ndaksempatnulis

ketebalan buku > 10 cm

Waaahh, dalam tiga hari belakang, aku sebenarnya ada banyak hal yang aku share. The great experiance in stem cell laboratory, in CPhi Asian South East Expo, and others. Akan tetapi, case report sedang menunggu untuk "diobrak-abrik" karena sudah tiga hari aku tinggalkan. Hee... Dan setiap Drug Related Problem (Permasalahan terkait obat) pada case itu harus punya EBM (evidence based medicine).. Dan EBM itu mestilah didasari pada jurnal-jurnal ilmiah terupdate. Dan jurnal-jurnal itu tentulah butuh analisis mendalam. Dan ditambah lagi, case kali ini adalah komplikasi pasien pasca CABG, dengan hyperlipidemia, hipertensi, angina, diabetes dan gagal jantung (waahhh penyakitnya lengkap banget yaahh), ditambah lagi dia geriatri. So, he got more than seven drugs. Sepuluh macam obat malah. Dan ditambah lagi, fungsi ginjal sudah bermasalah dan edema parunya sudah berkembang pula menjadi pneumonia. Hemm...apa nda pusing tuuh ngebahas permasalahan terkait obatnya? Dan ditambah lagi, besok pagi sudah harus didiskusikan. Hwaaaa, Jadiii, so, sebagai komplikasi dari case report ini, I cannot share right now deeh. Heuu....
Walau sudah berniat untuk tidak meninggalkanmu, Bloggie, tapi maafff, kali ini aku bener ndak sempat...
Lain kali kita bercerita lagi yah, say?
Siipp?!

Hayoooo, semangat belajaaarrr
semangat bahas case repo(r)t!
^___^
Read More

Bocah-Bocah Tak Berdosa dan Ibu-Ibu Penyabar

Kemarin, alhamdulillah, aku berkesempatan untuk bisa mengunjungi poliklinik Psikiatri Anak dan Remaja di RSCM. Waahh, masya Allah, sebuah 'pemandangan' membuatku takjub. Takjub akan kegigihan luar biasa ibu-ibu yang Allah anugrahkan amanah anak-anak yang secara fisik tak bermasalah, akan tetapi mereka berbeda dengan anak-anak lainnya. Sungguh, hal ini membuatku benar-benar terenyuh. Sungguh, betapa besarnya jiwa para ibu yang diberikan ujian dengan keterbatasan yang anak-anak mereka miliki. Hanya ibu-ibu terpilih sajalah yang sanggup bersabar dengan ujian-ujian yang sedang Allah sandangkan di pundak mereka.

Secara langsung, aku bisa melihat anak-anak autisme, perkembangan terhambat, adhd, dan idiot, retardasi mental, yang sebelumnya hanya aku dapatkan di teorinya saja. Satu anak yang membuatku terkesan sekaligus terenyuh adalah bocah berkaos biru yang berasal dari Pondok Kopi. Bocah itu kira-kira 5 atau tahun. Belum bisa bicara. Tak mau menatap mata. Dan, mempunyai bahasa yang tidak dimengerti. Pandangannya kosong dan sayu. Sebentar-sebentar tertawa. Lalu, sebentar-sebentar menangis.
Ck..ck..ck..., masya Allah, sungguh, sang ibu pasti punya kesabaran luar biasa.
Read More

Jum'at Semangat!

