Launching PIO Online

Trima kasih yah saudara-saudari sekalian, telah bersedia mengunjungi lapak “Launching PIO (Pelayanan Informasi Obat) Online” yang sedang saya garap ini, baik dengan sengaja mengunjungi ataupun kebetulan lewat dan mampir, ataupun kebetulan nyasar di sini… Hehe. Saat ini, saya sedang melaksanakan Launching PIO, silahkan melihat-lihat. Mudah-mudahan ada yang bisa kamu sekalian bawa pulang.

Hmm…saya jadi ingat suatu ketika, saya mengantarkan pona’an berobat, karena demam dan penyakit mendasar lainnya (emang adaahhh gituuuh, fundamental sickness…haha, ada-ada saja…). Maksudnya, penyakit yang di derita HAMPIR SEMUA penduduk dunia, semisal flu dan batuk disertai demam. Naah, ponakan saya itu ‘diresepkan’ amoxicillin. Trus, karena ponakan saya ini nda cocok dengan amoxicillin karena dia allergy, lalu minta ganti dengan yang lain. Dan, masya Allah, “dengan seenaknya” ajah diganti dengan Clorampenicol. Ck…ck…ck… Hanya bisa geleng-geleng. Mau ngomong, suasana dan kondisi nya juga nda pas. Nda enakan saya.
Sesampai di rumah kaka, saya langsung bilang, “hmmm...sebaiknya nda usah dimakan obatnya. Lebih beresiko, karena bisa menyebabkan Irreversible Anemia Aplastik! Mending nda usah dikasi apah-apah. Ini nda cocok buat anak-anak. Jika ditimbang, risiko dan efeknya jauh lebih besar risikonya! Flu dan batuk itu, cukup istirahat saja, banyak minum. Boleh sih diberikan obat-obat penekan batuk. Tapi kalau sudah mengganggu aktivitas kesehariannya. Kloram dikasi kalo udah dengan indikasi yang lebih parah ajah.” Kataku (agak) mencak-mencak.

Contoh lain lagi. Adekku mau cabut gigi. Kala itu umurnya baru skitar 14 tahun. Trus dia dikasih antibiotic pre-cabut giginya. Apah coba? Ciprofloxacin!”
Langsung deh berkacak pinggang, “udah Dek, jangan dimakan itu obat. Beresiko untuk anak dibawah umur 18 tahun! SANGAT TIDAK DIREKOMENDASIKAN. Buat cabut gigi ajah kok! Sementara, risikonya lebih besar.”

Contoh lain lagi. Demam-demam dikit ajaah, langsung treatment dengan amoxicillin. Seperti membeli kacang goreng! Ck..ck..ck… Padahal, resistensi terhadap antibiotika ini adalah hal yang sesungguhnya sangat menakutkan! Bagaimana jika semua antibiotic itu resisten sementara penemuan obat baru tak secepat resistensinya? Penemuan obat baru butuh biaya yang amat sangat bessuaaarrr dan juga dibutuhkan waktu yang lamaaa. Bagaimana jika semua kuman pathogen itu bermutasi dan tak ada satu antibiotikapun yang dapat menyembuhkan?
Ini sungguh sesuatu yang amat mengerikan. Tapi, banyak yang tidak tahu. Banyak yang asal menggunakan, karena minimnya informasi mengenai hal ini.
Miris! Sungguh miris sayaaaa.
Jika untuk kasus-kasus yang berat dan memang membutuhkan treatment, it’s okay! Tapi, kalau hanya untuk demam biasa dan cabut gigi, hadeuuhh, sayang sekali rasanya jika harus mengorbankan banyak hal (risk nya lebih besar dari benefitnya). Jika kajian untung rugi laba dagang mungkin nda mesti sejelimet ini. Ini menyangkut nyawa manusia loh (setidaknya menyangkut kesehatan, jika pun tak sampai pada nyawa)! Jangan kira amoxicillin yang dijual kaya kacang goreng itu tidak berefek. Bagi individu tertentu yang memang hipersensitif, bisa menyebabkan Syok Anafilaktik loh (dan itu kalau terlambat sedikit saja, nyawa pasien nda akan tertolong lagi karena dia men-depressi system pernafasan!). Makanya saya suka mencak-mencak sendiri deh kalo udah liyat kasus beginian.

Sampai di sini, sesungguhnya saya bersyukur, bahwa saya harus ‘nyasar’ di farmasi. Hehe… (husy! Bukan nyasaaarr Fatheell, karena inilah sebaik-baiknya pilihan-Nya. Dan saya merasa, bahwa takdir-Nya selalu adalah seindah-indah catatan. Dulu, saya memang sempet gamang di farmasi (berrraaaattt bangeeet  terasaaaa). Tapi kali ini, belakangan ini, saya bersyukur bangeettt berada di farmasi. Setidaknya, bermanfaat bagi saya, dan keluarga serta orang-orang di sekeliling saya terutama. Heuuu, jadi OOT niih…)

Hmm, sama seperti temen farmasis lainnya, saya memang cukup sering di-SMS soal obat, soal resep yang mereka dapatkan. Sampai-sampai temen sekamar saya sewaktu SMA dulu bilang, “Apoteker Pribadi”, hehe… Dan sungguh, saya dengan senang hati jika dapat memberikan informasi itu. Karena, saya tak ingin kejadian ADR (adverse drug reaction) itu semakin meningkat insidensi nya—meskipun di Indonesia data mengenai itu tidak begitu tersedia karena kejadian ADR di Indonesia jarang dilaporkan. Dan inilah peran farmasis yang sesungguhnya (trutama untuk ranah klinis), yaitu mengatasi segala masalah terkait obat, mengatasi DRP (drug related problem) atau masalah terkait obat yang actual—yang telah terjadi, dan mencegah DRP yang potensial terjadi. Sebagai mana hal itu tak ingin terjadi pada saya dan keluarga saya, maka demikian pula yang saya harapkan pada kamu semua.

Nah, berangkat dari hal miris seperti itulah, maka saya mempunyai ide untuk membuka layanan Informasi Obat dapat dilakukan via ONLINE melalui FORM ini atau layanan “on SMS”.
Untuk layanan ONLINE (more recommended), Kamu bisa isi form nya sesuai dengan pertanyaan yang tersedia dan saya insya Allah akan berusaha untuk menganalisis resep yang anda dapatkan dan memberikan informasi mengenai obat tersebut berikut hal-hal yang perlu diperhatikan.

Untuk layanan via SMS (on SMS only!), diperuntukan bagi mereka yang memang tidak begitu intens berada di dunia maya. Untuk saat ini, saya tidak menerima on call. Saya membuka layanan ini dari jam 08.00-10.00 pm (20.00-22.00 WIB) SETIAP HARI. Hari libur tetap dilayani insya Allah. Di luar jam tersebut, sepertinya saya tidak bisa, karena saat ini saya juga lagi sekolah, jadi, di luar jam itu mungkin tak saya balas. Hehe… Kecuali memang emergency banget…

Silahkan SMS ke nomor : 0856-67-56732

Dan, dengan mengucapkan BISMILLAAHIRRAHMANIRRAHIIM, saya LAUNCHING kan PIO (PELAYANAN INFORMASI OBAT) ONLINE. Saya berharap, ini semua bisa memberikan manfaat bagi kita semua. Aamiin…

__________________________
Dalam rangka launching PIO kali ini, saya juga ingin memberikan apresiasi kepada para Pharmacist Blogger sekaligus mengundang mereka semua untuk ‘menghadiri’ dan meramaikan Launching ini, yaitu dengan memberikan AWARD kepada para pharmacist yang juga seorang blogger. Jadii, award ini, saya tujukan untuk para PHARMACIST BLOGGER (heuu…maaf, bukan profesi’isme siihh. Yang laen juga boleh ikutan koooo… Hehe…).
Nama AWARD nya adalah PHARMACIST BLOGGER AWARD
Tema Award ini adalah “SUARAKAN PERUBAHAN melalui BLOG, demi FARMASI yang LEBIH BAIK!”
INi niih awardnyaa : Silahkan dipasang di blog masing-masing yaah…

Pharmacits Blogger Award

Silakan Copy code berikut di Body Post Blog Kamu…

<a href="http://www.blogger.com/goog_234927770"><img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-PW-SJgECSxI/T3c2jhEtqdI/AAAAAAAACzY/O8be60sqtNE/s1600/benerrr+euy.gif" /></a></span></td></tr>
<tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;"><a href="http://fathelvi.blogspot.com/2012/03/klik-di-sini-utk-menuju-form-trima.html">Pharmacits Blogger Award</a>

