. Fathu Alvi | ام عافيه

Fathu Alvi | ام عافيه

  Wednesday, July 01, 2015   0 Comment

Lagi di indonesia malah kepikiran pengen lanjutin cerita seri "living in riyadh" hihihi. Abisnya... 'separuh jiwa' masi di Riyadh... :) <3

To be honest, aku liat mobil-mobil  mewah dan super mewah itu ya di Riyadh. Ngeliat mobil mewah di Riyadh sama seperti melihat av*nza atau x*nia beredar di sini. Banyaak sangaaatt. Di kampungku, sekelas inn*va, h*nda CRV itu sudah tergolong sangat sangat mewah. Di sini? Itu maaaah standar ajaah. Masi buanyaaaak cuuy mobil mewah dan berkelas lainnya.

Sampai-sampai ada rumor beredar, "kalo pengen ngerasain mobil mewah, di sini kesempatan emasnya, bro! Di indonesia ga bisa kayak gini."
Meskipun begitu... kami bukanlah pengendara mobil mewah. Hehehe....

Itu soal mobil. Lalu soal gejet. Di sini, pengguna iPh*ne bisa dibilang bejibuuuun. Sampai-sampai si iPh*ne hampir ga terlihat sebagai barang mewah lagi. Di manapun berada--di ranah publik tentunya--pengguna handphone canggih keluaran terbaru bukanlah sebuah prestise yang perlu diunjukkan kepada segenap khalayak. Sudah banyaaaak beredaaaar...

Juga soal brand bermerek. Di sini sangat sangat sangat mudah dijumpai. Perlengkapan apaaaaa sajaaaa. Jika dulu di Indonesia hanya ada di mall tertentu, di sini koq kayak "tiap 'gang' ada".

Ya begitulah lifestyle di sini. Bukan karena produk yang masuk ke sini adalah produk KW sehingga banyak beredar dan harganya relatif lebih murah dibanding di negara lain. Murah banget juga enggak kalii.. Rasional lah lebih tepatnya. Menurut analisaku (dan juga hasil diskusi dengan teman-teman), ada beberapa poin yang melatarinya:

1-Negara ini adalah negara dengan masyarakat yang memiliki daya beli tinggi. Namanya juga negara kaya. Sebagaimana orang kaya, beli apa aja nda perlu mikir panjang kan. Nah, dengan taraf hidup masyarakatnya yang tinggi, daya beli masyarakat juga tentu tinggi. Jadi, membeli barang bermerek bukanlah masalah. Sepatu harga 1,5jt bagi kita tentu hal yang sangat mewaaah dan perlu mikir sampai ratusan kali. Bagi mereka, ini bukanlah sesuatu yang perlu dipikir berulang kali.

2-negara ini adalah negara tanpa pajak. Negara yang bersandar pada prinsip dan landasan syar'i, tentu akan sangat meminimalisir hal-hal yang tidak bersesuaian. Pajak salah satunya.
Sebagaimana kita ketahui, pajak akan dibebankan pada harga barang. Itulah sebabnya harga barang (termasuk mobil) harganya memang tidak semahal di negara-negara yang berpajak. Relatif lebih murah. Ditambah lagi harga bensin yang murah dan kualitas bensin palinh rendah adalah setara pertamax nya kita, jadi mobil mewah adalah sesuatu yang why not bagi mereka.

3-real discount adalah untuk mempercepat turn over barang. Diskon di sini bukanlah mark up. Seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya di sini. Diskon sepertinya hanyalah sebentuk "jual untung" dan untuk mempercepat turn over barang. Yang aku rasakan juga gitu sih. Turn over barang cepeeeet banget. Dengan daya beli masyarakat yang tinggi, maka mereka (pemilik toko dan grupnya) sebenarnya sudah untung. Wong yang beli banyak koq. Hehe... Jadi diskon itu yaa buat nambah untung ajah... sekali lagi--turn over barang. Perputaran barang jadi cepat. Pernah nyesek banget... di m*thercare pas kami beli jaket winter buat Aafiya harganya 200 SAR. Pas diskon, barang yang sama harganya jadi 90 SAR. Hiihihi...
Jika sampai ada yg mark up diskonnya, siap-siap saja ditutup tokonya sama kementrian perdagangan.
Diskon inilah yang dimanfaatkan banget oleh emak-emak "antu diskon" wkwkwkwkwk.

