Showing posts with label my lovely hubby. Show all posts
Showing posts with label my lovely hubby. Show all posts

Seminggu Berlalu

Seminggu berlalu setelah kelahiran baby Maryam. Seminggu ini pula aku begadang hehehe. Baby Maryam meleknya selalu dini hari. Iya sih pas masi di perut, anaknya berasa aktif kalau udah dini hari sampai menjelang subuh gituh. Hehe...

Selama seminggu ini pula Aafiya dan Aasiya hampir selalu bersama Ayahnya. Mulai dari mandi, makan, main, tidur... semuanyaa... Aku fokus bersama baby Maryam sekaligus memulihkan tenaga dan merecovery segala nyeri-nyeri mulai dari nyeri episiotomi yang ngilu-ngilu sedap hehe, nyeri kontraksi pasca lahiran yang aduhai banget di lahiran ketiga ini. Belum lagi nyeri menyusui karena ada luka juga. Hehe... Banyak bet nyerinya. Alhamdulillah Abu Aafiya cuti... tapi cuma request seminggu hiks. Ngerasa bisa in shaa Allah seminggu ajaa. Ehh ga taunya kelahiran ketiga ini beda banget dengan kelahiran sebelumnya. Tau begini, request nya kemarin cuti 2 minggu aja sekalian. Karena masi ada sisa jatah cuti harusnya. Hiks hiks... Alhamdulillah 'ala kulli haal.

Agak sedikit merasa gamang dan gagap nih ketika abu Aafiya akan mulai masuk kerja lagi ahad in shaa Allah. Pasca lahiran seperti yang aku ceritakan di atas, duo uni-uni (Aafiya dan Aasiya) hampir selalu bersama ayah mereka. Nah pas ayah masuk kerja, mau ga mau emaknya harus ngurusin ketiganya sekaligus kan yaa. Heuheu... Maklum di perantauan, lahiran di sini memang begini. Ga cuma aku, teman lain pun begitu. Kalau di kampung kan biasanya lahiran ditemani orang tua, banyak yg ngurusin. Nah kalo lahiran di luar nagari dan negeri, tentu apa-apanya mesti ngurus sendiri. Makanya kudu setroong hehehehe.

Kelahiran ketiga ini agak berbeda. Kalo kelahiran sebelumnya, recoverynya relatif lebih cepat. Luka episiotomi  dalam 4 hari udah mulai terlihat membaik meski tanpa analgetik. Pas lahiran ketiga ini, luka episiotominya koq yaa lamaaa banget recoverynya. Hari ke-4 terasa ngiluuu banget sampai sedikit 'trauma' mau beraktifitas apalagi ke kamar mandi. Sebab kalau kena air nyerinya luar biasa. Huhu... Mau duduk juga susaah banget nyari posisi yang PW.   Jadi, banyakan berdiri aja (lebih berkurang nyerinya), tapi lama-lama capek juga nyusuin sambil berdiri hehehe. Sempat sedih dan frustate jugaa kalo nyerinya begini, ngurus diri sendiri aja susaaah apalagi ngurus anak jugaa. Akhirnya aku ingat cream epicure yang dikasi konsultanku pas lahiran Aasiya dulu masi ada 1 yang utuh. Aku pakek buat gantiin krim yang sekarang, ehh ma shaa Allah... fast progress... Efektif banget dalam merecovery si episiotomi. Alhamdulillaah di hari ke-8 ini, bisa dibilang luka epis nya sudah ga begitu nyeri lagi. Paling ngilu-ngilu dikit lah.

