Krisis Ruhiyah di Saat Haidh?


Hmm…bahasannya sekarang niih “girlie” banget yaah? Hihihi. Yup..yup…, ini pembahasan khusus perempuan tentunya.

Hmm…dilarangnya perempuan melakukan beberapa aktivitas ibadah di saat haidh terkadang bikin para muslimah pada nge-drop ruhiyahnya. Lumayan jugah yaah 5-8 hari minus sholat, minus tilawah, minus shaum. Apalagi, secara hormonalnya, hormone progesterone dan estrogen itu memberikan pengaruh kepada psikologis perempuan. Emosi jadi rada-rada kurang terkontrol. Dan bawaannnya teh ngamuuuk (lho?? Koq ngamuk yaah? Badmood kali) melulu. Ditambah lagi, di masa-masa haidh, secara fisiknya, kebanyakan perempuan mengalami kesakitan yang cukup parah. Jadiii, lengkaplah sudah semuanya!

Karena itu, kemungkinan untuk ngedrop ruhiyahnya juga besar. Makanya, ada jugah siih, muslimah yang sempet kesurupan di masa-masa haidh.

Nah…nah…, menyikapi hal ini, aku jadi tertarik niiih buat mencari tau, gimana siiih sebenarnya wanita haid itu dalam menyiasati ibadahnya yang gak boleh dilakuin? Yuuuk…, sama-sama kita plajari bareng2.

Pertama, mengenai ketetapan Allah dulu deeh. Mungkin ada yang protes jugah niih, “Waaah…, cowo’ siiih enak! Bisa ibadah kontinu! Lha? Kita? Gimana dooong??”
Tenaaaang sodariku, jangan emosi doong. Hehe. Ikhlaskan diri kita atas apapun yang Allah tetapkan. Okeh? Pasti ada hal terbaik yang disiapkan-Nya untuk kita. Percayalaaah, Islam adalah agama yang sangat memuliakan perempuan. Dan, pasti ketetapan-Nya gak sia-sia kan yaaaah?

Jadiii, hal yang harus dilakuin pertama kali adalah, merubah persepsi kita bahwa masa haidh = masa libur ibadah! Waaah! Kebanyakan kita berpersepsi seperti ini kan yaaaah? Waaah, jangan! Jangan lagii! Karena masa haidh bukan sepenuhnya masa liburan ibadah! Bukan liburan malah!



Mari kita list, sebenarnya amalan apa ajah siiiih amalan yang kaga boleh dilakuin oleh kita-kita yang lagi haidh?
Pertama : sholat. Kedua : tilawah Al Qur’an. Ketiga : shaum. Keempat : thawaf. Kelima : I’tiqaf alias berdiam diri di dalam mesjid. Keenam : hub. Suami istri bagi yang udah nikah (dalil masing2nya insya allah shahih, dan kurasa para muslimah sekalian jugah udah pada tau kan yaah?).

Oiyyy…, Cuma 6 macam ibadah ajah yang kaga boleh! Catet niih yaaah, Cuma 6 ibadah ajah yang kaga boleh! Enam dari sekian banyak ibadah. Berarti, haidh bukan berarti liburan dooong!

Nah looh??
Jadiii, masa haidh bukan masanya buat liburaaaan ibadah. Penurunan ruhiyah, emang sih, harus diakui jugah! Apalagi yang ga’ boleh itu sholat. Tapiii, insya Allah bisa “ditambal” dengan ibadah2 yang laen tho?

Ketika haid, perempuan masih dibolehkan buat dengerin Ayat Al Qur’an, gak dilarang buat dzikir gak dilarang buat sedekah, gak dilarang baca Al Ma’tsurat / dzikir pagi sore, pokok’e amalan selain yang enam deeh! Insya Allah bisa nambalin krisis ruhiyah yang terjadi.

Ibaratnya tubuh kita, kalo lagi drop atau krisis, pasti deeh butuh asupan dari luar sono. Apa contohnya yaaah??? Haaaa, kaya’ gini misalnya. Kalo kita lagi kekurangan cairan, bisa akibat diare, pendarahan, kecelakaan, de es be, pertolongan pertamanya apa? Yaaah, tentu saja “diguyur”dulu dengan cairan infuse (hehehe, maksudnya dikasi infuse denganjumlah besar). Nah, ini sedikit banyak nya ini insya Allah akan menggantikan cairan yag hilang. Dan krisis pun dapat teratasi. Begitu pun halnya ruhiyah kita kali yaaah???

