Aku, Pasar dan Generasi Muda

estafet
Aku suka pasar. Hehe. Bukan! Bukan keramaiannya yang kusuka. Tapi, muhasabah yang membersamai setiap aktifitas yang dihadirkan oleh pasar. Pasar tradisional tentunya. Bukan pasar modern yang menyediakan semua kebutuhan dengan serba swalayanan, yang tak lagi dengan lembaran rupiah melainkan hanya sebuah chip serbaguna. Bukan yang seperti ini yang kumaksudkan.

Episode pasar tetaplah sama. Si ibu penjual tahu, masih duduk di posisi sama. Si nenek penjual kacang, pun masih duduk terseok di salah satu sudutnya. Pun, tak berbeda dengan etek-etek penjual bika kuning dan bika coklat yang masih asyik memotongi bika-bika pesanan langganannya.Si bapak penjual ikan danau, pun masih berada di lorong yang sama. Penjual kresek hitam pun masih seperti dulu, berjalan di setiap gang sambil berteriak, “motuih….motuih…”

Sering kali, aku mengulum senyum yang mungkin adalah senyum prihatin kepada mereka. Yang sumringah dengan hanya satu gemericing gopek saja. Bahkan, banyak yang tak peduli dengan uang gopek, di jaman sekarang ini. Ia-nya seperti nyaris tak berharga. Tapi lihatlah! Betapa sumringahnya wajah itu hanya dengan sesuatu yang bahkan orang lain tak begitu mempedulikannya. Seorang nenek tua, yang kutaksir umurnya sekitar 70 tahun, dengan tangan yang tremor (mungkin akibat fungsi jantung yang mulai melemah) yang menakar jualannya dalam sebuah baskom, juga menghadirkan dimensi muhasabah tersendiri bagiku. Bahkan, rupa uang seribu dan dua puluh ribu hampir sama di mata beliau, sebab mata itu sudah terlalu tua untuk digunakan. Ada rasa iba menyusup di dalam hati. “kemanakah anak cucunya?”. Lalu, anak-anak kumal yang merengek minta ikut ibunya ke pasar berharap dibelikan sesuatu. Bukan barang mahal tentunya. Hanya makanan seharga lima ratus saja, sudah cukup menghadirkan tawa di wajah polos mereka. Juga wanita-wanita muda, yang umurnya jauuuh di bawahku, yang sudah menggendong anak-anak, yang mempersepsi hidup dengan begitu sederhana, begitu apa adanya.

Sungguh, begitu banyak muhasabah, setiap kali aku ke pasar tradisional sebagai satu-satunya pusat perbelanjaan di kampungku ini. Meski pasar dengan aktifitas yang hampir senada, pun dengan ibu-ibu yang berbelanja juga adalah orang-orang yang hampir sama, tapi, selalu ada nuansa berbeda, bagiku! Aah, biarkanlah aku memunguti setiap pelajaran yang berserakkan di manapun itu, juga pasar ini, kali ini.

Hmmm….kampungku tercinta. Negeri yang baru saja dimekarkan sebagai kabupaten baru, tujuh tahun silam. Meski gerik kembangnya mulai merangkak naik, dan perubahannya pun sudah sangat jauuuhh dari pada dahulu (yang mungkin termarginalkan sebab ia daerah pinggiran), tetap saja…masih sangat jauuuuhh dari kehidupan perkotaan yang menyediakan fasilitas yang lebih lengkap. Bayangkan, aku harus kesusahan mencari mesin uang (aka ATM) untuk suatu keperluan. Ya, memang ada ATM bank local. Tapi, ia tak menyediakan apa yang aku butuhkan. Aku juga harus berkeliling mencari penyedia mesin scanner. Aah, sulit ditemukan. Bahkan, nomer GSM –ku yang lain, harus bersedia berstatus “darurat” karena sinyalnya tak ada di sini. How poor…

Tapi, di tengah keluguan itu…aku harus terhenyak dengan fakta yang sungguh-sungguh sangat memilukan sekaligus memalukan! Meski (agak) termarginalkan, rupanya, tak membendung arus dan lifestyle kehidupan perkotaan. Jika arus itu adalah arus positif, it’s okay! Tapi, naifnya, kali ini adalah arus negative! Kali ini aku harus terhenyak dan terbelalak dengan fakta-fakta memilukan itu. Baru-baru ini, satu anak kelas sebelas SMA dikeluarkan dari sekolahnya lantaran hamil. Dan itu oleh teman sekelasnya. Beberapa waktu kemudian, tak lama berselang, giliran anak kelas tujuh SMP yang mengalami nasib yang sama. Astaghfirullaah…Na’udzubillaah…

Begitu parahkah? Sebegitu jauhkah? Bahkan di lingkungan yang begini, yang keislamannya masih cukup untuk dikatakan kental?

Lama aku tercenung.
Teringat pula akan agenda-agenda Rohis sekolah, banyak yang (agak) macet. Hanya sekolah tertentu saja, dengan persentase sedikit, yang memiliki ekskul Rohis. Meski Rohis bukan satu-satunya media untuk membenahi generasi muda, tapi…rohis terbukti telah memberikan sumbangsih yang cukup besar bagi pembentukkan kepribadian sang remaja yang mencari jati diri di berbagai tempat di seantero negeri ini.

Aaah…kampungku tercinta….
Meski jauh dari kota, agaknya nuansa dan lifestyle perkotaan telah coba diadopsi oleh mereka yang mencari jati diri itu. Apa yang media suguhkan, ditelan bulat-bulat, sehingga tak mengherankan jika angka kejadian itu cukup tinggi.

Ini PR besar bagiku, bagimu, bagi kita semua. Kita tentu tak ingin egois, hanya mau memperoleh saja, tapi tak ingin membagi pada generasi selanjutnya, bukan? Sungguh, apa yang kurasa, ketika aku seumuran mereka dulunya…, ingin jua kubagi kepada mereka. Masa ketika transformasi besar-besaran itu terjadi. Aku pernah di masa mereka, dengan cara berpikir seperti mereka, lalu kemudian diajak untuk menjumpai dan mengenali jati diri yang sesungguhnya. Dan, itulah awal bermulanya aku rasakan keindahannya. Sungguh, aku pun ingin, mereka rasakan keindahan itu… sungguh…

Kampungku tercintaa…beserta segenap generasi yang akan melanjutkan estafet perjuangan ini… Sungguh, tak ada yang aku inginkan melainkan engkau semua menjadi arruhul jadiid, memiliki jiwa pembaharu! Tidak latah mengikuti modernisasi yang menggiring pada kehancuran, menggiring pada millah-millah mereka. Sungguh, kita adalah khairul ummah, yang sangat tak layak kehilangan harga diri di hadapan para penghancur yang menyisipkan ideology mereka bahakn di setiap kisi kehidupan….

Aah…
Tiadalah yang dapat kita lakukan, melainkan BERSAMA ambil bagian di sini… Dan semakin berasa sudah, ketika kita terlalu disibukkan dengan hal-hal kecil, kita lupa sudah untuk mengurusi hal-hal besar!! Hayuk…..di sini kita ambil bagian. Sekecil apapun kontribusi yang kita berikan, sungguh kita berharap, semoga Alloh catat sebagai sebuah catatan kebaikan…karena-Nya…ya, hanya karena-Nya!
Read More

Sintesa Kebahagiaan

Tak ada yang berbeda dengan pagiku kali ini. Langit, masih sebiru kemarin pagi. Burung yang berkicau di atas atap rumah pun masih dengan kicauan yang sama. Ikan-ikan pun masih dengan keceriaan mereka yang berlari kian kemari. Bunga-bunga pun masih kuning merekah. Masih seperti pagi-pagiku—layaknya pengangguran banyak acara—seperti dulu. Hehe. Seperti biasa, pagi-pagi menjadi tukang ojek untuk dua adikku yang masih SMP dan SMA. Lalu, jadi IRT gadungan, membereskan rumah. Dan, dilanjutkan dengan aktifitas ke pasar untuk membeli sesuatu yang membuat asap dapur tetap mengepul (haha, dapurnya masih berasap geetuh? Kayak jadul ajah yah? Hihi). Sepulangnya, beristirahat sejenak untuk kemudian berkutat dengan kompor dan kuali. Dan diakhiri dengan aktifitas lain di sorenya, baik itu aktifitas hizb, sekedar menulis, membaca apa yang aku sukai dan apa yang aku butuhkan dan tak melewatkan aktifitas yang menyenangkan bersama ‘tabek’ dan ikan-ikanku. Hoho, terdengar monoton yah? Tapi tidak! Sebab aku menjalankannya dengan sesuatu yang bernama kebahagiaan. Ya, aku menyukainya, sehingga tak terasa berat.

Jika pun ada yang berbeda, maka kali ini, adalah HARAPAN yang AKU RANGKAI di LOKUS ASA! Iya, harapan yang berbeda. Sungguh, kali ini terasa berbeda. Tapi, beda yang menghadirkan dimensi semangat yang jauh lebih tinggi, di banding harapan-harapan lalu (yang sempat kandas) barangkali.

Aku dengan bahagiaku, di fragmen kali ini. Kau, juga dengan bahagiamu. Dia, pun dengan bahagianya. Ah, terlalu naïf jika menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain. Alangkah tidak menyenangkannya ketika kebahagiaan kita, dikatalis oleh orang lain. Dan, sungguh sangat menyedihkan, ketika tiba-tiba sang katalisator itu tak lagi mereaksikan seuntai kebahagiaan untuk kita, sehingga justru yang hadir adalah kelimbungan. Sebab, kebahagiaan kita adalah karena ketergantungan kepada sang katalisator itu. Memang, seperti kata Heinlein, cinta itu adalah sebuah kondisi di mana kebahagiaan orang lain menjadi sesuatu yang berharga untuk kita miliki…Dan pun adalah cinta ketika kebahagiaan itu ada dengan adanya kebahagiaan orang yang kita cinta. Tapi, tetap saja bahagia kita…adalah milik kita. Tanpa harus digantungkan sepenuhnya atas orang lain.


Sungguh, bahagia itu adalah urusan hati. Adalah bagaimana kita men-settingnya dengan segenap komponen yang berintegrasi dalam menghadirkan sebuah rasa bahagia. Tanpa harus dikatalis oleh orang lain, sesungguhnya KITA BISA MENSINTESANYA. Ya, sungguh kita bisa mensintesis kebahagiaan itu tanpa harus dikatalisator oleh orang lain….

Banyak hal-hal sederhana yang menghadirkan kebahagiaan. Begitu banyaknya. Bahkan cukup dengan sebingkai senyum di pagi hari untuk cleaning service yang membersihkan kantormu, misalnya. Cukup dengan beberapa lembar rupiah yang kau berikan untuk seseorang yang menengadahkan tangannya. Atau, cukup dengan penjual kresek yang hanya dihargai lima ratus rupiah untuk lembaran-lembaran kreseknya yang laku terjual. Sungguh, sederhana sekali kata bahagia itu. Bahagia, yang perlu disetting pada komponen-komponen yang berintegrasi dalam menciptakannya. Hati, akal, dan lingkungan.

Aku dan bahagiaku. Aku dan semangatku…
Meski sedari dahulu, aku menyadari bahwa itu semua menghendaki adanya buffer. Terlebih dengan kefluktuatifan yang laiknya roller coaster itu. Ya, meski ia membutuhkan buffer, tetap saja ia telah memberikan warna secerah pelangi untuk langit hatiku…

Aku dan bahagiaku… Kau, juga dengan bahagiamu. Dia, pun dengan bahagianya. Tentang rel dari kereta kehidupan kita yang tak pernah sama. Sungguh tak pernah sama. Mungkin pernah saling bersisian, bersilangan, tapi kemudian kita punya stasiun pemberhentian kita masing-masing. Meski rel itu berbeda, tapi…polar kebahagiaan tertinggi kita tetaplah sama. Ya, sama! Polar kebahagiaan tertinggi melintasi kesederhanaan itu adalah kebahagiaan bersama Rabb kita. Tak ada yang melebihi dari itu semua. Sungguh…

Maka, tiadalah yang kukehendaki bagi hatiku, bagi hari-hariku, melainkan sintesa kebahagiaan bersama Rabb-ku…
Tidak, tidak akan dikatalisator oleh siapapun manusianya lagi, insya Alloh. Sebab, apa sih yang dipunya manusia?! Sungguh, hanya dhaif belaka.
Read More

Did I Marry the Right Person??!

suami bunuh isterii??? hehe
Cerita di bawah ini sangat bagus, bagi yang masih single maupun yang sudah menikah. Bagi mereka yang masih single bisa mengambil pelajaran dari cerita ini, dan bagi yang sudah menikah cerita ini bisa jadi guideline untuk meningkatkan ikatan pernikahan yang udah dijalani.

"Apakah saya menikah dengan orang yang tepat?"

Dalam sebuah seminar rumah tangga, seseorang audience tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sangat lumrah, "Bagaimana saya tahu kalo saya menikah dengan orang yang tepat?" Saya melihat ada seorang lelaki bertubuh besar duduk di sebelahnya jadi saya menjawab "Ya.. tergantung. Apakah pria disebelah anda itu suami anda?"

