Tragedi Jalan Bebatuan


Hmm…teman, aku punya cerita yang cukup menggelikan. :D
Jadi begini, tadi aku berangkat menuju Pasar untuk suatu keperluan. Karena gak ada Adek yang biasanya jadi ‘supir’, hee…terpaksalah diriku pergi sendiri. Nah, sesampainya di pasar, di jalan pinggiran pasar itu, aku bersorak ria dalam hati, “waah, Alhamdulillah, jalannya sudah diperbaiki” (sebelumnya, jalannya masi jalan tanah begitu, belom ada aspalnya). Rupanya, tak dinyana, itu jalan, ternyata jauh lebih ‘parah’ dari jalan sebelumnya, penuh bebatuan dan pasir (yang siap diaspal begitu), dan ternyata bikin roda motor jadi susah bergerak gituuh. Akhirnya, aku terjebak di sana, dan terpaksa nge-gas2 biar motorku bisa keluar dari ‘jebakan’ bebatuan dan pasir. Nah, ketika ‘peristiwa naas’ (halaaaah, lebay!) itu terjadi, lewatlah sebuah motor yang di atasnya bertengger tiga orang anak muda, seumuran SMA lah. Mereka menertawakanku. Ish…Ish….ish…, bukannya ngebantu malah menertawakan! Tapii, aku tak begitu ambil peduli dengan tawa mereka. Cuek ajah, sambil mikir…” Aaah, santai….santai…, besok juga belum tentu ketemu sama tuh orang.” Hihi.

Beberapa saat setelah berjuang, akhirnya, aku terlepas dari ‘jebakan’ dan bisa melenggang dengan bebas. Hehe. Tapiiiii, tak disangka-sangka, 3 orang pemuda yang tadi menertawakanku itu, malah akhirnya terjatuh di lokasi yang tidak jauh dari sana. Jatuh terjerembab ke jalan yang penuh bebatuan dan pasir, tempat di mana aku terjebak. Sejujurnya, aku jadi gak bisa menahan senyum melihat mereka itu. Bukan karena balik menertawakan mereka, tapi karena rentetan peristiwa sebelumnya.

Hehe…

Tapi, ada plajaran yang dapat diambil di sini.
Hmm…ketika kita menertawakan orang lain yang dalam kesusahan, bisa jadi kesusahan itu bahkan lebih berat bisa tertimpa juga pada diri kita.

Dari Watsilah bin Al Aqsa’ ra., berkata, Rasulullah saw bersabda: “Janganlah kamu memperlihatkan kegembiraan atas kesusahan yang menimpa saudaramu, bila tidak maka Allah akan mengasihani saudaramu itu dan akan memberi cobaan kepadamu.” (HR. At Turmudzy)
Read More

Guru yang Membunuh Muridnya

Suatu hari, seorang siswa SMP kelas 1 itu dengan semangatnya berangkat menuju sekolah… Di genggamannya, ada segulung kertas. Yah, itu adalah pajangan struktur kelasnya di mana ia mendapat kepercayaan untuk membuatnya. Dan pagi itu, ia akan menyerahkan karyanya kepada gurunya tersebut.
Betapa riangnya ia, karena ia telah membuat pajangan struktur kelas itu dengan sungguh-sungguh. Dan hasilnya, tentu saja jauh berbeda dari kelas-kelas lainnya yang hanya membuatnya di sebuah kertas polos, tanpa motif. Tapi ia, membuat struktur itu begitu berbeda. Penuh warna, penuh keceriaan. Dan hasilnya sungguh cantik.

Ketika sampai di kelas, ia menyerahkan pajangan struktur kelas itu dengan riang. Namun, ketika sang guru melihat karya muridnya itu, dia langsung berkata,
“Apaan ini! Struktur kelas itu tidak begini! Ada bagan-bagannya! Ini apa ini? Cuih!?”
Ceria kontan berganti muram di wajah sang murid. Jangankan apresiasi, ucapan terima kasih saja tidak ia terima dari sang guru! Justru yang ia terima adalah penyalahan! Dan, yang parahnya lagi, yang dipersalahkannya tidaklah salah! Itu sebuah kreativitas, yang bahkan tidak dimiliki oleh anak-anak lainnya!
Dan sang murid itu pulang, dengan tangis!

Andai guru itu tahu, bahwa sang murid telah mati-matian membuatnya, bahkan merelakan waktu belajarnya! Dua hari! Yap, dua hari ia membuatnya dengan penuh semangat!
Aku, sungguh merasa kasihan pada murid itu dan merasa sangat geram pada sang guru. Beginikah cara mendidikmu, Bu Guru?
Jika memang demikian, sungguh, kaulah pembunuh berdarah dingin!
Pembunuh yang membunuh karakter-karakter muridmu!
Jika banyak guru-guru lain yang bermental sepertimu, maka, negeri ini akan kehilangan banyak harapan!

Meski geram, aku pun sangat kasihan padamu, Guru macam ni! Kasihan sekali anak-anakmu. Tumbuh dalam asuhan ‘pembunuhan’mu!

Mari kita meneladani Rasulullah dalam memperlakukan seorang anak…
Dari Anar ra., berkata : “belum pernah saya memegang sutra baik yang tebal maupun yang tipis, yang lebih halus dari tangan Rasulullah saw.; dan saya belum pernah mencium bau yang lebih harum dari bau Rasulullah saw. Saya pernah menjadi pelayan Rasulullah selama sepuluh tahun, beliau sama sekali tidak pernah mengatakan ‘”hus” kepada saya, begitu pula beliau tidak pernah menegur dengan ucapan, “kenapa kamu berbuat seperti itu?” terhadap apa yang saya kerjakan, dan beliau juga tidak pernah menegur dengan ucapan “kenapa kamu tidak berbuat demikian” terhadap apa yang tidak saya kerjakan. (HR. Bukhari dan Muslim).