Ini bukan berarti kesimpulannya bahwasannya barang-barang di sini branded semua loh yaa... Juga banyaaak koq barang-barang yang ga branded. Barang-barang dengan harga terjangkau dan ga perlu nunggu diskon. Hihihi...

Dengan lifestyle yang begini, sedikit banyaknya memberikan pengaruh sih. Dulu mana akuuh tau barang-barang branded. Hihihi... Tapi.. tidak semua keinginan itu mesti diikuti. Meskipun statisfy treshold akan meningkat seiring dengan peningkatan konsumsi kita terhadap barang branded. Eh si statisfy treshold ini cuma istilahku saja. Si ambang batas kepuasan. Misal, dulu kita terpuaskan dengan es mambo. Tapi setelah berjumpa es kacang ijo atau es mambo pake santan, statisfy treshold kita menjadi meningkat. Begitu pula ketika sudah berjumpa es w*lls... si es kacang ijo jadi terasa biasa saja. Yang mewah adalah w*lls. Tapiii setelah berjumpa si b*skin robb*n, statisfy treshold kitapun semakin meningkat... W*lls yang dulu terasa mewah kini menjadi biasa saja. Begitulah manusia... tak pernah puaas.

Tidak semua yang kita beli mesti branded. Dan lagiii... kualitas diri seseorang tidak tergantung seberapa branded apa yang dipakainya kan ya. Taqwa-lah yang di hadapan-Nya yang menjadi pembeda. Dan ilmulah yang meninggikan derjat, bukan branded.
#Nasihat untuk diri sendiri terutama ini mah :)

    0 Comment

Sambil menemani Aafiya yang ceria banget abis video call sama ayahnya (tentu saja aku seneng banget bisa video call sama Abu Aafiya. Dan jarak tentu saja akan membuat kita mengerti artinya Rindu), aku dan adekku bercerita panjang dan lebaaaaarrr... Oh iya... aku sekarang lagi di Indonesia alhamdulillaah. Dari kemarin mau nulis tulisan tersendiri tentang perjalanan dari Riyadh ke Padang yang hanya berdua Aafiya saja.. Tulisannya sudah setengah jalan... gak ter-save.. jadi mesti ngetik ulang lagii?? Pasti takkan sama feel nya.... Ya..., akhirnya tulisannya "menguap" dan dibiarkan jadi 'draft' saja. Hihihi...

Cerita kami adalah soal "masalah" yang terjadi di seputar kampung. Kampung kecil saja. Nun jauh terpelosok.. Walau tidak sampai di pinggang bukit. Hehe...
Orang-orang selalu mengira kampung lebih baik dari kota soal sosiologi... soal kemasyarakatan. Tapi, kalo menyoal "masalah" kadang hidup serba individualis ada nilai positifnya meskipun pendapat ini tidak bisa sepenuhnya dibenarkan.

Ceritanya di kampung akan mengadakan suatu acara, sebutlah acara X. Nah, sebab persoalan yang sepele... orang-orang kampung yang semula damai tentram bahagia menjadi terusik. Kita sebut itu "masalah". Ada oknum tertentu yang "senang" dengan perpecahbelahan (yang seneng pecah belah sih banyak.. biasanya emak-emak, itu loh piring, gelas, mangkok; apalagi sedang diskon... qiqiqiqiqi), tapi ini pecah belah persatuan maksudnya. Usut punya usut ternyata ada yang senang fitnah sana fitnah sini. Astaghfirullaah... Semoga Allah mengampuniku dan mengampuninya...

