Memancing Ikan Mas
![]() |
| Ikan Massss...ikan nilaaa |
Sudah hampir sebulan lamanya aku pengin sekali makan gulai kuniang ikan mas. Hwaaa, pokonya aku mau ikan mas, titik! (hehe, maksa banget!)
Berhubung pancingan di rumah sedang mengalami kerusakan berat (lebay!), akhirnya keinginan untuk memancing ikan nila dan kemudian membuat gulai kuning jadi tertunda. Mengendap berhari-hari.
Akhirnya, pada tanggal 9 Februari 2012 ba'da asyar, obesesi mendapatkan ikan mas mencapai puncaknya (jiyaahh, bahasanya lebay pisan!). Jadilah waktu itu, dengan alat pancing seadanya (darurat pula) dan juga dengan umpan goreng tahu balado (haha, umpannya goreng tahu... ternyata ikan-ikan itu menyukai goreng tahu balado. hihi), dimulailah proses pancing-memancing yang kata sebagian orang menyenangkan! Iyaa, menyenangkan sekali... Tentu saja. Apalagi kalo setiap kali si ikan itu melarikan umpan, adalah hal yang sangat menyenangkan untuk mengangkat pancingan dengan seekor ikan menggelepar-gelepar di ujungnya. Yihuiiii, menarik dan menyenangkan, alhamdulillaah.
Tapii, aku pengin ikan mas, bukan ikan nila kali ini. Aku pengin ikan mas, dan sangat berharap suatu ketika, ikan mas melarikan umpan. Hwaaaa,,,jleb..jleb...ikan mas warna orange keemasan itu bikin mata berbinar-binar.
Akhirnya, saat yang ditunggu pun tibaaa. Seekor ikan mas sebesar betis orang dewasa (orang dewasanya kurus apa gendut dulu niih? kan bedaaa.. hahaha... Yaaah, kira-kira berat 1 kilo lebih laah...) melarikan umpan. Hatiku gembira bukan main. Yihuiiii, alhamdulillaaah, akhirnya harapan itu terwujud jugaaa. Bayangan gulai kuning ikan menari-nari di pelupuk mata. Segera kutarik pancingan dan dengan segera pula membayangkan seekor ikan mas warna orens keemasan diujung tali pancingan. Tapiii, masya Allah, tak dinyana, pancingannya putus dan mata kailnya dilarikan sang ikan bersama umpan-umpannya.
Yaaaahhhh....
Aku kecewa bukan main. Harapanku gugur laiknya dedaunan tua jatuh dari pohonnya...
Akhirnya, aku mencoba memasang alat pancing (darurat)ku kembali, memasang mata kail nya, dan memulai memancing kembali. Masih dengan harapan agar suatu saat pancingannya mengenai ikan mas. Hwaaa, ikan maaaasss, kamu di mana siiiihh???
Aku pindah ke kolam satu. Sebelumnya aku memancing di kolam dua. Dan, tiba-tiba...seekor ikan mas dengan ukuran yang sama dengan ikan sebelumnya melarikan umpan. Hatiku menggelegak karena gembira. Alhamdulillaah, akhirnyaaa, aku bisa mendapatkan ikan mas lagi. Harapan itu masih ada! Harapan itu masih ada!
Kali ini aku menggunakan trik berbeda. Tidak langsung mengangkat pancingan melainkan mengikuti kemana si ikan itu pergi, sampai dia kelelahan sendiri. Tapii, tak dinyana, si ikan malah melarikan umpan jauh ke tengah kolam. Jadi, jika aku mengikuti si ikan, pastilah aku harus menyebur ke kolam, begitu pikirku kala itu. Aku lupa, bahwa aku sebenarnya bisa mengulur nilon tanpa harus nyebur. Aahh, sayang sekali ikannya begitu gesit melarikan umpan dan lagi-lagi kejadian pertama terulang kembali. Mata kailnya putus dilarikan ikan. Dan lagi-lagi, pupuslah harapan untuk mendapatkan si ikan mas. Beberapa jenak kemudian, adzan maghrib berkumandang dan tentu saja prosesi pancing memancing harus segera diakhiri...