Masya Allah…
Perhatikanlah kalimat Manusia Agung yang ma’shum ini. Yang tidak punya kesalahan dan dosa ini. “kenapa kamu berbuat seperti itu?”, adalah kalimat-kalimat penyalahan. Dan beliau tidak pernah melakukannya kepada anak-anak! Lalu, apa hak kita untuk melakukan penyalahan itu, sementara kita juga banyak salah, banyak dosa dan begitu dhaif.
Read More

Pink Viruses

Berikut ini, bukan tulisanku loh. Hee... Hasil selancar niiih… Kebetulan terdampar di 'pulau' ini. Yaah, akhirnya 'kubawa' pulang...
Lucuuu banget....sekaligus menggelitik, dan mengena!
Yo wis, selamat membaca sahajaa...

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Akhi.....
Kemarin, Aku jatuh cinta padamu...
Sebuah rasa yang tak seharusnya singgah di hati ini. Ku biarkan bersemayam dan terus bersemi di sela-sela percakapan kita kala itu. Aku mungkin tak mengenalmu, kecuali di sini, di dunia maya ini. Tapi, sejuknya tuturmu dalam membahas setiap kemelut masalahku, mendekatkan jarak yang tak tersentuh itu di bilik hati.

Akhi,
Segalanya dimulai dari sini. Awalnya padamu, hanya rasa kagum saja yang ku beri. Kagum pada pemikiran-pemikiran mu yang cemerlang, kagum pada kesholehan yang kau tampilkan di ruang mayamu, kagum pada kata-kata penuh hikmah yang kau coret di sela-sela catatanmu. Tak lebih.
Lalu...
Kekaguman itu membuahkan rasa penasaran, betapa aku ingin mengenal pribadimu. Dekat.. dan lebih dekat lagi. Tapi, sebagai seorang akhwat, aku terlalu malu untuk mulai sekedar menyapamu terlebih dahulu (takut engkau menganggapku akhwat centil), berharap engkau menghampiri akupun tak lebih hanya sebuah mimpi (toh, aku tak begitu penting bagimu, bahkan engkau tak mengenalku walau secuil pun).

Hari-hari ku lalui sembari memikirkan cara untuk bisa memulai perkenalan denganmu. Aha!!! Aku tau!!! Kenapa aku tak memulainya dengan pura-pura bertanya masalah seputar fikih, politik atau bertanya apa sajalah. Aku yakin, engkau pasti akan membantu menjawabnya sebisamu. Nanti, perkenalan yang kuinginkan bisa dirajut dari sini.

Ekspedisi pun dimulai. Dugaan ku benar. Segala tanya ku kau jawab dengan sangat memuaskan. Atau bila ragu, kau janjikan menjawabnya di lain hari. Aku senang. sangat – sangat senang. Sebenarnya kau tak perlu menjelaskan lebih banyak lagi. Toh, terkadang aku sudah tau jawabannya. bahkan lebih tau banyak darimu. Di google bisa ku temukan beragam jawaban dari tanya yang ku lontarkan padamu. Dunia maya mempermudah segalanya.

Detik waktu berlalu. Atas kecerewetanku yang tak henti-hentinya mengejarmu dengan beragam pertanyaan, membuat Kita semakin akrab, lebih akrab dari yang ku duga. Selanjutnya aku tak hanya sering bertanya padamu, bahkan mulai berani menceritakan beragam masalah pribadi yang ku hadapi padamu (curhat gettoh). Engkau tak pernah menolak, bahkan kau tenangkan segala pikiranku yang kusut akibat kemelut masalah yang datang di segenap aktivitasku. Solusi yang berisi Kata-kata menyejukkan dan bijaksana itu menghadirkan rintik-rintik rasa yang entah, rintik-rintik rasa yang menggetarkan perasaan, menghadirkan gamang ketika percakapan-percakap an yang kita lalui sore itu harus berakhir ketika adzan maghrib memanggil. Huuuffttt...
Suatu ketika, kesibukan aktivitas yang menguras tenaga membuat ku tak sempat menyinggahi dunia maya hingga hitungan minggu. Ada rindu tak menentu (andai kau tau... bahkan ketika duduk, berdiri, berjalan, makan, bahkan mimpi-mimpiku semua berisi tentang kamu) menggodaku untuk kembali menapaki hari-hari penuh tawa bersamamu (shaaaaaaaaaaaaaaaa aaaap).
kubuka inbox pada emailku...
Waw!! Ada pesan darimu...
"Ke mana aja ukh, lama gak keliatan. Sepi juga nih gak ada anti"
Pada sederet kalimat itu, Senyum ku mengembang. Pipi ini merona merah jambu. Bahagia menelusup pada rindu-rindu yang ku pendam. Aku yang mudah tersanjung, yang mudah melambung, seketika merasa, perasaan yang ku biarkan tumbuh ini tak bertepuk sebelah tangan. Segera saja aku meluncur pada sebuah ruang tempat kita biasa berbagi cerita. Tak sabar ingin segera menyapamu lagi. Sayang, kau yang biasanya selalu duduk manis did aftar bangku sahabat-sahabat mayaku, kali ini tak kutemukan bersemayam disana. Kecewa ? tentu saja. Sebab tujuanku gentayangan disini hanya untuk bertemu denganmu.
Satu detik, satu menit, satu jam, terus kutunggu.. nyatanya kau tak jua hadir hari itu. Gerimis membasahi hatiku atas segenap rindu yang tak terbayar kali ini. Biarlah... mungkin kau sibuk, toh besok-besok aku bisa mencarimu lagi di sini. Aaah... coba kalo aku punya no. hape mu..

