Melabuhkan Tujuan

Rasanya sudah agak lama tidak menyambangi blog. Kangen niih. Tapi, berhubung akses internet amat sangat terbatas (aku hanya menggunakan fasilitas warnet atau kalau mau gratis tinggal datang ke perpus pusat duduk manis di depan Mac dan mulai searching seperti yang aku lakukan saat ini dan mengetikkan posting ini, hehehe).

Sudah banyak berseliweran hal-hal yang mau dituliskan. Peristiwa yang bikin miris dan membuka mataku bahwa menyedihkan sekali sang 'pahlawan divisa' diperlakukan--menurutku--bukan seperti manusia. Kisah Margonda dengan wisata kuliner yang menyenangkan. Kayanya--masih menurutku--kuliner di Margonda memang super duper komplit dan variatif. Setidaknya, banyak dari kuliner-kuliner itu yang tidak kutemukan di kampungku. Kisah perjalanan ke Tangerang yang hepi. Kisah bocah kocak yang bawel tapi kemudian tiba-tiba anteng dipangku di kereta. Kisah tempat duduk prioritas yang diembat orang-orang tak berhak yang kemudian pura-pura tidur, lalu membiarkan elderly passenger, pregnant woman, woman with child dan passenger with handycapped berdiri dengan penuh perjuangan dan mempertahankan keseimbangan dengan susah payah. Dan buanyaaaakkk lagii. Sayangnya, ketika idenya mencuat ke permukaan, aku tidak punya akses untuk mengetikkannya di blog. Lha, giliran punya akses (seperti sekarang ini, duduk manis di depan Mac setelah berkelana kian kemari untuk menemukan komputer yang ada akses internetnya, hehe), malah idenya menguap entah ke mana langitnya (bukan rimbanya loh yaaa...).



Baiklah, mari kita bercerita lepas saja. Sekarang temanya, "Tuliskan Apa yang Dipikirkan", bukan "Pikirkan Apa yang Dituliskan", jadi ini cuma menulis saja apa yang terlintas. Hehehe...
Kemarin, untuk tujuan yang ga jelas dari Mall Taman Anggrek, aku dan sahabatku, Uul, memutuskan untuk naik busway saja. Awalnya kita memutuskan untuk ke Istiqlal saja menunaikan Dzuhur. Tapi ternyata rute busway ke Istiqlal dari MTA mestilah transit dari Semanggi ke Benhil. Masalahnya, transit Semanggi-Benhil itu adalah rute yang kami hindari karena mesti jalan kaki lebih dari setengah kilometer. Akhirnya kami memutuskan untuk transit di Kuningan saja. Niatan yang awalnya ke Istiqlal diganti dengan ke Manggarai. Akhirnya kita menuju Dukuh Atas untuk kemudian transit ke Manggarai. Eh ternyata, kita naik busway yang koridornya bedaaa (yaa emang asal naik sih gak pake nanya dulu, hihi :D), dan kemudian jika hendak ke Dukuh Atas dulu mesti transit lagi. Okeh akhirnya kita transit lagi, ganti busway. Eh ternyata buswaynya lewat manggarai. Alhamdulillaah... Melihat kebimbangan yang nyata di wajah kami, akhirnya sang petugas bertanya, "Emangnya mau turun di mana sih?" Trus aku ragu-ragu untuk melangkahkan kaki di Shelter Manggarai. "Emmm.... Pramuka, Mas." Jawabku. "Ohh, masih di depan." Akhirnya kami tidak jadi turun di Manggarai dan malah ikutan lanjutttt, sampai akhirnya kami turun di shelter Pasar Genjing. Setelah 4 kali transit akhirnya kami menemukan shelter tempat berlabuh. Hihi, emangnya kapal laut apa? Pake berlabuh segala. Heuheu...

Ada pelajaran berharga yang kuperoleh dari kisah 4 kali transit di atas. Sedari awal, kami memang tidak menetapkan tujuan yang jelas yang kemudian berakibat kebingungan di tengah jalan mesti turun di mana dan transit di mana. Pada perjalanan di atas, kami memiliki tujuan yang bimbang. Awalnya istiqlal, lalu berganti manggarai, dan akhirnya pasar genjing. Sempat di tengah jalan kita berpikiran ke monas saja. Nah, dengan tujuan yang tidak jelas begitu, akan membuat kita bingung melangkah dan menentukan pilihan. Jika saja sedari awal kita sudah menetapkan tujuan, misal Istiqlal, maka kita pun akan menentukan rute apa yang akan kita tempuh nantinya, transit di mana, dan turun di shelter apa. Kita akan fokus dengan tujuan tersebut dan tidak lagi berpindah-pindah jalur. Pun begitu dengan hidup ini. Tanpa tujuan yang jelas, dapat dipastikan kita akan kebingungan menentukan langkah, hendak ke mana? Akan dibawa ke mana hidup kita ini? Jika tujuan kita tidak jelas, maka kita akan menjalani hidup ini dengan penuh keragu-raguan dan tidak memiliki arahan yang jelas tentang bagaimana kita beroleh capaian dari si tujuan tersebut. Sebaliknya, dengan tujuan yang jelas, kita akan 'terpandu' untuk menujunya dan kita tidak ragu-ragu dalam mengambil sikap, tindakan, pilihan tentang apa yang akan kita tuju tersebut. Ya, ini nasihat untuk diriku terutama :)

0 Comment:

Post a Comment

Tafadhol, jika ada pendapat lain, masukan, tambahan, kritikan dan saran, hehe, ayuuh... di kasi comment...^^
(jangan lupa pilih salah satu profil yg koment yah. biar termoderasi. jangan anonim. okeh? ^^)