Waahh, jum'at yang penuh semangaaatttt... Hari ini, aku ketemuuuu sama One of my Best Friends, Mariyen Abdi Esa (hehehe, baca : Mariyen Irvani). Hwaaahhhh, seneeeeng pisaaaaaannn. Meski tugas lagi numpuk-numpuknya, tapiiii, karena momen buat ketemu Yeyen memang adalah momen langka karena masing-masing sama-sama sibuk, maka, momen langka ini teramat sayang untuk dilewatkan. Alhamdulillaah, hari inilah momen yang tepat ituuu setelah dua tahun kurang satu bulan tak ketemu.
Dari Depok, naek KRL menuju Gambir dan kita ketemu di Monas. Untuk pertama kalinya kita ketemu sepaket. Hihi. Maksudnya, Yeyen dan Mas nya, Panji. Hemm... a great couple. Pokonya mereka mah pasangan yang serasiii banget dah. Hee... Setelahnya, kita bertiga (Aku, Yeyen dan Nany) ke puncak Monas (juga untuk pertama kalinya, hee), lalu ke Atrium di Senen. Waaah, benar-benar hari yang mebamhagiaaaakaannn. Sore-sore, mampir di Kemenkeu (kantornya suami Yeyen) dan seterusnya pulang lagi dengan setumpuk tugas yang telah menanti. Hee... Tak lupa, kami juga melibatkan one of our another best friend, Syafnida Gusti, via Telkoms*l yang menghantarkan suara via sinyal-sinyal sejarak Jakarta-Payakumbuh. Hihi...
Dan satu hal yang selalu ada dalam sebuah pertemuan setelah sekian lama berpisah. NOSTALGIA!
______________________________

Read More

The First Antology : I’m Excited!

Alhamdulillah, setelah menyambangi rumahnya Bu Kos yang persis di depan kosan, paket dari Padang berpindah tangan kepadaku. Dengan (sedikit) tak sabaran aku segera menaiki lantai dua kosan, masuk kamar, dan dengan segera pula merobek sampul berwarna cokelat itu. Cihaaaa… Alhamdulillaah. Akhirnyaaaa… Sedikit agak excited sih akuuh. Hehe, soalnya ini perdana aku punya buku. Sebuah prestasi yang ‘cukup buruk’ untuk FLP’ers kaya aku. Iyaahh, dia antara semua penulis di buku itu, akulah satu-satunya yang prestasi menulisnya “paling buruk”. Hehe… Mereka, sudah mengepakkan sayap begitu jauh, dan aku, baru ngelangkah. Jika dibandingkan dengan teman-teman FLP’ers lainnya, aku termasuk FLP’ers yang paling sedikit karyanya di media massa. Temen-temen yang lain mah, buku dan karya mereka udah banyaaak tersebar di berbagai media dan antologi. Tapi, secara pribadi, ini sebenarnya sebuah prestasi bagiku. Ya, ini sudah lebih baik dari aku yang sudah-sudah. Pertama, aku termasuk FLP’ers yang paling males ngirim ke media. Sekali di Singgalang, dan Alhamdulillah langsung dimuat. Sekali di Girlie Zone, dan Alhamdulillah langsung dimuat. Beberapa kali di Annida (ketika SMA dulunya) dan Alhamdulillah di tolak. Sekali di kompas, dan Alhamdulillah di tolak juga. Hehe. Alhamdulillaah… Kedua, aku memang saat ini tak begitu concern dengan karya fiksi. Menulis bukan untuk suatu target tertentu, dimuat di suatu media. Tapi, menulis lebih kepada memuarakan rasa semata. Yah, maka blogging menjadi pilihan menarik bagiku ketimbang media massa lainnya. (Nge-Blog kan nda harus ngelewatin progress yang puanjaaang kan yaah? Dan kita bebas nulis tentang apaaaah ajaah tanpa peduli dengan tema yang diusung suatu media massa. Intinya, nge-Blog lebih menarik bagiku. Hihi…).
the first antology^^

Tapi, ternyata punya buku meski masi kroyokan (baca : antologi), ternyata punya rasa sensasi yang berbeda. Hemm, ada kebahagiaan yang gimanaaa gituhh ketimbang ‘hanya’ nulis di blog. Meski, boleh jadi, pembaca blog jauh lebih banyak dari pada pembaca si Antologi itu (karena kan baru rilis yah? Hee…). Hemm, makanya aku cukup excited. Alhamdulillaah.
sengaja bangeett yaahh?? hihihi Peaceee ^^

