Kelas Bermain Bersama Anak: Sensory Playing

Sebenarnya ini adalah PR di minggu ke-4. Tapi lebih duluan di posting di sini karena ini lebih duluan aku kerjakan hehe...

Menurut teorinya, sensory playing ini cukup penting bagi anak. Sok, baca aja langsung di teorinya. Emak Aafiya ga bakat bahas teori macam ni. Kekekeke...
Bahan-bahan yang bisa digunakan untuk sensory playing ini bisa berupa: air, pasir, cat, kancing, flanel, mata boneka, dll... Bisa juga ranting, daun dll...

Nah ini activity untuk sensory nya Aafiya dan juga Aasiya (tapi masih milih-milih yang aman buat Aasiya karena anaknya lagi di fase oral). Mana tau ada yang lagi pengen nyoba juga dan kebetulan dapat inspirasi dari sini... Heuheu.. 

1. Permainan Pasir (pasir-pasiran)
Alat dan bahan:
- pasir (boleh pasir imitasi juga koq)
- balon
- corong air
Additional: bekas gulungan tissue dll
Cara main:
Pasir dimasukkan ke balon dengan menggunakan corong atau pasir dimasukan ke karton bekas gulungan tissue
Lagi masukin pasir (pasir2an) ke dalam baloonan... karena kami ga punya halaman, mainnya di dalam rumah 😊.
Alhamdulillah Aafiya so much having fun. Tapi ini dilakukan ketika adeknya sedang tidur. Bahaya juga kalo sampai kemakan sama adeknya 😑.
Selain main pasir-pasiran ini, sebenarnya Aafiya juga udah sering main pasir di taman. Bikin gedung, benteng, kapal, dll bersama ayahnya. Emaknya kebagian photo-photo ajah. Kekekeke...

Main pasir-pasiran
Uni Aafiya sama Ayah lagi bikin apa yaa?

2. Permainan Hand Stamp
Bahan: pewarna makanan, air secukupnya dan kertas
Cara main: tangan dicelupkan ke pewarna makanan yang sudah diencerkan dengan air lalu ditempelkan ke kertas. Kayak hand stamp gituh...
Kalo yang ini dimainin bareng Aasiya juga tapiii ga nahan juga. Anaknya masukin tangan ke mulut 😅
Jadiii, beware kalo punya bayiik yaaak... Kekeke...
Di chai play aku liat "cat" nya menggunakan sari buah. Tapi koq aku mikirnya sayang amat sari buah dipakek buat stamp. Mending diminum. Hihi... Tapi utk usia Aasiya kayaknya memang sebaiknya pakek sari buah. Jadi kalo anaknya mau masukin ke mulut pun, emaknya ga perlu panik. Hihi...
Main hand stamp

Masih banyak permainan lain yang jadi PR emaknyee... In shaa Allah (jika sempat) nanti aku update lagi...

Yang jelas, dunia anak adalah dunianya bermain emang! Jadii, emaknya harus memfasilitasi dan ikut main jugaaak. Jangan sampai, anaknya dibiarin mengakses gejet di usia sedini mungkin. Sebaliknya, emaknya juga jangan ngasuh anak sambil main gejet jugaaa... Hehehe...

Main sepeda


Main buku kain
Main masak-masak
Main motong kue pura-pura

Main ayunan di taman

Read More

Tips Agar Istri Tidak Doyan Shopping

Bagi para Bapak-Bapak yang punya istri tidak doyan shopping, sungguh itu adalah anugrah. Selamat! Anda beruntung! Tolong jangan sia-siakan istri sholeha macam ini 😁. 
Setidaknya, tidak perlu pusing melihat rekening terkuras di pusat perbelanjaan atau di marketplace atau minimal tidak perlu memantau olshop yang di follow Istri Anda 😂.
Bagi bapak-bapak yang punya istri suka shopping, tak perlu berkecil hati. Itu artinya, Anda memiliki istri yang normal karena mungkin pada fitrahnya (beneran ga yaa pada fitrahnya kekekeke) wanita doyan shopping--minimal window shopping-- 😂

Look inside the wardrobe; what did you buy?!?!
(Gambar ini punya hak cipta lho yaaa meskipun ga pakek watermark.. so, ga boleh dicomooottt tanpa seijin emak Aafiya 😛)

Sebenarnya tujuan tulisan ini sih bukan buat bapak-bapak para suami. Ini sebenarnya tujuannya buat istri dan khususnya buat diri sendiri... Karena meskipun orang banyak menyebutku dengan panggilan "Pak, Mas, Bang..." yang sukses bikin upset berat, aku pada kenyataannya perempuan sejati sekaligus seorang istri--alhamdulillaah. Yang memanggil dengan panggilan Pak, Mas, Bang itu pastilah orang yang tidak mengenaliku sama sekali, soo... no need to be very very upset 😅😆.

Well, back to topic, gimana bikin istri ga doyan shopping. Sedikit cerita, dulu aku termasuk yang agak doyan shopping pas baru-baru di sini... Ya, shoppingnya yang MODIS emang. (Baca: Modis = modal diskon). Kalo ga diskon sih ogah! (Emak perhitungan teteeep sih! Wkwkwkwk). Aku yang baru-baru melek merek kelas menengah dan agak atas dikit, jadi rada euforia gituh liat si Zara lagi diskon 80%, atau si Charles and Keith lagi special offer kebangetan. Langsung ijo ehh merah-merah lope deh mata kalo liat mall pada special offer. Kurang lebih kayak gini emotnya (😍)... wkwkwkwk... Dasar emak-emak emang kurang kerjaan kali yaaa aku... Astaghfirullaah...


