Apoteker Galau

Dahulu, aku pernah cerita tentang dokter yang emosional habis, kala aku menanyakan resepnya kan yah? Ternyata, hal ini juga dialami oleh banyak farmasis lainnya. Kesiaaaann…
Farmasis dianggap sebagai “corpus alien” (baca : benda asing) dalam tubuh medis sehingga sel fagositosis segera mengejarnya lalu membentuk magrofag dalam rangka pertahanan diri. Waaahh….ck..ck..ck… kesiaaan. Tapi, beginilah kenyataan bicara. Bahwa farmasis Indonesia masih dianggap benda asing yang keberadaannya di bangsal (bukan di depo loh ya) dianggap sebagai pelengkap penderita saja. Tak berguna! Sia-sia!
Kasarnya begini, “Heh lu, farmasis. Lu cukup ngurusin distribusi dan pengadaan obat ajah tuh. Masalah bener atau tidaknya obat, biarin deh jadi urusan kami. Emang lu tau apa?”
Deuhhh…kasian bener tuh…

Terjadinya hal seperti ini, bukan tanpa sebab. Oleh karena farmasis itu sendiri yang sebenarnya tak mengusai farmakoterapi. Padahal, farmakoterapi ini adalah sesuatu yang bener-bener amat sangat penting untuk dikuasai untuk bisa ‘protes’ eehh…intervensi maksudnya. Kan gak lucu tuh, farmasisnya intervensi tapi ESO ajah kaga ngerti. Barabeee banget tuuhhhh…

Kalo dulu, dokter itu marah-marah, kurasa juga hal yang amat sangat wajar. Sebab, dia berhadapan dengan seorang farmasis (ecek-ecek) sepertiku yang ilmu farmakoterapinya masih jauuuhhh dari baik. Yaah…boleh saja dia marah. Tapiii, ini semua jadi tantangan tersendiri bagiku untuk membuktikan kalo farmasis juga manusia (ya iyalaaaah manusia, cuy! Hihi…). Maksudnya, membuktikan kalo farmasis BUKANLAH corpus aliance yang keberadaannya hanyalah jadi sampah medis saja. Aku kepingin buktiin pada dunia, bahwa farmasis klinis juga semestinya berkontribusi dalam penanganan pengobatan untuk kualitas hidup pasien yang lebih baik lagi, insya Allah… Bukan gaya-gayaan. Bukan pula karena ingin eksistensi kita diakui. Bukan juga karena nunjukin kalo kita ndak bego-bego amat. Tapi, ini lebih ke patient oriented. Kebahagiaan seorang farmasis klinis adalah equivalen dengan seberapa banyak pasien yang dapat dia atasi masalah obatnya atau DRUG RELATED PROBLEMNYA… Sebab, kita juga ndak perlu menutup mata kan yah? Bahwasannya tingkat DRP (drug related problem) di Indonesia masiiiiih sangat tinggi (ini menarik buat dijadiin tesis keknya…hihi). Kita juga ndak perlu menutup mata kan yah, dengan adanya pola peresepan yang bukan EBM (evidence base medicine) akan tetapi  ‘base on pharmaceutical industries’, ‘base on tawar menawar antara si dokter sama perusahaan obat tertentu’ yang hanya karena mengejar tiket PP Amerika-Indonesia, resepnya jadi tak rasional. Meski ndak semua dokter begitu, tapiii…ini bukan berarti tak ada. Apalagi pasien yang lugu-lugu dan telah menggantungkan kepercayaah sepenuhnya pada si dokter. Ini paling gampang deh buat ‘dikibulin’. Vitaminnya ajah bejibun. Mahal-mahal pulak. Padahal, indikasinya mungkin saja ndak ada, tho? Meskipun banyak dokter yang baek-baek juga, tapi yang beginian bukan pula tidak ada, kan yah? Intinya, peran kita di sini adalah menyoal PHARMACEUTICAL CARE, yang di Amrik sono ajah udah mulai taon 1950’an. Lah, kita?? Ini niiih, baru mulai era 2000-an. Yaah, walau telat, tapi emang harus dimulai! Hup! Hayuuu semangaaaattt yuuuk…

Jadi, bagaimana doooong?!
Kita tak punya pilihan lain selain  HARUS MENG-UPGRADE DIRI, meng-upgrade pengetahuan kita, tentang farmakoterapi terutama… Mulai dari patofisiologinya hingga ke terapinya. Mau tak mau, HARUS! Jika tidak, yaah…kita bakalan terus-terusan begini, tho?! Jadi, MAU tak MAU, harus MAU! Satu lagi yang mesti dicatet, ini juga tak mesti kita dapatin dengan kuliah, tho? Selama kita mauuuu belajarrrr, kita bisaaaa belajar dengan sarana apapun. Lagian, internet sekarang mah sudah ada di mana-mana, kan yak? Jadiii, tak ada yang sulit selagi kita mau!!

