Mempersepsi Hidup


Beberapa hari yang lalu, telpon selulerku berdering nyaring. Rupanya, sebuah panggilan dari Psikolog-ku. (Halaaaaaah, gaya cuy! Pake psikolog segalaa. Hehe). Kami berkenalan secara tak sengaja ketika duduk bersebelahan di atas bus, ketika hendak menghadiri suatu dauroh dulunya. Tiga tahun silam tepatnya. Rupanya, kami menuju maksud dan tujuan yang sama. Dan, masya Allah, luar biasanya, sang psikolog ini, tiba-tiba saja, aku merasa begitu dekat dengannya. Barang kali karena, kami ‘nyambung’ banget kali yaah? Bukankah ruh-ruh itu ibarat prajurit yang berbaris? Yang saling mengenal akan saling menyapa ramah, dan yang tak saling mengenal akan saling menjauh. (haduh, lupa nih, redaksionalnya. Intinya ya gitu deh…). Ini adalah….kesesuaian ruh, barang kali. Yang jelas, yang kurasakan adalah…aku mencintainya karena Allah, meskipun ia bukan tipe orang yang suka kata-kata gombal. Hihi.

Kami bercerita panjang lebar dan tertawa. Lalu, aku bertanya mengenai kabarnya, bagaimana kondisinya? Ia menjawab, “Uni dalam keadaan baik-baik saja. Dan kondisi di sini, luar biasa menyenangkan!”
Aku mengernyitkan dahi.
Sebab, sebelumnya, aku juga ditilpun oleh ukhty fulanah yang berada di tempat yang sama dan waktu yang sama dengan si Uni, dan menceritakan kondisi yang sebaliknya. Ia mengatakan, “kondisiku hari ini tidak begitu baik. Sangat menyesakkan.”
Lalu, kepada uni psikolog kutanyakan, “kenapa Uni bisa mengatakan hal yang sangat bertolak belakang dengan ukhty fulanah, sementara uni berada di tempat dan waktu yang sama?”
Lalu, si uni menjawab, “HIDUP ITU TERGANTUNG BAGAIMANA KITA MEMPERSEPSINYA.”

Yup, I got the poin! Tergantung bagaimana mempersepsinya. Kita mungkin, sudah sering mendengar filosofi sesendok garam, segelas air dan sebuah telaga. Di mana, jika sesendok garam jika dimasukkan ke dalam segelas air akan membuat air itu asin. Sementara jika di dalam telaga, sedikitpun telaga tak berasa asin. Dan, garam itu adalah masalah sementara air dalam gelas dan telaga, adalah sempit atau lapangnya hati kita dalam mempersepsi suatu masalah. Hehe, kau pasti sudah sering membaca cerita ini, bukan?

Memang, begitulah. Namun kadang, jika kita berada di posisi si ukhty fulanah, mungkin tanpa kita sadari kita juga berada dalam kungkungan persepsi yang sama. Yang dibutuhkan adalah, energy bagaimana agar kita bisa keluar dari kungkungan itu.

Mari sejenak belajar dari si bocah kecil yang bermain air di atas. (fotonya di ambil di telaga murni, Parak Gadang , Sol Sel. Haha, jangan kamu suudzhan pula kalau aku ‘mancigok’ orang mandi! Hihihi). Lihatlah ekpressinya. Begitu bebas, tanpa beban.

Meskipun anak-ana yang baru mengenal dunia, mereka tetap memiliki masalah. Kita pun dulunya, ketika masih anak-anak, kita pun punya masalah kan yah? Masalah yang tentu saja sesuai dengan umur kita kala itu. Tapi, anak-anak begitu cepat menyelesaikan masalah! Hanya sebentar saja, lalu sudah lupa. Kembali ceria. Kembali tanpa beban. Lalu, kenapa ketika sudah dewasa, kita memikul masalah begitu berat di pundak? Mengapa kita tidak belajar saja dari si bocah yang berkspressi lepas tanpa beban itu? Bukankah kadar masalah itu berbanding lurus dengan kemampuan kita menyelesaikannya?