Masalah lainnya ada di nyeri kontraksi pasca melahirkan. Adalah normal rahim berkontraksi lagi pasca melahirkan untuk meluruhkan sisa-sisa plasenta dan mengembalikan ukuran rahim ke size semula sebelum kehamilan. Tapi di kelahiran ketiga ini, kontraksi pasca lahirannya terasa jauhhh lebih nyeri dan lebih lama durasinya. Hingga tadi (hari ke-8) nyerinya masi terasa sangat sakit. Aku masi ingat pas masi di RS, nyeri kontraksinya bener-bener deeh ya Allah... sakiit banget sampai aku minta dobel pain killer. Beberapa malam yang lalu, nyerinya juga menghebat. Huhu... Dalam kondisi nyeri seperti ini, aku ga bisa pay attention ke siapapun even ke Baby Maryam. Huhu... Biasanya Abu Aafiya langsung ambil alih anak-anak. Ini kegalauan kedua ketika menjelang suami masuk kerja lagi.

Dengan kondisi baby Maryam yang selalu ngajakin begadang, aku merasa dizziness juga. Jadi, kalau baby Maryam lagi tidur, biasanya aku ikutan tidur. Naaahh, kalau sudah mulai ngantor, otomatis aku juga ga bisa tidur kaan karena ada Aafiya dan Aasiya yang butuh diberi perhatian jugaa, dipenuhi kebutuhan dasar mereka. Apalagi mereka sekarang lagi 'latihan' untuk memperbaiki pola tidur: bangun lebih pagi, tidur siang, dan tidur lebih cepat di malam hari (Pola tidur sebelumnya, mereka baru bangun tidur jam 9-an, nyaris ga pernah tidur siang dan malamnya tidur di jam 10-jam 11-an). Kan ga lucu kalo emaknya bangunin anaknya pagi2 trus emaknya lanjutt tidurr lagi karena abis begadang. Hehe...

Soal makan, beberes rumah, nyuci dan segala macam tetekbengek urusan rumah semua sudah dihandle sama suami.. ma shaa Allah jazakallahu khair katsir yaa Zaujiy 😘😘😘.

Kalo semua kelihatan susahnya aja, kapan senangnya dongs? Hehe... Iyaa, di kelahiran ketiga ini tentu saja ada sisi yang berasa mudah dan dimudahkan-Nya, ma shaa Allah tabarakallah.

Unexpexted, di kelahiran ketiga ini kami dapat kamar perawatan yang Suite Room. Ma shaa Allah, rizki baby Maryam ini... Alhamdulillaah. Sebelum-sebelumnya kami biasanya dapat yang Private Room. Allah Maha Mengetahui bahwasannya kami memiliki dua princess selain baby Maryam yang butuh ruangan yang lebih besar dan luas agar mereka nyaman di RS dan tidak merasa bosan 😊. Di kelahiran ketiga ini, alhamdulillah ada mba Tyas dan keluarga yang membantu menjaga anak-anak selama proses lahiran jadi suami bisa nemenin di LDR. Jazakumullaahu khair mba Tyas dan keluarga. Di kelahiran ketiga ini, tiga hari berturut-turut ada Mba Rahma Ummu Kautsar mengirimi kami makanan yang ma shaa Allah ladziiiz dan kami jadi ga repot harus beli makanan di luar ataupun masak. Jazakumullahu khair katsir buat mba Rahma dan keluarga. Dan Allah mudahkan pula urusan-urusan dokumen kelahiran Maryam, mulai dari sertifikat kelahiran dari rumah sakit, syahadah milad (semacam akte kelahiran dari catatan sipil saudi), proses pembuatan passport dan akte kelahiran dari KBRI yang in shaa Allah tinggal menunggu hasilnya. Mudah-mudahan nanti urusan iqoma juga gampang dan dimudahkan-Nya. Aamiin yaa Allah...

Di balik kesulitan pasti ada kemudahan! Aku harus yakin akan hal itu. Meskipun sedikit gamang menghadapi masa-masa Abu Aafiya mulai masuk kerja, seharusnya aku yakin pertolongan Allah itu jauh lebih dekat. Tiadalah kesusahan dan kesulitan melainkan ada kemudahan yang menyertainya...

