Akhirnya, Tumbang Juga...

Jika bagi sebagian orang, harus mikir-mikir dulu buat nge-post di blog (takut tak berkualitas, hee) dan tentu saja berpegang seteguh-teguhnya pada kredo, "BIARLAH POSTINGAN DIKIT asalkan BERKUALITAS." Nah, kalo aku sebaliknyaaa.... "Biarlah isinya begini adanya, asalkan teteup posting." hihi... :D
Yah, biarlah... Karena memang aku tidak begitu peduli dengan eyede dan juga kadang dengan kualitas tulisan. Hihi... Karena memang, aku bukan sedang membuat rumit diriku sendiri (dan tentu saja orang lain yang kebetulan nyasar dan kebetulan membaca baik disengaja ataupun tidak, haha, *berbelit-belit amat!) dengan bahasa-bahasa dan pembahasan-pembahasan yang saentifik. Yah, aku hanya sedang mencoba menuliskan apa adanya saja. Meskipun adanya, mungkin memang masih jauh dari baik. Kebanyakan malah curhattt doang yah?? Hihi...
*Ah, sudahlah... Kali ini aku mau menutup telinga saja aahh, dari komentar orang-orang tentang nge-blog yang isinya curhatan melulu itu adalah sesuatu yang tidak baik. Apa dalilnya, yah? Hehe, sejauh ini, dalil naqlinya belom ketemu... (hehe, maap rada-rada nda nyambung!).

Setelah fight yang cukup jor-joran, akhirnya aku tumbang jugaaa. Masya Allah...
Rabu sore, mulai berasaa... Mungkin pirogen-pirogen itu sedang mencoba mempengaruhi pusat regulasi suhu di hipotalamus sehingga suhunya meningkat sudah! Padahal, Rabu sore, aku seharusnya memberikan performance paling optimal sebagai pemeran pengganti. Heuu...tenaaaang. Ini bukan dunia perdramaan. Pemeran pengganti maksudnya adalah....presenter pengganti! Bayangkan! Aku jadi pemeran pengganti...ehhh..presenter pengganti di dua mata kuliah yang cukup berraatt. Hehe. Dari semester lalu, aku memang beberapa kali jadi "ban serep" (heuu kasiaaan...). Jadi pengganti temen2 yang kebetulan nda bisa maju buat presentasi. Okeeh...aku sih seneng-seneng ajah. Hee....
Rabu sore itu, presentasi Farmakoterapi 1. Sebenernya ini bahan diskusi yang menarik. Sangat menarik malah. Tapi, karena suhu tubuh di atas rata-rata, akhirnya membuat konsentrasiku buyarr. Waahh, aku sampai minta diulangi pertanyaannya sampai 3 kali, untuk memahami 1 pertanyaan saja. Paraaahhh...
"Kamu kenape sih Thel? Kaya nda konsen gituuh? Lingung nda karuan." Celetuk temenku.
"Deuhhh, nda enak badan niih. Nda bisa konsen....huhu..."
Besoknya mesti fight lagi, buat presentasi mata kuliah yang lebih rumiiit...mit...mit... Ini lebih bikin tumbang lagii...Hee... Padahal, aku termasuk orang yang jarang demam. Tapi, kali ini ternyata tumbang jugaa. Lagi musim pancaroba juga kali yah.

Akhirnya, aku memutuskan untuk beristirahat sejenak. Mengenyahkan buku dan membiarkan mereka bertumpuk di kamar. Tidak onlen, kcuali sebentar sajaaa. Dan menghabiskan sebagian waktu dengan mengistirahatkan badan di atas tempat tidur. Heuu, karena dia juga punya hak, Fatheelll... Jangan diforsir meluluuu makanyaaa...

Sakit itu adalah reminders...
Ya, reminders untuk men-syukuri betapa berharganya nikmat sehat...betapa berharganya sehat...betapa malahnya sehat... Dan sungguh nikmat sehat adalah nikmat yang sering banyak kita lupakan (termasuk aku)...
Sakit itu adalah pembersih...
Ya, ia adalah sarana untuk membersihkan dosa-dosa...asalkan bisa bersabar... tapi aku bisa bersabar nda yaah? hwaaa, sepertinya masih banyak mengeluh! :'(
Sakit itu adalah sejenak mengistirahatkan diri...
Ya, kadang kita perlu sakit dulu untuk meng-istirahatkan sejenak diri kita...
Jadi, nikmati saja dulu momen seharian berjumpa bantal dan kasur (sesuatu yang langka, di saat-saat kuliah padet+tugas menumpuk begini, hee...)

Ingat lima perkara, sebelum lima perkara...
Sihat sebelum Sakit,
Muda sebelum Tua,
Kaya sebelum miskin
Lapang sebelum sempit
Hidup sebelum mati...

_______________
Okeeh, treatment kali ini cukup vitamin C dan makan yang banyak sajaaa lalu istirahat... Insya Allah besok lebih baik.... Aamiin....
Read More

HAMPIR SAJA....

Hari ini, lagi-lagi aku pengin berbagi cerita geje. Hee... Semoga bisa aku (dan juga kamu) petik hikmahnya.