Rulenya :
TULISKAN OPINIMU, CURHATMU, KE-MIRIS-AN mu, KECINTAAN MU, pokonya apapun ituuu tentang DUNIA FARMASI, lalu ajaklah teman FARMASIS BLOGGER lainnya untuk menuliskan opininya juga dengan meneruskan award ini kepada temen farmasis blogger laiinya… Pokonya ajak temen blogger lainnya yaah (sekurang-kurangnya satu blogger).
Harapan saya, dengan adanya launching dan award ini, semakin meramaikan opini public mengenai dunia kefarmasian, untuk FARMASIS yang LEBIH BAIK!
Percayalah, jika kita menghendaki suatu system berubah, maka mulailah perubahan itu dari diri kita sendiri!
Dengan menyuarakan opini kita mengenai dunia farmasis yang lebih baik, insya Allah kita ikut berkontribusi dalam perubahan itu…

Siipp??
________________________
Read More

Sepotong Cerita di Perjalanan Ke Kalibata

Senin menjelang siang, aku dan Ka Luli ke Blok M, ke kantor BPSDM kemenkes RI, buat ngembaliin bukunya Pak Faiq. Nah, dari kampus kami memutuskan untuk naek kereta ajah ke Kalibata, lalu naek kopaja dan metromini. Huwaahh, riweuh juga sih. Namanya Jakarta, pasti nda sepi dari sesuatu yang disebut macet! Dan bahkan kereta pun macet! Heuu... KRL ekonomi di depan kami mogok, jadi keretanya lamaaa banget ngetem nya. Hoo, ya sudahlah. Sembari menunggu kemacetan itu, kukeluarkan pint out e-book "The Kidney Transplantation in Children ." Hee... Gaya banget yaah? Hmm....,bukan gaya sih. Soalnya aku besoknya mau presentasi. Jadi, harus memahami banget farmakokinetik dan farmakodinamik obat-obatan yang digunakan untuk transplantasi ginjal pada anak. Jadiii, yah aku bacalah si buku itu. Heuu...

Nah, di stasiun Lenteng Agung, naiklah seorang nenek-nenek bule. Waah, rupanya dia 'ngintipin' apa yang aku baca. Hehe... Mungkin karena bahasanya itu adalah bahasa kampungnya dia kali yah? haha... Akhirnya kami justru terlibat pembicaraan seruu. Hahayy... Si bule bilang, dia dari New York. Trus, pas dia tanya, aku bidangnya apah, aku jawab "I'm a pharmacist," dia langsung appreciate gituuh. Trus dia juga bilang, transplantasi ginjal itu di negaranya banyak banget case nya. Rupanya dia juga insan kesehatan cuy! Tapi dia nda bilang kalo dia itu dokter, pharmacist, nurse atau apah, yang jelas dia adalah bagian dari tenaga kesehatan.
Hmm..., pharmacist. Di negeri paman sam sana, pharmacist adalah posisi yang diincer banget. Kalo tes-tes masuk perguruan tinggi, kaya SNMPTN di kita, Pharmacy itu termasuk jajaran teratas dengan daya saing yang cukup tinggi. Dan, profesi pharmacist itu dikenal bangeeett. Lah, kalo di Indonesia? Aku pernah (bahkan sering) nda habis pikir, kenapa orang-orang tak mengenal pharmacist? Aku malah dikira "tukang (jualan) obat". Hadeuuhh,,,,kalo cuma jualan obat mah nda perlu juangkar-kungkir balik kuliah beginiii. Lulusan SD juga bisa, tho??

Trus dia juga tanya, "When you carry out clinical practice in hospitals?"
Ya,ya, ya, paradigma di Amerika (dan negara-negara yang pharmacistnya maju banget), pharmacist itu yah harus di rumah sakit! Clinical Approach, gituuuuhh...
Aku jawab, "Next term, madam! Now, I just learn the theory."
Hehe, tapi, kayanya juga nda adekuat, soalnya praktiknya nda kaya mereka yang Pharm D. Masih sangaaattt jauuhhh dari ituuuuuhh.... dari praktek klinik yang dimaksud si Madam. Tapi tak apalah... It's okay. Tak ada perubahan yang terjadi jika tak dimulai dari diri kita sendiri...

Rupanya si madam juga turun di Kalibata. Dan, di sana kami berpisah. Sembari melambaikan tangan dia menasehatiku untuk rajin-rajin belajar dan semoga sukses. Dia juga menyatakan apresiasinya. (Mungkin karena liat aku baca buku, bahasa jawa inggris pula di kereta yang jarang-jarang dilakukan orang-orang. Lagian, sebenarnya aku juga jarang-jarang sih baca buku di kereta kaya gituh. Ahaha. Tapii, kala itu kali aja kebetulan sedang rajin dan kebetulan waktu presentasinya udah mepet. hihi...).

Hmm...aku jadi ingat pertanyaanku dulunya. Itu aku lontarkan di kuliah Seminar Artikel di mana aku 'terjebak' di dalamnya. Aku sebenarnya sudah lulus kuliah seminar artikel. Tapii, karena aku sedang mindahin data dari Rinda, jadi aku ada di kelas mereka deh. Tapi, tiba-tiba Prof. Maksoem udah masuk. Aku nda enak keluar. Jadinya ikutan sit-in deeh. Eeh, nda taunya, ujug-ujug malah nanyaaa. Hahaa...(udah menjadi penyusup, malah nanya pulak! Parraaahh niih. Haha...).
"Prof, sebenarnya di mana letak kesalahannya sehingga pharmacist di Indonesia itu tidak banyak yang kompeten seperti di luar sana, apakah dari pharmacist itu sendiri ataukah sistem yang membentuknya demikian semisal kurikulum, dan lain sebagainya?"

Jawaban Prof Maksoem membuat aku jadi tersadar, bahwa sesungguhnya kita memang ketinggalan sangat jauh. Sebenarnya, sih bukan karena kita bego yah. Tapi, sedari dulu paradigma yang terbentuk itu, pharmacist kerjanya yah gituh-gituh doang (paling manajemen, pemesanan, sgala macem). Tapi yang clinical approach masih jauuh. Jika saja di Amerika sana, sudah berjalan sejak tahun 1950'an, di Indonesia sekarang masih baru mulaiii. Wah, ketinggalan jauh dong yah?! Itu pun, dapat tantangan dari sebagian dokter (apalagi yang nda seneng, posisi superiornya diusik), bahkan dari farmasis sendiri yang maunya enak-anak doang. "Ngapain juga lu nyari kerja. Gini kan udah enaaak. Sekali tanda tangan, satu setengah juta." Heuu...

Lalu, bagaimana cara mengubahnya?
Ah, kita takkan pernah dapat merubah sistem kecuali kita dulu yang mrubah diri kita sendiri. Jangan TEKAB jika ingin jadi farmasist yang sesungguhnya. Dan, bekerjalah dengan hati. Insya Allah suatu saat, aku OPTIMIS, dunia farmasis di Indonesia akan lebih baik lagi.

Lha, bule New York saja meng-apresiasi, tho??
Jadii, saatnya membuktikan kalo farmasis itu seseungguhnya BISA berubah. Ya, cukup dengan mengubahnya dari diri sendiri duluu...

Ada dua pilihan dalam perubahan, ikut serta atau tinggal diam. Keikutsertaan kita mungkin tak memberikan pengaruh yang signifikan di tengah-tengah orang yang tinggal diam. Tapi, jika semua orang berpikir untuk ikut serta, maka... suatu saat, terwujudnya pharmasis yang sesungguhnya, bukan sesuatu yang absurb...

Hayuuu, semangaaatt belajarrr lagiii...
Karena belajar ituu...menyenangkan!
Karena belajar itu, adalah kewajiban seorang muslim... ^__^

Semangaaaatttt!
Read More

Nyasar itu Menyenangkan

Ahad kemarin, aku ke Kukel. Untuk pertama kalinya aku ke Kukel. Haha, paraah yaah. . .
Nah, satu-satunya kendaraan menuju sono dengan jalan terdekat adalah naik ojek. Kalo mau sih, sebenarnya bisa naek angkot. Tapi 2x angkot dan itu muterr...terrr... Heuu... Akhirnya kuputuskan untuk naik ojek sahaja, walaupun sesungguhnya naik ojek adalah sesuatu yang amat sangat kuhindari kecuali dalam keadaan amat sangat terpaksa sekali. Hehe...

"Pak, ke jalan Ahmad Dahlan ya, yang deket SD Muhamadiyah." Kataku.
"Hoo iya Neng." Jawab si bapak dengan begitu yakin seyakin-yakinnya.
Ehhh, nda taunya si bapak cuma sok tau doang. Aku dianterin malah ke SMP Muhammadiyah. Ngelewatin RS Graha Permata Ibu. Padahal, lokasi yang kumaksud nda sejauh itu. Hadeeeuuh, kalo nda tau kenapa nda bilang ajah sih Pak? Piye tho?

Tapi, kali ini aku sedang menikmati menyasar!
Haha, menikmati menyasar? Ya iyaaa, soalnya "Sesat di jalan ya Jalan-jalaaan." Hihi...
Dalam hati, aku mencoba membuat paradigma kalo nyasar itu adalah sesuatu yang menyenangkan. (Lohh??), hee.... :D
Akhirnya, berbekal tanya sana-sini, sampai juga di tempat yang dimaksud. Tapiii, ya harus "Jalan-jalan". hee...
"Naek ojek ajah neng! Masi jauuuhh..." selalu begitu kata orang-orang yang kutanya.
"Aahh, nda papa mas, pak, bu, mba, saya jalan kaki ajah..." jawabku sambil nyengir.

