatan mengunjungi tanah mulia, tempat terbaik di dunia dan semoga Allah berikan kesempatan kembali lagi, lagi dan lagi ke sini. Tanah yang selalu dirindu.

Di hotel tempat kami menginap, kebetulan tersedia restoran di mana pengunjung bisa memilih reservasi yang include breakfast atau tidak. Kami kebetulan memilih yang include breakfast. Nah, ini yang pengen aku ceritakan.

Dalam kondisi lapar, pasti secara fitrahnya kita akan menginginkan makanan. Sebab kita dibekali-Nya nafsu makan. Tapi, di sinilah letak ujiannya. Cobalah berbelanja ketika lapar. Besar kemungkinan mata yang lebih "lapar". Semuanya dipengen. Semua dirasa bakalan habis. Ini dibeli, itu dibeli. Eehh, pada kenyataannya yang habis mungkin ga ada sepertiga. πŸ˜’

Nah itu juga yang terjadi ketika makan di restoran hotel. Apalagi sarapannya berasa "gratis". Hehe... Padahal mah sebenarnya juga bayar waktu reservasi kan yaa... heuu... Semua dirasa bakalan habis. Berpiring-piring makanan berbagai jenis diangkut ke meja. Bahkan mejanya sampai ga muaat πŸ˜‘. Tapiii, yang dimakan ga ada setengahnyaa... πŸ˜₯. Rasanya koq nyeseeek banget yaa makanan bersisa gitu. Banyaaak banget lagi. Ditinggal begitu saja. Dan itu kejadiannya ga oleh satu dua orang. Tapi banyak yang melakukan hal yang sama ☹.

Di belahan bumi lain, bahkan mungkin masi di tanah yang sama banyak orang yang kelaparan. Tak memiliki sedikitpun bahan makanan yang akan dimasak.

Di restoran tersebut sebuah banner berdiri kokoh yang bertuliskan,
"Makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebihan...." (Qs Al A'Raf: 31).

Sebuah reminder banget buat diri sendiri terutama untuk tidak makan berlebih-lebihan dan tidak menyisakan makanan. Hiks... Masi sering lalai. Masi terkadang makanan ada sisa. 😣
Semoga... semoga TIDAK BERLEBIH-LEBIHAN apalagi mubadzir!

Read More

Pasar Tradisional Daging, Ikan dan Sayur di Riyadh

Sedari dulu, berbelanja di pasar tradisional lebih menyenangkan bagiku ketimbang belanja di supermarket. Di pasar tradisionallah transaksi jual beli itu berlangsung 2 arah. Antara penjual dan pembeli. Kita bertemu langsung dengan penjual. Di supermarket, kita memilih sendiri dan ambil sendiro barang-barangnya. Ujug-ujug cuma ketemu kasir... yang kemungkinan besar bukanlah penjual utama... hehe...

Meskipun pasar bukanlah tempat yang kita harus berlama-lama di sana, tapi di pasar tradisional kita lebih mengenal banyak orang. Pasar tradisional juga menawarkan barang-barang yang lebih fresh dan baru. Kenapa? Di Supermarket umumnya sayuran atau daging misalnya terlihat lebih fresh karena mereka memiliki fasilitas chiller, susananya pun adem. Tapii, di pasar tradisional mana ada chiller dan suasananya juga bukan yang di bawah AC kan yaa... Jelaas, harusnya sayuran yang tanpa chiller jauh lebih segar. Dalam kondisi "luar ruang" begituu bisa "survive" kesegarannya, tentu menandakan barang ini bener-bener segar kan yaaa.

