Revolusi

Teman-teman, udaah pada tahu dong yaah kisahnya sahabat yang sungguh kerreeen ini. Nama beliau Mush'ab bin Umair (Radhiyallaahu anhu). Tau kaaaan? Ya harus tau doong yaahh. Masa' biografi dan kisah hidup Ming Ho lebih banyak yang diketahui ketimbang sahabat Rasulullah? Iya kaan?! Hmm... sepertinya, kita iniii udah direcokiiin banget banget dan banget dengan yang namanya Ghazwul Fikriy, di mana kita lebih tau dan lebih hapal seluk beluk artis Korea terkenal ketimbang Sahabat Rasulullaah yang luar biasa. Kisah mereka, para publik figure itu tak lebih hanya kisah flamboyan belaka (waahh, takutnya ada yang marah niih dibilang flamboyan, soalnya kalo tidak salah itu icon salah satu SMA Negeri di Sumbar. Hihi...), tapi lebih di-update ketimbang kisah heroik luar biasa yang membangkitkan semangat juang dari para sahabat. Mari waspadalahh.. :)

Baiklah, aku takkan membahas soal Ghazwul Fikriy-nya. Aku pengin memaparkan kisah sosok luar biasa itu. Bukan juga memaparkan kisah beliau (Radhiyallahu anhu) dengan sedetil-detilnya karena aku husnudzan bahwa teman-teman sudah pada tahu semua kisahnya. Tapi, pengen ambil spiritnya dari kisah beliau.

Read More

Rasional Ber-antibiotik

Baiklah, sebelum menuliskan sesuatu ini, aku mau pajang foto yang menarik ini dulu aahh...
Gunakan Antibiotik secara TEPAT!
Ya, ini adalah salah satu bentuk kampanye antibiotik, agar digunakan secara tepat [aku ambil foto ini di dekat gedung Central Medical Unit (CMU) 2 RSCM].
Ketiadaan Antibiotik dan resistensinya adalah sesuatu yang amat sangat mengancam. Sayang sekali, laju resistensinya jauh lebih cepat dari penemuan antibiotika baru. Antibiotik sudah 'terkuras habis' penemuannya di era emas tahun 1940'an dan saat ini, nyaris tak ada penemuan antibiotik baru di seantero dunia. Jadii, jangan main-main dengan antibiotik.

Read More

Sirop Fatamorgana

Coba perhatikan ceret di bawah ini :
Teko ambo di kosan :)
Aku hendak bertanya, menurutmu, apakah isi ceret itu? Hemm... mungkin kau mengira itu adalah sirop rasa anggur yang amat menggiurkan jika diminum saat cuaca panas, apalagi ada es batu yang menyertainya. Begitu kan?
Tapi, agaknya, jika kau menebak begitu, maka kau salah. Isi ceret itu adalah air bening saja. Kebetulan di belakangnya terdapat satu gelas tupperware yang berwarna merah tua keunguan. Ya, tupparware itulah yang memberikan kesan bahwa air di dalam ceret itu adalah sirop segar rasa anggur.

Lantas, buat apa aku memamerkan 'sirop' fatamorgana itu kah?
Begini, kawan. Mungkin ada hikmah yang dapat kita petik dari kisah si ceret dengan sirop fatamorgana itu. Ya, tentang bagaimana kita berpikir tentang sesuatu.

Read More

Ya Begitulah...

Ya begitulah.
Kadang, disadari atau tidak, mungkin kita punya kekhawatiran yang 'agak' berlebihan.
Ketika sebuah pengharapan telah diperbolehkan dan dimaklumi adanya, ada semacam kekhawatiran ia-nya tak menjumpai wujud nyatanya. Mungkin semacam rasa takut kehilangan, barang kali.
Takut asa itu lenyap. Takut, esok ia-nya hanya menjadi catatan mimpi. Takut ia hanya akan menjadi jejak masa lalu. Dan sederet persenyawaan ketakutan dan kekhawatiran lainnya...

Tapi,
Segalanya HARUS dipulangkan pada-Nya.
Dia-lah yang memiliki segala keputusan.
Ketika kita berencana, maka Dia-lah yang menetapkannya.
Apapun yang Dia kehendaki, maka akan mudah bagi-Nya.
Dan apapun yang tidak Dia kehendaki, maka pasti tidak akan terjadi.
Jadi, tiadalah yang lebih baik dari pada do'a dan berserah diri pada keputusan-Nya.
Tawakkal atas segala rencana-Nya.
Smoga keridhoan-Nya meliputi...
Read More

My First Book, Insya Allah

Alhamdulillaah... Sungguh terasa sangat indah karunia-Nya. Dalam beberapa hari terakhir, sungguh banyak surprise dari-Nya. Sungguh banyak nikmat-Nya. Dan, sungguh amat naif jika aku tak pandai bersyukur atas karunia-karunia-Nya yang banyak itu. Sungguh, nikmat itu, juga adalah sebentuk ujian dari-Nya. Sebab, kadang kenikmatan justru banyak membuat kita lupa. Bahkan,--naudzubillaah, menganggap ia-nya adalah sesuatu yang niscaya. Sebab, kita berada di Safety zone. Zona aman. Di critical zone mungkin kita lebih cendrung dekat. Meminta pertolongan-Nya di zona kritis. Bahkan seorang atheis pun mungkin pandai menyebut "Oh my God" saat zona kritis itu. Tapi, pada zona aman? Justru inilah yang sering membuat kita lupa. Dan di sinilah letak ujian itu. Semoga kenikmatan dari-Nya, membuat kita senantiasa bersyukur dan justru menjadi sebuah batu loncatan bagi kita untuk terus meng-up grade diri kita, ruhiyah kita. Semoga...

Pagi ini aku dapat email yang bikin surprise. Dari penerbit Parapluie. Berikut isi emailnya :

Read More

Penyesalan Kita...

Hari ini ada kisah yang menurutku cukup bikin geli dan juga bikin agak panik. Hehe. Tadi sebelum berangkat ke rumah guru ngaji buat agenda mingguan, aku lupa menyiapkan dompet. Sebenarnya aku cukup yakin akan keberadaannya di tas sehingga aku tak mempersiapkannya lagi. Ya, intinya aku tidak memeriksa ulang isi tasku itu dan merasa yakin bahwa aku sudah meletakan dompet di dalam tas. Nah, di depan boulevard aku naik ojek bapak-bapak tua yang baik hati dan penyabar yang sudah memutih rambutnya di balik helm kuning yang ada logo kampusnya. Hehe. Meskipun aku sesungguhnya tidak terlalu menyukai naik ojek kecuali dalam keadan terpaksa, tapi di hari ahad, itulah satu-satunya kendaraan yang available. Apa boleh buat. Kalau harus jalan kaki, itu akan menghabiskan banyak waktu karena jauh. Kalau naik angkot, itu memakan waktu lebih lama (bisa sampai setengah jam lebih) karena harus 2x ganti angkot sementara ini sudah hampir telat. Waktu hanya tersisa 15 menit lagi dari jadwal yang seharusnya. Jadi memang inilah jalan satu-satunya. Hee....

Nah, ketika sampai di tempat tujuan (pangkalan ojeknya) karena biasanya aku melanjutkan dengan jalan kaki setelahnya, aku obrak abrik seisi tas, tapi tak ada dompetnya! Masya Allah, ke mana ituuh dompet? Kemungkinan besar ketinggalan di kosan. Waduuhhh.... Udah diubeg-ubeg pun sak tas-tasnya, cuma ketemu 700 rupiah doang. Mana cukup! Ongkos ojeknya 5000. Waduuhh. Mulai deh aku rada-rada panik. Alhamdulillaah, bapak ojeknya sabaaarr banget dan ndak marahin aku di hadapan orang banyak. Beliau menunggu solusinya sambil memarkir motornya, Aku coba telpon temen yang tadi hampir barengan berangkatnya, tapi ndak keangkat. Ndak kedengaran mungkin. Waduuhhh... Aku memutar akal. Bagemana iniiihhh?? Tiba-tiba aku ingat, deket situ ada kosan temen seangkatan. Lalu kutelpon dia, buat membantu memecahkan masalah ini. Hehe. Akhirnya, aku dan bapak ojek tua menuju kosan temenku itu dan akhirnya masalah pembayaran ojek pun terselesaikan. Smoga Allah balasi kebaikan temanku itu dengan kebaikan yang banyak. Aamiin...

Aku hanya ingin berbagi pelajaran dari kisah ini, yang semoga mengingatkan diriku terutama dan juga dirimu semua yang secara tak sengaja mungkin ngebaca ini. Hehe.
Read More

Tentang Khilaf, Alfa dan Kesalahan Kita

Sungguh, ketika aku mencoba mengetikan huruf demi huruf ini, rasanya tak dapat aku lanjutkan tulisan ini. Rasanya kelu. Rasanya tak berdaya. Dan sungguh malu pada Rabb yang mengetahui segalanya bahkan sekedar lintasan hati saja.

Mungkin, kita (aku terutama) pernah berada di fase yang sama. Fase penurunan yang drastis. Fase di mana mungkin kita membersamai banyak kesalahan. Salah. Khilaf. Dan alfa. Meski insan memang tempatnya khilaf, memang gudangnya alfa, memang sarangnya salah, tapi lantas dengan begitu akankah kita begitu mudah berselindung dibalik dalih sifat keinsanan ini? Tidak. Semestinya harus ada fase peningkatan grafik kembali. Kembali pada-Nya. Kembali mengadukan segala resah dan memohon ampunan dengan sepenuh harap dan rasa takut kepada-Nya, Yang Maha Menerima Taubat hamba-Nya.

Setiap kita pernah bersalah. Mustahil ada orang yang tak pernah berdosa. Mustahil ada orang yang selalu benar. Sehebat-hebat manusia, pasti pernah tersalah. Pasti pernah berdosa. Tapi, ini menyoal bagaimanakah kita setelah salah? Bagaimanakah kita setelah alfa yang kita perbuat? Memohon dengan segenap permohonan pada-Nya untuk pengampunan dan mungkin 'remisi' atas kesalahan kita itu kah? Atau membiarkannya menjadi tumpukan noda hitam yang semakin menutupi hati kita kah?

Ah, bukan sedang ingin 'menyelamatkan diri' atau berselindung dibalik kekhilafan yang niscaya adanya, tapi ketika salah, alfa dan khilaf, maka itu sesungguhnya tetap sesuatu yang memberikan nilai bagi diri kita. Ini bukan berarti kita membiarkan begitu saja kesalahan, kehilafan dan dosa-dosa itu membentuk setumpuk 'tabungan' hitam, tapi ini menyoal penyikapan kita atas salah. Sungguh ada berita gembira atas kesalahan, dosa, khilaf dan alfa. Yaitu, Dia, Allah yang Maha Menggenggam hati-hati kita, sungguh amat berbahagia dengan taubat kita. Lebih berbahagia dari pada seorang pengembara yang kehilangan onta merah beserta perbekalannya lalu ia kembali mendapatinya dan karena rasa bahagianya itu, ia salah menyebutkan kalimat yang sesungguhnya fatal itu. Tapi begitulah, Allah amat berbahagia dengan taubat hamba-Nya. Ini adalah sebuah kesempatan baik untuk kita, hamba-Nya yang tak pernah luput dari salah, tak pernah absen dengan dosa.

Read More

Barakallah buat Dedew

Kebersamaan itu... ketika saling mengingatkan saat yang lain lupa. Saling menanggung beban saat yang lain ada masalah. Saling menguatkan. Saling bercerita. Saling mengadukan gundah. Ini bukan lagi hanya sekedar teman seper-atap-an. Tapi saudara. Di jalan ini. Dan ketika segalanya berdilatasi, dan ketika sahabat yang selama ini selalu ada kini akan 'pergi', maka sungguh bohong jika aku tidak bersedih. Tapi, apakah aku punya alasan untuk bersedih atas kebahagiaan sahabatku? Tidak.

Aku memang sedih. Sedih, karena mungkin kebersamaan kita menjadi berbeda lagi nantinya. Tak ada hari-hari penuh cerita. Tapi aku juga bahagia. Sangat berbahagia. Bahagia karena insya Allah akan ada orang yang membahagiakannya, lebih dari pada aku.

Barakallah untuk one of my best friends, saudara sepersusuan (hehe, sama-sama bikin susu ind*m*lk dari batch yang sama, kotak yang sama, air panas dari ketel yang sama, gelasnya ajah yang beda, hihi :D), saudara saparuik (hee, karena masak and makan bersama), saudara di jalan da'wah insya Allah... :)

Barakallaah buat Dedewqyu Dewi Oktavia dan Muhammad Abdussalam yang Insya Allah akan menggenapkan setengah agama tidak lama lagi. Barakallaahu laki wabaraka 'alayki wajamaa bainakumaa fii khoir... Smoga jadi keluarga yang Samara, dunia dan akhirat.


My Design for Dewi's Wedding Invitation.

Read More

Kadang Kita Perlu Bersyukur, Saat Harus Berbalik Arah

Wah, kangen juga nih sama si Bloggie. Hehe... Maaf yah Blog, beberapa hari ini agak tercuekin. Hihi :D
Aku sebenernya dari kemarin itu pengen nulisin. Tapi ya itu, soksok sibuk. Hehe. Padahal ga juga sih. Heuu....

