Benar dan Betul

Benar atau betul?
Benar dan Betul.
Dua kata yang memiliki makna yang sama. Tetapi akan berbeda jika pada kedua katanya dilekatkan imbuhan ke-an.
Kebenaran dan kebetulan.
Ia memiliki makna yang sangat jauh berbeda!

Begitulah adanya.
Allah tidak pernah menjadikan apapun kejadian pada makhluknya dengan kebetulan! Semuanya adalah dengan kebenaran! Tanpa sedikitpun, secuilpun kesia-siaan!

Maka, apapun yang terjadi, pasti scenario Allah berlaku. DIA-lah sutradara terbaik di semesta ini!
Maka, mintalah peran protagonist terbaik dari-Nya. Bukan peran antagonis!
Ketahuilah, jika Allah menolongmu, maka tiada satu pun yang dapat mencelakakanmu. Dan, jika DIA membiarkanmu, maka tiada satu pun yang dapat menolongmu!! Maka, mintalah pertolongan pada-Nya. Hanya pada-Nya saja!
Read More

Nasihat Bermanfaat

Masya Allah…tidak ada suatu kebetulan! Yang ada hanyalah kebenaran. Dan, masya Allah itulah yang kurasakan! Dalam sehari kemarin, aku dapat SMS dari sahabat-sahabatku, dari saudari-saudariku. Mereka mungkin tidak tahu, tentang bagaimana aku hari ini. Tapi, nasihat yang mereka berikan begitu mengena! Begitu mengena dan di timing yang begitu pas pulak! Syukraan…

Eh…eh…, aku pun ingin membaginya kepadamu. Heuu…iya, kamu! Kamu yang kebetulan…eh…kebenaran, membaca blog ini. Hihihi. Mungkin kamu-kamu pernah juga ngebacanya and mendapatkan nasihat yang sama. Heuu…itung-itung maulang kaji lamo, kalau memang iya sudah pernah mendapatkannya.

“Terkadang kita harus menggenggam tangan kita sendiri untuk meyakinkan bahwa diri kita kuat…
Terkadang.. ..kita juga harus melepas orang lain agar kita kembali bangkit…
Namun, kita tidak akan pernah bisa melepaskan Allah, untuk membuktikan bahwa kita mampu…
Ada jalan yang tidak pernah kita fikirkan dan ada kekuatan yang tidak pernah kita bayangkan…”

“Bismillaah….
Biarlah Allah saja yang menyemangati kita sehingga tanpa disadari stiap peristiwa jadi teguran atas KEKHILAFAN kita..
Cukuplah Allah saja yang memelihara ketekunan kita karena perhatian manusia terkadang menghanyutkan keikhlasan…
Semoga Allah menjadikan kita pribadi bermakna…
Saat berbaur menyemangati yang lain dan saat sendiri menguatkan diri sendiri!”

“Saudariku, beruntunglah orang-orang yang selalu optimis dalam menjalani setiap episode kehidupan, mempertahankan semangat dalam pergantian waktu, menjaga niat dalam kebaikan, dan menemukan Allah di setiap gerak langkah…”

“Jangan katakana hari ini indah maka kita bahagia, tapi karena kita bahagia maka hari ini menjadi indah.
Jangan katakana tidak ada rintangan maka kita optimis, karenakita optimism maka rintangan menjadi tidak ada.
Jangan karena mudah maka kita yakin bisa, tapi karena kita yakin bisa maka semuanya menjadi mudah.
Jangan karena semua baik maka kita tersenyum, tapi karena kita tersenyum maka semua menjadi baik.”

Trima kasih saudara-saudariku…
Semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaatt!!
Sumangaik!
Sumangaik!
(heuu..kata2 “sumangaik”, adalah kata-kata yang tertulis di selembar HVS dua tahun yang lalu, yang kemudian tertempel di diding kamar 4 wisma Syakuro, yang memiliki daya magnetis tersendiri. Bahkan, tulisan itu masih saja tertempel, ketika aku meinggalkan Syakuro menuju Hurriyah. Dan, bahkan ketika aku pun telah meninggalkan Hurriyah!) hehe.
Read More