Dengan sangat serius dia balik bertanya "Bagaimana anda tahu?!"

"Biarkan saya jawab pertanyaan yang sangat membebani ini."

Inilah jawabannya…

Setiap ikatan memiliki siklus. Pada saat-saat awal sebuah hubungan, anda merasakan jatuh cinta dengan pasangan anda. Telpon darinya selalu ditunggu-tunggu, begitu merindukan belaian sayangnya, dan begitu menyukai perubahan sikap-sikapnya yang bersemangat begitu menyenangkan.

Jatuh cinta kepada pasangan bukanlah hal yang sulit. Jatuh cinta merupakan hal yang sangat alami dan pengalaman yang begitu spontan. Nggak perlu berbuat apapun. Makanya dikatakan "jatuh" cinta…

Orang yang sedang kasmaran kadang mengatakan "aku mabuk cinta". Bayangkan ekspresi tersebut! Seakan-akan anda sedang berdiri tanpa melakukan apapun lalu tiba-tiba sesuatu datang dan terjadi begitu saja pada anda. Jatuh cinta itu mudah. Sesuatu yang pasif dan spontan. Tapi…setelah beberapa tahun perkawinan, gempita cinta itu pun akan pudar. Perubahan ini merupakan siklus alamiah dan terjadi pada SEMUA ikatan. Perlahan tapi pasti.. telpon darinya menjadi hal yang merepotkan, belaiannya nggak selalu diharapkan dan sikap-sikapnya yang besemangat bukannya jadi hal yang manis tapi malah nambahin penat yang ada..

Gejala-gejala pada tahapan ini bervariasi pada masing-masing individu. Namun bila anda memikirkan tentang rumah tangga anda, anda akan mendapati perbedaaan yang dramatis antara tahap awal ikatan, pada saat anda jatuh cinta, dengan kepenatan-kepenatan bahkan kemarahan pada tahapan-tahapan selanjutnya.

Dan pada situasi inilah pertanyaan "Did I marry the right person?" mulai muncul, baik dari anda atau dari pasangan anda, atau dari keduanya.. Nah Lho!

Dan ketika anda maupun pasangan anda mencoba merefleksikan eforia cinta yang pernah terjadi, anda mungkin mulai berhasrat menyelami eforia-eforia cinta itu dengan orang lain. Dan ketika pernikahan itu akhirnya kandas, masing-masing sibuk menyalahkan pasangannya atas ketidakbahagiaan itu dan mencari pelampiasan di luar. Berbagai macam cara, bentuk dan ukuran untuk pelampiasan ini, menginkari kesetiaan merupakan hal yang paling jelas. Sebagian orang memilih untuk menyibukan diri dengan pekerjaannya, hobinya, pertemanannya, nonton TV hingga merasa bosan, ataupun hal-hal yang menyolok lainnya.

Tapi tahu tidak?! Bahwa jawaban atas dilema ini tidak ada di luar, justru jawaban ini hanya ada di dalam pernikahan itu sendiri. Selingkuh?? Ya mungkin itu jawabannya. Bisa saja anda selingkuh dan pada saat itu anda akan merasa lebih baik. Tapi itu bersifat temporer, karena setelah beberapa tahun anda akan mengalami kondisi yang sama (seperti sebelumnya pada perkawinan anda)..

Karena (pahamilah dengan seksama hal ini)

KUNCI SUKSES PERNIKAHAN BUKANLAH MENEMUKAN ORANG YANG TEPAT, NAMUN KUNCINYA ADALAH BAGAIMANA BELAJAR MENCINTAI ORANG YANG ANDA TEMUKAN, DAN TERUS MENERUS..!

Cinta bukanlah hal yang PASIF ataupun pengalaman yang spontan. Cinta TIDAK AKAN PERNAH begitu saja terjadi. Kita tidak akan bisa MENEMUKAN cinta yang selamanya, tapi kita harus MENGUSAHAKANNYA dari hari ke hari.

Benar juga ungkapan "diperbudak cinta" Karena cinta itu BUTUH waktu, usaha, dan energi. Dan yang paling penting, cinta itu butuh sikap BIJAK.. Kita harus tahu benar APA YANG HARUS DILAKUKAN agar rumah tangga berjalan dengan baik. Jangan membuat kesalahan untuk hal yang satu ini. Cinta bukanlah MISTERI.

Ada beberapa hal spesifik yang bisa dilakukan (dengan ataupun tanpa pasangan anda) agar rumah tangga berjalan lancar. Sama halnya dengan hukum alam pada ilmu físika (seperti gaya Gravitasi), dalam suatu ikatan rumah tangga juga ada hukumnya. Sama halnya dengan diet yang tepat dan olahraga yang benar dapat membuat tubuh kita lebih kuat. Beberapa kebiasaan dalam hubungan rumah tangga juga DAPAT membuat rumah tangga itu lebih kuat. Ini merupakan reaksi sebab akibat.. Jika kita tahu dan mau menerapkan hukum-hukum tersebut, tentulah kita bisa "MEMBUAT" cinta bukan "JATUH". Karena cinta dalam pernikahan sesungguhnya merupakan sebuah DECISION, dan bukan cuma PERASAAN..!

"Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna ".

======================================

Hehe…itu adalah artikel kiriman seorang teman yang kurasa bagus juga untuk mengawali ceritaku kali ini. Hihi. Mohon maaf buat author nya yang (lagi-lagi) bagiku berstatus unknown. Maaf telah me-republish artikelnya. Hmm…an inspirative article.

Cerita ini kuawali dengan kisah yang masih saja sama. Ini tentang tangisan wanita-wanita yang datang curhat ke rumah, selagi ‘pakarnya’ tak di rumah. Walhasil (kembali) aku jadi pakar dadakan. Hmm…ya, sekedar mendengar saja. Baiklah, aku bersedia menjadi muara dari gundah beliau-beliau semua. Sekedar muara saja, dan biarkanlah aku mengambil pelajaran dari setiap kisah itu.

Ini bukan kali pertama aku berhadapan dengan wanita-wanita yang ditelantarkan suaminya. Dahulu, aku juga pernah membahas ini di blogku ini. Dahuluuuuu, sekali. Sampai-sampai, aku sempat mempertanyakan, “bagaimana sih warna kesetiaan bagi seorang laki-laki?” hoho. Padahal, tak semua laki-laki itu sama kan yah? Heuuu… Banyak juga yang setia koq. Banyak banget malah yang setia itu. ‘Setiap tikungan ada’ maksudnya. Wkwkwkwk.

Ah iyaaa, walaupun bukan pakarnya, bukan ahlinya, dan bukan pula praktisi (heuu…bukan praktisi yang menjalankannya, berani pulak ngomong2…hehe). Yaaah, anggap saja lah ini komentator dari penonton. Ya, biasalah ya, penonton selalu terlihat serba hebat. Pas giliran terjun ke lapangan ajah, jadi keki sendiri.. hehe.

Aahh…apapun itu lah! Nyang jelas, saye nak cakap-cakap pasal nii lah. Meskipun belum tentu benar, tapii..insya Alloh juga tak sepenuhnya salah! Hehe.

Hmm…. Di usia pernikahan yang terbilang cukup lama, banyak yaah, cinta yang semakin memudar. Apakah cinta itu yang terlalu monoton, atau sudah begitu jengah dengan romantisme? Entahlah. Berhubung diriku bukan pelaku sejarah, jadi…pertanyaan itu tak berhak kuanalisa. Tapi, yang ada pada realita yang kulihat, bahwa di usia-usia pernikahan belasan hingga ke 20 atau lebih, pola seperti ini cukup banyak dijumpai. Suami yang tiba-tiba meninggalkan istrinya tanpa alasan yang jelas, lalu memilih wanita lain yang kadang juga adalah istri orang. Ckckckck… Na’udzubillaah… Hmm…aku bukan semata membela genderku loh yah. Tapii, hampir tiga perempat dari case yang ada itu, laki-laki yang meninggalkan perempuan. Perempuan yang meninggalkan laki-laki juga ada tho… (biar yang ngerasa laki-laki kagak protes dan marah sama aye… hihi).

Memisahkan antara suami dan istri itu, sungguh adalah misi syetan la’natullaahi ‘alaih… Cobalah sejenak kita buka lagi Ayat Allah yang berkenaan dengan sihir, bahwasannya…. Mereka mempelajari sihir yang dengannya dapat memisahkan seorang suami dan istrinya. Na’udzubillaah… berselindung kita pada Alloh. Sungguh, jika bukan dengan ijin-Nya, maka mudharat itu takkan terjadi…

Seperti permisalan yang begitu lazim, bahwa keluarga itu umpama mengarungi bahtera di lautan. Tak selalu indah, tak selalu tenang. Juga ada amukan badainya. Jika tak kuat-kuat bertahan, maka, bisa kandas. Dan bukan tak sedikit yang tak kandas…

Nah, dari banyak kisah yang kudengarkan, yang beliau-beliau itu (beliau is refers to ‘wanita-wanita yang ditinggalkan suaminya’) yang memuarakan gundahnya pada pakar odong-odong macam aku, akhirnya banyaaaak sekali pelajaran yang bisa aku petik. Yaah, meski aku takkan bisa memberikan solusi pada si ibu-ibu itu, setidaknya, aku memperoleh pelajaran berharga dari sini. Dan inilah yang ingin kubagi padamu semua (jika ada yang sempat membaca tulisan ini).

Pelajaran pertamanya adalah, bahwa benar sekali tentang arti pentingnya untuk terus meng-update, meng up-grade dan meng-tune up cinta itu. Nah…nah..,artikel di atas sudah cukup mewakilkan, mengenai bagaimana memperbarui dan terus me-refresh cinta kan yah. Sehingga…mencintai sebagai sebuah proses itu akan terus ada. Proses mencintai dan terus mencintai. Eh, ngomong2, ada yang diriku kurang sepakat nih. Bagiku, kuncinya tetap saja harus menemukan yang TEPAT beserta proses yang terus menerus. Yang TEPAT itu harus, sebab, begitulah hakikatnya sebuah pasangan. Jika pasaangan sayapnya tak tepat, macam mana pulak nak terbang, tho? Yang tidak boleh itu adalah, mencari yang IDEAL! Sebab, ini barang langka. Ketemu pun yang ideal, belom tentu dianya mau tho? Hihihi…..

Pelajaran kedua, tentang konflik. Hmm…konflik? Menurutku sih itu niscaya lah yah! Hanya saja, perlu adanya penyamaan definisi terhadap konflik terlebih dahulu. Ya, menyamakan definisi konflik! Sebab, ketidaksamaan definisi tentang konflik ini ternyata sering kali melahirkan banyak konflik! Hehe. Misalkan sang istri, menilai jika perbedaan pendapat dan masing-masing pihak tetep keukeuh dengan pendapatnya masing-masing, lalu saling berdiam diri, itu sudah dikategorikan konflik. Sementara, mungkin bagi si suami, yang begitu-begitu mah wajar tho!? Wong namanya jugak manusia yang berbeda. Gak mungkinlah disamakan. Jika persepsi dan definisi tentang konflik ini tak sama-sama dirumuskan, mungkin akan memicu konflik baru. Apa misalnya? Si istri yang frustasi karena melulu konflik, sebab yang dipikirannya berbeda pendapat dan berdiam diri itu konflik. Pada akhirnya si istri nuduh suami gak peka, gak berperasaan dan macem2lah. Dituduh begitu, sang suami tentu gak terima, tho!? Apalagi itu melukai harga dirinya si laki-laki.
Akhirnya, berlarut-larut sampai akut. Seperti bom waktu yang sewaktu-waktu meledak sahajaa. Jika pun tak meledak, bisa jadi reaksi subtitusi terjadi. Si istri mencari orang lain yang bisa mengerti dia dan lebih care katanya. Dan si suami mencari orang yang katanya lebih bisa memenuhi satu ruang akan harga dirinya, dan tidak selalu menyalahkannya. Lalu, di sinilah ambisi syetan untuk memisahkan itu semakin menjadi-jadi. Maka, terjadilah kasus yang bermacam-macam. Pada akhirnya bahtera oleng. Lalu karam. Na’udzubillaah…

Yah, berarti, penting sekali yah ternyata, memperbarui terus cinta dan membuat definisi yang jelas tentang konflik. Hehe…ini bisa jadi benar, dan bisa juga salah. Maklumlah, komentar dari komentator. Hihi. Hanya saja, aku berharap, ada pelajaran yang bisa dipetik dari ini semua.

