Ketika Air Mati

Malam itu jam setengah 12 tiba-tiba air ledeng di rumah kami mati. Sementara kami sama sekali tidak menyiapkan persediaan air karena memang air jarang sekali mati di building tempat kami tinggal.

Tetangga yang kebetulan di rumahnya terletak bunker air sebenarnya sudah memberi warning agar memesan air tangki karena kemungkinan besar air akan habis. Tapi, aku sama sekali tidak kepikiran untuk menyetok cadangan air. Berpikir bahwa cadangan air di bunker bawah tanah ataupun di tangki atas in shaa Allah masih cukup. Merasa aman. Merasa masih ada waktu.

Lalu tiba-tiba, tengah malam pula, air perlahan penyusut hingga tak setetes pun mengalir lagi. Benar-benar mati total. Sementara perbekalan air tidak ada sama sekali. Ya Allah...


Aku jadi merenung, tentang perumpamaan kehidupan dunia ini, perbekalan menuju kampung akhirat dan juga kematian yang datang secara tiba-tiba. Sama seperti kejadian air mati tersebut, yang tiba-tiba. Begitu saja. Jika ada perbekalan yang cukup, sungguh akan membuat hati menjadi lebih tenang. Sementara, jika tidak ada perbekalan sama sekali, maka ini membuat panik. Tidak ada apa-apa. Sementara perbekalan itulah yang kita butuhkan. Air adalah kebutuhan vital tentunya. Naifnya, sudah diingatkan bahwa air akan mati, tapi masih saja bersantai, tidak melakukan persiapan dan menganggap masih ada waktu, merasa aman-aman saja.

Ahh, begitu juga kematian yang datang tiba-tiba. Bagaimana jika ia mendatangi kita di saat sama sekali tak ada perbekalan yang kita siapkan? Bukankah sudah datang banyak peringatan tentang itu? Mengapa masih menuruti hawa nafsu dan bisikan "tenang, masih ada waktu, masih muda, masih sehat ..." dan merasa aman dengannya. Bersantai-santai. Padahal ia datang tidak hanya pada yang tua, pada yang sakit, pada saat pandemi saja. Tapi di setiap waktu, di setiap keadaan, di segala usia. Sungguh, merugilah ... merugilah jika kita berada di kondisi di mana tiada perbekalan sedikitpun menuju kampung akhirat. Na'udzubillaah.

Jika di dunia, masih biasa disiasati. Air yang nati, masih bisa dipesan lewat mobil tangki keliling. Bagaimana jika kita sudah sampai ke alam barzakh? Bukankah kita tidak bisa lagi kembali ke dunia menjemput perbekalan yang telah kita lalaikan.

Sebuah renungan dan nasihat untuk diri sendiri terutama.

0 Comment:

Post a Comment

Feel free to accept your comment. Spam comment will be deleted and blocked