Esoknya kucoba lagi menunggumu disini, kau masih tak datang. 2 hari, 3 hari, 1 minggu.. tetap tak ada kabar. Lantas, malu-malu kucoba tanyakan keberadaanmu pada sahabat ku yang juga mengenalmu disini. Ternyata ia juga mencarimu.. >_< cemburu terbit dihatiku. Kemudian, dari deret-deret kalimatnya mengalirlah beragam cerita tentangmu malam itu. Ternyata ia mengenalmu jauh melebihi aku. Ia tahu segalanya tentang kamu. Bahkan tentang apa saja yang kau suka dan tak kau suka. Lama aku tenggelam dalam gemuruh curhatnya. Ternyata ia menyukaimu. Bahkan bermimpi untuk membangun rumah tangga bersamamu. Aku kaget. Bahkan tak percaya. "tapi ukhti....." ucapnya kala itu ... ada akhwat selain aku yang juga menyukainya, dan berharap sama seperti yang kuharapkan dan ku impi-impikan. " Kali ini kagetku berlipat-lipat. Aku pikir hanya aku satu-satunya wanita yang rajin kau sapa, tempat kau berbagi cerita, akhwat yang tak henti kau semangati untuk terus menuntut ilmu dan mengaji. Aku pikir hanya aku satu-satunya yang menaruh harap kepadamu. T_T. Nyatanya.... huuuuuuuuuuufft. . kutarik nafas dalam-dalam atas sesak yang menggerogoti rongga dadaku. Mataku mulai panas. Aku tak ingin berlama-lama disini, membaca seribu sikapmu yang tak pernah kuketahui. Kututup percakapan itu, lantas pulang dengan seribu kecewa dan mata berkaca-kaca.

Berminggu-minggu tak kusinggahi dunia semu penuh hayalan palsu yang sempat melukai hatiku itu, sampai akhirnya. kuputuskan untuk menemuimu lagi. Kali ini tak ada lagi nuansa rindu, secuilpun tidak. Kontemplasi panjangku di sudut kamar beberapa malam yang lalu, telah menyadarkan aku pada perasaan yang seharusnya tak pernah kubiarkan bersemi sebelum waktunya itu. Sebuah perasaan yang Allah haramkan menggerogoti hatiku. Zina perasaan. Aku sadar, hubungan kita di dunia maya kala itu adalah sebuah kesalahan. Dan syaithon membumbuinya dalam kegilaanku padamu. Aku hanya ingin memperjelas sikap-sikapmu padaku dan pada akhwat-akhwat yang kau tumbuhkan bibit cinta di hatinya itu.

Alhamdulillah, ternyata kali ini kau tak ke mana-mana. Ragu-ragu aku menyapamu. Kau membalas hangat sapaku, seperti biasa. Menanyakan kabarku, aktivitasku, dakwahku, semua tentang aku. Kujawab seadanya. Aku tak ingin terjebak kedua kalinya pada rasa yang salah.
"Akhi... adakah akhwat yang rajin bertanya padamu selain aku ?"
"Ya.." jawabmu datar. "Kenapa, ukh ?" lanjutmu penuh tanda tanya.
"Berdasarkan survey yang kulakukan belakangan ini, ternyata anta termasuk jajaran top ikhwan di fesbuk ini. Ternyata banyak akhwat yang mengidolakanmu. " Paparku.
"Oh ya ?? kok bisa sih ?? padahal ana biasa-biasa aja tuh." Masih datar.
"Mereka bilang.... dari sekian banyak ikhwan yang berkelana di dunia maya ini, antumlah yang paling bijaksana, paling ramah, paling baik, paling luas wawasannya, paling pengertian, paling perhatian, paling....."
"Eh ?? ntar..ntar.. " potongnya.
"Paling perhatian ? paling pengertian ?? paling ramah ?? waddoohh... ana gak ngerasa gitu kok ukh. Perasaan, ana biasa-biasa aja deh menyikapi mereka yang sering bertanya ke ana, ya.. seperti sikap ana ke anti lah..."
Aku tersedak. Kaget. Sumpah. kamu bilang sikapmu ke akhwat lain itu biasa aja, seperti layaknya kamu meladeni percakapanku ??
Tidakkah kamu sadar, bahwa sikapmu padaku –yang kau bilang biasa- itulah yang membuatku jatuh cinta padamu ?? lalu, bagaimana dengan berpuluh-puluh akhwat yang kau ladeni obrolannnya ?? ckckckckck.. . pantas saja banyak akhwat yang berpikir bahwa kau juga menyukai mereka, seperti aku.
"Akhi, bolehkah ana mengoreksi sikap anta itu sedikit saja"
"Ya, tafadhol ukh" jawabmu.
"Mungkin anta gak sadar bahwa kebaikan, keramahan, serta sikap-sikap yang anta bilang biasa itu telah menimbulkan sebersit rasa yang seharusnya gak timbul di hati akhwat yang anta bantu pecahkan masalah"nya, yang anta henti-henti anta semangati hari-harinya, yang tak putus-putus anta nasehati segala lakunya..."
"Rasa apa ??" selamu.
"Rasa cinta"
"Hah ???
Aku tau kau kaget.
"Ana gak berniat begitu ukh. sungguh. Mereka bertanya, ya ana jawab. Mereka konsultasi, ya ana kasih solusi donk. Mereka cerita, ya ana ladeni. Mereka menyapa, ya ana jawab. Ana gak mau disangka sombong. Semuanya ana sikapi biasa-biasa aja ukh. Tapi, kalo akhwatnya merasa begitu....."
Kutunggu kelanjutan pembelaanmu. Ternyata memang sengaja kau gantung hingga disitu. Kulanjutkan perkataanku "mungkin sikap seperti itu memang akan biasa-biasa saja, kalo lawan bicara anta itu sekaum dengan anta. Masih sebangsa ikhwan. Tapi, mereka akhwat akh.. perasaannya sensitif, mudah tersanjung, sedikit saja anta perhatian, mereka –termasuk ana- akan jadi berbunga-bunga (sebenarnya tergantung akhwatnya juga sich ^__^ kalo ana sih gak begitu Rei... Suuuerrrrrrr! !!!! Hihi). mereka akan berpikir, bahwa anta pun ada rasa terhadap mereka. anta tau kan.. semakin sering bertemu, semakin sering berbagi cerita, maka persentase djatoeh tjinta itu semakin besar ??"
"Lalu ana harus gimana ukh ?? cuek aja waktu mereka nanya ?? ana gak bisa sesombong itu...."
"Menurut ana..." jawabku
"Seharusnya dari awal-awal anta udah kasih lampu merah ke mereka. saat mereka bertanya ke anta, untuk yang pertama kali bolehlah anta jawab. Tapi selesai menjawab.. bukankah ada baiknya anta tawarkan mereka untuk berkenalan dan bertanya tentang apa yang tak mereka ketahui pada akhwat yg juga luas wawasannya, juga fakih dalam masalah agama seperti anta. Lantas jelaskan padanya berbagai kemudhorotan yang ditimbulkan dari interaksi ikhwan wa akhwat di dunia maya yang penuh teppu dayee ini. Bukankah ini lebih menjaga hatinya, juga hati anta ?? agar dikemudian hari tak kan ada sentakan-sentakan rasa segala. Yang penting.. jangan biarkan percakapan anta dan mereka berlangsung lama, berlarut-larut, bahkan sampe curhat-curhatan segala. Anta tau kan, khalwat di dunia maya juga berbahaya. ^__^. Ada setan di bangku tiga. (opleeeet kaleeeeeeeee)
"Yelah.. tapi jangan ana aja donk yang dinasehatin, akhwatnya juga dong. Biar gak nodong-nodong ana lagi dengan beribu pertanyaan" sewotnya.
"Yuuppz.. akhwatnya juga, jangan sekali-kali nanya ke ikhwan. Toh, di dunia maya ini juga banyak akhwat-akhwat yang lebih cerdas daripada anta. :p selain itu, pertanyaan-pertanya an yang timbul ini sebenarnya bisa dicari jawabannya di kamar mbah google, tul gak ??"
"Yaaaaaaaaaaaaaaaaa aaa…"
"Pada dasarnya, kita –akhwat atau pun ikhwan- tau bahaya keseringan interaksi di dunia maya ini bisa merusak hati. Tapi, kadangkala ghorizah nau' ini mudah terpancing untuk disalurkan. Merasa butuh perhatian dari lawan jenis (Padahal di rumah ada ayah, adik, atau abang-abang kita yang juga berlawanan jenis dengan kita, lebih suuaayang lagi ama kita) Kalau sudah begitchu, kenapa gak merit aja sekalian yah..
Duit mah, urusan belakangan. Toh, anak ayam yang baru lahir aja udah disiapkan Allah rezekinya. Apalagi kita, anak manusia yang udah dewasa, punya akal yang top cerrrr lagi.