Akhirnyaaa, itu baju udah selemari! Sepatu udah beberapa pasang. Ya salaaam... Astaghfirullah... Parah! Yaa, itu dulu sih... Duluuu... Sampai akhirnya Abu Aafiya beliin mesin jahit. Sejak ada mesin jahit, kebiasaan nenteng belanjaan yang diskon banyak berkurang (kalo kata Abu Aafiya sih no significant difference alias P > 0.05, tapi aku pribadi merasakan berkurangnya minat memburu diskonan wkwkwk). Paling kaos buat pakaian anak-anak doang yang dibeli. Satu dua baju princess. Tapi ga se euforia dulu. Tapii, sayangnya sedikit beralih ke beli raw materialnya alias kain yang belum dijahit, walaupun ga seheboh sebelumnya sih. Karena kain jarang diskon. Yaa syukurlaah... Bagus buat kantong emak Aafiya! 😂🙊

[Kesimpulan pertama: Tips agar istri ga doyan shopping adalah belikan mesin jahit! Ga perlu yang mahal. Yang 2nd juga boleh. Ga perlu yang Heavy Duty ala pabrik fashion, yang simple buat pemula juga cukuplaahh.Gapapa lah invest 700rb-1jt an dari pada tiap bulan minta beli gamis selembar 500rb plus khimarnya 100rb. Kekekekeke...]


Alhamdulillah, sampailah aku di masa di mana, aku cuma minat beli selembar fitness t-sirt dan selembar baju buat di rumah dalam hitungan 1 tahun terakhir. Prestasi banget yaaa... Biasanya pulang selalu bawa tentengan.. *Tutup muka pakek niqob*
Meskipun kadang masih sulit menahan godaan untuk coat dan jaket-jaket cantik (karena aku coat and jacket lover), tapi godaan-godaan lain alhamdulillah sudah lumayan well-managed lah. Tidak euforia lagi liat diskonan ampe 80% sekalipun. Toh akhirnya coat itu ga jadi juga mampir di kasir, alhamdulillah...

Pada akhirnya mencapai titik saturasi juga. Sembari kontempelasi, aku ingin menertawakan diri sendiri aja rasanya melihat ke-euforia-an aku dulu. Apa sih yang sebenarnya aku cari dengan diskonan itu? Apakah aku benar-benar butuh atau sekedar ingin semata? Dan--astaghfirullah--aku disadarkan kemudian dengan hisab barang-barang ini kelak. Jika itu sebuah kebutuhan, maka aku sudah punya jawabannya. Bagaimana jika ingin semata, dan hanya dipakai sekali dua kali lalu tersimpan hingga berdebu? Bagaimana dengan hisabnya kelak?! Bukankah simpanan-simpanan ini yang kelak akan memperpanjang dan memperlama hitunganku? Ahhh... Astaghfirullah... Lama aku terdiam speachless ketika ada yang mengingatkan soal ini.

[Jadi, tips kedua: Ingatkan kalo perlu SWOT dulu sebelum beli sesuatu apakah memang benar-benar dipakai, apakah benar-benar butuh, apakah tidak keinginan sesaat, lalu jangan lupa ingatkan juga soal hisabnya jika tak dipakai nantinya. (ini mah sebenarnya buat diri sendiri hehe). Jadi, kita bisa lebih woles melihat tulisan merah besar "Discount up to 80%" kecuali benar-benar dibutuhkan. Kalo lagi butuh dan itu lagi diskon berarti 'Anda sedang beruntung!' Kekekek....]

Ah dunia, sampai ke manapun dikejar takkan pernah bisa memenuhi rasa puas kita. Selalu saja... selalu saja... menggoda. Setelah kita mendapatkan sesuatu yang menggebu ingin dicapai sebelumnya, pasti akan ada gradualnya. Ingin lebih lagi. Dan lebih lagi. Begitulah hakikatnya dunia. Padahal, merugilah kita yang ymengumpulkan dunia sementara ia pasti akan ditinggalkan. Alangkah sia-sianya segala simpanan dunia. Nikmatnya hanyalah secuil. Bahkan tidak lebih dari selembar sayap nyamuk dibandingkan akhirat. Ibarat perjalanan, begitulah dunia. Hanya perjalanan yang sebentar saja. Alangkah ruginya perjalanan jika bekal kita terlalu banyak dihabiskan di pertengahan, sementara ketika sampai di tujuan, kita tak lagi punya apa-apa; na'udzubillah...


Mulai berbenah!
Membenahi isi wardrobe, isi rak sepatu, dan juga kitchen cabinet di dapur.
Mulai seleksi, mana yang benar-benar dipakai dan mana yang dulu cuma tergoda diskonan. Jika pakaian dan peralatan masih layak, boleh disumbangkan. Jika tidak, maka bisa turun pangkat jadi kain lap 😂.
Pun begitu baju anak-anak, baju bapak e anak-anak. Big Thanks dah untuk Mba Marie Kondo yang sudah berbagi inspirasi. Harusnya seorang muslim yaa yang lebih dahulu mempraktekkannya yaa...😆


Perjalanan masih panjang, proses berbenah masih banyaaak...
Bahkan baru mulai 5-10%...
Tapii, step by step... step by step...
Semangaaaaattt!!!

*Ada yang mau ikutan dan bantuin bebenah?*
Read More

Mungkin Sabar Perlu Dikejar

Kazan Al Rawda Park

Menatap wajah-wajah bening itu saat terlelap, ada sejuta sesal di hati... Wajah polos tanpa beban, tanpa dendam, ada selaksa sesak di dada... Sesal dan sesak tentang sabar yang sulit sekali dikejar. Tentang kelapangan hati yang begitu susah dieja.

Mereka--wajah bening berpendar tanpa dosa--karunia yang besar dari Allah, belumlah mengukir salah dan alpa. Hanya saja, kita (aku) yang masih tertatih mengejar sabar... Hanya saja, kita (aku) yang sedikit bersyukur...

