Showing posts with label IMore Family. Show all posts
Showing posts with label IMore Family. Show all posts

Memilih Sekolah Anak dan Segenap Dilemanya

Baiklah Blog, mari kita isi lagi. Setelah sekian lama nganggur. Baby Khadijah lagi aktif-aktifnya ma shaa Allah. Jangankan buat nulis blog. Buat masak aja mesti nyuri-nyuri waktu. Jadii, begitu khadijah bobo, sudah segunung kerjaan menanti. Sampai bingung mana yang harus dikerjakan dulu. Heuheu. Ini nulis blog juga dengan kondisi jemuran belum dilipat, piring belum dicuci. Dan juga seragam-seragam yang numpuk di keranjang pakaian kotor. Wkwkwkwk. Yepp, hari ini libur dulu. In shaa Allah besok beres. Hihi. Semangaaatt 💪💪💪.

Sejujurnya, ini tahun paling "galau" buat kami soal sekolah anak. Dan tahun paling lama untuk membuat keputusan soal sekolah mereka. Bahkan setelah kami balik ke Riyadh abis mudik ke indo (di mana anak-anak udah libur akhir semester selama 2,5 bulan) pun kami masih belum fix tentang sekolah anak. Btw, rasanya baru kemarin aku masih bengong ketika teman-teman cerita soal KeJi (tulis: KG) dan sekolah anak. Pengen ketawa kalo aku ingat nyebut KG itu dengan "kenji" hahaha. Rasanya baru kemarin aku gendong bayi bernama Aafiya ke Daar Adhikir ketika ibu-ibu seumuran bahas sekolah anak dan aku enggak paham apa yang mereka bahas saking ga ngertinya gimana sekolah anak di sini wkwkwkwk. Rasanya baru kemarin, kalo mudik enggak mikirin jadwal sekolah anak. Mudik yaa tinggal mudik aja. Ga perlu pusing soal kapan akhir term sekolah. Ternyata sekarang 3 anak sudah berada di grade aja (grade 5, grade 3 dan grade 1). Artinya, udah masuk tahun ke-6 anak sulung sekolah. Waktu cepat sekali berlalu.

Sejujurnya agak berat bagi kami di tahun ini memikirkan sekolah anak. Pertama, tahun depan in shaa Allah sudah kelas 6. Dan di kelas 6 ada ijazahnya. Ada ujiannya. Semakin tinggi kelas, semakin susah pelajaran indo untuk diikuti anak-anak. Khawatir jika kelas 6 langsung banting stir kurikulum indo, tidak bisa mengikuti. Kedua, kami tidak berniat untuk menguliahkan anak-anak di kampus internasional atau di luar negeri untuk S1. Kalo S2 maah bebass yaaa. Tapi untuk S1 kami lebih prefer di Indonesia saja. Untuk kuliah di Indonesia, "jalurnya" tentulah kurikulum indonesia. Tidak sekolah internasional seperti sekarang. Tapii, masalahnya sekolah indo itu jauh dari tempat domisili kami. Sekitar 25 km. Berarti klo antar jemput sehari 100 an km. Antar bolak balik 50 km. Jemput bolak balik juga 50 an km. Ini berat sekali buat kami. Dan untuk pindah rumah pun tidak bisa segera. Apalagi kontrakan yang sekarang udah bayar sampai desember. Di sisi lain, nyari kontrakan di sekitar sekolah indo sangat tak mudah. Kalo udah gini, rada nyesel dulu males-malesan belajar nyetir pas masih kuliah. Padahal sudah diajarkan sama ayah. Tapii, males ajaa. Hehe. Kalau bisa nyetir, mungkin aku bisa antar jemput anak-anak ke sekolah in shaa Allah. Seperti teman yang beda 1 district doang dekat sini. Dia yang nntar anak ke sekolah indo. Karena waktunya tentu lebib flexible dibanding suami yg harus masuk kerja.

Jadii, ada 3 pilihan yang dipilih.
1. Sekolah internasional (tapi masih menyertakan kurikulum arab saudi dan pemisahan antara murid laki-laki dan perempuan). Di segi biaya, jauh lebih besar tapi secara jarak lebih dekat. Secara kurikulum; Enggak sesuai dengan jalur kuliah nanti.
2. Sekolah indonesia. Secara biaya, lebih ringan. Kurikulum sesuai dengan jalur kuliah. Tapii, secara jarak sangat jauh. Susah secara transportasi.
3. Sekolah online kurikulum indo. Secara biaya dan jarak sangat oke. Ga ada jarak malah. Wkwkwwk. Tapiii, emaknya enggak pinter ngajar pedagogik. Anaknya enggak suka kalo online doang. Seneng kalo ada temennya.

Singkat cerita akhirnya kami memilih sekolah yang lebih dekat rumah kontrakan supaya mudah antar jemputnya. Karena jarak ini adalah issue yang cukup besar ternyata. Tapii, tetap ikut kurikulum indonesia dengan PKBM. Tapii, ikut 2 sekolah dengan kurikulum berbeda ini tidaklah mudah. Mereka pada mengeluh kalo pelajaran indo itu susaaah banget. Karena lebih intens di sekolah offline dari pada PKBM kan. Semoga ini adalah solusi terbaik untuk saat ini.

Sejujurnya dilema ini bukan kami saja yang merasakan. Banyak juga yang menghadapi hal dilematis kayak gini. Karena pilihan sekolah di sini tidak banyak untuk sekolah indo. Satu-satunya malah kalo sekolah indo. Banyak hal yang menjadi pertimbangan dalam memutuskan untuk sekolah di mana; di antaranya biaya, jarak, "pergaulan" di sekolah, dan kemana tujuan kuliah nantinya (menyangkut kurikulum). Karena semakin tinggi kelasnya, makin susah pelajarannya kan yaa. Makin "ngos-ngosan" juga mengejar ketertinggalannya.

Semoga ini adalah pilihan terbaik dari-Nya. Dan semoga pula anak² dikaruniakan ilmu yang barokah dan bermanfaat, buat akhirat dan dunia mereka. Aamiin yaa Rabb

Read More

Cita-Cita Uni Rumaisha

My second born, Uni Rumaisha memiliki cita-cita unik yang tidak pernah kami--ayah bundanya--pikirkan sebelumnya. Berbeda dengan kakaknya (my first born) yang memang lebih ambitious soal cita-cita yang mainstream, Rumaisha punya cita-cita yang mungkin hampir tidak pernah dicita-citakan oleh anak seumurannya.