Hari ini nda ada kelas sebenarnya, akan tetapi ada suatu urusan yang harus aku selesaikan, jadiii.... tetep ajah aku harus keluar rumah (walaupun keluar rumah adalah suatu hal yang beuuraaatttt banged jika saja sudah libur, hee...). Dari qobla subuh aku sudah susun scedule buat hari ini. Dari jam 6 pagi sampai jam 11.30 nyelesein bahas jurnal dan makalah, lalu siap-siap cauww. Ba'da Dzuhur ke Rumah Qur'an (RQ),trus lanjut ke JNE tiki, trus ke Kresna Fotocopy, trus ke Detos, trus ke Kosan ka Luli buat ngembaliin buku dan balik ke Depok. Masak buat buka. Lalu, malem kirim makalah ke Mba Eka dan diakhiri dengan pembahasan Dipiro buat prepare Farmakoterapi. Lalu, sisanya adalah agenda yang sudah terjadwal seperti biasanya. Hehe...

Walaah, ternyata tidak semulus harapan. Pertama, jurnal bikin aku ngantuk (hihihi.... :D) sehingga setelah menyelesaikan satu jurnal, rupa-rupanya bikin tepar. Hehe... Aku baru 'sadarkan diri' kembali pas jam 12.10 bertepatan dengan adzan dzuhur. Akhirnya siap-siapnya jadi buru-buru dan cauww ke RQ. Sampai di RQ telat 15 menit dari scedule. Ya, bolehlah. Hee... Dari RQ, aku ke JNE tiki dulubuat maketin kiriman kaka sepupu. Ehh, tak dinyanaa, rupanya JNE nda bisa mendeteksi alamatku. Gubraaakk... Apa kampungku terlalu kampungan yah sehingga JNE nda bisa mendeteksi keberadaannya? Mungkin memang terlalu 'kampung' kalii. Hehe. Mas di JNE nya sampai nunjukin list kantor cabangnya dan ternyata memang nda ada di kampungku. Heuu..kasiaaann... Akhirnya, aku putuskan untuk ngepost di kantor post saja yang lokasinya di perpus pusat. Sambil jalan ke perpus, aku mampir di Kresna Fotocopy (karena janjinya fotocopy-an ku slese hari niy). Pas nyampe di sana, waahhh rupanya belum selesai. HAMPIR selesai, lebih tepatnya. jadi aku harus nunggu bentar si mas nya menyelesaikan si buku. Baiklaah... aku maklumiii. Naah, langkah selanjutnya adalah menuju kampus (yang semula tak direncanakan. karena, aku harus ngepost, jadii terpaksa aku harus ke kampus.). Pas nyampe di halte terdekat, aku ketinggalan bus. dengan rela hati memandangi bus yang lewat begitu saja. HAMPIR saja aku bisa menaiki bus itu. jika saja 30 detik aku lebih cepat, aku pasti bisa menaiki bus ituu. wong pas aku nyampe shulter, busnya HAMPIR berangkat dan pintu otomatisnya masi kebukaa. hwaaa.... Akhirnya harus menunggu bus 15 kemudian. baiklaahh... Sesampai di perpus, aku segera menuju kantor pos. Whaaaaaa, "I'm sorry we are closed" begitu tulisan di sana. hwaaaaa....hwaaaaa.... masya Allah.... segalanya berjalan di luar rencanaaa.... Akhirnya, dari pada lebih sia-sia lagi, aku putuskan untuk ke puskom ajah, dowload e-book tentang ECG dan mengirimkan file kuliah ke temen-temen lalu nge-blog, hihi...

Ya, setidaknya, ada pelajaran yang bisa aku petik dari serangkaian peristiwa tak diharapkan seperti di atas. bahwsannya, kita sebagai manusia hanya bisa BERENCANA. merencanakan sesuatu dalam hidup kita, tapi kemudian menjadi urusan Allah lah segala keputusannya....segala akhirnyaa..
mungkin, di banyak waktu, kita HAMPIR saja mendapatkan apa yang telah kita rencanakan. tapi, sekali lagi, keputusan-Nya atas hidup kita, atas diri kita adalah sebaik-baik ketetapan. Catatkan rencana-rencana kita, lalu biarlah Allah yang nanti akan memberikan acc atas rencana itu. Tiadalah segala kejadian dalam hidup ini, bahkan daun yang gugur sekalipun, kecuali telah TERCATATKAN di lauh Mahfudz. Tugas kita, hanyalah mengoptimalkan ikhtiar lalu kemudian menyerahkan segala keputusan terindah hanya pada-Nya. ingatlah, keputusan terindah tidak selalu menyenangkan. ada kalanya terasa begitu berat. tapi, demikianlah Allah mengajari kita, bahwa boleh jadi saja sesuatu yang menyenangkan itu tak baik untuk diri kita....

walaupun segala peristiwa di atas semuanya bertemakan, "hampir saja....". Yah, hampir saja semuanya berjalan sesuai dengan keinginan kita. Hampir saja, apa yang telah kita skedulkan terwujud. Tapii, begitulah.... bahwa hidup ini tak selalu sesuai dengan ingin-ingin kita saja...

naaah, berhubung donlad dan aplod aku sudah selesai. dan waktu asyar juga uddah masuk. aku cauww dulu yaaah. menjalankan schedule selanjutnyaa....hehe...

ingat satu hal Fathel, SERAHKAN SEGALA PENGHARAPANMU HANYA PADA ALLAH SEMATA, agar setiap peristiwa hidup, setidak menyenangkan apapun itu, TAK MEMBUATMU KECEWA. Karena ALLAH TAK PERNAH MENGECEWAKAN HAMBA-NYA...

tetap semangaaaatttt
Read More

You Never Know, If You Don't Wanna Try!