Ahh, anak-anakku...
Permata hatiku...
Maafkan Bunda, nak...
Meski setiap hari berikrar ingin menjadi bunda yang lebih baik, selaluuu saja ada celah, selalu saja ada rombengan...
Ya, karena Bunda harus lebih banyak mengeja sabar... Dan juga lebih banyak mengukir syukur, sebab kalian adalah karunia-Nya yang sangat tak layak untuk tidak disyukuri...



*****
Riyadh, di pergantian hari--midnite--
Read More

Living in Riyadh [Part 21]: Oriental Tasty in Riyadh

Tinggal di Riyadh, ternyata tak serta merta bikin aku langsung suka masakan ala middle east. Awal-awal dulu malah ga suka sama sekali. Sekarang sih alhamdulillah masakan middle east sudah ngangenin (terutama pada waktu tertentu...) Misal lagi laper akut, ga sempat masak dan yang terdekat adalah math'am bukhori dengan nush-fahm nya, pasti deeh ludeess ituuh si nasi bukhori. Kekekeke...

Pilihan yang mendekati tasty asia tenggara itu mestilah masakan oriental yaak.. Thailand, Jepang, China, Singapore dan sejenisnya lah yaaa...
Nah, soal masakan oriental ini kami punya salah satu restoran favorite di sini... Ini restoran sangat bersejarah buat IMoreFamily... Namanya Restoran Peking; Chinese Restaurant. Lokasinya cukup dekat dari rumah kami, di Khurais Mall... Beef schezuan nya enak. Shanghai lumpia nya maknyoos... Vegetable fried noodles nya nendang... Daaan, kami hampir selalu memesan paket meal dengan beef teriyaki... Entah kenapa, meski sudah menjelajahi banyak jenis oriental food, mesti kami balik lagi deeh ke si Peking ini... Kekekeke...

Selain Peking, ada lagi Canton. Canton sendiri melabeli restoran mereka dengan Ancient Chinese Food... Lebih mudah menemukan Canton dari pada Peking karena Canton ada di mana-mana. Setiap gang ada kayaknya 😁. Setiap mall pada umumnya di foodcourtnya tersedia si Canton ini. Di dekat rumah kami saja, ga sampai 2 km ada Canton. Tapi, kami ke Canton ini--meski dekat--jarang sekali jika tidak emergency bangeeet... Wkwkwkwk... Mungkin karena lidah lebih bersahabat dengan si Peking ketimbang Canton, meskipun banyak teman-teman bilang kalau Canton itu jauh lebih enak...
Dugaanku sih karena Canton lebih banyak pakek kecapnya dan lidah padangku (meski senang berpetualang nyoba berbagai masakan dari berbagai suku bangsa dan negara...wkwkwkwk) tetap agak kurang acceptable dengan kecap yang agak banyakan. Dan Peking itu tak banyak kecapnya... Jadii, Peking tetap numero uno buat aku dan keluarga... hihihi...

Restoran ketiga; Villa Restaurant. Retoran ini masakannya Thailand. Untuk pertama kali seumur hidup nyobain Tom Yum ya di sini. Ternyata Tom Yum itu enak yaaa... ma shaa Allah... Selain itu aku suka tumis kangkungnya dan juga tempuranya. Sayangnya lokasinya terbilang cukup jauh dari rumahku (sekitar 30-an km) jadiii Udah lama ndak ke sini.. Duh koq jadi pengen ke Villa yaa.. hihi...

Restorant selanjutnya; aku lupa namanya apaa... hahaha parah... Klo ga salah ada Teriyaki nya gituh deh... Masakan Jepang. Lokasinya di Hayat Mall. Tapi aku bener-bener lupaaa karena cuma sekali beli di sana. Lumayan sih tasty nya...

Trus restoran kelima; Quick Chow. Lokasinya di Riyadh Gallery. Awalnya aku ga notice ada di Rigal karena beberapa kali ke Rigal ga pernah nemu si Quick Chow ini. Akhirnya waktu itu kita pesen di shawarmer ajah. Tapi pas nungguin Abu Aafiya shalat, ternyata di ujung foodcourt itu deket masjid laki-laki ada si Quick Chow ini... Waah ternyata si Quick Chow recommanded. Menunya, Japanese dan oriental lainnya. Sushi/Maki nya enaaak banget menurutku. Aku pesan ramen dan Abu Aafiya pesen Beef Fried Rice. Trus pesen dimsum, sushi dan juga Tofu... wkwkwkwk... ini laper banget apa yaaah pesenannya banyak bangeeet 😂😂😂
Yang paling kocak pas pesen tofu... Kirain kayal Tofu yang dijual di Indonesia ituu yang lembuutt bangeeet. Eh ga taunya persis kayak goreng tahu yang biasaaa di beli di warteg 😅😂😆

Restoran keenam; Wok!
Ada cerita tidak lucu tentang Wok ini. Dulu pas ke Nakheel mall, kami pernah ingin memesan si Wok ini. Tapi karena servicenya jelek dan kami yang sudah lama ngantri diabaikan malah diduluin orang yang belakangan, akhirnya kami batal ngorder dan beralih ke burger king lagi (lagi-lagi burger king, menu paling seriiing kami belii.. udah kayak snack sore aja si burger king ini wkwkwkwk...).
Akhirnya pas ke Hamra Mall, nemu si wok ini, kami pesen juga akhirnya. Rasanya hampir mirip sama Quick Chow tapi teteep lebih enak quick chow sih. Sushinya jauh dibawah quick chow rasa nya... Tapi harganya jauh lebih mahaaal. Wok adalah restoran yang ga pengen kami datangi lagi untuk makan di sana.. hehe...