Soal cita-cita, mungkin mainstreamnya adalah ingin menjadi dokter, guru, pengacara dan sebagainya. Bukan di sekolah indonesia saja, di sekolah anak-anak juga bicara soal cita-cita ini. Si kakak sendiri cita-citanya katanya pengen jadi neonatologist sekaligus artist (artist bukan artis yaaa heuheuheu. Artist berarti orang yang profesinya berkaitan dengan art. Karena si kakak memang senang menggambar dan juga bikin karya kriya).

Akan tetapi kami surprise ketika Rumaisha bercerita tentang cita-citanya. Apa cita-cita Rumaisha?

"I want to be a housewife. I will take care whole family and my children"

Ketika kami tanya mengapa dia bercita-cita demikian karena katanya dia ingin berada di rumah saja, take care anak-anaknya. Ma shaa Allah. Sesuatu yang anti mainstream banget untuk anak usia 7 menjelang 8 tahun. Kami surprise dengan cita-citanya tersebut. Karena kami juga tidak pernah mention mengenai hal itu sebelumnya. Mengapa tiba-tiba dia bercita-cita demikian.

"Tapi Uni, meskipun di rumah, jadi housewife, uni tetap harus sekolah tinggi lho." Komenku.

"Yaiyalah Bunda! Harus dong. Gimana bisa teach anaknya kalo ibunya ga ngerti pelajarannya." Refers to mengajarkan anaknya ibunya mestilah paham dulu, begitu maksudnya. Ma shaa Allah Tabarakallaah Naaak. Aku terharu sekaligus berkaca-kaca mendengar jawaban Rumaisha.

Memang Rumaisha lebih tipe anak "rumahan" dan paling senang sitting adek baby nya. Di sekolah, ketika parent's meeting, gurunya juga bilang "I call her 'mother of the class'". Pembawaannya 'lebih dewasa' tapi juga tidak menafikan sisi kanak-kanaknya.

Rumaisha juga yang paling kukuh berpendapat "bunda ga boleh kerja" meanwhile kakaknya kadang suka nanya "kenapa bunda ga kerja ajaa". Heuheueheu. 

Barakallahu fi kunna yaa banaaty.
Semoga Allah senantiasa menjaga kalian di manapun kalian berada. Sungguh kami tak mampu menjaga kalian selalu. Dan Allah-lah yang mampu menjaga kalian. Semoga Allah jaga dalam keta'atan, dalam keshalihan, senantiasa sehat dan menjadi muslimah yang bermanfaat bagi agama. Aamiib

Read More

Bidadari Keempat, Alhamdulillaah

Aku lupa kapan terakhir kali menulis di blog. Sudah lama sekali tidak disambangi blog ini. Hehe. Waktu dan kesempatan plus mood nulis yang merosot. Jadinya banyak tulisan yang hanya berhenti di draft. Alhamdulillaah 'ala kulli haal.
Alhamdulillaah, september 2023 yang membahagiakan. Di penghujung september ini alhamdulillaah Allah karuniakan kami amanah keempat, bidadari kami yang lahir di 27 september 2023 jam 6.42 pagi. Alhamdulillaah aladzi binni'matihi tatimmussalihaat. Semoga Allah menjadikannya anak yang shalihah, bertakwa, qurrata' a'yun. Senantiasa diberikan-Nya hidayah, kesehatan, dan iman yang kokoh. Aamiin yaa Rabb... 
Dengan ini, genaplah 4 orang anak² shalihah kami. Alhamdulillaah.

Kami menamainya "Khadijah". Khadijah Altahira. 
Ketika lahir anak kedua dulu, kami berniat memberi nama anak perempuan dengan nama wanita penghulu surga yaitu Aasiya, Maryam, Khadijah dan Fatimah. Niat ini baru hadir ketika di kelahiran anak kedua. Ketika anak pertama belum terlintas niat ini. Akhirnya si Kakak protes hehe. "Harusnya nama kakak itu Fatimah. Biar pas. Bisa ndak diganti namanya, Bunda?" Tanya kakak. Sayangnya mengganti nama sangatlah tidak mudah. Apalagi dokumen ada di 2 negara. KSA dan Indonesia. Jadi, mengganti nama bukanlah ide yang bagus untuk saat ini mengingat administrasinya yang buanyaaak banget. Gapapa yaa kak? 🤗😀

Setiap kelahiran memiliki ceritanya masing-masing. Dan ma shaa Allah, meski lahir dari rahim yang sama, tapi proses kelahirannya sangat sangat berbeda kisahnya. Dan di antara empat kelahiran bidadari kecil kami, kisah Khadijah adalah kisah yang paing berliku dan paling penuh perjuangan! Ma shaa Allah. Semoga Allah menjadikannya anak yang kuat dan tangguh sebagaimana proses kelahirannya yang lebih penuh tantangan.

Seyogyanya--menurut teori manusia--kelahiran anak keempat dengan normal delivery harusnya jauh lebih mudah dibanding kelahiran sebelumnya. Karena sudah pernah 3x melahirkan sebelumnya. Tapi, berbeda dengan teori, justru kelahiran anak keempat ini adalah kelahiran yang paling banyak kesulitannya. Terbukti bahwa teori manusia itu tidak selalu benar 😊.

Selama proses kehamilan, memang ini agak menguras energi dan lebih mudah mengalami kelelahan karena usia sudah di atas 35. Baiklah, bagiku ini not a big deal. Masih bisa dijalani alhamdulillaah. Tapi yang berat adalah ketika proses persalinannya. Aku merasakan kontraksi yang cukup meyakitkan itu sudah sejak usia kandungan 35 week. Pada kehamilan sebelumnya, di 35 week itu sudah ada pembukaan 1. Dengan riwayat kelahiran anak-anak yang selalu lebih cepat dari due date, aku pikir di week 36 itu sudah ada pembukaan juga. Tapi ternyata the servix still close di usia kehamilan segini. Padahal aku sudah merasakan kontraksi yang sakit dan teratur. Dan itu berlangsung selama 2 minggu berikutnya sampai aku tidak bisa tidur karena sakitnya kontraksi.

Di akhir minggu ke 38, sudah ada pembukaan 1-2 cm. Kontraksi makin sakit. Bahkan kontraksi sesakit itu aku rasakan ketika kelahiran anak ketiga ketika pembukaan 7 atau 8. Tapi ini masih 1-2 cm. Cukup mengherankan kenapa progressnya sangat lamban.