Ada sebuah pelajaran yang ingin aku petik dari kisah 'jalan-jalan' di atas.  Ini menyoal bagaimana memenej emosi dan kekesalan. Hee...
Aku seharusnya bisa saja marah bangeet, keseeell abiiss sama tukang ojeknya, sebeeeeelll dengan kondisi begituan. Udah tukang ojeknya sok tau, trus ongkosnya dinaikin 2x lipat, udah gitu nurunin di tempat yang salah dan jauuhh banget dari tujuan, ditambah cuaca yang bener-bener panas membakar, dan kondisi yang masih belom fit (masi batuk dan flu). Lengkap sudah kan yah, untuk membuat hati kesaaaall. Tapi, aku katakan berkali-kali pada diriku,
"Aiihh, Fatheeel. Nyasar itu menyenangkaaan. Tuhh kan, jadi jalan-jalan. Jadi tau daerah skitar sini. Jadi, enjoy ajah..."
Rupanya terapinya berhasil. Nyasar kali itu terasa MENYENANGKAN! hee...

Ah, jika saja di banyak waktu dalam kehidupan, aku bisa men-sugesti hal yang sama, 'Menyulap' kekesalan menjadi sesuatu yang menyenangkan, mungkin aku tak perlu menghabiskan energi lebih banyak untuk sebuah luapan emosi. Yah, jika saja. Namun, kita sering kurang sabar menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Lebih banyak mengeluh dari pada mencoba mengambil pelajaran. Padahal, setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita, pasti sudah ditakar-Nya. Pasti disertai hikmah dan pelajaran berharga, dalam kondisi apapun itu...

Smoga ini jadi reminder bagiku terutama, untuk lebih bisa memenej hati terhadap suatu situasi yang tidak menyenangkan.
Percayalah wahai diriku, daun yang jatuh saja, sudah dituliskan-Nya di lauh mahfudz, apalagi kehidupanmu yang begitu kompleks. Jadii, jadikan pelajaran, apapun itu... Hanya memunguti hikmahnya saja. Tak bersediakah kau wahai diriku?
Read More

Cerita Gado-Gado

Kalo dipikir-pikir nih yaah, kadang aku jadi malu sendiri ngebaca blog inih. Habisnya, isinya mungkin lebih banyak curhatan geje. Sehabis mampir di blog tetangga, jadi ngerasa kecut sendiri. Hee... Blog aye kaga ade mutu-mutunye. Isinya nyampah semua yah? hee... Ah, tapi, bagemana pun isinya, ya sudah deeh, I'm being my self sahaja dah! Mau curhat kek, mau geje kek, mau nyampah kek. Yang penting, nulis blog ajah dah. Hee... (#pernyataantakbermutu,tapibiarlah)
Eh iyaa, kisah berikut ini hanyalah geje belaka. Jadii, jika tak ingin kehilangan waktu berhargamu, sebaiknya nda usah dibaca yah. hee...

Hmm, mau cerita apa tadi yah? Sebenarnya sih banyak yang pengin aku bagi. Sejak Rabu kemarin, ni tangan udah gatel mau nulis di Blog. Tapiii, nda jadi karena aku lagi mau ngebenahin planning, schedule, tugas, dan persiapan buat si utees. Nah, berhubung sejak Kamis pagi hingga Sabtu ini aku kembali tepar untuk yang kedua kalinya (Ishbir wahai dirikuu, sakit = kesempatan untuk istirahat...#idealnyaaa....hee), akhirnya aku malah nda bisa ngapa-ngapain. Dan jurnal TDM (yang tidak tepat sasaran) itu jadi tertuduhnya. Heuu... Dua malam berturut-turut fighting with jurnal, ditambah angin ribut yang menyeramkan, adalah kolaborasi yang begitu manis untuk kemudian tumbang di hari ketiga. Dan, malming inilah akhirnya, mulai kembali ke dunia 'nyata' setelah 3 hari memberikan hak pada tubuh untuk istirahat. Tidak belajar. Tidak bikin tugas. Tidak bahas jurnal. Tidak baca text book. Cukup tidur(tiduran) saja. Mengistirahatkan ia saja.

Hemm...
Saat ini aku sedang terinspirasi dengan dua sosok (eh tiga dink!). Benar-benar kagum deh. Inspiratif dan Open Minded. Setiap mendengarkan penjelasan beliau-beliau, aku selalu terkagum-kagum. Tak hanya menyoal dunia farmasis, tapi juga tentang filosofis hidup. Tiga sosok yang sedang aku kagumi itu adalah, Prof. Maksoem, Pak Dr. Faiq Bahfen, dan Ibu Dr. Retnosari. Nantilah, insya Allah aku posting sebagian kata-kata inspiratif dari beliau-beliau... Insya Allah... (nda janji...hee... :D)

Hmm...hari ini aku bolak-balik buku "The Pharmaceutical Regulatory Process." Tulisannya Mr Berry. Buku kluaran FDA sepertinya. Nda tanggung-tanggung. Itu buku, harganya 2,4 juta. Mahal yaah?! Padahal nda tebel. Nda berwarna jugak. Cuma 600-an halaman. Hanya saja, karena dijual dengan harga Dollar, jadi mahal deh jatohnya. Buku itu bukunya Pak Faiq. Waah, ngeliyat buku itu jadi berbinar-binar. Kira-kira, nanti aku mencintai ilmu (baca : beli buku semahal itu) jadi bagian dari prioritas hidup nda yah? hehe... #pertanyaan yang tak perlu dijawab!

Nah, ngebolak-balik buku itu (belom bacaaa jugaak, tapi ngeliyat inti2nya gimana dulu niih. Lagian, bahasa jawa Inggris soalnya. Jadi ngebacanya juga butuh buku lain dengan ketebalan yang sama yaitu kamus. Ahayy...). Tapi, setidaknya aku dapet gambaran, betapa dangkal dan sungguh sangat dangkalnya "The Green Palace" yang pernah kutulis dulunya. Setelah belajar Pharmacoepidemiology jugak, aku jadi semakin bersyukur tentang kenyataan 3 penerbit yang menolak Novel itu. Jika sampai diterbitkan, masya Allah, mungkin novel imajinatif itu bisa 'menyesatkan' banyak orang karena dangkalnya aku dalam mengupas, terutama yang terkait bio-etik, pharmaceutical care dan sederet ilmu kefarmasian yang ikut serta di dalamnya. Ahh, aku jadi bersyukur bisa menikmati ilmu ini. Selain bermanfaat--setidaknya bagi aku pribadi dan keluarga--pikiran dan paradigma juga jadi banyak berubah. Alhamdulillaah, lebih ngebuka mata dan lebih open-minded deh. (Dengan demikian, aku juga bisa memperbaiki si novel itu kan yah? Kelak, insya Allah...) 
#Waah, benar-benar jadi bersemangat untuk merombak ulang itu novel, meskipun sebenarnya akhir-akhir ini aku nda begitu demen ama yang namanya sains fiksi. Yossshh, semangaattt!

Ah iya, sebenarnya aku juga lagi fullpressing niih. Lagi-lagi menyoal TDM (terapeutic drug monitoring). Pekan kemarin, presentasiku kacau banget karena aku tak menemukan jurnalnya mapun textbooknya. Dan minggu depan, aku harus mengulangi presentasi lagi. Yang membuat fullpressing itu adalah, jurnalnya maupun textbooknya sampai hari ini, detik ini, belum ketemuuu. Apalagi ditambah dengan 3 hari yang nda bisa ngapa-ngapain, cuma istirahat saja, jadii waktunya kian mepet. Sementara, aku harus maju presentasi itu di selasa depan insya Allah. Hadeuuhh.... Masya Allah... (ini presentasi paling berat yang pernah aku jalani selama semester ini....). Padahal, aku sudah obrak-abrik juga diberbagai textbook, ngebelain men-download e-booknya meskipun harus nunggu lama, tapiii tetap saja belum menemukan pencerahan. Ahh, tapi yakin saja deeh. Setiap kesulitan pasti disertai kemudahan. PASTI! Setiap masalah yang ada, PASTI punya solusinya. Jadii, yakin ajah aah. Heuu...