copas dari : http://adreem68.multiply.com/journal/item/34/VMJ_Video_Music_Jokey_Atw_yg_Lain...

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Haha, sebenarnya sih, ‘ngeri’ jugak euy, mempaste tulisan orang, apalagi bertajuk ini. Hmmpphh… Tapi, sekali-sekali bolehlah… Hihi. Abis, kenak protes siih, “kenapa siih, masih bahas2 beginian? Bukankah ini manjagoan nan lah lalok?”
Hmmph….manjagoan nan lah lalok? Permasalahannya adalah ini semua, telah terjadi semacam pergeseran gituh. (sebenarnya, lebih tepatnya, menasihati diri sendiri loh…sstttt!)

Nah…nah…, dalam batasan interaksi ini, salah seorang sahabat pernah member masukan, dan sekaligus memberikan ‘definisi’ bagaimana dalam berinteraksi tersebut.

Dalam hal mu’amalah, konsepnya adalah semua hal boleh sampai ada dalil qath’I yang melarangnya. Lalu, bagaimana jika case nya adalah, SMS-an antara ikhwan dan akhwat? Adakah dalil qath’I yang melarangnya? Bagaimana sih, bagaimana interaksi itu masih digolongkan boleh, dan bagaimana yang tidak?”
Nah… nah…, dalam interaksi tersebut, dalam komunikasi, Cuma melibatkan dua hal. Petama pengirim dan penerimanya dan kedua isinya.
Jika isinya tidak bermasalah yah tidak apa-apa. Hati pun tidak akan bermasalah. Nah, berarti tiggal keadaan pengirim dan penerimanya. Jika hati mereka, atau salah satu mereka bermasalah, ya bisa jai masalah. Boleh jadi, putih yang dikirim, merah jambu yang diterima. Makanya, biar pesan yang disampaikan pas sesuai makna, kata-kata yang digunakan kudu jelas.

Alat dan sarana itu dihukumi sesuai tujuannya. Contoh, pisau, dia bisa jadi baik, jika tujuannya baik, missal buat qurban. Jadi buruk jika dipakai buat bunuhin orang. Nah, SMS dan media lain juga begitu. Tetaplah jaga adab. Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu.

Masalah VMJ, adalah masalah yang benar-benar menganggu da’wah. Nah plajaran yang dapat diambil adalah, “Janganlah pernah engkau sandarkan hatimu pada seseorang, sebelum ia halal bagimu.” Jadinya, segera tepis was-was syetan dengan senaniasa menjaga Allah di hati kita.
Read More

Duhai Diriku....!!!



Duhai diriku, apa yang kamu lakukan jika guru agamamu melakukan tes gerakan dan bacaan sholat, lalu member nilai atas praktek sholatmu itu?
Pasti kau akan menampilkan dengan penampilan sholat terbaik dan bacaan terfasih lagi khusyu’, bukan?
Dan, bukankah di kala itu, pikiranmu terfokus pada ujian itu, sehingga setiap gerakkan dan bacaannya kau lakukan dengan sebaik mungkin?
Dan bukankah yang kau harapkan adalah, gurumu memberikan nilai terbaik atas gerakan dan bacaan sholat yang kau peragakan, agar nilai yang tertera di ijazahmu tidak memalukan?
Bukankah demikian?


Duhai diriku,
Lalu bagaimana jika yang melakukan ‘tes’ itu adalah Rabbmu, yang hanya kepada-Nya lah ibadah itu dilaksanakan, yang langsung di hadapan-Nya? Yang mengetahui segalanya dengan sangat detil, jauh berkali lipat tak berhingga, dibandingkan pengawasan guru agamamu yang terbatas itu?
Adakah kau lakukan gerakkan paling sempurna dan bacaan paling fasih yang dilakukan dengan khusyu’?
Adakah kau lakukan yang terbaik?
Padahal, ini bukan lagi sekedar tes, namun, adalah yang sesungguhnya!


Wahai diri,
Adakah kau memberikan penampilan terbaik di hadapan Rabbmu?
Dan, adakah kau berusaha agar ‘nilai jazahmu’ di akhirat kelak bernilai baik dan tidak memalukan?

