Koruptor Waktu
Beberapa waktu lalu (hingga saat ini) aku masih nyangkut di mana-mana. Hee….memangnya hanyut apah yah? Hihi. Maksudnya, nyangkut di urusan administrasi sehingga harus masuk kantor, kluar kantor. Mulai dari jorong, RT, RW, lurah, camat, hingga ke kantor polisi, rumah sakit, capil, dinas2 tertentu. Beuhhh….ribetnyaa tak ketulungan.
Uhm…sebenarnya…tidak ada masalah dalam hal pengurusan administrasi yang ribet itu, jika saja oknum yang terlibat di sana menjalankan fungsi dan perannya dengan baik. Sayang sajaaaaa, aku harus menghadapi orang-orang yang berleha-leha dengan tugasnya sehingga satu urusan harus nyangkut berlama-lama. Padahal urusan itu banyaaaaaaaaaaaaak sekali yang harus di selesaikan. Beranak pinak. Bercucu cicit. (halaaaah, lebay!).
Acap kali aku harus berhadapan dengan birokrat yang korupsi. Iyah! Korupsi waktu. Sebut saja, di instansi A untuk suatu urusan. Aku harus rela bolak balik sampai empat kali ke kantor itu dalam satu hari, untuk suatu urusan hanya gara-gara si bapak yang mesti tanda tangan, melanglang buana entah ke mana. Padahal, jam baru menunjukkan angka 10 pagi. Tapiii, pegawainya sudah keluyuran begitu. Ada yang ke pasarlah. Ada yang masih di rumah lah. Ujung-ujungnya, urusan yang semestinya bisa selesai dalam satu hari (bahkan 1 jam) harus diundur sampai esoknya. Beuhhh…sebel siiihh…tapiii, harus sabar tho?
Di waktu yang berdekatan, di instansi lain, sebut saja instansi B, aku pun mengalami nasib yang sama. Masih sekitar jam 10-an, rupa-rupanya karyawannya sudah melang-lang buana, entah ke mana rimbanya. Sampai-sampai, salah satu pegawainya bilang, “Dek, urusannya mendesak tidak? Soalnya, pegawai ini dan si itu sedang ke pasar, sedang ke rumah sakit, sedang keluar sebentar. Tidak bisa tanda tangannya sekarang.” Kujawab, “waduuuh, Bu, saya perlu sangat niih, surat ini, soalnya masih ada 14 macam surat lagi yang harus saya urus.” Aku mencoba menggunakan nada tidak sebel walaupun hati sudah dongkol. Heuuuuhhh! “Dek, maaf yah, jikasurat ini diteruskan, nanti ketahuan sekali kalau pegawai banyak yang tidak masuk. Gak pa-pa yah dek, jika besok saja. maaf…” gubraaaaaaaaaaaak!!! Ditelantarkan! Padahal, urusan itu sebenarnya 5 menit juga siap! Deuuuhh…
Di tempat yang berbeda, di waktu yang hampir berdekatan juga. Aku membutuhkan surat itu dengan segera. Tapiiii, ketika mau ngurus, si pegawainya bilang, “Uni, maaf yah, bapaknya masih di rumah. Katanya baru siap mandi. Jadii, Uni sabar yah nunggunya.” Beuhh…baru mandi katanya?!! Padahal, jarum jam sudah menunjukkan jam 9.30 pagi. Memangnya jam kantor jam berapa sih, Om?????!!!!!
Di instansi lain (semua yang kuceritakan ini, instansinya beda-beda loh!), nasibku tak jauh beda. Katanya bisa sih selesai dalam jangka waktu sebentar. Tapiii, pihak yang betranggungjawabnya lagi keluar. Padahal, masih jam 11. Dan, dijanjikan, akan diselesaikan esoknya. Pas esoknya, aku kembali mendatangi instansi tersebut (bahkan menyengajakan diri untuk telat 1 jam dari yang dijadwalkan, biar instansi tersebut punya waktu lebih buat mengkoreksi), eeh….pas nyampe di sana, ternyata berkasnya sama sekali belum disentuh! Paraaaaaaah!!!!
Aah…ternyata penyakit korupsi ini benar-benar sudah mendarah daging yah… Bukan hanya korupsi duittt, tapi juga korupsi waktu. Mulai dari jajaran tinggi hingga ke unit terkecil. Betapa sangat mengesalkannnya. Huufftt….
Yang bisa kulakukan hanyalah s-a-b-a-r! yup, sabar! Menikmati setiap proses itu. Menikmati rangkaian kekesalan itu dengan kesabaran. Fiuufft… Hanya saja, jika terus begini, bagaimana negeri ini bisa maju tho?! Cape’-cape’ ajah pemerintah kasi gaji full, jika kinerjanya begitu. Udah gituuu, masiiiiii aja gak malu minta naek gaji. Beuhhh…benar-benar mengherankan!
Uhm…sebenarnya…tidak ada masalah dalam hal pengurusan administrasi yang ribet itu, jika saja oknum yang terlibat di sana menjalankan fungsi dan perannya dengan baik. Sayang sajaaaaa, aku harus menghadapi orang-orang yang berleha-leha dengan tugasnya sehingga satu urusan harus nyangkut berlama-lama. Padahal urusan itu banyaaaaaaaaaaaaak sekali yang harus di selesaikan. Beranak pinak. Bercucu cicit. (halaaaah, lebay!).
Acap kali aku harus berhadapan dengan birokrat yang korupsi. Iyah! Korupsi waktu. Sebut saja, di instansi A untuk suatu urusan. Aku harus rela bolak balik sampai empat kali ke kantor itu dalam satu hari, untuk suatu urusan hanya gara-gara si bapak yang mesti tanda tangan, melanglang buana entah ke mana. Padahal, jam baru menunjukkan angka 10 pagi. Tapiii, pegawainya sudah keluyuran begitu. Ada yang ke pasarlah. Ada yang masih di rumah lah. Ujung-ujungnya, urusan yang semestinya bisa selesai dalam satu hari (bahkan 1 jam) harus diundur sampai esoknya. Beuhhh…sebel siiihh…tapiii, harus sabar tho?