![]() |
| saungguak ikan Nila |
Alhamdulillaah, meski harapan untuk mendapatkan ikan mas pupus, aku mengantongi 1,6 kg ikan nila. Alhamdulillaah, syukuri apa adanya... Setidaknya, 1,6 kg ikan nila itu telah cukup membuat senyum sumringah. Hehe...
Ada pelajaran yang iingin aku petik dari peristiwa ini....
Kadang kala, banyak dari harapan-harapan yang telah kita rajut hampir kita raih, bahkan mungkin kita meyakini bahwa itu dapat kita raih sebab ia sudah berada di depan mata...(seperti halnya ikan mas yang sudah termakan umpan dan hampir tiba di genggaman). Tapi, milik Allah-lah segala keputusan. Dalam sejenak, mungkin saja ia tak menjadi wujud nyata...
Maka, adalah hal yang terpenting, setelah ikhtiar sungguh-sungguh, menyerahkan segalanya pada Dia, Dzat yang jiwa kita ada dalam genggaman-Nya. Pada Dzat yang di tangan-Nya segala keputusan-keputusan atas diri kita. Dengan semikian, sungguh, kita takkan pernah kecewa dengan apapun yang terjadi dalam hidup kita...
Ah, hidup...
Sejatinya ia adalah ujian. Kesedihan itu adalah ujian. Tapi kesenangan juga adalah ujian. Kesempitan itu ujian. Tapi kelapangan juga adalah ujian. Kesusahan itu ujian. Tapi kebahagian juga adalah ujian. Sebab di banyak waktu; ujian kesenangan, kelapangan dan kebahagian justru lebih banyak membuat kita lena, lupa bersyukur, dan lupa bahwa ada Allah di balik segalanya. Sungguh, libatkanlah Dia di setiap jenak kehidupan kita... Dia.... cukuplah Dia saja...
Semoga ini semua jadi reminder, bagiku terutama, dan bagi kita semua...
"Buk!"
Seperti biasanya liburan, aktivitas ke pasar tradisional di kampung adalah hal yang rutin kulakukan dan aku memang menyukai pasar tradisional. Hee… Tapii, ada satu hal yang cukup menggelitik dan bahkan membuatku mesti berpikir sepuluh kali lipat. Pokonya, bagiku ini adalah sesuatu yang bagiku cukup mengganggu. Hehe. Itu menyoal panggilan.
“Bara nio, Buk?”
“Kapai kama, Buk.”
Hwaaaa….”BUK!”
Awalnya aku masi bisa mencuekin dan mengabaikannya. Paling tuh orang salah liyat! Wong aku imut-imut beginiiiih (geplak! Amit-amit kali Fatheeeeel! Hihihihi…). Tapi, kegelian dan rasa tak enak yang mengganggu itu semakin dipertegas dengan bertambahnya statistic orang-orang yang memanggil dengan sebutan “Buk!”. Bukan hanya di pasar, di travel juga, ibu-ibu administrasi di rumah sakit, si tukang sate, anak TK yang itu juga, pokonya buanyaaaaakk deeehhh. Hwaaaaa…..hwaaaaa….apakah aku benar-benar berwajah tua? Ko aku ndak yakin yaaahh? Padahal satu atau dua tahun lalu, aku masih sering dikira anak SMA bahkan ada yang lebih parah, mengira aku anak SMP. Sekarang? Ko hampir semua memanggil dengan panggilan “Buk!”. Bahkan, bukan dengan panggilan “Uni”. Ko langsung “Buk.”
