Speak English?? Why Not!?

speak english
Wakidjan begitu terpesonanya dengan permainan piano Nadine. Sambil bertepuk tangan, ia berteriak, “Not a play! Not a play!”
Nadine bengong. “Not a play? “
“Yes! Not a play!(Bukan main)”.
Tukidjo yang menemani Wakidjan terperangah. “Bukan main itu bukan not a play, Djan.”
“Your granny (Mbahmu). Humanly I have check my dictionary kok. (Orang saya sudah periksa di kamus kok)”
Lalu berpaling ke Nadine. “Lady, let’s corner (Mojok yuk). But don’t think that are nots (Jangan berpikir yang bukan-bukan) . I just want a meal together.”
“Ngaco kamu, Djan,” Tukidjo tambah gemes.
“Don’t be surplus (Jangan berlebihan), Djo. Be wrong a little is OK toch?”
Nadine cuman senyum kecil. “I would love to, but…”
“Sorry if my friend make you not delicious (Maaf kalau teman saya bikin kamu jadi nggak enak)”, sambut Wakidjan ramah, “Different river, maybe (Lain kali barangkali). I will not be various kok (Saya nggak akan macam-macam kok).”
Setelah Nadine pergi, Wakidjan menatap Tukidjo dengan sebal. “Disturbing aja sih, Djo. Does the language belong to your ancestor (Emang itu bahasa punya moyang lu)?” Tukidjo cari kalimat penutup. “Just itchy Djan, because you speak English as delicious as your belly button.” (Gatel aja, Djan, soalnya kamu ngomong Inggris seenak udelmu dewe).
Wakidjan cuman bisa merutuk dalam hati, “His name is also effort.(Namanya juga usaha).”

Ahahaha….
Silahkan ngakak dulu deeh, ngebaca tulisan di atas. Hehe, cerita di atas, cukup untuk mengalihkan sedikit kegundahanku. Jiaaahh…
Abiisss…lucu banget sih! Sampai terpingkal-pingkal ngebacanya. Oh iya, sebelumnya, cerita di atas kudapat dari sebuah file yang berserakkan di sebuah data di lepi ku. Judul foldernya; baserak_sarok_file. Jadiiii, ceritanya, aku mau mendelete banyak file yang berkaitan dengan sebuah masa lalu. (Halaaah!). Dan tak sengaja nemu file ini. Jadi, mohon maaf buat author nya yang bagiku masih berstatus ‘unknow author’ karena telah me-re-publikasi tulisan di atas tanpa menyebutkan siapa sumbernya. Jadiiii, bukan maksud plagiat tho. Hihi.

Hehe….terlepas dari lelucon yang coba dihadirkan dalam tulisan di atas, sesungguhnya ada juga plajaran yang bisa diambil. Menyoal berbahasa inggris. Hmm…sebagai bahasa yang dinobatkan sebagai bahasa internasional, tentu menjadi sebuah keharusan bagi kaum intelektual (ciee ileee) untuk menguasai bahasa yang satu ini. Yaah, karena apa-apanya menyaratkan TOEFL. Dikit-dikit, syaratnya, “mampu berbahasa inggris”. Dan parahnya, ini menjadi sesuatu bagian yang cukup berat bagiku! (apakah kesimpulannya, aku bukan bagian dari kaum intelektual? Hehe, semoga saja TIDAAAKK!).

Katanya banyak orang, salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk mengasah kefasihan dalam berbicara bahasa inggris adalah dengan melatihnya sesering mungkin. Dalam arti kata, dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan dalam rangka itu pulalah, banyak institusi2 setingkat sekolah atau universitas, mengadakan terobosan-terobosan semacam “English day”dan sejenisnya. Rule-nya, setiap personal yang terlibat mestilah bercakap-cakap dalam bahasa inggris.

