Madinah City Tour with Hop on Hop Off Bus


Masjid nabawi, di depan King Fahd gate no. 25 (photo by Umm Aafiya)

Seperti biasa, madinah selalu saja menawarkan kedamaian. Kota yang sungguh-sungguh penuh peaceful... Ketika engkau berada di Madinah, maka perasaan yang engkau rasakan adalah rasa ketenangan. Ini adalah kota yang dicintai oleh Rasulullah. Di sini jasad yang mulia itu berbaring. Di sini, masih berdiri sisa sejarah yang sudah ada sejak zaman Rasulullah.
Secuplik kota Madinah (photo by Umm Aafiya)

Di madinah sekarang ada yang baruu.. Banyak yang baru lebih tepatnya... Hehe... Baru buat aku tapi mungkin sudah dimulai beberapa bulan yang lalu. Karena aku sendiri memang sudah agak lama tidak ke Madinah. Sudah lebih dari 1,5 tahun.
Sesuai dengan 2030 Vision dari Raja Salman, Madinah akan dijadikan sebagai International Islamic Tourism... 
Masjid Nabawi di waktu maghrib(photo by Umm Aafiya)

Di Madinah sekarang terutama sekeliling masjid Nabawi banyak sekali exhibition dan juga sedang di bangun museum Al Salam. Beberapa exhibition di antaranya The Beautiful Name of Allah exhibition, Rasulullah the Messenger of Allah exhibition, Prophet Mosq Expansion exhibition, the Holy Qur'an exhibition. Lebih lengkapnya in shaa Allah aku celritakan di next postingan beserta fotonya.
Konter bus hop hop tempat beli tiket(photo by Umm Aafiya)

Bus hop hop kata Aafiya (photo by Umm Aafiya)

Salah satu yang baru buat aku di Madinah adalah sekarang ada official offer untuk city tour. Dan khusus untuk tulisan kali ini, aku ingin berbagi pengalaman mengililingi kota Madinah menggunakan fasilitas city tour yang familiar dengan sebutan Madinah City Sightseeing ini. Transportnya menggunakan moda bus yang dikenal dengan bus Hop On Hop Off.
Ada wifi on board

Bus Hop Hop (begini Aafiya menyebutnya hehe) memiliki 2 rute. Green Route dan Red Route. Rute hijau adalah rute di sekeliling masjid nabawi dimulai dari depan King Fahd gate, lalu mengelilingi masjid al Nabawi ke arah kanan menuju perluasan masjid Nabawi yang arah pemakaman Baqi. Destinasi kedua adalah pemakaman Baqi. Pemakaman Baqi juga disebut sebagai taman surga di dunia. Di sini dimakamkan lebih dari 10.000 sahabat dan keluarga Rasulullah. Termasuk istri-istri beliau (kecuali Khadijah Ra), anak-anak Beliau dan juga Ustman bin Affan. Destinasi ketiga Holy Qur'an Exhibition. Destinasi keempat Al Salam road dan old Bazaar. Lalu bus kembali ke depan King Fahd gate.
Holy Qur'an exhibition 

Pemakaman Baqi

Selanjutnya adalah rute merah, untuk destinasi ke-5 sampai ke-11. Destinasi ke-5 adalah Gunung Uhud. Kita pasti sudah sangat familiar dengan gunung Uhud kan yaa... Salah satu perang di zaman Rasulullah melawan kafir Quraisy terjadi di gunung Uhud di mana pasukan pemanah tergiur ghanimah dan melanggar perintah Rasulullah untuk tetap bertahan. Pada perang ini Rasulullah terluka parah dan salah satu shuhada Uhud adalah paman yang Beliau Cintai, Hamzah . Gunung Uhud adalah gunung batu yang merupakan gunung dari surga. Ia mencintai umat Islam dan umat Islam mencintainya. Di lembah Uhud ini dimakamkan 73 org para shuhada Uhud. Dalam pemikiran kita, pemakaman itu ada nisannya ya. Tapii pemakaman shuhada uhud hanyalah seperti tanah yang datar saja.
Pemakaman shuhada Uhud

Gunung Uhud

Gunung Uhud

Destinasi ke-6 adalah Al Noor mall. Kalo mall mah ga tertarik buat ngunjungin di Madinah. Di Riyadh jg amat sangat buanyaaaak mall... hehe..

Destinasi ke-7 adalah Sultana Road. Ini jalan yang cukup populer di Madinah kayaknya. Ada pusat perbelanjaan barang branded dan wisata kuliner juga. Idem sama rute ke-6, kita just stay on the bus mah kalo di sini.

Deatinasi ke-8 adalah masjid Qiblatain. Di masjid ini Rasulullah shalat dengan menghadap 2 qiblat yg awalnya ke masjid al aqsa lalu mengarah ke ka'bah di Makkah.

Destinasi ke-9 adalah Parit di Khandaq. Tempat Rasulullah melaksanakan perang Khandaq. Parit yang digali adalah sepanjang 3,75 meter, kedalaman 3-4 meter, lebar 5-6 meter. Secara geografis, kota Madinah ini dikelilingi oleh gunung batu yang medannya sulit ditempuh oleh kuda atau onta. Bahkan ada bukit lava yang mengeluarkan panas. Satu-satunya tempat yang mungkin dimasuki adalah di Khandaq. Salman Al Farisi mengusulkan agar digali parit agar musuh tidak bisa masuk ke Madinah. Dan paritpun digali. Ternyata strategi ini berhasil. Musuh terpaksa mundur dan menerima kekalahan.

Destinasi ke-10 adalah Masjid Quba yang merupakan masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah sesampai di Madinah. Shalat sunnah 2 rakaat di masjid Quba nilai pahalanya setara umrah. Jadi, jika berkunjung ke Madinah, kita mesti mampir dulu ke masjid Quba.
Masjid Quba

Destinasi terakhir adalah Hijaz Railway Station museum. Dulunya ini adalah stasiun yang menghubungkan Madinah dengan kota-kota lain semasa Turki Usmani. Selain untuk Jalur perdagangan, juga untuk menyebarkan Islam pada zaman tersebut. Cita-citanya Railways ini sampai ke kota Makkah. Tapi belum terwujud dan sekarang baru diwujudkan oleh pemerintah Saudi. Jalur kereta cepat yang menghubungkan 2 kota suci. Jika menggunakan mobil pribadi, kami menempuh 4-5 jam perjalanan dari Makkah ke Madinah. Kabarnya dengan menggunakan kereta bisa ditembus selama 2 jam saja. Aahh, pengen coba naik kereta antara Al Haramain ini... Kabarnya baru dibuka akhir 2017 inibatau awal 2018. Semoga terwujud nanti, in shaa Allah.. Aamiin...
Hijaz Railways Station

Over all, pengalaman naik bus Hop Hop  adalah pengalaman yang menyenangkan. Dulu, kata teman-teman harganya masi 40 SAR/orang. Tapi, pas kami bayar di konternya, ternyata harganya naik jadi 80 SAR/orang. Harga tiket ini menurutku cukup mahal disebabkan kita tidak bisa mengunjungi semua destinasi dalam 1 hari dan bus tidak beroperasi 24 jam. Total dalam 24 jam, hanya sekitar 12-13 jam beroperasi. Daan, bus yang harusnya datang tiap 30 menit, actuallynya datang tiap 50 menit-1 jam an. Ba'da dzuhur sampai ashar juga tidak beroperasi. Jadii, dengan rentang waktu yang singkat ini tidak mungkin mengunjungi semua destinasi dalam 1 hari.
Tempat duduk di udara terbuka bus hop hop... ma shaa Allah... so menyenangkan...

Kelebihannya, bus Hop Hop ada tempat duduk terbuka. Jadi benar-benar enjoy banget menikmati udara terbuka. Worth it buat emak Aafiya yang suka jalan-jalan karena jika tidak ikut city tour ini, kami mungkin juga ga pernah mengunjungi destinasi-destinasi seperti masjid qiblatain, gunung uhud, parit khandaq ataupun Hijaz Railway station. Paling kita cuma ke Masjid Quba aja... Secaraaa kitah bawa 2 balita inii dan waktu di Madinah biasanya agak mepet. Ga pernah lebih dari 4 hari. Jadii, biasanya datang-datang langsung ke masjid Quba. Trus jalan ke hotel. Daan mostly dihabiskan di Masjid Nabawi dan sekitarnya saja. Kalo pas naik bus Hop hop alhamdulillah bisa liat-liat semua destinasi. Kita turun di gunung Uhud, masjid Quba dan Hijaz Railways station aja. Di yang lain udah ga sempat. Itu pun memakan hari setengah hari karena ketemu macet juga di malam weekend. Pas di masjid di Khandaq karena kebetulam beryepatan dengan adzan isha, bisa mampir sebentar...hehe... 'ala kulli haal Alhamdulillah... worth it laah...
Bahasa Indonesia salah satunya

Selain itu, di bus hop hop juga disediakan headset dan di sepanjang perjalanan kita dipersilakan untuk memperdengarkan kisah seputar Madinah dan sejarah mengenai tempat-tempat yang kita kunjungi. Dari 8 bahasa, salah satunya Bahasa Indonesia lhoo... Alhamdulillaah...
Lagi serius denger ya Aafiya? 😂

Bagi kamu yang ke Madinah, city tour ini good untuk di coba...
Shuttle nomor 5... Hayooo di mana tebaak...

