Krucils with Piama
Suhu 7° C pagi itu. Anak-anak masih terlelap oleh sebab malamnya baru tidur jam 12-an. Tapi kami harus berangkat untuk pijet [baca: fisioterapi] baby Maryam. Antara bimbang dan ragu untuk membawa mereka (dua kakaknya Maryam) yang masi tertidur pulas. Ada opsi untuk meninggalkan mereka berdua tidur di rumah. Toh jarak ke RS cuma 8 km. Fisioterapi juga biasanya cuma 15 menitan. Dan lagi klo tidur telat, biasanya pagi juga belum bangun (pola tidur yg mesti diperbaiki yaa. Ntar kapan2 cerita soal perjuangan menormalkan pola tidur merekaa yaa...). Kendatipun banyak alasan yg sebenarnya menguatkan mereka untuk ditinggal saja, Tapiii... ga tega. Gimana kalo terbangun dan nyari emak bapaknya. Haduuhh pasti panik anaknya.
Sebenarnya mungkin bisa saja ayahnya pergi berdua sama Maryam aja. Tinggal ditaro di carseat dan ayahnya bisa bebas nyetir. Tapii., agak susah kalau si baby mau nenen dan nangis kejer. Bisa-bisa ayahnya malah ndak konsen nyetirnya.
Akhirnya diputuskan, anak-anak diangkut aja. Nanti pas di RS aku nunggu di parkiran bersama di duo uni, ayahnya ke fisioterapist bawa Maryam. Deal.
Anak2 diangkut masi dengan piama, dan bahkan juga dengan selimutnya masing-masing. Hihi... Lalu ditaro di carseat masing-masing. Beres. Berangkat.
Rumah sakitnya terdiri dari 3 basement (basement 1, 2 dan3) dan 4 lantai gedung (ground, 1, 2 dan 3). Lantai ground khusus utk fisioterapi. Sedangkan kami parkir di basement 1 persis di depan pintu menuju lift. Di lantai basement jg ada absensi finger print sebelum menuju lift.
Pagi itu kami (anak-anak sudah terbangun) menyaksikan orang-orang bekejaran dengan waktu, mengejar absen agar tepat waktu. Ada yang terburu-buru dan bahkan meninggalkan begitu saja mobilnya yang masih menyala dan pintu yang terbuka lebar demi absen finger print. Jika ada yang berniat jahat, tinggal dibawa lari aja tuh mobil... 🙈🙈🙈... Alhamdulillaah di sini relatif aman (tapi ga juga bisa dikatakan bebas dari pencurian lho yaa).
Ah iyaa... pelajaran buat diri sendiri: untuk absensi dunia yang waktunya ditentukan oleh manusia saja, kita berlari dan berusaha untuk mengejar agar tepat waktu agar bonus atau gaji ga dipotong, agar performa bagus bisa naik pangkat atau tujuan lainnya. Tapi ketika aturan-Nya dan waktu yang ditetapkannya berlaku, apakah kita juga menyegerakan diri?! Astaghfirullaah... astaghfirullaah...
Nah sampailah aku pada masa di mana ketika Aafiya berkata "Bunda mau pipiis".
Haduuuhh... tak ada toilet di basement. Mau ga mau harus ke ground floor. Tapiii, anak-anak masih ileran. Masi pakek piama tidur. Hadudududu... Mau ga mau akhirnya kami menuju toilet. Berusaha mengabaikan tatapan heran orang yang sudah rapi tentunya. Ga pada pakek piama dan wajah baru bangun. Hehehe...
Pas mau balik lagi ke basement dr kejauhan aku liat mirip Rosaline, perawat dokter obgyene ku. Buru-buru aku masuk lift sebelum benar-benar papasan sama dia. Untungnya lift juga langsung terbuka. Ehh ga dinyata pas lift terbuka; triiiiing... Rosaline nya juga menuju lantai basement. Kirain mau ke lt1 (ruang klinik dokter obgyene ku). Tapi ternyata mau ngabsen juga. Aaakk.. pertemuan tak terhindarkan lagi.
Saling sapa hi, nanyain kabar. Kentara sekali wajah Rosaline heran, ngapain aku ke RS dengan bawa anak yang masi berpiama. Xixixi... "I m so sorry Rosaline, they just wake up." (Sambil masang wajah sok innocent plus nyengir. Tengsin juga sih). "No problem, fathelvi. Noo problem". Jawabnya. Rosaline adalah perawat berkebangsaan philipine. Dia sangat ramah.
Aahh iya yaa... Berpiama bukan dosa. Masi kucel juga bukan dosa. Apalagi masi anak-anak. Mengapa harus malu. Malu lah jika kita memang berbuat salah. Seharusnya tak perlu malu... hehehe...
*Tulisan ini ditulis setelah ditinggal2 beberapa kali.. jadi udah lupa apa yang mau ditulis... kekekeke... Maklum, emak beranak 3 ini emang lagi rada hektik. Kekekeke...
Januari 2019
Januari.
Sudah januari lagi.
Begitu cepat waktu berlalu.
Meski Januari adalah bulan di mana aku dilahirkan lebih dari 30 tahun yang silam, di mana momen ulang tahun bukanlah momen spesial buatku dan sama sekali tak perlu dirayakan, tetap saja memasuki Januari artinya berganti tahun masehi, dan juga yang pasti semakin berkurang usia. Semakin berkurang jatah waktu untuk berbuat kebaikan. Sejatinya, setiap detik yang terlewat, semakin mendekatkan diri kita pada kematian. Sudahkah mempersiapkan sebaik-baik bekal? Atau masi lalai dengan kemilau dunia yang melenakan?! Astaghfirullaah...
Begitu cepat berlalu. Manusia-manusia bisa berubah. Dahulu, mengenal internet barulah seusia SMA. Sekarang? Bocah saja sudah tau. Arus informasi menderas. Tinggal bagaimana memfilter. Dahulu, ingin mendapatkannya sulit. Sekarang, memilah-milahnya yang sulit. Sulit membedakan antara hoax dan real. Jaman abu-abu berkabut kah?
Beberapa hari yang lalu talking heart to heart bersama Aafiya; apa yang Aafiya ga suka dari bunda dan sebalinya, apa yg bunda ga suka dari Aafiya. Maksudnya di sini adalah sesuatu yang harus masing-masing kita ubah. Semacam resolusi buat kita berdua. Aafiya said, "Aafiya ga suka kalau bunda liat HP terus. Dan di depan laptop terus (mendesain)."
Ahh.. anakku sayang. Iya benar, seharusnya bunda ga nge-HP terus ya Nak... In shaa Allah yaa Nak... jadi resolusi kita berdua... Kalau untuk laptop mungkin bunda harus curi-curi waktu nih. Hehe...
Ah iyaaa...
HP sekarang rasanya menjadi candu yang harus segera di withdrawal, boleh dengan tappering off atau direct withdrawal. Dunia zombie, kata orang. Di mana masing-masing sibuk dengan "dunia tak bertepi dalam genggaman". Tak peduli sekeliling. Kadang aku merasa berada di pusaran ini. Ya Salaam... Astaghfirullaah. Meskipun ga begitu aktif di media sosial seperti facebook dan instagram seperti kebangakan orang-orang, tapiii ada satu aplikasi yang bikin candu bernama wattpad. Sepertinya gadget management nya harus disetting ulang lagi nih.