Tapi sejak tinggal di Riyadh, yang aku tau yaa supermarket ajaaah. Nyaris tak pernah lagi ketemu yang namanya pasar tradisional. Dan memang sangat jarang ada. Mungkin di pinggiran kota kali yaa. Intinyaa selama di Riyadh, aku sebelum ini ga pernah sekalipun belanja di pasar tradisional. Apalagi setelah punya anak 2 (yang mana kalo di sini anak-anak tentu harus dibawa ke mana pun kita pergi. Nda bisa dititip tetangga wkwkwkwk), belanja ke supermarket lebih mudah tentunya (selain dekat lokasinya). Suasananya adem, ada trolli buat ngangkutin barang-barang, ga perlu becek-becekan. Ga repot laaah tentunyaa. Kalo di pasar tradisional, ke mana-mana belanjaan mesti diangkut sendiri, ga ada trolli, dan ga ada AC tentunya hihi. Emak-emak kudu setroooong. Kekekeke...

Nah.. naah... sebenarnya tentang pasar daging tradisional ini, sudah lama aku denger dari buibu di sini. Kalo belanja daging ya ke pasar daging ajaa, lebih muraah--begitu kata buibu. Karena lokasinya yang lumayan jauh dari rumah (sekitar 35-an km lebih), plus di daerah Batha di mana ini daerah paling dihindari oleh Abu Aafiya karena padat penduduk dan seringnya muaceeeettt, makanya kita masi stay tune aja tuh belanja perdagingan dan perikanan cuma di supermarket dekat rumah. Apalagi suka ada promo hihi...

Hingga di awal tahun 2018 ini, adanya pajak, kenaikan listrik&BBM dan bayaran-bayaran lainnya, membuat harga-harga mulai melambung. Harga daging terutama. Naiknya ga tanggung-tanggung. Bisa sampai 30%. Semisal harga sebelumnya 38-an SAR, naik jadi 50 SAR per kilo nya. (Jangan remehkan emak-emak dan seenaknya menaikkan harga, ingatannya kuat soal harga barang lho... wkwkwkwkwkwk). Dan kebetulan konsumsi daging kita lumayan tinggi (secaraa emak Aafiya ini meat lover heuheu),  akhirnya kita putuskan untuk berbelanja di pasar daging yang sudah lama disebut teman-teman di sini.

Kemarin (sesuai dengan plan), kita ke sana deeh. Wow... ma shaa Allah.. amazing! Jum'at pagi yang sangat sibuk untuk Riyadh yang jum'atnya "kalem" hehe. Kebiasaan di sini, jum'at pagi itu orang-orang pada santai, leyeh-leyeh, libur, tidur. Toko-toko nyaris ga ada yang buka di jum'at pagi. Aktifitas perdagangan di hari jum'at umumnya baru mulai ba'da ashar. Rupanya untuk pasar daging, tak berlaku hal ini. Justru jum'at pagi puncak kesibukkannya. Kami sampai muter-muter beberapa kali untuk bisa dapat parkiran. Karena benar-benar full dan sangat susah mencari parkiran. Ya Salaaam. Sempat Abu Aafiya bilang, "daah pulang aja yuk. Ga dapat parkiran nih". Tapiii sudah menempuh 35 km lebih. Masak harus balik kanan? Hehe... Akhirnya setelah putaran yang keberapa kali, ada yang keluar persis di depan kita. Alhamdulillaaah, cuuusss kita parkir deeh.
Di depan tempat masuk pasar daging, ada penjual sayurab. Sayang lupa poto pasar dagingnya 😁

Pasarnya benar-benar pasar tradisional kayak di Indonesia!! Ma shaa Allah. Plus ditambah beceek karena hujan semalam (hujan yang sangat langka tentunya... kapan-kapan cerita soal hujan in shaa Allah), makin bikin suasana yang kayak di Indonesia banget hehe. Masuklah kita ke sana... dan Woooww... ma shaa Allah.. isinya penjual daging semuaaaa... Bagian luar ada yang jual sayur-sayuran juga tapi ga banyak sih. Most of them adalah penjual daging.