Hmm,,kadang aku pas lagi jalan (di boulevard itu apa lagi), selalu suka kotempelasi sendiri. Tentang hidup dan kehidupan ini. Tentang perjalanan yang tengah aku tempuh kali ini. Lalu, suka papasan dengan bapak-bapak pemulung, tukang parkir dan lain sebagainya. Yah, banyak hal yang semestinya aku syukuri dari hidup ini. Banyak hal! Bisa menikmati santapan lezat ilmu ini, adalah hal yang sangat patut aku syukuri. Mungkin, si Bapak pemulung itu juga pernah ingin sekolah. Mungkin, ia juga tak ingin mengakhiri masa tuanya dengan memunguti sampah-sampah. Hanya saja, mungkin dia belum berjumpa dengan kesempatan itu. Ah, betapa berharganya sebuah nikmat kesempatan... Ini memberikan trigger tersendiri bagiku, untuk lebih bersemangat! Bahwa kesempatan ini adalah kesempatan berharga yang tak sedikitpun boleh aku siakan. Tak perlulah aku melirik kepada orang-orang yang memiliki kesempatan yang mungkin bagi kebanyakan orang lebih baik. Misal, sekolah di luar negeri dan lain sebagainya. Ada kalanya, melihat ke atas, membuat kesyukuran kita menjadi tergerus. Yang tersisa kemudian, hanya sebuah obsesi saja. Jadi, mereka telah menjadi stabilizer antara obsesi yang menggebu-gebu juga realita yang sedang kuhadapi... Ini bukan berarti, menuntut ilmu itu dicukupkan hanya segini saja. Tetap saja, kita harus punya mimpi... ^__^

Yuhuuu, saatnya bersemangat!
Karena menuntut ilmu itu--seterbatas apapun pengetahuan kita--, tetap saja ia adalah unlimited process....
Madal hayaah. Sepajang usia kita....
Minal mahdi ilal lahdi....
Mari bersemangat kembali buat TDM.... dan inilah saatnya menikmati betapa sulitnya TDM itu...hihihi... :D



NB : Hehe, maaff yaahh, cerita kali ini benar-benar sayur asem... semuanyaaa masukkk.... hahayy... :D
cerita gado-gado....cerita dengan banyak tema...

Read More

Es Krim dan Malam Minggu


Sudah lama sekaliii rasanya nda nulis di blog yah? Heuu….soalnya lagi #soksoksibuk. Hihi… Ya, memang sedang belajar untuk memprioritaskan hal-hal prioritas dulu. Bahkan untuk sementara, say goodbye dulu sama kamera dan software design. Yah, kangen jugaaa siih. Apalagi liat beberapa komunitas fotografer pada photo-photo di perpus. Atau, kangen juga siih aplod-aplod di fesbuk lagi. Tapi, aku pun sudah sangat jarang buka fesbuk. Kadang, ngedesain yang geje-geje (atau sekedar ngedesain kata-kata penyemangat yang disimpen buat koleksi pribadi) memang dijadikan buat ajang refreshing. Tapii, karena sering kebablasan, jadii mending dihentikan dulu ajah kali yah? Hehe…#ekstrim! Tapi, kalo nge-blog sih, masih tetep nda bole disetoopp… Soalnya, ini jadi muara tersendiri. Hanya saja, mesti curi-curi waktu #haha,soksoksibuk.

Aku mau cerita apah yah?!
Cerita yang easy-easy ajah aahh, yang ringan-ringan ajah. Tentang es krim dan malam minggu. Hari sabtu kemarin, jadwal kelas lagi kosong karena Pa Dosennya nda bisa ngajar. Jadi, kuputuskan untuk ke perpus saja. Nge-download jurnal. Tapi, karena jurnalnya nda nemu-nemu, aku putusin buat ngedownload ebook saja. Alhamdulillah, ketemu ebook buat makalah farmol. Alhamdulillah, meski nda ketemu yang dicari, eeh malah dapet yang nda dicari. Asiiik. Hee….
Menjelang2 asyar, aktifitas download selesai (lebih tepatnya harus segera diselesaikan), soalnya kalo tidak, bisa kebablasan sampai maghrib. Heuu… Alasan lainnya, adalah karena mataku udah perih sangaaat dengan komputernyaaa. Bahkan bikin sakit kepala. Mau balik ke kosan, maleesss. Lagi ada yang kondangan di tetangga sebelah. Suara orgennya berisik bangeeettt. Apalagi juga ada dangdutan. Aku lagi fonofobik (males dan gerah ngedenger suara kerasss. Jadiiii, mending ngacir ajah dah!).

Akhirnya, aku ke kosan Ka Luli ajah. Ada Sri juga di sana, yang lagi ngerjain makalah farmol. Jadii, aku bisa ikutan gabung meski nda terlibat dengan makalah farmolnya ka Luli dan Sri. Hehe… Nah, pas malemnya, kan malam minggu, setelah jenuh dengan tugas, kita keluar deh. Ke Detos. Nah, pas di pintu masuk Detos, ada yang nawarin diskon makanan di sebuah restoran terkenal. Aahh, yang namanya diskon, pasti bikin mata ada lope-lope nya. Hihi. Apalagi perempuan. Hihi. Diskonnya yang paling menarik buat kita adalah es krim, beli dua gratis satu. Kebetulan, karena kita lagi bertiga, jadi diskonnya pas deh. Asiiik. Hee… Aku pesen yang rasa stroberi dan ka Luli dan Sri mau yang coklat. Tapi karena antrenya kelamaaan, bikin gerah juga. Udah gituh, ternyata diskonnya hanya boleh buat dua stroberi dan satu coklat. Yahh, tak apa laahh, namanya juga ngincer produk diskon. Hihi…

Setelah antre yang agak lama, aku segeraaa dating dengan nampan yang ada 3 eskrimnya. Dua stroberi dan satu cokelat. Mungkin saking lamanya ngantri, bikin kita lupa apa yang dipesen tadinya, ditambah lagi diskonnya kebanyakan syarat sih. Eheuu…

“Maap yan Srii dan Ka Luliii, nda boleh dua cokelat dan satu stroberri. Hehe…” kataku sambil nyengir. Awalnya, coklat ada di Sri dan stroberri ada di ka Luli. Tapi tiba-tiba se inget ka Luli, “Eh, tadi bukannya Sri mau Stroberri. Iniiiihh, dibarter ajah.” Sri dengan segera ngebarter es krimnya. Maksudnya Ka Luli adalah ingin mendahulukan Sri, memberikan apa yang Sri inginkan dan memilih untuk mengalah. Sri pun diem ajah, karena ingin mendahulukan dan mengalah pada Ka Luli. Jadii, sebenarnya Ka Luli maupun Sri sama-sama ingin mengalah dan mendahulukan temen. Tapii, ini kan miscom kan yah? Aku jadi geliii banget melihatnya. Sebenarnya, aku nda pengin ngomong. Tapi, aku nda tahan, akhirnya aku omongin jugaa. Akhirnya, kita bertiga malah ketawa-ketawa deeh.

Tapi, ada pelajaran yang berharga yang pengin aku petik dari kisah di atas. Kadang, ketika kita ingin membahagiakan orang yang kita sayangi, tetapi tanpa dibahasakan, terkadang bisa menjadi berbeda maknanya bagi si penerima. Hemm, begini. Ketika kita berniat membahagiakan keluarga, teman, sahabat yang kita sayangi, kita tentu berusaha memberikan yang terbaik dan mendahulukan kepentingan mereka kan yah? Tapi, ketika terjadi miscom pada progress itu, kebaikan yang kita niatkan justru tidak mencapai sasarannya… Maka, menjadi penting adanya untuk MEMBAHASAKAN KASIH SAYANG itu… Meski cinta itu adalah tindak nyata, tapiii… CINTA JUGA BUTUH KATA! (Ahayyy, ngomong cintaaa cuy! Hihi…)

Aku pernah dicurhati oleh dua orang. Katakanlah A dan B. si A sebenarnya berniat membantu si B dengan caranya sendiri. Tapi, cara si A membantu B justru tidak bisa diterima si B. kebaikan yang si A itu berikan, menjadi berbeda maknanya bagi si B. Kedua-duanya sama curhat ke aku. Jadii, aku sesungguhnya jadi bingung jugaaa, karena nda pas juga posisi ku kala itu untuk menengahi. Pada akhirnya, aku Cuma bisa jadi pendengar bagi keluh kesah mereka dan hanya ber-hehe ria saja sebagai eskpressi empati. Hee…
Pelajarannya adalah, “Tidak semua kebaikan yang  kita maksudkan kemudian dimaknai baik oleh orang lain.” Maka, penting sekali membahasakan maksud kita agar ia tak salah sasaran, tak salah ditanggapi oleh orang lain… Di sini, juga penting yang namanya tabayyun (mengklarifikasi). Jangan menyalahkan dulu, sebelum kita tahu duduk perkara yang sebenarnya. Jangan suudzhan dulu pada orang lain yang kita kira merugikan diri kita. Karena, bisa jadi saja, sebenarnya dia bermaksud baik pada kita, tetapi karena caranya berbeda dengan ekspektasi kita, lantas kita langsung men-judge dia merugikan kita. Ya, semoga ini jadi reminder bagi kita…

Es krim, malam minggu dan TUGASSSS… hee…
Yak, mari kita bersemangat lagiii….
Read More

Gen Kebaikan dan Keburukan


Belajar ekpressi gen adalah hal yang sangat menarik bagiku. Iyaahh, menarik. Pokonya sesuatu yang bernuansa molecular itu, serumit apapun mempelajarinya, tetap saja sesuatu yang menarik. Bahkan menantang! Hehe…

