Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts

Si Tukang Bikin Pamflet

Bagi yang biasa mengerjakan "proyek" desain, pasti mengerti bahwasanya mengganti, menambahkan atau mengurangi 1 kata itu bisa melibatkan banyak proses. Tidak seperti mengetik di MS word yang typo kemudian tinggal ditambahkan atau dihapus begitu saja. Hanya tukang desain yang mengerti ini kayaknya... πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Meski pun tukang desainnya masih amatiran kayak aku yang levelnya masih beginner begini. Udah 12 tahun ++ ngerjain desain leaflet, tampaknya belum naik juga ke level intermediete inih. Hehehe. Masih begitu-begitu ajah. Gapapa.. semoga jadi semakin bersemangat menuntut ilmu dan belajar. Meski pun memang tukang desain ini pekerja belakang layar bukan ustadz/ustadzah yang memberi ilmu secara langsung, aku berharap mudah-mudahan kecipratan pahala juga karena desainnya menjadi wasilah untuk menyebarkan kebaikan selama yang jadi tukang desainnya ikhlas. Ikhlas kuncinya. Gampang diucapkan, tapi berat dilaksanakan. Semoga Allah jadikan kita bagian dari hamba-Nya yang ikhlas. Aamiin.

Ceritanya, ada rekues desain untuk suatu acara. Sebut saja acara X. Sejujurnya, aku memang agak mood dependent kalo mengerjakan suatu desain. Tetap bisa dikerjakan akan tetapi hasilnya ketika mood baik akan lebih optimal dan maximal dibanding ketika sedang tidak mood. Dan pagi itu aku sebenarnya tidak begitu mood untuk mengerjakan desain. Apalagi ada pekerjaan yang mendesak. Pertama, memasak untuk makan siang, kedua ada urusan yang harus diselesaikan di sekolah kakak Aafiya, dan beberapa urusan lain. Belum lagi kakak yang udah gak sabaran ingin segera berangkat. Ini tentu kondisi yang tidak mudah untuk membuat desain di waktu sesempit ini. Tapi karena diminta, aku tetap mengusahakan untuk mengerjakannya. Sekitar 1.5 jam pamfletnya selesai didesain. Pas laptop sudah dimatikan, diminta revisi lagi. Sudah aku kerjakan. Matikan laptop lagi. Daaaan.. ada revisi lagi. Nyalain laptop lagi, kerjain lagi. Akhirnya urusanku tertunda. Ke sekolah kakak yang harusnya lagi, jadi mundur jam 11. Masak buat makan siang, baru bisa setelah dzuhur yang artinya sekeluarga jadi agak telat makan siangnya.

Tapi ..., setelah dipublish, yang dipakek malah pamflet yang dibikin oleh orang lain. Yang ngerjainnya pakai App HP aja. Alasannya karena pamflet yang kubikin ga bisa diedit sama mereka yang rikues. Padahal tinggal ngomong aja, bisa kuedit lagi. Tapi tidak ada ngomong apa-apa dari mereka, dengan sepihak ngerjain sendiri dan dibatalkan begitu saja tanpa pemberitahuan kepadaku. 😁😁

Ada terbersit rasa kesal di hati. Bukan karena pamfletku tidak jadi dipakai tapi ... karena seolah tidak memikirkan waktu yang kuhabiskan untuk membuatnya. Kayak bikin pamflet itu "sim salabim" langsung jadi. Padahal kan harus mikirin idenya, ngejainnya, dan banyak hal yang tertunda karena mengerjakan pamflet tersebut. Jika aku membuatnya dengan kondisi santai, ga menunda banyak hal untuk itu, aku mungkin tak akan terbersit rasa kesal. Kuanggap aja ini me time. Tapi, aku sudah mengorbankan banyak hal untuk membuatnya. Heuheu... Jika memang tidak akan dipakai dan memang ada tim yang akan bikin (karena aku bukan panitia) kenapa harus rikues dan sampai harus revisi beberapa kali. Sejak awal ga usah rekues aja kalo gitu.

Tapi kemudian aku menyadari bahwasannya ini adalah ujian keikhlasan. Ternyata untuk ujian yang masih sederhana ini, sulit untuk ikhlas, bagaimana dengan ujian yang lebih besar?!?!
Aku berusaha untuk berpikir positif (meskipun kadang nafsu membisikkan hal jelek untuk marah) ... Aku mengusahakan untuk menanamkan pada hati bahwasannya tidak ada kebaikan yang sia-sia. Walaupun tidak jadi dipakai, waktu yang telah dihabiskan untuk membuatnya semoga tetap dinilai Allah sebagai kebaikan. Tidak ada yang hilang in shaa Allah. Syaratnya, selama ikhlas. Nah pertanyaannya, apa aku sudah ikhlas?! 

Memang, ikhlas itu sesuatu yang tidak mudah. Seperti mencari setitik biji sawi di goa yang gelap di malam hari. Berat banget. Aku sendiri masih tertatih dan terseok-seok untuk bisa mengikhlaskan niat, mengikhlaskan amal dan segalanya hanya semata karena-Nya. Masih jauuuuuh banget. Dan syaithan selalu membisikkan dan berupaya mengajak pada ketidak-ikhlasan. Dan tugas kita pula untuk melawan itu semua. Aku berdo'a semoga aku, kamu dan kita semua dijadikan-Nya hamba yang ikhlas. Aamiin.
Read More

Ketika Memutuskan untuk Menyekolahkan Anak (2)

Calon sekolah si Kakak ketika itu... yang kini jadi sekolahnya
Lanjutan dari cerita kemarin. Hehe.

Ketika memutuskan untuk sekolah, akhirnya kami berusaha untuk collect informasi sebanyak-banyaknya terkait calon sekolah Aafiya. Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan tentunya dalam memilih sekolah. Pertama, kurikulumnya. Kedua, Jarak tempuh dari rumah. Ketiga, biaya.

Soal kurikulum tentu jadi pertimbangan, meskipun memang sulit untuk mencari kurikulum seperti sekolah di Indonesia semisal TK IT begitu. Setiap negara, tentu memiliki ciri khas pendidikan masing-masing. Tapi, untuk anak TK sepertinya tidak begitu 'mandatory' ya. Namanya juga masih TK. Masih main-main. Hehehe... Tapiii.. (ada tapinya, nanti aku ceritakan yaa lebih detil in shaa Allah di next postingan).

Kedua, pertimbangan yang paling utama sebenarnya buat kami; jarak tempuh dari rumah. Ini berkaitan dengan antar jemput anak ke sekolah. Di sini, ga semudah di Indonesia untuk bepergian kan ya. Meskipun sekarang ada fasilitas uber dan careem (semacam g*jek/gr*b kalo di Indonesia), tapii buat aku emak beranak 3 ini cukup sulit. Kalau terpaksa mungkin bisa. Karena harus angkut 3 anak, 1 masih bayi. Rempoong cyyyn. Hehehe... Jadi, jarak tempuh yang masih dalam taraf bisa diantar jemput suami adalah opsi yang paling utama.

Ketiga, biaya. Tentu saja, menyekolahkan anak butuh biaya. Perlu dong kita kalkulasi, kira-kira biaya sekolahnya masuk budget atau tidak. Meskipun, tiada yang sia-sia dalam menuntut ilmu. Segala biaya yang dikeluarkan dalam menuntut ilmu dan kemudian anak yang menuntut ilmu itu menjadi anak yang ilmunya bermanfaat bagi banyak orang, bukankah itu adalah amal jariyah? Meski sekarang masih TK. Tapi itu bukankah salah satu jenjang menuju pendidikan yang lebih tinggi nantinya? Makanya di sini, banyak banget orang yang berlomba-lomba jadi muhsinin untuk oara mahasiswa, mulai dari menyediakan rumah, memberi makanan (sembako) dan banyak lagi. Ma shaa Allah.
Meski demikian, kita ga bisa naif juga kaan. Ga mungkin kita memilih sekolah yang super-super over budget. Itu naif namanya. Hehehe...


Ada beberapa opsi sekolah.
1. Sekolah Indonesia di sini (SIR)
Sebenarnya, untuk target kami menyekolahkannya biar kecebur ke lingkungan baru, sekolah Indonesia adalah pilihan yang tepat. Sekolahnya menggunakan kurikulum Indonesia. Bahasanya adalah bahasa Indonesia. Tidak ada kecanggungan bahasa. Pun, jika kita kembali ke Indonesia suatu saat, tidak ribet pindah dengan berbeda kurikulum gitu kan. Bisa masuk sekolah negeri. Kayak pindah sekolah aja sama seperti di Indonesia pindah sekolah dari suatu dareah ke daerah lain. Di segi biaya pun, SIR sendiri biayanya bisa dibilang tidak terlalu mahal jika berdomisili di dekat lokasi sekolah (daerah Ummul Hamam dan sekitarnya). Masalahnya, SIR berlokasi jauh dari tempat tinggal kami. Jarak 30 km-an. Bolak-balik 60 km. Waktu anak selesai sekolah dengan jam istirahat ayahnya juga tidak matching sehingga tidak mungkin ayahnya anak-anak menjemput. Dan kami belum bisa mempercayakan Aafiya kepada orang asing untuk diantar jemput. Maka opsi sekolah di SIR terpaksa tidak kami ambil.

2. DAR (Sekolah Arab).
Sekolah Arab untuk level tamhidi (setingkat TK) di sini sebenarnya gratis. Buku juga disediakan. Sekolahnya sore.Tapi, terkendala dengan persyaratan bahwa ibunya harus sekolah juga di sana untuk kelas bahasa Arab atau tahfidz Al Qur'an. Dan tetap menyaratkan antar jemput juga walaupun berjarak 5 km-an maximal dari rumah karena setiap Hayy (district) itu menyediakan DAR. Aku tidak bisa meninggalkan Bayi dan Si Uni Aasiya untuk ikut sekolah bersama Kakak Aafiya tentunya. Bahasa pengantar adalah bahasa Arab. Masalah bahasa sebenarnya tidak begitu masalah untuk Anak, karena Anak biasanya menyerap lebih cepat dan bisa memahami bahasa tanpa mesti "ditranslate" dulu di otaknya. Gak kayak kita orang dewasa yang ketika berbahasa asing, otak kita mesti mentranslate dulu ke bahasa kita, diproses, lalu direspon dan ditranslate lagi ke bahasa asingπŸ˜†πŸ˜‚. Kalau anak, memahami bahasa sama seperti mereka memahami bahasa ibu (bahasa utamanya). Tapi, karena waktunya tidak match dan juga tidak ada yang bisa jagain Maryam dan Aasiya, tentu opsi ini tidak bisa dipilih. Sebenarnya, opsi ini benar-benar opsi terakhir dan tidak kami masukkan ke list sih. Hehehe...

Ada juga DAR yang pagi dan menyediakan hadonah (nursery) untuk anak dan bayi. Ini juga ibunya harus sekolah juga di sini. Dan menyediakan kelas tamhidi untuk anak. Opsi ini sempat kami sebut pada awalnya. Tapi, aku sulit meninggalkan Maryam dan Aasiya di Hadhonah. Lokasinya juga sangat jauh dari rumah. Lagi-lagi terkendala jarak kan. Tapi, karena jam berangkat dan jam pulangnya matching dengan waktu istirahat Suami, sebenarnya masalah transport masih bisa disiasati. Kendala utama karena aku tidak bisa meninggalkan Maryam terutama. Si Bayi ini sangat sulit diasuh/dipegang orang lain. Aku tak ingin meninggalkan 'trauma' dan luka di hatinya karena ditinggal ibunya sekolah. Lain cerita kalau sekiranya usia Maryam sekarang sudah 3 tahun dan sudah bisa dikenalkan dengan tempat baru. Mungkin opsi ini akan aku pilih.

3. Sekolah Internasional
Sekolah internasional masuknya sama dengan sekolah pagi pada umumnya. Jam pulangnya juga sama dengan jam istirahat siang suami sehingga bisa antar jemput. Soal jarak juga tidak masalah karena hanya 5-10 menitan dari rumah. Soal biaya juga sebenarnya akan sama dengan SIR jika kami menggunakan jasa transport. Karena kalau memilih opsi SIR, 80% total biaya adalah untuk transportasi. Jadi, tentang biaya sebenarnya bisa dikatakan masuk budget. Kekurangannya, adalah kurikulumnya bukan kurikulum Indonesia. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum amerika. Tapii, alhamdulillaah tetap ada kurikulum agamanya. Meskipun sekolah internasional, ada kurikulum agama yang belajar tentang iman, menulis huruf hijaiyah, dan juga menghafal Al Qur'an. Jadi, kayak mix antara kurikulum amerika dan kurikulum arab gituh. Bahasa pengantar adalah bahasa inggris. Kekurangannya, jika nanti sekiranya pulang ke Indonesia, sulit menyesuaikan kurikulum karena ketika pulang ke Indonesia, kemungkinan besar kami tidak akan menyekolahkan anak di sekolah Internasional. Opsi yang kami pilih kemungkinan besar adalah sekolah semacam SDIT, SMPIT dan SMAIT. Tapii, masih bisa disiasati. Di SIR sendiri setiap weekend ada paket khusus untuk yang anak-anak non-SIR. Jadi untuk memperoleh NIS (nokor induk siswa) ada semacam paket khusus gitu. Anak sekolah hanya di hari libur (weekend) di SIR.