Orang-orang sana pada bahasa Indonesia lagi! Koq pada tau yaa. Hihi.. Ya satu dua kata lah. Semisal "sapi... sapi...", "murah... murah...". Sisanya tetap pakek bahasa arab atau satu dua kata bahasa inggris. Hehe...
Kita cukup amazing dengan harganya. Yang benar-benar miring dibanding di supermarket. Sekilo topside bisa dapat 25 SAR. Padahal di supermarket bisa 50-60 SAR. Sekilo hati sapi harga 15 sar, padahal di supermarket 56 SAR dan itu pun kadang ada kadang enggak. Di pasar daging juga lengkap jual berbagai jeroan di mana di supermarket ga ada yang beginian. Cuma dagingnya ajah biasanya di supermarket. Di pasar daging ini juga menjual semacam otak sapi, paru, dan lain sebagainya. Beli kikil juga lebih murah. (Aku tau kikil ini juga baru di siniii... wkwkwkwk). Belanjanya sih cuma 5 menitan kholas kali yaa... Cuma sebentar doang kita belanjanya. Ga sampai 10 menit kayaknya. Dengan harga ga sampai 100 SAR, kita sudah bisa bawa pulang 2 kg daging topside, 2 kg paru, 1 kg hati, dan lebih dari 2 kg kikil. Kalo beli di supermarket, mana dapat segituuuu... Ma shaa Allah...

Ini juga kali pertama seumur-umur aku beli paru. Ternyata 2 kg itu banyaak banget yaaak karena si paru ini ringan. Pengen bikin rendang paru ceritanyaa. Semoga suksess percobaan pertama emak Aafiya.. hihi... Aamiin...

Yaah, worth it laah bolakbalik hampir 80 km untuk ke pasar daging ini dibanding harga yang kita dapatkan. Belanjanya sih cuma 10 menit, perjalanannya 1.5 jam, nyari parkirannya setengah jam. Hihihi... Tapii, nanti kalo beli daging pengen ke sini lagii. Tips nya, berangkat agak pagian (jam 6 atau setengah 7) supaya dapat parkiran in shaa Allah...
Read More

Manual Book yang Terabaikan

Ma shaa Allah... ma shaa Allah...
Takjub banget ternyata food processor (disingkat FP ajah yaak) yang dibelikan suami 4 tahun yang lalu ternyata memiliki fungsi yang sangaatt banyaaak dan baru "ketahuan" setelah 4 tahun nangkring di dapur. Ma shaa Allah... What?? Harus nunggu 4 tahun dulu yaak... *tepok jidat! Tapiii, lebih baik lah yaa dibanding ga tau sama sekali... hehe
Bikin bawang goreng yang diiris FP. Biasanya beli bawang goreng yang sudah jadi ajah 😁

Dahulu kala, 4 tahun yang lalu, Abu Aafiya membelikan emak Aafiya FP. Sejujurnya, kenal FP juga baru di sini sih. Ihihi...). Yaa harap dimaklumi yaaa, dunia perdapuran berikut peralatan dapur aku baru kenal ya sini. Sedari dahulu, karena (lagi-lagi) ga hobbi memasak, taunya yaa beli bumbu beres di pasar. Kalo nekbu Aafiya (ibuku) selalu melakukannya dengan manual. Menggiling cabe, ketumbar, lengkuas, dan sederet bebumbuan lainnya yaa dengan cara manual. Akuu? Hahaa... Kayaknya yang ini ga menurun deeh dari Ibu. Senengnya yang serba mudah. Ga mau repott. Pokonya, aku selalu berprinsip "jika ada hal mubah yang mudah, aku takkan menempuh jalan sulit!" Eheheheu... Jadilah kalo bebumbuan, aku lebih seneng bawa ke tukang giling bumbu di pasar ajah. Ekekekeke....

Pas di sini, ga ada yang jual bumbu atau terima jasa giling bumbu tentunyaaa... hehe. Ketika silaturrahim ke rumah temen dan masak bareng (kala itu masak dimsum bareng), koq seru yaaa blendernya. Aku pikir itu blender si FP. Tapi koq gedean dan lebih topcerr gituuh. Bisa giling daging ikan ama bumbu sekalian. Aku yang emang ga ngerti FP kala itu langsung mengerjap-kerjap takjub. Ahahaha... Waaa benda apa ini, koq cakep bangeet? Wkwkwkkwkwkwkwk....