Tapi apa yang terjadi di lapangan? Hoho, rupanya tak seindah harapan. Banyak yang tidak disiplin untuk menggunakan bahasa inggris ini. Ada yang memilih bungkam, dari pada harus cape bercakap-cakap English. Padahal, tak ada yang marah koq, kalau grammer nya kacau ataupun pronunciation nya lebih mirip bahasa Minang. Hehe. Dan dalam hal ini, aku termasuk orang yang tidak (terlalu) disiplin itu. Oooohhh nooo… Maafkan akuuuuu…>.<

Ada banyak alasan. Mungkin karena malu. Atau tak terbiasa. Atau, kurang tertarik. Tapiiii…, si Wakidjan ajah yang grammernya kacau, yang bahasa inggrisnya seenak udelnya dewe, gak malu tuh, cakap-cakap English. Lha? Lantas, kenapa aku harus malu yak?! Padahal, itu kan baik, tho?! Yah, setidaknya, memfasihkan lidah lah, untuk bisa sikit-sikit cakap-cakap English. Ya, gak?!

Sekarang ini niiih, baru berasa, betapa pentingnya! Uugghh… JIkalah penyesalan datangnya di awal yah? Heuu…. Tapi yang jelas, tak ada kata terlambat tho?! Dan juga GAK ADA kata GAK BISA! Toh, dulunya juga aku bisa koq. Yaah, walaupun belum dapat dikatakan baik, tapi yaa lumayanlah. Sempet ikutan pidato English juga. Pas final project plajaran bahasa Inggris yang mengharuskan bercerita English selama minimal 5 menit, bisa-bisa ajah tuh. Tapi, koq sekarang-sekarang jadi enggan yah? Koq sekarang jadi gak bisa gitu yah?. What’s wrong!? Hehe, salahnya udah ketemu sih! Salahnya adalah, karena terlanjur melabel diri GAK BISA, males CAKAP-CAKAP English, langsung gak mood liyat sesuatu artikel dan tulisan yang berbahasa inggris (kcuali karena terpaksa harus merujuk jurnal-jurnal berbahasa inggris dan literature dan textbook pharmasi yang kebanyakan berkiblat ke Amerika dan tentu saja berbahasa inggris), dan MALU untuk mencoba berbahasa inggris. Waah, banyak wrong2 nyang harus diperbaiki tho?!

Hmm….baiklah…baiklah….
Selanjutnya….SPEAK ENGLISH?? WHY NOT!! Hayuuk….hayuuuk…ngajakin kakak2, adek2, temen2, dan dirimu semua rame-rame (masa’ aye harus ngomong sendiri. Ntar dikirain, “obsesi jadi bule yang kaga kesampaian” lagih. Hihihi…ngaco!). ajarin dan ajak diriku yaaah….

----------------

sumber gambr di sini
Read More

Sejumput Kenangan di Bumi Serambi Makkah

Padangpanjangku tercintaaa...
Memandangai hamparan ‘surga’ yang Allah titipkan secuil ke bumi Serambi Mekkah. Subhanallaah…
Decak kagum yang hanya bisa kulafadzkan. Subhanallaah… Sungguh sangat indah. Puncak merapi yang kokoh. Semilir angin yang sejuk. Melegakan rongga dada, juga rongga hati.

Ah, Padangpanjang…
Selalu terlihat indah di mataku, seindah kenangan yang membersamainya. Indah!
Bahkan terlalu indah untuk dikenang.



Balkon VIP RSUD Kota Padangpanjang
Read More

Kampus Birru Bumi Hijau

Kampus Birru...^^
“Uni…” Seseorang dengan jilbab putih panjangnya, berseragam SMA menyerahkan selembar resep. Asisten Apoteker di Apotek langsung menyambut resep itu.
“Waah, obatnya kosong,Dek.”
“Trima kasih Uni.” Katanya pada si asisten apt.
Setelah si adek itu keluar dari apotek, aku mengikutinya.
“SMA 1 Padangpanjang yah Dek?” tanyaku, dengan wajah berseri. Sebab, aku begitu menegnali karakteristik dan cara bersikap anak-anak Kampus Birru.
“Iya kak.”
“anak asrama ya? Generasi berapakah?”
“Generasi 12, Kak. Kaka’ SMA 1 jugak yah?”
“Iyah Dek…Kakak generasi 6.” Si adek segera mengulurkan tangannya. Yaah, rasa-rasa kekerabatannya ala anak asrama laaah. Hehe.
Setelah berbincang sedikit, si adek meninggalkan apotek.
“Jangan lupa maen ke asrama yah Kak.” Pesannya.
“Insya Allah, Dek.” Anggukku yakin.