Aafiya, memang tidak kubiasakan dengan gadget. Jatah menggunakan gadgetnya (baik itu laptop, maupun HP) sehari cuma max 20 an menit untuk menonton tayangan pre school. Tapii, Aafiya lihat aku pegang HP kan yaa... Jadi emaknya mesti dibenahi dulu nih.
Ini masa-masa struggle untuk bonding bersama anak. Agar kelak, semoga Allah dekatkan hati mereka kepada kita. Bukan kepada yang lain (teman, lingkungan, pergaulan). Masi tertatih-tatih. Smoga amanah-amanah yang Allah titipkan ini yang merupakan hadiah sekaligus ujian dapat terdidik dan terasuh dengan sebaik-baik pengasuhan. Karena tak dapat di-undo masa-masa pengasuhan ini...
Kemarin, sempat cerita sama salah seorang teman yang baru datang dari Indonesia. Di Indonesia ia adalah working mom. Pagi berangkat, pulang malam ketika anak-anak sudah tidur. Anak-anak bersama khadimah sehari-harinya. "Baru dua minggu..." katanya "badanku terasa remuk redam. Ternyata jadi full time mommy itu beraaaatt bangeett. Kalo kerja ada istirahatnya. Ini klo sama anak-anaknya, mesti siaga 24/7. Aku acungin jempoool banget buat fulltime mommy."
Iya ini bukanlah tugas yang ringan. Mendidik anak, berarti mendidik generasi. Dan itu takkan berhasil kalau ibunya saja belum mampu memenej diri dan emosi. Dan akan useless pula tanpa supporting system yaitu dari suami yang menyokong dan terus mengisi tanki-tangki cinta dan semangat hingga full charged. Tentu saja tidak meninggalkan do'a dan juga kesungguhan hati untuk membelajarinya; ilmu pengasuhan.
Semangaaaattt...
Kapan-kapan aahh aku sharing soal ini, sekedar pengingat diri dan juga berbagi kemanfaatan. Biar januari ini ga absen postingan, meski ngepostnya udah injury time wkwkwkwk..
*bikin tulisannya udah dari 3 hari yang lalu, nyicil-nyicil.. hihihi...
Hanya Sebentar Saja
Siang ini, ketika mereka tidur, emaknye muhasabah. Iyapp, baru ditinggal tidur sebentar saja, rumah terasa sangat sepiiii. Biasanya ada suara celoteh mereka, suara ketawa, suara bertengkar, suara tangis. Lengkap. Ahh, sebuah tanya tiba-tiba hadir di jiwa, "Begini kah beberapa tahun lagi?" (jika Allah memanjangkan umur kami dan semoga umur yang barokah). Mungkin, hari ini, ketika mereka masih kecil-kecil, mengintil ke mana pun kita pergi, ada masa-masa di mana merasa pada titik saturasi, lelah, pengen menyendiri, pengen me time tanpa ada rengekan, suara tangis dan sederet paket lainnya. Tapi, aku menyadari bahwasannya ini tak akan lama. Sungguh, tak akan lama. Kelak, ada masanya sunyi. Sunyi. Sepi. Hening. Dan kita akan sangat sangat sangat teramat sangat merindukan masa-masa seperti ini. Masa di mana anak-anak masih heboh berteriak sana sini, ingin selalu dekat-dekat dengan kita. Mengikuti kita ke manapun raga kita bergerak. Kelak, ketika mereka memiliki dunianya sendiri, kita akan sangat merindukan masa-masa ketika mereka "merecoki" kita dengan berbagai hal khas anak-anak, ketika mereka mengajak kita bermain.
Rumah berantakkan penuh mainan, yang seketika dibereskan, seketika itu pula kembali berserakan, sungguh ini tak akan lama. Tak akan lama. Ada masanya ketika rumah rapi jali, tapi kita sangat merindukan ketika tangan-tangan kecil itu mengacak-acaknya kembali. Ketika mereka perlahan pergi meninggalkan kita, menjemput takdir mereka masing-masing. Bersekolah. Hingga kemudian memiliki keluarga mereka masing-masing. Maka kita akan terbata-bata mengeja rindu. Ingin kembali pada masa di mana rumah selalu ramai dengan kegaduhan mereka.
Ahh, sekian masa berlalu. Menoleh jejak ke belakang dengan segenap penyesalan. Ternyata diri ini masih jauh. Jauh dari kata "madrasatul 'ula" yang baik. Masih lalai. Banyak lengah. Sementara waktu-waktu berharga ini terus saja berlalu. Hanya sebentar saja. Hingga kita (diri ini) terutama tersentak dengan sesal. 'Ke mana saja aku selama ini??'.
Ahh, sekali lagi. Berbenahlah wahai diri. Waktu ini hanyalah sebentar saja. Berikanlah yang terbaik untuk mereka. Sebab pengasuhan takkan pernah bisa di-undo. Masakan tak enak bisa dimodifikasi. Desain yang kurang bagus, masih bisa diperbaiki. Menyia-nyiakan masa emas pengasuhan dan mendidik anak, dapatkah kita mengulanginya kembali?! TIDAK!
Ya, Rabb.... Tunjukilah kami, agar dapat menjalankan amanah sebagai orang tua. Ilhamkan dan pahamkan kami cara terbaik dalam mengasuh dan mendidik mereka. Agar kelak, ketika Engkau menanyainya, kami telah punya jawabannya...
| my Aasiya |
| My Aafiya |
| my Maryam |
Make Up The Kids Bedroom
Ini the most important thing deh pokonya. Kita ajah kalo ujug2 disuru pindah, pasti ga senang kaan? Apalagi kalo sudah di zona nyaman. Ga mauu dong disuru pindah tanpa sebab musbab. Apalagi anak yang di dalam masa kelekatannya. Kita kasi tau kenapa dia mesti punya kamar sendiri. Dengan alasan yang tentu bisa diterima logika anak seusianya tentunya. Meskipun kadang, aku merasa takjub ma shaa Allah dengan anak usia 3-4 tahun yang ternyata logikanya sudah jalan.
Anak seusia Aafiya ternyata sudah bisa bikin agreement. Dan, anak adalah sosok paling jujur ketika kita sudah bikin kesepakatan. Jadi, kita sebagai orang tua jangan jadi orang pertama yang melanggarnya. Misal, kita bikin kesepakatan untuk tidak makan di atas tempat tidur. Maka, sebagai orang tua kita tidak boleh melakukannya jika tidak ingin kehilangan kepercayaan dari anak kita. Tapi, ketika kita lupa dan tak sengaja melakukannya, jangan segan untuk meminta maaf kepada anak. "Maaf yaa Nak, bunda lupa. Harusnya kan ga makan di tempat tidur". Jangan malah mencari alibi atau pembenaran. "Bunda kan makannya ga berantakan kayak kamu, jadi bunda boleh aja makan di atas tempat tidur." Emaknya secara tak langsung mengajarkan ketidakkonsistenan dong yaa.. hehehe...
