Make Up The Kids Bedroom

Sejak kira-kira 4 bulan yang lalu ketika belum pindah rumah, kami mencoba mengajak anak-anak untuk tidur di kamar sendiri. Pertama, pengen mereka punya area privacy sendiri. Kedua melatih mereka mandiri. Ketiga (alasan paling utama) karena mau ada adeknya yang otomatis ga muat di 1 tempat tidur. Hehehe... Ketika dulu awal-awal pisah kamar, mereka terutama Aafiya terlihat sangat excited. Kalo Aasiya sih jadi follower uni nya ajah. Hihi... Apalagi ketika mainan mereka di tata di kamar mereka (yang sebelumnya ada di ruang tengah/sholah). Jadiii, senang deeh bisa main sepuasnya tanpa harus bolak-balik kamar-ruang tengah. Tapiii, pas udah pindahan ini, anaknya makin lengkeeet deeh. Ga mau tidur di kamar sendiri kalau ndak ditemani. Dulu sih juga ditemani sebelum mereka tidur. Trus ketika udah merem, emaknya kabur ke kamar sebelah. Hehe... Tapi belakangan (sebelum baby Maryam lahir) malah minta ditemenin whole night dan bahkan berempat sama ayah juga. Jadinya tidur di kamar sendiri tapi bareng ayah bunda wkwkwkwkwk... Sama aja ga pisah kamar.

Yaa begitulah, pindah rumah terkadang menciptakan suasana berbeda yaah... Kadang sebelum tidur itu penuh drama jugaaa... Apalagi dengan pola tidur yang sebelumnya agak berantakkan. Tapi kita lagi perlahan memperbaiki pola tidur mereka dan juga udah bikin semacam agreement bahwa nanti ketika umur uni Aafiya genap 4 tahun, uni harus bobo di kamar sendiri tanpa ditemani ayah dan atau bunda lagi. Dan so far Aafiya sudah setuju. Semoga nanti prakteknya bisa terealisasi.

Nah, setelah Maryam lahir, sekarang berganti formasi. Dua lawan tiga. Kekeke... Maryam bersama emaknya di kamar ayah bunda. Aafiya dan Aasiya bersama ayah di kamar anak-anak. Meski, Aafiya dan Aasiya yang biasa tidur bersama bunda terlihat agak berat ketika harus pisah bobo sama bunda sampai-sampai ada adegan cipika cipiki, peluk-peluk, ngucap "bundaa baik2 yaa sama Maryaam, bye bye assalaamu'alaykum bundaa" sebelum bobo. Udah kayak mau pisah pergi jauh ajaaah... ekekekeke...

Pisah kamar menurutku memang harus dimulai sejak dini. Ada ruang privacy buat mereka dan tentu saja ruang privacy buat orang tua. Bahkan ada yang menyarankan, pisah kamar dimulai sejak masa penyapihan malah. Begitu selesai disapih, kamar pun misah dari orang tua Di barat sono kabar-kabarnya bayi punya kamar sendiri malah. Kalau aku sih ga seekstrem itu jugaa hehehe. Tapii, ga ingin juga anak-anak pisah kamarnya udah gede apalagi udah mukallaf. Bahkan ada yang sampai kelas 6 SD masih sekamar dengan orang tua!! Kan mereka udah mengerti tentang segala aktifitas orang tuanya.

Bagaimana biar anak mau pisah kamar?!
Yang kami lakukan adalah:

1. Sounding
Ini the most important thing deh pokonya. Kita ajah kalo ujug2 disuru pindah, pasti ga senang kaan? Apalagi kalo sudah di zona nyaman. Ga mauu dong disuru pindah tanpa sebab musbab. Apalagi anak yang di dalam masa kelekatannya. Kita kasi tau kenapa dia mesti punya kamar sendiri. Dengan alasan yang tentu bisa diterima logika anak seusianya tentunya. Meskipun kadang, aku merasa takjub ma shaa Allah dengan anak usia 3-4 tahun yang ternyata logikanya sudah jalan.

Satu pertanyaan Aafiya ketika berusia 3 tahun 9 bulan 9yang masi bingung untuk emaknya memberikan jawaban, "gimana caranya dedek bayi ada di perut bunda?"
Untung pertanyaannya ga ditanyakan lagi sebelum emaknya sempat menjawab. Wkwkwkwk... Dan ga ditagih lagi sampai sekarang. Alhamdulillaah... Dan banyak pertanyaan dan pernyataannya lainnya yang sudah menghubungkan sesuatu dengan logis. Jadi, emak2 kudu hati2 dan tidak memberi jawaban ngasal apalagi sampai ngarang bohong sama anak. Ye kan?

