Sebenarnya, skill menyetir bukanlah sesuatu yang istimewa. Banyak yang bisa dan setiap orang bisa belajar in shaa Allah. Tapi, buatku, unlock skill yang satu ini, adalah salah satu milestone dalam hidupku yang mendekati kepala empat ini (ternyata aku sudah setua ini yaa, mau kepala empat hehe).
Mengapa aku butuh effort besar untuk unlock skill menyetir?
Pertama, aku aslinya agak penakut dan kagetan. Dulu, pernah belajar ketika kuliah. Hanya karena nabrak pot bunga dikit aja, aku berhenti belajar. Saking penakutnya. Hehe... Jadi, aku belum pernah menyetir ketika di Indonesia. Selain itu, menyetir di sini, dengan kondisi traffic yang agak ngeri-ngeri sedap, rasa khawatir lebih mengalahkan keberanian. Belum lagi denda traffic violation yang besar.
Kedua, dulu di Saudi menyetir buat perempuan adalah hal yg dilarang. Jadi, sudah terlalu nyaman di comfort zone posisi disetirin aja. Hehe.
Ketiga, sebelum-sebelum ini, tidak ada kebutuhan yang urgent untuk harus nyetir. Aku pernah belajar di akhir 2021 dulu tapi yaa belum yang serius banget sih waktu itu. Masih dikalahkan rasa takut dan khawatir juga.
Tapi, anak-anak semakin besar. Suami kadang harus ngantor ke lokasi yang jauh, meeting di jam pulang sekolah sehingga tidak bisa atau sangat terlambat menjemput anak-anak. Akhirnya aku memberanikan diri kembali untuk belajar. Dan qadarullah, kemudian suami pindah ke tempat kerja yang lebih jauh. Yang memaksaku mau ga mau harus belajar. Walaupun belajarnya sudah dimulai sejak sebelum ada sedikitpun wacana pindah kerja ini. Dengan kondisi anak-anak yang harus diantar jemput ke sekolah dan aku yang ga terlalu berani naik transportasi online semacam car*em atau ub*r, mau ga mau yaa harus nyetir sendiri. Ternyata strong why itu sangat perlu yaa untuk melakukan sesuatu.
Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengajukan proses pembuatan SIM (setelah sebelumnya latihan dulu bersama suami). Sejujurnya tidak mudah buatku. Alhamdulillaah, training dari suami sangat-sangat helpful. Kata orang, belajar nyetir sama suami/ayah/saudara laki-laki itu sesuatu yang susah untuk dilakukan hehe. Tapi, dengan pertolongan Allah, dan kesabaran beliau yang banyak sama istrinya ini (bukan berarti selalu sabar juga siih ngajarinnya, kadang gemess jugaa wkwkwk), alhamdulillaah ketika assasement awal ditempatkan di level advance (course 6 jam). Mungkin sepertinya belum pantas di level advance. Sungguh, ini karena pertolongan Allah saja...
Alhamdulillah, setelah melewati prosesnya selama 3 minggu (assasement, ujian komputer, training, dan test akhir) akhirnya SIM pertamaku jadi. Ma shaa Allah alhamdulillaah... Sungguh tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan punya SIM pertama itu di negara orang. Di negara sendiri malah belum pernah punya SIM. Hehe...
Punya SIM bukan berarti langsung expert tentunya. Justru itu hanyalah sebuah legalitas menyetir di jalan raya semata. Hanyalah semacam 'gerbang' saja. Sisanya, tentu masih harus terus latihan dan latihan. Diulang dan terus diulang. Dan yang terpenting tentu saja, memohon pertolongan Allah di setiap perjalanan yang ditempuh, yang jauh maupun yang dekat. Memohon perlindungan-Nya agar selamat, tidak mencelakai atau menzdalimi dan dicelakai atau didzalimi orang lain di jalanan sedikitpun.
Dalam kesempatan ini aku ingin berterima kasih kepada suami, ayah anak-anakku yang sudah ngajarin dengan sabar. Terima kasih kepada uni Tiara, mba Aya, Muti atas info-infonya. Terima kasih Dallah Driving School yang mana di tempat ini aku finally obtaining my driving license. Terima kasih buat Asrar Albassem Rawdah, Rimal centre yang sudah "ngijinin" aku pakek parkirannya buat latihan dari 0 hehe. Rimal Centre emang tempat paling best buat latihan terutama di week end pagi.
Terakhir, pelajaran moral:
Pertama, tentu saja sangat penting memohon pertolongan Allah di setiap keadaan, termasuk dalam hal proses belajar menyetir dan membuat SIM ini. Terkadang kita lebih "mengandalkan" diri sendiri dan upaya kita semata. Padahal bersandar pada diri sendiri itu sungguh adalah bersandar pada sesuatu yang sangat lemah.
Kedua, terkadang (atau sering?) ketika melihat sesuatu yang sangat sulit, kita memilih mode "flight" duluan. Menghindari/kabur dan tidak ingin mencoba tantangan berat tersebut. Padahal setelah dijalani, ternyata tidak sesulit yang kita bayangkan.
Ketiga, pentingnya "strong why". Tanpa ada alasan yang jelas, mungkin kita tidak akan termotivasi untuk melakukan sesuatu. Jangan lupa untuk selalu meluruskan niat kita tentunya.
Akhir kata, sesungguhnya aku masih belajar. Jika ibarat jenjang sekolah, mungkin aku masih di level pre-school atau nursery dalam urusan menyetir. Belum level elementry apalagi level university hehehe. Masih harus banyak latihan lagi tentunya...