Aku dan Bocah Penjual Koran

Hari ini ada kisah yang cukup menarik bagiku. Siang menjelang sore ini, sehabis diskusi kelompok, aku dan Bu Roma menyengajakan diri untuk ke kober. Soalnya Bu Roma mau beli At Glance Farmakologi Medik. Sebenarnya aku juga pengin beli bukunya, tapiii… (hee, ada tapinya ternyata…hihi). Karena bukunya ndak ada, akhirnya Bu Roma Cuma beli At Glance Hematologi doang, dan aku tak membeli buku apapun. Hanya membeli flashdisk (paraaah yah, aku bahkan ndak punya flashdisk. Jadilah MP4 jadi korban. Hee…) dan beli tinta printer. Di stasiun kami berpisah. Aku nunggu bus kampus dan bu Roma nungguin kereta.

Tiba-tiba, seorang anak belasan tahun menghampiri dan di tangannya ada segepok Koran.
“Kak, do you want to buy the newspaper?” tanyanya. Awalnya aku ndak begitu percaya dengan pendengaranku. He? Anak ini? Berbahasa Inggriskah? “Apah, Dek?” aku mencoba meyakinkan. “Do you want to buy the newspaper?” ulangnya.
Masya Allah… dia tidak berpenampilan rapih dan elegan, sama dengan penjual Koran lainnya, tapii…dia mengucapkan sesuatu yang bahkan mahasiswa saja (meski tau), tapi begitu jarang mau bercakap-cakap dengan bahasa inggris.
Aku kagok. Spechless. Dan akhirnya, aku hanya menyahutnya dengan bahasa Indonesia. Aku jauhh lebih kalah PD dibandingkan dengan bocah penjual Koran itu. Masya Allah…
Sebenarnya aku tidak sedang tertarik dengan Koran (heuu…ketahuan banget nih jarang banget baca Koran!), tapi cerita tentang si penjualnya yang berbahasa Inggris, walaupun ia hanyalah penjual Koran yang masi ingusan itu jauh lebih menarik bagiku sehingga Koran itu jadi saksi. (halah, lebay!).
Ketika kuserahkan uang lima ribuan dan bertanya, “ada kembaliannya ga De’?”
“I don’t have the change, kak…” jawabnya. Bahkan, ketika aku berbahasa Indonesia pun, dia tetep kekeuh berbahasa Inggris… Masya Allah…
Ahh, bocah itu telah ‘menampar’ku! Selama ini, aku adalah orang yang sama sekali TIDAK PD berbahasa inggris. Aku selalu merasa bahasa inggrisku itu jelek, sehingga aku tidak berani untuk bercakap-cakap. Padahal, sejelek apapun, seharusnya aku tetep PD ajah yah? Harga PD itu ternyata jauhhh lebih mahal. Harga keberanian itu ternyata jauhhh lebih mahal. Dan itulah yang tidak kupunya. Aku benar-benar kalah jauhhh dari bocah penjual Koran yang umurnya mungkin masih 13 tahun itu. Dia berani. Dia punya rasa percaya diri. Masya Allah…

Hari ini aku belajar banyak dari bocah penjual Koran itu. hari ini aku memetik sebuah pelajaran tentang pentingnya sebuah keberanian dan rasa percaya diri.
Ah, trima kasih bocah penjual Koran. Mungkin harga Koran yang kubayarkan, tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan pelajaran yang kuperoleh darimu hari ini. Itu sungguh lebih berharga bagiku…

2 comments:

  1. Keren critanya, keren blognya...Kaifa sll kagum dg anak2 muda yg sll rajin menulis..boleh usul ga mbak? tulisannya agak digedein donk, tll kecil buat mataku..Thanks

    ReplyDelete
  2. trima kasih kunjungannya mba Kaifa....

    iyahh niih, yang postingan itu nda mw diedit fontnya...yang lain udah di gedein ko...^^

    ReplyDelete

Tafadhol, jika ada pendapat lain, masukan, tambahan, kritikan dan saran, hehe, ayuuh... di kasi comment...^^
(jangan lupa pilih salah satu profil yg koment yah. biar termoderasi. jangan anonim. okeh? ^^)