Easy & Simple

Bismillaah,

Yaiyy, postingan kali ini dimulai dengan sesuatu yang easy dan simple ajah. Isi blog ini juga simple dan easy kaliii Fathel ekekekeke...
Yes.
Hanya yang ringan-ringan sahaja.
Leisure time.
Refresh-ing.

Kali ini aku mengganti header blog lagi. Ala-ala flat lay. Tapiii dengan pencahayaan yang minim dan lensa tak mendukung kurangnya lighting ini. Jadinya, noisy di mana-mana. Padahal, kunci utama fotografi kan sebenarnya adalah lighting (selain composition tentunya). Tapii berhubung lagi males nyari cahaya yang OK, yaudah seadanya ajah deh. Nanti klo udah in good mood, bikin flat lay yang lebih oyeee in shaa Allah... ini mah belum seriuss hehehe...

○●○●○●○●○

Meskipun memoto itu cuma tinggal "klik" dan "cekrek" doang, ternyata untuk mendapatkan foto yang bagus itu ga mudah yaaa...

Seseorang yang memiliki bakat dan hobi dalam dunia per-foto-an, mungkin bisa memilih composition atau angle yang bagus. Tapi jika lighting tidak mendukung, yaa akhirnya fotonya tetap saja ga sesuai dengan harapan.

Aku memang ada sedikit hoby dalam dunia foto-foto. Tapi, ilmunya masi minim. Dan masi malas mencari lighting yang tepat. Intinya, ga begitu diseriusin laah. Cuma sekedar cekrek cekrek doang. Yaa, so far ga ada improvement yang berarti dalam dunia fotografi aku. Hasilnya masi begitu-begitu doang. Belum memuaskan.

Ya salam.
Apapun itu, bahkan cuma sekedar hobi dan hal-hal remeh temeh lainnya, sangat butuh ilmu.
Apalagi mendidik anak.
Apalagi ilmu dalam meniti jalan kebenaran dalam koridor syari'at-Nya.
Bagaimana kita bisa memilih jalan yang benar, jika kita sendiri tak mengerti ilmunya!?
Padahal, ini adalah sesuatu yang menjadi tujuan kita,main aim mengapa kita ada di dunia ini. Bukan sekedar hobi yang ga begitu mandatory untuk diilmui sebagai ilmu utama.

Makin berasa, betapa diri ini sangat fakir ilmu.
Tapi, kenapa masih berat melangkah ke majlis ilmu?!

Ah, tentang dunia yang singkat ini..., berbenahlah wahai diriku.
Ingat ingat tujuan yang sesungguhnya, mengapa engkau berada di dunia.
Ingat ingatlah, bahwa kematian itu sangatlah dekat.
Ingat ingatlah, bahwa segala sesuatu akan ada hisabnya...
Dan aku, masih penuh dengan rombengan... 😣

Read More

My 3yo Princess's Painting

Ma shaa Allah, rasanya surprise sekali melihat hasil painting Aafiya, my 3 years old princess, sudah mulai ada bentuknya. Dari yang sebelumnya berupa lukisan "abstrak" hihi.

Suatu ketika, aku lagi sibuk masak (masi aja tema masak memasak yaak ekekekeke). Trus Aafiya aku bekali kertas sama pinsil aja di ruang keluarga (ruang sholah namanya kalo di sini). Karena posisi dapur dan sholah itu sendiri bersebelahan, jadi memungkinkan aku untuk sesekali liat Aafiya sambil memasak.

Tetiba Aafiya bilang, "Bundaaa coba liat gambar unii..."
Akhirnya aku liatlah gambar anaknya.
Ma shaa Allah... Takjub ketika menyaksikan untuk pertama kalinya gambar Aafiya ada bentuknyaa... 😍😍😍😍 Ma shaa Allah... ma shaa Allah....
Memang sih beberapa waktu sebelumnya kita sempat bebikin gambar (sering banget malah sih. Soalnya buat Aafiya ini aktifitas yang menyenangkan). Ditambah lagi, alhamdulillaah kita memang menerapkan free gadget untuk balita di rumah, jadii aktifitasnya yaa main, orat-oret, dll. Hihihi...

Aafiya mulai terlihat kalo anaknya spasial. Mudah menghafal jalan dan memiliki tendensi di sesuatu yang berbentuk ruang. Anak 3 tahun ini, ma shaa Allah sudah bisa protes ke ayahnya, "Ayah, koq kita lewat sini. Kan harusnya lewat jalan yang sanaa" 😂
Duuh... Yang sabar yaa Ayaaah... 😁
Tetiba nyeletuk, "ini arah jalan pulang ke rumah kan Ayah, kan kita mau ke KUDU" (nama sebuah restoran cepat saji), padahal kita jalan di malam hari. Kebetulan jalan tersebut jalan yang kita tempuh sepulang dari Lulu Hypermarket 😁😃.

Di sini, aku hanya pengen "mengabadikan" aja gambar bersejarah (bersejarah buat IMore Family) dan beberapa hasil gambar Aafiya lainnya...






Read More

C-3

Ini postingan ga penting-penting amat sih. Judulnya aja geje. Hehehe... Iya, C-3. Alias C-C-C yang tentu saja bukan rantai atom karbon. C-3 kali ini adalah kepanjangan dari Cheese Cream Cake. Hihi... 😄
Aihh gayaa laah yaaa emak Aafiya bikin beginiaan... ekekekeke..

Ada yang mau?

Ceritanya ada cheese cream di rumah yang udah mau expire. Dulu beli cheese cream ini karena Aasiya dan juga Aafiya doyan banget cheese cream. Makannya seringnya cuma digadoin alias dimakan begitu sahajaa. Kadang dicampur sama daging giling dan dimasak. Anak-anaknya ma shaa Allah doyaan.
Anak jaman now yaaa?! 😆 Dulu emaknya ngerti keju aja udah SMA 😆. Ini anak kicik udah nyobain macam-macam jenis kejuu... Hihi... Ya, karena tinggal di negara yang dairy product kayak gini semacam makanan pokok jadinya yaa begitu yaa.. hehehe... Alhamdulillah bini'mah.

Beberapa bulan, absen dari keju-kejuan karena kayaknya lebih senang sop-sop an mereka. Walhasil kejunya tergeletak di kulkas deh. Pas aku nyadar, udah mau expire ajaaah. Ga mau dongs buang-buang makanan 😑. Rasanya nyeseek kalo ada makanan terbuang. Tapi senangnya, di musim dingin ini makanan tak cepat basi. Soalnya, di ruangan dan di dapur serasa dalam kulkas. Hihihi... Jadinya makanan jadi lebih awet alhamdulillah. Klo musim panaas, beuuhhh... setengah hari aja makanan bisa basi. 😑 Jadi mesti disimpan di kulkas kalo ingin tahan lama. Atau, masaknya ya sedikit-sedikit aja. Tapi rempong, emak-emak kalo harus bolak-balik masak tiap mau makan dongs. Heuheu...
Cheese cream

Karena cheese cream nya ada sekitar 500 gram, jadi lumayan bangeeet kalo cuma digadoin. Akhirnya aku kepikiran dibikin cake ajah. Sebagian dibikin isian risol mayo. Pokonya gimana supaya itu cheese cream terutilisasi dengan maksimal! Sejujurnya ide bikin cake ini merupakan opsi terakhir. Secara dalam pikiranku, bikin cake itu ribeet. Emak-emak dengan passion bukan memasak, butuh energi besar utk eksekusi cake tentunya. Tapi demiii biar cheese cream nya bisa segera habis, bismillaah... mulai nguprek-nguprek bahan dan bikin cheese cream cake. Bikinnya yang paling simple yang aku bisa kekekeke... Ga ngikutin resep 100% sih. Seadanya bahan ajaaa....