Note: semua photo dalam postingan ini adalah dokumentasi pribadi dan difoto oleh Emak Aafiya... Dilarang mencomot tanpa ijin yeee... Mari saling menghargai HAKI dan stop segala macam produk bajakan ☺
Read More

Ada Cinta di Setiap Kata Kita ❤

Berkata Baik atau Diam 😙

Alkisah, pada zaman Rasulullah, ada seorang anak kecil dengan kuniyah Abu Umair. Abu Umair adalah anak dari Ummu Sulaim dan Abu Thalhah. Abu Umair memiliki peliharaan seekor burung yang dinamai Nughair/Nughrun. Beliau sering bercanda dengan Abu Umair dan burung peliharaannya.

Dikisahkan dari Anas bin Malik, ia berkata, “Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam datang menemui Ummu Sulaim yang memiliki seorang putra yang diberi kuniyah Abu Umair. Rasulullah suka mencadainya. Suatu hari, beliau melihat Abu Umair bersedih. Lalu beliau bertanya,
“Mengapa kulihat Abu Umair bersedih?” Orang-orang menjawab, “Nughrun (burung kecil seperti burung pipit yang lekuk matanya berwarna merah)nya yang biasa bermain dengannya mati.”
Kemudian beliau menyapanya untuk menghibur si anak yang kehilangan mainannya ini, “Abu Umair, burung kecilmu sedang apa?”
(HR. al-Bukhari No. 5850)

Ma shaa Allah begitu mulia akhlak Rasulullah dan beliaulah teladan dalam hidup kita. Tapi, jarang sekali kita meneladani beliau (astaghfirullah), khususnya (yang pengen aku tuliskan kali ini) akhlak beliau terhadap anak kecil.

Banyak pelajaran berharga dari kisah Abu Umair ini.
Mari kita ambil contoh sederhana yang tak jauh dari kisah Abu Umair. Sebutlah misalnya anak kita memiliki seekor burung peliharaan, lalu burung itu mati. Si anak datang menghadap kita dan berkata sambil menangis,
Anak (A): "Bunda, burungku mati.. huhu..."
Bunda (B): "Ohh burungnya mati yaa.... cup cup... udaaah ga usah sedih yaa sayang."
A: "Tapii aku sukaa sekali sama burung ituu"
B: "iyaa... jangan sedih yaaa... nanti kita beli lagi burung yang baru. Oke?"
A: "ga mauuu... ga mauuu... aku maunya burung yang ituuu..."
B (mulai jadi sedikit esmosi, dan tak habis pikir, mengapa anaknya ngotot banget mau burung yg jelas-jelas sudah mati): "sayaang, coba denger bunda. Burungnya udah mati, nak. Kamu udah ga bisa lagi main sama burung itu. Lihat tuh dia udah ga gerak lagi kan. Udah ga bisa terbang lagi kaan." ( si bunda Berusaha memberi penjelasan logis) "kalau kamu nangis seharian pun, burungnya juga ga bakalan hidup lagi, sayaang."
A: "hwaa...hwaaa...hwaaaaa..... ga mauuuuu... pokoknya mau burung yang ituuuu...." (nangis kejeerr)
B: "kamu koq begitu siih!? Udaahh.. udaaahh!! jangan nangis lagi!! Cuma burung aja koq! Masih banyak burung yang lain."
Dan si anak pun, bukannya terhibur, malah menangis makin keras.

Yap!
Di sini letak masalahnya. Kita, sudah amat sangat terbiasa sekaliii meng-ignore, menolak, mengabaikan, tidak menerima perasaan anak! Dan sebab ini sudah sangat biasa terjadi, kita melihatnya bukan lagi sebagai sebuah "kesalahan" respon. Sebab kita bermaksud baik. Ingin menghibur anak. Tak ingin anak kita bersedih. Tak ingin anak merasa kehilangan. Itu berarti pertanda kita sayang sama anak kita. Tapii, apakah anak terhibur dan makin hilang kesedihannya? Sepertinya tidak yaaa... Alih-alih hilang kesedihan, yang ada malah sekarang bertambah macam perasaannya, yang awalnya hanya sedih, menjadi kesal juga karena emaknya tidak "menerima" perasaan sedihnya.

Iya. Kita jarang sekali "menerima" perasaan anak. Padahal, kesedihan adalah sebuah rasa yang datang secara alamiah. Kesedihan adalah sebuah perasaan yang pasti ada di dalam diri kita. Dan, ketika kita berkata "jangan sedih yaaa..." meskipun dengan nada sangat rendah, tetap saja artinya kita menolak untuk menerima perasaan sedih tersebut kan yaa... Apalagi ditambah dengan nasihat-nasihat seperti "naak, kamu nangis juga ga bakalan menghidupkan kembali burungnya..." atau penjelasan logis "burung itu sudah matiii... ga bisa main lagii...", di saat kesedihannya sedang memuncak. It's will be helpful?! Even gaya "menghibur" kita saja dengan menjanjikan "akan membelikan burung yang baru" tidak cukup untuk membuatnya senang kembali, apalagi ketambahan nasihat atau penjelasan logis. Bisa masuk nasihatnya ke anak? Bisa masuk penjelasan logisnya? Of course NO!


Kita sebagai orang dewasa saja, dalam relasi pertemanan atau kepada pasangan misalnya, pasti juga tak suka jika perasaan kita "ditolak". Misal, kita lagi sebel seharian, lalu ketika kita curhat, respon yang kita terima adalah "udah, ga usah kesal... bla... bla... kamu itu harusnya tak begitu, kamu harusnya begini...". Sudah pasti jawaban itu bukan bikin sebel hilang, melainkan malah makin sebel. Apalagi sampai kita "disalahkan" dengan kalimat pembuka "kamu seharusnya tak begitu...". Yang ada kita malah self defense! Kita secara alamiah, pasti akan melakukan "pembelaan diri" ketika kita disalahkan atau disudutkan. Iya kan? Atau nasihat. Ketika kita dalam keadaan sebel dan kesal, bisakah kita menerima nasihat, meski pun nasihat itu BENAR? Oh NO! Yang ada malah kita semakin kesal dan bertambahlah macam perasaan kita yang awalnya cuma sebel menjadi marah dan emosi.
Apa yang sebenarnya kita butuhkan? Yep! Sangat simpel. Hanya butuh diterima perasaan sebel kita dan hanya butuh didengar saja.


Begitu pula dengan anak. Kita saja yang sudah mengenali logika, mampu menghubungkan sebab akibat, tetaap tidak bisa "menerima" sebuah nasihat yang benar ketika kita berada di puncak suatu perasaan negatif (misal sedih dan kesal), apalagi anak yang notabene belum mengenal logika dan penjelasan logis! Yang anak butuhkan adalah "penerimaan perasaan", just it!


Coba kita dengar jawaban Rasulullah terhadap Abu Umair. Kenapa Rasulullah tidak berkata "Janganlah bersedih wahai Abu Umair" ketika mendapati Abu Umair kehilangan burungnya? Rasulullah justru mengucapkan "Wahai Abu Umair, burung kecilmu sedang apa?"

Lalu, apa respon kita untuk contoh kasus di atas?
Mungkin kita bisa merespon dengan kalimat Simpel saja yang mendukung perasaannya, "kamu pasti sangat sedih yaa kehilangan burung kesayangan..." lalu cukup dengarkan saja. Sesekali timpali dengan gumaman "ohh...", "hmm...", "i see...", "i feel u..."


Lantas kapan dong menasihati dan memberi penjelasan? Jika anak sudah pada usia bisa memahami, kita bisa menjelaskan ketika anak dalam kondisi senang dan tenang. Ketika perasaan gembira, segala sesuatu akan sangat mudah diterima. Jangankan anak, orang dewasa saja begitu kan yaa...


