Bahasa Arab
Memilih Kemudahan
Prinsip setiap orang berbeda!
Meskipun kebanyakan orang tentu lebih memilih jalan kemudahan dari pada yang sulit (baca: ribet) atau sesuatu yang lebih efektif dari pada yang berbelit-belit bolak balik, tapi ternyata ada orang yang ga begitu suka keefektifan dan kemudahan. Lebih memilih jalan yang sulit, tak efektif, berbelit-belit, bolak-balik dan menghabiskan banyak waktu 😁.
Jika ada suatu kegiatan yang bisa dijalankan bersamaan dalam 1 waktu, tidak membuat kita bolak balik, pasti kebanyakan orang memilih yang efektif dan tidak menghabiskan banyak waktu. Tapi, ternyata ada orang yang lebih suka keribetan dan menghabiskan waktu banyak di jalanan, bolak-balik ke sana kemari. Padahal, dikaji secara logis sekalipun, hal tersebut (menjalankan secara bersamaan) sangat jauh lebih efektif. Contoh kasus. Suami dan istri sama-sama punya agenda dan problemnya suami harus mengantarkan istri ke tempat agenda tersebut. Waktu pelaksanaan agenda istri sebenarnya bisa fleksibel. Bisa bersamaan dengan suami waktunya. Tempatnya pun berdekatan atau searah dalam perjalanan. Akan jauh lebih efektif kan jika kegiatan itu dilakukan secara bersamaan. Jika waktunya bersisipan, misal istri 2 jam bertama, suami 2 jam berikutnya, malah tidak efektif. Pertama suami harus mengantar istri dulu lalu balik lagi, lalu jemput istri lagi, antar pulang ke rumah, lalu berangkat lagi ke kegiatan suami, lalu pulang lagi. Ahh betapa ribet nya bolak-balik berbelit-belit. Ada 6x bolak balik kan yaa... yaitu Antar istri-balik lagi, jemput istri balik lagi, berangkat ke kegiatan suami dan balik/pulang. Belum lagi resiko keterlambatan suami jika harus mengantar jemput istri terlebih dahulu. Coba kalau kegiatan tersebut dilakukan bersamaan. Cuma ada 2x bolak balik yaitu berangkat dan pulang secara bersamaan. Apalagi secara jarak tidak dekat. Satu kali perjalanan bisa lebih dari 25 km. Kalau bolak-balik begitu kan akan memakan jarak lebih dari 150 km, memakan waktu dan tenaga yang lebih banyak tentunya. Jika sekalian kan hanya memakan waktu dan jarak sepertiganya... Herannya, ada yang malah lebih suka bolak-balik dari pada yang efektif begini? 😂😂😂 sungguh hayati tak habis pikirrr dan heran maksimal... 😂😂😂
Contoh lainnya, Ada orang yang punya peralatan elektronik semisal dishwasher, vacum cleaner, mesin cuci dan lain sebagainya. Tapi, lebih senang mencuci piring secara manual, menyapu debu dengan sapu biasa atau mencuci dengan manual. Ada food processor tapi lebih memilih mengulek pakai ulekan dan cobek yang bikin tangan super pegel (hihi dulu aku juga seneng ngulek manual sih dengan alasan tasty lebih maknyus kalo di uleg sendiri, tapi sekarang mah ogah bangeeeett... serahkan saja pada food processor 😂, dan lagian no significant taste difference yang diuleg manual ama yang dihaluskan sama food processor). Bukankah jika ada teknologi, lebih memudahkan dan tidak menghabiskan lebih banyak waktu. Kita bisa melakukan kegiatan lain tanpa menghabiskan waktu untuk 1 kegiatan. Ini lain cerita kalau niatnya menghemat listrik yaa.. Ini sebutlah dalam kondisi listrik bayar murah... hehehe...
Sebenarnya, kadang aku ga habis pikir dan tak masuk logikaku. Ini adalah hal yang mubah. Bukan perkara ibadah. Tapi, kenapa lebih memilih jalan yang sulit? Kenapa lebih memilih yang bolak-balik berbelit-belit dari pada yang lebih efisien dan efektif secara waktu dan tenaga?! Bukankah akan lebih baik waktu yang terbuang percuma di jalan, atau waktu yang dihabiskan dengan mengulek bumbu rempah bisa digunakan untuk kegiatan lain??!
Nah itu aku. Sekali lagi, itu mindset aku, yang memang ga suka ada keribetan (dalam kontek hal mubah). Aku berprinsip, jika ada sesuatu yang mudah, efisien, efektif, hi-tech, lebih tidak banyak menghabiskan waktu, aku pasti akan memilih yang lebih mudah. Ini untuk kontek hal-hal yang mubah.
Tapi, aku harus ingat satu hal.
Bahwasannya, aku tak bisa memasangkan sepatuku kepada orang lain. Even sepatuku sendiri pun yang kanan tidak bisa dipakai di kaki kiri. Sebaliknya, aku juga ga bisa memaksa baju orang fix di badanku. (Yang ada malah melar dan robek bajunya mungkin... 😂😂 maklum emak Aafiya sekarang udah melaar.. hiks hiks hahaha 😂😅)
Filosofi klasik memang. Tapi selalu saja pelajarannya sangat berharga. Apa yang aku paparkan di atas, oleh sebab aku memandang dari kaca mataku sendiri. Oleh mindset aku sendiri.
Selalu saja ada alasan atas suatu pilihan. Mengapa seseorang memilih jalan yang sulit dan berbelit, pasti ada alasannya. Dan aku tentu tak serta merta dapat mengerti alasannya jika aku terlalu selfish dan memandang sesuatu hanya dari sisiku sendiri. Boleh jadi, orang yang senang bolak-balik itu memang senang jalan-jalan dan tidak mempermasalahkan bensin, hehehe... Boleh jadi, yang memilih tidak menggunakan dishwasher karena piring yang dicuci tidak banyak jadi bisa dikerjakan sambil nyuci tangan setelah makan. Ya, ada banyak alasan! Dan aku tidak boleh dan tidak berhak sama sekali untuk men-judge bahwa pendapatkulah yang paling bener. Apalagi merasa paling bener sendiri... Astaghfirullaah wa na'udzubillah...
Ya... ini sebenernya curhatan sekaligus reminder buat aku. Sekaligus mengingatkan tentang pentingnya waktu. Justru, kadang banyak waktu berlebih (harusnya ga ada waktu berlebih sih yaa...) dan waktu luang justru jauh lebih melalaikan! Apalagi dengan dunia medsos jaman now. Tanpa disadari banyak sekali waktuku yang tercuri oleh handphone pintar dan medsos ini. Astaghfirullah... Astaghfirullah... Padahal waktu juga akan dihisab... 😣😣😣
Semoga aku bisa lebih bijak dalam memanfaatkan momen kemudahan dan waktu yang Allah pinjamkan...
○●○●○
Di sisi yang lain.
Ada orang yang lebih memilih jalan yang sulit, panjang dan bahkan berbelit-belit. Ada orang yang memilih jika bisa shalat malam dengan membaca surat yang panjang, mengapa memilih triple-"Qul". Jika bisa shalat 8 rakaat, kenapa memilih hanya 4 rakaat. Ada lagi orang-orang yang lebih memilih berpeluh payah dalam menyeru pada kebaikan. Bahkan bully an, cercaan menerpa, tapi mereka tetap memilih jalan ini. Ya, inilah orang-orang yang memilih jalan sulit yang penuh keberkahan. Dan aku--sungguh amat sangat jauh--dari sosok-sosok luar biasa seperti ini. Aku yang penuh dengan rombengan 😣, masih jauh dari sosok-sosok yang memilih jalan sulit berganjar surga tersebut... Sebab menempuh jalan ke surga itu, pastilah menempuh jalan yang sulit. Sedangkan kesuksesan dunia yang hanyalah remeh-temeh saja mendapatinya bisa berpeluh payah, apalagi kemenangan akhirat dan surga yang nilainya amat sangat jauh lebih tinggi! Harusnya jalannya jauh lebih sulit, panjang dan berliku.
Ini sebagai pengingat diri...
Bahwa untuk hal mubah, kita boleh memilih jalan yang mudah. Tapi untuk hal ibadah dan segenap kebaikan lainnya, jika kita bisa melakukan yang lebih tinggi (yang tingkat kesulitannya juga lebih tinggi tentunya), kenapa harus memilih yang biasa-biasa saja.
#NtMS
Ma'annajah dalam kebaikan!