Pas lagi bebikin, ada interupsi juga. Karena aasiya pengen mimik dulu... Kejunya sama butternya dalam suhu ruang tetep dingiin aja karena musim dingiin. Hihi... Jadinya terpaksa diangetin dulu pakai air panas. Dan kendala teknis lainnya. Ternyata, walau ga mudah, ternyata ga sulit jugaaa... Emang sih, dasar aku nya aja yang ga begitu hobby masak tapi harus masak. Senengnya pas udah jadi, surprise ajaa kalo cake nya suksees... Alhamdulillaaaah 😍😚

Alhamdulillah suksees C-3 nyaaa 😍

Yaa. Satu-satunya cara untuk melawan malas (malas memasak misalnya) adalah mau ga mau bergerak dan MEMULAI. Kadang, starting point ini yang paling sulit. Kalo sudah dimulai, yaa sebenarnya tak sesulit yang dipikirkan. Makanya, hayooo bergerak. Hayoo mulai!

Berasa kejuunyaa walaupun ga selembut JCC karena telurnya dikocok sekalian ajah, ga pake dipisah kekekeke

Allahumma inni a'udzibika minal 'ajzi wal kasl...
Read More

Malaise

Sudah lama ga blogging dan cerita-cerita. Lagi malaise ceritanya. Hehe... Malaise punya makna yang banyak. Versi arabic amiyah, malaise artinya adalah semacam permintaan atau pemberian maaf. Contoh kasus, jika ga sengaja nyenggol orang di jalan, mereka berkata "malaise!" Yang artinya dia nanya "gapapa?". Atau kalau kita ga sengaja nabrak orang, kita bilang "aasiif", dia jawab "malaise" yaa itu artinya orangnya bilang gapapa. Itu sih kesimpulan aku aja setelah sekian lama berinteraksi di sini dan sering dengar kata malaise. Bisa jadi aku salah penertian. Kekekeke... Malaise bisa juga singkatan dari "mangalai-ngalai se" alias nyantai leyeh-leyeh kayak di pantai. Ini mah karangan emak Aafiya ajaa... wkwkwkwk... Malaise dalam versi medical terminologi seingatku adalah capek,lelaah, ga enak badan, lagi nda fit. Nah Malaise yang aku maksud adalah malaise yang ketiga.

Ya. Sebagai sebab akibat dari malaise ini, yaa maless ngelakuin apapun. Pengennya leyeh-leyeh dan tiduran ajah (ini maah jenis malaise keduaa yang aku mention kaliii yaaaa... Anggap aja akibat malaise versi ketiga adalah malaise versi kedua). Ngeblog salah satu yang kena impact malaise ini.

Baiklaah.. mari bangkit dari malaise dan menuliskan sesuatu. Ini cuma cerita ringan sahajaa. Jadi pas suatu ketika belum lama ini, aku dicolek2 sama orang Arab. Kebetulan aku lagi liat toko bunga sambil ngajakin ngobrol Aasiya. Si uni Aafiya lagi sama ayah. Jadi kami cuma berdua. Aku ga nyadar ada orang sini yang ngajak ngobrol. Akhirnya dicolak-coleklah sampai aku nyadar ekekekeke...

"andunisiy?!" Tanya dia dengan penuh semangat. Duluu waktu baru-baru di sini, aku seneng bangeet dongs dikenal sebagai orang Indonesia. Secaraaa most of the time, kami lebih dikira orang philipine..heuheu... Tapi, seiring berjalannya waktu dan banyak pengalaman, jika ada yang nanya begini, ujung-ujungnya sudah KETEBAK maunya apa ini madam. Heuheu...
"Aiwaa" jawabku
"Aina anti sughul?" (Kerja di mana kamu?)
"Bas zaujiy sughul hina. Ana fil bait" (suamiku aja yang kerja di sini. Saya di rumah aja)
"Mumkin anti sughul fil baiti sa'atan sa'atan al yaum" (mungkin ga kerja di rumah saya beberapa jam dalam sehari). Maksudnyaa... jadi pembantu di rumahnya.
"LA! La! La yumkin sughul fi baituk. 'Indi nunu... afwan!" Tentu saja aku menolak mentah-mentaah. Ini baby mau dikemanain. Hehehe... Lagian, kerjaan di rumah aja ga beres-beres, madam, mosok harus nyambi beberes rumah madam jugaaa. Mending eikee bikin rumah eikee kinclong ehehehe..

Ini adalah percakapan yang kesekian kalinya. Entah udah keberapa kali. Sebenarnya, rada malas kalo sudah ada kalimat pembuka "anti andunisiy?" Karena ujung-ujungnya ya ituu... minta jadi pembantu atau minimal minta tolong nyariin pembantu. Haduuh, aasifah yaa madaam, ana laisa kafil TKW. Hehe...

Jika orang yang kenal lebih dekat, atau berinteraksi lebih jauh, misal teman satu kelompok ngaji atau dokter di rumah sakit, mereka sering mengatakan, "dulu aku punya lho pembantu orang indonesia. Mereka bagus-bagus kerjanya. Tapi sekarang sayang sekali sulit mencari orang indonesia".

Mohon maaf, sekali lagi maaaf bangeet. Aku ga bermaksud untuk mengecilkan profesi TKW.  Sungguh,profesi TKW jauhhhh lebih terhormat dan mulia dibanding orang berdasi dengan mobil mentereng, tapi korupsi. Dan sudah banyak juga orang-orang hebat dan menginspirasi justru lahir dari keringat ibu-ibu TKW. Dan lagi, yang paling terpenting, standar kualitas seseorang sama sekali tak ditentukan oleh seberapa bonafid pekerjaannya, melainkan seberapa besar taqwanya, kan ya?

Tapi begitulah. Begitulah negeri kita DIPANDANG. Oleh sebab profesi terbanyak yang dilihat oleh orang lokal sini adalah sebagai pembantu maka itulah "labeling" mereka. Jika orang indonesia, maka kemungkinan besar pembantu! Atau minimal, mau jadi pembantu. Padahal, sebenarnya ga juga. Banyak juga orang Indonesia yang sudah mencapai level manejer di sini. Bahkan menempati posisi penting. Tapi yang ini tentu lebih sedikit. Karena yang dilihat adalah yang banyak tentunya. Jika ada sekelompok besar orang, hampir semua berkerudung merah muda. Lalu nyelip beberapa orang berkerudung hijau. Maka, tetap saja yang terlihat adalah gerombolan orang berkerudung merah muda. Hijaunya bisa saja hampir dinafikan. Atau,kelihatan hijau tapii orang-orang tetap akan menyebut "kerumunan orang berkerudung merah jambu".

Sebenarnya bukan masalah sih yaa. Hanya saja, sekali lagi, beginilah negeri kita dipandang. Apa yang tersebut pastilah karena itu yang tampak... :)
Yang jelas, Setiap orang berada pada garisan takdirnya masing-masing. Sungguh, Ini hanyalah dunia. Sebentar saja. Pasti akan ditinggalkan! Maka, jika dunia menjadi tujuan, alangkah meruginya kitaaa. Mengejar sesuatu yang sudah PASTI akan ditinggalkan. #NtMS

#Just a short story
#Self reminder

Read More

Tak Harus Menjadi Mereka

Terkadang.
(Cuma terkadang lho yaa 😁), aku merasa tulisan-tulisan di blog ini hanyalah seperti riak di luasnya samudra. Keberadaannya, tak perlu diperhatikan. Adanya atau tiadanya, sama saja. Heuheu 😆...

