Aku Saat Ini

Aku saat ini;
Hanya mencoba tetap berdiri di bibir-bibir ketegaran....
Hanya mencoba mencipta seluas-luasnya ruang tak harap pada manusia kendatipun selalu saja kisi-kisi yang memberi napas atas harap-harap itu...
Hanya mencoba menyediakan penyangga diri....ketika mungkin saja suatu saat akan limbung di hadapan kenyataan...

Aku saat ini;
Dengan sebuah rasa yang tak dapat didefinisikan yang menyesaki jiwa...
Tak terdefinisinya ia, maka begitu terasa hampa...hambar...tiada lagi berasa....kebas....kelu...

Aku kemarin, saat ini dan sampai kapanpun....
Benar-benar tak punya tempat bergantung, kecuali hanya pada-Nya...hanya pada-Nya saja....
Cukuplah hanya Dia....cukuplah hanya Dia saja...tiada yang lain....
Read More

Budak-Budak Kebiasaan

Subhanallaah…sungguh kagum aku pada seorang nenek tua yang umurnya mungkin sudah mencapai angka 80 atau 90 itu. Benar-benar mengagumkan. Semua ini kemudian mengajarkanku tentang kebiasaan dan kita sebagai manusia yang menjadi ‘budak’ dari kebiasaan tersebut.

Setelah lebih dari tiga hari membersamai beliau, aku menjadi semakin mengenali sosok itu. Nenek tua itu berwajah bersih. Memiliki kebiasaan yang selalu rapi, dan sangat rajin. Ia sangat mencintai mesjid dan selalu tepat waktu dalam sholatnya. Jika saja sudah terdengar adzan berkumandang, ia bersegera untuk melaksanakan sholat. Sering kali ia menunaikan sholat ke mesjid. Tapi, belakangan anak dan cucunya sudah melarang karena ketuaannya itu. Dikhawatirkan beliau akan terjatuh jika berjalan sendirian ke mesjid. Osteoporosis telah merenggut kebebasannya untuk melangkah. Tapi, meski dengan punggung yang bungkuk begitu, ia selalu berupaya untuk ke mesjid. Ia selalu menjadi yang pertama di seantero penghuni rumah itu untuk berwudhu’ dan sholat jika saja adzan telah berkumandang. Dan ia pula yang menjadi orang yang paling berlama-lama bersama Al Qur’an dan melafadzkan huruf demi hurufnya. Ia juga masih turun ke dapur dan ikut memasak sesuatu meski hanya sayur bening, walaupun anak cucunya sudah mencegat. Ia pun masih senantiasa bersih dan rapi dengan kamarnya yang tak terlihat berantakkan sedikitpun, di saat orang-orang seusianya banyak yang mengabaikan hal ini.

Kemudian aku bertanya pada anak dari nenek itu. Bagaimana bisa nenek itu melaksanakannya di saat orang-orang seumuran beliau mungkin tak banyak yang bisa seperti itu? Anaknya menjawab, bahwa beliau telah melakoni ini semua semenjak ia kecil dulunya. Semenjak ia mulai mengerti tentang kehidupan. Masya Allah…

Semua ini mengajarkan kepada kita, bahwa kita memang menjadi ‘budak’ dari kebiasaan kita. Ketika kita membiasakan suatu keburukan, maka, kita akan menjadi budak dari keburukkan tersebut. Kita akan senantiasa melakoninya. Pun sebaliknya, ketika kita terbiasa melakoni sesuatu kebaikan. Kita pun menjadi ‘budak’ dari kebiasaan tersebut yang akan senantiasa pula kita lakukan. Seperti kata sebuah pepatah Minang, “Ketek taraja-raja, gadang tabawo-bawo, lah tuo tarubah tido.” (Di waktu kecil mulai belajar untuk melakukannya, ketika dewasa mulai menjadi kebiasaan, ketika tua tidak dapat diubah lagi.)

