Ketupat
Jadi apa menu lebaran kali ini? Sebut saja ini katupek pitalah KW10. Ekekekeke... Atau kalau di kampungku sebutannya adalah lontong gulai cubadak. Varian lain adalah lontong gulai toco dan lontong gulai paku. Eittss.. Paku digulai?! Hehehehe...
Eid mubarak 1440 H
Taqabbalallahu minna wa minkum, Taqabbal ya kariim.
Januari 2019
Januari.
Sudah januari lagi.
Begitu cepat waktu berlalu.
Meski Januari adalah bulan di mana aku dilahirkan lebih dari 30 tahun yang silam, di mana momen ulang tahun bukanlah momen spesial buatku dan sama sekali tak perlu dirayakan, tetap saja memasuki Januari artinya berganti tahun masehi, dan juga yang pasti semakin berkurang usia. Semakin berkurang jatah waktu untuk berbuat kebaikan. Sejatinya, setiap detik yang terlewat, semakin mendekatkan diri kita pada kematian. Sudahkah mempersiapkan sebaik-baik bekal? Atau masi lalai dengan kemilau dunia yang melenakan?! Astaghfirullaah...
Begitu cepat berlalu. Manusia-manusia bisa berubah. Dahulu, mengenal internet barulah seusia SMA. Sekarang? Bocah saja sudah tau. Arus informasi menderas. Tinggal bagaimana memfilter. Dahulu, ingin mendapatkannya sulit. Sekarang, memilah-milahnya yang sulit. Sulit membedakan antara hoax dan real. Jaman abu-abu berkabut kah?
Beberapa hari yang lalu talking heart to heart bersama Aafiya; apa yang Aafiya ga suka dari bunda dan sebalinya, apa yg bunda ga suka dari Aafiya. Maksudnya di sini adalah sesuatu yang harus masing-masing kita ubah. Semacam resolusi buat kita berdua. Aafiya said, "Aafiya ga suka kalau bunda liat HP terus. Dan di depan laptop terus (mendesain)."
Ahh.. anakku sayang. Iya benar, seharusnya bunda ga nge-HP terus ya Nak... In shaa Allah yaa Nak... jadi resolusi kita berdua... Kalau untuk laptop mungkin bunda harus curi-curi waktu nih. Hehe...
Ah iyaaa...
HP sekarang rasanya menjadi candu yang harus segera di withdrawal, boleh dengan tappering off atau direct withdrawal. Dunia zombie, kata orang. Di mana masing-masing sibuk dengan "dunia tak bertepi dalam genggaman". Tak peduli sekeliling. Kadang aku merasa berada di pusaran ini. Ya Salaam... Astaghfirullaah. Meskipun ga begitu aktif di media sosial seperti facebook dan instagram seperti kebangakan orang-orang, tapiii ada satu aplikasi yang bikin candu bernama wattpad. Sepertinya gadget management nya harus disetting ulang lagi nih.
Aafiya, memang tidak kubiasakan dengan gadget. Jatah menggunakan gadgetnya (baik itu laptop, maupun HP) sehari cuma max 20 an menit untuk menonton tayangan pre school. Tapii, Aafiya lihat aku pegang HP kan yaa... Jadi emaknya mesti dibenahi dulu nih.
Ini masa-masa struggle untuk bonding bersama anak. Agar kelak, semoga Allah dekatkan hati mereka kepada kita. Bukan kepada yang lain (teman, lingkungan, pergaulan). Masi tertatih-tatih. Smoga amanah-amanah yang Allah titipkan ini yang merupakan hadiah sekaligus ujian dapat terdidik dan terasuh dengan sebaik-baik pengasuhan. Karena tak dapat di-undo masa-masa pengasuhan ini...
Kemarin, sempat cerita sama salah seorang teman yang baru datang dari Indonesia. Di Indonesia ia adalah working mom. Pagi berangkat, pulang malam ketika anak-anak sudah tidur. Anak-anak bersama khadimah sehari-harinya. "Baru dua minggu..." katanya "badanku terasa remuk redam. Ternyata jadi full time mommy itu beraaaatt bangeett. Kalo kerja ada istirahatnya. Ini klo sama anak-anaknya, mesti siaga 24/7. Aku acungin jempoool banget buat fulltime mommy."
Iya ini bukanlah tugas yang ringan. Mendidik anak, berarti mendidik generasi. Dan itu takkan berhasil kalau ibunya saja belum mampu memenej diri dan emosi. Dan akan useless pula tanpa supporting system yaitu dari suami yang menyokong dan terus mengisi tanki-tangki cinta dan semangat hingga full charged. Tentu saja tidak meninggalkan do'a dan juga kesungguhan hati untuk membelajarinya; ilmu pengasuhan.
Semangaaaattt...
Kapan-kapan aahh aku sharing soal ini, sekedar pengingat diri dan juga berbagi kemanfaatan. Biar januari ini ga absen postingan, meski ngepostnya udah injury time wkwkwkwk..
*bikin tulisannya udah dari 3 hari yang lalu, nyicil-nyicil.. hihihi...
Hanya Sebentar Saja
Siang ini, ketika mereka tidur, emaknye muhasabah. Iyapp, baru ditinggal tidur sebentar saja, rumah terasa sangat sepiiii. Biasanya ada suara celoteh mereka, suara ketawa, suara bertengkar, suara tangis. Lengkap. Ahh, sebuah tanya tiba-tiba hadir di jiwa, "Begini kah beberapa tahun lagi?" (jika Allah memanjangkan umur kami dan semoga umur yang barokah). Mungkin, hari ini, ketika mereka masih kecil-kecil, mengintil ke mana pun kita pergi, ada masa-masa di mana merasa pada titik saturasi, lelah, pengen menyendiri, pengen me time tanpa ada rengekan, suara tangis dan sederet paket lainnya. Tapi, aku menyadari bahwasannya ini tak akan lama. Sungguh, tak akan lama. Kelak, ada masanya sunyi. Sunyi. Sepi. Hening. Dan kita akan sangat sangat sangat teramat sangat merindukan masa-masa seperti ini. Masa di mana anak-anak masih heboh berteriak sana sini, ingin selalu dekat-dekat dengan kita. Mengikuti kita ke manapun raga kita bergerak. Kelak, ketika mereka memiliki dunianya sendiri, kita akan sangat merindukan masa-masa ketika mereka "merecoki" kita dengan berbagai hal khas anak-anak, ketika mereka mengajak kita bermain.