Bagaimana jika anak belum lulus SD tapi udah pulang ke Indonesia misalnya. Ada opsi untuk mengikuti jejak teman-teman yang homeschooling di sini tapi memakai kurikulum di Indonesia. Mereka nanti ikut ujian, bayar semacam lisensi gitu (aku belum tanya detil gimananya) dan bisa mendapatkan NIS.


Dari sekian opsi di atas, opsi yang paling memungkinkan yang kami pilih adalah... menyekolahkan Aafiya di sekolah internasional. Dan finally, setelah sekolah berjalan 5 minggu, Aafiya kami daftarkan di sebuah sekolah internasional yang cukup dekat dengan rumah kami.


Bersambung ke postingan berikutnya... in shaa Allah.
Read More

Ketika Memutuskan untuk Menyekolahkan Anak (1)

Setelah lamaa tak corat-coret blog, akhirnya pada blog jua aku kembali. Hehe. Oleh sebab blog adalah 'selokan' buat mengalirkan apa yang terlintas tanpa harus 'bersinggungan' dengan orang lain. Xixixi. Berbeda dengan media sosial di mana status kita bisa saja nyantol di beranda orang lain, maka blog hanyalah bagi yang benar-benar serius ingin berkunjung. Paling tidak, mesti transit di search engine dulu untuk sampai ke sini kan. Kekeke... Makanya buat aku ..., blog adalah tempat ternyaman untuk berbagi. Bukan media sosial. Hehe. Smoga blog ini ga sepi lagi yaaa. Heuheu... Doakan istiqomaaah.

Kali ini aku ingin menceritakan kenapa akhirnya memutuskan untuk menyekolahkan Aafiya tahun ini. Aaaak... ma shaa Allah... tak sangka waktu berlalu begitu cepat. Our first born udah sekolah ajaaaa. Time flies fast. Super fast. Aaakk.. my little baby now using a uniform, bring big bag and luch box. Rasanya... aahh nano-nano. Terharuu 😭... Excited ... Senang ... Sedih juga karena berpisah benerapa jam ... dan juga terselip sedikit khawatir. Namanya juga melepas anak pertama kali ke sekolah yaaa.

Aafiya in shaa Allah 6 hari lagi genap 5 tahun. Kata orang-orang, anak yang lahir september-desember itu umurnya nanggung-nanggung kalo mau disekolahkan. Heuu... Mau dibulatkan ke atas (dianggap 5 maksudnya) masi agak kekecilan. Kalau digabung ke usia di bawahnya, ehh anaknya rada ketuaan juga dibanding temannya yang sekolah nantinya yang rerata lahirnya di tahun berikutnya. Bingung kan? Heuu...

Nah, pada awalnya plan kami menyekolahkan Aafiya itu tahun depan (usia 5 tahun 11 bulan--karena tahun ajaran baru di sini dimulai september dan Aafiya lahir oktober) langsung ke TK B. Karena kami termasuk penganut 'aliran' yang tidak menyekolahkan anak terlalu dini (misal dari usia 2-3 tahun). Selain itu, biaya sekolah di sini bisa dibilang mahaaaal kalau memilih sekolah swasta. Ehehehehe. Tapiii... (ada tapinya) akhirnya jadinya kami masukkan ke sekolah tahun ini, plan nya TK A dulu.

Ada panjaaaaang pertimbangan dan mikir-mikirnya sampai kami akhirnya memutuskan dan bermuara di satu kata: sekolah.

Aafiya sebenarnya kalau ditimbang secara akademis, udah cukup siap untuk sekolah, in shaa Allah. Melihat ketertarikannya mengenal huruf dan angka. Aku sendiri sebagai ibu, tidak mengajarkan secara serius calistung (apalagi sampai les² segala) buat Aafiya di usianya di bawah 5 tahun ini. Tapi, karena anaknya terlihat interest akhirnya dia belajar sendiri mengenali angka dan huruf ini. Cukup surprise ma shaa Allah ketika Aafiya menulis semua huruf tanpa contekan di papan tulis suatu hari. Sebagai emak yang rempong dengan 3 balita dan nyaris ga sempat ngajarin Aafiya, aku surprise ketika dia bisa, ma shaa Allah... 🤩🤩 Tapii.. tentu ini bukan alasan mengapa aku menyegerakan sekolahnya.

Jadi, Aafiya ini anaknya memang agak pemalu. Sulit untuk berjumpa dengan lingkungan baru dan orang asing. Tidak mau ngomong dan terlihat sedikit cemas. Oleh sebab kultur di sini memang jarang main ke luar kayaknya yaa. Tapii, pemalunya Aafiya agak banyak dosisnya. Dalam kata lain, sebutlah 'insecure'. Heu... Nah, ketika dia berada di lingkungan yang bikin dia merasa 'secure' secara psikisnya, dia akan menjadi confidence dan sifat pemalu dan kecemasannya dengan lingkungan baru itu jadi hilang.

Ada banyak opsi yang kami list pada awalnya. Apakah dengan mengenalkannya ke grup kecil dulu. Alhamdulillah di masjid dekat rumah ada grup tahfidz anak-anak yang bisa didampingi oleh orang tua karena disediakan juga grup tahfidz buat orang tua. Sempat berpikir membawa Aafiya ke sana dulu. Atau, mengajaknya dan encourage dia untuk berani ngomong di baqala atau tukang es cream misalnya. Membawanya selalu ke lingkungan yang banyak orang semisal pengajian ibu-ibu di sini. Tapii, semuanya tetap saja masih ada emaknya di sana. Lalu kapan Aafiya berani? Padahal, pas di lingkungan yang dia merasa secure karena ada teman yang nyambung, dia berhasil ngomong banyak dan bercerita dengan PD. Tidak ngelendot aja di bawah ketiak emaknya. Hehehe...

Ketika ditanya ke teman yang kebetulan psikolog, dia juga menyarankan untuk sekolah (bukan homeschooling lah intinya). Barang kali di sekolah dia menemukan teman yang membuat dia secure di lingkungan baru. Jadi, aafiya lebih PD lah yaa... tidak malu-malu dan cemas lagi dengan lingkungan baru yang banyak orang karena sudah terbiasa dengan sekolah yang rame.

Akhirnya kami memutuskan untuk menyekolahkannya. Keputusan yang diambil bahkan ketika sekolah untuk Saudi sudah berjalan 1 bulan lamanya. Sementara kalau menurut kalender pendidikan indonesia, sudah masanya PTS malah. Sudah berlalu setengah semester. Tapii, namanya anak TK... kayaknya juga ga papa ketinggalan. Apa sih yang dipejari anak TK? Ya kan?

Awalnya begituu... hehehehe...

In shaa Allah lanjut ke part berikutnya...

Read More

Laptop Jaman Now

Fix, maret missing postingan. Heuheu...
Maaf yaa blog. Sudah lama tak disambangi. Tak terurus jadinya. Ada banyak kesibukan di bulan maret ini. Maklum, lagi musim pemilu. Apa hubungannya yaa? Kekekeke...

Oke guys, berhubung ini bulan April 2019 itu artinya kita akan menghadapi pemilu. Jangan lupaa pilih PKS No.8, dan juga Prabowo-Sandi nomor 02. Semoga Allah anugrahkan pemimpin yang amanah untuk Indonesia yang lebih baik, in shaa Allah...

Buat kamu yang berdomisili di Luar Negeri, surat suara cuma 2 ajaa yaaa... pileg DPR-RI (dapil jakarta II, jakpus, jaksel dan Luar Negeri) dan pilpres. Jangan sampai ketinggalam yaa guys... Otreeee... 😉😉😉

Di Riyadh sendiri pemilu diadakan hari Jum'at 12 April 2019, berhubung Jum'at adalah hari libur di sini. Beberapa daerah lainnya yang jauh dari KBRI, pemilu diadakan lebih cepat lagi (dimulai tanggal 8 April ini). Tapii, penghitungan suaranya tetap sama di tanggal 17 April 2019. Ada sekitar 10.000 an warga Indonesia di Riyadh tapii yang ikut pemilu paling berkisar 2000-3000 an orang saja kalau tidak salah. Karena keterbatasan transportasi dan ijin majikan biasanya siih karena mayoritas di sini kan pekerja rumahan.

Pemilu 2014 lalu juga aku ikuti di Riyadh. Itu berarti sudah hamir 5 setengah tahun aku berada di kota yang awalnya bernama Nejd ini. Waaaa... tak terasaa waktu begitu cepat berlalu...

Nah, ini judulnya apaa isinya apaa cobaa?! Hihihi... Ga nyambung banget! Harap maklum yaaa, ini baru intro yang ga berkaitan dengan isi dan inti (yang mungkin panjangnya lebih panjang dari intinya... wkwkwkwkwk...). Anggap aja temu kangen karena sudah lama tak jumpa blog. Kekekeke... Soalnya ga sempat nuliss aku tuuuuu.... Jadi emak beranak 3 ternyata lebih banyak menyita waktu. Noh, di belakang (ehh enggak dink... klo di sini dapur bukan di belakang. Kapan2 deeh aku ceritain soal desain rumah orang sini), cucian segunuuung, piring seabrek... dudududududu....

Laptop.
Benda ini akrab bagi kalangan mahasiswa (dan bahkan siswa jaman now). Tapi buat emak-emak, kayaknya HP aja udah cukup kali yaaa. Pengecualian buat emak-emak kantoran dan juga emak-emak yang hobby nguprek2 sofwer disain, video editing, atau yang suka nge-vlog.

Dahulu kala. Ketika beli laptop, biasanya "paket" nya udah include dengan penginstallan berbagai macam program/software. Mulai dari sotware sejagad raya yaitu Microsoft Office buat berbagai keperluan (apalagi mahasiswa) hingga software lainnya semisal keluaran adobe untuk keperluan photo editing, video editing. Atau keluaran corel.

Aku yaaa ngertinya begituuu. Beli laptop, sekalian dapat bonus berbagai software. Daan sudah pasti itu adalah program yang bukan original. Karena kalo original, emang mauu gituh dibagi-bagi gratisan?! Oke, sebutlah itu bajakan. Dan adalah hal yang terasa lumrah dan biasa saja. Ngopy software ke teman juga terasa biasa ajaa... ga ada rasa bersalah sedikitpun. Makluum, mahasiswaaaa. Dimaklumi kaan... kan... kaaaaan...?! Sampai-sampai antivirus pun bajakan jugaaa... Ya Salaaam...
Meskipun ada yang versi "student", tetaaap sahajaaa jutek alias ga ramah alias ga bersahabat dengan kantong mahasiswa. Parahnya lagi, aku juga ga tau itu ada versi student nya. Baru ngeeh yaa pas udah di sini, di Riyadh.

Ya, aku ga ngerti dulunya kalau segala macam software-software itu WAJIB pakek yang berlisensi. Wkwkwkwk, ketahuan banget kalo nginstall software ga pakek baca Agreement nya dulu. Langsung tekan tombol "next" aja... hihihi...

Naaah, setelah puluhan purnama tak beli laptop, surpriseeeeee.... suamiku tercinta beliin laptop 😍😍😍. Ma shaa Allah tabarakallah. Mungkin karena kasian liat istrinya penuh perjuangan menghadapi ke-lemot-an si laptop jadul ketika bikin desain spanduk, bikin video maupun pamflet. Kekekeke... Meskipun aku sebenarnya sudah biasa "bersabar" dengan laptop yang lemot atau yang tetiba "not responding" karena kelebihan beban buat nampung sotware yang makan space gedeeee, tapiii dikasi laptop yang space nya gedee itu benar-benar ga nolaaak dan senang banget alhamdulillaah... Ma shaa Allah tabarakallaah. Sebutlah ini laptop kami berdua. Eciyeeeee... hihihi... Walaupun suami lebih banyak pakeknya laptop yang dari kantor aja yang tentu saja spek nya jauh lebih besaaar dan ga dijual di pasaran. Laptop yang didesain khusus untuk pekerjaan telekomunikasi tentunya. Jadi, otomatis laptop yang baru dibeliin tersebut aku yang lebih banyak pakek. Heuheuheu...

Enaak banget rasanya upgrade dari RAM yang awalnya 2 GB jadi 8 GB. Hehehe... Alhamdulillaah... (yang sebenarnya bukan ini inti tulisanku kali ini). Laptop jaman now yang aku maksud di sini adalah tentang penyadaran bahwa aku mesti memakai software yang berlisensi bukan yang bajakan lagi. Ya, memang sih... yang bajakan juga kaga bisa diinstall di sini... 😂😂😂. Jadi, mau ga mau mesti beli yang original.

Dulu, ogah bangeett ngeluarin duit 100rb buat beli antivirus. Kemarin, kita hunting antivirus alhamdulillaah dapat promoo... yeiiiy... sekitar 120rb an laah... Mana mikir dulunya mau beli antivirus. Wkwkwkwk...