Sebuah penelitian membuktikan bahwa otak kita akan mereduksi segala sesuatu yang sangat jarang digunakan, diulang maupun dibiasakan. Itu sebabnya, jika kita sudah lama tidak mengulangi sesuatu semisal pelajaran maka kita akan melupakannya. Apalagi hafalan Al Qur’an, yang ketika sudah lama tidak diulang, ia-nya begitu cepat lenyap dari ingatan, bahkan lebih cepat dari kuda yang lepas dari tali kekangannya. Astaghfirullaah… astaghfirullaah…

Maka sebab itu pulalah, Rasulullaah perintahkan kepada kita untuk menjaga kebiasaan baik ini. Tentang menjaga amalan baik kita. Sungguh Allah menyukai amalan yang istimror. Berkelanjutan. Dari Aisyah ra., Rasulullah bersabda : “Amal perbuatan agama yang paling disukai Allah yaitu amal perbuatan yang terus dikerjakan oleh orang yang mengerjakannya.” (Al Hadits)

Read More

Lembaran Kehidupan

Dalam rihlah blog (blogwalking) kali ini, aku terdapar di blognya Rusda Ulfa. Cihaaa….pada akhirnya, si Cu’ul bergabung jugak di dunia per-blog-an. Hehe. Ahlan wa Sahlan Cu’uuuuul…. Semoga betah. Hee…

Pada postingan pertamanya, begitu “nge-zugg” bagiku. Kamu bisa baca di sini. Tentang hidup dan analoginya dengan lembaran buku. Tentang episode hidup ini. Ah, begitu berkesan sekali nasihat ini bagiku. Ah, benar sekali…bahwa Allah selalu menyediakan lembaran baru tanpa noda untuk kita isi, seburuk apapun lembaran-lembaran sebelumnya. Subhanallaah…. Maha Agung Allah yang membentangkan seluas-luasnya pintu maghfirah di siang hari untuk kemaksiatan di malam sebelumnya, dan membentangkan seluas-luasnya magfirah di malam hari untuk kemaksiatan di siangnya.

Selayaknya sumber daya yang tak dapat diganti dan di daur ulang, waktu-waktu berlalu takkan pernah dapat dijemput. Yang tersisa hanyalah lembaran-lembaran yang telah tercatat oleh kiraman katibin yang suatu saat akan dipertanggungjawabkan. Setiap catatan, akan dihadirkan dan diputarkan kembali dengan sedetil-detilnya. Adakah yang lebih Maha Teliti selain persidangan-Nya?

Ah, tentang lembaran-lembaran yang telah berlalu itu. Bahkan sangat banyak coret moretnya. Terlalu banyak. Tak terhitung lagi. Belum. Masih belum layak untuk ditinggalkan sebagai jejak yang baik. Masih belum layak. Bahkan sangat jauh dari layak. Aku….dan buruknya lembaran lalu.

Sesungguhnya, banyak yang disesali. Banyak. Dhaif. Hina. Penuh debu. Penuh noda. Jika saja waktu bisa diputar, tentu setiap kita sangat ingin kembali menjemput hari-hari itu, untuk kemudian diperbaiki, direkonstruksi. Tapi sayang sekali, waktu tak dapat dijemput. Dan, tentu saja pintu kemana saja doraemon sama sekali tidak berlaku di sini.

Ah, tabiat manusia selalu begitu. Bahwa setelah nyata di hadapan mereka, tentang perbuatan mereka itu dan akibatnya, barulah memohon-mohon untuk dikembalikan. Ke dunia lagi, bahkan. Tapi, dapatkah? Tentu saja tidak! Lembaran yang telah berlalu, dengan segala kesalahannya, dengan segala noda yang tertinggal di sana, memang takkan pernah dapat dijemput. Kesalahan adalah sesuatu yang wajib untuk disesali. Tapi, bukan berarti hanya terpaku di sana yang akan melemahkan semangat kita. Ia-nya memang adalah sebuah kesalahan. Tapi, bukan berarti selamanya kita harus merasa begitu lemah dengan sebuah pembiaran dan kepasrahan tanpa makna. Justru, dengannya, jadi sebuah lecutan semangat….untuk mengisi lembar-lembar berikutnya dengan tinta terbaik. Dengan goresan terbaik pula. Yakinlah…bahwa selalu ada lembaran baru yang Allah bentangkan untuk hambahamba-Nya. Yakinlah….

Dari Anas ra. Berkata : “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : “Allah Ta’ala berfirman : “Wahai anak Adam, selama kamu berdo’a dan berharap kepada-Ku niscaya Aku amouni dosa yang telah kamu lakukan, dan aku tidak mempedulikan betapa banyaknya. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu bagaikan awan di langit kemudian kamu minta ampun kepada-Ku niscaya Aku mengampuni kamu. Wahai anak Adam, sesungguhnya seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa seisi bumi, kemudian kamu menghadap Aku tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun maka Aku akan mengampuni dosa yang seisi bumi itu. (HR. At Tarmudzy)