Hayooo semangaattt!!!
Masa seperti ini tidaklah lama. Mumpung anak-anak masih dekat dengan emaknya dan bapaknya. Maka tak bolehlah sia-sia masa pengasuhan ini. Sebab, Akan ada masa anak-anak satu persatu meninggalkan kita menuju kehidupan mereka masing-masing nantinya. Jangankan setelah anak-anak menikah dan punya kehidupan sendiri, masa mereka sekolah saja mungkin sudah cukup membuat kita merasa sepi di rumah. Jadi, Masa-masa saat ini (yang mungkin terasa sulit sekarang) justru akan menjadi kenangan yang dirindukan nantinya. Jangan sampai sebuah penyesalan hadir ketika kita terlambat menyadari bahwa banyak waktu kebersamaan yang kita lewatkan begitu saja karena kita sibuk dengan dunia sendiri. Yuk ukir kenangan indah dengan sebaik-baik pengasuha , sebab masa ini tak tergantikan. Apalagi cuma terisi dengan liat henpon dan baca wattpad aja. Betapa sia-sianya waktuuu. Astgahfirullaah. NTMS tentu saja ini mah. Yuk menej lagi diri dan waktumu, Fathel!!!!!!

Read More

Merayakan Malam Takbiran dan Idul Adha dari ER, LDR dan Kamar Inap

Malam takbiran selalu saja menjadi momen yang membahagiakan tentunya bagi seluruh muslim di penjuru dunia. Tapi, ada kalanya malam takbiran harus dirayakan dari tempat yang tidak kita bayangkan. Begitu pula dengan malam takbiran idul adha kami di tahun 1439 H ini.


Hasil CTG nya sudah mulai normal alhamdulillaah...

Sore hingga malam ini, aku merasakan kontraksi yang tidak biasanya. Lebih regular dan kuat, menjalar dari arah punggung, pinggang dan perut bawah. Mirip seperti kontraksi waktu lahiran Aasiya dulu. Actually, aku sudah merasakan nyeri di perut bawah ini sejak dari seminggu yang lalu. Tapi ga beraturan, dan masih bisa ditoleransi. Kadang memang mengganggu tidur. Tapi sepertinya masih kontraksi palsu.

Dengan riwayat kelahiran dua anak sebelumnya yang memang maju dari due date, aku pikir di week ke-36 ini aku bakalan lahiran mengingat kontraksinya yang sudah sangat berasa. Dulu pas lahiran Aasiya aja, dengan kontraksi yang ga begitu nyeri kayak sekarang, ternyata sudah pembukaan 3 ketika datang ke ER dan anaknya lahir 8 jam kemudian di usia kandungan 37 week. Naah, akhirnya kita ke ER(emergency room) setelah berkumandangnya adzan maghrib di hari arafah ini. Pas di cek sama CTG, ternyata kontraksinya masi irragular dan belum ada pembukaan. Kenapa ada nyeri kontraksi yang cukup tinggi ya?!

Nah, awalnya aku pikir kitah bakalan pulang lagi karena belum ada bukaan maupun kontraksi asli. Tapii, di menit ke berapaaa gituh yaa aku lupa, dokter mendeteksi kalo bayinya takikardi (detak jantung di atas normal), padahal awalnya normal-normal aja. Kemungkinan distress oleh sebab yang tidak diketahui. Bisa jadi terlilit tali pusar, atau yang lainnya. Kata dokternya, jika takikardi ini terus berlanjut, maka aku harus segera menjalani SC. Ohh... Ya Allah, ga kebayang aja kalo harus SC. Dokter juga memberikan suntikan dexamethasone untuk paru si baby, jika ada kemungkinan SC mengingat ini masih 36 week.