Kutatapi sosok akhwat berseragam putih abu-abu yang tengah berlalu itu. Lengkap dengan mansetnya. Lengkap dengan pin sebuah Universitas Favorit yang tersemat di jilbab panjangnya.

Masya Allah…. Bertemu mereka, mengingatkanku pada masa-masa berbilang tahun yang lalu. Yaah, hampir Sembilan tahun yang lalu. Delapan tahun lebih. Dahulu, ketika aku pernah menjejaki masa-masa seperti mereka. Binar semangat yang tergambar jelas di beningnya sang bola mata mereka. Energy-energi luar biasa. Mereka, yang memancangkan tekad-tekad. Semangat-semangat! Sungguh, aku seperti dikembalikan ke masa itu. Masa berbilang tahun.

Aku, ketika itu. Dengan geliat yang sama. Dengan tekad yang sama pula. Dengan hari-hari yang barang kali juga tak jauh beda! Juga, dengan idealism dan mimpi-mimpi yang hampir sama. Aah…., aku benar-benar merindu.

Siangnya…
Langsung aku menuju kampus Birru Bumi Hijau. Yap, Birru…bukan sekedar biru. Ia bukan saja denotasi dari warna biru gedungnya. Tapi, Birru….! Birru dari akar kata bahasa arab yang berarti kebaikan! Subhanallaah…
Rasaku tetap sama. Selalu sama, setiap menatapi gedung kayu Biru yang di rindangi pepohonan hijau berikut rerumputan yang indah. Masya Allah… Selalu saja ada buncahan rasa yang tak dapat kudefinisikan. Bahwa aku selalu merindu untuk kembali dan kembali ke tempat penuh kesejukkan ini. Sejuk. Begitu sejuk di hatiku.

Aahhh….kampus birru, bumi hijau…
Yang padanya banyak terlahir generasi-generasi cerdas. Generasi-generasi penuh ghiroh. Generasi-generasi Arruhul Jadiid.

Di sini… Ya, di sinilah cinta itu bersemi.
Sungguh, ada banyak cinta yang begitu indah. Begitu indah menyelami setiap Amstrong makna cinta itu di sini.
Tidak berlebihan jika aku katakan bahwa separuh hatiku telah tertambat di kampus birru bumi hijau! Aku sungguh cinta. Sungguh!
Sebab, di sini, awal bermulanya aku berjumpa indahnya Islam….
Sebab di sini pulalah, pada mulanya aku mulai berinteraksi banyak dengan ayat-ayat cinta-Nya…
Di sini, adalah fase transformasi luar biasaku… fase transformasi yang kemudian menjadi kompas dalam hidupku!
Maka sungguh, sedikitpun aku tak ingin melenyapkannya dari ingatanku… sebab, setiap kali mengenangnya, setiap itu pula, ada semangat membuncah yang hadir di hatiku…


Kampus Birru, Bumi Hijau…23 Maret 2011, Asyar…
Read More

Undangan Merah Marun

sekotk coklat undangan
Suatu hari, sebuah kotak merah marun kecoklatan tergeletak di meja. Mulanya, itu kupikir adalah sebatang coklat. Hummm…nyummy… siapa sih yang super duper baik hati ngasi aku coklat? Pikirku. Hehe.

Waouww…rupanya bukan coklat! Melainkan undangan! Waah….waah…. the unique one! Baru kali ini aku berjumpa undangan yang begitu uniknya itu. Unik. Dan berbeda dengan undangan-undangan kebanyakan! Undangan warna merah marun yang terukir dengan tinta emas di di atas sebuah kipas
Undangan...