Akhirnya... obrolan kami menjadi seru memperbincangkan si masalah ini. Kalo chicken masala di Riyadh sono sih adalah salah satu menu favorit native. Tapi ini bukan chicken masala tentunya xixixixixi. Seru bukan karena kasusnya asyik... tapi karena sempat menyentuh ranah emosi, meski aku hanya pendengar saja. Walau sebenarnya ini tidak perlu kami masukkan ke dalam daftar hal yang mesti kami pikirkan. Tapi ini adalah wujud keinginan kami yang besar terhadap persatuan di kampung tercinta ini. Hehehe...

Masalah ini adalah masalah global (jika bisa dibilang begitu) untuk taraf kampung kecilku. Situasi tengah sedikit memanas. Aku--jika boleh--tentu gak perlu ambil pusing. It's not my bussiness... but I'm part of this people, this society. Tapi... aku tentu tidak akan bercerita panjang lebar soal masalahnya. Aku ga tau detilnya juga koq. Hihihi...

Hanya saja pelajaran berharga yang dapat dipetik dari masalah tersebut. Bahwasannya bahagianya kita, emosinya tidak perlu bergantung pada orang lain. Ini juga nasihat dari Abu Aafiya. Memangnya mereka yang menentukan kebahagiaan kita? Ahh terlalu picisan rasanya jika kita memggantungkan kebahagiaan, emosi, dan segenap rasa pada orang lain. Jadii... ngapain juga kita membuang energi untuk hal yang tidak penting ini. Alangkah lebih baiknya energi itu kita manfaatkan untuk hal yang lebih baik. Kebaikan dan keburukan adalah seperti bumerang. Adapun jika kebaikan yang kita lakukan sebenarnya akan kembali pada diri kita. Pun begitu dengan keburukan, akan kembali pula pada diri kita. Jika ada hak-hak kita yang terambil atau sengaja diambil oleh orang lain, anggaplah itu investasi jangka panjang... investasi kita di akhirat kelak.
Dari masalah yang diceritakan hingga larut ini juga menjadi reminders bagi diri kita agar tidak membicarakan keburukan orang lain selain untuk mencari solusi atas permasalahan tersebut. Kita belum tentu lebih baik. Bisa jadi itulah yang menjadi penggugur amalan yang susah payah kita lakukan. Astaghfirullaah... na'udzubillaah...

Okeeh... let's be smart to manage our emotion :)


#nasihat ini ditujukan terutama untuk diri sendiri...

  Friday, June 19, 2015   0 Comment

Setiap makan di warteg, di warung makan lainnya dulu pas di Depok, tempe-tahu (selanjutnya disingkat teta ajah yaa) bacem adalah salah satu makanan yang sama sekali tidak aku lirik. :D
Hingga pas di Riyadh, jika ada kumpul-kumpul orang Indonesia yang menyajikan teta bacem--meskipun gratis wkwkwkwk dan khas indonesia bangeeet--tetaaap ga dilirik. Bukaaan.... bukan karena teta bacem ga enaaaak. Bukan sama sekalii. Ini adalah makanan favorit nusantara terutama bagi yang berasal dari pulau Jawa yang mungkin akan selalu ada di setiap hajatan apapun maupun buat teman si lauk di meja makan.

Ini soal selera, cuy. Hehehe...
Sebagai orang Padang yang tulen pake bangeeett, masakan gurih dengan citarasa manis mungkin kurang cocok di lidah Padang-ku. Iyaa. Jadi seenak apapun si koki teta bacem meracik bumbu, seprofesional dan sebanyak apapun orang yang merekomendasikannya kepadaku, tetap saja si teta bacem ga nendang di lidah dan tidak menarik hatiku untuk mencomotnys. Makanya... setiap ada prasmanan teta bacem... aku hampir pasti akan selalu melewatkannya dan bahkan tak meliriknya. Hehe... Tampak-tampaknya masi gagal move on dari masakan Padang nih akuuh... :D