Ini niih bagian yang paling menyenangkan buat emak Aafiya. Hehe. Iyesss. Merias kamar anak. Bikin mural ala-ala di dinding. Nyoret-nyoret dinding, jait properti ini itu dan tempel. Kekeke... Salah satu daya tarik biar anak mau tidur di kamarnya sendiri adalah merias kamarnya secantik mungkin. Jangan lupa mengakomodir keinginannya, misal warnanya, gambarnya dll. Berhubung (entah kenapa dan sejak kapan) Aafiya menyukai Hello Kitty (yang emaknya ga ngenalin sama sekali hehe) dia request di dindingnya ada gambar hello kitty nya. Dan jadilah emaknya melukis hello kitty di dinding. Sebagian yang lain emang ide emaknya aja yang alhamdulillaah anaknya sukaa. Kekeke...
| penampakan dr pintu masuk |
| aafiya & aasiya's bedroom |
| pojok mainan |
Seminggu Berlalu
Seminggu berlalu setelah kelahiran baby Maryam. Seminggu ini pula aku begadang hehehe. Baby Maryam meleknya selalu dini hari. Iya sih pas masi di perut, anaknya berasa aktif kalau udah dini hari sampai menjelang subuh gituh. Hehe...
Selama seminggu ini pula Aafiya dan Aasiya hampir selalu bersama Ayahnya. Mulai dari mandi, makan, main, tidur... semuanyaa... Aku fokus bersama baby Maryam sekaligus memulihkan tenaga dan merecovery segala nyeri-nyeri mulai dari nyeri episiotomi yang ngilu-ngilu sedap hehe, nyeri kontraksi pasca lahiran yang aduhai banget di lahiran ketiga ini. Belum lagi nyeri menyusui karena ada luka juga. Hehe... Banyak bet nyerinya. Alhamdulillah Abu Aafiya cuti... tapi cuma request seminggu hiks. Ngerasa bisa in shaa Allah seminggu ajaa. Ehh ga taunya kelahiran ketiga ini beda banget dengan kelahiran sebelumnya. Tau begini, request nya kemarin cuti 2 minggu aja sekalian. Karena masi ada sisa jatah cuti harusnya. Hiks hiks... Alhamdulillah 'ala kulli haal.
Agak sedikit merasa gamang dan gagap nih ketika abu Aafiya akan mulai masuk kerja lagi ahad in shaa Allah. Pasca lahiran seperti yang aku ceritakan di atas, duo uni-uni (Aafiya dan Aasiya) hampir selalu bersama ayah mereka. Nah pas ayah masuk kerja, mau ga mau emaknya harus ngurusin ketiganya sekaligus kan yaa. Heuheu... Maklum di perantauan, lahiran di sini memang begini. Ga cuma aku, teman lain pun begitu. Kalau di kampung kan biasanya lahiran ditemani orang tua, banyak yg ngurusin. Nah kalo lahiran di luar nagari dan negeri, tentu apa-apanya mesti ngurus sendiri. Makanya kudu setroong hehehehe.
Kelahiran ketiga ini agak berbeda. Kalo kelahiran sebelumnya, recoverynya relatif lebih cepat. Luka episiotomi dalam 4 hari udah mulai terlihat membaik meski tanpa analgetik. Pas lahiran ketiga ini, luka episiotominya koq yaa lamaaa banget recoverynya. Hari ke-4 terasa ngiluuu banget sampai sedikit 'trauma' mau beraktifitas apalagi ke kamar mandi. Sebab kalau kena air nyerinya luar biasa. Huhu... Mau duduk juga susaah banget nyari posisi yang PW. Jadi, banyakan berdiri aja (lebih berkurang nyerinya), tapi lama-lama capek juga nyusuin sambil berdiri hehehe. Sempat sedih dan frustate jugaa kalo nyerinya begini, ngurus diri sendiri aja susaaah apalagi ngurus anak jugaa. Akhirnya aku ingat cream epicure yang dikasi konsultanku pas lahiran Aasiya dulu masi ada 1 yang utuh. Aku pakek buat gantiin krim yang sekarang, ehh ma shaa Allah... fast progress... Efektif banget dalam merecovery si episiotomi. Alhamdulillaah di hari ke-8 ini, bisa dibilang luka epis nya sudah ga begitu nyeri lagi. Paling ngilu-ngilu dikit lah.
Masalah lainnya ada di nyeri kontraksi pasca melahirkan. Adalah normal rahim berkontraksi lagi pasca melahirkan untuk meluruhkan sisa-sisa plasenta dan mengembalikan ukuran rahim ke size semula sebelum kehamilan. Tapi di kelahiran ketiga ini, kontraksi pasca lahirannya terasa jauhhh lebih nyeri dan lebih lama durasinya. Hingga tadi (hari ke-8) nyerinya masi terasa sangat sakit. Aku masi ingat pas masi di RS, nyeri kontraksinya bener-bener deeh ya Allah... sakiit banget sampai aku minta dobel pain killer. Beberapa malam yang lalu, nyerinya juga menghebat. Huhu... Dalam kondisi nyeri seperti ini, aku ga bisa pay attention ke siapapun even ke Baby Maryam. Huhu... Biasanya Abu Aafiya langsung ambil alih anak-anak. Ini kegalauan kedua ketika menjelang suami masuk kerja lagi.
Dengan kondisi baby Maryam yang selalu ngajakin begadang, aku merasa dizziness juga. Jadi, kalau baby Maryam lagi tidur, biasanya aku ikutan tidur. Naaahh, kalau sudah mulai ngantor, otomatis aku juga ga bisa tidur kaan karena ada Aafiya dan Aasiya yang butuh diberi perhatian jugaa, dipenuhi kebutuhan dasar mereka. Apalagi mereka sekarang lagi 'latihan' untuk memperbaiki pola tidur: bangun lebih pagi, tidur siang, dan tidur lebih cepat di malam hari (Pola tidur sebelumnya, mereka baru bangun tidur jam 9-an, nyaris ga pernah tidur siang dan malamnya tidur di jam 10-jam 11-an). Kan ga lucu kalo emaknya bangunin anaknya pagi2 trus emaknya lanjutt tidurr lagi karena abis begadang. Hehe...
Soal makan, beberes rumah, nyuci dan segala macam tetekbengek urusan rumah semua sudah dihandle sama suami.. ma shaa Allah jazakallahu khair katsir yaa Zaujiy 😘😘😘.
Kalo semua kelihatan susahnya aja, kapan senangnya dongs? Hehe... Iyaa, di kelahiran ketiga ini tentu saja ada sisi yang berasa mudah dan dimudahkan-Nya, ma shaa Allah tabarakallah.
