Kapalku Masih di Dermaga

Aku melirik kapalku yang masih berada di dermaga. Ternyata, termaga ini tak pernah memberlakukan sistem seperti halnya pergudangan farmasi; FIFO, first in first out. Di dermaga ini, jika first in, belum tentu first out. Keberangkatan kapal-kapalnya adalah tergantung siapa yang terlebih dahulu load muatannya dan available nakhodanya. Dan sangat boleh jadi, ada kapal yang hanya sebentar merapat di dermaga, untuk kemudian segera berlayar tanpa menunggu lama. Ada pula kapal yang telah lama berada di dermaga, tapi belum berangkat jua. Ada pula yang lebih parah, sudah dihantam gelombang puting beliung terlebih dahulu, baru kemudian merapat ke dermaga sejenak, lalu berlayar lagi. Tapi, ini adalah seburuk-buruk kapal. Karena mereka memulai pelayaran dengan sesuatu yang amat buruk dan nista. Ya begitulah hukum yang berlaku di dermaga ini.

Mungkin ada yang ber-imaji akan menempuh perjalanan bak sang pesiar. Namun, ada pula yang penuh ketakutan akan gelombang badai yang menghadang. Apapun itu, setiap kapal mungkin memiliki imaji dan definisi tersendiri tentang siapa dan bagaimana bahtera yang mereka hadapi.

Kembali, aku melirik kapalku yang masih setia di dermaga, berjejer bersama kapal-kapal lain yang mungkin nasibnya sama dengan kapalku. Kemudian beralih pada kapal-kapal lain yang telah dahulu berlayar dan sedang siap-siap untuk berlayar. Menatap ekor kapal yang jauuuuhh sekali dari pandangan, sudah anteng berada di tengah bahtera lautan membiru. Bagaimana nasib mereka yang sudah berlayar? Bahagia kah? Atau malah sedang berjuang melawan amukan angin badaikah? Entahlah. Satu dua, masih sampai kabarnya dibawa angin ke dermaga ini. Tapi lainnya, tak terbawa angin. Mungkin terlalu berat si berita itu untuk dapat diterbangkan angin.

Kapalku masih di dermaga. Dan banyak sekali yang bertanya, "kapan kapalmu akan berlayar, Fathel?". Mungkin mereka merasa, kapalku ini sudah sepantasnya untuk berlayar. Tapi, aku pun tak tahu jawabannya. Jika aku punya jawaban, sudah sedari dulu aku kabarkan, bahwa kapalku berlayar tanggal sekian bulan sekian tahun sekian. Tampak-tampaknya, memang orang-orang,entah itu keluarga, tetangga, orang sekampung, sahabat sepenanggungan, suka sekali menanyakan pertanyaan sulit ini padaku. Sekali lagi, ini pertanyaann sulit! Aku tak punya jawabannya. Ya, setidaknya, belum punya jawaban.

Kapalku masih di dermaga. Menunggu nakhoda yang available untuk melajukan si kapal itu. Menunggu mesin-mesinnya ready to go dan bahan bakarnya full. Dan, sesungguhnya, ada satu hal yang yang mesti ditunggu sebelum si kapal ini siap untuk dilayarkan. Sesuatu itu adalah hal yang penting. Ia tak berkaitan sama sekali dengan kapal. Tapi, ia menyangkut keberlangsungan pelayaran kapal nantinya. Sebenernya, tanpa menunggu si sesuatu itu, kapal sudah ready untuk dilayarkan. Tapi, aku memiliki satu kekhawatiran bahwa tanpa menunggu sesuatu itu, kapalnya akan oleng di kemudian hari. Jika pun tak oleng, mungkin itu akan membuat seisi kapal termasuk nakhodanya menghadapi ujian yang berat. Tapi, aku tak ingin khawatir. Karena itu semua masihlah sebuah pra-kira. Dan lagi, aku yakin Allah pasti tak pernah sia-sia. Lagian, ujian-Nya pastilah sebatas kemampuan hamba-Nya saja.

Kapalku masih di dermaga. Maka, jika kau ingin bertanya lagi, kapankah kapal itu berlayar, kau tanyakan langsung saja sama Allah. Karena hanya Dia yang punya jawabannya. Untuk kesekian kalinya kutegaskan, bahwa aku belum punya jawabannya.

Kapalku masih di dermaga. Untuk setiap ketetapan-Nya, aku ingin selalu menyerahkannya pada-Nya. Di tangan-Nya lah segala keputusan itu. Dan aku ingin selalu berbahagia atas setiap keputusan-Nya. Dia pasti akan memberikan yang terbaik dan Dia takkan sia-sia terhadap hamba-Nya.