Membaca tulisan banyak orang hebat, menginspirasi, memberikan perbaikan, membuka pikiran banyak orang, memperjuangkan sebuah nilai, dan deretan nilai positif lainnya terkadang bikin jiper juga 🙈. Apakah tulisan aku ini bernilai manfaat? Atau hanya sekedar pelepas tawa, 'haha', 'hihi', 'wkwkwkwk' saja? Jika untuk memberikan kanal pada rasa dan memuarakan apa yang menjadi lintasan pikiran, memang iya. Tapi, ternyata terlalu banyak hal remeh temeh yang mungkin tak menjadi sebuah agenda dalam pikiran orang-orang hebat itu. Hihi... 😄
Iyaa, aku memang hanyalah sesederhana itu... 😄

Tapi, kusadari.
Bahwasannya aku tak perlu menjadi mereka.
No need to force my self to write "super-article". Ga perlu memaksakan diri menulis yang berat-berat. Hehe...
Menulis hal-hal 'berat' terkadang membuatku merasa bukan seperti menjadi diriku sendiri. Dan itu terasa memaksakan...
Alangkah lebih baiknya, menulis itu seperti air mengalir. Menjadi apa adanya. Dan apa yang dari 'hati' pasti akan sampai ke 'hati'. Aku selalu percaya itu. Mereka yang memang menulis dengan hebat, menginspirasi, membuka fikiran sangat mungkin saja menulisnya dengan ringan. Oleh sebab Pada dasarnya mereka memang hebat dan menghebatkan banyak orang. Dan aku, yang apa adanya ini, masih jauh dari merekaa tentunya, tak perlu memaksakan diri menjadi seperti mereka. Just be my self... 😊. Sesuai tagline blog ini, just share what i m thinking about. Ya memang sesederhana ini sih akuu dan apa yang aku pikirkan... hehehe... Makanya, aku membuka seluas-luasnya ruang perbaikan, masukan, koreksi, pembetulan dari sesiapa saja yang melihat kesilafan di sana-sini...

Apapun itu.
Sesederhana apapun coretan di blog ini, harapanku hanyalah semoga menjadi pengingat diri dan juga semoga ada yang beroleh manfaat dari sini. Sebab, apalah artinya jika sesuatu itu tak memberi nilai kemanfaatan. Heuheu... 😊
Sekurang-kurangnya, bermanfaat dalam memuarakan rasa... hehehe...

Sekian.
#edisilagijiper
#edisibaper
#bukanedisiminder
#semangatBerbagi
#yukMenulis
#menulisMenyehatkanInShaaAllah

Read More

Masak Memasak

Judulnya simple banget yaa... hehe... Bingung mau kasi judul apa. Lagi males mikirin judul. Heuheu...

Ya. Biarin judulnya begituuuh. Isinya juga bukan hal yang berat-berat koq. Cuma berbagi cerita. Sama siapa yaa? Hmm... sama si Blog. Hihi... Setelah berbagi cerita sebelumnya sama Abu Aafiya. Ini kudu niih, mencurahkan dan memuarakan rasa pada belahan jiwa. Hehe...
Hari ini aku sedang leyeh-leyeh meluruskan punggung setelah berkutat sekian jam di dapur dengan disertai beberapa kali (lebih tepatnya sering kali) interupsi dari duo bocils shalihah... Sementara Abu Aafiya masi di depan laptop untuk beberapa kerjaan kantor karena kebagian minggu oncall. Yaa, akhirnya buka aplikasi blog dan leisure time dulu di blog. Hihi...

Fiiuff... hari ini sedikit melelahkan, mengerjakan sesuatu yang dipengen tapi bukan hobby. Gimana sih katanya pengen, tapi koq bukan hobby? Hehe...
Begini ceritanya. Seperti yang sudah Aku sempat singgung sebelumnya di tulisan yang bertajuk "Hal Positif yang didapat ketika memutuskan merantau jauh ke luar negeri", bahwasanya salah satu hal yang sama sekali aku tidak hobby adalah memasak. Tapiii, berhubung di sini kita ga bisa dapetin makanan yang kita pengen dengan ngacir sebentar dan beli di warung atau restoran, mau ga mau pilihan satu-satunya yaa harus dimasak sendiri. Ya, aku memasak bukan karena aku hobby, tapi karena aku dan keluarga butuh makan.

Sebenarnya ketika terpaksa harus memasak sesuatu yang dipengen (meski jadi lebih repot) tapi bukanlah sebuah hal yang negatif. Justru seperti yang aku bilang, merupakan hal yang positif. Kita bisa menguasai memasak segala macam masakan dan yang terpenting homemade! Kita tau persis bahannya. Kita yang masak. Kita ga ragu dengan status kebersihan dan kehalalannya. Dan tentu saja menambah perbendaharaan kapabilitas kita dalam menyajikan buat orang tercinta. Jika kita sangat mudah mengakses makanan yang kita pengen (baca: dijual di mana-mana dan mudah untuk dibeli) maka kita pasti tak begitu berminat menghabiskan tenaga dan waktu untuk bikin bebikin. Orang tinggal beli aja dan beres deh. Santaaaappp... heuheu...
Kekurangannya yaa lebih repot aja sih... Dan kalo ga hobby, butuh effort yang agak besar untuk bergerak bebikin sesuatu.. Hihi... Beruntunglah orang-orang yang hobby memasak...
Sate Padang,paling sering dibikin karena aku penggemar berat sate Padang

Kalo dihitung-hitung, alhamdulillah udah banyak juga yang lumayan sukses (tapi yang gagal lebih banyak tentunya ahahaha). Bikin mpek-mpek udah. Mie ayam udah. Soto betawi udah. Soto padang. Sate padang apa lagi! Sate bumbu kacang. Sayur asem. Ayam penyet sambel pedes. Ayam bakar bumbu rujak. Otak-otak. Siomay. Bubur ayam. Beef steak. Pizza. Camilan kayak risoles, sambosa, spring roll. Martabak telur. Martabak mesir. Mie goreng. Nasi goreng berbagai varian. Pernah juga bikin tempe tahu bacem. Woow... ini kan emak aafiya ga begitu sukaa hihi. Ini request sebuah acara kayaknya. Cendol. Bubua cande (candil). Lontong sayur. Ayam tulang lunak. Bakso. Pastel. Tahu isi. Roti-rotian. Arem-arem. Sushi. Jamur crispy. Hmm... apa lagi yaa? Lupaaa.. hehehe..
Ma shaa Allah... ternyata pernah yaa aku bikin beginian. Ga kebayang deh kalo aku deket dengan akses makanan ini. Mungkin ga pernah kepikiran untuk bikin sendiri. Alhamdulillaah ini benar-benar nilai positif buat aku. Meski soal rasaa masi jauhlaaahh... Sukses menurut emak Aafiya adalah acceptable di lidah... ahahahaha... Ga presisi pun tak apa-apa...
Jamur crispy ala emak Aafiya. Jamur tiram di sini mihiiilll bangeeett 😣

Apa faktor katalisator yang terbesarnya hingga aku "betah" mencoba memasak ini dan itu? Yaappp... karena pengen bangeeeeetttt dan ga ada yang juaaal. Hiksss... Udah kebayang-bayang pengen nyantap ini, nyemil ituuu... Hwaaah... Mau ga mau bergerak deh ke dapur! Itulah sebabnya, kalo aku ngepost beberapa masakan. Melakukan banyak eksperimen. Sekali lagi bukan karena hobby. Tapi karena lagi ngidam (bukan ngidam juga sih yaaa... kan bukan bumil hehehe) kepengeeeeeen sesuatu pakek banget.