Begitulah. Meskipun ini kedengarannya mudah, tapi pada pelaksanaannya tidaklah semudah pengucapannya. Kita--apalagi dengan kebiasaan kita yang lebih sering menolak perasaan--butuh berlatih berulang kali. Ini tentu tidak didapat secara alamiah. Sebagaimana alamiahnya kita mengucap respon penolakan karena kita sudah sangat terbiasa melakukannya. Kita butuh berlatih dan terus berlatih untuk bisa memberikan respon penerimaan, bukan respon sebaliknya.


Ya. Kita tidak selalu dalam kondisi baik dan hati senang. Ada masanya juga kita marah. Kesal. Emosi. Lelah. Terburu-buru. Kondisi ini sering kali membuat kata-kata kita menjadi tak terkontrol. Dan respon berupa penolakan, nasihat, ejekan, kritikan, peremehan dan bahkan ancaman lebih mudah muncul di masa-masa kita sendiri sedang dalam kondisi tak stabil. Di kondisi seperti ini, kita mungkin lebih merasa "puas" jika kita ngomel-ngomel kepada anak. Dan lebih sering kata-kata kurang baik yang keluar yang kita sendiri mungkin kemudian merasa malu mendengarnya ketika kita dalam kondisi stabil. Hehe...


Apa yang harus kita lakukan?! Tarik nafas dalam dan ta'awudz! Seperti yang Rasulullah ajarkan, "Berkata baik atau diam!" Ya, ini kuncinya. Jika kita tidak mampu berkata baik pada saat itu, maka yang lebih baik adalah DIAM.


Smoga Allah memudahkan langkah kita, melembutkan lisan kita kepada sosok-sosok polos yang Allah amanahkan kepada kita... Sebab kita akan ditanyai kelak.

Tulisan sederhana ini adalah sedikit rangkuman dari sekian banyak poin yang dibahas di kelas komunikasi yang digawangi oleh mba Dara. Jazakillahu khair katsir yaa Mba Dara, you are inspiring me...


Disclaimer:
Aku menuliskan bukan karena totally sudah bisa mempraktekkannya. Aku masih jauuhh sekalii dan masih tertatih untuk berbenah. Masih mengeja dan masih belajar untuk berkomunikasi yang baik penuh cinta kepada sang buah cinta. Aku menulis ini lebih dikarenakan sebagai pengingat diri sendiri (dan barang kali bisa memberi manfaat buat sesama). Menuliskan, buatku berarti membuatnya lebih lama lekang di ingatan, in shaa Allah....

Feel free untuk dikoreksi, ditambahkan dan diingatkan. Mohon maaf jika ada salah kata...


======
Riyadh, 4 Rabi'ul Awwal 1439 H
Kalimat penghangat untuk menyongsong musim dingin 😊



Read More

Sebab Akulah yang Akan Ditanya

Aku tertegun cukup lama memandangi pesan dari adik kelasku tentang pernyataan dosen kesayanganku semasa kuliah dulu kepada mereka. Intinya, semoga nanti aku bisa berkontribusi kembali di dunia yang telah aku sedikit ilmui tentangnya; clinical pharmacy. Aku hampir tidak percaya beliau masih mengingatku sejak lebih dari 4 tahun aku lulus dari kuliah. Di antara ratusan mahasiswa beliau. She is one of my best lecture.

Sejenak berhamburan lah ingatan-ingatan tentang teman-teman seangkatan dulunya, yang kini telah berada di mana-mana. Menjadi dosen di luar negeri. Melanjutkan sekolah ke luar negeri. Bekerja as a clinical pharmacist di sebuah rumah sakit besar. Tetiba aku merasa menciut dan jauh. Ya... ya... ya..., aku merasa telah menjauh dan semakin menjauh dari bidang ilmu yang dulu pernah aku geluti secara lebih mendalam. Meski bukan berarti serta merta aku sudah berilmu tentang itu. Maksudku, aku pernah mempelajarinya lebih intens dulunya. Dan kini, aku merasa sangat jauh tertinggal. Ibarat naik kereta, mereka sudah jauh menuju utara dan aku malah menuju ke selatan. Hehe... Sejujurnya, kadang ada rasa untuk ingin mengejar mereka kembali. Melanjutkan kuliah lagi. Hadir di berbagai forum ilmiah, membahas ini dan itu. Publikasi penelitian di seminar dan workshop setara internasional. Berkontribusi di bidang farmasi klinis as best as I can.

Dalam perenungan panjang, kembali aku tersadar. Bahwa memang apa yang aku inginkan, cita-citakan itu tidaklah salah. Namun, jika melihat kembali 4 tahun yang aku jalani ini, sesungguhnya adalah juga tahun-tahun terbaik dalam hidupku. Tidak semua orang dapat menyaksikan anak-anaknya dapat tertawa untuk pertama kalinya, tengkurap pertama kalinya, berjalan pertama kalinya. Membersamai mereka--meski dengan segenap salah dan kekurangsabaran yang aku sedang tertatih untuk mengejanya--adalah wonderful time dalam hidupku yang tak bisa digantikan oleh waktu-waktu lain. Iya, mereka adalah alasan terbaik yang membuat aku lebih memilih berjalan menuju ke arah selatan di saat teman-temanku telah melaju ke utara. Lalu,  sebuah pertanyaan berat: apalagi yang aku kejar?! Benarkah sebuah kontribusi, atau hanya sekedar eksistensi?

Menjadi Ibu Rumah Tangga adalah cita-cita utamaku sedari dulu. Dan meskipun Menjadi clinical pharmacist juga adalah cita-citaku, tapi tentang peranku sebagai seorang istri dan ibu, inilah yang kelak akan ditanya. Menjadi seorang clinical pharmacist, mungkin bisa 'di-subcontract-kan' kepada orang lain. Ada orang lain yang bisa mengambil kontribusi ini selainku. Tapi, menjadi seorang istri dan ibu, dapatkah aku men-subkontrakkan nya kepada orang lain sementara akulah yang akan ditanyai kelak oleh-Nya dan dimintai pertanggungjawabannya.

Oleh sebab aku menyadari bahwa aku bukan superwoman yang bisa melakukan dua hal sekaligus dalam waktu bersamaan dengan sangat baik, maka aku harus memilih salah satunya. Dan karena aku telah memilih 'melepaskan' satu kesempatan untuk berkontribusi di dunia farmasi klinis, maka aku seharusnya melakukan yang terbaik dan all out di pilihan yang aku telah ambil; menjadi sebaik-baiknya madrasatul 'ula. Aku tentu tidak ingin 'merugi', melepaskan satu pilihan, sementara di pilihan yang lain aku membiarkannya berlalu begitu saja tanpa ada upaya terbaik. Aku pasti akan menyesalinya jika aku tidak melakukan sebaik-baik pencapaian di pilihan yang aku pilih ini. Sebab, waktuku sesungguhnya sangat singkat. Aku tidak bisa berlama-lama termangu.

Iya.
Inilah masaku. Inilah pilihanku saat ini. Aku ingin melakukan yang terbaik, memberikan upaya yang terbaik, do'a terbaik untuk mereka yang menjadi alasan pilihanku. Boleh jadi, saat ini aku tidak bisa berkontribusi di bidang farmasi klinis. Tapi, aku ingin output terbaik bagi anak-anakku. Mungkin, belum saat ini aku melihat hasilnya. Mungkin, berpuluh tahun lagi. Aku tak ingin melewati masa emas yang singkat ini dengan biasa-biasa saja.

Aku menyadari, anak-anak tak selamanya bayi. Tak selamanya balita. Tak selamanya kanak-kanak. Akan ada masa mereka meremaja dan mendewasa. Mungkin, pada masa itulah--jika Allah menghendaki usia yang panjang dan semoga usia yang barokah--aku berkontribusi untuk cita-cita keduaku. Saat anak-anak sudah memiliki jalan mereka sendiri. Dan, sekali lagi, aku memilih ini oleh sebab akulah yang akan ditanya, tentang mereka, tentang amanah yang telah Dia berikan.

Let's do the best in this best time...
Semangaaaaattt...!!!
😚

Read More

Ayah is the Favorite

Sudah semenjak kecil dulu, ketika terdengar kunci pintu rumah diputar, "klik" Aafiya pasti akan segera menuju ke depan dengan wajah yang sangat suka citaaa "Yeeee, ayah pulaaaang...". Bahkan sebelum dia bisa ngomong, ekspresinya sudah mewakilkan betapa gembiranya dia ketika ayahnya pulang. Sayang yaa lupa direkam. Lain kali harus direkam niih ekspresi seperti ini... hehe...

