Cerita Ied 1438 H

Ini adalah idul fitri di tahun ke-4 sejak aku berada di Riyadh, Saudi Arabia. Setiap ied tentu punya cerita. Begitu pula dengan idul fitri kali ini. Sejak 2 hari sebelum shalat ied, emak Aafiya sudah mengajukan "proposal" kepada Abu Aafiya bahwasannya pengen shalat Ied di KBRI, embassy of Indonesia di Diplomatic Quarter. Tahun lalu aku tidak sempat menunaikan shalat ied karena suami masuk kerja shift2an. Dan mumpung tahun ini shift nya sore, jadi bisalah paginya ke KBRI yang secara jarak lumayan jauuuh dari rumah kita yaitu sekitar 32 km.

Prepare nya lumayaaan.. Hehehe.. Karena kita mesti berangkat selambat2nya jam 4.30 pagi. Karena gerbang KBRI akan ditutup jam 5.25. Anak-anak baru tidur jam 2-an hingga jam 2.30. Aku akhirnya memutuskan untuk tidak tidur saja karena kumandang adzan subuh adalah jam 3.30-an. Waktu sejam tersebut aku gunakan utk persiapan berangkat, menyetrika baju, mempersiapkan perbekalan (susu, air panas, baju ganti anak2  diapers).

Akhirnya berangkatlah kita dengan kondisi anak-anak yang masi pada pulas tidurnya. Jalanan pun tidak begitu ramai karena mungkin banyak yang shalat di masjid jami' dekat rumahnya masing2. Karena kecepatan yang berkisar 80-90 km/jam, perjalanan 32 km ditempuh hanya dalam kurun waktu tidak sampai 15-an menit. Tapiii di sinilah musykila terjadi 😕

Jadi ceritanya pas di gerbang diplomatic quarter itu kan selalu ada check point dan polisi yang berjaga dan ternyata gerbang utama DQ (Diplomatoc quarter) itu belum dibuka. Kita diarahkan untuk lurus sekitar 1 km dan setelah bertemu lampu merah belok kanan. Kita tempuhlah 1 km itu, tapi ternyata muteeerr lagi ke jalan yang sama dan sampai lagi di gerbang yang sama, bukab gerbang yang kedua yang dimaksud sama polisi. Kita putarin lagi untuk yang kedua kalinya. Daaan masii aja muter-muter ga jelas! 😱😵.

Akhirnya untuk ketiga kalinya kita hanya muter-muter di tempat yang sama... Hiks...
Jam sudah menunjukkan pukul 5.19,artinya hanya tersisa waktu 6 menit untuk menemukan gerbang kedua dan itu sudah termasuk parkir plus ngangkutin dua anak, si baby dan toddler dengan kemungkinan dapat parkir yang cukup jauh.

Meski udah rada pesimis dan sempat mikir, klo ga ketemu juga yaudah, kita pulang ajah atau shalat di masjid terdekat dari sana ajah...(tapi mostly udah pada mulai shalat ied nya sih ihiks). Sedih jugaaa siih, udah siap-siap segitunyaaaa, jika pada akhirnya cuma muter-muterin dan "tawaf" sekelilibg DQ doang. Huhuhu...
Akhirnya, nothing to loose, kita coba jalan lagi dan muterin lagi tapi agak jauhan. Yaa sekitar 4 km an laah, trus belok kanan... Daaan alhamdulillah ketemuuu itu gerbangnyaaa. Ya salaaam, ternyata bukan 1 km pak polisiii, itu harusnya 4 km an!!! Aku udah cek di googlemap jarak presisinya. Kita terlalu manut kali yaaa hahahaha. Jadinya pas sekiranya 1 km kita belok kanan, akhirnya muter-muter tak jelas dan balik lagi ke jalan yang sama!!!

Sampai di KBRI udah jam 5.37 dan gerbang udah ditutup!! Tapi untunglah kita barengan sama bus angkutan KBRI dan lumayan rame orangnya. Ketika kita selesai ambil perangkat yang mau dibawa ke dalam, bertepatan dengan bus nya yang nge parkir. Pas diketok-ketok, ada yang mau bukain pintu gerbangnya alhamdulillah... Kita sampai di lapangan KBRI pas shalatnya baru mau dimulai. Alhamdulillah ga telat-telat banget deh sholat ied nya. 😉

Lumayan rameee orang indonesia yang shalat di KBRI dan pak dubes yang jadi khatibnya... Hehehe
Tahun lalu banyak juga yang akhirnya ga bisa shalat ied di KBRI karena masalah gerbang ini.. Heuheu... Ada yang akhirnya shalat ied di Masjid Putih (masjid paling besar di area Ummul Hamam dan kalo ga salah itu salah satu masjid kerajaan deh, masjid di jaman king Khalid kali yaa). Karena masjidnya warna putih, akhirnya lebih populer disebutnya masjid putih. Dulu pas ied di KBRI pertama kalinya, kita pilih jalur ini nih buat ke KBRI tapiii ternyata maceeet banget di depan masjid putih dan kita juga deg2an karena waktu itu gerbang KBRI ditutup jam 50.20 dan kita nyampe di depan gerbangnya bener2 injury time meskipun waktu itu gerbang utama DQ ga ditutup.

Ini cerita lebaranku, mana ceritamu? 😂

Read More

Ramadhan Sale dan Musim Diskon

Ramadhan adalah identik dengan musim "SALE" di sini. Segala macam diskon. Dari grocery, panci, kompor, baju sampai mobil semuanya diskon. Adalah kesempatan emas banget untuk berburu barang-barang, baik kebutuhan maupun 'investasi'. Beli panci harga 500 SR pas sebelum ramadhan bisa 200-an SR. Dan itu investasi banget. Hehe... Lumayan buat dikirim ke Indonesia dan dipakek nanti setelah balik ke Indonesia. Maklum emak2, hunting nya yaa panci. Wkwkwkwk...

Ah, untuk kehidupan dunia saja, diskon yang ga sampai 100% aku bela-belain beli dan berpikir bahwa ini adalah kesempatan emas! Investasi kalo nanti balik ke Indonesia, itu dalihnya. Tapi, untuk dunia saja kita sebegitunya berinvestasi. Padahal, tidak ada yang dapat menjamin aku akan hidup sampai nanti. Entah aku masi dapat memanfaatkan apa yang aku sebut investasi itu di Dunia ini. Harusnya terlebih lagi buat akhirat. It's the real investasi,untuk kehidupan yang sesungguhnya. Dunia ini mah cuma sementara.( Ini peringatan keras untuk diri sendiri terutama). 

Investasi yang sesungguhnya adalah untuk akhirat. Dan ramadhan adalah masa berinvestasi paling besaaar keuntungannya. Sedekah di bulan Ramadhan adalah kesempatan emas untuk melipatgandakan investasi. Bayangkan, biasanya sedekah 1000 rupiah nilainya 700 kali lipat. Tapii, di Ramadhan nilainya bisa ribuan kali lipat. Ini benar-benar unlimited diskon. Amal ibadah yang dilipatgandakan pahalanya. Bukankah transaksi ini adalah transaksi yang sangat menguntungkan. Dan bukankah berjual beli dengan Allah adalah sebaik-baik perdagangan.


Alkisah di masjid Al Haram dan Masjid An Nabawi, setiap kali Ramadhan, orang-orang berbondong dan berebutan untuk memberikan sedekah. Diceritakan oleh ustadz Khalid Basalamah dalam salah satu ceramah beliau (aku cuma nonton di yutub sih hehe) tatkala masi kuliah di madinah, ketika hendak berbuka beliau datang ke masjid Nabi dan disana ternyata orang pada berebutan mencari "mangsa", memohon bahkan sampai menghiba agar beliau dan juga para pengunjung lainnya untuk mau berbuka di sufrah nya. Dikekepin tuuh, dipegang tangannya erat-erat biar ga pergi dan sampai dibilang, "antum jangan pindah ke sufrah lain yaaa, berbuka di saya saja please. Ajak juga yaa teman-teman yang lainnya". Ma shaa Allah sebegitu nya orang-orang mengejar sedekah Ramadhan. Orang tersebut tidak memikirkan apa reaksi orang yang diajakin dan bahkan tak saling kenal juga. 