Sing penting, jangan berpersepsi bahwa haidh itu masa liburan ibadah, dulu laaah. Okeh??
(apa yang kutulis ini, sebenarnya buat diriku sendiri, tho!? Jika pun ada yang sempat membacanya, maka mari kita sama2 ambil hikmahnya ajah. Yuuk..yuuk.., fastabiqul khoirat!!)
Read More

Meng-autis-kan Diri Sejenak


Hehehe,istilahnya agak rada2 lebay niiihi.
Tapiiii, sejenak, ternyata mengautiskan diri itu cukup untuk mengembalikan separuh energy yang hilang.

Hmm…, kurasa saat ini, lagi ga stabil-stabilnya, baik stamina fisik maupun ruhiyaah. Waaah, berarti berada di lembah grafik sinus dong yaaah? Hmm…, mungkin. Ada banyak hal siiih sebabnya.

Padahal, aku sendiri tidak pada kondisi under pressure yang menyebabkan stress. Aku masi bisa nikmatin pemandangan hijau belakang rumah. Aku masi bisa nikmatin makan malam bareng ayah ibu dan adek2ku, aku masih bisa ketawa-ketiwi, menulis apapun. Masi bisa ngutak-atik bikin desain hanya sekedar menumpahkan sesuatu. PKP RS pun belum dimulai. Skripsi tingga edit2 sikit sebelum dijilid. Dan, kurasa, aku pun tak perlu disibukkan dengan siding pansus kasus century (lho? Ada hubungannya emang?? Hehe). Hmmm…lalu apa?? Semestinya aku bener2 bersyukur dengan nikmat yang Allah berikan ini yaaah? Tapiiii, entah kenapa, di banyak fase hidupku, aku merasa agak sedikit nelangsa. (apakah benar teori bahwa perempuan itu memiliki fase down dalam hidupnya seperti halnya laki-laki yang memiliki”gua”? aku sepertinya percaya deeeh, soalnya aku rasakan sendiri. Tapiii…, setiap orang adalah unik. Aaah…terserah deeh!)

Untuk itu, aku mencoba meng-autis-kan diri sejenak. Mencoba untuk tidak peduli (bahkan tidak berkomunikasi) dengan lingkungan. Sejenak saja siiih. Tapiii, hmm…alhamdulillaah, ampuh!

Mengautiskan diri, berarti merenung sejenak. Mengevaluasi. Sebenarnya apa siih? Kenapa sih? Karena apa sih? Buat apa sih?
Mencoba berdialog dengan diri sendiri (dengan diam2 tentunya. Kalo di lafadz kan, bisa-bisa ntar disangkain pasien RSJ yang baru kabur lagi! Na’udzubillaah. Sungguh, nikmat berakal itu adalah salah satu dari sekian banyak nikmat yang sungguh amat sangat besar yang Allah anugrahkan kepada kita, hamba-Nya).

Dan, biasanya dengan mengautiskan diri (baca : merenung), insya Allah akan mengaktivasi kembali semangat kita yang mungkin awalnya dalam kondisi dorman. Bisa juga, dengan mengautiskan diri sejenak, kita bisa melakukan muhasabah atas segala apapun yang kita lakukan.

Aaahhh…ternyata benar. Sungguh, energy yang paling besar itu adalah ketika hati kita bersama-Nya. Ketika hanya Dia yang mengisi folder2 di hati kita. Tidak dia, dia…ataupun dia. Hanya Dia saja. Adakah kekuatan dan energy yang lebih besar dari energy-Nya? Tak! Tak ada! Namuun, sering kali diri ini lalai. Sering kali diri ini lengah.

Ampunkan hamba-Mu ini ya Rabb…
Read More

Uniiiii....Pi Kangen...


Caution : Ini murni curhatan semata. Jadiiii, jika hendak mengambil hikmah, ini bukan bacaan yang tepat. Hehehehe.