Ini mungkin bukan cerita yang penting untuk kamu baca (walaupun tidak penting belum tentu tidak menarik. Hihihi). Jadi, jika tak ingin kehilangan waktu berhargamu, sebaiknya membaca ini jangan diteruskan yah? Hehehe...

Hari Rabu minggu ini ada sharing dari Miss Kanbara dari Jepang. Hoho... Sebenarnya hal yang beginian sih cukup menarik. Apalagi kampus tempat aku berkuliah sekarang (kayaknya niih) sering kedatangan tamu-tamu asing begini. Meskipun bahasa Inggris nya orang Jepang itu susaaah (karena lidah mereka sulit menyesuaikan dengan pronounciation Inggris, jadi bahasa inggris orang Indonesia kebayakan lebih baik, hee). Tapi, agak-agaknya ini tak berlaku untukku. Mungkin karena ketidak-pintaran aku dalam berbahasa Inggris (ndak tega juga menyebut "kebodohan", coz U're what do you think, right?), jadi ke-PD-an ku untuk cuap-cuap dan juga menulis dengan bahasa Inggris suka menguap entah di mana atmosfiernya. Hehe...

Sebenarnya ini menyoal apa yang aku set di alam bawah sadarku saja kali yah. Sebab, sedari dulu (apalagi pasca seleksi mapres itu), dikatakan "your pronounciation is so bad!" ternyata cukup merontokkan ke-PD-anku kala itu. Bener-bener dah! Aku benar-benar ogah dengan yang namanya bahasa Inggris. Yang tertanam di dalam alam bawah sadarku adalah, aku itu bahasa inggrisnya bener-bener bego! Padahal, sebenarnya, kalo secara passive aku sedikit-sedikit (yaaah, walaupun sedikit), alhamdulillah bisa paham dengan teks berbahasa inggris. Tapi, sering kali aku tidak PD dengan pemahamanku dari apa yang aku baca itu. Hwaaaa....help meeeee, pleaseeeeeee!

Nah, di perkuliahan sekarang, ingin menangissss rasanya melihat textbook yang berbahasa Inggris semua. Belum lagi memahami jurnal. Apalagi di setiap presentasi kuliah dan makalah, sebaiknya memang menggunakan literatur yang bersumber dari jurnal terbaru . Ada evidence base nya gituh. Lha, wong bahasa Indonesia saja susaaaah banget belajarnya dan memahaminya (apalagi yang udah terkait mocular), dan ini ditambah pula dengan textnya yang berbahasa Inggris. Belum lagi slide-slide kuliah dari dosen, hampir semua berbahasa Inggris. Hadeuuhhhh... Dan sekarang, aku suka nda PD kalo cuma mencantumkan literatur berbahasa Indonesia, Apalagi dari Blog! Nda pede deh pokonya. Kan blog nda ada yang koreksi bener salahnyaaaa, tho. Wong blog-ku yang ecek-ecek itu (blog farmasi-ku itu ternyata nongol jugak di skripsi orang-orang sebagai salah satu dari daftar pustaka. Waahh, aku jadi 'ngeri', jangan-jangan ada yang salaaahh, jangan-jangan menyesatkan). Makanya aku agak emoh ambil literatur dari blog. Hehe... Pengalaman pribadi soalnya. Tapi, kalo udah emergency banget dan udah injury time, yaah terpaksa deh ambil dari yang berbahasa Indonesia. Tapi bukan Blog. PDT kek, PC kek, pokonya buku dah.Hihi (gayaaa banget nih ayeeee yah...hahaha). Kalo dulu S-1, aku sih seneng-seneng ajah pake literatur dari embah gugel yang maen tebas abis ajah, kaga peduli itu blog atau emang literatur beneran. hihi (memangnya ada gituuh, literatur palsu. haha...). Tapi di skripsi sih, diusahakan tidak lah yaaah.

Kembali ke Cerita Miss Kanbara yang memberikan sharing di jam kuliah Farmakoepid. Hemm... waktu itu ada kesempatan untuk bertanya. Dalam hati aku berspekulasi, "Hei Fathel, kalau kamu berani untuk bertanya dalam bahasa Inggris kali ini, makaa ini suatu awal yang baik untukmu. Jadikan ini sebagai batu loncatan, agar kau berani untuk bercakap bahasa Inggris dengan orang asing, sesalah dan seburuk apapun itu. Hayooo, Fathel. You never know how able you are, If you never wanna try. Come on Fathel, Surely, You can! You can! Insya Allah..."
Dan, bismillah... akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya, meskipun kemudian Miss Kanbara perlu menyernyitkan dahi dan kemudian bertanya pada moderator, apa yang aku maksudkan. No matter lah, yang penting mencoba. (haha, jangan tertawa yaaah. Mohon dimaklumi 'ketidakpintaranku' ini. Hihi...) #halaaah, jangan terlalu sering memaklumkan diri, Fathel. Ingatlah, bahwa terlalu sering mentoleransi diri bisa menyeretmu kepada kelalaian yang istimror. Heuu....

