Phenomenon-Like P-gp

Kadang, aku ngerasa belajar itu kaya P-gp. P-gp yang bikin obat yang diabsorbsi itu di-efflux lagi keluar membran. Padahal, usaha untuk bisa melewati membran plasma itu luar biasa barriernya. Tapi, hanya karena si P-gp, dengan mudahnya di keluarkan lagi. Dan P-gp disinyalir merupakan salah satu penyebab (dari sekian banyak penyebab) terjadinya multidrug resistent. Dan si multidrug resisten ini (MDR) merupakan salah satu hal yang sangta ditakuti di dunia perubatan, di dunia klinis.

Ada satu fase dalam proses belajarku yang analoginya mirip banget ama P-gp. Seperti ada efflux pump yang membuat segala yang coba dimasukin itu nda bisa-bisa masuk. Ada beberapa inducer dan juga inhibitornya. Apa itu? Aku sendiri sebenarnya riweuh juga meng-kluster-kan causa efflux pump yang mengakibatkan sulitnya di serap ilmu itu pada satuan waktu tertentu. Tapi memang ada masanya, ketika aku merasa begitu sulitttt untuk menyerap. Meskipun kemudian sudah terserap, tapi seperti ada efflux lagi. Dan bahkan aku bingung, bagaimana mendefinisikan penyebabnya.

Yang paling parah dari effect of phenomenon-like P-gp (hehe, bikin istilah sendiri nih ayeeee. . .), ketika aku masih kelas 3 SMA. Kala itu sedang belajar matematika. Tiba-tiba. nyeseeeekk banget, sampai-sampai aku ngerasa sulit bernapas. Blank. Aku nda ngerti apa-apa. Tapi, aku sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa memang tak ada yang salah. Ini semakin diperkuat dengan diagnosa dokter UGD RSUD Kota Padangpanjang yang mengatakan bahwa sebenarnya semuanya baik-baik saja. Tak ada yang salah dengan fisiologis. Lalu apaaah? Psikis? Nda jugaa. Tapiii, phenomena itu memang mirip banget dengan P-gp. Saat kuliah S1, aku memang sempat merasakan fase-fase di mana aku sulit sekali menyerap. Lagi-lagi, seperti ada efflux. Hemm, tidak berlangsung lama sih. Paling banter juga cuma sehari doang. Tapi, menyiksa banget, ketika kita nda bisa memahami tiba-tiba apa yang sedang dijelaskan. (Kali ajah lo lupa berdo'a sebelum belajar, Theeeeel. Hehe...).

Nah, phenomenon like-P-gp itu kemarin kejadian lagi. Pas lagi belajar ROTD. Tiba-tiba nge-blank. Temen-temen pada heran, "Heh Fathel, tumben dieeeemm dan anteeeeeng ajah. Biasanya kan suka nanya, suka komen. Ko anteng bangeeet. Kliatan banget, lagi galaunya."
"Iye niihh, aye juga kaga tau, tiba-tiba nda bisa paham dan bawaannya galau banget."
Parahnya lagi, ketika ada pertanyaan, mengapa ACE-inhibitor itu tak boleh diberikan kepada pasien dengan RAS (renal arthery stenosis), dan aku sudah menemukan jawabannya, tinggal ngebacain ajah di hadapan temen sekelas, tapi tetep ajah tiba-tiba aku nda paham. Yang keluar dari mulutku hanyalah, "Maaf Bu, saya tidak paham bahasa Inggrisnya." Walaaaahh, gubrak! Bukaaan, bukan karena tak paham, tapiii, sedang tidak mencoba memahami. Lebih tepatnya, seperti ada perasaan menolak untuk memahami. Hehe, gawat yah? Hemm, sebenarnya tak segawat itu juga sih. Mungkin kesannya agak berlebihan ajah.hehe...

Hemm...
Mungkin diri kita butuh rehat. Rehat sejenak ketika mulai jenuh dengan aktivitas. Dan semakin nyata sudah, bahwa tanpa hikmah yang Allah sisipkan pada diri kita, sungguh diri kita nothing! Tak ada apa-apanya. Ilmu yang amat sangat terbatas adanya. Tak semua kita tahu, tak semua bisa kita kuasai. Dan karena itulah, tak ada alasan bagi kita untuk merasa lebih baik dari orang lain.

Ada satu hal yang sebenarnya sangat tidak kusuka dari sesuatu yang disebut "Sentimen Almamater". Hubungannya dengan P-gp apah? Mungkin salah satu P-gp inducer kali yah? Hahaha... :D. Tapi biarlah. Toh, belajar dan almamater adalah dua variabel yang tak saling berhubungan ko. Jika pun ada, mungkin juga tak terlalu bermakna signifikan secara statistikanya (ujia ajah pake chi-square kalo mau...hihihi). Dan belajar, bukan karena saya adalah almamater A, trus serta merta saya lebih atau saya kurang di bandingkan si X yang almamaternya adalah B. Belajar itu adalah proses yang variabel dependennya adalah diri kita sendiri. Sejauh apa kita mau belajar. Bukan, bukan karena ingin menunjukkan kalau kita JUGA BISA, tapi, karena belajar itu sendiri adalah sesuatu yang mulia bagi seorang muslim. Belajar itu juga bukan karena si A, B, dan C, tapi belajar itu adalah karena Allah perintahkan kita. Hehe, nda nyambung yah? Kacau juga nih. Hehe...

Okeeehhh, semangaattt belajarrrr....
kapan2 aku cerita lagi deh... :)



2 comments:

Tafadhol, jika ada pendapat lain, masukan, tambahan, kritikan dan saran, hehe, ayuuh... di kasi comment...^^
(jangan lupa pilih salah satu profil yg koment yah. biar termoderasi. jangan anonim. okeh? ^^)