Kapalku masih di dermaga..... Dan belum tahu kapan hendak berlayar. Mungkin esok dan bisa jadi lusa. Dan mungkin saja lebih lama dan lebih lama dari itu. Hehehe
Read More

Outbond Tahun Baru

Alhamdulillaah...tahun baru ini diisi dengan kegiatan yang super menyenangkan plus bonus banyak ibroh. Hee... Kemarin aku menemani si Adek buat periksain matanya yang katanya udah nge-blurr pandangannya. Ya aku sanggupi meskipun sebenarnya sedang deadline laporan. Maka, pagi Rabu ini (hari terakhir 1433 H) kami segera ke RSUD Solok Selatan. Ternyata tidak banyak pasien. Syukurlah. Jam 10, udah dapet resep kacamatanya. Hee... Dan setelahnya, aku ngajakin Adek buat ketemu dokter Rani. Hehehe... Ya, karena pas abis lebaran kemarin aku tak sempat ketemu Rani, maka ketika ke RSUD inilah aku memang menyengajakan diri untuk ketemu Rani. Sudah lama sekali tidak ketemu dan aku juga sudah kangen sangat! Penginnya sih ketemu dokter Aulia sekalian. Tapi Au lagi sibuk di ruang Oka, jadi cuma ketemu Rani sahaja. Sinyal ponsel kala itu agak sedikit bermasalah, jadi tak bisa dihubungi nomornya Rani. Jadi, aku keliling ajaahh deh rumah sakit. Wong rumah sakitnya kan kecil, jadii bisa saja mencari Rani dan Aulia di sana. Hee... Aku ketemu Rani di bangsal penyakit dalam. Surprise bangeett. Hihi... Dan sesungguhnya yang bikin aku lebih surprise lagi dan bener-bener ndak nyangka adalah Rani dan Aulia dapet internship nya di Solok Selatan. Hihi...

Nah, baru deh kemudian Rani ngajakin ikutan Outbond. Hemm... pada mulanya sih aku ragu mau ikutan, soalnya dari hari Sabtu lalu aku demam tinggi, apalagi sore dan malam. Hari rabu itu baru hari pertama perbaikan. Dan jika hari kamisnya ikut outbond, aku ndak yakin sama kesehatan aku sendiri. Hee... Tapi aku memutuskan untuk ikut karena juga sudah kangen sangat ngumpul dengan akhwat Solok Selatan. Dan akhirnya, kamis (1 Muharram 1434 H), aku ikutan Outbond ke Kaki Gunung Kerinci itu. Hehehe...

Banyak ibroh, banyak pelajaran yang kemudian aku petik. Apalagi setelah ngobrol panjang di angkot (ehh angdes ding, hehehe), dan kami mojok di bangku paling belakang. Pokonya, serrruu dan menyenangkan. Tapiii, sayangnyaa...malamnya langsung tewas dan tepaarr. Hehehe... Sekarang, setumpuk laporan Pediatri menunggu dan deadlinenya tinggal 2 hari lagi sedangkan laporan kasusku baru kelar 40 %! Gawatt niihh... Hayooo semangaaaatt. Hehehe

Oh iyaa, aku mau mengucapkan :

SELAMAT TAHUN BARU 1434 H
Semoga AKU (dan juga kamu) bisa jadi lebih baik!
Read More

Primitif

Sudah hampir satu minggu lamanya berada di kampung halaman tercinta. Dan sudah 1 minggu ini pula aku jauh dari yag namanya akses internet. Sp**dy di rumah sedang dalam masalah dan masalah sama si bapak telkomnya tak terselesaikan. Tampaknya penyelesaiannya adalah dengan memutus jaringan telpon saja. Sebab, selalu bayaar tapi tak bisa diapa-apain.

Hee... ternyata, jauh dari akses internet itu, seperti kaum primitif yaa? Hehe.
Dan disadari atau tidak, ternyata kebutuhan akan koneksi terhadap dunia itu semakin tinggi, dan mungkin saja menjadi kebutuhan primer. Bagi kalangan tertentu terutama....
Ckckck...jaman sekarang...
Padahal, dulu tak begini bahkan ketika aku masih SMP dulu. Baru beberapa tahun berlalu...
Dan bayangkanlah, bagaimana sepuluh tahun lagi saja?
Ada kemajuan apa lagi kah?
Jangan-jangan teknologi nanopartikel, ehm...di mana manusia jadi bagian dari nanopartikel yang dapat saja berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya hanya dengan perantara sinyal. Jangan-jangan...
Let's wait and see... eehh...ndak ding, jangan hanya menungguu...tapi jadi bagian dr perubahan (syaelaaahh...hihihi)
Read More