Laptop jaman now masi terinstall software gretongan aja kebanyakan... tapiii lumayan laaah untuk keperluan desain masi tercukupi dengan versi CS2 yang jaduull ituuu. Iyaaappp, di saat orang-orang udah pakek versi CC, aku tuuu masi ajaa pakek yang versi CS2 yang emang dikasi gretongan sama adobe. Gapapalaaah... Demi software yang ori... kekekke...
Kalo mau subscribe ke adobe-nya... mayan mahaaaall.. kecuali aku produktif menggunakan sofware nya. Kalo cuma dipakek sesekali ajaaa... sayang kalo subscribe katakuu maah. Aku sebenarnya lebih sukaa yang "beli putus" alias beli sekali bisa dipakek sepanjang masaaa. Hehe...

Sekarang lagi ngincer corel video studio aku tuu... Lumayan harganya.. sekitar $89 untuk versi ultimate 2019. Nabung duluuu... wkwkwkwkwk... Abisnya aku udah terlanjur suka ama video studio dari jaman dia masi bernama Ulead Video Studio dulunyaa. Kalo yang adobe premiere... lagi-lagi deeh subscribe tahunan... Aaaakk.. ogah deeeh sekarang. Heuheuheu... Ntar aja kalo memang produktif dalam dunia per-edit-an foto maupun video. Sekarang fokusnya sama triple princess dulu deeeh yaaa... Ga punya banyak waktu untuk di depan laptop. Princesses biasanya protes kalo emaknya duduk manis di depan laptop. Jadii, aku mesti buka laptopnya nyuri-nyiri waktu banget.

Okeeeh.. sekiaan curcol (geje) dari aku. Lumayaaan buat mengisi kekosongan postingan 2019 ini. Maaf yaa spam ajaa. Eh iyaa, kenapa aku kekeuh ga mau pakek software bajakan lagi, dulu udah aku bahas juga di blog ini. Tapii sekali lagi aku ga judge lho yaaa gaes. Dikembalikan ke keyakinan masing-masing adjaah. Okee siip?! 😉😉😉

Read More

Tentang Pindah Rumah

Sukirno (nama samaran) dan Sutedjo (juga nama samaran) adalah dua orang yang bersahabat. Mereka pun dulunya bekerja di kantor yang sama. Keluarga mereka pun saling mengenal satu sama lainnya termasuk istri dan anak-anaknya. Suatu ketika Sukirno memutuskan untuk pindah ke kota lain disebabkan dia ingin berdikari, mengembangkan usaha sendiri dan tentu saja resign dari kantornya. Kota itu berjarak jauh yang hanya bisa ditempuh dengan penerbangan dan tentu saja Kirno tidak bisa mengangkut semua barangnya untuk pindahan ini. Akhirnya sebagian besar barangnya dijual. Pun begitu juga dengan kontrakan yang selama ini ditempatinya. Kebetulan, sahabatnya Sutedjo sedang mencari rumah kontrakan baru karena rumah kontrakan lamanya sudah jatuh tempo, harganya cukup mahal untuk spek dan Tedjo memutuskan untuk mencari rumah baru yang lebih cocok dengan anggaran rumah tangganya.

"Eh kamu mau ndak gantiin rumah kontrakan aku, Tedjo?" tawar Kirno. "Harganya murah. Memang sih agak jauh dari kantor."
Tedjo yang memang sedang mencari kontrakan baru berpikir sejenak, "Aku pikir-pikir dulu, Kirno. Aku juga akan mendiskusikannya dengan istriku."
Setelah berdiskusi, akhirnya Tedjo sekeluarga memutuskan untuk menggantikan kontrakan Kirno. Tapi sebelumnya mereka akan melakukan survey dulu ke rumah kontrakan Kirno.

Kirno menjamu Tedjo dengan baik. Bahkan istrinya yang memang hobi memasak, menyambut Tedjo sekeluarga dengan beraneka masakan yang menggugah selera. Aroma masakan istri Kirno memenuhi segenap rumah. Istri Kirno bercerita pada istri Tedjo bahwasannya pemilik rumahnya baik banget, air lancar, halaman bermain untuk anak-anak luas dan segenap kelebihan lainnya. Satu-satunya kekurangan yang istri Kirno sebutkan hanyalah bahwasannya area dapurnya bagian lantai sudah menghitam yang merupakan "warisan" dari pengontrak sebelumnya dan sulit dihilangkan. Ketika bersilaturrahim itu, memang Kirno belum genap setahun mengontrak di sana.

Akhirnya tibalah masanya Kirno terbang ke kota tujuannya meninggalkan  kota perjuangan dan perantauan yang selama ini ditempatinya. Kirno dan Tedjo pun sudah berbicara dengan pemilik rumah bahwasannya dia akan menggantikan Kirno mengontrak. Kunci rumah pun sudah di hand over.

Akhirnya Tedjo pun mulai beberes dan menyicil mengangkut barang-barangnya ke kontrakan Kirno. Terutama istri Tedjo, dialah yang mulai memeriksa satu persatu household yang ditinggalkan Kirno sekeluarga. Agak sedikit kaget bercampur heran ketika istri Tedjo menemukan banyak sekali kapur barus, pengharum ruangan, obat kecoa, obat semut, obat semprot insektisida dan juga germisida di kamar mandi. Dan juga ada perangkap tikus halaman (catatan: istri Tedjo adalah seorang phobia tikus!!). Wowww... barang-barang ini?! Awalnya istrinya Tedjo heran kenapa ada barang beginian di rumah peninggalan Kirno. Di rumah kontrakan sebelumnya, mereka tak pernah memikirkan barang-barang "antik" seperti ini.

Setelah dua minggu pindah ke ex-kontrakan Kirno, barulah keheranan istri Tedjo terjawab. Rumah kontrakan Kirno yang "kelihatan bagus" itu dan apalagi juga murah, ternyata tak seindah harapan. Emak-emak kan senang yang murah yaaa... Apalagi keliatannya bagus.. murah lagi. Siapa sih yang ga tergiur! Ga tau deh kalo ibu bangsa, apakah suka juga yang murmer. Itu kan tadi judulnya emak-emak. Wkwkwk..

Gak cuma istri Tedjo, istri Andoko, istri Wicaksono dan istri Padjo yang juga merupakan istri teman kerja Kirno dan Tedjo juga menyukai rumah itu dan men-support untuk pindah ke sana aja. Tapi, ternyata oh ternyata jauh lebih buruk dari perkiraan. Baru sebulan pindah ke bekas kontrakan Kirno, keluarga Tedjo terutama istrinya sudah ga betah sama sekali.

Ada banyak masalah di rumah itu ternyata. Pertama: saluran pembuangan kamar mandi sepertinya satu jalur dengan westafel di dapur. Jangan lupakan juga bahwa saluran airnya juga menyatu dengan penghuni di lantai 2 rumah itu. Dan baunya menguap dengan amat sangat bau. Setiap pagi, dan juga sewaktu-waktu ketika intensitas pemakaian kamar mandi cukup tinggi, bau busuk memenuhi dapur dan tak jarang merembet ke seisi rumah. Bayangkan kalau ada yang sedang menguras septik tank, baunya seperti apa. Nah kira-kira begitulah aroma yang  setiap pagi harus "dinikmati" Tedjo sekeluarga. Meskipun tak sepanjang waktu, tapi menciumi aroma bau tersebut setiap 2-3 kali sehari sangat membuat tak nyaman.

Aroma bau yang lain berasal dari arah lubang westafel dapur. Yang mana, bau westafel ini selalu ada setiap kali mendekat ke westafel dan membuat istri Tedjo sangat tak nyaman setiap kali mencuci piring. Terjawablah kenapa ketika "survey" bau ini tak tercium. Karena tertutup oleh aroma masakan istri Kirno yang mendominasi rumah. Dan ketika tak sedang memasak, aroma busuklah yang mendominasi. Padahal Tedjo sudah membantu istrinya melakukan deep cleaning pada westafel, menyingkirkan segala macam dan dibiarkan kosong begitu saja biar tidak ada yang mengganggu. Tapi agaknya bau itu memang sudah dari sononya. Hal ini semakin membuat istri Tedjo tak betah.

Belum sampai di situ, ternyata di salah satu sudut kitchen set ex-Kirno terdapat sarang kecoa. Hewan kecoklatan itu bergeriliya sekitaran dapur dan kamar mandi. Juga semut-semut yang membuat sekujur badan anak Tedjo bengkak, bibir dowel, kelopak mata bengkak. Bertambah-tambahlah daftar keburukan rumah ex-Kirno tersebut.

Udah cukup sampai di sana?!
Sayangnya belum sodara-sodara! Masih ada lagi masalah lainnya! Ternyata di kamar mandinya juga banyak berkeliaran cacing yang menjijikan. Hewan pipih hitam kemerahan itu meliuk-liuk di lantai kamar mandi yang bikin istri Tedjo mau muntah saking geli dan jijiknya. Kadang sehari berjumpa si hewan meliuk itu satu kali, kadang dua kali dan pernah juga sampai 5x sehari jumpa terus ama si cacing. Mulai yang panjangnya kira-kira 10 inchi hingga yang imut-imut (ehhh amit-amit dink!) seukuran 1 inchi yang masi kecil kecil. Germisida yang ditinggal Kirno di kamar mandi itu ternyata tak mempan membunuh cacing menjijikan itu. Dan jelas, cacing ini berbahaya bagi kesehatan.

Aarrgghhh... jelas saja Tedjo sekeluarga sangat ga betaaaaaahhh. Biar kata murah, tapi kenyamanan tetap lebih utama. Sangat mengherankan kenapa Kirno sekeluarga bisa-bisanya betah di rumah itu dan menawarkan pula kepada Tedjo. Kalo Tedjo jadi Kirno, mungkin dia akan segera angkat kaki dari rumah itu dan takkan pernah menawarkan rumah itu kepada temannya. Apalagi ke teman dekat.

Tedjo sungguh sangat kecewa pada Kirno. Terutama istrinya Tedjo. Kenapa sejak awal terutama ketika survey  Kirno tidak membicarakan hal tersebut kepada Tedjo. Hal sepenting itu???!!! Apalagi itu semua tak akan terdeteksi ketika survey sebentar dan tidak mendetil. Kan ga mungkin juga Tedjo ngobrak-abrik kitchen set nya Kirno sementara pemiliknya masi di sana. Cacing bisa jadi sedang tak unjuk wajah alias pamer diri ketika Tedjo berkunjung. Apalagi, Istri Tedjo hanya menggunakan kamar mandi sebentar saja ketika menemani anaknya buang air kecil. Dan masalah bau westafel, ketika Tedjo berkunjung tertutupi oleh aroma masakan dan lagian ngapain juga istri Tedjo mengendus-ngendus westafel orang. Kurang kerjaan amat! Aroma septik tank yang menguap itu mostly di pagi hari sementara Tedjo berkunjung pada malam hari. Nah jelas kan kalau semua itu tak terlihat ketika survey. Okelah kalau misalnya Kirno ga menganggap serentetan hal di atas adalah masalah dan dia sekeluarga bisa "berdamai" dengan itu semua, setidaknya ketika menawarkan rumah kepada orang lain penting untuk memberi tau (jika pun bukan masalah bagi mereka) dan menggambarkan kondisi real tersebut sebagai bahan pertimbangan bagi pengontrak berikutnya. Kalau Kirno bisa membeberkan kelebihan, harusnya dia juga bisa menceritakan kekurangan rumahnya. Itu sangat penting lho, seharusnya. Kekurangan yang diceritakan Kirno itu justru bukan apa-apa sebab dapur yang menhitam itu ternyata kinclong kembali dalam sekali usapan cairan clorox. Maksudnya ga butuh berkali-kali nuang clorox untuk bikin noda menghitam itu hilang. Yang masalah utama justru tidak disampaikan. Sebenarnya kalau bagi Kirno serentetan "temuan" itu bukan masalah, enggak juga kayaknya. Buktinya barang-barang "antik" berupa kapur barus, pengharum ruangan, obat kecoa, obat semut, obat semprot insektisida dan juga germisida di kamar mandi menjadi bukti bahwa mereka sebelum ini juga tengah mencari solusi permasalahan yang ada. Soal perangkap tikus?! Hiiiiyyy semoga saja cuma aksesoris pajangan (kali Kirno suka aksesoris anti mainstream wkwkwk) dan tikusnya benar-benar ga ikut nebeng tinggal di rumah itu. Na'udzubillah.

Sempurna sudah kekecewaan Tedjo sekeluarga. Terutama istrinya. Karena yang paling bersemangat untuk pindah ke ex kontrakan Kirno awalnya adalah istrinya. Apalagi sebagai ibu rumah tangga, istrinya lah yang selalu di rumah hampir 24 jam.

