Ada Cinta di Setiap Kata Kita ❤

Berkata Baik atau Diam 😙

Alkisah, pada zaman Rasulullah, ada seorang anak kecil dengan kuniyah Abu Umair. Abu Umair adalah anak dari Ummu Sulaim dan Abu Thalhah. Abu Umair memiliki peliharaan seekor burung yang dinamai Nughair/Nughrun. Beliau sering bercanda dengan Abu Umair dan burung peliharaannya.

Dikisahkan dari Anas bin Malik, ia berkata, “Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam datang menemui Ummu Sulaim yang memiliki seorang putra yang diberi kuniyah Abu Umair. Rasulullah suka mencadainya. Suatu hari, beliau melihat Abu Umair bersedih. Lalu beliau bertanya,
“Mengapa kulihat Abu Umair bersedih?” Orang-orang menjawab, “Nughrun (burung kecil seperti burung pipit yang lekuk matanya berwarna merah)nya yang biasa bermain dengannya mati.”
Kemudian beliau menyapanya untuk menghibur si anak yang kehilangan mainannya ini, “Abu Umair, burung kecilmu sedang apa?”
(HR. al-Bukhari No. 5850)

Ma shaa Allah begitu mulia akhlak Rasulullah dan beliaulah teladan dalam hidup kita. Tapi, jarang sekali kita meneladani beliau (astaghfirullah), khususnya (yang pengen aku tuliskan kali ini) akhlak beliau terhadap anak kecil.

Banyak pelajaran berharga dari kisah Abu Umair ini.
Mari kita ambil contoh sederhana yang tak jauh dari kisah Abu Umair. Sebutlah misalnya anak kita memiliki seekor burung peliharaan, lalu burung itu mati. Si anak datang menghadap kita dan berkata sambil menangis,
Anak (A): "Bunda, burungku mati.. huhu..."
Bunda (B): "Ohh burungnya mati yaa.... cup cup... udaaah ga usah sedih yaa sayang."
A: "Tapii aku sukaa sekali sama burung ituu"
B: "iyaa... jangan sedih yaaa... nanti kita beli lagi burung yang baru. Oke?"
A: "ga mauuu... ga mauuu... aku maunya burung yang ituuu..."
B (mulai jadi sedikit esmosi, dan tak habis pikir, mengapa anaknya ngotot banget mau burung yg jelas-jelas sudah mati): "sayaang, coba denger bunda. Burungnya udah mati, nak. Kamu udah ga bisa lagi main sama burung itu. Lihat tuh dia udah ga gerak lagi kan. Udah ga bisa terbang lagi kaan." ( si bunda Berusaha memberi penjelasan logis) "kalau kamu nangis seharian pun, burungnya juga ga bakalan hidup lagi, sayaang."
A: "hwaa...hwaaa...hwaaaaa..... ga mauuuuu... pokoknya mau burung yang ituuuu...." (nangis kejeerr)
B: "kamu koq begitu siih!? Udaahh.. udaaahh!! jangan nangis lagi!! Cuma burung aja koq! Masih banyak burung yang lain."
Dan si anak pun, bukannya terhibur, malah menangis makin keras.

Yap!
Di sini letak masalahnya. Kita, sudah amat sangat terbiasa sekaliii meng-ignore, menolak, mengabaikan, tidak menerima perasaan anak! Dan sebab ini sudah sangat biasa terjadi, kita melihatnya bukan lagi sebagai sebuah "kesalahan" respon. Sebab kita bermaksud baik. Ingin menghibur anak. Tak ingin anak kita bersedih. Tak ingin anak merasa kehilangan. Itu berarti pertanda kita sayang sama anak kita. Tapii, apakah anak terhibur dan makin hilang kesedihannya? Sepertinya tidak yaaa... Alih-alih hilang kesedihan, yang ada malah sekarang bertambah macam perasaannya, yang awalnya hanya sedih, menjadi kesal juga karena emaknya tidak "menerima" perasaan sedihnya.

Iya. Kita jarang sekali "menerima" perasaan anak. Padahal, kesedihan adalah sebuah rasa yang datang secara alamiah. Kesedihan adalah sebuah perasaan yang pasti ada di dalam diri kita. Dan, ketika kita berkata "jangan sedih yaaa..." meskipun dengan nada sangat rendah, tetap saja artinya kita menolak untuk menerima perasaan sedih tersebut kan yaa... Apalagi ditambah dengan nasihat-nasihat seperti "naak, kamu nangis juga ga bakalan menghidupkan kembali burungnya..." atau penjelasan logis "burung itu sudah matiii... ga bisa main lagii...", di saat kesedihannya sedang memuncak. It's will be helpful?! Even gaya "menghibur" kita saja dengan menjanjikan "akan membelikan burung yang baru" tidak cukup untuk membuatnya senang kembali, apalagi ketambahan nasihat atau penjelasan logis. Bisa masuk nasihatnya ke anak? Bisa masuk penjelasan logisnya? Of course NO!