Seperti hari ini (dari kmarin lebih tepatnya), koq pengeeeenn bangeeeettt Bakso special dengan suiran sop kaki sapi, bola bakso, bakso tahu dan kerupuk pangsit. Apalagi musim dingin begini. Haduuhhh... ma shaa Allah lezatnyaaa menyantap yang anget-angeeet...
Sampai bela-belain ngajakin Abu Aafiya beli tulang kaki sapi ke supermarket. Kan pas oncall sebenarnya deg-degan juga mau jalan keluar terutama di luar jam kerja karena khawatir ada call. Tapiii alhamdulillah bisa pas siangan. Hehehe...

Pas eksekusinya, out of expectation karena riweehh bangeeettt ternyata. Ini pertama kali aku bikin baso tahu. Jadiii, ga bisa memperkirakan berapa seharusnya aku butuh. Aku sampai menghabiskan 4 bungkus tahuuu! (1 bungkus isi 4 tahu ukuran besar atau 9 tahu ukuran sedang). Dari 4 bungkus tahu ini, kurang lebih aku dapatkan kurang lebih 120 pcs baso tahu! Ma shaa Allah.... banyaak bangeeett! Iyaa gegara aku ga pake nakar, bikin adonan basonya kebangetan banyaknya. Itu juga tahunya digoreng lagi sampai sisa stok terakhir (karena awalnya niatnya buat baso tahu ini cuma 2 atau 3 bungkus maximal). Ini udah dikerahkan semua tahu yang ada, adonannya masi nyisa heuheu... Emak Aafiya salah perhitungan kayaknya. Makanya bikin capeeee bangeettt karena prosesnya lumayan panjang. Tahu direndam air garam. Digoreng lalu dikeluarkan isinya. Lalu diisi kembali dengan adonan baso. Lalu dikukus. Ahhh... ya salaaam... Ngebayanginnya aja capek. Apalagi ngerjainnnya. Hehehe...

Belum lagi bikin kuah bakso dan sup tulang sapinya. Kerupuk pangsitnya udah ga sempet lagi dieksekusi karena chef udah capek. Hihi... Diselingi anak-anak yang kadang lagi rewel jugaa (karena emaknya lagi sibuk berkutat di dapur kali yeee.... anaknya jadinya capeer). Hiks... ga lagi deh bikin banyak kayak giniii... Bikin sekedarnya ajaah... Tapi alhamdulillah. Yang banyak bisa di-frozen dulu. Nanti pas kepengen ga perlu repot bebikin lagi. Tinggal dikukus dikit dan disantap ajah. Jadi cukup sekali aja capeknyaa... hehehe...
Sate bumbu kacang boleh juga

Iyaa, alhamdulillaah inii kami abis menikmati bakso niih... Trus leyeh-leyeh. Daan aku nge blog deeh sambil meluruskan punggung (padahal ga jugaa sih ngelurusin punggung. Ngetiknya sambil duduk bersila ahahaha)...

Yaa begitulah cerita ga penting akuuh. Ga ada foto bakso spesialnyaa. Soalnya lagi capek. Ga berenergi buat pegang-pegang kamera hihi...
Read More

Membuat Kulit Risoles Anti Gagal

Risoles homemade pertama made in Bunda Aafiya yang sukses alhamdulillaah

Risoles adalah salah satu camilan favorit emak
Aafiya. Tapii, dulu membayangkan bikin risoles itu susaaaah bangeeett. Heuheu... Meskipun aku lumayan sering bereksperimen soal masak memasak di sini karena ga punya pilihan lain selain harus bikin sendiri ketika kepengen sesuatu (ga selalu available untuk dipesen atau ga selalu ada bazaar makanan indonesia), tapi bikin risol masi belum ada feel dan masi mikir susah banget kayaknya. Emak Aafiya paling pesen frozenan ke ibu-ibu yang kebetulan bakulan risol di sini atau kalo ada acara-acara pesen risol minta dilebihin ehehehe... Dan kalo snack sudah terhidang, pasti emak Aafiya nyomotnya risol duluan... wkwkwk... Sampailah akhirnya suatu ketika aku memberanikan diri untuk mrmbuat risoles sendiri. Berhasilkah? 😁
Makan risol di taman An nahda, taman yang sudah ratusan kali kami kunjungi hehehe

Hahaha, gagal sodara-sodara. Risoles yang dihasilkan penampakannya sangat mengerikan buahaha 😂. Ukurannya pun super jumbo. Bisa dibilang, raksasa risol dah... ahahaha... 😂. Dan satu lagi yang menambah kegagalan risol ini yaitu kulitnya tebal tapi sangat rapuh dan mudah sekali sobek. 😑
Percobaan selanjutnya setelah kesuksesan pertama alhamdulillah masi sukses dengan resep yang sama

Percobaan kedua pun tak jauh beda. Risolnya masi suka sobek dan ukurannya masi jauh dari harapan. Hiks... hiks.. 😣
Sampai di sini aku stop dulu percobaan bikin risolnya.

Nah kemarin, liat resep dari webnya mba Diah Didi kitchen (silakan googling sendiri web nya yaa... kebetulan sudah ketutup link nya). Bahannya gampang dan mba Diah Didi juga membagikan beberapa tips nya. Dan setelah aku ikuti resepnya, ternyata alhamdulillaaah senang bangeeeett resepnya cucoook buat aku. Dan akhirnya alhamdulillaah berhasil membuat risoles dengan suksess 😄😍. Isinya adalah boiled egg, mayonnaise, smoked beef dan cheddar cheese. Hihi... Aku memang paling sukaaa risoles mayo iniii. Kalo isinya sayuran apalagi mie, emak Aafiya memang kurang doyan ekekekeke... Pokonya mah isinya suka-suka ajaah yang penting kulitnya sukseess...
Kulit risol lagi dicetak hehe...

Resep kulit yang aku pakai adalah:
- 150 gr tepung protein sedang (aku pakai terigu all purpose)
- 2 butir telur
- 400 ml air minum
- garam secukupnya

Adonan diaduk hingga rata tak bergindil lalu disaring untuk mendapatkan adonan yang benar-benar free gumpalan tepung.
Risol yang sudah diisi dan siap dikasi tepung panir

Aku "mencetak" kulit adonannya di atas teflon doang karena ga punya wajan kebalik alias crepe maker. Kalo di resep-resep yang aku coba sebelumnya, aku memakai sedikit minyak, sekarang aku ga pakek minyak sama sekali. Dan hasilnya lebih bagus... Alhamdulillaah...
Risolnya lagi digoreng

Tinggal tunggu beberapa saat sampai kulit bisa terlepas sendiri dari teflon. Jadi ga pakek rempong alhamdulillah. Jangan lupa aduk adonan kulit terus-terusan biar tidak ada endapan tepung.