Di blog ini, yang bukanlah blog yang membahas masalah-masalah saentifik, tentulah aku tak akan membeberkan panjang lebar soal dunia molecular. Karena, blog ini khusus bercerita sesuatu yang ringan-ringan sahaja. Seperti snack yang bisa dikunyah sambil mengendara. Ups!
Tapi, ini berkaitan dengan molecular yang menarik itu. Tentang gen dan ekpressinya. Adanya kehidupan kita, adanya regulasi segala system homeostasis (haha, istilah apaah iniiih? Hihi….), sungguh tak terlepas dari untaian gen yang ada di setiap sel tubuh kita. Masing-masing sel, memiliki seperangkat kromosom (22 pasang autosom dan sepasang kromosom khusus yang bertanggung jawab terhadap sifat laki-laki atau perempuan). Di manapun selnya, apakah hanya sehelai rambut ataupun kuku, tetap membawa ke-23 pasang kromosom itu. Tapi, mengapa hanya sebagian yang ter-ekspressikan? Nah, di sinilah letak sesuatu yang luar biasa itu…

Hemm,,,bagaimana cara menyederhanakan pembahasannya? Sebab, aku yakin, jika bukan orang-orang dengan basic saintifik, bahasa-bahasa begini menjadi aneeh. Hehe…  Wong, aku yang anak farmasi saja tak kalah dibuat bingung. Sebab, katanya sih belajar molecular ini adalah sesuatu yang berat. Aku saja—yang notabene punya basic molecular dikit-dikit karena penelitianku dulunya molecular, menyiapkan makalahnya dari berbagai jurnal, mesti jungkir balik duluu. Apalagi yang bukan berlatar belakang sains kan yah? Jadi, aku bingung juga sih gimana membahasakannyaa..

Sederhananya begini. Di rambut kita, punya seperangkat gen yang lengkuaaaaapp bangeet. Gen pengkode kulit, gen pengkode otot jantung, gen pengkode darah, gen pengkode hormone, gen pengkode seluruh system kehidupan kita ini ada di rambut juga. Tapi, mengapa di rambut, hanya RAMBUT saja yang muncul? Tidak ada darah, tidak ada jantung dan lain sebagainya, padahal dia membawa gen itu? Jawabannya adalah… karena hanya di bagian rambut saja yang punya PROMOTOR untuk mengekspressi kan gen rambut itu menjadi rambut. Sementara, di rambut, tidak ada PROMOTOR untuk diekspressikannya darah ataupun jantung. Sehingga tidak ada jantung atau darah di rambut. Kebayang nda, kalo di rambut kita ada otot jantungnya? Kebayang nda kalo rambut kita ada darahnya? Heuu….jika rambut kita ada darahnya, mungkin di setiap barber shop dibutuhkan dokter ahli anastesi dan mesti dibius dulu untuk sekedar memotong rambut. Hee… Di sini, terlihat betapa MAHA AGUNG ALLAH. Sungguh, penciptaan-Nya luar biasaaa, sungguh maha besar DIA. Masya Allah, belajar molecular sungguh membuah kita merasa kerdil dihadapan-Nya. Apa yang pantas manusia sombongkan di hadapan Rabb nya? Bahkan tak ada satu system pun yang dapat manusia buat untuk menyamai penciptaan-Nya yang luar biasa… Allahu akbar!

Gen yang diekpressikan ini kemudian memberikan pelajaran kepadaku, kepada kita. Tentang PROMOTOR dan EKSPRESSI. Sungguh, Allah telah memberikan dua gen pada hati kita. Gen-gen kebaikan dan gen-gen keburukan.
“Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka DIA mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaan. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu)dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (Qs. Asy-Syam : 7-10)
Sungguh, setiap diri kita, setiap jiwa kita membawa gen kejahatan dan ketaqwaan. Dua-duanya ter-ekspressi secara kompetitif. Jika PROMOTOR kebaikan yang mendominasi jiwa-jiwa kita, maka gen kebaikanlah yang ter-ekspressi. Sebaliknya, jika  PROMOTOR gen kejahatan yang mendominasi jiwa kita, maka kejahatanlah yang ter-ekspressikan. Sungguh, menjadi kebaikan atau kejahatannya ia, tergantung PROMOTOR apakah yang mendominasi hati dan jiwa kita…

Ah, aku menyampaikan ini, bukan karena aku lebih baik, teman. Sungguh, diriku masihlah sangat jauuh. Maka, bersama ini aku mengingatkan diriku sendiri terutama, dan juga kita semua. Agar yang mendominasi hati-hati kita adalah PROMOTOR KEBAIKAN.
Read More

Sop dan Merica


Ini sebenarnya kisah lucu yang aku dan Dewi alami. Pasca ‘tumbang’ beberapa hari yang lalu, aku kepingiiiin banget makan sop. Pokonya pengiiin makan sop! Heuu… Karena kita (aku dan Dewi) sudah memutuskan untuk selalu memasak (kaya masih di wisma dulunya), maka aku juga tak ingin membeli sop di luaran. Jadi, siang itu sepulang kuliah, aku putuskan untuk mampir di hypermart dulu, beli bahan-bahan buat sopnya. Lalu istirahat bentar dan mulai memasak sop.

Nah, waktu ngulek merica, aku sebenarnya sudah menyadari kalau merica nya kebanyakan. Tapii, aku pikir, “aihh, sudah cape-cape aku ngulek ini merica, sayang banget kalo dibuang. Mending aku masukin ajah semua kali yaah. Masalah pedes, urusan belakangan ajah aahh…”. Dan tarraaa jadilah aku masukin mericanya (yang sedari semula sudah sadar kalo itu kebanyakaaan…haha). Selain bikin sop, juga ada “Sambalado Uwok”. Sambalado uwok adalah sambalado favoritku. Meski pun aku sering bikin sambalado tanak, tapi sambalado uwok tetep nomor satuu. Apalagi buatan ibuuu. Hehe… Sambalado plus tomat dan teri. Hummm…nyummmmiiyy bangeeett… Dan kloplah sudah, semangkuk sop plus sepiring sambalado Uwok. Itu menu makan malam kitaaa. Hehe…

Seperti yang aku duga, sop itu ditambah si sambalado, jadi dueett mautt yang pedessnya luar biasaaa. Huwaaahhh… Tapiii, pedes-pedes begituuu tetep ajah demen yak? Haha, makluum anak kos! Mesti ngirit! Hihi… Dewi saja yang memang suka pedasss, sampai “Huhaaa..huhaaa….” bangeet saking pedasnyaa. Apalagi aku yang memang tak terlalu suka pedas. Yang bahkan sering diledekin, “ehh, kamu ituu orang Padang nda sihh? Ko nda suka pedess?” haha…  Aku jadi kaya nangisss saking kepedesannyaaa. Aku memang nda suka pedes, tapii aku juga nda suka maniss. Aku nda suka makanan yang ber-kecap juga ko. Kan masih Padang kan yaahh? Hee (Heuu, ko jadi rasis begini sihhh?? Hihi. Tapii, tetep ajah ras menjadi salah satu asesement dalam penilaian riwayat pengobatan pasien kan yah? Itu tandanya ras sebenearnya memberikan kontribusiii yang cukup besuaarr. #apasih, nda nyambung! Ahaha).

Sebenernya, ada pelajaran yang aku petik dari kisah lucu itu. (haha, nda terlalu lucu siih. Tapi bagi aku dan Dewi, ini lucu bangeeett soalnya kita nyantap sop dan sambalado nya sambil ketawa-ketawa). Tentang memilih dan prioritas. Sebenarnya aku punya kesempatan untuk  “memilih mengurangi mericanya meski sudah cape ngulek , atau memilih untuk kepedesan nantinya.” Tapi, aku memilih pilihan kedua. Biarlah kepedesan, dari pada saying harus dibuang mericanya, dan lebih saying lagi tenaga dan energy yang dihabiskan untuk ngulek. Apalagi aku habis tumbang. Jadii, berharga sekali rasanya tenaga yang aku keluarkan. Hihihi… (perhitungan amat sih?? Haha…).

Dalam hidup, kita juga sering dihadapkan dengan berbagai pilihan. Dan setiap pilihan punya konsekuensi masing-masing. Tapi, sering kali (aku barang kali) menyayangkan sesuatu yang sebenarnya kecil, untuk kemudian mengorbankan hal-hal besar. Seperti halnya merica di atas. Jika saja aku bersedia untuk tidak terlalu saying sama tenaga yang aku keluarkan, mungkin aku sudah dapat menikmati sop enaak tanpa pedes kan yah (haha, PD bangettt sop nya enak yaahh?? Haha… Tapiii emang enak kooo, meski nda pake pelezaat. Soalnya dari sononya udah enak. Hahaha…. Kamu Mauu??? Haha… Narsis Mode ON. Padahal nda gituuu jugaaahh. Maaff yaah becandanya berlebihan banget. Hee…).