Selain mengusai farmakoterapi, kita juga mesti jago dalam hal komunikasi. Ya, bagaimana membangun komunikasi interdisciplinary…. Karena, sepinter-pinternya kita, kalo ndak bisa bangun komunikasi yang baik, juga gak bakalan berguna. Tetep ajah deh, dianggap sebagai corpus alience (kali ini ditambah dengan ‘sok tau’) hihi… Jadiii, membangun komunikasi itu sangat pentiiiiiing! Jangan maen intervensi ajah dong, tapi caranya kurang ahsan (kurang baik). Sebab, penerimaan terhadap kita pasti juga kurang, kan yah? Paling juga bakal dicibir ‘halaaah, lu ngomong ajah sendiri. Gw tetep gak bakalan ngikutin’. Hihi. Nah, selain komunikasi yang baek, juga dibutuhkan rasa percaya diri yang tinggi. Eh, ini beda dengan ke-PD-an dong yah. Iya! Beda! Percaya diri berarti kita ndak perlu minder dengan apa yang kita punya. Selagi kita benar, sungguh tidak ada orang yang akan menolak kita. Selagi kita menunjukan profesionalisme kita, insya Allah tidak akan ada yang meremehkan. Intinya, ketika kita menjadi yang terbaik, gak bakalan ada yang menolak kok. Hee…

Selain itu, bagi aku pribadi, ada tambahannya juga niih. Mesti bisa bahasa inggris juga. Hee… maklumlah, bahasa inggrisku masi dong-dong banget. Jadiii, aku mesti banyak belajar niih… Soalnya, kiblatnya farmasis itu masi di negeri Paman Sam sana, jadiii…mau tak mau, aku juga HARUS BISA BAHASA INGGRIS, sama seperti ke-harus bisa-an aku dalam bidang farmakoterapi.

Jadii, hayuuuu semangat belajar yuuuuk….

Read More

Tiga Kereta

Pagi Selasa, ada kejadian yang sesungguhnya cukup menggelikan dan semoga bisa diambil pelajarannya. hee...
Ini tentang perjalanan menuju RSCM yang seharusnya bisa dengan sekali kereta saja. Akan tetapi, aku harus tiga kali ganti kereta untuk ke RSCM doang. Dan tahukah kamu, sebenarnya penyebabnya? Masya Allah....ternyata, hanya karena MISCOMMUNICATION!

Pagi itu, aku janjian dengan dua temanku untuk berangkat bareng ke RSCM. Kami janjian di stasiun Pocin. Biasanya, kalo kami janjian, nunggguinnya ndak di peron melainkan di deket tempat pembelian tiket. Tapi, karena pagi itu aku agak telat datangnya, temenku nungguinnya di peron. Nah, aku tanya, "udah beli tiket, Mba?" si Mba menjawab, "Udaah..." Dan aku pun langsung caw ke Peron tanpa beli tiket lagi. Tetapi, ternyata terjadi miscommunication antara aku dan temenku itu. Maksudku tadinya bertanya, "apakah sudah beli tiket sekalian untukku?" ternyata temenku itu menangkap maksduku, "sudah beli tiket, untuk dirinya sendiri..."
Akhirnya, ketika di kereta, kutanyakan, "Mba, mana tiketnya?"
"Loh? tadi kan aku cuma beli satu. Aku ndak beliin buat kamu."
"Yaaaaahhh....gubrak! Hadeuuh, gimana yak?"
"haduuuuh, maaf, kayaknya kita miscom deh."
"iya nih mba... Ya udah, aku turun di stasiun Ui ajah deh mba. aku naek kereta berikutnya ajah"