Ini juga aku rasakan ketika dulu sempat menikmati sehari Ramadhan di Al Harom... Mereka berlomba-lomba melakukan kebaikan, berjejer-jejer menawarkan makanan berupa kurma, roti hingga makanan berat. Sedekah apapun dilakukan meski hanya dengan sekedar mengambilkan minum atau memunguti sampah. 


Ah Ramadhan.
Terlalu berharga untuk disiakan. Meski pun aku masih jauh. Masih banyak waktu yang tidak teroptimalkan, semoga ini menjadi pelecut semangatku dan juga kita semua untuk berburu kebaikan di bulan penuh barokah ini.


Semangat Ramadhaaaan!!!!

Read More

Bajak Membajak yang Bukan Sawah

Suatu ketika aku mencoba memfoto makanan yang ternyata tak mudah untuk mendapatkan hasil yang profesional. Yaa, aku sendiri sebenernya juga rada malas sih 'menghias' latar photo ala-ala food photography gitu karena seringnya ga punya waktu banyak dan males ngotorin piring/mangkok dan kawan-kawannya lagi. Jadinya fotonya seadanya.

Jadii, mendapatkan foto bagus itu tidaklah mudah. Butuh banyak pengorbanan. Apatalah lagi membuat program atau aplikasi komputer misalnya. Bukan sehari dua hari tapi tahunan! Biaya riset yang tidak murah. Waktu yang tidak sebentar. Kegagalan yang berulang-ulang. Lantas, setelah sedemikian susahnya, masa sih kita enak-enakan menikmati hasilnya dengan BAJAKAN! Ya, ini poin yang ingin aku view saat ini.

Dahulu, ketika aku belum tau bahwa segala yang bajakan maupun yang versi KW itu tidak halal untuk dinikmati, aku adalah salah satu penggunanya. Terutama program bajakan. Spesifiknya, segala sesuatu yang berhubungan dengan desain dan video editing. Dengan mudahnya bilang ke teman, "copy program ini dongs." tanpa sedikitpun rasa bersalah. Astaghfirullaah. Astaghfirullaah.  Sungguh diri ini sangat fakir ilmu.

Dan ternyata itu perbuatan bajak membajak ini jatuh pada status haram karena mengambil hak orang lain, merampas hak orang lain dan orang tersebut pasti tidak ridha ketika hak mereka dibajak meskipun bukan muslim. Ya, Islam sangat menjunjung tinggi hak cipta dan menghargai creatifitas. Tidak mudah mendapatkannya dan kita dengan enaknya membajaknya dan menggunakannya sesuka kita? Padahal seharusnya kita membayar kreatifitas yang telah mereka buat itu, uang yang telah mereka keluarkan, waktu yang telah mereka habiskan dan kepayahan serya kegagalan yang telah mereka alami. Jangankan untuk program, untuk mendapatkan fotografi yang bagus saja sudah susaaah. Ahhh, sungguh ada hak orang lain yang kita ambil secara dzalim. Astaghfirullah.

Semoga Allah kuatkan azzam kita untuk meninggalkan segala bentuk program bajakan (kecuali dalam kondisi amat sangat terpaksa sekali). Terkadang ketika sudah 'menikmati', terasa berat untuk meninggalkannya. Semoga Allah kokohkan tekad kita dan Allah kuatkan hati kita untuk meninggalkan itu semua. Toh dunia ini hanya sebentar saja. Jika kita tak memakai program bajakan, in shaa Allah tidak akan membuat kita sakit kan? Atau tidak sampai mengancam jiwa kan? Atau paling sederhana, tidak membuat kita laper kaan? Jadi, seharusnya tidak ada alasan untuk tidak meninggalkannya.

Bismillaah.
Mari kembali menyusun langkah dan menekan menguatkan hati untuk memencet tombol "DEL" untuk setiap program bajakan yang masih nangkring di PC kita. Hihi...

Read More

Bebersih

Beberapa hari yang lalu aku abis "bebersih" blog. Iya. Bebersih sekaligus membuang link-link blog yang tidak aktif lagi 😀

Ceritanya, pas di ceki-ceki, ternyata banyak di antara list di blog aku yang dulunya aktif ngeblog tapi sekarang sudah off. Banyak juga yang blognya sudah usang dan bahkan ada yang sudah tidak dipakai lagi. Ya, untuk blog yang tidak pernah ditulisi lagi setelah thaun 2011-2012 termasuk kategori blog yang aku hapus linknya. Dari pada pelihara "rumah kosong" mending bebersih aja sekalian. Sapu sapu sapu hingga bersihhh. Ciaaatt... Ciaaattt... Hehehe...
Daaaan, taraaaa link di blog aku sekarang berkurang lebih dari 50%
Angka yang fantastis bukaan? Iya sih yaa...
Itu artinya, lebih dari setengah blogger sekarang tidak lagi menjadi blogger. Hihi...

Mengapa oh mengapa ini semua terjadi?
Setelah melakukan sedikit analisa dadakan, sepertinya kehadiran sosial media merupakan causal utama mengapa blogger meninggalkan blognya. Mengapa?
Sosial media itu:
✔️ easy to use (tinggal install aplikasi, aplod photo, bikin tulisan tentang itu... Atau hanya sekedar bikin status? Tinggal klik di kolom yang ada tulisan "apa yang sedang anda pikirkan", dan taraaaa...isi pikiran berubah menjadi status... Kekekeke...)
✔️ lebih interaktif (audiens nya lebih banyak, feedback lebih terasa, lebih berlangsung dua arah. Ada fasilitas like jugaak. Wuiiihh kalo dapat like, seneng nyaa bukan main. Wkwkwkwk... )
✔️ follower dapat dengan mudah mengakses tanpa harus repot-repot ngebuka blognya. (Buka akun pribadi, postingan orang lain pun nyantol di timeline)
✔️ posibility orang membaca akan lebih besar dengan sosial media. (Namanya juga SOSIAL yaa mestinya ramee... Ga ada yang namanya SOSIAL tapi sendirian. Ya kayak blog. Makanya blog bukan sosial media... Hehe)
✔️ aktualisasi diri (bagi sebagian orang lebih berasa kali yaa. Misal "tuuhh kaaan, liat follower gue banyaaaak. Gue terkenal kaaan". Bukankah banyak yang jadi seleb juga gegara si sosmed?).
Next, ada yang mau menambahkan lagi poin nya?

Ya begitulah.
Kehadiran sosial media bagi si blog bagaikan kehadiran g*jek/gr*b/ub*r bagi abang ojek pangkalan. Ihiks...
Buka blog, butuh usaha, butuh ngetik url dulu. Nge comment kudu log in dulu. Kalo sosmed mah tinggal buka akun sendiri daaan akan banyak tulisan berseliweran.
Jadi, semenjak kehadiran sosmed yang makin nge-hits, hanya beberapa blogger saja yang bener-bener blogger yang masi bertahan di dunia per-blog-an dan hanya stalker sejati sajalah yang masi ngikutin blognya para blogger 😂😂😂...

Buat aku, meskipun ada sosmed, blog tetep jadi rumah maya yang in shaa Allah tidak aku tinggalkan (smoga istiqomah). Berharap ada 'jejak hikmah' yang tertinggal. Sekurang-kurangnya memuarakan rasa. Sebab menulis adalah salah satu rekreasi jiwa. Meski bukan nulis cerpen atau novel lagi seperti dahulu kala. Hehe...

Really appreciate buat para blogger yang masih menggoreskan kata di rumah mayanya. Selamat buat yang blognya tidak ikut kesapu bebersihnya blog "ummu aafiya". Sila cek link nya. Mana tau blog kamu sudah kehapus. Boleh komen di sini. Hahaha, emangnya kamu siapaaa sih Fatheeeeel? 😝😝😝
Iyaa... Iyaa... Aku tau koq, blog readers nya ga banyak. Hihi... Jadi, in shaa Allah ga ada yang baper juga... 😀

Akhirul kalam, yuks nge blog lagiii...
Jangan biarin semak belukar memenuhi rumah mayamu... Okeeh? 😉

Read More

SEMANGKA!