Wahh, sebenarnya, dengan punya antologi kaya gini, jadi trigger tersendiri buat aku, biar lebih giat nulis. Pengin banget bisa punya buku solo, nda keroyokan kaya gituh. Tapiii, ternyata, saat ini aku memang sulit untuk concern ke sana. Akhir-akhir ini lebih memilih focus buat sekolah dulu. Kedengarannya memang agak sedikit tidak adil. Aku men-dorman-kan banyak hobby—bahkan juga desain, fotografi, fiksi, untuk bisa focus di bidang akademis saja. Kenyataannya, itu semua juga ternyata HARUS. Ya, harus begitu. Karena, aku nda ingin “SAIKUA CAPANG SAIKUA CAPEH.” Yang ada malah, nda satupun yang mateng.

Read More

Phenomenon-Like P-gp

Kadang, aku ngerasa belajar itu kaya P-gp. P-gp yang bikin obat yang diabsorbsi itu di-efflux lagi keluar membran. Padahal, usaha untuk bisa melewati membran plasma itu luar biasa barriernya. Tapi, hanya karena si P-gp, dengan mudahnya di keluarkan lagi. Dan P-gp disinyalir merupakan salah satu penyebab (dari sekian banyak penyebab) terjadinya multidrug resistent. Dan si multidrug resisten ini (MDR) merupakan salah satu hal yang sangta ditakuti di dunia perubatan, di dunia klinis.

Ada satu fase dalam proses belajarku yang analoginya mirip banget ama P-gp. Seperti ada efflux pump yang membuat segala yang coba dimasukin itu nda bisa-bisa masuk. Ada beberapa inducer dan juga inhibitornya. Apa itu? Aku sendiri sebenarnya riweuh juga meng-kluster-kan causa efflux pump yang mengakibatkan sulitnya di serap ilmu itu pada satuan waktu tertentu. Tapi memang ada masanya, ketika aku merasa begitu sulitttt untuk menyerap. Meskipun kemudian sudah terserap, tapi seperti ada efflux lagi. Dan bahkan aku bingung, bagaimana mendefinisikan penyebabnya.

Yang paling parah dari effect of phenomenon-like P-gp (hehe, bikin istilah sendiri nih ayeeee. . .), ketika aku masih kelas 3 SMA. Kala itu sedang belajar matematika. Tiba-tiba. nyeseeeekk banget, sampai-sampai aku ngerasa sulit bernapas. Blank. Aku nda ngerti apa-apa. Tapi, aku sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa memang tak ada yang salah. Ini semakin diperkuat dengan diagnosa dokter UGD RSUD Kota Padangpanjang yang mengatakan bahwa sebenarnya semuanya baik-baik saja. Tak ada yang salah dengan fisiologis. Lalu apaaah? Psikis? Nda jugaa. Tapiii, phenomena itu memang mirip banget dengan P-gp. Saat kuliah S1, aku memang sempat merasakan fase-fase di mana aku sulit sekali menyerap. Lagi-lagi, seperti ada efflux. Hemm, tidak berlangsung lama sih. Paling banter juga cuma sehari doang. Tapi, menyiksa banget, ketika kita nda bisa memahami tiba-tiba apa yang sedang dijelaskan. (Kali ajah lo lupa berdo'a sebelum belajar, Theeeeel. Hehe...).

Read More

Antiobiotics Resistance

Hwaaaaaa, well, TDM make me dizzy. So dizzy. Whereas, it's just in second page. How can I finish learn it until eighteenth pages? Masya Allah. . . The problems set in that book is also diffucult to learn by my self. Well, I just read and learn "Principle of Clinical Pharmacology" book, that written by Atkinson and the second book but primary book is "Apllied Clinical Pharmacokinetics" by Larry A Bauer. Both of them make me so dizzy, so I move to anothers book which titled "All About Antibiotics". So, Sharing about Antibiotics is more interest than learn about "TDM=therapeutic drug monitoring".

