Make Up The Kids Bedroom

Sejak kira-kira 4 bulan yang lalu ketika belum pindah rumah, kami mencoba mengajak anak-anak untuk tidur di kamar sendiri. Pertama, pengen mereka punya area privacy sendiri. Kedua melatih mereka mandiri. Ketiga (alasan paling utama) karena mau ada adeknya yang otomatis ga muat di 1 tempat tidur. Hehehe... Ketika dulu awal-awal pisah kamar, mereka terutama Aafiya terlihat sangat excited. Kalo Aasiya sih jadi follower uni nya ajah. Hihi... Apalagi ketika mainan mereka di tata di kamar mereka (yang sebelumnya ada di ruang tengah/sholah). Jadiii, senang deeh bisa main sepuasnya tanpa harus bolak-balik kamar-ruang tengah. Tapiii, pas udah pindahan ini, anaknya makin lengkeeet deeh. Ga mau tidur di kamar sendiri kalau ndak ditemani. Dulu sih juga ditemani sebelum mereka tidur. Trus ketika udah merem, emaknya kabur ke kamar sebelah. Hehe... Tapi belakangan (sebelum baby Maryam lahir) malah minta ditemenin whole night dan bahkan berempat sama ayah juga. Jadinya tidur di kamar sendiri tapi bareng ayah bunda wkwkwkwkwk... Sama aja ga pisah kamar.

Yaa begitulah, pindah rumah terkadang menciptakan suasana berbeda yaah... Kadang sebelum tidur itu penuh drama jugaaa... Apalagi dengan pola tidur yang sebelumnya agak berantakkan. Tapi kita lagi perlahan memperbaiki pola tidur mereka dan juga udah bikin semacam agreement bahwa nanti ketika umur uni Aafiya genap 4 tahun, uni harus bobo di kamar sendiri tanpa ditemani ayah dan atau bunda lagi. Dan so far Aafiya sudah setuju. Semoga nanti prakteknya bisa terealisasi.

Nah, setelah Maryam lahir, sekarang berganti formasi. Dua lawan tiga. Kekeke... Maryam bersama emaknya di kamar ayah bunda. Aafiya dan Aasiya bersama ayah di kamar anak-anak. Meski, Aafiya dan Aasiya yang biasa tidur bersama bunda terlihat agak berat ketika harus pisah bobo sama bunda sampai-sampai ada adegan cipika cipiki, peluk-peluk, ngucap "bundaa baik2 yaa sama Maryaam, bye bye assalaamu'alaykum bundaa" sebelum bobo. Udah kayak mau pisah pergi jauh ajaaah... ekekekeke...

Pisah kamar menurutku memang harus dimulai sejak dini. Ada ruang privacy buat mereka dan tentu saja ruang privacy buat orang tua. Bahkan ada yang menyarankan, pisah kamar dimulai sejak masa penyapihan malah. Begitu selesai disapih, kamar pun misah dari orang tua Di barat sono kabar-kabarnya bayi punya kamar sendiri malah. Kalau aku sih ga seekstrem itu jugaa hehehe. Tapii, ga ingin juga anak-anak pisah kamarnya udah gede apalagi udah mukallaf. Bahkan ada yang sampai kelas 6 SD masih sekamar dengan orang tua!! Kan mereka udah mengerti tentang segala aktifitas orang tuanya.

Bagaimana biar anak mau pisah kamar?!
Yang kami lakukan adalah:

1. Sounding
Ini the most important thing deh pokonya. Kita ajah kalo ujug2 disuru pindah, pasti ga senang kaan? Apalagi kalo sudah di zona nyaman. Ga mauu dong disuru pindah tanpa sebab musbab. Apalagi anak yang di dalam masa kelekatannya. Kita kasi tau kenapa dia mesti punya kamar sendiri. Dengan alasan yang tentu bisa diterima logika anak seusianya tentunya. Meskipun kadang, aku merasa takjub ma shaa Allah dengan anak usia 3-4 tahun yang ternyata logikanya sudah jalan.

Satu pertanyaan Aafiya ketika berusia 3 tahun 9 bulan 9yang masi bingung untuk emaknya memberikan jawaban, "gimana caranya dedek bayi ada di perut bunda?"
Untung pertanyaannya ga ditanyakan lagi sebelum emaknya sempat menjawab. Wkwkwkwk... Dan ga ditagih lagi sampai sekarang. Alhamdulillaah... Dan banyak pertanyaan dan pernyataannya lainnya yang sudah menghubungkan sesuatu dengan logis. Jadi, emak2 kudu hati2 dan tidak memberi jawaban ngasal apalagi sampai ngarang bohong sama anak. Ye kan?