Sejujurnya, untuk saat ini, aku kurang suka dengan panggilan “Buk”. (hehe, sengaja menuliskannya “BUK”… walaupun kaedah bahasa Indonesianya harusnya ditulis “Bu.” Aku geli banget soalnya. Hee…)
Hwaaaa, aku kan bukan emak-emak! Tapiii, apa benar, aku lebih mirip mak-mak ketimbang mbak-mbak? Hadeeehhh….mengganggu banget itu panggilan! Serius! (haha, mulai sensitip nih aye soal panggilan “buk”. Ketauan banget udah ‘tua’nya. Hahahaha…)
Aha, tapi yasudahlah! Aku juga ndak bisa memaksa orang-orang untuk memanggil dengan panggilan yang lebih menyenangkan dari “Buk,” saat ini. (kalau nanti-nanti, insya Allah, aku sih nda apah. Kalo memang pas dan cocok timingnya. Hee…). Dan satu lagi, mungkin benar deh aku lebih mirip orang umur 35 ketimbang 20 saat iniiiih. Hwaaaaahhhh…. Mungkin memang harus lebih dewasa dikit laahh, karena tempaan idup. Hahaha…
Tapi, sejujurnya, peristiwa demi peristiwa di atas, kendatipun bukan sesuatu hal yang menyenangkan bagiku, tapi aku perlu berterima kasih nih! Setidaknya, ini memberiku pelajaran berharga tentang waktu! Iyaaah, tentang waktu!
Tak ada orang yang dapat membendung waktu! Menjadi tua adalah sebuah keniscayaan, mau atau tidak mau! Sebab waktu tak perlu berkompromi dengan diri kita untuk melaju, kan yah? Dia akan tetap melaju dengan kecepatan konstan tanpa sedetikpun bisa kita cegah. Merasa lama atau sebentarnya saja yang kemudian kita berlakukan relativitasnya Enstein. Tapi, waktu tetaplah waktu, yang akan terus melaju!
Setidaknya ini semua, telah mengingatkanku bahwa waktu yang kupunya di atas dunia ini tidaklah banyak. Seperempat abad sudah berlalu. Sisanya, aku tak pernah tau, akan sampai kapankah itu. Jadi, ini semua menjadi reminder bagiku, untuk memanfaatkan waktu-waktu terbaik dalam hidupku untuk kemanfaatan. Ahhh, benar sekali! Betapa meruginya jika waktu itu terbuang begitu percuma. Sementara, inilah masanya aku harus menyiapkan bekal untuk perjalanan yang amat panjang. Dan bukankah setiap kita merindukan tempat kembali yang kenikmatan tak pernah bisa dilukiskan dengan kata-kata? Bukankah? Lalu, apakah dengan bermalas-malasan dan bersenang-senang, kita bisa mendapatkannya dengan begitu mudah? Tentu tidak! Harganya Mahal! Harganya mahal, Fathel. Sebab tempat segala sesuatunya itu dibalaskan itu begitu manislah, mengapa perjuangan ini begitu pahit dan melelahkan. Jika kita membiarkan waktu ini berlalu begitu saja tanpa mempersiapkan bekal apa-apa, bukankah hanya penyesalan panjang saja yang akan kita tuai nantinya?
“Ya Allah, kembalikan aku ke dunia kembali, dan aku janji akan beramal dengan sungguh-sungguh!”
Ah, tapi ketika itu, masa sudah berlalu. Sisanya hanyalah penyesalan, “mengapa aku dulu begini dan begitu?”
Na’uzdubillaah tsumma na’udzubillaah…
Jadiii, menyiapkan diri untuk perjalanan panjang dan mengisi waktu-waktu ini dengan prestasi terbaik kita untuk-Nya adalah jauh lebih baik dari pada sekedar merisaukan panggilan “buk!”, Fathel. Justru ini adalah sesutua yang berharga ketika kau mengubah sesuatu yang ‘Tidak Menyenangkan’ menjadi sesuatu yang ‘Mengingatkan’. Sebab, semakin banyak orang-orang yang memanggilmu dengan sebutan itu, maka itu artinya, semakin banyak pula orang yang telah mengingatkanmu akan waktu yang berlari begitu kencang. Ketika ada yang memanggilmu dengansebutan, “buk”, itu artinya mereka sedang berkata “Fathel, ingatlaah waktu-waktu yang telah berlalu. Sudah begitu banyak, bukan. Lantas, mengapa masih berlalai-lalai? Sedang kau tidak tahu, apa yang akan terjadi esok? Bukankah setiap jenak-jenak yang kau lalui, adalah langkah-langkah yang kau tempuh menuju kuburan! Ingat-ingatlah itu, Fathel! Ingat-ingatlah tentang kesejenakan dunia ini. Ingat-ingatlah itu… Sudah berapakah bekal yang telah kau siapkan?”
