Titik ‏Hitam

Sangat populer artikel beredar tentang titik hitam di tengah kertas putih ini kan ya? Ada kertas putih lalu setitik noda hitam. Apakah yang terlihat?

Dari banyak kisah yang dibagikan, dikatakan bahwa kita lebih cendrung melihat titik hitam yang kecil dari pada selembar kertas putih yang lebar. Maka, jangan memandang kekurangan anak atau pasangan atau orang lain saja tapi melewatkan banyak kebaikan lainnya sebagai mana titik hitam yang kecil berbanding kertas putih yang lebar/besar. Tentu pelajaran ini haruslah kita ambil. Bahwasannya, banyak potensi yang seharusnya kita gali pada diri anak, dibanding kekurangannya yang tampak. Bahwasannya banyak kebaikan pasangan yang telah ia berikan, dibanding kesalahan yang telah ia perbuat dan mungkin ia tak sengaja melakukannya. Bukankah kebanyakan ahli neraka adalah perempuan? Bukan karena ia melalaikan shalatnya melainkan karena kufurnya ia pada kebaikan suaminya? Wal iyya dzubillaah.
Tapi, dalam memandang dosa, hendaklah kita seperti memandang titik hitam tersebut. Satu dosa yang kita lakukan, sudah cukup untuk menodai hati kita sebagaimana titik hitam di kertas putih itu. Dan itu sudah cukup untuk mengurangi dan bahkan menghilangkan nikmat untuk berdekatan dengan-Nya. Lalu bagaimana dengan titik hitam yang banyak hingga tertutupilah celah putih tersebut?! Sungguh, telah tertutup hati itu. Hingga ia menjadi keras. Dan bahkan lebih keras dari batu.

Ini sebagai pengingat diri sendiri. Bahwasannya, ketika ada titik hitam pada hati kita, semoga Allah memberikan kita taufik dan hidayah-Nya untuk menyegerakan taubat atas dosa tersebut. Dan semoga pula Allah menerima taubat kita tersebut. Agar ... ketika kematian datang memutus kelezatan kita dengan dunia, Allah memanggil kita dalam keadaan bersih dari noda itu (husnul khatimah). Sebab ajal tidak mendatangi kita dalam keadaan menunggu kita bertaubat, maka sudah sepantasnya kita menyegerakannya. Mumpung masih di atas tanah. Mumpung masih belum berada di bawah tanah dan kesempatan beramal dan bertaubat sudah tertutup.

Sekali lagi. Ini adalah pengingat bagi diriku sendiri terutama. Bahwasannya noda hitam itu ... sudah cukup untuk menghilangkan nikmat mendekat kepada-Nya dan bahkan mendatangkan musibah bagi diri kita. Bukankah musibah itu kadang kalanya adalah karena ulah perbuatan kita sendiri?!

Tapi, bukan berarti kita berputus asa tentunya. Sebanyak apapun dosa, Allah Maha Pengampun, Allah Maha Luas Kasih Sayang dan Rahmat-Nya. Semoga kita termasuk orang yang dikaruniakan rizki taufiq dan hidayah-Nya, juga golongan orang yang dikaruniakan rizki taubatan nasuha sebelum maut. Sungguh dunia ini hanya sebentar saja wahai diriku. Maka berbekal lah untuk kehidupanmu yang sesungguhnya (akhirat)!
Read More

Penyesalan

Suatu ketika ada acara di mana acara tersebut juga menyediakan doorprize bagi peserta yang beruntung bisa menjawab pertanyaan. Di pertanyaan pertama, aku ingin menjawab tapi ada keraguan di hati. Jawab enggak yaa ... jawab enggak yaa ... jawab enggak yaa. Yah kayak ragu-ragu gitu. Tapi kebetulan saat itu tak ada yang bisa menjawab.

Dan kunci jawabannya ternyata sama dengan jawabanku yang tadi aku lewatkan kesempatannya. Nyesek? Iya ... Lumayan kaan dapat doorprize kerudung.

Kisah lain. Ke masjid Quba di masa pandemi. Kami sebenernya sudah sampai di sana sebelum ashar. Akan tetapi, ketika itu HP sengaja tidak aku bawa sehingga ketika itu harus balik lagi ke mobil. Padahal suami sudah bilang untuk bawa HP aja. Tapi karena tidak membawa tas dan abaya yang juga tidak ada kantong/sakunya, aku berpikir akan sedikit repot membawa HP jadinya HP ditinggal aja. Tapi ternyata ketika akan masuk masjid Quba, diminta app Tawakkalna. Jadi butuh HP dong yaa. Harus balik ke mobil. Akhirnya diputuskan untuk gantian dulu sama suami. Aku gantian nunggu di mobil, dan suami yang ke masjid Quba. Ketika giliran aku yang mau shalat di sana, shalat ashar sudah selesai, dan ternyata masjid Quba ba'da ashar sudah ditutup. Sedih banget. Padahal sebelumnya punya kesempatan untuk shalat di masjid Quba tetapi kesempatan itu terlewat. Menyesal? Sangat!

Ada berapa banyak penyesalan yang telah kita rasakan dalam hidup ini?! Bagaimana rasanya? Nyeseek?! Iya, menyesal itu ternyata adalah sebuah siksaan tersendiri.
Itu hanyalah penyesalan-penyesalan "kecil" di dunia. Sesuatu yang mungkin bisa kita "jemput" kembali. Doorprize kerudung yang terlewat, masih bisa diganti dengan order atau jahit kerudung sendiri. Terlewat ke Quba, in shaa Allah masih ada kesempatan esoknya.

Tapi, penyesalan itu pasti akan terasa sangat berat dan menyesakkan ketika kita sudah sampai di akhirat. Di mana, penyesalan itu tidak akan pernah bisa kita "jemput" lagi. Orang beriman dan beramal shalih menyesal karena dia ingin beramal shalih lebih banyak lagi. Apalagi orang kafir dan munafiq. Menyesal yang teramat dalam tidak memilih jalan yang benar.

Semoga kita bisa lebih banyak mempersiapkan diri untuk hari itu. Hari di mana segala amal kita dibeberkan. Hari di mana melewatkan satu kalimat Tasbih yang mungkin saat di dunia terasa ringan tapi tidak kita lakukan, lebih kita sesali dari pada hilangnya emas dan perak semasa di dunia. Kehilangan emas segepok gegara kemalingan hanya karena kita lupa mengunci pintu rumah mungkin tidak akan seberapa penyesalannya dibanding kesempatan amal shalih yang kita lewatkan begitu saja ketika di akhirat kelak. Ketika kita melihat balasan Allah atas apa yang telah kita lakukan. Kemaksiatan yang tidak sempat kita taubati mungkin akan sangat kita sesali di akhirat kelak ketika kita melihat balasan dari amal tersebut. Juga ketika kita berlaku dzalim kepada orang lain; walau hanya sekedar ikut membully nya dengan jempol kita di medsos padahal kita kenal di dunia nyata pun tidak, pasti akan kita sesali ketika urusan ini tidak kita selesaikan di dunia dengan meminta maaf kepadanya. Maka, penyesalan itu pasti akan menyiksa sekali. Kelak. Ketika menyesal itu tidak ada lagi gunanya. Ketika setiap manusia berkata "Andai aku berbekal untuk kehidupanku (yang abadi)". 

Ini adalah peringatan dan nasihat untuk diriku pribadi terutama. Semoga Allah senantiasa memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita. Tanpa taufiq dan hidayah-Nya, sungguh kita pasti takkan mampu melakukan amal shalih dan meninggalkan hal laghwi maupun kemaksiatan. Maka, sungguh yang paling mahal di muka bumi ini adalah hidayah-Nya! Tak ada yang lebih mahal dari itu. Semoga Allah pilih kita untuk menjadi bagian dari hamba-Nya yang diberi hidayah dan keistiqomahan hingga akhir hayat kita. Aamiin yaa Rabb ❤❤❤
Read More

Teori Parenting


Ada banyaaak sekai teori parenting di muka bumi ini. Jika ibu-ibu jaman dulu susah mengakses informasi dan keilmuan, zaman sekarang malah sebaliknya. Informasi itu sangat banyaaaaak sekali beredar! Sampai-sampai bingung mana yang harus diambil karena kadang sebagian bertentangan satu sama lainnya.