Rumah berantakkan penuh mainan, yang seketika dibereskan, seketika itu pula kembali berserakan, sungguh ini tak akan lama. Tak akan lama. Ada masanya ketika rumah rapi jali, tapi kita sangat merindukan ketika tangan-tangan kecil itu mengacak-acaknya kembali. Ketika mereka perlahan pergi meninggalkan kita, menjemput takdir mereka masing-masing. Bersekolah. Hingga kemudian memiliki keluarga mereka masing-masing. Maka kita akan terbata-bata mengeja rindu. Ingin kembali pada masa di mana rumah selalu ramai dengan kegaduhan mereka.
Ahh, sekian masa berlalu. Menoleh jejak ke belakang dengan segenap penyesalan. Ternyata diri ini masih jauh. Jauh dari kata "madrasatul 'ula" yang baik. Masih lalai. Banyak lengah. Sementara waktu-waktu berharga ini terus saja berlalu. Hanya sebentar saja. Hingga kita (diri ini) terutama tersentak dengan sesal. 'Ke mana saja aku selama ini??'.
Ahh, sekali lagi. Berbenahlah wahai diri. Waktu ini hanyalah sebentar saja. Berikanlah yang terbaik untuk mereka. Sebab pengasuhan takkan pernah bisa di-undo. Masakan tak enak bisa dimodifikasi. Desain yang kurang bagus, masih bisa diperbaiki. Menyia-nyiakan masa emas pengasuhan dan mendidik anak, dapatkah kita mengulanginya kembali?! TIDAK!
Ya, Rabb.... Tunjukilah kami, agar dapat menjalankan amanah sebagai orang tua. Ilhamkan dan pahamkan kami cara terbaik dalam mengasuh dan mendidik mereka. Agar kelak, ketika Engkau menanyainya, kami telah punya jawabannya...
| my Aasiya |
| My Aafiya |
| my Maryam |
Make Up The Kids Bedroom
Ini the most important thing deh pokonya. Kita ajah kalo ujug2 disuru pindah, pasti ga senang kaan? Apalagi kalo sudah di zona nyaman. Ga mauu dong disuru pindah tanpa sebab musbab. Apalagi anak yang di dalam masa kelekatannya. Kita kasi tau kenapa dia mesti punya kamar sendiri. Dengan alasan yang tentu bisa diterima logika anak seusianya tentunya. Meskipun kadang, aku merasa takjub ma shaa Allah dengan anak usia 3-4 tahun yang ternyata logikanya sudah jalan.
Anak seusia Aafiya ternyata sudah bisa bikin agreement. Dan, anak adalah sosok paling jujur ketika kita sudah bikin kesepakatan. Jadi, kita sebagai orang tua jangan jadi orang pertama yang melanggarnya. Misal, kita bikin kesepakatan untuk tidak makan di atas tempat tidur. Maka, sebagai orang tua kita tidak boleh melakukannya jika tidak ingin kehilangan kepercayaan dari anak kita. Tapi, ketika kita lupa dan tak sengaja melakukannya, jangan segan untuk meminta maaf kepada anak. "Maaf yaa Nak, bunda lupa. Harusnya kan ga makan di tempat tidur". Jangan malah mencari alibi atau pembenaran. "Bunda kan makannya ga berantakan kayak kamu, jadi bunda boleh aja makan di atas tempat tidur." Emaknya secara tak langsung mengajarkan ketidakkonsistenan dong yaa.. hehehe...
Ini niih bagian yang paling menyenangkan buat emak Aafiya. Hehe. Iyesss. Merias kamar anak. Bikin mural ala-ala di dinding. Nyoret-nyoret dinding, jait properti ini itu dan tempel. Kekeke... Salah satu daya tarik biar anak mau tidur di kamarnya sendiri adalah merias kamarnya secantik mungkin. Jangan lupa mengakomodir keinginannya, misal warnanya, gambarnya dll. Berhubung (entah kenapa dan sejak kapan) Aafiya menyukai Hello Kitty (yang emaknya ga ngenalin sama sekali hehe) dia request di dindingnya ada gambar hello kitty nya. Dan jadilah emaknya melukis hello kitty di dinding. Sebagian yang lain emang ide emaknya aja yang alhamdulillaah anaknya sukaa. Kekeke...
| penampakan dr pintu masuk |
| aafiya & aasiya's bedroom |
| pojok mainan |
Seminggu Berlalu
Seminggu berlalu setelah kelahiran baby Maryam. Seminggu ini pula aku begadang hehehe. Baby Maryam meleknya selalu dini hari. Iya sih pas masi di perut, anaknya berasa aktif kalau udah dini hari sampai menjelang subuh gituh. Hehe...
Selama seminggu ini pula Aafiya dan Aasiya hampir selalu bersama Ayahnya. Mulai dari mandi, makan, main, tidur... semuanyaa... Aku fokus bersama baby Maryam sekaligus memulihkan tenaga dan merecovery segala nyeri-nyeri mulai dari nyeri episiotomi yang ngilu-ngilu sedap hehe, nyeri kontraksi pasca lahiran yang aduhai banget di lahiran ketiga ini. Belum lagi nyeri menyusui karena ada luka juga. Hehe... Banyak bet nyerinya. Alhamdulillah Abu Aafiya cuti... tapi cuma request seminggu hiks. Ngerasa bisa in shaa Allah seminggu ajaa. Ehh ga taunya kelahiran ketiga ini beda banget dengan kelahiran sebelumnya. Tau begini, request nya kemarin cuti 2 minggu aja sekalian. Karena masi ada sisa jatah cuti harusnya. Hiks hiks... Alhamdulillah 'ala kulli haal.
Agak sedikit merasa gamang dan gagap nih ketika abu Aafiya akan mulai masuk kerja lagi ahad in shaa Allah. Pasca lahiran seperti yang aku ceritakan di atas, duo uni-uni (Aafiya dan Aasiya) hampir selalu bersama ayah mereka. Nah pas ayah masuk kerja, mau ga mau emaknya harus ngurusin ketiganya sekaligus kan yaa. Heuheu... Maklum di perantauan, lahiran di sini memang begini. Ga cuma aku, teman lain pun begitu. Kalau di kampung kan biasanya lahiran ditemani orang tua, banyak yg ngurusin. Nah kalo lahiran di luar nagari dan negeri, tentu apa-apanya mesti ngurus sendiri. Makanya kudu setroong hehehehe.