Di waktu yang berdekatan, di instansi lain, sebut saja instansi B, aku pun mengalami nasib yang sama. Masih sekitar jam 10-an, rupa-rupanya karyawannya sudah melang-lang buana, entah ke mana rimbanya. Sampai-sampai, salah satu pegawainya bilang, “Dek, urusannya mendesak tidak? Soalnya, pegawai ini dan si itu sedang ke pasar, sedang ke rumah sakit, sedang keluar sebentar. Tidak bisa tanda tangannya sekarang.” Kujawab, “waduuuh, Bu, saya perlu sangat niih, surat ini, soalnya masih ada 14 macam surat lagi yang harus saya urus.” Aku mencoba menggunakan nada tidak sebel walaupun hati sudah dongkol. Heuuuuhhh! “Dek, maaf yah, jikasurat ini diteruskan, nanti ketahuan sekali kalau pegawai banyak yang tidak masuk. Gak pa-pa yah dek, jika besok saja. maaf…” gubraaaaaaaaaaaak!!! Ditelantarkan! Padahal, urusan itu sebenarnya 5 menit juga siap! Deuuuhh…
Di tempat yang berbeda, di waktu yang hampir berdekatan juga. Aku membutuhkan surat itu dengan segera. Tapiiii, ketika mau ngurus, si pegawainya bilang, “Uni, maaf yah, bapaknya masih di rumah. Katanya baru siap mandi. Jadii, Uni sabar yah nunggunya.” Beuhh…baru mandi katanya?!! Padahal, jarum jam sudah menunjukkan jam 9.30 pagi. Memangnya jam kantor jam berapa sih, Om?????!!!!!
Di instansi lain (semua yang kuceritakan ini, instansinya beda-beda loh!), nasibku tak jauh beda. Katanya bisa sih selesai dalam jangka waktu sebentar. Tapiii, pihak yang betranggungjawabnya lagi keluar. Padahal, masih jam 11. Dan, dijanjikan, akan diselesaikan esoknya. Pas esoknya, aku kembali mendatangi instansi tersebut (bahkan menyengajakan diri untuk telat 1 jam dari yang dijadwalkan, biar instansi tersebut punya waktu lebih buat mengkoreksi), eeh….pas nyampe di sana, ternyata berkasnya sama sekali belum disentuh! Paraaaaaaah!!!!
Aah…ternyata penyakit korupsi ini benar-benar sudah mendarah daging yah… Bukan hanya korupsi duittt, tapi juga korupsi waktu. Mulai dari jajaran tinggi hingga ke unit terkecil. Betapa sangat mengesalkannnya. Huufftt….
Yang bisa kulakukan hanyalah s-a-b-a-r! yup, sabar! Menikmati setiap proses itu. Menikmati rangkaian kekesalan itu dengan kesabaran. Fiuufft… Hanya saja, jika terus begini, bagaimana negeri ini bisa maju tho?! Cape’-cape’ ajah pemerintah kasi gaji full, jika kinerjanya begitu. Udah gituuu, masiiiiii aja gak malu minta naek gaji. Beuhhh…benar-benar mengherankan!
Aku Memilih : Idealismeku
Hmmm…memilih, berarti harus siap dengan segala konsekuensi. Begitulah. Dan aku, memilih idealismeku.
Menyoal tentang pekerjaan (kefarmasian). Setelah mulai “menyemplungkan” diri dalam dunia pencaker (hee….) aku baru menyadari dan betul-betul paham bahwa farmasist sampai saat ini masih punya lahan yang sangat membentang luas untuk dicangkuli. (petani dong yah? Hihihi… kan S. Farm… Farm(er) kan petani. Wkwkwk….kiddin’). Tak bisa dipungkiri, meskipun lulusan pharmacist (apoteker khususnya) semakin bertambah tiap tahunnya, tetap saja ia sangat langka dan ternyata berstatus “Sangat Dibutuhkan” untuk lahan apotek, rumah sakit, PBF, dinas kesehatan dan instansi pemerintahan, gudang farmasi, industry obat tradisional maupun konvensional, BPOM, industry kosmetik, industry makanan, hingga ke MUI dan bea cukai. Mungkin masih banyak lagi.
Fakta membuktikan, Rata-rata (mungkin nyaris 99,99 %) angkatanku yang notabene tamatan apoteker paling terakhir untuk saat ini (kecuali kalo teman2 yang diwisuda februari 2011 ini sudah mendapatkan ijazah. Hmm…kayaknya belum deh), sudah memperoleh pekerjaan kefarmasian yang tersebar di berbagai lahan dan di berbagai daerah. Bayangkan, hanya dengan rentang waktu sekitar 5 bulan saja. Hmmm… baru tahu aku, ternyata begini yaaah? Hee… Ini mungkin karena aku memilih untuk berdiam diri dari segala sesuatu yang berbau farmasist dalam beberapa bulan terakhir , sehingga aku tidak memahami hal ini dengan sepaham-pahamnya. Hihi. Dan, aku (dengan ke-mengangguran-ku) bukan pula tidak ada tawaran. Banyak malah. Bahkan boleh memilih. Hihi. Juga ada yang statusnya “sangat dibutuhkan” atau “dibutuhkan cepat” yang itu artinya, peluang untuk diterima sangat besaaar. Makanya, aku tak heran, jika dalam rentang 5 bulan ini, hampir semua (kulihat dari cerita-cerita di grup fb angkatan apoteker 09/10) sudah pada bekerja. Hehe…akunya saja yang masih ketinggalan kereta dan hanya memilih PNS yang kemudian tak lulus itu (kata temanku, cita-cita PNS tu terlalu rendah. Hee….baiklah, aku sepakat!). Anehnya, malah memilih terjun ke bidang yang sama sekali bukan latar belakang ilmuku, melainkan apa yang menjadi minatku. Hihi. Tapi kembali, karena aku memang harus memilih.
