Kaca

Aku tahu, kau pasti sudah tahu, bahwa bercermin pada kaca yang cembung, akan membuat bayanganmu terlihat membesar.
Aku juga tahu, kau pasti sudah tahu, bahwa bercermin pada kaca yang cekung, akan membuat bayanganmu terlihat mengecil dan menciut.
Aku tahu pula, kau pasti sudah tahu, bahwa bercermin pada kaca yang datar, akan membuat bayanganmu terlihat proporsional, akan tetapi...ia terbalik. Sisi kanan menjadi kiri dan kiri menjadi kanan.

Maka...

Berkaca pada yang cembung, hanya akan membuat diri besar. Besar dengan pujian. Besar dengan kekaguman orang lain pada diri kita. Apalagi, pujian itu tidaklah pantas ditujukan untuk diri kita. Maka, janganlah berkaca pada kaca yang cembung, ketika hendak menilai diri...

Berkaca pada yang cekung, hanya akan membuat diri kita ciut. Merasa rendah. Merasa sangat terpuruk. Merasa diri kita lah satu-satunya orang paling merana di dunia. Jika hendak berkaca diri, maka hindarilah berkaca pada kaca cekung ini...

Bahkan...

Berkaca pada yang datar sekalipun (seberapapun upaya untuk menghindari kaca cembung dan cekung), tetap saja ianya memberi jawaban yang kurang objektif. Sisi kiri menjadi kanan dan sisi kanan menjadi kiri...

Sungguh...
Berkacalah pada hati...
Karena hati, akan selalu mem-fatwakan kebenaran.
Segala keburukan dan maksiat, adalah sesuatu yang meresahkan hati...
Segala kebaikan dan kemashlahatan, adalah sesuatu yang menggembirakan hati...
Maka, mintalah fatwa pada hati...

Dan sungguh, adalah sebuah bencana yang besar, ketika sensitifitas hati itu mulai hilang. Mulai mengabur...
Hati yang tidak lagi sensitif dengan maksiat dan tidak lagi merasakan nikmatnya mendekat pada Allah...

Smoga, Allah senantiasa menjaga sensitifitas hati kita, kepekaan hati kita, untuk senantiasa mendekat pada-Nya, agar filter yang dihasilkanya : akan segera memberikan alarm ketika diri bermaksiat dan akan segera pula memberikan kenikmatan luar biasa ketika diri melakukan kebaikan...

Sungguh, segala urusan hati adalah milik-Nya dan Dia-lah yang membolak balikkannya...
Smoga Dia Sang Maha Penggenggam hati tetap membuatnya tsabat 'alaa tha'at, 'alaa diinul Islaam...
 Ya mukallibal quluub, tsabit qalbi 'alaa diinika, 'alaa tha'atika...
Aamiin Allahumma aamiin...

0 Comment:

Post a Comment

Tafadhol, jika ada pendapat lain, masukan, tambahan, kritikan dan saran, hehe, ayuuh... di kasi comment...^^
(jangan lupa pilih salah satu profil yg koment yah. biar termoderasi. jangan anonim. okeh? ^^)