IBU RUMAH TANGGA

Suatu hari, berkumpullah tiga orang muslimah yang kebetulan sudah tahun akhir di sebuah universitas negri. Setelah beberapa saat, mereka terlibat perbincangan seru.
“Eh, Mba’, Uni, Teteh, Ayuk, setelah tamat kuliah ini, mau ngapain?” Tanya Jeng.
Mba’ : “saya ingin mengambil S-2 ke luar negri. Pokoknya semua hal mengenai beasiswa ke luar akan saya hunting. Itu sudah menjadi cita-cita saya! Lagian, para saentis memiliki peluang lebih besar untuk studi penelitian di luar. Jepang, misalnya.” si Mba’ menjelaskan berapi-api. Semua mengangguk-angguk.
Uni : “saya pengen ngambil magister manajemen aja. Kuliah manajemen, akan membantu saya meneruskan karir Bapak di perusahaan A. mungkin gak di luar negeri, cukup di sini saja.” Agak kalem. Semua juga tak sadar mengangguk-anggukkan kepalanya.
Teteh : “saya mah, penginnya jadi PNS saja, atuh. Maklum, saya kan kuliah di jurusan Administrasi Negara.” Dan lagi-lagi, semua yg ikutan diskusi mengangguk-angguk.
“Lha, si Jeng sendiri mau ngapa, tho?”
“Kalo’ saya, penginnya sih, jadi guru. Guru itu looh, yang gak ada abisnya. ‘ilmunya mengalir sepanjang masa.”
“Ayuk gimana? Mau ngapain aja Yuk?”
Ayuk : Eng…emmm…., saya pengen jadi IRT saja tho.”
“APA??????????? IRT??????????? IBU RUMAH TANGGA???????????”
Serempak, semua yang hadir di sana menatap si Ayuk tak percaya.
“iya.” Jawab si Ayuk kalem bin datar, tanpa beban sedikitpun.
“Aaaaaah, sayang sekali potensimu Yuk! Kamu selama ini mahasiswa yang jago orasi, cerdas, dan juga potensial untuk menjadi akhwat ‘lapangan’.”
“Jarang lho Yuk, aktivis macam Ayuk niy cita-citanya jadi IRT. Maunya yang “bergerak” gituh.”
“Ayuk…eh….ayuk sedang becanda kan ya? Moso’ sih, Ayuk cita-citanya IRT doang! Sayang lho Yuk, ilmu yg di dapat di kuliahan mau diapain??”
“Maneh teh kunaon, atuh? Saya tak percaya.”
Semuanya bergantian dan nyaris berebutan memberikan komen ketidakpercayaannya. 
Si Ayuk kalem-kalem saja sembari melempar senyum, memperlihatkan lesung pipinya. 
“Kenapa, Yuk? Kenapa?!”
“Ada banyak alasan, sebenarnya. Sebetulnya, IRT yang saya maksudkan, bukan sekedar IRT, tapi, IRT yang produktif.”
“Produktif, it’s means banyak anak? Oalaaah, ada-ada saja si ayuk mah.”
“Bukan hanya sekedar banyak anak tho Teh. Tapi,produktif dalam artian luas.”
“Maksudnya si Ayuk teh apaan?”
“Hmm…begini lho Jeng, kita pasti sepakat, bahwasannya Ibu itu adalah madrasatul ‘ula alias sekolah pertama bagi anak-anaknya. Iya tho?? Nah, sudah masanya kita memperbaiki generasi ini dengan membaikkan kaum ibunya terleih dahulu. Baik-buruknya suatu Negara, tergantung dari baik-buruknya wanita di Negara itu. Di balik kesuksesan seorang laki-laki, ada wanita mulia yang menyokongnya. Sebaliknya, dibalik laki-laki yang brengsek,juga ada wanita busuk di belakangnya. Seorang wanita, bisa berprestasi mendorong lahirnya seorang pemimpin bangsa, sekaligus, seorang wanita jua berpotensi mendorong lahirnya pecundang bangsa.” Ayuk memulai orasinya. Eits, ceramahnya. Eh, engga’ ding! Curahan hatinya. Semua menganguk-angguk.