Huufffttt…
Kembali tentang idealism itu. Tentang tulisan yang kutulis dulunya. “Bertahan dengan idealism atau berdamai dengan realita.” Aku….MEMILIH IDEALISMEku. Aku tidak punya pilihan lain untuk menolak tawaran itu, kecuali benar-benar harus terjun di ranah kefarmasian yang memfasilitasi idealism itu. Aku tidak ingin menerima tawaran yang mengangkangi idealism itu tapi juga tak ingin merusak hubungan sitalurrahim yang selama ini sudah terbina. Jika bukan mereka, aku tentu saja bisa menolak, seperti banyak penolakkan-penolakkan sebelumnya. Apalagi dengan posisiku (yang kata mereka) menganggur itu. Karena ini hidupku. Dan aku yang akan menjalaninya. Tapiiiiiii, sebab ini menyangkut soal hubungan keluarga… Aku jadi seperti buah simalakama. Makaaa…memang harus melarikan diri ke ranah yang bisa berdamai dengan idealism, dan tentu saja ini bukan berarti melarikan diri dari persoalan. Meski pun memilih ini, bukan tanpa konsekuensi. Sebab, memilih ini, berarti aku juga harus meninggalkan sesuatu yang selama ini sangat kuminati itu.
Sebenarnya, ini hanya soal komunikasi saja. Bisa saja dikomunikasikan. Tapiiii, terlalu sulit untuk memahamkan idealisme kepada orang-orang yang di kepalanya hanyalah uang melulu. Bagiku, saat ini masih sangat berat.
Sekali lagi, aku memilih idealismeku. Sungguh, aku tidak ingin menambah daftar panjang orang-orang yang melecehkan profesi ini meski pelakunya adalah sang pemilik gelar profesi ini sendiri. Jika bukan dari dari diri kita (diriku terutama), lalu…akan sampai kapan pembiaran ini? Akan sampai kapankah? Lalu, kapankah akan berubah? Mengapa tidak memilih menjadi agent of change saja?! kenapa tidak dengan perlahan mengubah paradigm (buruk) yang terlanjur di-cap-kan oleh banyak profesi lainnya?
Jika ini idealismenya hanya menyangkut keduniaan saja, mungkin kita masih bisa berdamai. Tapiii, ini soal SUMPAH yang dulu terucap di depan Pak Dekan, di depan pak Rektor, di depan Bapak Ketua IAI, di depan para dosen, di depan para orang tua, di depan rekan sesama mahasiswa, dan terutama sekali…..di hadapan Allah. Sumpah yang diucapkan dengan permulaan “Demi Allah”. Akankah akan menebalkan muka terhadap sumpah itu?!
Aku tahu, ranah farmasi adalah ranah yang begitu rawan. Antara hitam dan putih. Banyak kebajikan yang bisa didulang di sini, tapii….ia-nya juga adalah ranah mafia yang mungkin belum terjamah seperti layaknya kasus pajak itu. Tipis sekali bedanya antara mafia dan kebajikan itu. Tak disadari bahkan. Apalagi obat, berikut perbisnisan yang mengekor di belakangnya, adalah bisnis yang tak pernah mati meskipun dalam keadaan krisis moneter. Karena, obat bertalian dengan pertahanan nyawa. Sekalipun krisis, orang-orang tetaplah memilih penyelamatan nyawa. Maka, tak perlu heran jika banyak macam bisnis yang gugur kala krisis 98 dahulu, dan satu-satunya bisnis yang masih eksis adalah bisnis obat. Karena, sakit tak mengenal krisis. Karena itu, ranah perobatan tetap menjadi ranah yang menggiurkan. Dan tentu saja, akan banyak mafia yang melirik ranah ini. Jika tak kuat-kuat iman, bisa saja terjerumus pada mafia perubatan. Hmm…terlalu miris untuk diceritakan. Terlalu banyak kisah yang tak terungkap. Menyedihkan. Satu kesimpulan besarku adalah : Memang sangat dibutuhkan idealisme untuk ini semua.
Cukup sekian curhat dariku. Hee….
Berkali-kali aku berharap, semoga farmasist dan dunia perubatan semakin lebih baik.
Semakin aku tahu, bahwa memang perlu sekali pembenahan, mulai dari ranah birokrasinya. Sebab, birokrasilah yang menjadi hulu bermulanya.
Menyoal tentang pekerjaan (kefarmasian). Setelah mulai “menyemplungkan” diri dalam dunia pencaker (hee….) aku baru menyadari dan betul-betul paham bahwa farmasist sampai saat ini masih punya lahan yang sangat membentang luas untuk dicangkuli. (petani dong yah? Hihihi… kan S. Farm… Farm(er) kan petani. Wkwkwk….kiddin’). Tak bisa dipungkiri, meskipun lulusan pharmacist (apoteker khususnya) semakin bertambah tiap tahunnya, tetap saja ia sangat langka dan ternyata berstatus “Sangat Dibutuhkan” untuk lahan apotek, rumah sakit, PBF, dinas kesehatan dan instansi pemerintahan, gudang farmasi, industry obat tradisional maupun konvensional, BPOM, industry kosmetik, industry makanan, hingga ke MUI dan bea cukai. Mungkin masih banyak lagi.