Ahad kemarin, kami reunian farmasi 05. Tapi judulnya ajah yang reunian farmasi, yang kesannya besar-besaran (soalnya kalo reunian farmasi, itu artinya seharusnya ada sekitar 100 lebih partisipan).Tapi ini yang hadir cuma 5 orang. Dan tidak bisa juga disebut reunian farmasi, karena peserta reuniannya juga dari biologi dan kimia. Hehe. Jadi, sebut saja ini reunian orang-orang Padang. Hihi :D. Aku, Uul, Ikrima, Dewi dan Nany. Niatan awalnya berangkatnya jam 10. Ehh ndak taunya molor hingga ba'da dzuhur, karena temen-temen mau foto dulu di perpus pusat, di pinggir danau dan makan siang (yang merangkap sarapan pagi) karena paginya buru-buru harus ke agenda mingguan dulu jadi tidak sempat. Hee... Nah the main destination itu sebenarnya Taman Buah Mekar Sari. Tapi, hemm...ada tapinya. Dan inilah kisahnya :

Read More

Pohon Tempat Kau Berteduh

Mari kita sedikit berimaji. Bayangkanlah dirimu saat ini berada di sebuah padang yang luas. Dan di seberang tempat keberadaan kau berdiri, ada sebatang pohon--jika kau di sisi timur, maka pohon itu di sisi barat--, di mana sesungguhnya pohon itu begitu ingin kau gapai, kau petiki buahnya, dan mendapati perteduhan di bawahnya. Saat ini, belumlah ada kepemilikan yang sah atas pohon itu, hingga kau tak berhak untuk memetiki buahnya, bahkan untuk sekedar berteduh saja di bawah rindangnya. Mungkin kau berharap, dan amat sangat berharap dapat mencapai pohon itu dengan segera dan semua orang dapat meng-iyakan kepemilikanmu atas pohon itu. Tapi, sekali lagi, itu masih ada dalam anganmu. Dan nyatanya, semua harapmu masih berada di alam angan. Kau belum melakukan apa-apa. Atau tidak dapat melakukan apa-apa.

Lalu, saat kau tak tahu apa yang harus kau lakukan dan memang tak ada yang bisa kau lakukan, kecuali jika kau memang melanggar untuk mendekati si pohon itu. Tapi, itu tidak kau lakukan. Kau tetap pada prinsip bahwa pohon itu barulah kau dekati dan engkau petiki buahnya, hanya ketika ada kepemilikan yang sah atas pohon itu.

Read More

Elegi di Gerbong Kereta

Mungkin, cuap-cuap aku kali ini bakalan menimbulkan sesuatu yang kontroversi. Tapi biarlah. Aku hanya sedang memaparkan pengamatanku. Ya, dari satu sudut pandang saja. Mungkin kamu punya pandangan yang berbeda. Semacam orang buta yang mendeskripsikan bagaimana bentuk gajah, yang amat sangat tergantung pada bagian mana dia menyentuhnya. Hehehe... :D

Setiap kali naik kereta, satu hal yang menurutku sangat menarik adalah soal pilihan. Pilihan akan masuk gerbong manakah. Sebagian teman perempuan berkata, "Halaahh, ngapain sih ke gerbong wanita. Wanita lebih egois. Tidak mau berbagi tempat duduk. Pokonya, ego antar perempuan itu rada-rada sengit gituh!"
Okeh, itu pendapat sebagian wanita. Tapi realitanya? Hemm... *mikir

Read More

Do You Feel it in Your Heart ?

Hemm... Setelah analisis dengan mendalam pake Guide to Iferential Statitical Test of Difference ala David P Zgarrick, PhD (hehe, yang ini mah bo'ongan. Ndak pake analisa statistik ini ko. Pake Guideline Pak David Z ini ntar ajah insya Allah pas thesis yang sebentar lagi, hehe), maka aku berkesimpulan, setidak-tidaknya, ada 3 (TIGA) warna rasa yang dirasakan seorang perempuan dengan 23+ (entah laki-laki yah? Aku tak tahu, karena pola sebaran data kali ini adalah di kalangan para perempuan, jadi, aku tak bisa memastikan ini juga terjadi pada laki-laki. Hehehe :D) ketika Sahabat dekatnya, atau juga teman-teman yang di kenal, dan apalagi jika temannya itu lebih muda satu, dua atau tiga tahun lebih, akan menempuh akad sakral itu : menikah! Pemaparan hasil 'survey' ini bukan atas dasar pandangan subjektif saia sebagai orang yang menuliskannya, melainkan dari banyak perempuan yang secara sadar atau tidak, mereka telah berpartisipasi dalam 'survey' kali ini. Hehe...

Baiklah, tanpa memperpanjang muqaddimah, mari kita kupas tuntas hasil 'survey', tentang  Ada 3 Rasa yang sekurang-kurangnya dirasakan oleh seseorang terutama 23+ ketika mendapati berita sahabat terdekatnya, temen-temennya (satu sekolah, satu kampus, satu organisasi, bahkan satu jejaring maya mungkin, hee), dan juga teman-teman yang mungkin lebih muda barang setahun dua tahun, hingga tiga tahun lebih, akan menggenapkan setengah agama pada sebuah majlis akad yang sakral itu.

1. Rasa bahagia
Ya, setiap orang pasti berbahagia ketika mendengarkan berita bahagia. Ya bahagiaaa dong yaaahh... Sangat tidak sopan rasanya, jika bersedih atas kebahagiaan sahabat kita sendiri. Kecualii... yaa kecuali niih yaahh, kecuali jika dia sempat (atau malah terlanjur) mendekati sebuah lubang gelap pengharapan terhadap seseorang akan mengucapkan akad sakral itu di majlis sahabatnya itu. Kalo udah begini mah kaga ada bahagianyaaa, kendatipun sahabatnya dia sendiri...paling dekeeet malaahh! Kalo istilahnya temen-temen dulunya, "Manjamua banta", artinya Menjemur bantal. Karena udah basaaahh dengan air mata, menangis semalam suntuuk. Hihihi :D
Makanya, jangan deket-deket ama lubang dalam dan gelap yang bernama pengharapan, jika tak ingin merasakan sakitnya terjatuuh ke dalam lubang itu dan susahnya bangkit dari si lubang dan muncul kembali ke permukaan. Siiipp?? Cukuplah kisah-kisah patah berdarah-darah itu miliki segelintir orang. Mari petik hikmahnya saja. Hehehe...

2. Sedih
Loh?? Koq sediihh, kan ndak deket-deket sama jurang pengharapan?? Sedih antonim dari bahagia, tho?? Itu kan dua hal yang bertentangan! Hahaa, sabaaarr, jangan protes dulu yaahh.
Hmmm, coba selami dari hati terdalam, pasti ada rasa sedih di samping bahagia itu tadi. Kita dan sahabat Apalagi yang satu kos, satu wisma, saudara 'sepersusuan' (maksudnya sama-sama beli susu Ultr*milk barengan, atau malah minum satu botol berdua karena lagi bokek, wkwkwkwk :D), saudara "saparuik" seperiuk, yang sama-sama makan dari Magicom yang sama (bukan dari periuk sih yaah.. hihi) dan di talam yang sama, kini akan 'meninggalkan' kita. Tak bisa curhat kaya dulu, tak bisa ngalor ngidul kaya dulu, tak bisa bahkan hanya sekedar jalan-jalan berdua, tanpa idzin dari seseorang yang akan membersamai dia nantinya. Ndak bisa suka-suka ajaah ajakin ke mana-mana. Udah gituuuh, sahabat kita itu, besar kemungkinan akan menghabiskan waktu lebih banyak untuk urusan keluarga barunya. Dan itu, serius, bikin sedih. Siapakah penggantimu setelah dirimu bersamanya? Hasyaaaahhh!
*cari ganti sendiri sono! Hihihi :D

3. Mupeng
Haha, iyaah mupeng. Pasti ada mupengnya, walaupun dari mulut bilangnya, "tenang sajaaa, ada yang terbaik nantinya buat kita, di waktu yang terbaik. Pangeran ber-escuda putiih itu akan dataang (ya iyalaahh, nunggu yang ber-escuda maahhh susyeeeehh, non! Nunggu sampe umur 40? Gak kaaaan?! Ahaha.... Survey membuktikan, rata-rata orang akan mapan di usia sekitar 40-an. Ini bukan survey saia. Saia cuma ngutip doang mah. Hehehe...)
Mupeng juga terbagi dua :
3a. Mupeng Asimtomatis
Haha, gayaa bangeet yah asimtomatis. Intinya, mupengnya sesaat doang. Sesaat setelah mendengar berita. Trus, dengan kesibukan, dengan target-target hidup, dengan banyak hal lain, ia akan terdegradasi begitu sajaaaa...
3b. Mupeng persistent
Naahh, kalo mupeng yang persistent ini niih yang susyeeehh. Pertanyaan yang menggentayangi benak adalah, "Deuuhh, saya kapaaan yaaahhh?" Hehehe...
Naah, kalo mupeng nya udah persistent, maka saatnya melancarkan aksi! Dengan cara yang syar'i tentunyaa. Di antaranya, do'a dan sholat hajat, minta Allah mudahkan. Trus, jangan lupa baikin diri, baikin ruhy. Tapi, jangan sampai salah niaat looh yaahh, baikin diri 'hanya' untuk itu saja. Baikin diri adalah include ke semua lini kehidupan kita, ukhrawi maupun duniawi. Hehe.

Tapi, di balik semua itu, setiap kita harus kembali pada satu hal, bahwa segalanya sudah Dia tetapkan untuk diri kita di lauhul mahfudz sana, jauh sebelum kita mengenali dunia, jauh sebelum kita mengenal A,B,C,D.... A, Ba, Ta, Tsa... Dan yang jelas, tak ada tulang rusuk yang tertukar. (Kalo ketukar sama belanjaan ibu-ibu sebelah yang ternyata isinya gajih, bukan tulang rusuk, tinggal bilang ama tukang daging nya ajaah. Tulang rusuk kan enak dibikin soup. Hehehe... :D Kidding!). Maksudnya, rizki kita takkan tertukar dengan orang lain, jadi tak perlulah kita khawatir akan hal itu. Apa yang Allah tetapkan menjadi milik kita, tak akan nyasar ke tempat orang lain, betapa pun jutaan orang menghalanginya dan membuat makar atas itu. Dan sesuatu yang bukan ketetapannya untuk menjadi milik kita, meski seluruh umat manusia mengupayakannya, tetap saja tak akan pernah menjadi milik kita...

Maka, alangkah lebih baiknya, hal yang perlu kita lakukan itu adalah memperbaiki diri kita terlebih dahulu (Nasihat buat diri sendiri niiih terutamaaa. Masih sering error soalnya. Astaghfirullaah.... Astaghfirullaah....) dan jangan lupaaaa, nyiapin diri juga buat penutup hari-hari kita yang sudah PASTI akan kita jalani.

Siiiipp?? :)

Read More

Baru Desain, Karyaku Mana Ya?

Sudah dua karya yang design nya menyangkut aku.
Pertama, Surat Cinta Untuk Murabbi, designed by me
Dan kedua, Allah, Inilah Proposal Cintaku for Girls, adopted from my design and I was being a Covergirls (ahahaha, walaupun tampak belakang. Dan akuuh juga tak mau sih kalo tampak depan). Berkat jadi "covergirls" dadakan giniiih aku jadi kebanjiran friend request. Ahahaaayy... :D

Tapi, belum tampak satupun karyaku. Ya, yang aku penulis tunggalnya. Kalo antologi udah, alhamdulillaah... Hehe
So, Karyaku Manaaa?

#Semangat Berkarya!



Read More

Mendekati Margin Sebuah Komitmen

Dan sungguh, janji Allah itu pasti!
Sungguh, jika kita berdo'a pada Rabb yang hanya pada-Nya saja kita menggantungkan segenap pengharapan, maka lihatlah... Ada masa di mana Dia mewujudkannya, atau menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.

Mungkin memang benar, kadang kita melewati lembah grafik kosinus untuk sebuah komitmen. Ya, tiadalah yang dapat melintasinya kecuali diri kita sendiri. Tiada yang dapat melanggarnya, kecuali kita kita sendiri yang mencoba melintasi margin-margin komitmen itu. Tapi, entah karena aku memang sudah 'berdamai'. Atau sebab tengah berada pada titik penyadaran untuk tidak menyandarkan harap pada manusia, sehebat apapun dia.

Tapi, insya Allah untuk komitmen yang satu ini, aku tidak ingin dan benar-benar tak ingin melintasinya. Bahkan, aku tak ingin mendekati marginnya sedikit pun : tentang komitmen bahwa aku tak ingin menyandarkan harap pada seseorang, sebelum Allah tetapkan untukku! Dan aku, insya Allah akan berusaha untuk menjaga ini. Menjaga agar aku tak selangkah pun mendekati marginnya, apalagi melintasinya dan melanggarnya. Itu inginku yang sederhana :)
Read More

Edisi Reparasi Diri

Hemm.... akhir-akhir ini memang aku jarang nge-blog. Sebenernya sih bukannya tak ada yang pengin dituliskan, tapi entah kenapa, malas sekali menulis. Hihihi... Baik itu menulis dengan pulpen atau menulis dengan menekan keyboard. Nahh, di saat laporan yang menumpuk-numpuk (sekitar 350-400 halaman A4 font 12 pt spasi 1.5 <-- lengkap amit!), malah kepikiran ngeblog. Aneh yah? Hehehe...