Purozento

Hari ini sebenernya ada jadwal pengambilan undian kasus yang akan menjadi final examination case di stase Pediatri jam 7.30. Tapi, karena aku berangkatnya (sengaja) telat, dan aku sudah mendelegasikan pengambilan undian ke temenku, Sri, jadi aku nyampe di RSCM jam 7.45 pagi. Secara jadwal sih kita masuk jam 8 ya. Tapi, stase Pediatri sering mengharuskan kita dateng jam 7-an. Itu artinya, abis subuh, trus rapih-rapih dan sudah harus cauuu.... Aku sebenernya tadi jam 5.45 sudah ready to go. But, jemuran setumpuk yang menunggu sang mentari, jadi berangkatnya diundurin hingga 6.20 ajah hee...
(Lagi-lagi dehh, prolog nya panjang bener!)

Nah, kereta Kota pertama lewat. Ndak bisa maksain diri buat masuk saking udah overloadnya. Kereta ke dua, ke Tanah Abang-Jatinegara, juga full bangeett... Kereta ketiga, barulah aku bisa masuk. Tapi, pas nyampe stasiun UI dan Lenteng Agung langsung diserbu penumpang. Jadi, kesimpulannya, kereta tetep overload dan berada di sana bagaikan dipepes macam ikan sarden. Heuu....

Pas di stasiun Pocin tadi, aku baru nyadar kalo ada yang tak beres dengan jilbabku. Ah iyaaa, purozento nya ilaaaaang... Huwaaaaa.... Innalillaah!
Purezento-ku itu sebenernya adalah hadiah dari Kak Ayumi, one of  my best friend semasa apoteker dulu. dan umur Purozento-ku itu sudah lebih kurang tiga tahun! Bros purozento itulah yang kemudian menjadi broz favorit aku.
Paniklah aku ketika menyadari Purozento itu tak ada dijilbab. Kemanaaaa diaaa??
Jadi ingat, tadi buru-buru mengejar kereta dan rebutan di depan pintu komuter. Aku berpikir, kecil harapan Purozento itu bisa ditemukan. Mungkin juga sudah jatoh ke kolong peron kali yah. Heuu... Dan aku menyadari hilangnya purozento itu mungkin sudah agak lama. Sudah 2 kereta yang aku lewatkan baru aku sadar. Makanya aku sudah pasrah banget. Sedih siiihh. Baruu kemarinnya aku kehilangan gantungan kunci FLP yang umurnya juga sudah nyaris 4 tahun. Hilang dengan cara yang sama, tak disadari.

Tiba-tiba, padanganku tertuju pada benda kecil yang tergeletak tak berdaya di pinggir peron. Alhamdulillaah, itu kan Purozento akuuu... Dalam sepersekian detik aku sudah menuju ke TKP, dan BENAR! Alhamdulillaah itu purozento ku yang jatuh. Alhamdulillaah... Senang sekali....

Purozento ku itu sudah mengalami nasib yang sama. beberapa kali nyaris hilang. 4 kali kejadian yang sama di stasiun, kalo ndak salah. Tapi, alhamdulillaah, masih diberikan amanah utk memilikinya..hehehe....

pelajaran dari kisah ini bagi aku adalah, SEBERAPAPUN RINTANGANNYA, SEBERAPAPUN HALANGANNYA, SEBERAPAPUN TERLIHAT AKAN LUPUT, JIKA MASIH REZEKI KITA, MAKA INSYA ALLAH TAK AKAN KE MANA. TAPI, JIKA BUKAN RIZKI KITA, SEBERAPAPUN ITU KITA UPAYAKAN, KITA JAGA, KITA PERTAHANKAN, TAPI TETAP SAJA AKAN LUPUT. Yakinlah, bahwa rizki kita takkan pernah tertukar dengan orang lain. Jadi tak perlu khawatir kan yah? Jika Allah takdirkan untuk memiliki maka, meski sejuta orang menghalangi, tetap saja kuasa ALLAH yang berlaku. Tetap saja kita tak dapat miliki. Sebaliknya, seberapa pun kita menghindarinya, tapi jika memang itu rizkinya kita, maka tiada kita punta kuasa untuk menolaknya. Jadi, jangan khawatir, wahai diriku :)

*bikin tulisan ini sudah 1 watt, sedang dalam keadaan ngantuk berat dan sudah somnolen. Jika kacau isi dan bahasanya, mohon dimaklumi yaahh. Hehehe
Read More

Upgrade Rasa Syukur Yuk...