Musim panas di Saudi selain identik dengan musim kurma, ternyata juga adalah musimnya semangka. Iya, semangka! Dan itu artinya, emak Aafiya biasanya request minta dibeliin semangka sama Abu Aafiya. Hehe... Maklum, buah favorit.. 😀


Betewe, sebelum melanjutkan cerita, aku mau berbagi tips membeli buah semangka. Semangka itu... Rada mirip manggis deh. Hah? Mirip dari mana coba? Kekeke... Maksudnya, mirip dari cara kita menentukan isinya. Kalo manggis bisa dilihat dengan menghitung dan memperhatikan bentuk di bagian bawahnya yang menggambarkan bagaimana isi di dalamnya (ma shaa Allah...). Lebih kurang begitu juga dengan semangka.

Berikut tips memilih semangka.
1. Pilihlah semangka yang jelas batasan garis yang berwarna hijau tua dengan yang berwarna hijau muda.

2. Garis semangka tersebut sampai ke ujungnya (tidak putus di tengah jalan alias patah hati... Kekekeke)
3. Pilihlah semangka yang warnanya lebih hijau.


Nah, jika ada semangka yang 'memenuhi syarat di atas', in shaa Allah semangkanya manis, dan buahnya besar (batasan pinggir semangka yang berwarna putih lebih tipis). Alhamdulillah kami sudah membuktikan tips ini beberapa kali dan menjumpai semangka yang "qois, miya miya" begitu kata orang sini. Perfect semangkanya. Ma shaa Allah...

Gimana? Ada yang ngiler ga liat semangka di atas? (abaikan keberantakannya 😝).


Begitulah. Semangka senantiasa membuat aku ngiler di musim panas ini. Dulu, aku pikir di gurun ini yang bertumbuh hanyalah pohon kurma. Tapi kemudian aku baru menyadari bahwa semangka pun salah satu buah yang tumbuh di sini. Dan yang lebih menakjubkan bagiku adalah... Semangka di sini, di negeri gurun ini hanya berbuah di musim panas. Bayangkan, gurun kerontang ini ternyata menghasilkan buah yang segar, penuh air, lagi manis... Ma shaa Allah... Ya, di saat dahaga, kering, panas menyengat, di saat itu pula semangka yang manis ini berbuah. Maha besar Allah dengan segenap ciptaan-Nya.


Bagaimana bisa, di gurun yang gersang, sukit dijumpai air, malah menghasilkan semangka yang ma shaa Allah manis, banyak ajrnya?? Ma shaa Allah... Sungguh Maha Besar Allah... Maha Besar Allah... Dia lah yang mengatur segala sesuatu di langit dan di bumi! 


Mari belajar dari semangka. 
Betapa beratnya lingkungan di sekitar semangka, kering, bahkan sulit dijumpai pepohonan yang mengandung air, atau sesuatu sebagai sumber fruktosa, tapiii tetap saja semangka membuahkan sesuatu yang manis, segar dan berair. Kita, manusia yang dibekali akal dan pikiran sering kali meranggas ketika 'kekeringan' menerpa kita. Gagal sedikit, menyerah. Lingkungan yang kurang kondusif, melemahkan semangat. Kita, lebih mudah menyerah dan takut melihat sesuatu yang kita kata absurb. "ah, mana mungkin aku bisa... Kemampuanku cuma segini...", "ahhh impossible lah aku bisa begitu... ", dan kata-kata pelemah semangat lainnya. Padahal, jika kita mau jika tekad menjulang, in shaa Allah banyak dari tantangan hidup ini yabg bisa kita lewati dengan kekuatan dari-Nya. Jadi kenapa harus menyerah?! Belajarlah dari semangka yang tetap tumbuh dan memberi menfaat, berair dan manis, meski di sekelilingnya gurun dan kekeringan membentang. 
Okeh, nasihat ini sebenarnya ditujukan untuk diri sendiri terutama. Ketika gagal dan menyerah, padahal hanya sekali dua kali mencoba. 


Jadi ingat plesetan kata "semangka!" yang suka diartikan "SEMANGat KAwan!!" hehe.. Pas banget yaah.. 
Yuk aahh SEMANGKA! Semangat berbenah! 
Read More

STEAK

Hamil Aafiya, ngidam steak.
Hamil Aasiya, tiap bulan ngacir beli steak.
Jadi, sebenere emk Aafiya ini kenal steak dari mana siiiihh???? Emang di Solok Selatan ada restoran steak?! Percayalah sodara-sodara, di kampungku yang di pelosok sumatera barat itu takkan engkau jumpai restoran steak. Hihi...


Sebenarnya, aku juga tak mengerti kenapa aku suka makanan seperti steak, burger dan pizza. Serius, aku ini orang kampung. Sedari kecil juga tak pernah makan begituan. Hehe... Sepertinya ada tiga kesimpulan mengapa aku menyukai menu ala western ini.. Pertama, selera makan itu bukanlah warisan dan juga bukan sesuatu yang perlu dilatih sedari kecil. Kedua, sepertinya aku berbakat jadi orang western, wkwkwk. Ketiga, aku masih cinta Indonesia koq! (jangan serius amat baca kesimpulannya yaa... ;P). Selain itu, menu oriental aku juga suka banget koq. Menu timur tengah khususnya fahm dan berbagai jenis nasi (nasi bukhory, nasi peshawar, nasi mandhi) dan juga broasted dengan citarasa khasnya arab banget juga suka. Menu jepang juga sukaa banget kayak beef teriyaki dan sushi. Menu china jugaak kayak mie canton gituh, beef schezuan juga. Ya salaaam... ini apa namanya sih Fatheeeel?!!!! Ngomongin perut meluluuu... Panteees ajah naik dua digit inih timbangan. *tutup muka*.


Pertama-tama diperkenalkan dengan steak adalah ketika aku diajak makan steak di warung steak dan kemudian ditraktir teman yang nikahan. Pertama kali ke restoran pizza ketika ditraktir teman yang milad. Pertama kali nyobain burger ala american ketika ditraktir (lagi) sama temen yang milad juga. Dan itu semua terjadi saat aku sekolah lanjutan di Depok. Jadiiiii??? Ternyata traktiran-traktiran ini tho yang menyebabkan aku suka makanan ala western ini?? Waaah, hati-hati yaa teman-teman kalo ditraktir! Ternyata ada efek candu nyaa... LoL. Ga dink. Becanda. Mereka ini hanyalah inisiasi aja kali. Atau reaksi katalisasi? <-- bahasa afaaa iniih?

YA begitulah. Akhirnya, aku si anak kampung ini, yang ga mengenal makanan bule dan kemudian jadi sedikit suka makanan ala-ala bule ini. Dan setelah hijrah ke Riyadh, makanan ala-ala western ini sangat mudah dijumpai, ma shaa Allah. Harganya juga hampir setara jajanan Indonesia dan bahkan ada yang lebih murah. Maklum, harga jajanan dan makanan Indonesia di sini memang terbilang mahal. Apalagi akses ke makanan Indonesia cukup jauh. Sementara, makanan ala western ini ada di mana-mana di dekat rumah. Pengen nge-snack, belinya kalo ga burger, donat atau pizza. Soal steak. Kalau di luar negara Saudi (even di negara sendiri sekalipun), memang ada keraguan dengan kehalalannya. Tapi, mumpung di Saudi (yang negara menjamin kehalalal makanan dan aku tsiqoh sama pemerintah sini), makanya juga nyoba berbagai macam steak. Mulai dari yang menu ala mamarika seperti TGI Friday, Applebees, Steak House, hingga steak ala Perancis dan Italian seperti Forchetta, SizzlerHouse, PAUL, Piattos. Tapi, masi enakan rendang minang koq! Hihihi...


