Tak Perlu Jauh-Jauh Mencari Analgetik, Temukan saja di Sholat


Waah…serru banget kalo udah diskusi. Apalagi sama Pakar Klinisi yang gaungnya udah Nasional kaya’ bu dra. Deswinar Darwin, Apt, SpFRS. Aku tuuh memang paling suka diskusi sama ibu ceria yang satu inii. Selaluu saja ada ‘ilmu baru yang didapatkan. Nah, kali ini aku diskusi sama Ibu di Apotek. Bareng sama Uda Faris yang meng-acc kan skripsi, Da Willie yang juga meng-acc kan skripsi dan Uni Bolin yang ngasi tugas case nyaah. Kebetulan yang dibahas itu masalah obat analgetik untuk pasien kanker.

Analgetik, secara sederhana merupakan obat untuk menghilangkan rasa sakit dengan jalan menurunkan ambang nyeri. (ng…benar gak yaah macam niy? Hee…, jika ada yang salah, tafadhol dioreksi aja dah! Diriku lagi gak liyat text book. Mengandalkan isi kepala yang sederhana niy ajah). Banyak penggolongannya, mulai dari yang ringan-ringan macam antalgin dan asam mefenamat untuk sakit gigi, hingga ke morfin, pethidin and segolongan narkotik lain. Biasanya, pasien2 penderita kanker boleh dikasikan obat golongan narkotik ini untuk menyelamatkan si pasien dari rasa sakit dan jeritan yang amat sangat!

Sementara, untuk menghilangkan rasa sakit di waktu pembedahan, digunakan anastesi, dimana anastesi ini bekerja dengan cara memblokir saraf yang menuju tempat pembedahan sehingga tidak terasa sakit. Kalo bahasa umumnya dengan dibius. (lagi-lagi, tolong benarkan yang salah yaaaah)…

Mendengar cerita ini, aku jadi teringat mengenai kisah seorang sahabat yang luar biasa. Siapa yang tak kenal dengan Urwah bin Zubair ra? Sosok yang sangat luar biasa. Ketika itu beliau terkena tumor di telapak kaki yang harus diangkat. Orang-orang berkata, “kakimu harus diamputasi. Ijinkanlah kami memberimu arak agar kau tidak merasakan sakit.” Ng..berarti di sini, arak sebagai anastesi rupanya. Lalu Urwah menjawab, “Aku takkan menggunakan hal-hal yang haram untuk melakukan ketaatan kepada Rabbku.”
“Kalau begitu, ijinkan kami memberi obat tidur.”
“aku tidak suka bagian tubuhku diambil ketika tidur.”
“Kalau begitu, bagaimana kalau kami panggilkan beberapa orang untuk memegangi kakimu agar tidak bergerak?”
“aku akan membantu diriku sendiri.”
“bagaimana caranya?”
“Biarkan aku sholat, lalu tunggulah hingga aku tenang. Ketika aku sujud lakukanlah apa yang hendak kalian lakukan.”
Masya Allah…
Bukankah ketika seorang manusia agung terkena anak panah, jua dicabut ketika sholat?

Subhanallaah…
Sungguh, sholat sebenarnya memberikan ketenangan yang jauuuuuuh lebih tenang dari morfin sekalipun. Ia semacam endorphin luar biasa yang ditelusupkan disetiap jengkal persarafan kita. Sehingga, setelah menunaikannya, menjadi tenanglah jiwa seorang mukmin…

Kisah diskusi ini dan kisah ini, semoga menjadi pelajaran dan motivasi bagi diri kita untuk terus menerus meningkatkan kualitas sholat kita, sebab sholat adalah intinya ibadah! Bukankah dalam haditsnya, Rasulullah pernah mengatakan : “yang pertama dihisab pada diri seorang hamba di hari kiamat adalah sholatnya. Jika sholatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya. Tetapi bila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh amalnya.
Nasihat ini, kutujukan untuk diriku sendiri terutama. Smoga kita semua bisa mengambil hikmahnya.

0 Comment:

Post a Comment

Feel free to accept your comment. Spam comment will be deleted and blocked