Okeehh, let's we talk about ANTIBIOTICS RESISTANCE...
Antibiotics are drug used for treating infection caused by bacteria. Should to Remember, ANTIBIOTICS are used ONLY for BACTERIA INFECTION. Do not used it for VIRAL Infections! Most of these case are used antibiotics for treating viruses infection such as cough, influenza fever, strep throat, colds. Hemm... it's a misuse of antibiotics. Ehh, no, it's not! It's the overuse of antibiotics. Misuse of these drugs such as stop the treatment when patients feel better. Using antibiotics against viral infections will not cure the infection, will not keep other individuals from catching the virus, will not help a person feel better, may cause unnecessary harmful side effects and may contribute to the development of antibiotic-resistant bacteria. Misuse and overuse of these drugs, however, have contributed to a phenomenon known as antibiotic resistance. This resistance develops when potentially harmful bacteria change in a way that reduces or eliminates the effectiveness of antibiotics.


Antibiotic resistance is a growing public health concern worldwide. When a person is infected with an antibiotic resistant bacterium, not only is treatment of that patient more difficult, but the antibiotic-resistant bacterium may spread to other people. When antibiotics don’t work, the result can be longer illnesses, more complicated illnesses, more doctor visits, the use of stronger and more expensive drugs and more deaths caused by bacterial infections. How Dangerous it is!

When we are prescribed an antibiotic to treat a bacterial infection, it’s important to take the medication exactly as directed. So, what sould we do?????
Hemm,,, based on FDA information, I will share what should we do to perevent dan combate the ANTIBIOTICS RESISTANCE. . .
Please, follow this direction, Siiipppp??!


  • Complete the full course of the drug. It’s important to take all of the medication, even if we are feeling better. If treatment stops too soon, the drug may not kill all the bacteria. We may become sick again, and the remaining bacteria may become resistant to the antibiotic that we’ve taken.
  • Do not skip doses. Antibiotics are most effective when they are taken regularly.
  • Do not save antibiotics. We might think that we can save an antibiotic for the next time we get sick, but an antibiotic is meant for our particular infection at the time. Never take leftover medicine. Taking the wrong medicine can delay getting the appropriate treatment and may allow our condition to worsen.
  • Do not take antibiotics prescribed for someone else. These may not be appropriate for our illness, may delay correct treatment, and may allow our condition to worsen.
  • Talk with our health care professional. Ask questions, especially if we are uncertain about when an antibiotic is appropriate or how to take it. Hemm, for these case, we can ask the PHARMACIST about direction of using antibiotics. Hemm, I provide this service expecially for you. (yeaaah, for you whom still read this blog. How lucky you're for finding this blog #haha,just kidding! ). You can fill the field on "INFORMASI OBAT/DRUG INFORMATION" in this blog or send me SMS on +628566756732 at 08.00-10.00 pm every night. (haha, free promotion! But, this service is also FREE except your pulsa for send me SMS. ahaha... :D).


Okeeeh?? Siiippp... Let's Cambate and Prevent ANTIBIOTICS RESISTANCE. Not only for doctor and pharmacits, but it's our responsibility. For everyone, not only medical people.

Ohhhh my God! Masya Allah, I almost forget about my TDM. And tomorrow (insya Allah) I will get examination about that. I never study about TDM completely. Soooo, I must fight this night! Please pray for me. Please..pleaseeee.... Hihihi....