Di stasiun Ui, aku beli tiket lagi. Dan masya Allah, rupanya aku salah naik kereta. Aku bukannya naik yang ke Jakarta Kota melainkan naik kereta Tanah Abang. Hadeuuuhhh.... tuing..tuing...
Aku di kereta udah deg-deg-an banget nih. Gimana ntar yah kalo diperiksa? Ntar aku diturunin sebelum aku nyampe Manggarai. Di St. Cawang sebenernya aku sudah mau turun, nungguin KRL Jakarta Kota. Tapiii, "Aahh, santai ajah dah, paling kalo ditanya petugas, juga bakal disuruh turun di Cawang." Pikirku. Hehe.... Aku pake aksi cuek-cuek ajah. Santaaiiii...hihi...
Sesampai di St. Tebet, aku bernapas legaaaaa... Aahh, syukurlah, Alhamdulillaah udah nyampe Tebet. Lagian, gak mungkin juga kan yah, aku dituruinin di jalan? Pastinya aku diturunin di stasiun berikutnya. Dan stasiun berikutnya adalah Manggarai. Kan aku juga bakalan turun di Manggarai. Hehe....

Akhirnyaaa, "Hup!" turun di Manggarai. Dan, tinggal nunggu kereta berikutnya ke Cikini...
Alhamdulillaah, akhirnya jam 7 pagi aku sudah nyampe Cikini. Hee...

Coba deh kalo kita telik lagi dari awal. Kesalahan kecil itu sebenarnya hanya ada pada MISCOMMUNIKASI saja. Tapiiii, dampaknyaaaa.....Masya Allah...ribet kan ya?

Ini baru kereta...
Palagi yang miscom itu adalah GEN. coba bayangin deh, kalo gen kita miscom. DNA templetnya miscom sama kodonnya, masya Allah, dampaknya luarrrr biasaaaaaa besssuaaarrrnya (lebay!). Tapi, beneran loh! Contoh saja, anemia sel sabit. Cuma gara-gara ketuker satu basa nukleotidanya ajah (bukan asam aminonya loh, tapi basanya ajah....yang cuma satu huruf genetik), tapi dampaknya sudah luar biasa. Sel darah merah jadi kayak bulan sabit. Contoh lainnya, di hemofili. Satuuuuu ajah yang ketuker atau ter-insersi, ternyata bisa berakibat fatal. Pendarahan hebatt yang sulit untuk dihentikan. Kalo ndak dikasi cairan rumatan faktor pembekuan darah, bisa meninggal tuh. Dan ada banyaaaaaaaaaakkkk sekali penyakit yang diakibatkan ke-miscom-an informasi itu...

Pelajaran yang dapat kita petik kali ini adalah, sungguh betapa PENTINGNYA KOMINKASI itu... Betapa pentingnya menyampaikan informasi itu dengan sebenar-benarnya informasi. Makanya, kata RAsulullaah (kalo ndak salah di Riyadhusshalihin, aku lupa redaksinya gimana, ntar tulung dikoreksi yaah, jika salah), intinya, termasuk dikatakan pembohong seseorang jika ia menceritakan sesuatu yang dia sendiri sebenarnya masih ragu atau ndak yakin akan kebenarannya. Allahu'alam....

Kisah ini juga memberiku pelajaran tentang PENTINGNYA MENG-KOMUNIKASIKAN setiap keputusan-keputusan di kehidupan kita pada Allah. Yaah, libatkan Allah pada setiap pengambilan keputusan dalam hidup kita, menyoal apa saja itu... Semoga ini jadi reminder buat diriku terutama.... Dan semoga juga buat dirimu...

Dicukupkan segini dulu ajah deeeh...
Sebenernya aku masih punya banyak kisah yang ingin aku bagi...Hee...
Tapiii, kayaknya aku lagi 'pelit waktu' nihh... Keknya, aku butuh waktu lebih dari 24 jam sehari...(haha...gayaaaa cuy!)
Dikejar-kejar tugasss...hehe...
Ini juga aku pake fasilitas kampus yang gratisan...hihi...

tetap Semangaaaaaaaaaaaatttt!
Read More

Galau [part 1]

Setelah bersusah payah mengeluarkan diri dari jejaring perangkap itu, akankah aku biarkan kembali perangkap baru menjejaliku hingga sulit untukku berlepas diri darinya?
Ah, tidak! Sungguh, tak ingin kubiarkan diriku kembali terperangkap pada jejaring lagi, apapun itu…
Aku sungguh tak rela menjadikan diriku bagaikan keledai dungu yang berkali-kali terjatuh di lubang yang sama…
Sama seperti aku tak ingin membodohi diri dengan harapan yang sama yang pernah ada…
Aku tak ingin, sungguh…

Read More

Jangan Bersedih, Oh Kawanku...