Mari meng-upgrade rasa syukur kita yuuk. Ngajakin diri sendiri terutama. Hee....
Dulu waktu aku masih sekolah maupun kuliah S1, yang namanya penyakit publik figure (loh?) hanya kutemui dalam bentuk manuskrip maupun teksbook, yaa seenggak-enggaknya jurnal. Maksudku penyakit publik figure bukanlah penyakit orang yang ngebet pengen jadi artis, tapi adalah sesuatu yang kutemukan hanya di teksbook-teksbook dan rasanya sulit untuk ditemui di dunia nyataku yang memang orang kampung. Hihi... Saking publik figure nya, aku hanya bisa membacanya lewat buku saja, lewat textbook atau bahkan di televisi saja (yang kebanyakan di filem-filem apalagi sinteron suka ngacooo, hihihi) tanpa berjumpa kasus nyatanya. Sebagai contoh saja, penyakit hemofili. Hemofili itu sendiri aku baca sejak masih SMA dulu yang kisah klasiknya itu adalah di kerajaan Inggris. Pernah baca nda sih? Yang pernah SMA sih kurasa tau lah yaaa... Atau, kisah klasik pendonor ginjal di tipi-tipi yang sering kita saksikan? Hehe... kalau aku sihh sejujurnya, sebagai orang kampung, tidak pernah berjumpa penyakit-penyakit public figure semacam itu. Hanya skedar tau dan pernah dengar.

Tapi, pas lagi masuk bangsal sekarang, aku berjumpa banyaak sekali penyakit public figure yang complicated. Mereka adalah pasien-pasien rujukan yang datang dari berbagai daerah yang biasanya sudah tak tertangani lagi di rumah sakit di daerah mereka. Ternyata aku berjumpa nyatanya. (kedengarannya ko kolot amat yak? hihihi...ya biarlaahh!). Aku dengerin nama sakitnya ajaah nih yaa udah berkerut tujuh nih jidat. Kaya AVMs, PDA, VSD, SNRS, de es be. Kamu juga bingung kaaan yaahh? Hihihi... Nyari temen! Kalo gula, tensi tinggi, kolesterol, itu mah udah sering berjumpa kalii yaahh. Heuu...

Well, aku tak akan bercerita banyak soal penyakitnya (loooh?? kurang banyak apa lagi sih Fatheeeell? heuuu). Yang menarik untuk kuceritakan justru adalah tentang after effect dari itu semua.

Begini, jika kamu hari ini masih bisa menikmati makan enak, mengunyah lauk, meneguk segelas jus, atau apalah itu, maka jangan pernah remehkan itu. Itu bukan sesuatu yang biasa-biasa saja yang menjadi suatu kemestian. Tapi, lihatlah. Ada orang yang makanannya harus dimasukin secara langsung ke lambungnya. Jadi dibikin lubang diperut dan makanan langsung dimasukan ke sana. Enakkah? Sungguh, dia tak dapat merasakan enaknya makanan, pahit manis asam asin gurih nya si makanan. Dan, bukankah nikmatnya makan itu ada di mulut saja? Enakkah terasa jika ia sudah sampai kerongkongan? Dan, sungguh...nikmat mengecap itu adalah nikmat yang luar biasa dari-Nya.

Jika kau dapat (maaf) buang air besar dengan leganya, maka bersyukurlah. Sebab ada orang yang harus dibuatkan stoma di perutnya untuk mengeluarkan zat-zat yang tidak diperlukan tubuh. Maka, bisa BAB dengan cara normal, itu adalah suatu yang patut kita syukuri yang mungkin selama ini kita anggap adalah suatu kemestian belaka, "ya, memang semestinya begitu kan?" mungkin begitu kita berpikir.

Jika kamu dapat lari-lari, jatuh dan lebamnya dapat sembuh sendiri, maka bersyukurlah. Sebab, ada orang yang tak dapat menikmati itu semua. Bahwa dengan kesenggol bola saja mereka harus dirawat di rumah sakit karena pendarahan yang hebat hanya karena luka yang tak seberapa. MUngkin kamu tegores cutter masih belum apa-apa, tapi mereka, butuh transfusi darah hanya karena luka cutter bahkan lebam dan luka yang bagi kita dapat sembuh dengan sendirinya.

Dan jika kau masih dapat menghirup udara dengan bebas sebebas-bebasnya, maka bersyukurlah. Sebab ada orang yang harus dibantu bernafas, dan oksigen yang mereka hirup mesti bayar dulu. Padahal, mungkin bisa bernafas bagi kita adalah hal yang sangat sederhana. Bahkan suatu kemestian bagi sesiapa saja makhluk hidup.