Unexpexted, di kelahiran ketiga ini kami dapat kamar perawatan yang Suite Room. Ma shaa Allah, rizki baby Maryam ini... Alhamdulillaah. Sebelum-sebelumnya kami biasanya dapat yang Private Room. Allah Maha Mengetahui bahwasannya kami memiliki dua princess selain baby Maryam yang butuh ruangan yang lebih besar dan luas agar mereka nyaman di RS dan tidak merasa bosan 😊. Di kelahiran ketiga ini, alhamdulillah ada mba Tyas dan keluarga yang membantu menjaga anak-anak selama proses lahiran jadi suami bisa nemenin di LDR. Jazakumullaahu khair mba Tyas dan keluarga. Di kelahiran ketiga ini, tiga hari berturut-turut ada Mba Rahma Ummu Kautsar mengirimi kami makanan yang ma shaa Allah ladziiiz dan kami jadi ga repot harus beli makanan di luar ataupun masak. Jazakumullahu khair katsir buat mba Rahma dan keluarga. Dan Allah mudahkan pula urusan-urusan dokumen kelahiran Maryam, mulai dari sertifikat kelahiran dari rumah sakit, syahadah milad (semacam akte kelahiran dari catatan sipil saudi), proses pembuatan passport dan akte kelahiran dari KBRI yang in shaa Allah tinggal menunggu hasilnya. Mudah-mudahan nanti urusan iqoma juga gampang dan dimudahkan-Nya. Aamiin yaa Allah...
Di balik kesulitan pasti ada kemudahan! Aku harus yakin akan hal itu. Meskipun sedikit gamang menghadapi masa-masa Abu Aafiya mulai masuk kerja, seharusnya aku yakin pertolongan Allah itu jauh lebih dekat. Tiadalah kesusahan dan kesulitan melainkan ada kemudahan yang menyertainya...
Hayooo semangaattt!!!
Masa seperti ini tidaklah lama. Mumpung anak-anak masih dekat dengan emaknya dan bapaknya. Maka tak bolehlah sia-sia masa pengasuhan ini. Sebab, Akan ada masa anak-anak satu persatu meninggalkan kita menuju kehidupan mereka masing-masing nantinya. Jangankan setelah anak-anak menikah dan punya kehidupan sendiri, masa mereka sekolah saja mungkin sudah cukup membuat kita merasa sepi di rumah. Jadi, Masa-masa saat ini (yang mungkin terasa sulit sekarang) justru akan menjadi kenangan yang dirindukan nantinya. Jangan sampai sebuah penyesalan hadir ketika kita terlambat menyadari bahwa banyak waktu kebersamaan yang kita lewatkan begitu saja karena kita sibuk dengan dunia sendiri. Yuk ukir kenangan indah dengan sebaik-baik pengasuha , sebab masa ini tak tergantikan. Apalagi cuma terisi dengan liat henpon dan baca wattpad aja. Betapa sia-sianya waktuuu. Astgahfirullaah. NTMS tentu saja ini mah. Yuk menej lagi diri dan waktumu, Fathel!!!!!!
Pengalaman Luar Biasa Melahirkan Anak Ketiga
Alhamdulillaah, segenap syukur kepada Allah Ta'ala,
Telah lahir anak ke-3 kami, perempuan, Normal, 13-09-2018/3 Muharram 1440H jam 2.09 waktu Saudi (GMT+3) di DR Sulaiman Al Habib Ar Rayyan Hospital, Riyadh dengan BB/TB 3.180 kg/52 cm.
Mohon do'anya agar menjadi anak yang shalihah, bertaqwa, sehat, qurrata' a'yun, dan menambah bobot kebaikan pada dunia...
❤❤❤❤❤
Ketika menulis ini, adalah 10 jam setelah kelahiran anak ketiga kami, Maryam. Sudah leyeh-leyeh di bed dengan suhu pendingin ruangan yang kata Abu Aafiya sangat dingin, tapi terasa gak begitu dingin bagiku. Hehehe.
Setiap kelahiran, jangankan dari individu (ibu) yang berbeda, dari individu yang sama pun ceritanya bisa berbeda. Begitupun dengan kisah kelahiran kali ini.
Sedikit kilas balik, dulu pas anak pertama kami Aafiya, aku mengalami pembukaan 1 sejak 2 hari sebelum lahiran. Aafiya termasuk baby yang pre-term karena lahir di usia kehamilan 35 minggu. Kontraksi yang aku rasakan paling 'dahsyat' memang pas Aafiya sih yaa. Karena air ketubannya banyak. Jam 10 malam mengalami pecah ketuban. Setelah pecah ketuban, nyerinya makin berasaaa banget sampai aku sempat bilang, "udah ga tahan lagi". Petidin yang golongan narkotik aja ga ngaruh sama sekali sebagai pain killer. Tapi, ketika pembukaan lengkap, Aafiya lahir dengan sangat mudah alhamdulillaah... Cuma 2x mengejan. Itupun yang pertama kali mengejan karena aku salah mengejan. Hehe... Aafiya lahirnya juga kecil, 2.115 kg sahajaa... Dan sempat menginap di NICU semalaman untuk diobservasi.
Berbeda dengan Aafiya, pas lahiran Aasiya aku datang ke ER (emergency room) juga karena "penasaran" apakah kontraksi yang aku rasakan adalah labor pain bukan kontraksi palsu. Datang-datang masi bisa senyam-senyum. Nyerinya baru sedikit. Ehhh ternyata sudah pembukaan 3. Ketika ditransfer ke LDR (labor and delivery room), dipecahkan ketubannya oleh dokter (salah satu cara "mengakselerasi" persalinan adalah dengan metode memecahkan ketuban), baru deh nyerinya mulai menguat hingga sakiiiitt banget banget di mana aku meremas tangan suami sampai berubah jadi warna ungu 😆. Tapi sakit kontraksi pas lahiran Aasiya ga sesakit pas Aafiya deh. Alhamdulillaah. Cumaa, pas mengejannya lumayaan sih... agak sedikit lebih lama dari pada Aafiya. Sekitar 5x mengejan. Beratnya juga lebih berat; 3.150 kg di usia kehamilan persis 37 minggu (versi HPHT).
Pas baby Maryam ini, lebih banyaaak ceritanya. Dan totally berbeda dengan kisah kelahiran uni-uni nya. Baby Maryam paling sering ngajakin bundanya ke ER dan berakhir dengan PHP ekekekeke... Pas hamil anak ketiga ini, rekor ke ER sebanyak 5x! Ma shaa Allah...
Ke ER pertama kali pas minggu ke 26, kala itu aku merasakan nyeri yang nonstop seharian. Tepat di hari ke-23 Ramadhan. Setelah diobservasi alhamdulillah semuanya baik. Ke ER kedua adalah di minggu ke-35 di Idul Adha 1439 H (sudah aku ceritakan di postingan sebelumnya). Waktu itu aku merasakan nyeri kontraksi juga. Tapii, masi kontraksi palsu kayaknya. Nginep di RS karena ada indikasi detak jantung bayi yang tinggi. Sejak minggu ke-35 ini aku sudah merasakan nyeri kontraksi palsu ini.