Bertanya di forum berbahasa Inggris mungkin bagi kebanyakan orang adalah hal yang biasa. Bukan sebuah prestasi, apalagi kemenangan. Itu mungkin hal yang bahkan tak perlu diceritakan di Blog segala, saking terbiasanya dan saking berpikir "sudah seharusnya begitu". Tapi, tahu kah kamu, bahwa bagiku ini adalah sesuatu yang luar biasa? Heuu... sesuatu yang sederhana ini adalah luar biasa bagiku. Dan, seperti komitmenku sebelumnya, ini menciptakan sebuah dilatasi paradigma tersendiri bagiku. Dan tahu kah kamu, sejelek apapun prounounciation ku ketika bertanya di forum itu, ternyata telah menaikkan grade PD ku ke tingkat yang lebih tinggi. Benarlah sudah, bahwa kita tidak tahu bahwa kita bisa, jika kita tak pernah mau mencoba. Jika kita terus terkungkung dengan paradigma yang secara tak sadar kita ciptakan sendiri untuk diri kita...Bahkan labelling yang mencapai alam bawah sadar kita. Ck..ck...ck..., masya Allah. Sebuah penjara yang tanpa disadari kita buat sendiri untuk mengurung diri kita di dalamnya. Ah, sungguh kita sebenarnya punya kunci yang kita pegang untuk membuka si penjara itu. Tergantung diri kita apakah bersedia atau enggan membukanya saja... Dan, bagiku, ini adalah sebuah pembuka pintu penjara pikiran itu...

Dua hari setelah kuliah umum, aku semakin merasakan tingkat ke-PD-an ku dalam bahasa Inggris (khususnya dalam hal conversation) semakin beranjak naik. Hee...  Meski, PD saja tentu tak cukup karena aku mesti banyak belajar lagi, dan terus mencoba serta menguasai lebih banyak vocab. Hal ini sudah coba kubuktikan dengan kejadian di deket Science Park. Kemarin itu aku lagi nunggu Mba Indri, Mba Ratna dan Uni Nadra dari perpus. Lalu lewatlah dua orang asing yang berteriak, "Where is the Public Healthy? Where's the Public Health?" Si Bapak yang berdua itu bertanya di mana Fakultas Kesehatan Masyarakat dan dia bertanya beberapa kali kepada satpam di deket situ. Satpamnya langsung geleng-geleng. "Nda ngerti", katanya. Akhirnya aku memberanikan diri untuk nyamperin Si Mister "Sir, Do you look for the Publick Healthy?"
"Oh yeaaah..."
Akhirnya, berbekal English seadanya, aku kasi tunjuk di mana FKM. Yah, alhamdulillaah dia mengerti apa yang kumaksudkan. Hehe (lagi-lagi, sebuah prestasi untukku. Yah, untukku yang kemampuan englishnya amat-sangat-paspasan-sekali).
Tapiii, yang nda enak ituuu ujung-ujungnya, ketika si Mister itu bilang :
"Thank you, MADAM."
Gubraaaaaaakkkk!!! Bukan hanya orang-orang di kampungku, orang-orang di travel, orang-orang di Rumah sakit dan anak TK itu yang memanggilku dengan sebutan "Buk!" (seperti yang aku ceritakan sebelumnya). Tapi, orang asing pun menilaiku dengan penilaian yang sama. Ibuk-ibuk. Hwaaaa, apa benar aku seperti ibuk-ibuk? Hwaaaaa.... #gulingguling...
Padahal, 5 hari sebelumnya, aku masi suka dikira mahasiswa angkatan 2008. Tapii, ko tiba-tiba berubah lagi, jadi ibu-ibu. Toloooooong!
#Ah, sudahlah Fathel. Itu adalah konsekuensi pertambahan umur. Karena menjadi tua itu adalah sebuah keharusan (dan bukan berarti merasa muda juga nda boleh yaah? hihi). Sekali lagi, si Mister itu sedang memberitahumu, betapa cepatnya waktu berlalu dan sungguh berharganya waktu yang kau punya. Ingatlah, kematian itu datang di waktu yang tak terprediksi, Fathel!

Intinya adalah walaupun Ilmu yang kita miliki is Limited, tapii Belajar is unlimited process. Ia adalah sesuatu yang panjangnya adalah sepanjang usia kita. Jadi, Fatheeeeel, jangan pernah berhenti untuk belajar. Dan yakinlah, bahwa sebelum mencoba, kau tak pernah tau, tentang bisa atau tidaknya dirimu. Dan ingatlah, belajar itu NOT MERELY You get from formal academic, but your life is your school. Kehidupan itulah pembelajaran yang sesungguhnya. Dan ingatlah, belajar bukan cuma untuk obsesi dunia. Tapi untuk kehidupan yang masa nya jauhh lebih panjang dari masa kehidupan dunia yang singkat!

Tetaplah semangat Belajar, Fatheeeel!
Tak perlu takut salah dalam belajar, sebab jika semuanya sudah benar, lantas dari manakah kau akan belajar? Karena, dari salah itulah kau belajar, di mana letak benarnya. Siiippp??!