Aku diberikan infus RL untuk menurunkan takikardi ini, dugaannya kekurangan cairan dan harus menjalankan observasi sampai besok. Jadi, mau ga mau harus nginap di RS. Hiks... qadarullah, malam takbiran bermalam di RS dan tidak bisa ikut shalat ied. Setelah beres urusan admission, aku ditransfer ke LDR (labor and delivery room) untuk observasi dengan CTG selama 4 jam. Dan alhamdulillah hasil CTG nya udah bagus. Abis itu aku ke ruang rawat inap. Karena hasil CTG di LDR udah bagus. Di ruang rawat inap, aku kembali di CTG. Kata perawatnya kalo semisal besoknya CTG nya udah OK aku boleh pulang.

Nah, sekarang aku lagi nunggu dokter nih buat USG dulu dan keputusan untuk discharge dari RS. Mohon do'a yaa supaya sehat2 dan lancar2, lahir di waktu yang terbaik menurut-Nya dengan selamat. Menjadi anak yang shalih/ah dunia dan akhirat.
Pada udah kecapean di midnight dan tertidur di sofa nemenin bundanya CTG di LDR 😣 Jazakumullahu khair katsir, my dear 😘❤

Jazakallahu khair katsir yaa Zaujiy, always full support dan juga dua bidadari kecil shalihah yang senantiasa mendo'akan "sehat-sehat yaa Bundaaa... aamiin yaa Allah...". Love all of you fillaah... 😘😘❤❤❤


Finally, dari ruang rawat inap Ward A no 102, HMG Ar Rayyan Hospital, aku dan keluarga mengucapkan:
"IED ADHA MUBARAK"

Read More

Setengah Dasawarsa Cinta


Hari ini, 5 tahun Cinta.
Meski aku (kita tentunya) tidak pernah merayakan momen-momen semisal wedding anniversary ataupun hari milad, tetap saja selalu Indah setiap mengenang hari 5 tahun silam, ketika debaran ini begitu manis terasa. Dan aku menyadari bahwa hanya engkaulah suamiku tercinta yang menjadi satu-satunya pengisi hati di lokus Cinta, menggenapkan setengah sayap untuk terbang bersama, semoga menuju cinta-Nya dan surga-Nya.

Aku mencintaimu, dan akan terus mencintaimu...
Semoga Allah senantiasa menjaga cinta ini dan mengekalkannya hingga ke tempat yang kenikmatan tiada berujung.

5 Tahun Cinta, setengah dasawarsa cinta...
In shaa Allah menuju 5 anggota keluarga kecil kita 💕😗

Uhibbukum fillaah...
Another design 😗💕


Read More

Mabruuk Our Atlet ^^

Aku dan Suami memiliki hobby yang sangat berbeda. Hihi... :D
Aku suka segala sesuatu tentang fotografi dan design plus crafting. Sedangkan Abu Aafiya senangnya segala sesuatu tentang olahraga; terutama futsal dan badminton.
Aku suka jalan-jalan (di mall, wkwkwkwk :P) dan Abu Aafiya suka ngadem di rumah sahaja.
Tapi, kita sama-sama punya ketidaksukaan yang sama yaitu nonton (kecuali tontonan tertentu sahaja).

Alhamdulillaah, perbedaan hobby ini membuat kita lebih "kaya". Dulu, mana pernah aku tau nama-nama atlet badminton dan nama pemain sepak bola. Dulu, mana pernah kepikiran masuk ke toko olah raga. Sekarang, sedikit banyaknya jadi taulah nama-nama tokoh olah raga dan.... jadi suka main ke toko olah raga. Hihihi... Tujuannya nda jauh-jauh siy, nyari sepatu cewe yang okepunya ama ransel cakeeep (dan lagi diskon wkwkwkwkwk), di mana Abu Aafiya lebih senang melihat raket badminton dan sepatu
Perbedaan hobby ini membuat kita jadi saling menghargai dan juga saling support tentunya... ;)
Walau kadang juga manyuun siiy pas Abu Aafiya berangkat badminton... xixixixi... Apalagi kalo sampai 3x dalam seminggu...