Tapi, informasi yang banyak itu, terkadang adalah informasi yang terpisah-pisah. Seperti kepingan puzzle yang berserakan. Bingung bagaimana menyatukannya. Ketika mendapat informasi tertentu, begitu bersemangat menerapkan tapi sayangnya tidak long lasting. Tidak bertahan lama. Kembali lagi ke titik semula.

Aku, ketika sebagai praktisi (dibanding dulu sebagai komentator aja alias pengamat hehe) merasakan betapaaa manis "teori" yang dulu aku tuliskan itu tapi... pada pelaksanannya memang tak mudah! Tak mudah! Akhirnya aku sampai pada kesimpulan; meskipun semua cinta ibu di dunia ini untuk anaknya adalah hampir sempurna, tapi ... tak ada ibu yang sempurna. Sehebat apapun ia, pasti ia pernah melakukan kesalahan terhadap anaknya. Karena memang, manusia sejatinya adalah makluk yang lemah. Sama sekali tidak sempurna.

Cara ibu mencintai, ungkapan cintanya, tidak selalu selaras dengan sesuatu yang baik untuk anaknya. Semisal ibu dengan dalih cinta anaknya lalu memberikan segala yang anaknya mau tentu bukan hal yang baik untuk anaknya. Atau, ibu yang sangat menyayangi anaknya, ingin melindunginya selalu, bisa saja jatuh kepada over protective sehingga apapun yang anak inginkan dilarang. Maka cinta juga butuh belajar. Butuh belajar tentang bagaimana yang baik dan semestinya dalam mendidik mereka.


Tapi, belajar saja tidak cukup ternyata. Seorang ibu dengan segudang ilmu parenting sekalipun, ternyata belum sepenuhnya bisa mengasuh anaknya dengan menerapkan segala ilmu dan teori yang dia punya tersebut. Misal, saat dikuasai emosi negatif dan amarah, apakah sang ibu dapat rasional menerapkan teori parentingnya yang segudang? Tidak. Tidak cukup dengan teori saja. Harus latihan. Harus terus berlatih. Bertumbuh.

Selain berlatih untuk menerapkan, ada satu lagi yang terpenting dan jauh lebih penting dari teori parenting! Yaitu iman. Percayalah, kondisi iman kita sebagai ibu sangat sangat menentukan bagaimana kita bersikap kepada anak. Ketika iman melemah, mungkin kita mudah untuk "menyambut" rayuan syaithan untuk berbuat akhlak yang kurang terpuji baik dalam perkataan maupun perbuatan ketika marah kepada anak. Tapi ketika iman kita dalam kondisi full charge, biasanya kita lebih mudah untuk mengendalikan diri. Iman adalah bentengnya. Tentu tanpa menafikan ilmu pengetahuan tentang pengasuhan juga.

Satu lagi yang sering terlupa adalah ... bahwasannya kita mungkin secara tak sadar "menyandarkan" kepada ilmu atau teori saja. Padahal ada satu hal sangat penting lainnya yang membuat kegiatan pengasuhan itu lebih baik, yaitu do'a. Do'a agar dimudahkan dalam mengasuh anak, dalam mendidik mereka dan membimbing mereka. Jangan pernah merasa jumawa dengan banyaknya ilmu dan hebatnya praktek. Justru kita harus menyandarkan segenap urusan ini kepada Allah. Memohon kepada-Nya agar baik akhlak dan lisan kita dalam mendidik anak. Sungguh, ketika berhasil, itu bukan karena kita hebat dalam mendidik anak. Bukan karena banyaknya ilmu kita. Melainkan karena Allah-lah yang memudahkan kita.


Semoga Allah menjadikan anak-anak kita shalih/shalihah dan mushlih. Merekalah harapan kita ketika kita tiada. Do'a-do'a mereka yang kita harapkan ketika kita tak lagi dapat melakukan amal shalih, terbujur kaku di bawah tanah. Smoga Allah mudahkan kita dalam mendidik mereka, anak-anak kita. Sebab akan ada masa orang tua lari dari anaknya di yaumil hisab kelak. Ketika ada hak-hak mereka yang belum kita tunaikan di saat kita mampu menunaikannya tapi kita melalaikannya. Astaghfirullaaah.
Read More

"Melepeh" Kata

Sudah lama tidak menulis di blog. Kangen. Tapi kali ini, aku bertekad akan kembali mengisi blog. Yah, mungkin bukan cerita panjang. Hanya lintasan-lintasan pikiran. Untuk pengingat diri tentunya. Karena aku juga tau, blog ini sepi dan seperti hampir mati suri. Jadi, tak banyak juga yang melihat. Aman untuk berbagi. 

"Menikah berarti saling mencuri tabi'at" begitu kata tausyiah seorang ustadz yang sudah aku lupa namanya di suatu kajian keluarga. "Pada suatu masa, bisa saja istri dan suami akan saling bertukar karakter" (yang diistilahkan beliau mencuri tabi'at) dan aku termasuk orang yang membenarkan apa yang beliau ucapkan. Aku yang extrovert, ketemu belahan jiwa yang introvert, berjalan di tahun ke-9 pernikahan kami (alhamdulillaaah sudah memasuki tahun ke-9 ma shaa Allah) menjadi lebih introvert. Sementara, suami lebih extrovert saat ini. Hehe. Dulu kalau ada apa-apa, aku sangat mudah bercerita kepada siapa saja. Sekarang, suami adalah satu-satunya orang yang paling tau apa ceritaku. Ketika hendak bercerita kepada orang lain, rasanya aku berpikir puluhan kali; apakah cerita ini layak untuk aku ceritakan ke orang lain. Mungkin karena--ma shaa Allah--aku menemukan kenyamanan yang amat sangat ketika bercerita dengan suami, jadi tidak butuh tempat lain untuk bercerita. Kepadanya, cerita mengalir bagai sungai yang deras. Dan waktu 3 jam serasa hanya 15 menit. Ma shaa Allah tabaarakallaah. Alhamdulillaah bini'matiHi tatimmusshalihaat.

Hari ini di sebuah grup WA, ada ibu² bercerita kalau dia merasa malu, menyesal dan merasa bersalah. Pasalnya, ketika sedang memarahi atau mengomel dengan sang anak, tak dinyana mic sang anak sedang tidak kondisi mute. Jadi, omelan tersebut terdengar ke seantero isi kelas sang anak yang memang lagi sekolah zoom. Haduh, nano nano rasanya. Tapi, sepertinya hampir semua ibu yang mendampingi anak sekolah pernah mengalaminya. Aku pun pernah, hehe. Sedikit beruntung, teman sekelas kakak tidak ada yang bisa bahasa Indonesia. Karena memang kakak tidak sekolah di sekolah Indonesia.

Tapi, ada pelajaran berharga yang dapat aku petik dari peristiwa ini. Pelajaran berharga untukku tentunya. Jika kamu yang tak sengaja membacanya juga, semoga juga dapat memetik pelajaran ini bersama-sama. Bahwasannya, setiap kata itu yang keluar dari lisan kita--sebagaimana penjelasan ustadz Abdul Aziz Abdul Ra'uf dalam tafsir surat Al Waqiah--seperti sesuatu yang "dilepeh" di sisi-Nya. Ter-record dengan sangat apik dan di yaumil akhir akan menemui wujudnya. Artinya, kata-kata yang sekarang hanya terlihat bagai awang-awang, dan tentu saja tak ada wujud fisiknya, nanti di akhirat akan ditampilkan Allah dalam wujudnya. Ibarat melepeh permen. Ada wujudnya. Tapi, bukan seperti itu yaaa. Tentu saja mekanisme nya kita tidak tau karena itu perkara ghaib saat ini. Semua kata baik, kata buruk akan ada wujudnya. Akan ada report nya.

Jika di dunia ini, hanya dengan segelintir orang, kita merasa malu ketika kata yang kita sampaikan bukan kata yang menyenangkan untuk didengar, lalu bagaimana di yaumil akhir kelak? Bagaimana malunya ketika semua kata-kata dibeberkan tanpa penambahan maupun pengurangan sedikit pun? Akan tenggelam dalam kedalaman keringat seberapa kah kita? Ya Allah.. semoga Allah tutupi aib-aib kita di akhirat kelak dan Allah hisab kita dengan hisab yang mudah. Aamiin yaa Rabb.