ÙˆَÙ‚ُومُوا Ù„ِÙ„َّÙ‡ِ Ù‚َانِتِينَ...
...Berdirilah untuk Allah (dalam salatmu) dengan khusyu'
Qs. Albaqarah : 238


Wahai diri,
Ingatlah, ketika amalan manusia diperlihatkan Allah kepada manusia, maka manusia itu akan tenggelam dalam keringatnya karena malu. Malu, karena semua yang pernah disembunyikan terkuak sudah. Tenggelam dalam keringat sendiri. Semata kaki,selutut, sepinggang, sebahu, bahkan termegap-megap. Lalu, apakah kau akan tengelam dalam keringatmu sendiri wahai diri?
Read More

Cita-cita Si Kakak


Ini kisah aku dan keponakanku. Namanya Ilfa. Tapi, kami biasa memanggilnya dengan sebutan “kakak”, karena ia anak pertama. Umurnya 7 tahun lebih. Sebentar lagi memasuki angka delapan.

Suatu hari, aku bertanya padanya, “Kakak, cita-citanya apa?”
Dengan semangat si Ilfa menjawab, “Mau jadi dokter!”, aku tersenyum. “Kalau Tek Pi?” Tanyanya polos.
“Hmm… jadi apoteker…”
“Apoteker itu apa?”
Hehe, aku sudah menduga pertanyaan ini akan muncul, toh sebelum aku menjawabnya, aku sudah begitu yakin si Kakak bakalan mempertanyakan pertanyaan ini.

Jangankan si Kakak, orang umur tiga puluhan atau empat puluhan aja, juga banyak yang mempertanyakan hal yang sama. “apoteker itu apa?”
Wah, parah yah? Padahal, dokter dan apoteker kan juga sama-sama mengikuti pendidikan profesi.
Dan, secara strata kependidikan, kan juga sama. Tapi, dokter lebih dikenal yah?

Hoo..iya! dokter! Hmm…cita-cita yang begitu generic. Begitu generalisata. Jika ada rating cita-cita, maka aku yakin, dokter adalah cita-cita dengan nilai tertinggi (setidaknya di negeri ini…). Dahulu, ketika MOSA berlangsung (MOSA adalah masa orientasi siswa asrama SMA 1 Padangpanjang) di mana, untuk mendapatkan seperdelapan tanda tangan (haha, tanda tangan ada seperdelapan, bahkan sepertigapuluhdua nya segala! Yang begini niih, cuma ada di MOSA), aku memberikan syarat kepada adik2 peserta MOSA, bahwa mereka harus menyerahkan biodatanya, lengkap! Itu syarat untuk mendapatkan setengah tanda tangan. Dan, setengahnya lagi, dengan syarat “Nanti temui kakak di kelas ipa satu yah.” Hihihi. Ada bermacam-macam syarat yang ada di MOSA itu, mulai dari ngitung jumlah cubadak di belakang kantor manjlis guru, bikin puisi, bikin cerpen, bernasyid ria hingga yang ngafal surat Annaba’. Ada yang menyaratkan seperdelapan tanda tangannya untuk 5 ayat surat An-Naba’. Jadi, untuk menggenapkan menjadi satu tanda tangan utuh, ia harus menyetorkan 40 ayat annaba’. Masya Allah. Dan, harus mendapatkan 120 tanda tangan Uda-Uni—untuk kelas2—Abang-dan Kakak—untuk kelas 3. Jika tidak mendapatkan semuanya, siap-siap nguras kocek buat bayar pengacara di persidangan Mahkamah Asrama. [halaah, buat apa sih bahas2 MOSA segala! Hehe. Tapiiii, bagemanapun, bagi siswa asrama SMAN 1 Pdg Panjang, MOSA adalah momen menarik yang tak terlupakan. Hihi].
Dari 60 orang siswa asrama yang menyerahkan biodatanya kepadaku, lebih dari dua pertiganya menuliskan dokter sebagai cita-cita. Hmm…dan seingatku, tidak satupun yang menuliskan apoteker. Hehe, sama sepertiku yang sama sekali tak pernah bercita-cita menjadi apoteker dulunya. Bedanya dengan kebanyakan mereka, akupun tidak menuliskan dokter sebagai cita-cita. Hehe.

Tapi, ya sudahlah… sebagai seorang apoteker (cieee, sebagai seorang apoteker skarang cuy! Hihi) aku emang harus terima kenyataan ini, bahwa profesiku ini belumlah dikenal. Lagian, aku pun sudah sering bertemu pertanyaan yang sama, yang membuat aku harus punya segudang cerita untuk menjelaskan apa itu apoteker. Sudahlah…sedang tak ingin membahas hal ini.

Hanya saja, mari kita petik satu hal saja. Kenapa, cita-cita harus senantiasa dilekatkan dengan kata profesi?
Tanya : “Apa cita-citanya?”
Jawab : “Mau jadi dokter, apoteker, polisi, pilot, hakim, guru, arsitek, atau programmer”. Hmm…kenapa?!
Jika memang demikian, maka sungguh sangat terbatas sekali cita-cita itu. Tidak bisa dilakukan sekaligus. Misalnya, tidak ada apoteker yang merangkap sebagai polisi. Tidak ada arsitek yang merangkap sebagai dokter. Iya tho?!

Kenapa tidak dari dahulu, diajarkan, bercita-citalah sebanyak-banyaknya! Setinggi-tingginya (kalau setinggi-tingginya sih sering. Tapi, sebanyak2nya…hmm…jarang!) Dan, jangan hanya kaitkan dengan profesi saja, sebab, menjadikan mereka memburu kerja, bukan?
Coba misalnya, cita-citanya, nanti mau masuk surga… Cita-citanya nanti, mau lebih pinter dari orang Yahudi. Cita-citanya nanti, jadi ibu rumah tangga yang baik (ups! Hihi). Cita-citanya nanti pengin kaya’ Abdurrahman bin Auf, yang kaya tapi dermawan. Cita-citanya, mau bikin peradaban islami. Cita-citanya, jadi penyuplai dana untuk kegiatan-kegiatan yang melawan arus global warming….eh salah…arus ghozwul fikry. Cita-citanya, mau mengusai dunia informasi dan teknologi, biar pencitraan islam lebih baik lagi, biar paradigm masyarakat dunia tidak melekatkan islam dengan teroris. Hayooo….