Aku mau cerita gado-gado saja deh. All theme. Hehehe. Soalnya, lagi riweuh juga. Jadi, lagi pengen cerita yang ringan-ringan ajah (memangnya ada cerita yg berat di blog ini? Rasanya isinya curhatan belaka!? Hihihi... :D)
Topik pertama soal Kapal, Dermaga dan Samudra (beuuhh, lagi-lagi deeh! Demen amat! Kaya nda ada topik lain ajah! Hihhi :D). Entah kenapa, actually, thus as because of environment kali yaahh. Haaiiihhh, puyeng gue ngadepin cerita yang beginian muluuuu di mane-mane kaga ade abisnyeee >.< dan ditambah pula sindrome 20+ (Nda tega nambahin sederetan angka dibelakang angka 2 nya, jadi cukup dibikin 20+ sahaja. Biar keliyatan masih 20 padahal aslinya masih 17. Ehhh?? Kehkehkeh....).
Hemm tapi, aku jadi dapet pelajaran berharga. Kita (yaa aku terutama) mungkin lebih sering mempersiapkan diri untuk sesuatu yang belum pasti adanya, sibuuuk dah nyiapin, tapiii kadang sesuatu yang sudah pasti adanya, lupa nyiapin. Nge-desain gimana keluarga yang bener, tapi lupa ngedesain gimana aku bakalan mengakhiri kehidupan dunia ini. Ya, aku bukan berarti ngenyalahin dan tidak merekomendasikan untuk mempersiapkan itu semua. Toh itu juga adalah bagian dari sebuah kontribusi demi terciptanya masyarakat madani (ciee elaaahh), dan menurut aku sih itu semua memang MESTI disiapin. Tapi, semestinya porsinya harus seimbang dong dengan menyiapkan bekel buat menjadikan penutup hari-hari sebagai sebaik-baik penutup. Intinya, kita mesti menyiapkan juga buat hal ini. Ya harus! Kalo kapal berlayar saja yang belum tentu kita dapati pelayarannya, sudah disiapin baik-baik, bagai mana kita tak penyiapkan diri untuk sebuah penutupan hari-hari yang ia-nya adalah PASTI, bahkan dengan atau tanpa berlayarnya kita. Ya nda sih? Nah, aye ini sedang mengarahkan telunjuk (beserta keempat jari lainnya!) bahwa ini sebenernya lagi negor diri sendiri.

Okeehh, let's fighting. Nge-desain bagaimana kita menutup hari-hari kita. Sungguh, bagi aku ini adalah perkara yang berat. Berat maksudnya, adalah kita tak dapat menjamin akan seperti apa kita setelah ini. Dan sungguh, sebaik-baik amalan adalah yang baik pada penghujungnya. Smoga Allah menjadikan kita istiqomah, menjadikan kita husnul khotimah, menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang tetap berpegang teguh di jalan-Nya. Karena, sungguh istiqomah itu lebih sulit. Bahkan, dalam Al Qur'an dan Hadits-hadits, gandengan Istiqomah itu adalah Taqwa. Bertaqwalah kepada Allah dan istiqomah lah. Huaaa, smoga Allah menjadikan kita istiqomah. Dan lagi-lagi ini berat! Dan sungguh orang-orang yang tertarbiyah sekalipun, yang hari ini masih membersamai jalan dakwah yang mulia ini, tak dapat menjamin, esok, lusa, beberapa dekade lagi, masih kah tetap di sini? Ghiroh luar biasa ketika di kampus, lantas tenggelam ketika sudah berada di dunia pasca kampus. [Kalo sudah bahas ini, aku jadi benar-benar tertohok, sekaligus sediih. Sedih melihat beberapa sahabat yang tak lagi bergabung di jamaah ini. Sedih dengan diri sendiri,d dan berharap dapat istiqomah. Adakah yang menjamin, selain Allah saja?! Smoga Allah tetap menjadikan diri kita menjadi orang-orang yang istiqomah.]
"Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa, ba'da izhadaitanaa...."
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami kembali setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami....

Itu bahasan yang pertama. Okeh, lanjut ke next theme. Suatu ketika, aku shalat di mushalla perpus pusat. Nah, kebetulan waktu itu, aku ngelihat dua orang satpam wanita, yang subhanallaah menyempatkan diri untuk tilawah dulu setelah Dzuhurnya. Subhanallaah. Itu adalah pemandangan langka menurutku. Jadi malu dan tertohok sendiri. Bahkan, mungkin kita (yaa, aku terutamaa) sering sekali mentolerir diri ketika badai kesibukan melanda. Memangkas porsi yang seharusnya untuk-Nya. Astagfirullaah... Astaghfirullaah.... Astaghfirullaah... Terima kasih Mba Satpam, sudah memberikan pelajaran untukku...

Sesungguhnya masih banyak yang ingin aku tuliskan.... Tapi, sudah kelu niih. Tak sanggup lagi berkata-kata. Begitu banyak yang membuat kita tertohok, sebenarnya. Smoga kita peka. Semoga hati kita peka. Aamiin...

Belum terlambat untuk menjadi lebih baik, dan semoga tidak terlambat untuk bertaubat atas dosa-dosa kita yang terus bertambah...

Ini Edisi menasihati diri sendiri dan berharap semoga kamu kecipratan juga. Hee... :)
Read More

Lagi-lagi, tentang Kapal, Dermaga dan Samudera


Kemarin sehabis melirik foto temenku yg satu SMP, satu SMA, hingga satu angkatan di farmasi,yang baru saja merayakan royal weddingnya di mana dia terlihat cantik dengan gaun pengantinnya, tiba-tiba terbersit keinginan untuk menuliskan status fesbuk di atas (seperti yang ada di gambar). Sebenernya agak rada-rada iseng sahaja. Hihi.... Tapi, ternyata sambutan pemirsa di luar estimasiku. Rupanya sudah ada 94 komentar (termasuk komen aku dan dua komen yang terpaksa aku hapus harena khawatir akan menyebabkan fitnah. Maklumlah, gossip itu berkembang lebih cepat dari pada membelahnya bakteri secara eksponensial. Dan gossip itu mengalami replikasi jauh lebih cepat dari pada mesin PCR yang mampu membuat jutaan copy DNA dalam waktu 3 jam). Dan karena aku tak ingin ada suudzhan di antara kita, terpaksa aku hapus. Jika komen itu beredarnya hanya seputaran temen-temen farmasi klinis, it's okay, karena semuaa kami juga tau itu becandaan doang. Tapi, bagaimana dengan 2.043 orang teman lainnya yang tak tahu apa-apa tentang becandaan itu? Okelah mereka takkan semuanya melirik dan menyempatkan diri membaca komen-komennya, tapi yah tetap saja ada banyak orang yang mungkin tak sengaja membaca. Aku memang tak ingin ada salah interpretasi di antara orang-orang yang tak sengaja membacanya. Hehe...

Hemm...baiklah, kita lanjutkan perbincangan mengenai Kapal, pelayaran dan dermaga. Tiga setali mata uang yang sulit dipisahkan. Jiyyaaahhh...

Memang, kedengarannya menyenangkan ketika pertama kai berlayar, di mana kebanyakan orang-orang akan excited melihat lautan yang biru, melihat air yang jernih, ikan warna-warni yang berlarian kesana-kemari, melihat hamparan kebiruan yang luas, awan yang cerah. Aku banyak mendengar kisah ini dari mereka yang telah berlayar.

Tapi justru, yang mampir ke telingaku, kebanyakan bukan cerita suka nya melainkan duka. Mabuk laut yang tidak menyenangkan. Terpaan topan. Hantaman badai. Hingga kandas porak poranda di tengah lautan. Masih beruntung ada yang punya pelampung. Yang lainnya, ada yang malah memilih tenggelam bersama lautan dalam. Membiarkan tubuh tercabik-cabik sang hiu. Memasrahkan diri dengan gelombang yang meng-ombang-ambingkan. Cerita ini lebih banyak kudengar. Atau karena mungkin memang bertampang tong sampah kali yah, jadi orang-orang senang sekali nyampah di aku, mengeluarkan uneg-uneg nya. Hee. Tentang cerita duka sepanjang perjalanan mereka.

Tapi, cerita duka, akankah membuat khawatir untuk berlayar?
Smoga tidak.
Sebab, tidak mungkin ada sunnah rasul-Nya, jika tak ada maksud baik dibalik-Nya...
Kata kekasih Allah, "An-nikahu sunnatiMan raghiba 'an sunnati, falaisa minni", Dan rasulullah sudah mensabdakan tentang orang-orang yang tak mengikuti sunnah beliau yang satu ini, "Barang siapa yang tidak mengikuti sunnahku, maka dia bukanlah bagianku."
Tidak mau kaaan, dicap sebagai "Bukan Umat Rasulullah?"

Mungkin kita perlu tahu berita duka tenggelamnya kapal-kapal itu (bukan vanderwich saja loh yah, api ada banyak kapal sepertinya).
Agar setiap kita, tak hanya berpikir akan selalu tenang berlayar. Agar kita tahu, bahwa akan ada gelombang pasang. Dan agar kita bersiap diri menghadapi terpaan badai. Setidaknya, kita menyediakan segala persiapan selagi masih di darat, untuk menangkis segala kemungkinan. Meskipun ini tak mutlak selalu sesuai. Jika pun akhirnya kandas, maka, itulah ujiannya. Bisa jadi, kapal yang ditumpangi bukanlah kapal terbaik. Bisa jadi nakhodanya yang tak pandai menjalankan si kapal dan tak paham arah mata angin dan tak paham hendak dibawa kemana si kapal itu. Atau bisa jadi juga penumpangnya yang bawel. Apapun itu penyebabnya, banyak kapal yang jatuh tenggelam. Sungguh itu adalah ujian. Smoga yang mendapatinya diberi kekuatan dan semoga diberikan ganti yang lebih baik.
Read More

Karena Sayapku Tak Pernah Patah, Insya Allah...

Hari ini, aku ujian kasus di RSCM. Alhamdulillaah satu fase terlewati. Kami menyebutnya Remisi Parsial. Sebab masih ada fase konsolidasi di masa-masa tesis, insya Allah. (Hehe, udah kaya kemo kanker darah ajah niih). Tadi, pas pulang, keretanya padeett luar biasa. Padahal Sabtu. Dan setibanya di stasiun UI, keretanya berhenti sangat lama. Padahal cuma satu stasiun lagi. Aku, Rinda dan Mba Dewi memutuskan untuk turun saja. Dan benar, terdengar pengumuman dari pengeras suara bahwasannya ada gangguan sehingga keretanya berhenti lama. Dan kami akhirnya menunggu bis kampus saja. Tapi, bis kampus yang lewat tak satu pun yang berhenti. Udah gitu, sedang ujan. Akhirnya aku dan Rinda memutuskan untuk jalan kaki saja dari stasiun UI hingga ke Pocin. Lumayan juga sih. Heuu... Nah, sepanjang perjalanan itulah kami ngobrol dan aku teringat kembali dengan buku Serial Cinta nya Ust. Anis Matta tentang Sayap yang Tak Pernah Patah. Judulnya ajah sudah menyayat hati. hehehe.... Baiklah, aku lampirkan tulisan menggugah dari ustadz Anis Matta ini.

Mari kita bicara tentang orang-orang patah hati. Atau kasihnya tak sampai. Atau cintanya tertolak. Seperti sayap-sayap Gibran yang patah. Atau kisah Zainuddin dan Hayati yang kandas ketika kapal Vanderwicjk tenggelam. Atau cinta Qais dan Laila yang membuat mereka ‘majnun’, lalu mati. Atau, jangan-jangan ini juga cerita tentang cintamu  sendiri, yang kandas dihempas takdir, atau layu tak berbalas.

Itu cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu di sana. Hanya ada Qais yang telah majnun dan meratap di tengah gurun kenestapaan sembari memanggil burung-burung:

O burung, adakah yang mau meminjamkan sayap
Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati.

Mari kita ikut berbela sungkawa untuk mereka. Mereka orang-orang baik yang perlu dikasihani. Atau jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawaku, dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.


Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah. Kasih selalu sampai di sana. “Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta di hati yang lain,” kata Rumi, “sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain.” Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksikan fakta lain.

Kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejewantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu kita pada posisi kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab di sini kita justru melakukan pekerjaan besar dan agung: mencintai.

Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang terjadi sesungguhnya hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang.
Selama kita memiliki “sesuatu” yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pencinta sejati selamanya hanya bertanya: “apakah yang akan kuberikan?” Tentang kepada “siapa” sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.

Jadi, kita hanyalah patah atau hancur karena kita lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita


Read More

Andilau (ANtara DILema dan galAU)

Deuuhh... besok insya Allah sudah kembali ke kota perjuangan. Entah kenapa, terasa sangaaatt beraaatt. Dan setiap membayangkan bahwa kami akan berpisah dalam jarak dan waktu, aku selalu galau. Aku di Depok. Ibu di Solok. Ayah di Payakumbuh. Uluf di Padang. Dan Adek dan Liyah di Solsel. Hwaaa.... Betapa, momen libur menjadi momen yang sangat berharga untukku bisa berkumpul bersama. Dan, mungkin itu akan lama masanya bisa terwujud (jika Allah masih meminjamkan umur untuk kami)...

Sejujurnya, setiap aku membayangkan itu semua, aku selalu dilanda andilau (antara dilema dan galau). Aku sebenarnya berharap bisa mewujudkan cita-cita kecilku (ya, cita-cita kecil dan sederhana, sebab aku punya cita-cita yang jauh lebih besar dari itu insya Allah. Hehe) yaitu menimba ilmu jika sudah lulus nanti (sebagai seorang praktisi) di rumah sakit besaaarr (hihihi, cita-cita yang berdilatasi jauuhh...dari aku yang sebelumnya). Tapi, sepertinya itu akan menjadi pilihan terakhir, mengingat akulah satu-satunya di antara kami yang memiliki kesempatan (dan jika mau memilih) untuk pulang setelah selesai kuliah nanti. Tapi, mungkin akan banyak orang-orang heran, mengapa harus memaksakan diri untuk tinggal sementara aku (semisalnya) memiliki kesempatan untuk belajar sebagai seorang praktisi (dan itu mungkin sulit dilakukan di kampung halaman?) Ya, aku punya alasan lain dan itu mungkin bagi sebagian orang kedengaran sangat cengeng. Hehe... Tapi, aku mungkin takkan meng-aminkan dan meng-iyakan semua pendapat orang. Sebab, meskipun bertujuan baik, belum tentu semua pendapat itu menjadi cocok adanya jika diterapkan pada kondisi yang berbeda. Sama seperti tidak semua rumus cepat matematika bisa diaplikasikan pada semua soal. Hee...