Dunia ini masih seluas yang kau impikan
Tak perlu kau simpan luka itu sedalam yang kau rasa
Memang ada waktu agar kau bisa kembali semula…
Percayalah padaku, kita kan bisa melewatinya
          
Jangan bersedih,oh kawanku
Aku masih ada di sini
Semua pasti, kan berlalu
Aku kan selalu bersamamu
Jangan bersedih oh kawanku
Aku masih ada di sini
Semua pasti kan beralalu
Aku kan selalu bersamamu

Jalan hidup tak selama indah
Ada suka ada duka
Jalani semua yang kau rasakan
Kita pasti bisaaa

Jangan bersedih oh kawanku,
Aku masih ada di sini
Semua pasti kan berlalu
Aku kan selalu bersamamu
Aku masih ada di sini
Semua pasti kan berlalu
Jangan bersediiiih….
Aku masih ada di sini
Semua pasti kan berlalu
Aku kan selalu bersamamu…


Read More

Belajar dan Berbagi

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya…begitu Nasihat Ali bin Abi Thalib, ra.

Nasihat Ali ini selalu teringat olehku, terutama di saat-saat belajar seperti ini. Sering kali, dulu setelah belajar, paling banter aku Cuma review doang. Itupun, jika sudah detik-detik menjelang ujian. Hee…
Kebiasaan belajarku dari semenjak SMP dulu (kalo SD mah aku sudah lupa, gimana yah cara belajarku dulu? Hihi…), aku sering me-review pemahamanku tentang suatu pelajaran dengan cara MENULISKANNYA KEMBALI di sebuah kertas corat coret. Ketika kuliah, bahkan aku menyengajakan membeli kertas Koran (yang warnanya buram dengan lebar 100 x 100 cm) jika musim ujian datang. Gunanya adalah untuk mencorat-coretkan hafalan atau pemahamanku atas sesuatu materi yang sedang aku pelajari. Walhasil, dinding-dinding dipenuhi kertas corat-coret… Hehe…

Mungkin karena aku memang memiliki tendensi yang tinggi terhadap spasial-visual sehingga cara belajar yang paling ampuh bagiku itu memang dengan cara demikian. Melihat dan menggambarkannya kembali. Makanya, aku paling kalang kabut jika mengikuti suatu pelajaran atau pun seminar dengan TIDAK MELIHAT si pemateri, dosen ataupun gurunya. Sebab, aku mengingat dengan banyak melihat. Hee… (woiii…godhul bashor doooong  à pemahaman godul bashor yang salah, wkwkwkwk…)

Aku paling ndak demen sama yang namanya HAFALAN MATI. Ngerti ndak dengan HAFALAN MATI yang kumaksud? Hafalan mati menurut Fathelvi’s definition (cieee elaaaah!) adalah HAFALAN yang MESTI DIHAFAL, tapi TAK PERNAH BISA DILOGIKAKAN! Apa contoh yang paling ampuh? Menghafal nama obat atau menghafal nama latin tumbuhan obat ataupun nama bakteri. Hayooo, gimana coba, me-logika-kan Meropenem? Bingung kan yak? Atau, gimana cara meng-logika-kan Vibrio parahaemolyticus? Gimana? Gimana? Ada yang mau kasi model logikanya? Hee… Jika sudah begini, biasanya cari trik ampuh deh. Tapi, kebanyakan sih short memory doang yang kemudian bakalan lenyap segera sesaat setelah ujian selesai. Hihi… Pernah suatu kali (beberapa kali malah! Hee…) aku menghafal suatu hafalan mati nama-nama latin tumbuhan obat berdasarkan golongannya dengan membuat desain rumah. Ndak nyambung yah? Hehe… memang ndak nyambung sih! Apa hubungannya antara desain rumah sama nama latin obat, coba? Tapi, cara nya begini, aku bikin desain rumah lalu, golongan I aku taruh di ruang tamu, golongan II di ruang makan, golongan III di kamar tidur dan (yang paling kasian a.k.a yang paling sulit dihapal, aku taruh di kamar mandi). Jadiii, ketika ujian, aku Cuma mengingat-ingat, “TUmbuhan obat yang aku taruh di kamar mandi apa-apa ajah yah?” hehe…Ini karena aku orang visual yang sangat menyukai desain bangunan atau ruangan. Mungkin akan berbeda caranya bagi orang auditory, yang lebih express menggunakan nyanyian dalam menghafalkan suatu hafalan mati.

