Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Ada Cinta di Setiap Kata Kita ❤

Berkata Baik atau Diam 😙

Alkisah, pada zaman Rasulullah, ada seorang anak kecil dengan kuniyah Abu Umair. Abu Umair adalah anak dari Ummu Sulaim dan Abu Thalhah. Abu Umair memiliki peliharaan seekor burung yang dinamai Nughair/Nughrun. Beliau sering bercanda dengan Abu Umair dan burung peliharaannya.

Dikisahkan dari Anas bin Malik, ia berkata, “Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam datang menemui Ummu Sulaim yang memiliki seorang putra yang diberi kuniyah Abu Umair. Rasulullah suka mencadainya. Suatu hari, beliau melihat Abu Umair bersedih. Lalu beliau bertanya,
“Mengapa kulihat Abu Umair bersedih?” Orang-orang menjawab, “Nughrun (burung kecil seperti burung pipit yang lekuk matanya berwarna merah)nya yang biasa bermain dengannya mati.”
Kemudian beliau menyapanya untuk menghibur si anak yang kehilangan mainannya ini, “Abu Umair, burung kecilmu sedang apa?”
(HR. al-Bukhari No. 5850)

Ma shaa Allah begitu mulia akhlak Rasulullah dan beliaulah teladan dalam hidup kita. Tapi, jarang sekali kita meneladani beliau (astaghfirullah), khususnya (yang pengen aku tuliskan kali ini) akhlak beliau terhadap anak kecil.

Banyak pelajaran berharga dari kisah Abu Umair ini.
Mari kita ambil contoh sederhana yang tak jauh dari kisah Abu Umair. Sebutlah misalnya anak kita memiliki seekor burung peliharaan, lalu burung itu mati. Si anak datang menghadap kita dan berkata sambil menangis,
Anak (A): "Bunda, burungku mati.. huhu..."
Bunda (B): "Ohh burungnya mati yaa.... cup cup... udaaah ga usah sedih yaa sayang."
A: "Tapii aku sukaa sekali sama burung ituu"
B: "iyaa... jangan sedih yaaa... nanti kita beli lagi burung yang baru. Oke?"
A: "ga mauuu... ga mauuu... aku maunya burung yang ituuu..."
B (mulai jadi sedikit esmosi, dan tak habis pikir, mengapa anaknya ngotot banget mau burung yg jelas-jelas sudah mati): "sayaang, coba denger bunda. Burungnya udah mati, nak. Kamu udah ga bisa lagi main sama burung itu. Lihat tuh dia udah ga gerak lagi kan. Udah ga bisa terbang lagi kaan." ( si bunda Berusaha memberi penjelasan logis) "kalau kamu nangis seharian pun, burungnya juga ga bakalan hidup lagi, sayaang."
A: "hwaa...hwaaa...hwaaaaa..... ga mauuuuu... pokoknya mau burung yang ituuuu...." (nangis kejeerr)
B: "kamu koq begitu siih!? Udaahh.. udaaahh!! jangan nangis lagi!! Cuma burung aja koq! Masih banyak burung yang lain."
Dan si anak pun, bukannya terhibur, malah menangis makin keras.

Yap!
Di sini letak masalahnya. Kita, sudah amat sangat terbiasa sekaliii meng-ignore, menolak, mengabaikan, tidak menerima perasaan anak! Dan sebab ini sudah sangat biasa terjadi, kita melihatnya bukan lagi sebagai sebuah "kesalahan" respon. Sebab kita bermaksud baik. Ingin menghibur anak. Tak ingin anak kita bersedih. Tak ingin anak merasa kehilangan. Itu berarti pertanda kita sayang sama anak kita. Tapii, apakah anak terhibur dan makin hilang kesedihannya? Sepertinya tidak yaaa... Alih-alih hilang kesedihan, yang ada malah sekarang bertambah macam perasaannya, yang awalnya hanya sedih, menjadi kesal juga karena emaknya tidak "menerima" perasaan sedihnya.

Iya. Kita jarang sekali "menerima" perasaan anak. Padahal, kesedihan adalah sebuah rasa yang datang secara alamiah. Kesedihan adalah sebuah perasaan yang pasti ada di dalam diri kita. Dan, ketika kita berkata "jangan sedih yaaa..." meskipun dengan nada sangat rendah, tetap saja artinya kita menolak untuk menerima perasaan sedih tersebut kan yaa... Apalagi ditambah dengan nasihat-nasihat seperti "naak, kamu nangis juga ga bakalan menghidupkan kembali burungnya..." atau penjelasan logis "burung itu sudah matiii... ga bisa main lagii...", di saat kesedihannya sedang memuncak. It's will be helpful?! Even gaya "menghibur" kita saja dengan menjanjikan "akan membelikan burung yang baru" tidak cukup untuk membuatnya senang kembali, apalagi ketambahan nasihat atau penjelasan logis. Bisa masuk nasihatnya ke anak? Bisa masuk penjelasan logisnya? Of course NO!


Kita sebagai orang dewasa saja, dalam relasi pertemanan atau kepada pasangan misalnya, pasti juga tak suka jika perasaan kita "ditolak". Misal, kita lagi sebel seharian, lalu ketika kita curhat, respon yang kita terima adalah "udah, ga usah kesal... bla... bla... kamu itu harusnya tak begitu, kamu harusnya begini...". Sudah pasti jawaban itu bukan bikin sebel hilang, melainkan malah makin sebel. Apalagi sampai kita "disalahkan" dengan kalimat pembuka "kamu seharusnya tak begitu...". Yang ada kita malah self defense! Kita secara alamiah, pasti akan melakukan "pembelaan diri" ketika kita disalahkan atau disudutkan. Iya kan? Atau nasihat. Ketika kita dalam keadaan sebel dan kesal, bisakah kita menerima nasihat, meski pun nasihat itu BENAR? Oh NO! Yang ada malah kita semakin kesal dan bertambahlah macam perasaan kita yang awalnya cuma sebel menjadi marah dan emosi.
Apa yang sebenarnya kita butuhkan? Yep! Sangat simpel. Hanya butuh diterima perasaan sebel kita dan hanya butuh didengar saja.


Begitu pula dengan anak. Kita saja yang sudah mengenali logika, mampu menghubungkan sebab akibat, tetaap tidak bisa "menerima" sebuah nasihat yang benar ketika kita berada di puncak suatu perasaan negatif (misal sedih dan kesal), apalagi anak yang notabene belum mengenal logika dan penjelasan logis! Yang anak butuhkan adalah "penerimaan perasaan", just it!


Coba kita dengar jawaban Rasulullah terhadap Abu Umair. Kenapa Rasulullah tidak berkata "Janganlah bersedih wahai Abu Umair" ketika mendapati Abu Umair kehilangan burungnya? Rasulullah justru mengucapkan "Wahai Abu Umair, burung kecilmu sedang apa?"

Lalu, apa respon kita untuk contoh kasus di atas?
Mungkin kita bisa merespon dengan kalimat Simpel saja yang mendukung perasaannya, "kamu pasti sangat sedih yaa kehilangan burung kesayangan..." lalu cukup dengarkan saja. Sesekali timpali dengan gumaman "ohh...", "hmm...", "i see...", "i feel u..."