Tapi, mungkin itu hanya sebuah persoalan kecil (tapi bikin galau, hehe). Ini masih belum apa-apa, dan mungkin akan terlihat sangat konyol, jika dibandingkan dengan saudara-saudara kita di Gaza, yang jika hari ini mereka masih bisa bertemu ibu mereka, ayah mereka, tapi esok mungkin sudah tiada. Esok telah syahid menjemput surga. Perpisahan itu menjadi nyata adanya. Dan mungkin kita perlu bersedih, bahwa kita mungkin tak memiliki kesempatan yang sama seperti mereka untuk mengakhiri kehidupan yang penuh senda gurau ini dengan cara yang manis.

Dan lagi, aku harus berdiri pada satu prinsip, bahwa berada di atas dunia ini, hanyalah fana belaka. Setiap kita memiliki obsesi dunia, maka setiap itu pula ia akan terus menyeret kita pada obsesi-obsesi berikutnya. Maka, yang perlu dikembalikan adalah apa niat kita berbuat? Dan lagi, perpisahan adalah sesuatu yang niscaya... Perpisahan dengan dunia adalah sesuatu yang Pasti adanya....
Read More

Mengajarkan Anak Berbohong

Dalam sendiri di rumah dan asyik-asyiknya ngutak atik internet (hemm...bisa konek itu seperti naik paus akrobatis yaah? Hahaha... <-- betapa ngaconya), tiba-tiba kedengeran suara anak-anak PAUD sebelah rumah beserta suara gurunya juga. Hihi...

Nah, ada satu nyanyinya yang membuat aku geli sendiri...
Lebih kurang isinya begini...

"Bakso Bulat seperti Bola Pingpong...
Jadi anak janganlah suka bohong...
Kalau bohong, digigit sapi ompong..."

Pernah denger?
Kurasa sih pernah, karena nyanyi ini cukup familiar di kalangan anak-anak. Hayooo.... semua kamu pasti pernah jadi anak-anak kan yah? Hihihi... :D

Hemm...kalo diperhatikan dengan seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, bukankah ada sesuatu yang aneh dari lagu itu? Semacam kontradiksi gituuhh?
Mari simak kembali kata-katanya :

"Jadi anak janganlah suka bohong...
Kalau bohong, digigit sapi ompong..."

Hemm....aku sudah garis bawahi kata-kata yang menurutku agak sedikit menggelikan.
Jadi anak, jangan suka bohong. Ya, itu bagus, itu bener.
Tapi malah kalimat berikutnya membuat nasihat sebagus "jadi anak jangan suka bohong" menjadi tak bermakna karena nyanyi tersebut malah NGAJARIN BOHONG.
Coba, mana ada sapi yang doyan sama orang. Sapi mah senengnya gigit rumput, bukan gigit orang! Kalo kamu pernah liat sapi gigit anak orang, tolong kabari aku, biar aku klarifikasi tulisan ini. Heuu....
Itu kebohongan yang pertama...
Mari kita menuju ke kebohongan yang kedua.
Okelah, anggap si sapi nya memang demen nge-gigit anak-anak, lhaa... sapinya kan OMPONG. Mana punya gigi buat nge-gigit.  Bayi yang belum punya gigi ajah bisanya cuma makan bubur atau nasi tim. Nenek-nenek ompong juga makanannya pastilah makanan lunak. Lahh, bagaimana sapi ompong bisa nge-gigit anak-anak yang tentu saja lebih keras dari bubur. Srigala yang punya gigi tajam saja, belum tentu bisa menghabiskan tulang belulang manusia. Apalagi sapi yang ompong. Nah loohh....

Lagu itu menasihatkan agar anak jangan suka bohong. Tapi, lagu itu sendiri sebenernya adalah demonstrasi sebuah kebohongan yang secara tak langsung ngajarin anak bohong. Kenapa? Karena anak-anak biasanya tak begitu acuh dengan kata-kata, semisal "Nak, ayuk rajin sholat, nak ayok rajin nabung.", jika tidak diikuti dengan tindakan nyata. Jika hanya dikatakan "Jangan bohong" maka itu tak akan cukup karena mereka lebih senang MENIRU TINDAKAN yang dilakukan lingkungannya. Jika kita bilang, "Nak, ayuuk sholat." tapi kita sendiri kaga sholat, maka jangan harap anak akan shalat. Itulah yang kumaksud bahwa anak akan acuh dengan sekedar kata-kata saja. Maka, ketika kita ngajarin anak jangan bohong trus dengan terang-terangan langsung mengajarkan kebohongan, maka yang diperoleh si anak adalah justru BELAJAR BOHONG.

Hemm....setidaknya kisah yang menggelikan ini cukup jadi pelajaran buat kita, bahwa mengajarkan anak, bukan hanya sekedar kata-kata. Ngajarin anak, adalah dengan tindak nyata. Bahwa keluarga sebagai lingkungan mini yang paling memberi pengaruh pada anak harusla memberikan teladan yang baik.
Jangan pernah ajarin anak untuk jujur jika kau malah membisikan pada anak, "Jika si IBu X itu datang, bilang ibu lagi ndak di rumah yaa Nak." Secara langsung, kau telah mengajari anakmu berbohong.

#hehe, ini lagu kedua yang aku kritik setelah lagu kasidah yang ini. Hihi
Read More

Kapalku Masih di Dermaga

Aku melirik kapalku yang masih berada di dermaga. Ternyata, termaga ini tak pernah memberlakukan sistem seperti halnya pergudangan farmasi; FIFO, first in first out. Di dermaga ini, jika first in, belum tentu first out. Keberangkatan kapal-kapalnya adalah tergantung siapa yang terlebih dahulu load muatannya dan available nakhodanya. Dan sangat boleh jadi, ada kapal yang hanya sebentar merapat di dermaga, untuk kemudian segera berlayar tanpa menunggu lama. Ada pula kapal yang telah lama berada di dermaga, tapi belum berangkat jua. Ada pula yang lebih parah, sudah dihantam gelombang puting beliung terlebih dahulu, baru kemudian merapat ke dermaga sejenak, lalu berlayar lagi. Tapi, ini adalah seburuk-buruk kapal. Karena mereka memulai pelayaran dengan sesuatu yang amat buruk dan nista. Ya begitulah hukum yang berlaku di dermaga ini.

Mungkin ada yang ber-imaji akan menempuh perjalanan bak sang pesiar. Namun, ada pula yang penuh ketakutan akan gelombang badai yang menghadang. Apapun itu, setiap kapal mungkin memiliki imaji dan definisi tersendiri tentang siapa dan bagaimana bahtera yang mereka hadapi.

Kembali, aku melirik kapalku yang masih setia di dermaga, berjejer bersama kapal-kapal lain yang mungkin nasibnya sama dengan kapalku. Kemudian beralih pada kapal-kapal lain yang telah dahulu berlayar dan sedang siap-siap untuk berlayar. Menatap ekor kapal yang jauuuuhh sekali dari pandangan, sudah anteng berada di tengah bahtera lautan membiru. Bagaimana nasib mereka yang sudah berlayar? Bahagia kah? Atau malah sedang berjuang melawan amukan angin badaikah? Entahlah. Satu dua, masih sampai kabarnya dibawa angin ke dermaga ini. Tapi lainnya, tak terbawa angin. Mungkin terlalu berat si berita itu untuk dapat diterbangkan angin.

Kapalku masih di dermaga. Dan banyak sekali yang bertanya, "kapan kapalmu akan berlayar, Fathel?". Mungkin mereka merasa, kapalku ini sudah sepantasnya untuk berlayar. Tapi, aku pun tak tahu jawabannya. Jika aku punya jawaban, sudah sedari dulu aku kabarkan, bahwa kapalku berlayar tanggal sekian bulan sekian tahun sekian. Tampak-tampaknya, memang orang-orang,entah itu keluarga, tetangga, orang sekampung, sahabat sepenanggungan, suka sekali menanyakan pertanyaan sulit ini padaku. Sekali lagi, ini pertanyaann sulit! Aku tak punya jawabannya. Ya, setidaknya, belum punya jawaban.

Kapalku masih di dermaga. Menunggu nakhoda yang available untuk melajukan si kapal itu. Menunggu mesin-mesinnya ready to go dan bahan bakarnya full. Dan, sesungguhnya, ada satu hal yang yang mesti ditunggu sebelum si kapal ini siap untuk dilayarkan. Sesuatu itu adalah hal yang penting. Ia tak berkaitan sama sekali dengan kapal. Tapi, ia menyangkut keberlangsungan pelayaran kapal nantinya. Sebenernya, tanpa menunggu si sesuatu itu, kapal sudah ready untuk dilayarkan. Tapi, aku memiliki satu kekhawatiran bahwa tanpa menunggu sesuatu itu, kapalnya akan oleng di kemudian hari. Jika pun tak oleng, mungkin itu akan membuat seisi kapal termasuk nakhodanya menghadapi ujian yang berat. Tapi, aku tak ingin khawatir. Karena itu semua masihlah sebuah pra-kira. Dan lagi, aku yakin Allah pasti tak pernah sia-sia. Lagian, ujian-Nya pastilah sebatas kemampuan hamba-Nya saja.

Kapalku masih di dermaga. Maka, jika kau ingin bertanya lagi, kapankah kapal itu berlayar, kau tanyakan langsung saja sama Allah. Karena hanya Dia yang punya jawabannya. Untuk kesekian kalinya kutegaskan, bahwa aku belum punya jawabannya.

Kapalku masih di dermaga. Untuk setiap ketetapan-Nya, aku ingin selalu menyerahkannya pada-Nya. Di tangan-Nya lah segala keputusan itu. Dan aku ingin selalu berbahagia atas setiap keputusan-Nya. Dia pasti akan memberikan yang terbaik dan Dia takkan sia-sia terhadap hamba-Nya.

Kapalku masih di dermaga..... Dan belum tahu kapan hendak berlayar. Mungkin esok dan bisa jadi lusa. Dan mungkin saja lebih lama dan lebih lama dari itu. Hehehe
Read More

Outbond Tahun Baru

Alhamdulillaah...tahun baru ini diisi dengan kegiatan yang super menyenangkan plus bonus banyak ibroh. Hee... Kemarin aku menemani si Adek buat periksain matanya yang katanya udah nge-blurr pandangannya. Ya aku sanggupi meskipun sebenarnya sedang deadline laporan. Maka, pagi Rabu ini (hari terakhir 1433 H) kami segera ke RSUD Solok Selatan. Ternyata tidak banyak pasien. Syukurlah. Jam 10, udah dapet resep kacamatanya. Hee... Dan setelahnya, aku ngajakin Adek buat ketemu dokter Rani. Hehehe... Ya, karena pas abis lebaran kemarin aku tak sempat ketemu Rani, maka ketika ke RSUD inilah aku memang menyengajakan diri untuk ketemu Rani. Sudah lama sekali tidak ketemu dan aku juga sudah kangen sangat! Penginnya sih ketemu dokter Aulia sekalian. Tapi Au lagi sibuk di ruang Oka, jadi cuma ketemu Rani sahaja. Sinyal ponsel kala itu agak sedikit bermasalah, jadi tak bisa dihubungi nomornya Rani. Jadi, aku keliling ajaahh deh rumah sakit. Wong rumah sakitnya kan kecil, jadii bisa saja mencari Rani dan Aulia di sana. Hee... Aku ketemu Rani di bangsal penyakit dalam. Surprise bangeett. Hihi... Dan sesungguhnya yang bikin aku lebih surprise lagi dan bener-bener ndak nyangka adalah Rani dan Aulia dapet internship nya di Solok Selatan. Hihi...

Nah, baru deh kemudian Rani ngajakin ikutan Outbond. Hemm... pada mulanya sih aku ragu mau ikutan, soalnya dari hari Sabtu lalu aku demam tinggi, apalagi sore dan malam. Hari rabu itu baru hari pertama perbaikan. Dan jika hari kamisnya ikut outbond, aku ndak yakin sama kesehatan aku sendiri. Hee... Tapi aku memutuskan untuk ikut karena juga sudah kangen sangat ngumpul dengan akhwat Solok Selatan. Dan akhirnya, kamis (1 Muharram 1434 H), aku ikutan Outbond ke Kaki Gunung Kerinci itu. Hehehe...

Banyak ibroh, banyak pelajaran yang kemudian aku petik. Apalagi setelah ngobrol panjang di angkot (ehh angdes ding, hehehe), dan kami mojok di bangku paling belakang. Pokonya, serrruu dan menyenangkan. Tapiii, sayangnyaa...malamnya langsung tewas dan tepaarr. Hehehe... Sekarang, setumpuk laporan Pediatri menunggu dan deadlinenya tinggal 2 hari lagi sedangkan laporan kasusku baru kelar 40 %! Gawatt niihh... Hayooo semangaaaatt. Hehehe

Oh iyaa, aku mau mengucapkan :

SELAMAT TAHUN BARU 1434 H
Semoga AKU (dan juga kamu) bisa jadi lebih baik!
Read More

Primitif

Sudah hampir satu minggu lamanya berada di kampung halaman tercinta. Dan sudah 1 minggu ini pula aku jauh dari yag namanya akses internet. Sp**dy di rumah sedang dalam masalah dan masalah sama si bapak telkomnya tak terselesaikan. Tampaknya penyelesaiannya adalah dengan memutus jaringan telpon saja. Sebab, selalu bayaar tapi tak bisa diapa-apain.

