Aku Bukan Anak Sekolah!

Aku bukan anak seeeekolaaah satu es em a...^^
Cerita ini bukanlah sebuah cerita penting. Tak usahlah engkau baca. Jika kamu tak rela untuk menghabiskan waktu berhargamu hanya untuk membaca ini, sebaiknya lewatkan saja curhat kali ini. Sebab, tak banyak yang bisa engkau bawa pulang.
Tapi…tapi…, keliayatannya masih ngotot niih mau ngebacaaa meski udah di-warning “gak usah dibaca”. Yaah, apa hendak dikata, kalau kamu masih begitu ngotot ke pingin baca, dan begitu penasaran bangeeeet, yo wis…. Tafadhol di baca aja. (hehe, lagi labil!)
__________________

Suatu malam,
“Dik, sekolahnya di Padangpanjang yak?”
“Dulu iya.”
“Dulu?”
“Sekarang saya sudah tamat, Pak. Dari Unand. Dulunya emang sekolah di SMA 1 Padangpanjang.”
“Hoo….saya kira masih sekolah.”

Di suatu mushala kecil, Industri Obat-obatan.
“Dari SMK mana yah, Nak?”
“Saya dari Mahasiswa Profesi Apoteker, Bu.”
“Oohhh…. Saya kira teh anak SMK yang praktik di sini, atuh.”

Lain lagi ceritanya dengan yang ini,
“Sekolah di mana, Dik?”
“Saya pengangguran sekarang Mas.”
“Pengangguran? Kenapa tak kuliah saja, Dik?”
“Waaah, saya sudah tamat kuliahnya, Mas.”
“Ouuhhhh, sudah tamat, tho? Saya pikir masi anak sekolahan.”

Gubraaakkk…
Tuing…tuing….

Hmm…tak terhitung sudah jumlahnya orang-orang yang masih menyangka aku anak SMA. Bapak Dandim Batalyon C tadi, Ibu di Industri Tanabe itu, juga Mas ketum BPP Jarwil FLP , dan banyak orang-orang yang tak sengaja berjumpa di jalan yang kemudian selalu berasumsi aku anak SMA. Tampak-tampaknya I have a talent to be a SENAMPTN Joky (although, I don’t wanna do it). Wkwkwk. Kalau pun ngulang SPMB (baca : SNMPTN) lagi, sepertinya tak satu pun pengawas yang mempertanyakannya. Hihi.

Lain cerita, ketika diskusi dan training bersama Dr. Yoshitsugu Nakaguchi, kami (para anggota great team) dan beberapa dokter yang sedang mengambil spesialis Mikrobilogi Klinis. Sampai dua kali loh, salah satu ibu dokter itu mempertanyakan, “Fathel kan lagi ngambil S-2 yah?” Padahal, diriku kala itu masih (tertatih-tatih) menamatkan S-1. Kayaknya, tak yakin giituuh si Ibu dokter, kalo saia masih S-1. Wkwkwkwk…. Narsis! Waktu rapat pun, lagi-lagi ditanya, “Fathel sedang S2 kan yah?”
Untuk pertama kalinya cuping hidungku kembang kempis dengan rasa bahagia. Selama iniii, selalu dikira anak SMA, dan untuk kali pertamanya dikira S2, oleh dokter (calon) spesialis pulak. Heuu….



Hikmah yang dapat diambil adalah… “Tak mengapa, wajah masih SMA tapi pemikiran sudah S2 dari pada wajah S2 tapi pemikiran masih SMA” Hehe…

Tuh kaaah, kaga penting kaaaan? Silahkan nyesel deh karena udah baca. Hehe.

2 comments:

  1. yarp yarp yarp.
    Walah2 selamat deh dengan wajah sma nya dan pemikirin s2 nya.
    Semoga bisa saling share.

    ReplyDelete
  2. hehehehe...yup..yup..saling share yaah^^

    ReplyDelete

Tafadhol, jika ada pendapat lain, masukan, tambahan, kritikan dan saran, hehe, ayuuh... di kasi comment...^^
(jangan lupa pilih salah satu profil yg koment yah. biar termoderasi. jangan anonim. okeh? ^^)