Nah, karena jajanan kita inilah yang sebenarnya dikategorikan part of junk food, makanya jadi termotivasi untuk bikin homemade. Ya, sebenarnya itu inti tulisan aku sekarang. Lebih tepatnya memotivasi diri sendiri untuk membuat jajanan sehat buat keluarga. Aku menyadari, jika terus berlanjut, jajanan yang aku sebutkan di atas bukanlah sepenuhnya jajanan sehat. Sesekali sih in shaa Allah ma fi musykilaa. Ga masalah, in shaa Allah. Tapi, bagaimana jika seterusnya?? Bagaimana jika kemudian anak-anak jadi ter-influence dengan pola jajan seperti ini? Na'udzubillah... Memang, alhamdulillaah di sini anak-anak tidak terbiasa ke warung sendiri dan  juga tidak minta jajan melulu. Tapi, bagaimana jika anak "dibiasakan" untuk jajan makanan junk food?! Dan inilah motivasi terbesar aku sebenarnya mengapa aku ingin sekali membuat makanan sehat di rumah. Mau ala apaa ajaa, western kek, oriental kek, minangense kek, tapi yang terpenting point utamanya MOSTLY HOMEMADE!


Nah, karena judulnya adalah STEAK, maka aku mau nge share tentang homemade steak. Dulu, ga kebayang bakalan kepikiran bikin steak ini. Dalam pikiranku steak ini susaaah banget bikinnya. Tapi, setelah dicoba, alhamdulillah ga jugaa...Hehehe... Dan tasty nya bisa disesuaikan dengan lidah sendiri. Hihi...

Pertama bikin steak kampung dulu. Lebih tepatnya sih daging bakar kayaknya.... :D Karena spice nya benar-benar spice minang...Hihihi... Sayurnya acar timun wortel dan sausnya dari saus tiram.
steak kampung.
Nah, yang kedua emang seriusan bikin steak nya. Agak rerempong karena berbagai menu steak di gugel, ga ada yang sama cara bikinnya. AKu jadi bingung, ngikutin yang manaa... HIhi... Akhirnya, setelah milih resep yang paling mudah dan paling sesuai dengan bahan-bahan yang tersedia plus dengan modifikasi seperlunya (modifikasi sebanyaknya kali yaaa hahahaha...), akhirnya steak yang seriusan pun jadi jugaaaa... Plus mash potato nya yang kurang creamy dan sayur rebusnya. Sekaligus saus mushroom nya. Terinspirasi dari saus jamur punya steak nya Forchetta. Tapi bikinnya ga pakek resep di gugel. Ngarang sendiri.... Hihihi.... Jadiii, jangan tanya resepnya sama aku yaaa. Bukan karena ga mau berbagi resep, tapi karena aku juga lupaaa... :P


steak yang seriusan
Excited karena aku akhirnya bikin steak sendiri... Alhamdulillaah... Senang banget rasanya si steak itu ada di depan mata. Senang banget rasanya moto-motonya juga (lho?) wkwkwk. Ya, senang akhirnya bisa menaklukkan challange yang satu ini. 


Kesimpulannya, sebenarnya jika mau, kita bisa bikin homemade menu apa aja. Catet, JIKA MAU! Sayang, kita (aku terutama) kadang terkalahkan dengan ketidakmauan dan juga keingin-cepat dan instan-an. Ya, butuh energy lebih dan semangat lebih niih. Apalagi, aku memang sebenarnya tidak begitu hobi memasak. Hehe... 

"Ya, tidak mengapa tak hobi memasak, asalkan makanan keluarga sehat. Tidak perlu masakan kita disukai oleh semua orang, yang terpenting keluarga kita suka. Hingga, anak-anak kita tidak menjadikan restoran ini, ampera itu, rumah makan tertentu sebagai tempat makan favorit. Melainkan, mereka menjadikan masaka  bundanya sebagai makanan favorit". Ini quote dari Abu Aafiya lhooo... Jika ingin mengutip, tolong cantumkan authornya! Hak cipta dilindungi undang-undang. Kekekeke... 


So, lets be healthy, let's make homemade food...
Selamat berkarya, teman.
SEMANGAT!!! 


Mulai dari diri sendiri. Sedikit demi sedikit. Step by step, in shaa Allah... 😍
Read More

Food Photography

Okeeh, ini sekedar photo ajah. Cerita di balik photonya pengen dibikin tulisan tersendiri. Tapi apalah dayaaa, seringnya ga sempat... Hihihi...
Ceritanya, ini emak Aafiya yang masak, sekaligus emak Aafiya yang moto-moto. Sayang, ada beberapa photo yang ga keikut. Gapapa lah. Seadanya dulu...

Honestly, aku sebenarnya tidak begitu hobby memasak. Tapiii, kadang pengen sesuatu (baca: makanan citarasa endonesiaahh) dan ga bisa ngacir ke warung sebelah. Warung sebelah menunya arab cuy. Hihi... Ya, mau ga mau mesti bikin kan yaaa... Ini beberapa yang sempat diabadikan kamera. Kebanyakan sih ga sempat... Kekekekeke...
dendeng balado sirah

sambaulado sighau

critanye acar wortel timun, tapi wortelnya tenggelam...wkwkwkwkwkwk

mie goreng ala-ala, ala emak Aafiya maksudnyee :P

Niat hati pengen bikin kwetiau, yang jadi entah apa namanya :D

My succesful pizza.... (^o^)

Sate padang. Kata Abu Aafiya sih enaaak...hahahaha....

steak kampung 

Steak kampung (lagi), <-- lebih tepatnya daging bakar kali yeee...wkwkwkwkwk....

Steak ala western gituuh... ini versi well done... in shaa Allah ada kisah tersendiri.... ;)

IMore Steak ajah dah namanya :D, oiyaa, ini pake mushroom seasoning lhooo, mushroom seasoningnya 100% homemade..ihiiiyyy.... alhamdulillaaah...

my first risol. Guess what Abu Aafiya's comment?? "Ini MENGERIKAN" wkwkwkwkwk... okeh, sebutlah nama resoles ini dengan 'scary risol' buahahahahaha

first trial bikin roti sendiri. Tapi belum begitu mengembang kayaknya...malah mirip bapao...wkwkwkwk

Ini juga roti pertama bikinan emak Aafiya. Adonan yang sama dengan roti di atas, tapi pakek topping abon. Enaknya pakek isian tuna kali yaaa..Hihihi... Tapi, not bad lah alhamdulillaah...

Catapillar bread ala emak Aafiya... dengan beef frank, oregano dan mozarellaa... <-- udah apgred dikit pengetahuan emak aafiya soal menu-menu ala italian.... maklum, punya temen cheeef...ikutan kecipratan...wkwkwkwkwk

catapillarbread dari sisi yang lain

catapillarbread dari sisi yang lain (lagi)

first trial bikin roti sobek... Tapiiii, ga pakek isiii... Jadi, harusnya namanya roti tawar kali yeee....wkwkwkwk

Read More

هذه نعمة | Ini Nikmah

Suatu ketika ada acara tatsqif dan dukungan buat paslon nomor 3 untuk DKI Jakarta dari Riyadh. Jangan lupaaa yaa yang di jakarta pilih Anies Sandi, in shaa Allah untuk Jakarta lebih Baik. (ngiklan duluuu... 😁). Nah pas acara tersebut, biasalah ada sesi makan-makannya. Setiap acara apapun memang di sini selalu ada sesi lunch nya, dari kita untuk kita. Kita yang masak, kita yang makan. Hehe...

Pas lagi ngumpul makan-makan, salah satu teman kami nyeletuk, "ehh ini sisa tempe balado siapa? Yuk kita habiskan..." ketika melihat ada sisa tempe di sebuah piring yang entah punya siapa (yang jelas tak satupun di antara kami merasa memiliki piring tersebut).
Semua melongo menatap si teman dengan tatapan tak mengerti. Mungkin sama-sama ngebatin, "ngabisin sisa orang yang ga jelas punya siapaa.. Aahh.. Masaaaa.."

Sepertinya teman kami itu mengerti keheranan kami. Lalu ia melanjutkan. "Jadi begini ceritanya buibu..." katanya. "ada temanku di Daar (sekolah bahasa arab. Red) yang berasal dari Afrika. Ketika itu di dekatku ada kentang goreng (fries yang biasa temen makannya broasted atau burger itu lohh) yang berserakan di lantai. Dia bertanya apakah itu punyaku. Aku menjawab tidak. Dia menanyakan kepada yang lain. Yang lain pun menjawab bukan punya dia. Akhirnya dia mengumpulkan kentang goreng itu sambil berkata,"limadzaa??limadzaa?? Hadzihi ni'mah! Sambil kemudian memakan kentang yang berserakan di lantai itu.