Akhirnya Tedjo sekeluarga memutuskan untuk pindah lagi. Meskipun pindah rumah adalah hal yang paling ga disukai Tedjo. Yaiyalaah.... capeeek brooo, nge-load, packing, moving dan unpacking lagi. Siapa sih yang suka?! Tapi, tetap lebih baik dari pada bertahan dengan sesuatu yang bikin makan hati tiap hari kan yaaa.... Masi untung kalo makan sambel ati wkwkwkwk. Jika sedari awal Tedjo dapat gambaran mengenai kondisi rumah tersebut, tentulah ia bisa mempertimbangkan dan mungkin memilih kontrakan yang lain. Ga perlu repot-repot 2x pindah macam tuu. Udahlah capeknya 2x, pun biaya pindahannya juga dobel (harus nyewa truk buat ngangkutin barang atau sewa mover lagi kan?).

Cerita di atas sebenarnya cuma deskripsi sebagai pengantar aja atas inti tulisan kali ini.

Whaaaattt?? Pengantaaaarr???

Kekeke... iyaaa... boleh lah sesekali kata pengantar lebih panjang dari isi. Wkwkwkwk... Jadi intinya mana??? Kuuy lanjut bacaa lagi yaak. Hehe...

Pertama, Begitulah sebenarnya ilustrasi menikah via ta'aruf vs pacaran. Ketika pacaran, cendrung yang keluar manis-manisnya doang. Masi jaim lah... Setelah menikah, baru deeeh keluar aslinya. Seberapa lama sih seseorang bisa memakai topeng? Pasti ada masanya ia melepasnya dan menunjukkan wajah asli kan yaa... Nah pasti kecewanya luar biasa kan yaa ketika tau belakangan.

Berbeda dengan pacaran, ta'aruf justru haruslah sedari awal mendeskripsikan kondisi real. Meski mungkin saja setelah dihadapi ternyata jauh lebih berat dari pada deskripsi di awal, tetap saja ia sangat penting. Setidaknya, potensi kecewa lebih kecil karena sudah mendapat gambaran dari awal.

Memaaang, banyak yang awet pernikahannnya yang menempuh jalur pacaran. Tapi, yang menikah lewat jalur ta'aruf pun sangat banyak yang awet dan romantis. Sesuatu yang dimulai dengan cara yang baik in shaa Allah lebih barokah. Sesuatu yang dimulai dengan maksiat, tetap saja berbeda dengan yang bermula dalam jalan ridha-Nya. Tapi yang memulai dengan jalan yang benar juga jangan merasa jumawa, sebab bisa jadi yang memulai dengan jalan yang salah telah bersih dengan taubatnya, sementara yang merasa lebih baik karena memulai dengan cara yang baik justru terpeleset pada jurang kesombongan dan terperangkap dalam tipuan "merasa diri lebih baik". Na'udzubillah

Kedua, deskripsi panjang lebar di atas mungkin hampir menjadi ilustrasi dari fenomena yang sedang ramai sekarang. Walaupun ga sama persis hehe. Ada yang beramai-ramai sedang "pindah rumah" (dalam makna kias). Percayalah, ketika engkau telah berada di suatu "rumah" yang nyaman menurutmu, jangan langsung begitu mudah tergiur dengan rumah lain yang dari luar tampak indah. Tak selalu sesuatu yang "tampak indah" itu benar-benar indah di dalamnya. Kenapa tak fokus saja memperindah dan mempercantik rumah sendiri selagi itu di jalan kebenaran, kebaikan, dan kemashlahatan. 😍

Semoga Allah tetapkan kita pada jalan yang benar di tengah kehidupan dunia yang penuh lika liku berduri ini. Dan semoga pula penghujung hari-hari kita ditutup-Nya dengan sebaik-baik penutup; husnul khatimah. Aamiin yaa Allah...

Read More

Hanya Sebentar Saja

Hari ini, tiga little princesses sedang tidur siang. Tiga-tiganya. Biasanya, duo uni memang susah tidur siangnya. Pengennya main mulu. Dengan terang-terangan Uni Aafiya bilang, "Uni ga suka tidur. Pengennya bangun aja, biar bisa main." Hehe...

Siang ini, ketika mereka tidur, emaknye muhasabah. Iyapp, baru ditinggal tidur sebentar saja, rumah terasa sangat sepiiii. Biasanya ada suara celoteh mereka, suara ketawa, suara bertengkar, suara tangis. Lengkap. Ahh, sebuah tanya tiba-tiba hadir di jiwa, "Begini kah beberapa tahun lagi?" (jika Allah memanjangkan umur kami dan semoga umur yang barokah). Mungkin, hari ini, ketika mereka masih kecil-kecil, mengintil ke mana pun kita pergi, ada masa-masa di mana merasa pada titik saturasi, lelah, pengen menyendiri, pengen me time tanpa ada rengekan, suara tangis dan sederet paket lainnya. Tapi, aku menyadari bahwasannya ini tak akan lama. Sungguh, tak akan lama. Kelak, ada masanya sunyi. Sunyi. Sepi. Hening. Dan kita akan sangat sangat sangat teramat sangat merindukan masa-masa seperti ini. Masa di mana anak-anak masih heboh berteriak sana sini, ingin selalu dekat-dekat dengan kita. Mengikuti kita ke manapun raga kita bergerak. Kelak, ketika mereka memiliki dunianya sendiri, kita akan sangat merindukan masa-masa ketika mereka "merecoki" kita dengan berbagai hal khas anak-anak, ketika mereka mengajak kita bermain.

Rumah berantakkan penuh mainan, yang seketika dibereskan, seketika itu pula kembali berserakan, sungguh ini tak akan lama. Tak akan lama. Ada masanya ketika rumah rapi jali, tapi kita sangat merindukan ketika tangan-tangan kecil itu mengacak-acaknya kembali. Ketika mereka perlahan pergi meninggalkan kita, menjemput takdir mereka masing-masing. Bersekolah. Hingga kemudian memiliki keluarga mereka masing-masing. Maka kita akan terbata-bata mengeja rindu. Ingin kembali pada masa di mana rumah selalu ramai dengan kegaduhan mereka.

Ahh, sekian masa berlalu. Menoleh jejak ke belakang dengan segenap penyesalan. Ternyata diri ini masih jauh. Jauh dari kata "madrasatul 'ula" yang baik. Masih lalai. Banyak lengah. Sementara waktu-waktu berharga ini terus saja berlalu. Hanya sebentar saja. Hingga kita (diri ini) terutama tersentak dengan sesal. 'Ke mana saja aku selama ini??'.

Ahh, sekali lagi. Berbenahlah wahai diri. Waktu ini hanyalah sebentar saja. Berikanlah yang terbaik untuk mereka. Sebab pengasuhan takkan pernah bisa di-undo. Masakan tak enak bisa dimodifikasi. Desain yang kurang bagus, masih bisa diperbaiki. Menyia-nyiakan masa emas pengasuhan dan mendidik anak, dapatkah kita mengulanginya kembali?! TIDAK!

Ya, Rabb.... Tunjukilah kami, agar dapat menjalankan amanah sebagai orang tua. Ilhamkan dan pahamkan kami cara terbaik dalam mengasuh dan mendidik mereka. Agar kelak, ketika Engkau menanyainya, kami telah punya jawabannya...

my Aasiya

My Aafiya

my Maryam
Read More

Seminggu Berlalu

Seminggu berlalu setelah kelahiran baby Maryam. Seminggu ini pula aku begadang hehehe. Baby Maryam meleknya selalu dini hari. Iya sih pas masi di perut, anaknya berasa aktif kalau udah dini hari sampai menjelang subuh gituh. Hehe...

Selama seminggu ini pula Aafiya dan Aasiya hampir selalu bersama Ayahnya. Mulai dari mandi, makan, main, tidur... semuanyaa... Aku fokus bersama baby Maryam sekaligus memulihkan tenaga dan merecovery segala nyeri-nyeri mulai dari nyeri episiotomi yang ngilu-ngilu sedap hehe, nyeri kontraksi pasca lahiran yang aduhai banget di lahiran ketiga ini. Belum lagi nyeri menyusui karena ada luka juga. Hehe... Banyak bet nyerinya. Alhamdulillah Abu Aafiya cuti... tapi cuma request seminggu hiks. Ngerasa bisa in shaa Allah seminggu ajaa. Ehh ga taunya kelahiran ketiga ini beda banget dengan kelahiran sebelumnya. Tau begini, request nya kemarin cuti 2 minggu aja sekalian. Karena masi ada sisa jatah cuti harusnya. Hiks hiks... Alhamdulillah 'ala kulli haal.

Agak sedikit merasa gamang dan gagap nih ketika abu Aafiya akan mulai masuk kerja lagi ahad in shaa Allah. Pasca lahiran seperti yang aku ceritakan di atas, duo uni-uni (Aafiya dan Aasiya) hampir selalu bersama ayah mereka. Nah pas ayah masuk kerja, mau ga mau emaknya harus ngurusin ketiganya sekaligus kan yaa. Heuheu... Maklum di perantauan, lahiran di sini memang begini. Ga cuma aku, teman lain pun begitu. Kalau di kampung kan biasanya lahiran ditemani orang tua, banyak yg ngurusin. Nah kalo lahiran di luar nagari dan negeri, tentu apa-apanya mesti ngurus sendiri. Makanya kudu setroong hehehehe.

Kelahiran ketiga ini agak berbeda. Kalo kelahiran sebelumnya, recoverynya relatif lebih cepat. Luka episiotomi  dalam 4 hari udah mulai terlihat membaik meski tanpa analgetik. Pas lahiran ketiga ini, luka episiotominya koq yaa lamaaa banget recoverynya. Hari ke-4 terasa ngiluuu banget sampai sedikit 'trauma' mau beraktifitas apalagi ke kamar mandi. Sebab kalau kena air nyerinya luar biasa. Huhu... Mau duduk juga susaah banget nyari posisi yang PW.   Jadi, banyakan berdiri aja (lebih berkurang nyerinya), tapi lama-lama capek juga nyusuin sambil berdiri hehehe. Sempat sedih dan frustate jugaa kalo nyerinya begini, ngurus diri sendiri aja susaaah apalagi ngurus anak jugaa. Akhirnya aku ingat cream epicure yang dikasi konsultanku pas lahiran Aasiya dulu masi ada 1 yang utuh. Aku pakek buat gantiin krim yang sekarang, ehh ma shaa Allah... fast progress... Efektif banget dalam merecovery si episiotomi. Alhamdulillaah di hari ke-8 ini, bisa dibilang luka epis nya sudah ga begitu nyeri lagi. Paling ngilu-ngilu dikit lah.

Masalah lainnya ada di nyeri kontraksi pasca melahirkan. Adalah normal rahim berkontraksi lagi pasca melahirkan untuk meluruhkan sisa-sisa plasenta dan mengembalikan ukuran rahim ke size semula sebelum kehamilan. Tapi di kelahiran ketiga ini, kontraksi pasca lahirannya terasa jauhhh lebih nyeri dan lebih lama durasinya. Hingga tadi (hari ke-8) nyerinya masi terasa sangat sakit. Aku masi ingat pas masi di RS, nyeri kontraksinya bener-bener deeh ya Allah... sakiit banget sampai aku minta dobel pain killer. Beberapa malam yang lalu, nyerinya juga menghebat. Huhu... Dalam kondisi nyeri seperti ini, aku ga bisa pay attention ke siapapun even ke Baby Maryam. Huhu... Biasanya Abu Aafiya langsung ambil alih anak-anak. Ini kegalauan kedua ketika menjelang suami masuk kerja lagi.

Dengan kondisi baby Maryam yang selalu ngajakin begadang, aku merasa dizziness juga. Jadi, kalau baby Maryam lagi tidur, biasanya aku ikutan tidur. Naaahh, kalau sudah mulai ngantor, otomatis aku juga ga bisa tidur kaan karena ada Aafiya dan Aasiya yang butuh diberi perhatian jugaa, dipenuhi kebutuhan dasar mereka. Apalagi mereka sekarang lagi 'latihan' untuk memperbaiki pola tidur: bangun lebih pagi, tidur siang, dan tidur lebih cepat di malam hari (Pola tidur sebelumnya, mereka baru bangun tidur jam 9-an, nyaris ga pernah tidur siang dan malamnya tidur di jam 10-jam 11-an). Kan ga lucu kalo emaknya bangunin anaknya pagi2 trus emaknya lanjutt tidurr lagi karena abis begadang. Hehe...

Soal makan, beberes rumah, nyuci dan segala macam tetekbengek urusan rumah semua sudah dihandle sama suami.. ma shaa Allah jazakallahu khair katsir yaa Zaujiy 😘😘😘.

Kalo semua kelihatan susahnya aja, kapan senangnya dongs? Hehe... Iyaa, di kelahiran ketiga ini tentu saja ada sisi yang berasa mudah dan dimudahkan-Nya, ma shaa Allah tabarakallah.