Nah, bagi sesiapa yang ingin mencoba juga. Silakan... silakaaan... Semoga sukses yaaa... 😉
Ini isi beef-minced yang dimasak dengan saus tiram, sedikit irisan wortel dan cheese cream

Di hari berikutnya aku beranikan bikin 5x resep. Alhamdulillah dapat 78 pcs risol. Hihi banyaak yaaa... Iyaa, soalnya lagi prepare buat 2 acara yang mana aku harus membuat snack nya. Udah pedee nih alhamdulillah bikin snack buat acara-acara apapun. Hihi... Biasanya cuma pesen doang. Sedikit buat konsumsi pribadi dan sebagian di frozen biar pas lagi kepengen ga repot harus bikin dulu, tinggal goreng doang. Praktis alhamdulillaah...
Read More

Hal Positif yang Didapatkan Ketika Memutuskan Merantau Jauh ke Luar Negeri

Weew... judulnya terlalu panjang untuk tulisan yang isinya tidak terlalu panjang ini... hehehe
Baiklah, lupakan soal judul. Eehh harusnya bukan lupakan karena judul itu sangat penting. Kadang, untuk mendapatkan judul (sebuah penelitian) saja dibutuhkan hitungan bulan kan yaaa... ACC nya aja butuh perjalanan panjang... Makaa jangan remehkan apalagi lupakan soal judul (meskipun aku sudah lupa juga sih judul TA S2 dulu yang presisi... Bahkan baru 4 tahun berlaluu... Ya salaaam betapa manusia itu pelupa yaaa...)
Ehehe... Maksudku, lewatkan soal judul dulu... Lanjutkan ke pendahuluan, isi, pembahasan lalu kesimpulan dan saran yaaa... Jangan lupa, format daftar pustaka harus tepat dan jangan sekali-kali memasukkan wikip*dia apalagi blog pribadi yang isinya curcol belaka sebagai referensi... kekekekeke... *makin ngaco ajah*
Meskipun jauh di perantauan, kita masih bisa menikmati "karupuak kuah sate" lhoo.... karupuak leak kalo bahasa kampungku heuheu

Hmmm... bagi sebagian (mungkin kebanyakan) orang, memutuskan untuk merantau jauuuh beribu mil jarak ke luar negeri bukanlah keputusan yang mudah. Apalagi jika sudah settle di tempat sebelumnya. Memutuskan untuk pindah ke negeri yang sama sekali asing, baik soal lingkungan, bahasa, kultur budaya, terkadang terasa sangat berat dan tentunya menjadi sebuah keputusan besar. Banyak hal yang perlu dipikirkan dan dipertimbangkan.

Ah, jadi ingat masa pertama kali naik pesawat dengan penerbangan internasional. Pertama menuju Hongkong dulu. Ngebolang di Hongkong International Airport yang besar, naik kereta bawah tanah, diikuti beberapa ibu-ibu yang kebetulan bekerja sebagai ART di sini, nanya-nanya di mana transfer passanger, dan pesawat ke Riyadh yang sudah boarding. Pengalaman yang mendebarkan sekaligus membahagiakan karena akan segera menjumpai kekasih hati.. eciyeeeeeh... Eehehehe...

Ya. Meskipun bukan  keputusan mudah berpindah negara, akan tetapi tinggal di luar negri tentu memiliki sisi positif. Naah, berikut aku mau berbagi mengenai hal-hal positif yang aku rasakan ketika merantau jauh dari kampung halaman. Ini mungkin sangat subjektif sekali... Berhubung ini blog pribadi, jadi yaa pandangan  subjektif aku dong yaaa... Hehehe...

Pertama, kita menjadi lebih kaya akan pengalaman dan mengetahui dengan mendalam negara lain.
Buat tipe petualang (plus yang suka curious mengenai negara asing), ini tentu sangat menarik. Kita pasti akan sangat mengenal suatu negara ketika kita pernah berada di sana ketimbang cuma baca di google apalagi liat maps nya doang kan yaa...ehehehe. Pengenalan ini menjadikan kita lebih kaya dengan berbagai macam kultur budaya negara yang kita tinggali. Jika kultur yang positif, kita menjadi lebih belajar banyak dan mungkin bisa 'membawa pulang' budaya baik itu ketika kita kembali ke kampung halaman. Jika kultur negatif, kita bisa mengambil pelajaran berharga agar tidak kita terapkan ketika kita kembali ke kampung.

Kedua, kita menjadi kaya rasa. Ya, berdomisili di luar negeri akan membuat kita mengenali lebih dekat dan intens mengenai makanan khas suatu negara. Misal, kalo di sini middle east cuisine. Walaupun dulu aku ga begitu suka, sekarang bisa dibilang sangat suka laah... terutama nush-fahm nya dan ayam broasted dengan garlic saus nya.

Ketiga, ketemu banyak orang hebat. Biasanya salah satu alasan diaspora masyarakat Indonesia adalah sekolah. Nah, di sini sebagai pusat pendidikan islam yang besar, tentunya juga mengundang kehadiran mahasiswa mulai dari S1 hingga mahasiswa doktoral yang mereka kebanyakan ternyata adalah orang-orang hebat. Kalo di Indonesia, rasanya sulit mengikuti kajian mereka atau berjumpa dengan mereka untuk menimba ilmu misalnya. Ustadz-ustadz "kondang" yang dulu cuma denger namanya lewat tulisan, ketika merantau alhamdulillah berkesempatan langsung mendengar kajiannya. Meski emak Aafiya sampai sekarang masi minim ilmu juga sih. Heuheu... Harus banyak belajaarr nih Fathel!

Keempat, rasa persaudaraan dengan teman sesama Indonesia lebih akrab. Jika di Indonesia, radius 3 km dari lingkaran rumah kita udah ga kenal. Di sini, sejarak 3 km itu masi pantes disebut tetangga. Ehehehehe... Kalo ketemu orang Indonesia, rasanya koq seneng banget, langsung ngobrol-ngobrol. Kalo di negara sendiri, wes cuek ajaa biasanya...

Kelima, meningkatkan kemampuan berbahasa. Jika bermukim di suatu tempat, sedikit banyaknya pasti kita "tersibghoh" dengan bahasa penduduk lokal. Aku, meskipun jarang bergaul dengan masyarakat sini yang kulturnya memang sangat tertutup dan sangat menjaga privacy dan tak begitu terbuka dengan pendatang (tergantung personal juga kali yaa).. so far punya tetangga satu rumah, lantai atas dan lantai bawah (kami di lantai tengah-tengah) tapi ga saling kenal sama sekali. Kalo di Indonesia, udah main tuh yaaa ke atas, main ke bawah... Emaknya ngobrol ngegosip, anaknya main bersama... ehehehe... dan ga begitu tuh di sini... Tapi sedikit banyaknya ngertilah kalo ada yang ngobrol bahasa arab. Sedikit sih lebih tepatnya... 😂😁... Justru kemampuan bahasa Inggris yang lebih meningkat dikiiittt dari yang awalnya pas-pasan kurang, sekarang menjadi pas-pasan cukup. Hahaha... Sekedar belanja, ngobrol sama dokter pas ke RS, nanya-nanya kalo butuh yaa cukuplaah... Tapi ga bisa dibilang expert atau lebih dari cukup sih... wkwkwkwkwk....

Keenam, the most important things buat emak-emak, meningkatkan kemampuan memasak. Kekekeke.... Percaya ga percaya, ketika pertama kali ke Riyadh, aku datang dengan kemampuan memasak yang di bawah standar kali yaa... ehehe.. Sebagai orang yang hobbynya bukan memasak, aku memasak hanyalah karena kami butuh makan. Tapiii, ga kayak di Indonesia yang jika kangen masakan tertentu, tinggal ngacir ke pasar atau ke warungnya, di sini mau ga mau harus masak sendiri. Yaa, beda-beda dikit sama rasa yang asli gapapa laah. Ehehehe... Dari yang awalnya cuma bisa masak yang simple-simple, sekarang dah berani mencoba level yang lebih tinggi. Heuheuheu... *kibas kerudung 😎
Jika di Indonesia, pengen soto tinggal beli. Di sini? Beuuuhhh, mesti 'basitungkin' dulu dongs di dapur baruu deh sotonya bisa disantap. Positifnya, makanan kita mostly adalah homemade. Pengen sate, yaa sate homemade. Pengen soto yaa soto homemade. Pengen pizza? Hahaha... *kedip Abu Aafiya buat beliin di warung sebelah ajah... Wkwkwkwk... Tapi beberapa kali alhamdulillah pizza homemade juga sukses... *lonjakgirang
Ini kayaknya harus ditulis di episode tersendiri niih...
Sate padang made in riyadh untuk kesekian kalinya... senang banget bisa bikin sate ini dari yang dulunya ga pernah sukses... salah satu efek positif merantau... 