Restoran ketujuh:  AGUS!
Awalnya orang-orang bilang, ada restorant Mas Agus di Granada Mall. Aku rada heran, "he? Seriusan ada restoran indo di mall?" Ehh ga taunya namanya doang yang Agus tapi mesennya kudu pakek English jugak 😂
Padahal nama AGUS kan indonesia banget yaaaak... hihi
Agus menyediakan menu dari berbagai negara seperti Jepang, Thailand, Singapore dan juga ada satu menu yang familiar di Indonesia yaitu Bakmi Goreng. Abu Aafiya pesen Bakmi Goreng dan aku pesen beef apaa gituuh lupa namanya kekekekeke... selain itu kami juga pesen sushi dan sweet corn soup... Agus sangat recommended menurutku. Selain itu, Agus ini porsinya Jumbo bangeeeett dan harganya ga semalah Wok. Tasty di atas nilai rata-rata si Wok. Pengen ke Agus lagi deeh kapan-kapan, in shaa Allah...

Maaf yaa ga ada fotonya.. mostly dateng2 udah lapeer jadi ga mikir lagi buat moto-moto 😂😂😁😁

Ini bukan postingan yang penting sih. Cuma pengen nulisin kuliner oriental yang ada di sini ajaa sih.... hehe
Udah di sini, masa sih ga wiskul. Kekekeke...

Read More

Kelas Bermain Bersama Anak: Minggu Pertama

Alhamdulillah di sini masih banyak ibu-ibu yang peduli dengan pengasuhan anak. Ada beberapa club dan salah satu yang aku ikuti adalah kelas "Bermain Bersama Anak". Kelas ini mengadakan pertemuan offline di rumah penggagasnya; Mba Dara (meskipun aku berhalangan hadir) dan juga 'pertemuan' online di grup ehatsapp. Ada tema dan semacam PR yang harus si ibu lakukan setiap minggunya. Dan alhamdulillah ini sudah minggu ketiga.


Mba Dara adalah salah seorang ibu yang inspiratif nenurutku karena concern nya terhadap pengasuhan anak. Blognya bisa diakses di http://daramaina.blogspot.com .
Mba Dara yang menginisiasi adanya kelas parenting ini yang sebagian besar telah diterapkan di rumahnya sendiri tentunya. Nanti (jika sempat) in shaa Allah aku share apa saja kegiatan di kelas ini.

Minggu pertama adalah tentang bagaimana mengenal emosi anak. Ya, anak kadang sulit untuk mendefinisikan apa emosi yang tengah mereka rasakan. Apakah sedang senang, marah, sedih, kesal, bingung dan lainnya. Akhirnya berujung pada tatrum. Anak menangis, berteriak, melempar dan lain sebagainya.
Nah, pelajaran kali ini adalah bagaimana kita sebagai ibu bisa membantu anak mengenal emosi apa yg sedang mereka rasakan. Salah satu caranya adalah dengan mengenalkan emosi kepada anak melalui media gambar.


Ada yang membuat gambar berbagai macam emosi di kertas, di piring plastik di mana aja... Nah, emak Aafiya kepikiran bikin emotion doll pakek kain flanel, diisi dengan dacron.. Akhirnya kita realisasikan PR minggu pertama ini dengan bareng-bareng bikin emoticon doll... Jadi setiap aafiya merasakan suatu emosi, aku memintanya untuk memilih emosi apa yang sedang dia rasakan. Sebaliknya, aku juga melakukan hal yang sama. Misal Aafiya merebut mainan adeknya, aku acungkan emoticon sad atau angry kepada Aafiya... 😁


Berikut emotion doll yang kami kerjakan bareng

Emoticon Doll "sad"

Emoticon "happy" (abaikan latar yang berantakan 😂😂😂)

5 macam emosi ; happy, sad, confuse, angry, annoyed (harusnya gambarnya di rotate 90° ke kiri yak wkwkwkw)

Read More

Being A Child in National Park

Hehehe, judulnya ga sepenuhnya menggambarkan isinya sih... wkwkwkwk...
Jadi, beberapa jum'at lalu di bulan juli atau agustus (udah lama jadi lupaa... ini kesimoen di draft muluu wkwkwk), finally we reached National Park... Atau familiar juga dengan Al Wathan Park. Al Wathan senidiri dalam bahasa arab artinya adalah nasional.*Dulu, liat National Park ini cuma dari balik pagar seberang King Abdul Aziz Historical Museum doang. Itu taman yang kayak payung terbalik isinya apa yaa? Cuma kepo dengan membatin sahajaa... Kekekeke...

Daaan, espektasiku kala itu sih seperti halnya taman yang ada di Riyadh lainnya, seperti ini jugak si National Park ini dengan gedung 'payung terbalik' yang menjulang tinggi di tengahnya. Di taman-taman lain, biasanya 'rumah' harist/penjaga tamannya biasanya dibikin lucu dan unik jadi tidak terkesan rumah dalam taman. Kesannya malah gedung unik bagian dari taman. Dan bikin nilai seni tersendiri buat si tamannya. Ide ini menurutku sangat kreatif dan unik. Karena kalau sekedar rumah penjaga taman biasa-biasa saja modelnya atau malah sekenanya aja, jadinya malah merusak keindahan taman itu sendiri. Hehehe... Back to national park. Aku pikir si menara payung itu juga bagian dari rumah penjaga taman.. wkwkwkkw... Tapi koq tinggi bangeeet (lift nya setara 16 lantai... Kenapa aku tau, ini ada ceritanya. Baca selengkapnyaa yaaa sampai habis... ehhh siapa yang baca yaak... wkwkwkwkwkwk....). Tapiii ternyata jauh meleset espektasinya. National Park ternyata isinya adalah berbagai wahana permainan. Tersedia juga playground yang pastinya bikin Aafiya senaaaaaang banget... Hehehe...