Hmm…ada pelajaran yang bisa dipetik dari undangan ini…
Pelajaran pertama, kayaknya bisnis percetakkan dan desain, begitu menggairahkan tuh. Ihihihi…#ngaco#
Gak ding! Yangitu sih boljug ya. Cumaa, bukan itu esensinya!

Undangan itu mengajarkan kita tentang bagaimana menjadi yang berbeda. Uhm…menjadi berbeda di sini bukan sensasional. Tapi, menjadi berbeda dalam sebuah arti yang positive.

Jika kita lihat di tipi-tipi, biasanya yang tampil di layar kaca rumah kita adalah sosok-sosok yang memiliki sesuatu yang berbeda. Punya sesuatu yang lebih dari sekebanyakan manusia lainnya. Bisa, lebih cantik. Bisa lebih tampan. Lebih bagus suaranya. Lebih lucu. Lebih cerdas. Lebih komunikatif. Bahkan, juga sosok-sosok dengan wajah dan penampakkan yang ‘unik’. Karena mereka berbedalah, maka mereka dikenali.

Di sini, tentu saja aku tak akan mengajakmu untuk rame-rame meramekan dunia enterteint yang udah kelewat rame itu. Ya tak laaaah! Tak nak! Tapi, jika kita mau belajar, ternyata, mereka itu memiliki sesuatu yang berbeda!

Pun, jika dilihat-lihat, suatu bisnis yang sukses, bukan hanya karena manajemennya oke, tapi, karena mereka memiliki differensiasi yang membuatnya berbeda dengan yang lain. Dan dengannya, mereka memiliki branded. Branded…berarti dikenali…

Maka, menjadi berbeda dalam hal positif itu sungguh memberikan sebuah nilai lebih pada diri kita! Dan, Islam telah memuliakan kita dengan memberikan kepada kita pembeda antara kebenaran dan kebathilan!

Menjadi berbeda itu berarti menjadi golongan yang sedikit. Bukan seperti kebanyakan orang-orang. Dan menjadi berbeda, adalah mencoba menjadi orang-orang luar biasa. Bukan orang-orang biasa saja!

Sungguh, Allah telah bekali kita dengan berbagai potensi luar biasa. Potensi yang mungkin saja dorman karena keengganan kita menggalinya. Potensi yang mungkin mengalami ‘atropi’ sebab kita mengacuhkannya. Sungguh, Allah telah lebihkan kita atas segenap makhluk lainnya. Dan sungguh, Allah telah jadikan kita pemenang bahkan ketika kita masih belum berbentuk. Ya, sebab, kita dilahirkan untuk jadi PEMENANG dan bukan PECUNDANG!

Maannajah!
Berjuanglah!
Don’t give up! Keep moving forward!
Yakinlah, bahwa kaupun bisa! Ya, kau bisa! Karena kau punya peluang yang sama besarnya dengan mereka!
Read More

‘Asa antakrohu syai aa…

“Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu tetapi itu amat baik bagimu, dan boleh jadi menyukai sesuatu akan tetapi itu amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(2 : 216)

Allahuakbar!!
Allahuakbar!!

Ya Rabb, wahai Dzat yang jiwaku dalam genggaman-Mu. Hamba kembalikan segala warna rasa resah, gundah, galau, sedih, patah, dan pilu hanya pada-Mu saja wahai Rabb. Milik-Mu lah Hati ini, dan Engkaulah yang Maha Membolak-balikannya. Wahai Rabb, pinta hamba pada-Mu…gantilah dengan kebahagiaan, kelapangan, ghiroh, semangat baru, ketentraman ya Rabb… Sungguh Rabb, jika bukan pada-Mu…lalu kepada siapa lagi ya Alloh…