Fakta membuktikan, Rata-rata (mungkin nyaris 99,99 %) angkatanku yang notabene tamatan apoteker paling terakhir untuk saat ini (kecuali kalo teman2 yang diwisuda februari 2011 ini sudah mendapatkan ijazah. Hmm…kayaknya belum deh), sudah memperoleh pekerjaan kefarmasian yang tersebar di berbagai lahan dan di berbagai daerah. Bayangkan, hanya dengan rentang waktu sekitar 5 bulan saja. Hmmm… baru tahu aku, ternyata begini yaaah? Hee… Ini mungkin karena aku memilih untuk berdiam diri dari segala sesuatu yang berbau farmasist dalam beberapa bulan terakhir , sehingga aku tidak memahami hal ini dengan sepaham-pahamnya. Hihi. Dan, aku (dengan ke-mengangguran-ku) bukan pula tidak ada tawaran. Banyak malah. Bahkan boleh memilih. Hihi. Juga ada yang statusnya “sangat dibutuhkan” atau “dibutuhkan cepat” yang itu artinya, peluang untuk diterima sangat besaaar. Makanya, aku tak heran, jika dalam rentang 5 bulan ini, hampir semua (kulihat dari cerita-cerita di grup fb angkatan apoteker 09/10) sudah pada bekerja. Hehe…akunya saja yang masih ketinggalan kereta dan hanya memilih PNS yang kemudian tak lulus itu (kata temanku, cita-cita PNS tu terlalu rendah. Hee….baiklah, aku sepakat!). Anehnya, malah memilih terjun ke bidang yang sama sekali bukan latar belakang ilmuku, melainkan apa yang menjadi minatku. Hihi. Tapi kembali, karena aku memang harus memilih.
Huufffttt…
Kembali tentang idealism itu. Tentang tulisan yang kutulis dulunya. “Bertahan dengan idealism atau berdamai dengan realita.” Aku….MEMILIH IDEALISMEku. Aku tidak punya pilihan lain untuk menolak tawaran itu, kecuali benar-benar harus terjun di ranah kefarmasian yang memfasilitasi idealism itu. Aku tidak ingin menerima tawaran yang mengangkangi idealism itu tapi juga tak ingin merusak hubungan sitalurrahim yang selama ini sudah terbina. Jika bukan mereka, aku tentu saja bisa menolak, seperti banyak penolakkan-penolakkan sebelumnya. Apalagi dengan posisiku (yang kata mereka) menganggur itu. Karena ini hidupku. Dan aku yang akan menjalaninya. Tapiiiiiii, sebab ini menyangkut soal hubungan keluarga… Aku jadi seperti buah simalakama. Makaaa…memang harus melarikan diri ke ranah yang bisa berdamai dengan idealism, dan tentu saja ini bukan berarti melarikan diri dari persoalan. Meski pun memilih ini, bukan tanpa konsekuensi. Sebab, memilih ini, berarti aku juga harus meninggalkan sesuatu yang selama ini sangat kuminati itu.
Sebenarnya, ini hanya soal komunikasi saja. Bisa saja dikomunikasikan. Tapiiii, terlalu sulit untuk memahamkan idealisme kepada orang-orang yang di kepalanya hanyalah uang melulu. Bagiku, saat ini masih sangat berat.
Sekali lagi, aku memilih idealismeku. Sungguh, aku tidak ingin menambah daftar panjang orang-orang yang melecehkan profesi ini meski pelakunya adalah sang pemilik gelar profesi ini sendiri. Jika bukan dari dari diri kita (diriku terutama), lalu…akan sampai kapan pembiaran ini? Akan sampai kapankah? Lalu, kapankah akan berubah? Mengapa tidak memilih menjadi agent of change saja?! kenapa tidak dengan perlahan mengubah paradigm (buruk) yang terlanjur di-cap-kan oleh banyak profesi lainnya?
Jika ini idealismenya hanya menyangkut keduniaan saja, mungkin kita masih bisa berdamai. Tapiii, ini soal SUMPAH yang dulu terucap di depan Pak Dekan, di depan pak Rektor, di depan Bapak Ketua IAI, di depan para dosen, di depan para orang tua, di depan rekan sesama mahasiswa, dan terutama sekali…..di hadapan Allah. Sumpah yang diucapkan dengan permulaan “Demi Allah”. Akankah akan menebalkan muka terhadap sumpah itu?!
Aku tahu, ranah farmasi adalah ranah yang begitu rawan. Antara hitam dan putih. Banyak kebajikan yang bisa didulang di sini, tapii….ia-nya juga adalah ranah mafia yang mungkin belum terjamah seperti layaknya kasus pajak itu. Tipis sekali bedanya antara mafia dan kebajikan itu. Tak disadari bahkan. Apalagi obat, berikut perbisnisan yang mengekor di belakangnya, adalah bisnis yang tak pernah mati meskipun dalam keadaan krisis moneter. Karena, obat bertalian dengan pertahanan nyawa. Sekalipun krisis, orang-orang tetaplah memilih penyelamatan nyawa. Maka, tak perlu heran jika banyak macam bisnis yang gugur kala krisis 98 dahulu, dan satu-satunya bisnis yang masih eksis adalah bisnis obat. Karena, sakit tak mengenal krisis. Karena itu, ranah perobatan tetap menjadi ranah yang menggiurkan. Dan tentu saja, akan banyak mafia yang melirik ranah ini. Jika tak kuat-kuat iman, bisa saja terjerumus pada mafia perubatan. Hmm…terlalu miris untuk diceritakan. Terlalu banyak kisah yang tak terungkap. Menyedihkan. Satu kesimpulan besarku adalah : Memang sangat dibutuhkan idealisme untuk ini semua.
Cukup sekian curhat dariku. Hee….
Berkali-kali aku berharap, semoga farmasist dan dunia perubatan semakin lebih baik.
Semakin aku tahu, bahwa memang perlu sekali pembenahan, mulai dari ranah birokrasinya. Sebab, birokrasilah yang menjadi hulu bermulanya.
Wajah
Dalam beberapa kali perjalanan…aku selaluuuuu sajaaaa ditanya, “sekolah di mana?”. Ini pertanyaan lazim yang bahkan sudah akrab di telinga. Hadeuuuh….deuh…deuh…. Jika sudah dilayangkan pertanyaan begini, aku hanya bisa tertawa atawa nyengir. Lalu bilang, “saya sudah tamat.”
“Haa? Sudah tamat?”