Lantas kapan dong menasihati dan memberi penjelasan? Jika anak sudah pada usia bisa memahami, kita bisa menjelaskan ketika anak dalam kondisi senang dan tenang. Ketika perasaan gembira, segala sesuatu akan sangat mudah diterima. Jangankan anak, orang dewasa saja begitu kan yaa...


Begitulah. Meskipun ini kedengarannya mudah, tapi pada pelaksanaannya tidaklah semudah pengucapannya. Kita--apalagi dengan kebiasaan kita yang lebih sering menolak perasaan--butuh berlatih berulang kali. Ini tentu tidak didapat secara alamiah. Sebagaimana alamiahnya kita mengucap respon penolakan karena kita sudah sangat terbiasa melakukannya. Kita butuh berlatih dan terus berlatih untuk bisa memberikan respon penerimaan, bukan respon sebaliknya.


Ya. Kita tidak selalu dalam kondisi baik dan hati senang. Ada masanya juga kita marah. Kesal. Emosi. Lelah. Terburu-buru. Kondisi ini sering kali membuat kata-kata kita menjadi tak terkontrol. Dan respon berupa penolakan, nasihat, ejekan, kritikan, peremehan dan bahkan ancaman lebih mudah muncul di masa-masa kita sendiri sedang dalam kondisi tak stabil. Di kondisi seperti ini, kita mungkin lebih merasa "puas" jika kita ngomel-ngomel kepada anak. Dan lebih sering kata-kata kurang baik yang keluar yang kita sendiri mungkin kemudian merasa malu mendengarnya ketika kita dalam kondisi stabil. Hehe...


Apa yang harus kita lakukan?! Tarik nafas dalam dan ta'awudz! Seperti yang Rasulullah ajarkan, "Berkata baik atau diam!" Ya, ini kuncinya. Jika kita tidak mampu berkata baik pada saat itu, maka yang lebih baik adalah DIAM.


Smoga Allah memudahkan langkah kita, melembutkan lisan kita kepada sosok-sosok polos yang Allah amanahkan kepada kita... Sebab kita akan ditanyai kelak.

Tulisan sederhana ini adalah sedikit rangkuman dari sekian banyak poin yang dibahas di kelas komunikasi yang digawangi oleh mba Dara. Jazakillahu khair katsir yaa Mba Dara, you are inspiring me...


Disclaimer:
Aku menuliskan bukan karena totally sudah bisa mempraktekkannya. Aku masih jauuhh sekalii dan masih tertatih untuk berbenah. Masih mengeja dan masih belajar untuk berkomunikasi yang baik penuh cinta kepada sang buah cinta. Aku menulis ini lebih dikarenakan sebagai pengingat diri sendiri (dan barang kali bisa memberi manfaat buat sesama). Menuliskan, buatku berarti membuatnya lebih lama lekang di ingatan, in shaa Allah....

Feel free untuk dikoreksi, ditambahkan dan diingatkan. Mohon maaf jika ada salah kata...


======
Riyadh, 4 Rabi'ul Awwal 1439 H
Kalimat penghangat untuk menyongsong musim dingin 😊



Read More

Sebab Akulah yang Akan Ditanya

Aku tertegun cukup lama memandangi pesan dari adik kelasku tentang pernyataan dosen kesayanganku semasa kuliah dulu kepada mereka. Intinya, semoga nanti aku bisa berkontribusi kembali di dunia yang telah aku sedikit ilmui tentangnya; clinical pharmacy. Aku hampir tidak percaya beliau masih mengingatku sejak lebih dari 4 tahun aku lulus dari kuliah. Di antara ratusan mahasiswa beliau. She is one of my best lecture.

Sejenak berhamburan lah ingatan-ingatan tentang teman-teman seangkatan dulunya, yang kini telah berada di mana-mana. Menjadi dosen di luar negeri. Melanjutkan sekolah ke luar negeri. Bekerja as a clinical pharmacist di sebuah rumah sakit besar. Tetiba aku merasa menciut dan jauh. Ya... ya... ya..., aku merasa telah menjauh dan semakin menjauh dari bidang ilmu yang dulu pernah aku geluti secara lebih mendalam. Meski bukan berarti serta merta aku sudah berilmu tentang itu. Maksudku, aku pernah mempelajarinya lebih intens dulunya. Dan kini, aku merasa sangat jauh tertinggal. Ibarat naik kereta, mereka sudah jauh menuju utara dan aku malah menuju ke selatan. Hehe... Sejujurnya, kadang ada rasa untuk ingin mengejar mereka kembali. Melanjutkan kuliah lagi. Hadir di berbagai forum ilmiah, membahas ini dan itu. Publikasi penelitian di seminar dan workshop setara internasional. Berkontribusi di bidang farmasi klinis as best as I can.

Dalam perenungan panjang, kembali aku tersadar. Bahwa memang apa yang aku inginkan, cita-citakan itu tidaklah salah. Namun, jika melihat kembali 4 tahun yang aku jalani ini, sesungguhnya adalah juga tahun-tahun terbaik dalam hidupku. Tidak semua orang dapat menyaksikan anak-anaknya dapat tertawa untuk pertama kalinya, tengkurap pertama kalinya, berjalan pertama kalinya. Membersamai mereka--meski dengan segenap salah dan kekurangsabaran yang aku sedang tertatih untuk mengejanya--adalah wonderful time dalam hidupku yang tak bisa digantikan oleh waktu-waktu lain. Iya, mereka adalah alasan terbaik yang membuat aku lebih memilih berjalan menuju ke arah selatan di saat teman-temanku telah melaju ke utara. Lalu,  sebuah pertanyaan berat: apalagi yang aku kejar?! Benarkah sebuah kontribusi, atau hanya sekedar eksistensi?

Menjadi Ibu Rumah Tangga adalah cita-cita utamaku sedari dulu. Dan meskipun Menjadi clinical pharmacist juga adalah cita-citaku, tapi tentang peranku sebagai seorang istri dan ibu, inilah yang kelak akan ditanya. Menjadi seorang clinical pharmacist, mungkin bisa 'di-subcontract-kan' kepada orang lain. Ada orang lain yang bisa mengambil kontribusi ini selainku. Tapi, menjadi seorang istri dan ibu, dapatkah aku men-subkontrakkan nya kepada orang lain sementara akulah yang akan ditanyai kelak oleh-Nya dan dimintai pertanggungjawabannya.

Oleh sebab aku menyadari bahwa aku bukan superwoman yang bisa melakukan dua hal sekaligus dalam waktu bersamaan dengan sangat baik, maka aku harus memilih salah satunya. Dan karena aku telah memilih 'melepaskan' satu kesempatan untuk berkontribusi di dunia farmasi klinis, maka aku seharusnya melakukan yang terbaik dan all out di pilihan yang aku telah ambil; menjadi sebaik-baiknya madrasatul 'ula. Aku tentu tidak ingin 'merugi', melepaskan satu pilihan, sementara di pilihan yang lain aku membiarkannya berlalu begitu saja tanpa ada upaya terbaik. Aku pasti akan menyesalinya jika aku tidak melakukan sebaik-baik pencapaian di pilihan yang aku pilih ini. Sebab, waktuku sesungguhnya sangat singkat. Aku tidak bisa berlama-lama termangu.