Tiket masuk bayar buat emak aafiya dan bapak aafiya doang... karena anak 2 tahun masih gratis.Tapi Aafiya bisa koq menikmati wahana di sana... All in kalo bayar 35 SAR/person. Tapi kalo mau naik wahana tanpa gelang all in, bisa juga sih... Jatohnya lebih mahaal... 1 wahana 10 riyal... Emak-emak ogah rugii wkwkwkwk...  Ada kapal yang mengelilingi miniatur Saudi gituh... Ada kereta-keretaan... Ada pesawat-pesawatan... Ada kayak bianglala gituuh... Yang paling seru adalah... emak Aafiya bisa naik bum bum car alias bumper car... 😂😅
Ga kebayang deeh sebelumnya, abayaan dan cadaran giniih tapi naik bumbum car wkwkwkwkwk... memang berasa being a child banget deeeh... Ssttt... Tapi bukan aku doang lhoo, banyak juga emak-emak arab lainnya yang  maen bumbum car kayak akuuh... kekekeke..
Pengen berulang-ulang naik bumbum car nyaa... Cumaa kasian sama Aafiya yang nangis pengen ikutan tapi belum boleh karena usianya belum mencukupi... Kasian juga sama bapaknya Aafiya yang kerepotan megang dua anak sekaligus sementara istrinye main bumbum car... Kan kebangetan kalo aku naik bumbum car ampe 10x wkwkwkwk...

Abu Aafiya naik wahana yang lebih menantang...yaitu semacam halilintar tapi depannya kayak onta... Kata Abu Aafiya, kayak mau munt*h abis naik halilintarnya... Ngaduk isi peruut... kekekeke...

Abis itu nemenin Aafiya main di playground dan arena bermain pasir sepuas anaknya... Trus makan deeh bekal yang kita bawa tadinya... Aku bikin beef sambosa dan ayam bakar pas sebelum berangkat.

Naah, pas mau pulang, koq aku liat kayak lift dan petugas berseragam di depan menara payung. Penasaran aku tanya daah (maksudnya Abu Aafiya yang nanyain soalnya arabic ku masi jauuuhhh dari OK, kayak jauhnya Padang-Riyadh wkwkwkwk), ternyata kita boleh naik ke menara itu... Bayar tiket 10 riyal. Naiklah aku sama Aafiya... Di lift nya cuma ada 2 pilihan, ground floor sama lantai 16... Jadii, kesimpulanku... ketinggian menara ini setinggi kira-kira 16 lantai yak... kekekeke...


Karena kabar-kabarnya menara payung terbalik ini sebenarnya adalah menara air, espektasiku yaa paling selang-selang air doang di atas sana... ternyata bener-bener beyond expectations! Di atas sana ma shaa Allah, ada ruang-ruang yang cukul luxury, restroom, kursi dan meja, dan dinding kaca untuk melihat pemandangan ke luar. Dan ada pintu ke luar juga ke terasnya yang dari sana bisa menyaksikan pemandangan kota Riyadh dari ketinggian. Sekaligus ada meja kursi tempat makan di teras (malah mirip balcony besaaar gituh) kalo pengen bawa makanan ke atas. Fantastic ma shaa Allah...


Berikut beberapa koleksi foto di National Park..
Menara Payung terbalik (menara air)
Menara dari bawah

Penampakan dari agak jauhan

Air mancur yang tertangkap kamera hihi

Ini temlat leyeh2 buat family yg diambil dari atas boat

Naik pesawat pesawatan

Riyadh City; pemandangan kingdom tower, faisaliyah tower dll

Ini kalo ga salah Murabba Palace

Another framing


Di menara bagian atas

Ini area deerah atau batha kali yaa... kekeke

Jalanan 
Another photo

main bumper car










Read More

Menggerus Rasa dan Penjagaan Hati

My little princess at Dr Sulaiman Al Habib Hospital
Sudah lama ga apdet blog nih yaaa... Antara ndak sempat atau males kayaknya 😁. Banyakan cuma tersimpan di draft dan belum terselesaikan sama sekali... Tapi yasudahlah... just write when you wanna write... don't force your self... Kekekeke... alibi,excuse, atau pembenaran nih? Secara aku kan nulisnya mood depending banget kan yaa...

Ini judulnya serius amat kedengarannya (apa kelihatan) yaak?? Coba tebak isinya gemana kira-kira kalo judulnya begini? Heuheu... Ini nulis apa main tebak-tebakan coba? 😜


Sebenarnya sudah lamaa banget pengen nulis ini. Tapiii, maju mundur cantik ajah tuuh.... Sudah sempat ditulis beberapa paragraf, ehh ga taunya tak tersimpan di draft... Abis itu udah malees ajah deh nulisnya lagii... Tapii sekarang mumpung lagi ada hati buat menuliskannya lagi... Cuuss deh dituliiss... (baca: diketik!).


Hmm... (tarik nafas panjang) dan mulai bercerita...
Terkadang, ada perasaan ingin membagikan hal-hal terkait perkembangan anak di medsos layaknya emak-emak lainnya. Ada fotonya yang lagi lucu dan cute bangeeet, ada videonya yang lagi gemesiiin bangeet... Ya, ada! Ada keinginan itu... Minimal buat koleksi pribadi (yang entar diingetin lagi ama si efbe "ini looh kenangan kamu skian tahun yg lalu" 😂😁)
Seperti kebanyakan emak-emak lainnya, yang isi timeline nya melulu di dominasi oleh putra putrinya, little prince and princess nya... Aku pun kadang begituu...


Alhamdulillaah selalu ada semacam rem untuk akhirnya tidak melewati 'trafficlight' itu... Terutama support dari suami. Apalagi aku dengan karakter cukup extrovert ini, kadang remnya kurang pakem... kekeke...
Aku tidak mengatakan itu larangan untuk semua orang loh yaaa... Ini khusus rules di kami saja... Setiap orang berhak melakukan apapun selagi itu masi dalam koridor syar'i dan berhukum mubah. Dan lagi, setiap orang juga punya alasan untuk melakukannya, misal berbagi inspirasi. Jadi, adakah hakku untuk mengeneralisir ini untuk semua orang?