Okeeh,
Trima kasih kepada orang-orang yang tidak kukenal yang memanggilku dengan panggilan. “Buk.” Dengan begitu, secara tak langsung,mereka telah mengingatkan aku tentang berharganya waktu yang kupunya…
Hayuuuuk Lalukan yang TERBAIK!
Menanti Abang Tukang Cireng
Abang Tukang Cireng, lewaaattt dooooooong. Pliss…Plisss…Plisss… [kalo ada Abang Tukang Bakso, tentu juga ada abang tukang cireng kan yah? Heuu…]. Sudah beberapa hari ini aku selalu menanti-nantikan kedatangan abang tukang cireng. Hadeehhh, kapan yaah abang tukang cireng itu datang? Kapaaannn yaaahhh? Lelah kumenantimu, Bang! Hehe… Setiap anak tetangga, pasti sudah kupesenin, “De’, nanti kalo liyat abang tukang cireng lewat, kabari Nipi yaahh.” Hampir setiap hari, ketika anak-anak tetangga pada maen ke rumahku, selalu aku bertanya, “Eh, abang tukang cireng itu ko nda lewat-lewat yah? Katanya lewat sini tiap hari. Nanti kalo lewat, kasi tau yaahh…”
Ups… jangan sampai salah paham dulu, mengapa aku begitu menanti-nantikan kehadiran si abang tukang cireng. Plis, jangaan suuzhan dulu yaah. Hee… Aku juga bukan penggemar berat makanan khas sunda itu. Aihh, bukaaaan….sama sekali bukaaaan. Wong, aku beli cireng pertama kali di kampungku itu yah Cuma waktu itu doang!Hee…
I am FLP Lover
Aku suka menulis semenjak SD. Cerpen perdana itu adalah ketika aku kelas 6 SD mengangkat tema puasa. Ketika SMP, keinginan untuk menulis semakin meningkat. Apalagi aku jadi PJ madding sekolah. Deuuhh, senangnyaaa. Meskipun kala itu karyaku itu masilah picisan belaka. Yaah, sesuai dengan tema-tema ABG yang salah mempersepsikan ce I en te a. hihi.
Kemudian, berkenalanlah aku dengan karya-karya FLP, ketika novel-novel dan kumcer-kumcer karya FLP’ers sedang booming-booming nya. Dan karya Mba Helvy Tiana Rosa dengan Ketika Mas Gagah Pergi adalah cerpen pertama yang bikin aku nangiiiisss sekaligus merubah persepsiku tentang karya-karya islami. Dulu, dalam pikiranku yang sederhana ini, cerpen-cerpe islami itu hanyalah sebatas kisah-kisah para muallaf (heuuu, malu mengenang betapa dangkalnya persepsiku tentang karya islami kala itu).
F.E.E.L N.E.L.A.N.G.S.A
Hai. . . . Hai. . . . Bloggie,,,Assalaaamu'alaykum!
Hari ini aku dari rumah sakit, Bloggie. Bukan lagi sakiiit. Tapi ngurusin surat keterangan sehat untuk STRA. Hanya saja, masi shock dan terkaget-kaget. . . Hihi. . .
Kaget napa, coba?