Approved!
Yaa, ketika mengajukan pengen beli FP juga untuk mempermudah urusan perdapuran, alhamdulillah suami langsung approved dan kita berangkat deh ke toko elektronik buat beli FP. Aku memilih kenwood FPP220. Yaa harganya so so laaah. Ada beberapa merek yang direkomendasikan sama temen-temen yang jago masak di sini. Ada Braun. Ada bosch. Tapii, ngeliat harga kenwood yang setengah harga lebih murah dari pada dua merek bagus yang direkomendasikan, aku akhirnya pilih si kenwood ini. Aku ga begitu pengen hunting barang-barang perdapuran karena memang bukan passion nya. Yang penting fungsinya dapat dimanfaatkan untuk memudahkan pekerjaan dapur! That's all! Kalo temen-temen yang passion nya masak, mestiii deeh seneng hunting barang perdapuran. Di sini surga banget yang beginian. Ma shaa Allah... Kalo aku, mending beli lensa baru ketimbang beli food processor baru.. ekekekeke...

Alhamdulillah adanya FP ini benar-benar sangat membantu. Nguleg cabe terutamaa buat bikin sambalado (yang mana adalah menu wajib kami hihi). Giling daging buat bikin bakso ya hayoo ajah. Giling ayam buat bikin homemade nugget alhamdulillah topcerr. Diajak bikin adonan mpek-mpek juga oke. Bikin jus jeruk dengan orange juicer nya juga mantap (wlopun yg ini jarang dikerjain kekeke). Sejauh ini yaa sebatas inilah fungsinya aku manfaatkan dan alhamdulillah... tabarakallaah... sangat-sangat membantu memudahkan pekerjaan dapur. Tapi... ada 1 fungsi penting yang selama ini terlewat olehku. Yaitu slicer!
Bawang goreng yang diiris pakek food processor. Ma shaa Allah 3 minutes only!

Ya salam, masih utuh aja tuh si slicer. Padahal betapa sangat butuhnya akuu si slicer ini. Dengan FP, marut keju yang butuh 15-30 menit, bisa dikerjakan dalam 2 menit. Slice kentang buat digoreng biasanya suka lama apalagi manual potong pakek pisau biasa, pakek FP 1 kg kentang bisa di slice ga sampai 5 menit. Ngiris bawang yang buanyaak bangeet, dengan FP cuma dalam hitungan menit. Ya salaaam kemana saja sih selama ini akuuuuh?! Selama ini malas banget bikin bawang goreng sendiri karena malas ngiris bawang. Dengan FP,  ngiris bawang yang banyak cuma sebentar doang! Jadinya ga perlu beli bawang goreng lagi. Bikin ajah sendiri... Dududududu... antara sedih dan senang. Sedih koq baru tau sekarang. Tapi seneng juga karena sekarang jadi mudah. Bikin keripik kentang (favoritnya anak-anak), ngirisnya jadi sangat mudaaah. 
Alhamdulillah... ma shaa Allah... tabarakallah...
Bikin kripik kentang, diiris pakek food processor... ma shaa Allah cuma 2 menit untuk 1 kg kentang.

Pelajaran berharga: betapa pentingnya membaca manual book! Betapa banyaknya kesalahan dan kerugian jika manual book terabaikan.

♡♡♡♡♡♡♡

Ahh apalagi manual book yang telah Allah berikan dan Rasulullah tinggalkan. Betapa janji rasul-Nya, jika berpegang teguh pada "manual book" yang ditinggalkan beliau, pasti takkan tersesat. Bagaimana bisa berpegang teguh, jika membacanya aja masih malas?!
Astaghfirullaah...
Read More

Jalan Lurus

Belakangan ini beredar kabar tentang kelakuan "nyeleneh" beberapa jamaah umrah dari negeri kita, Indonesia. Yang jogatjoget bikin video klip lah di depan masjidil Haram. Yang sai sambil baca pancasila dan lain sebagainya. Sampai keluar edaran dari KBRI tentang peringatan keras dari kerajaan Arab Saudi terkait hal ini. Sejujurnya aku ga tau siapa orangnya dan dari daerah mana. Cuma tau beritanya. Semoga bukan menyebarkan berita yang tidak benar. Mohon klarifikasinya jika salah.