Unexpexted, di kelahiran ketiga ini kami dapat kamar perawatan yang Suite Room. Ma shaa Allah, rizki baby Maryam ini... Alhamdulillaah. Sebelum-sebelumnya kami biasanya dapat yang Private Room. Allah Maha Mengetahui bahwasannya kami memiliki dua princess selain baby Maryam yang butuh ruangan yang lebih besar dan luas agar mereka nyaman di RS dan tidak merasa bosan 😊. Di kelahiran ketiga ini, alhamdulillah ada mba Tyas dan keluarga yang membantu menjaga anak-anak selama proses lahiran jadi suami bisa nemenin di LDR. Jazakumullaahu khair mba Tyas dan keluarga. Di kelahiran ketiga ini, tiga hari berturut-turut ada Mba Rahma Ummu Kautsar mengirimi kami makanan yang ma shaa Allah ladziiiz dan kami jadi ga repot harus beli makanan di luar ataupun masak. Jazakumullahu khair katsir buat mba Rahma dan keluarga. Dan Allah mudahkan pula urusan-urusan dokumen kelahiran Maryam, mulai dari sertifikat kelahiran dari rumah sakit, syahadah milad (semacam akte kelahiran dari catatan sipil saudi), proses pembuatan passport dan akte kelahiran dari KBRI yang in shaa Allah tinggal menunggu hasilnya. Mudah-mudahan nanti urusan iqoma juga gampang dan dimudahkan-Nya. Aamiin yaa Allah...

Di balik kesulitan pasti ada kemudahan! Aku harus yakin akan hal itu. Meskipun sedikit gamang menghadapi masa-masa Abu Aafiya mulai masuk kerja, seharusnya aku yakin pertolongan Allah itu jauh lebih dekat. Tiadalah kesusahan dan kesulitan melainkan ada kemudahan yang menyertainya...

Hayooo semangaattt!!!
Masa seperti ini tidaklah lama. Mumpung anak-anak masih dekat dengan emaknya dan bapaknya. Maka tak bolehlah sia-sia masa pengasuhan ini. Sebab, Akan ada masa anak-anak satu persatu meninggalkan kita menuju kehidupan mereka masing-masing nantinya. Jangankan setelah anak-anak menikah dan punya kehidupan sendiri, masa mereka sekolah saja mungkin sudah cukup membuat kita merasa sepi di rumah. Jadi, Masa-masa saat ini (yang mungkin terasa sulit sekarang) justru akan menjadi kenangan yang dirindukan nantinya. Jangan sampai sebuah penyesalan hadir ketika kita terlambat menyadari bahwa banyak waktu kebersamaan yang kita lewatkan begitu saja karena kita sibuk dengan dunia sendiri. Yuk ukir kenangan indah dengan sebaik-baik pengasuha , sebab masa ini tak tergantikan. Apalagi cuma terisi dengan liat henpon dan baca wattpad aja. Betapa sia-sianya waktuuu. Astgahfirullaah. NTMS tentu saja ini mah. Yuk menej lagi diri dan waktumu, Fathel!!!!!!

Read More

Craving

"Eooooo... pinukuiiik..." suara khas penjual pinukuik kalo lewat bikin aku pengen nyambar jilbab, bawa dompet dan teriak "bali pinukuiiik nii..." wkwkwkwkwk... de javuu... Tapi ga ada yang kaya begini niih si sinii... hiks.. 

Apa rasanya ngidam (baca: pengen sesuatu) makanan yang ribuan mil jaraknya dari tempat kita tinggal? Yaak... cuma bisa nelen ludah... ekekekeke...

Pilihan lainnya adalah: you have to cook it by your self!
Iyaa.. inilah tantangan terbesar kalo kita merantau jauh dan kepengen sesuatu makanan. Mau ga mau kalo kepengen banget, mesti bikin deeh.

Kayaknya koq rajin banget masak gituh yaaah... Padahaaal... padahaaal nih yaaaa aslinya aku ga hobby masak. Tapi koq masak macem-macem? Yaa karena aku ga punya pilihan lain selain harus masak yang dipengen tersebut. Ga ada go food. Ga bisa order online... ekekeke...

Nilai positifnya sih... kita bisa upgrading kemampuam masak. Dulu, datang ke Riyadh, ga bisa masaak macem-macem. Eehh 4 tahun di Riyadh, alhamdulillah ada improvement... masak macam-macam. Tapi Jangan bandingin rasanya dengan yang asli yaaaa... Selain keterbatasan bahan, kemampuan juga masi setaraf anak TK. Ihihi... Alhamdulillaah bisa mengobati rasa...

Nilai positif lainnya adalah tentang homemade! Kalo terbiasa serba instan, kita kan jadi males bebikin. Terutama yang ga hobby masak kayak akuuh. Dan ditambah lagi aku lebih suka yang simple ga pakek ribet yang tinggal jadii.. hueheuehue... Jadi kalo di Indonesia, praktis tinggal beli ajaaah. Nah karena di sini terpaksa harus masak, segala yang homemade bukan lagi jadi hal yang langka. Biasa bikin camilan sendiri. Biasa bikin ini itu sendiri. Walaupun juga sering siih beli di luar... ekekekeke... Setidaknya ada bekal lah kalo mau bebikin homemade. Homemade tentu saja jauh lebih baik dari beli-beli teruus... Ya nda sih... heuu....

Yaa postingan kali ini bikinnya agak-agak setengah hati gitu. Semacam resume atau malah repetition dari banyak postingan sebelumnya ajah kalii yaaa... Buat rame-ramein isi blog doang... Tujuan utamanya sih buat posting photo masakan yang hasil potonya masi jauh dari okeee... ekekeke.. Masi harus banyak belajar niih potonya dan lebih rajin lagi nyediain propertinya. Ini mah ga pakek properti alas photo de el el ituuh πŸ˜‚


Eoooo... pinukuiiik... 










Read More

Tak Harus Menjadi Mereka

Terkadang.
(Cuma terkadang lho yaa 😁), aku merasa tulisan-tulisan di blog ini hanyalah seperti riak di luasnya samudra. Keberadaannya, tak perlu diperhatikan. Adanya atau tiadanya, sama saja. Heuheu 😆...

Membaca tulisan banyak orang hebat, menginspirasi, memberikan perbaikan, membuka pikiran banyak orang, memperjuangkan sebuah nilai, dan deretan nilai positif lainnya terkadang bikin jiper juga 🙈. Apakah tulisan aku ini bernilai manfaat? Atau hanya sekedar pelepas tawa, 'haha', 'hihi', 'wkwkwkwk' saja? Jika untuk memberikan kanal pada rasa dan memuarakan apa yang menjadi lintasan pikiran, memang iya. Tapi, ternyata terlalu banyak hal remeh temeh yang mungkin tak menjadi sebuah agenda dalam pikiran orang-orang hebat itu. Hihi... 😄
Iyaa, aku memang hanyalah sesederhana itu... 😄

Tapi, kusadari.
Bahwasannya aku tak perlu menjadi mereka.
No need to force my self to write "super-article". Ga perlu memaksakan diri menulis yang berat-berat. Hehe...
Menulis hal-hal 'berat' terkadang membuatku merasa bukan seperti menjadi diriku sendiri. Dan itu terasa memaksakan...
Alangkah lebih baiknya, menulis itu seperti air mengalir. Menjadi apa adanya. Dan apa yang dari 'hati' pasti akan sampai ke 'hati'. Aku selalu percaya itu. Mereka yang memang menulis dengan hebat, menginspirasi, membuka fikiran sangat mungkin saja menulisnya dengan ringan. Oleh sebab Pada dasarnya mereka memang hebat dan menghebatkan banyak orang. Dan aku, yang apa adanya ini, masih jauh dari merekaa tentunya, tak perlu memaksakan diri menjadi seperti mereka. Just be my self... 😊. Sesuai tagline blog ini, just share what i m thinking about. Ya memang sesederhana ini sih akuu dan apa yang aku pikirkan... hehehe... Makanya, aku membuka seluas-luasnya ruang perbaikan, masukan, koreksi, pembetulan dari sesiapa saja yang melihat kesilafan di sana-sini...

Apapun itu.
Sesederhana apapun coretan di blog ini, harapanku hanyalah semoga menjadi pengingat diri dan juga semoga ada yang beroleh manfaat dari sini. Sebab, apalah artinya jika sesuatu itu tak memberi nilai kemanfaatan. Heuheu... 😊
Sekurang-kurangnya, bermanfaat dalam memuarakan rasa... hehehe...

Sekian.
#edisilagijiper
#edisibaper
#bukanedisiminder
#semangatBerbagi
#yukMenulis
#menulisMenyehatkanInShaaAllah

Read More

Kejutan di Awal 2018

Mari mengawali postingan 2018 dengan tema yang sedikit tidak mengenakkan. Yaitu TAX alias PAJAK. Sebuah diksi asing di sini ketika aku baru pertama kali menginjakkan kaki di jazirah gurun. Dan kini, tax adalah bagian dari negara ini. Ihiks... ihiks...

Ya.
Seperti pengumuman yang telah digembar-gemborkan dan menjadi tema hot sepanjang quarter akhir 2017 lalu, bahwasannya per 1 januari 2018, di sini diberlalukan VAT (value adding tax) sebesar 5%. Sebelumnya, ada dependent fee (seperti yang aku ceritakan di musim summer dulu).

Tidak hanya VAT lho yaaa... Kejutan di awal 2018 ini juga diwarnai dengan kenaikan BBM yang lebih dari 100%, dan juga kenaikan listrik yang hampir 4x lipat. Laa haula wala quwwata illa billah... Jadi, dari semua sisi "dibombardir". Listrik. Bensin. Segala jenis kebutuhan pokok. Wow... Subhanallaah...

Sampai di sini, kadang aku jadi berpikir tentang "para pemuja negeri ini". Ya, aku memang sempat memposting beberapa (banyaak malah) hal positif tentang negeri ini sebagaimana yang aku lihat, saksikan dan rasakan. Aku suka dengan habbit setiap jam shalat toko tutup dan orang-orang berbondong-bondong ke masjid. Aku suka dengan habbit bahwa wanita di sini tidak memperlihatkan aurat ketika baligh dan adabya pemisahan tempat untuk laki-lami dan perempuan di berbagai tempat, misal di ruang tunggu.. Tapi kalau menyangkut urusan politis kenegaraan, aku bukan fanatik buta sama sistem negara ini. Hehe... Hanya saja aku tak pernah menjadikannya sebuah tulisan dan aku kira, juga bukan sesuatu yang sangat penting untuk aku tuliskan. Sebab bagiku, setiap negara memiliki urusan politik masing-masing dan ketika aku berada di sana, aku harus mengikutinya tapi bukan berarti itu landasan dan hujjah yang sampai aku elu-elukan dan sampai aku terapkan ketika aku berada di negaraku sendiri atau negara lain. Dan lagi, buatku lebih baik memposting hal-hal baik saja. Barangkali ini bisa jadi contoh yang baik. Postingan positif Lebih 'mempositifkan' hati.

Kadang, ada yang sampai fanatis buta ngebelain negara ini. Apa-apa, orientasinya negeri ini. Segala kebijakan di negeri ini dijadikan "Hujjah". Hujjah yang seharusnya kepada Al Qur'an dan sunnah, bergeser menjadi sebuah negara yang dikira dan dianggap "semanhaj" dengan kelompok tertentu tersebut. Ngebelainnya sampai mati-matian, padahal kadang jauh panggang dari api. Nyatanya, di sini ga sebegitunya πŸ˜ƒ.

Ini pelajaran berharga buat kita. Jangan menjadikan politis sebuah negara sebagai ikutan, landasan dan bahkan sampai ngebelain (apalagi kita tidak memiliki ilmu tentang apa yang kita bela tersebut. Bukan juga berdomisili di negara yang kita bela itu). Sekarang, setelah ada VAT 5%,pembelaan macam apa lagi yang akan digembar-gemborkan?! Inilah politik, bro. Politik itu ga ada aturan detil seperti halnya shalat, zakat dan puasa! Kebijakan Politik dalam sebuah negara. Kejadian ini, mengajarkan kita bahwa politik itu sangat-sangat dinamis! Segalanya bisa saja berubah 180°.

Di sini, berdemo atau aksi itu hukumnya Haram. Iya,karena secara legalnya itu tak diakui oleh politik di sini. Maka, siapapun yang berdemo di sini, dengan maksud melawan pada pemerintah yang sah, itu terlarang. Inilah politik di sini, di negeri ini dan ketika kita berada di sini, kita harus mengikutinya dan menujunjungnya. Tapi, di negeriku tercinta nun jauh di sana, aksi dan demo itu diakui undang-undang. Melaksanakannya legal. Lha, kenapa ada yang ngelirik sinis dan nyinyirin yaaa... #tanyakenapaa
Lha, orang cuma menyampaikan aspirasi koq, diakui lagi sama undang-undang. Apalagi yang sampai nyinyirin aksi bela Al Qur'an yang dikata ga ada manfaat itu. Itu kan aksi menyampaikan aspirasi dan ketidakrelaan kalo kitab suci kita dihinakan. Bukan sebuah pemberontakan apalagi melawan pemerintah yang sah. Ini politik di negara kita. Yang mana ketika kita berada di sini, kitapun juga mengikutinya dan menjunjungnya. Dan ga bisa lho yaa, kamu di sana malah mengelu-elukan politis kenegaraan di sini dan menjadikannya sebagai hujjah! Politik itu dinamis, Sist! Bisa saja berubah tanpa meminta persetujuan kamu! 😁

*lha, kenapa emak Aafiya yang minim ilmu ini jadi berapi-api yaa ehehehe... Karena aku ga memiliki ilmu dan fakih tentang hal ini, Tolong dikoreksi yaaa...
Maaf, jadi meleber ke mana-mana...