Kelahiran ketiga ini agak berbeda. Kalo kelahiran sebelumnya, recoverynya relatif lebih cepat. Luka episiotomi dalam 4 hari udah mulai terlihat membaik meski tanpa analgetik. Pas lahiran ketiga ini, luka episiotominya koq yaa lamaaa banget recoverynya. Hari ke-4 terasa ngiluuu banget sampai sedikit 'trauma' mau beraktifitas apalagi ke kamar mandi. Sebab kalau kena air nyerinya luar biasa. Huhu... Mau duduk juga susaah banget nyari posisi yang PW. Jadi, banyakan berdiri aja (lebih berkurang nyerinya), tapi lama-lama capek juga nyusuin sambil berdiri hehehe. Sempat sedih dan frustate jugaa kalo nyerinya begini, ngurus diri sendiri aja susaaah apalagi ngurus anak jugaa. Akhirnya aku ingat cream epicure yang dikasi konsultanku pas lahiran Aasiya dulu masi ada 1 yang utuh. Aku pakek buat gantiin krim yang sekarang, ehh ma shaa Allah... fast progress... Efektif banget dalam merecovery si episiotomi. Alhamdulillaah di hari ke-8 ini, bisa dibilang luka epis nya sudah ga begitu nyeri lagi. Paling ngilu-ngilu dikit lah.
Masalah lainnya ada di nyeri kontraksi pasca melahirkan. Adalah normal rahim berkontraksi lagi pasca melahirkan untuk meluruhkan sisa-sisa plasenta dan mengembalikan ukuran rahim ke size semula sebelum kehamilan. Tapi di kelahiran ketiga ini, kontraksi pasca lahirannya terasa jauhhh lebih nyeri dan lebih lama durasinya. Hingga tadi (hari ke-8) nyerinya masi terasa sangat sakit. Aku masi ingat pas masi di RS, nyeri kontraksinya bener-bener deeh ya Allah... sakiit banget sampai aku minta dobel pain killer. Beberapa malam yang lalu, nyerinya juga menghebat. Huhu... Dalam kondisi nyeri seperti ini, aku ga bisa pay attention ke siapapun even ke Baby Maryam. Huhu... Biasanya Abu Aafiya langsung ambil alih anak-anak. Ini kegalauan kedua ketika menjelang suami masuk kerja lagi.
Dengan kondisi baby Maryam yang selalu ngajakin begadang, aku merasa dizziness juga. Jadi, kalau baby Maryam lagi tidur, biasanya aku ikutan tidur. Naaahh, kalau sudah mulai ngantor, otomatis aku juga ga bisa tidur kaan karena ada Aafiya dan Aasiya yang butuh diberi perhatian jugaa, dipenuhi kebutuhan dasar mereka. Apalagi mereka sekarang lagi 'latihan' untuk memperbaiki pola tidur: bangun lebih pagi, tidur siang, dan tidur lebih cepat di malam hari (Pola tidur sebelumnya, mereka baru bangun tidur jam 9-an, nyaris ga pernah tidur siang dan malamnya tidur di jam 10-jam 11-an). Kan ga lucu kalo emaknya bangunin anaknya pagi2 trus emaknya lanjutt tidurr lagi karena abis begadang. Hehe...
Soal makan, beberes rumah, nyuci dan segala macam tetekbengek urusan rumah semua sudah dihandle sama suami.. ma shaa Allah jazakallahu khair katsir yaa Zaujiy 😘😘😘.
Kalo semua kelihatan susahnya aja, kapan senangnya dongs? Hehe... Iyaa, di kelahiran ketiga ini tentu saja ada sisi yang berasa mudah dan dimudahkan-Nya, ma shaa Allah tabarakallah.
Unexpexted, di kelahiran ketiga ini kami dapat kamar perawatan yang Suite Room. Ma shaa Allah, rizki baby Maryam ini... Alhamdulillaah. Sebelum-sebelumnya kami biasanya dapat yang Private Room. Allah Maha Mengetahui bahwasannya kami memiliki dua princess selain baby Maryam yang butuh ruangan yang lebih besar dan luas agar mereka nyaman di RS dan tidak merasa bosan 😊. Di kelahiran ketiga ini, alhamdulillah ada mba Tyas dan keluarga yang membantu menjaga anak-anak selama proses lahiran jadi suami bisa nemenin di LDR. Jazakumullaahu khair mba Tyas dan keluarga. Di kelahiran ketiga ini, tiga hari berturut-turut ada Mba Rahma Ummu Kautsar mengirimi kami makanan yang ma shaa Allah ladziiiz dan kami jadi ga repot harus beli makanan di luar ataupun masak. Jazakumullahu khair katsir buat mba Rahma dan keluarga. Dan Allah mudahkan pula urusan-urusan dokumen kelahiran Maryam, mulai dari sertifikat kelahiran dari rumah sakit, syahadah milad (semacam akte kelahiran dari catatan sipil saudi), proses pembuatan passport dan akte kelahiran dari KBRI yang in shaa Allah tinggal menunggu hasilnya. Mudah-mudahan nanti urusan iqoma juga gampang dan dimudahkan-Nya. Aamiin yaa Allah...
Di balik kesulitan pasti ada kemudahan! Aku harus yakin akan hal itu. Meskipun sedikit gamang menghadapi masa-masa Abu Aafiya mulai masuk kerja, seharusnya aku yakin pertolongan Allah itu jauh lebih dekat. Tiadalah kesusahan dan kesulitan melainkan ada kemudahan yang menyertainya...
Hayooo semangaattt!!!
Masa seperti ini tidaklah lama. Mumpung anak-anak masih dekat dengan emaknya dan bapaknya. Maka tak bolehlah sia-sia masa pengasuhan ini. Sebab, Akan ada masa anak-anak satu persatu meninggalkan kita menuju kehidupan mereka masing-masing nantinya. Jangankan setelah anak-anak menikah dan punya kehidupan sendiri, masa mereka sekolah saja mungkin sudah cukup membuat kita merasa sepi di rumah. Jadi, Masa-masa saat ini (yang mungkin terasa sulit sekarang) justru akan menjadi kenangan yang dirindukan nantinya. Jangan sampai sebuah penyesalan hadir ketika kita terlambat menyadari bahwa banyak waktu kebersamaan yang kita lewatkan begitu saja karena kita sibuk dengan dunia sendiri. Yuk ukir kenangan indah dengan sebaik-baik pengasuha , sebab masa ini tak tergantikan. Apalagi cuma terisi dengan liat henpon dan baca wattpad aja. Betapa sia-sianya waktuuu. Astgahfirullaah. NTMS tentu saja ini mah. Yuk menej lagi diri dan waktumu, Fathel!!!!!!
Pengalaman Luar Biasa Melahirkan Anak Ketiga
Alhamdulillaah, segenap syukur kepada Allah Ta'ala,
Telah lahir anak ke-3 kami, perempuan, Normal, 13-09-2018/3 Muharram 1440H jam 2.09 waktu Saudi (GMT+3) di DR Sulaiman Al Habib Ar Rayyan Hospital, Riyadh dengan BB/TB 3.180 kg/52 cm.