Ingat... ingatlah hisab waktu wahai diriku yang amat sangat lalai... 😣
Just Self Contemplation
Postingan ini masih related to Cita-Cita Sangat "Sederhana" yang aku posting sebelumnya. Berhubung ini adalah blog pribadi yang kebanyakan isinya adalah curcol dan tidak bisa dijadikan referensi ilmiah tentunya, maka isinya pasti mengikuti mood dan suasana hati serta preferensi hal yang sedang diminati pemilikinya. Hihi... Ya, jadii... aku nulis ya nulis aja. Seperti air yang mengalir sesuai dengan hukum alamnya, ke tempat yang rendah. Nulis buat aku, semacam leisure time lah meskipun kebanyakan tersimpan di draft doang karena ga sempat dituliskan. Paling kalo semua isi keluarga sudah bobo cantik dan bobo ganteng, baru deh aku nuliis. Daaan, serunya adalah... di blog ini juga aku kebanyakan pakek credo "tulisin apa yang dipikirin", bukan "pikirin apa yang ditulisin". Jadii bener-bener depend on situation and condition, preferensi, minat, ketertarikan atau apalaaah saat aku nulis... misal lagi TA ya pasti seputar dunia ke-TA an, dan kalo udah jadi emak, preferensinya pasti berhubungan dengan dunia per-emak-an😄. Okeeh sepertinya aku tidak perlu memperpanjang mukaddimah lagi yang biasanya memang selalu panjang lebar dulu sebelum bener-bener sampai ke inti permasalahannya... wkwkwkwk... 😂
Berhubung aku lagi sedikit mendalami dunia parenting dan dalam rangka berbenah seperti yang aku ceritakan sebelumnya (kali ada yang tertarik, jadi sila klik aja link nya di atas yaak), maka yang aku tulis masi seputar ini laah...
Kali ini tentang kontempelasi diri, merenung, meresapi dan mempelajari soal 'rasa' yang muncul di hati... Iya, tentang rasa... karena wanita lebih mengutamakan rasa? Ahh lupakan dulu soal diferensiasi lelaki dan wanita tentang porsi rasa dalam mendominasi keputusan atau reaksi sikap yang dimunculkan atas sesuatu kejadian atau hal. Heuheu... Mari memberi kanal saja untuk rasa yang ada di hati... ☺😊
Setelah mulai sedikit berbenah, menjemput kembali yang tertinggal, mengilmui kembali yang seharusnya diilmui dari sedari dulu kala, berasa diri ini masih sangat jauh. Semakin digali, semakin berasa banyak rombengannya... Tapi, semangat itu benar-benar sangat fluktuatif. It's hard to maintenance the spirit in "therapeutic" window...
Ya, kadang terasa sangat bersemangat sekali... Tapi, di satu titik merasa lelah sendiri...
Fiiuuftt... Bismillaah...
(Pakek menghela nafas panjang dulu sebelum menuliskan ini... Sebagaimana memang menulis tentang ini tak mudah buat aku)...
Terkait artikel sebelumnya tentang berbenah, ada satu dari dua point yang paling urgent untuk dibenahi terlebih dahulu (yang mungkin saja keduanya saling berkaitan satu sama lain). Point pertama adalah emotion stabilizer dan point kedua adalah how to talk with kid and kid will listen (bahasa singkatnya: komunikasi). Nah yang menjadi perenunganku adalah point pertama (tanpa menafikan pentingnya point kedua). Tentang emotion stabilizer.
Setelah melewati perenungan panjang, aku menyadari bahwa aku terkadang (dan mungkin cukup sering) berada pada titik labil emosi kepada anak. Bahasa sederhananya; marah dan emosi yang sulit dikendalikan 😣. Kadang hanyalah menyoal hal sepele (dan anak-anak tetaplah anak-anak yang belum megerti apa-apa, sedang belajar mengeksplorasi dunia). Dan, kemudian berujung pada penyesalan setelahnya (setelah cooling down). Buntut terseringnya adalah merasa down, merasa tidak menjadi ibu yang baik, merasa wanna escape and going alone far far far away untuk sesaat... Lalu satu pertanyaan muncul tanpa permisi, "hey! What's wrong with me... Kenapaaa aku beginiiii?"
Ketika masih single, aku merasa tak begini dulunyaaa... Jika pun ada emosi, tidak sampai sebegininya. Kenapa sangat mudah tercetus bahkan buat hal-hal yang sangat sepele sekalipun jika terkait soal anak? Astaghfirullah...
Selalu berjanji untuk memperbaiki, tapi kerap pula terulang lagi dan lagi! 😢
Setelah aku berpikir mendalam, kesimpulan yang aku kantongi adalah; bisa jadi aku berada di titik saturasi, bisa jadi karena kurang merasa menjadi diri sendiri di saat memang urusan di luar diri yang harus segera dipenuhi terlebih dahulu. Di saat merasa diri tak berarti dan tak berdaya guna. Di saat merasa sangat sangat sangat down... Bisa jadi aku sedang sangat mengantuk dan ingin tidur sementara kondisinya membuatku tidak memungkinkan untuk tidur... Bisa jadi... Bisa jadi... Bisa jadi... (banyak hal lainnya mungkin).
Selama ini support dari suami sangat membantuku dan sudah menjadi emotion stabilizer bjat aku. Big hug ketika down even not in down condition. Big appreciate even in a small achievement. Waktu untuk melakukan "me time". Great help di pekerjaan rumah tangga. Semua "pupuk jiwa" ini sudah diberikan oleh suamiku tercinta (Ma shaa Allah... Jazakallah wa Barakallahu fiik ya Zaujiy...). Tetiba ada satu kata yang tiba-tiba muncul menyoal ini dan cukup menggentayangi fikiranku: inner child!
Inner child. Kata yang sebenarnya sangat sulit untuk aku deskripsikan. Konon kabarnya, inner child (terutama untuk perasaan negatif) ini akan muncul ketika kita berada di situasi yang berat, jenuh, emosi dan kita akan mengekspresikannya sama seperti apa yang pernah kita alami atau menuntut kita "memenuhi kekosongan" yang sempat kita ingini atau kita butuhkan dulunya, jauh ketika kita belum mengingati sesuatu. Tersimpan rapi di alam bawah sadar kita, dan terpanggil kembali ketika kita menghadapi situasi yang sama ketika kita dewasa.
Ketika kondisi kita normal, mungkin kita merasa baik-baik saja. Yes, i'm OK. Ga ada yang salah dengan aku. Tapi, pada satu titik ketika kita merasa "out of control" mungkin kita akan bertanya-tanya pada diri kita "mengapa aku sebegininya", "mengapa aku mudah sekali tercetus marahnya", "mengapa aku sulit sekali mengambil keputusan", dan sederetan "mengapa aku..." lainnya. Dan kadang aku bertanya seperti itu ke dalam diriku sediri...
Tapi, aku sendiri merasa sejauh ini belum bisa menggali lebih dalam mengenai inner child ku. Aku belum berani untuk 'jujur' pada diriku sendiri untuk membuka lembaran memori lalu. Membiarkannya jauh jauh dan sangat jauh tersimpan dalam peti memori...
Tapi, dalam perenungan, tetiba saja pertanyaan pertanyaan itu muncul di relung hati. Butuh jawaban kah? Entahlah, sejauh ini aku masih missing tentang ini...
Bingung yaa bacanya? Haha... Iya. Maafkan, ini hanyalah sekedar kontemplasiku saja dan ketahuilah bahwa sebenarnya aku juga masih bingung dengan inner childku sendiri. Yang aku rasakan adalah aku membutuhkan emotion stabilizer yang bersumber dari diriku sendiri. Untuk emotion stabilizer external mungkin aku sudah dapatkan dari suami, tapi tetap saja aku membutuhkan emotion stabilizer internal; Mendamaikan inner childku sendiri sebelum menjadi pendidik dan pengasuh yang baik untuk anak-anakku.
Setiap orang (ibu) pastilah ingin menjadi lebih baik dan ingin menghasilkan generasi yang lebih baik dari dirinya. Setiap orang (ibu) pastilah tidak ingin mewarisi dari generasi ke generasi tentang inner child yang buruk dan emosi negatif yang pernah ia terima... Dan pertama kali yang seharusnya ia lakukan adalah "mendamaikan inner child nya sendiri".