Okeh, back to laptop deh! Hoho…
Ikatlah ilmu dengan menuliskannya… Benar! Ini benar-benar sangat ampuh ternyata.
Maka dari itu kawan, aku hanya ingin berbagi wacana denganmu semua tentang hal ini. Semoga bisa jadi wacana tersendiri bagimu. Jika ada yang kemudian terinspirasi karenanya, maka aku sangat berbahagia deeeh. Poko’na mah nyang penting BERMANFAAT bagi kita semua.

Jika kamu termasuk orang yang sering belajar dengan cara menuliskannya kembali, maka aku punya sebuah ide untukmu. Hee…
Biasanya, orang-orang yang belajar dengan cara menuliskannya kembali, akan mencorat-coreti selembar atau lebih kertas untuk me-review kembali pemahamannya. Maka, kali ini aku punya ide tentang cara yang jauuuuuuhhh lebih PAPERLESS dan juga LEBIH BERMANFAAT karena bukan hanya kamu yang bisa menikmati ilmunya, tapi juga banyak orang!

Cara tersebut adalah…..DENGAN BLOGGING!
Haa? Mungkin bingung yak?!
Hee….

Begini, Beib…
Jika kamu demen menuliskan kembali hafalan atau pemahamanmu mengenai sesuatu, maka tak perlu susah-susah kau tuliskan di kertas. Cukup engkau KETIKKAN saja di lepimu. Ini lebih paperless dan kamu juga berkontribusi dalam upaya menurunkan global warming… Lalu, kedua, kamu gabung di dunia per-blogging-an (terseraaah deh mau Wordpress, Multiply, Blogspot, Blogsome, atau apapun itu yang paling kamu suka dan nyaman) dan UPLOAD kan pemahaman dan hafalan kamu itu di blog tersebut. Sehingga, selain kamu, ada banyak orang yang juga merasakan MANFAATnya, insya Allah…

Read More

Ini Untukmu, Wahai Diriku

Mengapa masih bertanya tentang kesejenakkan dunia, wahai diri? Tidak cukupkah penjelasan Rabb-mu tentang dunia yang hanyalah permainan dan senda gurau belaka? Tidak cukupkah bagimu penjelasan-Nya tentang waktu di dunia hanyalah satu kedipan mata jika harus disandingkan dengan hari keabadian itu? Tidakkah kau hitung seberapa besar bandingannya antara satu hari akhirat dan seribu tahun dunia? Sungguh, kesejenakan ini juga PASTI akan berakhir dengan terpisahnya antara ruh dan raga. PASTI terjadi pada tempat dan waktu yang takkan pernah dapat kau duga…
                              
Jika hanya dunia yang menjadi tujuanmu, maka sungguh betapa sederhananya dan singkatnya cita-citamu itu. Sementara, segalanya sudah PASTi akan berakhir. Lantas, apakah kau masih punya alasan untuk itu semua? Tentu tidak bukan? Tidakkah kau rindui kebahagiaan yang tak pernah berkesudahan itu? Tentu engkau pasti merinduinya, bukan? Lalu, mengapa masih terpaku?

Wahai diri, satu hal yang perlu engkau sadarkan, bahkan berulang kali, bahwa tak selamanya ingin-inginmu saja yang berlaku atas hidupmu. Karena, bahkan engkau sendiri tak mengetahui apa yang terbaik untuk dirimu! Tapi, Dia-lah, Rabb-mu, yang Maha Memiliki segala Keputusan. Dia lebih mengetahui apa yang terbaik untukmu lebih dari pada apa yang engkau inginkan belaka…

Wahai diri, jangan pernah bersedia untuk diiming-imingi dengan kebahagiaan semu yang dijadikan terasa begitu indah oleh setan la’natullaahi ‘alaih… Karena belum tentu sesuatu yang engkau sangka bahagia itu akan mendatangkan kebahagiaan yang sesungguhnya bagi hatimu. Tapi satu hal yang pasti adalah, kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketika kau menjalani apa yang telah Rabb-mu tetapkan dengan penuh keikhlasan dan menerima segala keputusan-Nya, meski mungkin terasa berat bagimu…
Jika kau sudah sangat yakin bahwa segala keputusan terbaik ada di tangan Rabb-mu, lantas apakah kau akan mencari-cari alasan lain untuk itu? Tak ada manusia yang tak menginginkan yang terbaik, bukan?!