Ini pelajaran buat aku agar lebih berhati-hati untuk memperhatikan apa yang keluar dari lisan. Segera bertaubat dan beristighfar jika itu sesuatu yang salah sesegera mungkin karena:
- kita tidak tau apakah masih ada kesempatan bertaubat dan beristighfar di masa mendatang atau tidak
- kita akan terhalang dari banyak kebaikan (menjadi musibah) ketika masih ada dosa yang mengganjal. Ada dosa yang belum ditaubati, sungguh telah cukup membuat kenikmatan untuk melakukan amal shalih jadi tercerabut. Astaghfirullah


Tentu ini nasihat pribadi untuk diri sendiri terutama. Karena diri ini masih amat sangat sering tersalah. Juga belum bisa memenej lisan dengan baik. Tapi, bukan berarti harus putus asa. Harus berupaya semaksimal mungkin dan sebaik mungkin tentunya.





Read More

Pergi dengan Segenap Kebaikan

Hari ini, baik di Indonesia maupun di luar negeri seperti halnya aku sedang berduka. Salah satu ulama besar Indonesia, Syaikh Ali Jabeer dipanggil Allah. Semoga beliau husnul khatimah. Aamiin yaa Rabb.

Tak terasa, air mata mengalir di pelupuk mata. Hati ini begitu bersedih. Cukuplah sebagai bukti, tentang banyaknya orang yang bersaksi atas kebaikan beliau. Setelah beliau wafat pun, pesan-pesan kebaikan semakin menggema. Tausyiah, nasihat beredar ke berbagai pengguna. Inilah kebaikan yang terus hidup, melebihi masa pelakunya media massa. Hingga, di tempat yang tak ada lagi amal shalih, beliau masih terus "memanen pahala".

Sebelumnya, beredar pula pesan yang disampaikan oleh kapten Afwan, pilot pesawat sriwijaya air yang jatuh di perairan pulau seribu. Sebelum beliau wafat, tak ada yang mengenal beliau seperti terkenalnya saat ini. Mungkin hanya teman dan lingkungan terdekat saja. Tapi, tak terkenal di bumi, mungkin nama itu menggema indah di langit. Hingga, Allah ungkap segala kebaikan justru setelah berpulang. Begitulah orang-orang baik. Orang-orang shaleh. Orang-orang yang pergi dengan meninggalkan banyak kebaikan.


Sejenak diri ini tercenung.
Menelisik ke dalam. Diri yang masih jauh. Sungguh sangat jauh dari sosok-sosok hebat tersebut. Tentang waktu, yang banyak terlalaikan. Tentang amal shalih yang masih amat sangat sedikit. Lalu, bekal apa yang hendak dibawa? Sementara waktu pulang adalah sangat dekat? Sedetik waktu yang lalu adalah sesuatu yang telah jauh dan sedetik waktu kemudian adalah rahasia-Nya, apakah masih dimiliki atau tidak. Lalu, apakah masih besar ambisi terhadap dunia, sementara ia adalah persinggahan sesaat. Sedang akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya. Tidakkah cukup peringatan-peringatan ini untuk berbenah dan bersiap untuk perjalanan yang amat panjang dan kehidupan yang sesungguhnya, wahai diriku?
Read More

Skinker

Pembicaraan tentang skinker (skin care) selalu hits di kalangan emak-emak dan juga remaja yaa. Hehe. Dan aku (sebelum ini) termasuk golongan pengecualian, yang tak ambil pusing soal skinker-skinker an. Hoho.

Jadi ceritanya, memang dari dulu aku tu orangnya cuek soal perawatan-perawatan gitu yaa. Dahulu kala hingga semester 5 kalo ga salah, aku nyaris enggak pakek apa-apa buat perlindungan wajah. Tapi waktu itu masih muluus gitu (enggak jerawatan, alhamdulillaah). Tapi, one upon a time; ada seminar yang diadakan oleh jurusanku (farmasi) yang mengupas soal perawatan dan kecantikan gitu. Naah, ada free gift nya berupa produk dari sponsor sebutlah merek X.

Namanya mahasiswa ehh mahasiswi, dikasi gratisan ya seneng dong yaaa. Xixixixixi. Jadi aku cobalah pakek itu si produk. Qadarullaah, ini kali pertama pakek produk-produk dan bikin break out. Huhuhuhu. Wajah jadi jerawatan dan itu besar² pula. Antara nyesel, sedih dan ga tau mau ngapa-ngapain.

Sejak itu aku agak rada trauma dengan yang namanya skin care. Pernah beberapa kali beli, tapi selalu aweet karena enggak konsisten dan ga kepake. Astaghfirullaah.

Waktu pun berlalu. Gegara itu produk, jerawatannya juga awet dan konsisten. Hwaaaa... Sedih siih. Tapi yasudah lah. Apalagi ditambah beban TA yang bikin hormon kortisol naik. Makin menjadi-jadi dah tuuuh.

Pas kuliah di Depok pun, sama. Karena trauma dengan skin care akhirnya aku enggak pakek apa-apa jugaaa. Huhu. Paling cuma facial cleanser dan itu pun enggak konsisten. Tapi, aku juga enggak nyadar wajahku itu kusam banget yaa. Karena polusi di kota kan juga tinggi. Apalagi sering bepergian kan. Karena kuliah di berbagai tempat. Sun screen? Mana kenal akutuuuu.

Pas jalan sama temen yang usianya beda hampir 8 tahun lebih tua dari aku dan sudah punya 2 anak, malah aku dipanggil "ibuk", sementara temenku dipanggil "neng". Gondok bangeeetttt. Hwaaaa... Berarti bermutu dong yaaa. Bermuka tua. Huhu. Jadi, sekarang aku baru nyadar kenapa aku dipanggil "ibu" pada jaman masih single itu. (Dan aku keseel banget dipanggil "ibu" ketika belum jadi emak-emak kala itu). Mungkin cocok kali yaa, mirip emak-emak yang enggak sempat skin care an. Wkwkwkwk...

Setelah nikah, ternyata kebiasaan itu kebawa. Aku masih seperti yang duluuu. Hehehe. Alhamdulillaaah, bersyukur banget suami support apapun kondisinya. Enggak skin care an gapapa dan kalau mau skin care-an juga boleh banget. Alhamdulillaah. Mungkin aku karena berada di zona nyaman jadi enggak terlalu mikirin. Padahal ini di daerah yang sering ada badai debunya lhooo. Hwaaa.. segitu cueknya akuuu. Huhu.

Sampailah suatu hari aku bercermin. Maklum aku emang jarang bercermin siiih wkwkwkwk. Parah beut dah. Lihat muka koq kayaknya enggak enak banget dipandang. Kusam dan muncul tanda-tanda penuaan. Yaa namanya juga udah 30+ kan yaa. Kaget. Panik. Ya Salaam.

Pengen memulai skinker-an tapi bener-bener enggak tau apa aja yang dibutuhkan. Enggak ngerti sama sekali. Padahal anak farmasi lho ini akunya. Belajar formulasi. Ada matkul kosmetologi. Tapi enggak ngerti apa-apa soal kosmetik. Ditanya obat, masih bolehlah in shaa Allah biidznillah. Tapi ditanya kosmetik, aku nol besar. Bingung mesti mulai dari mana dan skinker yang kayak gimana.

Akhirnya tanya temen, tanya adek yang lebih berpengalaman. Bismillaah mulai deh memperbaiki. Semoga enggak terlambat yaaa. Hehehe

Ada beberapa cara berpikir yang salah menurutku selama ini. Pertama, karena aku berpikir bahwa skin care berarti memakai bahan kimia di wajah. Mungkin karena pengaruh pengalaman buruk yang aku ceritakan di atas yang bikin aku rada trauma. Tapi aku lupa (bahkan sebagai lulusan farmasi) bahwasannya keamanan adalah hal utama sebelum suatu sediaan diijinkan beredar. Mungkin saja akunya yang tidak cocok. Dan memang nyoba pakek produk dari merek yang sama selalu berakhir break out. Nah, kenapa tidak mencoba yang lain dan bahkan kalau perlu datangi dokter kulit.