2. Make an agreement.
Anak seusia Aafiya ternyata sudah bisa bikin agreement. Dan, anak adalah sosok paling jujur ketika kita sudah bikin kesepakatan. Jadi, kita sebagai orang tua jangan jadi orang pertama yang melanggarnya. Misal, kita bikin kesepakatan untuk tidak makan di atas tempat tidur. Maka, sebagai orang tua kita tidak boleh melakukannya jika tidak ingin kehilangan kepercayaan dari anak kita. Tapi, ketika kita lupa dan tak sengaja melakukannya, jangan segan untuk meminta maaf kepada anak. "Maaf yaa Nak, bunda lupa. Harusnya kan ga makan di tempat tidur". Jangan malah mencari alibi atau pembenaran. "Bunda kan makannya ga berantakan kayak kamu, jadi bunda boleh aja makan di atas tempat tidur." Emaknya secara tak langsung mengajarkan ketidakkonsistenan dong yaa.. hehehe...

Nah soal agreement ini, kita bisa bikin pakai usia. Contoh, "nanti kalau uni Aafiya sudah genap 4 tahun, uni bobo sendiri yaaa di kamar sendiri. Kalau sekarang masi boleh ditemani ayah atau bunda." Agreement seperti ini biasanya leboh diingat oleh anak.

3. Decoration
Ini niih bagian yang paling menyenangkan buat emak Aafiya. Hehe. Iyesss. Merias kamar anak. Bikin mural ala-ala di dinding. Nyoret-nyoret dinding, jait properti ini itu dan tempel. Kekeke... Salah satu daya tarik biar anak mau tidur di kamarnya sendiri adalah merias kamarnya secantik mungkin. Jangan lupa mengakomodir keinginannya, misal warnanya, gambarnya dll. Berhubung (entah kenapa dan sejak kapan) Aafiya menyukai Hello Kitty (yang emaknya ga ngenalin sama sekali hehe) dia request di dindingnya ada gambar hello kitty nya. Dan jadilah emaknya melukis hello kitty di dinding. Sebagian yang lain emang ide emaknya aja yang alhamdulillaah anaknya sukaa. Kekeke...

Kalau ingin serius mendekor kamar anak, memang harus di plan sebaik mungkin sejak kamar itu kosong. Sebelum mengisi segala furnitur dan pernak perniknya. Jadi kita bisa merencanakan sebaik mungkin. Nah, case kamar Aafiya dan Aasiya sekarang adalah karena barang2 yang ada di dalamnya bukanlah sesuatu yang di plan dari awal, alias barang yang ada sebelumnya aja plus warisan dari teman sebelumnya yang tinggal di sini. Sudah barang tentu ga bisa di plan dari awal dongs. Hehe... Kasurnya yaa kasur aja tanpa bed alias dipan karena berpotensi bikin anak jatuh dengan tidurnya yang masih ngeguling ke sana kemari. Terutama Aasiya. Aku juga ga bisa pilih warna karena memang kan ga ada plan dari awal. Headboard nya juga homemade hihihi... Bukan buat gaya-gayaan sebenarnya, cuma untuk menghindari benturan kepala anak dengan dinding yang keras. Itu dibikin ketika 3x kepala Aasiya kejedot dinding yang tentu sama sekali bukan terbuat dari busa melainkan beton. Sakitnya yang aduhai ga isah ditanya. Dari suara tangisnya, emak-emak pasti sudah mengetahui level nyerinya. Sisi dinding yang satunya lagi pakek foam yang ditempel dengan lem silicon. Gunanya sama dengan headboard hanya saja ketika mau bikin yang mirip, bahannya sudah ga ada. Jadi beli foam aja. Hehe... Naah... lukisan (baca: coretan) di dinding itu pakai cat akrilik. Meski sejujurnya aku ga suka dinding yang terlalu meriah kayak gini, tapi buat kamar anak-anak masi tolerable laah. Namanya juga anak-anak, pasti seneng yang rame. Hehehe...

Berikut beberapa potret hasil make up kamar anak-anak yang masi jauh dari kata bagus. Yang penting anak-anaknya happy dan merasakan ada nuansa berbeda di kamar mereka yang membuat mereka tertarik untuk tidur di kamar mereka sendiri. 

penampakan dr pintu masuk

aafiya & aasiya's bedroom



pojok mainan



Read More

Seminggu Berlalu

Seminggu berlalu setelah kelahiran baby Maryam. Seminggu ini pula aku begadang hehehe. Baby Maryam meleknya selalu dini hari. Iya sih pas masi di perut, anaknya berasa aktif kalau udah dini hari sampai menjelang subuh gituh. Hehe...