Naah…so what?
Hayuuk, mari merubah persepsi! Hayuk..hayuuk…
Read More

Meranggas



Sungguh, aku tak ingin meranggas sepertimu, Sunkist…
Menguning, dan jatuh perlahan…
Yang kemudian tak sanggup memberikan manismu, untuk mereka yang memetikmu…


Aku tak ingin meranggas…
Sungguh aku masih ingin di sini…di jalan ini…
Dan, aku hanya ingin, jika sampai waktuku, dengan sebuah pengakhiran yang manis…juga di jalan ini…
Read More

Horison Senja


Kutatap horison di langit senja…
Pada garis-garis lembayung dan nila…
Senja-senja pada masa-masa yang tak lagi sama…


Senja, meredup…berharap fajar asa kan menyingsing…


Ingin segera kutinggalkan senja, menuju benang putih sang fajar itu…
Tapi, siapakah yang dapat menjamin, akan ada senerai fajar esok, membersamaiku bersama asa baru?
Read More

Tujuh Negeri


Hehe, maaf teman. Aku hanya ingin sedikit berceritera saja. Barang kali tak banyak yang bisa kau bawa pulang dengan ceritaku kaliini. Tapi, sudahlah! Aku hanya ingin sedikit bercerita saja…

Dua tahun lagi, insya Allah—jika Dia berkenan menyampaikanku pada masa itu—aku berada di lini seperempat abad. Sungguh, begitu kencang waktu berlari. Padahal, masi kemarin sore rasanya, aku gegap gempita melarikan sepeda baru hadiah dari ibu karena ikut lomba matematika dengan masi mengenakan rok merah kembang dan seragam putih berlengan sesiku.

Pada masa nyaris seperempat abad ini, setidaknya aku telah memiliki tujuh negeri yang dijejaki. Negeri-negeri, dengan cerita-cerita yang berbeda.

Negeri pertama dan paling utama itu, adalah…kampungku, Solok Selatan. Muara Labuh. Lebih kecil lagi, Nagari Pasir Talang. Dulu, waktu masi kanak-kanak, nama desaku adalah BSM yang kepanjangannya (tentu saja bukan Bandung Super Mall), sebab di kampungku yang permai ini, tidak ada mall. Kepanjangannya adalah Bandar Gadang, Sipotu, Mudiak Lawe. Jadi, desa BSM ini adalah gabungan ketiga negeri kecil ini. Dan, aku berada di satu kampong kecil yang bernama Mudiak Lawe ini. Masa kecilku, sejak mengenal kata dan huruf, adalah di sini, di pinggir bukit ini. Rumahku, adalah rumah kayu. Bekas rumah gadang dulunya, yang dirombak pasca gempa besar. Tentu saja ketika gempa besar itu aku belum lahir, karena ibuku saja belum lahir. Hihi. Di sini, kuhabiskan sebagian besar masa SD-ku. Masa kanak-kanak. Masanya bermain. Di pinggir bukit, bersama sungai-sungai jernih.
Aku menyebut negri ini…negeri pelabuhan!

Lalu, negri kedua…adalah Sawah Lunto. Kota Sawah Lunto, adalah kota kuali, karena ia seolah terkurung dilereng-lereng yang dikelilingi perbukitan. Ini kepindahan pertamaku menuju negri yang lebih kota, sejak aku “bapangana”. Karena ibuku, dipindahtugaskan ke kota ini. Di kota ini, pada mulanya, aku semacam orang kampong yang sesekali menginjak kota. Bahasa Indonesia yang belepotan (hingga sekarang pun, hihi). Dan, gedung sekolah yang jauh lebih megah ketimbang sekolahku di kampong yang di kaki bukit itu. Aku, anak kampong yang lugu. Sehingga, diperebutkan genk-genk di kelasku.
Aku menyebut negri ini..negeri prestasi!

Negri ketiga adalah…Padangpanjang.
Jika sudah bercerita tentang negri ini, maka, mungkin aku takkan kehabisan bahan. Tapii, tentu takkkan kuurai sepanjang itu. Yang jelas, bagiku…setiap sudut kota ini, adalah kenangan. Jika aku boleh membuat skala prioritas negri, maka, negri ini akan menjadi nominasi kedua setelah kampungku. Enam tahun masa adolensia, masa pencarian jati diri kuhabiskan di kota ini. Selalu saja menarik bagiku. Dan, di sini pula kutemukan cinta. Cinta sejati. Di sini kutemukan cahaya. Cahaya yang menerangi. Cahaya di atas cahaya.
Maka, aku pun menyebut negri ini…negeri cinta!