Everythink need knowledge, just not learning by doing….kurasa begini. Jika salah, mohon dibetulkan. Hehe.
Read More

Mengisi Bahan Bakar Energi

mencoba menggapai mimpi
Jika mengenang kebodohan di masa lalu, sungguh aku ingin tertawa. Iya. Menertawakan banyak dari kebodohan-kebodohanku itu. Tapi, itu semua cukup berarti untuk dijadikan pelajaran. Sebab, dengan salah lah kita belajar untuk benar… Iya, tho?! Ya, belajar membenarkan dari sebuah kesalahan. Ini bukan pembenaran atas sebuah kesalahan, tapi bagaimana membenarkan sesuatu yang salah…

Fiiuufftt…(menghela nafas panjang)…
Ini bukan sebuah helaan nafas disebabkan keluhan dan “mang-honde-honde” insya Alloh…
Ini hanya sebuah tarikkan nafas panjang yang mengaliri setiap rongga hatiku dengan sebuah energy baru…

Kali ini, aku sungguh ingin belajar memenej segala ke-fluktuatif-an ini… tentang arti belajar bersabar dalam kebahagiaan dan bersabar dalam kesedihan itu… Sungguh, semakin berasa sudah…aku ini masih sangat jauuuuuuuuuuuuuuhh, juga dengan ilmu yang masiiiiiiiiiiiiih sangat sedikit. Masih sangat banyak yang perlu dipelajari. Bukan semata dari textbook, tapi juga dari kehidupan. Bukan juga semata ilmu farmasi, tapii segala hikmah. Sebab, hikmah itu adalah milik umat Islam yang tercecer. Bagi sesiapapun yang menemukannya, berhak untuk memungutnya, di mana pun ia berjumpa…

Juga, tentang mimpi yang memberikan nafas bagi perjalanan menujunya. Bahwa, ia juga menghendaki bahan bakar bernama ‘asa’ dan ‘harapan’. Tapi, tidak sepenuhnya dilabuhkan pada manusia-manusia yang ber-integrasi di dalamnya. Labuhan tertinggi, cukuplah pada Rabb saja. Sehingga, tak pernah ada kata kecewa ketika harap tak berjumpa realita… Sebab, Alloh punya cara sendiri untuk memberikan apa yang kita butuhkan, lebih dari sekedar apa yang kita inginkan.

Hehe…
Ini hanya memuarakan apa yang terasa di hati…
Mungkin tak sekuens. (Memang tak sekuens dari awal paragrafnya malah! Hee…) Tapi biarlah… aku bahagia saja bisa memuarakannya…tak peduli apakah ada yang tertarik untuk membacanya…

Hup!
Yak, kembali mengisi bahan bakar energy.
Untuk melaju…dan terus melajuu…menggapai mimpi…mimpi tentang kemanfaatan apa yang bisa kita beri bagi ummat ini, mimpi tentang peradaban yang dibangun oleh batu bata kokoh…mimpi tentang hadirnya generasi-generasi Robbani…dan mimpi yang melintasi kesejenakkan dunia ini…
Pada asa yang berjumpa dengan rencana-Nya…
Sungguh, akan sangat manis terasa…

SEMANGAT!!
Read More

Serumpun Rerumputan

rumput di tengah kolam
Suatu hari, setelah sekian lama tak ‘bersemedi’ (heuu…koq bersemedi yah?) di kolam tercinta, aku putuskan mengelilingi kolamku itu sambil menebarkan pellet (bukan santet loh yah. Syirik!). Pellet di sini maksudnya adalah makanan ikan. Hmm…aktifitas yang selalu saja menghadirkan semacam kesegaran dan kelegaan. Selalu saja ingin tersenyum melihat mereka (‘mereka’ is refers to ‘para ikan’) berebut makanan. Kalo sekedar melepaskan segala sesuatu yang menggelayuti pundak, yah lumayanlan. Me-refresh kembali hati dan pikiran.

Nah, ketika menyebar si pellet pada si ikan, pandanganku tertuju pada sesuatu. Sepertinya sebatang kayu, atau semacam apalah…yang terjebak, persis di tengah-tengah kolam. Dan masya Allah, di atasnya… tumbuhlah serumpun rerumputan yang biasa kutemui juga di daratan, di semak-semak dan semisalnya. Agaknya…di tengah-tengah kayu ataupun benda agak kehitaman itu, ada setumpuk tanah yang memungkinkan untuk ditumbuhi.

Lama aku tercenung memandanginya. Hingga, ada pelajaran berharga yang kupetik dari sang rumput. Bagi serumpun rumput, tumbuh di daratan dengan tanah yang kaya akan nutrisi tentu adalah hal yang lumrah dan niscaya. Justru, jika ia tak tumbuh di daratan yang subur, akan sangat mengherankan. Tapi, tumbuh di tengah kolam dengan tanah seadanya, tentu bukan perkara mudah! Ia besar, bukan pada sesuatu yang biasanya. Ia tumbuh, di tengah lingkungan yang begitu ekstrem. Jika sang rumput itu ‘memilih’ untuk meranggas saja di tengah kepungan kolam, kurasa takkan ada yang menyalahkannya. Sebab, lingkungan itu, medannya itu, cukup berat untuk ia tumbuhi. Tapi apa? Sang rumput memilih untuk ‘menaklukkan’ lingkungan itu, dan pada akhirnya ia berhasil! Ia berhasil! Ia tumbuh dengan segarnya, di tengah kepungan air.

Masya Allah…
Sungguh pelajaran yang begitu berharga…
Mari sejenak kita belajar dari serumpun rerumputan itu…

Hidup beserta sekelumit cerita bahagia dan cerita duka yang membersamainya. Sungguh, bukan selalu menyenangkan. Sering kali juga menyedihkan. Sering kali juga meninggalkan catatan duka. Tapi lihatlah, ketika kita memilih untuk menaklukkannya, sungguh kita MAMPU, dan kita BISA, insya Alloh… Seperti rerumputan yang lebih memilih untuk menaklukkan tantangan itu, dan mereka tetap menghijau, tetap berbunga, meski bukan di daratan. Pun begitu adanya kita, bahkan lebih dari pada itu, karena Alloh bekali kita dengan segenap kelebihan dari pada makhluk lainnya. Sepahit apapun itu, sesulit apapun itu, ketika azzam kita jauh lebih kokoh dari pada itu, sungguh kita AKAN SANGGUP MENAKLUKKANNYA…

Jadi, tunggu apa lagi. Buanglah segala putus asa. Tetaplah berjuang. Tetaplah bangkit! Dan tataplah jauh ke depan. Tentang perjalanan panjang dan sungguh sangat panjang yang akan kita lewati. Percayalah, suatu saat kita akan mengulas sebingkai senyum sumringah…untuk asa kita hari ini. Ya, ketika asa itu berbunga kesuksesan…
Maannajah!
Read More

Happiness-Sadness Windows

happy n sad
Jika tanpa rintangan, hidup ini begitu monoton dan sangat tak menarik. Meski berada di zona nyaman itu menyenangkan, tapi, kita akan menjadi apa adanya saja. Seperti katak yang terlalu nyaman untuk satu tempurung saja sehingga lupa untuk menyaksikan bahwa dunia itu jauh lebih luas dari sekedar tempurung.

Aku dan fluktuatifku.
Seperti gelombang yang naik turun. Bersemangat, tinggi, lalu terhempas. Begitu. Dan terus begitu. Memang, yazid wa yanqus adalah niscaya. Tapi, hampir-hampir saja, ia mencapai titik-titik ekstremitas…puncak dan lembah…

Baiklah…
Aku jadi mengerti tentang maksud “bersabar dalam kebahagiaan” dan “bersabar dalam kesedihan itu”. Ya, memang begitu seharusnya. Sehingga, ia senantiasa terpelihara dalam koridor seperti ‘terapeutic window’ itu. Tak melebihi, juga tak kurang. Sepertinya, memang perlu memberikan sebuah skala menyerupai ‘terapeutic window’—jika boleh kugunakan istilah ‘happiness and sadness window’—agar ia tetap berada di skala itu. Dalamnya, boleh saja naik, dan boleh saja turun, asalkan masih dalam ‘window’ yang dibolehkan. Hmm…mungkin perlu begini.

Belakangan, aku cukup bergidig ngeri mendengar banyak cerita tentang bunuh diri. Aku baru tau, ternyata…karakter memberikan sumbangsih juga terhadap angka kejadian ini. Pertanyaan yang sering muncul di benakku sejak dulu adalah, “mengapa orang begitu mudah bunuh diri? Bahkan hanya karena cemburu berat saja? Mengapa begitu murah ia hargai hidupnya? Mengapa? Mengapa begitu bodoh?”

Belakangan…aku baru berjumpa rumusan baru soal ini dan berjumpa sekelumit jawabannya. Tentang frustasi, saturasi, dan keputusasaan yang sudah akut. Dan, hal paling sering adalah karena mereka terlanjur menggantungkan harapan kepada manusia, sepenuhnya. Padahal, jika pun boleh berharap pada manusia, tapi lokus terbesar sebagai labuhan harap itu, cukuplah Rabb saja. Ya, cukupla Rabb saja.

Banyak dari orang-orang bermasalah yang beranggapan bahwa masalahnya adalah masalah terberat. Penderitaannya adalah seberat-beratnya penderitaan. Dan, lukanya adalah sedalam-dalamnya luka. Aah, terlalu naïf. Cobalah sedikit mendengar. Cukup mendengar saja, kisah-kisah orang yang bermasalah, menderita, terpuruk. Tak perlu merumuskan sebuah solusi. Cukup hanya mendengar saja. Sungguh, mungkin kita akan berkata, bahwa masalah kita belumlah seberapa…

Ada bagusnya kita perlu sedikit keluar dari peraduan. Berjalan saja. Memungut setiap pelajaran yang bertebaran. Lihatlah, sungguh diri kita lebih beruntung. Mungkin di luar sana, ada orang yang harus rela makan sehari sekali saja. Mungkin di sudut negeri sana, ada yang harus bersusah payah berjalan lantaran kakinya yang lumpuh. Dan mungkin di luar sana ada yang tak bisa menikmati indahnya menggunakan akal pikiran lantaran syndrome down yang dideritanya. Sungguh…diri kita jauh lebih beruntung.

---------------
sumber gambar di sini
Read More

Berterima Kasih pada Kegetiran

Ini dalam rangka menyemangati diri...^o^
Hmm…meloncati pagar setinggi dua meter?! Sungguh, hampir saja ia adalah sesuatu yang begitu aburb! Begitu mustahil. Tapi, jikalah kita dalam posisi terjepit, begitu tertekan—semisal dalam kondisi di kejar anjing—maka dua meter bukan sesuatu yang sulit. Bahkan kita bisa meloncati yang jauh lebih tinggi dari itu.

Pelajaran berharganya adalah, sungguh begitu banyak orang-orang yang mencapai puncaknya, menjadi orang-orang ekstraordinary justru karena dibesarkan dengan kegetiran hidup. Ya, mereka adalah orang-orang yang memilih untuk menantang badai itu. Pilihan mereka hanyalah dua. Membiarkan diri ikut terhempas bersama penderitaan,kesulitan,kejatuhan dan keterpurukkan atau berbalik bangkit dan menantang badai besar itu! Sungguh, kemudian menjadi pilihan terhormat bagi mereka untuk menantang garangnya kegetiran. Dan apa? Mereka berhasil!

Soichiro HONDA, yang ikut terkena PHK oleh pihak TOYOTA, justru melahirkan adikarya yang besar. Ia bangkit melawan kegetiran itu. Tak jauh-jauh…, Rasulullaah…pun melewati kegetiran yang amat sangat. Penderitaan yang jua tiada tara. Bahkan kita belumlah apa-apanya jika harus disandingkan dengan penderitaan beliau. Tapi pada akhirnya? Sungguh, kejayaan Islam berkibar di mana-mana. SEMUANYA lahir dari penderitaan, kesulitan, keterpurukkan dan juga kesedihan.

Hidup yang begitu mulus jalannya,hampir semua keinginan terpenuhi, memang terdengar sangat menyenangkan. Tapi apa? Hidup seperti ini hampir menjadi biasa-biasa saja. Tak memiliki sesuatu yang istimewa. Sebab ia berjalan sangat apa adanya saja. Bahkan, lebih sering potensi yang dipunya ikut tergerus dengan segala sesuatu yang telah serba tersedia. Ia yang selalu berada di zona nyaman itu.

Seharusnya…berbahagialah, jika Allah mempercayakan kita untuk menghadapi gelombang besar kehidupan ini. Sebab, kita sangguplah. Sungguh, sebab kita sanggup! Yang Pasti, DIA senantiasa menyertakan hikmah yang luar biasa! Dengannya, barangkali potensi kita yang dorman, yang lelap dan tersembunyi bersama kenyamanan, tiba-tiba (harus) bangkit! Bahkan mungkin kita tak pernah tahu, bahwa ternyata kita sanggup meloncatinya!

Bertahanlah dengan hempasan badai!Sebab, suatu saat, mungkin kita perlu berterima kasih pada badai, pada kesukaran, pada kegetiran, pada kesedihan, pada keterpurukkan yang telah menjadi titik loncatan dan momentum ledakkan bagi diri kita menuju puncak-puncak kemenangan itu!
Read More

Fatamorgana

Fatamorgana
Terkadang (atau sering kali) sesuatu itu seperti fatamorgana. Terlihat indah. Untuk melukiskan idealism yang kita punya. Terlihat indah, untuk kemudian berton-ton energy mencapainya. Namun, ketika kita telah memasukinya, terlah berinteraksi secara nyata, terhenyaklah di depan realita. Sebab, ternyata tak selalu seindah pandangan mata. Tak selalu. Kadang, justru tak lebih baik.