Ya begitulah, mungkin kita(terutama aku) lupa bersyukur, bahkan untuk hal-hal yang sering luput dari pemangamatan kita karena menganggap itu semua adalah hal yang semestinya dan biasa-biasa saja. Padahal, begitu besar nikmat-Nya itu...pada diri kita....

Semoga ini meng-upgrade kesyukuran kita, atas nikmat-Nya yang tak ternilai harganya....
Read More

Dilema (Jilid 2)

Hemm....without the prolong prolog, aku mau lanjutin kisah DILEMA yang sudah aku tulisin sebelumnya. Hemm.... Mungkin kamu juga sudah tahu, bahwa berada di kereta pagi dan sore adalah sesuatu bangeeettt. Hehe... Jika tak terbiasa naik KRL, sebaiknya urungkan niat naik KRL di jam-jam padat penduduk ehh penumpang (jam 6-an sampai jam 7.30 dan jam 5-an sampai jam 7.30 malam). Sebab, mungkin kamu akan menjalani 'siksaan' kegencet yang menggenaskan. Hohoho.

Nah, lalu apa hubungannya dengan kereta?
Begini, di kereta, aku sering berjumpa ibu-ibu wanita carrier (baca : karir), hihihi.... --karrier mah pembawa 'sesuatu' kali yah, hihihi-- yang berangkat pagi dan pulangnya malem. Ya, kalo pulang sekitar jam 7-an dari Jakarta, nyampe Depok itu sekitar 1 jam-an dan Bogor itu sekitar 1,5 jam lagi. Itu kalo rumahnya deket stasiun. Kalo rumahnya masih jauh lagi, semisal daerah Bogor Coret, atau daerah Cimanggis dan sononya lagi untuk Depok, maka mungkin nambah setengah sampai satu jam lagi. Nyampe di rumah jam berapaaaa? Mana pagi-pagi, abis sholat subuh sudah harus berangkat kerja lagi? So, kalau dipikir-pikir nih ya, kapan yaa waktu buat anak-anak?

Suatu ketika, aku pernah mencuri denger telpon seorang ibu di kereta gerbong wanita. Bukan hanya aku, sak gerbong-gerbongnya juga denger sih, soalnya volume suaranya bisa dibilang cukup keras.Hehehe...
"Teh, tolong ke rumah ya. Saya pulang telat nih, ndak ada yang jagain anak-anak. Tolong yaa..."
"La...la...la...la..."
"Iye, aku pulangnya telat nih. Dari Jakartanya telat. Tolong ya. Sialakan ajah kalo kamu mau makan di rumah, makan ajah ya."
Ya, lebih kurang begitulah...
Itu salah satu sampel saja dari sekian banyak sampel. Tak jarang juga aku mendengar obrolan seputar anak dan sekolah mereka yang menjadi trending topic pada ibu-ibu di KRL (yang suka bawa kursi lipat <-- haha nda penting amat yang iniih mah!).

Di satu sisi, kita membayar seorang pembantu buat ngurusin keluarga, ngurusin anak. Lalu kita bekerja. Tapi, di sisi lain, sebenarnya alangkah lebih baik lagi jika uang buat pembantu itu kita delete dari list pengeluaran dan kitalah yag mengambil peran itu. Bukan peran pembantunya loh ya. Tapi, the point is peran orang tua terhadap anaknya. Mungkin gaji pembantu tak sebanding dengan gaji para orang-orang di perusahaan tertentu. Tapi, gaji pembantu + pendidikan anak belum apa-apanya jika dibandingkan dengan gaji perusaan berkelas + prestise yang didapatkan.
Maksudku, jika kita pake itung-itungan laba ala pedagang, sebenernya untungan mana sih antara kita bekerja+nge-gaji pembantu dibandingkan kita tak menggaji pembantu dan stay at home?
Kalo dirumusin lebih kurang begini :

Gaji Kita + Prestise dan Aktualisasi diri > atau < atau = gaji pembantu + ngurusin anak?