Iya.
Inilah masaku. Inilah pilihanku saat ini. Aku ingin melakukan yang terbaik, memberikan upaya yang terbaik, do'a terbaik untuk mereka yang menjadi alasan pilihanku. Boleh jadi, saat ini aku tidak bisa berkontribusi di bidang farmasi klinis. Tapi, aku ingin output terbaik bagi anak-anakku. Mungkin, belum saat ini aku melihat hasilnya. Mungkin, berpuluh tahun lagi. Aku tak ingin melewati masa emas yang singkat ini dengan biasa-biasa saja.

Aku menyadari, anak-anak tak selamanya bayi. Tak selamanya balita. Tak selamanya kanak-kanak. Akan ada masa mereka meremaja dan mendewasa. Mungkin, pada masa itulah--jika Allah menghendaki usia yang panjang dan semoga usia yang barokah--aku berkontribusi untuk cita-cita keduaku. Saat anak-anak sudah memiliki jalan mereka sendiri. Dan, sekali lagi, aku memilih ini oleh sebab akulah yang akan ditanya, tentang mereka, tentang amanah yang telah Dia berikan.

Let's do the best in this best time...
Semangaaaaattt...!!!
😚

Read More

Ayah is the Favorite

Sudah semenjak kecil dulu, ketika terdengar kunci pintu rumah diputar, "klik" Aafiya pasti akan segera menuju ke depan dengan wajah yang sangat suka citaaa "Yeeee, ayah pulaaaang...". Bahkan sebelum dia bisa ngomong, ekspresinya sudah mewakilkan betapa gembiranya dia ketika ayahnya pulang. Sayang yaa lupa direkam. Lain kali harus direkam niih ekspresi seperti ini... hehe...

Sekarang, bukan hanya Aafiya, Aasiya pun begitu. Setiap kali terdengar kunci diputar dan pintu dibuka, Aafiya nge yel-yeel "Yee ayaaah pulaaang..." lalu dengan segera larii ke pelukan ayahnya, ayahnya kemudian menggendong dan guess what the next words... "Ayaaah, maiin yoook..."
Aasiya pun sama. Mau lagi apapun, meski sedang mimik sekalipun, pasti lepas neneen dan melambaikan tangan ke ayahnya dengan wajah sangat ceria. Jika tidak dalam pelukan bundanya, pasti deh segera merangkak menuju ayah, ngikutin si uni. Laluuu, the next steep, ayahnya menggendong dua-duanya, bawa ke depan cermin dan berdo'a "Allahumma kamaa ahsanta khalqi, fahasin khuluqi..." Maka jangan heran kalo Aafiya sudah hafal do'a bercermin ini sejak dia usia 1.5 tahun. Hehehe...

Yes!O'rait!
Ayah is the favorite!
Mereka, senaaaang sekali bermain bersama ayah.
Kadang kalo lagi baper emaknya jadi bertanya-tanya juga sih, "kenapa yaa anak-anak lebih senang bermain bersama ayahnyaa..?"
Hihihihi....
Mungkin karena kalo sama bundanya sering ditinggal masak kali yeee... wkwkwkwkwkwk...
Aafiya dan ayah ketika baru bisa berjalan dulu...

Bermain bersama Ayah memiliki banyaaak sekali good effect menurutku (lebih tepatnya: menurut apa yang aku rasakan). Kalo secara teorinya mungkin bisa baca sendiri laah yaaa... Hehehe...
Setidaknya ada 3 manfaat besaar:
Pertama, anak tidak 'kehilangan' sosok ayah dalam pengasuhan.
Kehadiran dan peran serta ayah dalam pengasuhan tentu saja adalah hal yang sangat penting. Jangan sampai, ayah hanya berpikir tugasnya hanya mencari nafkah dan segala urusan mengasuh anak serahkan pada ibu. I'm really proud of Ayah Aafiya Aasiya, yang benar-benar jadi favoritnya anak-anak. Bahkan beliau tak segan ikut memandikan dan cebokin anak-anak, ma shaa Allah... Jazakallahu khair katsir Zaujiy...
Kedua, Anak dan ayah mempunyai kelekatan yang bagus.
Kelekatan ini konon kabarnya sangatlah penting bagi anak. Senaang banget rasanya melihat Aafiya bercerita apa saja sama ayahnya tentang apaa sajaa... Aafiya dan Ayahnya juga sering punya waktu khusus berdua saja. Tak perlu sampai candlelight dinner berdua juga sih (soalnya kalo candlelight dinner emaknya mesti pengen ikutan jugaa wkwkwkwkwkwk), momen-momen kecil saja. Misal buang sampah berdua sama ayah, pergi ke pharmacy berdua sama ayah, even pergi ke taman dekat rumah berdua sama ayah. I think and i see, both of them soooo enjoy this "father time". Jadi, kalau ada kata-kata "Aafiyaa, kita buang sampah yook..." mesti anaknya menyambut dengan penuh sukacita... Padahal cuma pergi buang sampah yang jaraknya tak lebih dari 200 meter dari rumah! Ma shaa Allah, ga mahal yaa ternyata memberi kebahagiaan sama anak... Bahkan dari hal-hal yang sederhana...
Ketiga, buat emak-emak, ini saatnya me time. Ketika anak-anak bermain sama ayah, para ibu bisa rehat dari pengasuhan sesaat, me time, leisure time, melakukan apa yang disukai, re-charge kembali energi, biar tetap"waras" kekeke... Percayalah, me time is intangible value prize for emak-emak... hadiah berhargaaa... Heuheu...

Alhamdulillah, itu salah satu keuntungan berdomisili di sini. Waktu ayah tidak dihabiskan di jalanan, menerjang kemacetan. Jadi, waktu bermain bersama anak jadi lebih banyak. Entahlah, jika hidup di ibu kotanya endonesiaah, mungkin hal seperti ini sulit untuk terwujud. Di sini, Abu Aafiya berangkat ngantor jam 9, siang juga bisa pulang makan siang. Jarak kantor ke rumah hanya 2 menit. Alhamdulillaah...
Tapii, bagi yang misalnya harus dihadapkan pada kondisi mesti menghadapi kemacetan dan mesti menghadapi lamanya waktu di perjalanan, tidak perlu berkecil hati. Setidaknya, minimal selalu sedia waktu (meski tidak lama) untuk bercengkrama bersama anak. Kita tidak tau apa yang akan terjadi ke depan kan yaaa... Boleh jadi saja, kami nanti juga berhadapan dengan hal yang sama. Semoga saja Allah memberikan yang terbaik selalu...
Ini waktu Aafiya masih setahunan +


Main apa aja sih Aafiya sama Ayah?
Mainnya macem-macem. Sayangnya banyak yang tidak terdokumentasikan. Hanya sedikit yang sempat di candit sama emaknya... kekekeke...