Selama seminggu ini pula Aafiya dan Aasiya hampir selalu bersama Ayahnya. Mulai dari mandi, makan, main, tidur... semuanyaa... Aku fokus bersama baby Maryam sekaligus memulihkan tenaga dan merecovery segala nyeri-nyeri mulai dari nyeri episiotomi yang ngilu-ngilu sedap hehe, nyeri kontraksi pasca lahiran yang aduhai banget di lahiran ketiga ini. Belum lagi nyeri menyusui karena ada luka juga. Hehe... Banyak bet nyerinya. Alhamdulillah Abu Aafiya cuti... tapi cuma request seminggu hiks. Ngerasa bisa in shaa Allah seminggu ajaa. Ehh ga taunya kelahiran ketiga ini beda banget dengan kelahiran sebelumnya. Tau begini, request nya kemarin cuti 2 minggu aja sekalian. Karena masi ada sisa jatah cuti harusnya. Hiks hiks... Alhamdulillah 'ala kulli haal.

Agak sedikit merasa gamang dan gagap nih ketika abu Aafiya akan mulai masuk kerja lagi ahad in shaa Allah. Pasca lahiran seperti yang aku ceritakan di atas, duo uni-uni (Aafiya dan Aasiya) hampir selalu bersama ayah mereka. Nah pas ayah masuk kerja, mau ga mau emaknya harus ngurusin ketiganya sekaligus kan yaa. Heuheu... Maklum di perantauan, lahiran di sini memang begini. Ga cuma aku, teman lain pun begitu. Kalau di kampung kan biasanya lahiran ditemani orang tua, banyak yg ngurusin. Nah kalo lahiran di luar nagari dan negeri, tentu apa-apanya mesti ngurus sendiri. Makanya kudu setroong hehehehe.

Kelahiran ketiga ini agak berbeda. Kalo kelahiran sebelumnya, recoverynya relatif lebih cepat. Luka episiotomi  dalam 4 hari udah mulai terlihat membaik meski tanpa analgetik. Pas lahiran ketiga ini, luka episiotominya koq yaa lamaaa banget recoverynya. Hari ke-4 terasa ngiluuu banget sampai sedikit 'trauma' mau beraktifitas apalagi ke kamar mandi. Sebab kalau kena air nyerinya luar biasa. Huhu... Mau duduk juga susaah banget nyari posisi yang PW.   Jadi, banyakan berdiri aja (lebih berkurang nyerinya), tapi lama-lama capek juga nyusuin sambil berdiri hehehe. Sempat sedih dan frustate jugaa kalo nyerinya begini, ngurus diri sendiri aja susaaah apalagi ngurus anak jugaa. Akhirnya aku ingat cream epicure yang dikasi konsultanku pas lahiran Aasiya dulu masi ada 1 yang utuh. Aku pakek buat gantiin krim yang sekarang, ehh ma shaa Allah... fast progress... Efektif banget dalam merecovery si episiotomi. Alhamdulillaah di hari ke-8 ini, bisa dibilang luka epis nya sudah ga begitu nyeri lagi. Paling ngilu-ngilu dikit lah.

Masalah lainnya ada di nyeri kontraksi pasca melahirkan. Adalah normal rahim berkontraksi lagi pasca melahirkan untuk meluruhkan sisa-sisa plasenta dan mengembalikan ukuran rahim ke size semula sebelum kehamilan. Tapi di kelahiran ketiga ini, kontraksi pasca lahirannya terasa jauhhh lebih nyeri dan lebih lama durasinya. Hingga tadi (hari ke-8) nyerinya masi terasa sangat sakit. Aku masi ingat pas masi di RS, nyeri kontraksinya bener-bener deeh ya Allah... sakiit banget sampai aku minta dobel pain killer. Beberapa malam yang lalu, nyerinya juga menghebat. Huhu... Dalam kondisi nyeri seperti ini, aku ga bisa pay attention ke siapapun even ke Baby Maryam. Huhu... Biasanya Abu Aafiya langsung ambil alih anak-anak. Ini kegalauan kedua ketika menjelang suami masuk kerja lagi.