Persis di minggu ke 39, ketika jadwal rutin check up, di sorenya, dokter mengatakan "sure, in shaa Allah tonight" untuk lahiran. Kami diminta untuk datang ke ER sekitar jam 8 an. Setelah membereskan makan malam, anak² sudah pada tidur, kami berangkat ke ER. Dengan riwayat kelahiran ketiga yang progressnya cepat alhamdulillaah, prediksi kami (dan juga dokternya) akan segera lahir malam ini juga.

Ketika sampai di ER, ternyata masih pembukaan 3. Padahal kontraksi yang intens dan sakit suda terasa sejak siang. Sempat dokter di ER bertanya-tanya, "beneran nih?" Katanya. Beneran udah kontraksi yang reguler. Karena kebetulan pas sampai ER kontraksinya agak merenggang. Tapi setelah itu menguat lagi. Akhirnya setelah dilakukan pegecekan, dokter memutuskan untuk admit ke LDR (labor and delivery room). 

Di LDR dipasang CTG. Memang prosedurnya di sini ketika di LDR dipasag CTG jadi ga bisa jalan/moving lagi. Pengalaman lahiran 4 anak selalu gini. Hehe. Kontraksi semakin intens dan sakit. Subhanallaah, sakit yang luar biasa! Orang-orang bilang lahiran anak pertama adalah lahiran yang paling menyakitkan. Tapi, aku merasakan kontraksi anak keempat ini justru jauh lebih sangat sangat menyakitkan. Dan sayangnya pembukaannya hanya mentok di pembukaan 7. Dan itu sudah berganti tanggal. Sudah beberapa jam. Kontraksi ketika anak 1-3 masih bisa ditahan. Tapi, kontraksi anak keempat ini aku benar-benar sudah ga bisa tahan lagi. Sakit sesakit-sakitnya. Subhanallaah.

Karena mentok di pembukaan 7, akhirnya dokter memutuskan untuk emergency SC. Mesti ada sesuatu, kata dokternya. Kalau lahiran anak keempat harusnya cepat. Ini ga ada progress. Mau ga mau harus SC. Aku iyakan dengan segera karena sudah tidak tahan dengan sakit yang luar biasa. Meskipun suami sempat ragu berharap ada second opinion tentang SC ini. Tapi dokternya tetap kekeuh buat emergency SC. 

Di ruang operasi SC, dokter mencoba untuk menyuntikkan obat bius melalui spinal. Tapi, 3x dicoba ternyata gagal. Karena aku mengalami kontraksi tanpa jeda. Jadi sulit untuk menyuntikkan lewat spinal. Akhirnya terpaksa dilakukan bius total. Pengalaman pertama mengalami SC dan itu dalam kondisi yang tidak begitu siap.

Ternyata setelah SC baru diketahui bahwasannya posisi bayi yang miring. Posisi ini ternyata yang membuat bayi sulit untuk "turun" dan pembukaan yang tidak kunjung bertambah. Posisi bayi yg miring juga salah satu indikasi untuk dilakukannya persalinan secara SC. Mungkin karena itu juga kontraksi yang aku rasakan sangat sakit dibanding kontraksi kelahiran anak 1 sampai 3 (kalau ini mungkin asumsiku aja). Karena aku merasa berada di puncak sakit yang luar biasa yang belum pernah aku rasakan di kelahiran sebelumnya.

Setelah SC pun, ternyata aku harus berhadapan dengan spinal headache. Di mana sempat 3x dimasukkan obat anastesi lewat spinal tapi gagal. Ini sakit kepala terberat yang pernah aku alami sampai rasanya mau bangun dari tidur itu merasa sedikit ngeri dengan sakitnya. Pain killer sama sekali tidak membantu sedikitpun. Subhanallaah.
Alhamdulillaah--dengan pertolongan-Nya--spinal headache berangsur pulih di hari ketiga pasca pulang dari RS.

Pada titik ini aku jadi refleksi. Sakit kontraksi yang luar biasa ini, belum apa-apanya dibanding sakitnya sakartul maut. Ya Allah. Terasa persiapan untuk "pulang" yabg sesungguhnya masih sangat jauh. Perbekalan yang masih sangat sedikit.

Tapi, setiap kesulitan pasti ada kemudahan dari-Nya. Dan DIA adalah Dzat yang tidak pernah mengingkari janji-Nya.
Ma shaa Allah tabaarakallaah. 
Dengan pertolongan Allah; support dari suami sangat sangat berarti di masa-masa seperti ini alhamdulillaah. Jazakallahu khair katsir Zaujiy ❤❤. Terharu banget lihat suami, ayah dari anak-anakku yang menjadi orang paling sibuk di rumah, menghandle segalanya di kala aku ga bisa ngapa-ngapain. Mulai dari nyiapin 3 anak ke sekolah (nyuci nyetrika baju mereka), nyiapin sarapan dan bekal, antar jemput, bantuin bikin PR mereka, masak, nyiapin makanan, beberes rumah, bantu handle baby ketika aku masih mengalami spinal headache, mijitin aku juga, ngurus dokumen bayi, dan masih banyak lagi. Barakallahu fiik yaa Zaujiy. Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan beliau 🤲🤲❤.  I love him so much more  ❤❤❤.
Read More

Eid Mubarak 1444H

Sudah lamaaaa sangat tak corat-coret di blog. Heuheu ... Maaf ya Blog udah dicuekin berbulan-bulan. Trus sekarang, tetiba udah lebaran aja. Alhamdulillaaah.

Baiklah, kali ini mau cerita Eid ul Fitr 1444 H. Baru kali ini pas malam takbiran di sini, kami pergi keluar malam-malam (lebih tepatnya dini hari). Malam takbiran di sini memang ga sama dengan di Indo yang semarak banget. Takbir eid di mana-mana. Dengernya bikin bahagia (sekaligus sedih kalo lagi jauh dari kampung halaman). Kalo di sini, takbirannya cuma pas habis subuh aja. Dan itu pun shalat eid nya sekitar 10-15 menit setelah syuruq. Alatuuul. Jadi, takbirannya cuma sebentar sangaaaattt.

