Pemanggul Timbangan

Sudah lamaaa sangadh tidak meng-uplod sesuatu di blog ini yaah? Baiklah... Maafkanlah aku, Bloggie.
September ini adalah bulan yang menyenangkan. Bisa menghabiskan waktu bersama seseorang yang dicintai itu sungguh istimewa, setelah 4 bulan kurang lebih tak bersua. Maka, alangkah lebih baiknya mengoptimalkan 3 minggu yang istimewa ini bersama si dia. Itulah alasannya mengapa blog ini sangat sepi dan tidak aku sambangi. Maaf Bloggie, aku menomorduakanmu. Karena dia lebih utama dibandingkan dirimu, Bloggie. Hehe... :D

Sebenarnya sungguh banyak yang ingin kubagi. Tapi aku lagi terkena syndrome eM kuadrat. Malas Menulis. Beuhhh... Parah nian yaah?
Hingga kemarin sore, aku menjumpai pemandangan yang sungguh membuat aku tertegun. Di kawasan Kober, Depok tepatnya.
Dulu ketika aku baru pertama kali berdomisili di kota Belimbing ini, aku sungguh heran mendapati banyak hal yang tidak biasa kujumpai. Di kampungku, tak ada mesin jahit keliling, tak ada tukang sol sepatu keliling, tak ada tukang remot keliling, tak ada tukang jual emas keliling, tak ada tukang gas keliling dan lain sebagainya. Yang paling membuatku heran adalah tukang jahit keliling dan tukang emas keliling. Ga kebayang ajah sebelumnya, ada orang yang menarik mesin jahit pakai sepeda, menawarkan jika sekiranya ada di antara penduduk komplek ada yang bolong celana atau bajunya. Ga masuk akal juga dengan tukang emas keliling yang jualan emas dari gang ke gang. Aku berpikir itu sangat aneh. Sampai akhirnya terbiasa mendapati hal itu...

Namun, aku kembali dibuat heran dan sungguh tertegun melihat sesosok bapak tua renta memanggul timbangan. Menjajakan timbangan dari gang ke gang. Dan di Kober lah aku bersua dengannya.
Jangan bayangkan aku akan membeli timbangan yaa. Tidak! Si Bapak itu memanggul timbangan berat badan untuk kemudian menawari orang-orang menimbang berat badannya. Sekali menimbang bayar sekian rupiah. Dan itulah yang membuat aku heran sekaligus iba. Ini baru pertama kali aku jumpai. Dan ditambah lagi bapak itu sudah tua renta. Dan lagi, jarang sekali orang berminat menimbang berat badan dengan timbangan yang dijajakan dari gang ke gang itu. Sepanjang pengamatanku di gang itu, tak satu pun meminati timbangannya.


"Neng, timbangan?" si bapak renta menawarkan. Aku berpikir sejenak, sebelum akhirnya menganggukan kepala. Sesungguhnya aku tak butuh menimbang berat badan. Toh, anak-anak sekosan kebanyakan pada punya timbangan dan tinggal nimbang gratis. Hehe. Tapi, ini bukan lagi menyoal butuh atau tak butuh, mungkin.

Sore Depok yang cerah mendadak menjadi sendu. Masih kuperhatikan si bapak renta pemanggul timbangan berjalan tertatih sebelum akhirnya aku keluar dari gang itu. Namun wajahnya sumringah setelah mendapat 'pembeli' seperti membayar letihnya.
Sungguh, kadang kita lupa bersyukur.
Kadang kita lupa bersabar atas ujian-Nya. Padahal, di luar sana, banyak orang yang diuji dengan mataujian yang jauh lebih berat.

2 comments:

  1. Jadi teringat beli jagung penglaris...syukran Zaujatiy...

    ReplyDelete
  2. Iyaaa Udaaaa, sebelum ke greatwall kan uda yaaah....

    jd banyak muhasabah... SYukran for everything Zaujiy...

    ReplyDelete

Tafadhol, jika ada pendapat lain, masukan, tambahan, kritikan dan saran, hehe, ayuuh... di kasi comment...^^
(jangan lupa pilih salah satu profil yg koment yah. biar termoderasi. jangan anonim. okeh? ^^)