Uji Stabilitas

Pada kinetika reaksi, uji stabilitas obat dalam larutannya atau lepasan obat (liberasi, dissolusi, diffuse dan absorbs obat) menuju darah dan kemudian sel-sel. Penentuan tanggal ekpire date obat akan selalu mengikuti reaksi orde pertama di mana Log [C] = Log [C0] – k/2,3030.t

Maka, grafik stabilitas obat itu akan menjadi seperti pada gambar itu. Pada prinsipnya, kadar suatu obat yang disimpan atau dikenal dengan umur simpan obat, pasti punya limit waktu, di mana stabilitasnya akan menurun, kadarnya akan menurun, hingga dalam satuan tertentu akan menjadi tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan farmakope. Perlahan memang, Karena ia difungsikan terhadap waktu. Maka, seperti yang sudah kusebutkan sebelumnya, waktu akan membuatnya terus menerus mengalami penurunan kadar hingga kadarnya menjadi kecil dari ambang batas minimum kebolehan. Ini pada kondisi penyimpanan normal suhu kamar (250 Celcius atau 2980 Kelvin). Bisa dalam waktu 4 hingga 5 tahun, atau bahkan ada yang hanya satu atau dua tahun saja!

Hehe, ribet?? Kalau farmasis mah ngerti yaah. Hihi. Ini bukan soal keren-kerenan, hingga membuat harus mengernyitkan dahi membacanya, harus jungkir balik dulu, kaki di kepala, kepala di kaki untuk bisa memahaminya. Atau malah, bikin males ngebacanya, saking riwuehnya! Hehe, sebenarnya ini adalah salah satu tulisan di diariku ketika belajar kinetika reaksi di tahun II kuliah dulu, berikut dengan pengejawantahannya dengan kondisi hatiku, kala itu. Dan, kemudian begitu menggelitikku ketika kembali membacanya. Karena, ada analogi di sana, yang membuatku belajar kembali…

Jika kadar itu adalah kadar iman, maka…sungguh…na’udzubillaah…tsumma na’udzubillah…jika tanpa kita sadari, kadarnya terus menerus mengalami degredasi pada penyimpanan normalnya, menurut persamaan eksponensial itu! Sungguh, sehalus-halusnya kehinaan di sisi-Nya adalah semikin terurainya zat aktif dalam larutan dan satuan tatanan diri kita!! Atstaghfirullaah…astaghfirullaah…

Semoga kita, dijadikan-Nya istiqomah, sehingga meminimalisir dissolusi, liberasi, absorbs maupun diffuse, sehingga ketika sampai pada masa berakhirnya tarikan nafas kita, kadarnya masih tetap pada range yang dibolehkan-Nya.

Jadiii, yang harus dihindari adalah, hal-hal yang mempercepat terjadinya reaksi hancur itu, semisal persamaan Arhennius (heuu….tak perlulah kutuliskan pula persamaan arrnehius itu. Malah bikin tambah ribet.. hihi). Intinya, pada persamaan itu, temperature ekstrem adalah suatu hal yang sangat mempengaruhi waktu hancurnya dan umur simpannya di obat! Yup, kita harus hindari segala sesuatu yang dapat mempercepat terjadinya dissolusi, liberasi, absorbs maupun diffuse itu seperti adanya maksita, kefuturan dan godaan syetan la’natullah ‘alaih…


*hanyaakuyangmungkinmengertiapayangkumaksuddanbiarlahakusajayangmengerti
Read More

Setelah Lima Tahun!

MNI penuh kenangan....

Akhwatifillaah….
5 tahun yang lalu, kita berkumpul di tempat yang sama…
Bersama, meneriakkan takbir mengepalkan tangan…
Saat itu, dengan wajah-wajah lugu kita…
Kala kita berjalan pada sisi rel yang sama…
Bersama...di sini....

Kini…
Lima tahun berlalu sudah!

Kita, telah berada pada dunia yang berbeda…
Pada tempat yang berbeda…
Pada kondisi yang berbeda…
Sahabat-sahabat terbaikku.....

Akhwatifillaah…engkau semua, adalah salah satu anugrah terindah dari Allah…
Bahagia pernah mengenalmu…
Dan adalah suatu hal luar biasa, pernah merasakan ukhuwah yang begitu indah… Kini….aku sungguh merindumu!
Merindukan kebersamaan kita….