Nah, malam Eid tahun ini kami pergi keluar malam-malam. Berdua aja. Pacaran judulnya heuheu. Anak-anak yang udah tidur dari jam 9-an ditinggal aja. Keluar kali ini tujuannya sebenarnya adalah pengen beliin goodie bag Eid buat anak-anak yang belum lengkap (berhubung terakhir belanja mingguan/bulanan sekitar 15 hari sebelumnya, jadi goodie bag nya belum lengkap isinya). Selain itu kami juga pengen beli beras yang kebetulan banget habis paaas banget dengan berbuka terakhir Ramadhan ini. Kenapa enggak malam ba'da isya aja belanjanya? Naah, ceritanya ayahnya anak-anak udah tepar duluan karena habis kerja. Jadi, ba'da isya sudah tidur.

Dulu, kami pernah keluar malam ba'da isya di malam takbiran. Tapi, ga begitu rame. Mirip hari biasa aja. Dan bahkan cendrung sepi sih. Sepinya ga begitu signifikan juga sih dibanding hari biasa. Nah, pas malam takbiran kali ini, bangun jam 1-an. Tapi, kami berangkat sekitar jam 2.30 an. Dini hari banget kan. 

Apa yang kamu bayangkan jika keluar tengah malam begini? Sepi? Big No!
Ternyata tengah malam ini justru rame sangaaatt. Mirip orang-orang ngabuburit sore-sore kalo di Indo. Banyak toko yang masih buka. Terutama toko baju Thoub (baju "gamis" lelaki), toko kelontong, kebanyakan supermarket, toko bunga, daaaan ... terutama barbershop! Dari ba'da isya sampai tengah malam, barbershop (yang jumlahnya belasan di sekitar tempat tinggal kami) semuanya penuuuh dan antri panjang. Orang-orang pengen rapi-rapi keknya mau Eid. Heuheu ...
Aku benar-benar surprise. Ternyata tengah malam gini rameee bangeett yaa. Really surprise.

Kami sampai di rumah sekitar 15 menit sebelum azan subuh. Siap-siap subuh. Bangunin anak-anak. Lalu shalat subuh. Abis subuh siap-siap berangkat Eid. Karena waktu syuruqnya ga begitu jauh dengan subuh, ternyata kocar-kacir juga nyiapin berangkat shalat Eid nya. Padahal kami udah kerja sama nyiapin anak-anak, tapi tetap keteteran.

Ada dua masjid jami' di dekat rumah yang dipakai shalat Eid. Fyi, di sini bisa disebut negeri sejuta masjid. Masjidnya ada di mana-mana. Buanyaaaak banget ma shaa Allah. Tapi, tidak semua masjid menyelenggarakan shalat jum'at. Hanya masjid jami' saja yang menyelenggarakan jum'atan. Dan biasanya masjid jami' juga menyelenggarakan shalat Eid. Nah, niat awalnya kami mau shalat Eid di masjid Jami' Maiman. Masjidnya nyaman dan bagus ma shaa Allah. Akses ke lantai perempuan juga ada lift nya. Masjidnya besar dan luas. Qadarullaah ketika mau nyampe di Masjid Maiman (sekitar 100-200 meter), ternyata imam sudah bertakbir beberapa kali di rakaat pertama. Jika kami paksakan, kemungkinan nyampe dalam masjid udah mau salam. Akhirnya muter ke masjid jami' Firdaus yang alhamdulillaahnya belum mulai shalat. Tapiii, ternyata jama'ah di masjid Firdaus jauuuhh lebih banyak dari pada masjid Maiman. Sehingga kapasitas masjid Firdaus yang juga besar tak cukup menampung jama'ah. Jadi kami mau ga mau harus shalat di luar (di jalan samping kiri dan kanan masjid). Ada buanyaaak orang juga di luar yang ga kebagian tempat. Qadarullah kami ga bawa sajadah karena espeknya mau shalat dalam masjid. Jadi, buru-burulah suami pulang lagi ambil sajadah. Mesti lari dikit karena sebentar lagi shalat Eid mau dimulai. 

Balik-balik, suami bawain tikar taman (tikar outdoor yang dipakek buat duduk-duduk kalo naman). Hehe. Yaa, kalo dihitung waktu untuk mencapai rumah yang dilantai 3 memang ga cukup sih. Kebetulan tikar taman memang udah ada di mobil. Jadi ga perlu naik ke lantai 3 rumah yang mana juga harus membuka kunci pintu 3 kali (pintu gerbang luar, pintu gerbang tengah, dan pintu rumah). Ini juga yang bawa tikar taman, nyampe-nyampe udah imamnya udah mau takbir shalat eid.

Akhirnya kami shalat di luar dengan kondisi yang ga seideal kayak waktu eid sebelumnya di masjid Maiman. Qadarullaaah. Jam shalat eid adalah jam 5.40 an.

Alhamdulillaah. Alhamdulillaah.

Tapi, pas Eid kami ga bisa pergi ke mana-mana lagi karena setelah itu, suami harus berangkat kerja. Ya, memang lebaran adalah salah satu peak season pekerjaan suami. Jadi, 10 tahun di sini, ga pernah merasakan lebaran itu libur. Apalagi bisa eid di al Haramain (Makkah-Madinah) kayak teman-teman lain. Alhamdulillah 'ala kulli haal.

Setidaknya kami masih sempat seremoni membagikan reward puasa Ramadhan dan tilawah pas ramadhan buat anak-anak. 
Terakhir, kami mau mengucapkan Eid Mubarak buat semua ❤❤
Taqabballahu minna waminkum, kullu 'aam wa antum bikhair

Semoga Allah pertemukan dengan Ramadhan berikutnya. Aamiin yaa Rabb 🤲🤲


Read More

Perjalanan Ketiga di Tahun Pandemi

Selalu ada hikmah atas segala sesuatu. Dan inilah hikmah dari third vacation kami. Bisa jalan ke Barat lagi! Menghabiskan 2600 km lagi bersama. Alhamdulilaah tsumma alhamdulillaah.

Ceritanya vacation sebelumnya (baca di series lebih dari 3500 km bersamamu), cuti suami sebenernya masih nyisa 3 minggu. Dan baru diambil 2 minggu. Waktu itu agak heran kenapa ayahnya anak-anak cuma ambil 2 minggu. Kan sayang 1 minggu lagi. Secaraa, cuti ka enggak bisa diakumulasi ke tahun depannya. Jadi mesti dihabiskan di tahun yang sama. Kata suami, "Tenaang Bunda, sisa yang seminggu udah notice koq sama team leader nya Ayah. Pas desember in shaa Allah kita bisa ambil lagi." 