Aku langsung tercenung. Teman Afrika itu berkata, "kenapa?? Kenapa(membuang-buang makanan. Red). Ini nikmat (dari-Nya).
Iyap! That's the point!
Mencoba menerawang jauh... Jauhh ke belakang. Mencoba menghitung entah berapa makanan yang pernah terbuang. 😨
Kenapa aku begitu mudah 'membuang' makanan. Makanan nyisa lalu disimpan di kulkas. Lupa. Lalu pada akhirnya berakhir di tempat sampah. Astaghfirullaah... Padahal, di belahan bumi sanaa...,banyak yang kelaparan. Sungguh ini adalah nikmat dari-Nya!

Semenjak itu, aku dan suami selalu berseru "Hadzihi ni'mah!" ketika melihat ada makanan yang nyisa. Berusaha menghabiskan semua makanan sehingga tidak ada yang bersisa. Semoga Allah ampuni kemubadziran lalu dan semoga kedepan, tidak ada lagi kemubadziran. Ingatlaaah... HADZIHI NI'MAH!

Read More

Pizza! Pizza!

Pizza imorevaganza kali yaa namanya 😂

Yeiyyy! Alhamdulillaaah... Pizza kali ini success.. Kekekeke.. Dulu... Duluuuu sekaliii sebelum Aafiya lahir, pernah bikin pizza jugak.. Tapi gagal. Abis itu, klo kepengen pizza, cuzz ajah ke domino atau maestro. Dekeet siniih jugak. Pizza ada di mana-mana. Hihi...

Sampai akhirnyaaa liat mozzarella lagi diskon. Dasar emak2 tukang buru diskon, dimasukin dah si mozarella ke keranjang belanja. Hihi.. Dah kepikiran sih pengen bikin pizza. Heuheu... 

Akhirnya hari ini dieksekusi pizza nya. Kemarin sudah bikin daging tumis plus mushroom dan disimpan dulu deh. Tadi pagi ulen rotinya. Didiamkan selama 3 jam. Sejam pertama di suhu ruangan dan dua jam berikutnya di kulkas, begitulah petuah dari resepnya.. Hihihi... Bikinnya jugak cuma setengah resep, takut gagal lagi dan takut mubazir.

Setelah 3 jam, mulai deeh ngeracik toppingnya. Pakek saus pedes ind*f**d ajah plus Ngecek oregano yang dibeli sejak setahun yg lalu  ternyata masih oke, alhamdulillaah dan tinggal ditabur sahaja. Tambahin tumisan daging mushroom, paprika, tomat, bawang merah, ditaburin mozarella lalu panggang 20 menit suhu 180 derjat celcius. daaan, taraaa alhamdulillaah jadii pizzanya... Alhamdulillaah Laziz! Ludes dalam 10 menit... Senangnyaaa...

Dah dicomotin

Pelajaran berharga: Kesuksesan itu terasa lebih nikmat setelah melewati kegagalan terlebih dahulu. Jadi, jangan takut untuk gagal, apalagi takut untuk memulai. Karena Dia tak serta merta menilai hasilnya semata, melainkan juga proses yang dilewati. JAdi, bersemangatlah!
Read More

Jalan-Jalan di Kota Doha, Qatar

Judulnya terlalu 'datar' yaah? Hihihi..
Baiklaah, in shaa Allah ini akan menjadi ceritra yang (cukup) panjang, setelah sekian lama tidak menulis lagi.

Alhamdulillah, kami telah di Riyadh kembali setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan.Ceritanya, kami menuju Depok sehari sebelum keberangkatan ke Riyadh dari kota Garut-Bandung. Qadarullah, ketika sampai di Jakarta, kami terjebak macetnya Jakarta yang kebajiran. Fiiuuff, lelahnya di jalan berjam-jam tanpa ada kemajuan yang berarti (100 meter aja bisa menghabiskan 6 jam!!), anak-anak yang sudah capek dan rewel, perut yang keroncongan. Kumplit dah. Subhanallah... This is the worst traffic jam ever I face. Terpaksa akhirnya kami menginap di hotel dekat pusat kemacetan mengingat anak-anak dan baby yang sudah kelelahan dan rewel. Apalagi, besoknya kami akan menempuh perjalanan panjang 7000 km lebih. Tentu harus menyiapkan tenaga dan kami butuh istirahat.


Kami sampai di Depok jam 11.30-an siang dan aku langsung packing-packing barang yang akan dibawa nantinya. Iya, kami berangkat maghribnya dan barang-barang yang totalnya sekitar 140 kg (mungkin lebih) itu masih berantakan, dan belum tersusun dengan rapih di siangnya. Capek sebenarnya, but it must to do! Packing pun di sela-sela ngurusin baby dan si uninya. Hihi... Akhirnya, ketika sore, packing beres, tinggal ngurus baby and toddler; mandiin dan nyiapin keperluannya.

Ba'da maghrib (mendekati isya) kami berangkat ke Bandara pake grab car (penting yaa buat di-mention?! wkwkwk). Alhamdulillah, ga semacet hari sebelumnya. Kami sampai di Bandara jam 9.30-an pm. Aku udah susaaaah nahan ngantuk di mobil. Hahaha....
Pas check in bikin deg-deg an banget karena kalo bagasi kami over, apa yang harus dilakukan? Alhamdulillaah, bisa tersenyum lega ketika tau bagasinya 125 kg sahaja, plus hand carry yang lumayan beraat. Karena kami akan transit di Doha selama 11 jam, jadi mesti bawa perangkat 'perang' per-baby-an yang cukup banyak. Hehe.. Habis check in, makan sebentar, langsung ke imigrasi, trus ke ruang tunggu. Masih di pintu gate, sudah ada panggilan boarding. Tapii, pas sampai di ruang tunggu ternyata masih pada nunggu. Hehehe. Tapi, hanya sempat mengganti pampers Aasiya aja, kami sudah masuk ke pesawat. Alhamdulillah ga pake nunggu lama.

Perjalanan 8 jam lebih dari Cengkareng ke Doha alhamdulillah lancar disertai beberapa kali turbulensi. Dan yang lebih membahagiakan sebenarnya adalah alhamdulillaah Aafiya dan Aasiya ndak rewel selama di pesawat. Kami memang sengaja memilih penerbangan jam 12 malam (jam 00.15 waktu take off nya) agar berbarengan dengan jam tidur anak-anak. Nda kebayang aja kalau anaknya rewel dan emaknya panik. Perjalanan dari BIM ke Bandung sebelumnya Aasiya sempat rewel. Ditambah turbulensi yang lumayaaan, bikin emaknya panik dan nge-ASI di pesawat pun terkendala.

Sampai di Doha jam 4.21 am. Nah, yang bikin agak berat itu adalah cabin bagasinya kitah. Meskipun cuma 1 ransel dan 1 hand carry bag tapi dua-duanya berraaattt. Ditambah dua anak yang minta digendong. Capeknyaaaa, Subhanallaah... Heuuu... Setelah muter-muter, shalat subuh, ngantri buat City Tour akhirnya bisa sedikit bernafas lega. Sarapan sampai menunggu jam 07.15 pagi untuk ngumpul dekat counter city tour.

Inilah alasan mengapa kami mengambil transit 11 jam. Kami ingin mencoba fasilitas City Tour yang disediakan di bandara Hammad International Airport. Fasilitas ini gratis. Menjadi daya tarik tersendiri buat pengguna Qatar Airways yang mengalami transit lama (atau menyengajakan transit lama seperti kami? hehe). Lumayaaan kaaan bisa jalan-jalan di kota Doha tanpa perlu bayar visa exit re-entry dari Saudi, daan gratis pulak! Hihihi...
Kita disediakan 1 bus untuk mengelilingi kota Doha dan diperkenalkan dengan kota Doha, sejarah negara Qatar, dan segala informasi terkait Qatar.