Sepesial buat unii…

Uniiiiii….
Apa kabarmu Uniku sayang?

Uni, tau ndak??
Baru dua hari Pi meninggalkan Bandung, tapii, entah kenapa Pi tiba-tiba saaangaaat merindukan uni. Sangat!
(Uni…sekarang Pi tidak sedang menggombal loh. Ini serius, uniii….)

Uniiiii…,
Pi kangen uni.
Pengen ketemu lagii, pengen ngobrol bareng lagi, pengen makan malam bareng lagi sama uni.
Pengen berpetualang bareng lagi. Pengen makan bala-bala lagi. Pokoknya Pi kangen banget, Un!

Read More

Wahai Diri...

Wahai diri, sungguh…, dirimu hanyalah seonggok daging dengan belulang yang sangat dhaif. Lalu, apa yang dapat kau banggakan? Apa?! Tak ada!! Tak ada!

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Qs. Luqman : 18)

Tak sadarkah kamu, bahwa semua akan bersaksi kepada Allah atas apa-apa saja yang telah kamu perbuat??

“pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Qs. An- Nur : 24)

Wahai diri,
Kenapa kehidupan dunia ini melenakanmu? Kenapa? Kenapa misi-misi dunia membuatmu tergiur? Padahal ia adalah kesenangan yang semu! Padahal dunia hanyalah persinggahan sementara? Bukan dunia ini ujungnya! Bukan! Tak sadarkah kau wahai diri?

“Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan kehidupan akhirat.” (Qs. AL Qiyamah : 20-21)

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.” (Qs. Muhammad : 36)

Wahai diri,
Seberapa besarkah bekal yang kau siapkan? Jika kau hendak berangkat menuju suatu tempat yang jauh, betapa kau harus menyiapkan bekal yang cukup. Lalu, bagaimana dengan bekal akhiratmu? Apakah kau sudah siapkan?

"Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Qs. AL Kahfi :45)

Wahai diri, sadarlah…bahwa kematian itu adalah sesuatu yang pasti, maka, sudahkah kau persiapkan diri??

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh” (Qs. An Nisa’: 78)

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Munafiqun : 11)

Wahai diri…
Sadarlah…sadarlah…sadarlah…
Kembalilah…
Bukankah kenikmatan yang paling indah itu adalah kenikamatan kedekatan dengan-Nya? Tidakkah kau ingin berlama-lama menikmatinya atau berpuas diri dengan apa yang ada saja?
Read More

Balada Kunci Kosan


Temen2, aku punya cerita niih. tentang kejadian naas yang menimpaku malam sebelum hari terakhir PKP. (hoho..lebaynyaaaa!). Jadi beginiii, dari Dago (dengan kondisi yang hujan-hujanan dan banjir di jalan plus macet) aku balik ke Ujung Berung. Huhu…, tak dinyanaaa, ternyata kunci kosanku ilaang, entah kececer di mana. Awalnya cukup panik siih, tapiii, kemudian aku bilang, “Aaah…santai ajah. Easy going! Paling bu kos nya jugah punya kunci serep.”

Temen2, aku punya cerita niih. tentang kejadian naas yang menimpaku malam sebelum hari terakhir PKP. (hoho..lebaynyaaaa!). Jadi beginiii, dari Dago (dengan kondisi yang hujan-hujanan dan banjir di jalan plus macet) aku balik ke Ujung Berung. Huhu…, tak dinyanaaa, ternyata kunci kosanku ilaang, entah kececer di mana. Awalnya cukup panik siih, tapiii, kemudian aku bilang, “Aaah…santai ajah. Easy going! Paling bu kos nya jugah punya kunci serep.”

Pas nyampe di kosan, aku bilang sama si teteh punya rumah, (dengan redaksional yang berbeda tentunya)
“Waduuuh, punten teh, konci kosan ilaaang. Kececer kaya’na. Aya serepna atuh teh?”
(haha, sok-sokan bahasa sunda niih yeee. Hihihi. Aku kan terobsesi banget blajar bahasa sunda! Bahasanya lembut dan sopan euy!)
“Wah, teteh Tanya si Aa’ dulu nyak. Si Aa’ teh lagi sholaat.” Jawab si teteh.
Beberapa saat setelahnya, si Aa’ udah sibuuuuuuuk nyari konci serep. Udah dibongkar2 sana-sini kaga nemu-nemu! Hadduuuuh…, kunciiiiiiiiiiii….dimanakah kamu berada???