Allah… Sungguh, sedari dulu sudah, Engkau berikan hamba limpahan ni’mat kesempatan untuk mencoba berdamai dan terus berdamai dengan hal-hal yang tak disenangi, hal yang pahit dan hal yang menurut hamba tidak baik. Ya Rabb, sering kali, yang terjadi sama sekali tak disukai. Tapi Rabb, sungguh di sanalah terdapat kebaikan yang banyak. Sesuatu yang mungkin kala pertama kali hamba mencecapinya terasa begitu pahit, tapi kemudian berasa sangat manis setelahnya. Ya, sebab…yang begitu yang amat baik bagi hamba-Mu ini. Dengannya, Engkau simpan kebaikan yang berlimpah. Mungkin belum sekarang hamba tahu. Bisa jadi esok, lusa, bahkan hitungan tahun mendatang. Sungguh, segala ketetapan-Mu adalah baik bagi hamba. Ya Rabb, Engkau Maha mengetahui, sedang hamba sama sekali tak mengetahui.

Rabb…
Segala upaya telah dilakukan…
Tapi, keputusan adalah milik-Mu…
Pada-Mu hamba berserah….
Hanya pada-Mu ya Rabb…. Apapun itu, hamba yakin, Engkau PASTI akan memberikan yang terbaik buat hamba-Mu…

Rabb…
Bukan hendak menggugat putusan-Mu…
Bukan pula hendak protes pada-Mu…
Bukan pula hendak berkeluh kesah dengan ujian-Mu…
Tapi Rabb…hamba hanya pintakan, bahu yang kokoh, untuk pikulkan beban ujian…
Hanya itu ya Rabb…

Sebab hamba sangat yakin, bahwa akan ada mentari benderang setelah kabut menyelimut. Bahwa akan ada bahagia setelah kesedihan. Bahwa akan ada senyum setelah air mata. Sebab Engkau tak hanya ciptakan kesedihan, melainkan ada kebahagiaan membersamainya…

Rabb...
Hamba berserah pada-Mu…
Hanya pada-Mu saja ya Rabb…
Wahai Dzat yang maha membolak-balikkan hati…


Kost-ku tercinta, 23 Maret 2011, Ba’da Isya
Read More

Sekuntum Mawar Merah

Ceritera ini seperti judul lagu dangdut yak? Hihi. Dan mungkin ceritanya jugak pasaran. Maksudnya sudah familiar di kalangan orang-orang. Jadiiiii, anggap sahaja kita mangulang kaji lamo!

Hmm…berawal dari kisah mangulang kenangan lamo di wisma. Huwaaah….kangen bet dengan agenda rohis, bikin amunisi dekorasi acara2 kampus dan makan batalam. Dan, akhirnya terpenuhi sudaaah. Kerinduan yang menyesakki jiwaaa…^o^ (lebay!).

Agenda rohis kali ini adalah siroh shahabiyah. Tapi, justru menu yang menarik bagiku adalah session taujih. Taujih, tentang sekuntum mawar merah. (silakan kalo mau dibaca dengan irama dangdut! Wkwkwk…)

Alkisah, di suatu negeri, hiduplah seorang pemuda. Ia menanam sebatang mawar. Ia merawat. Ia membesarkannya, menyirami, memupuki, hingga menjadilah ia sekuntum mawar merah yang sangat indah. Saat merekah itu, sang pemuda berniat memetik sang mawar indah. Namun, tiba-tiba, “awww!!” ia tertusuk duri! Bukan malah memetik si bunga indah, ia justru tertusuk duri. Berdarah. Pemuda itu lantas marah dan mencerabuti mawar itu, dan meninggalkannya.

Yaaah, hanya kisah singkat.(Cuma separaghraf geetoh, hihi). Tapi, mari kita memetik hikmah cerita di atas.

Mungkin sering kali, ketika kita menanam harapan-harapan besar, mimpi-mimpi besar, dan suatu asa di dalam hati kita. Namun kemudian, bunga indah yang kita impian justru menghadirkan duri yang membuat kita berdarah. Membuat kita bersedih. Membuat kita (mungkin) jatuh, terjerembab pada luka.

Memang, tak selalu seindah harapan. Terlalu sering bahkan. Tapii…, jika saja kita mau melihat mawarnya, bukan durinya…darah dan luka menjadi tak berarti apa-apa. Jadiii, sepedih apapun itu…seluka apapun itu….jangan pernah lari dan meninggalkannya. Ambil saja sisi positifnya. Ambil saja sisi positifnya. Bersemangatlah! Sebab, pasti mentari akan bersinar, setelah kabut menyelimut!