Itulah sebabnya mengapa perjuangan ini adalah sulit, wahai diri. Sebab, harga surga itu tak murah. Maka, biarlah dirimu berpeluh payah saat ini, karena ini adalah untuk kebahagiaan abadi itu. Apalah gunanya engkau membiarkan kesenangan semu membersamaimu saat ini, jika pada akhirnya adalah sebuah kesengsaraan yang tiada lagi taranya. Na’udzubillaah…

Sekali lagi, biarkanlah kehendak-Nya saja yang berlaku atas dirimu, wahai diri… Biarlah kehendak-Nya saja… Karena, tak semua apa yang kau inginkan itu menjadi wujud nyata. Bukankah sudah berkali-kali kau menghadapinya? Biarlah Dia saja yang menjadi penentu segala keputusan itu, wahai diri… Dan bukankah kau juga telah pancangkan dengan kukuh dalam hatimu bahwa tiada lagi pengharapan pada makhluk? Tiada lagi pengharapan pada manusia. Cukuplah Allah…Cukuplah Allah….dan Cukuplah Allah saja tempat engkau menyandarkan harap! Cukuplah Dia saja… tiada selain itu…

Jagalah Allah di hatimu, maka Dia pun akan terus menjagamu… Jangan biarkan dirimu berlepas diri dari-Nya… Sebab kau tak pernah tau, akan seperti apa terminasi hidupmu… Di manakah, dengan cara bagaimanakah, dan pada waktu apakah, kau tak pernah tau… Karena kau tak pernah tau, maka kau perlu bersiap diri….


______________________
Di saat segalanya terasa begitu berat….
Depok, 5 Dzulqo’dah 1432 H
Read More

Terpaksa Harus...

Kadang, keterpaksaanlah yang membuat kita menjadi (harus) terbiasa lalu kemudian menjadi bisa. Jika ada idiom, “ala bisa karena biasa”, maka bolehkah aku sedikit modifikasi jadi, “ala bisa karena terpaksa”. Hee…

Sedikit cerita, dahulu kala S-1, aku lulus di pilihan ke-2. Pilihan yang tidak aku komunikasikan kepada Allah untuk memilihnya. Aku memilihnya tidak dengan istikhoroh. Bahkan, aku isikan sejenak sebelum aku mengembalikan formulir SPMB ke panitia local 15 kala itu. Dan, qadarullaah, Allah luluskan aku di pilihan ke-2 itu. Alhamdulillaah…

Mungkin karena bukan minatku pada mulanya untuk berkuliah di bidang nge-drugs, jadi aku tak punya target apa-apa. Motivasiku juga tak sekuat dan semenggebu-gebu ketika aku SMA dulu, ketika aku sangat ingin kuliah ke seberang pulau sana, seperti halnya teman-temanku yang lainnya. Karena kebanyakan teman-temanku pada kuliah di seberang Sumatera sementara kedua orang tuaku merasa berat untuk melepasku kuliah ke sana. Wal hasil, kuliah kulalui dengan biasa-biasa saja. Tak ada motivasi dan target yang luar biasa. Bahkan, aku sama sekali tidak memasang target untuk tamat 3,5 tahun dengan IPK cumlaude. Hee… Aku hanya punya target, tamat tepat waktu dengan IPK di atas 3. Itu saja. Yang berbeda semasa kuliah adalah karena aku ikut di beberapa organisasi intra dan ekstra kampus. Itulah yang membuat hidupku terasa lebih dinamis ketika berada di kampus.