Sekarang, bukan hanya Aafiya, Aasiya pun begitu. Setiap kali terdengar kunci diputar dan pintu dibuka, Aafiya nge yel-yeel "Yee ayaaah pulaaang..." lalu dengan segera larii ke pelukan ayahnya, ayahnya kemudian menggendong dan guess what the next words... "Ayaaah, maiin yoook..."
Aasiya pun sama. Mau lagi apapun, meski sedang mimik sekalipun, pasti lepas neneen dan melambaikan tangan ke ayahnya dengan wajah sangat ceria. Jika tidak dalam pelukan bundanya, pasti deh segera merangkak menuju ayah, ngikutin si uni. Laluuu, the next steep, ayahnya menggendong dua-duanya, bawa ke depan cermin dan berdo'a "Allahumma kamaa ahsanta khalqi, fahasin khuluqi..." Maka jangan heran kalo Aafiya sudah hafal do'a bercermin ini sejak dia usia 1.5 tahun. Hehehe...

Yes!O'rait!
Ayah is the favorite!
Mereka, senaaaang sekali bermain bersama ayah.
Kadang kalo lagi baper emaknya jadi bertanya-tanya juga sih, "kenapa yaa anak-anak lebih senang bermain bersama ayahnyaa..?"
Hihihihi....
Mungkin karena kalo sama bundanya sering ditinggal masak kali yeee... wkwkwkwkwkwk...
Aafiya dan ayah ketika baru bisa berjalan dulu...

Bermain bersama Ayah memiliki banyaaak sekali good effect menurutku (lebih tepatnya: menurut apa yang aku rasakan). Kalo secara teorinya mungkin bisa baca sendiri laah yaaa... Hehehe...
Setidaknya ada 3 manfaat besaar:
Pertama, anak tidak 'kehilangan' sosok ayah dalam pengasuhan.
Kehadiran dan peran serta ayah dalam pengasuhan tentu saja adalah hal yang sangat penting. Jangan sampai, ayah hanya berpikir tugasnya hanya mencari nafkah dan segala urusan mengasuh anak serahkan pada ibu. I'm really proud of Ayah Aafiya Aasiya, yang benar-benar jadi favoritnya anak-anak. Bahkan beliau tak segan ikut memandikan dan cebokin anak-anak, ma shaa Allah... Jazakallahu khair katsir Zaujiy...
Kedua, Anak dan ayah mempunyai kelekatan yang bagus.
Kelekatan ini konon kabarnya sangatlah penting bagi anak. Senaang banget rasanya melihat Aafiya bercerita apa saja sama ayahnya tentang apaa sajaa... Aafiya dan Ayahnya juga sering punya waktu khusus berdua saja. Tak perlu sampai candlelight dinner berdua juga sih (soalnya kalo candlelight dinner emaknya mesti pengen ikutan jugaa wkwkwkwkwkwk), momen-momen kecil saja. Misal buang sampah berdua sama ayah, pergi ke pharmacy berdua sama ayah, even pergi ke taman dekat rumah berdua sama ayah. I think and i see, both of them soooo enjoy this "father time". Jadi, kalau ada kata-kata "Aafiyaa, kita buang sampah yook..." mesti anaknya menyambut dengan penuh sukacita... Padahal cuma pergi buang sampah yang jaraknya tak lebih dari 200 meter dari rumah! Ma shaa Allah, ga mahal yaa ternyata memberi kebahagiaan sama anak... Bahkan dari hal-hal yang sederhana...
Ketiga, buat emak-emak, ini saatnya me time. Ketika anak-anak bermain sama ayah, para ibu bisa rehat dari pengasuhan sesaat, me time, leisure time, melakukan apa yang disukai, re-charge kembali energi, biar tetap"waras" kekeke... Percayalah, me time is intangible value prize for emak-emak... hadiah berhargaaa... Heuheu...

Alhamdulillah, itu salah satu keuntungan berdomisili di sini. Waktu ayah tidak dihabiskan di jalanan, menerjang kemacetan. Jadi, waktu bermain bersama anak jadi lebih banyak. Entahlah, jika hidup di ibu kotanya endonesiaah, mungkin hal seperti ini sulit untuk terwujud. Di sini, Abu Aafiya berangkat ngantor jam 9, siang juga bisa pulang makan siang. Jarak kantor ke rumah hanya 2 menit. Alhamdulillaah...
Tapii, bagi yang misalnya harus dihadapkan pada kondisi mesti menghadapi kemacetan dan mesti menghadapi lamanya waktu di perjalanan, tidak perlu berkecil hati. Setidaknya, minimal selalu sedia waktu (meski tidak lama) untuk bercengkrama bersama anak. Kita tidak tau apa yang akan terjadi ke depan kan yaaa... Boleh jadi saja, kami nanti juga berhadapan dengan hal yang sama. Semoga saja Allah memberikan yang terbaik selalu...
Ini waktu Aafiya masih setahunan +


Main apa aja sih Aafiya sama Ayah?
Mainnya macem-macem. Sayangnya banyak yang tidak terdokumentasikan. Hanya sedikit yang sempat di candit sama emaknya... kekekeke...

Berikut beberapa permainan yang dimainkan bersama Ayah (mana tau ada yang lagi nyari ide). Mungkin ga semua karena ga ingat semua sama emaknye inii dan (sekali lagi) ga terdokumentasi...

1. Badminton dengan kock baloon
Badminton merupakan kata yang sangat akrab bagi aafiya. karena ayahnya suka badminton. jadi, anaknya suka ngajak anaknya main badminton jugaa... hihihi...pakai kock baloon ternyata mudah dimainkan oleh anak 3 tahun
main badminton bersama ayah

2. Main peran
Aafiya dan ayah (dan akdang si kecil juga sering ikutan) main peran bersama ayah. biasanya, tergantung hal apa yang sedang mendominasi saat itu. Misal, lagi habis ke optamologist. Nanti main perannya pasti deeh main dokter optamologist. Aafiya jadi dokternya ayah jadi pasiennya, trus gantian. Cek matanya juga pake peralatan seadanya, kadang dari barang bekas yang mirip-miriplah sama peralatan optamologist.

3. Menulis cerita di papan tulis
ini adalah salah satu favorit aafiya. minta ayahnya cerita sambil digambarkan di papan tulis. jadi ayahnya akan mengarang sebuah cerita, tokohnya adalah tokoh nyata yaitu aafiya sendiri, aasiya, ayah bunda, kadang juga teman-teman aafiya dan aasiya ikut dalam ceritanya. Hihihi... Kayaknya ayah jauh lebih berbakat niih membuat ceritaa..
lagi bikin cerita sama ayah

4. Membaca cerita
Ini juga salah satu favorit aafiya. dia nenteng beberapa buku, kaish ke ayah sambil bilang "ayaaah, kita cerita nabi ibrahim yook..." sambil menyerahkan buku cerita nabi ibrahim.

5. Main lego
membangun rumah bersama ayah. nanti aafiya bikinin rumah buat ayah, bunda dan dedek katanya..

6. Main shape
jadi ada mainan shape (triangle, circle, square, star and  plus), mainannya bukan cuma dimainin biasa dengan masukin ke box shape nya. Tapi kadang disusun tinggi-tinggi dan lain sebagainya. Ayahnya kreatif banget ma shaa Allah bikin mainan satu jenis bisa dimainkan dengan banyak cara.

7. Main bendera
jadi kita sempat beli mainan bendera negara-negara di dunia plus petanya. aafiya senang banget main bendera ini meskipun belum bisa nancepin bendera di negara yang benar. dia lebih senang melihat kemiripan, misal bendera amerika ditaruh dekat dengan bendara malaysia karena mirip. bendera indonesia ditaruh di negara poland karena warnanya kebalikan. atau dideket ukraine karena mirip cuma beda warna doang. Hihihi...

8. main masak-masakan
sama ayah bisa juga lho main amsak-masakan. Jangan kira cuma sama emak-emak aja. Hihihi... Tapi kalo sama ayah, pretending aafiya bikinin ayah masakan . jadi ayahnya bakalan request "aafiya tolong bikinin ayah telur dadaar" heuheu... Trus dikasi lah tuh piring sama sendok yang ada telurnya ketika sudah "matang" dan ayah pun pretending lagi makan makanan bikinan aafiya yang sangat lezaaat.