Alhamdulillaaah. Seneng. Awalnya agak-agak nyesek. Kalo 3 minggu kan, seminggunya bisa dipakek jalan ke Timur Saudi. Jadi plan nya sisa seminggu ini kitah akan ke timur saudi. Begitu dapat tanggalnya, langsung bikin itenerary akunya. Hehehe iyaa betul. Kalo urusan traveling planner, itu urusan emak-emak. Wkwkwkwk.

Planning udah tersusun rapih. Beberapa list destinasi sudah dikantongi. Fanatheer beach, ras tanura beach, half moon beach, murjan island, sci-tech centre dan beberapa destinasi lainnya. Memang, daerah timur adalah daerah yang banyak pantainya. Hotel-hotel pun sudah dibooking.

Tapi tiba-tiba kita ganti haluan! Balik lagi ke Saudi arah barat. Kalau harus membandingkan, tentu saja ke barat jauh lebih baik karena ada Makkah dan Madinah. Memang kalo secara posisi, Makkah dan Madinah terletak di sisi barat Saudi. Secara jarak ke Timur lebih dekat. Dari Riyadh ke Jeddah jaraknya sekitar 1000 km. Sementara Riyadh ke Dammam jaraknya sekitar 400 km.

Daan yang paling seruu adalah "berburu" slot utk beberapa aktivitas di Masjidil Haram dan Nabawi yang sekarang harus terdaftar lewat applikasi eatmarna. App yang khusus dari pemerintah.

Alhamdulillaah... Enggak nyesal rasanya ke Barat lagi. Alhamdulillaah banget. Kita mikirnya kalo ke Timur bisa pas week end. Tapi kalo ke Barat ga bisa. Minimal 3 hari. 

Rute kita hampir sama dengan sebelumnya. Beda 1000 an km sih. Hehe.. Lumayan yaak. Jadi awalnya ke Mekkah dulu. Dari Mekkah ke arah Jeddah mampir di situs bersejarah sisa-sisa peninggalan Hudaibiyah. Sebuah perjanjian ketika Rasulullaah dan sahabat hendak berhijrah namun dihalangi oleh kafir Quraisy untuk memasuki kota Mekkah. Jarak Hudaibiyah sendiri dengan batas Haram (tanah yang suci dan tidak bokeh dimasuki oleh selain Islam) cukup dekat. Ada masjid lama sisa peninggalan Hudaibiyah. Sayangnya penuh drngan coretan nama. Dan banyak nama orang indonesiaedi sana. Jadi malu sendiri sebagai orang Indonesia. Hehe. Apa sih urgensinya menulis nama di sana? Mafi faedah! Enggak ada faedahnya.

Dari Hudaibiyah kita ke Jeddah. Ibaratnya Jeddah numpang istirahat aja sih. Hehehe. Karena besoknya kita ke Yanbu. Di Yanbu mampir di Waterfront. Anak-anak berenang di laut lagi. Qadarullaah walhamdulillaah dikasi hujan di Yanbu meski cuma sebentar tapi cukup untuk ngebasahin karpet kitah. Hehehe. Dari waterfront belanja di Panda. Beli perbekalan buat masak-masak karena kitah booking apartement yang menyediakan dapur. Trus dari Yanbu kita ke Badr dulu.

Ada haru ketika sampai di Badr tempat Rasulullaah dan para sahabat melakukan perang Badr al Kubra. Salah satu perang yang sangat menentukan arah sejarah Islam. Para ahlul Badr memiliki tempat tersendiri di hati Rasulullaah. Pada perang itu pula, keangkuhan Abu Jahal sang fir'aun nya abad itu tewas dalam kekafirannya. Abu Jahal diserang oleh 2 orang pemuda anshar yang gagah berani dan kemudian menemui ajalnya lewat Abdulllah bin Ibnu Mas'ud. Pun, di perang Badr ini pula Umayyah bin Khalaf, yang dulu menyiksa Bilal menemui ajalnya dibunuh oleh Bilal.

Di Badr inilah dimakamkan 14 syuhada Badr. Nama-nama syuhada Uhud dipatrikan di sebuah monumen. Dan bahkan nama Jalan di sana pun dinamakan Thariq Shuhada Badr (jalan para syuhada Badr).

Ini adalah monumen syuhada Badr yang berisi nama-nama syuhada Badr.

Dari Badr kita ke kota Madinah dengan terlebh dahulu ke Masjid Quba. Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun Rasulullaah ketika sampai di Madinah. Beliau bermalam 5 hari di Quba dan mendirikan masjid. Shalat 2 rakaat di Masjid Quba memiliki nilai pahala yang sama dengan Umrah, begitu sabda Rasulullaah. Oleh sebab itu di masjid Quba ini selalu ramai dikunjungi oleh orang-orang muslim yang datang dari berbagai belahan dunia yang ingin berziyarah ke Madinah. 


Dari masjid Quba kita langsung ke Hotel yang udah dibooking. Dan menghabiskan sisa liburan di Madinah. Kota Nabi yang benar-benar peaceful ma shaa Allah.

Karena kasus covid di Saudi sudah menunjukkan trend penurunan alhamdulillaah dan semoga terus turun, aamiin yaa Rabb, maka jarak shaf shalat pun sudah mulai lebih rapat dari sebelumnya. Yang shalat di masjid Nabawi juga sudah sangat ramai karena ga perlu regiistrasi di app eatmarna sebagaimana shalat di masjidil haram. Tapiii, kalau mau jum'atan harus segera ke Masjid dari jam 9 pagi! Kalau udah jam 10 udah ga dapat tempat lagi di dalam masjid Nabawi. Ma shaa Allah.

Untuk ziyarah ke Makam Rasulullah pun harus daftar lewat app eatmarna. Dan enggak boleh tiap hari! Uniknya, pas kami nonton TV di Saudi Sunnah (siaran madinah) pas banget yang tampilnya di area prophet visit. Daan pada senang lihat ayahnya masuk TV. wkwkwkwkw


Pagi sabtu kami segera balik ke Riyadh. Tapi di pertengahan jalan menuju Riyadh (diperbatasan provinsi Qassim dan provinsi Riyadh) kami mampir dulu main di Gurun. Hehe. Anak-anak juga senang karena bisa main pasir. Red sands dunes di dekat daerah Ghat.

Alhamdulillah sekitar jam 4 sore kami sudah memasuki gate check point kota Riyadh. Perjalanan alhamdulillaah lancaarr. Dan juga semoga penuh barokah.