Hanya saja, aku ingin memberikan sedikit alasan mengapa aku tidak ikutan tren membagikan foto wajah ceria anak, kehebatan anak, milestone anak dan segala sesuatu terkait anak (yang mana tau alasanku itu cocok dan sesuai dengan kamu--yang lagi baca ini-- dan mana tau ini bermanfaat bagi sebagian orang). Dulu aku sempat menuliskan juga alasan kenapa aku tidak ingin memposting foto anak dengan wajah yang terlihat jelas di media sosial (even juga di blog yang pengunjung yang tidak banyak dan juga tidak lalu lalang alias sliweran di timeline yang tak sengaja bisa dilihat tanpa harus ngetik url dulu atau menyengajakan diri berkunjung). Jikapun ada, maka itu pastilah tampak samping atau tampak belakang sahaja.


Alasan pertama, 'ain itu nyata adanya. Ini sudah aku jelaskan panjang lebar di postingan dulunya (baca di tulisan Bolehkan Memajang Foto Bayi di Jejaring Maya; ga bisa copy link karena nge blog pakek aplikasi blogger yang ga aksesible untuk ngelink tulisan, jadi cuus di sini ajaah http://fathelvi.blogspot.com/2015/06/bolehkah-memajang-foto-bayi-di-jejaring.html?m=1)

Setiap anak itu istimewa. Bagi setiap orang tua, anaknya pasti adalah anak yang istimewa. Setiap orang tua, pasti akan merasa bahwa anaknya adalah yang terbaik dan pasti ingin membanggakannya. Sebagaimana kita orang dewasa, anak-anak juga adalah manusia yang memiliki kelebihan di satu sisi dan juga punya kekurangan di sisi yang lain. Jadi, jika setiap anak istimewa dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, aku merasa memposting kelebihan anak, kelucuan anak dan kecantikan/kecakepan wajahnya, kepintarannya, terkadang (kendati pun kita sudah berusaha memperbaiki niat) ada terselip ingin eksistensi dan berbangga diri. "Ini loh, anakku usianya baru segini, tapi sudah bisa begini...", "ini loh anakku, gantengnyaaa...", "ihh anakku... emesshh bangeeet deeeh.. lucuuu pisaaaan....", "shalihnya putraku, udah bisa baca do'a, sudah bisa hafal bacaan sholat...", "waah cantiknya putri kecilku yang selalu pakai jilbab ke mana-mana". Bukan masalah jika niatan awalnya adalah untuk berbagi inspirasi dalam mendidik anak misalnya. Tapi.... kadang, susah mendeterminasinya antara berbagi inspirasi ataukah berbangga diri. Semoga kita bisa selalu meluruskan niat yaaa... 😊😚


Alasan selanjutnya, adalah mengenai rasa dan penjagaan hati. Meskipun setiap anak istimewa dan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, terkadang ada rasa syukur yang tergerus ketika melihat kelebihan anak yang kita posting ternyata ada anak orang tua lainnya yang belum memiliki kelebihan itu. Semisal, anak yang kita posting video lucunya yang lagi ngoceh sana sini, tapi ternyata ada anak lain seusianya yang belum lancar bicaranya bahkan terlambat bicaranya. Sehingga, bisa jadi kita menjadi tersebab tergerus dan terkikisnya rasa syukur orang tersebut atas anaknya yang dikaruniakan Allah kepadanya... Atau bahkan ada orang yang bertahun-tahun menunggu hadirnya anak, lalu kemudian postingan itu membuat tergerusnya rasa sabar atas penantian panjang yang kemudian berujung gugatan "kenapa Allah belum memberi kesempatan untuk kami memiliki anak?". Na'udzubillaah...
Ya, ada hati yang harus dijaga.
Oleh sebab iman itu yazid wa yankus dan kondisi hati saat melihat itu berbeda-beda, maka penerimaan hati setiap orang yang melihat postingan itu pun berbeda-beda... Boleh jadi, dari ratusan orang yang membaca atau melihat postingan kita, ada satu atau dua hati yang tersayat, ada syukur yang tergerus, ada sabar yang terkikis yang kita tidak tau itu siapa. Boleh jadi, bagi sebagian besar orang, apa yang kita posting adalah hal biasa, tapi ada satu dua orang yang merindukan hal yang sama tapi ia belum memilikinya atau hatinya sedang tidak siap menerima postingan kita dan kemudian menjadi murunglah ia tersebab kita.

Ya, ada hati yang harus dijaga.
Meski sosial media itu milik kita, akun kita sendiri, dan kita bisa saja berdalih "kalau ga kuat nahan hati, ga usah medsos an", tapiii alangkah lebih baiknya jika kita juga sedikit bijak dalam mengekspos sesuatu. Karena kita tidak tau bagaimana kondisi hati setiap orang. Jika dalam kondisi musibah atau kesedihan, tidak berlebihan curhat ke medsos dan galau-galauan (boleh ajah sih mengeskpresikan rasaa sewajarnya di medsos karena sebagian orang mungkin merasa itu kanal dari segenap rasaa asal jangan tiap menit update status galau dan mellow 😂). Pun jika dalam kondisi mendapat kebahagiaan, tidak terlalu berlebihan mengekspresikannya. Sebab--sekali lagi--ada hati yang harus dijaga.