Negeri keempat adalah…Padang.
Padang adalah kota dimana aku dilahirkan, dan kota dimana aku mulai mengeja kata. Sebutan “Abuuu…” untuk ibu, kala itu. Ketika umurku genap satu tahun. Lalu, 17 tahun kemudian, aku kembali lagi ke kota ini, dengan tujuan yang berbeda. Kali ini, perburuan ilmu. Perjuangan.
Maka…, aku menyebut negeri ini…negeri perjuangan!

Negeri kelima adalah…Bukittinggi.
Di antara semua negeri yang kusebut, negeri inilah yang paling singkat masa domisiliku. Hanya seumur PKP saja. Tapi, cukup meninggalkan kenangan yang membuat aku jatuh cinta, pada setiap jengkalnya. Apalagi soal jalan-jalan dan kuliner. Hehe. Maka, aku menyebut negeri ini…negeri rehat!

Negeri keenam adalah…Payakumbuh.
Sebenarnya, kurang tepat disebut Payakumbuh juga. Lebih tepatnya, Tanjung Pati. Tapi, kusebut Payakumbuh saja. Seperti laiknya Agam yang sering disebut Bukittinggi karena lebih terkenal, maka barang kali begitu pula ceritanya negeri ini. Jika, di masa dulu, ibuku yang harus mukim ke Sawahlunto karena pindah tugas, kali ini giliran ayahku. Meskipun wajah negeri ini belum terekam jelas dalam ingatan, tapi, setidaknya, insya Allah untuk empat tahun kedepan, negeri ini akan menjadi negeri paling sering kusambangi. Jika umur, kesempatan, dan kesehatan masih dianugrahkannya. Setelah ini, akan ada tiga atau empat ‘periuk’. Dan di mana-mana, tetap saja perpisahan, apalagi dengan orang yang dicintai, adalah suatu hal yang sangat tidak menyenangkan! Aku menyebut negeri ini…negeri divergen!

Lalu, negeri ketujuh?
Negeri ketujuh ini….kusebut negeri X. Negeri yang jelas saja tidak ada dalam rekam ingatan, karena masa itu belum terjadi. Meski, pada sketsa hidup kutuliskan, bahwa aku ingin menghabiskan separuh masa dengan pengabdian pada kampungku tercinta, tapii, tetap saja kehendak Allah pasti berlaku. Pasti yang terbaik!! Entah itu di kampungku, atau akan ada nama-nama negeri lain.

Negeri-negeri…
Kita tidak pernah tau, entah di negeri mana kita akan mengakhiri kefanaan dunia ini. Tapi, yang bisa kita lakukan adalah menyiapkan, endingnya seperti apa. Semoga Allah menjadikan penutup hari-hari kita, adalah dengan sebaik-baik amal penutup. Sungguh, amalan itu tergantung pada ujungnya. Pada seperti apa akhirnya.
Read More

Launching : Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu

Jika kamu keliling2 gramed, maka datangilah salah satu rak fiksinya, dan temukanlah buku bersampul merah ini. Judulnya, menarik, menurutku. PEREMPUAN BAWANG dan LELAKI KAYU. Karya ini merupakan hasil goresan tangan penulis muda Sumatera Barat dengan nama pena Ragdi F Daye. Karya Bang Ade ini, sudah bertebaran di berbagai media dan sangat ‘menggelitik’. Pemilihan diksinya baik, dan begitu deskriptif, sehingga ketika kita membacanya, kita bisa membayangkan bahwa kita tengah menyaksikan adegan langsung ceritanya. Uhm…menarik bukan?

Dari dulu, aku memang selalu tertarik dengan tulisan-tulisan Bang Ragdi F Daye, yang juga Mantan Ketua Umum FLP Wilayah Sumbar periode 2006-2008 ini. Kritikan dan masukan dari Bang Ade dalam setiap bedah karya (sekarang akrab dengan sebutan KRISTAL=Kreasi Menulis Tapi Lauik) selalu nyelekit dan mengena sasaran. Dua novelku (yang tentu saja masi sangat amatiran itu) tidak lepas dari kritikan dan masukan dari teman-teman FLP smuanya, dan salah satunya adalah dari Bang Ragdi F Daye, yang mencoret-moretnya dengan spidol merah. Hehe, syukran Bang.

Jika ingin berkenalan langsung dengan beliau, ini niiiih, ta’ kasi photonya bersama keluarga. Bahkan Syafa, putri pertama beliau, juga ikut meramaikan acara ini. Hehe.