Berikut beberapa permainan yang dimainkan bersama Ayah (mana tau ada yang lagi nyari ide). Mungkin ga semua karena ga ingat semua sama emaknye inii dan (sekali lagi) ga terdokumentasi...

1. Badminton dengan kock baloon
Badminton merupakan kata yang sangat akrab bagi aafiya. karena ayahnya suka badminton. jadi, anaknya suka ngajak anaknya main badminton jugaa... hihihi...pakai kock baloon ternyata mudah dimainkan oleh anak 3 tahun
main badminton bersama ayah

2. Main peran
Aafiya dan ayah (dan akdang si kecil juga sering ikutan) main peran bersama ayah. biasanya, tergantung hal apa yang sedang mendominasi saat itu. Misal, lagi habis ke optamologist. Nanti main perannya pasti deeh main dokter optamologist. Aafiya jadi dokternya ayah jadi pasiennya, trus gantian. Cek matanya juga pake peralatan seadanya, kadang dari barang bekas yang mirip-miriplah sama peralatan optamologist.

3. Menulis cerita di papan tulis
ini adalah salah satu favorit aafiya. minta ayahnya cerita sambil digambarkan di papan tulis. jadi ayahnya akan mengarang sebuah cerita, tokohnya adalah tokoh nyata yaitu aafiya sendiri, aasiya, ayah bunda, kadang juga teman-teman aafiya dan aasiya ikut dalam ceritanya. Hihihi... Kayaknya ayah jauh lebih berbakat niih membuat ceritaa..
lagi bikin cerita sama ayah

4. Membaca cerita
Ini juga salah satu favorit aafiya. dia nenteng beberapa buku, kaish ke ayah sambil bilang "ayaaah, kita cerita nabi ibrahim yook..." sambil menyerahkan buku cerita nabi ibrahim.

5. Main lego
membangun rumah bersama ayah. nanti aafiya bikinin rumah buat ayah, bunda dan dedek katanya..

6. Main shape
jadi ada mainan shape (triangle, circle, square, star and  plus), mainannya bukan cuma dimainin biasa dengan masukin ke box shape nya. Tapi kadang disusun tinggi-tinggi dan lain sebagainya. Ayahnya kreatif banget ma shaa Allah bikin mainan satu jenis bisa dimainkan dengan banyak cara.

7. Main bendera
jadi kita sempat beli mainan bendera negara-negara di dunia plus petanya. aafiya senang banget main bendera ini meskipun belum bisa nancepin bendera di negara yang benar. dia lebih senang melihat kemiripan, misal bendera amerika ditaruh dekat dengan bendara malaysia karena mirip. bendera indonesia ditaruh di negara poland karena warnanya kebalikan. atau dideket ukraine karena mirip cuma beda warna doang. Hihihi...

8. main masak-masakan
sama ayah bisa juga lho main amsak-masakan. Jangan kira cuma sama emak-emak aja. Hihihi... Tapi kalo sama ayah, pretending aafiya bikinin ayah masakan . jadi ayahnya bakalan request "aafiya tolong bikinin ayah telur dadaar" heuheu... Trus dikasi lah tuh piring sama sendok yang ada telurnya ketika sudah "matang" dan ayah pun pretending lagi makan makanan bikinan aafiya yang sangat lezaaat.

9. Main mobil-mobilan
ini bukan mobil-mobilan beneran. tapi bantalan kursi majlis yang diimajinasikan aafiya sebagai mobil yang lagi dia setir. "ayaah, mau ke mana... aafiya yang nyetir yaa.. ayah duduk di belakang"

10. Main sepeda di taman
you are getting older now my little girl... lagi main sepeda sama Ayah
11. Main pasir dan bikin gedung, benteng, perahu
ini favorit aafiya kalo lagi naman sama ayah
bikin sesuatu dari pasir.. kinds of sensory playing
12. Main ayunan, prosotan, kuda-kudaan di taman
Ini salah satu kelebihan tinggal di sini lainnya. Aneka permainan playground seperti ini tersedia amat sangat sangat sangat banyaaaaak sekaliiii di berbagai tempat. Ga perlu bayar kalo mau ngajak anak main di playground. Semuanya tersedia gratis di taman-taman terdekat di setiap kecamatan, kelurahan mungkin. Deket rumah banyaak sekali taman yang pasti selalu menyediakan playground buat anak-anak. Benar-benar ramah anak menurutku...
when she was 1 yr old
boleh main perosotan sepuas-puasnyaaa, gratiisss...

pasir dan peralatannya sudah tersedia, anak tinggal main doang, ma shaa Allah....

13. Berkuda
berkuda bersama ayah (tapi ini difoto pas udah selesai berkudanya, jadi kudanya sudah diiketin ke tiangnya hehehehe)

14. Main petak umpet
ga perlu dijelaskan lebih jauh kayaknya klo yang ini maah wkwkwkwk


Masih banyak jenis main lainnya, misal Main baloon, Menggambar bersama, Main saxophone, Main boneka dan lain sebagainya. Intinya, main apaaaa sajaa bisa dilakukan. Tak mesti punya banyak mainan. Barang bekas pun bisa jadi mainan...


Okeh, selamat bermain bersama ayah
Read More

Just Self Contemplation

Postingan ini masih related to Cita-Cita Sangat "Sederhana" yang aku posting sebelumnya. Berhubung ini adalah blog pribadi yang kebanyakan isinya adalah curcol dan tidak bisa dijadikan referensi ilmiah tentunya, maka isinya pasti mengikuti mood dan suasana hati serta preferensi hal yang sedang diminati pemilikinya. Hihi... Ya, jadii... aku nulis ya nulis aja. Seperti air yang mengalir sesuai dengan hukum alamnya, ke tempat yang rendah. Nulis buat aku, semacam leisure time lah meskipun kebanyakan tersimpan di draft doang karena ga sempat dituliskan. Paling kalo semua isi keluarga sudah bobo cantik dan bobo ganteng, baru deh aku nuliis. Daaan, serunya adalah... di blog ini juga aku kebanyakan pakek credo "tulisin apa yang dipikirin", bukan "pikirin apa yang ditulisin". Jadii bener-bener depend on situation and condition, preferensi, minat, ketertarikan atau apalaaah saat aku nulis... misal lagi TA ya pasti seputar dunia ke-TA an, dan kalo udah jadi emak, preferensinya  pasti berhubungan dengan dunia per-emak-an😄. Okeeh sepertinya aku tidak perlu memperpanjang mukaddimah lagi yang biasanya memang selalu panjang lebar dulu sebelum bener-bener sampai ke inti permasalahannya... wkwkwkwk... 😂

Berhubung aku lagi sedikit mendalami dunia parenting dan dalam rangka berbenah seperti yang aku ceritakan sebelumnya (kali ada yang tertarik, jadi sila klik aja link nya di atas yaak), maka yang aku tulis masi seputar ini laah...