_____________
Eh iyaaaa, sebenarnya aku sedang menggandrungi dua blog ini. Blog dua orang yang aku kenal tak hanya di dunia maya, tapi juga di dunia dunia nyatanya. Sama-sama anak Smansa papa (jiyaaah :D), sama-sama alumni Akuntansi UI, dan sama-sama menulis blognya dengan bahasa Inggris. Pertama , Eka Ferlinda, trus yang kedua Rully Prasetya. Nah, sebenarnya aku juga punya blog Bahasa Inggris. Tapii, nda update sih. Hee.. Melihat blog mereka, aku jadi termotivasi untuk menulisi blog itu lagi. Ya, meski banyak grammer yang salah, tapi no matter lah. Toh, sekali lagi, KARENA SALAH ITU ADALAH BAGIAN DARI PROSES BELAJAR, Jadi AKU TIDAK TAKUT DAN MALU untuk SALAH (dalam berbahasa Inggris). Yuhuuu, semangaaattt yoo Fatheeeel.
Read More

Come On Fathel, Enjoy Your Life!

Sebenarnya lagi mau hunting reseptor, ehh ujung-ujungnya ngelirk blog jugaaak. Hadeuuuh, suseeeh nih yee kalo sudah internet addict. Haha. Habisnyaaa, tak ketemu reseptor yang diinginkan siih. Saking frustasinyaaa, stiap list friend di YM yang berlatar belakang pharmacist ditanyain, "eh tau gak, tau gak jenis reseptor berdasarkan strukturnya? Tau gak? Tau gak? Pliiissss...!" (lebay!). Kalo berdasarkan tranduksi sinyalnya udah, tapi berdasarkan strukturnya?? Hwaaa, kimed banget. Dong-dong aye...kalo sudah berkaitan dengan kimiaa medisinal. Hihi... Meski ini cuma buat pengantar dan sekedar tau doang dan juga nda spesifikasinya farklin, tetep ajah mesti tau dasar-dasarnya kan yah? Udaaah aaah, kalo mau ngomongin farmasi, di www.fathelvi.wordpress.com ajah deh, Fathel. Ini blog kan isinya curahan hati semuaa. Haha.

Hmm, sambil hunting, akhirnya nyasar juga aye ke dunia mayanya temen-temen, yaahh sekedar ingin tau kabar mereka tanpa harus bertanya via SMS, telpon dan sejenis dunia maya lainnya. Di jaman serba digital saat ini mah, untuk tau kabar cukup pencet tombol sahaja kan yah? hehe...

Kadang, ada jugak euy rasa-rasa emm..gimanaaaa geetooh yaaah, liyat kebahagiaan mereka. Waaahh, seneengnya jadi merekaaa. Senengnya bisa seperti itu. Senengnyaaaa.... Tapiii, tetep saja rumput tetangga terlihat lebih hijau, kan yah?
Di banyak waktu, kita sering termangu bahkan tergugu, lalu ingin merasakan kebahagiaan yang orang lain rasakan. Tapi kita melupakan satu hal, bahwa hidup itu--sebahagiaa apapun tampaknya--tetaplah berada pada dua sisi seperti mata uang. Ada kebahagiaan, sekaligus kesedihan. Ada permasalahan, sekaligus penyelesaian.

Begitulah...
Kadang kita mungkin merasa cemburu dengan kebahagian yang orang lain rasakan. Apalagi bisa jadi, itu adalah sesuatu yang sesungguhnya pernah kita impikan dulunya. Merasakan hal yang sama seperti yang yang mereka rasakan... Tapi, tetap saja...ada sesuatu yang tak seindah yang kita bayangkan. Tetap saja ada... Sekali lagi, sebab hidup itu sejatinya adalah perputaran antara kebahagiaan dan kesedihan...

Sekarang, come on Fathel!
Enjoy your life...
Yakinlah, bahwa jalan yang tengah kau tempuh, adalah sebaik-baik jalan yang telah ditetapkan-Nya...
Kebahagiaan dan kesedihan, tetaplah satu paket tak terpisahkan dalam hidupmu...
Sekarang hanayalah menyoal bagaimana kau men-setting dua hal saja : syukur dan sabar.
Dan inilah kunci terpenting dalam hidupmu...

So, Enjoy your life Fathel...and do your best...for Allah...
Ganbatte ne!
Read More

Aku Kalah, Tapi Aku Menang

Aku Kalah, Tapi Aku Menang

Ini untuk kali kesekiannya aku kembali kalah. Hehe… Saking terbiasanya, mungkin aku sudah berdamai dengan begitu banyak kekalahan. Dalam kompetisi nyata yang memang jelas-jelas mencantumkan “Juara 1, 2, dan 3”, ataupun di banyak kisi kehidupan yang menang dan kalahnya bukanlah berafiliasi dengan sebutan peringkat ataupun juara. How poor, hihi…

Hmm…ini untuk kesekian kalinya aku bercerita. Maap yaah kalo sekiranya pengulangan cerita ini terkesan membosankan. Maklum, para sanguinis’ers biasanya suka mengulang cerita. Hehe…
Ayahku memberiku nama Fathelvi (Fathul-Alvi= seribu kemenangan) adalah agar kelak aku membawa seribu kemenangan dalam hidupku. Seribu? Haha, tentu saja itu sesuatu yang ‘berat’. Bagaimana tidak, seratus kemenangan saja sudah begitu berat, apalagi seribu, kan yah? Tapi kemudian, aku menyadari, bahwa selain sebagai do’a, namaku telah memberikan motivasi yang begitu banyak bagiku!