Hee... ternyata, jauh dari akses internet itu, seperti kaum primitif yaa? Hehe.
Dan disadari atau tidak, ternyata kebutuhan akan koneksi terhadap dunia itu semakin tinggi, dan mungkin saja menjadi kebutuhan primer. Bagi kalangan tertentu terutama....
Ckckck...jaman sekarang...
Padahal, dulu tak begini bahkan ketika aku masih SMP dulu. Baru beberapa tahun berlalu...
Dan bayangkanlah, bagaimana sepuluh tahun lagi saja?
Ada kemajuan apa lagi kah?
Jangan-jangan teknologi nanopartikel, ehm...di mana manusia jadi bagian dari nanopartikel yang dapat saja berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya hanya dengan perantara sinyal. Jangan-jangan...
Let's wait and see... eehh...ndak ding, jangan hanya menungguu...tapi jadi bagian dr perubahan (syaelaaahh...hihihi)
Read More

Purozento

Hari ini sebenernya ada jadwal pengambilan undian kasus yang akan menjadi final examination case di stase Pediatri jam 7.30. Tapi, karena aku berangkatnya (sengaja) telat, dan aku sudah mendelegasikan pengambilan undian ke temenku, Sri, jadi aku nyampe di RSCM jam 7.45 pagi. Secara jadwal sih kita masuk jam 8 ya. Tapi, stase Pediatri sering mengharuskan kita dateng jam 7-an. Itu artinya, abis subuh, trus rapih-rapih dan sudah harus cauuu.... Aku sebenernya tadi jam 5.45 sudah ready to go. But, jemuran setumpuk yang menunggu sang mentari, jadi berangkatnya diundurin hingga 6.20 ajah hee...
(Lagi-lagi dehh, prolog nya panjang bener!)

Nah, kereta Kota pertama lewat. Ndak bisa maksain diri buat masuk saking udah overloadnya. Kereta ke dua, ke Tanah Abang-Jatinegara, juga full bangeett... Kereta ketiga, barulah aku bisa masuk. Tapi, pas nyampe stasiun UI dan Lenteng Agung langsung diserbu penumpang. Jadi, kesimpulannya, kereta tetep overload dan berada di sana bagaikan dipepes macam ikan sarden. Heuu....

Pas di stasiun Pocin tadi, aku baru nyadar kalo ada yang tak beres dengan jilbabku. Ah iyaaa, purozento nya ilaaaaang... Huwaaaaa.... Innalillaah!
Purezento-ku itu sebenernya adalah hadiah dari Kak Ayumi, one of  my best friend semasa apoteker dulu. dan umur Purozento-ku itu sudah lebih kurang tiga tahun! Bros purozento itulah yang kemudian menjadi broz favorit aku.
Paniklah aku ketika menyadari Purozento itu tak ada dijilbab. Kemanaaaa diaaa??
Jadi ingat, tadi buru-buru mengejar kereta dan rebutan di depan pintu komuter. Aku berpikir, kecil harapan Purozento itu bisa ditemukan. Mungkin juga sudah jatoh ke kolong peron kali yah. Heuu... Dan aku menyadari hilangnya purozento itu mungkin sudah agak lama. Sudah 2 kereta yang aku lewatkan baru aku sadar. Makanya aku sudah pasrah banget. Sedih siiihh. Baruu kemarinnya aku kehilangan gantungan kunci FLP yang umurnya juga sudah nyaris 4 tahun. Hilang dengan cara yang sama, tak disadari.

Tiba-tiba, padanganku tertuju pada benda kecil yang tergeletak tak berdaya di pinggir peron. Alhamdulillaah, itu kan Purozento akuuu... Dalam sepersekian detik aku sudah menuju ke TKP, dan BENAR! Alhamdulillaah itu purozento ku yang jatuh. Alhamdulillaah... Senang sekali....

Purozento ku itu sudah mengalami nasib yang sama. beberapa kali nyaris hilang. 4 kali kejadian yang sama di stasiun, kalo ndak salah. Tapi, alhamdulillaah, masih diberikan amanah utk memilikinya..hehehe....

pelajaran dari kisah ini bagi aku adalah, SEBERAPAPUN RINTANGANNYA, SEBERAPAPUN HALANGANNYA, SEBERAPAPUN TERLIHAT AKAN LUPUT, JIKA MASIH REZEKI KITA, MAKA INSYA ALLAH TAK AKAN KE MANA. TAPI, JIKA BUKAN RIZKI KITA, SEBERAPAPUN ITU KITA UPAYAKAN, KITA JAGA, KITA PERTAHANKAN, TAPI TETAP SAJA AKAN LUPUT. Yakinlah, bahwa rizki kita takkan pernah tertukar dengan orang lain. Jadi tak perlu khawatir kan yah? Jika Allah takdirkan untuk memiliki maka, meski sejuta orang menghalangi, tetap saja kuasa ALLAH yang berlaku. Tetap saja kita tak dapat miliki. Sebaliknya, seberapa pun kita menghindarinya, tapi jika memang itu rizkinya kita, maka tiada kita punta kuasa untuk menolaknya. Jadi, jangan khawatir, wahai diriku :)

*bikin tulisan ini sudah 1 watt, sedang dalam keadaan ngantuk berat dan sudah somnolen. Jika kacau isi dan bahasanya, mohon dimaklumi yaahh. Hehehe
Read More

Upgrade Rasa Syukur Yuk...

Mari meng-upgrade rasa syukur kita yuuk. Ngajakin diri sendiri terutama. Hee....
Dulu waktu aku masih sekolah maupun kuliah S1, yang namanya penyakit publik figure (loh?) hanya kutemui dalam bentuk manuskrip maupun teksbook, yaa seenggak-enggaknya jurnal. Maksudku penyakit publik figure bukanlah penyakit orang yang ngebet pengen jadi artis, tapi adalah sesuatu yang kutemukan hanya di teksbook-teksbook dan rasanya sulit untuk ditemui di dunia nyataku yang memang orang kampung. Hihi... Saking publik figure nya, aku hanya bisa membacanya lewat buku saja, lewat textbook atau bahkan di televisi saja (yang kebanyakan di filem-filem apalagi sinteron suka ngacooo, hihihi) tanpa berjumpa kasus nyatanya. Sebagai contoh saja, penyakit hemofili. Hemofili itu sendiri aku baca sejak masih SMA dulu yang kisah klasiknya itu adalah di kerajaan Inggris. Pernah baca nda sih? Yang pernah SMA sih kurasa tau lah yaaa... Atau, kisah klasik pendonor ginjal di tipi-tipi yang sering kita saksikan? Hehe... kalau aku sihh sejujurnya, sebagai orang kampung, tidak pernah berjumpa penyakit-penyakit public figure semacam itu. Hanya skedar tau dan pernah dengar.

Tapi, pas lagi masuk bangsal sekarang, aku berjumpa banyaak sekali penyakit public figure yang complicated. Mereka adalah pasien-pasien rujukan yang datang dari berbagai daerah yang biasanya sudah tak tertangani lagi di rumah sakit di daerah mereka. Ternyata aku berjumpa nyatanya. (kedengarannya ko kolot amat yak? hihihi...ya biarlaahh!). Aku dengerin nama sakitnya ajaah nih yaa udah berkerut tujuh nih jidat. Kaya AVMs, PDA, VSD, SNRS, de es be. Kamu juga bingung kaaan yaahh? Hihihi... Nyari temen! Kalo gula, tensi tinggi, kolesterol, itu mah udah sering berjumpa kalii yaahh. Heuu...

Well, aku tak akan bercerita banyak soal penyakitnya (loooh?? kurang banyak apa lagi sih Fatheeeell? heuuu). Yang menarik untuk kuceritakan justru adalah tentang after effect dari itu semua.

Begini, jika kamu hari ini masih bisa menikmati makan enak, mengunyah lauk, meneguk segelas jus, atau apalah itu, maka jangan pernah remehkan itu. Itu bukan sesuatu yang biasa-biasa saja yang menjadi suatu kemestian. Tapi, lihatlah. Ada orang yang makanannya harus dimasukin secara langsung ke lambungnya. Jadi dibikin lubang diperut dan makanan langsung dimasukan ke sana. Enakkah? Sungguh, dia tak dapat merasakan enaknya makanan, pahit manis asam asin gurih nya si makanan. Dan, bukankah nikmatnya makan itu ada di mulut saja? Enakkah terasa jika ia sudah sampai kerongkongan? Dan, sungguh...nikmat mengecap itu adalah nikmat yang luar biasa dari-Nya.

Jika kau dapat (maaf) buang air besar dengan leganya, maka bersyukurlah. Sebab ada orang yang harus dibuatkan stoma di perutnya untuk mengeluarkan zat-zat yang tidak diperlukan tubuh. Maka, bisa BAB dengan cara normal, itu adalah suatu yang patut kita syukuri yang mungkin selama ini kita anggap adalah suatu kemestian belaka, "ya, memang semestinya begitu kan?" mungkin begitu kita berpikir.

Jika kamu dapat lari-lari, jatuh dan lebamnya dapat sembuh sendiri, maka bersyukurlah. Sebab, ada orang yang tak dapat menikmati itu semua. Bahwa dengan kesenggol bola saja mereka harus dirawat di rumah sakit karena pendarahan yang hebat hanya karena luka yang tak seberapa. MUngkin kamu tegores cutter masih belum apa-apa, tapi mereka, butuh transfusi darah hanya karena luka cutter bahkan lebam dan luka yang bagi kita dapat sembuh dengan sendirinya.

Dan jika kau masih dapat menghirup udara dengan bebas sebebas-bebasnya, maka bersyukurlah. Sebab ada orang yang harus dibantu bernafas, dan oksigen yang mereka hirup mesti bayar dulu. Padahal, mungkin bisa bernafas bagi kita adalah hal yang sangat sederhana. Bahkan suatu kemestian bagi sesiapa saja makhluk hidup.

Ya begitulah, mungkin kita(terutama aku) lupa bersyukur, bahkan untuk hal-hal yang sering luput dari pemangamatan kita karena menganggap itu semua adalah hal yang semestinya dan biasa-biasa saja. Padahal, begitu besar nikmat-Nya itu...pada diri kita....

Semoga ini meng-upgrade kesyukuran kita, atas nikmat-Nya yang tak ternilai harganya....
Read More

Dilema (Jilid 2)

Hemm....without the prolong prolog, aku mau lanjutin kisah DILEMA yang sudah aku tulisin sebelumnya. Hemm.... Mungkin kamu juga sudah tahu, bahwa berada di kereta pagi dan sore adalah sesuatu bangeeettt. Hehe... Jika tak terbiasa naik KRL, sebaiknya urungkan niat naik KRL di jam-jam padat penduduk ehh penumpang (jam 6-an sampai jam 7.30 dan jam 5-an sampai jam 7.30 malam). Sebab, mungkin kamu akan menjalani 'siksaan' kegencet yang menggenaskan. Hohoho.

Nah, lalu apa hubungannya dengan kereta?
Begini, di kereta, aku sering berjumpa ibu-ibu wanita carrier (baca : karir), hihihi.... --karrier mah pembawa 'sesuatu' kali yah, hihihi-- yang berangkat pagi dan pulangnya malem. Ya, kalo pulang sekitar jam 7-an dari Jakarta, nyampe Depok itu sekitar 1 jam-an dan Bogor itu sekitar 1,5 jam lagi. Itu kalo rumahnya deket stasiun. Kalo rumahnya masih jauh lagi, semisal daerah Bogor Coret, atau daerah Cimanggis dan sononya lagi untuk Depok, maka mungkin nambah setengah sampai satu jam lagi. Nyampe di rumah jam berapaaaa? Mana pagi-pagi, abis sholat subuh sudah harus berangkat kerja lagi? So, kalau dipikir-pikir nih ya, kapan yaa waktu buat anak-anak?

Suatu ketika, aku pernah mencuri denger telpon seorang ibu di kereta gerbong wanita. Bukan hanya aku, sak gerbong-gerbongnya juga denger sih, soalnya volume suaranya bisa dibilang cukup keras.Hehehe...
"Teh, tolong ke rumah ya. Saya pulang telat nih, ndak ada yang jagain anak-anak. Tolong yaa..."
"La...la...la...la..."
"Iye, aku pulangnya telat nih. Dari Jakartanya telat. Tolong ya. Sialakan ajah kalo kamu mau makan di rumah, makan ajah ya."
Ya, lebih kurang begitulah...
Itu salah satu sampel saja dari sekian banyak sampel. Tak jarang juga aku mendengar obrolan seputar anak dan sekolah mereka yang menjadi trending topic pada ibu-ibu di KRL (yang suka bawa kursi lipat <-- haha nda penting amat yang iniih mah!).

Di satu sisi, kita membayar seorang pembantu buat ngurusin keluarga, ngurusin anak. Lalu kita bekerja. Tapi, di sisi lain, sebenarnya alangkah lebih baik lagi jika uang buat pembantu itu kita delete dari list pengeluaran dan kitalah yag mengambil peran itu. Bukan peran pembantunya loh ya. Tapi, the point is peran orang tua terhadap anaknya. Mungkin gaji pembantu tak sebanding dengan gaji para orang-orang di perusahaan tertentu. Tapi, gaji pembantu + pendidikan anak belum apa-apanya jika dibandingkan dengan gaji perusaan berkelas + prestise yang didapatkan.
Maksudku, jika kita pake itung-itungan laba ala pedagang, sebenernya untungan mana sih antara kita bekerja+nge-gaji pembantu dibandingkan kita tak menggaji pembantu dan stay at home?
Kalo dirumusin lebih kurang begini :

Gaji Kita + Prestise dan Aktualisasi diri > atau < atau = gaji pembantu + ngurusin anak?

Mungkin secara tangible valuenya, gaji kita (>4 juta) akan jauh lebih besar dari pada nge-gaji pembantu ( 750rb lebih atau kurang). Tapi, bagaimana dengan intangible value? Prestise dan aktualisasi diri serta ngurusin anak? Kalo prestise dan aktualisasi diri mungkin hanyalah sementara saja. Maksudku, hanya sezaman seperiode. Itu pun di hadapan orang lain. Dan, ketika ada orang lain yang juga menghasilkan prestise yang melebihi, maka prestise itu langsung kalah pamor. Oke, misalnya kita tak peduli soal pamor atau tidak. Tapi, untuk siapakah kita berbuat? Prestise itu buat apakah? Lalu, apa benefitnya? Sepertinya hanya eksistensi diri belaka. Okelah, punya nilai plus juga, berdaya guna, bagi bangsa negara, yaa setidaknya bagi masyarakat di sekeliling kita. TAPI, ngurusin anak! Itu intangible value yang menurutku jauh lebih tak ternilai. Sebab ia membangun generasi muda. Membangun generasi bangsa. Dan membangun anak-anak shalih. Sungguh intangible value yang jauh lebih tak ternilai. Karena ibu adalah madrasatul 'ulaa. Lantas, bisakah pembantu merealisasikan mimpi dan cita-cita kita dalam membangun peradaban layaknya mendelegasikan rekan kerja atau bawahan untuk ikut di suatu rapat dengan membawa ide-ide kita? 