========
Banyak hikmah dari pandemi ini. Sejujurnya, kami sendiri banyak merasakan hikmahnya.
Di antaranya banyak quality time bersama keluarga. Apalagi suami sampai sekarang masih WFH.
Daan sejujurnya pula, di tahun 2020 ini yang notabene tahun pandemi tapii atas karunia dan kasih sayang Allah, justru menjadi tahun di mana terbanyak bagi kami untuk mengunjungi kota Madinah. Hadzaa min fadli Rabbi. Bahkan di tahun 2019 kami hanya sempat berziyarah ke madinah 1 kali saja. Selalu ada hikmah atas segala sesuatu tentunya.


Semoga Allah berikan kesempatan lagi untuk mengunjungi kota-kota suci. Aamiin yaa Rabb. Dan semoga pula Allah senantiasa menjaga kita dari wabah ini. Aamiin yaa Rabb.

Read More

My Little Maryam

Maryam. Begitu kami menamainya.

27 bulan usianya kini ma shaa Allah tabarakallah.
Orang-orang menyebutnya "terrible two". Tapi, baiklah ... kami menggantinya dengan istilah "Wonderful Two".

Meski lahir dari rahim yang sama, ketiganya memiliki karakter yang sangat berbeda. Kakak Aafiya, uni Aasiya, dan Maryam tiga-tiganya unik. Punya preferensi dan bakat yang berbeda pula. Bahkan makanan kesukaan pun berbeda.

Maryam di usia 27 bulan tentu berbeda dengan Aasiya di usia yang sama maupun Aafiya di usia yang sama. Tapi, tak elok membandingkan antar mereka karena setiap anak adalah unik. Sebagaimana setiap orang mempunyai sidik jari masing-masing.

Maryam.
Kami punya challange sendiri terhadap Maryam. Anaknya di usia segini punya pendirian sendiri ma shaa Allah. Di lain sisi, tidak mudah membujuk atau mengalihkan perhatiannya.

Tantrum?
Hmm ... hampir tiap hari. Apalagi kalau jeleous sama uninya.

Maryam juga satu-satunya yang palibg dekat dengan ayah sejak bayi. Sampai-sampai makan dan bobo pun maunya sama ayah. Kalau nangis, yang dicari pertama juga ayah. Mau mandi, maunya sama ayah. Ma shaa Allah.

Barakallaahu fiik my little princess. Jadi anak yang shalihah bertakwa dan qurrata' a'yun yaa Nak.
Semoga senantiasa dalam penjagaan Allah.
❤❤❤
Read More

Lebih dari 3500 KM Bersamamu (last part)

Alhamdulillaah tsumma alhamdulillaah.
Riyadh-Madinah-Makkah-Jeddah-Yanbu-Umluj-Al Ula-Ha'il-Buraydah-Ushaiqer-Shaqra-Riyadh. Beberapa kota telah dilewati bersama dengan total jarak tempuh lebih dari 3500 KM (sesuai dengan judul series ini hehehe).
Postingan ini khusus untuk yang tercinta, Zaujiy. Jazakallahu khair yaa Zaujiy atas wonderful journey ini. Tidak mudah tentunya menempuh ribuan kilo apalagi di masa pandemi ini (yang alhamdulillah case di Saudi memang sudah menurun dan semoga gak naik lagi). Banyak tantangan yang dihadapi. Apalagi perjalanan bersama 3 wonderful girls yang tidak selalu anteng sepanjang jalan. Si kakak yang sekoah di mobil pas jalan. Ada kalanya Maryam yang rewel dan nangis yang bikin panik dan merasa berada dititik ga pengen lanjut jalan. Tapi juga banyak kenangan manis tak terlupakan. Alhamdulillah mostly sepanjang perjalanan mereka kooperatif. Ada Cerita. Nostalgia. Sejauh jalan yang kita tempuh. Thanks for fulfill my wish list and accompany me for this adventure journey yaa Zaujiy. Bagi yang ga suka jalan, menempuh ribuan kilo ini sama seperti melawan arus gradien, butuh effort 2x lipat tentunya. But it's well done ma shaa Allah. Semoga Allah senantiasa melimpahi banyak keberkahan, kebaikan, dan kesehatan untukmu wahai kekasih hati. Dan semoga pula kebersamaan ini sampai pada kehidupan setelah dunia dan Allah kumpulkan kita kembali di Jannah-Nya. Aamiin yaa Rabb.
Salah satu hal yang agak nyesek adalah ... aku tidak membawa kamera DSRL! Banyak potret yang sayang untuk dilewatkan. Apalagi yang butuh zoom in hingga 300 mm. Kebayang sambil mbatin, "duuh kalo pakek lensa 70-300 mm ini bakalan kelihatan banget gambarnya!" Sebab zoom menggunakan HP juga terbatas kan yaaa. Karena (seperti yang sudah aku bilang di awal series ini bahwa ini adalah unplan journey) maka aku tidak menyiapkan "peralatan tempur" berupa kamera. Tapi 'ala kulli haal alhamdulillaah. Masih bisa motret dengan HP yang hasilnya juga alhamdulillah tidak mengecewakan. Alhamdulillah ada dokumentasi video (yang masih mentahan) yang in shaa Allah juga akan aku aplod di channel youtube sebagai kenang-kenangan aja. Aku bukan youtuber juga koq. Hehe. Lebih banyak buat konsumsi sekeluarga aja dan sekedar hobbies. Belum di monetize juga.

Next Journey in shaa Allah ke Saudi Sharqiyah, biidznillah. Mudah-mudahan sisa 1 pekan cuti suami masih bisa di-claim. Journey ke arah Sharqiyah ini sudah lama bangeeett, pas si kakak masih bayi. Dan pernah ke Hofuf juga tapi ga nyampe yang timur bangeet kaan. Karena kebanyakan kita ke arah barat aja kalo jalan. Mudah-mudahan plan ke Sharqiyah juga bisa terwujud. Aamiin.

Salah satu hal yang berkesan bagiku adalah, sepertinya benar apa yang disampaikan oleh orang-orang tentang sepasang anak manusia yang terikat dalam pernikahan. Katanya, mereka akan saling mempengaruhi satu sama lain dan bisa jadi pada satu titik akan bertukar karakter. Aku merasakan sangat. Dulu aku extrovert sangat sekarang aku merasa lebih introvert. Siapa lagi yang jadi the most influencer in the world kalau bukan seseorang tercinta yang menemani hampir 24/7? Dan kayaknya the most 'lebay-er' in the world (kekeke ini istilah kami aja) sudah berganti posisi sekarang 🤣🤣🤣. Dan suatu saat in shaa Allah hobi jalan dan adventurer nya aku juga fully terinsisi ke Abu Aafiya wkwkwkwkwk. Sebagaimana aku juga berharap hobi olah raganya beliau juga terinsisi (gak perlu fully) ke aku biar ga mager aja bawaannya sehingga timbangan nganan terus kekekeke. Setidaknya untuk sekedar treadmill atau jalan kan yaa. Hehehe.