Sejak Sekolah Dasar dulu, sejujurnya, aku termasuk orang yang memang cukup terbiasa dengan posisi atas. Hehe…(Husy! Sombooooong! Haha, nda..nda ding!). Aku terbiasa yang kemenangan dan termasuk orang yang sulit menerima kekalahan. Kekalahan adalah hal yang membuat aku frustasi. Yaah,mungkin karena waktu itu skopnya masihlah sempit. Sangat sempit bahkan, yang penduduknya mungkin sekitar 100 kepala keluarga saja. Hanya sekitaran BSM (bukan Bandung Super Mall loooh! Apalagi Bank Syariah Mandiri, hehe. BSM itu nama Desaku dulunya yang kepanjangannya Banda Gadang, Sipotu, Mudiak Lawe). Itu pun hanya Mudiak Lawe saja yang mendominasi Karena Sipotu punya SD sendiri. Dan di Bandar Gadang punya sekolah MIN. Hee… Jadiii, untuk skop sebesar dusun Mudiak Lawe siih, alhamdulillaah waktu itu dapet juara 1 di kelas. Hehehe…

Selain selalu terobsesi jadi yang teratas di kelas, aku juga sering ikut lomba-lomba, mulai dari P4 (yang waktu itu masih jaman Soeharto, hingga mapel favoritku matematika) yan lagi-lagi skopnya juga amat sangat sempit, yaitu Mudiak Lawe. Paling sampai kecamatan Sungai Pagu. Dan hanya sekali sampai ke tingkat kabupaten Solok. Serta sekali sampai tingkat propinsi Sumatera Barat. Hehe… Ah, tak usahlah bercerita soal lomba-lomba itu. Toh, aku yakin, aku bukanlah apa-apa di antara begitu banyak orang-orang hebat lainnya. Hehe…

Sampailah pada akhirnya, aku memasuki sekolah menengah atas yang kata orang (nih kata orang looooh yaaaahhhh,,,cateeeet, hehe…), kata oraaang..pokonya kata orang itu favorit. Hmm… favorit atau tidaknya, mungkin juga tak penting untuk dibahas di sini, tooh stiap skolah juga punya sisi favorit tersendiri kan yah? Hee… Nah, di sekolah menengah atas itu, mulailah aku berdamai dengan ‘kekalahan’. Baik menyoal akademis (prestasi) maupun kompetisi yang nyata (yang diejawantahkan dalam bentuk kejuaraan) walaupun sebenarnya aku masih menyumbang sedikit piala untuk sekolah. Hanya sedikit siih, jika harus dibandingkan dengan teman-teman sekolahku lainnya. Yaah, aku memang bukan pemuncak. Sama sekali bukan! Mungkin kelas menengah kali yah? Hehe… Yang jelas, tak lagi berada di posisi atas. Maklum, skalanya bukan lagi dusun kecil Mudiak Lawe, tapi Sumbar dan sekitarnya (karena teman-teman SMA-ku kebanyakan juga bukan dari Kota Padang Panjang saja, tapi juga dari berbagai Kabupaten dan Kota di Sumbar plus beberpa orang dari Riau). Di kala SMA, aku sebenarnya masih belum bisa berdamai dengan kekalahan. Sungguh. Meksipun kemudian kenyataannya, aku memang tidak menjadi pemuncak seperti kala aku masih SD. Tapi, tetap saja, kalah adalah sesuatu yang sulit bagiku!

Hingga perjalanan hidup kemudian membawaku kepada banyak kekalahan lainnya. Soal akademis, soal prestise, bahkan juga sampai soal hati. Hahay! (Dan kalah soal hati inilah kekalahan yang paling membuat aku terpukul lalu jatuh terpuruk. Hahaaa…. Kasiaan. Tapi sekaligus juga membuat aku bangkit dan ingin segera meloncat lebih tinggi. Kekalahan ini juga adalah kekalahan yang paling banyak memberikan pelajaran berharga dalam hidupku, bahkan membuat perubahan dalam hidupku. Hemm…dahsyat yah? Hiihi).
Haha, yaah…aku kalah! Aku kalah, dan mulai belajar dari kekalahan… Ada banyak kekalahan empiric yang Allah hadiahkan kepadaku, untuk kemudian menjadi hadiah terindah dari-Nya. Hadiah itu adalah…belajar dari kekalahan. Belajar…dan berdamai dari kekalahan…

Hari ini, lagi-lagi aku kalah. Yah, kalah… Tapi, aku menang. Alhamdulillaah. Sebab, hari ini aku telah berhasil memangkan diri atas sebuah kekalahan. Berdamai dengan kekalahan dan tak lagi menjadi seseorang yang terobsesi menduduki posisi puncak, bagiku adalah sebuah kemenangan. Dan sungguh, ini lebih berharga.

Kekalahan adalah hadiah indah dari-Nya. Sebab, semakin banyak aku kalah, semakin banyak pula aku berpeluang untuk menang. Memenangkan hati. Belajar sabar. Belajar untuk tiada berhenti berjuang. Belajar untuk tidak berputus asa. Belajar untuk tersenyum pada setiap keadaan. Belajar untuk menghargai. Dan semakin menyadarkan diri bahwa diriku yang dhaif ini memanglah bukan apa-apa tanpa-Nya. Without Allah, I’m nothing!