Dengan kondisi baby Maryam yang selalu ngajakin begadang, aku merasa dizziness juga. Jadi, kalau baby Maryam lagi tidur, biasanya aku ikutan tidur. Naaahh, kalau sudah mulai ngantor, otomatis aku juga ga bisa tidur kaan karena ada Aafiya dan Aasiya yang butuh diberi perhatian jugaa, dipenuhi kebutuhan dasar mereka. Apalagi mereka sekarang lagi 'latihan' untuk memperbaiki pola tidur: bangun lebih pagi, tidur siang, dan tidur lebih cepat di malam hari (Pola tidur sebelumnya, mereka baru bangun tidur jam 9-an, nyaris ga pernah tidur siang dan malamnya tidur di jam 10-jam 11-an). Kan ga lucu kalo emaknya bangunin anaknya pagi2 trus emaknya lanjutt tidurr lagi karena abis begadang. Hehe...

Soal makan, beberes rumah, nyuci dan segala macam tetekbengek urusan rumah semua sudah dihandle sama suami.. ma shaa Allah jazakallahu khair katsir yaa Zaujiy 😘😘😘.

Kalo semua kelihatan susahnya aja, kapan senangnya dongs? Hehe... Iyaa, di kelahiran ketiga ini tentu saja ada sisi yang berasa mudah dan dimudahkan-Nya, ma shaa Allah tabarakallah.

Unexpexted, di kelahiran ketiga ini kami dapat kamar perawatan yang Suite Room. Ma shaa Allah, rizki baby Maryam ini... Alhamdulillaah. Sebelum-sebelumnya kami biasanya dapat yang Private Room. Allah Maha Mengetahui bahwasannya kami memiliki dua princess selain baby Maryam yang butuh ruangan yang lebih besar dan luas agar mereka nyaman di RS dan tidak merasa bosan 😊. Di kelahiran ketiga ini, alhamdulillah ada mba Tyas dan keluarga yang membantu menjaga anak-anak selama proses lahiran jadi suami bisa nemenin di LDR. Jazakumullaahu khair mba Tyas dan keluarga. Di kelahiran ketiga ini, tiga hari berturut-turut ada Mba Rahma Ummu Kautsar mengirimi kami makanan yang ma shaa Allah ladziiiz dan kami jadi ga repot harus beli makanan di luar ataupun masak. Jazakumullahu khair katsir buat mba Rahma dan keluarga. Dan Allah mudahkan pula urusan-urusan dokumen kelahiran Maryam, mulai dari sertifikat kelahiran dari rumah sakit, syahadah milad (semacam akte kelahiran dari catatan sipil saudi), proses pembuatan passport dan akte kelahiran dari KBRI yang in shaa Allah tinggal menunggu hasilnya. Mudah-mudahan nanti urusan iqoma juga gampang dan dimudahkan-Nya. Aamiin yaa Allah...

Di balik kesulitan pasti ada kemudahan! Aku harus yakin akan hal itu. Meskipun sedikit gamang menghadapi masa-masa Abu Aafiya mulai masuk kerja, seharusnya aku yakin pertolongan Allah itu jauh lebih dekat. Tiadalah kesusahan dan kesulitan melainkan ada kemudahan yang menyertainya...

Hayooo semangaattt!!!
Masa seperti ini tidaklah lama. Mumpung anak-anak masih dekat dengan emaknya dan bapaknya. Maka tak bolehlah sia-sia masa pengasuhan ini. Sebab, Akan ada masa anak-anak satu persatu meninggalkan kita menuju kehidupan mereka masing-masing nantinya. Jangankan setelah anak-anak menikah dan punya kehidupan sendiri, masa mereka sekolah saja mungkin sudah cukup membuat kita merasa sepi di rumah. Jadi, Masa-masa saat ini (yang mungkin terasa sulit sekarang) justru akan menjadi kenangan yang dirindukan nantinya. Jangan sampai sebuah penyesalan hadir ketika kita terlambat menyadari bahwa banyak waktu kebersamaan yang kita lewatkan begitu saja karena kita sibuk dengan dunia sendiri. Yuk ukir kenangan indah dengan sebaik-baik pengasuha , sebab masa ini tak tergantikan. Apalagi cuma terisi dengan liat henpon dan baca wattpad aja. Betapa sia-sianya waktuuu. Astgahfirullaah. NTMS tentu saja ini mah. Yuk menej lagi diri dan waktumu, Fathel!!!!!!

Read More

Pengalaman Luar Biasa Melahirkan Anak Ketiga

Alhamdulillaah, segenap syukur kepada Allah Ta'ala,
Telah lahir anak ke-3 kami, perempuan, Normal, 13-09-2018/3 Muharram 1440H  jam 2.09 waktu Saudi (GMT+3) di DR  Sulaiman Al Habib Ar Rayyan Hospital, Riyadh dengan BB/TB 3.180 kg/52 cm.

