Ujian dan (h)Ujan

Caution (!) : 
Jika Anda lebih sayang pada waktu Anda, segera tutup halaman ini.
Ini hanyalah sekedar curahan hati belaka. Jadi, alangkah lebih baiknya jika engkau manfaatkan waktumu untuk sesuatu yang lebih berguna dari pada membaca postingan ini. Okay?!
So, JANGAN BACA postingan ini!

___________________________

Hujan yang mengguyur kota Depok siang ini merupakan hujan yang aku cinta. Aku mencintai hujan ini, betapapun banyak orang yang terdengar menggerutu, mengeluh, menyesalkan turunnya tetes demi tetes ini. Hujan ini... sungguh penuh berkah...
Aku mencintai hujan ini. Sama seperti hujan-hujan sebelumnya. Karena hujan, akan meluruhkan air mata yang tumpah. Karena hujan, bukan hanya membersamai kegembiraan, tapi juga kesedihan, masalah, tantangan, ujian, hambatan dan rintangan.

Membiarkan hujan meluruhkan tetes demi tetes itu menimbulkan sejumput rasa, yang aku sendiri mungkin tak bisa definisikan. Entah rasa apa namanya itu.

Kadang, di banyak waktu,aku merasakan betapa ujian-Nya terasa berat.
Segala sesuatu berupa hambatan, rintangan, permasalahan, sering kali--tanpa disadari--menyeretku pada bibir jurang pupusnya pengharapan. Ia nya seperti gelombang longitudinal, naik turun berdasarkan sang amplitudonya. Kadang naik, dan kadang turun...

Aku, dengan ke-begini-an ku, kadang terselip selaksa rasa kesedihan, pada setiap ujian-ujian itu. Mungkin bersedih memang adalah sesuatu yang niscaya. Tapi... tapi... keluar dari ujian itu bukanlah perkara mudah. Lebih mudah mengucapkannya dari pada menjalaninya.

Ah, sungguh...
Ujian, sesungguhnya adalah milik orang-orang yang dipilih-Nya saja.
Ujian itu, sungguh hanyalah pada marginal kemampuan hamba-Nya saja.
Kadarnya, adalah pada range kesanggupan hamba-Nya saja.
Tak perlu spektrofotometri untuk mengukur kadarnya.
Ketika Dia berikan ujian, maka pasti, sekali lagi; PASTI itu adalah karena bahu hamba-Nya itu cukup kokoh untuk memikulnya.
Dan yang terpenting sekaligus paling menggembirakan dari sebuah ujian itu adalah... karena ia nya sarana pendekatan diri pada-Nya, dan semakin menjelaskan bahwa diri ini begitu dhaifnya, dan amat sangat bergantung pada-Nya...
Aku semestinya perlu bersyukur atas ujian-Nya, sebab dengan begitulah barang kali cara cinta Allah untuk mengembalikanku dari fase penurunan itu...
Aku semestinya perlu bersyukur dengan ujian-Nya, sebab dengan begitulah aku belajar lebih banyak, kembali mengingati betapa banyaknya maksiat dan dosa yang telah aku lakukan.
Aku semestinya perlu bersyukur membersamai ujian-Nya, karena ujian itulah satu-satunya validasi  kualitas diri. Mungkin aku memanglah belum berkualitas. Dan beginilah cara kerja cinta Allah untuk menaikkannya. Meski aku masihlah sangat jauh dari baik, tapi beginilah cara-Nya meng-upgrade diri hamba-Nya.

Tiadalah sesuatu menimpa hamba-Nya melainkan telah dia catatkan di Lauh Mahfudz...
Dan segalanya sangat mudah bagi Allah... Amat sangat mudah...
Dia-lah Al Malik, Dia-lah pemilik segala kerajaan, Maha berkuasa atas segala sesuatu.
Maka, cukuplah Dia saja. Cukuplah Dia saja sebagai penolong. Dia yang Maha Berkuasa, Maha meliputi segala sesuatu, pasti telah menyediakan segenap hikmah tentang mengapa begini, mengapa harus ujian ini, mengapa aku dihadapkan pada kondisi ini. Keterbatasanku, kedhaifanku, mungkin belumlah mampu untuk mendeteksi hikmahnya. Tapi, aku harus yakin, bahwa segala ketetapan-Nya atas diriku, segala ujian-Nya atas diriku, tetaplah sebaik-baik ketetapan. Dia lebih tahu, apa yang terbaik untuk diriku melebihi diriku sendiri. Maka, pastilah aku sanggup melewati ujian ini. Pastilah karena aku sanggup, makanya Allah memilih hamba-Nya memikul suatu beban. Dan akan ada hikmah pada setiap kejadian. Akan ada hikmah di balik sebuah kesusahan. Selalu saja, membersamai kesulitan itu akan selalu ada kemudahan.

Eh, sebenarnya, aku sedang berusaha menyemangati diri atas ujian-ujian ini. Kadang, pada pelaksanaannya jauh lebih sulit dari pada pengucapan/penulisannya. Tapi, marilah aku berupaya untuk melaksanakannya di setiap jenak hidupku.
Dunia ini sebentar saja, dan karena sebentar itulah yang paling menentukan, maka harus dengan sebaik-baik performance di hadapan-Nya...
Hayooo diriku, BERSEMANGAT!


___________________
Maha besar Allah yang mendesain otak manusia tanpa mengenal kata "negatif" atau penidakan. Kata-kata TIDAK/JANGAN ternyata sesuatu yang tidak "dikenali" oleh otak alam bawah sadar manusia sehingga penggunaan kata negatif itu sering kali membuat banyak orang justru melaksanakannya. Betul tidak? Hehe :D
Mari tanya pada orang yang membaca tulisan ini sampai selesai. Padahal, tadinya ada kata JANGAN BACA. Tapi justru kata yang dikenali otak adalah BACA. Karena otak manusia tak mengenal kata TIDAK atau JANGAN.
Eh, jangan salah tanggap dan gagal paham dulu yah. Pernyataan di akhir tulisan ini benar-benar tak ada hubungannya dengan curhatku di atas ko. Hehe :D

0 Comment:

Post a Comment

Tafadhol, jika ada pendapat lain, masukan, tambahan, kritikan dan saran, hehe, ayuuh... di kasi comment...^^
(jangan lupa pilih salah satu profil yg koment yah. biar termoderasi. jangan anonim. okeh? ^^)