Alasan terakhir (khususnya untuk tulisanku kali ini, karena sebenarnya banyak alasan lain yang tidak tertuliskan di sini) jika kita memiliki anak yang hebat, yang baik yang membanggakan, itu bukanlah semata karena kitalah sebagai orang tua yang pintar dalam mendidik anak. Itu adalah karunia dari Allah. Allah-lah yang mengilhamkan ilmu pada anak-anak kita. Allah-lah yang mengkaruniakan wajah yang bagus dipandang pada anak kita. Allah-lah yang memberikan segalanya hingga hadir anak-anak yang menyejukkan hati kita. Bisa jadi, bukan karena kita hebat menjadi orang tua, tapi tersebab do'a dari orang tua kita, do'a dari saudara kita, do'a dari teman-teman kita dan orang terdekat kita yang kita tidak pernah tau mereka mendo'akan kita dan anak-anak kita. Tanpa sedikitpun mengecilkan dan mengenyampingkan pentingnya kita belajar untuk menjadi orang tua yang baik dan mendidik anak dengan sebaik-baik pendidikan, tetap saja anak hebat itu bukanlah sepenuhnya andil kita. Ini adalah agar kita tidak berbesar diri telah menjadi orang tua hebat... 😊.



Disclaimer:
Ini semua ditujukan buat aku pribadi terutama (apalagi aku yang extrovert dan ekspresif iniih hihihi). Tolong ingatkan yaa jika suatu saat kamu menemukan aku lagi dalam kondisi tidak sesuai dengan apa yang aku tulisin di atas... 😘😄


Semoga Allah senantiasa memberkahi langkah kita... Mengilhamkan kita ilmu dalam mendidik anak-anak kita... Memberi penjagaan untuk mereka... dan menjadikan mereka generasi yang imannya tangguh di setiap peradaban yang mereka lalui kelak...
Read More

Anda Seorang Muslim?

Ini entah kali keberapa kami sekeluarga atau ketika aku bertiga sama anak-anak saja sedang berada di area publik ditanya, "Anta muslim?" atau "Anti muslimah?" ketika kami jawab "Aiwa, Ana Muslim.." dilanjutkan dengan komentar berikutnya, "Ma shaa Allah...". Terakhir pertanyaan itu menghampiri kami ketika sedang walking di taman--Crown Prince Park. Padahal, kala itu suamiku sedang mengenakan baju Thoub (baju gamis khas Arab untuk laki-laki) dan aku sendiri mengenakan cadar. Yang mengherankan, kenapa pertanyaan itu bisa muncul?


Pertama kali aku ditanya waktu itu ketika bertiga bareng anak-anak di sebuah mall. Abu Aafiya sedang menunaikan shalat di masjid lantai 2. Sementara kami di ground floor bersama banyak ibu-ibu lainnya yang juga sedang menunggu suami-suami mereka shalat atau menunggu toko-toko pada buka lagi sehabis jam shalat. Kala itu, Aafiya mengenakan jilbab dan sedang asyik berlarian di area publik yang memang luas dan tersedia tempat duduknya. Lalu, tetiba salah seorang wanita Asli sini bertanya, "Anti muslimah?" (Apakah Anda Seorang Muslim?). Aku mengernyit heran. Butuh dua kali untuk mencerna pertanyaan itu secara anakku pakai jilbab dan aku sendiri mengenakan cadar. "Hemm??" aku menggumam heran. Dia mengulangi pertanyaan yang sama, "Anti muslim? Islam... Islam...!" Tanyanya lagi sekaligus menjelaskan lebih detil pertanyaannya. "Na'am Ana Muslimah." Aku jawab kali ini dengan mantap tapi sekaligus penuh tanda tanya.

Ngapain sih masih harus bertanya lagi apakah aku seorang muslim apa bukan. Aku jelas-jelas sedang mengenakan identitas muslimah. Aku pakai jilbab dan juga cadar. Dan anakku pakai jilbab juga. Bahkan di negeri jazirah gurun ini anak-anak tidak dibiasakan dengan jilbab. Lalu, apakah butuh dipertanyakan lagi bahwasannya aku islam apa bukan di negeri yang berdasar syariat islam ini? Bukankah jilbab itu adalah identitas muslimah dan tidak dikenakan oleh wanita lain selain muslimah? #Edisi BAPER tingkat tinggi... ehehehehehe....

Kali kedua dan kali ketiga dan kali berikutnya dipertanyakan hal yang sama, aku tidak seheran ketika kali pertama dipertanyaankan hal ini. Tapi, masih bertanya-tanya, mengapa harus mempertanyakan seseorang islam apa bukan ketika mereka sudah mengenakan identitas seorang muslimah? Dan juga, di sini bagi yang non muslim sendiri sudah diberikan "kebebasan" untuk tidak mengenakan jilbab walaupun masih harus memakai abaya hitam. Jika seseorang non muslim, mungkin dia tidak akan berpikir untuk memakaikan jilbab buat anaknya, kalau misalnya buat dirinya sendiri masih memungkinkan dengan alasan "safety" misalnya. Sebab dahulu memang sempat non muslim harus mengenakan scarf tapi kebanyakan mereka cuma melingkarkan ke leher dan jika ada polisi syariah baru deh ditutupin ke kepala. Nah, buat anak-anak? Di tempat yang anak-anak mereka sendiri yang muslima tidak dipakaikan jilbab sekalipun. Semestinya, logikanya "ngapain harus cape-cape' ngejilbabin anak di suhu yang 40-50 derjat celcius begini jika bukan seorang muslim?


Setelah dilakukan analisa yang tidak mendalam, sepertinya karena mereka menduga kami citizen Philipina bukan Indonesia. Bahkan, pernah beberapa kali kami tanpa ditanya-tanya dulu langsung diajak bahasa tagalog. Melihat wajah kami yang heran heran bingung, langsung deh ditanya pakai bahasa inggris. Hihihi... Tak terhitung pula entah berapa kali kami disapa dengan salam "Kabayan!" ala tagalog yang kami jawab dengan senyum plus bilang "Indonesia". Kekekeke... Jika wanita Arab yang bertanya "Anta Muslim?" itu tau kami dari Indonesia, mungkin akan serta merta langsung tau kalau kami muslim. Karena kalau dari Indonesia, mereka sudah tau bahwasannya mayoritas adalah muslim. Jamaah haji dari Indonesia juga yang terbanyak kan yaaa...