Mohon do'anya agar menjadi anak yang shalihah, bertaqwa, sehat, qurrata' a'yun, dan menambah bobot kebaikan pada dunia...

❤❤❤❤❤

Ketika menulis ini, adalah 10 jam setelah kelahiran anak ketiga kami, Maryam. Sudah leyeh-leyeh di bed dengan suhu pendingin ruangan yang kata Abu Aafiya sangat dingin, tapi terasa gak begitu dingin bagiku. Hehehe.

Setiap kelahiran, jangankan dari individu (ibu) yang berbeda, dari individu yang sama pun ceritanya bisa berbeda. Begitupun dengan kisah kelahiran kali ini.

Sedikit kilas balik, dulu pas anak pertama kami Aafiya, aku mengalami pembukaan 1 sejak 2 hari sebelum lahiran. Aafiya termasuk baby yang pre-term karena lahir di usia kehamilan 35 minggu. Kontraksi yang aku rasakan paling 'dahsyat' memang pas Aafiya sih yaa. Karena air ketubannya banyak. Jam 10 malam mengalami pecah ketuban. Setelah pecah ketuban, nyerinya makin berasaaa banget sampai aku sempat bilang, "udah ga tahan lagi". Petidin yang golongan narkotik aja ga ngaruh sama sekali sebagai pain killer. Tapi, ketika pembukaan lengkap, Aafiya lahir dengan sangat mudah alhamdulillaah... Cuma 2x mengejan. Itupun yang pertama kali mengejan karena aku salah mengejan. Hehe... Aafiya lahirnya juga kecil, 2.115 kg sahajaa... Dan sempat menginap di NICU semalaman untuk diobservasi.

Berbeda dengan Aafiya, pas lahiran Aasiya aku datang ke ER (emergency room) juga karena "penasaran" apakah kontraksi yang aku rasakan adalah labor pain bukan kontraksi palsu. Datang-datang masi bisa senyam-senyum. Nyerinya baru sedikit. Ehhh ternyata sudah pembukaan 3. Ketika ditransfer ke LDR (labor and delivery room), dipecahkan ketubannya oleh dokter (salah satu cara "mengakselerasi" persalinan adalah dengan metode memecahkan ketuban), baru deh nyerinya mulai menguat hingga sakiiiitt banget banget di mana aku meremas tangan suami sampai berubah jadi warna ungu 😆. Tapi sakit kontraksi pas lahiran Aasiya ga sesakit pas Aafiya deh. Alhamdulillaah. Cumaa, pas mengejannya lumayaan sih... agak sedikit lebih lama dari pada Aafiya. Sekitar 5x mengejan. Beratnya juga lebih berat; 3.150 kg di usia kehamilan persis 37 minggu (versi HPHT).

Pas baby Maryam ini, lebih banyaaak ceritanya. Dan totally berbeda dengan kisah kelahiran uni-uni nya. Baby Maryam paling sering ngajakin bundanya ke ER dan berakhir dengan PHP ekekekeke... Pas hamil anak ketiga ini, rekor ke ER sebanyak 5x! Ma shaa Allah...

Ke ER pertama kali pas minggu ke 26, kala itu aku merasakan nyeri yang nonstop seharian. Tepat di hari ke-23 Ramadhan. Setelah diobservasi alhamdulillah semuanya baik. Ke ER kedua adalah di minggu ke-35 di Idul Adha 1439 H (sudah aku ceritakan di postingan sebelumnya). Waktu itu aku merasakan nyeri kontraksi juga. Tapii, masi kontraksi palsu kayaknya. Nginep di RS karena ada indikasi detak jantung bayi yang tinggi. Sejak minggu ke-35 ini aku sudah merasakan nyeri kontraksi palsu ini.

Di minggu ke 36-37, nyeri kontraksi makin sering. Masih kontraksi palsu sebenarnya. Tapi, kontraksi palsu rasa asli hehe. Katanyaa, konpal dapat menghilang dengan beraktifitas atau beristirahat. Tapi aku merasakan nyeri yang ilang timbul sampai ke area punggung bawah. Juga nyeri di perut bawah dan area tulang paha. Mengingat anak2 sebelumnya lahir di usia kehamilan yang lebih cepat (35 & 37 week), maka aku pikir ini juga waktunya lahiran. Eehhh, pas sampai di RS setelah masuk ke ER malah nyerinya ilaaang. Kata dokter, aku sudah pembukaan 1. Aku tanya, seberapa lama lagi sampai pembukaan full? Kata dokternya, bisa 1-2 hari. Jadi, aku diperbolehkan untuk melakukan aktifitas seperti biasa.