Seperti namaku, Seribu Kemenangan, dengan mujahadah yang sungguh-sungguh, dengan semangat berkobar dan dengan kekuatan-Nya, aku yakin suatu saat aku akan mencapai seribu kemenangan itu. Menang yang bukanlah sekedar juara-juara saja. Dan sebuah kemenangan puncak yang aku cita-citakan adalah surga-Nya. Allahumma aamiin ya Rabb…

Maka, hari ini aku memang kalah. Tapi aku MENANG!
Allahu akbar!

Semangaaat!
Great MUJAHADAH!
Read More

Menjadi Inspiratif

Kamis sebenarnya adalah waktu kuliah yang bener-bener full day! Dari jam 8 pagi hingga jam 6 sore. Tapi, karena jadwal kuliahnya masih labil dan galau (bukan hanya kita yang labil yaah, jadwal kuliah jugaaa, ahahaha...), akhirnya sehabis kuliah farmol, aku dan Sri memutuskan untuk caww sahaja ke perpus buat hunting jurnal (yaaahh, biasalaahh santapan lezaaat kita kan tugasss. Kan referensinya mestilah jurnah. So what gitu loh. Hahaha, gayaaah banget!). Kemudian, janjian ketemu Mba Indri. Tapiii, sayang sekali ndak ada Uni Nadra dan Mba Ratna. Jadi, nge-date Gang Anak Skolah nya jadi kurang serruu. Meski begitu, tetap ajah kita ketawa-ketiwi bahagiaaa. Hee...

Nah, akhirnya kita menikmati gerimis siang di rektorat dan menghabiskan sore di Detos. Hee... Refreshing plus nyari kado karena mba Indri mau ada acara tuker kado. Eeeh, rupanya ada Ayu Tingting lagi konser di sana. Hee... Ck..ck...ck..., waahh luar biasa deeh animo pengunjung buat motoin Ayu Ting-ting. Kira-kira, kalau Yusuf Al Qordhawy yang dateng, animo pengunjung masi seheboh itu kah? hehe...

Setelah puter-puter nyari kado ndak ketemu, akhirnya kita memutuskan untuk ke TM Bookstore ajah. Mana tau ketemu kado di sana. Hee... Alhamdulillaah, akhirnya kadonya nemu euy...

Jadiii, intinya ceritanya apaaah cobaa??
Haha, belooooooom... Itu masih prolognyaaa. Hihihi... Maap yaaah, prolognya kepanjangan!
Inti ceritanya adalah ketika di TM Bookstore, ketika melewati rak yang berisi kisah-kisah inspiratif. Akhir-akhir ini aku memang lebih menggandrungi kisah inspiratif ketimbang novel. Entah kenapa, dan entah oleh sebab apa, terjadi pergeseran minat itu. Hee...

Ah, sungguh, sebenarnya kisah-kisah kehidupan yang kemudian menjadi konsumsi orang banyak itu sebenarnya tiada lain adalah kisah-kisah keseharian yang juga sedikit banyaknya kita alami, kan yah? Apa yang mereka alami, mungkin juga pernah kita alami. Tapi, apa yang membedakannya? Bedanya adalah, mereka bersedia membaginya dengan banyak orang untuk kemudian meninggalkan pelajaran berharga bagi yang sempat membacanya. Agar kisah buruknya, tak dialami lagi oleh orang lain. Atau, agar kisah manisnya, menjadi ikutan bagi orang yang sempat menikmati bacaan itu...

Maka dari itu sahabat, sesungguhnya setiap diri kita unik. Setiap diri kita inspiratif! Jadi, mengapa tak mencoba berbagi hikmah dengan orang lain? Bisa jadi saja, apa yang kita anggap biasa-biasa saja, justru sesuatu yang sedang orang lain butuhkan. Jadi, mengapa tidak mencoba menuliskannya?

Jangan kahwatari jika tak bisa menembus mendia atau penerbit...
sekarang jaman mah udah canggih, say!
Ndak mesti lewat buku, jejaring maya pun bisa... Nge-blog pun bisaaa...

Jadiii, mari kita tuliskan kisah kita...
Agar ia tak hanya sekedar menjadi masa lalu,
tapi ada ibroh yang kita bawa... untuk pelajaran bagi kita di kemudian hari, bahkan bukan hanya untuk diri kita saja. Juga untuk orang-orang yang pernah menyinggahinya...
Read More

Pelaku vs Pengamat

Heuu, sudah lama sebenarnya aku ingin menceritakan ini. . .
Tapi, selalu jejari ini tak mau berkompromi untuk menyentuh keyboard. Akhirnya, hari ini, detik ini, jejari ini mulai menyapa akrab si keyboard. Hee. . .