Read More

Menjadi Muslimah Berprestasi

  • Kuntum khoira ummah

Hari ini aku dapat sebuah motivasi yang menginspirasi dari kajian muslimah FKM. Sebenarnya sebuah ketidaksengajaan saja. karena nge-kos di belakang FIK, jadi secara otomatis, aku juga mesti melewati FKM setiap kali pergi dan pulang kuliah. Biasalah, syndrome males nunggu bis kampus. Jadi, selagi masih bisa jalan kaki, aku lebih memilih jalan kaki saja. Wong  dulu kalo dari Syakuro-Pasar Baru juga juga lebih jauh koq. Hee… Nah, siang jum’at ini, lagi-lagi aku lewat sana. Akan tetapi ada yang berbeda. Sepertinya ada kajian muslimah. Kalo’ di kampusku dulunya lebih familiar dengan Forum Annisa ( populernya adalah dengan sebutan FA). Berhubung sudaaaah lamaaaa sangat aku tak ikut FA, jadi aku bersemangat lagi deh buat mengikuti kajian itu. Dan masya Allah, ternyata acara kali ini diisi oleh sosok yang inspiratif banget. Muslimah shalihah yang cantik dan cerdas! Mahasiswa berprestasi FKM yang menamatkan studi 3,5 tahun dengan prediket cumlaude. Dan telah mengikuti berbagai event-event skala nasional maupun internasional. Heuu… Luar biasa dah pokoknya!

Karena aku ndak mau termotivasi dan terinspirasi sendirian (heuu…bukan sendirian kali yaaah? Ada puluhan mahasiswa lainnya juga yang ikutan. Hee…), maka aku pun ingin share isi kajian itu. semoga bermanfaat yaah, dan semoga juga ikutan tertular motivasinya. Semoga juga, inspirasi yang ditularkan oleh narasumber, menjadi investasi kebaikan baik bagi yang menyampaikan, menerima maupun yang menuliskan ini... Hihi…

Menjadi Muslimah yang Berprestasi!

Satu quote yang langsung aku catat di diari adalah :
“Ketika kita MENJADI yang TERBAIK, maka tak ada yang akan Menolak Kita!”
Karena kita adalah khoira Ummah, sebaik-baiknya umat.

Mungkin menjadi ketakutan tersendiri bagi sebagian orang, ketika menjadi sosok yang jilbaban, lalu kemudian ‘terisolir’ pada sebuah lingkungan tertentu saja dan sulit berkembang! Sulit untuk berprestasi. Sulit untuk menjadi yang terbaik! Dan juga, (dengan ke-ekslusifisme-an) tertolak secara lingkungan. Akan tetapi, semua itu telah terbantahkan dalam penyampaian kali ini. Dan itu bukan sekedar kata, tetapi juga disertai dengan bukti nyata! Bahwa menjadi muslimah, ternyata juga BISA MENJADI YANG TERBAIK! MENJADI MUSLIMAH, ternyata JUGA BISA BERPRESTASI!  Selama kita menjadi yang terbaik, takkan ada yang bisa menolak kita, di lingkungan mana saja kita berada. Karena Allah sendiri yang telah menjamin bahwa “Kuntum Khora ummah…” Jika Allah saja sudah menjamin bahwa KITALAH UMAT yang TERBAIK, lantas kenapa kita tidak bangga menjadi bagian dari itu, lalu mengoptimalkan segala potensi yang kita punya?

Ya, meng-optimalkan segenap potensi yang kita punya, itu kuncinya. Sungguh, Allah telah bekali kita dengan segenap potensi. Dan tugas kita (juga sebagai sebuah bentuk rasa syukur kita) mengoptimalkan segenap potensi itu!

Melelahkan? Tentu saja! karena sudah pasti upaya yang dilakukan dua kali lipat bahkan lebih dari pada orang yang hidupnya Cuma begitu..begitu..saja. senang-senang, kuliah, dan seterusnya. Akan tetapi, dunia ini memang tempatnya berlelah-lelah! Karena  tempat istirahat yang paling kita rindui itu hanyalah Jannah-Nya saja. jannah-Nya, di mana yang tersedia hanyalah kenikmatan! Tiada lagi kesusahan, tiada lagi lelah dan letih. Buat apa kita bersenang-senang di dunia jika hanya pada akhirnya mendapatkan keletihan yang tiada lagi bandingannya di akhirat sana?