Kita sebagai orang dewasa saja, dalam relasi pertemanan atau kepada pasangan misalnya, pasti juga tak suka jika perasaan kita "ditolak". Misal, kita lagi sebel seharian, lalu ketika kita curhat, respon yang kita terima adalah "udah, ga usah kesal... bla... bla... kamu itu harusnya tak begitu, kamu harusnya begini...". Sudah pasti jawaban itu bukan bikin sebel hilang, melainkan malah makin sebel. Apalagi sampai kita "disalahkan" dengan kalimat pembuka "kamu seharusnya tak begitu...". Yang ada kita malah self defense! Kita secara alamiah, pasti akan melakukan "pembelaan diri" ketika kita disalahkan atau disudutkan. Iya kan? Atau nasihat. Ketika kita dalam keadaan sebel dan kesal, bisakah kita menerima nasihat, meski pun nasihat itu BENAR? Oh NO! Yang ada malah kita semakin kesal dan bertambahlah macam perasaan kita yang awalnya cuma sebel menjadi marah dan emosi.
Apa yang sebenarnya kita butuhkan? Yep! Sangat simpel. Hanya butuh diterima perasaan sebel kita dan hanya butuh didengar saja.


Begitu pula dengan anak. Kita saja yang sudah mengenali logika, mampu menghubungkan sebab akibat, tetaap tidak bisa "menerima" sebuah nasihat yang benar ketika kita berada di puncak suatu perasaan negatif (misal sedih dan kesal), apalagi anak yang notabene belum mengenal logika dan penjelasan logis! Yang anak butuhkan adalah "penerimaan perasaan", just it!


Coba kita dengar jawaban Rasulullah terhadap Abu Umair. Kenapa Rasulullah tidak berkata "Janganlah bersedih wahai Abu Umair" ketika mendapati Abu Umair kehilangan burungnya? Rasulullah justru mengucapkan "Wahai Abu Umair, burung kecilmu sedang apa?"

Lalu, apa respon kita untuk contoh kasus di atas?
Mungkin kita bisa merespon dengan kalimat Simpel saja yang mendukung perasaannya, "kamu pasti sangat sedih yaa kehilangan burung kesayangan..." lalu cukup dengarkan saja. Sesekali timpali dengan gumaman "ohh...", "hmm...", "i see...", "i feel u..."


Lantas kapan dong menasihati dan memberi penjelasan? Jika anak sudah pada usia bisa memahami, kita bisa menjelaskan ketika anak dalam kondisi senang dan tenang. Ketika perasaan gembira, segala sesuatu akan sangat mudah diterima. Jangankan anak, orang dewasa saja begitu kan yaa...


Begitulah. Meskipun ini kedengarannya mudah, tapi pada pelaksanaannya tidaklah semudah pengucapannya. Kita--apalagi dengan kebiasaan kita yang lebih sering menolak perasaan--butuh berlatih berulang kali. Ini tentu tidak didapat secara alamiah. Sebagaimana alamiahnya kita mengucap respon penolakan karena kita sudah sangat terbiasa melakukannya. Kita butuh berlatih dan terus berlatih untuk bisa memberikan respon penerimaan, bukan respon sebaliknya.


Ya. Kita tidak selalu dalam kondisi baik dan hati senang. Ada masanya juga kita marah. Kesal. Emosi. Lelah. Terburu-buru. Kondisi ini sering kali membuat kata-kata kita menjadi tak terkontrol. Dan respon berupa penolakan, nasihat, ejekan, kritikan, peremehan dan bahkan ancaman lebih mudah muncul di masa-masa kita sendiri sedang dalam kondisi tak stabil. Di kondisi seperti ini, kita mungkin lebih merasa "puas" jika kita ngomel-ngomel kepada anak. Dan lebih sering kata-kata kurang baik yang keluar yang kita sendiri mungkin kemudian merasa malu mendengarnya ketika kita dalam kondisi stabil. Hehe...


Apa yang harus kita lakukan?! Tarik nafas dalam dan ta'awudz! Seperti yang Rasulullah ajarkan, "Berkata baik atau diam!" Ya, ini kuncinya. Jika kita tidak mampu berkata baik pada saat itu, maka yang lebih baik adalah DIAM.


Smoga Allah memudahkan langkah kita, melembutkan lisan kita kepada sosok-sosok polos yang Allah amanahkan kepada kita... Sebab kita akan ditanyai kelak.

Tulisan sederhana ini adalah sedikit rangkuman dari sekian banyak poin yang dibahas di kelas komunikasi yang digawangi oleh mba Dara. Jazakillahu khair katsir yaa Mba Dara, you are inspiring me...


Disclaimer:
Aku menuliskan bukan karena totally sudah bisa mempraktekkannya. Aku masih jauuhh sekalii dan masih tertatih untuk berbenah. Masih mengeja dan masih belajar untuk berkomunikasi yang baik penuh cinta kepada sang buah cinta. Aku menulis ini lebih dikarenakan sebagai pengingat diri sendiri (dan barang kali bisa memberi manfaat buat sesama). Menuliskan, buatku berarti membuatnya lebih lama lekang di ingatan, in shaa Allah....

Feel free untuk dikoreksi, ditambahkan dan diingatkan. Mohon maaf jika ada salah kata...


======
Riyadh, 4 Rabi'ul Awwal 1439 H
Kalimat penghangat untuk menyongsong musim dingin 😊



0 Comment:

Post a Comment

Feel free to accept your comment. Spam comment will be deleted and blocked