Sejak Baru Pandai Menulis


Hmm….sejenak membuka file-file lama kehidupan ini. Hehe. Mungkin bagimu ini tak begitu penting! Tapi, bagiku, ini adalah sejarah hidup. (halaaah! gayaaa cuy! Hihihi).

Emmh…sebelumnya, aku ingin sedikit bertanya. Kapankah kau pertama kali menulis surat? Hehe, jangan-jangan ini sebuah pertanyaan konyol! Ah..tidak..tidak! aku hanya ingin sedikit bercerita saja. Pertanyaan itu, tak usahlah kau jawab.

Aku baru menyadari, rupanya, dari kecil aku memang sudah menyukai yang namanya kertas dan pulpen ataupun pinsil. Dan, adalah kesukaanku jua mengorat-oret lembaran-lembaran itu.

Aku masih ingat, pertama kali aku menulis surat adalah ketika aku baru pandai menuliskan a,b,c, d dan seterusnya! Ketika itu, ibuku tercinta sedang mengikuti pendidikan cakim (pasca S-1) di UIN Syarif Hidayatullah selama 1 tahun lamanya. Dan, aku begituuu bersemangat menulis surat untuk ibu, kala itu. Ketika itu aku sudah TK di TK Bundo Kanduang, Lundang, Sungai Pagu. Isi suratku macam-macam ceritanya. Jika membacanya, aku barang kali akan tertawa.

Tapi, adalah pelajaran berharga dari surat menyurat ini. Kemudian, aku memang jadi gemar menuliskan segala sesuatu. Sudah kuceritakan belum yah?! Dahulu, hal paling mengembirakan bagiku adalah ketika ayah pulang membawa segepok kertas. Kertas bekas tentunya. Yang hanya satu sisinya yang putih, sisi yang lainnya sudah terpakai. Dan, sisi sebelahnya itu, akan kuisi dengan berbagai coretan. Mulai dari bermacam-macam tulisan hingga desain rumah yang kuinginkan. Entah kenapa, dahulu, begitu suka menggambar rumah. (Mimpi jadi arsitek yang kaga kesampaian. Hoho).

Tapi…aku merasakan manfaat besar dari kegemaran itu. (baca : kegemaran menuliskan dan mencoret-moret itu). Aku jadi lebih senang menuliskan segala sesuatu. Meskipun aku bukan seorang penulis handal. Bukan pula penulis terkenal yang karyanya bertebaran di berbagai media massa, tapi, aku jadi sangat suka menulis. Jika orang-orang paling benci plajaran mengarang, aku sebaliknya. Aku sangat suka plajaran mengarang!

Apa kesimpulannya?
Uhm….ternyata, jika pembiasaan itu di lakukan sejak dini, maka, ia menjadi sesuatu yang tersimpan di amygdale seseorang.
Mengutip apa yang disampaikan si…. (haduuh..siapa yah namanya, si pemeran Pak Guru dalam pilem I’m not Stupid itu loh), “Fokuslah pada kelebihannya, jangan besarkan kekurangannya.”
Setiap anak dilahirkan dengan kekayaan bakat yang barang kali berbeda tiap mereka. Maka, dengan mengembangkannya, niscaya, engkau (para orang tua, para calon orang tua, para pendidik), tengah menuju terwujudnya generasi-generasi yang extraordinary!! Percayalah, jika kita hanya mencita-citakan anak-anak kita nantinya hanya sebatas seperti anak-anak kebanyakan, maka memang akan menjadi itu lah ia. Tapi, ketika kita mencita-citakan sebuah cita-cita besar untuknya, maka….ia pun akan menjadi luar biasa! Percayalah, setiap anak berhak untuk menjadi luar biasa! Ini bukan berarti expoitasi terhadap anak, apalagi memaksakan seorang anak harus sesuai dengan maunya para orang tua. Bukan! Bukan itu! Tapi…how to explore the child ability!
Uhm…perlu belajar lebih banyak lagi tentunya!
Hayuu…hayuuu…harapan itu masih ada  (heh? Harapan yang mananya niih! Haduuh..mulai ngaco kayanya. Hihihi…)

2 comments:

  1. beruntung sekali mbak elvi telah menjadikan menulis sebagai sebuah kebutuhan...
    salam

    ReplyDelete
  2. salam jugak...

    hehe..gak juga siih Mas..
    cuma suka2 ajah...
    mood depending, hihii

    ReplyDelete

Feel free to accept your comment. Spam comment will be deleted and blocked