Sumangaik!
Sumangaik!
------------------------
sumber gambar di sini
Read More

Refleksi Ke-Nelangsa-an

Hari ini…
Pada satu sisi di hati, menginginkan hilangnya satu paket memory dari satu folder hati. Ingin berlari sejauh-jauhnya. Ingin melenyapkan selenyap-lenyapnya. Bahkan, ingin di satu lokus ingatan itu, menjadi amnesia saja.

Semakin terpuruk, dengan kebodohan dan kehinaan yang diperbuat! Kebodohan yang membuatku, kadang tak mampu menyangga diri, bahkan hanya untuk menegakkan kepala saja, menatap hamparan dunia. Sepertinya pohon-pohon, bebatuan, burung-burung, semut-semut, jalanan, dan apapun itu, tengah mencibiriku dengan kebodohan itu. Mereka menertawakanku. Menertawakan kebodohanku. Bodoh! Bodoh! Dan sangat bodoh!

Ketika aku bersimpuh di depan realita. Tertunduk aku. Sungguh, tak sanggup sedikitpun aku mengangkat dagu. Hanya untuk mengintip cerahnya mentari. Hanya untuk melirik indahnya siluet senja. Aaah, terlalu naïf. Ini adalah lembah paling tragis dalam grafik hidupku.

Semakin terasa. Bahwa aku, sosok dhaif yang digelayuti banyak kesalahan. Kesalahan. Kebodohan, di masa lampau. Kejahiliyahan tindakan! Aku yang tidak ada apa-apanya. Tidak sebaik kau, tidak sebaik dia, dia, dan mereka. Aaahhh….astaghfirullaah….astaghfirullaah…

Namun kemudian.
Ada yang menyangga bahuku. Mengajak untuk berdiri lebih tegap.
Ia adalah harapan baru. Fajar baru. Cahaya baru!
“Duhai, percayalah. Bukankah manusia adalah kandangnya khilaf? Bukankah padanya selalu saja ada kantung-kantung kesalahan? Bukankah adalah sesuatu yang absurb jika manusia tanpa salah? Bukankah?” tanyanya retoris.Ia menyentuh pundakku, dan membuatku harus berdiri tegap.
Sejenak, aku mencoba mengangkat wajah.
“benarkah?” aku meyakinkan.
“benar!” ia mengangguk dengan sangat yakin. “percayalah, insya Allah masih ada harapan! Setiap orang memiliki peluang yang sama untuk memperbaiki kesalahan itu! Jadikan saja ia sebagai ibroh. Jadikan saja ia sebagai cemeti untuk melecuti kesalahanmu, sekaligus melecuti semangatmu!”
“aku terlalu rendah. Aku, bahkan tak lagi sanggup menatapi dunia. Terlalu banyak salahnya. Terlalu banyak.” Kataku pesimis.
“sudahlah!” ia kembali menyangga aku yang terduduk lemas. “penyesalan itu harus, memang. Tapi, tak perlu berlarut-larut. Perbaiki di masa depanmu! Fastabiqul khoirat! Kau punya potensi dan peluang yang sama dengan mereka, untuk mencapai itu! Kau punya peluang yang sama! Tekadkan dalam hatimu, bahwa kelak, kau harus menjadi pribadi yang lebih berkualitas!” ia memandangku dengan lembut, namun aura energy yang dipancarkannya berasa mengaliri darahku.

“the story was ended, and the new story was began! Cukupkan kisah lalu itu sampai disini saja. Dan, Jadikan kisahmu yang selanjutnya adalah kisah terhebat dalam hidupmu! Ingatlah,….semakin berlalu detik, maka semakin berkurang pula jatah hidupmu. Artinya, semakin sedikit kesempatanmu. Jika tak kau isi dengan hal-hal terbaik, lalu, kapan kau akan menambali salahmu? Kapan? Maka, tekadkanlah…bahwa tiada dari langkahmu, kcuali adalah prestasi amalan terbaikmu! Yakinlah, bahwa sesungguhnya, KAU BISA! Kau pasti bisa Fathel! Maannajah!”