Overall, hampir semua masakan yang seharusnya gurih tapi ada citarasa 'manis'nya membuat aku tidak begitu berminat. Pun kecap. Aku adalah orang yang amat sangat jarang sekali menggunakan kecap sebagai salah satu bahan baku masakan. Jika ada di resep salah satu list nya kecap manis, aku hampir selalu meng-skip nya. Qiqiqiqiqi...
Jadiii... jangan heran jikalau kita misalnya berjumpa saat lagi makan bakso atau mie ayam atau pangsit atau apapun ituu, kamu tidak melihat sama sekali warna coklat alias tampilannya masi original kuahnya tanpa embel-embel kecap dan saos sambal di mangkokku. Hihihi... Even nasi goreng atau mie goreng sekalipun, pesananku atau yang aku bikin sendiri jika warnanya tidak merah (karena cabe), yaa pucaat (keep it's original colour. LoL).

Naaah tibalah masanya di suatu gathering komunitas Indonesia di Riyadh yang lagi mau kumpul-kumpul dan ifthar jama'i. Masing-masing istri bawa potluck dan awalnya aku mau bawa sayur tumis aja. Tetapi dari panitia aku dapat pemberitahuan bahwa aku tugasnya bawa teta bacem. Huaaa... apaaaaahh? Tetaaa baceeeeeem??? Jangankan bikinnya, icip aja hampir ga pernahhhh... Gemanaaa iniiiih??
Mau tukeran sama yang lain ga enakan karena mungkin mereka udah beli bahannya. Mau minta tolong sama teman yang kebagian menu yang sama juga ga enak ngerepotin. Galauuu dongs akuuh xixixixixi...

Akhirnya setelah searching2 resep teta bacem... aku beranikan diri jua untuk membuat teta bacem ini. Ini namanya teta bacem taste Padang kali yaah... wkwkwkwk..
Semoga ga mengecewakan ya pemirsaaaah.... ^__^. Do'akaaan.... Do'akaaan...
Ini ibaratnya; orang Huaw*i pegang perangkat Ericss*n nih dan belum pernah menjalankannya sebelumnya [lirik telecomunication engineer di sebelah ;)] ahahaha...

*****

Aku jadi teringat wasiat dari ibu mertua temanku; "jika kamu ingin menjelajahi dunia dan berkelana ke negeri manapun, jangan suka pilih-pilih makanan. Supaya kamu bisa survive. Dan ini juga adalah kesempatan bagi kamu untuk mencoba mencicipi makanan dari berbagai negara."
Yaa benar juga sih.
Tapi kayaknya aku masi gagal move on nih.
Jangankan masakan Pakistan misalnya, masakan Jawa aja masi perlu extra effort untuk menyesuaikan lidah. Masakan arab juga masi dalam proses penyesuaian.... meski dibanding ketika pertama kali datang ke Riyadh, hari ini sudah banyak improvement. Hehehe... Kalau dulu ga sempet masak pengennya beli di Resto Indonesia, sekarang sudah berani request chicken fahm, nasi arab, syawarma dll. Dapat kirimian dari tetangga Pakistan asli, sudah bisa menghabiskan sedikit-sedikit. Hehehe... Masi sedikit memang....

Okeeh.. let's move on... ^_^

  Thursday, June 18, 2015   0 Comment
  Monday, June 15, 2015   0 Comment

Nantikan  kelanjutan kisahnya :)

Blogger Blogger Blogger Blogger Blogger Blogger

Sekapur Sirih

Assalaamu’alaykum

Trima kasih yaah Teman-teman, saudara saudari sekalian telah berkunjung ke blog diriku ini.Aku hanya ingin memungut yang terserak…. Mencoba mengambil sedikit pelajaran dari setiap peristiwa hidup.

Selamat membaca yah. Semoga ada hikmah yang bisa dipetik dari blog ini

Sekelumit Tentang Fathel

Hmm...sebenarnya diriku bukanlah siapa-siapa. hehe. hanya sedikit mencoba menaklukkan tantangan kehidupan. Jiaaahh...

selengkapnya tentang diriku di sini...

Info