Di minggu ke 36-37, nyeri kontraksi makin sering. Masih kontraksi palsu sebenarnya. Tapi, kontraksi palsu rasa asli hehe. Katanyaa, konpal dapat menghilang dengan beraktifitas atau beristirahat. Tapi aku merasakan nyeri yang ilang timbul sampai ke area punggung bawah. Juga nyeri di perut bawah dan area tulang paha. Mengingat anak2 sebelumnya lahir di usia kehamilan yang lebih cepat (35 & 37 week), maka aku pikir ini juga waktunya lahiran. Eehhh, pas sampai di RS setelah masuk ke ER malah nyerinya ilaaang. Kata dokter, aku sudah pembukaan 1. Aku tanya, seberapa lama lagi sampai pembukaan full? Kata dokternya, bisa 1-2 hari. Jadi, aku diperbolehkan untuk melakukan aktifitas seperti biasa.
Jika pas hamil Aafiya aku banyak jalan lalu anaknya lahir cepat, maka pas di Aasiya aku ga melakukan aktifitas banyak berjalan lagi untuk menghindari lahir cepat hehe. Aku pikir yg sekarang juga sama. Makanya santai aja ga memperbanyak aktifitas jalan kaki. Eehh ga taunya pembukaan 1 nya lamaa banget. Ada sekitar 9 hari. Di sinilah akhirnya kami baru start untuk memperbanyak jalan kaki. Sehari sekitar 3 km di jogging area taman Raudah. Selain itu, aku juga menggunakan birthing ball untuk bounching di atasnya.
Sempat merasa sedikit "frustate" dengan pembukaan 1 yang ga nambah-nambah. Kontraksinya hilang timbul. Tapi nyeri perut bawah berasa terus. Kayak ada sesuatu yang menyesakki tulang pelvis. Hehe... Kontraksi palsu rasa asli masi terus berasa. Tapi, kadang menghilang juga sih...
Naah, di minggu ke-38, aku merasakan kontraksi lagi yang lebih dari sebelum-sebelumnya. Datang lagi ke ER. Sampai perawat ER bilang, "hah? Kamu lagiiii???" Kekekeke. Kebetulan ketemu perawat yang sama yg lagi jaga di ER. Tapiiii, seperti sebelumnyaa ketika di ER, taraaa... kontraksinya ilang! Cuma ada 1 kontraksi yang asli, sisanya masi belum. Tapi polanya sudah mulai kelihatan. Kata dokternya, pembukaan sudah bertambah jadi 2. Dokternya bilang, bisa jadi cepet niih karena pola kontraksi sudah mulai kelihatan.
Di sini ga bisa sering2 ngecek bukaan tentunya. Ga bisa capcus pergi ke bidan terdekat hanya buat ngecek pembukaan. Datengnya yaa langsung ke ER rumah sakit. Daaan, kalau semisal belum ada kemajuan rasanya down lagi deeeh... 😆.
Ternyata pembukaan 2 juga berlangsung lamaaa. Yang awalnya aku pikir 1-2 hari bakal lahiran ternyata molor jadi 4 hari! Hari minggu-rabu. Nah kemarin (hari Rabu) aku merasakan pas pagi-pagi dini hari kontraksinya mulai agak teratur tiap 10 menit. Tapii, pas abis subuh sampai siang ilang timbul lagiii. Aku berpikir, "ahh ini paling kontraksi palsu lagi." Capek juga kaan bolak balik ke ER terus dan kalo harus pulang lagi, masi kontraksi palsu, itu bikin sedikit down heuheu... Sorenya sudah tiap 5 menit sekali. Tapi nyerinya yaa gitu-gitu ajaa. Ga yang nyelekit banget gituuh.. hehe. Aku WA suami, kata Abu Aafiya, yuks siap2 pulang ngantor langsung berangkat ke RS. Aku masi sempet nyuci piring, beberes kamar Anak-anak, mencuci baju, memandikan anak-anak. Begitu suami pulang, kontraksinya ilang lagiiii. Ya salaaam. Aku masi berpikir ini kontraksi palsu lagi kalii.. Jadii, ga ada pola yang teratur gitu lho.
Naah aku masi sempat tuh, ngerjain desain selebaran acara semarak muharam. Hihi... Tapi, pas ngedesain ini, kembali aku rasakan kontraksi yang lebih sakit dari sebelumnya. Pas enggak kontraksi masi bisa senyam senyum sih. Pas kontraksi udah meringis, hihi. Karena polanya yang masi belum beraturan, kadang rentang 5 menit, kadang 10 menit, kadang 7 menit trus 15 menit. Ga jelas banget kaaan... Makanya masi maju mundur untuk berangkat ke RS. Masi ngulur waktu dulu untuk memastikan kontraksinya bener-bener asli atau masi palsu rasa asli lagi. Hehehehe...
Karena sakitnya yang sudah lumayan berasa, meskipun kontraksinya masi ga reguler intervalnya, akhirnya kami berangkatlah ke RS. Selama di perjalanan ke RS, nyerinya mulai bertambah. Kata suami, "ini udah beda nih nyerinya." Dari remasan tangan, suami mendeteksi 'tingkat nyeri' yang aku rasakan. Di RS, nyari toilet dulu. Jalan dari toilet ke ER lumayan juga, aku sempat merasakan 3x nyeri. Pas di ER, mungkin mukaku udah kayak orang yang nyeri banget kali yaaa. Hihi... Masuk ER obgyene no 1, dicek sama dokternya sudah bukaan 3 menuju 4. "Hah? Baru Bukaan 3 nyerinya udah segini? Gimana entar bukaan 9?" Aku mencelos. Seingatku dulu pas lahiran Aasiya, bukaan 3 itu aku masi bisa ketawa ketiwi deeh.
Dokter ER memutuskan aku ke ruang bersalin malam ini juga (jam menunjukkan hampir jam 12 malam). Uniknya lagii, pas di ER malah kontraksinya yang tadi lumayan sering, jadi ilang lagi, cuma ada 1 kontraksi yang tinggi (diamati dari CTG). Aku mbatin, "hah? Koq setiap ke ER kontraksinya ga ada siih?" Tapi karena dokter sudah memutuskan untuk menginap di RS, jadi aku sedikit lebih tenang. Ga harus bolak-balik lagi.
Pas ke LDR (aku dapat ruangan di LDR 5, ruangan yang persis sama ketika lahiran Aafiya dulu. Kalau pas lahiran Aasiya ruangannya LDR 12), aku masi bisa senyam senyum dan belum ada lagi kontraksi sejak di ER. Tapi pas di cek sama dokternya, sudah bukaan 4.
"She's progress fast" komen dokternya. Aku senang banget ma shaa Allah kalo memang progressnya cepat. Pas dicek di LDR sudah bukaan 4. Tak lama kemudian bukaan 5. Dan... ma shaa Allah... aku benar-benar ga nyangka kalo dalam waktu 1.5 jam bukaannya sudah lengkap!! Aku sampai melongo pas dokternya bilang "completed"! Bisa dibilang ini kontraksi "paling menyenangkan" dari ketiga kehamilan yang aku rasakan. Aku ga menyangka secepat itu, alhamdulillaah. Mungkin karena nyerinya dah dicicil dr sebulan yang lalu yaa hehehe...