“cobalah kau pandangi alam di sekelilingmu. Ternyata, meskipun harapan kau sempat kandas begitu dalam, pecah berkeping-keping, tak mengubah apapun. Langit masih sebiru kemarin. Lautan masih berkilau diterpa mentari. Pasir putih masih terasa lembut untuk dijejakki. Burung-burung masih berkicau dengan merdunya. Tak ada yang berubah, pun tak mencibirimu. Mereka bahkan mensupportmu, untuk lebih mendongakkan wajah, menaklukkan tantangan itu! Taklukkanlah! Patrikan di hatimu, patrikan di langit asamu, bahwa harapan-harapan kandas itu hanyalah satu mimpi kecil saja. Bahwa, sesungguhnya kemenangan yang abadi itu adalah setelah segala sesuatu dibalaskan. Maka, berjuanglah untuk kemengan hakiki itu! Berjuanglah! Bukankah tiada yang kau inginkan selain kemenangan hakiki itu? Lupakan harapan yang telah pecah berderai. Rangkai kembali harapan baru. Sungguh, insya Allah Dia tengah menyiapkan takdir terindah untukmu. Jikapun hari ini menyedihkan, aku berharap esokmu adalah senyum yang manis.”

“segala kejadian telah tercatat. Semua telah dibukukan-Nya di lauh mahfudz. Tiadalah Allah menghendaki kesusahan bagi hamba-Nya. Tiadalah! Jikapun terasa berat, maka itu adalah ujian yang juga berada dalam kadar kesanggupanmu! Peluang besar, untuk naik ke kelas yang lebih berkualitas. tetap semangaaattt, Fathel! Tutup kisah masa lalu, lalu hadapi kisah masa depan, sampai kereta kehidupan menjemputmu menuju alam lain. Maka, tekadkan, bahwa ketika kau menaiki kereta itu, adalah dengan cara yang terbaik. Dengan ending terbaik. Penutup hari-hari dengan amalan terbaik. Maannajah!”

Kali ini aku mulai berani mendongakkan wajah.
“BAIKLAH…. AKU AKAN HADANG! AKU INGIN KELAS BERKUALITAS. MAKA akupun akan upayakan, UPAYA YANG BERKUALITAS. tidak seperti kemarin. Esok insya Allah akan lebih baik!”

--------------------
Sumber gambar di sini
Read More

Maret yang Miskin Postingan

Maret yang miskin postingan…
Hufft…meski banyak sebenarnya yang sungguh ingin aku ceritakan. Yang ingin aku curhatkan. Yang ingin aku bagi. Yaah, meskipun tidak kepada siapa-siapa di mayanya dunia, kecuali hanya padamu, Bloggie. Meski aku tahu, bahwa tak banyak yang mengunjungimu, tapi, aku senang saja memuarakannya padamu, Bloggie… Karena, aku sesungguhnya…ini bukan perkara page rank, melainkan hanya sebagai kanal kegundahan dan kebahagiaanku saja. Hehe, cukuplah ini jadi cerita kita saja yah, Bloggie…

Maret yang miskin postingan…
Bukan karena aku tak setia, Bloggie. Aku tipe orang yang setia, loh… bahkan hingga saat ini, detik ini, aku masi setiaaaaa (preeeeettttt!). Tapi keterbatasan akseslah yang membuatku tak bisa meng-kanalkan gundahku padamu, Bloggie… Aku yang begitu jauh dari akses teknologi canggih bernama internet, saat ini… Mungkin, aku kembali ke jaman primitif era awal duaribuan dulu. Heuu….(semoga kau masih memfasilitasi ke-lebay-anku ini,..hihi).