Ketujuh, makin cinta cita rasa nusantara.
Merantaulah,maka engkau akan mengerti nikmatnya citarasa nusantara. Iya, buat aku perantauan mengubah rasa di lidah. Ehehehe... Dulu, pas di Padang ga suka sama sekali buryam. Eeh pas ke depok, doyan buryam banget. Pas udah ke Riyadh, makanan yang di indonesia dulunya ogah sekarang lahap disantap semisal sayur asem, soto betawi, sate madura, hmm apalagi yaa? Banyaaak deh... Di sini juga aku kenal yang namanya tekwan, bacang, karedok dll. Dan pakek acara bikin versi homemade pulak. Padahal dulu ga doyan sama sekali loh. Ternyata rasa makin kaya setelah di perantauan. Apalagi di sini kalo bazar makanan indonesia. Ga selalu ada masakan minang. Jadi, pilihannya yaa masakan nusantara lainnya. Dan ternyata aku doyan yaa... Alhamdulillaah...

Kedelapan, lebih mandiri.
Di perantauan, apa-apa kita kita mesti harus urus sendiri. Kalo di kampung halaman misalnya, masi ada sodara yang bisa diandalkan. Minimal ada kerabat lah. Di sini, misal contoh kasus, pas lahiran. Kalo di Indonesia mungkin lebih manja. Apa-apa dibantu ibu atau ibu mertua pas abis lahiran. Mungkin si ibu muda malah belum bisa mandiin anak sendiri dan dibantu oleh ibu (nenek si bayi) dulu ketika baru lahiran. Udah gitu, 'dimanjain' lagi, belum boleh masak, belum boleh ngapa-ngapain deh pokonya. Kalau di perantauan? Yaa apa-apa mesti kerjain sendiri. Ngurus bayi baru lahir sendiri (sekeluarga kecil yang inti aja maksudnya, suami dan istri tanpa melibatkan orang tua), udah gitu masak dan ngurus cucian, beberes rumah juga kitah (dibantu suami). Jangan heran kalo bayi merah usia 5 hari di sini udah dibawa belanja ke supermarket. Kalo di indonesia? Belum 40 hari si bayik belum boleh kemana-mana kan? Nah efek baiknya adalah menggenjot kemandirian kita. Ini efek positif buat aku sih. Yaa, kapan lagi kita membebaskan orang tua kita dari mengurus bayi. Dulu orang tua kita juga udah berat ngurusin kita pas bayi kan yaa... Biarlah para nenek "terima jadi" aja. Anaknya udah seger, baru deh main sama nenek. Jangan sampai nenek jadi kerepotan mengurusi cucu di masa tua beliau yang seharusnya sudah tidak mengurus bayi lagi dafi A sampai Z. Hihi... aku ngomong ajah niih karena kebetulan berada jauh dari ibu pas lahiran. Kalo di kampung, mungkin aku juga akan berhadapan dengan hal yang sama... 🙈...
Jadi bukan maksudku untuk mengecilkan teman-teman yang pasca lahiran didampingi ibu lho yaaa...

Kesembilan, kita jadi lebih menghargai negeri sendiri dan kampung sendiri. Ya, rasanya lebih bangga kalo ketemu produk-produk Indonesia di sini. Woow ini dari indonesia, ma shaa Allah! Senang. Bangga. Apalagi kalo yang buatan Indonesia itu berkualitas bagus. Kalo di Indonesia liat "made in Bukittinggi" misalnya ga sebangga ketika melihat "made in Indonesia" ketika merantau. Mungkin karena kita sudah terbiasa...

Kesepuluh, (khusus di Saudi Arabia) kita bisa umrah kapan saja tanpa biaya mahal dan bisa berhaji tanpa ngantri. Ini adalah sebuah nilai positif terbesar dan suatu hal yang membuat aku sangaaaatt betah tinggal di sini. Siapa sih yang ga mau umrah kapan kepengen... Alhamdulillaah... Hadza min fadli Rabbi... Yang berdomisili di negara yang bukan mayoritas muslim juga bisa berhaji tanpa ngantri meski bukan di Saudi. Semoga bisa  memanfaatkan kesempatan ini. Tapiii, bagi yang berumrah dari jarak yang jauh jangan berkecil hati. Karena besaran biaya yang kita keluarkan untuk berhaji dan berumrah takkan sia-sia... Allah Maha Adil perhitungan-Nya.

Ya inilah sekelumit pengalaman emak Aafiya kita menjadi bagian dari diaspora indonesia. Sebenarnya sudah lama tersipan di draft tulisan ini. Belum diapdet lagi. Pas diapdet, feel nya udah menguap. Jadi yaudah laaah. Berasa kai yaa aroma ketergesaan dalam tulisan ini. Gapapa laaah... just share ajah.. ehehehehe
Read More

Sebelum Memutuskan Membeli Koper, Baca Ini Dulu

Yaah, masi seputar koper. Wkwkwkwk... FYI, koper kemarin itu yang aku ceritakan di blog sebelumnya alhamdulillah bisa direfund. Kalo kepo tentang ceritanya, boleh baca di sini (siapa juga yang kepo sih Fathel wkwkwkwkwk 🤣🤣🤣)
Koper koper koper

Nah, ternyata pengetahuanku belum lengkap ketika hunting koper berikutnya. Hehe... Padahal sudah merasa nge-search se detil-detilnya. Ya karena pengetahuan yang minim, ga tau apa lagi yang mesti di search. Jadi, ada yang missing lagi missing lagi.... Intinya, aku ga tau keyword apa yang mesti dicari ketika melihat spesifikasi koper yang bagus. Awam bangetlah intinya!

Kalau kita tau keyword apa yang harus kita cari, maka ini pasti lebih mudah. Dan masalahnya, kita ga ada pengetahuan atau pengalaman tentang sesuatu. Sudah pasti, kita ga akan berpikir untuk search atau survey tentang hal tersebut kan yaa. Makanya pengetahuan itu mahal harganya. Ga hanya dibayar dengan uang. Kadang harus dibayar dengan sesuatu yang intangible: waktu, tenaga, pikiran, perasaan.