Kedua, skin care tidak sama dengan tabarruj. Tabarruj adalah berlebih-lebihan dalam berias ketika keluar rumah. Sementara skin care adalah perawatan kulit yang ga mesti menor-menor. Dulu aku mikir sama aja skin care ama make up. Yaa, segitu parahnya sih akuu cuek dan enggak (mau) mempelajari soal tentang hal ini. Skin care adalah salah satu cara merawat "amanah" wajah yang Allah titipkan, in shaa Allah. Udah dikasi wajah yang lengkap enggak cacat alhamdulillaah masa enggak dirawat. Ya kan? Dan lagi, bukan buat siapa-siapa juga. Buat diri sendiri dan suami juga kaaan. Siapa sih yang enggak senang lihat wajah bersih dan terawat? Jika ada wajah kusam dan satunya lagi wajah bersih pasti sudah fitrahnya semua orang seneng yang bersih kaan. Nah, salah satu cara "berhias" di depan suami at least punya wajah yang enggak kusam. Jika niatnya adalah merawat "amanah" yang Allah titipkan sebagai bentuk perwujudan rasa syukur dan sekaligus memberikan penampilan terbaik di hadapan suami, mudah-mudahan Allah ganjar sebagai kebaikan dan pahala. Aamiin yaa Rabb. Ini soal niatnya gimana. Ya, dikembalikan lagi ke niat. Betapa banyak hal mubah yang ketika niatnya baik malah berbuah pahala. Makan kalau sekedar makan hanyalah sesuatu yang mubah. Ketika diniatkan untuk menguatkan raga agar bisa beribadah dengan baik in shaa Alalh jadi berpahala. Walaupun aku tuuh masih jauh yaaa dari ini. Dalam rangka mengingatkan diri sendiri terutama ini mah.

Disclaimer: tapi teteep yaa keluar rumah tidak boleh tabarruj (pakek make up berlebihan) yang sampai mengundang perhatian yang bukan mahrom. Berhias cukuplah di depan suami aja. Mau make up an yaa sok aja tapi di rumah aja. Pas keluar, dihapus dulu make up nya. Kalau suami enggak suka lihat istrinya pakek make up, yaa jangan dipakek. Cukup wajah yang bersih dan ceria. πŸ˜‰

Epilog:
Suatu ketika aku lihat baju yang tersimpan di lemari. Tertutup. Enggak kena cahaya matahari. Tapi ternyata tetap berdebu! Apalagi wajah yang terpapar berbagai hal. Piring yang ada minyaknya, enggak bisa bersih kalo cuma pakek air. Apalagi wajah kita. Ya kan? πŸ€—πŸ€—πŸ€— Alhamdulillaah akhirnya sadar jugaa emak Aafiya ini. Hehehe. 🀭🀭🀭



Read More

Perjalanan Ketiga di Tahun Pandemi

Selalu ada hikmah atas segala sesuatu. Dan inilah hikmah dari third vacation kami. Bisa jalan ke Barat lagi! Menghabiskan 2600 km lagi bersama. Alhamdulilaah tsumma alhamdulillaah.

Ceritanya vacation sebelumnya (baca di series lebih dari 3500 km bersamamu), cuti suami sebenernya masih nyisa 3 minggu. Dan baru diambil 2 minggu. Waktu itu agak heran kenapa ayahnya anak-anak cuma ambil 2 minggu. Kan sayang 1 minggu lagi. Secaraa, cuti ka enggak bisa diakumulasi ke tahun depannya. Jadi mesti dihabiskan di tahun yang sama. Kata suami, "Tenaang Bunda, sisa yang seminggu udah notice koq sama team leader nya Ayah. Pas desember in shaa Allah kita bisa ambil lagi." 

Alhamdulillaaah. Seneng. Awalnya agak-agak nyesek. Kalo 3 minggu kan, seminggunya bisa dipakek jalan ke Timur Saudi. Jadi plan nya sisa seminggu ini kitah akan ke timur saudi. Begitu dapat tanggalnya, langsung bikin itenerary akunya. Hehehe iyaa betul. Kalo urusan traveling planner, itu urusan emak-emak. Wkwkwkwk.

Planning udah tersusun rapih. Beberapa list destinasi sudah dikantongi. Fanatheer beach, ras tanura beach, half moon beach, murjan island, sci-tech centre dan beberapa destinasi lainnya. Memang, daerah timur adalah daerah yang banyak pantainya. Hotel-hotel pun sudah dibooking.

Tapi tiba-tiba kita ganti haluan! Balik lagi ke Saudi arah barat. Kalau harus membandingkan, tentu saja ke barat jauh lebih baik karena ada Makkah dan Madinah. Memang kalo secara posisi, Makkah dan Madinah terletak di sisi barat Saudi. Secara jarak ke Timur lebih dekat. Dari Riyadh ke Jeddah jaraknya sekitar 1000 km. Sementara Riyadh ke Dammam jaraknya sekitar 400 km.

Daan yang paling seruu adalah "berburu" slot utk beberapa aktivitas di Masjidil Haram dan Nabawi yang sekarang harus terdaftar lewat applikasi eatmarna. App yang khusus dari pemerintah.

Alhamdulillaah... Enggak nyesal rasanya ke Barat lagi. Alhamdulillaah banget. Kita mikirnya kalo ke Timur bisa pas week end. Tapi kalo ke Barat ga bisa. Minimal 3 hari. 

Rute kita hampir sama dengan sebelumnya. Beda 1000 an km sih. Hehe.. Lumayan yaak. Jadi awalnya ke Mekkah dulu. Dari Mekkah ke arah Jeddah mampir di situs bersejarah sisa-sisa peninggalan Hudaibiyah. Sebuah perjanjian ketika Rasulullaah dan sahabat hendak berhijrah namun dihalangi oleh kafir Quraisy untuk memasuki kota Mekkah. Jarak Hudaibiyah sendiri dengan batas Haram (tanah yang suci dan tidak bokeh dimasuki oleh selain Islam) cukup dekat. Ada masjid lama sisa peninggalan Hudaibiyah. Sayangnya penuh drngan coretan nama. Dan banyak nama orang indonesiaedi sana. Jadi malu sendiri sebagai orang Indonesia. Hehe. Apa sih urgensinya menulis nama di sana? Mafi faedah! Enggak ada faedahnya.

Dari Hudaibiyah kita ke Jeddah. Ibaratnya Jeddah numpang istirahat aja sih. Hehehe. Karena besoknya kita ke Yanbu. Di Yanbu mampir di Waterfront. Anak-anak berenang di laut lagi. Qadarullaah walhamdulillaah dikasi hujan di Yanbu meski cuma sebentar tapi cukup untuk ngebasahin karpet kitah. Hehehe. Dari waterfront belanja di Panda. Beli perbekalan buat masak-masak karena kitah booking apartement yang menyediakan dapur. Trus dari Yanbu kita ke Badr dulu.

Ada haru ketika sampai di Badr tempat Rasulullaah dan para sahabat melakukan perang Badr al Kubra. Salah satu perang yang sangat menentukan arah sejarah Islam. Para ahlul Badr memiliki tempat tersendiri di hati Rasulullaah. Pada perang itu pula, keangkuhan Abu Jahal sang fir'aun nya abad itu tewas dalam kekafirannya. Abu Jahal diserang oleh 2 orang pemuda anshar yang gagah berani dan kemudian menemui ajalnya lewat Abdulllah bin Ibnu Mas'ud. Pun, di perang Badr ini pula Umayyah bin Khalaf, yang dulu menyiksa Bilal menemui ajalnya dibunuh oleh Bilal.

Di Badr inilah dimakamkan 14 syuhada Badr. Nama-nama syuhada Uhud dipatrikan di sebuah monumen. Dan bahkan nama Jalan di sana pun dinamakan Thariq Shuhada Badr (jalan para syuhada Badr).

Ini adalah monumen syuhada Badr yang berisi nama-nama syuhada Badr.

Dari Badr kita ke kota Madinah dengan terlebh dahulu ke Masjid Quba. Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun Rasulullaah ketika sampai di Madinah. Beliau bermalam 5 hari di Quba dan mendirikan masjid. Shalat 2 rakaat di Masjid Quba memiliki nilai pahala yang sama dengan Umrah, begitu sabda Rasulullaah. Oleh sebab itu di masjid Quba ini selalu ramai dikunjungi oleh orang-orang muslim yang datang dari berbagai belahan dunia yang ingin berziyarah ke Madinah. 


