Nilai NOL

Mari kita bercerita tentang flashback memory, beberapa tahun silam. Hee… Kejadian ini terjadi ketika aku baru saja kelas III SD di sebuah SD Negeri di kaki bukit anda. SD di pinggir bukit, di aliri sungai jernih, dan lapangan yang luas. SD di pelosok kampung. Ya, terpelosok memang, tapi asri. Hehe.

Aku kala itu, paling benci nilai 6 ke bawah. Mendapat nilai 6 ke bawah adalah aib besar bagi seorang Fathelvi Mudaris di umur 8 tahun itu. Haha, gayaaaaa cuy! Nah, ketika itu, kelasku sedang belajar matematika. Aku lupa persisnya apa pelajarannya. Yang kuingat adalah itu kali pertamanya aku mendapat nilai NOL untuk pelajaran matematika. Aku menangis sejadi-jadinya. Bagaimana mungkin, pada mata pelajaran kesukaanku, aku bisa dapat NOL??? Sampai di rumah pun aku masih saja menangis sejadi-jadinya. Akhirnya, malamnya ngadu sama ayah, kalo nilai matematikaku dapat NOL. Huhu. Telusur punya telusur, rupanya tak satu pun jawabanku yang salah. Semua jawabannya benar. Hanya saja, aku menggunakan cara penyelesaian yang berbeda dengan yang diajarkan guru pada kurikulum yang seharusnya. Karena penyelesaian soal itu punya banyak cara. Ya, hanya karena metoda penyelesaian yang berbeda, lantas semua jawabanku jadi salah. Ini kali pertamanya aku begitu meranggas. Benar-benar meranggas dan kehilangan semangat. Hihi. Untung hanya sesaat saja, karena ayah tak pernah menyalahkan caraku. Aku tetap diapresiasi dan diacungi jempol, karena jawabanku tidaklah salah. Jadi, aku tetap berbesar hati. Hehe. Setelah belasan tahun berlalu, kusadari ternyata model mengajar seperti ini adalah promodel guru paling kejam dan paling membunuh bagi murid-muridnya. Sebab, ia tak pernah mengakui kreatifitas. Tak pernah menghargai inovasi. Tak pernah berdamai dengan pembaharuan. Tak bersedia melihat dari sisi yang berbeda. Semua anak harus ikut procedure yang monoton. Harus begini! Harus begitu! Jika tak begini, salah! Aah, betapa kejamnya!

Pada akhirnya, anak-anak didiknya tumbuh dengan kreatifitas yang mengerucut. Potensinya menjadi dorman. Dan, setiap kali mereka mencoba menciptakan hal-hal baru, selalu ada kekhawatiran pada diri mereka, “Aaahh, entar salah. Aah, kan ndak sesuai dengan yang seharusnya.”
Jika terus begini, lantas, kapan kita akan maju??
Jika saja Thomas Alfa Edison dihalangi untuk menciptakanhal-hal baru, tentu sampai hari ini kita masihlah berlampukan minyak damar, ataupun lampu cimporong. Hee… Jika Alexander Grahambell dipatahkan sang guru untuk menemukan hal-hal baru, barang kali kita akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyampaikan sebuah informasi. Harus melalui kurir, bukan kawat. Jika Nicolas-Joseph Cugnot tak mau berinovasi untuk menciptakan mobil pertama kalinya, tentulah kita hari ini masih naik keledai. Barang kali, Solok Selatan –Padang harus ditempuh dengan waktu lebih dari satu minggu. Itupun kalau keledainya tidak ngambek, tidak sakit atau lagi baik moodnya. (Hehe, memangnya keledai ada mood segala yak? Hihi). Jika saja Glen Knoll yang tergila-gila sama dunia editan foto itu tak berinovasi dengan punya kamar gelap khusus untuk foto editing yang menjadi cikal bakal adanya Photoshop, mungkin saia juga ndak akan tergila-gila sama dunia edit-mengedit foto (hihi, bukankah ada banyak program pengeditan lainnya? Hihih…)

Ya, tokoh-tokoh di atas, sudah cukup menjelaskan kepada kita, bahwa KREATIVITAS dan INOVASI lah yang kemudian membuat mereka dapat menemukan hal-hal baru. Jika saja mereka terikat dengan kredo, “HARUS BEGINI, TAK BOLEH BEGITU”, tentulah sampai saat ini, kita tak dapat hidup dengan banyak kemudahan seperti saat sekarang.

Dahulu, sosok Abbas bin Farnas, seorang muslim di tahun 1680 M, menjadi orang yang pertama kali mempelajari burung untuk dapat terbang. Dan dialah kemudian yang menjadi penggagas dan cikal bakal hadirnya pesawat terbang. Meski kala itu, setelah terbang, akhirnya beliau jatuh. Tapi, pemikiran inovatif yang berbeda dengan apa yang ada kala itu lah yang membuat sebuah temuan baru. Atau pemikir-pemikir hebat lainnya, Ibn Nafis Ath-thabib, Abu Bakar Ar RAzi, Daud AL Anthaki dan sederet nama lainnya. Mereka ada dan dikenal karena inovasi dan kreatifitas mereka.

Ini pelajaran berharga bagiku terutama, bahwa menghalangi kreatifitas dan inovasi adalah salah satu pembunuh berdarah dingin bagi seorang anak. Semoga, ke depan, dengan adanya kreativitas dan inovasilah, maka negeri ini perlahan akan bangkit. Sebab, mempertahankan apa yang ada (bahkan yang terbukti tidak layak untuk kita pertahankan) adalah pilihan terburuk dalam perkembangan dan membangun suatu masyarakat (dan juga bangsa).

___________________
sumber gambar di sini

2 comments:

  1. suka dengan tulisan ini, salam kenal mbak alvi :), saya rani, mampir di blogku yaa blogkulah.blogspot.com :)

    ReplyDelete
  2. salam kenal juga mbak Rani... :)

    siipp..ke TKP ^^

    ReplyDelete

Tafadhol, jika ada pendapat lain, masukan, tambahan, kritikan dan saran, hehe, ayuuh... di kasi comment...^^
(jangan lupa pilih salah satu profil yg koment yah. biar termoderasi. jangan anonim. okeh? ^^)