Masya Allah, alaaamaaakkk, berat badan nambah lagi cuy! Hadeeehh. . . . Sibuk bukannya malah bikin kurus, tapi malah sebaliknya. Heuu. . . . Tapi tak apalah. Itu karena aku bahagia. Hehe. Dan itu juga karena aku alhamdulillaah sihattt. . . . Alhamdulillaah, berasa sekali nikmatnya sehat. Maka nikmat Tuhan mana lagikah yang kau dustakan, Fathel?!
Hari ini ke rumah sakit. Bertemu teman-teman sejawat yang kebanyakan senior dan teman-temanku di farmasi. Hadeeehh,,, aku sudah dateng jam 8 kurang, Bloggie. Tapiii, belum tampak ada aktivitas2 administrasi. Nungguin para pegawainya sarapan dulu. Hadeehh. . . . Akhirnya, aku nungguuuuuuuuuu lamaaaa banget dehh (lebay! padahal nunggunya cuma 1 jam! hee). Untung aku bawa buku. Jadi ludes deh bukunya dibacain. Hee. . . .
(Deuhh, prolog nya ko puanjang bener yah?? hihi. . . . )
Uhmm,,, yang pengin aku ceritakan di sini adalah soal pilihan yang sedang aku pilih saat ini. Meskipun banyak yang menyokong dan men-support, tapi juga tak sedikit yang mempertanyakan. Halaaah, ngapain jugak kuliah lagi Fathel? Ngapain juga harus sekolah tinggi-tinggi. Pikirkan tuh masa depanmu. Nanti malah terlena loh.
Hari ini aku dari rumah sakit, Bloggie. Bukan lagi sakiiit. Tapi ngurusin surat keterangan sehat untuk STRA. Hanya saja, masi shock dan terkaget-kaget. . . Hihi. . .
Kaget napa, coba?
Masya Allah, alaaamaaakkk, berat badan nambah lagi cuy! Hadeeehh. . . . Sibuk bukannya malah bikin kurus, tapi malah sebaliknya. Heuu. . . . Tapi tak apalah. Itu karena aku bahagia. Hehe. Dan itu juga karena aku alhamdulillaah sihattt. . . . Alhamdulillaah, berasa sekali nikmatnya sehat. Maka nikmat Tuhan mana lagikah yang kau dustakan, Fathel?!
Hari ini ke rumah sakit. Bertemu teman-teman sejawat yang kebanyakan senior dan teman-temanku di farmasi. Hadeeehh,,, aku sudah dateng jam 8 kurang, Bloggie. Tapiii, belum tampak ada aktivitas2 administrasi. Nungguin para pegawainya sarapan dulu. Hadeehh. . . . Akhirnya, aku nungguuuuuuuuuu lamaaaa banget dehh (lebay! padahal nunggunya cuma 1 jam! hee). Untung aku bawa buku. Jadi ludes deh bukunya dibacain. Hee. . . .
(Deuhh, prolog nya ko puanjang bener yah?? hihi. . . . )
Uhmm,,, yang pengin aku ceritakan di sini adalah soal pilihan yang sedang aku pilih saat ini. Meskipun banyak yang menyokong dan men-support, tapi juga tak sedikit yang mempertanyakan. Halaaah, ngapain jugak kuliah lagi Fathel? Ngapain juga harus sekolah tinggi-tinggi. Pikirkan tuh masa depanmu. Nanti malah terlena loh.
Aku Kangen Sekolah
![]() |
| Personel Sekolah Kitaaa....^^ |
Waahh, sudah hampir 1 bulan tidak sekolah. Aku kangeeen sekolah lagiii. Kangen sama Bu Kepala Sekolah Mba Indri, Kangen Sama Waka Kesiswaan Sri Wahyuni Dipiro, Kangen Sama Mba Ratna, Kangen Uni Nadra. Hwaaaa, aku kangen sekolah lagiiii.....
Maafkan Akuuu Bu Kepsek, aku sering jadi murid yang bawel, selalu datang sekolah terlambat. Uhuhu...