Hehe…
Hanya sekedar wacana saja. Mari meluaskan arti cita-cita, karena panjang pendeknya nafas perjalanan kita, sejauh mana cita-cita kita (haha, kata2 yang begitu sering diulang2. Apakah membosankan membacanya? Hihi. Tapi, kuberharap, semoga memberikan semangat. Itu saja.)
Read More

Bukit Ladang

Cihaaa….asyiiik, masuk hutan lagih! Hehe. Jadi ingat KL dulu uy. Masuk hutan, kluar hutan. Nah, nyang ini tak jauh beda. Masuk hutan ke luar hutan juga. Banyak acek juga. Banyak karo juga. Dan, disangek panyangek juga. Hehe. Hmm…, kali ini perburuannya menuju lading, di sebuah perbukitan. Hiiyy…, rada-rada serem sih. Tapi, banyak objek menarik di sini. Hee…

Dapet oleh-oleh deeeh..^__^















Read More

Kenapa PNS???


Perjalanan 70 km pp, menuju Ibu Kota Kabupaten. Hmmph… Sejujurnya, aku jarang sangad mengunjungi ibu kota Kabupaten sendiri. Hehe. Abisnya, posisinya bertolak belakang siiih, sama perjalanan menuju Padang. Tapi, kalo udah ke sana, biasanya, begitu banyak objek photo menarik. Pemandangan kebun teh yang luaaaaaaasss sangadh, di kaki gunung kerinci. Waah, subhanallah, cantiq banget.

Kali ini, tujuannya ke kantor depnaker. Hahay…, mulai jadi pencaker niih saia. Hmmph… *nasheeeb jadi pengangguran. Bahkan, pulsa aja kaga kebeli. Hiks…hiks….

“Ibuk, apoteker yah?” Tanya Bapak dengan kisaran umur 40 tahun itu. Aku mengangguk. Ini berlangsung Ketika aku mengurus surat-surat itu.
“Apoteker, kenapa maujadi PNS Buk?” si Bapak mengeluarkan pertanyaan retoris.
“Ng…uhm….” Aku hanya bisa menggumam saja, sambil nyengir. Abisnya, aku sendiri pun tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan yakin.
“PNS itu gajinya kecil, kerjanya setumpuk. Ini nih, lihat nih.” Si Bapak menunjukkan setumpuk berkas-berkas yang entah apa isinya.
Lalu, keluarlah ‘taujih’ dari si bapak, betapa tanggungan Negara itu cukup banyak, dengan gaji pegawai tersebut. Sebagai seorang apoteker, dengan beban kerjanya yang sebegitu, harus mendesain bagaimana harga obat bisa murah, sementara produksi obat itu sendiri mahal harganya. Aku akui ini. Semua menjadi polemic tersendiri bagi pharmacist. Yup, soal harga obat ini. Betapa, mendesain suatu formula, dari API (active pharmaceutical ingredient) itu, hingga jadi obat jadi yang siap dipasarkan, butuh dana hingga trilyunan. Pantas saja, Negara kita hanya bisa “nyontek” formula dari Negara maju. Semuanya import. Jika begini, bagaimana bisa menekan obat? Sementara, jika dilihat di kalangan masyarakat yang ekonominya menengah ke bawah, tentu tidak snaggup beli obat semahal ini. Dan disinilah letak kerja berat pharmacist itu. Di antara polemik2 itu. Hmmphh…

Pada dasarnya, aku tidak suka kemonotonan. Aku suka berkreasi, dan begitu fluktuatif. Sebenarnya, apapun bisa ‘dijadikan’ duit. Mau dari kreatifitas, mau dari “otak kiri”, mau dari hobby. Tapiiii, yah itu tadi. Modalnya? Investasinya? Aah, bukankah kebanyakan pengusaha sukses berawal dari nol? Berawal dari susah-susah dulu. Berawal dari kepahitan dulu. Setelah ia banyak makan asam garam Bronsted Lowry kehidupan, barulah kemudian mulai menapaki kesuksesan.

Humph…, PNS…
Tapi, jika ditelik dari sudut pandang lain, Menjadi PNS tentu ada baiknya juga. Reformasi Birokrasi misalnya? (hahay, gaya cuy!). Tapi, reformasi mana bisa dilakukan dengan infirodi yah? Hee… Setidaknya, jika menjadi PNS, maka menjadi tugaslah ia, apa yang disebut dengan profesional pharmacist di bidang pengadaan. Bagaimana, biar orang miskin dapat obat. Tidak hanya orang kaya saja yang bisa beli obat. Ini tentulah bukan tugas yang ringan.
Ah, yang terpenting, lakukan yang terbaik… di mana pun itu, dan menjadi apapun itu.


*Aih, jadi rada ngaur yah, tulisan ini. Abisnya, aku menuliskannya ketika idenya udah menguap siiih. Ya sudahlah! Hee…
Read More

Ruh-Ruh Baik, Penuh Kebaikan


Sungguh beruntunglah mereka… sungguh beruntunglah… Beruntunglah mereka yang apabila kita membersamainya, membuat kita ingat kepada Allah…

Tapi sodaraku, bukan berarti begini. Bukan berarti ketika kita naek angkot, lalu sang nakhoda, eeh…sang supir maksudnya, melarikan itu andong..ehh..angkot dengan kecepatan 180 km per jam, lalu membuat kita langsung beristighfar dan langsung ingat mati, langsung ingat Allah, dan langsung ingat bahwa amal-amal kita masih sedikit… Hehe. Bukan….bukan yang seperti ini yang kumaksudkan.

Tapi, orang-orang yang ketika kita bersamanya, jangankan mendengarkan kalimatnya saja, cukup memandangi wajahnya, telah menyejukkan hati kita dan membuat kita ingat kepada Allah, dan membuat kita ingin melakukan kebajikan karenanya. Masya Allah. Sungguh luar biasa mereka itu. Sungguh luar biasa, mereka yang memiliki ruh-ruh yang baik itu.