Mungkin secara tangible valuenya, gaji kita (>4 juta) akan jauh lebih besar dari pada nge-gaji pembantu ( 750rb lebih atau kurang). Tapi, bagaimana dengan intangible value? Prestise dan aktualisasi diri serta ngurusin anak? Kalo prestise dan aktualisasi diri mungkin hanyalah sementara saja. Maksudku, hanya sezaman seperiode. Itu pun di hadapan orang lain. Dan, ketika ada orang lain yang juga menghasilkan prestise yang melebihi, maka prestise itu langsung kalah pamor. Oke, misalnya kita tak peduli soal pamor atau tidak. Tapi, untuk siapakah kita berbuat? Prestise itu buat apakah? Lalu, apa benefitnya? Sepertinya hanya eksistensi diri belaka. Okelah, punya nilai plus juga, berdaya guna, bagi bangsa negara, yaa setidaknya bagi masyarakat di sekeliling kita. TAPI, ngurusin anak! Itu intangible value yang menurutku jauh lebih tak ternilai. Sebab ia membangun generasi muda. Membangun generasi bangsa. Dan membangun anak-anak shalih. Sungguh intangible value yang jauh lebih tak ternilai. Karena ibu adalah madrasatul 'ulaa. Lantas, bisakah pembantu merealisasikan mimpi dan cita-cita kita dalam membangun peradaban layaknya mendelegasikan rekan kerja atau bawahan untuk ikut di suatu rapat dengan membawa ide-ide kita? 

Nah, itu dia the point nya. Tapi, jika pun pertanyaan itu diajukan pada diriku sendiri jika suatu saat aku dihadapkan pada keadaan yang sama, mungkin aku juga belum bisa menjawab seidealis paparan hitung-hitunganku di atas.

Dan lagi-lagi, kembali aku harus bertanya, sebenernya apa yang harus dipilih kah?
Dan lagi-lagi, DILEMA!

Tapi, sejauh ini, aku masih berprinsip bahwa family is number one. Dan aktualisasi diri di luaran sana is the second, betapapun inginnya aku berdaya guna di luaran sana itu. Meski tak seoptimal orang yang fulltime di rumah, tapi setidaknya dengan membentuk mindset bahwa di luaran sana hanyalah kerja part-time atau freelance dan kerja utama tetaplah di rumah, maka kita mungkin akan lebih bijak menyusun skala prioritas. Bahwa di rumah adalah dengan energi yang full charge bukan sisa-sisa kelelahan dari meja kerja. Karena mereka lebih berhak atas itu ketimbang aktualisasi diri kita. Berdaya guna di luaran sana, memberikan kemanfaatan bagi bangsa negara, dan terutama diin ini, dan minimal bagi masyarakat tetap sesuatu yang penting. Tapi setelah segala sesuatu yang diprioritaskan di rumah terselesaikan terlebih dahulu. Mungkin begitu. Ini kesimpulanku saja. Silakan jika kamu punya pendapat berbeda. Tak dilarang ko. Hehe...
Read More

Dilema

Well, finally I presented the case. Banyak perbaikan sih. Aku sempet bingung dan disorientasi soal penggunaan heparin dan kejadian Melena (btw, namanya bagus amat yak melena? padahal arti terminologi nya adalah feses alias BAB menghitam, hee...). Ternyata konsep dan logika heparin vs bleeding dan nilai PT,aPTT, d-dimer, fibrinogen aku masih kacau, jadi karena konsepnya ndak mantep, betapa mudahnya ditarik ulur, dan tinggal lah aku bengong sendiri hehehe. Bener deeh, bahwa memahami konsepnya adalah hal yang paling esensial setiap melakukan sesuatu. Bukan hanya case, tapi diseluruh lini kehidupan. Ntar deh, aku punya pembahasan menarik soal ini. Hee... Btw, tapi casenya, alhamdulillaah menggembirakan. Lega rasanya. Masih ada 1 case lagi sih. Tapi entar, insya Allah. Mau refreshing dulu. Hee... Aku ndak mau cerita soal case. Soalnya case lagi, case lagi, lalu case lagi. Kaya nda ada hal lain selain case ajaaah. Padahal banyaaaaaakk hal lain selain case arround this life, hehehe. Memang sih case bikin energi banyak terkuras. Semalem saja, untung si Nescafe Latte bisa nemenin aku melek sampai jam 2.30 dini hari. Kalo ndaa, bisa gawat deeehhh, dibantai abis-abisan. Hehehe.... Sudah aahh case nya di-skip dulu ajaah. Hehehe.