Okeeehhh, LONG LIFE EDUCATION... ^__^
Read More

Fraktura Hepatica

Suatu ketika, di ruang eS Be Ge 1 yang full AC (haha, penting gituuuh, pull AC pulak. Dassaarr kampungan!)
"Hwaaaaaaa, mbaaaaa....aku patah hatiiiiiiiiiiiiiiii...." Aku, dengan gaya biasaaa, naro' tas di kursi lalu mengeluarkan kumpulan slide bahan ujian. Sekaligus pasangan tampang cembetut berlipat tujuh.
"Loh, patah hati lagi?" Mba Indri mendelik.
"Iyaaaa Mbaaaa..."
"Di lem ajah atuuuh. Pake lem Alt*co." Usul Mba Indri...
"Aih, itu nda bisa pake alt*co tuh. Bisanya pake lem keramik." Mba Ratna nimpalin. Kontan, Aku, Mba indri, Mba Ratna, Uni Nadra dan Sri ngakak abis-abisan.
"Dassaarrr, miss Galauu, miss Galauu. Kapan sih Thel, nda galau nya." Ini celetuk Sri.
(hwaaaa, seriusss aku kangen berat gank Skolaaahhh. Patah hati karena nda ketemu merekaaaa...T_T)

Haha, Sepertinya Patah Hati sudah jadi 'santapan sehari-hari' deh. yang Miss Galau lah, yang Miss Gombal lah. Haha. Apa nda ada istilah yang lebih cakep dari itu? wong yang cakep ajah banyaaak #eehh.
Whatever lah, yang penting jika semua senang, aku sih juga seneng-seneng ajah cuy, digituin. Hee... Kan nyenengin orang berpahala. Asalkan pada kenyataannya nda gituh ajah.
Untungnya mereka nda panggil "Buk," atawa "Bunda" seperti orang-orang di mall itu. Betapa mereka tidak tahu bahwasannya aku sama sekali TIDAK SUKA dengan panggilan itu. Ke laut ajeee sonooooo!

Read More

Over Expression

Hemm....
Jadi ingat terapi gen.
Terapi gen itu, adalah sesuatu yang sebenarnya cukup efektif untuk terapi soalnya sifatnya TARGETED, artinya hanya TARGET obat saja yang berinteraksi dengan si obat dan langung ke GEN pengKODE protein yang bertanggung jawab terhadap regulasi tubuh, sehingga efek samping lebih minimal. Artinya, terapi gen yang dirancang dengan suatu drug delivery system yang sedemikian rupa dapat bekerja pada bagian patologis dari tubuh, tanpa harus ke mana-mana, tanpa harus ke semua reseptor yang ada di sekujur tubuh yang pada pengobatan konvensional sering kali menyebabkan Adverse Drug Reaction (tipe A karena terkait pharmacologic response). Jadi, sebenarnya terapi gen adalah pengobatan yang efektif. Apalagi untuk meng-knock out sel kanker. Pada prinsipnya, semua sel kanker dapat diterapi ASALKAN kita mengetahui sekuens gen pengkode protein pada sel kanker yang mengalami mutasi sehingga diekpressikan berbeda itu dan kita mempunyai suatu Delivery system yang dapat sampai dan dikenali dengan baik oleh si target. #haha,apasih Fatheeellll?? (hehe, jika kau tak pernah mempelajari farmakologi molekular, pernyataan tersebut pasti membingungkan yah? sudahlah. tak dimengerti juga tak mengapa. aku hanya sedang menyeracau saja).

Salah satu kekurangan dari terapi gen adalah OVER EXPRESSION. Gen remedial, gen yang akan memberikan perbaikan itu semisal pada kasus Cycstic Fibrosis, bahwa gen itu meng-ekspressikan secara berlebihan protein peng-kode kanal kalium itu, sehingga akibatnya juga justru tidak baik.

Ah, gen yang sekecil itu saja (bahkan tak terlihat secara kassat mata), jika over expression, bisa mengakibatkan kefatalan pada diri manusia. Gen yang ukurannya mungkin seper-triliyun dari ukuran tubuh manusia itu sendiri (karena ukurannya sudah NANO bahkan PIKO yang itu artinya sepermiliyar atau sepertriliyun), bisa menyebabkan kefatalan pada manusia. Lalu, bagaimana dengan tindakan kita? Tindakan kita yang over ekpressi. Pasti lebih banyak lagi kefatalannya. Dan itulah yang kemudian terjadi. Padaku. Menampar. Sekaligus jadi cemeti.