Hampir semua kunci yang ada udah dicobain, tapi kaga bisa-bisa. Aku nyaris frustasi. Huhu. Padahal besoknya, mau “kompre” (asesement industry sama pa direktur produksinya mengenai GMP). Aku belum belajaaaarrr. Huwaaaaaaaaa…

Aku gak menyangka, hal sepele (sesuatu yang kuanggap sepele pada awalnya)
menimbulkan dampak yang begitu besar. Nyaris 3 jam kemudian baru pintu itu bisa di buka dengan jalan memanggil tukang kunci. Sebelumnya, sudah banyak orang yang dilibatkan. Bayangkan! Perutku sudah keroncongan banget. yang lebih kasihan, temenku yang udah kelaperan banget, yang siangnya shaum. Eh, setelah pintu kebuka. Dan beres2 kamar, akhirnya aku tepar..par..par…sebelum sempet blajarrr. Huhuhu. Semua ini memberiku pelajaran, bahwa, hal-hal kecil yang barangkali kita anggap sepele bisa saja berdampak besar di kemudian hari. Bisa saja kita menganggap itu tidak apa-apa, aaah santailahh, easy going ajaaah, hmm..ntar juga bisaaa, tapiiii, kita baru merasakan akibatnya yang mungkin saja besar dikemudian hari.

Semua ini mengajarkanku agar tidak meremehkan hal-hal kecil!
Sama seperti halnya dosa2 kecil. Mungkin sering kita berpikir, “aaah…segini koq.”
Ketika hati kita telah meremehkan dosa-dosa kecil. Astaghfirullaah… Sungguh, sehalus-halus kehinaan di sisi-Nya adalah tercerabutnya kedekatan dengan-Nya. Ketika menganggap enteng dosa-dosa kecil. Astaghfirullaah.
Read More

The Fantastic Journey


Allahu akbar!
Aku ga nyangka, akhirnya kami ketemuan jugah!
Subhanallaah…
Masya Allah..
Trima kasih ya Allah, Engkau telah pertemukan kami!

Huaaaahhh…
Nyaris! Hampir saja kami ga jadi ketemuan. Karena keretanya terlambat. Tapiii, akhirnya, esoknya, alhamdulillaah, kami akhirnya bertemu!

Hehehe..
Ekspressi berlebihan!

Ketemuan sama siapa, coba?

Read More

The Last Night, The Last Story


Malam terakhir di Bandung, malam minggu.
Heee….
Malam kuliner party! Hehe.
Dan malam penuh traktiran (hahaha…, di mana-mana, yang gratisan itu enaaak. Hihi). Mulai dari sate Padang Dipati Ukur (bareng Iqy), hingga jagung keju pedes simpang Dago (bareng Ni Ren), daaaan…menyambangi “Serbuuuuu” Tubagus Ismail, jugah bareng Ni Ren.
Huhu….the last Day!

Aku terlanjur jatuh cinta pada kota Bandung. Pada Mesjid Salman terutama! Entah kenapa…(ga ada kekuatan magis nya dong yaaah?). Tapiiii, berlama-lama di Mesjid Salman menjadi kegiatan yang menyenangkan bagiku. Dan, di malam terakhir itu, aku jugah menyambangi Salman lagi, buat maghriban. Pokokna di Mesjid Salman mah betah pisan! Sukaaaa ajah! Meski ga ada yang kukenal. Tapiii, berasa banget nikmatnya.

Lho?
Trus mau cerita apaan?

Hmm…the last night…
Sehabis nyerbuu kuliner, akhirnya cerita-ceritanya berlanjut di teras belakang kosan Ni Ren. Malamnya penuh bintang. Subhanallaah…, cantik!
Dan, di malam itulah aku selesaikan cerita itu. Aku tuntaskan semuanya. Sharing. Jugah kotempelasi.

Hmm…
Baiklah…baiklaah…

The Last Day = the Last “Story”.

Read More