Back to topic, tentang VAT 5%. Sesungguhnya ini sangat memberatkan. Sebab, semua dipajakin! Even, beli air botol mineral sekalipun, tetap kena pajak. Beli pulsa, tetap kena pajak. Kalau di kampungku memang juga ada pajak. PPN 10÷ misalnya. Pajak pertambahan nilai, value adding tax, lebih besar malah. Sepuluh persen. Tapii, ada banyaaaak item yang tidak kena pajak. Beli sayur ga kena pajak. Heuheu... Beli pulsa ga kena pajak tuh di kampungku...
Di sini terasa agak berat, karena semuaa dipajakin. Berbelanja di supermarket terdekat untuk bahan-bahan masakan semisal beli bawang, sayur, juga kena pajak. Hiks.. hiks.. Bayangkan sajaa kalo setiap belanja mesti bayar pajak.. huhuhu...
Struk belanja jaman now. Udah ada VAT 5% nyeee... Meskipun cuma beli mentimun dab kawan-kawannya... tapi kawan-kawannya mentimun lebih banyak ternyataa wkwkwkwkwk πŸ˜‚

Semoga Allah menunjukkan hidayah selalu untuk pemimpin negeri-negeri muslim di manapun berada...

Yang jelas, rizki itu dari Allah...
Bukan dari manusia.
Selama manusia hidup, pasti ada rizkinya. Sudah ada jaminan dari-Nya. Nah, harusnya aku lebih bersegera untuk sesuatu yang belum ada jaminannya. Yaitu keselamatanku di hari-hari setelah dunia ini berakhir...
Read More

Memilih Kemudahan

Prinsip setiap orang berbeda!

Meskipun kebanyakan orang tentu lebih memilih jalan kemudahan dari pada yang sulit (baca: ribet) atau sesuatu yang lebih efektif dari pada yang berbelit-belit bolak balik, tapi ternyata ada orang yang ga begitu suka keefektifan dan kemudahan. Lebih memilih jalan yang sulit, tak efektif, berbelit-belit, bolak-balik dan menghabiskan banyak waktu 😁.

Jika ada suatu kegiatan yang bisa dijalankan bersamaan dalam 1 waktu, tidak membuat kita bolak balik, pasti kebanyakan orang memilih yang efektif dan tidak menghabiskan banyak waktu. Tapi, ternyata ada orang yang lebih suka keribetan dan menghabiskan waktu banyak di jalanan, bolak-balik ke sana kemari. Padahal, dikaji secara logis sekalipun, hal tersebut (menjalankan secara bersamaan) sangat jauh lebih efektif. Contoh kasus. Suami dan istri sama-sama punya agenda dan problemnya suami harus mengantarkan istri ke tempat agenda tersebut. Waktu pelaksanaan agenda istri sebenarnya bisa fleksibel. Bisa bersamaan dengan suami waktunya. Tempatnya pun berdekatan atau searah dalam perjalanan. Akan jauh lebih efektif kan jika kegiatan itu dilakukan secara bersamaan. Jika waktunya bersisipan, misal istri 2 jam bertama, suami 2 jam berikutnya, malah tidak efektif. Pertama suami harus mengantar istri dulu lalu balik lagi, lalu jemput istri lagi, antar pulang ke rumah, lalu berangkat lagi ke kegiatan suami, lalu pulang  lagi. Ahh betapa ribet nya bolak-balik berbelit-belit. Ada 6x bolak balik kan yaa... yaitu Antar istri-balik lagi, jemput istri balik lagi, berangkat ke kegiatan suami dan balik/pulang. Belum lagi resiko keterlambatan suami jika harus mengantar jemput istri terlebih dahulu. Coba kalau kegiatan tersebut dilakukan bersamaan. Cuma ada 2x bolak balik yaitu berangkat dan pulang secara bersamaan. Apalagi secara jarak tidak dekat. Satu kali perjalanan bisa lebih dari 25 km. Kalau bolak-balik begitu kan akan memakan jarak lebih dari 150 km, memakan waktu dan tenaga yang lebih banyak tentunya. Jika sekalian kan hanya memakan waktu dan jarak sepertiganya... Herannya, ada yang malah lebih suka bolak-balik dari pada yang efektif begini? 😂😂😂 sungguh hayati tak habis pikirrr dan heran maksimal... 😂😂😂

Contoh lainnya, Ada orang yang punya peralatan elektronik semisal dishwasher, vacum cleaner, mesin cuci dan lain sebagainya. Tapi, lebih senang mencuci piring secara manual, menyapu debu dengan sapu biasa atau mencuci dengan manual. Ada food processor tapi lebih memilih mengulek pakai ulekan dan cobek yang bikin tangan super pegel (hihi dulu aku juga seneng ngulek manual sih dengan alasan tasty lebih maknyus kalo di uleg sendiri, tapi sekarang mah ogah bangeeeett... serahkan saja pada food processor 😂, dan lagian no significant taste difference yang diuleg manual ama yang dihaluskan sama food processor). Bukankah jika ada teknologi, lebih memudahkan dan tidak menghabiskan lebih banyak waktu. Kita bisa melakukan kegiatan lain tanpa menghabiskan waktu untuk 1 kegiatan. Ini lain cerita kalau niatnya menghemat listrik yaa.. Ini sebutlah dalam kondisi listrik bayar murah... hehehe...

Sebenarnya, kadang aku ga habis pikir dan tak masuk logikaku. Ini adalah hal yang mubah. Bukan perkara ibadah. Tapi, kenapa lebih memilih jalan yang sulit? Kenapa lebih memilih yang bolak-balik berbelit-belit dari pada yang lebih efisien dan efektif secara waktu dan tenaga?! Bukankah akan lebih baik waktu yang terbuang percuma di jalan, atau waktu yang dihabiskan dengan mengulek bumbu rempah bisa digunakan untuk kegiatan lain??!

Nah itu aku. Sekali lagi, itu mindset aku, yang memang ga suka ada keribetan (dalam kontek hal mubah). Aku berprinsip, jika ada sesuatu yang mudah, efisien, efektif, hi-tech, lebih tidak banyak menghabiskan waktu, aku pasti akan memilih yang lebih mudah. Ini untuk kontek hal-hal yang mubah.

Tapi, aku harus ingat satu hal.
Bahwasannya, aku tak bisa memasangkan sepatuku kepada orang lain. Even sepatuku sendiri pun yang kanan tidak bisa dipakai di kaki kiri. Sebaliknya, aku juga ga bisa memaksa baju orang fix di badanku. (Yang ada malah melar dan robek bajunya mungkin... 😂😂 maklum emak Aafiya sekarang udah melaar.. hiks hiks hahaha 😂😅)

Filosofi klasik memang. Tapi selalu saja pelajarannya sangat berharga. Apa yang aku paparkan di atas, oleh sebab aku memandang dari kaca mataku sendiri. Oleh mindset aku sendiri.

Selalu saja ada alasan atas suatu pilihan. Mengapa seseorang memilih jalan yang sulit dan berbelit, pasti ada alasannya. Dan aku tentu tak serta merta dapat mengerti alasannya jika aku terlalu selfish dan memandang sesuatu hanya dari sisiku sendiri. Boleh jadi, orang yang senang bolak-balik itu memang senang jalan-jalan dan tidak mempermasalahkan bensin, hehehe... Boleh jadi, yang memilih tidak menggunakan dishwasher karena piring yang dicuci tidak banyak jadi bisa dikerjakan sambil nyuci tangan setelah makan. Ya, ada banyak alasan! Dan aku tidak boleh dan tidak berhak sama sekali untuk men-judge bahwa pendapatkulah yang paling bener. Apalagi merasa paling bener sendiri... Astaghfirullaah wa na'udzubillah...

Ya... ini sebenernya curhatan sekaligus reminder buat aku. Sekaligus mengingatkan tentang pentingnya waktu. Justru, kadang banyak waktu berlebih (harusnya ga ada waktu berlebih sih yaa...) dan waktu luang justru jauh lebih melalaikan! Apalagi dengan dunia medsos jaman now. Tanpa disadari banyak sekali waktuku yang tercuri oleh handphone pintar dan medsos ini. Astaghfirullah... Astaghfirullah... Padahal waktu juga akan dihisab... 😣😣😣

Semoga aku bisa lebih bijak dalam memanfaatkan momen kemudahan dan waktu yang Allah pinjamkan...

○●○●○

Di sisi yang lain.
Ada orang yang lebih memilih jalan yang sulit, panjang dan bahkan berbelit-belit. Ada orang yang memilih jika bisa shalat malam dengan membaca surat yang panjang, mengapa memilih triple-"Qul". Jika bisa shalat 8 rakaat, kenapa memilih hanya 4 rakaat. Ada lagi orang-orang yang lebih memilih berpeluh payah dalam menyeru pada kebaikan. Bahkan bully an, cercaan menerpa, tapi mereka tetap memilih jalan ini. Ya, inilah orang-orang yang memilih jalan sulit yang penuh keberkahan. Dan aku--sungguh amat sangat jauh--dari sosok-sosok luar biasa seperti ini. Aku yang penuh dengan rombengan 😣, masih jauh dari sosok-sosok yang memilih jalan sulit berganjar surga tersebut... Sebab menempuh jalan ke surga itu, pastilah menempuh jalan yang sulit. Sedangkan kesuksesan dunia yang hanyalah remeh-temeh saja mendapatinya bisa berpeluh payah, apalagi kemenangan akhirat dan surga yang nilainya amat sangat jauh lebih tinggi! Harusnya jalannya jauh lebih sulit, panjang dan berliku.

Ini sebagai pengingat diri...
Bahwa untuk hal mubah, kita boleh memilih jalan yang mudah. Tapi untuk hal ibadah dan segenap kebaikan lainnya, jika kita bisa melakukan yang lebih tinggi (yang tingkat kesulitannya juga lebih tinggi tentunya), kenapa harus memilih yang biasa-biasa saja.
#NtMS

Ma'annajah dalam kebaikan!
Ingat... ingatlah hisab waktu wahai diriku yang amat sangat lalai... 😣

Read More

Sebab Akulah yang Akan Ditanya

Aku tertegun cukup lama memandangi pesan dari adik kelasku tentang pernyataan dosen kesayanganku semasa kuliah dulu kepada mereka. Intinya, semoga nanti aku bisa berkontribusi kembali di dunia yang telah aku sedikit ilmui tentangnya; clinical pharmacy. Aku hampir tidak percaya beliau masih mengingatku sejak lebih dari 4 tahun aku lulus dari kuliah. Di antara ratusan mahasiswa beliau. She is one of my best lecture.

Sejenak berhamburan lah ingatan-ingatan tentang teman-teman seangkatan dulunya, yang kini telah berada di mana-mana. Menjadi dosen di luar negeri. Melanjutkan sekolah ke luar negeri. Bekerja as a clinical pharmacist di sebuah rumah sakit besar. Tetiba aku merasa menciut dan jauh. Ya... ya... ya..., aku merasa telah menjauh dan semakin menjauh dari bidang ilmu yang dulu pernah aku geluti secara lebih mendalam. Meski bukan berarti serta merta aku sudah berilmu tentang itu. Maksudku, aku pernah mempelajarinya lebih intens dulunya. Dan kini, aku merasa sangat jauh tertinggal. Ibarat naik kereta, mereka sudah jauh menuju utara dan aku malah menuju ke selatan. Hehe... Sejujurnya, kadang ada rasa untuk ingin mengejar mereka kembali. Melanjutkan kuliah lagi. Hadir di berbagai forum ilmiah, membahas ini dan itu. Publikasi penelitian di seminar dan workshop setara internasional. Berkontribusi di bidang farmasi klinis as best as I can.

Dalam perenungan panjang, kembali aku tersadar. Bahwa memang apa yang aku inginkan, cita-citakan itu tidaklah salah. Namun, jika melihat kembali 4 tahun yang aku jalani ini, sesungguhnya adalah juga tahun-tahun terbaik dalam hidupku. Tidak semua orang dapat menyaksikan anak-anaknya dapat tertawa untuk pertama kalinya, tengkurap pertama kalinya, berjalan pertama kalinya. Membersamai mereka--meski dengan segenap salah dan kekurangsabaran yang aku sedang tertatih untuk mengejanya--adalah wonderful time dalam hidupku yang tak bisa digantikan oleh waktu-waktu lain. Iya, mereka adalah alasan terbaik yang membuat aku lebih memilih berjalan menuju ke arah selatan di saat teman-temanku telah melaju ke utara. Lalu,  sebuah pertanyaan berat: apalagi yang aku kejar?! Benarkah sebuah kontribusi, atau hanya sekedar eksistensi?