Aku in shaa Allah ingin bahas lebih jauh lagi soal emotion stabilizer ini. In shaa Allah di lain waktu... Karena ini judulnya adalah self contemplation, maka aku murni menuliskan tentang kontemplasi saja dan tak ingin berpanjang-panjang merumuskan solusi di sini... 😄
Cita-Cita Sangat "Sederhana"
Disclaimer:
Konten ini berisi curhatBaiklah, kali ini mungkin aku akan sedikit berpanjang lebar. Dan itulah bahagianya punya blog yang pengunjungnya bisa dihitung jari. Hanya orang-orang serius sajalah yang akan rela mengetik URL dan mampir di mari. Maksudnya, kalo ga serius ga usah mampir
Jadi, karena ga harus 'berinteraksi' apalagi nungguin likers wkwkwkwk, dengan blog kita bisa bebas berekspresi. Suka-suka mau bikin apaa, pure from the bottom of the heart... Makanya, blog selalu lebih mempesona buat aku ketimbang eksis di dunia medsos (dan udah mencapai titik saturasi juga kali yaa untuk bermedsosan yang dulu memang pernah mengalami masa jaya. Apa-apa di share ke medsos. Apa apa di curhatin ke medsos. Ahh, pengen nutup muka pakek niqob ihrom kalo inget masa-masa
Lho..lho... ini malah mukaddimahnya terlalu panjang kayak tali telepon yak. wkwkwkwk...
kembali ke judulnya, Cita-cita sangat sederhana.
Mendengar kata sederhana (apalagi dibubuhi kata 'sangat'), kira-kira apa yang ada di pikiran kita dan kebanyakan orang?
Mungkin kata-kata yang tepat untuk mewakilinya adalah simple, gampang, mudah, tidak butuh banyak efforts, bisa sambil lalu, hmm.. apalagi yaa? Bahkan salah satu soal ujian di pelajaran matematika zaman SMP atau SMA berbunyi "sederhanakanlah persamaan berikut!" yang berarti persamaan yang terlihat rumit itu diuraikan menjadi bentuk paling sederhana.
Ya begitulah si sederhana (salah satu pengecualiannya adalah sebuah nama rumah makan yang bikin saku ga sederhana sih).
Tapi, sebagaimana si rumah makan itu, begitulah sederhana. Tak selamanya sederhana itu mudah, simple dan tak butuh efforts. Ada sederhana yang sangat rumit. Ada sederhana yang sangat tak mudah. Salah satunya (selain nama si rumah makan) adalah sebuah cita-cita.
Cita-cita sangat sederhana.
Jika aku dulu ditanyakan, "apa cita-citamu?". Ketika setiap teman-teman seperkuliahan yang memang kebanyakan perempuan menjawab ingin menjadi pharmacist ini, pharmacist itu (pharmacist banyak bidangnya lho fyi!), aku menjawab spontan "Cita-citaku sangat sederhana, ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik. Lalu, cita-cita sampingan ingin menjadi farmasis yang berdaya guna."
Dulu... Duluuu sekali... satu dasawarsa yang lalu. Jika kamu iseng mengetikkan keyword 'Ibu rumah tangga yang baik' di blog ini, maka kamu akan menjumpai banyaaaak sekali tulisan-tulisanku (yang semoga ga kebanyakan alay ala anak mahasiswa) yang bertajuk ini. Kayak macam udah pakar aja... Padahal asline yoo ndak berilmuuu aku ini. Kalau aku baca lagi, sungguh aku jadi malu pada diri sendiri. Tentang apa yang sudah kutuliskan. Tentang keidealisanku yang waktu itu masih jadi penonton, bukan pelakon. Komentator, bukan pemain. Ya, tolong dimaafkan saja yaa. Maklumilah mahasiswaa, sangat idealis, belum berjumpa dunia nyatanya.
Ya begitulah. Aku, meskipun dulu sangat menyukai dunia parenting, membaca berbagai buku pengasuhan anak, tetap saja merasa menjadi ibu rumah tangga itu bukanlah hal yang mudah dan aku merasa sama sekali tak memiliki bekal apa-apa. tetap saja masih sangat sangat sangat sangat sangat.... sangat jauh dari sosok ibu rumah tangga yang baik. Menjadi ibu rumah tangga sama sekali tidak semudah dan sesederhana pengucapannya. Sama sekali tidak sesimpel yang aku bayangkan dulunya. Dan mungkin jauh lebih susah dari pada menjadi quality assurance staff even manager di sebuah industri obat, menjadi clinical pharmacist yang handal di sebuah rumah sakit besar yang hafal sepuluh ribu macam obat berikut drug related problem nya. Ah, menjadi ibu rumah tangga lebih rumit dari itu menurutku. Memiliki cita-cita sangat sederhana: menjadi ibu rumah tangga yang baik benar-benar tidak mudah, butuh efforts yang banyak, tidak simple, complicated, butuh kesabaran tingkat tinggi dan sangat butuh ilmu!
Menjadi ibu rumah tangga menurut pandangan orang kebanyakan (apalagi ibu-ibu jaman dulu kali yaa) bukanlah hal yang perlu diistimewakan. Hal biasa. Bisa sambil lalu. Atau sesuatu yang harusnya begitu, sudah kodratnya. Ga butuh apapun koq. Tinggal jalani aja.
Ah, ternyata cara berpikir seperti inilah yang ternyata sudah salah sejak awal. Banyak orang (terutama di kampungku, entah di kampung atau kota lainnya) berpikir bahwa menjadi ibu rumah tangga itu sudah seharusnya, tapi bisa memiliki pekerjaan yang bonafid, itu baru istimewa. Sebutlah menjadi PNS (sebuah prestise yang bonafid ala kampungku dan aku pernah sekali ikut tes PNS juga hihihi dan meskipun pada orang jaman now menjadi PNS sudah disebut cita-cita jadul ketinggalan jaman hehe) tetap menjadi sesuatu yang dikejar. Ya, aku juga tidak bisa menggenaralisasi untuk semua orang tentunya. Ada orang tua tunggal yang mau tak mau harus bekerja menghidupi anaknya. Ada orang yang sangat sangat membutuhkan pekerjaan yang diluar kondisi normal. Aku sedang bicara tentang persepsi ibu rumah tangga dalam konteks secara umum dan kondisi tanpa pengecualian.
Mengapa aku bisa mengatakan bahwa menjadi ibu rumah tangga jauh lebih rumit dari pada menjadi quality assurance manager di sebuah industri obat, menjadi clinical pharmacist yang handal di sebuah rumah sakit besar yang hafal sepuluh ribu macam obat berikut drug related problem nya? Seperti yang dijelaskan oleh temanku (aku hanya mengutip dengan menggunakan bahasa sendiri) bahwa generasi sekarang dipersiapkan bukan untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik tapi dipersiapkan untuk menjadi wanita karir. Meningkatnya taraf pendidikan (dengan banyaknya wanita yang bersekolah hingga tingkat lanjut) serta merta membawa dampak bahwa wanita lebih siap menjadi ekonom,akuntan, scientis, arsitek, dokter, farmasis, bidan, perawat, engineer, guru, dari pada menjadi ibu rumah tangga. Apalagi dibubuhi dengan cara pandang menjadi ibu rumah tangga adalah sesuatu yang seharusnya secara kodrat mesti dilalui, bukan dipandang sesuatu yang mesti dipersiapkan dan diilmui.
That's what happen to me. Alhamdulillah Allah kabulkan cita-citaku untuk menjadi ibu rumah tangga (yang masih tertatih-tatih menuju baik). Sejujurnya, setelah menjadi pelakon bukan penonton; pemain bukan komentator, aku merasa lebih siap untuk menjadi clinical pharmacist dari pada menjadi ibu rumah tangga. Sebab, menjadi farmasis, aku sudah dibekali dengan ilmunya hingga bahkan 7 tahun! Tapi ketika menjadi ibu rumah tangga ternyata masih banyaaaaaaaaaaaaak dan sangaaat banyaaaaaak (entah butuh berapa huruf A lagi untuk menyatakan banyaknya) ketertinggalan yang harus aku kejar. Bahkan aku yang sudah membaca banyak buku tentang mendidik dan mengasuh anak dulunya pun, sekarang merasa menguap entah di mana itu isi bukunya. Aku merasa sama sekali tak punya bekal. Aku tak punya ilmu. Aku sungguh butuh ilmu dalam menjadi ibu rumah tangga. Dan semakin kusadari betapa menjadi ibu rumah tangga benar-benar sangat butuh persiapan, jauh melebihi karir lainnya. Menjadi ibu rumah tangga lebih dari sekedar memastikan obat layak dipasarkan atau tidak, melainkan menyiapkan sebuah miniatur peradaban. Sebuah lingkungan, hingga negara yang baik pastilah terdiri dari kumpulan-kumpulan keluarga-keluarga yang baik. Bukankah ini tugas yang berat?! Obat yang diproduksi boleh jadi cuma satu jenis yang diproduksi masal, tapi setiap anak yang lahir sungguh sangat personalize perlakuannya. Mereka unik. Mereka tak sama, bahkan dengan kita sebagai ibunya sekalipun. Apakah hal ini tak butuh disiapkan? Obat yang rusak dan tak layak dipasarkan, masih bisa diretur, masih bisa dibuat ulang, tapi generasi yang sudah terlanjur rusak? Dapatkah kita meng-undo nya? Dapatkah kita mengembalikan waktu dan mengulangi pembenahan dari awal lagi? Ahh, lagi-lagi, menjadi ibu rumah tangga bukanlah sesuatu yang kodrati semata, tapi sesuatu yang benar-benar harus diilmui sekaligus DIPERSIAPKAN!