Mohon do'anya agar menjadi anak yang shalihah, bertaqwa, sehat, qurrata' a'yun, dan menambah bobot kebaikan pada dunia...
❤❤❤❤❤
Ketika menulis ini, adalah 10 jam setelah kelahiran anak ketiga kami, Maryam. Sudah leyeh-leyeh di bed dengan suhu pendingin ruangan yang kata Abu Aafiya sangat dingin, tapi terasa gak begitu dingin bagiku. Hehehe.
Setiap kelahiran, jangankan dari individu (ibu) yang berbeda, dari individu yang sama pun ceritanya bisa berbeda. Begitupun dengan kisah kelahiran kali ini.
Sedikit kilas balik, dulu pas anak pertama kami Aafiya, aku mengalami pembukaan 1 sejak 2 hari sebelum lahiran. Aafiya termasuk baby yang pre-term karena lahir di usia kehamilan 35 minggu. Kontraksi yang aku rasakan paling 'dahsyat' memang pas Aafiya sih yaa. Karena air ketubannya banyak. Jam 10 malam mengalami pecah ketuban. Setelah pecah ketuban, nyerinya makin berasaaa banget sampai aku sempat bilang, "udah ga tahan lagi". Petidin yang golongan narkotik aja ga ngaruh sama sekali sebagai pain killer. Tapi, ketika pembukaan lengkap, Aafiya lahir dengan sangat mudah alhamdulillaah... Cuma 2x mengejan. Itupun yang pertama kali mengejan karena aku salah mengejan. Hehe... Aafiya lahirnya juga kecil, 2.115 kg sahajaa... Dan sempat menginap di NICU semalaman untuk diobservasi.
Berbeda dengan Aafiya, pas lahiran Aasiya aku datang ke ER (emergency room) juga karena "penasaran" apakah kontraksi yang aku rasakan adalah labor pain bukan kontraksi palsu. Datang-datang masi bisa senyam-senyum. Nyerinya baru sedikit. Ehhh ternyata sudah pembukaan 3. Ketika ditransfer ke LDR (labor and delivery room), dipecahkan ketubannya oleh dokter (salah satu cara "mengakselerasi" persalinan adalah dengan metode memecahkan ketuban), baru deh nyerinya mulai menguat hingga sakiiiitt banget banget di mana aku meremas tangan suami sampai berubah jadi warna ungu 😆. Tapi sakit kontraksi pas lahiran Aasiya ga sesakit pas Aafiya deh. Alhamdulillaah. Cumaa, pas mengejannya lumayaan sih... agak sedikit lebih lama dari pada Aafiya. Sekitar 5x mengejan. Beratnya juga lebih berat; 3.150 kg di usia kehamilan persis 37 minggu (versi HPHT).
Pas baby Maryam ini, lebih banyaaak ceritanya. Dan totally berbeda dengan kisah kelahiran uni-uni nya. Baby Maryam paling sering ngajakin bundanya ke ER dan berakhir dengan PHP ekekekeke... Pas hamil anak ketiga ini, rekor ke ER sebanyak 5x! Ma shaa Allah...
Ke ER pertama kali pas minggu ke 26, kala itu aku merasakan nyeri yang nonstop seharian. Tepat di hari ke-23 Ramadhan. Setelah diobservasi alhamdulillah semuanya baik. Ke ER kedua adalah di minggu ke-35 di Idul Adha 1439 H (sudah aku ceritakan di postingan sebelumnya). Waktu itu aku merasakan nyeri kontraksi juga. Tapii, masi kontraksi palsu kayaknya. Nginep di RS karena ada indikasi detak jantung bayi yang tinggi. Sejak minggu ke-35 ini aku sudah merasakan nyeri kontraksi palsu ini.
Di minggu ke 36-37, nyeri kontraksi makin sering. Masih kontraksi palsu sebenarnya. Tapi, kontraksi palsu rasa asli hehe. Katanyaa, konpal dapat menghilang dengan beraktifitas atau beristirahat. Tapi aku merasakan nyeri yang ilang timbul sampai ke area punggung bawah. Juga nyeri di perut bawah dan area tulang paha. Mengingat anak2 sebelumnya lahir di usia kehamilan yang lebih cepat (35 & 37 week), maka aku pikir ini juga waktunya lahiran. Eehhh, pas sampai di RS setelah masuk ke ER malah nyerinya ilaaang. Kata dokter, aku sudah pembukaan 1. Aku tanya, seberapa lama lagi sampai pembukaan full? Kata dokternya, bisa 1-2 hari. Jadi, aku diperbolehkan untuk melakukan aktifitas seperti biasa.
Jika pas hamil Aafiya aku banyak jalan lalu anaknya lahir cepat, maka pas di Aasiya aku ga melakukan aktifitas banyak berjalan lagi untuk menghindari lahir cepat hehe. Aku pikir yg sekarang juga sama. Makanya santai aja ga memperbanyak aktifitas jalan kaki. Eehh ga taunya pembukaan 1 nya lamaa banget. Ada sekitar 9 hari. Di sinilah akhirnya kami baru start untuk memperbanyak jalan kaki. Sehari sekitar 3 km di jogging area taman Raudah. Selain itu, aku juga menggunakan birthing ball untuk bounching di atasnya.
Sempat merasa sedikit "frustate" dengan pembukaan 1 yang ga nambah-nambah. Kontraksinya hilang timbul. Tapi nyeri perut bawah berasa terus. Kayak ada sesuatu yang menyesakki tulang pelvis. Hehe... Kontraksi palsu rasa asli masi terus berasa. Tapi, kadang menghilang juga sih...
Naah, di minggu ke-38, aku merasakan kontraksi lagi yang lebih dari sebelum-sebelumnya. Datang lagi ke ER. Sampai perawat ER bilang, "hah? Kamu lagiiii???" Kekekeke. Kebetulan ketemu perawat yang sama yg lagi jaga di ER. Tapiiii, seperti sebelumnyaa ketika di ER, taraaa... kontraksinya ilang! Cuma ada 1 kontraksi yang asli, sisanya masi belum. Tapi polanya sudah mulai kelihatan. Kata dokternya, pembukaan sudah bertambah jadi 2. Dokternya bilang, bisa jadi cepet niih karena pola kontraksi sudah mulai kelihatan.
Di sini ga bisa sering2 ngecek bukaan tentunya. Ga bisa capcus pergi ke bidan terdekat hanya buat ngecek pembukaan. Datengnya yaa langsung ke ER rumah sakit. Daaan, kalau semisal belum ada kemajuan rasanya down lagi deeeh... 😆.
