Menakar Dunia di Hati

Ini adalah sekedar refleksi diri. Catatan singkat pencarian rumah tempat tinggal kami di Khobar/Dhahran seminggu lalu dan hikmah di baliknya.

Alhamdulillaah, Allah takdirkan di tahun ke-13 di Riyadh ini untuk kemudian pindah ke timur Arab Saudi (eastern province). In shaa Allah akan aku ceritakan di postingan selanjutnya.

Aku hanya ingin sedikit melakukan refleksi diri ketika memilih antara 2 rumah yang terakhir yang menjadi pilihan kami. Sejujurnya, cerita mencari rumah untuk tempat tinggal kami di Khobar ini sangatlah panjang. Hampir tiap hari muter-muter Khobar dan Dhahran sambil mengecek aplikasi Aqar. Ketika pilihan kemudian mengerucut pada dua rumah terakhir yang kami istikharahkan; ada sedikit refleksi bagiku.

Di antara dua rumah tersebut, salah satunya adalah compound kecil. Tidak seperti compound pada umumnya yang besar, punya manajemen sendiri dan prosedurnya mungkin lebih banyak, rumah yang kami tuju ini lingkungannya tidak sebesar itu. Tapi tetap ada fasilitas seperti kolam renang, gym, playground dan istirahah kecil yang bisa dinikmati secara free bagi penghuni compound tersebut. Sejujurnya, aku langsung "jatuh cinta" pada pandangan pertama ketika kami survey rumah ini. Minimalist dengan 2 kamar. Cukup besar untuk kami sebenarnya. Dan secara harga, masih masuk budget.
Rumah satunya lagi adalah apartemen biasa tanpa fasilitas seperti kompon kecil di rumah pertama. Tapi secara ukuran, rumah yang ini lebih besar dengan 3 kamar. Dan secara usia, rumah ini juga lebih tua. Tapi, masih bagus alhamdulillaah dan kami juga suka dengan rumah kedua ini.


Tapiii, sejujurnya jika disuruh memilih tentu aku akan memilih rumah yang pertama. Tentu sajaa... Manusia itu tentu memiliki kecondongan hati pada sesuatu yang lebih bagus, dengan fasilitas yang lebih baik. Normal. Wajar.

Tapi, sayang sekali, approval dari pemilik residence yang di rumah pertama tidak kami dapatkan karena family dengan 4 anak harus menempati apartemen dengan 3 kamar tidur. Dan apartemen dengan 3 BR ini selain ga available (di app aqar) juga out of our budget hehe. Dan lagian, 2 kamar sebenernya bagi kami sudah sangat cukup karena anak-anak akan tidur di 1 kamar aja. Jadi, 3 kamar itu agak sedikit "mubadzir". Paling bisa dijadikan perpus mini anak-anak sama ruang kerja aja.
PS: kalo di Indo, punya anak berapa aja biasanya ga ada urusan sama owner pemilik rumah kan yaa.. Yang penting penyewa bayar tepat waktu. Hehe.
Kalo di sini ternyata mereka sangat memperhatikan jumlah anggota keluarga. Kalo anak 4, ga boleh sewa apartemen 2 kamar di perumahan tertentu. Padahal kita kan bayar bukan minta tinggal di sana gratisan hehe. Lagian, kalo secara bisnis, mending ada yang nyewa kan ketimbang rumahnya dibiarkan kosong aja gituu. Tapiii, beda negeri, beda budaya. Kita pun harus menghormati budaya di mana kita tinggal.

Tapi aku jadi refleksi diri. Sekaligus ingin mengingatkan diri sendiri. Ingin menakar, seberapa besar kah dunia ada di hati ini? Apakah ada terselip niatan lain ketika ingin menempati rumah yang "luxury"--semisal merasa lebih dari orang lain alias kesombongan tersembunyi?

Wahai diriku, seberapa besarkah porsi dunia ini menempati bilik di hatimu?! Seberapa besarkah kecondonganmu terhadap dunia ini?!

"Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberikan rezeki yang cukup, dan merasa puas (qanaah) dengan apa yang Allah berikan kepadanya." (H.R. Muslim)

"Makan dan minumlah, berpakaianlah, serta bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan tanpa sifat sombong." (H.R. Abu Daud)

Sungguh, pakaian, makanan, tunggangan/kendaraan, rumah, ilmu, dan apapun kelebihan yang ada pada dirimu, memiliki potensi untuk menyebabkan kesombongan dan meremehkan orang lain meskipun hanyalah samar dan sebesar dzarrah saja. Maka, periksalah hatimu wahai diriku. Periksalah. Janganlah engkau masukkan dunia ini ke dalam hatimu. Dan janganlah engkau berlebih-lebihan terhadap dunia ini wahai diriku.

Tiadalah apapun di dunia ini, melainkan sesuatu yang fana. Dan apa yang engkau miliki dan kelola hari ini, akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hari di mana semua manusia berdiri di pengadilan-Nya. Sudahkah engkau bersiap untuk itu?

#Nasihat Untuk Diri Sendiri
#Karena aku masih belum baik

0 Comment:

Post a Comment

Feel free to accept your comment. Spam comment will be deleted and blocked