Read More

Kehilanganmu...

Salah satu hal yang sangat menyedihkan dalam hidup ini adalah kehilangan! Kehilangan sahabat, teman, orang yang sangat kita sayangi. Tapi, kadang, ada kalanya kehilangan itu menjadi sebuah keharusan. Meskipun tak sepenuhnya pergi, tapi itu sama saja artinya, ketika didapati sosok itu sama sekali berbeda. Bukan. Ini bukan kau yang dulu. Ini bukan kau yang aku kenal.
Menyedihkan? Memang!
Tapi biarlah. Biarlah kemudian hanya menjadi catatan silam,--meskipun indah untuk diulang--tapi pahit untuk dikenang. Pahit, karena mengenangnya juga berarti mengingatkan pada kehilangan.

Jika memang melenyapkan segalanya adalah lebih baik, maka aku juga memilih untuk melenyapkan. Tak mudah memang. Tapi--menyakitkannya--itu harus. Ya, harus! Apalagi jika itu sudah jadi pilihanmu. Aku bisa apa?
Atau, mungkin hanya aku saja yang menganggapmu sahabat, menyayangimu, mencintaimu--sementara kau tidak? Ah, berarti aku telah menepuk angin. Selamanya, menepuk angin takkan pernah menghasilkan bunyi. Semua juga tahu, bahwa suara dan bunyi hanya akan ada ketika ada dua tangan yang saling menepuk.

Read More

Boulevard dan Sore Jingga

Boulevard dan kotempelasi. Boulevard dan sekaan air mata. Boulevard dan sebuncah senyum sumringah.
Haha, boulevard selalu punya lantunan melodi indah untuk melukiskan segenap rasa. Dan entah mengapa, setiap melewati boulevard ini, selalu saja warna rasanya berbeda. BERBEDA. Pun begitu dengan sore ini.

Segalanya SEMAKIN menyadarkanku, bahwa SEJAUH APA KITA MELANDASKAN SEGENAP HARAP PADA MANUSIA, maka SEJAUH ITU PULA KITA MEMANCANGKAN SEBUAH KEKECEWAAN untuk dituai di kemudian harinya. Maka, berbahagialah dan merdekalah mereka yang tak melabuhkan dermaga harap, pada manusia, yang juga sama dhaifnya. Pada manusia yang juga sama lemahnya.

Jikapun pada akhirnya harus menyeka air mata, maka biarlah itu sebagai perwakilan atas luapan rasa semata. Tapi, keyakinan itu haruslah seteguh-teguhnya tersandar pada-Nya saja. Seberat apapun persoalan kita, maka cukuplah Dia saja, cukuplah Dia saja, cukuplah Dia saja tempat kita bergantung.

Mungkin begitulah hikmahnya mengapa aku harus dihadapkan pada banyak kondisi di mana harapan-harapan itu hanyalah menjadi catatan asa saja. Banyak hal. Sungguh.
Sedih? Iya, tentu saja. Bohong jika aku tak bersedih. Setelah harapan itu terlambung begitu tingginya, tiba-tiba jatuh berserakan, menyisakan puing-puingnya saja. Tapi, semakin ia terjadi, semakin nyata sudah bagiku, bahwa ketika harapan itu sudah tersandar hanya pada-Nya saja, maka tak sedikitpun lagi ada KECEWA. Bersedih bukan berarti KECEWA. Karena sedih, bagiku hanya luapan rasa. Sedih, bukan berarti aku kecewa dengan setiap apa yang telah Dia tetapkan. Karena, tetap saja, apapun ketetapan-Nya, adalah sebaik-baik catatan episode hidup. Jika terasa berat, maka Allah telah punya jawabannya. Bahwa Dia tak pernah meletakkan beban di atas pundak hamba-Nya, melainkan setara dengan kesanggupannya semata. Tak pernah melebihi. Aku selalu yakin akan hal itu.

Read More