Untukmu….
Ukhti Nuzulia, Ukhti Ema Fitri, Ukhti Trisna Puspita Sari, Ukhti Lira Silkarta, Ukhti Selvi Eriani, Ukhti Rizky Ramayani Tito, Ukhti Karimatul Hasnah, Ukhti Dian Silvira, Ukhti Yenni Ramadhani Putri, Ukhti Omaiza Zulkarnain, Ukhti Rusda Ulfa, Ukhti Vivi Anggia, Ukhti Muthia Antasari, Ukhti Syafnida Gusti, Ukhti Mariyen Irvani, Ukhti Asnany Caniago, Ukhti Lismanizar, Ukhti Nina Rahimi, Ukhti Fitriani, Ukhti Jendra Sovia Elita, Ukhti Resti Novalawati, Ukhti Rosnida, Ukhti Elfina Purnama, Ukhti Mega Ayu,…dan semua-muanya…Maafkan jika ada yang terlupa….
Bersamamu....

Smoga Allah, senantiasa berkahi langkah-langkah kita, menjadikan kaki-kaki kita semakin kokoh berpijak, dan semoga kita dijadikan-Nya termasuk golongan orang-orang yang sedikit…
^__^
Read More

Hadiah Akhir Tahun

“Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan. Ia ditakdirkan menjadi kata tanpa benda. Tak terlihat. Hanya terasa. Tapi dahsyat.


Seperti banjir menderas. Kau tak kuasa mencegahnya. Kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, menyeret semua benda angkuh di hadapannya. Dalam sekejap ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutan. Setelah itu kembali tenang : seperti seekor harimau kenyang yang terlelap tenang. Demikianlah. Ia ditakdirkan menjadi makna paling santun yang menyimpan kekuatan besar.


Seperti api menyala-nyala. Kau tak kuat melawannya. Kau hanya bisa menari disekitarnya saat ia mengunggun. Atau berteduh saat matahari membakar kulit bumi. Atau meraung saat lidahnya melahap rumah-rumah, kota-kota, hutan-hutan. Dan seketika semua menjadi abu. Semua jadi tiada.”
(Ust. Anis Matta, 2009)


Meski ini bukanlah sebuah kesalahan! Karena aku tidak pernah menghendaki kehadirannya. Aku tidak pernah meminta kedatangannya. Bahkan, jika boleh, aku justru ingin ia enyah saja! Tidak berlama-lama mendekam. Tapi, memang tidak pernah patut untuk dipersalahkan! Dan, jika memang aku persalahkan, sungguh, aku telah melawan arus gradient fitrah itu sendiri. Dan jika masih tetap dipersalahkan, itu artinya menisbikan anugrah yang Allah beri. Na’udzubillaah…

Jika pun ingin dipersalahkan, maka yang harus kupersalahkan adalah tindakanku! Saat kepanikan, dan saat logika tidak lagi berada di posisinya, saat itu pula tindak menjadi di luar kendali. Memang sangat rumit. Memang tak terjamah logika. Tak pernah terpikir, semua ini akan terjadi. Tapi, ia terjadi. Telah terjadi! Memang tidak salah! Sama sekali tidak salah. Tapi, aku sering kali merasa sangat menyesal, dan bahkan terkadang, terasa mengotori wasilah ini dengan tindakan yang bahkan aku tidak habis pikir, bagaimana bisa. Bagaimana bisa? Sepertinya, tidak ada lagi unsur logika yang bermain di sana. Ketika rasa menjadi otak! Bahkan, aku sering berpikir dengan logika sadarku, bahwa ini semua tidak masuk akal bagiku! Astaghfirullaah… astaghfirullaah…

Tapi, itulah hikmah sebuah kesalahan—jika ia memang pantas dihukumi sebuah kesalahan—barang kali. Bahwa dengannya kita belajar untuk menjadi benar. Dengan kesalahan kita belajar memperbaikinya. Bukan untuk menjadi yang sempurna, tapi hanya untuk menjadi lebih baik. Itu saja.