Jika pas hamil Aafiya aku banyak jalan lalu anaknya lahir cepat, maka pas di Aasiya aku ga melakukan aktifitas banyak berjalan lagi untuk menghindari lahir cepat hehe. Aku pikir yg sekarang juga sama. Makanya santai aja ga memperbanyak aktifitas jalan kaki. Eehh ga taunya pembukaan 1 nya lamaa banget. Ada sekitar 9 hari. Di sinilah akhirnya kami baru start untuk memperbanyak jalan kaki. Sehari sekitar 3 km di jogging area taman Raudah. Selain itu, aku juga menggunakan birthing ball untuk bounching di atasnya.

Sempat merasa sedikit "frustate" dengan pembukaan 1 yang ga nambah-nambah. Kontraksinya hilang timbul. Tapi nyeri perut bawah berasa terus. Kayak ada sesuatu yang menyesakki tulang pelvis. Hehe... Kontraksi palsu rasa asli masi terus berasa. Tapi, kadang menghilang juga sih...

Naah, di minggu ke-38, aku merasakan kontraksi lagi yang lebih dari sebelum-sebelumnya. Datang lagi ke ER. Sampai perawat ER bilang, "hah? Kamu lagiiii???" Kekekeke. Kebetulan ketemu perawat yang sama yg lagi jaga di ER. Tapiiii, seperti sebelumnyaa ketika di ER, taraaa... kontraksinya ilang! Cuma ada 1 kontraksi yang asli, sisanya masi belum. Tapi polanya sudah mulai kelihatan. Kata dokternya, pembukaan sudah bertambah jadi 2. Dokternya bilang, bisa jadi cepet niih karena pola kontraksi sudah mulai kelihatan.

Di sini ga bisa sering2 ngecek bukaan tentunya. Ga bisa capcus pergi ke bidan terdekat hanya buat ngecek pembukaan. Datengnya yaa langsung ke ER rumah sakit. Daaan, kalau semisal belum ada kemajuan rasanya down lagi deeeh... 😆.

Ternyata pembukaan 2 juga berlangsung lamaaa. Yang awalnya aku pikir 1-2 hari bakal lahiran ternyata molor jadi 4 hari! Hari minggu-rabu. Nah kemarin (hari Rabu) aku merasakan pas pagi-pagi dini hari kontraksinya mulai agak teratur tiap 10 menit. Tapii, pas abis subuh sampai siang ilang timbul lagiii. Aku berpikir, "ahh ini paling kontraksi palsu lagi." Capek juga kaan bolak balik ke ER terus dan kalo harus pulang lagi, masi kontraksi palsu, itu bikin sedikit down heuheu... Sorenya sudah tiap 5 menit sekali. Tapi nyerinya yaa gitu-gitu ajaa. Ga yang nyelekit banget gituuh.. hehe. Aku WA suami, kata Abu Aafiya, yuks siap2 pulang ngantor langsung berangkat ke RS. Aku masi sempet nyuci piring, beberes kamar Anak-anak, mencuci baju, memandikan anak-anak. Begitu suami pulang, kontraksinya ilang lagiiii. Ya salaaam. Aku masi berpikir ini kontraksi palsu lagi kalii.. Jadii, ga ada pola yang teratur gitu lho.

Naah aku masi sempat tuh, ngerjain desain selebaran acara semarak muharam. Hihi... Tapi, pas ngedesain ini, kembali aku rasakan kontraksi yang lebih sakit dari sebelumnya. Pas enggak kontraksi masi bisa senyam senyum sih. Pas kontraksi udah meringis, hihi. Karena polanya yang masi belum beraturan, kadang rentang 5 menit, kadang 10 menit, kadang 7 menit trus 15 menit. Ga jelas banget kaaan... Makanya masi maju mundur untuk berangkat ke RS. Masi ngulur waktu dulu untuk memastikan kontraksinya bener-bener asli atau masi palsu rasa asli lagi. Hehehehe...

Karena sakitnya yang sudah lumayan berasa, meskipun kontraksinya masi ga reguler intervalnya, akhirnya kami berangkatlah ke RS. Selama di perjalanan ke RS, nyerinya mulai bertambah. Kata suami, "ini udah beda nih nyerinya." Dari remasan tangan, suami mendeteksi 'tingkat nyeri' yang aku rasakan. Di RS, nyari toilet dulu. Jalan dari toilet ke ER lumayan juga, aku sempat merasakan 3x nyeri. Pas di ER, mungkin mukaku udah kayak orang yang nyeri banget kali yaaa. Hihi... Masuk ER obgyene no 1, dicek sama dokternya sudah bukaan 3 menuju 4. "Hah? Baru Bukaan 3 nyerinya udah segini? Gimana entar bukaan 9?" Aku mencelos. Seingatku dulu pas lahiran Aasiya, bukaan 3 itu aku masi bisa ketawa ketiwi deeh.