Kali ini tentang kontempelasi diri, merenung, meresapi dan mempelajari soal 'rasa' yang muncul di hati... Iya, tentang rasa... karena wanita lebih mengutamakan rasa? Ahh lupakan dulu soal diferensiasi lelaki dan wanita tentang porsi rasa dalam mendominasi keputusan atau reaksi sikap yang dimunculkan atas sesuatu kejadian atau hal. Heuheu... Mari memberi kanal saja untuk rasa yang ada di hati... ☺😊

Setelah mulai sedikit berbenah, menjemput kembali yang tertinggal, mengilmui kembali yang seharusnya diilmui dari sedari dulu kala, berasa diri ini masih sangat jauh. Semakin digali, semakin berasa banyak rombengannya... Tapi, semangat itu benar-benar sangat fluktuatif. It's hard to maintenance the spirit in "therapeutic" window...

Ya, kadang terasa sangat bersemangat sekali... Tapi, di satu titik merasa lelah sendiri...

Fiiuuftt... Bismillaah...
(Pakek menghela nafas panjang dulu sebelum menuliskan ini... Sebagaimana memang menulis tentang ini tak mudah buat aku)...
Terkait artikel sebelumnya tentang berbenah, ada satu dari dua point yang paling urgent untuk dibenahi terlebih dahulu (yang mungkin saja keduanya saling berkaitan satu sama lain). Point pertama adalah emotion stabilizer dan point kedua adalah how to talk with kid and kid will listen (bahasa singkatnya: komunikasi). Nah yang menjadi perenunganku  adalah point pertama (tanpa menafikan pentingnya point kedua). Tentang emotion stabilizer.

Setelah melewati perenungan panjang, aku menyadari bahwa aku terkadang (dan mungkin cukup sering) berada pada titik labil emosi kepada anak. Bahasa sederhananya; marah dan emosi yang sulit dikendalikan 😣. Kadang hanyalah menyoal hal sepele (dan anak-anak tetaplah anak-anak yang belum megerti apa-apa, sedang belajar mengeksplorasi dunia). Dan, kemudian berujung pada penyesalan setelahnya (setelah cooling down). Buntut terseringnya adalah merasa down, merasa tidak menjadi ibu yang baik, merasa wanna escape and going alone far far far away untuk sesaat... Lalu satu pertanyaan muncul tanpa permisi, "hey! What's wrong with me... Kenapaaa aku beginiiii?"

Ketika masih single, aku merasa tak begini dulunyaaa... Jika pun ada emosi, tidak sampai sebegininya. Kenapa sangat mudah tercetus bahkan buat hal-hal yang sangat sepele sekalipun jika terkait soal anak? Astaghfirullah...
Selalu berjanji untuk memperbaiki, tapi kerap pula terulang lagi dan lagi! 😢

Setelah aku berpikir mendalam, kesimpulan yang aku kantongi adalah; bisa jadi aku berada di titik saturasi, bisa jadi karena kurang merasa menjadi diri sendiri di saat memang urusan di luar diri yang harus segera dipenuhi terlebih dahulu. Di saat merasa diri tak berarti dan tak berdaya guna. Di saat merasa sangat sangat sangat down... Bisa jadi aku sedang sangat mengantuk dan ingin tidur sementara kondisinya membuatku tidak memungkinkan untuk tidur... Bisa jadi... Bisa jadi... Bisa jadi... (banyak hal lainnya mungkin).
Selama ini support dari suami sangat membantuku dan sudah menjadi emotion stabilizer bjat aku. Big hug ketika down even not in down condition. Big appreciate even in a small achievement. Waktu untuk melakukan "me time". Great help di pekerjaan rumah tangga. Semua "pupuk jiwa" ini sudah diberikan oleh suamiku tercinta (Ma shaa Allah... Jazakallah wa Barakallahu fiik ya Zaujiy...). Tetiba ada satu kata yang tiba-tiba muncul menyoal ini dan cukup menggentayangi fikiranku: inner child!

Inner child. Kata yang sebenarnya sangat sulit untuk aku deskripsikan. Konon kabarnya, inner child (terutama untuk perasaan negatif) ini akan muncul ketika kita berada di situasi yang berat, jenuh, emosi dan kita akan mengekspresikannya sama seperti apa yang pernah kita alami atau menuntut kita "memenuhi kekosongan" yang sempat kita ingini atau kita butuhkan dulunya, jauh ketika kita belum mengingati sesuatu. Tersimpan rapi di alam bawah sadar kita, dan terpanggil kembali ketika kita menghadapi situasi yang sama ketika kita dewasa.

Ketika kondisi kita normal, mungkin kita merasa baik-baik saja. Yes, i'm OK. Ga ada yang salah dengan aku. Tapi, pada satu titik ketika kita merasa "out of control" mungkin kita akan bertanya-tanya pada diri kita "mengapa aku sebegininya", "mengapa aku mudah sekali tercetus marahnya", "mengapa aku sulit sekali mengambil keputusan", dan sederetan "mengapa aku..." lainnya. Dan kadang aku bertanya seperti itu ke dalam diriku sediri...

Tapi, aku sendiri merasa sejauh ini belum bisa menggali lebih dalam mengenai inner child ku. Aku belum berani untuk 'jujur' pada diriku sendiri untuk membuka lembaran memori lalu. Membiarkannya jauh jauh dan sangat jauh tersimpan dalam peti memori...
Tapi, dalam perenungan, tetiba saja pertanyaan pertanyaan itu muncul di relung hati. Butuh jawaban kah? Entahlah, sejauh ini aku masih missing tentang ini...

Bingung yaa bacanya? Haha... Iya. Maafkan, ini hanyalah sekedar kontemplasiku saja dan ketahuilah bahwa sebenarnya aku juga masih bingung dengan inner childku sendiri. Yang aku rasakan adalah aku membutuhkan emotion stabilizer yang bersumber dari diriku sendiri. Untuk emotion stabilizer external mungkin aku sudah dapatkan dari suami, tapi tetap saja aku membutuhkan emotion stabilizer internal; Mendamaikan inner childku sendiri sebelum menjadi pendidik dan pengasuh yang baik untuk anak-anakku.

Setiap orang (ibu) pastilah ingin menjadi lebih baik dan ingin menghasilkan generasi yang lebih baik dari dirinya. Setiap orang (ibu) pastilah tidak ingin mewarisi dari generasi ke generasi tentang inner child yang buruk dan emosi negatif yang pernah ia terima... Dan pertama kali yang seharusnya ia lakukan adalah "mendamaikan inner child nya sendiri".

Aku in shaa Allah ingin bahas lebih jauh lagi soal emotion stabilizer ini. In shaa Allah di lain waktu... Karena ini judulnya adalah self contemplation, maka aku murni menuliskan tentang kontemplasi saja dan tak ingin berpanjang-panjang merumuskan solusi di sini... 😄

Read More

Cita-Cita Sangat "Sederhana"

Disclaimer:

Konten ini berisi curhat colongan. Isinya panjang kali lebar kali tinggi (volume dong yaa?!). Jadii, harap berpikir-pikir dulu sebelum membaca lebih lanjut! Jika masih tetap ingin membacanya, harap siapkan segelas teh, secangkir kopi, atau cokelat hangat di musim hujan atau musim gugur ini. Jangan lupa sepiring camilan. (Lagian siapa juga yang baca sih Fathel? wkwkwkwk... gede rasa ajah aahh).