Ada banyak hikmah! Sungguh banyak hikmah dan pelajarannya. Maka ijinkan aku untuk memetik hikmahnya itu dan menuai sebanyak-banyaknya pelajaran dari sini. Aku tahu, bahwa tiadalah yang dimiliki manusia dhaif ini melainkan hanya keterbatasan-keterbatasan dan kekurangan-kekurangan di sana-sini! Hanya itu. Tak lebih. Tapi, aku menginginkan gerak fototrof…gerak yang menuju cahaya! Bukan fotofob, yang justru menjauhi cahaya! Aku tidak ingin semua ini malah menjadikanku semakin terpuruk dan terperosok jauh ke jurang-jurang kesalahan. Tapi, aku hanya ingin dengannya, menjadi sebuah pemantik, agar bisa lebih baik lagi! Sebab, kadang kita butuh terjatuh dulu, agar bisa bangkit lebih tinggi! Dan yang terpenting, agar lebih berhati-hati dengan segala tindak yang telah, sedang dan akan kulakukan! Bahwa harus ada rem iman, harus ada wara’, kehati-hatian tingkat tinggi itu, harus ada juga logika yang menyertainya. Tidak luapan rasa semata yang telah dengan pongahnya mengadali sang logika. Sebab jua, taqwa itu adalah kehati-hatian yang megatinggi! Bahwa ketika kita tahu, bahwa jalan ini memang benar-benar penuh dengan duri. Maka, memang tiadalah yang dibutuhkan melainkan kehati-hatian!

Memang begitulah adanya kita. Begitulah kedhaifan kita bicara. Ketika jauh dari lubuk hati kita menginginkan sesuatu yang idealita, sehingga benteng-benteng pertahanannya yang bernama keimanan akan berusaha untuk senantiasa siaga. Namun, kadang realita berbicara berbeda. Ia selalu punya residu! Ia selalu punya pengotor. Sulitnya adalah seperti sulitnya kita menemukan adanya unsur-unsur logam mulia. Karena selainnya, kita dibekali-Nya jua dengan potensi fujur itu. Perkara siapa yang menang, maka sungguh di sinilah kadar iman kita menjadi penakarnya, barang kali.

Tapi, aku percaya, setiap orang berhak untuk bermetamarfosis, seburuk apa pun ia di masa lalunya. Seburuk apapun sesuatu yang telah ia kerjakan. Bukankah Dia senantiasa membentangkan seluas-luasnya pintu keampunan-Nya? Maka, inilah saatnya untuk bermetamarfosis…menajdi lebih baik lahi, insya Allah…

Jika semua akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka biarlah segalanya menjadi milik masa lalu. Toh, siapapun dengan kendaraan apapun, secanggih dan mutakhir apapun, takkan pernah ada yang sanggup menjemput masa lalu. Hanya saja, aku tidak mau dua keli terperosok ke lubang yang sama. Aku ingin, membuka lembaran baru dengan semangat baru… Barang kali, ini juga hadiah dari Allah…di tahun hijrah kali ini. Semangattt baruuu! Be a new of me!!

Aku tahu, kita tidak akan pernah dapat melihat jendela hari depan di masa ini. Kita tidak akan dapat menebak apa yang akan terjadi di hari esok. Yang bisa kita lakukan adalah, menyerahkan segala urusan ini kepada Allah. Allah-lah yang memiliki hak maha veto untuk menetapkan segala apa yang akan terjadi pada diri kita. Scenario terindah dari-Nya. Memang! Tiadalah, selain benar-benar menyerahkan sepenuhnya urusan ini pada Allah. Dia Maha Mengetahui, apa-apa yang terbaik untuk diri kita. Untuk diri ini.

Satu dari sekian banyak plajaran yang kutuai kali ini adalah…tentang korelatif linearnya antara tindak nyata dengan kedekatan kita dengan-Nya. Ia sungguh adalah sebuah korelatif megalinear. Dan sungguh, memang tiadalah yang lebih tinggi dari pada ridha-Nya, meski diri ini sering lengah, sering lalai. “Jagalah Allah maka Ia akan menjagamu; jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya bersamamu. Bila engkau memohon sesuatu, mohonlah kepada-Nya; bila engkau meminta pertolongan, minta tolonglah pada Allah…” (HR. At Tarmidzi). “Jagalah Allah, niscaya engkau akan bersama-Nya. Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Ia akan mengenalimu di waktu susah. Ketahuilah bahwa segala perbuatan salahmu belum tentu mencelakaimu dan musibah yang menimpamu belum tentu akibat kesalahanmu. Ketahuilah bahwa KEMENANGAN BESERTA KESABARAN, KEBAHAGIAAN BESERTA KEDUKAAN dan SETIAP KESULITAN ADA KEMUDAHAN!”
Be a New of Me!