Back to topic. Yah, memang, kadang kita gagap dalam menentukan prioritas hidup. Menyayangkan hal-hal kecil untuk kemudian mengorbankan hal-hal besar. Padahal, jika saja kita bersedia sedikit mengorbankan hal-hal kecil itu, mungkin kita akan mendapatkan hal-hal besar di kemudiannya. Lagi-lagi, ini kembali kepada bagaimana kita memenej prioritas dalam hidup. Sejujurnya, aku memang gagap soal ini. Terkadang, aku lebih menyenangi melakukan sesuatu yang aku senangi ketimbang sesuatu yang harus aku lakukan. Tapi, aku sedang belajar memenej ini semua. Belajar untuk mendahulukan hal yang penting dan prioritas dari pada hanya sekedar mengikuti apa yang aku senangi belaka. Kadang, aku terlalu mentolerir diri. Dan bukankah terlalu gampang mentolerir diri justru terkadang menyeret kita pada kelalaian yang istimoror. Kalau sudah istimror, hadeuuuhh…merubahnya susaah. Makanyaaaa, yang perlu di-istimror-kan itu adalah habit yang baikkk, Fatheeeeel! Heuu…
(Baiklaaahh, fightiiiiiiiiiiiiiiiing! Semangaaattt! Ganbatte ne! Hamasah! Keep moving forward!).

Tentang prioritas ini juga. Sebenarnya, sebanyak apa yang mendukung untuk melanjutkan studi, maka sebanyak itu pula yang menyayangkannya. Ngapain siih sekolah lagiii? Kamu kan perempuaan. Ngapain juga sekolah tinggi-tinggiii, jika pada akhirnya juga tetep dapur sebagai markaz nya. Hee… Tapii, saat ini mungkin aku sedang belajar untuk mengorbankan hal ‘kecil’ untuk sesuatu yang aku sebut prioritas itu. Hee… Sebab, jika pun tetap ‘dapur sebagai marqaz’, bukan berarti sekolah lagi itu lantas kemudian mengalihkan peran kita dan kemudian merasa lebih tinggi, bukan? Ah, tidak! Tidak begitu adanya bagiku. Sebab peran tetaplah sebuah peran yang memang tergeletak pada posisi yang seharusnya. Ya, posisi yang seharusnya. Tapi, banyak orang yang kemudian paranoid dengan ini semua. Aku bisa merasakan itu. Tapii, sekali lagi, pada prinsipnya, ini hanyalah menyoal bagaimana kita meletakkan sesuatu pada tempatnya, pada sesuatu yang seharusnya. Untuk itu, sekolah lagi, bukanlah sebuah halangan untuk tetap pada peran yang seharusnya, dan tentu saja ini bukan sebuah tiket untuk mendapatkan posisi tinggi ketika peran kita memang harus begitu…
(haha, geje yah? Sudahlah… bahkan aku pun tak begitu mengerti dengan ceracauku kali ini. Hihih…).
Read More

Alhamdulillaah, Itu Hanya Masa Lalu…


Alhamdulillaah, itu semua hanyalah masa lalu…
Yah, bersyukurlah…karena itu semua hanyalah masa lalu…
Mengapa harus terpaku dengan masa lalu?
Bersyukurlah bahwa segalanya telah berlalu…
Bersyukurlah, bahwa takdir-Nya pasti lah selalu sebaik-baik ketetapan untuk dirimu, Fathel…sepahit apapun rasa yang pernah kau rasakan…
Bersyukurlah, bahwa kemudian kau temukan hikmah yang luar biasa tentang mengapa Allah tak memberikan segala yang kau inginkan…. Karena Dia lebih jauh lebih tau tentang dirimu, melebihi dirimu sendiri…
Maka, bersyukurlah….sebab itu semua telah berlalu…

Masa lalu, takkan pernah menjadi masa depan…
Orang-orang dari masa lalu pun, juga bukan pula menjadi orang-orang masa depan…
Jika pun di kemudian hari, berjumpa dengan orang-orang masa lalu, maka itu bukan berarti dia adalah orang-orang masa lalu… Mereka adalah orang yang masa depan, dengan sesuatu yang tak lagi sama dengan masa lalu…
Jadi, lupakan masa lalu!
Cukuplah masa lalu menjadi spion yang besarnya tak sebesar lapangan pandang ke depan…
Spion berarti hanya sebuah terowong untuk sejenak melihat ke belakang, agar menjadi pelajaran, untuk tak terulang di depan kemudian…
Dalam mengendara, adalah sesuatu yang absurb jika kau hanyalah melihat spion, bukan? Bahkan, hanyalah kecelakaan yang kau dapati jika kau HANYA melihat spion semata…
Dalam mengendara, bukankah yang lebih banyak kau lihat adalah jalan menuju ke depan. Dan spion hanyalah kau lirik sesekali saja, bukan?
Begitulah semestinya kau jalani hidup…
Masa lalu itu cukuplah sebesar spion yang perlu kau ambil pelajarannya… Tapi lebih banyaklah kau tatap ke depan. Jauh ke depan. Jauh melintasi dunia yang sejenak ini…

Alhamdulillaah, itu semua hanya masa lalu…
Sedalam apapun masa lalu merasuki amigdalamu, tetap saja semuanya hanyalah masa lalu…
Jadi, beranjaklah…
Cukuplah, itu semua menjadi masa lalu saja…
Read More

Akhirnya, Tumbang Juga...

Jika bagi sebagian orang, harus mikir-mikir dulu buat nge-post di blog (takut tak berkualitas, hee) dan tentu saja berpegang seteguh-teguhnya pada kredo, "BIARLAH POSTINGAN DIKIT asalkan BERKUALITAS." Nah, kalo aku sebaliknyaaa.... "Biarlah isinya begini adanya, asalkan teteup posting." hihi... :D
Yah, biarlah... Karena memang aku tidak begitu peduli dengan eyede dan juga kadang dengan kualitas tulisan. Hihi... Karena memang, aku bukan sedang membuat rumit diriku sendiri (dan tentu saja orang lain yang kebetulan nyasar dan kebetulan membaca baik disengaja ataupun tidak, haha, *berbelit-belit amat!) dengan bahasa-bahasa dan pembahasan-pembahasan yang saentifik. Yah, aku hanya sedang mencoba menuliskan apa adanya saja. Meskipun adanya, mungkin memang masih jauh dari baik. Kebanyakan malah curhattt doang yah?? Hihi...
*Ah, sudahlah... Kali ini aku mau menutup telinga saja aahh, dari komentar orang-orang tentang nge-blog yang isinya curhatan melulu itu adalah sesuatu yang tidak baik. Apa dalilnya, yah? Hehe, sejauh ini, dalil naqlinya belom ketemu... (hehe, maap rada-rada nda nyambung!).

Setelah fight yang cukup jor-joran, akhirnya aku tumbang jugaaa. Masya Allah...
Rabu sore, mulai berasaa... Mungkin pirogen-pirogen itu sedang mencoba mempengaruhi pusat regulasi suhu di hipotalamus sehingga suhunya meningkat sudah! Padahal, Rabu sore, aku seharusnya memberikan performance paling optimal sebagai pemeran pengganti. Heuu...tenaaaang. Ini bukan dunia perdramaan. Pemeran pengganti maksudnya adalah....presenter pengganti! Bayangkan! Aku jadi pemeran pengganti...ehhh..presenter pengganti di dua mata kuliah yang cukup berraatt. Hehe. Dari semester lalu, aku memang beberapa kali jadi "ban serep" (heuu kasiaaan...). Jadi pengganti temen2 yang kebetulan nda bisa maju buat presentasi. Okeeh...aku sih seneng-seneng ajah. Hee....
Rabu sore itu, presentasi Farmakoterapi 1. Sebenernya ini bahan diskusi yang menarik. Sangat menarik malah. Tapi, karena suhu tubuh di atas rata-rata, akhirnya membuat konsentrasiku buyarr. Waahh, aku sampai minta diulangi pertanyaannya sampai 3 kali, untuk memahami 1 pertanyaan saja. Paraaahhh...
"Kamu kenape sih Thel? Kaya nda konsen gituuh? Lingung nda karuan." Celetuk temenku.
"Deuhhh, nda enak badan niih. Nda bisa konsen....huhu..."
Besoknya mesti fight lagi, buat presentasi mata kuliah yang lebih rumiiit...mit...mit... Ini lebih bikin tumbang lagii...Hee... Padahal, aku termasuk orang yang jarang demam. Tapi, kali ini ternyata tumbang jugaa. Lagi musim pancaroba juga kali yah.

Akhirnya, aku memutuskan untuk beristirahat sejenak. Mengenyahkan buku dan membiarkan mereka bertumpuk di kamar. Tidak onlen, kcuali sebentar sajaaa. Dan menghabiskan sebagian waktu dengan mengistirahatkan badan di atas tempat tidur. Heuu, karena dia juga punya hak, Fatheelll... Jangan diforsir meluluuu makanyaaa...