9. Main mobil-mobilan
ini bukan mobil-mobilan beneran. tapi bantalan kursi majlis yang diimajinasikan aafiya sebagai mobil yang lagi dia setir. "ayaah, mau ke mana... aafiya yang nyetir yaa.. ayah duduk di belakang"

10. Main sepeda di taman
you are getting older now my little girl... lagi main sepeda sama Ayah
11. Main pasir dan bikin gedung, benteng, perahu
ini favorit aafiya kalo lagi naman sama ayah
bikin sesuatu dari pasir.. kinds of sensory playing
12. Main ayunan, prosotan, kuda-kudaan di taman
Ini salah satu kelebihan tinggal di sini lainnya. Aneka permainan playground seperti ini tersedia amat sangat sangat sangat banyaaaaak sekaliiii di berbagai tempat. Ga perlu bayar kalo mau ngajak anak main di playground. Semuanya tersedia gratis di taman-taman terdekat di setiap kecamatan, kelurahan mungkin. Deket rumah banyaak sekali taman yang pasti selalu menyediakan playground buat anak-anak. Benar-benar ramah anak menurutku...
when she was 1 yr old
boleh main perosotan sepuas-puasnyaaa, gratiisss...

pasir dan peralatannya sudah tersedia, anak tinggal main doang, ma shaa Allah....

13. Berkuda
berkuda bersama ayah (tapi ini difoto pas udah selesai berkudanya, jadi kudanya sudah diiketin ke tiangnya hehehehe)

14. Main petak umpet
ga perlu dijelaskan lebih jauh kayaknya klo yang ini maah wkwkwkwk


Masih banyak jenis main lainnya, misal Main baloon, Menggambar bersama, Main saxophone, Main boneka dan lain sebagainya. Intinya, main apaaaa sajaa bisa dilakukan. Tak mesti punya banyak mainan. Barang bekas pun bisa jadi mainan...


Okeh, selamat bermain bersama ayah
Read More

Just Self Contemplation

Postingan ini masih related to Cita-Cita Sangat "Sederhana" yang aku posting sebelumnya. Berhubung ini adalah blog pribadi yang kebanyakan isinya adalah curcol dan tidak bisa dijadikan referensi ilmiah tentunya, maka isinya pasti mengikuti mood dan suasana hati serta preferensi hal yang sedang diminati pemilikinya. Hihi... Ya, jadii... aku nulis ya nulis aja. Seperti air yang mengalir sesuai dengan hukum alamnya, ke tempat yang rendah. Nulis buat aku, semacam leisure time lah meskipun kebanyakan tersimpan di draft doang karena ga sempat dituliskan. Paling kalo semua isi keluarga sudah bobo cantik dan bobo ganteng, baru deh aku nuliis. Daaan, serunya adalah... di blog ini juga aku kebanyakan pakek credo "tulisin apa yang dipikirin", bukan "pikirin apa yang ditulisin". Jadii bener-bener depend on situation and condition, preferensi, minat, ketertarikan atau apalaaah saat aku nulis... misal lagi TA ya pasti seputar dunia ke-TA an, dan kalo udah jadi emak, preferensinya  pasti berhubungan dengan dunia per-emak-an😄. Okeeh sepertinya aku tidak perlu memperpanjang mukaddimah lagi yang biasanya memang selalu panjang lebar dulu sebelum bener-bener sampai ke inti permasalahannya... wkwkwkwk... 😂

Berhubung aku lagi sedikit mendalami dunia parenting dan dalam rangka berbenah seperti yang aku ceritakan sebelumnya (kali ada yang tertarik, jadi sila klik aja link nya di atas yaak), maka yang aku tulis masi seputar ini laah...

Kali ini tentang kontempelasi diri, merenung, meresapi dan mempelajari soal 'rasa' yang muncul di hati... Iya, tentang rasa... karena wanita lebih mengutamakan rasa? Ahh lupakan dulu soal diferensiasi lelaki dan wanita tentang porsi rasa dalam mendominasi keputusan atau reaksi sikap yang dimunculkan atas sesuatu kejadian atau hal. Heuheu... Mari memberi kanal saja untuk rasa yang ada di hati... ☺😊

Setelah mulai sedikit berbenah, menjemput kembali yang tertinggal, mengilmui kembali yang seharusnya diilmui dari sedari dulu kala, berasa diri ini masih sangat jauh. Semakin digali, semakin berasa banyak rombengannya... Tapi, semangat itu benar-benar sangat fluktuatif. It's hard to maintenance the spirit in "therapeutic" window...

Ya, kadang terasa sangat bersemangat sekali... Tapi, di satu titik merasa lelah sendiri...

Fiiuuftt... Bismillaah...
(Pakek menghela nafas panjang dulu sebelum menuliskan ini... Sebagaimana memang menulis tentang ini tak mudah buat aku)...
Terkait artikel sebelumnya tentang berbenah, ada satu dari dua point yang paling urgent untuk dibenahi terlebih dahulu (yang mungkin saja keduanya saling berkaitan satu sama lain). Point pertama adalah emotion stabilizer dan point kedua adalah how to talk with kid and kid will listen (bahasa singkatnya: komunikasi). Nah yang menjadi perenunganku  adalah point pertama (tanpa menafikan pentingnya point kedua). Tentang emotion stabilizer.

Setelah melewati perenungan panjang, aku menyadari bahwa aku terkadang (dan mungkin cukup sering) berada pada titik labil emosi kepada anak. Bahasa sederhananya; marah dan emosi yang sulit dikendalikan 😣. Kadang hanyalah menyoal hal sepele (dan anak-anak tetaplah anak-anak yang belum megerti apa-apa, sedang belajar mengeksplorasi dunia). Dan, kemudian berujung pada penyesalan setelahnya (setelah cooling down). Buntut terseringnya adalah merasa down, merasa tidak menjadi ibu yang baik, merasa wanna escape and going alone far far far away untuk sesaat... Lalu satu pertanyaan muncul tanpa permisi, "hey! What's wrong with me... Kenapaaa aku beginiiii?"

Ketika masih single, aku merasa tak begini dulunyaaa... Jika pun ada emosi, tidak sampai sebegininya. Kenapa sangat mudah tercetus bahkan buat hal-hal yang sangat sepele sekalipun jika terkait soal anak? Astaghfirullah...
Selalu berjanji untuk memperbaiki, tapi kerap pula terulang lagi dan lagi! 😢

Setelah aku berpikir mendalam, kesimpulan yang aku kantongi adalah; bisa jadi aku berada di titik saturasi, bisa jadi karena kurang merasa menjadi diri sendiri di saat memang urusan di luar diri yang harus segera dipenuhi terlebih dahulu. Di saat merasa diri tak berarti dan tak berdaya guna. Di saat merasa sangat sangat sangat down... Bisa jadi aku sedang sangat mengantuk dan ingin tidur sementara kondisinya membuatku tidak memungkinkan untuk tidur... Bisa jadi... Bisa jadi... Bisa jadi... (banyak hal lainnya mungkin).
Selama ini support dari suami sangat membantuku dan sudah menjadi emotion stabilizer bjat aku. Big hug ketika down even not in down condition. Big appreciate even in a small achievement. Waktu untuk melakukan "me time". Great help di pekerjaan rumah tangga. Semua "pupuk jiwa" ini sudah diberikan oleh suamiku tercinta (Ma shaa Allah... Jazakallah wa Barakallahu fiik ya Zaujiy...). Tetiba ada satu kata yang tiba-tiba muncul menyoal ini dan cukup menggentayangi fikiranku: inner child!

Inner child. Kata yang sebenarnya sangat sulit untuk aku deskripsikan. Konon kabarnya, inner child (terutama untuk perasaan negatif) ini akan muncul ketika kita berada di situasi yang berat, jenuh, emosi dan kita akan mengekspresikannya sama seperti apa yang pernah kita alami atau menuntut kita "memenuhi kekosongan" yang sempat kita ingini atau kita butuhkan dulunya, jauh ketika kita belum mengingati sesuatu. Tersimpan rapi di alam bawah sadar kita, dan terpanggil kembali ketika kita menghadapi situasi yang sama ketika kita dewasa.

Ketika kondisi kita normal, mungkin kita merasa baik-baik saja. Yes, i'm OK. Ga ada yang salah dengan aku. Tapi, pada satu titik ketika kita merasa "out of control" mungkin kita akan bertanya-tanya pada diri kita "mengapa aku sebegininya", "mengapa aku mudah sekali tercetus marahnya", "mengapa aku sulit sekali mengambil keputusan", dan sederetan "mengapa aku..." lainnya. Dan kadang aku bertanya seperti itu ke dalam diriku sediri...