Biasanya, komentar seperti ini adalah susulan dari pertanyaan pertama. Hehe. Bosan juga untuk menjelaskan.
Barang kali, jika aku pake seragam SMP atau SMA, mungkin masih banyak yang percaya. Hee… Kalo aku ngikut SENAMPTN, SIMAK, UMB, UM dan sejenisnya, mungkin aku takkan dicurigai, meskipun sudah melewati angka 24 tahun. Huwaaaah….bisa dong, jadi joki! Ups! Taaak….tak akan, insya Allah. Hihi.
Tapiiii, ada satu kali kejadian, di mana estimasi orang-orang meleset jauhh. Yang biasanya aku dikira anak sekolahan, kali ini malah disangka TUKANG OJEK. Gubraaaaakkkk! Apa tampang aye, lebih mirip tukang ojek ketimbang apoteker yah? Hihi. Kejadiannya begini, suatu hari aku melewati jalan yang biasa dilalui. Dari kejauahan, aku melihat seorang wanita tua yang berjalan terseok-seok, membawa beban berat. Kebetulan sekali, aku sendirian, jadiii…apa salahnya coba, menawarkan tumpangan kepada wanita tua itu.
Kutanya, “Nio kamano Buk?”
Beliau menjawab, “Indak…indak…mokasi lah nak.” (ini jawaban penolakan untuk tukang ojek, biasanya).
Aku, pasang tampang bingung, sambil melanjutkan perjalanan. Hee….akhirnya, aku jadi tertawa sendiri sepanjang perjalanan. Hmm…baru nyadar, kalo kalimat “Nio kamano?” itu adalah kalimat yang biasa diucapkan tukang ojek jika hendak menawarkan sewa di kampungku. Dan lagi, di kampungku tukang ojek bukan hanya melulu laki-laki, tapi banyak juga yang perempuan. Makanya aku dikira tukang ojek. Hadeuuh… Tapi, masa’ iya sih yah? Wong aye sudah rapih-rapih begini. Gak pake jirong (baca : bergo) lagiii. Bawa ransel lagi. Kenapa di kira tukang ojek yaah?! Hihi.
Hmm…wajah. Perwajahan.
Menjadi apapun kita, sebenarnya bisa saja. mau jadi anak sekolah. Mau jadi tukang ojek. Mau jadi politisi. Mau berwajah apapuuuun. Seperti G*yus yang memainkan banyak peran. Hanya saja…kebenaran insya Allah akan selalu menang! Kebenaran, tetap akan terkuak. Sepintar apapun sang pelaku menyembunyikan wajah. Jika pun kemudian ia berhasil menyembunyikannya dari manusia dan dari pengadilan manusia. Tapii, ia takkan pernah bisa menyembunyikannya di hadapan Allah, di persidangan yang Maha Teliti.
--------------------
sumber gambar di sini
“Haa? Sudah tamat?”
Biasanya, komentar seperti ini adalah susulan dari pertanyaan pertama. Hehe. Bosan juga untuk menjelaskan.
Barang kali, jika aku pake seragam SMP atau SMA, mungkin masih banyak yang percaya. Hee… Kalo aku ngikut SENAMPTN, SIMAK, UMB, UM dan sejenisnya, mungkin aku takkan dicurigai, meskipun sudah melewati angka 24 tahun. Huwaaaah….bisa dong, jadi joki! Ups! Taaak….tak akan, insya Allah. Hihi.
Tapiiii, ada satu kali kejadian, di mana estimasi orang-orang meleset jauhh. Yang biasanya aku dikira anak sekolahan, kali ini malah disangka TUKANG OJEK. Gubraaaaakkkk! Apa tampang aye, lebih mirip tukang ojek ketimbang apoteker yah? Hihi. Kejadiannya begini, suatu hari aku melewati jalan yang biasa dilalui. Dari kejauahan, aku melihat seorang wanita tua yang berjalan terseok-seok, membawa beban berat. Kebetulan sekali, aku sendirian, jadiii…apa salahnya coba, menawarkan tumpangan kepada wanita tua itu.
Kutanya, “Nio kamano Buk?”
Beliau menjawab, “Indak…indak…mokasi lah nak.” (ini jawaban penolakan untuk tukang ojek, biasanya).
Aku, pasang tampang bingung, sambil melanjutkan perjalanan. Hee….akhirnya, aku jadi tertawa sendiri sepanjang perjalanan. Hmm…baru nyadar, kalo kalimat “Nio kamano?” itu adalah kalimat yang biasa diucapkan tukang ojek jika hendak menawarkan sewa di kampungku. Dan lagi, di kampungku tukang ojek bukan hanya melulu laki-laki, tapi banyak juga yang perempuan. Makanya aku dikira tukang ojek. Hadeuuh… Tapi, masa’ iya sih yah? Wong aye sudah rapih-rapih begini. Gak pake jirong (baca : bergo) lagiii. Bawa ransel lagi. Kenapa di kira tukang ojek yaah?! Hihi.
Hmm…wajah. Perwajahan.
Menjadi apapun kita, sebenarnya bisa saja. mau jadi anak sekolah. Mau jadi tukang ojek. Mau jadi politisi. Mau berwajah apapuuuun. Seperti G*yus yang memainkan banyak peran. Hanya saja…kebenaran insya Allah akan selalu menang! Kebenaran, tetap akan terkuak. Sepintar apapun sang pelaku menyembunyikan wajah. Jika pun kemudian ia berhasil menyembunyikannya dari manusia dan dari pengadilan manusia. Tapii, ia takkan pernah bisa menyembunyikannya di hadapan Allah, di persidangan yang Maha Teliti.