Nah…nah…., berkaitan dengan terbitnya buku Bang Ade ini, maka, segenap pengurus FLP Sumbar, mengadakan Launching dan Bedah Buku, yang bekerja sama dengan FKWPI FBS UNP, tepatnya tanggal 17 Oktober 2010 (yang juga bertepatan dengan MILAD ketua Umum FLP Sumbar 10-12, Ukhty Siska Oktavia).

Alhamdulillaah….bedah buku ini terangkatkan dengan sukses. Wah, menyesal sekali rasanya, aku tidak banyak berpartisipasi dalam salah satu rangkaian agenda milad FLP Sumbar yang ke-10 tahun ini. Waah, masya Allah, pesertanya melebihi batas quota. Hee…

Di sini, ketemu penulis-penulis euy. Juga para ‘dedengkot’ FLP’ers dari jamannya Bang Melvi Yendra (Ketua Umum Pertama FLP Sumbar). Juga diramaikan oleh FLP Kids Solok dibawah asuhan Kak Tadzkiyah (Yeyen Syafrina). Serruuuu euy…

Tak ketinggalan, kami ‘memburu’ Papa Rusli jugak euy, minta foto maksudnya. Hihi. Papa Rusli adalah penulis lintas generasi. Beliau, dilahirkan di Bukittinggi, pada tahun 1936 Silam. Salah satu buku beliau adalah “Mangkutak di Negeri Prosaliris.”

Satu plajaran berharga bagiku dalam acara ini….yaitu….betapa, aku sudah jauh ketinggalan. Dari buku-buku yang berjejer di rak bazaar, ada banyak bertebaran karya-karya teman-teman sesama FLP’ers. Tinggallah aku, yang sama sekali belum tercantum namanya di buku-buku itu. Uhm…., kapan yah? Smoga suatu saat nanti. Hayuuu, bersemangat laaagiiii!

Teringat aku, akan apa yang disampaikan Ukhty Siska Oktavia ketika menutup acara ini. “FLP…adalah salah satu organisasi yang bergerak di bidang kepenulisan dimana “da’wah bil qalam”, berda’wah lewat pena adalah sebagai tujuan utamanya.”


Menulis, insya Allah adalah pekerjaan mulia. Dan, ia adalah investasi masa depan yang barang kali umurnya lebih panjang dari umur kita. Mungkin ketika kita telah menyatu dengan tanah, dan jika karya kita masih dibaca orang dan diamalkan, itu artinya kita telah menabung investasi untuk akhirat kita, insya Allah. Ia bisa saja berumur sampai ratusan tahun.

Jika menyampaikan kebaikan sebagai ‘tujuan terapeutik’ dari menulis maka, kita barang kali juga akan bertemu ‘efek samping’ nya yaitu : mendapatkan royalty dari penerbit, Koran or majalah dan berpeluang menjadi orang terkenal yang tanda tangannya dihunting banyak orang. Hehehe. Dalam teori obat, sebaiknya efek samping diminimalisir dan efek terapeutik dioptimalkan. Begitu juga dalam menulis. Jangan mengejar efek sampingnya dulu, dan melupakan efek terapeutiknya.

Kesimpulannya…hayuuuuu, semangat lagi yuuuk, nulisnya!
Read More

Misteri Tepung Gula


Uhm...Bagi kamu nyang suka bikin kue, pasti deeh, pada tau, kue mentega. Haha, ya iyalaah, yang suka makan kue (bukan yang membuat kue) ajah tau apa itu kue mentega. Apalagi nyang bikin!
Nah, salah satu komponen pembuat kue mentega itu adalah tepung gula alias gula yang sudah dihaluskan sehingga menjadi bubuk kan yaah?

Hee...
Ngomong-ngomong soal tepung gula, aku punya pengalaman menarik niih.
Jadi, begini ceritanya.
Suatu hari, aku pengin membuat secangkir teh.
Nah, kala itu ada gula yang dalam bentuk serbuk alias tepung gula dan ada yang gula saja.
Menurut teori yang kupelajari, semakin luas permukaan suatu partikel, maka kelarutannya akan semakin meningkat. Karena, dengan adanya luas permukaan yang sedemikian rupa, akan memperluas pula ikatannya dengan H2O (alias air) sehingga kelarutannya akan semakin cepat. Semakin halus suatu partikel, maka semakin luas permukaannya.
Begitulah kira-kira yang kuplajari (kalo tak salah, dalam pelajaran farfis atau kimfis. hehe. Aku pun sudah (agak) lupa, di mata kuliah yang mana dan pada semester berapa. hihihi).