Sedih mendengar hal ini. Jadi teringat dulu pas sekolah di Daar, ada bab tentang Bid'ah. Dan muallimahnya berkomentar, "Andunisy, katsiiiir bid'ah". Kata teman yang kelasnya lebih tinggi, kalo di bab ini yang jadi contoh biasanya orang Indonesia. Ya sebagai orang Indonesia, maluu ga tau mau ditaruh muka tentunya. Berarti di sini negeri kita ini sudah terkenal dengan banyaknya hal "macam-macam", aneh dan nyeleneh. Ga semua tentunya. Masih banyak orang yang berada di jalan yang lurus. Tapi mengapa kita dilabelling seperti itu, pasti karena banyak case kan yaa?!

Semoga Allah tetapkan kita di jalan yang lurus... Berada di jalan yang lurus tak mudah! Sangat mungkin kita tergelincir...na'udzubillah... Semoga Allah bukakan hidayah kepada kita hingga akhir kehidupan kita, untuk menempuh jalan yang lurus saja. Aamiin...

#shortpost
#selfreminder

Read More

Craving

"Eooooo... pinukuiiik..." suara khas penjual pinukuik kalo lewat bikin aku pengen nyambar jilbab, bawa dompet dan teriak "bali pinukuiiik nii..." wkwkwkwkwk... de javuu... Tapi ga ada yang kaya begini niih si sinii... hiks.. 

Apa rasanya ngidam (baca: pengen sesuatu) makanan yang ribuan mil jaraknya dari tempat kita tinggal? Yaak... cuma bisa nelen ludah... ekekekeke...

Pilihan lainnya adalah: you have to cook it by your self!
Iyaa.. inilah tantangan terbesar kalo kita merantau jauh dan kepengen sesuatu makanan. Mau ga mau kalo kepengen banget, mesti bikin deeh.

Kayaknya koq rajin banget masak gituh yaaah... Padahaaal... padahaaal nih yaaaa aslinya aku ga hobby masak. Tapi koq masak macem-macem? Yaa karena aku ga punya pilihan lain selain harus masak yang dipengen tersebut. Ga ada go food. Ga bisa order online... ekekeke...

Nilai positifnya sih... kita bisa upgrading kemampuam masak. Dulu, datang ke Riyadh, ga bisa masaak macem-macem. Eehh 4 tahun di Riyadh, alhamdulillah ada improvement... masak macam-macam. Tapi Jangan bandingin rasanya dengan yang asli yaaaa... Selain keterbatasan bahan, kemampuan juga masi setaraf anak TK. Ihihi... Alhamdulillaah bisa mengobati rasa...

Nilai positif lainnya adalah tentang homemade! Kalo terbiasa serba instan, kita kan jadi males bebikin. Terutama yang ga hobby masak kayak akuuh. Dan ditambah lagi aku lebih suka yang simple ga pakek ribet yang tinggal jadii.. hueheuehue... Jadi kalo di Indonesia, praktis tinggal beli ajaaah. Nah karena di sini terpaksa harus masak, segala yang homemade bukan lagi jadi hal yang langka. Biasa bikin camilan sendiri. Biasa bikin ini itu sendiri. Walaupun juga sering siih beli di luar... ekekekeke... Setidaknya ada bekal lah kalo mau bebikin homemade. Homemade tentu saja jauh lebih baik dari beli-beli teruus... Ya nda sih... heuu....

Yaa postingan kali ini bikinnya agak-agak setengah hati gitu. Semacam resume atau malah repetition dari banyak postingan sebelumnya ajah kalii yaaa... Buat rame-ramein isi blog doang... Tujuan utamanya sih buat posting photo masakan yang hasil potonya masi jauh dari okeee... ekekeke.. Masi harus banyak belajar niih potonya dan lebih rajin lagi nyediain propertinya. Ini mah ga pakek properti alas photo de el el ituuh πŸ˜‚


Eoooo... pinukuiiik... 










Read More