Apoteker Galau

Dahulu, aku pernah cerita tentang dokter yang emosional habis, kala aku menanyakan resepnya kan yah? Ternyata, hal ini juga dialami oleh banyak farmasis lainnya. Kesiaaaann…
Farmasis dianggap sebagai “corpus alien” (baca : benda asing) dalam tubuh medis sehingga sel fagositosis segera mengejarnya lalu membentuk magrofag dalam rangka pertahanan diri. Waaahh….ck..ck..ck… kesiaaan. Tapi, beginilah kenyataan bicara. Bahwa farmasis Indonesia masih dianggap benda asing yang keberadaannya di bangsal (bukan di depo loh ya) dianggap sebagai pelengkap penderita saja. Tak berguna! Sia-sia!
Kasarnya begini, “Heh lu, farmasis. Lu cukup ngurusin distribusi dan pengadaan obat ajah tuh. Masalah bener atau tidaknya obat, biarin deh jadi urusan kami. Emang lu tau apa?”
Deuhhh…kasian bener tuh…

Terjadinya hal seperti ini, bukan tanpa sebab. Oleh karena farmasis itu sendiri yang sebenarnya tak mengusai farmakoterapi. Padahal, farmakoterapi ini adalah sesuatu yang bener-bener amat sangat penting untuk dikuasai untuk bisa ‘protes’ eehh…intervensi maksudnya. Kan gak lucu tuh, farmasisnya intervensi tapi ESO ajah kaga ngerti. Barabeee banget tuuhhhh…

Kalo dulu, dokter itu marah-marah, kurasa juga hal yang amat sangat wajar. Sebab, dia berhadapan dengan seorang farmasis (ecek-ecek) sepertiku yang ilmu farmakoterapinya masih jauuuhhh dari baik. Yaah…boleh saja dia marah. Tapiii, ini semua jadi tantangan tersendiri bagiku untuk membuktikan kalo farmasis juga manusia (ya iyalaaaah manusia, cuy! Hihi…). Maksudnya, membuktikan kalo farmasis BUKANLAH corpus aliance yang keberadaannya hanyalah jadi sampah medis saja. Aku kepingin buktiin pada dunia, bahwa farmasis klinis juga semestinya berkontribusi dalam penanganan pengobatan untuk kualitas hidup pasien yang lebih baik lagi, insya Allah… Bukan gaya-gayaan. Bukan pula karena ingin eksistensi kita diakui. Bukan juga karena nunjukin kalo kita ndak bego-bego amat. Tapi, ini lebih ke patient oriented. Kebahagiaan seorang farmasis klinis adalah equivalen dengan seberapa banyak pasien yang dapat dia atasi masalah obatnya atau DRUG RELATED PROBLEMNYA… Sebab, kita juga ndak perlu menutup mata kan yah? Bahwasannya tingkat DRP (drug related problem) di Indonesia masiiiiih sangat tinggi (ini menarik buat dijadiin tesis keknya…hihi). Kita juga ndak perlu menutup mata kan yah, dengan adanya pola peresepan yang bukan EBM (evidence base medicine) akan tetapi  ‘base on pharmaceutical industries’, ‘base on tawar menawar antara si dokter sama perusahaan obat tertentu’ yang hanya karena mengejar tiket PP Amerika-Indonesia, resepnya jadi tak rasional. Meski ndak semua dokter begitu, tapiii…ini bukan berarti tak ada. Apalagi pasien yang lugu-lugu dan telah menggantungkan kepercayaah sepenuhnya pada si dokter. Ini paling gampang deh buat ‘dikibulin’. Vitaminnya ajah bejibun. Mahal-mahal pulak. Padahal, indikasinya mungkin saja ndak ada, tho? Meskipun banyak dokter yang baek-baek juga, tapi yang beginian bukan pula tidak ada, kan yah? Intinya, peran kita di sini adalah menyoal PHARMACEUTICAL CARE, yang di Amrik sono ajah udah mulai taon 1950’an. Lah, kita?? Ini niiih, baru mulai era 2000-an. Yaah, walau telat, tapi emang harus dimulai! Hup! Hayuuu semangaaaattt yuuuk…