Nah...nah..., critanya, skaliyan mempraktekkan apa yang kuplajari, pun saat itu aku juga tidak begitu punya banyak waktu untuk sekedar mengaduk secangkir teh (halaaaah, macam orang sibuk ajaaaah. hihihi). Nah, kupilihlah serbuk gula. Biar cepat larut. Begitu, pikirku.

Eeh,...Masya Allah...
Tak dinyana, ternyata, serbuk gula itu hanya mengambang saja di atas permukaan air. Justru ia tak larut.
Aku jadi heran setengah mati. Koq bisa begini yah? Padahal, menurut teorinya kan begitu yah? Ataukah, dalam bentuk serbuk, berta jenis gula menjadi lebih ringan dari air sehingga ia tak larut? Ataukah, terjadi juga pemutusan ikatan kimia dengan adanya penumbukkan? Tapi, ini kan perubahan fisis yang tidak mengubah sifat kimia suatu partikel? Aku jadi bingung sendiri. Dan, sampai saat ini, aku belum menemukan jawaban, kenapa tepung gula (yang notabene) juga berasal dari gula, bisa tidak larut dalam air. Ada yang mau mengajariku?

Ah, mari kita lupakan saja misteri tak melarutnya gula ini buat sejenak, dan mari kita ambil plajarannya dari kisah ini...
Pelajaran yang dapat kita ambil di sini adalah, meskipun dengan maksud yang sama, dengan precursor yang sama, pun dengan tujuan yang sama, tapi cara penyampaiannya yang berbeda, TERNYATA HASILNYA MENJADI BERBEDA. Seperti gula dan tepung gula di atas. Meskipun sama-sama dari gula, dan meskipun sama-sama dilarutkan dengan air yang sama, ternyata, masing-masingnya memberikan kelarutan yang berbeda.
Dalam berkata-kata pun demikian. Ada kata-kata yang benar, dengan maksud dan tujuan yang benar, tapi cara penyampaiannya yang salah, akan menimbulkan reaksi yang berbeda bagi si penerimanya. Bisa jadi, sesuatu yang awalnya tujuannya baik, malah lebih buruk akibatnya disebabkan salah dalam memilih sikap dalam penyampaiannya.

Barang kali, demikian pula hikmahnya, dalam mengajak orang lain pada kebaikan...pada yang ma'ruf itu, mestilah BILHIKMAH...dengan cara yang baik pula. Agar tujuannya pun tersampaikan. Jangan seperti tepung gula (yang penuh misteri itu).
Allahu'alam bish showab...

Read More

Para Pencari Kebahagiaan


Kita barang kali tidak perlu rumit untuk memikirkan bagaimana mekanisme bahagia. Bahagia, sesungguhnya hanyalah sebuah perkara sederhana. Namun, tak banyak yang Cuma-Cuma mendapatkannya.

Jika kita telik dan telusuri, maka sesungguhnya, setiap perilaku manusia akan menuju pada satu ordinat kecil saja. Yah, kebahagiaan itu sendiri. Jika banyak yang memikirkan, bahwa dengan memperoleh uang banyak akan melahirkan kebahagiaan, maka sebanyak itu pula orang-orang berlomba-lomba untuk mendapatkan uang, yang pada akhirnya menuju ordinat kebahagiaan itu sendiri. Pertanyaannya, apakah benar uang akan menjanjikan kebahagiaan? Belum tentu! Jika yang menjadi titik goal dari kebahagiaan itu adalah serentetan gelar di ujung dan pangkal nama, maka kita melihat begitu banyak pula orang yang mengejarnya. Ordinatnya apa? Lagi-lagi kebahagiaan. Lalu, apakah benar ia menjanjikan kebahagiaan hakiki?

Pada sisi lain, banyak orang yang mengakhiri hidupnya, dengan cara yang begitu tragis. Juga karena, sisi kebahagiaan yang tiada lagi bersemayam di hati mereka. Maka, sesungguhnya, lagi-lagi, arus gradient itu terkonsentrasi pada kata sederhana bernama kebahagiaan!