Tentang itu…
Ya biarlah. Cukup jadi pelajaran berharga saja.
Setidaknya, ke depan butuh HEPA filter yang luar biasa barang kali, sehingga out put keputusan yang hadir itu…adalah out put yang telah melewati serangkaian uji kelayakan dan memiliki quality assurance yang benar-benar terjamin…

Jika pun tidak…
Mungkin, kali ini ketangguhan kita yang sedang diuji kelayakannya…
Sebab dunia tak selalu seindah mimpi….tak selalu…
Ini kemudian, menyoal bagaimana meng-integrasikan antara energy yang kita punya, idealism dan realita yang terjadi di arena kehidupan. Semuanya…adalah pelajaran berharga. Pelajaran dalam sekolah kehidupan…

Terlepas dari itu semua… yang jelas, segala kejadian sudah tercatat di kitab yang Maha Lengkap. Bahkan, tak satu Amstrong pun jarak yang kita jejak, melainkan sudah tertulis di sana… Semua kejadian, telah dibukukan tentunya…

“Jangan berputus asa meskipun kamu telah berdo’a dengan keras. Ada saat penundaan dalam menerima karunia yang diharapkan. Dia telah menjamin bahwa Dia akan memenuhi apa yang dipilihkan-Nya untukmu, bukan apa yang kamu pilih untuk dirimu sendiri. Pada saat yang Dia tentukan, bukan pada saat yang kamu inginkan.” (Ibnu Ata’illah)

Ya!
Pilihan hidup kita, apapun itu, di segi apapun itu…adalah ketentuan-Nya, jauh melintasi ingin-ingin kita saja. Pun bukan pula pada waktu yang kita mau, melainkan waktu yang ditetapkan-Nya.

Maannjah! Sebab kau terlahir sebagai PEMENANG, dan bukan PECUNDANG. So, up grade your life…to be better!
Read More

From Me, By Me and For Me

Allahu ghoyatii…
Ya, Allah lah tujuanku… Allah tujuanku… tiada selain itu…
Bukankah jauuuhh lebih manis kemenangan hakiki itu? Lalu, adakah yang lebih manis dari pada itu?
Tidak! Sungguh tidak! Kenikmatan dunia ini, bahkan tak seujung kuku pun…

Bukankah dunia hanyalah tak lebih dari kejapan mata saja?
Kesejenakkan yang sangat menentukan!
Akan seperti apa ujungnya…
Akan seperti apa hari yang abadi itu?
Pada kesengsaraan tak berkesudahankah, ataukah dengan kebahagiaan yang bahkan tak cukup untuk dilukiskan dengan kata?
PASTI, setiap orang menginginkan kebahagiaan. Pertanyaannya, apakah kebahagiaan yang sejenak, atau kebahagiaan yang abadi?
Kepada kita…dipersilakan untuk memilih… Ya, memilih! Pilihan ini akan sangat menentukan langkah yang diambil…dan tentu saja…menentukan kisah hari depan kita…hari ketika segala sesuatu dibalaskan…

Sudahlah…
Jika aku terus disibukkan dengan kesedihan-kesedihan…yang bahkan tak seberapa itu, maka sia-sia sudah ni’mat waktu yang Allah berikan… Masih banyak yang bisa aku berdayakan! Masih banyak yang bisa aku lakukan. Bukan untuk mengurusi kesedihan yang hanya akan menguras waktuku, mengurangi kesempatan bersama Rabb-ku, dan juga men-dorman-kan potensi yang Allah anugrahkan…

Ah, tidak!!
Aku tak mau selemah ini.
Tidak!!
Justru karena aku sanggup memikulnya, maka Allah beri ujian. Justru karena aku kuatlah, maka aku sanggup untuk tetap mengarungi hidup ini…menaklukkan setiap beban yang menggelayuti pundakku.. Dan sungguh…ini tak seberapa. Ya, ini tak seberapa. Tetap saja pada akhirnya, ujian senantiasa berbanding lurus dengan kualitas. Semakin berat ujian, semakin tinggi kualitas. Dan, jika ini belumlah apa-apa, belum seberapa, maka untuk kelas yang lebih tinggi, mungkin aku akan berjumpa dengan kadar ujian yang lebih berat. Selalu begitu. Dan memang begitulah sunnatullahnya. Selama aku ber-azzam untuk memasuki kelas-kelas berkualitas, maka selama itu pula, takkan hentinya ujian menerpa. Ujian yang akan mengokohkan pijakkanku berdiri. Ujian yang akan terus dan terus membuatku belajar….menjadi lebih tangguh…

Dan yang jelas, INI BUKANLAH AKHIR DARI SEGALANYA…
Dan, bukan untuk ini esensi hidupku… Aku tak boleh sesempit itu memandangi hidup…
Masih panjang cita-cita besar yang ingin aku rajut. Masih terlalu banyak, jika harus bersanding dengan kesedihan kecil ini. Aku masih punya segudang mimpi-mimpi yang telah aku gantungkan di langit asaku. Aku masih punya seribu azzam yang aku pancangkan dengan kuat di landasan hatiku. Jauh….jauh..sebelum ini. Ini hanyalah sebuah harapan kecil…yang dapat disubtitusi dengan harapan lain. Dan, bisa jadi tidak lebih buruk. Tapi, apakah mimpi utamaku untuk meraih kemenangan hakiki itu dapat tersubtitusi?! Tidak!! Bagiku, inilah esensi hidupku. Bahwa mimpi-mimpiku adalah melintasi kesejenakkan dunia. Bahwa mimpiku, adalah hingga hari ketika segala sesuatu dibalaskan. Di sini, sungguh, aku tak rela…jika aku harus kehilangannya. Aku tak rela, jika mimpi-mimpi besarku yang melintasi kesejenakkan dunia ini, menjadi kehilangan makna hanya karena harapan ‘kecil’ yang sempat bergelantungan di langit asaku ini jatuh, pecah dan berkeping. Jika ini terjadi, sungguh aku tak dapat memaafkan diriku sendiri!


Semakin berasa sudah…, jika hati dan fikiran disibukkan dengan hal-hal kecil, maka…aku hanya memiliki sedikit ruang untuk melakukan hal-hal besar… Dan jika sudah begini, maka, kesedihan kecil lantas akan menjadi sesuatu yang besar. Tapi, ketika fokusku dan mimpi-mimpiku adalah hal-hal yang besar, kesedihan ini hampir menjadi tak begitu berarti…

Allahu ghoyatii…
Ya, Allahlah tujuanku…
Jikalah sudah begini, maka…sungguh tiadalah segala keadaan melainkan adalah KEBAIKAN BELAKA! Ya, hanya kebaikan belaka. Aku percaya, Allah selalu punya cara sendiri bagi hamba-Nya. Mungkin tak pernah kita duga. Aku percaya, bahwa Allah takkan pernah sia-sia terhadap hamba-Nya. Mungkin pahit dan begitu berat bagi kita. Tapi, itu hanya karena kita tak tahu, bahwa ada sesuatu yang lebih manis yang Dia siapkan. Cukup percayakan saja pada Allah. Cukup percayakan saja pada-Nya… Yakinlah….Bahwa Allah Maha Mengetahui usaha dan upaya yang dilakukan hamba-Nya… percayalah….
Read More

Speak English?? Why Not!?

speak english
Wakidjan begitu terpesonanya dengan permainan piano Nadine. Sambil bertepuk tangan, ia berteriak, “Not a play! Not a play!”
Nadine bengong. “Not a play? “
“Yes! Not a play!(Bukan main)”.
Tukidjo yang menemani Wakidjan terperangah. “Bukan main itu bukan not a play, Djan.”
“Your granny (Mbahmu). Humanly I have check my dictionary kok. (Orang saya sudah periksa di kamus kok)
Lalu berpaling ke Nadine. “Lady, let’s corner (Mojok yuk). But don’t think that are nots (Jangan berpikir yang bukan-bukan) . I just want a meal together.”
“Ngaco kamu, Djan,” Tukidjo tambah gemes.
“Don’t be surplus (Jangan berlebihan), Djo. Be wrong a little is OK toch?”
Nadine cuman senyum kecil. “I would love to, but…”
“Sorry if my friend make you not delicious (Maaf kalau teman saya bikin kamu jadi nggak enak)”, sambut Wakidjan ramah, “Different river, maybe (Lain kali barangkali). I will not be various kok (Saya nggak akan macam-macam kok).”
Setelah Nadine pergi, Wakidjan menatap Tukidjo dengan sebal. “Disturbing aja sih, Djo. Does the language belong to your ancestor (Emang itu bahasa punya moyang lu)?” Tukidjo cari kalimat penutup. “Just itchy Djan, because you speak English as delicious as your belly button.” (Gatel aja, Djan, soalnya kamu ngomong Inggris seenak udelmu dewe).
Wakidjan cuman bisa merutuk dalam hati, “His name is also effort.(Namanya juga usaha).”

Ahahaha….
Silahkan ngakak dulu deeh, ngebaca tulisan di atas. Hehe, cerita di atas, cukup untuk mengalihkan sedikit kegundahanku. Jiaaahh…
Abiisss…lucu banget sih! Sampai terpingkal-pingkal ngebacanya. Oh iya, sebelumnya, cerita di atas kudapat dari sebuah file yang berserakkan di sebuah data di lepi ku. Judul foldernya; baserak_sarok_file. Jadiiii, ceritanya, aku mau mendelete banyak file yang berkaitan dengan sebuah masa lalu. (Halaaah!). Dan tak sengaja nemu file ini. Jadi, mohon maaf buat author nya yang bagiku masih berstatus ‘unknow author’ karena telah me-re-publikasi tulisan di atas tanpa menyebutkan siapa sumbernya. Jadiiii, bukan maksud plagiat tho. Hihi.

Hehe….terlepas dari lelucon yang coba dihadirkan dalam tulisan di atas, sesungguhnya ada juga plajaran yang bisa diambil. Menyoal berbahasa inggris. Hmm…sebagai bahasa yang dinobatkan sebagai bahasa internasional, tentu menjadi sebuah keharusan bagi kaum intelektual (ciee ileee) untuk menguasai bahasa yang satu ini. Yaah, karena apa-apanya menyaratkan TOEFL. Dikit-dikit, syaratnya, “mampu berbahasa inggris”. Dan parahnya, ini menjadi sesuatu bagian yang cukup berat bagiku! (apakah kesimpulannya, aku bukan bagian dari kaum intelektual? Hehe, semoga saja TIDAAAKK!).

Katanya banyak orang, salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk mengasah kefasihan dalam berbicara bahasa inggris adalah dengan melatihnya sesering mungkin. Dalam arti kata, dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan dalam rangka itu pulalah, banyak institusi2 setingkat sekolah atau universitas, mengadakan terobosan-terobosan semacam “English day”dan sejenisnya. Rule-nya, setiap personal yang terlibat mestilah bercakap-cakap dalam bahasa inggris.

Tapi apa yang terjadi di lapangan? Hoho, rupanya tak seindah harapan. Banyak yang tidak disiplin untuk menggunakan bahasa inggris ini. Ada yang memilih bungkam, dari pada harus cape bercakap-cakap English. Padahal, tak ada yang marah koq, kalau grammer nya kacau ataupun pronunciation nya lebih mirip bahasa Minang. Hehe. Dan dalam hal ini, aku termasuk orang yang tidak (terlalu) disiplin itu. Oooohhh nooo… Maafkan akuuuuu…>.<

Ada banyak alasan. Mungkin karena malu. Atau tak terbiasa. Atau, kurang tertarik. Tapiiii…, si Wakidjan ajah yang grammernya kacau, yang bahasa inggrisnya seenak udelnya dewe, gak malu tuh, cakap-cakap English. Lha? Lantas, kenapa aku harus malu yak?! Padahal, itu kan baik, tho?! Yah, setidaknya, memfasihkan lidah lah, untuk bisa sikit-sikit cakap-cakap English. Ya, gak?!

Sekarang ini niiih, baru berasa, betapa pentingnya! Uugghh… JIkalah penyesalan datangnya di awal yah? Heuu…. Tapi yang jelas, tak ada kata terlambat tho?! Dan juga GAK ADA kata GAK BISA! Toh, dulunya juga aku bisa koq. Yaah, walaupun belum dapat dikatakan baik, tapi yaa lumayanlah. Sempet ikutan pidato English juga. Pas final project plajaran bahasa Inggris yang mengharuskan bercerita English selama minimal 5 menit, bisa-bisa ajah tuh. Tapi, koq sekarang-sekarang jadi enggan yah? Koq sekarang jadi gak bisa gitu yah?. What’s wrong!? Hehe, salahnya udah ketemu sih! Salahnya adalah, karena terlanjur melabel diri GAK BISA, males CAKAP-CAKAP English, langsung gak mood liyat sesuatu artikel dan tulisan yang berbahasa inggris (kcuali karena terpaksa harus merujuk jurnal-jurnal berbahasa inggris dan literature dan textbook pharmasi yang kebanyakan berkiblat ke Amerika dan tentu saja berbahasa inggris), dan MALU untuk mencoba berbahasa inggris. Waah, banyak wrong2 nyang harus diperbaiki tho?!