Ternyata pembukaan 2 juga berlangsung lamaaa. Yang awalnya aku pikir 1-2 hari bakal lahiran ternyata molor jadi 4 hari! Hari minggu-rabu. Nah kemarin (hari Rabu) aku merasakan pas pagi-pagi dini hari kontraksinya mulai agak teratur tiap 10 menit. Tapii, pas abis subuh sampai siang ilang timbul lagiii. Aku berpikir, "ahh ini paling kontraksi palsu lagi." Capek juga kaan bolak balik ke ER terus dan kalo harus pulang lagi, masi kontraksi palsu, itu bikin sedikit down heuheu... Sorenya sudah tiap 5 menit sekali. Tapi nyerinya yaa gitu-gitu ajaa. Ga yang nyelekit banget gituuh.. hehe. Aku WA suami, kata Abu Aafiya, yuks siap2 pulang ngantor langsung berangkat ke RS. Aku masi sempet nyuci piring, beberes kamar Anak-anak, mencuci baju, memandikan anak-anak. Begitu suami pulang, kontraksinya ilang lagiiii. Ya salaaam. Aku masi berpikir ini kontraksi palsu lagi kalii.. Jadii, ga ada pola yang teratur gitu lho.
Naah aku masi sempat tuh, ngerjain desain selebaran acara semarak muharam. Hihi... Tapi, pas ngedesain ini, kembali aku rasakan kontraksi yang lebih sakit dari sebelumnya. Pas enggak kontraksi masi bisa senyam senyum sih. Pas kontraksi udah meringis, hihi. Karena polanya yang masi belum beraturan, kadang rentang 5 menit, kadang 10 menit, kadang 7 menit trus 15 menit. Ga jelas banget kaaan... Makanya masi maju mundur untuk berangkat ke RS. Masi ngulur waktu dulu untuk memastikan kontraksinya bener-bener asli atau masi palsu rasa asli lagi. Hehehehe...
Karena sakitnya yang sudah lumayan berasa, meskipun kontraksinya masi ga reguler intervalnya, akhirnya kami berangkatlah ke RS. Selama di perjalanan ke RS, nyerinya mulai bertambah. Kata suami, "ini udah beda nih nyerinya." Dari remasan tangan, suami mendeteksi 'tingkat nyeri' yang aku rasakan. Di RS, nyari toilet dulu. Jalan dari toilet ke ER lumayan juga, aku sempat merasakan 3x nyeri. Pas di ER, mungkin mukaku udah kayak orang yang nyeri banget kali yaaa. Hihi... Masuk ER obgyene no 1, dicek sama dokternya sudah bukaan 3 menuju 4. "Hah? Baru Bukaan 3 nyerinya udah segini? Gimana entar bukaan 9?" Aku mencelos. Seingatku dulu pas lahiran Aasiya, bukaan 3 itu aku masi bisa ketawa ketiwi deeh.
Dokter ER memutuskan aku ke ruang bersalin malam ini juga (jam menunjukkan hampir jam 12 malam). Uniknya lagii, pas di ER malah kontraksinya yang tadi lumayan sering, jadi ilang lagi, cuma ada 1 kontraksi yang tinggi (diamati dari CTG). Aku mbatin, "hah? Koq setiap ke ER kontraksinya ga ada siih?" Tapi karena dokter sudah memutuskan untuk menginap di RS, jadi aku sedikit lebih tenang. Ga harus bolak-balik lagi.
Pas ke LDR (aku dapat ruangan di LDR 5, ruangan yang persis sama ketika lahiran Aafiya dulu. Kalau pas lahiran Aasiya ruangannya LDR 12), aku masi bisa senyam senyum dan belum ada lagi kontraksi sejak di ER. Tapi pas di cek sama dokternya, sudah bukaan 4.
"She's progress fast" komen dokternya. Aku senang banget ma shaa Allah kalo memang progressnya cepat. Pas dicek di LDR sudah bukaan 4. Tak lama kemudian bukaan 5. Dan... ma shaa Allah... aku benar-benar ga nyangka kalo dalam waktu 1.5 jam bukaannya sudah lengkap!! Aku sampai melongo pas dokternya bilang "completed"! Bisa dibilang ini kontraksi "paling menyenangkan" dari ketiga kehamilan yang aku rasakan. Aku ga menyangka secepat itu, alhamdulillaah. Mungkin karena nyerinya dah dicicil dr sebulan yang lalu yaa hehehe...
Perjuangan yang sesungguhnya pas lahiran Maryam adalah pas mengejan. Nge-push nya lamaaa bangeeett ga keluar-keluar anaknya. Ya Rohman. Lebih dari 10x mengejan kayaknya. Daan, menghabiskan tenaga banget.. ma shaa Allah. Setelah perjuangan panjang mengejan, lahirlah baby Maryam di jam 2.09 di usia kehamilan persis 39 week (versi HPHT), alhamdulillaah tsumma Alhamdulillaah...
Teknik "take a deep breath" benar-benar sangat membantu untuk mengurangi nyeri kontraksi. Alhamdulillaah. Aku juga lahiran bukan dengan konsultan yang biasa aku cek up karena dokternya ga bisa datang kalo tengah malam. Digantikan oleh konsultan lain yang in shaa Allah sama oke nya. Dokter asli Saudi. Dulu sempat nyeletuk sama suami pengen lahiran sama dokter Saudi (konsultan yang sebelumnya kebangsaan pakistani), alhamdulillah Allah kabulkan. Aku suka sama dokternya meskipun baru ketemu di ruang bersalin. Dokternya easy banget dan asyik, ma shaa Allah.
Akhir kata, tiada kata yang pantas aku ucapkan selain segenap kesyukuran kehadirat-Nya. Alhamdulillaah... Alhamdulillaah.... Alhamdulillaah bini'mah.
=====
Jazakallahu khair katsir ya Zaujiy, yang selalu siaga dan ada untukku ketika melewati perjuangan ini... Uhibbuka fillah ❤
Merayakan Malam Takbiran dan Idul Adha dari ER, LDR dan Kamar Inap
![]() |
| Hasil CTG nya sudah mulai normal alhamdulillaah... |
![]() |
| Pada udah kecapean di midnight dan tertidur di sofa nemenin bundanya CTG di LDR 😣 Jazakumullahu khair katsir, my dear 😘❤ |
Low Budget Home Decor
Home decor adalah salah satu hobi emak Aafiya. Semacam leisure time lah. Hehe... Seruu ajaaa. Kali ini mencoba hal baru yang lebih advance: yaitu 'bermain' dengan cat. Kekekeke... Selain cat, dua benda yang sangat bermanfaat lainnya adalah lem silicone dan mesin jahit. Sebenarnya kalau dibilang home decor, gak fully home decor juga sih. Soalnya, yang lebih banyak aku lakukan adalah me-renewal furniture usang menjadi "wajah baru". Yang home decornya sendiri justru ga banyak. Cuma hiasan dinding sederhana dan white corner. Dan bagaimana tataletak segala furniture di rumah. Rumah kontrakan minimalis kami, hihi...