Nah, itu dia the point nya. Tapi, jika pun pertanyaan itu diajukan pada diriku sendiri jika suatu saat aku dihadapkan pada keadaan yang sama, mungkin aku juga belum bisa menjawab seidealis paparan hitung-hitunganku di atas.

Dan lagi-lagi, kembali aku harus bertanya, sebenernya apa yang harus dipilih kah?
Dan lagi-lagi, DILEMA!

Tapi, sejauh ini, aku masih berprinsip bahwa family is number one. Dan aktualisasi diri di luaran sana is the second, betapapun inginnya aku berdaya guna di luaran sana itu. Meski tak seoptimal orang yang fulltime di rumah, tapi setidaknya dengan membentuk mindset bahwa di luaran sana hanyalah kerja part-time atau freelance dan kerja utama tetaplah di rumah, maka kita mungkin akan lebih bijak menyusun skala prioritas. Bahwa di rumah adalah dengan energi yang full charge bukan sisa-sisa kelelahan dari meja kerja. Karena mereka lebih berhak atas itu ketimbang aktualisasi diri kita. Berdaya guna di luaran sana, memberikan kemanfaatan bagi bangsa negara, dan terutama diin ini, dan minimal bagi masyarakat tetap sesuatu yang penting. Tapi setelah segala sesuatu yang diprioritaskan di rumah terselesaikan terlebih dahulu. Mungkin begitu. Ini kesimpulanku saja. Silakan jika kamu punya pendapat berbeda. Tak dilarang ko. Hehe...
Read More

Dilema

Well, finally I presented the case. Banyak perbaikan sih. Aku sempet bingung dan disorientasi soal penggunaan heparin dan kejadian Melena (btw, namanya bagus amat yak melena? padahal arti terminologi nya adalah feses alias BAB menghitam, hee...). Ternyata konsep dan logika heparin vs bleeding dan nilai PT,aPTT, d-dimer, fibrinogen aku masih kacau, jadi karena konsepnya ndak mantep, betapa mudahnya ditarik ulur, dan tinggal lah aku bengong sendiri hehehe. Bener deeh, bahwa memahami konsepnya adalah hal yang paling esensial setiap melakukan sesuatu. Bukan hanya case, tapi diseluruh lini kehidupan. Ntar deh, aku punya pembahasan menarik soal ini. Hee... Btw, tapi casenya, alhamdulillaah menggembirakan. Lega rasanya. Masih ada 1 case lagi sih. Tapi entar, insya Allah. Mau refreshing dulu. Hee... Aku ndak mau cerita soal case. Soalnya case lagi, case lagi, lalu case lagi. Kaya nda ada hal lain selain case ajaaah. Padahal banyaaaaaakk hal lain selain case arround this life, hehehe. Memang sih case bikin energi banyak terkuras. Semalem saja, untung si Nescafe Latte bisa nemenin aku melek sampai jam 2.30 dini hari. Kalo ndaa, bisa gawat deeehhh, dibantai abis-abisan. Hehehe.... Sudah aahh case nya di-skip dulu ajaah. Hehehe.

Ngomong-ngomong soal konsep tadi, ada pembahasan menarik dari Liqo'an anak-anak kosan Ketapang yang diadain tiap ahad malam di lt.1 Kosan Ketapang. Kita memang sepakat sekosan tiap ahad malem ntu liqo'an nya kita-kita. Hehehe. Ngumpul bareng sambil upgrade ilmu juga ajang silaturrahim. Soalnya hari-hari lain kaaaan suka sibuuuk jadi kadang malah nda ketemu. Hee... Nah td malam itu diisi sama Ayu yang bercerita tentang konsep kenapa kita mesti ibadah. Intinya, jika kita ndak tau sholat itu gunanya apa, hanya sekedar penunaian kewajiban belaka, tapi tak ada konsep dalam diri kita bahwa sholat itu adalah pertemuan antara Rabb dengan khaliknya, maka sungguh sia-sia sekian masa yang sudah habiskan. Entah itu diterima apa tidak setiap amal ibadah yang udah kita lakuin. Astaghfirullaah. Sholat itu pertemuan yang sangat penting layaknya kita hendak berjumpa sang kekasih. Maka, jika ingin berjumpa sang kekasih, bukankah kita berupaya untuk menampilkan segala hal yang terbaik yang kita punya? Kita pada-Nya, seperti budak yang amat takut dengan hukuman dari-Nya, dan mengharap segenap berkah dan rahmat-Nya. Bukankah secara fisiologisnya, kita memang tercipta sebagai suatu sistem reward dan punishment di regio limbic. (Jika salah, tolong dikoreksi yah, hee....). Ya, semoga jadi reminders buat aku terutama yang masih sering lengah.

Aku mau cerita soal apah yaah? Malah lupa ama the main ideanya, hehehe. Oooh iyaa, soal nonton tipi! Ehehe, sebenernya bukan tentang nonton tipinya the entery poinnya, tapi tentang isi pilem yang disuguhkan si tipi. Hee... Hemm.... sejujurnya, aku memang tak terlalu suka menonton tipi. Jika pun akhirnya tiba-tiba nonton, itu mungkin karena lagi insap ajah kali yah (looh??). Jadi, keberadaanku di depan tipi di kosan Ketapang selalu menjadi sebuah pertanyaan bagi anak kosan lainnya, "Kok tumben, Ka Fathel nonton?" hihihi.... :D
Beuuuhhh, ni prolog puanjaaaang amaaat yak? Hee....

Jadi, suatu ketika sepulang dari RSCM, aku sebenernya lagi deadline buat analisa obat. Tapi, ketika melewati tipi, tiba-tiba lagi ada pilem penuh hikmah gituh. Tentang peranan seorang ibu, jiyaaaahhh... Ya langsung dong aku tertarik, secara aku kan emang demen bangeet sama dunia anak-anak dan parenting. Dan akhirnya, masih dengan pakaian lengkap sehabis RSCM (nda lengkap juga sih, udah dicopot sebagian, hehehee) langsung deeeh ngetem di depan tipi, melototin benda ajaib yang bisa ngomong ituh. Heehehe...

Ceritanya tentang seorang wanita karir yang amat sangat mementingkan karirnyaaa. Ndak punya waktu buat keluarga. Akhirnya anaknya blajar al qur'an malah diajarin pembantu. Waaah, persis kayak cerpen yang aku bikin 4 tahun yang lalu (tahun 2008). Makanya aku jadi sangat tertarik bangeeeeeett.... bangeettt....bangeeett... Penasaran banget sama endingnya. Walaupun endingnya bisa ditebak siih. hehehe.... Cuma aku penasaran ajah happy apa sad ending yang mereka bikin. Ternyata sad ending. Kalo aku mah bikinnya happy ending dengan akhir nge-gantung gituh, dan membiarkan pembaca menyelesaikan sendiri. (hehe, enak yaah ngusilin ituuh. hihihi :D).

Well, intinya adalah tentang seorang ibu dan anaknya, terutama ibu-ibu yang mengejar karir. Hemm....aku sempet diskusi dengan beberapa orang. Sebenarnya perempuan bekerja itu bukan semata ngebantuin and nyokong keluarga tapi juga menyoal eksistensi dan apalaaah gituuuh yang intinya eksplorasi, ekspedisi, ekspektasi (haha, apaansih?). Ya gituuuh deh, I'm sure that you know what I mean, halaaaaaaaah!. Memang dilematis sih. Di satu sisi, kita memang pengin kerja, pengin mengaplikasikan apa yang sudah kita dapet selama di bangku kuliah. Kalo ndak diaplikasikan dalam kehidupan nyata, kebanyakan malah tersaturasi di sudut otak (hehe, emangnya otak punya sudut yah? berapa derjat sudutnya? hahaha :D). Tapi, sekali lagi, mungkin kita harus memilih. Memilih untuk merelakan sesuatu demi sesuatu.

Dulu, aku memang punya tekad yang udah bulet, bahwa menjadi IRT harus jadi cita-cita utama sebelum jadi farmasist. Tapi, prosesi melanjutkan kuliah ini ternyata telah membuat tekad itu berdilatasi. Ndak terlalu jauh sih dilatasinya. Tapi tetap ada dilatasi. Ada keinginan agar ilmu yang diperoleh itu dapat bermanfaat bagi orang lain. Yaa, ada keinginan untuk menjadi muslimah yang berdaya guna tak hanya di rumah, terutama untuk kapasitas ilmu yang sedang aku jalani. Hemm.... menurutmu gimana, kawan?
Tapi, yaa tetap saja tak ada yang sia-sia dari menuntut ilmu. Tak sia-sia insya Allah. Jadi, hemm...jadi... tetep ajaaaah masih dilematis... >.< Hehehe....

Well, ini sekedar wacana saja yang ingin aku lempar ke khalayak publik. Mungkin ini bukan hal yang asing. Dan aku yakin, bukan aku saja yang mempertanyakan hal ini. Kamu mungkin juga yah? Hayuuk berbagi wacana... Hehehe
Read More

\\(^o^)//

Fiiuufff... hari ini cape sekali rasanya. Tak hanya lelah fisik, tapi juga letih jiwa. Hehe... STOOOOP, jangan gampang mengeluuuuh! Heuu.... Well, untuk kesekian kalinya, aku hanya ingin memuarakan rasa. Bukan hendak mengeluh insya Allah.

Di saat long weekend dimana ini adalah hari raya dan hari bergembira, di mana mungkin ada puluhan bahkan ribuan rumah di seberang sana yang sedang asik berkutat dengan rendang, kalio, soup, aku harus berangkat ke rumah sakit, demi.... ya demii si demi. Hee... Dii ruang pediatric intensive care unit itu, juga  membersamai kami sosok malaikat izrail yang tentu tak satu orangpun dapat mendeteksinya, hatta monitor-monitor canggih di ruangan itu sekalipun. Ia datang menjemput satu nyawa. Bradikardia. Hipotensive berat. Hingga kemudian, setelah upaya seoptimal mungkin dilakukan, pacu jantung, dobutamin-dopamin, adrenalin, tapi tetap Dia-lah pemiliknya. Ia akan mengambil apa yang menjadi Milik-Nya. Tangisan pilu menyayat hati. Tak terasa, aku ikut meneteskan air mata demi melihatan tangisan sang ibundanya. Putri satu-satunya kini telah dijemput Allah. Ya, Allah, pasti ibu itu sedih sekali. Tiga hari lalu, aku masih melihat senyum sumringah si ibu ketika menyaksikan anaknya sudah compus mentis (kesadaran baik). Tapi, jantungnya tak lagi mampu memompakan darah. Gadis kecil itu... kini telah berpulang. Kembali aku diingatkan pada sesuatu yang juga PASTI akan aku alami, di mana aku tak tahu kapan dan di mana, dalam keadaan yang bagaimana.

Read More

Maaf, Hanya Cuap-Cuap Saja

Jika sebelum-sebelumnya aku hanya jadi 'penonton' saja dalam sebuah tim yang saling terintegrasi dan multidisiplin itu, maka kemarin pas ronde stase pediatri kami akhirnya juga merasakan bagaimana seharusnya peran seorang klinikal farmasis itu. Bersama Prof. dr. Taralan, kami bed site teaching, dan langsung diskusi juga sama dokternya. Well, kami dari farmasi klinisnya, dan mereka PPDS nya. Secara keilmuan sih sebenernya levelnya sama, tapiiii...ya gituuh deehh we know so well lah yaa bahwa farmasis sebenernya kadang kurang pede dan juga masih harus banyak belajar.

Tapi di sini, semakin jelas lah bahwa klinikus bukan "dewa" yang mana mereka selalu benar, apalagi menyangkut soal obat-obatan. Di sebuah rumah sakit pendidikan lainnya di kota X, bahkan aku ngeliat banyak peserta pendidikan dokter yang cuma 'nyontek' resep dari klinikus senior padahal kondisi klinis mereka sangat mungkin berbeda.  Aku sebenernya jadi bersyukur juga bisa belajar banyak dari ini semua dan merubah paradigma berpikirku. Bahwa aku, farmasis klinis dan mereka para peserta PPDS adalah sama-sama belajar, dan memiliki peluang kesalahan yang sama besarnya. Tak ada posisi di atas bahwa mereka para "dewa" dan kita hanya "hamba sahaya", kaum minoritas yang termarginalkan (hahaha, pragmatis banget sih??hihihi). Tapi tidak! Kita sama-sama belajar toh. Bukan berarti klinikus itu para de best-de best yang selalu benar. Karena toh aku juga sering bertemu jawaban ngaco dari mereka ketika mempertanyakan EBM (evidence based medicine). Ini bukan berarti aku lebih tahu loh yaaa, aku juga masih belum berilmuuu dan sekali lagi, kita sama-sama belajaaar!

Read More

Takbir Hari Raya

Allaahu akbar Allahu akbar Allahu akbar....
Laa ilaahaillallaahu wallaahu akbar
Allaahu akbar walillaahil hamd....

Gema takbir berkumandang. Semakin membuat syahdu malam yang indah ini...
Esok berlebaran.... insya Allah...
Hari yang agung.... Hari raya di hari jum'at yang mulia....