Oleh sebab keminiman ilmu itulah kita akhirnya salah beli lagi, salah beli lagi! Heuheu... Bukannya pengen perfeksionis tapi cuma pengen yang tahan lama aja dan satu lagi, belinya pas lagi diskon! buahahaha... modis banget yaak (baca: MOdal DISkon). Ga harus brand-brand mihil yang bahkan harga kopernya jauh lebih mahal dari isinya wkwkwkwk... Yang penting kokoh dan tahan lama, in shaa Allah... Kami tidak ke supermarket lagi. Tapi ke toko khusus koper. Al Shamasy nama tokonya. Owner nya adalah penduduk asli. Begitu kami masuk ke tokonya, "wow, ma shaa Allah!!" itu komen kami. Takjub liat banyak koper-koper bagus dijual di sini. Banyak juga yang branded dan in shaa Allah original. Malah bingung milihnya. Hahaha... Tokonya juga besaaaar.
Koper yang nginep semalam di rumah ehehehe (abaikan latarnya yg berantakan 😂)

Kami bingung memilih karena waktu itu aku berpikir kalo bahan koper hardside itu semuanya polycarbonate. Atau ABS itu sama dengan atau bagian dari polikarbonat. Ternyata enggak sodara-sodara! Hihihi... Aku baru menyadarinya ketika sudah 5 koper bermalam di rumah kami 🙈😂, tapi tak satupun yang menjadi milik kami karena di refund lagi.... ekekekeke...🤣. Pas refund yang terakhir, mau beli yang sesuai dengan kriteria tapi musim diskonnya sudah berlalu... Emak Aafiya ogah rugi, ga mau beli harga normal kecuali udah terpaksa dan butuh banget. Misal kalo sudah harus berangkat traveling. Kalo masih sekitaran Saudi mah masi mengandalkan koper yang ada aja karena kita biasanya berkendara sendiri. Apa-apa barang bawaan di mobil yaa pakek kresek aja cukuplaah.... Wkwkwkwkwk... Aku masih setia menunggu musim diskon berikutnya ahahaha... 🤣🤣🤣 (in shaa Allah, jika masih ada umur...). Harap dimaklumi yaa, emak-emak pasti mikirnya yang ekonomis. Beli-beli pas lagi musim SALE ajah... Asalkan bukan SALE yang mark up. Hehehe...

Naaah, biar ga kecolongan atau salah beli berikut aku share hasil pencarian, menelusuranku dan survey langsung, serta setelah bolak balik pegang bahan koper.  Rangkuman tentang hal-hal yang harus diperhatikan dengan seksama ketika memilih koper khususnya koper tipe hardside alias koper yang bahannya kayak plastik gituuh... 😂. Bukan soal brand sodara-sodara, ga perlu brand mahal lah, yang penting spesifikasinya memenuhi, in shaa Allah akan tahan lama...


Berikut tips-tipsnya versi emak Aafiya, mudah-mudahan shahih dan bermanfaat...


1. Bahan Koper
Pilih bahan yang 100 % polycarbonat
seperti yang aku bilang sebelumnya bahwasannya awalnya aku pikir semua koper hardside itu polycarbonat.. ternyata aku salah besar... bahan koper itu macam-macam. Di antaranya:
- aluminium; ini paling berat jadi ga banyak yang pakek aluminium ini... 1 koper sendiri bs 8-10 kg beratnya... tapi dia paling kuat dan paling mantep lah soal ketangguhan...
- polycarbonate : yang policarbonat ini paling top cerr untuk bikin koper saat ini, sangat kuat dan lentur (bahkan diinjak mobil sekalipun sama dilempar dari ketinggian 7 meter tetep utuh, dan bahkan juga menurut video yang aku lihat, anti peluru juga). Keuntungannya, ga seberat aluminium tapi memberikan ketangguhan yang hampir sama dengan aluminium. Secara harga, lebih mahal dari 2 bahan berikutnya.
- prophylene : bahan propilen ini di bawahnya policarbonat ketangguhannya, lebih kaku tapi lebih ringan, ga sekuat polycarbonate.
- ABS : Bahan ABS ini bahan paling ga tahan di antara 4 bahan ini... Biasa suka di combine sama policarbonat utk bikin dia kuat. Tapi secara harga paling murah dan common untuk bikin koper hardshell... dan juga ringan...

Kalau ingin membeli koper yang tahan lama dan kuat, jangan lupa cek bahannya dan make sure itu 100% polycarbonate


2. Lock
Make sure lock nya adalah TSA.
TSA kepanjangannya Transportation Security Administration yang merupakan salah satu prasyarat koper kalo bepergian ke Amerika dan Eropa (kalau tidak salah... cmiiw). Jadi kalo ada yang "mencurigakan" security bandara bisa buka karena pnya kunci universal, ga dibuka paksa koper kitah.. Dan lebih kuat juga penampakannya TSA lock ini sih...
3. Kenali ciri khas brand yang mau kita beli.
Tiap produser pnya ciri khas, misal di bagian roda, di zipper, di bagian frame. Perlu kita kenali ciri khas tiap produk tersebut jika mereka punya web untuk produk mereka. Lalu bandingkan dengan yang mau kita beli. Kalau punya waktu banyak, hari pertama gunakan untuk melihat dan tandai. Lalu lakukan survey di rumah, kenali ciri khasnya dan model yang sama di web nya. Hari selanjutnya baru beli. Atau, kalau tak punya banyak waktu, cukup short survey di web yang bersangkutan asalahkan kriteria bahan dan ciri khas memenuhi, angkuuutt...
zipper biasanya punya ciri khas masing-masingnya

4. Harga mahal tak selalu berbanding lurus dengan kualitas.
Harga mahal belum tentu jaminan koper itu topcerrr... Yang terpenting kita tau materialnya, liat key nya.. masalah merek terkenal atau tidak not too mandatory... Aku liat (cuma liat lho yaa, ga beliii hahaha) koper 1 set isi 3 pcs yg harga 1200 sar malah bahannya ABS tapi koper seharga 850 SAR bahannya 100% policarbonat... Mungkin karena yang 1200 sar ini lebih branded ketimbang yang 850 sar. Tapiii, ngaoain mahal-mahal "beli brand" kalo ga sesuai dengan spesifikasi yang kita inginkan! Toh harga diri juga ga tergantung seberapa branded barang yang dipakai. Kalau masih menilai seseorang dari brand yang dipakainya, berarti nilai diri kita yang menilai cuma seharga brand tersebut. Padahal kualitas diri, kualitas hati itu jauh, jauh dan sangat jauh nilainya melebihi brand-brand. Nilai seseorang bukankah adalah ketaqwaannya. Bukan seberapa branded pakaian yang melekat di tubuhnya...
Jd no matter what the brand, the most important things is the material...
5. Jika ada diskon besar-besaran..., 
Jika ada diskon besar-besaran, sebenarnya waktu yang tepat untuk membeli koper. Jadi, boleh ajaaa kita hunting pas diskon tapi jangan lupa cek dulu dengan sedetil-detilnya bahan, key, roda, dan sebagainya sesuai ga dengan kriteria koper yang baik... Harus dilihat sedetil-detilnya, jangan tergoda dengan diskon semata.


Demikian tipsnya, berharap ada yang beroleh manfaat. Terutama sebagai catatan buat sendiri aja ketika suatu saat memilih koper (lagi).
Bukan tips untuk hal yang penting-penting banget sih. Cuma soal memilih koper. Tapi, hey tunggu dulu! Untuk hal yang bukan penting-penting banget aja, kita (aku terutama) sangat butuh pengetahuan. Ketiadaan pengetahuanlah yang akhirnya membuat aku salah beli koper yang tak sesuai dengan kriteria yang diharapkan. Alhamdulillah bisa direfund kembali. Sampai pada titik ini aku tercenung cukup lama. Tentang satu hal. Aduhai diriku, untuk koper yang bisa direfund, bisa beli kapan-kapan lagi, bisa beli baru kalo rusak saja butuh pengetahuan, apalagi soal mendidik anak!

Mustahil mendidik anak itu tak butuh pengetahuan atau hanya mengandalkan naluriah semata. Sangat butuh ilmu. Sangat butuh belajar. Tidak bisa sekedar dan sekenanya saja. Apalagi ini tanggungjawabnya langsung ke pada Allah nantinya.