Huuummm,,,
Kau tahu?
Aku dengan ‘keberantakan’, ‘kecuekan’ dan menyenangi ‘kebebasan jiwa’ ini, begitu gulana dengan sesuatu yang bernama kemonotonan. Hidupku, harus punya banyak warna. Dan, aku paling terjajah jika harus dihadapkan dengan intervensi kemonotonan… Tapi, aku harus menghadapi kemonotonan yang membelenggu jiwaku ini, Bloggie. Aku benar-benar tersiksa.

Bloggie, aku ternyata lebih suka menjadi pengangguran seperti kata banyak orang. Yaah, setidaknya saat inilah. Terserah apakah orang-orang akan mencapku sebagai seorang pengangguran, seperti yang sudah-sudah. Tapi, aku menyenangi hal itu, ternyata. Sebab, dengannya aku bisa ber-inovasi sepuas-puasnya, dan sejauh-jauhnya. Aku tak peduli, meski rupiah yang kuhasilkan itu sedikit saja, tapi aku bisa bebas memuarakan segala kreativitas tanpa harus dibatasi oleh mereka, mereka dan mereka. Tetap saja aku terpolar pada apa yang menjadi minatku. Desain, tulis menulis, fotografi, video editting, dunia ajar mengajar, dan segala sesuatu hal lainnya.

Bloggie…
Aku senang sekali jika aku bisa menaklukkan segala apa yang aku obsesikan. Semakin terbuktilah ketika kemauan keras dan teguh, dengan seteguh-teguhnya azzam itu, Allah PASTi akan berikan jalannya, bahkan dengan cara yang tak kita duga. Aku menyenangi hal-hal baru. Dan aku tak suka sama seperti sekebanyakkan orang lain. Mungkin terlalu PeDe jika aku mengatakan bahwa tak biasa menjadi biasa-biasa saja mengingat banyaknya keterbatasan yang kumiliki, tapiiii…..tetap saja aku ingin dan selalu ingin hal yang berbeda. Menjadi golongan yang sedikit itu….

Bloggie…
Aku tahu, setiap keputusan yang kuambil tidak selalu benar… meski, pada mulanya aku berpikir itulah yang terbaik… Tak selalu seindah potret nyata, ternyata… Kembali, aku lagi-lagi harus memilih. Memilih, sekaligus bertanggung jawab dengan segala konsekuensi…

Yah….tentu tak perlu pula ada penyalahan dengan keputusan yang (mungkin) salah. Setidaknya, ini menjadi pelajaran berharga untuk berani bertanggung jawab dengan segala konsekuensi yang menyertainya…. Menjadi pengalaman berharga, ketika suatu saat dihadapkan dengan kondisi yang senada….

Berasa sekali, tentang pentingnya ‘mengkomunikasikan’ dengan Allah setiap keputusan yang akan kita ambil. Boleh jadi, kita melihat sisi itu tak baik pada mulanya, kemudian Allah singkap tabir kebaikan di dalamnya. Allah lebih tahu, melebihi diri kita,tentunya. Tentang yang sudah-sudah…, yah biarlah. Selalu ada PELAJARAN berharga, meski secara materil mungkin kita tak mendapatkan apa-apa. Bahkan, mungkin membuat kita terluka. Atau membuat kita menyesal dengan tindak tanduk kita terdahulunya. Apalagi type orang spontaneous sepertiku ini. Tapi, sekali lagi, TAK PERLU DIPERSALAHKAN! Belajar! Ambil pelajaran berharganya, seburuk apapun itu, sepahit apapun itu, sesulit apapun itu. Yahh, begitulah jika kita ingin menjadi pembelajar sejatilah pada akhirnya. Sebab, belajar bukan hanya melulu textbook tebal belaka, tapi juga dari alam dan kehidupan…

Maret yang Miskin Postingan… Entah hai-hari ke depan… Tak apa lah. Miskin postingan. Keterbatasan akses. Yang penting, jangan sampai miskin pembelajaran. Itu saja. Sebab, begitu banyak hikmah berserakan yang bisa dipungut….

--------------------

 NB : Bloggie = Istilah (kacaw) saia buat sebutan Blog or MyBlog… Hehe…
Read More