Sungguh, rindu kampung halaman
rindu sanak saudara, rindu bercengkrama...
Merindukan sangat kebersamaan yang indah itu....
Dan juga sangat merindukan mengucapkan kalimat talbiyah...di tanah suci dan diberkahi itu...
Semoga, suatu saat... Allah mengundang aku, dan juga kamu, menghadiri panggilan-Nya,
menuju tanah mulia itu...
Semoga....
Aamiiin...
Read More

Nasihat yang Diam

Suara tangisan itu cukup menarik perhatian aku. Meski sudah berulang kali menyaksikan, tapi tetap saja mengundang mata untuk melirik sumber suara. Terenyuh. Sungguh, ini bukan pemandangan yang luar biasa sebenarnya. Sudah sering aku menyaksikannya. Tapi, tetap saja mengaduk-aduk rasa di hati. Tak terdefinisi. Pilu. Sedih. Terenyuh. Menggetarkan...

Ya, ini mungkin memang bukan tempat biasa. Ini adalah tempat di mana manusia dihadapkan pada dua hal, kesembuhan, atau kematian. Ini hanyalah tempat untuk orang-orang yang diambang dua alam tersebut. Tetap bertahan di dunia yang fana kah atau berpindah ke alam selanjutnya. Ya, inilah tempat untuk mereka yang membutuhkan perawatan intensif. Untuk kasus-kasus berat yang merenggut seluruh energi yang mereka punya. Tempat di mana kesibukkan orang-orang berseragam putih dan biru terang mencapai puncaknya. Tempat di mana 1 tubuh bisa saja digerayangi sampai sepuluh macam lebih peralatan medis.

Suatu ketika, "Suster, Bu X yang di bed 14 di mana yah?"
"Waahhh, udah meninggal Mba."
""Innalillaahi wainna ilaihi rooji'un."
"Eh, pasien yang udah vegetative state itu udah meninggal." Hanya bisa berdesis, "Innalillaahi wainna ilaihi rooji'un."
"Fathel, pasien yang Hellp syndrome dengan kondisi la..la..la itu sudah meninggal jam sepuluh tadi." Itu SMS temanku. "Innalillaahi wainna ilaihi rooji'un." Lagi-lagi, hanya bisa berdesis.
Padahal, baru dua jam sebelumnya aku monitoring pasien itu. Dan, dua jam kemudian... Ia sudah mengakhiri kefanaan dunia ini. Ya, begitulah. Segala upaya sudah dilakukan dengan cara terbaik. Dengan prosedur diagnostik terbaik. Dengan treatment terbaik. Tapi, Allah-lah yang memiliki kuasa. Manusia, sungguh yang dipunyainya hanyalah kedhaifan belaka, sehebat apapun ia di mata manusia lainnya, seberapa lama pun pengalamannya, sepanjang dan sebanyak apapun titelnya. Tetap saja, manusia hanyalah kumpulan keterbatasan saja.

Dan, inilah yang kemudian menjadi pelajaran berharga. Bagiku terutama. Belajar dari nasihat yang diam. KEMATIAN. Ya, kematian adalah nasihat diam yang mengingatkan kita, tentang hari di mana kita juga akan menyusul mereka, orang-orang yang telah mendahului kita.
Hanya saja, seringnya kita menyaksikan kematian, atau berhadapan dengan berita-berita kematian, SEMOGA tak membuat HATI kita RESISTEN terhadap nasihat kematian itu sendiri. Kematian mungkin adalah sesuatu yang wajar (apalagi untuk orang-orang yang sering menemani orang-orang di ambang kematiannya), tapi ia meninggalkan nasihat yang luar biasa untuk diri kita. Akan dengan cara apakah kita mengakhiri kehidupan kita? Baikkah? Burukkah? Naudzubillaah--semoga akhir itu adalah sebaik-baik penutup hari-hari kita di dunia yang hanyalah fana ini.

Read More

Bayi-Bayi

Assalàamualaykum Bloggie. Apa kabar?
Aku lg iseng ngeblog pake mobile niih. Hehehe..
Hmm.. aku pengin cerita apa yah? Tentang bayi ajah deh... Hee...

Setiap kali ngelewatin gang di Cikini aku sering dihadapkan dengan pemandangan bayi-bayi merah yang lagi dijemur sama emaknya (jemuraan kaliii... hihi). Nah ini menjadi pemandangan menakjubkan bagiku. Deuhhh... unyu unyu banget sihh si dede bayi ituuuuhh. hehee... Dan tadi kita baru ajah dinner di apartemennya Mba Eka dan disuguhin menu yang enaaaak bangeeet. hehee...

Nah... aku liat Aleeya...anaknya mba Eka yang lucu dan pinter. Ngegemesiiiin deeh pokoknya... Dan membuat aku jadi pengeeeen punya bayi. Haaha...gubraksss! Okeehhh kalo yg ini mah di skip dulu yaaahhh... Kuliaahh dulu. Hehehehe..

Hemm... mereka adalah kertas kertas putih yang siap dicoret moret and dilukis  ama emak dan bapaknya. Dan jika pola didik yang orang tua berikan salah di awal-awal dan masa emas perkembangannya...maka yang orang tua tuai kemudian adalah anak dengan tingkah polah yang jauh dari harapan dan jauh dari akhlak mulia. karena semua akan ada kompensasinya. kompensasi atas segala pola didik yg mungkin tak pernah direncanakan dan didesain sedemikian rupa. jika orang tua terlalu menekan si anak yang mengharuskan anak menjadi seperti yang mereka obsesikan kompensasinya adalah anak yang mungkin saja brontak atau sebaliknya frustasi. Jika terlalu membebaskannya..kompensasinya adalaha anak yg tak bisa di arahkan. Jadi sebenernya jadi orang tua mestilah cerdas. (hehee...teorinya begitu yaahhh mekipun dalam pelaksanaannya tak semudah itu..)

karena judulnya td cuma mau nyobain ngeblog pake mobile maka tulisan yg acakadut ini sebaiknya segera diakhiri... Hehee... Kapab-kapan kita bahas lagi yuuk topik yang sangat menarik ini :)
Read More

Izzatul Islam Kita

Suatu hari, aku dan temenku lagi nyarap di kantin depan CMU. Kita asyik ngobrolin soal clinical clerkship dan banding-bandingin antar universitas. Tak dinyana, ternyata bapak di depan kami ikut menyimak isi obrolan kami. Bapak tersebut ternyata juga adalah orang kesehatan (yaa, segenap instrumen kesehatan dah! Mau dia dokter, perawat, dentisien, nutrisien, atau farmasis, yang penting masih dalam satu rumpun kesehatan). Dari wajahnya, sudah cukup menjelaskan bahwa si bapak adalah orang Indonesia bagian timur (hemm.... Indonesia kaya yaahh? Punya berbagai ragam macam suku budaya dan keturunan yang masing-masingnya memiliki identitas tersendiri. Jadi, dengan melihat saja kita sudah dapat menebak, dari suku bangsa manakah seseorang. Iya tak sih? Hehe). Ternyata benar. Si bapak adalah orang perbatasan. Perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste. Wal hasil, kami bertiga jadi ngobrol-ngobrol deh.

Dari sekian panjang obrolan, satu hal bagiku sangat berkesan adalah kalimat beliau yang kira-kira begini,
"Dari sekian banyak orang-orang di jajaran struktural bidang kesehatan di sana, saya satu-satunya Muslim. Tak ada selain saya yang muslim yang menduduki jabatan penting di sana. Tapi satu hal yang menjadi prinsip saya adalah, SAYA MENUNJUKKAN YANG TERBAIK, KARENA SAYA SEORANG MUSLIM! Jika kita menjadi yang terbaik, niscaya tak ada orang yang bisa merendahkan kita. Karena saya seorang muslim!"

Read More

Kecewa

"Kecewa mungkin adalah sebentuk rasa ketika kita berhadapan dengan kenyataan yang tak bersesuaian dg harapan. Tapi kita sering tertipu hanya dengan apa yg tampak belaka. Tampak bagus. Tampak baik. Tampak menarik. Harapan akan selalu berasimilasi dengan apa yg tampak itu... Padahal boleh jadi saja sesuatu yang tampak baik itu bukan benar-benar baik utk diri kita. Keterbatasan kita mengatakan sesuatu itu baik untuk kita lantas akan kecewa ketika tak menjadi wujud nyata. Padahal...Dia yang Maha Tak Terbatas lebih tahu apa yg memang baik dan bukan hanya tampak baik. Maka setiap apa yg Allah takdirkan atas diri kita pastilah sebaik-baik ketetapan. Jangan bersedih jika hari ini kita belum menjumpai asa yg dulu pernah trpatri. Yakinlah... Dia pasti tak pernah sia-sia terhadap diri kita..."


Di ufuk Zulhijjah, 1433 H
Read More

Eksekutif Lanjut Usia

Teman, ini bukan cerita tentang seorang eksekutif yang punya banyak harta, apalagi tentang eksekutif muda yang rupawan. Ini bercerita soal eksekutif lanjut usia. Sebab eksekutif bukan hanya milik orang muda, tapi juga lansia. Hihihi... Okehh, mari kita replace kata 'lanjut usia' dengan geriatri.
Hemmm...apakah yang kamu bayangkan jika ke poli geriatri? Nenek-nenek renta kah? Hehe... mungkin iya. Lantas, apakah kamu berpikir nenek-nenek atau kakek-kakek tersebut hanyalah sekedar orang jaman dulu yang tak lagi mengikuti perkembangan jaman? Kalau ini, jangan salah!

Lihat nenek dan kakek di foto tersebut. Menurutmu, berapakah umur si nenek?
65?
70?
75?
Salah...
Umur si nenek sudah 78 tahun. Dan umur si kakek sudah 84 tahun!
Lalu, apa kegiatan mereka sehari-hari?
Nonton tivi, tidur-tiduran, nyanyi-nyanyi?
Tidak.
Di usia yang udah begitu renta tersebut, si nenek ternyata masih aktif di sebuah perusahaan tekstil terkenal. Sepertinya beliau direktur utamanya. Ckckck.... Masya Allah. keren yaahh? Geriatri yang sungguh berdaya guna.
"Seharusnya saya kerja. Tapi, karena lagi sakit dan harus kontrol ke Rumah sakit, jadi saya hari ini tidak kerja."
"Kerja di mana, Nek?"
"Saya adalah pemilik perusahaan tekstil bla...bla..." Aku lupa tekstil nya apa, tapi yang jelas itu adalah merek terkenal.
Dan tahu kah kamu, nenek tersebut adalah made in Japan aseli 100 % tapi sangat cinta Indonesia. Tuuuhhh... orang Jepang ajaah cinta sama Negeri kita.

Read More

Sekali Lagi, Tentang Pilihan Itu

Ya begitulah.
Setiap pilihan, pasti punya konsekuensi.
Dan, menjalani setiap konsekuensi atas pilihan itu adalah juga pilihan terbaik.
Kadang, ingin menyesal rasanya. Mengapa begini. Mengapa tak begitu.
Tapi, sekali lagi, Allah pasti punya rahasia atas ketetapan-Nya....

Meski segala kemungkinan itu masih jauh, tapi entah kenapa aku selalu bersedih atas potret yang belumlah menjadi nyata itu. Padahal, tak semestinya begitu, karena ketetapan-Nya yang indah kadang justru datang dari tempat yang tak terduga.

Ya, mungkin kembalinya aku adalah lebih baik...
Sama seperti tekadku untuk membaktikan diri pada dua sosok mulia yang telah membesarkanku dengan segala kepayahannya. Meski itu mungkin akan mengorbankan banyak hal. Apakah itu obsesi. Apakah itu segenap cita-cita. Tapi biarlah. Toh, ranah tumbuh dan berkembangnya potensi bukan hanya milik kota-kota besar. Bukan hanya milik orang-orang yang sempat mengenyam pendidikan di berbagai universitas berkelas. Bahkan bukan hanya milik orang-orang yang duduk di posisi yang diimpikannya beserta banyak orang lainnya. Toh, di tanah kecil, bahkan penuh kekurangan sekali pun, bisa saja jadi lahan subur sebuah potensi. Setidaknya, ini yang menggembirakan dan menguatkanku.

Di sisi lain, ada sekelompok orang yang mengatakan tak perlu memperumit masalah. Bahwa suatu saat, memang ada masanya untuk mengembara. Oleh sebab lahan potensi itu tadi. Tapi, bagiku ini jadi dilema besar. Masih lama mungkin. Tapi, begitu cepatnya detik berlalu akan memangkas sang waktu. Tak berasa, tibalah pada pilihan yang sulit itu. Amat sangat sulit!

Tapi, usahlah pandangi sutu masalah dengan muka berkerut, dengan wajah kusut. Pasti, akan ada penyelesaiannya. Allah sudah janjikan itu. Meski, mungkin akan mengorbankan beberapa hal. Tapi, semoga pilihan penuh konsekuensi itu adalah benar-benar yang terbaik. Semoga... Karena Allah pasti tak sia-sia terhadap makhluk-Nya
Read More

Buntut Anjloknya Kereta

Hari ini ada peristiwa yang cukup bikin deg-deg-an. Hehehe.... Biasanya, aku berangkat ke RSCM pukul 5.30 dari kosan. Setelat-telatnya itu 5.40. Tapi berkat ada kebijakan PT KAI yang mengkhususkan rangkaian kereta khusus wanita, jadi aku memilih untuk menaiki kereta itu yang jadwal keberangkatannya dari stasiun Pocin jam 7. Artinya, aku masih bisa berleha-leha (ko berleha-leha yah? hehehe) di kosan hingga jarum jam menunjukkan angka 6.30. Artinya, aku bisa lebih telat satu jam. Hehehe...

Tadi pagi aku sudah bertekad dengan sepenuh-penuhnya tekad untuk naik kereta wanita saja. Tak rusuh sedikitpun dengan dua temenku yang sudah berangkat duluan jam 5.30-an itu. Pokoknya, apapun yang terjadi, aku akan berangkat dengan kereta wanita. Titik! Hehehe (ngotot amat yah? hihi...). Ketika sampai di stasiun, terlihat penumpang yang ramai sangat. Masya Allah, ramai sangatlaaahh... Oh iya, aku lupa menceritakan, bahwa waktu antrian tiket dibelakangku seorang wanita yang tiba-tiba mau ngebatalin pemberangkatannya menggunakan jasa KRL. Hemm....pasti ada sesuatu nih kalo udah gini...