Ngomong-ngomong soal konsep tadi, ada pembahasan menarik dari Liqo'an anak-anak kosan Ketapang yang diadain tiap ahad malam di lt.1 Kosan Ketapang. Kita memang sepakat sekosan tiap ahad malem ntu liqo'an nya kita-kita. Hehehe. Ngumpul bareng sambil upgrade ilmu juga ajang silaturrahim. Soalnya hari-hari lain kaaaan suka sibuuuk jadi kadang malah nda ketemu. Hee... Nah td malam itu diisi sama Ayu yang bercerita tentang konsep kenapa kita mesti ibadah. Intinya, jika kita ndak tau sholat itu gunanya apa, hanya sekedar penunaian kewajiban belaka, tapi tak ada konsep dalam diri kita bahwa sholat itu adalah pertemuan antara Rabb dengan khaliknya, maka sungguh sia-sia sekian masa yang sudah habiskan. Entah itu diterima apa tidak setiap amal ibadah yang udah kita lakuin. Astaghfirullaah. Sholat itu pertemuan yang sangat penting layaknya kita hendak berjumpa sang kekasih. Maka, jika ingin berjumpa sang kekasih, bukankah kita berupaya untuk menampilkan segala hal yang terbaik yang kita punya? Kita pada-Nya, seperti budak yang amat takut dengan hukuman dari-Nya, dan mengharap segenap berkah dan rahmat-Nya. Bukankah secara fisiologisnya, kita memang tercipta sebagai suatu sistem reward dan punishment di regio limbic. (Jika salah, tolong dikoreksi yah, hee....). Ya, semoga jadi reminders buat aku terutama yang masih sering lengah.

Aku mau cerita soal apah yaah? Malah lupa ama the main ideanya, hehehe. Oooh iyaa, soal nonton tipi! Ehehe, sebenernya bukan tentang nonton tipinya the entery poinnya, tapi tentang isi pilem yang disuguhkan si tipi. Hee... Hemm.... sejujurnya, aku memang tak terlalu suka menonton tipi. Jika pun akhirnya tiba-tiba nonton, itu mungkin karena lagi insap ajah kali yah (looh??). Jadi, keberadaanku di depan tipi di kosan Ketapang selalu menjadi sebuah pertanyaan bagi anak kosan lainnya, "Kok tumben, Ka Fathel nonton?" hihihi.... :D
Beuuuhhh, ni prolog puanjaaaang amaaat yak? Hee....

Jadi, suatu ketika sepulang dari RSCM, aku sebenernya lagi deadline buat analisa obat. Tapi, ketika melewati tipi, tiba-tiba lagi ada pilem penuh hikmah gituh. Tentang peranan seorang ibu, jiyaaaahhh... Ya langsung dong aku tertarik, secara aku kan emang demen bangeet sama dunia anak-anak dan parenting. Dan akhirnya, masih dengan pakaian lengkap sehabis RSCM (nda lengkap juga sih, udah dicopot sebagian, hehehee) langsung deeeh ngetem di depan tipi, melototin benda ajaib yang bisa ngomong ituh. Heehehe...

Ceritanya tentang seorang wanita karir yang amat sangat mementingkan karirnyaaa. Ndak punya waktu buat keluarga. Akhirnya anaknya blajar al qur'an malah diajarin pembantu. Waaah, persis kayak cerpen yang aku bikin 4 tahun yang lalu (tahun 2008). Makanya aku jadi sangat tertarik bangeeeeeett.... bangeettt....bangeeett... Penasaran banget sama endingnya. Walaupun endingnya bisa ditebak siih. hehehe.... Cuma aku penasaran ajah happy apa sad ending yang mereka bikin. Ternyata sad ending. Kalo aku mah bikinnya happy ending dengan akhir nge-gantung gituh, dan membiarkan pembaca menyelesaikan sendiri. (hehe, enak yaah ngusilin ituuh. hihihi :D).

Well, intinya adalah tentang seorang ibu dan anaknya, terutama ibu-ibu yang mengejar karir. Hemm....aku sempet diskusi dengan beberapa orang. Sebenarnya perempuan bekerja itu bukan semata ngebantuin and nyokong keluarga tapi juga menyoal eksistensi dan apalaaah gituuuh yang intinya eksplorasi, ekspedisi, ekspektasi (haha, apaansih?). Ya gituuuh deh, I'm sure that you know what I mean, halaaaaaaaah!. Memang dilematis sih. Di satu sisi, kita memang pengin kerja, pengin mengaplikasikan apa yang sudah kita dapet selama di bangku kuliah. Kalo ndak diaplikasikan dalam kehidupan nyata, kebanyakan malah tersaturasi di sudut otak (hehe, emangnya otak punya sudut yah? berapa derjat sudutnya? hahaha :D). Tapi, sekali lagi, mungkin kita harus memilih. Memilih untuk merelakan sesuatu demi sesuatu.

Dulu, aku memang punya tekad yang udah bulet, bahwa menjadi IRT harus jadi cita-cita utama sebelum jadi farmasist. Tapi, prosesi melanjutkan kuliah ini ternyata telah membuat tekad itu berdilatasi. Ndak terlalu jauh sih dilatasinya. Tapi tetap ada dilatasi. Ada keinginan agar ilmu yang diperoleh itu dapat bermanfaat bagi orang lain. Yaa, ada keinginan untuk menjadi muslimah yang berdaya guna tak hanya di rumah, terutama untuk kapasitas ilmu yang sedang aku jalani. Hemm.... menurutmu gimana, kawan?
Tapi, yaa tetap saja tak ada yang sia-sia dari menuntut ilmu. Tak sia-sia insya Allah. Jadi, hemm...jadi... tetep ajaaaah masih dilematis... >.< Hehehe....