Baiklah, kali ini mungkin aku akan sedikit berpanjang lebar. Dan itulah bahagianya punya blog yang pengunjungnya bisa dihitung jari. Hanya orang-orang serius sajalah yang akan rela mengetik URL dan mampir di mari. Maksudnya, kalo ga serius ga usah mampir apalagi ngomong sama orang tuanya buat ngelamar... itu PHP namanya.. #ehhh...
Jadi, karena ga harus 'berinteraksi' apalagi nungguin likers wkwkwkwk, dengan blog kita bisa bebas berekspresi. Suka-suka mau bikin apaa, pure from the bottom of the heart... Makanya, blog selalu lebih mempesona buat aku ketimbang eksis di dunia medsos (dan udah mencapai titik saturasi juga kali yaa untuk bermedsosan yang dulu memang pernah mengalami masa jaya. Apa-apa di share ke medsos. Apa apa di curhatin ke medsos. Ahh, pengen nutup muka pakek niqob ihrom kalo inget masa-masa alay ini... Hihihi..).
Lho..lho... ini malah mukaddimahnya terlalu panjang kayak tali telepon yak. wkwkwkwk...

kembali ke judulnya, Cita-cita sangat sederhana.
Mendengar kata sederhana (apalagi dibubuhi kata 'sangat'), kira-kira apa yang ada di pikiran kita dan kebanyakan orang?
Mungkin kata-kata yang tepat untuk mewakilinya adalah simple, gampang, mudah, tidak butuh banyak efforts, bisa sambil lalu, hmm.. apalagi yaa? Bahkan salah satu soal ujian di pelajaran matematika zaman SMP atau SMA berbunyi "sederhanakanlah persamaan berikut!" yang berarti persamaan yang terlihat rumit itu diuraikan menjadi bentuk paling sederhana.
Ya begitulah si sederhana (salah satu pengecualiannya adalah sebuah nama rumah makan yang bikin saku ga sederhana sih).
Tapi, sebagaimana si rumah makan itu, begitulah sederhana. Tak selamanya sederhana itu mudah, simple dan tak butuh efforts. Ada sederhana yang sangat rumit. Ada sederhana yang sangat tak mudah. Salah satunya (selain nama si rumah makan) adalah sebuah cita-cita.

Cita-cita sangat sederhana.
Jika aku dulu ditanyakan, "apa cita-citamu?". Ketika setiap teman-teman seperkuliahan yang memang kebanyakan perempuan menjawab ingin menjadi pharmacist ini, pharmacist itu (pharmacist banyak bidangnya lho fyi!), aku menjawab spontan "Cita-citaku sangat sederhana, ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik. Lalu, cita-cita sampingan ingin menjadi farmasis yang berdaya guna."
Dulu... Duluuu sekali... satu dasawarsa yang lalu. Jika kamu iseng mengetikkan keyword 'Ibu rumah tangga yang baik' di blog ini, maka kamu akan menjumpai banyaaaak sekali tulisan-tulisanku (yang semoga ga kebanyakan alay ala anak mahasiswa) yang bertajuk ini. Kayak macam udah pakar aja... Padahal asline yoo ndak berilmuuu aku ini. Kalau aku baca lagi, sungguh aku jadi malu pada diri sendiri. Tentang apa yang sudah kutuliskan. Tentang keidealisanku yang waktu itu masih jadi penonton, bukan pelakon. Komentator, bukan pemain. Ya, tolong dimaafkan saja yaa. Maklumilah mahasiswaa, sangat idealis, belum berjumpa dunia nyatanya.

Ya begitulah. Aku, meskipun dulu sangat menyukai dunia parenting, membaca berbagai buku pengasuhan anak, tetap saja merasa menjadi ibu rumah tangga itu bukanlah hal yang mudah dan aku merasa sama sekali tak memiliki bekal apa-apa. tetap saja masih sangat sangat sangat sangat sangat.... sangat jauh dari sosok ibu rumah tangga yang baik. Menjadi ibu rumah tangga sama sekali tidak semudah dan sesederhana pengucapannya. Sama sekali tidak sesimpel yang aku bayangkan dulunya. Dan mungkin jauh lebih susah dari pada menjadi quality assurance staff even manager di sebuah industri obat, menjadi clinical pharmacist yang handal di sebuah rumah sakit besar yang hafal sepuluh ribu macam obat berikut drug related problem nya. Ah, menjadi ibu rumah tangga lebih rumit dari itu menurutku. Memiliki cita-cita sangat sederhana: menjadi ibu rumah tangga yang baik benar-benar tidak mudah, butuh efforts yang banyak, tidak simple, complicated, butuh kesabaran tingkat tinggi dan sangat butuh ilmu!

Menjadi ibu rumah tangga menurut pandangan orang kebanyakan (apalagi ibu-ibu jaman dulu kali yaa) bukanlah hal yang perlu diistimewakan. Hal biasa. Bisa sambil lalu. Atau sesuatu yang harusnya begitu, sudah kodratnya. Ga butuh apapun koq. Tinggal jalani aja.
Ah, ternyata cara berpikir seperti inilah yang ternyata sudah salah sejak awal. Banyak orang (terutama di kampungku, entah di kampung atau kota lainnya) berpikir bahwa menjadi ibu rumah tangga itu sudah seharusnya, tapi bisa memiliki pekerjaan yang bonafid, itu baru istimewa. Sebutlah menjadi PNS (sebuah prestise yang bonafid ala kampungku dan aku pernah sekali ikut tes PNS juga hihihi dan meskipun pada orang jaman now menjadi PNS sudah disebut cita-cita jadul ketinggalan jaman hehe) tetap menjadi sesuatu yang dikejar. Ya, aku juga tidak bisa menggenaralisasi untuk semua orang tentunya. Ada orang tua tunggal yang mau tak mau harus bekerja menghidupi anaknya. Ada orang yang sangat sangat membutuhkan pekerjaan yang diluar kondisi normal. Aku sedang bicara tentang persepsi ibu rumah tangga dalam konteks secara umum dan kondisi tanpa pengecualian.
 
Mengapa aku bisa mengatakan bahwa menjadi ibu rumah tangga jauh lebih rumit dari pada menjadi quality assurance manager di sebuah industri obat, menjadi clinical pharmacist yang handal di sebuah rumah sakit besar yang hafal sepuluh ribu macam obat berikut drug related problem nya? Seperti yang dijelaskan oleh temanku (aku hanya mengutip dengan menggunakan bahasa sendiri) bahwa generasi sekarang dipersiapkan bukan untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik tapi dipersiapkan untuk menjadi wanita karir. Meningkatnya taraf pendidikan (dengan banyaknya wanita yang bersekolah hingga tingkat lanjut) serta merta membawa dampak bahwa wanita lebih siap menjadi ekonom,akuntan, scientis, arsitek, dokter, farmasis, bidan, perawat, engineer, guru, dari pada menjadi ibu rumah tangga. Apalagi dibubuhi dengan cara pandang menjadi ibu rumah tangga adalah sesuatu yang seharusnya secara kodrat mesti dilalui, bukan dipandang sesuatu yang mesti dipersiapkan dan diilmui.