Dari masjid Quba kita langsung ke Hotel yang udah dibooking. Dan menghabiskan sisa liburan di Madinah. Kota Nabi yang benar-benar peaceful ma shaa Allah.

Karena kasus covid di Saudi sudah menunjukkan trend penurunan alhamdulillaah dan semoga terus turun, aamiin yaa Rabb, maka jarak shaf shalat pun sudah mulai lebih rapat dari sebelumnya. Yang shalat di masjid Nabawi juga sudah sangat ramai karena ga perlu regiistrasi di app eatmarna sebagaimana shalat di masjidil haram. Tapiii, kalau mau jum'atan harus segera ke Masjid dari jam 9 pagi! Kalau udah jam 10 udah ga dapat tempat lagi di dalam masjid Nabawi. Ma shaa Allah.

Untuk ziyarah ke Makam Rasulullah pun harus daftar lewat app eatmarna. Dan enggak boleh tiap hari! Uniknya, pas kami nonton TV di Saudi Sunnah (siaran madinah) pas banget yang tampilnya di area prophet visit. Daan pada senang lihat ayahnya masuk TV. wkwkwkwkw


Pagi sabtu kami segera balik ke Riyadh. Tapi di pertengahan jalan menuju Riyadh (diperbatasan provinsi Qassim dan provinsi Riyadh) kami mampir dulu main di Gurun. Hehe. Anak-anak juga senang karena bisa main pasir. Red sands dunes di dekat daerah Ghat.

Alhamdulillah sekitar jam 4 sore kami sudah memasuki gate check point kota Riyadh. Perjalanan alhamdulillaah lancaarr. Dan juga semoga penuh barokah.


========
Banyak hikmah dari pandemi ini. Sejujurnya, kami sendiri banyak merasakan hikmahnya.
Di antaranya banyak quality time bersama keluarga. Apalagi suami sampai sekarang masih WFH.
Daan sejujurnya pula, di tahun 2020 ini yang notabene tahun pandemi tapii atas karunia dan kasih sayang Allah, justru menjadi tahun di mana terbanyak bagi kami untuk mengunjungi kota Madinah. Hadzaa min fadli Rabbi. Bahkan di tahun 2019 kami hanya sempat berziyarah ke madinah 1 kali saja. Selalu ada hikmah atas segala sesuatu tentunya.


Semoga Allah berikan kesempatan lagi untuk mengunjungi kota-kota suci. Aamiin yaa Rabb. Dan semoga pula Allah senantiasa menjaga kita dari wabah ini. Aamiin yaa Rabb.

Read More

My Little Maryam

Maryam. Begitu kami menamainya.

27 bulan usianya kini ma shaa Allah tabarakallah.
Orang-orang menyebutnya "terrible two". Tapi, baiklah ... kami menggantinya dengan istilah "Wonderful Two".

Meski lahir dari rahim yang sama, ketiganya memiliki karakter yang sangat berbeda. Kakak Aafiya, uni Aasiya, dan Maryam tiga-tiganya unik. Punya preferensi dan bakat yang berbeda pula. Bahkan makanan kesukaan pun berbeda.

Maryam di usia 27 bulan tentu berbeda dengan Aasiya di usia yang sama maupun Aafiya di usia yang sama. Tapi, tak elok membandingkan antar mereka karena setiap anak adalah unik. Sebagaimana setiap orang mempunyai sidik jari masing-masing.

Maryam.
Kami punya challange sendiri terhadap Maryam. Anaknya di usia segini punya pendirian sendiri ma shaa Allah. Di lain sisi, tidak mudah membujuk atau mengalihkan perhatiannya.

Tantrum?
Hmm ... hampir tiap hari. Apalagi kalau jeleous sama uninya.

Maryam juga satu-satunya yang palibg dekat dengan ayah sejak bayi. Sampai-sampai makan dan bobo pun maunya sama ayah. Kalau nangis, yang dicari pertama juga ayah. Mau mandi, maunya sama ayah. Ma shaa Allah.

Barakallaahu fiik my little princess. Jadi anak yang shalihah bertakwa dan qurrata' a'yun yaa Nak.
Semoga senantiasa dalam penjagaan Allah.
❤❤❤
Read More

Obat untuk Menunda Haid Sebelum Berangkat Umrah atau Haji dan Tips-Tipsnya

Kali ini edisi sharing dengan kapasitas aku sebagai seorang farmasis klinis (yang masih harus banyak belajar tentunya). Sharing ini berkaitan dengan obat penunda haid ketika melaksanakan haji atau umrah. Dan juga berdasarkan pengalaman pribadi. 😊😊

Bagi muslimah yang masih muda (belum menopouse) salah satu yang bikin deg-degan ketika mau umrah atau haji adalah datang bulan! Ya, karena momen ibadah ini waktunya tentu tidak bisa kita arrange sendiri. Harus mengikuti jadwal yang ada (dari travel umrahnya) yang kadang bertepatan dengan jadwal haid. Padahal, tidak setiap saat bahkan tidak setiap tahun kita bisa melaksanakan ibadah umrah. Apalagi haji. Waktunya sudah jelas-jelas Allah tetapkan sejak tanggal 8 hingga 12 Dzulhijjah (bagi nafar awwaal) dan 13 Dzulhijjah bagi Nafar Akhir. Gimana nih solusinya? Berikut aku paparkan sedikit ulasan dari sudut pandang aku sebagai seorang apoteker (klinis). Boleh dikoreksi oleh sejawat maupun dokter jika ada yang salah πŸ€—πŸ€—. Feel free to comment yaa.

Haid itu sendiri adalah proses alamiah sekaligus fitrah bagi seorang wanita. Di balik itu semua secara fisiologis (secara mekanisme yang ada di tubuh kita) ada proses yang sangat kompleks sekali. Ma shaa Allah, Maha Besar Allah yang telah menciptakan manusia dengan penciptaan yang amat sangat sempurna. Sederhananya, haid adalah peluruhan dinding rahim yang menebal yang siap untuk ditempati oleh janin. Jika tidak ada sperma yang membuahi maka, si dinding rahim akan meluruh (untuk kemudian diganti lagi dengan yang baru di siklus berikutnya). Kalau dijelaskan, maka akan rumit sekali. Jadi, secara sederhana aja yaa πŸ˜‰. Nah, salah satu hormon yang berperan penting di sini adala progesteron. Dari sekitar hari ke-14 hingga menjelang haid, kadar hormon ini mulai meningkat dan tinggi (karena siap-siap menyambut si janin imut tadi seperti yang diceritakan di atas). Jika tidak ada pembuahan maka seiring dengan meluruhnya dinding rahim (terjadinya haid) maka hormon ini juga ikut turun kadarnya. Setelahnya siklusnya akan dimulai lagi dari awal dengan melibatkan beberapa hormon lainnya. Tidak perlu dijelaskan kan yaa. Yang mau penjelasannya, boleeeh. Silakan komen.

Lalu gimana obatnya bisa menahan haid?! Jadi gini ceritanya. Si progesteron ini (beserta hormon-hormon lainnya, ada estrogen, HCG, Prolaktin, dll) berperan penting dalam proses kehamilan akan meningkat kadarnya selama kehamilan. Semuanya berperan di perannya masing-masing dalam rangka mensupport si baby di perut. Jadi, sekiranya ada sperma yang membuahi sel telur, kadar hormon progesterone akan terus dipertahankan (karena tidak ada peluruhan) dan akan terus meningkat selama kehamilan. Oleh sebab si progesterone berfungsi dalam penebalan dinding rahim dan mempertahankan agar dinding rahim tetap menebal selama kehamilan. 

Pas hamil kan enggak haid tu. Naah, di sini lah si obat bekerja! Jadi, obatnya adalah berupa progesterone tiruan (yang bukan bentukan alamiah dari tubuh kita) yang membuat tubuh kita merasa seolah-olah lagi hamil. Ingat, tadi selama hamil kaan progesterone tinggi. Dengan meminum progesteron tiruan ini, maka secara fisiologis akan "dikira hamil" sehingga tidak terjadi haid.

****
Apa nama obatnya?

Salah satunya adalah Primolut-N 5 mg yang berisi Norethisterone (progesteron tiruan seperti yang aku jelaskan di atas).