________________________
Mawar Di Tengah Hutan
![]() |
| jalan2 menuju hutan |
Seminggu yang lalu, aku sempet jalan-jalan ke tengah hutan belantara. Jiyaahh, lebay nian yah? Hee…
Iya memang hutan banget euy…. Menyenangkan sekaliii sekalian terapi jerawattt kate temen-temen aye, hihihi. (Hadeeehh, begini niiih kalo udah sibuk dan stress #soksoksibuk, hihi. Padahal, dulu nih yaah, jerawat itu ogah banget mampir. Padahal aye nda pake tuuh yang namanya tete bengek perawatan segala macem. Cuek amaaat sih aye dulunya. Sekarang? Hadeeehhh…. Dia maunya bersahabat dengan muke aye. Huwaaa toloooooooooong…! Ah, tapi biarin deeeh, yang penting hati riang dan senang #ndakadahubungannyadenganjerawat,hihi…). Menyenaaangkaaan sekali menghirup udara hutan yang segerrr… Subhanallaah, Maha Agung Allah yang menciptakan hutan dengan begitu indahnya… Hanya satu hal sahaja yang agak sedikit mengganggu. Tentang “panyangek” yang tiba-tiba menyergap di jalan. Hwaa….hwaaa… Untungnya segerraa di tangkis. Ciatt…ciatt…!!
Uhmmm, tak perlulah aku ceritakan lebih detil lagi soal hutan dan pendakian menujunya yang cukup bikin ngos-ngosan. Hee…. Nanti kepanjangan bener nih cerita. Hee… Naah, setelah berkeliling-keliling dan mengamati, akhirnya pandanganku tertuju pada sebuah pembandangan yang begitu menakjubkan (lebaaaaaaaaayyy!). Dia adalah…tarraaaa…mawar di tengah hutan! Subhanallaah… Mawar itu dikelilingi semak-semak dan tanaman hutan lainnya. Dan dia adalah satu-satunya mawar di tengah hutan itu sepanjang pengamatanku. (ngomong-ngomong soal jalan2 ke tengah hutan, aku inget KL waktu semester 2 dulunya. Heuu…). Dan tak lupa pula aku abadikan sang mawar dalam potretku kali ini. Ceklek! Cekklekkk!
![]() |
| Mawar di Tengah Hutan |
Masya Allah, mawar di tengah hutan… Luar biasaa…
Ada pelajaran yang pengin aku petik kali ini, soal sang mawar.
Sang mawar telah mengajariku tentang bertahan dalam kesendirian. Ketika tak banyak teman-teman seperjuangan di suatu tempat, di suatu ranah… Mungkin selama ini, kita (aku terutama) begitu adem dan merasa berada di zona nyaman ketika bersama saudara-saudara sefikrah. Saudara seperjuangan. Tapi, sering kali kemudian kesendirian menggerus kita. Kesendirian sering kali membuat kita lebih mudah mentolerir diri, lalu perlahan mulai tergerus. Bahkan ketika diri kita sendiri tak menyadarinya. Astaghfirullaah….
Menjadi mawar di tengah kebun mawar mungkin memang mudah. Setidaknya, ada teman-teman seperjuangan yang akan menupang, di kala mungkin semisal angin ribut sedang berusaha menerbangkan kita. Namun, kesendirian membuat kita mungkin lebih mudah goyah… Lebih mudah menyerah dan berdamai dengan segala keadaan yang ada…
Kadang-kadang, sampai jua berita-berita itu ke telinga;
“Heh, si A sudah mendekin jilbab yah?”
“Tau nda, di B udah pake celana jeans loh…”
“Eh, si C sekarang udah pacaran.”
Aahh, sudaaaaaaaaaaaaahhh,,,hentikanlah!
