Living in Riyadh (part 17): Lahiran di Riyadh

Ketika habis lahiran, beberapa teman datang berkunjung. Menjenguk new baby ceritanya. Naah, pertanyaan yang muncul dari beberapa teman-teman yang tidak pernah lahiran di sini atau tak pernah jauh dari orang tua adalah,

"Gimana lahiran di sini? Susah nda? Apa-apa urus sendiri.. Gak ada yang bantuin."
"Masaknya gimana? Catering?"
"Aduuh, saya nda berani euy lahiran di sini. Dulu pas tau hamil, kami akhirnya menunda berangkat ke sini, nunggu sampai si baby nya lahir dulu."

Pertanyaan itu ternyata tidak hanya muncul dari teman-teman di sini, tapi juga teman-teman yang dari Indonesia. Secara, sekarang media komunikasi sudah sangat mudah kan yaa...


Yaa, begitulah. Terkadang, sesuatu terlihat sulit ketika kita belum menjalaninya. Akan tetapi, kita akan benar-benar mengerti sesuatu itu sulit atau mudah ketika kita benar-benar sudah berada di situasinya dan harus menghadapinya. Alhamdulillaah, so far semuanya relative bisa dihandle dengan cuti suami yang hanya 1 minggu selama prosesi lahiran ini. Kadang, kita tidak tau kalau kita bisa melewatinya ketika sesuatu hanya berada di ruang imajiner belaka. Hehe...

Apa perbedaan lahiran jauh dari keluarga di sini dibandingkan lahiran di kampung halaman yang dekat dengan keluarga?
Pertama, Jika lahiran di kampung halaman/dekat dengan keluarga, banyak saudara dan keluarga yang bantuin. Alhasil, relative dimanja lah ibu-ibu yang baru lahiran. Kebanyakan aktifitasnya hanyalah makan lalu menyusui, makan lagi, menyusui lagi. Haha. Pekerjaan dapur, beberes, bebersih, di take over sama keluarga lainnya. Berbeda dengan lahiran jauh dari kampung halaman. Apa-apanya urus sendiri. Seminggu setelah lahiran, pekerjaan dapur udah diurus sendiri. Nyuci juga. Hmm.. Lahiran di negeri yang jauh, orang tua/mertua nda bisa datang, daan tidak meminta bantuan dari mba-mba yang kerja buat beberes dan bebersih, tanpa catering makanan jugak, mungkin bagi kita yang belum pernah merasakannya akan terasa berat dan ingin give up sahaja... tapiii, alhamdulillaah banyaaak kemudahannya. Semua adalah pertolongan Allah. Allah-lah yang menguatkan. Dan juga, support dari suami juga. alhamdulillaah, sekali lagi, banyaaak kemudahannya. Apalagi dengan support suami, yang turun tangan membantu pekerjaan rumah. Semuanya terasa indaah, alhamdulillaah...

Kedua, Jika lahiran di kampung halaman, biasanya suka ada 'aturan tak tertulis' bahwasannya ibu-ibu yang habis lahiran mesti stay di rumah sekurang-kurangnya 30-40 hari. Kecuali keluar rumah untuk urusan yang sangat sangat penting, misal imunisasi si bayi atau kontrol ke dokter pasca lahiran. Selain itu, hampir bisa dipastikan si ibu yang habis lahiran ini mesti teteeeepp di rumah sahaja. Kalau di sini, Aasiya usia 5 hari sahaja kita udah ajak jalan ke luar, dan usia 7 hari udah di ajakin belanja keperluan dapur. Hihi.. Usia seminggu kurang udah ikut ngelingker alias ngaji mingguan emaknya, pokonya aktifitas normal lainnya deh. Jadi, ga ada yang namanya cuti lahiran, wkwkwkwk.

Ketiga, Lahiran di kampung ma shaa Allah, kuatnya ibu-ibu yang melahirkan mempertaruhkan nyawanya tanpa pain killer. Sungguh angkat topii...
Lahiran di sini relative 'manja' dengan adanya pain killer pada proses lahirannya. Ya, kita boleh request pain killer kalo kita mau. Kebijakan di sini memperbolehkannya. Sebut saja golongan narkotik semacam pethidine, bahkan naloxone hingga ke epidural bisa di request kita memang nda sanggup menghadapi rasa sakit yang hebat ketika melahirkan. Kalau lahiran di kampung, rasa sakit melahirkan haris filalui tanpa pain killer. Meski buat orang yang ambang nyerinya rendah macam emak aafiya dan aasiya ini, pain killer nda begitu ngaruh, teteep ajah sakiiit heuheu, tapi setidaknya bisa ngurangin dikit laah. Bagi sebagian orang, mulas dan kontraksi malah jadi hilang dengan bantuan pethidine, tapi ndak berlaku sih buat aku. Hehe. Kadang mau idealis juga, untuk memilih opsi no medication selama proses lahiran. Tapi, jika ada yang mudah, kenapa milih yang sulit? Hehe..


'Ala kulli haal, alhamdulillaah...
Meski jauh dari keluarga, di sini banyak saudara-saudari sebangsa yang ma shaa Allah juga memberikan support, membawakan makanan di kala busui napsu makannya lagi on banget. Hihi. Apalagi makanan yang Indonesia bangeeet. Hiiyy, jadi takut liat timbangan! Udah nambah berapa kilogram yak sekarang? Wkwkwkwk...


Naah, buat ibu-ibu mahmud yang mau lahiran jauh dari keluarga, baik di luar negeri maupun luar nagari, don't worry, in shaa Allah bisaaa ngelewatinnya. Sebagaimana janji Allah, bahwa setiap kesulitan itu pasti ada kemudahan yang menyertainya. Semangaaatt!!


0 Comment:

Post a Comment

Feel free to accept your comment. Spam comment will be deleted and blocked