Tapi, aku sendiri merasa sejauh ini belum bisa menggali lebih dalam mengenai inner child ku. Aku belum berani untuk 'jujur' pada diriku sendiri untuk membuka lembaran memori lalu. Membiarkannya jauh jauh dan sangat jauh tersimpan dalam peti memori...
Tapi, dalam perenungan, tetiba saja pertanyaan pertanyaan itu muncul di relung hati. Butuh jawaban kah? Entahlah, sejauh ini aku masih missing tentang ini...

Bingung yaa bacanya? Haha... Iya. Maafkan, ini hanyalah sekedar kontemplasiku saja dan ketahuilah bahwa sebenarnya aku juga masih bingung dengan inner childku sendiri. Yang aku rasakan adalah aku membutuhkan emotion stabilizer yang bersumber dari diriku sendiri. Untuk emotion stabilizer external mungkin aku sudah dapatkan dari suami, tapi tetap saja aku membutuhkan emotion stabilizer internal; Mendamaikan inner childku sendiri sebelum menjadi pendidik dan pengasuh yang baik untuk anak-anakku.

Setiap orang (ibu) pastilah ingin menjadi lebih baik dan ingin menghasilkan generasi yang lebih baik dari dirinya. Setiap orang (ibu) pastilah tidak ingin mewarisi dari generasi ke generasi tentang inner child yang buruk dan emosi negatif yang pernah ia terima... Dan pertama kali yang seharusnya ia lakukan adalah "mendamaikan inner child nya sendiri".

Aku in shaa Allah ingin bahas lebih jauh lagi soal emotion stabilizer ini. In shaa Allah di lain waktu... Karena ini judulnya adalah self contemplation, maka aku murni menuliskan tentang kontemplasi saja dan tak ingin berpanjang-panjang merumuskan solusi di sini... 😄

Read More

Cita-Cita Sangat "Sederhana"

Disclaimer:

Konten ini berisi curhat colongan. Isinya panjang kali lebar kali tinggi (volume dong yaa?!). Jadii, harap berpikir-pikir dulu sebelum membaca lebih lanjut! Jika masih tetap ingin membacanya, harap siapkan segelas teh, secangkir kopi, atau cokelat hangat di musim hujan atau musim gugur ini. Jangan lupa sepiring camilan. (Lagian siapa juga yang baca sih Fathel? wkwkwkwk... gede rasa ajah aahh).

Baiklah, kali ini mungkin aku akan sedikit berpanjang lebar. Dan itulah bahagianya punya blog yang pengunjungnya bisa dihitung jari. Hanya orang-orang serius sajalah yang akan rela mengetik URL dan mampir di mari. Maksudnya, kalo ga serius ga usah mampir apalagi ngomong sama orang tuanya buat ngelamar... itu PHP namanya.. #ehhh...
Jadi, karena ga harus 'berinteraksi' apalagi nungguin likers wkwkwkwk, dengan blog kita bisa bebas berekspresi. Suka-suka mau bikin apaa, pure from the bottom of the heart... Makanya, blog selalu lebih mempesona buat aku ketimbang eksis di dunia medsos (dan udah mencapai titik saturasi juga kali yaa untuk bermedsosan yang dulu memang pernah mengalami masa jaya. Apa-apa di share ke medsos. Apa apa di curhatin ke medsos. Ahh, pengen nutup muka pakek niqob ihrom kalo inget masa-masa alay ini... Hihihi..).
Lho..lho... ini malah mukaddimahnya terlalu panjang kayak tali telepon yak. wkwkwkwk...

kembali ke judulnya, Cita-cita sangat sederhana.
Mendengar kata sederhana (apalagi dibubuhi kata 'sangat'), kira-kira apa yang ada di pikiran kita dan kebanyakan orang?
Mungkin kata-kata yang tepat untuk mewakilinya adalah simple, gampang, mudah, tidak butuh banyak efforts, bisa sambil lalu, hmm.. apalagi yaa? Bahkan salah satu soal ujian di pelajaran matematika zaman SMP atau SMA berbunyi "sederhanakanlah persamaan berikut!" yang berarti persamaan yang terlihat rumit itu diuraikan menjadi bentuk paling sederhana.
Ya begitulah si sederhana (salah satu pengecualiannya adalah sebuah nama rumah makan yang bikin saku ga sederhana sih).
Tapi, sebagaimana si rumah makan itu, begitulah sederhana. Tak selamanya sederhana itu mudah, simple dan tak butuh efforts. Ada sederhana yang sangat rumit. Ada sederhana yang sangat tak mudah. Salah satunya (selain nama si rumah makan) adalah sebuah cita-cita.

Cita-cita sangat sederhana.
Jika aku dulu ditanyakan, "apa cita-citamu?". Ketika setiap teman-teman seperkuliahan yang memang kebanyakan perempuan menjawab ingin menjadi pharmacist ini, pharmacist itu (pharmacist banyak bidangnya lho fyi!), aku menjawab spontan "Cita-citaku sangat sederhana, ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik. Lalu, cita-cita sampingan ingin menjadi farmasis yang berdaya guna."
Dulu... Duluuu sekali... satu dasawarsa yang lalu. Jika kamu iseng mengetikkan keyword 'Ibu rumah tangga yang baik' di blog ini, maka kamu akan menjumpai banyaaaak sekali tulisan-tulisanku (yang semoga ga kebanyakan alay ala anak mahasiswa) yang bertajuk ini. Kayak macam udah pakar aja... Padahal asline yoo ndak berilmuuu aku ini. Kalau aku baca lagi, sungguh aku jadi malu pada diri sendiri. Tentang apa yang sudah kutuliskan. Tentang keidealisanku yang waktu itu masih jadi penonton, bukan pelakon. Komentator, bukan pemain. Ya, tolong dimaafkan saja yaa. Maklumilah mahasiswaa, sangat idealis, belum berjumpa dunia nyatanya.

Ya begitulah. Aku, meskipun dulu sangat menyukai dunia parenting, membaca berbagai buku pengasuhan anak, tetap saja merasa menjadi ibu rumah tangga itu bukanlah hal yang mudah dan aku merasa sama sekali tak memiliki bekal apa-apa. tetap saja masih sangat sangat sangat sangat sangat.... sangat jauh dari sosok ibu rumah tangga yang baik. Menjadi ibu rumah tangga sama sekali tidak semudah dan sesederhana pengucapannya. Sama sekali tidak sesimpel yang aku bayangkan dulunya. Dan mungkin jauh lebih susah dari pada menjadi quality assurance staff even manager di sebuah industri obat, menjadi clinical pharmacist yang handal di sebuah rumah sakit besar yang hafal sepuluh ribu macam obat berikut drug related problem nya. Ah, menjadi ibu rumah tangga lebih rumit dari itu menurutku. Memiliki cita-cita sangat sederhana: menjadi ibu rumah tangga yang baik benar-benar tidak mudah, butuh efforts yang banyak, tidak simple, complicated, butuh kesabaran tingkat tinggi dan sangat butuh ilmu!

Menjadi ibu rumah tangga menurut pandangan orang kebanyakan (apalagi ibu-ibu jaman dulu kali yaa) bukanlah hal yang perlu diistimewakan. Hal biasa. Bisa sambil lalu. Atau sesuatu yang harusnya begitu, sudah kodratnya. Ga butuh apapun koq. Tinggal jalani aja.
Ah, ternyata cara berpikir seperti inilah yang ternyata sudah salah sejak awal. Banyak orang (terutama di kampungku, entah di kampung atau kota lainnya) berpikir bahwa menjadi ibu rumah tangga itu sudah seharusnya, tapi bisa memiliki pekerjaan yang bonafid, itu baru istimewa. Sebutlah menjadi PNS (sebuah prestise yang bonafid ala kampungku dan aku pernah sekali ikut tes PNS juga hihihi dan meskipun pada orang jaman now menjadi PNS sudah disebut cita-cita jadul ketinggalan jaman hehe) tetap menjadi sesuatu yang dikejar. Ya, aku juga tidak bisa menggenaralisasi untuk semua orang tentunya. Ada orang tua tunggal yang mau tak mau harus bekerja menghidupi anaknya. Ada orang yang sangat sangat membutuhkan pekerjaan yang diluar kondisi normal. Aku sedang bicara tentang persepsi ibu rumah tangga dalam konteks secara umum dan kondisi tanpa pengecualian.
 
