Tentang 'Melingkar' di Negeri Gurun

Baiklah..
Mari bercerita yang ringan-ringan sahaja... Haha emang biasanya ceritanya berat apaah? -_-

Salah satu perbedaan mendasar (ehh salah tiga dink) agenda 'melingkar' (baca: Liqo) di negeri Riyadh ini dibandingkan liqo yang pernah aku tempuh di Indonesia sejak tahun 2004 lalu adalah:
1. Tempat
2. Konsumsi
3. Alasan Syar'i untuk ijin

Mareee kita jabarkan satu persatu.

Tempat. Kalau dulu di Indonesia, tempat 'melingkar' selalu hampir sama setiap kali pertemua . Misal di rumah MR. Atau di markaz-markaz dakwah, di wisma-wisma, nebeng di SDIT, bahkan di pelataran masjid kampus. Jika sudah ditetapkan di satu tempat tersebut, maka liqo akan berlangsung di tempat itu setiap kalinya kecuali ada pengalihan agenda.

Kalau di sini, tempatnya selalu berubah-ubah. Semua anggota akan kebagian untuk menjadi tempat 'melingkar'. Jika anggotanya ada 7 orang plus 1 MR, maka akan ada 8 giliran sahibul bait/tuan rumah. Pun begitu dengan agenda melingkar bapak-bapak (para suami). Semua pernah ketempatan. Dan ini berkaitan erat dengan point kedua yaitu konsumsi.

Konsumsi. Dulu sewaktu di Indonesia, masalah konsumsi bukan sesuatu yang perlu terlalu diagendakan. Bahkan pernah satu periode 'melingkar', kita ga pake konsumsi sama sekali even itu cuma segelas air mineral. Kalau ada yang bawa yaa syukur... Kalau enggak... tak jadi masalah. Bisa beli di warung sebelah. Ehehehehe...
Pernah juga--saking ga ada konsumsi berupa snack kudapan--iqob keterlambatan adalah harus bawa snack. Hehehe...
Atau, pernah juga... snack disediakan MR secukupnya atau sekedarnya. Ma syaa Allah.... baiknya MR, udah bagi-bagi ilmu, nge-charge ruhiyah kita, beliin snack lagi.

Nah, kalau di sini... sekali 'melingkar', heboooohhh banget!!!
Ada makanan berat (boleh nasi rames, soto, pecel, mie ayam, sate,dll) apa ajaaaa sesedianya shahibul bait alias tuan rumah yang ketempatan.
Gak cukup makanan berat! Ada snack juga yang terdiri dari snack manis (bisa kue lumpur, pie, bolu, kue sus, sadar gulung, onde-onde wijen de el el). Trus snack asin (bisa bakwan, risol, lemper, arem-arem, pastel, de el el). Ada juga buah (kurma, anggur, apel, pisang de el el). Dan jangan lupaa, ada minuman berupa asir (jus buah) dan atau teh manis serta air mineral botol.
Heboh ga tuuh???
Hihihi...

Pokoknya kalau setiap liqo, udah kayak ngundang acara syukuran dah! Ibu-ibu udah sibuk pontang-panting bereksperimen di dapur. Kadang dicicil dari dua atau satu hari sebelum liqo. Bukan cuma buat liqo ibu-ibu, tapi juga buat liqo bapak-bapak alias para suami. Jadi dalam 1-2 bulan, kemungkinan besar kita akan menyiapkan konsumsi baik utk liqo sendiri maupun untuk liqo suami. Hehe...

Dulu aku sempat kaget. Mana pengalaman memasak dalam jumlah banyak juga minim. Adeuuuhhh... deg deg an banget deeh kalo kebagian giliran konsumsi dan ketempatan. Pengalaman pertama kala itu pas liqo suami. Masak dari sehari sebelum liqo. Dibantuin suami uleg cabe, iris bawang, dan segenap pernak perniknya. Meski dengan rasa kurang PD, kala itu terhidang juga Dedeng balado ijau dan sayur tauco. Snacknya sambosa dan puding. Fiiuufft... abis itu langsung tepar. Wkwkwkwk...
Pengalaman selanjutnyaaa??? Hahaha kapan-kapan kita share lagi yak. Gak janji loh... :P

Alasan syar'i untuk ijin. Jika suami ndak bisa mengantarkan kita (para ibu-ibu) untuk liqo dan tidak ada teman seliqo yang berdekatan yang bisa ditebengi, maka itu menjadi alasan syar'i untuk tidak datang liqo. Dulu kalau di indonesia, jika suami ga bisa antar ya udah, naik angkot kan bisa. Naik ojek kan bisa. Hehehe... jadi, gak datang karena alasan suami ga bisa ngantar bukanlah alasan syar'i. Nah kalau di sini, ke rumah tetangga pun mesti diantar suami. Apalagi liqo dengan jarak tempuh 30-an KM. Naik taxi sendiri? Hiiiiyyy syereeeeeeemmnyyaaaaa...

Baiklah... itu perbedaan yang aku rasakan. Bukan cerita penting sih. Hehe.. Yang terpenting adalah esensi dari liqo itu tetap sama, di manapun buminya... bahwasannya ia adalah sarana untuk re-charge ruhiy, sarana untuk berkumpul dengan orang-orang yang (in syaa Allah shalih), sarana untuk saling memotivasi dan menguatkan serta berukhuwah. Daaaan jugaaaa, sarana untuk menikmati makanan indonesia setelah yang diliat di sekeliling hanya nasi briyani, kabsyah, shawarma dll. Ups! Xixixixixi...
*kabur sebelum ditimpuk... :P

0 Comment:

Post a Comment

Feel free to accept your comment. Spam comment will be deleted and blocked