Pernahkah kau rasakan? Mungkin pernah. Ada kalanya, ketika kita berjumpa dengan seseorang, lalu, yang kita rasakan hanyalah sekedar mimpi-mimpi dunia belaka. Atau, bahkan hanya ngalor-ngidul saja. Hanya canda-canda saja. (Astaghfirullaah…astaghfirullaah…barangkali kita—terutama diriku—adalah pelakunya).

Namun, ada kalanya, ketika berjumpa dengan seseorang, yang kita rasakan justru pancaran kebaikan. Mungkin ia tak banyak berkata-kata. Tapi, sedikit nasihatnya saja, sudah membuat kita ingin berlama-lama dengan kebajikan. Karena mereka berbicara birruh… dengan ruh, dengan bukti nyata amal perbuatannya. Tidak sekedar kata. Sungguh, beruntunglah mereka itu.

Memang, ruh, iman, adalah sesuatu yang yazid wa yanqus. Ada kalanya naik, ada kalanya turun. Dan, sungguh adalah suatu yang absurb jika seseorang terus berada di puncak grafik keimanan, selalu. Bukankah sudah fitrahnya begitu? Bahkan, kata seorang ustadz, “tidak masalah jika kita ‘kehilangan’ hafalan, karena dengan demikian, kita akan berusaha untuk menjemput dan kembali menjemputnya. Dengan demikian, ia akan menjadi salah satu ceruk amalan bagi kita. Ia yang akan menjadi pendapar bagi ruhiyah kita.” Bukan berarti ini membenarkan atas ‘kehilangan’ itu. Tapi, ini menyoal kontinutas barang kali.

Maka, sungguh, berkumpul dengan ruh-ruh shalih itulah yang kemudian menjadi salah satu ‘obat hati’ bagi kita. Orang-orang yang dengan melihatnya, akan mengingatkan kita kepada Allah. Ruh itu, akan senantiasa mempengaruhi, satu sama lainnya.

Jika memang demikian, tidaklah salah, jika kesendirian (tanpa jama’ah) atau memisahkan diri dari jama’ah akan lebih cepat mengoksidasi iman. Akan lebih cepat membuat kita menurun ke lembah ter-kritis grafik sinus keimanan. Karena, ruh-ruh itu saling mempengaruhi.

Dahulu, dalam sebuah diskusi pernah dipertanyakan, “hei, buat apa siih, ngumpul2 begitu? Bikin halaqoh—bikin lingkaran—begitu? Apalagi, kapasitas sang pembicaranya tidak selalu dari latar keagamaan yang jelas-jelas kafa’ah ilmunya bukan fiqh, ‘aqidah, hadits, apa pun itu?” Maka, jawabannya ada pada ruh-ruh yang saling mempengaruhi. Bahkan—seperti yang sudah kita singgung tadi—jangankan bicara, berkumpul saja, menatap wajah saja, sudah memberikan charger energy ruhiyah buat diri kita. Dan, jika hanya mengandalkan ilmu dari pertemuan yang singkat dengan kelompok-kelompok kecil saja, barang kali kita sudah salah persepsi. Karena, toh, sarananya bukan hanya ada kelompok itu saja. Masi tersedia sarana-sarana lain yang memang diisi oleh orang-orang yang berkafa’ah di bidangnya. Iya kan?
(haduuuuh, maap yaah, pembicaraannya jadi melenceng nih).

Jadi, sungguh…berkumpul dengan orang-orang shalih itu, akan mendatangkan obat hati bagi kita.
Read More

Hidup Bermatematika


Fungsi, persamaan kuadrat, titik maksimum, akar persamaan, pertidaksamaan. Lha, ini kan ‘bahasa’ anak SMA? Haha, iya, betul! Ini bahasa yang menjadi bahasan anak SMA. Tapi, kemudian juga harus menjadi ‘bahasa’ku. Yaaah, itung-itung buat ngasah otak kirilah. Hihi.

Sebenarnya, ini adalah plajaran-plajaran yang sudah ‘kutinggalkan’ sejak 8 tahun silam. (eh, 5 tahun silam ding! Karna kan masi berguna buat SPMB..hehe). Lima tahun di bangku perkuliyahan, aku tentu sama sekali tidak menyinggung grafik x di titik (3,5) dengan persamaan y=f(x)=4x-8. Haha, kaga nyambung! Maksudnya, aku sama skali kaga menyinggung plajaran2 yang berbau-bau persamaan kodrat (dan harkat dan martabat begini. Hihi). Tapi, tiba-tiba saja, aku harus menjadi guru (dadakan) matematika SMA. Hehe. (Kapan2, mending bikin bimbel atau ngajar privat gituuh, biar ada pemasukannya jugak. #OtakBisnis a.k.a MatreMulaiJalan#. Hihi).

Jika ingat belajar matematika, maka, aku ingat pernyataan salah seorang ukhty yang kebetulan adalah mahasiswa matematika dulunya. (Kusebut ‘dulunya’, karena sekarang ia sudah S.Si, bukan mahasiswa lagi. Hehe). Begini kira-kira kalimatnya, “Hidup bukan untuk matematika, tapi Matematika untuk hidup.”
Sebetulnya, aku susah payah memahami maksuddi ukhty. (Aaah, payah lo!). Matematika untuk hidup?!

Dan, sekarang aku mulai sedikit paham maksud ukht tsb, walaupun tak sepenuhnya paham. Hehe. Satu hal saja sebenarnya yang akan diajarkan kepada adik-adik tersebut, terhadap plajaran-plajaran semacam matematika, dan fisika, dan sejenisnya dah! MEMAHAMKAN KONSEP dari PLAJARAN itu sendiri. Yep, memahami konsepnya! Jika konsepnya tidak ‘duduk’, maka, sedikit saja dirubah gaya soalnya, maka, mereka akan kebingungan. (ini bukan berarti aku semasa SMA selalu paham sepenuhnya konsep matematika loh yah. Bisa Tanya temen2 SMA-ku deh, bahwa aku sesungguhnya bukan orang-orang yang berada di papan atas soal plajaran. *Nasheeeeb jadi orang menengah kebawah yah begini. Hehe.) Dan, kalo boleh jujur, aku baru paham konsepnya, justru ketika aku akan mengajarkannya kepada adik-adik SMA ini. Intinya, memandangnya dari sisi yang gobal, bahwa ini niiih, begini loh!