Perjuangan yang sesungguhnya pas lahiran Maryam adalah pas mengejan. Nge-push nya lamaaa bangeeett ga keluar-keluar anaknya. Ya Rohman. Lebih dari 10x mengejan kayaknya. Daan, menghabiskan tenaga banget.. ma shaa Allah. Setelah perjuangan panjang mengejan, lahirlah baby Maryam di jam 2.09 di usia kehamilan persis 39 week (versi HPHT), alhamdulillaah tsumma Alhamdulillaah...
Teknik "take a deep breath" benar-benar sangat membantu untuk mengurangi nyeri kontraksi. Alhamdulillaah. Aku juga lahiran bukan dengan konsultan yang biasa aku cek up karena dokternya ga bisa datang kalo tengah malam. Digantikan oleh konsultan lain yang in shaa Allah sama oke nya. Dokter asli Saudi. Dulu sempat nyeletuk sama suami pengen lahiran sama dokter Saudi (konsultan yang sebelumnya kebangsaan pakistani), alhamdulillah Allah kabulkan. Aku suka sama dokternya meskipun baru ketemu di ruang bersalin. Dokternya easy banget dan asyik, ma shaa Allah.
Akhir kata, tiada kata yang pantas aku ucapkan selain segenap kesyukuran kehadirat-Nya. Alhamdulillaah... Alhamdulillaah.... Alhamdulillaah bini'mah.
=====
Jazakallahu khair katsir ya Zaujiy, yang selalu siaga dan ada untukku ketika melewati perjuangan ini... Uhibbuka fillah ❤
Happy Cookies Cooking with Kiddoz
![]() |
| Anaknya lagi asyik nyetak kukis... emaknya bisa leyeh-leyeh 😜✌ |
Tapi dalam prosesi bikin kukis kali ini, di sini letak menyenangkannya. Mungkin bagi emak bukan hal yang mudah dan malah tambah rempong, tapi coba kita pandang dari sudut pandang anak. Bagi anak, kegiatan ini adalah kegiatan yang menyenangkan. Mereka terlibat mengerjakan hal-hal baru yang menurut mereka seruu. Terbukti dari Aafiya yang wajahnya sumringah dan ga sabaran pengen segera bikin cookies. Dia juga terlihat sangat enjoy menikmati proses bikin kukisnya. Jadi, meskipun jadi lebih repot, melibatkan anak dalam hal ini membahagiakan bagi mereka... ma shaa Allah...
![]() |
| Kukis aafiya alhamdulillah done |
![]() |
| Ada yang mau?? 😉 |
My 3yo Princess's Painting
Suatu ketika, aku lagi sibuk masak (masi aja tema masak memasak yaak ekekekeke). Trus Aafiya aku bekali kertas sama pinsil aja di ruang keluarga (ruang sholah namanya kalo di sini). Karena posisi dapur dan sholah itu sendiri bersebelahan, jadi memungkinkan aku untuk sesekali liat Aafiya sambil memasak.
Tetiba Aafiya bilang, "Bundaaa coba liat gambar unii..."
Akhirnya aku liatlah gambar anaknya.
Ma shaa Allah... Takjub ketika menyaksikan untuk pertama kalinya gambar Aafiya ada bentuknyaa... 😍😍😍😍 Ma shaa Allah... ma shaa Allah....
Memang sih beberapa waktu sebelumnya kita sempat bebikin gambar (sering banget malah sih. Soalnya buat Aafiya ini aktifitas yang menyenangkan). Ditambah lagi, alhamdulillaah kita memang menerapkan free gadget untuk balita di rumah, jadii aktifitasnya yaa main, orat-oret, dll. Hihihi...
Aafiya mulai terlihat kalo anaknya spasial. Mudah menghafal jalan dan memiliki tendensi di sesuatu yang berbentuk ruang. Anak 3 tahun ini, ma shaa Allah sudah bisa protes ke ayahnya, "Ayah, koq kita lewat sini. Kan harusnya lewat jalan yang sanaa" 😂
Duuh... Yang sabar yaa Ayaaah... 😁
Tetiba nyeletuk, "ini arah jalan pulang ke rumah kan Ayah, kan kita mau ke KUDU" (nama sebuah restoran cepat saji), padahal kita jalan di malam hari. Kebetulan jalan tersebut jalan yang kita tempuh sepulang dari Lulu Hypermarket 😁😃.
Di sini, aku hanya pengen "mengabadikan" aja gambar bersejarah (bersejarah buat IMore Family) dan beberapa hasil gambar Aafiya lainnya...
Pengalaman Menyenangkan di Saqr al Jazeera Aviation Museum
![]() |
| Depan museum aviation |
Sabtu lalu kami ke Saqr al Jazeera Aviation museum. Dari namanya aja pasti sudah bisa ditebak kaan. Yap, ini museum penerbangan. Daan ma shaa Allah, really great experience. Aku masih tak bisa melupakan wajah Aafiya yang sangat excited lari kian kemari dan memegang pesawat yang awalnya agak rada takut (mungkin canggung juga).
![]() |
| Pesawat tempur |
Nah kalo museum aviation ini sebenarnya juga sudah lama aku tandai di "to do list" dan sudah aku tandai juga di salah satu list "want to go" di gmaps. Tapi baru terwujud sabtu lalu. Sebenarnya, secara lokasi ga begitu jauh dari rumahku. Hanya sekitar 17 km. Tepatnya di eastern ring road, salah satu jalan tersibuk di kota Riyadh yang kalo diliat jam berapapun di gmaps, tetep warnanya merah alias jalur padat kendaraan. Hehe... Ya wajar sih, karena jalan ini menghubungkan banyak jalan lainnya dan juga jalan utama menuju bandara (walaupun banyak jalan sih menuju bandara hehe).
![]() |
| Salah satu pesawat penumpang yang dipajang di halaman, pesawat yang lebih besar ada di sisi halaman yang depan |
Begitu datang kami disuguhkan dengan pemandangan pesawat penumpang besaaar yang "parkir" di halaman museum. Ini memang pesawat asli sih. Hehe... Bukan pesawat tiruan maupun miniatur. Dan ternyata di sisi halaman lain, ada banyaaaak sekali pesawat-pesawat lain yang dipajang di area luar. Semuanya adalah pesawat yang asli. Bukan pesawat miniatur. Mostly adalah pesawat tempur kerajaan. Mungkin yang sudah tak dipakai lagi, ditaruh di sana. Heuheu...
![]() |
| Di depan pesawat... untung ga lagi take off yaa pesawatnya 😂 |
Ada juga pesawat pelontar bom, pesawat pengintai (yang warnanya hitam semua), pesawat yang seat nya cuma 2 orang. Waaaa, ma shaa Allah excited banget liat pesawat tempur ini dari dekat, bisa megangin yang selama ini cuma liat di TV atau sekedar lewat di langit pas naman. Hehe...