Solok Selatan, Penghujung 1431 H… 
_sebuah kaledioskop akhir tahun_ 
_momentum hijrah, metamarfosis untuk menjadi lebih baik_
Read More

Ego Dua Hati

“Ma, datang yaah ke wisudaku.” Via telpon gadis itu bicara.
“Iya, Nak. Tentu saja. Mama serta ponakanmu insya Allah datang.” Jawaban dari seberang.
Lalu, gantian ia menelpon sang papa. “Pa, papa datang yah, di acara wisudaku.”
“Iya, insya Allah. Emm…Sabtu depan yah?”
“Iya, Pa.”

Beberapa hari kemudian.
“Ma, undangannya Cuma satu dan berlaku untuk 2 orang. Dan masuk ke auditorium harus dengan undangan. Mama, bisa gak, masuknya bareng sama Papa aja?”
“Wah! Tidak bisa!! Kalau papamu yang masuk, mama tidak akan datang!” Dengan emosi.
Ketika giliran sang Papa, “Pa, undangannya Cuma satu. Papa masuk bareng mama aja yah?”
“Hah?! Bareng mama kamuuuu? Kalau mama yang masuk, Papa tidak akan datang!” juga dengan nada emosi yang sama.
“Bukan begitu Pa. undangannya untuk 2 orang. Syaratnya, harus masuk barengan karena undangannya Cuma satu.”
“Pokoknya, kalau bareng mama, Papa tidak mau!”

Sahabat, menurutmu pembicaraan di atas anehkah? Heuu…tapi, itu terjadi! Di dunia nyata! Bukan rekayasa maupun fiktif belaka!!
Bagaimana nasib sang anak? Yup, sangat terpukul. Sampai-sampai ia berkata, “Kalau Mama dan Papa tidak mau datang, ya sudah! Aku wisuda tanpa dihadiri keluarga! Ya sudah!” dengan air mata, tentunya.

Sungguh menakjubkan, ketika mengetahui dua orang yang saling bersitegang urat leher itu, masih saling mencintai. Bahkan, tak satu pun di antara mereka yang menikah lagi setelah bercerainya. Yah, mereka masih saling mencintai. Itu pun diakui sang anak. Ini hanyalah perkara ego saja, barang kali. Yup, hanya masalah ego.

Heuu…aku tentu tidaklah kapabel membahas masalah ini. Wong pengalaman ajah kaga ada! Udah gitu, gak banyak jugak ngebahas nyang beginian. Ditambah lagi, ini masalah orang dewasa! Dan anak-anak dilarang ikut serta. Hehe. Berarti masi anak-anak dong, saia! Hihi. Hanya saja, aku sedang belajar mengamatinya. Heuu…penonton selalu “lebih jago” dari pemain yah?

Biacar soal ego, yaah, jelas saja, setiap manusia adalah makhluk egosentris. Hanya saja, ada yang mengendalikannya dengan baik dalam interaksi sosialnya, dan ada pula yang ke-egosentris-annya masih mendominasi. Dan, pada case diatas, sepertinya ego masing-masingnya masih sama-sama tinggi. Jika boleh berandai-andai, andai saja, salah satu di antara mereka bersedia sedikit saja menurunkan ambang rasa egonya, maka, masalah akan selesai! Yup, selesai!!

Menurunkan ambang ego itu, sama seperti analgetik menurunkan ambang nyeri! Hehe. Cara analgetik (obat-obat antinyeri) menghilangkan rasa sakit salah satunya adalah dengan menurunkan ambang nyerinya. (nyang laen jugak ada dengan memblokir syarafnya…hee). Meskipun tidak ada hitungan kuantitas untuk rasa nyeri mengingat betapa transendentalnya ia. Dengan menggunakan face book..eh…face scale dan penilaian atas rasa nyeri lainnya (yang sudah kulupa, hihi) sekalipun. Tapi, hasilnya? Yang kita rasakan adalah nyerinya berkurang. Contoh paling nyata adalah ketika sakit gigi (yang ternyata lebih sakit dari pada sakit hati. Hihihi), dan ketika memakan asam mefenamat, nyerinya berkurang.