--------------------
sumber gambar di sini
Uzlah
Semakin canggih dan kerennya dunia, melahirkan jenis “bumi” lain. Bumi itu bernama dimensi maya. Benar-benar tak bertepi. Dunia yang tak bertepi. Seiring dengan itu, bertumbuh subur pula berbagai jenis aplikasi dan jejaring sosial yang memungkinkan koneksi manusia antar satu sama lainnya. Banyak sekali manfaatnya tentu saja. Tapiiii, bukan tanpa sisi buruk. Seperti obat yang berefek terapeutik, sekaligus memiliki efek samping. Begitupun dunia maya ini, tentunya. Kadang, memang terapeutiknya yang lebih utama. Tapi bukan tak sedikit juga yang efek sampingnya lebih berasa. Bahkan, bukan saja efek samping, sudah menjadi efek toksik. Na’udzubillaah…
Hmm…aku termasuk orang yang ikut terjun dalam dunia tak bertepi ini. hehe… Kamu juga kan yah? Iyaaaa….kamuuuu! jangan clingak-clinguk kiri kanan dong! Kamu yang lagi bacaaaa. Hihi. (kalo gak lewat internet, baca nya lewat mana coba?! Iya kaaaan?). Sebenarnya banyak sekali manfaatnya. Dan, aku bukan sedang jenuh dengan itu semua. Tidak. Tapiiii, saat ini, aku pengin uzlah ajah dari segala bentuk maya, kecuali blog dan email serta chat application (ym dan gtalk). Hee…. Aku telah menghapus akun friendster dan twitterku secara permanen. Dua akun yang pernah jadi toprank… bahkan twitter saat ini juga termasuk jajaran jejaring social yang toprank, kalo ndak salah. Betul tidak niih?!
Aku juga sudah minggat secara permanen dari multiply, padahal lagi euphoria-euforianya ber-MP ria. Hehe. And also, deactivated akun fb. Selain itu, aku juga lagi meng-uzlah-kan diri dari kaskus, yahoo! Pulse, myspace, flickr, linkdh, hi5, scribd, picasa, cybernet, boxnet, myslide, dan sederet lainnya. Yahoo! OMG jugak (hahaha…ngacoooo, masak ke OMG segalaaaa. Hihi. Gak laaaah… Gak masuk kualifikasi dan juga tak ingin masuk kualifikasi ini. Hehe…)
So what?
Sebenarnya bukan apa-apa sih. Lagiaaan, aku juga bukanlah artis yang membutuhkan ketenaran lewat itu semua. Adanya aku di dunia macam tu juga tidak akan memberikan banyak pengaruh. Toh, juga tak akan ada yang merasa keilangan karena adanya aku hampir sama dengan tiada. Hee…. Meski, aku tak menafikan juga, sebenarnya banyak sekali manfaatnya. Hanya saja, aku kepingin uzlah ajah… Hee… Hihi…sejak kapan jadi GJ begini yah? Khek…khek…khek…
Hmm…tapiii, hebatnya jejaring social di dunia maya itu ternyata bisa membuat orang-orang pendiam jadi “heboh”. Membuat orang-orang introvert jadi ektrovert. Dan parahnya, membuat banyak orang berasa jadi artis yang selalu di update di hadapan public. Macem-macem saja jenisnya. Mulai dari status curhat “Aku rindu padanya.”, “sungguh tak enak, patah hati”, “Sediiiiiihhh…”, “Capek”….lalu status-status mengenai aktiviti , “Lagi di pantai”, “Gw..lagi males mandi.”, “Gw kedinginan banget”, “Gw lagi baca farmakope”, “lg di airport”, “minum es kelapa muda bersama dirinya,” de se be hingga ke status…penuh caci maki melapiaskan emosi. Semuanya ter-update dengan lengkap. Mengapa booming ini terjadi hampir di segenap antero dunia?! Hmm….kabar-kabarnya sih, karena jejaring maya ini…memenuhi kebutuhan dasar manusia dari teorinya Pak Maslow di tingkatan ke-empat dan ke-lima. Benar atau tidak, aku pun belum buktikan!
Aihh…sudahlah… Kurasa, ini postingan tak penting saja. hihi. Udah gak penting, tulisannya kacawww lagiiiii. Huuuftt…. Semakin banyak saja tulisan-tulisan tak penting niiih.
Hmm…aku termasuk orang yang ikut terjun dalam dunia tak bertepi ini. hehe… Kamu juga kan yah? Iyaaaa….kamuuuu! jangan clingak-clinguk kiri kanan dong! Kamu yang lagi bacaaaa. Hihi. (kalo gak lewat internet, baca nya lewat mana coba?! Iya kaaaan?). Sebenarnya banyak sekali manfaatnya. Dan, aku bukan sedang jenuh dengan itu semua. Tidak. Tapiiii, saat ini, aku pengin uzlah ajah dari segala bentuk maya, kecuali blog dan email serta chat application (ym dan gtalk). Hee…. Aku telah menghapus akun friendster dan twitterku secara permanen. Dua akun yang pernah jadi toprank… bahkan twitter saat ini juga termasuk jajaran jejaring social yang toprank, kalo ndak salah. Betul tidak niih?!
Aku juga sudah minggat secara permanen dari multiply, padahal lagi euphoria-euforianya ber-MP ria. Hehe. And also, deactivated akun fb. Selain itu, aku juga lagi meng-uzlah-kan diri dari kaskus, yahoo! Pulse, myspace, flickr, linkdh, hi5, scribd, picasa, cybernet, boxnet, myslide, dan sederet lainnya. Yahoo! OMG jugak (hahaha…ngacoooo, masak ke OMG segalaaaa. Hihi. Gak laaaah… Gak masuk kualifikasi dan juga tak ingin masuk kualifikasi ini. Hehe…)
So what?