Read More

Cinta Naja

sayaaaaang ^o^
Ini pertemuan kali keduaku dengan gadis kecil umur sembilan tahun itu. Naja namanya. Ia adalah cucu dari seorang nenek yang anaknya adalah tetangga dekat kakak perempuan dari mama sahabat baik ibuku (hihi…ribeeet bet yak! Sengajaaaa….!! wkwkwk). Tapiii….berasa sudah lama sekali mengenalnya. Aku menyukai keceriaan gadis kecil itu. Ia yang ramah dan selalu ceriaaa…

Bukan hanya itu, ia juga “mewarisi” kegombalanku. Hihihi. Baru dua kali berjumpa, ia sudah bilang, “Naja sayaaaang banget sama Ka Fathel”. Bahkan dia membuat sepucuk surat untuukku yang isinya “Naja cinta Ka Fathel”. Hee….ada-ada saja. Bikin GR ajah nih anak. Hihi.

Pernah juga dia bilang begini… “Kakak itu cantiiiiiik deh kayak bidadari” (hueeeekks… masa tukang gombal digombaliii…hihi..gak ngaruh….gak ngaruhhh). Sambungnya kemudian, “….tapiiii, kayak bidadari dijatuhin dari loteng!” Gubraaaak…..!! Tuing…tuing…. Kalo dijatuhin dari loteng, bukan cantik namanya, tapi babak belurrr. Dan si Naja, malah cekikikan. Hadeuuh….deuh…deuh….

Uhmm….
Tentang cinta dan mengatakan cinta. Meski banyak yang seperti Naja, bahwa mereka dengan mudahnya dapat mengatakan cinta….Tapi ternyata, tak sedikit juga yah yang SULIT untuk menyatakan cinta. Ternyata, mengatakan cinta, bagi sebagian orang, bukan perkara mudah.
Read More

Menu Spesial Hari Ini

Dahulu, semasa masih kuliah (kek yang udah lama tamat ajah niih..hihihi), menu favorit di kafe Mertua (baca : kantin Mintuo) Fak. Farmasi Unand adalah….ayam balado ijau. Hehe. Diriku kaga tau niih, namanya apah. Hee….*paraah. Belakangan baru tau kalo itu adalah sejenis Gulai Koto Gadang (hmm…Koto Gadang ini di Payakumbuh apah Batusangkar yak? Soalnya menu beginian, biasanya ada di acara berhelat a.k.a baraleknya orang-orang Batu Sangka). Sudah lama sekaliiiii rasanya tidak mencicipi menu yang satu ini. Sllllrreeeppph….ngiler…xixixi….

Kalo biasanya masak yang biasa-biasa, kali ini nak masak yang diluar kebiasaan. Hee…. Walhasil, berbekal ilmu kirologi (logi : ilmu dan kiro : kira-kira), akhirnya nak chuba berinovasi dengan gulai Koto Gadang ini, meski pun resepnya tak dapat dikualifikasi dan divalidasi di bagian divisi quality assurance alias tak bisa dijamin orisinalitasnya. Hihihi. Namanya juga inovasi tadi yaah. (halaaaah….nyari alasan pulak. Bilang ajah kaga tau resep aselinya. Hihi).

Hayuuuuk….cmimiiiiwww…mulai memasak gulai koto gadang (yang tak terjamin orisinilitas resepnyaaa…alias resep inovasi karangan sendiriii. Hihi). Tapi….tapi…, namanya “gulai”, ko ndak pake santan yah?! Aihh…bagus lah yaah, biar ndak tinggi kolesterol darahnya. Konon kabarnya, urang Minang banyak yang kenak Stroke, akibat makanannya yang bersantan dan tinggi kolesterol begitu. Padahal, sebenarnya, pan bukan makanannya yang berkolesterol kan yah? Tapiiiii, lebih tepatnya…makanan yang mengandung lemak akan membuat zat itu direaksikan oleh tubuh membentuk kolestrol, LDL yang tinggi, HDL yang rendah, lalu trigliserida yang tinggi (heuu…jadi macam kuliah farmakoterapi dan biokimia ajah..hihi).

Pertama-tama, bumbu-bumbunya diuleg dulu. Lebih bagus, kalo bumbunya giling sendiri, lebih berasaaa…dan lebih terjamin kualitasnya. Dan lebih bagus lagi, kalo tanaman sendiriiiii. Yah, bumbunya standarlaah….jahe, lengkuas, sedikit kunyit…diuleg ampe halus. Lalu, berbagai daun-daunan beraroma terapi (halaaah), semacam daun ruku-ruku, daun salam, serai, daun limau puruik, daun kunyit (tapiii, kelima bahan ini tak perlu ikutan diuleg). Siapin juga cabe ijo yang lagi-lagi lebih baik diuleg sendiri. Gak usah beli yang instan di pasaran. Owkeeeeh??? Siiiiiiiiiippp…. Eits….sebisa mungkin kaga usah pake penyedap deh. Hee…. Soalnya aye mah kaga biasaaa pake penyedap. (jadii gak sedaap dong yah? Aihh..bellooom tentuuuuuu!! Cihaaa….)