Sakit itu adalah reminders...
Ya, reminders untuk men-syukuri betapa berharganya nikmat sehat...betapa berharganya sehat...betapa malahnya sehat... Dan sungguh nikmat sehat adalah nikmat yang sering banyak kita lupakan (termasuk aku)...
Sakit itu adalah pembersih...
Ya, ia adalah sarana untuk membersihkan dosa-dosa...asalkan bisa bersabar... tapi aku bisa bersabar nda yaah? hwaaa, sepertinya masih banyak mengeluh! :'(
Sakit itu adalah sejenak mengistirahatkan diri...
Ya, kadang kita perlu sakit dulu untuk meng-istirahatkan sejenak diri kita...
Jadi, nikmati saja dulu momen seharian berjumpa bantal dan kasur (sesuatu yang langka, di saat-saat kuliah padet+tugas menumpuk begini, hee...)

Ingat lima perkara, sebelum lima perkara...
Sihat sebelum Sakit,
Muda sebelum Tua,
Kaya sebelum miskin
Lapang sebelum sempit
Hidup sebelum mati...

_______________
Okeeh, treatment kali ini cukup vitamin C dan makan yang banyak sajaaa lalu istirahat... Insya Allah besok lebih baik.... Aamiin....
Read More

HAMPIR SAJA....

Hari ini, lagi-lagi aku pengin berbagi cerita geje. Hee... Semoga bisa aku (dan juga kamu) petik hikmahnya.

Hari ini nda ada kelas sebenarnya, akan tetapi ada suatu urusan yang harus aku selesaikan, jadiii.... tetep ajah aku harus keluar rumah (walaupun keluar rumah adalah suatu hal yang beuuraaatttt banged jika saja sudah libur, hee...). Dari qobla subuh aku sudah susun scedule buat hari ini. Dari jam 6 pagi sampai jam 11.30 nyelesein bahas jurnal dan makalah, lalu siap-siap cauww. Ba'da Dzuhur ke Rumah Qur'an (RQ),trus lanjut ke JNE tiki, trus ke Kresna Fotocopy, trus ke Detos, trus ke Kosan ka Luli buat ngembaliin buku dan balik ke Depok. Masak buat buka. Lalu, malem kirim makalah ke Mba Eka dan diakhiri dengan pembahasan Dipiro buat prepare Farmakoterapi. Lalu, sisanya adalah agenda yang sudah terjadwal seperti biasanya. Hehe...

Walaah, ternyata tidak semulus harapan. Pertama, jurnal bikin aku ngantuk (hihihi.... :D) sehingga setelah menyelesaikan satu jurnal, rupa-rupanya bikin tepar. Hehe... Aku baru 'sadarkan diri' kembali pas jam 12.10 bertepatan dengan adzan dzuhur. Akhirnya siap-siapnya jadi buru-buru dan cauww ke RQ. Sampai di RQ telat 15 menit dari scedule. Ya, bolehlah. Hee... Dari RQ, aku ke JNE tiki dulubuat maketin kiriman kaka sepupu. Ehh, tak dinyanaa, rupanya JNE nda bisa mendeteksi alamatku. Gubraaakk... Apa kampungku terlalu kampungan yah sehingga JNE nda bisa mendeteksi keberadaannya? Mungkin memang terlalu 'kampung' kalii. Hehe. Mas di JNE nya sampai nunjukin list kantor cabangnya dan ternyata memang nda ada di kampungku. Heuu..kasiaaann... Akhirnya, aku putuskan untuk ngepost di kantor post saja yang lokasinya di perpus pusat. Sambil jalan ke perpus, aku mampir di Kresna Fotocopy (karena janjinya fotocopy-an ku slese hari niy). Pas nyampe di sana, waahhh rupanya belum selesai. HAMPIR selesai, lebih tepatnya. jadi aku harus nunggu bentar si mas nya menyelesaikan si buku. Baiklaah... aku maklumiii. Naah, langkah selanjutnya adalah menuju kampus (yang semula tak direncanakan. karena, aku harus ngepost, jadii terpaksa aku harus ke kampus.). Pas nyampe di halte terdekat, aku ketinggalan bus. dengan rela hati memandangi bus yang lewat begitu saja. HAMPIR saja aku bisa menaiki bus itu. jika saja 30 detik aku lebih cepat, aku pasti bisa menaiki bus ituu. wong pas aku nyampe shulter, busnya HAMPIR berangkat dan pintu otomatisnya masi kebukaa. hwaaa.... Akhirnya harus menunggu bus 15 kemudian. baiklaahh... Sesampai di perpus, aku segera menuju kantor pos. Whaaaaaa, "I'm sorry we are closed" begitu tulisan di sana. hwaaaaa....hwaaaaa.... masya Allah.... segalanya berjalan di luar rencanaaa.... Akhirnya, dari pada lebih sia-sia lagi, aku putuskan untuk ke puskom ajah, dowload e-book tentang ECG dan mengirimkan file kuliah ke temen-temen lalu nge-blog, hihi...

Ya, setidaknya, ada pelajaran yang bisa aku petik dari serangkaian peristiwa tak diharapkan seperti di atas. bahwsannya, kita sebagai manusia hanya bisa BERENCANA. merencanakan sesuatu dalam hidup kita, tapi kemudian menjadi urusan Allah lah segala keputusannya....segala akhirnyaa..
mungkin, di banyak waktu, kita HAMPIR saja mendapatkan apa yang telah kita rencanakan. tapi, sekali lagi, keputusan-Nya atas hidup kita, atas diri kita adalah sebaik-baik ketetapan. Catatkan rencana-rencana kita, lalu biarlah Allah yang nanti akan memberikan acc atas rencana itu. Tiadalah segala kejadian dalam hidup ini, bahkan daun yang gugur sekalipun, kecuali telah TERCATATKAN di lauh Mahfudz. Tugas kita, hanyalah mengoptimalkan ikhtiar lalu kemudian menyerahkan segala keputusan terindah hanya pada-Nya. ingatlah, keputusan terindah tidak selalu menyenangkan. ada kalanya terasa begitu berat. tapi, demikianlah Allah mengajari kita, bahwa boleh jadi saja sesuatu yang menyenangkan itu tak baik untuk diri kita....

walaupun segala peristiwa di atas semuanya bertemakan, "hampir saja....". Yah, hampir saja semuanya berjalan sesuai dengan keinginan kita. Hampir saja, apa yang telah kita skedulkan terwujud. Tapii, begitulah.... bahwa hidup ini tak selalu sesuai dengan ingin-ingin kita saja...

naaah, berhubung donlad dan aplod aku sudah selesai. dan waktu asyar juga uddah masuk. aku cauww dulu yaaah. menjalankan schedule selanjutnyaa....hehe...

ingat satu hal Fathel, SERAHKAN SEGALA PENGHARAPANMU HANYA PADA ALLAH SEMATA, agar setiap peristiwa hidup, setidak menyenangkan apapun itu, TAK MEMBUATMU KECEWA. Karena ALLAH TAK PERNAH MENGECEWAKAN HAMBA-NYA...

tetap semangaaaatttt
Read More

You Never Know, If You Don't Wanna Try!

Ini mungkin bukan cerita yang penting untuk kamu baca (walaupun tidak penting belum tentu tidak menarik. Hihihi). Jadi, jika tak ingin kehilangan waktu berhargamu, sebaiknya membaca ini jangan diteruskan yah? Hehehe...

Hari Rabu minggu ini ada sharing dari Miss Kanbara dari Jepang. Hoho... Sebenarnya hal yang beginian sih cukup menarik. Apalagi kampus tempat aku berkuliah sekarang (kayaknya niih) sering kedatangan tamu-tamu asing begini. Meskipun bahasa Inggris nya orang Jepang itu susaaah (karena lidah mereka sulit menyesuaikan dengan pronounciation Inggris, jadi bahasa inggris orang Indonesia kebayakan lebih baik, hee). Tapi, agak-agaknya ini tak berlaku untukku. Mungkin karena ketidak-pintaran aku dalam berbahasa Inggris (ndak tega juga menyebut "kebodohan", coz U're what do you think, right?), jadi ke-PD-an ku untuk cuap-cuap dan juga menulis dengan bahasa Inggris suka menguap entah di mana atmosfiernya. Hehe...

Sebenarnya ini menyoal apa yang aku set di alam bawah sadarku saja kali yah. Sebab, sedari dulu (apalagi pasca seleksi mapres itu), dikatakan "your pronounciation is so bad!" ternyata cukup merontokkan ke-PD-anku kala itu. Bener-bener dah! Aku benar-benar ogah dengan yang namanya bahasa Inggris. Yang tertanam di dalam alam bawah sadarku adalah, aku itu bahasa inggrisnya bener-bener bego! Padahal, sebenarnya, kalo secara passive aku sedikit-sedikit (yaaah, walaupun sedikit), alhamdulillah bisa paham dengan teks berbahasa inggris. Tapi, sering kali aku tidak PD dengan pemahamanku dari apa yang aku baca itu. Hwaaaa....help meeeee, pleaseeeeeee!