Sebenarnya bukan apa-apa sih. Lagiaaan, aku juga bukanlah artis yang membutuhkan ketenaran lewat itu semua. Adanya aku di dunia macam tu juga tidak akan memberikan banyak pengaruh. Toh, juga tak akan ada yang merasa keilangan karena adanya aku hampir sama dengan tiada. Hee…. Meski, aku tak menafikan juga, sebenarnya banyak sekali manfaatnya. Hanya saja, aku kepingin uzlah ajah… Hee… Hihi…sejak kapan jadi GJ begini yah? Khek…khek…khek…
Hmm…tapiii, hebatnya jejaring social di dunia maya itu ternyata bisa membuat orang-orang pendiam jadi “heboh”. Membuat orang-orang introvert jadi ektrovert. Dan parahnya, membuat banyak orang berasa jadi artis yang selalu di update di hadapan public. Macem-macem saja jenisnya. Mulai dari status curhat “Aku rindu padanya.”, “sungguh tak enak, patah hati”, “Sediiiiiihhh…”, “Capek”….lalu status-status mengenai aktiviti , “Lagi di pantai”, “Gw..lagi males mandi.”, “Gw kedinginan banget”, “Gw lagi baca farmakope”, “lg di airport”, “minum es kelapa muda bersama dirinya,” de se be hingga ke status…penuh caci maki melapiaskan emosi. Semuanya ter-update dengan lengkap. Mengapa booming ini terjadi hampir di segenap antero dunia?! Hmm….kabar-kabarnya sih, karena jejaring maya ini…memenuhi kebutuhan dasar manusia dari teorinya Pak Maslow di tingkatan ke-empat dan ke-lima. Benar atau tidak, aku pun belum buktikan!
Aihh…sudahlah… Kurasa, ini postingan tak penting saja. hihi. Udah gak penting, tulisannya kacawww lagiiiii. Huuuftt…. Semakin banyak saja tulisan-tulisan tak penting niiih.
Tahura : Memungut yang Terserak
Blog Award
![]() |
| Nih awardnyaa...^^ |
Cihaaa…alhamdulillaah….dapat award dari Rahmawati SS alias “kami” (hihi…..no offense SS). Sebelumnyaaa, trima kasih buanyaaak yaaah SS..^^
Karena rules nya haruslah menuliskan 8 hal tentang aku dan 8 blogger yang mau dikasi award, maka, aku pun memenuhi rules itu.
The rules that i accept this award, i must to do the following list :
1. thank and link to the person who awarded me this award.
2. share 8 things about myself.
3. pay it forward to 8 bloggers that i have recently discovered.
4. contact those blogger and tell them about their awards.
2. share 8 things about myself.
3. pay it forward to 8 bloggers that i have recently discovered.
4. contact those blogger and tell them about their awards.
---------------
8 hal tentang aku…
1. Ekstrovert
2. Ceria
3. Fluktuatif
4. Obsesif
5. Gaya kelekatan : insecure
6. Dominate
7. Pelupa dan selenge’an
8. Writinghollic
8 blogger yang aku kasi award
1.Ang's Blog (Dwi Asri Anggianasari)
Blognya Ang, Inspiratif dan (kadang) melankolik, cerdas, dan semangat. Selain itu, bersama Ang, berasa deh, bahwa ukhuwah itu tak mengenal jarak. Berawal dari pertemuan di blog, pada akhirnya….bertemu di dunia nyata. Sungguh, tak terbayangkan sebelumnya. Masya Allah…
2. Scientz’s Blog (Scientia Afifah)
Blog yang nge-ruhiy banget, berasa semangatnya, cerdas cara berpikirnya…dan just write what her feeling. Aku jarang sekali melewatkan tulisan-tulisan cerdas di blog ini (walau kadang2 suka bloon juga, banyak istilah-istilah yustitia yang tak kupahami, hihi). Tapiii, aku tak tau nih, apakah awardnya bisa dikasih apa tidak. Soalnya MP punya settingan yang sedikit berbeda dengan WP maupun BP. Hehe.
3. Zona Cahaya Mata’s Blog (Nur’any)
Berkunjung ke Blognya, kayak nemu rumah penuh warna keceriaan. Like this…^^
Tulisannya ‘Aini bagus-bagus juga euy.
4. Eka’s Blog (Eka Ferlinda)
Nah, blog eka ini, agak berbezza. Aku appreciate banget dengan blognya eka, karena, ke-istiqomahan-nya use English in her blog. Sesuatu yang bagiku sangat berat. Hehe. Sampai-sampai waktu pertama kali berkunjung, aku pangling, “apakah aku salah alamat atau tidak nih yah?” hihi. Kupikir awalnya, ini blog ditulis oleh warga selain Indonesia, saking gak adanya tulisan berbahasa Indonesia. Hehe.
5. Ice’s Blog (Micelia Amalia)
Hmm….blog Ice adalah most references ketika dulu mulai menyenangi desain blog. Thankyou Iceee^^. Suka baca istilah-istilah kedokteran dan segala sesuatu yang berbau dokter lainnya (memangnya dokter punya bau, yah? Hihi) dari blog ini.
6. Thasya’s Blog (Nathasya Humaira Adriani)
Aku appreciate banget sama Blognya Thasya, karena Thasya sudah nge-blog sejak umur 13 tahun. (Kelas berapa itu yah? Kelas 2 apa 3 SMP?), sesuatu yang sangat langka untuk anak seumurannya. ^^. Rasa-rasanya, dulu waktu aku umur 13 Tahun, bahkan tidak mengenal computer. =_=’
7. Shafeera’s Blog (Shafeera Green Sulaiman)
Blognya sisuka hijau. Hehe. Pertemuan pertama dengan Shafeera waktu lagi rihlah blog (baca : blogwalking). Tulisan Shafeera yang begitu menarik. Pokoknya asyik ajah ngebacanya. Seorang anak teknik yang nyastra abizzz^^
8. Tita’s Blog (Iftita Rahmi)
Pertama kali berkunjung ke blognya calon psikolog ini, sudah tertarik. Bagus tulisanna. Hmm…sebenarnya, blog-nya genre 9 Asrama, Smansa Papa (Urwatul Wutsqa) ini bagus-bagus semua euy. Blognya Ahmad Fauzi, Miftahul Rahmi, Indra Elfirasy, Maisyah Nelzima dan masih banyaaaaak lagi lainnya.