Keletihan di dunia ini, sungguh adalah sebuah kenikmatan. Karena, di puncak keletihan, kita berjumpa puncak kenikmatan. Dan bukankah kita punya Allah, tempat mengadukan segala lelah. Ketika kita lelah, maka katakana “lillah”, dan cukuplah kepada-Nya saja kita sandarkan segala keletihan itu…
Sungguh, janji Allah itu PASTI, dan adakah yang lebih menepati janji selain dari pada-Nya? Dan sungguh Dia berjanji akan memberikan kepada kita kekuatan. Allah menyediakan kekuatan sebesar apa yang diminta oleh hamba-Nya. Jika kita meminta seember, maka hanya seemberlah kekuatan yang Dia berikan. Jika kita meminta seluas samudra, sungguh Allah akan memberikan seluas itu pula.

Tiadalahyang terindah dalam hidup ini selain cinta-Nya. Jadi, setiap apa pun yang kita lakukan, tetaplah Dia yang menjadi tujuannya, menyoal apapun itu! karena, ketika kita sudah sandarkan segalanya pada Allah, tiada lagi terasa berat, tiada lagi terasa sulit. Boleh saja kita menangis, tapi tangisan yang justru membuat kita semakin kuat!

Jadii, hayuk, katakan : AKU BANGGA MENJADI SEORANG MUSLIMAH, dan AKU AKAN OPTIMALKAN SEGENAP POTENSI YANG KUPUNYA HANYA UNTUK MENCARI RIDHA-NYA saja!
Hayuuk semangat yuuuuuk…

Mungkin ini sangat singkat dan tentu saja redaksionalnya berbeda. Dan mungkin tak semua juga dapat kurangkumkan di sini. Hee…. (Mohon dikoreksi jika salah yaah…). Dan satu lagi, semoga bermanfaat bagi kita semua. Hayuuu, tunjukkan pada DUNIA bahwa KITA insya Allah PASTI BISA! Karena Kita adalah sebaik-baiknya ummat! Lantas, apakah kita masih punya alasan untuk merasa rendah, merasa minder, merasa tidak memiliki apapun sementara Allah sendiri sudah menjamin bahwa kita adalah khoira ummah?!

Tiada kata terlambat untuk memulai… tiada kata terlambat untuk berbenah diri. Selagi kita punya azzam yang kokoh, PASTI Allah akan tunjukkan jalannya. Selagi kita masih memiliki tekad yang kuat, sungguh Allah menyediakan segenap kekuatan buat diri kita. Sungguh, tak pernah terlambat untuk memulai itu semua, sebanyak apapun kesempatan yang telah kita lewatkan…. Karena, ketika azzam sudah terpancang kokoh di hati, PASTI SELALU ADA JALAN!
Read More

Dosen yang Mengapresiasi

Apa yang sebenarnya yang ada di benak mahasiswa ketika mengikuti suatu mata kuliah? Selain materi pokok dari kuliah itu sendiri, sepertinya ada hal yang lain yang lebih menarik untuk dibahas. Apa itu? dosennya! Ya, dosennya!

Mengapa dosennya? Hoho, karena, ternyata cara dosen menyampaikan, jadi evaluasi tersendiri bagi mahasiswa. "Eh, bapak ini gimana sih kuliahnya? Asyik gak?", "Duh, Aku ko ngga ngerti yah blajar sama ibu itu?" "Aku ndak paham nih materi bla..bla..bla.., abis dosennya cepet bener ngomongnya. Ndak bisa ngikutin!"
Coba deh liyat.... Selaluuu saja SUBJEK nya yang menjadi sorotan. Bukan OBJEK yang diterangkan dosennya...Iya kan yak? Atau, ada yang punya pendapat yang berbeda?

Aku secara pribadi sebenarnya juga sering melakukan 'evaluasi' tanpa kusadari. Aku lebih senang dosen yang tidak monoton dalam menerangkan setiap materi kuliah. Aku lebih senang dosen yang menggunakan media presentasi yang menarik, ketimbang yang datar-datar saja. Dan aku juga lebih senang dosen yang sugestif, bukan hanya sekedar transver of knowledge doang. Jadi at totally, aku sangat menyukai sistem pembelajaran yang begitu inovatif, dan juga penuh motivasi. Karena ilmu, sebenarnya bisa didapatkan di mana pun tho? Jadi, menurutku, rugi bener kalo cuma sekedar transfer of knowledge dengan membacakan slide yang begitu monoton, membingungkan, tanpa ekspresi, dingin, dan suram. Atau, karena aku begitu ekspressif, bersemangat dan sangat membenci kemonotonan kali yah? hihi...
Read More