Sejujurnya, aku sungguh tak ingin mendengar itu semua… Ada kesedihan mendalam. Ada ketakutan mendalam! Aku bersedih, sungguh…
Akan tetapi yang sungguh lebih ingin aku tangisi adalah, bahwa kita tak pernah bisa menjamin diri kita akan seperti apa! Hari ini, begini. Tapi, siapakah yang dapat menjamin tentang hari esok? Ya, Allah….jadikan kami orang-orang yang istiqomah di jalan-Mu…jadikan kami orang-orang yang tetap teguh dalam diin-Mu…Jadikan penutup hari-hari kami di dunia ini adalah dengan amalan terbaik di hadapan-Mu…Untuk-Mu…Ya Allah, itu pintaku…
Ah, menjadi mawar di tengah hutan memang tak semudah menjadi mawar di tengah kebun mawar. Bahkan, kita mungkin tidak menyadari bahwa kita sedang tergerus.
Maka, kumohon wahai sahabat, ingatkanlah aku… Ingatkanlah akuuu ketika kau lihat aku mulai lengah… Sebab tak mudah untuk menjadi mawar di tengah hutan sebagaimana tak mudah untuk bertahan dalam kesendirian…
Meja, Lampu, dan Kamar Mandi
Alkisah, kejadian ini bikin aku, ibu dan Adek geli, ketawa sampai pinggang pegel. Hihi. Tentang lampu kamar mandi yang sudah habis masa pakainya sehingga ketika saklar dipencet, lampunya tidak nyala-nyala. Hihi… (lebay amat yaah. Mohon permaklumannya yaaahh, hee…). Jadi ceritanya lampu kamar mandi itu kan mati. Jadi, kan mesti diganti kan yah? Nah, berhubung yang jual tongkat ajaib buat masangin lampu (aku nda tau namanya apah? Hihi…) nda dijual di Solsel tercinta, jadiii terpaksa mengandalkan meja dan kusri (dan juga memanjat tentunya) untuk mengganti dan memasang lampu yang baru. Nah, di sinilah letak hal yang menggelikan itu…
Back...Back...Back Again
Assalaamu'alaykum Bloggie Saiaaank...
Dengan dipenuhi rasa bersalah, akhirnya aku mencoba kembali menulisimu...
Huwaaaah, bloggieee, rasanya beberapa bulan terakhir ini mandeg bangeeet akuuuh... Tolooong....
Bahkan ketika koneksi internet lancar-lancar sahaja, aku justru tak bisa menuliskannyaaa....
Hwaaaa, sekali lagi, toloooooooooong... :)
Hehe,,,
Tapi, sudahlah Bloggie...
Aku hanya sedang menikmati menjadi aku yang sekarang (jadi, aku yg dulu bagemana? ihihi...).
Aku yang sekarang, tentu tak lagi sama dengan aku yang dulu. Setelah sempat terpuruk...lalu bangkit....terpuruk lagi....dan sekarang bangkit lagi! (hayoo, semangattt wahai diriku!).
Banyak dari kisah-kisah perjalanan yang luput dai catatan...
Tapi biarlah, setidaknya aku juga sedang belajar hal yang lain. Hee...
Dengan dipenuhi rasa bersalah, akhirnya aku mencoba kembali menulisimu...
Huwaaaah, bloggieee, rasanya beberapa bulan terakhir ini mandeg bangeeet akuuuh... Tolooong....
Bahkan ketika koneksi internet lancar-lancar sahaja, aku justru tak bisa menuliskannyaaa....
Hwaaaa, sekali lagi, toloooooooooong... :)
Hehe,,,
Tapi, sudahlah Bloggie...
Aku hanya sedang menikmati menjadi aku yang sekarang (jadi, aku yg dulu bagemana? ihihi...).
Aku yang sekarang, tentu tak lagi sama dengan aku yang dulu. Setelah sempat terpuruk...lalu bangkit....terpuruk lagi....dan sekarang bangkit lagi! (hayoo, semangattt wahai diriku!).
Banyak dari kisah-kisah perjalanan yang luput dai catatan...
Tapi biarlah, setidaknya aku juga sedang belajar hal yang lain. Hee...
Subscribe to:
Posts (Atom)