Sebenarnya, awardnya lebih dari delapan. Karena, masing-masing blog, punya keunikan tersendiri. Punya gaya bercerita tersendiri. Dan punya style serta karakter tersendiri. Tapiiii, karena Cuma dibatasi delapan, yaaah….terpaksa deh hanya dimuat delapan sahajaa. Hihi.
Buat para blogger semuanya…
Hayuu….hayuuu…keep writing, keep blogging.
Karena dengan ngeblog, kita bukan hanya tengah memuarakan rasa dan mewarnai wacana dunia, tapi terutama buat mengingatkan diri kita sendiri tentunya. Sesuatu yang kita tuliskan, maka….kitalah yang semestinya pertama kali menjadi pelakunya. Bukankah begitu?
Perpisahan
![]() |
| Alahan Panjang, Menjlang terbenam matahari, 29 Januari 2011 |
Sampai kapanpun, perpisahan tetaplah sebuah keniscayaan. Kendatipun, perpisahan selalu menjadi momentum yang sangat menyedihkan. Tapi, karena keniscayaannyalah, maka kita harus berdamai dengan segala bentuk perpisahan itu. Apalagi dalam kesejenakkan dunia.
------------
Menikmati zona-zona baru kehidupan.
Kembali mencengkramkan langkah…
Untuk episode selanjutnya.
Ada kegamangan di balik sejumput semangat yang kubawa serta.
Tapi, begitulah kehidupan. Begitulah potongan fragmen setiap episode-episodenya.
Selalu saja punya cerita lika-liku.
-----------
Baiklah….
Ini masanya…
Bahwa, sangat sedikit sekali waktu yang tersisa…
Bahwa, sedikitpun tak punya pengetahuan tentang esok bagaimana…
Tapi, untuk ini, untuk hari ini….harus dengan segenap upaya!
Harus dengan se-optimal-optimalnya mujahadah…
Sebab, inginnya kita adalah…penutup hari dengan amalan terbaik. Sedang masa penutupnya tak kita ketahui…Maka sejatinya, mestilah setiap detik adalah amalan terbaik. Semestinya… Sebab, kita tak pernah tahu, kapankah ujungnya…
----------
Ahlan wa sahlan di zona baru, Fathelvi…
Satu tekadmu, bahwa…apapun kisi hidupmu, KAU HARUS MENGOPTIMALKAN SEGENAP UPAYA TERBAIKMU!
Ruhiy—Fikry—Da’wy—Jasady—‘Amaly—Maaly
Hingga kereta kehidupan memberhentikanmu distasiun ketetapan-Nya…
Untuk menuju kebadian yang seabadi-abadinya…
Hendak seperti apakah hari keabadianmu?
Bukankah tau TAK PERNAH ingin, abadimu adalah seberat-beratnya penderitaan?
Lalu, kenapa tidak kau desain dari sekarang?
-----------
Padangpanjang,
The luvely sweet home town…
I’m coming…
Semoga kau tak bosan melihat wajahku, yang pernah 6 tahun membersamaimu…
Hehe…
Maka Ni’mat Tuhan Mana Lagi yang Kau Dustakan?
![]() |
| Sunrise di Solsel, Januari 2011 |
Subhanallaah…
Maka Ni’mat Tuhan mana lagi yang kau dustakan? (Qs. 55 : 55)
Tentang anugrah nafas-nafas kehidupan yang Allah percayakan. Tentang seoptimal-optimal upaya untuk menjalankan amanah itu. Tentang warna dan liku hidup yang penuh tanjakan, lalu tikungan, pun kemudian berjumpa dengan jalan yang mulus. Tak jarang berbatu, tapi juga bukan tak sering penuh wewangi bunga.
----------
Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang kau dustakan?
Bahkan kau tak memiliki angka kesanggupan untuk sekedar mengitungnya, Fathel…
Tapi, hanya berapa jenak waktukah yang kau habiskan dengan segenap kesyukuran?
Atau, kau hanya menganggapnya sebagai suatu ke-lumrah-an, yangmemangseharusnyabegitu?
Ah, tidak…tidak!
Nikmat Tuhan mana lagikah yang kau dustakan?
-----------
Tersimpuh di bawah remang-remang realita…
Bahwa sesungguhnya sudah begitu banyak….sudah tak terhitung…
Tapi, juga banyak yang luput dari kesyukuran
-----------
Wahai diri….
Bahwa kau bahkan tak lebih dari setitik debu…
Lemah
Hina
Lalu, alasan apa yang kau punya, untuk dapat sekedar mendongakkan kepala, he?
Alasan apa?!
Sungguh, tidak ada!
Labuhan Harap
“Bagemana, Fathel?”
Itu pertanyaan salah seorang sahabatku.
“Tentang apa?”
Aku meraba-raba arah pembicarannya.
“Tentang itu…”Katanya.
“Ah, aku baru bertemu kuncinya. Bahwa, kita memang tak pernah bisa menghapus rasa. Tapi, yang bisa kita lakukan adalah memutus harap. Tidak ada lagi harap-harap pada manusia (yang juga sama dhaifnya). Hanya cukup pada Allah saja. Cukup pada Allah saja, labuhan segala harapan itu. Di tangan-Nya, segala keputusan terbaik.”
Itu pertanyaan salah seorang sahabatku.
“Tentang apa?”
Aku meraba-raba arah pembicarannya.
“Tentang itu…”Katanya.
“Ah, aku baru bertemu kuncinya. Bahwa, kita memang tak pernah bisa menghapus rasa. Tapi, yang bisa kita lakukan adalah memutus harap. Tidak ada lagi harap-harap pada manusia (yang juga sama dhaifnya). Hanya cukup pada Allah saja. Cukup pada Allah saja, labuhan segala harapan itu. Di tangan-Nya, segala keputusan terbaik.”
Subscribe to:
Posts (Atom)