Nah, di perkuliahan sekarang, ingin menangissss rasanya melihat textbook yang berbahasa Inggris semua. Belum lagi memahami jurnal. Apalagi di setiap presentasi kuliah dan makalah, sebaiknya memang menggunakan literatur yang bersumber dari jurnal terbaru . Ada evidence base nya gituh. Lha, wong bahasa Indonesia saja susaaaah banget belajarnya dan memahaminya (apalagi yang udah terkait mocular), dan ini ditambah pula dengan textnya yang berbahasa Inggris. Belum lagi slide-slide kuliah dari dosen, hampir semua berbahasa Inggris. Hadeuuhhhh... Dan sekarang, aku suka nda PD kalo cuma mencantumkan literatur berbahasa Indonesia, Apalagi dari Blog! Nda pede deh pokonya. Kan blog nda ada yang koreksi bener salahnyaaaa, tho. Wong blog-ku yang ecek-ecek itu (blog farmasi-ku itu ternyata nongol jugak di skripsi orang-orang sebagai salah satu dari daftar pustaka. Waahh, aku jadi 'ngeri', jangan-jangan ada yang salaaahh, jangan-jangan menyesatkan). Makanya aku agak emoh ambil literatur dari blog. Hehe... Pengalaman pribadi soalnya. Tapi, kalo udah emergency banget dan udah injury time, yaah terpaksa deh ambil dari yang berbahasa Indonesia. Tapi bukan Blog. PDT kek, PC kek, pokonya buku dah.Hihi (gayaaa banget nih ayeeee yah...hahaha). Kalo dulu S-1, aku sih seneng-seneng ajah pake literatur dari embah gugel yang maen tebas abis ajah, kaga peduli itu blog atau emang literatur beneran. hihi (memangnya ada gituuh, literatur palsu. haha...). Tapi di skripsi sih, diusahakan tidak lah yaaah.

Kembali ke Cerita Miss Kanbara yang memberikan sharing di jam kuliah Farmakoepid. Hemm... waktu itu ada kesempatan untuk bertanya. Dalam hati aku berspekulasi, "Hei Fathel, kalau kamu berani untuk bertanya dalam bahasa Inggris kali ini, makaa ini suatu awal yang baik untukmu. Jadikan ini sebagai batu loncatan, agar kau berani untuk bercakap bahasa Inggris dengan orang asing, sesalah dan seburuk apapun itu. Hayooo, Fathel. You never know how able you are, If you never wanna try. Come on Fathel, Surely, You can! You can! Insya Allah..."
Dan, bismillah... akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya, meskipun kemudian Miss Kanbara perlu menyernyitkan dahi dan kemudian bertanya pada moderator, apa yang aku maksudkan. No matter lah, yang penting mencoba. (haha, jangan tertawa yaaah. Mohon dimaklumi 'ketidakpintaranku' ini. Hihi...) #halaaah, jangan terlalu sering memaklumkan diri, Fathel. Ingatlah, bahwa terlalu sering mentoleransi diri bisa menyeretmu kepada kelalaian yang istimror. Heuu....

Bertanya di forum berbahasa Inggris mungkin bagi kebanyakan orang adalah hal yang biasa. Bukan sebuah prestasi, apalagi kemenangan. Itu mungkin hal yang bahkan tak perlu diceritakan di Blog segala, saking terbiasanya dan saking berpikir "sudah seharusnya begitu". Tapi, tahu kah kamu, bahwa bagiku ini adalah sesuatu yang luar biasa? Heuu... sesuatu yang sederhana ini adalah luar biasa bagiku. Dan, seperti komitmenku sebelumnya, ini menciptakan sebuah dilatasi paradigma tersendiri bagiku. Dan tahu kah kamu, sejelek apapun prounounciation ku ketika bertanya di forum itu, ternyata telah menaikkan grade PD ku ke tingkat yang lebih tinggi. Benarlah sudah, bahwa kita tidak tahu bahwa kita bisa, jika kita tak pernah mau mencoba. Jika kita terus terkungkung dengan paradigma yang secara tak sadar kita ciptakan sendiri untuk diri kita...Bahkan labelling yang mencapai alam bawah sadar kita. Ck..ck...ck..., masya Allah. Sebuah penjara yang tanpa disadari kita buat sendiri untuk mengurung diri kita di dalamnya. Ah, sungguh kita sebenarnya punya kunci yang kita pegang untuk membuka si penjara itu. Tergantung diri kita apakah bersedia atau enggan membukanya saja... Dan, bagiku, ini adalah sebuah pembuka pintu penjara pikiran itu...

Dua hari setelah kuliah umum, aku semakin merasakan tingkat ke-PD-an ku dalam bahasa Inggris (khususnya dalam hal conversation) semakin beranjak naik. Hee...  Meski, PD saja tentu tak cukup karena aku mesti banyak belajar lagi, dan terus mencoba serta menguasai lebih banyak vocab. Hal ini sudah coba kubuktikan dengan kejadian di deket Science Park. Kemarin itu aku lagi nunggu Mba Indri, Mba Ratna dan Uni Nadra dari perpus. Lalu lewatlah dua orang asing yang berteriak, "Where is the Public Healthy? Where's the Public Health?" Si Bapak yang berdua itu bertanya di mana Fakultas Kesehatan Masyarakat dan dia bertanya beberapa kali kepada satpam di deket situ. Satpamnya langsung geleng-geleng. "Nda ngerti", katanya. Akhirnya aku memberanikan diri untuk nyamperin Si Mister "Sir, Do you look for the Publick Healthy?"
"Oh yeaaah..."
Akhirnya, berbekal English seadanya, aku kasi tunjuk di mana FKM. Yah, alhamdulillaah dia mengerti apa yang kumaksudkan. Hehe (lagi-lagi, sebuah prestasi untukku. Yah, untukku yang kemampuan englishnya amat-sangat-paspasan-sekali).
Tapiii, yang nda enak ituuu ujung-ujungnya, ketika si Mister itu bilang :
"Thank you, MADAM."
Gubraaaaaaakkkk!!! Bukan hanya orang-orang di kampungku, orang-orang di travel, orang-orang di Rumah sakit dan anak TK itu yang memanggilku dengan sebutan "Buk!" (seperti yang aku ceritakan sebelumnya). Tapi, orang asing pun menilaiku dengan penilaian yang sama. Ibuk-ibuk. Hwaaaa, apa benar aku seperti ibuk-ibuk? Hwaaaaa.... #gulingguling...
Padahal, 5 hari sebelumnya, aku masi suka dikira mahasiswa angkatan 2008. Tapii, ko tiba-tiba berubah lagi, jadi ibu-ibu. Toloooooong!
#Ah, sudahlah Fathel. Itu adalah konsekuensi pertambahan umur. Karena menjadi tua itu adalah sebuah keharusan (dan bukan berarti merasa muda juga nda boleh yaah? hihi). Sekali lagi, si Mister itu sedang memberitahumu, betapa cepatnya waktu berlalu dan sungguh berharganya waktu yang kau punya. Ingatlah, kematian itu datang di waktu yang tak terprediksi, Fathel!

Intinya adalah walaupun Ilmu yang kita miliki is Limited, tapii Belajar is unlimited process. Ia adalah sesuatu yang panjangnya adalah sepanjang usia kita. Jadi, Fatheeeeel, jangan pernah berhenti untuk belajar. Dan yakinlah, bahwa sebelum mencoba, kau tak pernah tau, tentang bisa atau tidaknya dirimu. Dan ingatlah, belajar itu NOT MERELY You get from formal academic, but your life is your school. Kehidupan itulah pembelajaran yang sesungguhnya. Dan ingatlah, belajar bukan cuma untuk obsesi dunia. Tapi untuk kehidupan yang masa nya jauhh lebih panjang dari masa kehidupan dunia yang singkat!

Tetaplah semangat Belajar, Fatheeeel!
Tak perlu takut salah dalam belajar, sebab jika semuanya sudah benar, lantas dari manakah kau akan belajar? Karena, dari salah itulah kau belajar, di mana letak benarnya. Siiippp??!

_____________
Eh iyaaaa, sebenarnya aku sedang menggandrungi dua blog ini. Blog dua orang yang aku kenal tak hanya di dunia maya, tapi juga di dunia dunia nyatanya. Sama-sama anak Smansa papa (jiyaaah :D), sama-sama alumni Akuntansi UI, dan sama-sama menulis blognya dengan bahasa Inggris. Pertama , Eka Ferlinda, trus yang kedua Rully Prasetya. Nah, sebenarnya aku juga punya blog Bahasa Inggris. Tapii, nda update sih. Hee.. Melihat blog mereka, aku jadi termotivasi untuk menulisi blog itu lagi. Ya, meski banyak grammer yang salah, tapi no matter lah. Toh, sekali lagi, KARENA SALAH ITU ADALAH BAGIAN DARI PROSES BELAJAR, Jadi AKU TIDAK TAKUT DAN MALU untuk SALAH (dalam berbahasa Inggris). Yuhuuu, semangaaattt yoo Fatheeeel.
Read More