Jam 7.15 kami sudah siap-siap di depan counternya bersama yang lainnya yang akan mengikuti city tour juga. Kebanyakan dari mereka adalah para turist dari western (entah itu dari US atau Eropa), tapi dari wajahnya, sopan santunnya, sepertinya kebanyakan kayaknya dari Eropa especially Britania. Ga nanya jugak sih, cuma sotoy aja akuh nya. Wkwkwkwk. Satu turis dari |Jepang. Dan aku satu-satunya wanita berjilbab di sana. :D

Daaaaan, prosesinyaaa.. wow banget ma shaa Allah. Wow, karena kami harus melintasi bandara Hammad yang sangaaaaat bessaaaar (dan juga megah) dengan membawa tentengan berat dan 2 baby. Kami juga melewati proses check di imigrasinya. Rempong banget sebenarnya. Nah, jika kamu ingin menikmati fasilitas city tour ini, enaknya pas honeymoon yang cuma bawa sling bag plus camera atau pas anak-anak udah gede sekalian (4 tahun ke atas). Karena ketika kamu membawa bayi, kamu bakalan menjumpai kerepotan yang amat sangaaaat!! Hihi... Tapi, kalau kamu tipe petualang, rempong sekalipun tetap membahagiakan in shaa Allah...
Bus City tour

Setelah beres semua rangkaian panjang itu, bus kami datang. Kami dipersilakan menduduki bangku depan (horreeee, alhamdulillaaaah....) dan barang bawaan kami ditaruh di bagasi bus bagian bawah. Daan, tour pun dimulai. Aku benar-benar excited! Tapii, sayangnya Aafiya yang udah kecapean akhirnya tertidur di pangkuan ayahnya. Padahal pada awalnya Aafiya excited banget mau naik bus besaar. Hihi..

Salah satu sudut kota doha

Pada awalnya pekerjaan penduduk aslinya adalah pencari mutiara hingga kemudia minyak ditemukan dan menjadikan negara yang berukuran kecil ini kaya raya. Makanya di sini ada munumen mutiara. 

Munumen mutiara
Kunjungan pertama adalah di pinggir laut (lebih tepatnya semacam teluk gitu) yang diseberangnya terlihat bangunan menjulang yang dikenal dengan "The New Doha". Kotanya kota Doha. Megah. Jadi, view nya kota The New Doha gituuh.
The New Doha



Lalu, setelahnya kami diajak mengelilingi The New Doha itu sendiri yang terdiri dari bangunan menjulang.Tidak ada recident area di sana. Murni hanyalah gedung perkantoran dan gedung komersial. Selama perjalanan ini, guide nya memberikan arahan-arahan mengenai sejarah, dan segala hal tentang kota Doha. Tetiba, suara guide malah jadi dongeng pengantar tidur. Hahahha. AKu malah ketiduran di setengah perjalanan. Karena memang udah kecapean sih. Hihihi...



dekat pelabuhan
Pelabuhan

Aafiya ketiduran :D
Alhamdulillah, setelah keliling-keliling, akhirnya di kunjungan terakhir kita mampir di Souq (pasar) tradisionalnya Doha. Di sana kami menikmati chicken wrap dan pancakes. Setelah balik ke Bandara, cek imigrasi kembali, makan siang dengan chicken wrap yang kami bawa dari souq, siap-siap untuk take off ke Riyadh...

Meskipun capek, alhamdulillaah sangat menyenangkan...
Semoga next time bisa berkunjung lagi ke kota Doha dan negara tetangga Saudi lainnya... ^_^

Read More

Masalahkah Membawa Bayi Usia 1 Bulan Terbang?

Masalahkah Membawa Bayi Usia 1 Bulan Terbang?
Ini juga adalah pertanyaanku ketika membawa Baby Aasiya mudik ke Indonesia dengan jarak penerbangan lebih dari 6000 km (sekitar 10 jam penerbangan) dan dua kali transit!  Artinya, kami berganti pesawat 3 kali!


Ketika ayahku sakit, keinginan untuk pulang menggebu-gebu sekali. Tapi, kendalanya adalah aku dalam kondisi hamil besar. Dan jika aku pulang dengan kondisi begitu, mostly penerbangan sudah melarangku untuk terbang. Karena mereka khawatir juga kaan kalo ada yang lahiran di ketinggian lebih dari 30.000 kaki😃? Akhirnya, aku dan suami memutuskan untuk mudik ke Indonesia setelah lahiran. Nah, Pertanyaannya, di usia berapa kah bayi boleh terbang?

Sebelum memutuskan untuk membeli tiket, kami check up dulu ke dokter terkait kondisi Aasiya yang masi baby merah. Apalagi penerbangannya juga ga jarak dekat. Riyadh-Jakarta, lalu Jakarta-Padang. Seperti yang sebelumnya aku ceritakan, semua dokter spesialis anak yang kami kunjungi mengatakan "No problem!" Dengan syarat baby harus disusui ketika take off dan landing. Kami pun meminta medical report Aasiya sebagai jaga-jaga jika sekiranya nanti pas di pesawat diminta. Apalagi pas mau booking pesawat domestik Jakarta-Padang. Ya salaaam, susahnya nge booking karena situs pembelian online ticket mostly hanya menerima bayi yang berusia 3 bulan ke atas. Sebagian maskapai juga tidak bisa dibooking dengan usia bayi yang masi 1 bulan. Malah lebih enakan nge booking pesawat jarak jauh, ga ada syarat baby nya mesti 3 bulan.


Akhirnya, bayi merah Aasiya terbang di usia 1 bulannya. Persis 1 bulan usisnys waktu itu. Alhamdulillah semuanya baik. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah. Yang agak berat buat aku adalah karena harus 3x take off dan 3x landing. Baby Aasiya tidak selalu dalam kondisi bangun dan ingin menyusu pas take off atau landing. Susah juga kaan, maksain anaknya nenen. Apalagi, total perjalanan kami memakan waktu 32 jam. Jadi, anaknya juga kayaknya pengin bobo karena cape' terutama di penerbangan Jakarta-Padang. Kasian kalo dibangunin. Aafiya (2 tahun 1 bulan) pas terbang dari Jakarta ke Padang pun ga melek. Dari masuk pesawat (belum take off padahal) sampai landing dan masuk gedung terminal untuk nungguin bagasi, anaknya masiii aja bobo. 😀

Alhamdulillah, over all baby Aasiya ga rewel pas di perjalanan. Ga banyak nangisnya, alhamdulillah. Sesampainya di Padang pun, alhamdulillah masi sama kayak di Riyadh. Emaknya yang tepaaar apalagi kita ga bawa stroller, jadi mesti digendong terus. Pegel juga ya sehari semalam gendong baby 4 kg. Hihi.. Pas di Jakarta, alhamdulillah sempat beberapa kali digantiin nge gendong. Tapi, mostly kan emaknya yang gendong. Hehe.... Jadi, buat kamu yang bepergian jarak jauh dengan baby, worth it laah bawa stroller. Lumayan, bisa mengistirahatkan tangan emaknya kalo anaknya lagi bobo. Emaknya juga bisa leyeh-leyeh beberapa saat. Apalagi yang pakek transitnya lamaa. Sebenarnya kita sempat diskusiin soal bawa stroller ini sebelum berangkat. Tapi, akhirnya diputuskan untuk ga bawa stroller karena mikir ribetnya apalagi dengan barang bawaan yang buanyaaaak. Tapi setelah dijalani, ternyata malah kayaknya enakan dan lebih simple bawa stroller deh. Kita bisa istirahat. Barang bawaan yang handbag pun bisa ditaruh di bagasi stroller. Kalo anaknya kebetulan lagi digendong, strollernya bisa dipakek jadi trolley barang jugak... 😆. Tapi, 'ala kulli haal, alhamdulillaah. Ga papa. Jadi pengalaman untuk bawa baby lagi nanti in shaa Allah.