![]() |
| Di depan pesawat |
Di Bagian dalam gedung museum, ini jauh lebih menarik. Pesawat yang dipajang di sini juga adalah pesawat asli dan sebagian lagi miniatur pesawatnya. Juga ada pajangan, banner, beberapa tontonan dan tayangan, dan lain sebagainya. Di sini dijelaskan juga sejarah perkembangan dunia penerbangan khususnya Royal Saudi Air Defense dari era establish hingga era modernize. Ada tayangan-tayangannya juga mulai dari bagaimana assembly pesawatnya, bagaimana perkembangan era penerbangan di Saudi khususnya Royal Air Force, pesawat evakuasi dan lain-lain. Seruuu ma shaa Allah...
![]() |
| Dikelilingi pesawaaaat tempuuurr 😅 |
Di museum ini juga ada pesawat tahun 1920-an (bener-bener aslinya, bukan duplikatnya) yang jadul banget di era pesawat dulu baru-baru ada yang baling-balingnya saja masih dari kayu dan rodanya masih kayak roda sepeda 😅. Menurut tayangan videonya, ini dipake sama pihak kerajaan jaman dulu. Penumpangnya juga ga banyak. Ada 3 pesawat jadul, keluaran tahun 1920-an dan 1930 yang dipajang di sana. Aku sempat pegang pesawatnya meski dibatasi tali merah. Hihi... jangan ditiru yaak... 😁
![]() |
| Pesawat jadul keluaran tahun 1920-an, balingnya dari kayu dan rodanya kecil banget, kayak roda sepeda kataku 😂😂😂 |
Di space cornernya kita bisa tau kalau ternyata muslim pertama yang ke bulan itu adalah seorang pangeran kerajaan sini yang secara usia juga masih muda. Diliatin juga bagaimana dia shalat di pesawat jet tersebut.
![]() |
| Kalo ga sempet foto depan saudia di bandara, di sini juga boleeeh 😂 |
Jika kita ingin membaca dan menonton tayangan di setiap section museum ini, kayaknya butuh waktu sekitar 4 jam an atau lebih. Kita aja yang 2 jam di museum ini tak bisa membaca dan melihat semua tayangan ini dengan seksama. Paling cuma sekilas-sekilas saja. Apalagi bawa 2 balita. Heuheu.... Alhamdulillah, Aafiya sangat sangat excited. Senang banget liat pesawaaat dianya. Dan dalam 4 hari ini, ceritanya masih seputar pesawat yang dia lihat di Saqr Al Jazeera Aviation Museum.
![]() |
| Serasa kenaal deeh sama kapten pesawat yang satu ini... wkwkwkwk... kenaaal banget malah 😂😁 |
Bagi yang berdomisili di Riyadh, mengunjungi museum ini (khususnya yang punya anak usia sekolah dan pra sekolah) sangat worth lah. Wong Emak bapak juga seneng liat beginian. Apalagi anak-anak. Hehe... Tapi khusus hari Selasa dan Kamis, hanya diperuntukkan bagi family. Hari lain, open to all. Harga tiket masuk juga ga mahaaal dibandingkan apa yang kita liat dan dapatkan di dalamnya. Asyara riyal bas wa bintani majaanan. Ehehehe.... Sepuluh Riyal buat dewasa dan anak-anak 3 tahun ke bawah free. Anak-anak 5 tahunan tiketnya 5 riyal. Worth banget kalo di compare dengan apa yang kita dapatin di dalamnya. Tersedia juga sedikit area playground buat anak-anak di sini...
Ayah is the Favorite
Sekarang, bukan hanya Aafiya, Aasiya pun begitu. Setiap kali terdengar kunci diputar dan pintu dibuka, Aafiya nge yel-yeel "Yee ayaaah pulaaang..." lalu dengan segera larii ke pelukan ayahnya, ayahnya kemudian menggendong dan guess what the next words... "Ayaaah, maiin yoook..."
Aasiya pun sama. Mau lagi apapun, meski sedang mimik sekalipun, pasti lepas neneen dan melambaikan tangan ke ayahnya dengan wajah sangat ceria. Jika tidak dalam pelukan bundanya, pasti deh segera merangkak menuju ayah, ngikutin si uni. Laluuu, the next steep, ayahnya menggendong dua-duanya, bawa ke depan cermin dan berdo'a "Allahumma kamaa ahsanta khalqi, fahasin khuluqi..." Maka jangan heran kalo Aafiya sudah hafal do'a bercermin ini sejak dia usia 1.5 tahun. Hehehe...
Yes!O'rait!
Ayah is the favorite!
Mereka, senaaaang sekali bermain bersama ayah.
Kadang kalo lagi baper emaknya jadi bertanya-tanya juga sih, "kenapa yaa anak-anak lebih senang bermain bersama ayahnyaa..?"
Hihihihi....
Mungkin karena kalo sama bundanya sering ditinggal masak kali yeee... wkwkwkwkwkwk...
| Aafiya dan ayah ketika baru bisa berjalan dulu... |
Bermain bersama Ayah memiliki banyaaak sekali good effect menurutku (lebih tepatnya: menurut apa yang aku rasakan). Kalo secara teorinya mungkin bisa baca sendiri laah yaaa... Hehehe...
Setidaknya ada 3 manfaat besaar:
Pertama, anak tidak 'kehilangan' sosok ayah dalam pengasuhan.
Kehadiran dan peran serta ayah dalam pengasuhan tentu saja adalah hal yang sangat penting. Jangan sampai, ayah hanya berpikir tugasnya hanya mencari nafkah dan segala urusan mengasuh anak serahkan pada ibu. I'm really proud of Ayah Aafiya Aasiya, yang benar-benar jadi favoritnya anak-anak. Bahkan beliau tak segan ikut memandikan dan cebokin anak-anak, ma shaa Allah... Jazakallahu khair katsir Zaujiy...
Kedua, Anak dan ayah mempunyai kelekatan yang bagus.
Kelekatan ini konon kabarnya sangatlah penting bagi anak. Senaang banget rasanya melihat Aafiya bercerita apa saja sama ayahnya tentang apaa sajaa... Aafiya dan Ayahnya juga sering punya waktu khusus berdua saja. Tak perlu sampai candlelight dinner berdua juga sih (soalnya kalo candlelight dinner emaknya mesti pengen ikutan jugaa wkwkwkwkwkwk), momen-momen kecil saja. Misal buang sampah berdua sama ayah, pergi ke pharmacy berdua sama ayah, even pergi ke taman dekat rumah berdua sama ayah. I think and i see, both of them soooo enjoy this "father time". Jadi, kalau ada kata-kata "Aafiyaa, kita buang sampah yook..." mesti anaknya menyambut dengan penuh sukacita... Padahal cuma pergi buang sampah yang jaraknya tak lebih dari 200 meter dari rumah! Ma shaa Allah, ga mahal yaa ternyata memberi kebahagiaan sama anak... Bahkan dari hal-hal yang sederhana...
Ketiga, buat emak-emak, ini saatnya me time. Ketika anak-anak bermain sama ayah, para ibu bisa rehat dari pengasuhan sesaat, me time, leisure time, melakukan apa yang disukai, re-charge kembali energi, biar tetap"waras" kekeke... Percayalah, me time is intangible value prize for emak-emak... hadiah berhargaaa... Heuheu...