Koper yang rusak, bisa dibeli lagi. Yang salah beli, bisa direfund lagi. Tapi, kalau anak yang terlanjur rusak, dapatkah kita menjemput kembali masa-masa pengasuhan yang berlalu? Bagaimana cara kita membayarnya dan kembali ke masa itu. Tentu saja tidak bisa! Ini tamparan keras sebenarnya buat aku.

Semangat BELAJAR
dan
Semangat BERSABAR
Semangat memperbanyak SYUKUR
dalam mendidik anak...
percayalah wahai diriku, masa-masa ini hanya sebentar saja. Tapi, sebentar ini, adalah masa yang sangat menentukan.
Read More

Kejutan di Awal 2018

Mari mengawali postingan 2018 dengan tema yang sedikit tidak mengenakkan. Yaitu TAX alias PAJAK. Sebuah diksi asing di sini ketika aku baru pertama kali menginjakkan kaki di jazirah gurun. Dan kini, tax adalah bagian dari negara ini. Ihiks... ihiks...

Ya.
Seperti pengumuman yang telah digembar-gemborkan dan menjadi tema hot sepanjang quarter akhir 2017 lalu, bahwasannya per 1 januari 2018, di sini diberlalukan VAT (value adding tax) sebesar 5%. Sebelumnya, ada dependent fee (seperti yang aku ceritakan di musim summer dulu).

Tidak hanya VAT lho yaaa... Kejutan di awal 2018 ini juga diwarnai dengan kenaikan BBM yang lebih dari 100%, dan juga kenaikan listrik yang hampir 4x lipat. Laa haula wala quwwata illa billah... Jadi, dari semua sisi "dibombardir". Listrik. Bensin. Segala jenis kebutuhan pokok. Wow... Subhanallaah...

Sampai di sini, kadang aku jadi berpikir tentang "para pemuja negeri ini". Ya, aku memang sempat memposting beberapa (banyaak malah) hal positif tentang negeri ini sebagaimana yang aku lihat, saksikan dan rasakan. Aku suka dengan habbit setiap jam shalat toko tutup dan orang-orang berbondong-bondong ke masjid. Aku suka dengan habbit bahwa wanita di sini tidak memperlihatkan aurat ketika baligh dan adabya pemisahan tempat untuk laki-lami dan perempuan di berbagai tempat, misal di ruang tunggu.. Tapi kalau menyangkut urusan politis kenegaraan, aku bukan fanatik buta sama sistem negara ini. Hehe... Hanya saja aku tak pernah menjadikannya sebuah tulisan dan aku kira, juga bukan sesuatu yang sangat penting untuk aku tuliskan. Sebab bagiku, setiap negara memiliki urusan politik masing-masing dan ketika aku berada di sana, aku harus mengikutinya tapi bukan berarti itu landasan dan hujjah yang sampai aku elu-elukan dan sampai aku terapkan ketika aku berada di negaraku sendiri atau negara lain. Dan lagi, buatku lebih baik memposting hal-hal baik saja. Barangkali ini bisa jadi contoh yang baik. Postingan positif Lebih 'mempositifkan' hati.

Kadang, ada yang sampai fanatis buta ngebelain negara ini. Apa-apa, orientasinya negeri ini. Segala kebijakan di negeri ini dijadikan "Hujjah". Hujjah yang seharusnya kepada Al Qur'an dan sunnah, bergeser menjadi sebuah negara yang dikira dan dianggap "semanhaj" dengan kelompok tertentu tersebut. Ngebelainnya sampai mati-matian, padahal kadang jauh panggang dari api. Nyatanya, di sini ga sebegitunya 😃.

Ini pelajaran berharga buat kita. Jangan menjadikan politis sebuah negara sebagai ikutan, landasan dan bahkan sampai ngebelain (apalagi kita tidak memiliki ilmu tentang apa yang kita bela tersebut. Bukan juga berdomisili di negara yang kita bela itu). Sekarang, setelah ada VAT 5%,pembelaan macam apa lagi yang akan digembar-gemborkan?! Inilah politik, bro. Politik itu ga ada aturan detil seperti halnya shalat, zakat dan puasa! Kebijakan Politik dalam sebuah negara. Kejadian ini, mengajarkan kita bahwa politik itu sangat-sangat dinamis! Segalanya bisa saja berubah 180°.

Di sini, berdemo atau aksi itu hukumnya Haram. Iya,karena secara legalnya itu tak diakui oleh politik di sini. Maka, siapapun yang berdemo di sini, dengan maksud melawan pada pemerintah yang sah, itu terlarang. Inilah politik di sini, di negeri ini dan ketika kita berada di sini, kita harus mengikutinya dan menujunjungnya. Tapi, di negeriku tercinta nun jauh di sana, aksi dan demo itu diakui undang-undang. Melaksanakannya legal. Lha, kenapa ada yang ngelirik sinis dan nyinyirin yaaa... #tanyakenapaa
Lha, orang cuma menyampaikan aspirasi koq, diakui lagi sama undang-undang. Apalagi yang sampai nyinyirin aksi bela Al Qur'an yang dikata ga ada manfaat itu. Itu kan aksi menyampaikan aspirasi dan ketidakrelaan kalo kitab suci kita dihinakan. Bukan sebuah pemberontakan apalagi melawan pemerintah yang sah. Ini politik di negara kita. Yang mana ketika kita berada di sini, kitapun juga mengikutinya dan menjunjungnya. Dan ga bisa lho yaa, kamu di sana malah mengelu-elukan politis kenegaraan di sini dan menjadikannya sebagai hujjah! Politik itu dinamis, Sist! Bisa saja berubah tanpa meminta persetujuan kamu! 😁

*lha, kenapa emak Aafiya yang minim ilmu ini jadi berapi-api yaa ehehehe... Karena aku ga memiliki ilmu dan fakih tentang hal ini, Tolong dikoreksi yaaa...
Maaf, jadi meleber ke mana-mana...

Back to topic, tentang VAT 5%. Sesungguhnya ini sangat memberatkan. Sebab, semua dipajakin! Even, beli air botol mineral sekalipun, tetap kena pajak. Beli pulsa, tetap kena pajak. Kalau di kampungku memang juga ada pajak. PPN 10÷ misalnya. Pajak pertambahan nilai, value adding tax, lebih besar malah. Sepuluh persen. Tapii, ada banyaaaak item yang tidak kena pajak. Beli sayur ga kena pajak. Heuheu... Beli pulsa ga kena pajak tuh di kampungku...
Di sini terasa agak berat, karena semuaa dipajakin. Berbelanja di supermarket terdekat untuk bahan-bahan masakan semisal beli bawang, sayur, juga kena pajak. Hiks.. hiks.. Bayangkan sajaa kalo setiap belanja mesti bayar pajak.. huhuhu...
Struk belanja jaman now. Udah ada VAT 5% nyeee... Meskipun cuma beli mentimun dab kawan-kawannya... tapi kawan-kawannya mentimun lebih banyak ternyataa wkwkwkwkwk 😂

Semoga Allah menunjukkan hidayah selalu untuk pemimpin negeri-negeri muslim di manapun berada...

Yang jelas, rizki itu dari Allah...
Bukan dari manusia.
Selama manusia hidup, pasti ada rizkinya. Sudah ada jaminan dari-Nya. Nah, harusnya aku lebih bersegera untuk sesuatu yang belum ada jaminannya. Yaitu keselamatanku di hari-hari setelah dunia ini berakhir...
Read More