Bagaimana cara minumnya, kapan harus diminum dan berapa dosisnya?
Ups, tunggu dulu sahabat! Ada hal yang perlu diperinci di sini. Tentang waktu pelaksanaan kegiatan ibadah umrah dan haji.

Perlu kita garis bawahi bersama, meskipun berangkat haji itu selama 1.5 bulan hingga 2 bulan, akan tetapi tidak selama itu prosesi haji agau umrahnya tentunya. Yang perlu kita catat adalah apakah jadwal umrah ketika haji (haji tamattu') bertepatan dengan jadwal haid dan apakah jadwal manasik haji bertepatan dengan jadwal haid. Jika TIDAK maka tidak perlu meminum obat penunda haid. Tidak apa-apalah merelakan waktu ke masjidil haram atau ke masjid nabawi barang seminggu dua minggu asalkan tidak bertepatan dengan jadwal utama. Karena penerimaan kita terhadap ketetapan Allah bahwa kita mengalami haid itu in shaa Allah juga berpahala.

Contoh kasus 1; mbak A berangkat umrah kloter 1 dan tujuan penerbangan ke Madinah dulu. Sedangkan mbak A pas berangkat itu adalah jadwal haid, Maka, mbak A tidak perlu minum obat. Karena ketika ke Madinah mbak A tidak ada ibadah yang khusus selain shalat di masjid Nabawi dan masjid Quba. Atau, shalat di Rawdah. Nanti, mbak A kemungkinan besar ketika sudah menuju Makkah untuk melaksanakan umrah dan haji, sudah dalam keadaan suci. Dalam case ini: tidak perlu minum penunda haid.

Jika ternyata jadwal haid mbak A adalah bertepatan dengan jadwal berangkat ke Makkah dari Madinah untuk melaksanakan umrah (haji Tamattu') kemudian diikuti manasik haji, maka ada 2 kemungkinan. Kemungkinan pertama; Jika jarak antara umrah dengan pelaksanaan haji (tanggal 8 dzulhijjah) cukup lama (misal lebih dari 1 minggu) dan diperkirakan sudah selesai haid sebelum pelaksanaan haji, tidak mengapa tidak minum obat karena diperbolehkan untuk berihram dalam keadan haid dan umrah dilaksanakan ketika sudah bersih. Tapi umrahnya kemungkinan ga bareng rombongan karena kan pas di miqat sedang haid. Atau jika ingin bareng dengan rombongan dan memiliki waktu yang cukup lama hingga pelaksanaan haji, maka boleh minum obat 3 hari menjelang jadwal haid. Lalu, berihram, melaksanakan umrah hingga tahalul, berhenti minum obat setelah umrah selesai. Lalu jika haid muncul, ditunggu saja sampai selesai. In shaa Allah ketika puncak pelaksanaan haji dalam kondisi suci. Dan tidak butuh minum obat lagi. Ini asumsinya jika jarak pelaksanaan umrah dan puncak haji waktunya cukup lama (1-2 minggu). Kemungkinan kedua jadwal umrah dan haji berdekatan dan kemungkinan besar mbak A tidak akan selesai haid sebelum puncak haji (tanggal 8-13 dzulhijjah) maka, sebaiknya mbak A mengkonsumsi obat penunda haid dari 3 hari sebelum jadwal haid hingga tawaf wada' haji selesai. Dan rentang waktunya hanya boleh 14 hari saja dalam mengkonsumsi obat ini. Jadi, jika sekiranya rentang waktu dari umrah hingga haji memakan waktu 14 hari atau kurang, maka memang dianjurkan untuk meminum obat penunda haid pada masa ini. Ini berlaku untuk kloter berikutnya yang landing di Madinah juga.

Contoh kasus 2; mbak B dapat kloter terakhir penerbangan terakhir langsung ke Jeddah dan Makkah, pas bertepatan dengan jadwal haidnya, dan jarak kedatangan dengan puncak pelaksanaan haji hanya 5 hari, maka mbak B sebaiknya sudah minum obat sejak 3 hari sebelum jadwal haid dan berhenti minum obat setelah selesai hari tasyrik. Jika sekiranya masih ada waktu untuk stay di makkah sampai diperkirakan selesai haid, maka masih sempat untuk melaksanakan tawaf wada'. Akan tetapi jika rentang waktunya sejak 3 hari sebelum keberangkatan hingga selesai thawaf wada' adalah 14 hari, maka sebaiknya obat diminum sampai selesai thawaf wada'.

Jika jadwal haid mbak B adalah ketika pertengahan puncak pelaksanaan haji, maka sebaiknya obat tetap diminum 3 hari sebelum jadwal untuk antisipasi agar bisa melakukan thawaf ifadha. Setelah meninggalkan Mina dan masih stay di Makkah dalam waktu yang cukup lama dan memungkinkan untuk menunggu selesai haid, maka tidak mengapa tidak diminum dulu karena thawaf wada' dilakukan ketika meninggalkan kota Makkah dan tidak harus ketika kembali dari Mina menuju hotel/penginapan masing-masing.

Untuk pelaksanaan umrah (di luar bulan haji), prinsipnya sama. Intinya: ketika pelaksanaan Umrah/Haji diperkirakan bertepatan dengan jadwal haid, maka ... minumlah obat 3 hari sebelum perkiraan jadwal haid sampai selesainya prosesi umrah dan maximum hanya boleh 14 hari berturut-turut.

*****
Berapa dosisnya, gimana cara minumnya?

Obat primolut-N 5 mg diminum 3x sehari dengan Jam yang sama. Ini penting. HARUS TERATUR, DI JAM YANG SAMA, TIDAK BOLEH LUPA DAN TIDAK BOLEH TELAT!
Jadi, setiap 8 jam ya Sist! Setelah makan. Bukan dalam kondisi perut kosong.
Dan maximum hanya boleh 14 hari

*****

Apakah ada efek samping?

Hmm.. yang alami aja ada efek sampingnya apalagi yang tiruan kan yaa? Hehe. Kadar progesteron yang tinggi bisa menyebabkan mual, muntah, perubahan mood, dan kadang muncul jerawat. Mirip-mirip pas PMS lah yaa.

Efek samping yang perlu diperhatikan adalah apakah ada reaksi alergi untuk orang yang sensitif dengan kandungan yang ada pada primolut-N. Alert buat yang punya riwayat alergi. Tapi umumnya ini sangat jarang terjadi.

******

Kalau udah terlanjur haid?

Jika udah terlanjur haid, berarti itu qadarullaah, sist. Terima dengan ikhlas dan penuh keridhaan tentunya. Tapi kan sayang, udah di Makkah ga bisa shalat ke masjidil Haram?! Mudah-mudahan kalau ridha Allah tetap catatkan pahala untuk kita. 

Masa' ga bisa dihentikan juga dengan primolut-N?
Hmm ... jadi begini sist. In shaa Allah masih bisaa. Tapi sebaiknya primolut diminum pada hari ke-4 atau ke-5 haid. Karena obat ini juga berfungsi untuk memperpendek masa haid. Cara minumnya masih sama yaa, konsisten tiap 8 jam. Tapi, kemungkinan setelah berhenti minum primolut, akan muncul flek lagi.

*****
Di mana bisa beli obatnya? 

Kalau di Saudi dijual di apotek/pharmacy/saidiliyah.
Tapi, aku tetap menyarankan untuk konsul ke dokter kandungan terlebih dahulu apalagi yang memiliki kondisi khusus.

*****
Koq aku tetep haid yaa padahal udah minum primolut-N rutin sesuai aturan pakai?

Nah, selalu ada pengecualian dalam hidup ini. Apa pun itu!
Yang aku paparkan ini untuk kondisi yang umum terjadi. Jika ada hal yang di luar espektasi, segeralah konsul ke dokter.

*****

Jika masih ada yang membingungkan, silahkan bertanya di kolom komentar yaa. Begitu pula yang ingin mengoreksi.