Wah ternyata benar! Masya Allah, ada kereta yang anjlok di stasiun Cilebut jam 6.35 dan nutupin kedua rel. Jadi, kereta wanita yang dari stasiun Bogor so pasti udah kejebak di stasiun Cilebut atau malah nda berangkat? Entahlah... Arus dari arah selatan (arah Bojong Gede, Citayam, Depok menuju Jakarta) menjadi padat sangaaaatt! Masya Allah...

Aku liriki jam tangan orang disebelahku (hahaha, soalnya aku nda punya jam tangan), sudah menunjukan jam 7.20! Dan aku harus nyampe RSCM jam 8. Rasa-rasanya imposibel bisa nyampe RSCM jam 8. Soalnya, Pocin-Cikini sahaja sudah memakan waktu skitar 40-45 menit. Dari stasiun Cikini ke RSCM kan juga memakan waktu sekitar 10-15 menit.

Tiga KRL Commuter dan satu KRL ekonomi yang udah lewat itu luarrrr biasaaaa padaatttnyaaa... Sampai-sampai nihh yaa, kalo kucing ajah nda bisa masuk tuuh, apalagi manusia. Whaaaahhh...bisa dibayangkan betapa gerah, sempit dan superduper overloadnya itu kereta. Dan berada di dalamnya adalah suatu siksaan dunia yang amat sangat (lebay!). Tapi, tetep dinaiki oleh penumpang, demi...demi...ya demi si demi. Hee...

Aku memutuskan untuk tidak naik di komuter padat penduduk eehh penumpang itu... Sudah tak sanggup menghadapi lautan manusia di dalam kereta. Nggak sanggup harus kegencet-gencet yang berakibat nausea-vomiting bahkan mungkin hipoksia kali yah? Hehe... Soalnya rebutan O2 juga kaaann. Apalagi kalo ada H2S pula. Malah makin memperburuk prognosis. Hihi... Ditambah lagi aku belum sempat sarapan. Mana aku terakhir kali makan besar (makan nasi beserta lauknya) itu kemarin siang. Karena malem, sepulang RSCM (aku nyampe di kosan deket-deket adzan Isya), aku langsung tewas seketika dari baru bangun lagi sebelum subuh. Agak-agaknya angka survival per-KRL-an aku memang sedikit rendah. Hehehe....

Read More

Aku Tak Suka Membaca, Kecuali...

Hemmm....sejujurnya....aku tidak suka membaca kecuali... (ntar deh kecualinya, hehe). Saat ada orang yang menuliskan hobbi membaca, trus ada yang protes, "Membaca itu bukan hobby kaliii, tapi kewajiban!" Lah, aku saja yang sedikitpun tak hobby membaca kecualii....(kecuali titik titik itu), tak pernah sedikitpun mewajibkan diri untuk membaca. Parah kan? Iye, paraaah bet lu Fatheeel!

Dulu waktu aku masih pediatri (hahaha, pediatri lagi! Okeh, menurut WHO, pediatri itu adalah anak usia 0-18 tahun. Okay?), aku memang doyan bacaaa. Di saat anak seumuran aku masih suka komik, aku malah doyan novel. Pake acara nangis-nangis segala kalo baca novel sedih. Hehehe. Itu aku dulu. Aku udah pernah ceritain di blog ini kan yah? Kayanya buku cerita di perpus SD ku yang terpelosok itu sudah habis kusikat. Hehehe. Itu dulu, sodara-sodara. Sekali lagi, D.U.L.U.

Sekarang, aku sudah jarang sangaaat membaca novel. Rasanya yah, ko mikir-mikir bangeeeett gituuuh mau baca novel. Hemm....sebenernya bukan karena tak doyan. Tapi menyoal waktu sekian jam yang akan kuhabiskan bersama si novel itu. Karena nda tahan penasaran, aku biasanya takkan beranjak dari depan televisi (ehhh...?) novel maksudnya, hingga ending ceritanya. Makanya suka mikir-mikir kalo mau baca novel. Kaga sempet soalnya (halaaaah, kaya yang sibuk ajaaahh kamuuu Fatheeel...hihihi).

Read More

Almarhum Celengan Strowberry

Hemm.... sedari dulu aku tuh kepingiiing banget punya celengan yang bisa dipecahin kalo sudah overload atau kalau lagi butuh? Hihihi.... Entah aku yang kuper atau entah memang tidak available di kampungku, sedari masi pediatri dulu (halaaah, pediatri segalaaa, hahaha) aku tak pernah menjumpai celengan itu. Tapi tak apa lah, toh celengan bagiku bukan hal yang prioritas kala itu. Bahkan sering luput dari permintaan seorang bocah di saat banyak anak-anak lainnya yang doyan menabung. Hehehe
Sesampainya aku di kota, akhirnya aku berjumpa celengan idaman itu. Tapi tak begitu kugubris, karena pada dasarnya (sekali lagi) aku memang tak suka menabung. Hahaha. Parah ya?

Suatu ketika, Dewi pulang bawain celengan. Waahh, excited siiiiihh. Tapi yang ada di pikiranku kala itu adalah... "Ini keisi nda yah?" hehehe.... Jadilah, celengan motif strowberry itu menemani hari-hariku (loh?). Hee...

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Jika si celengan bisa bicara, mungkin dia akan protes, "Plis, Fatheeell, kasi aku makaaaan doooong. Masa nda satu pun duit yang masuk ke perutku...." Hehehe. Iya nih, si Strowberry (anggap saja namanya gituhh, hehe) yang makanannya itu duit, mungkin udah laperr banget  dan udah kwarsiokhor dan marasmus kali yah karena nda pernah dikasi makan (maruk amat yak si strowberry? koruptor ajaah yang doyan duit, nda suka makan duit alias nelen duit kan ya? hehe).

Tapi, lama kelamaan aku kesian juga tuh ama si strowberry. Mulailah aku rajin memberinya makan. Mulai dari lembaran biru kehijauan, lembaran abu-abu, lembran cokelat ke-orens-an, lembaran merah, lembaran biru agak tua, lembaran hijau, dan tentu saja si receh-receh bekas kembalian tiket KRL (hwaaaa, ngomong-ngomong soal KRL, tiketnya naiiiiiiiiiiiiiikkk bo! Di saat-saat kereta begitu istimewa dan menjadi kendaraan favorit dan bener-vener lagi dibutuhkan, dianya malah naiiiiikkkkk.... >.<).

Hingga suatu ketika, si strowberry udah mulai gemukan. Berat badannya nambah terus. Akhirnya dia nda kurang gizi lagi deehh. Aku begitu seneng ama si strowberry. Dia bikin aku rajin nabung. Bayangkaan, aku yang males nabung tiba-tiba jadi suka nabung gara-gara strowberry? Kerreeen kaaan si strowberry. Hehe...

Read More

Bermula Dari...

Hey, tahu kah kau? Kali ini, ada 6 kasus beraat yang sedang aku bahas. Puyeng juga ngebahas DRP (drug related problem) nya. Dan di saat waktu begitu kasibnya, ternyata malah pengiiiin banget nge-blog. Oalaaaahh... Ternyata si otak kanan ini nakal bangeeet. Karena keseringan banget dimanja (baca : lebih sering digunakan), sekali gunain otak kiri, dia malah merajuuk. DI saat mau PKL yang semestinya belajar habis-habisan, malah dia ngerajuk buat nge-desain. Di saat bahas shortcase kasus ICU, malah dianya negrayu buat nge-blog. Heeehh.. dari pada ngambek, ta' ikutin dulu ajah deh maunya. Hihi...

Hemm... aku cerita apa ya? Yaa, namanya juga blog curhat. Jadi, aku cerita apa saja dong yah. Maaf bagi kamu-kamu yang tak sedang ingin menampung sampah, sebaiknya segera close this page. Karena, aku lagi pengin nyampah saja. Hehe...

Hemm....pas lagi parade kemarin, mereka (dokter, ners, farmasis, dan nutrisiant) pada ngomongin kata-kata semacam patofisologis, prognosis, terapis, dan berbagai akhiran --is lainnya, mataku cuma kriyep-kriyep. Bingung! Hee... Ternyata eh ternyata, aku tak tahu apa-apa. Grrhhhh...mesti belajar lagiii niiih, begitu tekad dalam hati. Sambungan tekadnya, Pokonya, nantii, kalo udah nyampe kosan, harus..harus haruss belajar, apa itu intubasi,apa itu ekstubasi, apa itu BST, apa sih yang mesti dianalisa dari gas darah, ko pake standardisasi ini dan itu? (Nah loh, kamu bingung juga kaaan? *hehehe, nyari temen bingung! Hee....).
Tapi, sesampainya di kosan (dan itu rata-rata ketika mentari juga udah kembali keperaduannya), bukannya buka buku dan belajar malah ngorok. Zzz....zzz....zzz.... Lalu, pagi-pagi, "Hwaaaaa..... akuuuhh belum belajaaarrrr niiiiihhhh... Hwaaaaa.....". Kocar-kacir macam macan ompong (haha, apa hubungannya macan ompong sama kocar kacir ya?). Lalu, kejadian berikutnya kembali berulang kaya adegan gol sepak bola yang suka diulang-ulang berkali-kali oleh stasiun tipi manapun (dan sejujurnya aku bosen ngeliatnya, hihihi), pagi-pagi, duduk di forum parade dengan mata kriyep-kriyep, kaga ngerti apa yang dibilangin orang-orang cerdas itu. Dan kalo udah gini, maka aku selalu saja ingin jadi dokter (lohh??? hihihi).

Lalu, tibalah saat yang sangat mendebarkan itu. Siangnya, giliran aku yang melaporkan kasus. Masya Allah. Bengong. Asli! Gue mesti menyampaikan apaaaah niiihhh?? Dan kata-kata "Ya, silakan dijelaskan kasusnya, dan apa DRP nya?" seperti sirine gempa yang bikin deg-deg-an, bikin takipnea, bikin takikardi. Hehehe...
Aku mulai bergaya bolak-balik catetan, kaya nyetet buanyaaak ajah padahal tak satupun DRP tercantum di catatan itu, bolak-balik buka laptop berharap keajaiban segera datang. Tapi nihil. Lantas mencoba berwajah begitu datar. Tapi tak juga bisa menyembunyikan kepanikan.
"Oh God, apa yang mesti aku sampaikan."
Tiba-tiba, liat nilai SGOT/SGPT pasien meningkat 10x lipat dan melihat ada obat-obat yang bersifat hepatotoksik. Alhamdulillaah... Nilai SGPT/SGOT itu bagaikan bohlam di tengah kegelapan. Dengan segera aku laporin tentang hepatotoksisitas itu. Aahh, syukurlah.
Kamu bisa bayangkan, betapa berharganya nilai SGPT/SGOT itu bagiku, sama halnya seperti orang haus yang dikasi segelas jus jeruk, kaya penumpang kapal tenggelam yang ketemu sampan, pokonya ngerasa ada yang nolong disaat bener-bener kejepit. Hee...

Hemm....kasus yang sedang aku bahas itu sebenernya tentang pasien tetanus. Tapi komplikasi sepsis, setelah terpapar HAP (hospital acquired pneumonia), jadinya mengalami penurunan  kesadaran dan harus dirawat di di ruang care unit. Hal yang menurutku agak sedikit menggelitik itu adalah penyebab akhirnya dia tergeletak tak berdaya dengan berbagai selang meliputi dirinya itu semacam ventilator (alas bantu nafas), EKG yang memantau denyut jantung dan ritme jantungnya, sekaligus analisa respirasinya semacam saturasi O2 dan CO2, lalu beberapa infus pump dan syringe pump. Tak lupa trakeostomy buat bantu pernafasan langsung tanpa mesti ngirup-ngirup lewat saluran nafas normal, lalu CVC, lalu nasogastrik tube yang kaya belalai di hidung. Kateter urine juga. Kau bisa bayangkan bagaimana kondisi pasien itu kan? Dan penyebabnya hanya sederhana. Hanya gara-gara tusuk gigi.

Jadi, ceritanya, pasien tersebut sakit gigi, bukannya ke dokter gigi, malah nusuk-nusuk giginya itu dengan sesuatu benda ampe berdarah. Mungkin saking keselnya ama si gigi yang pake sakit segala kali yah? hee.... Tapi malemnya tiba-tiba jadi demam dan 2 hari kemudian rahangnya jadi kaku dan mulut kaga bisa dibuka. Awalnya GCS nya masih bagus, masih 15. Tapi, setelah beberapa hari rawatan malah turun. GCS nya mungin hanya sekitar 5, prokalsitonin sudah meningkat hingga lebih dari 1000 kali. Masya Allah...

Hemm....apa pelajaran yang bisa kita petik? Ya, jangan suka nusuk-nusuk gigi pake benda aneh. Siipp. Pelajaran lainnya adalah, kadang,hal sederhana dan kita anggap kecil itu, menjadi awal dari sesuatu yang berakibat sangat besaaar. Kita pikir dengan hal-hal yang kita anggap kecil, lantas tak akan memberikan efek apa-apa. Tapi sering kali kita salah. Justru, kadang ketika kita meremehkan hal-hal kecil itulah, sesungguhnya disadari atau tidak,  ia akan jadi bom waktu yang bisa saja membunuh diri kita kapan waktunya tiba. Sering kali kita meremehkan dosa kecil, tapi tak disadari, justru itulah yang kemudian menutupi hati-hati kita dengan noda kegelapan yang menghalangi cahaya-Nya masuk. Astaghfirullaah. Smoga ini jadi pengingat bagi diriku, juga bagi kita smua.
Read More