Kakek Penjual Kipas di Kereta


Suatu hari, di kereta kelas ekonomi…9 orang anak muda, mahasiswa, sedang berjalan-jalan. Tertawa-tawa. Bergembira-ria. Tiba2, lewatlah seorang penjual kipas, laki-laki tua yang bahkan untuk menjajakan jualannya saja, sudah tak jelas lagi. Sudah sangat tua.
“kipas….kipas….kipas….lima ratus…lima ratus!”
Kagetlah kesembilan mahasiswa itu. “haaa? Masak Cuma 500 rupiah harga itu kapas? Balik modal gak yah? Permen ajah Cuma dapat 3!”
Takjub, memandang kakek tua yang tertatih itu. “Bagaimana beliau menghidupi anak istrinya?”
“eh, hayooo..kita beli kipas bapak ini!” salah satu mengomandoi. Mata si Bapak tampak berbinar! Kipasnya laku 9 buah sekaligus. Lalu, sekelompok mahasiswa itu, memberikan duit 10.000. “Pak, gak usah dikasi duit kembalian. Harganya segitu ajah.”
Masya Allah, tak terkira syukur si Bapak. Tampak beliau saaangaat bahagia karena kipasnya laku dengan harga 10.000. berkali2 beliau mengucapkan syukur dan terima kasih.

Mahasiswa itu terperangah, terdiam, menatap tak pecaya. Memperhatikan punggung ringkih yang berlalu menuju gerbong berikutnya itu dengan segenap rasa yang tak terdefinisikan… “Haaaa? Begitu berharga duit sepuluh ribu itu bagi si bapak yak? Gw aja, di kasi mama sepuluh ribu itu langsung ngomel2, ‘sepuluh ribu Cuma dapet apa, ma!?’. Tapiiii, bapak ituu, sepuluh ribu aja, sudah segitu besar rasa syukurnya. Gw terharu banget!”

Masya Allah…
Ternyata, definisi banyak dan sedikit itu begitu berbeda. Kadang (atau sering?) kita merasa apa yang kita punya itu masiih kurang. Lupa bersyukur dengan apa yang diberi. Padahal sudah sangat lebih. Jauh lebih baik dari mereka yang tidak seberuntung kita. Di pinggir jalan sana. Do kolong jembatan sana. Di pekampungan kumuh sana.
Maka benarlah, untuk urusan dunia, memandanglah ke bawah. Sebab dengan demikian, akan menjadi perangkat lunak di hati kita untuk senantiasa meng-up date rasa syukur itu. Sebaliknya, untuk urusan akhirat, memandanglah ke atas. Sebab denga demikian, ia juga akan menjadi perangkat lunak di hati kita untuk senantiasa meng-up grade diri kita, ruhiyah kita, dan keimanan kita.

Semoga kita semua bisa sama2 ambil plajaran yaaah?

0 Comment:

Post a Comment

Tafadhol, jika ada pendapat lain, masukan, tambahan, kritikan dan saran, hehe, ayuuh... di kasi comment...^^
(jangan lupa pilih salah satu profil yg koment yah. biar termoderasi. jangan anonim. okeh? ^^)