Semoga bermanfaat πŸ€—πŸ€—
Read More

Lebih dari 3500 KM Bersamamu (last part)

Alhamdulillaah tsumma alhamdulillaah.
Riyadh-Madinah-Makkah-Jeddah-Yanbu-Umluj-Al Ula-Ha'il-Buraydah-Ushaiqer-Shaqra-Riyadh. Beberapa kota telah dilewati bersama dengan total jarak tempuh lebih dari 3500 KM (sesuai dengan judul series ini hehehe).
Postingan ini khusus untuk yang tercinta, Zaujiy. Jazakallahu khair yaa Zaujiy atas wonderful journey ini. Tidak mudah tentunya menempuh ribuan kilo apalagi di masa pandemi ini (yang alhamdulillah case di Saudi memang sudah menurun dan semoga gak naik lagi). Banyak tantangan yang dihadapi. Apalagi perjalanan bersama 3 wonderful girls yang tidak selalu anteng sepanjang jalan. Si kakak yang sekoah di mobil pas jalan. Ada kalanya Maryam yang rewel dan nangis yang bikin panik dan merasa berada dititik ga pengen lanjut jalan. Tapi juga banyak kenangan manis tak terlupakan. Alhamdulillah mostly sepanjang perjalanan mereka kooperatif. Ada Cerita. Nostalgia. Sejauh jalan yang kita tempuh. Thanks for fulfill my wish list and accompany me for this adventure journey yaa Zaujiy. Bagi yang ga suka jalan, menempuh ribuan kilo ini sama seperti melawan arus gradien, butuh effort 2x lipat tentunya. But it's well done ma shaa Allah. Semoga Allah senantiasa melimpahi banyak keberkahan, kebaikan, dan kesehatan untukmu wahai kekasih hati. Dan semoga pula kebersamaan ini sampai pada kehidupan setelah dunia dan Allah kumpulkan kita kembali di Jannah-Nya. Aamiin yaa Rabb.
Salah satu hal yang agak nyesek adalah ... aku tidak membawa kamera DSRL! Banyak potret yang sayang untuk dilewatkan. Apalagi yang butuh zoom in hingga 300 mm. Kebayang sambil mbatin, "duuh kalo pakek lensa 70-300 mm ini bakalan kelihatan banget gambarnya!" Sebab zoom menggunakan HP juga terbatas kan yaaa. Karena (seperti yang sudah aku bilang di awal series ini bahwa ini adalah unplan journey) maka aku tidak menyiapkan "peralatan tempur" berupa kamera. Tapi 'ala kulli haal alhamdulillaah. Masih bisa motret dengan HP yang hasilnya juga alhamdulillah tidak mengecewakan. Alhamdulillah ada dokumentasi video (yang masih mentahan) yang in shaa Allah juga akan aku aplod di channel youtube sebagai kenang-kenangan aja. Aku bukan youtuber juga koq. Hehe. Lebih banyak buat konsumsi sekeluarga aja dan sekedar hobbies. Belum di monetize juga.

Next Journey in shaa Allah ke Saudi Sharqiyah, biidznillah. Mudah-mudahan sisa 1 pekan cuti suami masih bisa di-claim. Journey ke arah Sharqiyah ini sudah lama bangeeett, pas si kakak masih bayi. Dan pernah ke Hofuf juga tapi ga nyampe yang timur bangeet kaan. Karena kebanyakan kita ke arah barat aja kalo jalan. Mudah-mudahan plan ke Sharqiyah juga bisa terwujud. Aamiin.

Salah satu hal yang berkesan bagiku adalah, sepertinya benar apa yang disampaikan oleh orang-orang tentang sepasang anak manusia yang terikat dalam pernikahan. Katanya, mereka akan saling mempengaruhi satu sama lain dan bisa jadi pada satu titik akan bertukar karakter. Aku merasakan sangat. Dulu aku extrovert sangat sekarang aku merasa lebih introvert. Siapa lagi yang jadi the most influencer in the world kalau bukan seseorang tercinta yang menemani hampir 24/7? Dan kayaknya the most 'lebay-er' in the world (kekeke ini istilah kami aja) sudah berganti posisi sekarang 🀣🀣🀣. Dan suatu saat in shaa Allah hobi jalan dan adventurer nya aku juga fully terinsisi ke Abu Aafiya wkwkwkwkwk. Sebagaimana aku juga berharap hobi olah raganya beliau juga terinsisi (gak perlu fully) ke aku biar ga mager aja bawaannya sehingga timbangan nganan terus kekekeke. Setidaknya untuk sekedar treadmill atau jalan kan yaa. Hehehe.

Tapi yang paling terpenting tentunya adalah saling mempengaruhi dalam kebaikan. Aamiin yaa Rabb. Karena sesungguhnya semua yang aku sebutkan di atas hanyalah bunga perhiasan dunia kan yaa. Sedangkan dunia tidaklah abadi. Sesungguhnya akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya. Maka, sudah seharusnya yang menjadi cita-cita adalah bagaimana agar kita semua bisa kembali berkumpul di Jannah. Meski itu berat. Meski itu harganya sangat mahal. Meski banyak tantangan dan ujiannya. Dan diri ini yang penuh dengan salah dan kelalaian. Semoga, berkumpulnya kita, bersamanya kita, adalah tentang berkumpulnya kebaikan. Bukan semakin menjauhkan dari-Nya. Na'udzubillaah.

Now back to routine.
Semangat!
Semangat!
Semangat!

Sampai jumpa di next journey in shaa Allah 😍



===
Beberapa potret jalanan yang di-capture di perjalanan. Tentang gurun, bebatuan, dan pasir.

Read More

Lebih dari 3500 KM Bersamamu (5)

Hari ke-10 kami menuju Buraydah melewati Ha'il. Di Ha'il sempat mampir sebentar saja. Sebenarnya banyak juga destinasi wisata di Hail yang bisa dikunjungi tapi tidak sempat. In shaa Allah next time. Ha'il sendiri merupakan provinsi tersendiri. Bukan lagi termasuk provinsi Madinah maupun provinsi Tabuk. Karena diperjalanan kami sempat melewati perbatasan provinsi Tabuk dan Provinsi Madinah. Jadi, di gurun sebelah kiri adalah Tabuk dan gurun sebelah kanan adalah provinsi Madinah. 

Jarak Al Ula ke Buraydah lumayan juga, sekitar 700 an KM. Al Ula ke Ha'il kira-kira 500 an KM. Yang agak susah adalah rest area dan petrol sangat sedikit di sepanjang perjalanan al Ula menuju Ha'il. Jadi, begitu ada ... jangan sampai terlewatkan jika tidak ingin mengalami bensin habis di jalan. Hehe. Kami sebenarnya setiba di Buraydah pengen mampir ke museum dulu. Tapi ... ternyata qadarullaah nyampe di Buraydah sudah hampir maghrib. Jadinya plan ke museumnya dicancel.

Di Buraydah kami dapat apartemen yang ma shaa Allah baguuuss dan murah. One bedroom apartemen yang dilengkapi dapur dan ruang tamu juga. Di antara 4 apartemen tempat kami menginap (tidak termasuk hotel di makkah dan madinah), apartemen di Buraydah adalah apartemen termurah tapi dengan kualitas terbagus. Ma shaa Allah.

Akhirnya di Buraydah numpang tidur doang untuk lanjut pagi-paginya ke Ushaiqer dan Shaqra. Pagi itu aku enggak masak lagi karena in shaa Allah udah mau ke Riyadh. Kami cuma sarapan pop mie dan roti tawar plus nutella. Lagian cuma nginap semalam juga yang mana nyampenya aja udah maghrib kan. Hehe. Dan juga Buraydah adalah kota yang sudah sering kami lewati ketika hendak ke Madinah. Jadi di Buraydah tidak keliling-keliling lagi.

Pagi-pagi kami ke Ushaiqer. Targetnya adalah jam 2 reach Riyadh karena kakak sudah ketinggalan beberapa pelajaran dan juga di hari itu ternyata kakak ada quiz. Jadi kita berharap kakak bisa sekolah ketika sudah sampai di Riyadh, bukan sekolah di mobil/di jalan lagi hehe. Ushaiqer itu posisinya antara high-way makkah dan madinah. Sekitar 200 an KM dari tempat kami menginap di Buraydah. Arah ushaigher ini kami menempuh arah jam 2 dari Buraydah. Jadi, arah Timur Laut lah kira-kira.