That's what happen to me. Alhamdulillah Allah kabulkan cita-citaku untuk menjadi ibu rumah tangga (yang masih tertatih-tatih menuju baik). Sejujurnya, setelah menjadi pelakon bukan penonton; pemain bukan komentator, aku merasa lebih siap untuk menjadi clinical pharmacist dari pada menjadi ibu rumah tangga. Sebab, menjadi farmasis, aku sudah dibekali dengan ilmunya hingga bahkan 7 tahun! Tapi ketika menjadi ibu rumah tangga ternyata masih banyaaaaaaaaaaaaak dan sangaaat banyaaaaaak (entah butuh berapa huruf A lagi untuk menyatakan banyaknya) ketertinggalan yang harus aku kejar. Bahkan aku yang sudah membaca banyak buku tentang mendidik dan mengasuh anak dulunya pun, sekarang merasa menguap entah di mana itu isi bukunya. Aku merasa sama sekali tak punya bekal. Aku tak punya ilmu. Aku sungguh butuh ilmu dalam menjadi ibu rumah tangga. Dan semakin kusadari betapa menjadi ibu rumah tangga benar-benar sangat butuh persiapan, jauh melebihi karir lainnya. Menjadi ibu rumah tangga lebih dari sekedar memastikan obat layak dipasarkan atau tidak, melainkan menyiapkan sebuah miniatur peradaban. Sebuah lingkungan, hingga negara yang baik pastilah terdiri dari kumpulan-kumpulan keluarga-keluarga yang baik. Bukankah ini tugas yang berat?! Obat yang diproduksi boleh jadi cuma satu jenis yang diproduksi masal, tapi setiap anak yang lahir sungguh sangat personalize perlakuannya. Mereka unik. Mereka tak sama, bahkan dengan kita sebagai ibunya sekalipun. Apakah hal ini tak butuh disiapkan? Obat yang rusak dan tak layak dipasarkan, masih bisa diretur, masih bisa dibuat ulang, tapi generasi yang sudah terlanjur rusak? Dapatkah kita meng-undo nya? Dapatkah kita mengembalikan waktu dan mengulangi pembenahan dari awal lagi? Ahh, lagi-lagi, menjadi ibu rumah tangga bukanlah sesuatu yang kodrati semata, tapi sesuatu yang benar-benar harus diilmui sekaligus DIPERSIAPKAN!

Ya... Ya... Ya... Sekali lagi, aku benar-benar merasa sangat tertinggal jauh. Ada banyak yang missing dari persiapanku dulunya. Aku tak bersiap ketika ada kondisi di mana harus menghadapi sesuatu yang berulang yang mungkin terkadang membuat jenuh. Aku tak bersiap menghadapi karakter setiap anak yang sangat unik. Tak ada perpustakaannya. Tak ada bukunya. Yang ada hanyalah kisi-kisinya saja. Guidance yang diberikan agar tetap pada right path. Aku tak bersiap dengan selaksa kesabaran yang kadang (atau sering) kehabisan stok dan butuh renewal terus menerus. Aku tidak bersiap dengan perangkat emotion stabilizer yang membuatnya tetap stabil ketika banyak sekali pencetus-pencetusnya. Ahh... jika dilist satu persatu di sini, mungkin space postingan blog ini tak cukup untuk menampungnya, saking banyaknya persiapan yang harus dibenahi.

Ya begitulah cita-cita sederhana yang pada kenyataannya sama sekali tak sederhana. Banyak hal yang perlu dipersiapkan, dibenahi, dipelajari. Tentang bagaimana tetap memaintenance kebahagiaan di banyak kelelahan, kesalahan, ketidaksabaran, dan semoga bukan keputus-asaan--na'udzubillah. Semisal melakukan sesuatu yang berulang, pada titik jenuhnya, syaithan merayu, "Ahh Fathel, coba dulu kau terima saja tawaran menjadi dosen", "Coba kalau kamu sekarang bekerja di farmasi klinis, bidang yang kamu sukai, ilmumu pasti jauh lebih bermanfaat. Hidupmu pasti lebih menyenangkan". Atau menghembuskan rasa iri ketika melihat teman-teman seperjuangan lanjut sekolah lagi, ikut seminar ini dan itu. Ah, selalu saja banyak cara bagi syaithan untuk merenggut rasa syukur kita dan membuat apa yang orang lain miliki tampak indah. Padahal, kita saja yang kurang melihat segenap karunia-Nya pada diri kita yang membuat kita sedikit sekali bersyukur.

Masa berlalu begitu cepat. Tak berasa, Aafiya anak pertamaku sudah mencapai 3 tahun. Tiga tahun ini masih banyak kesalahanku dalam mendidik, mengasuh dan membesarkannya. Tiga tahun ini, yang sebenarnya tahun-tahun emas tapi penuh rombengan sebab kurangnya ilmu, sedikitnya sabar dan minimnya syukurku. Semoga belum terlambat untuk berbenah. Smoga belum terlambat untuk kembali menjemput bekal yang tertinggal; persiapan yang seharusnya sudah dimulai jauh-jauh hari dulunya. Bukan jauh-jauh hari lagi seharusnya, tapi jauh-jauh tahun. Ada banyak sekali PR ku. Ya, aku butuh mengilmui segala sesuatu untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik.

Support dari suami selama ini benar-benar sangat-sangat membantuku melewati dan in shaa Allah sedan dan akan menjalani masa-masa pengasuhan ini. Selain masa-masa ini sangat wonderful, penuh kenangan, dan sangat membahagiakan ketika melihat perkembangan anak, juga ada masa-masa lelah, masa berat, masa jenuh, masa merasa tak punya banyak waktu. Percayalah, bahwa pelukan sesering mungkin, bercerita berdua meng-kanal-kan isi hati, dan waktu me time adalah hadiah yang tak ternilai harganya, intangible value prize yang diberikan seorang suami kepada istrinya. That's what my husband do. Give me many hug and time to speak only both of us about everything that's happen or what i feel (baca: denger curhat istrinya). And also at least 2 hours per day to do "me time". It's really-really kind of encouraging for me... Membantu jiwa tetap segar, memaintenance kebahagiaan. Me time berarti ayah bermain bersama anak, itu juga memiliki dampak positif kelekatan anak bersama ayahnya, dan menghadirkan peran serta ayah dalam pengasuhan. Doble-doble prize deeh.. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah... Ma shaa Allah tabarakallah.. Jazakallahun khair katsir Zaujiy...