Dokter ER memutuskan aku ke ruang bersalin malam ini juga (jam menunjukkan hampir jam 12 malam). Uniknya lagii, pas di ER malah kontraksinya yang tadi lumayan sering, jadi ilang lagi, cuma ada 1 kontraksi yang tinggi (diamati dari CTG). Aku mbatin, "hah? Koq setiap ke ER kontraksinya ga ada siih?" Tapi karena dokter sudah memutuskan untuk menginap di RS, jadi aku sedikit lebih tenang. Ga harus bolak-balik lagi.

Pas ke LDR (aku dapat ruangan di LDR 5, ruangan yang persis sama ketika lahiran Aafiya dulu. Kalau pas lahiran Aasiya ruangannya LDR 12), aku masi bisa senyam senyum dan belum ada lagi kontraksi sejak di ER. Tapi pas di cek sama dokternya, sudah bukaan 4.

"She's progress fast" komen dokternya. Aku senang banget ma shaa Allah kalo memang progressnya cepat. Pas dicek di LDR sudah bukaan 4. Tak lama kemudian bukaan 5. Dan... ma shaa Allah... aku benar-benar ga nyangka kalo dalam waktu 1.5 jam bukaannya sudah lengkap!! Aku sampai melongo pas dokternya bilang "completed"! Bisa dibilang ini kontraksi "paling menyenangkan" dari ketiga kehamilan yang aku rasakan. Aku ga menyangka secepat itu, alhamdulillaah. Mungkin karena nyerinya dah dicicil dr sebulan yang lalu yaa hehehe...

Perjuangan yang sesungguhnya pas lahiran Maryam adalah pas mengejan. Nge-push nya lamaaa bangeeett ga keluar-keluar anaknya. Ya Rohman. Lebih dari 10x mengejan kayaknya. Daan, menghabiskan tenaga banget.. ma shaa Allah. Setelah perjuangan panjang mengejan, lahirlah baby Maryam di jam 2.09 di usia kehamilan persis 39 week (versi HPHT), alhamdulillaah tsumma Alhamdulillaah...

Teknik "take a deep breath" benar-benar sangat membantu untuk mengurangi nyeri kontraksi. Alhamdulillaah. Aku juga lahiran bukan dengan konsultan yang biasa aku cek up karena dokternya ga bisa datang kalo tengah malam. Digantikan oleh konsultan lain yang in shaa Allah sama oke nya. Dokter asli Saudi. Dulu sempat nyeletuk sama suami pengen lahiran sama dokter Saudi (konsultan yang sebelumnya kebangsaan pakistani), alhamdulillah Allah kabulkan. Aku suka sama dokternya meskipun baru ketemu di ruang bersalin. Dokternya easy banget dan asyik, ma shaa Allah.

Akhir kata, tiada kata yang pantas aku ucapkan selain segenap kesyukuran kehadirat-Nya. Alhamdulillaah... Alhamdulillaah.... Alhamdulillaah bini'mah.

=====
Jazakallahu khair katsir ya Zaujiy, yang selalu siaga dan ada untukku ketika melewati perjuangan ini... Uhibbuka fillah ❤

Read More

Software Photoshop GRATIS dan LEGAL!

Ini bermula dari request bikin design standing banner yang mana pasti membutuhkan software desain. Kalo sebatas leaflet, pamflet dan derivatnya sih masi bisa diakomodir oleh freeware atau aplikasi yang ga berbayar kan yaa. Tapi untuk big size semacam spanduk, baliho, banner, ga ada pilihan lain selain menggunakan sofware desain yang mostly berbayar.

Sejak berusaha meninggalkan program/software bajakan, aku memang dengan berat hati harus "berpisah" dengan si photoshop. Selama ini, aku memang sudah "ketergantungan" sama software yang satu ini untuk keperluan desain. Kalo sofware lain kayak adobe flash, ulead video studio, de el el itu masi bisalah aku meninggalkannya dengan ga begitu berat (ulead masi butuh sih cuma udah jarang ngedit video sekarang, apalagi bikin flash. Udah emak-emak beranak begini emang agak rada susah buat stay tune di depan laptop seharian. Pasti deeeeh dijamin ada dua wonderful girl yang bakalan ngerecokin, hihihi. Lagian jelas mereka lebih prioritas daripada flash atau video editing kan yaa... Tapii, untuk keperluan desain flyer, leaflet, dll itu masi sangat butuh secara emak Aafiya Aasiya ini kalo jadi panitia pasti ga jauh-jauh dari bidang humas dan publikasi... Hehehe... Jadi, withdrawal dari photoshop mirip-mirip withdrawal dari psikotropika lah. Wkwkwkwkwkwkwk.... Alhamdulillaah... Alhamdulillaah... meski berat, akhirnya memang si photoshop sudah tak tersentuh lagi. Alasannya?! Yang tertarik boleh ceki-ceki alasan kenapa aku menahan diri untuk tidak memakai software bajakan lagi sama sekali. Lupa kapan aku ceritakan di blog ini. Search aja kalo tertarik ngebacanya. Hihi...