Ya... Ya... Ya... Sekali lagi, aku benar-benar merasa sangat tertinggal jauh. Ada banyak yang missing dari persiapanku dulunya. Aku tak bersiap ketika ada kondisi di mana harus menghadapi sesuatu yang berulang yang mungkin terkadang membuat jenuh. Aku tak bersiap menghadapi karakter setiap anak yang sangat unik. Tak ada perpustakaannya. Tak ada bukunya. Yang ada hanyalah kisi-kisinya saja. Guidance yang diberikan agar tetap pada right path. Aku tak bersiap dengan selaksa kesabaran yang kadang (atau sering) kehabisan stok dan butuh renewal terus menerus. Aku tidak bersiap dengan perangkat emotion stabilizer yang membuatnya tetap stabil ketika banyak sekali pencetus-pencetusnya. Ahh... jika dilist satu persatu di sini, mungkin space postingan blog ini tak cukup untuk menampungnya, saking banyaknya persiapan yang harus dibenahi.
Ya begitulah cita-cita sederhana yang pada kenyataannya sama sekali tak sederhana. Banyak hal yang perlu dipersiapkan, dibenahi, dipelajari. Tentang bagaimana tetap memaintenance kebahagiaan di banyak kelelahan, kesalahan, ketidaksabaran, dan semoga bukan keputus-asaan--na'udzubillah. Semisal melakukan sesuatu yang berulang, pada titik jenuhnya, syaithan merayu, "Ahh Fathel, coba dulu kau terima saja tawaran menjadi dosen", "Coba kalau kamu sekarang bekerja di farmasi klinis, bidang yang kamu sukai, ilmumu pasti jauh lebih bermanfaat. Hidupmu pasti lebih menyenangkan". Atau menghembuskan rasa iri ketika melihat teman-teman seperjuangan lanjut sekolah lagi, ikut seminar ini dan itu. Ah, selalu saja banyak cara bagi syaithan untuk merenggut rasa syukur kita dan membuat apa yang orang lain miliki tampak indah. Padahal, kita saja yang kurang melihat segenap karunia-Nya pada diri kita yang membuat kita sedikit sekali bersyukur.
Masa berlalu begitu cepat. Tak berasa, Aafiya anak pertamaku sudah mencapai 3 tahun. Tiga tahun ini masih banyak kesalahanku dalam mendidik, mengasuh dan membesarkannya. Tiga tahun ini, yang sebenarnya tahun-tahun emas tapi penuh rombengan sebab kurangnya ilmu, sedikitnya sabar dan minimnya syukurku. Semoga belum terlambat untuk berbenah. Smoga belum terlambat untuk kembali menjemput bekal yang tertinggal; persiapan yang seharusnya sudah dimulai jauh-jauh hari dulunya. Bukan jauh-jauh hari lagi seharusnya, tapi jauh-jauh tahun. Ada banyak sekali PR ku. Ya, aku butuh mengilmui segala sesuatu untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik.
Support dari suami selama ini benar-benar sangat-sangat membantuku melewati dan in shaa Allah sedan dan akan menjalani masa-masa pengasuhan ini. Selain masa-masa ini sangat wonderful, penuh kenangan, dan sangat membahagiakan ketika melihat perkembangan anak, juga ada masa-masa lelah, masa berat, masa jenuh, masa merasa tak punya banyak waktu. Percayalah, bahwa pelukan sesering mungkin, bercerita berdua meng-kanal-kan isi hati, dan waktu me time adalah hadiah yang tak ternilai harganya, intangible value prize yang diberikan seorang suami kepada istrinya. That's what my husband do. Give me many hug and time to speak only both of us about everything that's happen or what i feel (baca: denger curhat istrinya). And also at least 2 hours per day to do "me time". It's really-really kind of encouraging for me... Membantu jiwa tetap segar, memaintenance kebahagiaan. Me time berarti ayah bermain bersama anak, itu juga memiliki dampak positif kelekatan anak bersama ayahnya, dan menghadirkan peran serta ayah dalam pengasuhan. Doble-doble prize deeh.. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah... Ma shaa Allah tabarakallah.. Jazakallahun khair katsir Zaujiy...
Bismillaah...
Mulai berbenah, menjemput bekal yang tertinggal dan melangkah!
Smoga cita-cita menjadi ibu rumah tangga yang baik bisa tercapai dan terwujud.
Sungguh, tak perlu jauh-jauh mencari kebahagiaan. Ada di sini, di hati. Dengan banyaknya rasa syukur atas segenap karunia-Nya, itulah kebahagiaan yang sesungguhnya. Menyukuri setiap garisan yang ditetapkan-Nya dan mencoba menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Di luar sana, banyak orang yang masih memimpikan memiliki anak, anak yang aktif dan ceria. Kita, tinggal menjalani saja, masihkah banyak keluh kesah? Bersyukur... bersyukur... bersyukur.... Dan juga bersabar...bersabar...bersabaar... Ini masa tidaklah lama. Sebentar saja. Waktu berlari sangat kencang. Oleh sebab sebentar itulah, kita harus memperlakukannya dengan sebaik-baik perlakukan. Agar masa tak berlalu sia-sia. Lalu bagaimana kita mempertanggungjawabkannya, jika hanya catatan sia-sia yang kita punya. #justselfreminder
Menggerus Rasa dan Penjagaan Hati
![]() |
| My little princess at Dr Sulaiman Al Habib Hospital |
Ramadhan Sale dan Musim Diskon
Bajak Membajak yang Bukan Sawah
Suatu ketika aku mencoba memfoto makanan yang ternyata tak mudah untuk mendapatkan hasil yang profesional. Yaa, aku sendiri sebenernya juga rada malas sih 'menghias' latar photo ala-ala food photography gitu karena seringnya ga punya waktu banyak dan males ngotorin piring/mangkok dan kawan-kawannya lagi. Jadinya fotonya seadanya.
Jadii, mendapatkan foto bagus itu tidaklah mudah. Butuh banyak pengorbanan. Apatalah lagi membuat program atau aplikasi komputer misalnya. Bukan sehari dua hari tapi tahunan! Biaya riset yang tidak murah. Waktu yang tidak sebentar. Kegagalan yang berulang-ulang. Lantas, setelah sedemikian susahnya, masa sih kita enak-enakan menikmati hasilnya dengan BAJAKAN! Ya, ini poin yang ingin aku view saat ini.
Dahulu, ketika aku belum tau bahwa segala yang bajakan maupun yang versi KW itu tidak halal untuk dinikmati, aku adalah salah satu penggunanya. Terutama program bajakan. Spesifiknya, segala sesuatu yang berhubungan dengan desain dan video editing. Dengan mudahnya bilang ke teman, "copy program ini dongs." tanpa sedikitpun rasa bersalah. Astaghfirullaah. Astaghfirullaah. Sungguh diri ini sangat fakir ilmu.
Dan ternyata itu perbuatan bajak membajak ini jatuh pada status haram karena mengambil hak orang lain, merampas hak orang lain dan orang tersebut pasti tidak ridha ketika hak mereka dibajak meskipun bukan muslim. Ya, Islam sangat menjunjung tinggi hak cipta dan menghargai creatifitas. Tidak mudah mendapatkannya dan kita dengan enaknya membajaknya dan menggunakannya sesuka kita? Padahal seharusnya kita membayar kreatifitas yang telah mereka buat itu, uang yang telah mereka keluarkan, waktu yang telah mereka habiskan dan kepayahan serya kegagalan yang telah mereka alami. Jangankan untuk program, untuk mendapatkan fotografi yang bagus saja sudah susaaah. Ahhh, sungguh ada hak orang lain yang kita ambil secara dzalim. Astaghfirullah.
Semoga Allah kuatkan azzam kita untuk meninggalkan segala bentuk program bajakan (kecuali dalam kondisi amat sangat terpaksa sekali). Terkadang ketika sudah 'menikmati', terasa berat untuk meninggalkannya. Semoga Allah kokohkan tekad kita dan Allah kuatkan hati kita untuk meninggalkan itu semua. Toh dunia ini hanya sebentar saja. Jika kita tak memakai program bajakan, in shaa Allah tidak akan membuat kita sakit kan? Atau tidak sampai mengancam jiwa kan? Atau paling sederhana, tidak membuat kita laper kaan? Jadi, seharusnya tidak ada alasan untuk tidak meninggalkannya.