“Nah, IRT itu bagiku bukan pekerjaan yang rendah loooh, justru sebuah BIG PROJECT bagi seorang muslimah. Kenapa???? Karena, IRT itu adalah top of the job. Seorang IRT harus menjadi guru, dokter, hakim, polisi, baby sitter, ratu, bagi keluarganya, terutama anaknya. Semua peran2 besar itu mesti dijalanin dengan sempurna, untuk membentuk generasi Rabbani. Dan, salah satu proyek besarku adalah; ingin menjadikan generasi-generasiku, jundi-jundiku, sebagai calon pemimpin masa depan, sebagai generasi yang deket dengan Qur’an. Karena, awal kehancuran Islam itu bermula dari jauhnya hati-hati para pemuda Islam dari Al Qur’an. Aku benar-benar tersentuh dengan bundanya Husein Thab’thaba’I mengenai pola pendidikan Al Qur’a yang diajarkan kepada anaknya. Tak ada yang tak mungkin, jika Allah sudah berkehendak. Bagaimana, seorang Husein Thaba’thaba’I bisa menjadi sosok luar biasa di umurnya yg masih belia. Setelah kutanya seorang psikolog, bukan tidak mungkin itu semua bisa terwujud pada anak-anak di Indonesia, asalkan, dibentuk inviromental yang bagus,niatan yg ikhlas dan ghiroh dari orang tua, pola pendidikan yang benar, dan makanan yang halal yang mengaliri pembuluh darahnya.”
“Lha, idealitanya sih begitu Yuk, tapi, realitanya? Kebutuhan senantiasa tak tercukupi dengan penghasilan yang tersedia. Apalagi, ikhwah jaman sekarang mah --kata ustadz di sebuah dauroh—pada dhaif semua. Zuhud lah.” Tawa pun menggema di ruang itu.
“Waduuhh…, antara dhaif dan zuhud itu beda tiga ratus enam puluh derjat Mba’.”
“ Eit, kalo’ 360 derjat, itu mah namanya samimawon! Seratus delapan puluh derjatlah! Itukan titik terjauh.” Si Uni yang anak sains nyeletuk. Lagi-lagi, semuanya tertawa. 
“Zuhud itu, meletakkan dunia di tangan, dan meletakkan akhirat di hati, gitu loh Jeng. Kalo’ dhaif mah beda atuh.”
“Artinya, kita ga’ boleh kerja, begitu yuk?”
“Waduh, maksudku tuh bukan demikian lho, Jeng. Ehm…, begini, tuntutan era globalisasi, hidup serba sulit terkadang mengharuskan istri untuk bekerja. It’s okay! Namun, yang ingin kutekankan di sini, IRT itu adalah pekerjaan yang utama. Seorang istri boleh saja bekerja jadi dokter, perawat, guru, apoteker, psikolog, akuntan, praktisi hukum, pengusaha, manejer, mahasiswi magister atau doctoral, PNS, dsb. Tapi, itu semua adalah “pekerjaan sampingan”. Pekerjaan utamanya tetaplah menjadi IRT. Selagi pekerjaan utama tidak terganggu, pekerjaan sampingan boleh saja dilakukan. Yang berabe itu, kadang2 pekerjaan sampingan malah jadi pekerjaan utama, dan sebaliknya. APA GUNANYA COBA, KITA SEBEGAI PEREMPUAN, BEKERJA DI LUAR UNTUK MENGGAJI SEORANG PEMBANTU, YANG MENGAWASI ANAK-ANAK KITA? apakah kita rela, anak-anak dibesarkan oleh pembantu? Sungguh, peran seorang ibu tetap takkan pernah tergantikan. Apa jadinya, pekerjaan utama sebagai madrasatul ‘ula, hanya dengan menggunakan sisa-sisa tenaga yang lelah. Akan dibawa ke mana generasi ini nantinya?”