Hmm….baiklah…baiklah….
Selanjutnya….SPEAK ENGLISH?? WHY NOT!! Hayuuk….hayuuuk…ngajakin kakak2, adek2, temen2, dan dirimu semua rame-rame (masa’ aye harus ngomong sendiri. Ntar dikirain, “obsesi jadi bule yang kaga kesampaian” lagih. Hihihi…ngaco!). ajarin dan ajak diriku yaaah….

----------------

sumber gambr di sini
Read More

Sejumput Kenangan di Bumi Serambi Makkah

Padangpanjangku tercintaaa...
Memandangai hamparan ‘surga’ yang Allah titipkan secuil ke bumi Serambi Mekkah. Subhanallaah…
Decak kagum yang hanya bisa kulafadzkan. Subhanallaah… Sungguh sangat indah. Puncak merapi yang kokoh. Semilir angin yang sejuk. Melegakan rongga dada, juga rongga hati.

Ah, Padangpanjang…
Selalu terlihat indah di mataku, seindah kenangan yang membersamainya. Indah!
Bahkan terlalu indah untuk dikenang.



Balkon VIP RSUD Kota Padangpanjang
Read More

Kampus Birru Bumi Hijau

Kampus Birru...^^
“Uni…” Seseorang dengan jilbab putih panjangnya, berseragam SMA menyerahkan selembar resep. Asisten Apoteker di Apotek langsung menyambut resep itu.
“Waah, obatnya kosong,Dek.”
“Trima kasih Uni.” Katanya pada si asisten apt.
Setelah si adek itu keluar dari apotek, aku mengikutinya.
“SMA 1 Padangpanjang yah Dek?” tanyaku, dengan wajah berseri. Sebab, aku begitu menegnali karakteristik dan cara bersikap anak-anak Kampus Birru.
“Iya kak.”
“anak asrama ya? Generasi berapakah?”
“Generasi 12, Kak. Kaka’ SMA 1 jugak yah?”
“Iyah Dek…Kakak generasi 6.” Si adek segera mengulurkan tangannya. Yaah, rasa-rasa kekerabatannya ala anak asrama laaah. Hehe.
Setelah berbincang sedikit, si adek meninggalkan apotek.
“Jangan lupa maen ke asrama yah Kak.” Pesannya.
“Insya Allah, Dek.” Anggukku yakin.

Kutatapi sosok akhwat berseragam putih abu-abu yang tengah berlalu itu. Lengkap dengan mansetnya. Lengkap dengan pin sebuah Universitas Favorit yang tersemat di jilbab panjangnya.

Masya Allah…. Bertemu mereka, mengingatkanku pada masa-masa berbilang tahun yang lalu. Yaah, hampir Sembilan tahun yang lalu. Delapan tahun lebih. Dahulu, ketika aku pernah menjejaki masa-masa seperti mereka. Binar semangat yang tergambar jelas di beningnya sang bola mata mereka. Energy-energi luar biasa. Mereka, yang memancangkan tekad-tekad. Semangat-semangat! Sungguh, aku seperti dikembalikan ke masa itu. Masa berbilang tahun.

Aku, ketika itu. Dengan geliat yang sama. Dengan tekad yang sama pula. Dengan hari-hari yang barang kali juga tak jauh beda! Juga, dengan idealism dan mimpi-mimpi yang hampir sama. Aah…., aku benar-benar merindu.

Siangnya…
Langsung aku menuju kampus Birru Bumi Hijau. Yap, Birru…bukan sekedar biru. Ia bukan saja denotasi dari warna biru gedungnya. Tapi, Birru….! Birru dari akar kata bahasa arab yang berarti kebaikan! Subhanallaah…
Rasaku tetap sama. Selalu sama, setiap menatapi gedung kayu Biru yang di rindangi pepohonan hijau berikut rerumputan yang indah. Masya Allah… Selalu saja ada buncahan rasa yang tak dapat kudefinisikan. Bahwa aku selalu merindu untuk kembali dan kembali ke tempat penuh kesejukkan ini. Sejuk. Begitu sejuk di hatiku.

Aahhh….kampus birru, bumi hijau…
Yang padanya banyak terlahir generasi-generasi cerdas. Generasi-generasi penuh ghiroh. Generasi-generasi Arruhul Jadiid.

Di sini… Ya, di sinilah cinta itu bersemi.
Sungguh, ada banyak cinta yang begitu indah. Begitu indah menyelami setiap Amstrong makna cinta itu di sini.
Tidak berlebihan jika aku katakan bahwa separuh hatiku telah tertambat di kampus birru bumi hijau! Aku sungguh cinta. Sungguh!
Sebab, di sini, awal bermulanya aku berjumpa indahnya Islam….
Sebab di sini pulalah, pada mulanya aku mulai berinteraksi banyak dengan ayat-ayat cinta-Nya…
Di sini, adalah fase transformasi luar biasaku… fase transformasi yang kemudian menjadi kompas dalam hidupku!
Maka sungguh, sedikitpun aku tak ingin melenyapkannya dari ingatanku… sebab, setiap kali mengenangnya, setiap itu pula, ada semangat membuncah yang hadir di hatiku…


Kampus Birru, Bumi Hijau…23 Maret 2011, Asyar…
Read More

Undangan Merah Marun

sekotk coklat undangan
Suatu hari, sebuah kotak merah marun kecoklatan tergeletak di meja. Mulanya, itu kupikir adalah sebatang coklat. Hummm…nyummy… siapa sih yang super duper baik hati ngasi aku coklat? Pikirku. Hehe.

Waouww…rupanya bukan coklat! Melainkan undangan! Waah….waah…. the unique one! Baru kali ini aku berjumpa undangan yang begitu uniknya itu. Unik. Dan berbeda dengan undangan-undangan kebanyakan! Undangan warna merah marun yang terukir dengan tinta emas di di atas sebuah kipas
Undangan...

Hmm…ada pelajaran yang bisa dipetik dari undangan ini…
Pelajaran pertama, kayaknya bisnis percetakkan dan desain, begitu menggairahkan tuh. Ihihihi…#ngaco#
Gak ding! Yangitu sih boljug ya. Cumaa, bukan itu esensinya!

Undangan itu mengajarkan kita tentang bagaimana menjadi yang berbeda. Uhm…menjadi berbeda di sini bukan sensasional. Tapi, menjadi berbeda dalam sebuah arti yang positive.

Jika kita lihat di tipi-tipi, biasanya yang tampil di layar kaca rumah kita adalah sosok-sosok yang memiliki sesuatu yang berbeda. Punya sesuatu yang lebih dari sekebanyakan manusia lainnya. Bisa, lebih cantik. Bisa lebih tampan. Lebih bagus suaranya. Lebih lucu. Lebih cerdas. Lebih komunikatif. Bahkan, juga sosok-sosok dengan wajah dan penampakkan yang ‘unik’. Karena mereka berbedalah, maka mereka dikenali.

Di sini, tentu saja aku tak akan mengajakmu untuk rame-rame meramekan dunia enterteint yang udah kelewat rame itu. Ya tak laaaah! Tak nak! Tapi, jika kita mau belajar, ternyata, mereka itu memiliki sesuatu yang berbeda!

Pun, jika dilihat-lihat, suatu bisnis yang sukses, bukan hanya karena manajemennya oke, tapi, karena mereka memiliki differensiasi yang membuatnya berbeda dengan yang lain. Dan dengannya, mereka memiliki branded. Branded…berarti dikenali…

Maka, menjadi berbeda dalam hal positif itu sungguh memberikan sebuah nilai lebih pada diri kita! Dan, Islam telah memuliakan kita dengan memberikan kepada kita pembeda antara kebenaran dan kebathilan!

Menjadi berbeda itu berarti menjadi golongan yang sedikit. Bukan seperti kebanyakan orang-orang. Dan menjadi berbeda, adalah mencoba menjadi orang-orang luar biasa. Bukan orang-orang biasa saja!

Sungguh, Allah telah bekali kita dengan berbagai potensi luar biasa. Potensi yang mungkin saja dorman karena keengganan kita menggalinya. Potensi yang mungkin mengalami ‘atropi’ sebab kita mengacuhkannya. Sungguh, Allah telah lebihkan kita atas segenap makhluk lainnya. Dan sungguh, Allah telah jadikan kita pemenang bahkan ketika kita masih belum berbentuk. Ya, sebab, kita dilahirkan untuk jadi PEMENANG dan bukan PECUNDANG!

Maannajah!
Berjuanglah!
Don’t give up! Keep moving forward!
Yakinlah, bahwa kaupun bisa! Ya, kau bisa! Karena kau punya peluang yang sama besarnya dengan mereka!
Read More

‘Asa antakrohu syai aa…

“Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu tetapi itu amat baik bagimu, dan boleh jadi menyukai sesuatu akan tetapi itu amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(2 : 216)

Allahuakbar!!
Allahuakbar!!

Ya Rabb, wahai Dzat yang jiwaku dalam genggaman-Mu. Hamba kembalikan segala warna rasa resah, gundah, galau, sedih, patah, dan pilu hanya pada-Mu saja wahai Rabb. Milik-Mu lah Hati ini, dan Engkaulah yang Maha Membolak-balikannya. Wahai Rabb, pinta hamba pada-Mu…gantilah dengan kebahagiaan, kelapangan, ghiroh, semangat baru, ketentraman ya Rabb… Sungguh Rabb, jika bukan pada-Mu…lalu kepada siapa lagi ya Alloh…

Allah… Sungguh, sedari dulu sudah, Engkau berikan hamba limpahan ni’mat kesempatan untuk mencoba berdamai dan terus berdamai dengan hal-hal yang tak disenangi, hal yang pahit dan hal yang menurut hamba tidak baik. Ya Rabb, sering kali, yang terjadi sama sekali tak disukai. Tapi Rabb, sungguh di sanalah terdapat kebaikan yang banyak. Sesuatu yang mungkin kala pertama kali hamba mencecapinya terasa begitu pahit, tapi kemudian berasa sangat manis setelahnya. Ya, sebab…yang begitu yang amat baik bagi hamba-Mu ini. Dengannya, Engkau simpan kebaikan yang berlimpah. Mungkin belum sekarang hamba tahu. Bisa jadi esok, lusa, bahkan hitungan tahun mendatang. Sungguh, segala ketetapan-Mu adalah baik bagi hamba. Ya Rabb, Engkau Maha mengetahui, sedang hamba sama sekali tak mengetahui.

Rabb…
Segala upaya telah dilakukan…
Tapi, keputusan adalah milik-Mu…
Pada-Mu hamba berserah….
Hanya pada-Mu ya Rabb…. Apapun itu, hamba yakin, Engkau PASTI akan memberikan yang terbaik buat hamba-Mu…

Rabb…
Bukan hendak menggugat putusan-Mu…
Bukan pula hendak protes pada-Mu…
Bukan pula hendak berkeluh kesah dengan ujian-Mu…
Tapi Rabb…hamba hanya pintakan, bahu yang kokoh, untuk pikulkan beban ujian…
Hanya itu ya Rabb…

Sebab hamba sangat yakin, bahwa akan ada mentari benderang setelah kabut menyelimut. Bahwa akan ada bahagia setelah kesedihan. Bahwa akan ada senyum setelah air mata. Sebab Engkau tak hanya ciptakan kesedihan, melainkan ada kebahagiaan membersamainya…

Rabb...
Hamba berserah pada-Mu…
Hanya pada-Mu saja ya Rabb…
Wahai Dzat yang maha membolak-balikkan hati…


Kost-ku tercinta, 23 Maret 2011, Ba’da Isya
Read More

Sekuntum Mawar Merah

Ceritera ini seperti judul lagu dangdut yak? Hihi. Dan mungkin ceritanya jugak pasaran. Maksudnya sudah familiar di kalangan orang-orang. Jadiiiii, anggap sahaja kita mangulang kaji lamo!

Hmm…berawal dari kisah mangulang kenangan lamo di wisma. Huwaaah….kangen bet dengan agenda rohis, bikin amunisi dekorasi acara2 kampus dan makan batalam. Dan, akhirnya terpenuhi sudaaah. Kerinduan yang menyesakki jiwaaa…^o^ (lebay!).

Agenda rohis kali ini adalah siroh shahabiyah. Tapi, justru menu yang menarik bagiku adalah session taujih. Taujih, tentang sekuntum mawar merah. (silakan kalo mau dibaca dengan irama dangdut! Wkwkwk…)

Alkisah, di suatu negeri, hiduplah seorang pemuda. Ia menanam sebatang mawar. Ia merawat. Ia membesarkannya, menyirami, memupuki, hingga menjadilah ia sekuntum mawar merah yang sangat indah. Saat merekah itu, sang pemuda berniat memetik sang mawar indah. Namun, tiba-tiba, “awww!!” ia tertusuk duri! Bukan malah memetik si bunga indah, ia justru tertusuk duri. Berdarah. Pemuda itu lantas marah dan mencerabuti mawar itu, dan meninggalkannya.

