New Chapter of Life in Dhahran

Suatu ketika, kami berkunjung ke Ithra. Lebih tepatnya ke perpustakaannya karena alhamdulillaah anak-anak sangat suka membaca. Jadi mereka ingin menghabiskan beberapa jam di sana. Dan itu adalah kunjungan pertama kami kala itu.
Tiba-tiba, terlontar celetukan kecil "kalau kita jadi penduduk Khobar/Dhahran, kayaknya kita bakalan ke perpus (ithra) ini tiap pekan kali ya...". Tapi, saat itu sama sekali tidak pernah terbayangkan akan menjadi penduduk Khobar/Dhahran. Sama sekali. Hanya sekedar celetukan saja tanpa sedikit pun ada sketsa kehidupan yang terlukis di kanvas rencana.

Bermula dari celetukan kecil itulah, ternyata Allah menjadikannya wujud nyata. Allah pilihkan negeri ini menjadi episode selanjutnya. Ia menjadi salah satu chapter yang--in shaa Allah--akan kami jalani setelah menghabiskan sekian masa di kota Riyadh.


Sungguh tidak mudah meninggalkan kota Riyadh dengan segenap kenangannya. Sama sekali tak mudah.
Setiap sudut kota ini penuh memori. Gedung-gedung dan towernya. Tamannya. Metronya. Jalanannya. Rumah (kontrakan) kami yang pemiliknya baik. Teman-teman dan ukhuwahnya.
Bahkan aku menghabiskan waktu terlama selama hidupku di kota ini. Lebih lama dari pada aku tinggal di kampung halaman sendiri. 

Di Riyadh, semua anak-anak kami lahir. Dan bagi anak-anak, inilah "kampung halaman" mereka. Tempat mereka bertumbuh dari bayi hingga mendekati remaja. Dari bermain di rumah hingga bersekolah. Bagi mereka mungkin lebih berat (dibanding kami) untuk meninggalkan kota kelahiran mereka ini. Ada air mata dan tangis ketika mereka mengetahui bahwasannya mereka akan meninggalkan Riyadh.

Alkhair khairatullaah...
Yang terbaik adalah pilihan Allah.
Maka di tempat baru inilah Allah memantapkan hati kami untuk episode hidup selanjutnya. Semoga Allah ridhoi dan berkahi setiap langkah. Pertambahan usia, waktu dan kesempatan, maka harapan kami semoga juga adalah bertambahnya kebaikan.
It's not "good bye".
It's "see you again, in shaa Allah."

Pada akhirnya, dunia bukanlah tempat tinggal yang kekal. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita pasti akan meninggalkan dunia ini. Di belahan bumi mana pun kita berdomisili, kita pasti akan pindah ke alam berikutnya. Meninggalkan semuanya. Semuanya. Kecuali amalan semata. Maka, kebahagiaan dan kesuksesan yang sesungguhnya adalah ketika kita berada di tempat yang tiada lagi kesedihan, perpisahan, dan perpindahan. Abadan. Dan itulah yang menjadi cita-cita tertinggi kita.
Read More