“Ooo…uw…, iya yah??!!”
“Insya Allah, takkan mematikan potensi si istri kok. Justru di rumah dia bisa berkarya lebih banyak, mengeksplorasi amanah potensi yang dianugrahkan-Nya. Sepakat?”
“Lalu, yang terpenting lagi, how to prepare. Semua impian itu takkan terwujud tanpa tindak nyata. Tanpa persiapan yang matang. Tak cukup hanya dengan learning by doing saja di kemudian hari. Maksudnya begini, mestinya seorang akhwat harus memancangkan target dan memulai persiapannya dari sekarang, gituhh.”
“Ouw..gitu tho Tuk?” keempat temannya mengangguk-angguk.
“Yak tepat sekali, Jeng! Kalau g’ dari sekarang, kapan lagi? Kalo’ ga’ dimulai dari diri kita sendiri, lalu siapa lagi? Percayalah, kalau setiap muslimah bercita-cita untuk melahirkan generasi2 Qur’ani, maka aku yakin insya Allah negeri ini akan bebas koruptor. Insya Allah, mereka adalah arruhul jadiid fii jasadil ummah. Insya Allah, mereka adalah generasi rabbaniyyun, calon pemimpin masa depan. Dan, insya Allah, ini adalah salah satu jihad kita para akhwat, sebagai salah satu bentuk kontribusi bagi kemenangan dan kebangkitan Islam itu. Allahu akbarr!!!! Karena, aku percaya, insya Allah, harapan itu masih ada. Kalaupun kita tak dapat menikmati kemenangan itu, setidaknya, kita telah memberikan kontribusi bagi kebangkitan ummat Islam. Janji Allah itu pasti! Allahu akbar!!!!” Si Ayuk menyampaikan dengan begitu berapi-api, dan dikepalkan tangannya ke udara. Kalaulah waktu itu ada bensin, mungkin sudah meledak, dan mereka sudah hangus terbakar, saking berkobarnya api semangat tuh akhwat. (halah! Lebay dot com deeeeh). Keluar deh, sifat aslinya si Ayuk yang kitis, demen orasi, dan magnetis (hah???, nyambung ga’ yah?). padahal, tadinya sok kalem lhooo.
“Iya, aku juga penegn deeeh, meski S-2 di Jepang nantinya, aku tetap pengen jadi madrasatul ‘ula yg baik.” Si Uni berandai-andai. 
“Lho, emang ke Jepangnya bawa ‘someone’ Un? Bukannya sendirian? Hehehe…” Ehh, si Uni malah diledekin
“Iyah! Sepakat!! Pokoknya, apapun pekerjaan sampingannya, pekerjaan utama tetaplah IRT!!!!!” mereka menjawab serempak. Every body in this millist, pada setuju kagak, sama kesimpulannya si Jeng, Mba’, Uni, Teteh, dan si Ayuk…????? (ini mah, ‘kakak’ semua!! Kecuali si Jeng!!!)


Source : The storiatte “Secarik Mozaik” and Pre-Matur of My 5th novel’s manuscript, “Elegi Aya” by ipi_tyf. Semoga kagak “gestasi” mulu’. Udah lebih Sembilan bulan niy. Kapan “maturasi”-nya, euy??? Hi..hi…




3 comments:

  1. panjang banged buk tulisannya...tapi bagus banged fy..jadi terharu

    ReplyDelete
  2. cita-cita yang luhur......so sweeet
    tulisan anti bagus2....

    ReplyDelete
  3. waah..ade..

    yaph!

    cita2 qta smua yah De

    ReplyDelete

Tafadhol, jika ada pendapat lain, masukan, tambahan, kritikan dan saran, hehe, ayuuh... di kasi comment...^^
(jangan lupa pilih salah satu profil yg koment yah. biar termoderasi. jangan anonim. okeh? ^^)