Apel Sepuluh Ribu

Sedari dulu, aku menginginkan apel sepuluh ribu itu.
Tapi, aku hanya bisa memandanginya jadi kejauhan.
Apel itu berada di etalase yang tinggi, bagus, dan tak sembarang orang dapat membelinya.
Hanya mereka yang punya duit sepuluh ribu atau lebih yang dapat bisa mengantonginya untuk dibawa pulang.

Hingga kemudian, ketika aku benar-benar menginginkan apel sepuluh ribu.
Kulirik di tangan, hanya ada seribu. Tapi, apelnya sepuluh ribu!
Meski aku tau, aku mungkin takkan dapat membelinya, tetap kucoba menawar.
Tapi, apa?
“Maaf ya, duitmu hanya seribu dan apel ini harganya sepuluh ribu.” Itulah yang kudengar jawabannya.
Dan di saat yang bersamaan, seseorang melenggang dengan anggunnya. Mengeluarkan lembar seratus ribu dari dompetnya, dan segera memboyong si apel sepuluh ribu.
Tinggallah aku yang terbengong, menatap kepergian si pelenggang anggun dengan apel sepuluh ribu(ku).
Aku sedih. Terasa begitu pilu.
Mungkin karena aku hanya punya seribu, tidak sepuluh ribu… Dan pembeli itu, dia bahkan punya lebih dari seratus ribu!

Dalam keputus-asaan, kembali kutegakkan wajah…
Dan aku berjumpa dengan apel sepuluh ribu lainnya!
Juga di etalase yang tinggi!
Sama-sama sepuluh ribu!
Tapi, lagi-lagi aku hanya punya seribu.
Tak cukup untuk membeli apel sepuluh ribu…

Aku tergugu.
Lalu pergi, meninggalkan etalase apel itu.
Aku tak ingin lagi apel sepuluh ribu.
Sebab, sampai kapan pun, aku mungkin takkan pernah bisa membeli apel sepuluh ribu, jika duitku hanyalah seribu.

Mungkin adalah lebih baik bagiku,
Mengumpulkan duit hingga sepuluh ribu, dari pada hanya berharap apel sepuluh ribu tapi dengan duit seribu. Sebab itu terlalu jauh dari mungkin.
Mengumpulkan duit sepuluh ribu, bahkan lebih! Ini lebih baik.
Sungguh!
Sebab, hanya dengan cara itulah, aku bisa membeli apel sepuluh ribu…

Aku, dengan duit seribu…
Kali ini, tak lagi mengharapkan apel sepuluh ribu.
Karena aku, lebih ingin mengumpulkan duit sepuluh ribu  atau lebih.
Bukan lagi karena aku ingin apel sepuluh ribu saja, karena ianya menjadi niscaya setelah sepuluh ribu ada di tanganku. Tapi karena aku ingin, dompetku terisi penuh tak hanya dengan sepuluh ribu, tapi lebih!

0 Comment:

Post a Comment

Tafadhol, jika ada pendapat lain, masukan, tambahan, kritikan dan saran, hehe, ayuuh... di kasi comment...^^
(jangan lupa pilih salah satu profil yg koment yah. biar termoderasi. jangan anonim. okeh? ^^)