Yaaah, hanya kisah singkat.(Cuma separaghraf geetoh, hihi). Tapi, mari kita memetik hikmah cerita di atas.

Mungkin sering kali, ketika kita menanam harapan-harapan besar, mimpi-mimpi besar, dan suatu asa di dalam hati kita. Namun kemudian, bunga indah yang kita impian justru menghadirkan duri yang membuat kita berdarah. Membuat kita bersedih. Membuat kita (mungkin) jatuh, terjerembab pada luka.

Memang, tak selalu seindah harapan. Terlalu sering bahkan. Tapii…, jika saja kita mau melihat mawarnya, bukan durinya…darah dan luka menjadi tak berarti apa-apa. Jadiii, sepedih apapun itu…seluka apapun itu….jangan pernah lari dan meninggalkannya. Ambil saja sisi positifnya. Ambil saja sisi positifnya. Bersemangatlah! Sebab, pasti mentari akan bersinar, setelah kabut menyelimut!

Sumangaik!
Sumangaik!
------------------------
sumber gambar di sini
Read More

Refleksi Ke-Nelangsa-an

Hari ini…
Pada satu sisi di hati, menginginkan hilangnya satu paket memory dari satu folder hati. Ingin berlari sejauh-jauhnya. Ingin melenyapkan selenyap-lenyapnya. Bahkan, ingin di satu lokus ingatan itu, menjadi amnesia saja.

Semakin terpuruk, dengan kebodohan dan kehinaan yang diperbuat! Kebodohan yang membuatku, kadang tak mampu menyangga diri, bahkan hanya untuk menegakkan kepala saja, menatap hamparan dunia. Sepertinya pohon-pohon, bebatuan, burung-burung, semut-semut, jalanan, dan apapun itu, tengah mencibiriku dengan kebodohan itu. Mereka menertawakanku. Menertawakan kebodohanku. Bodoh! Bodoh! Dan sangat bodoh!

Ketika aku bersimpuh di depan realita. Tertunduk aku. Sungguh, tak sanggup sedikitpun aku mengangkat dagu. Hanya untuk mengintip cerahnya mentari. Hanya untuk melirik indahnya siluet senja. Aaah, terlalu naïf. Ini adalah lembah paling tragis dalam grafik hidupku.

Semakin terasa. Bahwa aku, sosok dhaif yang digelayuti banyak kesalahan. Kesalahan. Kebodohan, di masa lampau. Kejahiliyahan tindakan! Aku yang tidak ada apa-apanya. Tidak sebaik kau, tidak sebaik dia, dia, dan mereka. Aaahhh….astaghfirullaah….astaghfirullaah…

Namun kemudian.
Ada yang menyangga bahuku. Mengajak untuk berdiri lebih tegap.
Ia adalah harapan baru. Fajar baru. Cahaya baru!
“Duhai, percayalah. Bukankah manusia adalah kandangnya khilaf? Bukankah padanya selalu saja ada kantung-kantung kesalahan? Bukankah adalah sesuatu yang absurb jika manusia tanpa salah? Bukankah?” tanyanya retoris.Ia menyentuh pundakku, dan membuatku harus berdiri tegap.
Sejenak, aku mencoba mengangkat wajah.
“benarkah?” aku meyakinkan.
“benar!” ia mengangguk dengan sangat yakin. “percayalah, insya Allah masih ada harapan! Setiap orang memiliki peluang yang sama untuk memperbaiki kesalahan itu! Jadikan saja ia sebagai ibroh. Jadikan saja ia sebagai cemeti untuk melecuti kesalahanmu, sekaligus melecuti semangatmu!”
“aku terlalu rendah. Aku, bahkan tak lagi sanggup menatapi dunia. Terlalu banyak salahnya. Terlalu banyak.” Kataku pesimis.
“sudahlah!” ia kembali menyangga aku yang terduduk lemas. “penyesalan itu harus, memang. Tapi, tak perlu berlarut-larut. Perbaiki di masa depanmu! Fastabiqul khoirat! Kau punya potensi dan peluang yang sama dengan mereka, untuk mencapai itu! Kau punya peluang yang sama! Tekadkan dalam hatimu, bahwa kelak, kau harus menjadi pribadi yang lebih berkualitas!” ia memandangku dengan lembut, namun aura energy yang dipancarkannya berasa mengaliri darahku.

“the story was ended, and the new story was began! Cukupkan kisah lalu itu sampai disini saja. Dan, Jadikan kisahmu yang selanjutnya adalah kisah terhebat dalam hidupmu! Ingatlah,….semakin berlalu detik, maka semakin berkurang pula jatah hidupmu. Artinya, semakin sedikit kesempatanmu. Jika tak kau isi dengan hal-hal terbaik, lalu, kapan kau akan menambali salahmu? Kapan? Maka, tekadkanlah…bahwa tiada dari langkahmu, kcuali adalah prestasi amalan terbaikmu! Yakinlah, bahwa sesungguhnya, KAU BISA! Kau pasti bisa Fathel! Maannajah!”

“cobalah kau pandangi alam di sekelilingmu. Ternyata, meskipun harapan kau sempat kandas begitu dalam, pecah berkeping-keping, tak mengubah apapun. Langit masih sebiru kemarin. Lautan masih berkilau diterpa mentari. Pasir putih masih terasa lembut untuk dijejakki. Burung-burung masih berkicau dengan merdunya. Tak ada yang berubah, pun tak mencibirimu. Mereka bahkan mensupportmu, untuk lebih mendongakkan wajah, menaklukkan tantangan itu! Taklukkanlah! Patrikan di hatimu, patrikan di langit asamu, bahwa harapan-harapan kandas itu hanyalah satu mimpi kecil saja. Bahwa, sesungguhnya kemenangan yang abadi itu adalah setelah segala sesuatu dibalaskan. Maka, berjuanglah untuk kemengan hakiki itu! Berjuanglah! Bukankah tiada yang kau inginkan selain kemenangan hakiki itu? Lupakan harapan yang telah pecah berderai. Rangkai kembali harapan baru. Sungguh, insya Allah Dia tengah menyiapkan takdir terindah untukmu. Jikapun hari ini menyedihkan, aku berharap esokmu adalah senyum yang manis.”

“segala kejadian telah tercatat. Semua telah dibukukan-Nya di lauh mahfudz. Tiadalah Allah menghendaki kesusahan bagi hamba-Nya. Tiadalah! Jikapun terasa berat, maka itu adalah ujian yang juga berada dalam kadar kesanggupanmu! Peluang besar, untuk naik ke kelas yang lebih berkualitas. tetap semangaaattt, Fathel! Tutup kisah masa lalu, lalu hadapi kisah masa depan, sampai kereta kehidupan menjemputmu menuju alam lain. Maka, tekadkan, bahwa ketika kau menaiki kereta itu, adalah dengan cara yang terbaik. Dengan ending terbaik. Penutup hari-hari dengan amalan terbaik. Maannajah!”

Kali ini aku mulai berani mendongakkan wajah.
BAIKLAH…. AKU AKAN HADANG! AKU INGIN KELAS BERKUALITAS. MAKA akupun akan upayakan, UPAYA YANG BERKUALITAS. tidak seperti kemarin. Esok insya Allah akan lebih baik!”

--------------------
Sumber gambar di sini
Read More

Maret yang Miskin Postingan

Maret yang miskin postingan…
Hufft…meski banyak sebenarnya yang sungguh ingin aku ceritakan. Yang ingin aku curhatkan. Yang ingin aku bagi. Yaah, meskipun tidak kepada siapa-siapa di mayanya dunia, kecuali hanya padamu, Bloggie. Meski aku tahu, bahwa tak banyak yang mengunjungimu, tapi, aku senang saja memuarakannya padamu, Bloggie… Karena, aku sesungguhnya…ini bukan perkara page rank, melainkan hanya sebagai kanal kegundahan dan kebahagiaanku saja. Hehe, cukuplah ini jadi cerita kita saja yah, Bloggie…

Maret yang miskin postingan…
Bukan karena aku tak setia, Bloggie. Aku tipe orang yang setia, loh… bahkan hingga saat ini, detik ini, aku masi setiaaaaa (preeeeettttt!). Tapi keterbatasan akseslah yang membuatku tak bisa meng-kanalkan gundahku padamu, Bloggie… Aku yang begitu jauh dari akses teknologi canggih bernama internet, saat ini… Mungkin, aku kembali ke jaman primitif era awal duaribuan dulu. Heuu….(semoga kau masih memfasilitasi ke-lebay-anku ini,..hihi).

Huuummm,,,
Kau tahu?
Aku dengan ‘keberantakan’, ‘kecuekan’ dan menyenangi ‘kebebasan jiwa’ ini, begitu gulana dengan sesuatu yang bernama kemonotonan. Hidupku, harus punya banyak warna. Dan, aku paling terjajah jika harus dihadapkan dengan intervensi kemonotonan… Tapi, aku harus menghadapi kemonotonan yang membelenggu jiwaku ini, Bloggie. Aku benar-benar tersiksa.

Bloggie, aku ternyata lebih suka menjadi pengangguran seperti kata banyak orang. Yaah, setidaknya saat inilah. Terserah apakah orang-orang akan mencapku sebagai seorang pengangguran, seperti yang sudah-sudah. Tapi, aku menyenangi hal itu, ternyata. Sebab, dengannya aku bisa ber-inovasi sepuas-puasnya, dan sejauh-jauhnya. Aku tak peduli, meski rupiah yang kuhasilkan itu sedikit saja, tapi aku bisa bebas memuarakan segala kreativitas tanpa harus dibatasi oleh mereka, mereka dan mereka. Tetap saja aku terpolar pada apa yang menjadi minatku. Desain, tulis menulis, fotografi, video editting, dunia ajar mengajar, dan segala sesuatu hal lainnya.

Bloggie…
Aku senang sekali jika aku bisa menaklukkan segala apa yang aku obsesikan. Semakin terbuktilah ketika kemauan keras dan teguh, dengan seteguh-teguhnya azzam itu, Allah PASTi akan berikan jalannya, bahkan dengan cara yang tak kita duga. Aku menyenangi hal-hal baru. Dan aku tak suka sama seperti sekebanyakkan orang lain. Mungkin terlalu PeDe jika aku mengatakan bahwa tak biasa menjadi biasa-biasa saja mengingat banyaknya keterbatasan yang kumiliki, tapiiii…..tetap saja aku ingin dan selalu ingin hal yang berbeda. Menjadi golongan yang sedikit itu….

Bloggie…
Aku tahu, setiap keputusan yang kuambil tidak selalu benar… meski, pada mulanya aku berpikir itulah yang terbaik… Tak selalu seindah potret nyata, ternyata… Kembali, aku lagi-lagi harus memilih. Memilih, sekaligus bertanggung jawab dengan segala konsekuensi…

Yah….tentu tak perlu pula ada penyalahan dengan keputusan yang (mungkin) salah. Setidaknya, ini menjadi pelajaran berharga untuk berani bertanggung jawab dengan segala konsekuensi yang menyertainya…. Menjadi pengalaman berharga, ketika suatu saat dihadapkan dengan kondisi yang senada….

Berasa sekali, tentang pentingnya ‘mengkomunikasikan’ dengan Allah setiap keputusan yang akan kita ambil. Boleh jadi, kita melihat sisi itu tak baik pada mulanya, kemudian Allah singkap tabir kebaikan di dalamnya. Allah lebih tahu, melebihi diri kita,tentunya. Tentang yang sudah-sudah…, yah biarlah. Selalu ada PELAJARAN berharga, meski secara materil mungkin kita tak mendapatkan apa-apa. Bahkan, mungkin membuat kita terluka. Atau membuat kita menyesal dengan tindak tanduk kita terdahulunya. Apalagi type orang spontaneous sepertiku ini. Tapi, sekali lagi, TAK PERLU DIPERSALAHKAN! Belajar! Ambil pelajaran berharganya, seburuk apapun itu, sepahit apapun itu, sesulit apapun itu. Yahh, begitulah jika kita ingin menjadi pembelajar sejatilah pada akhirnya. Sebab, belajar bukan hanya melulu textbook tebal belaka, tapi juga dari alam dan kehidupan…

Maret yang Miskin Postingan… Entah hai-hari ke depan… Tak apa lah. Miskin postingan. Keterbatasan akses. Yang penting, jangan sampai miskin pembelajaran. Itu saja. Sebab, begitu banyak hikmah berserakan yang bisa dipungut….

--------------------

 NB : Bloggie = Istilah (kacaw) saia buat sebutan Blog or MyBlog… Hehe…
Read More

Tentang Mereka dan Ketangguhannya

Adalah seseorang yang kecil, tengik, selalu dicemooh dan diperolok banyak orang…
Lalu, Islam dan da’wah yang membesarkannya.ia lantas menjadi pribadi yang begitu tangguh, berwibawa dan disegani banyak orang. Ia….menjadi sosok cerdas yang langkahnya begitu gesit. Ia kemudian menginspirasi banyak orang. Ia menjadi sosok pemimpin yang mengagumkan!