Bismillaah...
Mulai berbenah, menjemput bekal yang tertinggal dan melangkah!
Smoga cita-cita menjadi ibu rumah tangga yang baik bisa tercapai dan terwujud.
Sungguh, tak perlu jauh-jauh mencari kebahagiaan. Ada di sini, di hati. Dengan banyaknya rasa syukur atas segenap karunia-Nya, itulah kebahagiaan yang sesungguhnya. Menyukuri setiap garisan yang ditetapkan-Nya dan mencoba menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Di luar sana, banyak orang yang masih memimpikan memiliki anak, anak yang aktif dan ceria. Kita, tinggal menjalani saja, masihkah banyak keluh kesah? Bersyukur... bersyukur... bersyukur.... Dan juga bersabar...bersabar...bersabaar... Ini masa tidaklah lama. Sebentar saja. Waktu berlari sangat kencang. Oleh sebab sebentar itulah, kita harus memperlakukannya dengan sebaik-baik perlakukan. Agar masa tak berlalu sia-sia. Lalu bagaimana kita mempertanggungjawabkannya, jika hanya catatan sia-sia yang kita punya. #justselfreminder

Read More

Rumah Ramah Anak

Ini sebenarnya adalah PR di minggu ketiga kelas "Bermain Bersama Anak". Tapi karena agak berat, jadinya dijadikan challange ajah. Ga jadi PR. Buatku juga ini agak sedikit berat awalnya. Aku harus menata ulang kembali ruang tengah yang dikhususkan sebagai ruang bermain anak.

Konsep RUMAH RAMAH ANAK adalah konsep di mana rumah dibuat se-aksesibel mungkin buat anak sehingga anak dapat dengan mudah mengambil dan meletakkan kembali mainannya dan apa yang diperlukan anak misal stationary. Jadi, kita harus menata ulang, mengklasifikasikan, dan kemudian mengelompokkan mainan berdasarkan jenisnya, ukurannya atau boleh juga bahannya. Dengan demikian, anak jadi lebih mudah mengambil mainannya, tau di mana tempatnya dan mengerti di mana harus meletakkannya kembali setelah bermain. Anak juga tidak melulu minta gadget (soal gadget ini ada bahasan sendiri nantinya in shaa Allah) karena di sekelilingnya banyak mainan atau aktifitas yang bisa dia akses. Bosan main lego, bisa main boneka. Bosan main boneka, main masak-masakan. Bosan main masak-masakan, bikin gambar. Jadi, anak bisa beraktifitas penuh tanpa ingat lagi sama yang namanya gadget.

Butuh waktu 1-2 hari untukku dan juga banyak dibantu oleh Abu Aafiya untuk menata ulang mainan Aafiya dan Aasiya. Bukan karena mainannya buanyaaak bangeet. Enggak! Karena selama ini sebagian besar mainannya cuma dimasukin box dan dicampur satu sama lainnya sehingga kerjaan Aafiya adalah menuang segenap isi si box itu setelah diberesin emaknya. Laluu, yang terjadi adalah rumah udah kayak kapal pecah. Begituuu setiap hari. Emaknya sibuk ngeberesin (ga sibuk-sibuk juga sih, kebanyakan dibiarin ajah beberapa hari 😂), anaknya sibuk ngeberantakin. Udah gitu, anaknya disuru ngeberesin juga suka ogah-ogahan. Bisa "bertanduk" alias esmosi juga emaknya niiih. Wkwkwkwk...

Biasanya, setelah beberes, paling tahannya cuma 1-2 jam, abis itu balik lagiii deeh ke posisi semulaa. Mainan numpuk dan berantakkaaaan semuaaaaa.... 😣😑😡
Tapi, setelah menerapkan konsep "RUMAH RAMAH ANAK" alhamdulillah, sudah hampir berjalan seminggu, rumah masih di kondisi awal. Masih rapi. Semoga bisa bertahan yaaaa... Istiqomah itu yang paling berat emang sih... Di sini, bukan berarti anak ga boleh main dan rumahnya kudu rapi jali terus-terusan! Enggak laah. Rumah ramah anak justru lebih memfasilitasi anak main dengan terarah dan lebih teratur sekaligus happy tentunya. Emak juga bebas setress ngeliat keberantakan meskipun emak macam aku sudah resisten sih dengan yang namanya keberantakan... wkwkwkwkwk.. Tapi, resisten teeteeeuup ada batasnya kan yaa yang suatu saat juga mengalami saturasi keberantakkan... kekekeke...

Pertama aku setting stationary dulu. Ada satu drawer yang awalnya cuma buat naro tissue dan benda-benda kecil lainnya yang kemudian aku pindah. Dikasi divider dan aku jadikan sebagai tempat stationary (pensil, pulpen, pinsil warna, spidol, gunting dll) aku taruh di sana. Di bagian atas, adalah buku khusus punya Aafiya. Sebelumnya buku Aafiya aku taruh di ruang depan dekat rak buku. Tapi bukan di rak bukunya karena tujuannya biar anaknya gampang ambil. Tapi karena konsep rumah ramah anak ini diharapkan ada 1 ruang yang memang aksesibel untuk semua kebutuhan anak, maka aku meletakkannya di ruang tengah.

Lalu, mulai mengklasifikasikan mainan. Board dan bahan kayu seperti puzzle kayu diletakkan di satu box. Satu box lagi khusus mainan soft. Satu box khusus mainan berbahan plastik. Satu box khusus untuk boneka. Dan ada drawstring pouch untuk meletakkan mainan balok dan lego. Satu kantong berzipper untuk khusus main masak-masakkan diletakkan dekat dengan kitchen set dan trolley belanjanya. Semua mainan ditaruh di atas meja mainan. Khusus mainan besar seperti bumbum, sepeda, stroller boneka "diparkir" di space di bawah meja mainan.

Aku memberi tau Aafiya bahwasannya kalau sudah selesai main, mainan besar diparkir di tempat yang disediakan dan mainan kecil diletakkan kembali di box atau tempatnya masing-masing. Ketika main, aku menerapkam untuk tidak mengeluarkan semua mainan sekaligus. Selama ini sih gituuh, mainan dikeluarin semua, makanya jadi berantakkan. Sekarang, jika dia mau main lego misalnya, mainan sebelumnya harus dibereskan terlebih dahulu. Misal, masak-masakkan. Dia harus beresin mainan masak-masakan lalu meletakkan kembali kepada tempatnya, baru boleh main lego. Jika sudah selesai main lego, dan ingin main boneka, legonya dibereskan dulu dan diletakkan pada tempatnya kembali. Begitu juga kalau ingin menggambar atau main gunting misalnya. Dia harus bereskan dulu bonekanya. 
Alhamdulillah, anaknya senang mau membereskan mainan dan tau di mana harus meletakkan mainannya, emaknya juga hepi liat rumah ga seberantakkan biasanya lagi... 😄

Berikut adalah foto-foto penataan mainan Aafiya. Maaf yaa, cuma pakek kamera HP jadi mungkin ga begitu jelas. Versi kameranya belum dipindah soalnya.. hehehehe...
Drawer buku dan di laci pertama khusus utk stationary yang dilisah divider (lupa motoin stationarynya)

Box khusus boneka

Box mainan berbahan plastik (tapi nyempil pouch sm dompet di sana lupa dipindah 😅)

Box mainan soft dan drawstring berisi lego dan mainan balok

Board dan mainan bahan kayu di sini tempatnya

Buku Aafiya. Di keranjang itu khusus buku kain

Mainan besar parkir di bawah meja mainan, paling pojok kiri khusus main masak-masakkan

Penampakan ruang tengah, ruang mainan anak

Read More