Lalu, si ayam…di cuci…diberesin kulitnya, dan dimasak dulu dengan sedikit jahe, bawang putih dan lengkuas yang sudah diuleg. Biar bumbunya meressaaaaappp hingga lapisan terdalam. Tujuannya jugak, menghilangkan amis. Trus jugaa, lebihh slrreeeeppppp daah. Kalo udah berubah warna si ayamnya, menjadi agak kecoklatan dan agak pucat, baru deh diangkat. Setelah itu, digoreng sikit biar lebih gimanaaa geetuuuh. Setelah itu, tumiskan bawang putih dan bawang merah (kaya judul dongeng yah? Hee), masukin bumbu-bumbu yang sudah diuleg tadi, plus para dedaunan….aduk-aduk sebentar…baru masukin si ayam yang udah digoreng selayang pandang tadii. Aduk ampe mateng. Daaaan…..taraaaaaaaaaaaaaaaaa…..siap disajikaaaan.

Mau??
Mau??
Mau??
Mau??
Mau??

Hehe….

Ini niiih, hasilnyaaaa…
Mau?? hehehe d^_^b

Read More

About Life

senyuuuuummmm

Tentang hidup….
Bahwa….kesuksesan itu akan terasa lebih manis, jika terlebih dahulu kita rasakan kirikil tajam…

Tidak selamanya hidup itu seperti apa yang kita inginkan…
Ada kalanya, kita harus menelan ludah pahit, bahkan perlu mengeluarkan air mata…
Tapiii….insya Allah akan ada senyum sesudahnya….

Yakinlah….
Bahwa….tiada kesulitan tanpa kemudahan….
Yakinlah…., boleh jadi kita menyenangi sesuatu…sementara ia belum tentu baik untuk diri kita.
Boleh jadi pula kita membenci sesuatu….sementara ia adalah lebih baik untuk kita. Allah lebih tahu tentang diri kita, jauh di atas ke-tahu-an kita tentang diri kita sendiri…

Syukuri setiap anugrah hidup….
Hanya ikuti…cukup ikuti harmonisasi iramanya….setiap irama melodi kehidupan yang Allah gariskan…
Makaa….kita akan tersenyum…di setiap skenario yang telah digariskan-Nya
Read More

Nourising Herb

Lingkueehhh
Nourising Herb adalah tanaman atawa herba yang dwifungsi, slain sebagai herbal medicine, ia juga digunain buat makanan atawa pun bumbu masakan. Yaah…semisal jahe, jeruk nipis dan buanyaaaak lagi lainnya. Hihi…kaya kuliah herbal medicine lagiiih nih yah? Hehe.

Nah…nah….
Kebetulan sekali niih, aku lagi kepingin ngebahas soal nourising herb ini, yang kalo di kampung-kampung lebih sering tergolong kepada Toga (tanaman obat keluarga) yang dicanangkan di kegiatan PKK. Bahkan, taman TOGA ini sampe dilombain loooh, antar jorong, antar nagari. Hehe.

Ternyata eh ternyata rahasiaaa kenapa masakan itu eunaaak tenan selain ibu-ibu tuh punya jiwa and fitrah ke-memasak-an, adalah bumbunya yang orisinal. Yang aseli, gilingan sendiri. Bukan bumbu yang sudah jadi sahajaaa di pasaran yang gak kita tau seperti apa sih kualifikasinya. (hihi, pakek kualifikasi segaleee, pan Cuma tanaman ajah koq. Bukan obat-obatan yang men-syaratkan CPOB segalaaa…wkwkwk). Eh…tapi…tapi…., kan ada tuh yaah Materia Medica, trus….uhmm….CPOTB….dan berbagai pengolahan simplisia lainnya. Huaaah….kaga usaah ribet-ribet aah. Hihi.

Betapa menyenangkan sekali, jika norising herb itu adalah tanaman kita sendiri. Jadiii, selain orisinal, juga baruuu sangat! Minyak atsirinya masih tinggi kandungannya. Jadinyaaa…insya Allah menjadikan makanan lebih berasaaa dan leuzaaaattt sangaaat.. hee….