Coba, kita renungkan sejenak. Dahulu, jika kita masih duduk di bangku sekolah dasar, kita membayangkan, “bagaimana yah, nanti kalo sudah SMP?”. Lantas, ketika sudah SMP, semua terasa biasa-biasa saja. Euporianya, hanyalah sesaat saja. Pun begitu seterusnya. Sama halnya dengan ketika kita bertanya, bagaimana sih rasanya mendapat gelar sarjana, magister atau bahkan professor? Barang kali, bahagianya hanya sesaat saja. Namun, setelahnya, semua kembali terasa biasa-biasa saja. Hal senada, barang kali juga kita rasakan ketika dahulu kehidupan kita serba susah. Lalu, ketika Allah mulai melapangkan rizki. Euphoria yang sesaat lalu kemudian semuanya terasa biasa-biasa saja. Hal ini semua sudah cukup menjelaskan betapa uang, kedudukan, gelar dan hal-hal yang bersifat duniawi lainnya hanyalah menjanjikan kebahagiaan sesaat. Hanya sesaat saja. Bahkan, barangkali ia kemudian menjadi begitu adiktif, selalu minta lebih dan lebih, yang katanya untuk mendapatkan kebahagiaan. Tapi, jika memang demikian, terlalu sempit makna bahagia itu.

Lalu, bagaimana sebenarnya buffer kebahagiaan itu, hingga ia tetap “long term” di dalam hati?
Bagaimanakah?

Hanya ada satu kata dalam mengkatalis terjadinya kebahagiaan. Yaitu, CINTA!
Karena, cinta adalah energy yang begitu menggerakkan. Mungkin, adalah hal klise jika dikatakan, “seorang pemalas tiba-tiba menjadi rajin, karena jatuh cinta. Dan, seorang yang begitu kasar dan keras, tiba-tiba menjadi lembut dan puitis karena cinta.” Tapi, memang begitulah adanya cinta. Kekuatan besar yang mengubah. Tak lekang oleh zaman, dan tak mengenal kata klise.

Coba, kita rasakan sejenak. Bukankah adalah kebahagiaan, ketika kita bisa membuat orang yang kita cintai bahagia? Ketika kita mencintai ayah dan ibu kita, maka adalah kebahagiaan ketika kita bisa membuat beliau berdua bahagia, tak peduli diri kita berpeluh payah? Dan, itu juga sebaliknya. Bahkan, barangkali secara eksponensial sudah berpangkat tak berhingga. Seorang ayah, atau ibu, tidak pernah peduli dengan peluh payahnya, bahkan berdarah-darah, hanya karena ia ingin, anak yang ia cintai bahagia! Lagi-lagi, sebenarnya, kata kunci atas bahagia adalah cinta!

Seorang pencinta, akan selalu ingin membuat apa yang dicintainya bahagia. Bahagia. Yah, bahagia! Ia, akan begitu cemas dan khawatir, jika sedikit saja ia melukai seseorang yang ia cintai itu. Apa yang ia cintai itu.

Dan, cinta pula yang menjawab, kenapa seorang Bilal bin Rabbah, budak Ethiopia, itu rela menerima siksaan yang amat pedih. Karena, kebahagiaan yang ia rasakan atas cintanya pada Allah, jauh di atas kebahagiaan semu ketika ia dilepaskan dengan siksaan itu. Kebahagiaan yang merdeka dan letaknya di hati. Cinta pula yang membuat sosok Agung Rasulullaah, tidak pernah rela menukar da’wah beliau dengan tawaran harta, kedudukan dan wanita-wanita. Bahkan, beliau membuat metaphor yang jauh lebih dahsyat. “Andai matahari di tangan kananku, dan rembulan di tangan kiriku, maka aku takkan rela meninggalkan da’wah ini.” Semuanya karena cinta. Dan, cintalah yang kemudian melahirkan kebahagiaan.

Cinta yang tak terjamah logika lah, yang menghadirkan kebahagiaan itu. Kebahagiaan yang takkan pernah terjajah, dan ia tak pernah lekang. Kenapa para syuhada’ itu justru sangat bahagia, jika ia terkena panah, padahal sesungguhnya secara logika itu menyakitkan? Karena, ada kebahagiaan hakiki atas cinta itu.

Iman itu…sesungguhnya menjanjikan kebahagiaan. Karena, hanya dengan imanlah, seseorang bisa menangis, kala ia tak terbangun malam. Hanya karena imanlah.
Dan, kunci semua itu adalah cinta….