Tapi, ada plajaran berharga yang perlu kita petik di sini, tentang pemahaman atas konsep yang mendasari. Memahami diin ini, dan memahami apa yang mendasarinya. Yep, diin ini! Sama seperti memecahkan matematika. Ketika paham konsep, mau seperti apa gaya soalnya, ia akan dapat menyelesaikan dengan baik. Berbeda dengan orang gak paham konsep, ketika bentuk soal diubah sedikit, ia menjadi kebingungan menjawabnya. Nah, dalam diin ini, konsep yang mendasari itu, adalah ‘aqidah. Jika ‘aqidahnya sudah ‘duduk’, maka, mau bentuk apa saja penyimpangannya, maka ia pasti akan dapat memfilternya. Makanya, muwashofat pertama itu adalah salimul ‘aqidah. Aqidah yang bener dulu.

Mungkin di masyarakat kita melihat, adanya tradisi-tradisi yang telah ‘mencampuradukkan’ antara ‘aqidah yang benar dan salah. Membakar kemenyan untuk memperingati kematian. Memakai rempah-rempah biar anak tidak terkena ‘palasik’. Berobat ke dukun dan mengambil tanah kuburan, memberikan sesajen. Dan masi buanyaaaaak lagi, hal-hal lain yang seolah-olah menjadikan makhluk sebagai perantara turunnya kelapangan dari Allah. Dan, ini seolah-olah telah mengakar dan membudaya. Astaghfirullaah. Barang kali, tiadalah yang dapat kita lakukan, kecuali membekali diri kita dengan ilmunya, pengamalannya, lalu, mulai perlahan-lahan ‘membersihkannya’, dari keluarga kita, lingkungan kita. Sulit memang, tapi, insya Allah bisa. Perlahan-lahan.
Allahu’alam bish showab.
Read More

Mempersepsi Hidup


Beberapa hari yang lalu, telpon selulerku berdering nyaring. Rupanya, sebuah panggilan dari Psikolog-ku. (Halaaaaaah, gaya cuy! Pake psikolog segalaa. Hehe). Kami berkenalan secara tak sengaja ketika duduk bersebelahan di atas bus, ketika hendak menghadiri suatu dauroh dulunya. Tiga tahun silam tepatnya. Rupanya, kami menuju maksud dan tujuan yang sama. Dan, masya Allah, luar biasanya, sang psikolog ini, tiba-tiba saja, aku merasa begitu dekat dengannya. Barang kali karena, kami ‘nyambung’ banget kali yaah? Bukankah ruh-ruh itu ibarat prajurit yang berbaris? Yang saling mengenal akan saling menyapa ramah, dan yang tak saling mengenal akan saling menjauh. (haduh, lupa nih, redaksionalnya. Intinya ya gitu deh…). Ini adalah….kesesuaian ruh, barang kali. Yang jelas, yang kurasakan adalah…aku mencintainya karena Allah, meskipun ia bukan tipe orang yang suka kata-kata gombal. Hihi.

Kami bercerita panjang lebar dan tertawa. Lalu, aku bertanya mengenai kabarnya, bagaimana kondisinya? Ia menjawab, “Uni dalam keadaan baik-baik saja. Dan kondisi di sini, luar biasa menyenangkan!”
Aku mengernyitkan dahi.
Sebab, sebelumnya, aku juga ditilpun oleh ukhty fulanah yang berada di tempat yang sama dan waktu yang sama dengan si Uni, dan menceritakan kondisi yang sebaliknya. Ia mengatakan, “kondisiku hari ini tidak begitu baik. Sangat menyesakkan.”
Lalu, kepada uni psikolog kutanyakan, “kenapa Uni bisa mengatakan hal yang sangat bertolak belakang dengan ukhty fulanah, sementara uni berada di tempat dan waktu yang sama?”
Lalu, si uni menjawab, “HIDUP ITU TERGANTUNG BAGAIMANA KITA MEMPERSEPSINYA.”

Yup, I got the poin! Tergantung bagaimana mempersepsinya. Kita mungkin, sudah sering mendengar filosofi sesendok garam, segelas air dan sebuah telaga. Di mana, jika sesendok garam jika dimasukkan ke dalam segelas air akan membuat air itu asin. Sementara jika di dalam telaga, sedikitpun telaga tak berasa asin. Dan, garam itu adalah masalah sementara air dalam gelas dan telaga, adalah sempit atau lapangnya hati kita dalam mempersepsi suatu masalah. Hehe, kau pasti sudah sering membaca cerita ini, bukan?

Memang, begitulah. Namun kadang, jika kita berada di posisi si ukhty fulanah, mungkin tanpa kita sadari kita juga berada dalam kungkungan persepsi yang sama. Yang dibutuhkan adalah, energy bagaimana agar kita bisa keluar dari kungkungan itu.

Mari sejenak belajar dari si bocah kecil yang bermain air di atas. (fotonya di ambil di telaga murni, Parak Gadang , Sol Sel. Haha, jangan kamu suudzhan pula kalau aku ‘mancigok’ orang mandi! Hihihi). Lihatlah ekpressinya. Begitu bebas, tanpa beban.

Meskipun anak-ana yang baru mengenal dunia, mereka tetap memiliki masalah. Kita pun dulunya, ketika masih anak-anak, kita pun punya masalah kan yah? Masalah yang tentu saja sesuai dengan umur kita kala itu. Tapi, anak-anak begitu cepat menyelesaikan masalah! Hanya sebentar saja, lalu sudah lupa. Kembali ceria. Kembali tanpa beban. Lalu, kenapa ketika sudah dewasa, kita memikul masalah begitu berat di pundak? Mengapa kita tidak belajar saja dari si bocah yang berkspressi lepas tanpa beban itu? Bukankah kadar masalah itu berbanding lurus dengan kemampuan kita menyelesaikannya?

Naah…so what?
Hayuuk, mari merubah persepsi! Hayuk..hayuuk…
Read More