Bismillaah.
Mari kembali menyusun langkah dan menekan menguatkan hati untuk memencet tombol "DEL" untuk setiap program bajakan yang masih nangkring di PC kita. Hihi...
Bebersih
Beberapa hari yang lalu aku abis "bebersih" blog. Iya. Bebersih sekaligus membuang link-link blog yang tidak aktif lagi 😀
Ceritanya, pas di ceki-ceki, ternyata banyak di antara list di blog aku yang dulunya aktif ngeblog tapi sekarang sudah off. Banyak juga yang blognya sudah usang dan bahkan ada yang sudah tidak dipakai lagi. Ya, untuk blog yang tidak pernah ditulisi lagi setelah thaun 2011-2012 termasuk kategori blog yang aku hapus linknya. Dari pada pelihara "rumah kosong" mending bebersih aja sekalian. Sapu sapu sapu hingga bersihhh. Ciaaatt... Ciaaattt... Hehehe...
Daaaan, taraaaa link di blog aku sekarang berkurang lebih dari 50%
Angka yang fantastis bukaan? Iya sih yaa...
Itu artinya, lebih dari setengah blogger sekarang tidak lagi menjadi blogger. Hihi...
Mengapa oh mengapa ini semua terjadi?
Setelah melakukan sedikit analisa dadakan, sepertinya kehadiran sosial media merupakan causal utama mengapa blogger meninggalkan blognya. Mengapa?
Sosial media itu:
✔️ easy to use (tinggal install aplikasi, aplod photo, bikin tulisan tentang itu... Atau hanya sekedar bikin status? Tinggal klik di kolom yang ada tulisan "apa yang sedang anda pikirkan", dan taraaaa...isi pikiran berubah menjadi status... Kekekeke...)
✔️ lebih interaktif (audiens nya lebih banyak, feedback lebih terasa, lebih berlangsung dua arah. Ada fasilitas like jugaak. Wuiiihh kalo dapat like, seneng nyaa bukan main. Wkwkwkwk... )
✔️ follower dapat dengan mudah mengakses tanpa harus repot-repot ngebuka blognya. (Buka akun pribadi, postingan orang lain pun nyantol di timeline)
✔️ posibility orang membaca akan lebih besar dengan sosial media. (Namanya juga SOSIAL yaa mestinya ramee... Ga ada yang namanya SOSIAL tapi sendirian. Ya kayak blog. Makanya blog bukan sosial media... Hehe)
✔️ aktualisasi diri (bagi sebagian orang lebih berasa kali yaa. Misal "tuuhh kaaan, liat follower gue banyaaaak. Gue terkenal kaaan". Bukankah banyak yang jadi seleb juga gegara si sosmed?).
Next, ada yang mau menambahkan lagi poin nya?
Ya begitulah.
Kehadiran sosial media bagi si blog bagaikan kehadiran g*jek/gr*b/ub*r bagi abang ojek pangkalan. Ihiks...
Buka blog, butuh usaha, butuh ngetik url dulu. Nge comment kudu log in dulu. Kalo sosmed mah tinggal buka akun sendiri daaan akan banyak tulisan berseliweran.
Jadi, semenjak kehadiran sosmed yang makin nge-hits, hanya beberapa blogger saja yang bener-bener blogger yang masi bertahan di dunia per-blog-an dan hanya stalker sejati sajalah yang masi ngikutin blognya para blogger 😂😂😂...
Buat aku, meskipun ada sosmed, blog tetep jadi rumah maya yang in shaa Allah tidak aku tinggalkan (smoga istiqomah). Berharap ada 'jejak hikmah' yang tertinggal. Sekurang-kurangnya memuarakan rasa. Sebab menulis adalah salah satu rekreasi jiwa. Meski bukan nulis cerpen atau novel lagi seperti dahulu kala. Hehe...
Really appreciate buat para blogger yang masih menggoreskan kata di rumah mayanya. Selamat buat yang blognya tidak ikut kesapu bebersihnya blog "ummu aafiya". Sila cek link nya. Mana tau blog kamu sudah kehapus. Boleh komen di sini. Hahaha, emangnya kamu siapaaa sih Fatheeeeel? 😝😝😝
Iyaa... Iyaa... Aku tau koq, blog readers nya ga banyak. Hihi... Jadi, in shaa Allah ga ada yang baper juga... 😀
Akhirul kalam, yuks nge blog lagiii...
Jangan biarin semak belukar memenuhi rumah mayamu... Okeeh? 😉
SEMANGKA!
Betewe, sebelum melanjutkan cerita, aku mau berbagi tips membeli buah semangka. Semangka itu... Rada mirip manggis deh. Hah? Mirip dari mana coba? Kekeke... Maksudnya, mirip dari cara kita menentukan isinya. Kalo manggis bisa dilihat dengan menghitung dan memperhatikan bentuk di bagian bawahnya yang menggambarkan bagaimana isi di dalamnya (ma shaa Allah...). Lebih kurang begitu juga dengan semangka.
Berikut tips memilih semangka.
1. Pilihlah semangka yang jelas batasan garis yang berwarna hijau tua dengan yang berwarna hijau muda.
2. Garis semangka tersebut sampai ke ujungnya (tidak putus di tengah jalan alias patah hati... Kekekeke)
3. Pilihlah semangka yang warnanya lebih hijau.
Nah, jika ada semangka yang 'memenuhi syarat di atas', in shaa Allah semangkanya manis, dan buahnya besar (batasan pinggir semangka yang berwarna putih lebih tipis). Alhamdulillah kami sudah membuktikan tips ini beberapa kali dan menjumpai semangka yang "qois, miya miya" begitu kata orang sini. Perfect semangkanya. Ma shaa Allah...
Gimana? Ada yang ngiler ga liat semangka di atas? (abaikan keberantakannya 😝).
Begitulah. Semangka senantiasa membuat aku ngiler di musim panas ini. Dulu, aku pikir di gurun ini yang bertumbuh hanyalah pohon kurma. Tapi kemudian aku baru menyadari bahwa semangka pun salah satu buah yang tumbuh di sini. Dan yang lebih menakjubkan bagiku adalah... Semangka di sini, di negeri gurun ini hanya berbuah di musim panas. Bayangkan, gurun kerontang ini ternyata menghasilkan buah yang segar, penuh air, lagi manis... Ma shaa Allah... Ya, di saat dahaga, kering, panas menyengat, di saat itu pula semangka yang manis ini berbuah. Maha besar Allah dengan segenap ciptaan-Nya.
STEAK
Hamil Aasiya, tiap bulan ngacir beli steak.
Jadi, sebenere emk Aafiya ini kenal steak dari mana siiiihh???? Emang di Solok Selatan ada restoran steak?! Percayalah sodara-sodara, di kampungku yang di pelosok sumatera barat itu takkan engkau jumpai restoran steak. Hihi...
Sebenarnya, aku juga tak mengerti kenapa aku suka makanan seperti steak, burger dan pizza. Serius, aku ini orang kampung. Sedari kecil juga tak pernah makan begituan. Hehe... Sepertinya ada tiga kesimpulan mengapa aku menyukai menu ala western ini.. Pertama, selera makan itu bukanlah warisan dan juga bukan sesuatu yang perlu dilatih sedari kecil. Kedua, sepertinya aku berbakat jadi orang western, wkwkwk. Ketiga, aku masih cinta Indonesia koq! (jangan serius amat baca kesimpulannya yaa... ;P). Selain itu, menu oriental aku juga suka banget koq. Menu timur tengah khususnya fahm dan berbagai jenis nasi (nasi bukhory, nasi peshawar, nasi mandhi) dan juga broasted dengan citarasa khasnya arab banget juga suka. Menu jepang juga sukaa banget kayak beef teriyaki dan sushi. Menu china jugaak kayak mie canton gituh, beef schezuan juga. Ya salaaam... ini apa namanya sih Fatheeeel?!!!! Ngomongin perut meluluuu... Panteees ajah naik dua digit inih timbangan. *tutup muka*.
Pertama-tama diperkenalkan dengan steak adalah ketika aku diajak makan steak di warung steak dan kemudian ditraktir teman yang nikahan. Pertama kali ke restoran pizza ketika ditraktir teman yang milad. Pertama kali nyobain burger ala american ketika ditraktir (lagi) sama temen yang milad juga. Dan itu semua terjadi saat aku sekolah lanjutan di Depok. Jadiiiii??? Ternyata traktiran-traktiran ini tho yang menyebabkan aku suka makanan ala western ini?? Waaah, hati-hati yaa teman-teman kalo ditraktir! Ternyata ada efek candu nyaa... LoL. Ga dink. Becanda. Mereka ini hanyalah inisiasi aja kali. Atau reaksi katalisasi? <-- bahasa afaaa iniih?