Pun begitu halnya ego! Ego juga hal yang sama sekali tak terukur. Ia sangat transcendental. Hanya, saja, kita bisa menurunkan sedikit saja…sekali lagi sedikit saja…dari ego kita. Dan, apa hasilnya? Menakjubkan! Segalanya bisa berubah dengan sejenak. ‘nyeri’2 yang terasa dalam berinteraksi tentu saja menjadi berkurang!

Dalam hal berinteraksii sesama manusia, apalagi (seperti case di atas) suami-istri, yaah pastilah akan ditemukan segala sesuatu yang disebut inkompetibel! Ya iyalaaah! Namanya aja menyatukan dua hal yang berbeda! Sangat mustahil dan bener-bener amat sangat absurd, jika ada keluarga yang jalannya muluuuuuuuuuuuuusss bener tanpa ada pertengkaran-pertengkaran kecil! Meskipun istri and suaminya sama-sama plegmatis yang sempurna (heuu….plegmatis damai) sekalipun! Dan, kalau ada nyang mikir, “ntar saia keluarganya insya Alloh kaga pernah ada sedikitpun konflik.” Itu sama aja dengan nyari arang sebesar butir padi dalam goa yang superr duperr gelap penuh bebatuan hitam di malam hari pulak! Jarang! Amat sulit! Dan katanya lagi, justru pertengkaran kecil itu pulak nyang nambahin atawa jadi katalisator kebahagiaan dan keharmonisan. Heuu…itu sih kata orang! Aku mah ngutip aja! Dan bener atawa salahnya, ya silakan buktikan saja sendiri! Hihi. Dan, menjadi baik atau buruk pada akhirnya, barang kali erat kaitannya dengan bagaimana memenej ego itu tadi! Menjadi baik artinya nambahin keharmonisannya. Dan menjadi buruk, akhirnya…perpisahan dan perceraian! Sekali lagi, ini perkara bagaimana saling mengalah dan menurunkan sedikit saja ambang ego! Allahu’alam.
Read More

Fotografi : Kali Ini Edisi Orang-Orang

Bosan Menunggu...^^

Nak eSeMPe....^^

De3....senyum euy....
Ni ema and Anii...pas GR wisuda...
Sodari PA-ku....pas wisudaan..heuu...
Capeee..panaass...heuu....
Ni Intan moto-moto...
Ni Meridh, Ni Mestika, Kk Rinchan, dan Anii..^^
Heuu....Aniii....sehabis presentasi Pak Ika








Read More

Sosok yang Mempesona

Jika kecerdasan yang dipadu dengan keimanan ada pada satu sosok, maka, sungguh amat mempesonalah ia! Menjadi pribadi magnetislah ia. Dan, akan selalu menarik!

Begitulah adanya dengan perjumpaanku kali ini dengannya. Sosok magnetis yang begitu mempesona! Subhanallaah. Cerdas yang dipadu iman! Tentu saja mempesona. Dan, itu ada pada satu sosok itu. Padanya, aku berikan satu kekaguman. Ia sungguh berbeda dari yang lain! Dan, diferensiasi itu lah yang membuatnya menjadi begitu menarik! Menjadi berbeda juga adalah sisi lain yang menarik bagiku.

Ia seorang dokter di rumah sakit umum. Masih 24 tahun umurnya. Tapi, subhanallaah, pengetahuanya sepertinya jauh melebihi usianya. Bukan hanya diagnosis (karena setiap dokter pasti punya ilmu diagnosis, kecuali dokter odong-odong…hihihi) tapi juga bagaimana personality development nya, bagaimana ia membangun dirinya, psikologinya dan sungguh jujurnya ia atas ketidaktahuannya. Bukan sok tahu, tapi dia mengatakan “saya tidak tahu” untuk sesuatu yang memang tidak diketahuinya.

Sekali lagi, bagiku ia sungguh mempesona! Ia sangat inspiratif bagiku. Ia, membuatku harus bercermin diri dan mengatakan bahwa aku belumlah apa-apa. Masi sangat kerdil barang kali. Sosok itu telah membuatku belajar banyak dan juga mengharuskan untuk belajar banyak! Sosok itu, gadis belia yang sangat matang, bahkan melebihi usianya seharusnya. Yah, tentu saja karena usia tidak selalu berkolerasi linear dengan kedewasaan dan kematangan!

Trima kasih, Ayuk. Ijinkan aku belajar darimu.
Read More