Ada pula kisah lain. Seseorang dengan keterbatasan fisik—jika tidak tega menyebutnya: CACAT—yang kerap dicampakkan dan dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Tapi lihatlah, ketika Islam dan da’wah membesarkannya. Ia menjadi sosok luar biasa dengan motivasi dan semangat yang tinggi. Ia seorang pejuang! Lalu, menjadilah ia pribadi yang berkualitas.

Bahkan orang-orang lupa akan seperti apa masa lalu mereka. Yang terlihat hanyalah ketangguhan. Wajah yang bersih, dan menimbulkan rasa hormat terhadap mereka.

Begitulah…
Ketika kita disibukkan dengan hal-hal sepele, hal-hal kecil. Energi kita akan habis untuk itu saja. Lalu, menjadi sia-sialah ia. Kita tak lagi sanggup melakukan hal-hal besar karena telah terlebih dahulu disibukkan dengan hal-hal kecil.

Mungkin begitulah adanya aku. Telah terlebih dahulu tersibukkan dengan hal-hal kecil. Kemudian, lupa dengan hal-hal besar yang akan kulakoni. Hmm…tapi setidaknya, ini menjadi pelajaran berharga bagiku…. Soal asasement itu apalagi. Hmm….
Read More

Tidak Selalu...

Dalam segala hal, tak ada kesuksesan yang instan, itu pasti.
Yang jelas, harus dimulai dari langkah kecil dulu, dari bawah dulu, harus berpeluh payah dulu.
Jika ia adalah ibarat roller coaster, maka bukan teriakannya yang penting, tapi bagaimana mengikuti alurnya yang naik turun.

Tak selalu seperti yang kita konsepkan..
Tak selalu seperti yang kita pelajari..
Sebab, nyatanya pelajaran realita jauh berbeda…

Jadiii, setiap jenaknya adalah pembelajaran berharga, insya Allah…
Read More

Kulminasi

Huuffft… inilah kondisi paling tragis dalam jiwaku...
Titik kulminasi…
Sungguh…aku tak ingin memilih apapun. Setidaknya untuk sejenak ini…

Tentu aku tak perlu menyalahkan, mengapa setiap kisi hidup selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Pun, tak perlu pula ada penyalahan ketika tidak tepat dalam memilih keputusan.
Setidaknya, aku bisa belajar banyak dari itu semua. Berikut dengan segala konsekuensi yang berada di belakangnya. Ya. Karena memilih akan selalu harus menyertakan konsekuensi…

Aku dan hidupku.
Aku dan titik kulminasi itu.
Aku dan idealisku.
Read More

Ujian Kehidupan

Beratnya beban
Mungkinbanyak yang begitu down, atau begitu terpuruk ketika ujian-Nya datang beruntun. Kadang, kita seperti tak punya kesempatan untuk bernafas lebih panjang, menggenapkan energi yang kita punya, untuk menghadapi berbagai terpaan itu. Kadang, terasa begitu berat, bahkan ingin melarikan diridari itu semua.

Tapi kemudian kita belajar, bahwa hadirnya ujian, hadirnya terpaan yang begitu bertubi, sesungguhnya adalah tempaan. Tempaan agar kita menjadi lebih tangguh. Ini juga menyoal training kesabaran, yang mungkin terlalu mudah untuk digumamkan. Yah, kita mungkin begitu mudah untuk mengatakan, “Sabar….sabar….”, tapi pada kenyataannya, sabar itu tak semudah pengucapannya. Ia butuh latihan. Ia butuh training. Dan ujianlah yang menjadi trainingnya.

Sesungguhnya, beruntunglah orang-orang yang Allah berikan ujian lebih banyak. Sebab ia punya lebih banyak kesempatan untuk naik kelas. Naik ke kelas yang lebih berkualitas. Bukankah jika kita hendak naik kelas, kita harus melewati ujian terlebih dahulu? Dan bukankah, tinggi rendahnya tingkatan kelas itu amat linear dengan tingkat kesulitan ujian ia dihadapi? Tentu saja!

Dan yang jelas, Allah tidak akan membiarkan kita mengatakan diri kita beriman, sebelum Allah memberikan ujian-ujian untuk diri kita. Dan hanya orang beriman pulalah yang baginya semua keadaan adalah kebaikan belaka. Jika itu menyenangkan, ia bersyukur. Dan jika itu tidak mengenakkan, ia bersabar.

Sungguh, jika kita memandang ujian sebagai suatu bentuk in process control, maka insya Allah akan memberikan quality assurance atau jaminan kualitas diri yang lebih mumpuni dari pada memilih untuk melarikan diri dari ujian-ujian itu. Melarikan diri dari ujian-ujian, memiliki arti yang sama dengan membuang kesempatan untuk naik kelas ke tingkat yang lebih berkualitas. Selain itu, jikapun kita bisa melarikan diri dari ujian itu, tetap saja akan berjumpa dengan ujian-ujian lain yang serupa atau dengan tingkat yang sama, hingga kita berhasil lulus dari ujian itu.

Sungguh, Allah maha teliti dalam meletakkan beban ujian di pundak kita. Jikalah ada alat ultra cangggih yang dapat mengukur kadar kemampuan dalam memikul suatu ujian, tentulah skalanya hanyalah akan berada pada batas nilai kesanggupan kita. Jadi, beruntunglah jika ujiannya lebih berat, lebih bertubi, sebab, itu menjadi indikasi bahwa kita memiliki kualitas tinggi untuk memikulnya. Sebab kita sangguplah, maka Allah memilih kita untuk memikulnya. Jadi, kita memang tak punya alasan untuk tidak menaklukkan setiap ujian-ujian yang disampirkan di pundak kita.

Jika pada hati kita sempat terlintas pikiran-pikiran, “Kenapa hanya saya saja yang Allah beri ujian. Si A, si B dan si C, hidupnya tak seperti saya. Mereka pun tak ada ujian-ujian yang memberatkan pundak mereka. Tapi, mengapa saya harus menghadapi ini?”, maka cepat-cepatlah kita melenyapkannya pikiran itu. Sesungguhnya beruntunglah! Beruntunglah Allah memilih kita, sebab Allah telah meluluskan kita pada uji kelayakan untuk memikulnya. Artinya, kita punya kadar kesanggupan untuk melewatinya. Taklukkan ujian ini, dan Dia akan memberi kesempatan kepada kita untuk meningkatkan kualitas diri.

Bersemangatlah!
Sebab, tiadalah yang Allah inginkan pada diri hamba-Nya, melainkan kebaikan belaka…sesulit apapun itu. Maannajah!

---------------------
Sumber gambar : di sini
Read More

Pembenaran, Kebenaran dan Membenarkan

Kali ini aku pengin mengajakmu untuk melihat suatu kondisi ini. Satu hal yang sama atau senada, dengan penyikapan yang berbeda, dan efek yang ditumbulkan sesudahnya. Sebut saja ada dua anak berumur sepuluh tahun, Badu dan Melati, sama-sama diminta oleh orang tuanya untuk mengantarkan sebuah benda berharga ke rumah tetangga jauh. Hmm…benda berharganya kek apah yah?! Emas, misalnya. (hihi, emang ada yah orang tua yang mau nitipin emas ke anak 10 tahun untuk diantar ke tetangga? Hihi….anggap saja ada yah!). Dan mereka berada di lokasi yang terpisah a.k.a tidak bersamaan.

Orang Tua Badu : Nak, tolong anterin ini ke rumah tetangga kita paling ujung itu yaah. Ini benda berharga. Hati-hati yah Nak.
Orang tua Melati : Nak, tolong antarkan ini ke rumah Tante yang di ujung gang itu yah. Hati-hati yah Nak yah, karena ini benda berharga.

Lalu, berangkatlah kedua anak itu ke rumah yang dimaksud oleh orang tua masing-masing. Tak dinyana, ternyata, diperjalanan, keduanya sama-sama tak sengaja menjatuhkan benda itu. Karena bentuknya yang kecil, jadi mereka tidak menyadari bahwa benda itu terjatuh. Si Melati dan Badu, dengan paniknya langsung kembali ke rumah masing-masing, dan mengadukan hal tersebut kepada masing-masing orang tuanya.

Badu (dengan wajah panik dan ketakutan) : “Mamaaaaa……huaaaa…..yang mama titip tadi itu ilang….duuh…bagaimana ini Mamah?”
Mama Badu (langsung ekspressi marah besar): “Tuuuh kaaaaaaaaaaaaaan, sudah mama bilang! Kamu itu harus hati-hati! Mahal tauk, harganya! Di mana mau dicari duit buat menggantinya! Dasar, kamu memang ceroboh!!! Dasar, kamu tak bisa dipercaya! Nyusahin mama aja!”
Lalu si mama mulai menelusuri jejak si anak, untuk mencari, kalau-kalau benda itu terjatuh di jalan. Dan, akhirnya benda itu ketemu. Tapi, dengan susah payah mencarinya.
Mama Badu : “ini nii apa ni? Makanyaaaa…., jangan ceroboh! Lain kali, jangan diulangi lagi ya!”

Di tempat lain,

Melati (juga dengan wajah yang sangat panik) : Bundaaaa, huwaaa…yang Bunda titip tadi ilaang. Deuhh…bagemana dong Nda?”
Bunda (dengan ekspressi kaget, tapi kemudian menguasai diri, dan melihat ekpressi anaknya yang panik dan rasa bersalah yang tinggi) : “Masya Allah? Iya, nak? Hayuuk, kita cari….sebelum lama ilangnya.”
Lalu, mereka menelusuri jejak, dan (sama dengan Badu) akhirnya juga menemukan benda itu, juga dengan susah payah mencarinya.
Bunda : “Nak, ini sudah ketemu. Lain kali, berhati-hati yah Nak. Jadi, kita tidak repot-repot nyari begini. Lain kali, kalau membawa sesuatu, simpan di tempat yang aman yah. Apalagi kalau itu berharga.”

Hehe…kedua kisah di atas, tentu saja fiktif belaka, tapii….lebih kurang dengan kisah senada, banyak orang pernah mengalaminya. Iyah tidak? Setidak-tidaknya sekali seumur hidup, setelaten apapun dia. Heuu…..

Sikap pertama, ketika si Badu panik dan ketakutan, lalu ditambah dengan ekpressi menyalahkan dan me-labelling anak dengan label “cerobh” dan “tidak dapat dipercaya” justru bukan membuat anak lebih baik. Sang anak yang telah terpuruk secara psikologis, dengan kepanikkan yang luar biasa, lalu ditambah pula bebannya dengan penyalahan dan labeling sehingga hal ini menjadi PEMBENARAN bagi si anak, bahwa ia memang demikian. Bahwa ia memang sangat buruk, ceroboh dan tidak dapat dipercaya. Hal ini akan tersimpan di alam bawah sadarnya, sehingga jika suatu saat ada orang lain yang meminta sesuatu padanya atau memberi kepercayaan, ia akan begitu sulit karena alam bawah sadarnya terlanjur melabeling kalau dia itu ceroboh dan tidak dapat dipercaya.

Sebaliknya, sikap kedua, ketika Melati panik, si ibu tidak langsung menyalahkan. Bahkan memberikan proteksi psikologis kepada anak terlebih dahulu. Si ibu yang turun mencari, dan sama sekali tidak mengata-ngatainya. Ketika kondisi psikologisnya sudah aman, baru diberi masukan, lain kali harus berhati-hati. Bukan berarti harus bersikap lunak juga. Pada akhirnya anak akan menyadari di mana letak kesalahannya. Dengan demikian KEBENARAN yang disampaikan, pun akan tersimpan di alam bawah sadarnya. Dengan demikian, berarti ini adalah sikap MEMBENARKAN yang salah tanpa harus melukai sisi psikologis sang anak.

Allahu’alam, secara psikologis ini ada teorinya atau tidak. Hehe. Dan lagi, tentu saja diriku tidak berkafaah dalam bidang psikologi. Hanya saja, kejadian ini, aku merasakannya sendiri. Ketika aku kehilangan sesuatu yang sangat berharga, aku pikir aku akan dimarahi habis-habisan. Tapi ternyata tidak. Ketika itu, ayahku ikut mencarikan terlebih dahulu, melihat kepanikan yang luar biasa di wajahku. Ayahku tidak langsung menyalahkan. Lalu, ketika aku sudah bisa menguasai diri dari kepanikkan, barulah kemudian ayah memberikan masukan, nasihat agar lebih berhati-hati. Nasihat ini kemudian menjadi begitu berkesan bagiku. Dan, pada akhirnya, aku menjadi selalu ingat, jika ada sesuatu yang berharga dan harus ada kehati-hatian menyertainya. Satu kata-kata ayah yang begitu berkesan kala itu, “Ya sudah…jadikan saja PELAJARAN! Biar tidak terulang di masa mendatang.”
Read More

Keep Moving Forward

Kadang, ingin aku tertawa dan menertawakan diriku sendiri dengan ke-idealis-spontan-an diriku. Hee. Begitu menggelikan saja rasanya, ketika begitu menggebu-gebu menggaungkan suatu idealisme, lalu….kemudian secepat itu pula kendur dan menyurut! Lalu, bangkit lagi…dan down lagi. Sangat fluktuatif. Seperti gelombang laut yang menggulung, lalu menghempas di bibir pantai.