YA begitulah. Akhirnya, aku si anak kampung ini, yang ga mengenal makanan bule dan kemudian jadi
Nah, karena jajanan kita inilah yang sebenarnya dikategorikan part of junk food, makanya jadi termotivasi untuk bikin homemade. Ya, sebenarnya itu inti tulisan aku sekarang. Lebih tepatnya memotivasi diri sendiri untuk membuat jajanan sehat buat keluarga. Aku menyadari, jika terus berlanjut, jajanan yang aku sebutkan di atas bukanlah sepenuhnya jajanan sehat. Sesekali sih in shaa Allah ma fi musykilaa. Ga masalah, in shaa Allah. Tapi, bagaimana jika seterusnya?? Bagaimana jika kemudian anak-anak jadi ter-influence dengan pola jajan seperti ini? Na'udzubillah... Memang, alhamdulillaah di sini anak-anak tidak terbiasa ke warung sendiri dan juga tidak minta jajan melulu. Tapi, bagaimana jika anak "dibiasakan" untuk jajan makanan junk food?! Dan inilah motivasi terbesar aku sebenarnya mengapa aku ingin sekali membuat makanan sehat di rumah. Mau ala apaa ajaa, western kek, oriental kek, minangense kek, tapi yang terpenting point utamanya MOSTLY HOMEMADE!
Nah, karena judulnya adalah STEAK, maka aku mau nge share tentang homemade steak. Dulu, ga kebayang bakalan kepikiran bikin steak ini. Dalam pikiranku steak ini susaaah banget bikinnya. Tapi, setelah dicoba, alhamdulillah ga jugaa...Hehehe... Dan tasty nya bisa disesuaikan dengan lidah sendiri. Hihi...
Pertama bikin steak kampung dulu. Lebih tepatnya sih daging bakar kayaknya.... :D Karena spice nya benar-benar spice minang...Hihihi... Sayurnya acar timun wortel dan sausnya dari saus tiram.
| steak kampung. |
| steak yang seriusan |
Kesimpulannya, sebenarnya jika mau, kita bisa bikin homemade menu apa aja. Catet, JIKA MAU! Sayang, kita (aku terutama) kadang terkalahkan dengan ketidakmauan dan juga keingin-cepat dan instan-an. Ya, butuh energy lebih dan semangat lebih niih. Apalagi, aku memang sebenarnya tidak begitu hobi memasak. Hehe...
So, lets be healthy, let's make homemade food...
Selamat berkarya, teman.
Yang Tak Terwakilkan Lewat Kata
Ujian itu, adalah niscaya dalam kehidupan dunia. Jika kita ingin bersenang-senang, maka bukan dunia tempatnya. Dunia ini tak terlepas dari ujian demi ujian, baik kegundahan, keresahan, kesedihan, kehilangan, maupun sebaliknya, kenikmatan, kebahagiaan. Maka, jika ingin bersenang-senang; berupayalah untuk menggapai kesenangan yang sesungguhnya yang tiada bisa dilukiskan dengan kata, yang di sana tiada lagi ujian, meski harus menggapainya dengan berpeluh payah, meski dengan tertatih, meski dengan merangkak.
Dia, Yang Maha Menciptakan Segenap Kehidupan, selalu memberikan celah kemudahan pada setiap sempit dan sulit. SELALU saja ada kemudahan, dibalik kesulitan. Itulah janji-Nya. Jadi, serahkan segenap urusan hanya kepada-Nya saja. Cukuplah kepada-Nya saja. Sekali lagi, cukuplah kepada-Nya saja.
Tetap bersemangaat. Sebab, Dunia ini hanyalah sebentar.
Sebentar yang menentukan! Sangat menentukan; apakah pada akhirnya meraih kenikmatan yang sesungguhnya, yang tiada berujung, atau kesengsaraan yang tiada berkesudahan--Na'udzubillah--
![]() |
| salam cinta dari Aafiya untuk nek ya & nek bu |
Riyadh, penghujung 1437 H
Untuk satu sosok tercinta, jauh di belahan bumi sana; we love you, Ayah.
Tantangan Membesarkan Anak di Era Gadget
Widihhh judulnya berat yaak.. Hehehe..
Baiklah, mari bercerita dengan seringan mungkin. Lagian siapa juga yang 'dengerin' siy Fathel? Wkwkwk... Lagi, ini sebenarnya lebih kepada pengingat diri. Ya, pengingat untuk diri sendiri...a
Ketika kita masih kecil (kitaaa? Kamuuh ajah kaliih Fatheeellh.. :P), sebutlah era akhir 80-an dan 90-an, sepertinya kehidupan kita tidak begitu 'terusik' dengan adanya telepon pinter alias gejet. Ibu-ibu apatah lagi ibu rumah tangga bisa dibilang lebih punya waktu full untuk bermain bersama anak. Sebaliknya, anak-anak pun bermain dengan bebasnya di halaman, di lapangan, di mana saja dengan permainan 'ala kadarnya' namun sarat dengan koneksi sosial yang bukan maya. Nyata. Bermain bersama. Tertawa bersama. Dan juga berantem bersama.
Tak pernah terbayangkan, hanya dalam kurun waktu 20 tahun saja, zaman berubah dengan pesatnya. Dulu, tak pernah membayangkan bisa ngobrol dan saling tatap muka dengan ribuan mil jarak hanya dengan menggunakan perangkat kecil segenggaman. Dahulu, bahkan menelpon pun susah (apalagi yang tinggal di pelosok macam akuuuh.. hihi... >.<), dengan tagihan yang mahaaal pulak. Berkirim pesan singkat pun, yang paling kilat adalah telegram (bukan aplikasi telegram lho yaa.. hihihi...) yang tiap hurufnya berbayar. Itupun tidak langsung sampai. Perlu hitungan hari juga.
Hari ini? Seolah dunia dalam genggaman. Informasi begitu mudah didapat cukup dengan mengetikkan jemari di layar pintar.
Masih adakah tugas sekolah berupa mengirim telegram, berkirim surat dan tugas sejenis? Agaknya, jaman sekarang anak SD pun tugasnya sudah menyentuh ranah internet. Tak ada lagi tugas berkirim telegram, barangkali.
Ya begitulah. Tidak ada perubahan yang tanpa konsekuensi. Begitupula dengan kehidupan sosiocultural pasca berubahnya zaman. Jangan ditanya dampaknya. Selain hal positif, hal negatif juga banyak yang menyertai. Pornografi misalnya. Na'udzubillaah...
Kita tidak akan merunut satu persatu dampak perubahan jaman menjadi era digital alias era gadget ini. Cukup satu dampak saja, yaitu... tantangan dalam mendidik dan membesarkan anak di era serba internet ini. Tak bisa dipungkiri, banyak dampak positifnya; misalnya lebih mudah untuk mencari infomasi terkait apa saja dunia parenting, adanya grup-grup dan komunitas (bahkan pesertanya dari berbagai penjuru dunia) cukup dengan login di jejaring maya, dan sederet manfaat lainnya. Tapi,.... (ada tapi nya) ternyata mendidik anak di era gadget ini juga punya tantangan yang luar biasa.
Daya tarik gadget kadang (bahkan sering) membuat para ibu (dan juga bapak) terlena. Hampir tiap menit, jemari asik menari-nari di atas layar pintar. Asyik sendiri. Maka, tidak heran pula, di manapun kita berada, anak-anak di berbagai level usia pun asyik masyuk dengan layar pintar di depannya. Berbagai games lebih menarik dari pada bermain nyata (meskipun punya segudang mainan), berbagai tontonan lebih seru untuk dilihat melalui gadget dari pada bermain dengan teman seusianya. Ahh.. ini sebuah tantangan yang berat bagiku terutama.
Aku mengatakan ini, bukan berarti aku 'bersih' dari hal tersebut. Aku adalah salah satu orang yang juga terkena dampak tersebut. Di manapun berada, hampir dipastikan selalu ada gadget. :'(
Belakangan ini aku baru menyadari betapa itu sesuatu yang kurang bagus, apalagi jika itu selalu disaksikan oleh Aafiya. Sebenarnya sih sudah lama sadar (dan pasti kebanyakan orang juga sangat menyadari hal ini), tapi belum take action aja sebelum-sebelum ini. Kita (aku dan suami) memang commit untuk tidak memberikan gadget pada anak di usia dibawah 3-4 tahun. Tapi, komitmen saja tentu tidak cukup jika tidak dibarengi dengan aksi. Bagaimana mungkin kita hanya melarang saja jika anak menyaksikan kita menjadi pelakunya? Bukankah action speaks loader?