Mengapa aku bisa mengatakan bahwa menjadi ibu rumah tangga jauh lebih rumit dari pada menjadi quality assurance manager di sebuah industri obat, menjadi clinical pharmacist yang handal di sebuah rumah sakit besar yang hafal sepuluh ribu macam obat berikut drug related problem nya? Seperti yang dijelaskan oleh temanku (aku hanya mengutip dengan menggunakan bahasa sendiri) bahwa generasi sekarang dipersiapkan bukan untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik tapi dipersiapkan untuk menjadi wanita karir. Meningkatnya taraf pendidikan (dengan banyaknya wanita yang bersekolah hingga tingkat lanjut) serta merta membawa dampak bahwa wanita lebih siap menjadi ekonom,akuntan, scientis, arsitek, dokter, farmasis, bidan, perawat, engineer, guru, dari pada menjadi ibu rumah tangga. Apalagi dibubuhi dengan cara pandang menjadi ibu rumah tangga adalah sesuatu yang seharusnya secara kodrat mesti dilalui, bukan dipandang sesuatu yang mesti dipersiapkan dan diilmui.

That's what happen to me. Alhamdulillah Allah kabulkan cita-citaku untuk menjadi ibu rumah tangga (yang masih tertatih-tatih menuju baik). Sejujurnya, setelah menjadi pelakon bukan penonton; pemain bukan komentator, aku merasa lebih siap untuk menjadi clinical pharmacist dari pada menjadi ibu rumah tangga. Sebab, menjadi farmasis, aku sudah dibekali dengan ilmunya hingga bahkan 7 tahun! Tapi ketika menjadi ibu rumah tangga ternyata masih banyaaaaaaaaaaaaak dan sangaaat banyaaaaaak (entah butuh berapa huruf A lagi untuk menyatakan banyaknya) ketertinggalan yang harus aku kejar. Bahkan aku yang sudah membaca banyak buku tentang mendidik dan mengasuh anak dulunya pun, sekarang merasa menguap entah di mana itu isi bukunya. Aku merasa sama sekali tak punya bekal. Aku tak punya ilmu. Aku sungguh butuh ilmu dalam menjadi ibu rumah tangga. Dan semakin kusadari betapa menjadi ibu rumah tangga benar-benar sangat butuh persiapan, jauh melebihi karir lainnya. Menjadi ibu rumah tangga lebih dari sekedar memastikan obat layak dipasarkan atau tidak, melainkan menyiapkan sebuah miniatur peradaban. Sebuah lingkungan, hingga negara yang baik pastilah terdiri dari kumpulan-kumpulan keluarga-keluarga yang baik. Bukankah ini tugas yang berat?! Obat yang diproduksi boleh jadi cuma satu jenis yang diproduksi masal, tapi setiap anak yang lahir sungguh sangat personalize perlakuannya. Mereka unik. Mereka tak sama, bahkan dengan kita sebagai ibunya sekalipun. Apakah hal ini tak butuh disiapkan? Obat yang rusak dan tak layak dipasarkan, masih bisa diretur, masih bisa dibuat ulang, tapi generasi yang sudah terlanjur rusak? Dapatkah kita meng-undo nya? Dapatkah kita mengembalikan waktu dan mengulangi pembenahan dari awal lagi? Ahh, lagi-lagi, menjadi ibu rumah tangga bukanlah sesuatu yang kodrati semata, tapi sesuatu yang benar-benar harus diilmui sekaligus DIPERSIAPKAN!

Ya... Ya... Ya... Sekali lagi, aku benar-benar merasa sangat tertinggal jauh. Ada banyak yang missing dari persiapanku dulunya. Aku tak bersiap ketika ada kondisi di mana harus menghadapi sesuatu yang berulang yang mungkin terkadang membuat jenuh. Aku tak bersiap menghadapi karakter setiap anak yang sangat unik. Tak ada perpustakaannya. Tak ada bukunya. Yang ada hanyalah kisi-kisinya saja. Guidance yang diberikan agar tetap pada right path. Aku tak bersiap dengan selaksa kesabaran yang kadang (atau sering) kehabisan stok dan butuh renewal terus menerus. Aku tidak bersiap dengan perangkat emotion stabilizer yang membuatnya tetap stabil ketika banyak sekali pencetus-pencetusnya. Ahh... jika dilist satu persatu di sini, mungkin space postingan blog ini tak cukup untuk menampungnya, saking banyaknya persiapan yang harus dibenahi.

Ya begitulah cita-cita sederhana yang pada kenyataannya sama sekali tak sederhana. Banyak hal yang perlu dipersiapkan, dibenahi, dipelajari. Tentang bagaimana tetap memaintenance kebahagiaan di banyak kelelahan, kesalahan, ketidaksabaran, dan semoga bukan keputus-asaan--na'udzubillah. Semisal melakukan sesuatu yang berulang, pada titik jenuhnya, syaithan merayu, "Ahh Fathel, coba dulu kau terima saja tawaran menjadi dosen", "Coba kalau kamu sekarang bekerja di farmasi klinis, bidang yang kamu sukai, ilmumu pasti jauh lebih bermanfaat. Hidupmu pasti lebih menyenangkan". Atau menghembuskan rasa iri ketika melihat teman-teman seperjuangan lanjut sekolah lagi, ikut seminar ini dan itu. Ah, selalu saja banyak cara bagi syaithan untuk merenggut rasa syukur kita dan membuat apa yang orang lain miliki tampak indah. Padahal, kita saja yang kurang melihat segenap karunia-Nya pada diri kita yang membuat kita sedikit sekali bersyukur.

Masa berlalu begitu cepat. Tak berasa, Aafiya anak pertamaku sudah mencapai 3 tahun. Tiga tahun ini masih banyak kesalahanku dalam mendidik, mengasuh dan membesarkannya. Tiga tahun ini, yang sebenarnya tahun-tahun emas tapi penuh rombengan sebab kurangnya ilmu, sedikitnya sabar dan minimnya syukurku. Semoga belum terlambat untuk berbenah. Smoga belum terlambat untuk kembali menjemput bekal yang tertinggal; persiapan yang seharusnya sudah dimulai jauh-jauh hari dulunya. Bukan jauh-jauh hari lagi seharusnya, tapi jauh-jauh tahun. Ada banyak sekali PR ku. Ya, aku butuh mengilmui segala sesuatu untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik.

Support dari suami selama ini benar-benar sangat-sangat membantuku melewati dan in shaa Allah sedan dan akan menjalani masa-masa pengasuhan ini. Selain masa-masa ini sangat wonderful, penuh kenangan, dan sangat membahagiakan ketika melihat perkembangan anak, juga ada masa-masa lelah, masa berat, masa jenuh, masa merasa tak punya banyak waktu. Percayalah, bahwa pelukan sesering mungkin, bercerita berdua meng-kanal-kan isi hati, dan waktu me time adalah hadiah yang tak ternilai harganya, intangible value prize yang diberikan seorang suami kepada istrinya. That's what my husband do. Give me many hug and time to speak only both of us about everything that's happen or what i feel (baca: denger curhat istrinya). And also at least 2 hours per day to do "me time". It's really-really kind of encouraging for me... Membantu jiwa tetap segar, memaintenance kebahagiaan. Me time berarti ayah bermain bersama anak, itu juga memiliki dampak positif kelekatan anak bersama ayahnya, dan menghadirkan peran serta ayah dalam pengasuhan. Doble-doble prize deeh.. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah... Ma shaa Allah tabarakallah.. Jazakallahun khair katsir Zaujiy...

Bismillaah...
Mulai berbenah, menjemput bekal yang tertinggal dan melangkah!
Smoga cita-cita menjadi ibu rumah tangga yang baik bisa tercapai dan terwujud.
Sungguh, tak perlu jauh-jauh mencari kebahagiaan. Ada di sini, di hati. Dengan banyaknya rasa syukur atas segenap karunia-Nya, itulah kebahagiaan yang sesungguhnya. Menyukuri setiap garisan yang ditetapkan-Nya dan mencoba menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Di luar sana, banyak orang yang masih memimpikan memiliki anak, anak yang aktif dan ceria. Kita, tinggal menjalani saja, masihkah banyak keluh kesah? Bersyukur... bersyukur... bersyukur.... Dan juga bersabar...bersabar...bersabaar... Ini masa tidaklah lama. Sebentar saja. Waktu berlari sangat kencang. Oleh sebab sebentar itulah, kita harus memperlakukannya dengan sebaik-baik perlakukan. Agar masa tak berlalu sia-sia. Lalu bagaimana kita mempertanggungjawabkannya, jika hanya catatan sia-sia yang kita punya. #justselfreminder