Rahasianya, adalah….
“….Dan orang-orang yang beriman SANGAT BESAR CINTANYA kepada Allah…”
(Qs. AL Baqaroh : 165)

Cinta yang di atas segala cinta. Dan, bahagia yang di atas segala kebahagiaan. Yap, inilah rahasianya. Ada pada surat cinta-Nya ini…


Dzulqo’dah, 1431 H… Terinspirasi dari Qs. 2 : 165
Read More

Dose Tapering Off


Teman, barangkali kita pernah mempelajari, membaca ataupun sedikit tau tentang tapering off? Bagi teman-teman yang pada kuliyah di farmasi ataupun barangkali (mungkin) di FK tentulah yah, ngerti mengenai tapering off ini. Bagi temen-temen yang lain selain pharmacist, uhm….baiklah, sedikit kita jelaskan mengenai dose tapering off ini. Tapering off merupakan penurunan dosis obat tertentu ketika hendak dihentikan penggunaannya. Tujuannya adalah agar tubuh kita tidak ‘kaget’ dengan adanya penghentian obat yang tiba-tiba. Tidak semua obat dilakukan dose tapering off nya. Hanya untuk obat-obat tertentu yang memiliki efek sama tubuh, yang dilakukan tapperingnya. Contohnya adalah deksamethason, prednisone, dsb. Tapering off juga berlaku buat obat-obat psikotropika semisal diazepam, alprazolam dan obat-obat sejenis.

Nah…nah…, berhubung sekarang aku lagi tidak pengin membahas masalah obatnya (insya Allah kalo masalah obat-obat dan dunia yang terkait kefarmasiannya, kita bahas di lain waktu, dan insya Allah di postingnya di blog satu lagi… yang khusus membahas masalah kefarmasian yaitu www.fathelvi.wordpress.com). Aku hanya ingin mengambil analog dengan adanya tapering off ini.

Mari kita telik mengenai tapering off dan poin apa sebenarnya yang menjadi goalnya. Di sini,kita lihat, goalnya itu adalah, penurunan dosis sehingga sang tubuh yang ‘gak nyadar’ kalo itu dosis telah dikurangi dan dihentikan dari tubuh. Jika dihentikan secara ekstrim, secara langsung, maka tubuh serta merta akan bereaksi atas itu.

Jika di atas adalah dose tapering off, maka sekarang kita berbicara soal ‘dosa tapering on’. Astaghfirullah… Sungguh, barang kali kita sering mengabaikan dosa-dosa kecil. Sungguh, setiap keburukan dan kemaksiatan yang kita lakukan itu, akan perlahan-lahan mengalami ‘adaptasi’ dengan hati yang penuh dengan dosa. Kemaksiatan yang mengalami tapering on. Yang perlahan-lahan. Dahulu, mungkin kita merasa sangat risih dengan dosa yang kita lakukan itu, dengan kemaksiatan kecil saja. Tapi, perlahan-lahan, ia menjadi biasa-biasa saja, dan hati kita tidak lagi peka dengan dosa-dosa itu. Yah, ia telah mengalami tapering on. Dan masya Allah, hati kita, sebagai makhluk yang paling sensitive, sampai-sampai tidak peka lagi dengan dosa-dosa itu. Astaghfirullaah…

Bukankah setiap kebaikan yang kita lakukan, akan mendatangkan keinginan kita untuk melaksanakan kebaikan lainnya, dan bukankah kejahatan yang kita lakukan pun akan menghendaki kejahatan yang lain untuk dilakukan?

Smoga ini semua menjadi pelajaran bagi diriku terutama, dan bagi kita semua, bahwa jangan sampai kita melakukan DOSA TAPERING ON, sebuah tapering atas segala kemaksiatan, sehingga sensitivitasnya atas noktah itu menjadi lemah. Sehingga, tak terbedakan lagi mana yang masih dalam koridor-Nya dan mana yang tidak. Semoga dengan ini, menjadi bahan evaluasi bagi kita, agar kita tidak meremehkan dosa-dosa kecil.

Dari Anas ra berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian sekarang melakukan perbuatan-perbuatan yang kamu anggap sangat enteng padahal pada masa Rasulullah saw perbuatan-perbuatan semacam itu kami anggap termasuk hal-hal yang merusak agama.” (Hadits Riawayat Bukhori)

Dari Abu Hurairah ra, berkata, Rasulullah SAW bersabda : ”“Termasuk kesempurnaan Islam sesorang yaitu ia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dirinya. (HR. At Tarmudzy)
Read More