2. Make an agreement.
Anak seusia Aafiya ternyata sudah bisa bikin agreement. Dan, anak adalah sosok paling jujur ketika kita sudah bikin kesepakatan. Jadi, kita sebagai orang tua jangan jadi orang pertama yang melanggarnya. Misal, kita bikin kesepakatan untuk tidak makan di atas tempat tidur. Maka, sebagai orang tua kita tidak boleh melakukannya jika tidak ingin kehilangan kepercayaan dari anak kita. Tapi, ketika kita lupa dan tak sengaja melakukannya, jangan segan untuk meminta maaf kepada anak. "Maaf yaa Nak, bunda lupa. Harusnya kan ga makan di tempat tidur". Jangan malah mencari alibi atau pembenaran. "Bunda kan makannya ga berantakan kayak kamu, jadi bunda boleh aja makan di atas tempat tidur." Emaknya secara tak langsung mengajarkan ketidakkonsistenan dong yaa.. hehehe...

Nah soal agreement ini, kita bisa bikin pakai usia. Contoh, "nanti kalau uni Aafiya sudah genap 4 tahun, uni bobo sendiri yaaa di kamar sendiri. Kalau sekarang masi boleh ditemani ayah atau bunda." Agreement seperti ini biasanya leboh diingat oleh anak.

3. Decoration
Ini niih bagian yang paling menyenangkan buat emak Aafiya. Hehe. Iyesss. Merias kamar anak. Bikin mural ala-ala di dinding. Nyoret-nyoret dinding, jait properti ini itu dan tempel. Kekeke... Salah satu daya tarik biar anak mau tidur di kamarnya sendiri adalah merias kamarnya secantik mungkin. Jangan lupa mengakomodir keinginannya, misal warnanya, gambarnya dll. Berhubung (entah kenapa dan sejak kapan) Aafiya menyukai Hello Kitty (yang emaknya ga ngenalin sama sekali hehe) dia request di dindingnya ada gambar hello kitty nya. Dan jadilah emaknya melukis hello kitty di dinding. Sebagian yang lain emang ide emaknya aja yang alhamdulillaah anaknya sukaa. Kekeke...

Kalau ingin serius mendekor kamar anak, memang harus di plan sebaik mungkin sejak kamar itu kosong. Sebelum mengisi segala furnitur dan pernak perniknya. Jadi kita bisa merencanakan sebaik mungkin. Nah, case kamar Aafiya dan Aasiya sekarang adalah karena barang2 yang ada di dalamnya bukanlah sesuatu yang di plan dari awal, alias barang yang ada sebelumnya aja plus warisan dari teman sebelumnya yang tinggal di sini. Sudah barang tentu ga bisa di plan dari awal dongs. Hehe... Kasurnya yaa kasur aja tanpa bed alias dipan karena berpotensi bikin anak jatuh dengan tidurnya yang masih ngeguling ke sana kemari. Terutama Aasiya. Aku juga ga bisa pilih warna karena memang kan ga ada plan dari awal. Headboard nya juga homemade hihihi... Bukan buat gaya-gayaan sebenarnya, cuma untuk menghindari benturan kepala anak dengan dinding yang keras. Itu dibikin ketika 3x kepala Aasiya kejedot dinding yang tentu sama sekali bukan terbuat dari busa melainkan beton. Sakitnya yang aduhai ga isah ditanya. Dari suara tangisnya, emak-emak pasti sudah mengetahui level nyerinya. Sisi dinding yang satunya lagi pakek foam yang ditempel dengan lem silicon. Gunanya sama dengan headboard hanya saja ketika mau bikin yang mirip, bahannya sudah ga ada. Jadi beli foam aja. Hehe... Naah... lukisan (baca: coretan) di dinding itu pakai cat akrilik. Meski sejujurnya aku ga suka dinding yang terlalu meriah kayak gini, tapi buat kamar anak-anak masi tolerable laah. Namanya juga anak-anak, pasti seneng yang rame. Hehehe...

Berikut beberapa potret hasil make up kamar anak-anak yang masi jauh dari kata bagus. Yang penting anak-anaknya happy dan merasakan ada nuansa berbeda di kamar mereka yang membuat mereka tertarik untuk tidur di kamar mereka sendiri. 

penampakan dr pintu masuk

aafiya & aasiya's bedroom



pojok mainan



0 Comment:

Post a Comment

Feel free to accept your comment. Spam comment will be deleted and blocked