Jadi, kesimpulannya; membawa bayi di usia 1 bulan untuk terbang in shaa Allah tidak masalah! Tapi ada syaratnya.
Syarat pertama, bayi harus dalam kondisi FIT. Tidak dalam kondisi lagi ga enak badan, demam misalnya. Karena, sebenarnya yang dikahwatirkan dari penerbangan membawa bayi bukanlah kondisi telinga yang 'budeg' atau sakit karena tekanan udara di kabin. Ini sifatnya hanyalah temporelaly. Yang dikhawatirkan adalah penyebaran infeksi, karena sirkulasi udara di kabin yang bersifat tertutup. Jadi, virus dan bakteri gampang banget menyebarnya dengan sirkulasi udara yang begitu. Bayi dengan imunitas yang masih rendah, rentan terhadap kondisi ini. Syarat kedua, seperti yang sudah aku bilang, mesti ngenyot anaknya pas take off dan landing untuk mengurangi tekanan di telinga. Tekanan di telinga yang bikin telinga budeg dan sakit ini pasti bikin bayi ga nyaman, kan ya.


Sepanjang perjalanan di bandara, banyak yang ngeliatin baby Aasiya. Mungkin heran, kenapa bawa bayi merah naik pesawat. Ada juga sih satu dua yang komen langsung atau bergumam yang kedengeran sama aku, "ih ga kasian apa, bawa baby merah gitu.", "emang boleh yaa bawa baby masi kecil gini?", "masi kecil bangeeet yaaa..." Ya, kadang memang kita (aku sendiri terutama) sangat cepat men-judge mengapa seseorang melakukan begini dan begitu tanpa mengetahui latar belakang apa orang melakukan itu. Jika hanya buat berlibur atau tamasya, aku juga mikir-mikir kalii bawa bayi 1 bulan untuk terbang. Aku hanya ingin segera bertemu ayahku--semoga Allah rahmati beliau dan lapangkan kubur beliau--ketika ayah sedang sakit. Tapi, aku ga baper juga sih ketika ditatap begitu atau ditanya begitu. We are not what people think. Dan lagian, fokusku juga ga kesitu sih waktu mudik itu. Jadi, ga mikirin gimana tatapan atau komen orang lain.


Okeh, finally, sebagai penutup, bagi kamu yang misalnya pada kondisi mengharuskan membawa baby usia 1 bulan terbang, jangan terlalu khawatir, moms. Selama kondisi bayi nya fit, in shaa Allah biidznillah, semuanya akan baik-baik saja. Jangan lupa berdo'a dan mohon kekuatan sama Allah tentunya selama di perjalanan... 😊
Ma'assalamah 😘

Read More

Bilingual Programme for Aafiya

Judulnya sih pakek bahasa inggrih... tapii isinya masi teteeup endonesia.. kekeke...😅
Baiklah.
No problem. Mari mixed bahasa aja deh. Heuu.. 😃


Ceritanya, alhamdulillah sudah hampir 2,5 bulan kami di Indonesia, di Padang kota tercinta kujaga dan kubela. Daan itu artinya, ini adalah LDR ketiga kalinya dengan Abu Aafiya. Big thanks to Skype, Line, dan Imo yang udah connecting people in LDR stage. Hihi... Ya, LDR pertama kami masi menggunakan skype. Pas LDR kedua, skype diblokir, tapi alhamdulillah ada line. Naah, pas LDR ketiga ini awalnya kita bingung mau pakek apkikasi apa lagi yaaa, karena pada diblokir euy termasuk line jugak😣. Akhirnya berlabuhlah di IMO. Imooo, you save us alhamdulillah... 💕.


Alhamdulillaah, Allah beri kesempatan untuk bertemu Ayah--semoga Allah merahmati beliau--sebelum ayah berpulang kepada-Nya. Rasanya, udah nda sabaran banget segera pulang setelah Aasiya lahir begitu mendengar berita tentang Ayah. Kami nanya dokternya Aasiya apakah boleh terbang bayi mungil gitu. Alhamdulillah, kata dokternya no problem as long as she suction when take off and landing. Jadilah akhirnya baby merah Aasiya terbang di usianya yang masi 1 bulan.


Aafiya, alhamdulillah di usianya belum genap 2 tahun, sudah mulai belajar bercerita, satu dua kalimat singkat, ma shaa Allah. Dan di usianya  Membuat paragraf singkat yang dia sendiri alhamdulillah sudah memahami maknanya.
"Bunda, aafiya naik angkot. Angkot wana (warna) meyah (merah). Penuuh angkotnya. Aafiya pegi (pergi) ke pasan (pasar) sama ayah. Beli susu, beli pempes (pampers). Aafiya senaang banget. Aafiya jatuh, pegang sama oyang (orang)."
Ini salah satu contoh cerita Aafiya lengkap dengan mimiknya 😍😘. Aafiya memang belum bisa menyebut dua huruf yaitu R dan L. Hehe...


Setelah 2 bulanan di kampung, ternyata Aafiya sudah mulai mengerti bahasa kampuang. Ma shaa Allah. Semisal,
"Bunda, Aasiya jagooo." Begitu Aafiya memberi tahu aku kalo adiknya terbangun dari tidur. Atau, "iko apa ini?" 😁. Dan beberapa bahasa minang lainnya yang dia pahami. Padahal tidak diajarkan. Padahal ngomong sama Aafiya juga pakek bahasa indonesia. Sama seperti anak lain pada umumnya, Aafiya belajar dari mendengar!

Maka benarlah kata Eriks Levy, Ph.D, seorang asisten profesor yang menangani masalah patologi di bidang speech dan language dari universitas Columbia, NYC, "Kids this age (2-3 yo. Ed) are developing language skills rapidly, and they quickly absorb whatever they hear.They can learn to understand new words in two different languages at an incredibly fast rate."


Dulu, aku sempat meragukannya. Apakah dengan belajar dwibahasa, anak akan mengalami kebingungan bahasa bahkan bisa jadi terlambat bicara? Ternyata tidak juga. Ya, aku sendiri sudah menyaksikannya. Baru 2 bulan, sudah lumayan banyak bahasa minang yang diserap oleh Aafiya. Itu baru mendengarkan saja. Apalagi kalau benar-benar diajarkan. Jadi, rasanya tak ragu lagi untuk memulai bilingual programme buat Aafiya. Apalagi Usia bayi, usia toddler, adalah usia yang sangat bagus untuk memulai billingual, in shaa Allah... Setidaknya, untuk bahasa ibu (baca: bahasa negara asalnya) Aafiya alhamdulillah sudah mengerti dan sudah berkomunikasi. Sekarang, tinggal bagaimana membuat program untuk second language nya lagi, in shaa Allah.


Dulu, aku tidak terlalu aware dengan pentingnya mengenal berbagai bahasa asing. Jika ada brosur atau apapun itu, aku pasti nyari yang bahasa indonesianya aja 😆. Kecuali textbook farmasi klinis dan jurnal, rasanya dulu malas sekali membaca artikel berbahasa inggris. (Emak aafiya parah yak 😌). Naaah, ketika sudah keluar dari tempurung (baca: keluar negeri), mau ga mau mesti interaksi kaan sama orang dan mesti baca petunjuk ini itu kaan kalo beli sesuatu, misal buku petunjuk penggunaan suatu barang elektronik. Segala penunjuk arah, instruksi, apapun itu mesti deh ga ada bahasa indonesianya. Yaiyalah! Mau ga mau harus baca yang english kan (since my arabic not too good enough to understand an instruction 😶). Lama-lama akhirnya terbiasa juga. Meski pun, untuk ngomong, cuap2--kalo ga dalam kondisi terpaksa, misalnya lagi ga bareng suami dan mau nanya sesuatu ama SPG mall misalnya 😀 atau ngobrol sama dokter misalnya, masi kadang kurang confident 😣.