Di Ushaiqer tujuannya adalah Ushaiqer Heritage Village. Satu komplek perumahan saudi kuno yang masih dibangun dengan tanah liat. Masuk ke komplek ini serasa berjalan dalam labirin bangunan tanah liat. Karena week day banyak yang tutup jadinya sepi bangeeet dan anak-anak rada takut ketika kita melewati labirin demi labirin. Mungkin karena gangnya sempit kali yaaa. Hehe. Hanya 1 museum yang buka di week day yaitu museum al Salam yang menyimpan benda-benda kuno. Harga tiket masuk museumnya adalah 10 SAR. Di museum ini aku bisa melihat langsung segala macam. Ceret² khas saudi (yang juga menjadi Icon di Ghat dibangun gede banget duplikat ceret ini), bedil-bedil alias senapan yang digunakan untuk berburu dari zaman ke zaman, pakaian khas wanita arab, buku-buku pelajaran sekolah zaman dulu, tempat menbuat laban dan menyimpan kurma, penyulingan air dan sebagainya. Banyak lagi yang ga sempat disebutkan. Hanya saja museum ini sangat padaaaatt sekali isinya. Jadi rada kurang spacious. Hehe. Mungkin karena rumah jaman dulu yang dijadikan museum kayaknya. Sebagian rumah-rumah di Ushaiqer ini sudah mulai agak runtuh dan sebagian ada yang direnovasi tapi bukan untuk ditinggali. Murni hanya Heritage Village aja. Semacam cagar budaya kalo di kita kayaknya ya.
Setelah dari Ushaiqer ke ke Shaqra. Ada Subaie Historical Palace di sana. Hanya saja masih tutup ketika week day jadi kita cuma keliling-keliling aja pakai mobil. Di komplek di Shaqra ini sebagian sudah ada rumah penduduk yang baru. Mungkin mirip-mirip daerah 1000 rumah gadang di Solok Selatan kayaknya yang juga sekalian dijadikan tempat mukim sekaligus heritage village.
Setelah itu kita heading to Riyadh. Sempat bingung milih jalan yang mana karena ada 4 jalan menuju Riyadh. Akhirnya kita memilih jalan lewat route 505 yang nanti titik pertemuannya adalah di Muzaihimiyah, jalan Makkah Al Mukarramah. Spesifiknya adalah pendakian di Muzaihimiyah. Jadi, dari route 65 (rute madinah-riyadh) kita "nyebrang" ke route 40 (rute makkah-riyadh) melewati route 505. Ya di sini juga sih aku baru kenal setiap jalan ada number route nya. Hehe. Route yang besar adalah 40, 15, 65, 70,80, 55 dll. Route 40 membentang dari timur ke barat. Route 65 dari utara ke selatan. Route 15 dari utara ke selatan arah madinah. Route 55 adalah rute pesisir timur dari utara ke selatan. Route 65 adalah rute di central dari utara ke selatan. Route 70 adalah route di bagian utara yang membentang dari timur ke barat. Dan lain sebagainya. Kekeke.. bingung yaa? Enakan lihat petanya langsung kayaknya. Wkwkwkwk. Sebagai penyuka peta (yang juga turun ke Aafiya kayaknya) aku suka merhatiin rute² jalan dan explore peta. Mungkin mirip sama dora kali yaa wkwkwkwkwk πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Sebenarnya kita mencapai Riyadh sesuai target yaitu jam 2 an tapiii itu sampai check point ketika memasuki kota Riyadh hehe. Dari check point ke rumah kita jaraknya 60 an km jugaa ternyata karena posisi tempat tinggal kami yang di ujuuuung timur Riyadh sana sementara kita datang dari arah barat kaaan. Akhirnya 1 jam pelajaran kakak sekolah di mobil lagi.

Alhamdulillah sekitar jam 14.30 kami sampai di Nahdah lagi. Mampir sebentar di Mahboob beli makanan buat makan siang yang udah agak telat. Chicken shawarma jadi pilihan. 

Alhamdulillaah binni'mah tatimmussaliha.


Beberapa dokumentasi di Ushaiqer dan Shaqra
Read More

Lebih dari 3500 KM Bersamamu (4)

Setelah ke Jabal Fiil kami melanjutkan perjalanan dengan hunting apartemen untuk penginapan di Al Ula. Berbeda dengan penginapan-penginapan yang biasanya kami booking online lewat booking.com, kali ini kami langsung mencari on the spot. Karena booking an online tidak banyak pilihan. Lebih bagus memang langsung on the spot dan bisa lihat dulu kondisi apartemennya kayak gimana. Sama seperti sebelumnya, kami memilih yang ada dapurnya hehe.
Alhamdulillah muter-muter satu kali, kita dapat apartemen yang bagus, bersih dan luas. Ma shaa Allah. Dua kamar. Dua kamar mandi. Dapur dengan segala perlatannya dan juga peralatan laundry (mesin cuci, jemuran dan setrikaan). Anak-anak happy banget alhamdulillaah ma shaa Allah. Ada baqala (semacam mini market) dekat dengan apartemen untuk membeli keperluan masak memasak seperti nugget, ayam dan camilan. Alhamdulillaah sangat memudahkan.
Kami juga sudah membooking untuk tour di Al Ula melalui website resmi experiencealula.com dan mengambil slot jam 9 pagi. Dan syaratnya harus udah ada di winter park (spot untuk meeting point dan transfer menuju Al Hegra dan lain-lainnya).
Subuh kami dengar hujan sangat deras. Alhamdulillaah. Subhanallaah. Hujan adalah berkah. Namun kami bingung dengan tour apakah bisa ditunda atau tiketnya bakalan hangus. Apalagi jarak ke Winter Park lumayan juga. Sekitar 30 menit. Belum lagi banjir. Di sini memang hujan sebentar saja bisa menyebabkan banjir (bukan banjir yang dalam) di beberapa ruas jalan. Karena sistem drainase nya tidak dirancang untuk kota hujan. Berhubung di sini sangat jarang hujan. 

Teman sudah berangkat duluan ke Winter Park dan menginfokan bahwa tour tetap jalan meskipun hujan. Ya, bisa dimaklumi sih yaa karena di sini hujan adalah favorit. Bahkan kalau hujan pada mfoto-foto hujan. Hehehe. Karena berasal dari negeri yang sering hujan, aku ga ikutan moto-moto hujan jugaaa. Ekekekeke... Kami harus buru-buru mencapai winter park jam 9 dan bus akan jalan jam 9.30. Alhamdulillaah tepat jam 9.01 kami mencapai winter park dan segera menuju konter tournya. Alhamdulillaah tiket ga jadi hangus. Hehehe.
Dari Winter Park kita naik bus menuju Hijaz Railway station. Sedikit cerita; dahulu pernah dibangun jalur kereta Hijaz antara kota Madinah menuju Al Ula (yang kabar-kabarnya harusnya sampai ke Syam) tapi berhenti di Al Ula. Cukup membantu distribusi dan transportasi kala itu. Sampai sekarang Hijaz Railway Station ini masih ada (sebagai museum) di Madinah maupun Al Ula. Alhamdulillah kami sudah mengunjungi keduanya. Dari Hijaz Railway stasiun ini kita di transfer lagi dengan bus yang berbeda menuju Al Hegra yaitu Jabal Ithlib, Jabal Al Banat, AlFegeer Mud House, Tomb of Lihyan son of Kuza, Jabal AlAhmar, dan Jabal Alkhuraymat. Ada tour guide juga yang memberi penjelasan tentang kerajaan Nabatean yang hidup di abad pertama masehi. Al Hegra berarti Al Hijr yang artinya adalah batu.
Setelah itu kita balik lagi ke Winter Park dan ready untuk tour kedua yaitu ke peninggalan Dadan Kingdom dan Transkrip kuno di Jabal Ikmah. Kerajaan Dadan eksis pada abad ke 6-7 masehi yang kemudian dikuasai oleh romawi setelahnya. Baru kemudian cahaya islam datang menerangi ketika kekuasaan romawi ditaklukkan oleh Islam dibawah pimpinan Khalid bin Walid.
Sorenya kita kembali ke apartemen dan gak sempat lagi mampir ke mana-mana karena sampai di apartemen sudah hampir maghrib. Bersiap untuk berangkat besoknya ke Buraydah. (Bersambung ke postingan berikutnya in shaa Allah).

Beberapa fotografi di Hegra, Dadan Kingdom dan Jabal Ikmah
Read More