Jadi, bagaimana doooong?!
Kita tak punya pilihan lain selain  HARUS MENG-UPGRADE DIRI, meng-upgrade pengetahuan kita, tentang farmakoterapi terutama… Mulai dari patofisiologinya hingga ke terapinya. Mau tak mau, HARUS! Jika tidak, yaah…kita bakalan terus-terusan begini, tho?! Jadi, MAU tak MAU, harus MAU! Satu lagi yang mesti dicatet, ini juga tak mesti kita dapatin dengan kuliah, tho? Selama kita mauuuu belajarrrr, kita bisaaaa belajar dengan sarana apapun. Lagian, internet sekarang mah sudah ada di mana-mana, kan yak? Jadiii, tak ada yang sulit selagi kita mau!!

Selain mengusai farmakoterapi, kita juga mesti jago dalam hal komunikasi. Ya, bagaimana membangun komunikasi interdisciplinary…. Karena, sepinter-pinternya kita, kalo ndak bisa bangun komunikasi yang baik, juga gak bakalan berguna. Tetep ajah deh, dianggap sebagai corpus alience (kali ini ditambah dengan ‘sok tau’) hihi… Jadiii, membangun komunikasi itu sangat pentiiiiiing! Jangan maen intervensi ajah dong, tapi caranya kurang ahsan (kurang baik). Sebab, penerimaan terhadap kita pasti juga kurang, kan yah? Paling juga bakal dicibir ‘halaaah, lu ngomong ajah sendiri. Gw tetep gak bakalan ngikutin’. Hihi. Nah, selain komunikasi yang baek, juga dibutuhkan rasa percaya diri yang tinggi. Eh, ini beda dengan ke-PD-an dong yah. Iya! Beda! Percaya diri berarti kita ndak perlu minder dengan apa yang kita punya. Selagi kita benar, sungguh tidak ada orang yang akan menolak kita. Selagi kita menunjukan profesionalisme kita, insya Allah tidak akan ada yang meremehkan. Intinya, ketika kita menjadi yang terbaik, gak bakalan ada yang menolak kok. Hee…

Selain itu, bagi aku pribadi, ada tambahannya juga niih. Mesti bisa bahasa inggris juga. Hee… maklumlah, bahasa inggrisku masi dong-dong banget. Jadiii, aku mesti banyak belajar niih… Soalnya, kiblatnya farmasis itu masi di negeri Paman Sam sana, jadiii…mau tak mau, aku juga HARUS BISA BAHASA INGGRIS, sama seperti ke-harus bisa-an aku dalam bidang farmakoterapi.

Jadii, hayuuuu semangat belajar yuuuuk….

4 comments:

  1. Informasi yang berharga tel
    semakin genaplah kebencianku pada kaum vampir penghisap darah itu
    siapa lagi kalu bukan dokter yang tak punya perasaan
    kagak mau denger saran dari apoteker lagi
    orang sakit dijadikan bulan-bulanan, benar-benar gak punya hati nurani
    hhhhhhh

    ReplyDelete
  2. Nanchaaaan....
    masya Allah...

    ndak semua juga gituug nan chan, hehe..
    masi banyak koq yg baek2nya juga....hehehe

    ReplyDelete
  3. iya,,selalu ada pengecualian dimana-mana

    ReplyDelete
  4. hehe...betul..betul..betul... Nanchan...

    ReplyDelete

Tafadhol, jika ada pendapat lain, masukan, tambahan, kritikan dan saran, hehe, ayuuh... di kasi comment...^^
(jangan lupa pilih salah satu profil yg koment yah. biar termoderasi. jangan anonim. okeh? ^^)