Sejujurnya, aku sangat suka warna putih untuk interior rumah maupun furniture nya. Kenapa? Ketika warna lain menyerap cahaya, warna putih justru memberikan hal yang sebaliknya. Putih akan menangkap dan kembali memancarkan cahaya dan membuat ruangan terasa lebih luas. Itulah sebabnya aku ga begitu suka rumah dengan interior warna warni apalagi warna yang cendrung gelap karena akan menyerap cahaya. Jadinya rumah terasa lebih"pengap" menurutku. Hehe... Yap, selera orang berbeda-beda tentunya. Dan aku juga ga mungkin dongs memaksa orang satu selera denganku, kekeke...
![]() |
| Low budget ini maah... dengan canvas murmer, cat akrilik murmer dan jam IKEA murmer yang sudah "dikuliti" wkwkwkwkwk... |
![]() |
| white corner special for Abu Aafiya kalo lagi kerja dari rumah |
![]() |
| Seprai yang custom DIY. Susah nyari seprai dengan ukuran bed super jumbo begini kekekeke... |
![]() |
| rak sepatu usang di renewal lagi dengan "the power of paint" lagi hehehe... |
Kapan-kapan disambung lagi, anaknya udah rewel minta dikelonin... jadinya distop dlu deh kekkeke...
Living in Riyadh [part 23]: Move on
Sudah bulan agustus. Belum ada postingan sama sekali. Hehe... Baiklah, mari kita posting sesuatu agar tidak melewatkan 1 bulan kekeke...
Bulan agustus ini bulan yang istimewa. Karena selain kemerdekaan RI (yang tentu saja jamak diketahui semua WNI), adalah bulan berhaji. Ya, bulan dzulhijjah jatuh pada bulan agustus di tahun ini. Beberapa teman-teman di sini yang akan berangkat haji sudah bersiap-siap akan berangkat. Hati jadi rindu untuk berangkat jua. Semoga Allah memudahkan langkah kami untuk menunaikan haji juga nantinya, apakah dari sini atau dari Indonesia atau dari negara manapunlah jika Allah masih karuniakan umur yang panjang (dan semoga umur yang barokah). Sungguh, Haji itu ibadah fisik yang memang melelahkan tapi benar-benar membahagiakan ma shaa Allah....
Sesuai judulnya, aku pengen cerita tentang move on. Hehehe... Move on di sini adalah dalam artian pindah yang sebenarnya dan juga move on dalam pengertian banyak orang saat ini: move on hati wkwkwkwkwkwk... Setelah hampir 5 tahun tinggal di An Nahda district, akhirnya kami move on jugaa... ke Naseem district. Sesungguhnya berat juga meninggalkan Nahda. Ada banyak kenangan di Nahda. Dekat dari kantor suami sudah pasti. Dan yang terberat adalah meninggalkan masjid jami' di dekat kontrakan kami yang lama. Jami' Maiman namanya. Masjid ini the best menurut kami di area Nahda. Imamnya baguus bacaannya ma shaa Allah. Ada program tahfidz (yang tentu saja free) untuk anak-anak dan ibu-ibu juga. Masjidnya adeem, luas dan bersih. Ini salah satu yang bikin berat untuk move on hehe.
Ceritanya kami memang mau pindah juga sih setelah kontrakan yang ini habis. Tapi ga kepikiran akan pindah ke Naseem (district tetangga sebenarnya dengan Nahda cuma secara 'socio-culture' agak berbeda menurutku ekekekekekeke...). Kebetulan ada teman yang final exit ke Indonesia, dan kami akhirnya memutuskan untuk menggantikan kontrakannya. Di Naseem ini. Yang sebelumnya ga kepikiran mau ke naseem, ehh akhirnya malah sekarang tinggal di Naseem. Kekeke... meskipun kadang serasa masi belum move on dari nahda... ekekekeke...
Pindah rumah selalu saja bukan hal yang mudah. Ini bukan pekerjaan yang ringan tentunya. Mulai dari load, packing, moving, unload... semuanya menguras tenaga dan fikiran dan juga cost tentunya. Tidak mudah mem-fix kan dan menata kembali dari rumah yang sebelumnya tipe 115 meter persegi ke rumah yang tipe 65 meter persegi. Hehe... Banyak yang akhirnya harus kami "remove". Apalagi karena rumah yang kami tempati ini adalah ex-rumah teman yang notabene masi tersisa banyak barang-barang juga di sana. Fiiuufft....
Pengalaman Menjual Barang-barang
Karena kami pindah ke rumah yang secara ukurannya hampir setengah ukuran rumah sebelumnya, tentu saja banyak barang-barang yang harus dikeluarkan. Apalagi ketambahan barang-barang dari teman yang ex-kontraktor rumah ini. Beuuhh... ma shaa Allah... ga akan muat deeh kalo semua barang di keep sendiri. Belum lagi pertanggungjawaban di hadapan-Nya nanti. Jadi, keep yang perlu dan remove yang tidak digunakan/jarang digunakan atau can't fix in this house. Bisa dijual kembali atau dibagikan secara gratis. Pertama-tama aku menawarkannya ke teman-teman yang sesama komunitas indonesia dulu. Lalu, menjualnya di situs expatriates.. Just throw away price. Hehe...
Pengalaman menjual preloved item ini jadi kesan tersendiri. Urusan jual menjual ini secara online nya hingga deal, menjadi bagianku. Abu Aafiya tinggal nanti yang ketemu sama yang mau ngebeli atau yang mau ngambil barangnya. Hehe... Kebanyakan yang membeli/mengambil barang-barang ini bukanlah orang pertama yang menawar. Kebanyakan yang pertama kali menawar, malah cuma PHP doang. Tak ada kabar yang jelas. Meskipun dikasi gratis sekalipun, banyak juga yang akhirnya cancel. Sebenarnya agak rada kesal juga sih (apalagi yang free item) yang awalnya sudah deal mau ngambil, tapi tiba-tiba di injury time malah cancel. Kan kasian ada orang yang benar-benar serius mau ngambil dan terhalang oleh orang yang asal membuat deal lalu cancel seenaknya.