Menjadi Ibu Rumah Tangga adalah cita-cita utamaku sedari dulu. Dan meskipun Menjadi clinical pharmacist juga adalah cita-citaku, tapi tentang peranku sebagai seorang istri dan ibu, inilah yang kelak akan ditanya. Menjadi seorang clinical pharmacist, mungkin bisa 'di-subcontract-kan' kepada orang lain. Ada orang lain yang bisa mengambil kontribusi ini selainku. Tapi, menjadi seorang istri dan ibu, dapatkah aku men-subkontrakkan nya kepada orang lain sementara akulah yang akan ditanyai kelak oleh-Nya dan dimintai pertanggungjawabannya.

Oleh sebab aku menyadari bahwa aku bukan superwoman yang bisa melakukan dua hal sekaligus dalam waktu bersamaan dengan sangat baik, maka aku harus memilih salah satunya. Dan karena aku telah memilih 'melepaskan' satu kesempatan untuk berkontribusi di dunia farmasi klinis, maka aku seharusnya melakukan yang terbaik dan all out di pilihan yang aku telah ambil; menjadi sebaik-baiknya madrasatul 'ula. Aku tentu tidak ingin 'merugi', melepaskan satu pilihan, sementara di pilihan yang lain aku membiarkannya berlalu begitu saja tanpa ada upaya terbaik. Aku pasti akan menyesalinya jika aku tidak melakukan sebaik-baik pencapaian di pilihan yang aku pilih ini. Sebab, waktuku sesungguhnya sangat singkat. Aku tidak bisa berlama-lama termangu.

Iya.
Inilah masaku. Inilah pilihanku saat ini. Aku ingin melakukan yang terbaik, memberikan upaya yang terbaik, do'a terbaik untuk mereka yang menjadi alasan pilihanku. Boleh jadi, saat ini aku tidak bisa berkontribusi di bidang farmasi klinis. Tapi, aku ingin output terbaik bagi anak-anakku. Mungkin, belum saat ini aku melihat hasilnya. Mungkin, berpuluh tahun lagi. Aku tak ingin melewati masa emas yang singkat ini dengan biasa-biasa saja.

Aku menyadari, anak-anak tak selamanya bayi. Tak selamanya balita. Tak selamanya kanak-kanak. Akan ada masa mereka meremaja dan mendewasa. Mungkin, pada masa itulah--jika Allah menghendaki usia yang panjang dan semoga usia yang barokah--aku berkontribusi untuk cita-cita keduaku. Saat anak-anak sudah memiliki jalan mereka sendiri. Dan, sekali lagi, aku memilih ini oleh sebab akulah yang akan ditanya, tentang mereka, tentang amanah yang telah Dia berikan.

Let's do the best in this best time...
Semangaaaaattt...!!!
😚

Read More

Just Self Contemplation

Postingan ini masih related to Cita-Cita Sangat "Sederhana" yang aku posting sebelumnya. Berhubung ini adalah blog pribadi yang kebanyakan isinya adalah curcol dan tidak bisa dijadikan referensi ilmiah tentunya, maka isinya pasti mengikuti mood dan suasana hati serta preferensi hal yang sedang diminati pemilikinya. Hihi... Ya, jadii... aku nulis ya nulis aja. Seperti air yang mengalir sesuai dengan hukum alamnya, ke tempat yang rendah. Nulis buat aku, semacam leisure time lah meskipun kebanyakan tersimpan di draft doang karena ga sempat dituliskan. Paling kalo semua isi keluarga sudah bobo cantik dan bobo ganteng, baru deh aku nuliis. Daaan, serunya adalah... di blog ini juga aku kebanyakan pakek credo "tulisin apa yang dipikirin", bukan "pikirin apa yang ditulisin". Jadii bener-bener depend on situation and condition, preferensi, minat, ketertarikan atau apalaaah saat aku nulis... misal lagi TA ya pasti seputar dunia ke-TA an, dan kalo udah jadi emak, preferensinya  pasti berhubungan dengan dunia per-emak-an😄. Okeeh sepertinya aku tidak perlu memperpanjang mukaddimah lagi yang biasanya memang selalu panjang lebar dulu sebelum bener-bener sampai ke inti permasalahannya... wkwkwkwk... 😂

Berhubung aku lagi sedikit mendalami dunia parenting dan dalam rangka berbenah seperti yang aku ceritakan sebelumnya (kali ada yang tertarik, jadi sila klik aja link nya di atas yaak), maka yang aku tulis masi seputar ini laah...

Kali ini tentang kontempelasi diri, merenung, meresapi dan mempelajari soal 'rasa' yang muncul di hati... Iya, tentang rasa... karena wanita lebih mengutamakan rasa? Ahh lupakan dulu soal diferensiasi lelaki dan wanita tentang porsi rasa dalam mendominasi keputusan atau reaksi sikap yang dimunculkan atas sesuatu kejadian atau hal. Heuheu... Mari memberi kanal saja untuk rasa yang ada di hati... ☺😊

Setelah mulai sedikit berbenah, menjemput kembali yang tertinggal, mengilmui kembali yang seharusnya diilmui dari sedari dulu kala, berasa diri ini masih sangat jauh. Semakin digali, semakin berasa banyak rombengannya... Tapi, semangat itu benar-benar sangat fluktuatif. It's hard to maintenance the spirit in "therapeutic" window...

Ya, kadang terasa sangat bersemangat sekali... Tapi, di satu titik merasa lelah sendiri...

Fiiuuftt... Bismillaah...
(Pakek menghela nafas panjang dulu sebelum menuliskan ini... Sebagaimana memang menulis tentang ini tak mudah buat aku)...
Terkait artikel sebelumnya tentang berbenah, ada satu dari dua point yang paling urgent untuk dibenahi terlebih dahulu (yang mungkin saja keduanya saling berkaitan satu sama lain). Point pertama adalah emotion stabilizer dan point kedua adalah how to talk with kid and kid will listen (bahasa singkatnya: komunikasi). Nah yang menjadi perenunganku  adalah point pertama (tanpa menafikan pentingnya point kedua). Tentang emotion stabilizer.

Setelah melewati perenungan panjang, aku menyadari bahwa aku terkadang (dan mungkin cukup sering) berada pada titik labil emosi kepada anak. Bahasa sederhananya; marah dan emosi yang sulit dikendalikan 😣. Kadang hanyalah menyoal hal sepele (dan anak-anak tetaplah anak-anak yang belum megerti apa-apa, sedang belajar mengeksplorasi dunia). Dan, kemudian berujung pada penyesalan setelahnya (setelah cooling down). Buntut terseringnya adalah merasa down, merasa tidak menjadi ibu yang baik, merasa wanna escape and going alone far far far away untuk sesaat... Lalu satu pertanyaan muncul tanpa permisi, "hey! What's wrong with me... Kenapaaa aku beginiiii?"

Ketika masih single, aku merasa tak begini dulunyaaa... Jika pun ada emosi, tidak sampai sebegininya. Kenapa sangat mudah tercetus bahkan buat hal-hal yang sangat sepele sekalipun jika terkait soal anak? Astaghfirullah...
Selalu berjanji untuk memperbaiki, tapi kerap pula terulang lagi dan lagi! 😢

Setelah aku berpikir mendalam, kesimpulan yang aku kantongi adalah; bisa jadi aku berada di titik saturasi, bisa jadi karena kurang merasa menjadi diri sendiri di saat memang urusan di luar diri yang harus segera dipenuhi terlebih dahulu. Di saat merasa diri tak berarti dan tak berdaya guna. Di saat merasa sangat sangat sangat down... Bisa jadi aku sedang sangat mengantuk dan ingin tidur sementara kondisinya membuatku tidak memungkinkan untuk tidur... Bisa jadi... Bisa jadi... Bisa jadi... (banyak hal lainnya mungkin).
Selama ini support dari suami sangat membantuku dan sudah menjadi emotion stabilizer bjat aku. Big hug ketika down even not in down condition. Big appreciate even in a small achievement. Waktu untuk melakukan "me time". Great help di pekerjaan rumah tangga. Semua "pupuk jiwa" ini sudah diberikan oleh suamiku tercinta (Ma shaa Allah... Jazakallah wa Barakallahu fiik ya Zaujiy...). Tetiba ada satu kata yang tiba-tiba muncul menyoal ini dan cukup menggentayangi fikiranku: inner child!

Inner child. Kata yang sebenarnya sangat sulit untuk aku deskripsikan. Konon kabarnya, inner child (terutama untuk perasaan negatif) ini akan muncul ketika kita berada di situasi yang berat, jenuh, emosi dan kita akan mengekspresikannya sama seperti apa yang pernah kita alami atau menuntut kita "memenuhi kekosongan" yang sempat kita ingini atau kita butuhkan dulunya, jauh ketika kita belum mengingati sesuatu. Tersimpan rapi di alam bawah sadar kita, dan terpanggil kembali ketika kita menghadapi situasi yang sama ketika kita dewasa.

Ketika kondisi kita normal, mungkin kita merasa baik-baik saja. Yes, i'm OK. Ga ada yang salah dengan aku. Tapi, pada satu titik ketika kita merasa "out of control" mungkin kita akan bertanya-tanya pada diri kita "mengapa aku sebegininya", "mengapa aku mudah sekali tercetus marahnya", "mengapa aku sulit sekali mengambil keputusan", dan sederetan "mengapa aku..." lainnya. Dan kadang aku bertanya seperti itu ke dalam diriku sediri...

Tapi, aku sendiri merasa sejauh ini belum bisa menggali lebih dalam mengenai inner child ku. Aku belum berani untuk 'jujur' pada diriku sendiri untuk membuka lembaran memori lalu. Membiarkannya jauh jauh dan sangat jauh tersimpan dalam peti memori...
Tapi, dalam perenungan, tetiba saja pertanyaan pertanyaan itu muncul di relung hati. Butuh jawaban kah? Entahlah, sejauh ini aku masih missing tentang ini...

Bingung yaa bacanya? Haha... Iya. Maafkan, ini hanyalah sekedar kontemplasiku saja dan ketahuilah bahwa sebenarnya aku juga masih bingung dengan inner childku sendiri. Yang aku rasakan adalah aku membutuhkan emotion stabilizer yang bersumber dari diriku sendiri. Untuk emotion stabilizer external mungkin aku sudah dapatkan dari suami, tapi tetap saja aku membutuhkan emotion stabilizer internal; Mendamaikan inner childku sendiri sebelum menjadi pendidik dan pengasuh yang baik untuk anak-anakku.

Setiap orang (ibu) pastilah ingin menjadi lebih baik dan ingin menghasilkan generasi yang lebih baik dari dirinya. Setiap orang (ibu) pastilah tidak ingin mewarisi dari generasi ke generasi tentang inner child yang buruk dan emosi negatif yang pernah ia terima... Dan pertama kali yang seharusnya ia lakukan adalah "mendamaikan inner child nya sendiri".

Aku in shaa Allah ingin bahas lebih jauh lagi soal emotion stabilizer ini. In shaa Allah di lain waktu... Karena ini judulnya adalah self contemplation, maka aku murni menuliskan tentang kontemplasi saja dan tak ingin berpanjang-panjang merumuskan solusi di sini... 😄

Read More

Cita-Cita Sangat "Sederhana"

Disclaimer:

Konten ini berisi curhat colongan. Isinya panjang kali lebar kali tinggi (volume dong yaa?!). Jadii, harap berpikir-pikir dulu sebelum membaca lebih lanjut! Jika masih tetap ingin membacanya, harap siapkan segelas teh, secangkir kopi, atau cokelat hangat di musim hujan atau musim gugur ini. Jangan lupa sepiring camilan. (Lagian siapa juga yang baca sih Fathel? wkwkwkwk... gede rasa ajah aahh).

Baiklah, kali ini mungkin aku akan sedikit berpanjang lebar. Dan itulah bahagianya punya blog yang pengunjungnya bisa dihitung jari. Hanya orang-orang serius sajalah yang akan rela mengetik URL dan mampir di mari. Maksudnya, kalo ga serius ga usah mampir apalagi ngomong sama orang tuanya buat ngelamar... itu PHP namanya.. #ehhh...
Jadi, karena ga harus 'berinteraksi' apalagi nungguin likers wkwkwkwk, dengan blog kita bisa bebas berekspresi. Suka-suka mau bikin apaa, pure from the bottom of the heart... Makanya, blog selalu lebih mempesona buat aku ketimbang eksis di dunia medsos (dan udah mencapai titik saturasi juga kali yaa untuk bermedsosan yang dulu memang pernah mengalami masa jaya. Apa-apa di share ke medsos. Apa apa di curhatin ke medsos. Ahh, pengen nutup muka pakek niqob ihrom kalo inget masa-masa alay ini... Hihihi..).
Lho..lho... ini malah mukaddimahnya terlalu panjang kayak tali telepon yak. wkwkwkwk...

kembali ke judulnya, Cita-cita sangat sederhana.
Mendengar kata sederhana (apalagi dibubuhi kata 'sangat'), kira-kira apa yang ada di pikiran kita dan kebanyakan orang?
Mungkin kata-kata yang tepat untuk mewakilinya adalah simple, gampang, mudah, tidak butuh banyak efforts, bisa sambil lalu, hmm.. apalagi yaa? Bahkan salah satu soal ujian di pelajaran matematika zaman SMP atau SMA berbunyi "sederhanakanlah persamaan berikut!" yang berarti persamaan yang terlihat rumit itu diuraikan menjadi bentuk paling sederhana.
Ya begitulah si sederhana (salah satu pengecualiannya adalah sebuah nama rumah makan yang bikin saku ga sederhana sih).
Tapi, sebagaimana si rumah makan itu, begitulah sederhana. Tak selamanya sederhana itu mudah, simple dan tak butuh efforts. Ada sederhana yang sangat rumit. Ada sederhana yang sangat tak mudah. Salah satunya (selain nama si rumah makan) adalah sebuah cita-cita.