Aku dan Kak Luli. . .
Sesuatu hal yang menarik dari Kak Luli adalah. . . inspiratif. Apalagi, kita memiliki banyak minat yang sama! Bedanya, kak Luli adalah pelaku dan aku masihlah menjadi pengamat. Hihi...
Kak Luli adalah teman satu angkatanku, tapii kita beda peminatan saja di institusi pendidikannya. Jadi, hanya di matakuliah wajib saja kita ketemu. Tapi, di mata kuliah tanpa SKS, aku siiih sering ketemuuu kaka. Karena peminatan di mata kuliah kehidupannya samaaaaa. Ahaha... Jika udah punya waktu libur dikit ajah, pasti deh caww ke gang haji Attan, Pocin. hihi. . .

Read More

Mawar Indah pun Berduri

Hemm...sebenarnya (lagi-lagi) bukan kapasitasku untuk bercerita tentang ini... Hee... Lagi-lagi. Tapi, lagi-lagi juga aku pengin menceritakannya. Berharap, ini semua akan menjadi pelajaran bagiku, dan semoga juga bagimu. Apalagi, didukung dengan tendensiku terhadap dunia psikologi kali yah, hee... Yaaah, walaupun bukan kapabilitasku untuk menjelaskan segala sesuatu yang berbau psikologi (psikologi baunya apah coba? hihihi), tapii belajar psikologi juga bukan hanya untuk mahasiswa psikologi kan yah? Siapapun bole blajar, tho?!

Sebenarnya ini berangkat dari cerita-cerita teman-teman, sahabat-sahabatku yang bercerita kepadaku, baik yang kukenal langsung penampakannya, maupun yang tidak kukenal langsung penampakannya (berteman dalam duni maya, maksudnya. Hehe). Pake acara penampakan segalaaaa. Kaya makhluk halus ajah. Hee... Tapiii, kalau makhluk halus versi mikrobiolog kaya akuuu--hahaaa, gayaaa banget mikrobiolog! Padahal, juga nda kompeten, hihihi--makhluk halusnya adalah bakteri, hehehe. Dan seperti biasa, aku dengan senang hati menjadi "tong sampah" mereka. Tempat mereka mencurahkan segala uneg-unegnya. Yaah, bolehlaahh... Karena aku juga diuntungkan dari itu. Mengapa? Karena aku bisa belajar banyak dari mereka. Dan pelajaran ini bagiku sungguh berharga. Trima kasih yaah sudah curhat denganku... Semoga meringankan separuh bebanmu dan terima kasih juga atas pelajaran yang diam-diam aku petik. Hehe...

Read More

Tak Ada yang Kebetulan

Hari ini aku putuskan untuk menghabiskan hari-hari di perpustakaan pusat. Yahh, bukan untuk mengunjungi ruang koleksi buku tentunya, hee (sesuatu yang amat jarang kulakukan setiap kali ke perpus #parah!). Heuu, kan jaman udah canggih. Beribu-ribu halaman buku sudah bisa di-press dalam satu benda yang bahkan beratnya tak sampai 5 kg. hee... #ngeles!
Berjalan sendiri, menikmati langkah sendiri, dan (alhamdulillah tidak ngobrol sendiri, hehe....). Dan inilah saat-saat yang melankolik dalam hidupku. Mencoba berdialog dengan hati, dalam kesendirian...

Berada di sini, berjalan di sini, dan menyudut di gedung ini sungguh bukan menjadi salah satu catatan cita yang kutulis 5 tahun silam. Tidak, tidak begini inginku dulunya... Tapi kemudian, mengapa menjadi begini, aku percaya, INI BUKANLAH SEBUAH KEBETULAN, apalagi iseng-iseng berhadiah (seperti jawaban sekenanya yang sering kulontarkan iseng-iseng, hee..).

Ada catatan takdir-Nya yang tengah kujalani. Aku di sini, menulis ini pun, semua telah tercatat di lauh mahfudz sana. Jadi, memanglah tak pernah ada kebetulan dalam hidup ini. Tak ada. Semuanya tak pernah luput dari-Nya, dari catatan takdir-Nya...


Ah, memang tak ada yang KEBETULAN. Jadi, tugasku adalah menjalankan setiap jenak-jenak yang bukan kebetulan itu dengan sebaik-baik ikhtiar, dengan sebaik-baik capaian, dengan upaya terbaik yang kupunya. Agar segala yang tak pernah kebetulan itu, juga adalah sebaik-baik capaian... Lalu, perkara hasil, biarlah menjadi urusan-Nya... Satu hal yang pasti, keputusan-Nya, tetap adalah sebaik-baik keputusan...

Menyendiri di ruang ini, kemudian juga mengingatkanku pada satu hal. Masih menyoal keberadaanku di sini, di ranah-ranah para penuntut ilmu. Bahwa, betapa manusia hanyalah tempat penuh keterbatasan. Ilmu yang manusia miliki hanyalah sebatas keterbatasan. Lantas, atas dasar apakah manusia pantas menyombongkan diri? Ah, tidak! Tak pernah ada alasan untuk itu... Tapi, dalam keterbatasan, bukan berarti berhenti untuk belajar... Bukan berarti berhenti hanya dengan apa yang ada... Percayalah, belajar itu adalah sesuatu yang tak pernah terbatas...
Okeh, semangat belajar, Fathel!
Do your best! Bukan obsesi menjadi yang "ter", tapi semangat untuk mempelajari ilmunya. Sekali lagi, ilmunya! Tidak harus menjadi yang "ter", tapi HARUS menjadi seorang PENUNTUT ilmu.
Tetap semangat!
Read More