Alhamdulillah, itu salah satu keuntungan berdomisili di sini. Waktu ayah tidak dihabiskan di jalanan, menerjang kemacetan. Jadi, waktu bermain bersama anak jadi lebih banyak. Entahlah, jika hidup di ibu kotanya endonesiaah, mungkin hal seperti ini sulit untuk terwujud. Di sini, Abu Aafiya berangkat ngantor jam 9, siang juga bisa pulang makan siang. Jarak kantor ke rumah hanya 2 menit. Alhamdulillaah...
Tapii, bagi yang misalnya harus dihadapkan pada kondisi mesti menghadapi kemacetan dan mesti menghadapi lamanya waktu di perjalanan, tidak perlu berkecil hati. Setidaknya, minimal selalu sedia waktu (meski tidak lama) untuk bercengkrama bersama anak. Kita tidak tau apa yang akan terjadi ke depan kan yaaa... Boleh jadi saja, kami nanti juga berhadapan dengan hal yang sama. Semoga saja Allah memberikan yang terbaik selalu...
| Ini waktu Aafiya masih setahunan + |
Main apa aja sih Aafiya sama Ayah?
Mainnya macem-macem. Sayangnya banyak yang tidak terdokumentasikan. Hanya sedikit yang sempat di candit sama emaknya... kekekeke...
Berikut beberapa permainan yang dimainkan bersama Ayah (mana tau ada yang lagi nyari ide). Mungkin ga semua karena ga ingat semua sama emaknye inii dan (sekali lagi) ga terdokumentasi...
1. Badminton dengan kock baloon
Badminton merupakan kata yang sangat akrab bagi aafiya. karena ayahnya suka badminton. jadi, anaknya suka ngajak anaknya main badminton jugaa... hihihi...pakai kock baloon ternyata mudah dimainkan oleh anak 3 tahun
| main badminton bersama ayah |
2. Main peran
Aafiya dan ayah (dan akdang si kecil juga sering ikutan) main peran bersama ayah. biasanya, tergantung hal apa yang sedang mendominasi saat itu. Misal, lagi habis ke optamologist. Nanti main perannya pasti deeh main dokter optamologist. Aafiya jadi dokternya ayah jadi pasiennya, trus gantian. Cek matanya juga pake peralatan seadanya, kadang dari barang bekas yang mirip-miriplah sama peralatan optamologist.
3. Menulis cerita di papan tulis
ini adalah salah satu favorit aafiya. minta ayahnya cerita sambil digambarkan di papan tulis. jadi ayahnya akan mengarang sebuah cerita, tokohnya adalah tokoh nyata yaitu aafiya sendiri, aasiya, ayah bunda, kadang juga teman-teman aafiya dan aasiya ikut dalam ceritanya. Hihihi... Kayaknya ayah jauh lebih berbakat niih membuat ceritaa..
| lagi bikin cerita sama ayah |
4. Membaca cerita
Ini juga salah satu favorit aafiya. dia nenteng beberapa buku, kaish ke ayah sambil bilang "ayaaah, kita cerita nabi ibrahim yook..." sambil menyerahkan buku cerita nabi ibrahim.
5. Main lego
membangun rumah bersama ayah. nanti aafiya bikinin rumah buat ayah, bunda dan dedek katanya..
6. Main shape
jadi ada mainan shape (triangle, circle, square, star and plus), mainannya bukan cuma dimainin biasa dengan masukin ke box shape nya. Tapi kadang disusun tinggi-tinggi dan lain sebagainya. Ayahnya kreatif banget ma shaa Allah bikin mainan satu jenis bisa dimainkan dengan banyak cara.
7. Main bendera
jadi kita sempat beli mainan bendera negara-negara di dunia plus petanya. aafiya senang banget main bendera ini meskipun belum bisa nancepin bendera di negara yang benar. dia lebih senang melihat kemiripan, misal bendera amerika ditaruh dekat dengan bendara malaysia karena mirip. bendera indonesia ditaruh di negara poland karena warnanya kebalikan. atau dideket ukraine karena mirip cuma beda warna doang. Hihihi...
8. main masak-masakan
sama ayah bisa juga lho main amsak-masakan. Jangan kira cuma sama emak-emak aja. Hihihi... Tapi kalo sama ayah, pretending aafiya bikinin ayah masakan . jadi ayahnya bakalan request "aafiya tolong bikinin ayah telur dadaar" heuheu... Trus dikasi lah tuh piring sama sendok yang ada telurnya ketika sudah "matang" dan ayah pun pretending lagi makan makanan bikinan aafiya yang sangat lezaaat.
9. Main mobil-mobilan
ini bukan mobil-mobilan beneran. tapi bantalan kursi majlis yang diimajinasikan aafiya sebagai mobil yang lagi dia setir. "ayaah, mau ke mana... aafiya yang nyetir yaa.. ayah duduk di belakang"
10. Main sepeda di taman
| you are getting older now my little girl... lagi main sepeda sama Ayah |
ini favorit aafiya kalo lagi naman sama ayah
| bikin sesuatu dari pasir.. kinds of sensory playing |
Ini salah satu kelebihan tinggal di sini lainnya. Aneka permainan playground seperti ini tersedia amat sangat sangat sangat banyaaaaak sekaliiii di berbagai tempat. Ga perlu bayar kalo mau ngajak anak main di playground. Semuanya tersedia gratis di taman-taman terdekat di setiap kecamatan, kelurahan mungkin. Deket rumah banyaak sekali taman yang pasti selalu menyediakan playground buat anak-anak. Benar-benar ramah anak menurutku...
| when she was 1 yr old |
| boleh main perosotan sepuas-puasnyaaa, gratiisss... |
| pasir dan peralatannya sudah tersedia, anak tinggal main doang, ma shaa Allah.... |
13. Berkuda
![]() |
| berkuda bersama ayah (tapi ini difoto pas udah selesai berkudanya, jadi kudanya sudah diiketin ke tiangnya hehehehe) |
14. Main petak umpet
ga perlu dijelaskan lebih jauh kayaknya klo yang ini maah wkwkwkwk
Masih banyak jenis main lainnya, misal Main baloon, Menggambar bersama, Main saxophone, Main boneka dan lain sebagainya. Intinya, main apaaaa sajaa bisa dilakukan. Tak mesti punya banyak mainan. Barang bekas pun bisa jadi mainan...
Okeh, selamat bermain bersama ayah
Kelas Bermain Bersama Anak: Sensory Playing
![]() |
| Lagi masukin pasir (pasir2an) ke dalam baloonan... karena kami ga punya halaman, mainnya di dalam rumah 😊. |
![]() |
| Main pasir-pasiran |
![]() |
| Uni Aafiya sama Ayah lagi bikin apa yaa? |
![]() |
| Main hand stamp |
![]() |
| Main sepeda |
![]() |
| Main buku kain |
![]() |
| Main masak-masak |
![]() |
| Main motong kue pura-pura |
![]() |
| Main ayunan di taman |


