Tak dipungkiri, Populasi warga Philipina di sini bisa dibilang sangat-sangat banyaaak. Jauh melebihi orang Indonesia. Terbanyak pertama adalah India, lalu Mesir, Yaman dan diikuti dengan Philipina. Mereka menguasai berbagai sektor terutama rumah sakit. Bisa dibilang hampir 85% perawat berbagai rumah sakit maupun klinik di Saudi dikuasai oleh perawat pinoy. Karena perawakan dan wajah pinoy dan Indo mirip (masih satu rumpun) makanya ga salah juga sih sebenarnya aku dikira philipine. Tapi, tetep saja heran dengan pertanyaannya (masih mutung ceritanya... kekekeke).

Terlepas dari semua itu, alhamdulillah... tsumma alhamdulillah Allah takdirkan aku terlahir dalam keluarga muslim. Sebuah anugrah dan hadiah dari-Nya yang tak ternilai harganya! Ini adalah karunia-Nya yang sungguh tak ingin ditukar dengan apapun. Aku seorang muslim! Dan aku bangga menjadi seorang muslim! Semoga Allah berikan keistiqomahan di hati para muslim di manapun berada dan Allah wafatkan dalam keadan muslim. Aamiin yaa Rabb...
Read More

The Beautiful of Wadi Namar

Week end ini alhamdulillah kesampaian juga ke Wadi Namar. Lumayan jauh dari rumah kita (sekitar 30-an km). Tapiii kabar baiknya adalah jalan menuju Wadi Namar dari rumah bisa dibilang sangat gampang dan mudah serta mulus dan hampir tak ada macet. Hanya melewati high-way (Syekh Jaber, Second Ring Road, Southern Ring Road, Western Ring Road, King Khaleed Road dan sampai deeh). Banyak high way nya yang dilewati. Pada perasaannya cuma lurussss sahajaaa, pada kenyataannya menyisiri dari Timur, Selatan hingga Barat Kota Riyadh. Hehehe....

Sebenarnya aku pengen ke Wadi Hanifa. Hampir 4 tahun di Riyadh, belum pernah ke tempat yang cukup fenomenal di Riyadh ini. Tapi, week end biasanya di sana sangat sangat maceeeettt. Males juga menerjang macet hehe. Sedangkan wadi Namar, dulu 3 tahun yang lalu udah pernah ke sini. Masi di perut Aafiyanya. Hehehe... Dan sekarang anaknya udah 2 tahun 9 bulan. Alhamdulillah kesampaian lagi ke sana dan banyak perubahaaaaan... Wadi Namar jadi lebih cantik dan lebih banyak airnya. Entry ticketnya masih gratiss alias ga perlu bayar untuk datang ke sini... Alhamdulillaah...

Wadi dalam bahasa Indonesianya adalah waduk. Hampir mirip yaa kata-katanya? Hihi.. Iya, semacam danau buatan gituh. Pemandangan air (seperti yang aku bilang sebelumnya) adalah hal mewah di sini. Sejujurnya, kalau dibandingkan dengan Danau Ateh Danau di Bawah atau Danau Singkarak, pemandangan Wadi ini mungkin tak seberapa. Tapi, di sini ma shaa Allah terasa sangat mewah. Pemerintah pun cukup berhasil "memugar" nya jadi lebih terlihat cantik apalagi di malam hari dengan lampu yang menawan. Oh iya, powernya dan cantiknya waduk ini dibanding danau di Indonesia adalah karena tebing tinggi dan kokoh yang mengelilinginya. Tebing bebatuan khas gurun banget dan ini jarang ditemukan di Indonesia (aku tak pernah melihatnya di Indonesia). Tebing berundak-undak dan kokoh. Selalu takjub melihat ciptaan-Nya ini, ma shaa Allah... ma shaa Allah... Di sini, destinasi wisata memang semakin malam semakin ramaaiiii sahajaaa... Kalau ga cepat-cepat berangkat, bakalan susah nyari parkir di sini. Dan tentu ga ada tukang palak parkir di sini. Parkir gratis, dengan konsekuensi ga ada yang ngasi teriakan "Yaaak,,,terus...teruss... kuaat kiriii...balass...balaaas...oooopss!" (emang di Indonesiaaa wkwkwkwkwk :P)

Ada air terjun di wadi namar sekarang, ma shaa Allah. Dulu belum ada pas aku berkunjung pertama kali. Dan juga pengunjung bisa melihat pemandangan waduk dari atas tebing. Aku sih belum pernah liat dari atas. Ga tau lewat mana kalo mau ke sana. Kekeke... Kayaknya cantik viewnya dari atas. Semoga suatu saat kesampaian liat dari atas sana.

Kelebihan Wadi Namar adalah membolehkan kita bakar-bakar misal bakar ikan ayam dll di sini. Sesuatu yang tidak boleh di kebanyakan taman-taman lainnya. Menyenangkan sekali menggelar tikar, bakar-bakar, menikmati snack dan main di pinggir waduk. Sayangnya tidak ada playground buat anak-anak sebagaimana taman-taman lainnya. Oh iyaa, yang paling penting (khusus buat emak Aafiya) menyenangkan sekali juga buat para pencinta fotografi untuk klik-klik di sini... Hehehehe.... Ini beberapa foto-fotonya....

ini tebingnya tinggi banget.... itu pagar yg keliatan kecil itu sekitar se dada orang dewasa

aafiya and her father

masukin kaki ke air wadi

air terjun

ada bebek jugaaaa

orang di atas sana cuma kelihatan kayak titik











Read More