Tapi yang paling terpenting tentunya adalah saling mempengaruhi dalam kebaikan. Aamiin yaa Rabb. Karena sesungguhnya semua yang aku sebutkan di atas hanyalah bunga perhiasan dunia kan yaa. Sedangkan dunia tidaklah abadi. Sesungguhnya akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya. Maka, sudah seharusnya yang menjadi cita-cita adalah bagaimana agar kita semua bisa kembali berkumpul di Jannah. Meski itu berat. Meski itu harganya sangat mahal. Meski banyak tantangan dan ujiannya. Dan diri ini yang penuh dengan salah dan kelalaian. Semoga, berkumpulnya kita, bersamanya kita, adalah tentang berkumpulnya kebaikan. Bukan semakin menjauhkan dari-Nya. Na'udzubillaah.

Now back to routine.
Semangat!
Semangat!
Semangat!

Sampai jumpa di next journey in shaa Allah 😍



===
Beberapa potret jalanan yang di-capture di perjalanan. Tentang gurun, bebatuan, dan pasir.

Read More

Lebih dari 3500 KM Bersamamu (5)

Hari ke-10 kami menuju Buraydah melewati Ha'il. Di Ha'il sempat mampir sebentar saja. Sebenarnya banyak juga destinasi wisata di Hail yang bisa dikunjungi tapi tidak sempat. In shaa Allah next time. Ha'il sendiri merupakan provinsi tersendiri. Bukan lagi termasuk provinsi Madinah maupun provinsi Tabuk. Karena diperjalanan kami sempat melewati perbatasan provinsi Tabuk dan Provinsi Madinah. Jadi, di gurun sebelah kiri adalah Tabuk dan gurun sebelah kanan adalah provinsi Madinah. 

Jarak Al Ula ke Buraydah lumayan juga, sekitar 700 an KM. Al Ula ke Ha'il kira-kira 500 an KM. Yang agak susah adalah rest area dan petrol sangat sedikit di sepanjang perjalanan al Ula menuju Ha'il. Jadi, begitu ada ... jangan sampai terlewatkan jika tidak ingin mengalami bensin habis di jalan. Hehe. Kami sebenarnya setiba di Buraydah pengen mampir ke museum dulu. Tapi ... ternyata qadarullaah nyampe di Buraydah sudah hampir maghrib. Jadinya plan ke museumnya dicancel.

Di Buraydah kami dapat apartemen yang ma shaa Allah baguuuss dan murah. One bedroom apartemen yang dilengkapi dapur dan ruang tamu juga. Di antara 4 apartemen tempat kami menginap (tidak termasuk hotel di makkah dan madinah), apartemen di Buraydah adalah apartemen termurah tapi dengan kualitas terbagus. Ma shaa Allah.

Akhirnya di Buraydah numpang tidur doang untuk lanjut pagi-paginya ke Ushaiqer dan Shaqra. Pagi itu aku enggak masak lagi karena in shaa Allah udah mau ke Riyadh. Kami cuma sarapan pop mie dan roti tawar plus nutella. Lagian cuma nginap semalam juga yang mana nyampenya aja udah maghrib kan. Hehe. Dan juga Buraydah adalah kota yang sudah sering kami lewati ketika hendak ke Madinah. Jadi di Buraydah tidak keliling-keliling lagi.

Pagi-pagi kami ke Ushaiqer. Targetnya adalah jam 2 reach Riyadh karena kakak sudah ketinggalan beberapa pelajaran dan juga di hari itu ternyata kakak ada quiz. Jadi kita berharap kakak bisa sekolah ketika sudah sampai di Riyadh, bukan sekolah di mobil/di jalan lagi hehe. Ushaiqer itu posisinya antara high-way makkah dan madinah. Sekitar 200 an KM dari tempat kami menginap di Buraydah. Arah ushaigher ini kami menempuh arah jam 2 dari Buraydah. Jadi, arah Timur Laut lah kira-kira.

Di Ushaiqer tujuannya adalah Ushaiqer Heritage Village. Satu komplek perumahan saudi kuno yang masih dibangun dengan tanah liat. Masuk ke komplek ini serasa berjalan dalam labirin bangunan tanah liat. Karena week day banyak yang tutup jadinya sepi bangeeet dan anak-anak rada takut ketika kita melewati labirin demi labirin. Mungkin karena gangnya sempit kali yaaa. Hehe. Hanya 1 museum yang buka di week day yaitu museum al Salam yang menyimpan benda-benda kuno. Harga tiket masuk museumnya adalah 10 SAR. Di museum ini aku bisa melihat langsung segala macam. Ceret² khas saudi (yang juga menjadi Icon di Ghat dibangun gede banget duplikat ceret ini), bedil-bedil alias senapan yang digunakan untuk berburu dari zaman ke zaman, pakaian khas wanita arab, buku-buku pelajaran sekolah zaman dulu, tempat menbuat laban dan menyimpan kurma, penyulingan air dan sebagainya. Banyak lagi yang ga sempat disebutkan. Hanya saja museum ini sangat padaaaatt sekali isinya. Jadi rada kurang spacious. Hehe. Mungkin karena rumah jaman dulu yang dijadikan museum kayaknya. Sebagian rumah-rumah di Ushaiqer ini sudah mulai agak runtuh dan sebagian ada yang direnovasi tapi bukan untuk ditinggali. Murni hanya Heritage Village aja. Semacam cagar budaya kalo di kita kayaknya ya.
Setelah dari Ushaiqer ke ke Shaqra. Ada Subaie Historical Palace di sana. Hanya saja masih tutup ketika week day jadi kita cuma keliling-keliling aja pakai mobil. Di komplek di Shaqra ini sebagian sudah ada rumah penduduk yang baru. Mungkin mirip-mirip daerah 1000 rumah gadang di Solok Selatan kayaknya yang juga sekalian dijadikan tempat mukim sekaligus heritage village.
Setelah itu kita heading to Riyadh. Sempat bingung milih jalan yang mana karena ada 4 jalan menuju Riyadh. Akhirnya kita memilih jalan lewat route 505 yang nanti titik pertemuannya adalah di Muzaihimiyah, jalan Makkah Al Mukarramah. Spesifiknya adalah pendakian di Muzaihimiyah. Jadi, dari route 65 (rute madinah-riyadh) kita "nyebrang" ke route 40 (rute makkah-riyadh) melewati route 505. Ya di sini juga sih aku baru kenal setiap jalan ada number route nya. Hehe. Route yang besar adalah 40, 15, 65, 70,80, 55 dll. Route 40 membentang dari timur ke barat. Route 65 dari utara ke selatan. Route 15 dari utara ke selatan arah madinah. Route 55 adalah rute pesisir timur dari utara ke selatan. Route 65 adalah rute di central dari utara ke selatan. Route 70 adalah route di bagian utara yang membentang dari timur ke barat. Dan lain sebagainya. Kekeke.. bingung yaa? Enakan lihat petanya langsung kayaknya. Wkwkwkwk. Sebagai penyuka peta (yang juga turun ke Aafiya kayaknya) aku suka merhatiin rute² jalan dan explore peta. Mungkin mirip sama dora kali yaa wkwkwkwkwk 😂😂😂.