Soalnya, aku punya pengalaman buruk tentang ketidak-PD-an ku ini. Daan, susah payah banget force my self to wake up from less confident. Terlalu banyak ketakutan. Takut grammernya ga pas. Takut orang lain ga ngerti apa yang aku omongin. Takut pronounciation nya gaje dan malah bikin orang berkerut dahi 7 lipat 😂 dan sederet ketakutan lainnya. Ketakutan yang menyeretku pada pusaran ketidakpercayaan diri yang luar biasa yang aku bersusah payah sekali untuk bangkit dari lubang gelap tersebut. Aku lupa dengan hakikat bahasa yang sesungguhnya. Bahasa buatku (baca: sebagai orang umum, bukan dari sudut pandang seorang ahli sastra) bukanlah ilmu pengetahuan. Tapi bahasa adalah alat komunikasi. Selama komunikasi berlangsung dua arah, saling mengerti, maka that's all! Meski bukan berarti harus menafikan grammer juga! Alhamdulillah, sekarang much better lah aku dibanding aku yang sebelumnya. Selain memang mau ga mau aku mesti komunikasi sama orang, terutama sekali sebenarnya support dari suami yang memberikan great influance bagaimana aku keluar dari mindset ketidakpercayaan diriku. Toh, kalau soal pronounciation--sebagaimana kata suamiku--no problem at all jika logatnya masi kecampur sama logat bahasa ibu--heritage language. Toh kita bukanlah native. Wajar doong, logatnya ga persis sama kayak bule. Toh kalo bule ngomong bahasa indonesia dengan logat english bikin kita punya alasan buat ngetawain? Enggak kaaan? Dan, setelah berbincang-bincang dengan orang dari Ind*a, P*kistan, Ph*lipine, mereka juga sangat-sangat kental logat heritage language mereka. Jadi, ga ada alasan sebenarnya aku untuk tidak PD sih. #edisimenyemangatidiri 😉.

Buat Aafiya (dan Aasiya next in shaa Allah), akan sangat berguna sekali (apalagi dengan kondisi kita tinggal di negara asing, bukan negara sendiri). Dia punya teman-teman, ketemu dan bertegur sapa dengan orang di sekeliling, even cuma yang ketemu di jalan, di mall, taman, hingga ketemu sama dokter misalnya, she needs to communicate with others. Since i know bilingual for baby and toddler is totally no problem, i and my husband have programme to realize it, in shaa Allah.


For the first step, second language nya masi english. Aku dan suami masi punya cita-cita mengajarkan anak-anak berbahasa arab. Saat ini, kemampuan bahasa arabku masi sekedar bertanya berapa harga, mafi, la ba'sa, dan beberapa kosakata umum lainnya wkwkwkwk 😂. Jika ada yang ngomong bahasa arab, aku mulai ngerti sedikit. Ya, baru sedikit. Pengennya sih belajar bahasa arab fushah, di mana kalo yang di dengar di jalan kan yang amiyah. Emak Aafiya in shaa Allah mau lanjut sekolah lagi. Mudah-mudahan bisa sampai level 5 atau 6 dan bisa ngajarin anak-anak juga. Sekarang baru lulus level 2. Waah, jadi semangat lagi nih buat ngelanjutin sekolah di Daar Adh-DHIKR. In shaa Allah, next time...


Ingin tau bagaimana program menciptakan lingkungan bilingual di IMoreFamily? Nantikan kisah selanjutnya yaa. In shaa Allah aku posting di sini.


=====
Sebagai referensi, sila baca beberapa artikel berikut tentang bilingual pada anak.


[1: http://www.asha.org/public/speech/development/BilingualChildren/
[2: http://www.parents.com/toddlers-preschoolers/development/language/teaching-second-language/
[3: http://www.babycenter.com/0_raising-a-bilingual-child-the-top-five-myths_10340869.bc
[4: http://www.parenting.com/article/raising-bilingual-children
Read More

Menguatkan Pondasi

setelah sekian lamaa libur nge-blog, akhirnya aku kepingin nge-blog lagi. bukan karena malas nulis mengapa tulisan di blog ini sepi dalam 2 bulan terakhir, tapi hanya karena tidak sempat menulis. ada banyak hal yang ingin aku ceritakan di blog ini. banyaaaak haaal (versi lebaynya, hehe). tapi pada akhirnya terlewat begitu saja. tapi, tak apa. mari mencoba bercerita dari apa yang masi menyesakkan dada.

ada satu hal yang ingin sekali aku ceritakan yang (sekali lagi) menyesakkan dada. tentang betapa pentingnya menguatkan pondasi akidah pada jiwa-jiwa anak yang masih polos dengan kesucian fitrahnya dan menanamkan serta memupuk keimanan di hati mereka. ini berangkat dari fenomena betapa banyaknya pendangkalan akidah yang baru aku sadari mekar dan bersubur. sayangnya, aku baru menyadari (tepatnya lebih peduli) akan maraknya hal ini, baru belakangan ini. tapi, alhamdulillah, tersadar jua aku pada akhirnya, bahwa aku selama ini mungkin apatis dengan lingkungan mengenai pendangkalan akidah yang sangat marak di sekelilingku ini. ya, this is like a sand storm in my face. menampariku dan berkata, "kau tak seharusnya membiarkannya begitu saja, fathel!"

apa yang sedari kecil ditanamkan kepada anak dengan fitrahnya yang masih polos, akan jauh lebih melekat (dan bahkan sampai ke alam bawah sadarnya), hingga hal itu menjadi cara ia memandang sesuatu ketika ia beranjak dewasa dan ketika ia pun kemudian menjadi orang tua. penanaman pondasi itu dimulakan dengan hal-hal yang salah, akidah yang "menyimpang" yang terus menerus diwarisi dari generasi ke generasi. akhirnya, semuanya dianggap lumrah dan biasa. dan sampailah pada masa di mana seseorang yang benar, yang berada di jalan yang lurus malah dianggap fanatik dan berlebihan!

pertama, soal khurafat dan takhayyul.
ini sepertinya, menjadi hal yang sudah biasa saja. "kata orang tua-tua..." dijadikan landasan. padahal, tidak seharusnya "kata orang tua-tua" dijadikan dasar sebab banyak sekali hal tak berdasar yang disebabkan oleh "kata orang tua-tua" ini yang isinya khurafat dan tahayyul semua. seharusnya, yang menjadi dasar dan landasan adalah, "kata Allah dalam al qur'an dan kata Rasulullah saw dalam hadits".

"jangan menyapu halaman siang-siang, nanti ga punya anak"
"jangan melilitkan kain ke kepala, nanti anaknya terlilit tali pusarnya"
"pakai bawang putih dan daun selasih, biar bayi aman ketika di jalan"
"jangan begini... nanti begitu..."

semua takhayyul dan khurafat... sesuatu yang dibuat-buat yang kemudian turun temurun, yang pada akhirnya menjadi budaya dan kepercayaan. padahal, itu tak lain hanyalah kebohongan dan berita dusta yang diperindah, dipengaruhi oleh animisme dan dinamisme--kepercayaan jaman dulu sebelum islam masuk dan memerangi itu semua.

فَمَنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
barangsiapa mengada-adakan dusta terhadap Allah sesudah itu, maka merekalah orang-orang yang zalim. (QS. an-Nisa: 94).
انْظُرْ كَيْفَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَكَفَى بِهِ إِثْمًا مُبِينًا
Lihatlah bagaimana mereka berbuat dusta atas nama Allah. dan cukuplah itu sebagai perbuatan dosa yang nyata. (QS. an-Nisa: 50).
(bersambung, in shaa Allah)
Read More

Dan Ini Januari yang Basah

Januari.
bersua juga akhirnya dengan januari kembali. ini adalah januari ke-30 ku.
dan januari kali ini basah bersimbah air mata.


3 Januari 2017
jam 11.45 pagi (menjelang siang), ayah kami tercinta kembali ke hadirat-Nya setelah melewati perjuangan yang cukup lama, bolak balik ke rumah sakit untuk indikasi yang tidak ringan: adenokarsinoma.

semoga Allah merahmati ayahku tercinta.
smoga Allah ampuni dosa-dosa Ayah.
semoga penyakit itu menjadi penggugur dosa-dosa ayah.
semoga Allah melapangkan kubur ayah, dan menjadikan tempat tersebut sebaik-baik penantian sebelum semua makhluk menerima buku catatan amalnya.

ayah, kami menyayangi ayah.
tapi Allah lebih sayang.


kelak, cepat atau lambat, kami pun akan berada di alam yang sama. pasti!
dunia ini, hanyalah sebentar saja. sebentar yang sangat menentukan.

berkali lagi, mari berbenah wahai diriku!
karena anak shalih/ah adalah amal jariyah bagi orang tuanya.
maka, berbenahlah!
Read More