Aku dengan idealis spontan-ku.
Pada mulanya aku berpikir, hanya akan mengerjakan apa-apa yang aku senangi saja. Menurutku, mengerjakan apa-apa yang menjadi minatku, insya Allah akan memberikan hasil yang lebih optimal.

Lalu, aku dihadapkan pada suatu pertarungan idealisme dan terdamparlah aku pada sesuatu yang sama sekali tak aku senangi, tak aku minati, tapi harus dijalankan!
Berat?
Ya, tentu saja!

Dunia realita, sama sekali tak seindah dunia idealita. Ketika idealisme itu benar-benar bertekuk lutut di depan realitas…
Berkali-kali aku ingin mundur dan memilih persimpangan lain.
Berkali-kali pula aku ingin menyerah pada tantangan itu.

Tapi, tidak!
Aku tidak akan menyerah!
Face the Challenge!

Semakin kusadari, bahwa membawa idealisme dalam realisme itu tidak mudah. Sama saja artinya dengan kembali belajar dari nol. Tapi, belajar dari nol, itu bukan perkara yang buruk. Setidaknya, ini membuatku kembali HARUS BANYAK BELAJAR dari setiap rekam jejak peristiwa. Meski hanya seperti cecunguk pada mulanya, aku ingin ia kemudian menjadi tempaan…. Sepahit apapun…insya Allah tetap akan ada manis pada akhirnya…

Tidak….
Aku tidak akan menyerah!
Keep Moving Forward!
S.U.M.A.N.G.A.I.K!
Read More

Street Diary [Part 2]

Diari perjalanan lain, dan lagi-lagi menyoal perjalanan. Ini termasuk perjalananku yang cukup ‘buruk’. Perjalanan yang mengalami ‘perencanaan gagal’, dengan total jarak tempuh 200 km lebih. Pertama, angkutan yang penuh (over load) yang membuatku hampir saja harus bergelantungan di pintu bus untuk 40 km perjalanan. Untung saja, ada penumpang baik hati yang bersedia membagi separuh tempat duduknya untukku. Alhamdulillaah... semoga Allah balasi kebaikan beliau.

Lalu, time prediction yang meleset. Aku memprediksikan perjalanan itu akan sampai di suatu tempat di sudut jembatan Ombilin, untuk menunggu ayahku yang datang dari arah Payakumbuh. Ternyata prediksi itu meleset lagi. Dan parahnya, ponsel yang lowbatt membuatku tak bisa memberi tahu di mana posisiku kepada ayah. Tempat spesifiknya tidak bisa diberitahu. Alhamdulillaah...., ada pak polisi baik hati yang kemudian bersedia meminjamkan ponselnya plus memberikan pulsanya untuk melepon ayah. Alhamdulillaah... Smoga Allah balasi kebaikan pak polisi itu. Selama ini image-ku terhadap polisi memang agak buruk. Sebab, aku sering kenak tilang! Hihi.... (ini sentimen pribadi kali yah?!).

Selanjutnya, alhamdulillaah...bersama ayah. Namun, masya Allah, rupanya aku ketinggalan dokumen-dokumen penting dalam sbuah map di bus yang tadinya aku tumpangi! Ada akta notaris, skck asli, kartu pencaker asli, legalisir-an ijazah dan transkrip, kartu keluarga asli. Ngurusnya itu loooh, susahnyaaa luar biasaaa. Howalaaah.... masya Allah. Kali ini aku memang didera kepanikkan yang laur biasa. Sudah 20 menit bus itu lewat. Rasa-rasanya tidak mungkin dikejar. Apalagi bus itu larinya superr kencang. Alhamdulillaah, aku sempat berbincang-bincang dengan seorang nenek tua yang selalu menumpangi bus itu. Beliau bercerita, “nanti bus di anto juga datang”. Dari sana aku tahu nama supirnya adalah Anto. Akhirnya, aku dan ayah putuskan untuk menuju terminal bus itu. Sepanjang jalan, kami mengawasi bus-bus yang lewat, berharap bus itu lewat lagi menuju ke arah kami. Rupa-rupanya tak ada. Sungguh, ini kondisi stress yang menyiksa.

Di sebuah persimpangan, akhirnya kami bagi dua. Ayah ke terminal dan aku menunggu di jalan dan berharap bus itu lewat. Sepanjang perjalanan, si bus itu tak lewat-lewat. Haduuhh....bagemana iniii?! Alhamdulillaah...ayah menemukan supirnya, dan dokumenku ditemukan lengkap!

Pelajaran yang benar-benar full pressure ini kemudian memberikan pelajaran berharga bagiku. Pelajaran paling nyata adalah, agar senantiasa berhati-hati, apalagi dengn dokumen penting!

Plajaran berharga lainnya adalah menyoal tentang kehidupan kita. Tentang pereencanaan. Bahwa, kita memang disuruh untuk menciptakan sebanyak mungkin mimpi lalu, perencanaan untuk mewujudkannya. Tapiii, sering kali perjalanan hidup kemudian tak seindah perencanaan. Segalanya yang terjadi, ternyata di luar prediksi kita. Mungkin kerap begitu. Tapi, begitulah keniscayaan hidup. Bahwa, kita mesti siap juga dengan segala kondisi di luar apa yang kita rencanakan. Bahwa kemudian, selalu saja ada hikmah di balik segala yang terjadi. Ketika kehidupan kita sering menuntut banyak sejuta hal untuk menginginkan sesuatu, tapiii satu hal yang juga mesti kita pahami, bahwa Allah maha mengetahui tentang apa yang kita BUTUHKAN. Bahkan lebih dari sekedar keinginan saja. Maka, dengan segala kondisi, semestinya hanya ada dua penyikapan saja. Syukurrr dan sabarrr! Berat memang...tapii bisa!


Plajaran kedua, sesulit apapun kondisi kita, PASTI selalu ada kemudahan! Banyak kemudahan! Mungkin kita sering menyebut, “untungnya....begini...., untung saja begitu...”. Ini lebih dari sekedar kebetulan belaka. Ia adalah kemudahan-kemudahan yang Allah siapkan! Jadiii, memang hanya bergantung pada-Nya sajalah. Cukup Dia saja. Dan, yakinkan diri, bahwa setiap kesulitan PASTI selalu ada kemudahan.


Plajaran ketiga, penting sekali membangun link dan menjalin silaturrahim... Dalam kisah perjalanan di atas, jika aku tidak mengobrol dengan si nenek itu, barang kali aku takkan bisa menemukan bus itu lagi. Jika kenal namanya, lebih mudah untuk mencarinya. Masya Allah, luar biasanya membangun silaturrahim. Dengan siapapun itu. Sebab, dengannya, banyak sekaliiii kemudahan-kemudahan, dan banyak sekali rizki yang Allah limpahkan. Masya Allah...


Plajaran keempat. Bahwa rizki kita, yang telah Allah gariskan, tetap akan menjadi milik kita, tak akan diambil oleh siapapun, seberliku apapun jalannya. Jadi, kita tak perlu khawatir dengan rizki kita. Iya tho?! Pada mulanya, aku merasa tak begitu yakin, dokumen itu akan ditemukan lagi. Perjalanannya sudah begitu berliku. Menemukan bus di malam hari, dengan ponsel yang mati, bukan perkara mudah. Tapii, karena Allah telah catatkan bahwa dokumen itu masih rizkiku, maka, alhamdulillaah masih membersamaiku kemudiannya. Jadi, seberliku apapun, bahkan mungkin jalan rizkinya tak terpikirkan oleh diri kita, jika memang pada akhirnya adalah untuk kita, maka...kita akan mendapatkannya. Jadiii, tidak perlu khawatir tho?! Takaran Allah sudah begitu pas untuk diri kita!
Read More

Street Diary [Part 1]

Sudah lama juga agaknya aku tak apdet... Sudah maret pula sekarang yah? Heuu... yah, memang begitulah... Aku sesungguhnya pengin banget bisa apdet nih ya. Tapii...., skarang gak seaksesibel dulu. Sudah empat hari tak megang tuts kompi. Dan sepertinya bakalan lama gak bisa updet. Walau begitu..., catatan-catatan masih tertinggal di notebook (bukan netbook loh yah..hihi). Karena, setiap jenak itu punya refleksi sendiri. Jiaaahhh...

Humm...sebenarnya banyak kisah yang ingin aku ceritakan...tentang mimpi, harapan, kekecewaan, optimisme, kemelut, tawa bahagia, tangis kesedihan. Uhm...komplit yah. Hehe.

Baiklah....I’ll start in one locus. Ini tentang perjalanan (lagi-lagi crita perjalanan yah? Hihi). Terasa sangat mengherankan sekali dunia. Di tengah-tengah ‘bencana’, masih saja ada tangan yang tega berbuat nista (ngutip lirik lagunya Ebiet G Ade....hehe). dalam beberapa kali terakhir ini aku mengalami perjalanan yang (lagi-lagi) meninggalkan banyak kesan. Kalau kemarin mengalami pecah ban dan harus menghabiskan 14 jam hanya untuk 180 km, kali ini episodenya lain lagi. Macet berkepanjangan. Mungkin bagi sekebanyakan orang-orang di kota metropolis, macet adalah hal yang lumrah. Tapi, bagi kampung pelosok begini, macet adalah hal yang diluar kebiasaan. Macet ini terjadi karena ada mobil ambruk di sebuah jembatan yang berpalang-palang yang sudah bolong-bolong, dan yang parahnya...hanya jalan itu satu-satunya akses ke kampungku. Jadilah...mau tak mau harus melalui jalan itu.

Di tengah-tengah jalan yang bolong-bolong, jembatan yang rusak begitu, masih saja ada yang tega-teganya menydodorkan kotak meminta (lebih tepatnya : memaksa) para pengguna jalan untuk membayar retribusi yang seharusnya tak dibayarkan. Katanya untuk perbaikan jalan, tapi mereka tak melakukan apa-apa. Mereka menjadikan kerusakan jalan sebagai sebuah mata pencarian. Sungguh miris!

Waktu itu, aku satu angkutan dengan rombongan guru-guru SD yang hendak mengikuti suatu seminar di sebuah universitas negeri di kota Padang. Dan aku menjadi ‘pendengar setia’ atas ceritera-ceritera panjang mereka. Heuu....
Guru 1 : insya Allah kita akan sampai di Padang, jam berapapun itu! Kita harus mengikuti seminar itu
Guru 2 : halaaaah....seminar aja jam setengah sembilan. Ini sudah jam sebelas. Mana mungkin kita bisa sampai di Padang yang jaraknya aja 100 km lagi! Paling sampai di sana, juga udah selesi
Guru 1 : insya Allah bisa! Setidaknya ada sedikit saja ilmu yang bisa kita peroleh di sana!
Guru 2 : mending balik saja deh. Gak mungkin niiih, kita bisa ikut. Itu tuh, mobil-mobil aja tidak bergerak!
Lalu, setelah kendaraan itu melaju dan terlepas dari kemacetan. Dialog lain pun berlanjut.
Guru 1 : insya Allah, dzuhur kita bisa sampai di kampus itu.
Guru 2 : halaaaah....paling juga di Sitinjau Lauik (sbuah daerah perbukitan di sudut kota Padang) juga macet lagi.

Hehe, dialog ini tentu saja tidak sesuai dengan redaksional yang sesungguhnya. Tapi, lebih kurang begitulah kira-kira.

Uhm....dari dua penyikapan pahlawan tanpa tanda jasa di atas, sebenarnya ada plajaran yang bisa kita ambil. Setidaknya, itu yang kudapatkan. Ini menyoal bagaimana mempersepsi hidup apakah dengan polarisasi optimis, ataukah dengan polarisasi pesimis.

Kedua guru itu sama-sama berada di kondisi yang sama. Sama-sama di tarvel yang sama. Sama-sama dihadapkan dengan kondisi yang sama. Tapi dengan penyikapan yang berbeda. Mari kita simak dialog-dialog itu sekali lagi. Guru 1 senantiasa berupaya untuk optimis. Selalu memandang sisi dan kondisi itu dengan sikap-sikap yang positif. Sementara, guru 2 memandang sisi dan kondisinya, melulu dengan hal-hal negatif yang mematahkan semangat.

Pelajaran berharga. Sebenarnya, kondisi sesulit apapun itu....tergantung bagaimana kita menyikapinya. Jika kita menyikapi dengan sikap positif, maka, setidaknya, kita masih punya energi positif untuk terus mengarungi segala rintangan dan tantangan. Kendatipun pada akhirnya, tidak seperti apa yang kita harapkan, tapi setidaknya, kita tidak membuat pikiran kita kisruh dengan hal-hal yang melemahkan semangat. Jika disikapi dengan sikap negatif, pesimis, maka kita mengalami kerugian dua kali. Ibarat vektor, maka vektor negatifnya terus diperpanjang.

Semoga ini jadi pelajaran buat kita dan buat diriku terutama, untuk (berlatih) bersikap positif atas kondisi apapun itu. Yah, butuh latihan memang. Tapi, kita bisa, insya Allah.
Read More