Kalau yang seriusnya, cuma demi sesuatu yang rasa-rasanya bisa dia beli di dekat rumahnya dengan harga yang ga mahal, dia rela menempuh perjalanan hampir 40 menit. Tapi, yang kebanyakan sih cancel sepihak. Kekeke... Benar-benar harus banyak sabar deeh kalo soal ini. Hihi...
Ada juga pengalaman lain. Beberapa barang ex-teman yang dikasi secara free berupa dressing table, meja kerja,kursi yang pada awalnya banyak peminatnya. Tapi PHP doang. Gayanya aja mau ambil, tapi ga ada kejelasan lagi. Kabar kabur... Hihi... Hingga ada salah seorang yang awalnya aku cuekin karena dia ga kirim message via WA dan malah ngirim rekaman sound yang ga aku mengerti. Pakai bahasa arab. Aku bilang ga ngerti bahasa arab. Trus dia malah pake bahasa urdu. Tambah ga ngerti dong akuuu... wkwkwkwkwk... Nah, ternyata dia ga bisa bahasa inggris. Aku bilang english only please. Baru deh dia (mungkin via temannya) pakek english dan katanya dia tertarik sama barang yang aku iklankan via expatriates. Ehh, ternyata emang rizki nya si bapak ini yaa... alhamdulillah akhirnya dia yang awalnya kita cuekin malah jadi ngambil, enggak PHP doang. Hehe...
Sebenarnya ini semacam simbiosis mutualisme juga sih yaaa... Karena kami butuh mengeluarkan barangnya, dan si peng-hire butuh mengambil barangnya. Impas kan. Dari pada harus mengeluarkan sendiri dan terbuang begitu saja, alangkah lebih baiknya dimanfaatkan oleh orang yang membutuhkan.
Pelajaran berharga: Rizki itu sudah ada ketetapan-Nya. Bisa jadi, si A yang akan mengambil barangnya, ehh malah akhirnya si B yang mendapatkannya. Bisa jadi kita sudah berharap pada X, ehh ternyata rizkinya malah Y. Jadi, soal rizki dari Allah semestinya bukanlah sesuatu yang perlu terlalu dikhawatirkan. Sudah ditakar-Nya koq. Yang perlu dikhawatirkan itu justru bagaimana nasib kita kelak, ketika kita telah melewati fase dunia. Iya, kehidupan setelah dunia. Tapi, kebanyakan hari-hari kita justru lebih sering mengkhawatirkan rizki yang sudah ditakarkan-Nya ketimbang kehidupan setelah mati. Ini note to my self terutama niih dengan segudang kelalaian, astaghfirullaah....
Ada barang yang tak laku even itu dikasi gratis sekalipun?
Tentu sajaaaa ada!!!
Hehe...
Awalnya sedikit kecewa ketika ada yang hire tapi cancel hingga di hari kepindahan kami ke tempat yang baru, barang itu tetap saja ga terjual atau tidak jadi diambil. Lagi-lagi di PHP in hiks... hiks...
Tapiii, itulah takdir-Nya. Dia selalu Maha Mengetahui apa yang terbaik buat diri kita. Ternyata, barang-barang yang tidak laku itu adalah barang-barang yang sebenarnya masih kami butuhkan! Dan pada akhirnya, kami bersyukur bahwa barang-barang itu tidak laku. All can fix here, ma shaa Allah.... Ternyata kami masi sangat butuh barang-barang itu yang dikira ga muat di rumah ini. Aku takjub juga, ma shaa Allah... tak terpikirkan sebelumnya bahwa semua bisa fix di rumah ini. Ter-utilisasi dengan maksimal dan optimal.
Pelajaran berharga: segala ketetapan-Nya pastilah yang terbaik untuk diri kita. Pada awalnya mungkin kita bersedih karena sesuatu terjadi di luar pengharapan. Kelak, kita akan mengetahui bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita yang telah ditetapkan-Nya, pastilah YANG TERBAIK untuk diri kita. Terbaik untuk urusan kita. Dan semoga kita juga bisa berupaya yang terbaik untuk akhirat kita. Maka benarlah bahwa sebaik-baik pengharapan hanyalah pada-Nya yang takkan pernah mengecewakan kita.
Alhamdulillah, akhirnya di sinilah kami sekarang. Di rumah yang baru. Semoga barokah... Aamiin yaa Allah. Meskipun, ada kekurangan yang unpleasant lah jika dibanding rumah sebelumnya, tapi over all rumah ini pun banyak kelebihannya dan menyenangkan. Di antaranya posisinya di ground floor yang ga perlu lagi naik turun tangga. Memiliki halaman yang cukup luas untuk area bermain anak-anak (meskipun sekarang musim panas dengan suhu mencapai 45° C yang ga memungkinkan setiap saat bermain di halaman dengan panasnya yang menyengat). Dapur yang sangat minimalis (kurang dari setengah ukuran dapur sebelumnya), menguntungkan karena jadinya lebih rajin beberes. Kalo dapurnya luas, jadi lebih lalai beberesnya... kekekekeke... Dan yang terpenting, tentu saja bukan soal seberapa mewah dan seberapa luasnya rumah, melainkan apakah dari rumah ini lahir kebahagiaan, ketentraman, kekeluargaan, kebersamaan dan terutama ketaatan. Jika semua ini missing, rumah tiadalah artinya lagi. Bahkan sekedar tempat untuk tidurpun, takkan memadamkan kegelisahan hati. Apalah artinya kan yaa? Heuu...
Do'akan yaa rumah ini menjadi rumah yang barokah... Aamiin yaa Allah...
In shaa Allah lanjut ke cerita selanjutnya tentang home decor yang murah meriah ala emak Aafiya... Hihi...
Cerita Lebaran 1439 H
Setiap lebaran selalu punya cerita berbeda. Tahun lalu, deg deg an gerbang KBRI mau ditutup dan hampir kehilangan kesempatan shalat ied setelah menempuh perjalanan Nahda-DQ menjadi cerita yang tak terlupakan. Oleh sebab kami tak menemukan gate nya Diplomatic Quarter yang satu laginya dan sukses bikin "tawaf" sekeliling King Khaleed Road... ekekekeke...