Cita-cita sangat sederhana.
Jika aku dulu ditanyakan, "apa cita-citamu?". Ketika setiap teman-teman seperkuliahan yang memang kebanyakan perempuan menjawab ingin menjadi pharmacist ini, pharmacist itu (pharmacist banyak bidangnya lho fyi!), aku menjawab spontan "Cita-citaku sangat sederhana, ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik. Lalu, cita-cita sampingan ingin menjadi farmasis yang berdaya guna."
Dulu... Duluuu sekali... satu dasawarsa yang lalu. Jika kamu iseng mengetikkan keyword 'Ibu rumah tangga yang baik' di blog ini, maka kamu akan menjumpai banyaaaak sekali tulisan-tulisanku (yang semoga ga kebanyakan alay ala anak mahasiswa) yang bertajuk ini. Kayak macam udah pakar aja... Padahal asline yoo ndak berilmuuu aku ini. Kalau aku baca lagi, sungguh aku jadi malu pada diri sendiri. Tentang apa yang sudah kutuliskan. Tentang keidealisanku yang waktu itu masih jadi penonton, bukan pelakon. Komentator, bukan pemain. Ya, tolong dimaafkan saja yaa. Maklumilah mahasiswaa, sangat idealis, belum berjumpa dunia nyatanya.

Ya begitulah. Aku, meskipun dulu sangat menyukai dunia parenting, membaca berbagai buku pengasuhan anak, tetap saja merasa menjadi ibu rumah tangga itu bukanlah hal yang mudah dan aku merasa sama sekali tak memiliki bekal apa-apa. tetap saja masih sangat sangat sangat sangat sangat.... sangat jauh dari sosok ibu rumah tangga yang baik. Menjadi ibu rumah tangga sama sekali tidak semudah dan sesederhana pengucapannya. Sama sekali tidak sesimpel yang aku bayangkan dulunya. Dan mungkin jauh lebih susah dari pada menjadi quality assurance staff even manager di sebuah industri obat, menjadi clinical pharmacist yang handal di sebuah rumah sakit besar yang hafal sepuluh ribu macam obat berikut drug related problem nya. Ah, menjadi ibu rumah tangga lebih rumit dari itu menurutku. Memiliki cita-cita sangat sederhana: menjadi ibu rumah tangga yang baik benar-benar tidak mudah, butuh efforts yang banyak, tidak simple, complicated, butuh kesabaran tingkat tinggi dan sangat butuh ilmu!

Menjadi ibu rumah tangga menurut pandangan orang kebanyakan (apalagi ibu-ibu jaman dulu kali yaa) bukanlah hal yang perlu diistimewakan. Hal biasa. Bisa sambil lalu. Atau sesuatu yang harusnya begitu, sudah kodratnya. Ga butuh apapun koq. Tinggal jalani aja.
Ah, ternyata cara berpikir seperti inilah yang ternyata sudah salah sejak awal. Banyak orang (terutama di kampungku, entah di kampung atau kota lainnya) berpikir bahwa menjadi ibu rumah tangga itu sudah seharusnya, tapi bisa memiliki pekerjaan yang bonafid, itu baru istimewa. Sebutlah menjadi PNS (sebuah prestise yang bonafid ala kampungku dan aku pernah sekali ikut tes PNS juga hihihi dan meskipun pada orang jaman now menjadi PNS sudah disebut cita-cita jadul ketinggalan jaman hehe) tetap menjadi sesuatu yang dikejar. Ya, aku juga tidak bisa menggenaralisasi untuk semua orang tentunya. Ada orang tua tunggal yang mau tak mau harus bekerja menghidupi anaknya. Ada orang yang sangat sangat membutuhkan pekerjaan yang diluar kondisi normal. Aku sedang bicara tentang persepsi ibu rumah tangga dalam konteks secara umum dan kondisi tanpa pengecualian.
 
Mengapa aku bisa mengatakan bahwa menjadi ibu rumah tangga jauh lebih rumit dari pada menjadi quality assurance manager di sebuah industri obat, menjadi clinical pharmacist yang handal di sebuah rumah sakit besar yang hafal sepuluh ribu macam obat berikut drug related problem nya? Seperti yang dijelaskan oleh temanku (aku hanya mengutip dengan menggunakan bahasa sendiri) bahwa generasi sekarang dipersiapkan bukan untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik tapi dipersiapkan untuk menjadi wanita karir. Meningkatnya taraf pendidikan (dengan banyaknya wanita yang bersekolah hingga tingkat lanjut) serta merta membawa dampak bahwa wanita lebih siap menjadi ekonom,akuntan, scientis, arsitek, dokter, farmasis, bidan, perawat, engineer, guru, dari pada menjadi ibu rumah tangga. Apalagi dibubuhi dengan cara pandang menjadi ibu rumah tangga adalah sesuatu yang seharusnya secara kodrat mesti dilalui, bukan dipandang sesuatu yang mesti dipersiapkan dan diilmui.

That's what happen to me. Alhamdulillah Allah kabulkan cita-citaku untuk menjadi ibu rumah tangga (yang masih tertatih-tatih menuju baik). Sejujurnya, setelah menjadi pelakon bukan penonton; pemain bukan komentator, aku merasa lebih siap untuk menjadi clinical pharmacist dari pada menjadi ibu rumah tangga. Sebab, menjadi farmasis, aku sudah dibekali dengan ilmunya hingga bahkan 7 tahun! Tapi ketika menjadi ibu rumah tangga ternyata masih banyaaaaaaaaaaaaak dan sangaaat banyaaaaaak (entah butuh berapa huruf A lagi untuk menyatakan banyaknya) ketertinggalan yang harus aku kejar. Bahkan aku yang sudah membaca banyak buku tentang mendidik dan mengasuh anak dulunya pun, sekarang merasa menguap entah di mana itu isi bukunya. Aku merasa sama sekali tak punya bekal. Aku tak punya ilmu. Aku sungguh butuh ilmu dalam menjadi ibu rumah tangga. Dan semakin kusadari betapa menjadi ibu rumah tangga benar-benar sangat butuh persiapan, jauh melebihi karir lainnya. Menjadi ibu rumah tangga lebih dari sekedar memastikan obat layak dipasarkan atau tidak, melainkan menyiapkan sebuah miniatur peradaban. Sebuah lingkungan, hingga negara yang baik pastilah terdiri dari kumpulan-kumpulan keluarga-keluarga yang baik. Bukankah ini tugas yang berat?! Obat yang diproduksi boleh jadi cuma satu jenis yang diproduksi masal, tapi setiap anak yang lahir sungguh sangat personalize perlakuannya. Mereka unik. Mereka tak sama, bahkan dengan kita sebagai ibunya sekalipun. Apakah hal ini tak butuh disiapkan? Obat yang rusak dan tak layak dipasarkan, masih bisa diretur, masih bisa dibuat ulang, tapi generasi yang sudah terlanjur rusak? Dapatkah kita meng-undo nya? Dapatkah kita mengembalikan waktu dan mengulangi pembenahan dari awal lagi? Ahh, lagi-lagi, menjadi ibu rumah tangga bukanlah sesuatu yang kodrati semata, tapi sesuatu yang benar-benar harus diilmui sekaligus DIPERSIAPKAN!

Ya... Ya... Ya... Sekali lagi, aku benar-benar merasa sangat tertinggal jauh. Ada banyak yang missing dari persiapanku dulunya. Aku tak bersiap ketika ada kondisi di mana harus menghadapi sesuatu yang berulang yang mungkin terkadang membuat jenuh. Aku tak bersiap menghadapi karakter setiap anak yang sangat unik. Tak ada perpustakaannya. Tak ada bukunya. Yang ada hanyalah kisi-kisinya saja. Guidance yang diberikan agar tetap pada right path. Aku tak bersiap dengan selaksa kesabaran yang kadang (atau sering) kehabisan stok dan butuh renewal terus menerus. Aku tidak bersiap dengan perangkat emotion stabilizer yang membuatnya tetap stabil ketika banyak sekali pencetus-pencetusnya. Ahh... jika dilist satu persatu di sini, mungkin space postingan blog ini tak cukup untuk menampungnya, saking banyaknya persiapan yang harus dibenahi.

Ya begitulah cita-cita sederhana yang pada kenyataannya sama sekali tak sederhana. Banyak hal yang perlu dipersiapkan, dibenahi, dipelajari. Tentang bagaimana tetap memaintenance kebahagiaan di banyak kelelahan, kesalahan, ketidaksabaran, dan semoga bukan keputus-asaan--na'udzubillah. Semisal melakukan sesuatu yang berulang, pada titik jenuhnya, syaithan merayu, "Ahh Fathel, coba dulu kau terima saja tawaran menjadi dosen", "Coba kalau kamu sekarang bekerja di farmasi klinis, bidang yang kamu sukai, ilmumu pasti jauh lebih bermanfaat. Hidupmu pasti lebih menyenangkan". Atau menghembuskan rasa iri ketika melihat teman-teman seperjuangan lanjut sekolah lagi, ikut seminar ini dan itu. Ah, selalu saja banyak cara bagi syaithan untuk merenggut rasa syukur kita dan membuat apa yang orang lain miliki tampak indah. Padahal, kita saja yang kurang melihat segenap karunia-Nya pada diri kita yang membuat kita sedikit sekali bersyukur.

Masa berlalu begitu cepat. Tak berasa, Aafiya anak pertamaku sudah mencapai 3 tahun. Tiga tahun ini masih banyak kesalahanku dalam mendidik, mengasuh dan membesarkannya. Tiga tahun ini, yang sebenarnya tahun-tahun emas tapi penuh rombengan sebab kurangnya ilmu, sedikitnya sabar dan minimnya syukurku. Semoga belum terlambat untuk berbenah. Smoga belum terlambat untuk kembali menjemput bekal yang tertinggal; persiapan yang seharusnya sudah dimulai jauh-jauh hari dulunya. Bukan jauh-jauh hari lagi seharusnya, tapi jauh-jauh tahun. Ada banyak sekali PR ku. Ya, aku butuh mengilmui segala sesuatu untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik.

Support dari suami selama ini benar-benar sangat-sangat membantuku melewati dan in shaa Allah sedan dan akan menjalani masa-masa pengasuhan ini. Selain masa-masa ini sangat wonderful, penuh kenangan, dan sangat membahagiakan ketika melihat perkembangan anak, juga ada masa-masa lelah, masa berat, masa jenuh, masa merasa tak punya banyak waktu. Percayalah, bahwa pelukan sesering mungkin, bercerita berdua meng-kanal-kan isi hati, dan waktu me time adalah hadiah yang tak ternilai harganya, intangible value prize yang diberikan seorang suami kepada istrinya. That's what my husband do. Give me many hug and time to speak only both of us about everything that's happen or what i feel (baca: denger curhat istrinya). And also at least 2 hours per day to do "me time". It's really-really kind of encouraging for me... Membantu jiwa tetap segar, memaintenance kebahagiaan. Me time berarti ayah bermain bersama anak, itu juga memiliki dampak positif kelekatan anak bersama ayahnya, dan menghadirkan peran serta ayah dalam pengasuhan. Doble-doble prize deeh.. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah... Ma shaa Allah tabarakallah.. Jazakallahun khair katsir Zaujiy...

Bismillaah...
Mulai berbenah, menjemput bekal yang tertinggal dan melangkah!
Smoga cita-cita menjadi ibu rumah tangga yang baik bisa tercapai dan terwujud.
Sungguh, tak perlu jauh-jauh mencari kebahagiaan. Ada di sini, di hati. Dengan banyaknya rasa syukur atas segenap karunia-Nya, itulah kebahagiaan yang sesungguhnya. Menyukuri setiap garisan yang ditetapkan-Nya dan mencoba menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Di luar sana, banyak orang yang masih memimpikan memiliki anak, anak yang aktif dan ceria. Kita, tinggal menjalani saja, masihkah banyak keluh kesah? Bersyukur... bersyukur... bersyukur.... Dan juga bersabar...bersabar...bersabaar... Ini masa tidaklah lama. Sebentar saja. Waktu berlari sangat kencang. Oleh sebab sebentar itulah, kita harus memperlakukannya dengan sebaik-baik perlakukan. Agar masa tak berlalu sia-sia. Lalu bagaimana kita mempertanggungjawabkannya, jika hanya catatan sia-sia yang kita punya. #justselfreminder

Read More