Berawal dari aku yang 'memperkenalkan' Aafiya dengan gadget untuk memperlihatkan foto-fotonya. Hanya foto saja. "Ini foto Aafiya...". Hanya foto saja. Tidak ada games. Tidak ada tontonan. Tapi, walaupun hanya sekedar foto saja (dan Aafiya juga tidak aku ajarkan mengoperasikan gadget) tetap saja menimbulkan addict bagi Aafiya. Walaupun addict nya alhamdulillah belum seberapa (masih bisa dialihkan dengan mengajaknya membaca atau menulis/menggambar). Hanya sekedar memperlihatkan foto saja sudah sebegitu daya tariknya, apalagi jika diperkenalkan dengan games dan tontonan. Begitu pikirku.
Maka, sebelum terlanjur addict berat sehingga sulit berlepas dari gadget, alangkah lebih baiknya segera dihentikan. Langkah pertama adalah, aku sebagai ibunya yang harus menghentikan addict dan ber-gadget ria itu di depan Aafiya terutama. Simpan gadget dan bermainlah bersama anak. Lagian, ini adalah masa 'emas' untuk mengajarkan dan menanamkan pondasi pada anak yang terlalu berharga untuk disiakan. Gunakan gadget jika sedang tidak bersama anak, misal ketika anak tidur.
Aku sudah mencoba mempraktekkannya. Selama Aafiya tidak melihat gadget, dia tidak pernah memintanya. Pokonya, jangan sampai si gadget itu terlihat sama Aafiya. Hayoo semangat emak Aafiyaaa! Hehehe... Just keep your gadget... :D
Jadi, haruskah kita 'mengembalikan' anak ke zaman 'purba' tanpa gadget? Sebenarnya tidak juga. Pada usia tertentu (di atas 4 tahun misalnya), beberapa tontonan edukatif mungkin bermanfaat untuk anak. Tapi, bersyarat. Dengan pengawalan ketat. Dengan didampingi. Dan dengan adanya batasan waktu. Harus ada 'deal' antara orang tua dan anak berapa lama ia diperbolehkan untuk menggunakan fasilitas gadget. Dan pasti, emak sama bapaknya juga harus ikutan komitmen dengan batasan waktu tersebut. Terkecuali misalnya ada orang tua yang bekerja dan membutuhkan gadget (macam Abu Aafiya yang ada oncall jadi mesti HP selalu dalam jangkauan jika tidak ingin menimbulkan masalah), maka anak perlu diberi pengertian. Hadeuhh teori banget yaaak. Tapi, in shaa Allah dengan memulai untuk no gadget bagi orang tua saat bersama anak (walaupun kadang berat) in shaa Allah sudah menjadi langkah kecil melawan arus gradiensi perubahan zaman yang benar-benar serba digital seperti saat ini. Hanya langkah kecil, in shaa Allah berdampak besar. :)
Okeh... just reminder buat diri sendiri terutama... ;)
Semoga Allah jadikan aku dan kamu semua istiqomah untuk tidak ber-geadget sepanjang waktu. Masih banyak hal-hal bermanfaat lainnya yang bisa dikerjakan selain mantengin gadget. Ya, bukan berarti 100% meninggalkan gadget. Nda juga. Perlu juga euy buat komunikasi. Tapi, belajar lebib proporsional dalam menggunakannya. ;)
Hayok berbenah, Fathel!
Ingatlah... ni'mat waktu adalah sesuatu yang akan dimintai pertanggungjawabannya. Maka, sudahkah digunakan untuk hal-hal yang penuh kemanfaatan?
Produk Gagal: Tentang Proses dan Sabar
![]() |
| produk gagal, patchwork wallet 2 |
Ya, begitulah, tidak ada proses yang instan-instan saja. Sekali belajar, masa' langsung pengen hasilnya langsung bagus kayak yang dijual di toko? Hihi... Hampir mustahil laah. Makanya belajar itu benar-benar butuh proses dan benar-benar mesti sabar.
Sebagaimana kisah nabi Musa yang berjumpa Khaidir dan beliau ingin tau kenapa Khaidir membocorkan perahu, membunuh seorang anak dan menegakkan kembali rumah yang rubuh padahal tidak diterima baik oleh penduduk di mana rumah itu berada?
Apa Hobimu?
Jika pertanyaan ini diajukan kepadaku, aku akan dengan segera menyebutkan sederet hal yang aku sukai untuk melakukannya.
Setelah Sekian Lamaaaa...
Judulnya rada-rada alay yes? Hehehe.. Baiklah.. Mari bercerita yang ringan-ringan saja. :)
Sebelum 3 postingan di bulan Mei 2016 ini, kapan terakhir kalinya aku ngeblog? Sepertinya Februari! Ya salaam... ini rekor banget yaak 2 bulan tanpa postingan. Ckckck....
Baiklah sedikit excuse, emak Aafiya lagi rada nausea, lagi ngadepin masa-masa ikhtibar (ujian) di sekolah (mustawa tsani ternyata lebih beraaat), pulang sekolah biasanya tepaarr, lagi soksok sibuk (padahal enggak). Daan banyak macam excuse lainnya.. hihi.. Manusia memang sering kali melakukan pembelaan diri yaak.. wkwkwkwk...
Sebenarnya banyaaak sekalii yang mau diceritakan di blog. Tapi, lagi-lagi cuma mengendap di pikiran untuk kemudian menguap entah ke mana... Naah, sekarang alhamdulillah ikhtibar nihai (ujian akhir semester) telah berlalu daaan semoga naik kelaas.. aamiin.. Ga bisa ikutan summer class juga karena ga ada kelas untuk mustawa tsalist (waah.. PD nih bakalan di level 3... In shaa Allah najahtu wa intiqaltu ilal mustawa tsalist :D). Oleh sebab itu ga boleh lagi ada excuse yaak Fatheeel... :P
(Kalo dulu mah masa2 tesis masa2 nya ngeblog.. hihi...).
Baiklah... Mari bersemangat lagii ngeblognya...
Daaan in shaa Allah sebentar lagi Ramadhan. Allahumma balighna Ramadhaan...
Semangat berbenah! Semangat menyiapkan yang terbaik! Semangaaaaatt!!!
SUKHRIYAH: Mencela, Mengolok, Mem-bully
Salah satu chapter yang menarik menurutku adalah tentang Sukhriyah ini. Ceritanya sederhana, tapi sarat makna. Alkisah, di sebuah hayy (district) tinggallah 3 orang anak yang pemalas, dan kerjanya suka mencela dan membully orang. Suatu ketika, seorang anak namanya Hassan sedang menuju ke masjid. Pakaiannya yang dikenakannya sudah robek karena ia fakir dan dia membawa beberapa buku. Ketika memasuki halaman mesjid, 3 anak tersebut membully nya, menarik bajunya, merebut bukunya dan kemudian menertawakannya. Hassan masuk ke masjid dengan menangis.
Kejadian itu rupanya dilihat oleh syaikh imam masjid dan beliau langsung menghampiri ketiga anak tersebut. "Kalian kenapa mengolok-olok Hassan?"
"Kami?? Gak ada koq syaikh.." eh ketiga anak ini malah bohong. Tapi sayangnya, mereka udah ketangkap basah sama Syaikh imam sehingga tak bisa mengelak lagi.
Lalu syaikh berkata dengan baik, "Apakah kalian tidak mengetahui kalau Sukhriyah (mencela mengolok dan membully) itu perbuatan yang tidak disukai oleh Allah dan Rasul-Nya.
Syaikh membacakan surat Al Hujurat: 11
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ ...)
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok..." (Qs Al Hujurat: 11)
Kemudian Syaikh menceritakan tentang Kisah Betis Ibn Mas'ud. Suatu ketika ibnu mas'ud memanjat pohon kurma, sehingga tersingkap jubahnya (tsaub) dan terlihatlah betis beliau yang kurus. Para sahabat menertawakan beliau. Lalu Rasulullah menegur sahabat dan bersabda "Mengapa kalian tertawa? Terhadap kaki hamba Allah yang timbangannya di hari akhir jauh lebih berat dari gunung uhud?"
Syaikh lalu berkata, "kalian hari ini mengolok-olok Hassan. Sementara ia adalah anak yang paling rajin di Hayy ini. Pagi dia belajar, siang dia membantu orang tuanya, dan dia juga menghafal Al Qur'an dan Hadits di masjid ini."
Akhirnya ketiga anak itu meminta maaf pada Hassan dan Hassan pun memaafkan.