Tahun ini kami ikut shalat Ied masih di KBRI. Kenapa KBRI? Hehe... sebenarnya banyaak tempat shalat ied di negeri sejuta masjid ini. Boleh pilih di mana ajaa. Dan yang paling precious untuk orang yang berdomisili di Saudi adalah bisa merasakan shalat ied di Masjid Al Haram atau Masjid Nabawi (meskipun kami memang sulit untuk mewujudkan hal ini karena no vacation in ied holiday khusus untuk kerjaan suami... Tapi, alhamdulillaah 'ala kulli haal). Jadi, kenapa di KBRI? Karena ada sarapan dan bazaar makanan indonesia 😂😂😂. Dan lebih ramah anak... Anak-anak bisa lelarian dan bisa ketemu masyarakat Indonesia di sini lah.
Setiap ada teman yang bertanya, "mudik ga lebaran?" Jawabannya hampir selalu TIDAK. Lima kali merasakan Ramadan di Riyadh, hanya 1x aku mudik dan itu pun ketika masih ada Aafiya (Aasiya belum lahir). Dan aku harus pulang ke Indonesia berdua doang sama Aafiya tentunya karena seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, lebaran adalah peak season kerjaan suami.
Ramadan dan idul fitri kali ini adalah yang paling great dari semua shift2an yang pernah Abu Aafiya alami di awal dan akhir Ramadan dan idul fitri. Dulu-dulu, selalu saja ada yang missing, ga bareng-bareng (maksudnya; aku di rumah dan suami di kantor). Kalo ga sahur pertama atau sahur terakhir, ya buka pertama atau buka terakhir ramadan yang ga barengan dan duduk bersama. Heuheu... Ramadan kali ini dapat shift yang lumayan bagus. Ga ada yang missing. Kita sahur dan buka pertama dan terakhir ramadan full bersama-sama dan dapat melaksanakan shalat ied. Kalo semisal suami dapat shift malam hingga pagi (jam 12 malam sampai jam 8 pagi), bisa dipastikan aku mungkin akan melewatkan momen shalat ied (karena di sini shalat ied dilaksanakan sekitar jam 5.10 - 5.30 an, jadiii kalo dapat shift sampai jam 8 yaaa bakalan kelewat...). Di ramadan ini, hari terakhir puasa suami dapat shift pagi dan pas hari ied dapat shift malam. Jadinya bisa menghadiri sahalat ied, alhamdulillaah...
Alhamdulillaah anak-anak kooperatif banget mau dibangunin pagi-pagi. Jam 4.30 dah mulai dress up. Emaknya yang kudu bangun jam 2.30 buat siap-siap hihi. Tapi karena biasanya bangun untuk sahur juga sekitar jam segitu, jadi ga terasa begitu berat sih alhamdulillah. Kita berangkat dari rumah sekitar 4.50 pagi biar ga telat dan mendapati gerbang KBRI udah ditutup hehe (jarak tempuh dari rumah ke KBRI sekitar 34 km). Ya, di sini karena malam sedikit lebih singkat (sekitar 9 jam), maka anak-anak umumnya nyaris tidak tidur di malam hari sampai sahur. Baru tidur habis sahur. Begitulah budayanya kalo di sini. Aafiya dan Aasiya juga sering tidurnya agak telat ketika ramadan ini. Kebawa suasana juga kayaknya.
Oh iyaa, selain itu di sini ga ada i'tiqaf kayak di Indonesia yang full di masjid. Jadi, di 10 malam terakhir ramadan itu, shalat tarawih dilaksanakan 4 rakaat. Terus nanti dilanjutkan 4 rakaat lagi plus witir di jam 1-an sampai jam setengah 3 malam. Siang pun di masjid juga i'tiqafnya paling 1-2 jam setelah jam shalat. Ga full stay di masjid gituh. Hehe...
Idul fitri kali ini, kami sempat menyaksikan juga firework yang memang dikhususkan buat hari raya saja. Jika pesta kembang api di indonesia adalah malam pergantian tahun, di sini pesta kembang api justru pas lebaran. Walau ga ada malam takbiran. Hehe... Aku excited selaluu kalo liat kembang api besuaaaaarrr yang bunyinya udah kayak ledakan. Heuheu.. *katro banget deh akuuh. Makluuum pas di indo ga pernah menyaksikan kembang api besar begituuu karena emang ga berniat ikut-ikutan acara tahun baruan. Hihi... Di lebaran sebelumnya hampir tidak pernah karena biasanya (lagi-lagi) suami masuk kerja.
Dulu pas awal-awal di sini, lebaran pertama di sini aku sempat ngeri-ngeri sedap mendengar koq kayak bunyi letusan aka ledakan sesuatu. "Apakah terjadi sesuatuuu?" Pikirku waktu itu. Mana suami lagi masuk kerja dan aku sendirian di rumah. Ehh baru belakangan aku tau kalo itu "ied fireworks" ekekekeke... Excited begitu punya kesempatan untuk menyaksikannya.
Daaan yang paling special di lebaran 1439 H adalah libur hari rayanya. Biasanya, nyaris ga ada libur hari raya utk kerjaan Abu Aafiya. Kalau pun ada, paling ya cuma 2 hari dan bahkan pernah ga dapat liburan malah. Liburan kali ini lebih panjang (6 hari). Dan untuk pertama kalinya dalam 5 tahun ini kami berkesampatan untuk vacation ke dua kota terbaik di dunia di eid holiday. Alhamdulillah bini'mah... It's really priceless..
__________
Note:
*ini postingan udah ditulis setengah trus terpotong kesibukan-kesibukan ala emak-emak. Eehh pas ngelanjutin postingannya, udah lupa apa yang mau ditulis ekekeke... harap maklum kalo garing banget wkwkwkwkw...
Ied Mubarak 1439 H
Ied Mubarak 1439 H
Selamat Idul FitriSemoga kita menjadi pribadi yang lebih baik dan dipertemukan dengan Ramadan berikutnya...
Riyadh, 1 Syawal 1439 H
Ramadan Mubarak 1439 H
Tapiii telat lebih baik dari tidak sama sekali kan yaaa...
Telah datang bulan yang dirindukan segenap umat muslim di dunia. Semoga Ramadan ini tak berlalu dengan sia-sia dan semoga madrasah Ramadan ini menempa diri kita menuju pribadi taqwa.
![]() |
| Ramadan Mubarak from imore family |
![]() |
| Ngerjain dan nempelin bareng nak dis shalihah 😄😍 |
Martabak Manis
![]() |
| Martabak manis homemade first trial... 😍 |
Aku sendiri sebenarnya bukan martabak lover meski bukan berarti ga suka. Sesekali, martabak memang sangat menggiurkan tapi bukan sesuatu yang bener-bener dikangenin. Aku lebih suka martabak telur aka martabak kubang aka martabak mesir. Etapiii... kadang selera suka aneh yaa kalo lagi ngidam. Hahaha...
