Read More

Trip ke Jabal Qarah di Hofuf


Jadi ceritanya Alhamdulillah, kami sampai juga di Hofuf, Al Ahsaa, sebuah kota di provinsi wilayah timur Saudi. Jarak Kota Riyadh ke Hofuf adalah sekitar 350 KM. Sebenarnya trip ke Hofuf ini sudah agak lama kami rencanakan. Tapi tertunda sampai dua kali karena selalu kehabisan tiket kereta api. Kenapa mesti pakai kereta api?? Kan seharusnya bisa ke sana tanpa harus menunggu kereta dulu. Hihi… Ya ini salah satu bagian dari planning trip kali ini juga. Karena, selain pengen ngerasain gimana sih naik kereta di jazirah gurun, juga pengen memperkenalkan kepada Aafiya tentang kereta api beneran… Biar di pikiran Aafiya kereta itu bukan Cuma kereta-keretaan yang ada di Salam park aja. Karena Aafiya selama ini taunya kereta itu yaa kereta-kereta apian yang ada di Salam Park doang. Hihihi… Dan Aafiya excited banget naik kereta yang mana transportasi kereta tidak begitu popular bagi kami di sini (tidak seperti di Indonesia yang bisa naik Commuter misalnya). Dalam perjalanan pulang pergi anaknya sama sekali ga tidur. Bolak balik mulu ke kursi emaknya, kursi bapaknya, kursi dia sendiri dan kursi kosong sebelah kami…
Pas turun ketika balik ke Riyadh pun, anaknya masi pengen tetep di stasiun buat ngeliatin kereta berikutnya berangkat… Kekekeke… Pengalaman kami naik kereta di sini juga menyenangkan. Keretanya spacious, nyaman dan bagus. Alhamdulillaah… Ada on board sale juga kalo laper dan ndak sempat sarapan atau jajan sebelum berangkat. Ya lumayan laa, semacam keripik  kentang, air, teh, kopi, burger, hotdog, entah juga ada pop mie apa gak. Hihi…
Jika ingin berangkat PP yang jangka waktunya Cuma 1 hari dengan kereta ke Hofuf ini (maksudnya berangkat dan pulang di hari yang sama), sebaiknya booking minimal 2 minggu sebelum keberangkatan. Kami sudah mencoba booking 1 minggu sebelum berangkat, dan ternyata sudah kehabisan tiket balik dari Hofuf ke Riyadh. Kecuali mau nginep di Hofuf sih…. Hehe…Tapii, menurutku, ga perlu nginep di Hofuf. Karena trip ini tak menghabiskan waktu lebih dari setengah hari... :) Kami berangkat juga ndak begitu pagi sih, jam 9 dari Riyadh, sampai di Hofuf jam 11... dan jam 5 sore udah berangkat lagi menuju Riyadh dan jam 7 pm we reached Riyadh again.
Oh iyaa, kebanyakan penumpang kereta adalah mahasiswa-mahasiswi yang mungkin lagi mau ujian, soalnya pada baca slide, nulis dan buka laptop di dalam kereta. Sebagian sibuk ngafalin. Jadi inget beberapa masa silam ketika masi berstatus mahasiswi jugaa. Daaan, ternyataa ga berasa sudah lamaa meninggalkan masa-masa seperti mereka ini… hihihi... Duluu, pas jadi mahasiswa (eh mahasiswi kali yaaa bukan mahasiswa) jadi ingat sebelum ujian psikiatri, aku dan Dewi ke kebun Raya Bogor, ngapal di sana di tengah gerimis. Balik dari sana pun ngapal di kereta... Hihihi...
Naah, kereta ini buat mahasiswa sendiri ada diskon khusus dengan menunjukkan kartu mahasiswa.
Wah udah panjang aja cerita soal kereta. Udah, cukup sekian cerita soal kereta.

Tujuan kami ke Hofuf ini adalah ke Qarah Montain. Jarak dari stasiun Hofuf ke Qara montain adalah sekitar 16 km. Pas naik careem (kayak go c*r atau gr*b car kalau di Indonesia) kita bilang ke Qarah Montain, orangnya bingung. Oh iyaa, mestinya bilang “Jabal Al Qarah” yaa… Kekekeke… Karena aku salah pilih koordinat lokasinya juga sih… Untung supirnya baik, mau nganter kita ke lokasi yang benar dengan nanya-nanya ke orang asli sana. Karena pas sudah sampai di lokasi yang titik koordinatnya kami pilih di careemnya, ternyata ga ada apa-apa, Cuma gunung batu kecil. Hihihi…

Meskipun judulnya “gunung”, tapi jangan bayangkan kami mendaki gunung merapi dengan membawa dua balita yak. Hihii… Al Qarah Montain adalah gunung batu yang terbentuk dengan sedimentasi alam ribuan tahun silam. Ma shaa Allah… Ma shaa Allah… Pemandangan sedimentasi di hadapan kami cukup membuat aku terpana takjub dengan kebesaran ciptaan-Nya. Kami disuguhkan landscape yang sangat indah. Maha Besar Allah, Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dengan segenap isinya. Sungguh manusia takkan mampu membuatnya.
Ketika kami memasuki cave di antara bebatuan sedimentasi itu, ma shaa Allah... ma shaa Allah... terasa sekali shifting suhu yang berganti dari panas menjadi sejuk. Maha Besar Allah yang menciptakan sedimentasi bebatuan alami yang mempesona ini. Menurut cerita reviewer yang lain, shifting suhu ini berbeda ketika musim panas dan dingin. Ketika musim panas, maka ketika memasuki cave, suhu menjadi sejuk. Sebaliknya, ketika musim dingin, kita memasuki cave dengan pergantian suhu yang menghangat di dalamnya. Ma shaa Allah... ma shaa Allah...
Pemandangan di dalam cave lebih mempesona. Jadi, ketika kita melihat ke atas, kita akan menyadari bahwa kita sedang berada di antara bebatuan besar yang tinggi menjulang. Hanya sedikit cahaya yang terlihat dari celah-celah batu di atas. Pemerintah sendiri sudah memugar sebagian cave ini (karena memang ditujukan untuk wisata sepertinya) dengan memberikan penerangan di dalamnya. Jadi, tidak perlu membawa senter pribadi atau menyalakan flash HP untuk masuk ke dalam cave bebatuan ini. Di dalam cave, serasa berada di antara labirin bebatuan sedimentasi yang menjulang. Alhamdulillah, ada lantunan ayat Al Qur'an juga di dalamnya (sepertinya pasca pemugaran) dan juga beberapa video tentang keajaiban penciptaan alam yang ditampilkan menggunakan proyektor di dinding cave.

Ma shaa Allah...
Ma shaa Allah...

Di sebelah kiri dan kanan jalan menuju cave juga banyak tulisan-tulisan yang berisikan ayat Al Qur'an, sejarah Qarah Montain, dan bentuk cave nya, dan tulisan lainnya yang aku tidak sempat baca (udah excited duluan sihh liat pemandangannya hehe). Pas jalan balik ke gedung Land of Civilization (tempat di mana kita beli tiket masuk dan enterance utama menuju cave) kita juga disuguhkan dengan ukiran di sedimentasi yang mengisahkan sejarah nabi Nuh berikut juga miniatur kapal nabi Nuh.

Bagi yang berdomisili di Saudi, mengunjungi AL Qarah montain recommanded menurutku.
Kita mesti bawa atau beli bekal sendiri sebelum mencapai Land of Civilization yang merupakan main enterance menuju Al Qarah Montain, karena kalau siang, ga ada yang jualan makanan berat apalagi nasi Padang. Untungnya kami bawa bekal dari Riyadh, seperangkat nasi Padang... Kekekeke...
Yang punya balita ga usah khawatir karena ini bukan momen mendaki gunung. Hehe... Tapi lebih baik membawa baby stroller. Aku awalnya ragu-ragu mau bawa baby stroller apa tidak mengingat keribetannya di kereta. Tapi untungnya Abu Aafiya mengusulkan untuk bawa troller yang ternyata sangat penting bawa troller ini. Ga kebayang capenya kalo ga bawa stroller. Hihi...Rempongnya pas naik kereta doang sih...

ini beberapa koleksi foto di Jabal Al Qarah...

land of civilization, main enterance to Qarah Montain cave

pemandangan dari parkiran

sesaat setelah gerbang masuk

getting lost in the stone

ma shaa Allah...

ma shaa Allah... can't say any words anymore....

pintu masuk cave

menuju cave (lagi)

pemandangan ketika pertama kali di depan pintu cave

di antara bebatuan

bebatuan dan sedikit sumber cahaya matahari

ma shaa Allah

diapit bebatuan menjulang

another labirynt

ma shaa Allah


dinding cave kayak gimana yaa? pegang dikit aahh....

another projector


melihat ke atas



my love

pintu cave (enlarge)

ada yang tiduran gituuuh :P







Read More