Semua ini bikin aku pengin jika bangun rumah entar (entah kapan nih yah?), gak terlalu pengin rumah mewah yang macam gedoong begitu, jika tak ada tanamannya. Cukup rumah yang sederhana saja, tapiiii punya pekarangan yang luassss. Biar bisa nanam apaaaah ajah…biar bisa nanam naurising herb. Hee….

Berikut ini adalah beberapa norising herb yang ada di skitar rumah…

Jeruk Nipis


Daun salam
Kunyik
Read More

Sedih

Sedih....
Sungguh adalah hal yang sangat menyedihkan ketika raga kita bertemu, tapi tidak begitu dengan jiwa kita.....
Dan lebih menyedihkan lagi, ketika jiwa kita tak lagi bertemu...begitupun dengan raga...

Tentang hati-hati yang semakin terpolar pada kutub-kutub yang berbeda....
Pada pilihan jalan yang kita pilih....pada suatu persimpangan...
betapapun aku tak ingin ada persimpangan itu...

Sedih...
sungguh sedih....
aku semakin kehilanganmu, sahabatku....
kehilangan...sesuatu yang mahal harganya....bahkan melebihi bumi dan seisinya...

Sungguh....
aku pun tak dapat menjamin apakah aku dan jalan yang kita pilih ini dulunya adalah lebih baik....
Aku mungkin lebih buruk....

Tapi, tetap saja adalah hal yang menyedihkan....ketika kita tak lagi berada dalam gerbong kereta yang sama....
Read More

Laa Taghdab!

Ini menjadi perjalanan yang cukup bersejarah dalam hidupku. Hanya sepajang 180 km saja...tapi harus ditempuh selama (14) empat belas jam. Masya Allah... Kejadian ini menimpa kami, ketika travel yang kami tumpangi mengalami dua kali pecah ban sepanjang perjalanan. Bahkan kemudian, harus ganti mobil pula, meski dari agen travel yang sama. Masya Allah…

Dari sepuluh penumpang, akhirnya…gugur tiga. Satu penumpang tujuan Maninjau memilih untuk kembali pulang. Dua penumpang lain, sepasang suami istri di mana sang istri sedang hamil tua, tujuan Payakumbuh memilih untuk berpindah ke mobil lain. Aku, dan enam penumpang lainnya yang kemudian bertahan dengan travel yang kehabisan nafas itu. Dua penumpang tujuan Bukittinggi yaitu gadis berusia 19 tahun. Satunya adalah pekerja bordiran Bukittinggi yang memilih tidak tamat SMP, anak ke 6 dari 9 bersaudara di mana ibunya sudah berpulang. Satu lagi, gadis dengan usia yang sama. Ia adalah mahasiswi sebuah sekolah Keperawatan Swasta di Bukittinggi. Lalu, satu lagi, seorang laki-laki. Tujuan Bukittinggi juga. Alumni Fakultas Teknik sepertinya. Hee… Kalau yang ini, aku tak begitu tau. Tiga sisa lainnya adalah sepasang suami istri beserta ibu mertua mereka, tujuan Payakumbuh. Mereka adalah pasangan baru yang baru dikaruniakan anak perempuan umur 4 bulan. Tiga hari sesudahnya mereka akan berangkat ke Batam. (Waaaah…..sampai kenal semuanyaaa, saking lamanyaaa berada di atas travel itu, hihi).

Hmm…dalam kondisi begini, apalagi tangisan sang bayi yang melengking dan ditambah pula agen yang bikin ulah, benar-benar memancing emosi kebanyakan penumpang. Apalagi, bapak si bayi itu. Bermacam sumpah serapah yang keluar, yang sangat tak tega untuk kutuliskan di sini.

Aku hanya ingin berbagi hikmah tentang sepanjang perjalanan ini. Seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya bahwa perjalanan akan selalu menceritakan watak pelakunya.

Read More

Not Hopeless

Rise U'r Hope

In the end, I so understand about the beauty of no hope. It does not mean losing hope.But, just do not expect to humans only. Often times the hope and the dreams that weimpose high on reality that is not as beautiful as hope.

Well, Allah willing, I will not create much hope in people. I do not want to bringdisappointment to those expectations. Only in Allah alone. Suffice it to Allah alone.

This does not mean I can eliminate my feelings. But, I will try to cleanse my heart from viruses. Of interaction that will only pollute the heart. Although I was often too weak. Often also fell. But, I beg of Allah's protection. I just want to divert it to someone who has Allah chose for me alone. Not to anyone who is clearly not Allah chose. Can I guarantee that indeed he is the best? Not necessarily. So, I just wanted to give my heart to someone who Allah Bless all.
Read More