Banyak hikmah dari kisah ini. Di jaman serba sosmed ini, orang dengan mudahnya membully dan mengolok cukup dengan memainkan jempol. Fenomena membully, mengolok, mencela seseorang atau sekelompok orang tampak sepertinya sudah biasa dilihat dan dibaca di laman sosial media. Seolah itu biasa saja. Bahkan ada yang dengan mudahnya mencela para ulama dengan kefakihannya, padahal si pencela sendiri entah seberapa ilmunya dibanding para ulama. Ada kebaikan mencuat kepermukaan, tetaap saja ada celah untuk dicela. Padahal... boleh jadi, boleh jadi yang dicela jauh lebih baik dari yang mencela.
Semoga kita lebih bijak dalam berkomentar terhadap sesuatu, dalam membagikan sesuatu, dalam pembelaan terhadap seseorang atau sekelompok orang jangan sampai etrjatuh pada kategori sukhriyah. Bukan untuk membungkam kita ketika mengkritisi sesuatu, melainkan menjadi rambu-rambu agar jangan sampai jatuhnya pada mencela.
#Menasihati Diri SendiriTerutama
#Maafkan Jika Pernah Sengaja Atau Tidak Mengolok/Mencela
#Yuk Lebih Bijak ber-SosMed, baik dalam men-share, santun dalam berkomentar
#No Sukhriyah
#Saling Mengingatkan
#Selamat Ujian Nihayah ^_^
Salah Satu Kunci Sukses Berbisnis Online
Orang aju belum mulai. Hehe... Tapi anggaplah ini diliat dari sudut pandang aku sebagai pelanggan/pembeli.
Maklum aku kan tukang edit foto... wkwkwkwk...
Sering kali belanja online yang kita terima tak seindah yang difoto. Nah kalo pas ta'aruf tak seindah yang di foto gimanaa? Wkwkwkwk... peaceeee... :D
(Cateet: akuh ga photoshop-ed foto ta'aruf aku lho yaa. Jangan pada suudzon :P )
Just Learn!
Akhirnyaa, mesin jahit portable Brother GS37000 kita bawa pulang jugaak. Hehe... Sebenernya aku pengen mesin jahit yang lain semacam singer atau si juki atau si janome.. (sebut mereek niih ceritanya...) :D, tapi karena spesifikasi yang aku pengen ga ada di toko terdekat dan adanya cuma di Deerah yang terkenal dengan kemacetannya yang ruarr biyasaaah...,akhirnya memutuskan untuk beli si brother ini. Setidaknya sangat memuaskan feature nya untuk pemula pake banget seperti aku.. :D
Ceritanya, emak Aafiya lagi pengen bisa jahit sendiri baju Aafiya... Pengen bisa permak, perpendek abaya, pengen bisa jahit jilbab sendiri... Banyak pengennya niih... hihi... daaan gayungpun bersambut.. Abu Aafiya approved... ♥♡♥
Jazakallaahu khair Zaujiy... Dan akhirnya kitaaa beli deh mesin jahitnya...
Ketika abis bongkar dus dan baca buku manualnya, aku sampai bilang ke Abu Aafiya,
"Kita refund lagi ajah yuuk..."
Hahahaha... Ketawa berduaa...
Plus juga Galau.
Abisnya, baca manualnya bikin frustate dan bikin akuu kedeerrr... Kaga ngerti sama sekali yang namanya mengoperasikan mesin jahit. Istilah-istilah di mesin jahit juga awam bangeeett. Daan... manualnya cuma menyediakan bahasa arab dan english. Untuk aku yang ga familiar dengan istilah-istilah dalam hal jahit menjahit, it was so hard.
Mesti bolak balik buka gambar dan nyocokin dengan mesinnya... Pluss, running DVD manual nya, biar ngertiii.. hehe...
Akhirnya kucoba-coba ajah dah tuh. Sambil teteeup baca manual dan liat DVD manual... Akhirnya, berhasil... berhasilll... alhamdulillaah... Bisa jahit luruuuss... wkwkwkwk... Abis itu bikin buttonhole... Seneeng buttonholenya cantiiik.. hihi... Emang feature dari sononya siy.
Yeee... ga jadi refund. Alhamdulillaah...
Naahh, masuk ke tantangan kedua. Bikin baju Aafiya... sempet frustate juga liat hasilnya yang masi jauuuhh dari bagus... hihihi...
Frustate ketiga adalah ketika mendekin abaya... Dudududu... koq hasil jahitnya berantakan... Koq ga straight malah model zigzag jahitannya... Huaaa.. Ya Salaam, setelah selesai baru nyadar kalo pake settingan buttonhole bukan yg straight... Dungdungdung... Panteeess...
Pas ngejahit blind hem juga eror pake bingitz... Salah settingan... hihi..
Sempet mau give up ajah rasanya... hiks.. Tapi, hayuk semangaattt lagiii... ^^
Ada beberapa pelajaran berharga buatku dari kisah jahitmenjahit yang masih jauuuhh dari mahir ini:
Pertama, betapa pentingnya manual book itu. Coba kalau tak ada manual.book, dijamin ga ngerti sama sekaliii!! Naah, sebagai muslim, kita jg sudah diberikan bekal oleh Allah dan rasul-Nya, manual book yang yang tidak pernah lekang hingga akhir zaman. Siapa yang berpegang teguh padanya, in shaa Allah selamat dunia akhiratnya. Ya, al qur'an dan Sunnah, manual booknya orang muslim...
Kedua, kita mungkin kesal, sedih atau nyesek banget ketika salah. Tapi, justru dari salah itulah kita jadi banyak belajar. Kalau kita tak pernah salah, maka sesungguhnya kita tak pernah belajar.
Ketiga, belajar itu butuh sabar dan butuh proses. Segala yang instan-instan dan karbitan itu tidaklah matang dengan sempurna. Tidak mungkin begitu pegang mesin jahit langsung bisa jadi ahli menjahit. It's impposible. Segalanya butuh proses. Dan proses butuh sabar!
Keempat, maintenance semangat belajar! Semangat belajar apapun sangat perlu di-maintenance. Apalagi untuk orang sejenis aku yang begitu fluktuatif. Hari ini semangat. Besok down. Hehehe.. keep calm and confidence... Step by step... :)
Kelima, belajar menghargai profesi. Ada yang menganggap sebuah pekerjaan semisal, "ahh cuma tukang jahit."? Terlalu sombong mah kalau begitu. Percayalah, menjahit bukan pekerjaan mudah. Setiap profesi punya peran masing-masing. Coba, kalau ga ada tukang jahit, jas presiden ada ga? So, presiden aja butuh tukang jahit kaan...
Keenam, Ketika kenyataan masih jauh dari harapan, don't be sad. Misal, dalam bayangan kita akan bikin abaya seperti apa, ehh yang jadi malah abaya-abayaan alias ga enak dipandang. Hihi... Please, don't give up!! Just learn! Learn. And Learn any more...
Dulu, ketika belajar adobe flash tahun 2008 aku sempet frustate se frustate2nya. Sampai sempet mikir, "duhhh, kayaknya aku ga bakalan pinter ini flash. Syusyaaahhhh...", siapa sangka tahun 2013 flash menjadi salah satu instrumen thesisku... In shaa Allah bisaaa... selagu mau belajaaarr...
Yuuk ahh semangaaaatttt...
Sebagai bonus, ini hasil karya pertama emak Aafiya... ^_^
Pameeerrr... :P
Januari 2016
Ini sudah Januari 2016, hei...
Waktu berlari sedemikian kencangnya... Jejak kata masih bersarang di laman draft. Sudah lama tak menggoreskan huruf demi huruf di rumah persinggahan ide ini... Baiklah, mari sejenak singgah, menyapa... tentang apa kabar Bloggie...
Ini Januari 2016,
Jatah hidup semakin dan semakin berkurang...
Menatap sejenak ke belakang; ~tentang kesalahan, tentang kebodohan, tentang apapun yang sebenarnya tak diingini kejadiannya,--alhamdulillaah..'ala kulli haal, itu semua adalah masa lalu yang Allah karunikan nikmat lupa atasnya... Semoga menjadi pelajaran berharga, agar tak berulang kesekian kalinya.
~tentang segenap nikmat,kebahagiaan,ketentraman jiwa, alhamdulillaah bini'matiHi... semoga menjadi penyubur rasa syukur...
Waktu kian berlalu, jatah jantung berdetak kian berkurang, sedetik demi sedetik... hingga pada waktu ketetapan-Nya berlaku...
Tertunduk diri ini, atas segenap hina dan alpa... Ahh, diri ini masih begitu jauh dari-Mu, Rabb...
Ijinkan hati ini berlari menuju-Mu... Ijinkan diri ini memohon agar Engkau membersamai di setiap langkahku...
Tiada kata selain; berbenahlah wahai Diriku... Sebelum Sampai waktumu...
Riyadh, Dini Hari Pertengahan Januari 2016