Well, ini sekedar wacana saja yang ingin aku lempar ke khalayak publik. Mungkin ini bukan hal yang asing. Dan aku yakin, bukan aku saja yang mempertanyakan hal ini. Kamu mungkin juga yah? Hayuuk berbagi wacana... Hehehe
Read More

\\(^o^)//

Fiiuufff... hari ini cape sekali rasanya. Tak hanya lelah fisik, tapi juga letih jiwa. Hehe... STOOOOP, jangan gampang mengeluuuuh! Heuu.... Well, untuk kesekian kalinya, aku hanya ingin memuarakan rasa. Bukan hendak mengeluh insya Allah.

Di saat long weekend dimana ini adalah hari raya dan hari bergembira, di mana mungkin ada puluhan bahkan ribuan rumah di seberang sana yang sedang asik berkutat dengan rendang, kalio, soup, aku harus berangkat ke rumah sakit, demi.... ya demii si demi. Hee... Dii ruang pediatric intensive care unit itu, juga  membersamai kami sosok malaikat izrail yang tentu tak satu orangpun dapat mendeteksinya, hatta monitor-monitor canggih di ruangan itu sekalipun. Ia datang menjemput satu nyawa. Bradikardia. Hipotensive berat. Hingga kemudian, setelah upaya seoptimal mungkin dilakukan, pacu jantung, dobutamin-dopamin, adrenalin, tapi tetap Dia-lah pemiliknya. Ia akan mengambil apa yang menjadi Milik-Nya. Tangisan pilu menyayat hati. Tak terasa, aku ikut meneteskan air mata demi melihatan tangisan sang ibundanya. Putri satu-satunya kini telah dijemput Allah. Ya, Allah, pasti ibu itu sedih sekali. Tiga hari lalu, aku masih melihat senyum sumringah si ibu ketika menyaksikan anaknya sudah compus mentis (kesadaran baik). Tapi, jantungnya tak lagi mampu memompakan darah. Gadis kecil itu... kini telah berpulang. Kembali aku diingatkan pada sesuatu yang juga PASTI akan aku alami, di mana aku tak tahu kapan dan di mana, dalam keadaan yang bagaimana.

Read More

Maaf, Hanya Cuap-Cuap Saja

Jika sebelum-sebelumnya aku hanya jadi 'penonton' saja dalam sebuah tim yang saling terintegrasi dan multidisiplin itu, maka kemarin pas ronde stase pediatri kami akhirnya juga merasakan bagaimana seharusnya peran seorang klinikal farmasis itu. Bersama Prof. dr. Taralan, kami bed site teaching, dan langsung diskusi juga sama dokternya. Well, kami dari farmasi klinisnya, dan mereka PPDS nya. Secara keilmuan sih sebenernya levelnya sama, tapiiii...ya gituuh deehh we know so well lah yaa bahwa farmasis sebenernya kadang kurang pede dan juga masih harus banyak belajar.

Tapi di sini, semakin jelas lah bahwa klinikus bukan "dewa" yang mana mereka selalu benar, apalagi menyangkut soal obat-obatan. Di sebuah rumah sakit pendidikan lainnya di kota X, bahkan aku ngeliat banyak peserta pendidikan dokter yang cuma 'nyontek' resep dari klinikus senior padahal kondisi klinis mereka sangat mungkin berbeda.  Aku sebenernya jadi bersyukur juga bisa belajar banyak dari ini semua dan merubah paradigma berpikirku. Bahwa aku, farmasis klinis dan mereka para peserta PPDS adalah sama-sama belajar, dan memiliki peluang kesalahan yang sama besarnya. Tak ada posisi di atas bahwa mereka para "dewa" dan kita hanya "hamba sahaya", kaum minoritas yang termarginalkan (hahaha, pragmatis banget sih??hihihi). Tapi tidak! Kita sama-sama belajar toh. Bukan berarti klinikus itu para de best-de best yang selalu benar. Karena toh aku juga sering bertemu jawaban ngaco dari mereka ketika mempertanyakan EBM (evidence based medicine). Ini bukan berarti aku lebih tahu loh yaaa, aku juga masih belum berilmuuu dan sekali lagi, kita sama-sama belajaaar!

Read More