Sebenarnya kita mencapai Riyadh sesuai target yaitu jam 2 an tapiii itu sampai check point ketika memasuki kota Riyadh hehe. Dari check point ke rumah kita jaraknya 60 an km jugaa ternyata karena posisi tempat tinggal kami yang di ujuuuung timur Riyadh sana sementara kita datang dari arah barat kaaan. Akhirnya 1 jam pelajaran kakak sekolah di mobil lagi.

Alhamdulillah sekitar jam 14.30 kami sampai di Nahdah lagi. Mampir sebentar di Mahboob beli makanan buat makan siang yang udah agak telat. Chicken shawarma jadi pilihan. 

Alhamdulillaah binni'mah tatimmussaliha.


Beberapa dokumentasi di Ushaiqer dan Shaqra
Read More

Lebih dari 3500 KM Bersamamu (4)

Setelah ke Jabal Fiil kami melanjutkan perjalanan dengan hunting apartemen untuk penginapan di Al Ula. Berbeda dengan penginapan-penginapan yang biasanya kami booking online lewat booking.com, kali ini kami langsung mencari on the spot. Karena booking an online tidak banyak pilihan. Lebih bagus memang langsung on the spot dan bisa lihat dulu kondisi apartemennya kayak gimana. Sama seperti sebelumnya, kami memilih yang ada dapurnya hehe.
Alhamdulillah muter-muter satu kali, kita dapat apartemen yang bagus, bersih dan luas. Ma shaa Allah. Dua kamar. Dua kamar mandi. Dapur dengan segala perlatannya dan juga peralatan laundry (mesin cuci, jemuran dan setrikaan). Anak-anak happy banget alhamdulillaah ma shaa Allah. Ada baqala (semacam mini market) dekat dengan apartemen untuk membeli keperluan masak memasak seperti nugget, ayam dan camilan. Alhamdulillaah sangat memudahkan.
Kami juga sudah membooking untuk tour di Al Ula melalui website resmi experiencealula.com dan mengambil slot jam 9 pagi. Dan syaratnya harus udah ada di winter park (spot untuk meeting point dan transfer menuju Al Hegra dan lain-lainnya).
Subuh kami dengar hujan sangat deras. Alhamdulillaah. Subhanallaah. Hujan adalah berkah. Namun kami bingung dengan tour apakah bisa ditunda atau tiketnya bakalan hangus. Apalagi jarak ke Winter Park lumayan juga. Sekitar 30 menit. Belum lagi banjir. Di sini memang hujan sebentar saja bisa menyebabkan banjir (bukan banjir yang dalam) di beberapa ruas jalan. Karena sistem drainase nya tidak dirancang untuk kota hujan. Berhubung di sini sangat jarang hujan. 

Teman sudah berangkat duluan ke Winter Park dan menginfokan bahwa tour tetap jalan meskipun hujan. Ya, bisa dimaklumi sih yaa karena di sini hujan adalah favorit. Bahkan kalau hujan pada mfoto-foto hujan. Hehehe. Karena berasal dari negeri yang sering hujan, aku ga ikutan moto-moto hujan jugaaa. Ekekekeke... Kami harus buru-buru mencapai winter park jam 9 dan bus akan jalan jam 9.30. Alhamdulillaah tepat jam 9.01 kami mencapai winter park dan segera menuju konter tournya. Alhamdulillaah tiket ga jadi hangus. Hehehe.
Dari Winter Park kita naik bus menuju Hijaz Railway station. Sedikit cerita; dahulu pernah dibangun jalur kereta Hijaz antara kota Madinah menuju Al Ula (yang kabar-kabarnya harusnya sampai ke Syam) tapi berhenti di Al Ula. Cukup membantu distribusi dan transportasi kala itu. Sampai sekarang Hijaz Railway Station ini masih ada (sebagai museum) di Madinah maupun Al Ula. Alhamdulillah kami sudah mengunjungi keduanya. Dari Hijaz Railway stasiun ini kita di transfer lagi dengan bus yang berbeda menuju Al Hegra yaitu Jabal Ithlib, Jabal Al Banat, AlFegeer Mud House, Tomb of Lihyan son of Kuza, Jabal AlAhmar, dan Jabal Alkhuraymat. Ada tour guide juga yang memberi penjelasan tentang kerajaan Nabatean yang hidup di abad pertama masehi. Al Hegra berarti Al Hijr yang artinya adalah batu.
Setelah itu kita balik lagi ke Winter Park dan ready untuk tour kedua yaitu ke peninggalan Dadan Kingdom dan Transkrip kuno di Jabal Ikmah. Kerajaan Dadan eksis pada abad ke 6-7 masehi yang kemudian dikuasai oleh romawi setelahnya. Baru kemudian cahaya islam datang menerangi ketika kekuasaan romawi ditaklukkan oleh Islam dibawah pimpinan Khalid bin Walid.
Sorenya kita kembali ke apartemen dan gak sempat lagi mampir ke mana-mana karena sampai di apartemen sudah hampir maghrib. Bersiap untuk berangkat besoknya ke Buraydah. (Bersambung ke postingan berikutnya in shaa Allah).

Beberapa fotografi di Hegra, Dadan Kingdom dan Jabal Ikmah
Read More