Mulaiah aku bergeriliya mencari software yang kira-kira bisa menggantikan si photoshop (selanjutnya disingkat PSD aja lah yaaa biar ga panjang ngetiknya kekeke), yang free dan legal. Udah mencoba GIMP versi linux tapiii kayaknya memang susah move on dari si PSD ini... Hehe... Akhirnya ketemu sama si Canva. So far, aplikasi canva sangat membantu lah meskipun teteeep aja si PSD lebih baik menurut aku. Canva lebih instan tentunya. Dirancang untuk easy to use bagi pengguna. Tapi, aku memang ga bgitu suka yang instan begini karena ga begitu leluasa dalam urusan edit mengedit. Dari sekian banyak aplikasi, canva paling the best menurutku. Jika tujuanku adalah bikin desain untuk keperluan publikasi, canva more than enough untuk memenuhinya. Tapi, tetap tak bisa digantikan oleh PSD.

Dulu ada request bikin spanduk dengan ukuran 3x5 meter. Aku bingung mau pakai aplikasi apa. Ga ada aplikasi yang gratisan untuk bikin desain ukuran besar begini, even canva sekalipun. Mau ga mau harus pakai software desain kaaan yang berbayar. Akhirnya aku pakai versi trialnya aja. Tapi trial kan cuma 30 hari. Hiks... hiks....

Aku sebenarnya pengen bayar lisensi itu PSD. Tapiii, sayang aja rasanya kalo ga dipakek tiap hari. Hanya untuk even tertentu saja. Lagian, laptopku masi terbilang jadul untuk menampung photoshop CC (yang keluaran terbarunya) yang memakan space sampai 2 GB lebih. Apalagi fokusku bukanlah ngedesain, jadi lisensi software ataupun beli laptop dengan kapasitas besar bukanlah prioritasku saat ini tentunya. Beda kalo case nya aku memang bekerja untuk ngedesain yang memang dipakek tiap hari.

Singkat cerita, tentu saja 30 hari trial dulu itu sudah expire. Hehehe... Aku hampir aja give up dan pengen bilang ke panitia lainnya kalo aku ga bisa menyanggupi bikin desain standing banner karena ga punya software nya. Tapi, tetiba iseng search tentang PSD yang free dan legal. Kaliii si adobe mau berbagi yang versi jadulnya secara gratis. Daaaaan ma shaa Allah... ternyata adobe memang ngasi gratisan yang CS2 dengan alasan technical issue. Woooowwww ma shaaa Allah... aku langsung download laah tuuhhh si Cs2 ini dengan mata berbinar-binar. Hihihi...
PSD CS2

Sempat degdegan juga kalo si PSD CS2 ini ga bisa di-running di laptop window 10. Ternyata alhamdulillaah bisaaaa! Ma shaa Allah... rasanya excited banget. Pernah ngerasain ketemu sohib lama yang udah bertahun-tahun ga ketemu? Gimana rasanya? Senang banget kaan? That's what I feel ketika ketemu photoshop lagi... hihihi...

Buka CS2 ini serasa kembali ke jaman baheulak ketika aku baru-baru kenal photoshop dulu. Hihihihi... Meskipun sangat sangat jadul, yang penting aku bisa bikin desain dengan ukuran yang besar seperti spanduk dll. Jadiii, buat akuu, si PSD CS2 ini more more more than enough laaah. Meskipun dibandingkan dengan versi PSD CC yang terbaru memang udah ketinggalan banget tapiii yang penting kan fungsinya. Sama kayak beli furniture, yang jadul pun okee karena kita butuh fungsinya kan yaaa. Hehehehe....

Bagi kamu yang tertarik untuk menginstall PHOTOSHOP CS2 secara GRATIS dan LEGAL, boleh berkunjung ke link ini dan tinggal ikuti aja step-stepnya.

Semoga sukses yaaa nginstallnya hehehehe...
Read More