Hobby itu, sepertinya mengandung zat endorphin yaa. Meski melelahkan tapi sangat menyenangkan. Maka nda heran ketika panas-panas terik (suhu 48 derjat celcius), di tengah siang bolong, teteeup aja Abu Aafiya main badminton nda pernah absen. Hihi.. Daaan pulangnya kayak abis mandi hujan. Iya sih, hujan keringat maksudnya. Hehe... But, I'm totally support, in shaa Allah... ;)

Panjang banget mukaddimahnya, hihi..
jadi ceritanya di bulan agustus (apa karena perayaan hut RI yak) ada turnamen badminton yang diadakan oleh orang-orang Indonesia di Riyadh, bertempat di SIR (sekolah indonesia riyadh). Abu Aafiya diundang ikutan turnamennya. Setelah beberapa kali bertanding, akhirnya sampailah suamiku tercinta di garis final daaan alhamdulillaah akhirnya berhasil membawa pulang sebuah tablet sebagai peringkat kedua... Hadiahnya disponsori oleh Indomie Saudi. Mabruuuk our Atlet. We really proud of you <3 <3 <3

Emak Aafiya tentunya nda ikutan ngasi support jadi cheersleader di lapangan. Hehehe...\
Jangan bayangkan kayak di Indonesia yaa. Hihi.. Di sini, wanita tidak boleh berada di tempat campur baur seperti narena olahraga badminton atau yang lainnya. Jadi, ga bakalan ketemu deeeh sama penonton wanita. Jika saja ketahuan sama muttawa (polisi syari'ah), bisa ditangkap tuuh. Minimal kenak tegur deeh. Heuu... Kecuali kalo pertandingan dilakukan di istiraha kali yaa...
hadiah juara 2 lomba badminton. Mabruuk Our atleet...

Tetap semangaat, Cintaaaah..
Love you more...
Read More

Special Gift from Someone Special [part 2]

special giftfrom someone special
Kapankah sepasang suami istri, orang tua ke pada anak dan sebaliknya saling memberi hadiah? Ulang tahun? Ulang tahun pernikahan? Atau momen "peringatan" lainnya?


Anggaplah pertanyaan retoris di atas sebagai salah satu menu pembuka postingan "berat" kali ini. hihihi... Ini sebenarnya bukan sequel dari kelanjutan kisah "special gift from some one special" November tahun lalu. Karena judulnya sama, maka dibuatlah versi [part 2] nya. Boleh kaan? Hihi...

Read More

Long Distance Relationship

Long Distance Relationship alias hubungan jarak jauh (selanjutnya kita singkat LDR ajah kali yaa) memang bukan pilihan yang mudah... Apalagi bagi sepasang suami istri. Tapi ada kalanya, LDR menjadi satu-satunya pilihan terbaik. Ada kondisi di mana memang mengharuskan untuk LDR. Ada yang seminggu sekali berjumpa. Sebulan sekali. Setiap 6 bulan. Dan bahkan ada yang sampai hitungan tahun!

"Saya 6 tahun menikah. Tapi 75% dari pernikahan itu adalah LDR."

"Kami pernah 6 tahun tidak berjumpa setelah nikah. Suami ga pulang. Dan saya menghabiskan waktu dengan kesibukan yang padat."

Dua pernyataan tersebut aku dengar langsung dari yang bersangkutan (dengan redaksional berbeda).

"Dulu, kala belum ada skype dan video call lainnya... kami LDR sekian tahun hanya dengan mengandalkan telpon saja."

"Di negara kami yang masih terbelakang, saya berkomunikasi dengan istri hanya lewat surat. Itupun suratnya baru sampai 1 bulan kemudian."

Dua pernyataan terakhir adalah cerita yang didengar suami dari teman-temannya.

Aahh.. pasti beraaat banget. Aku yang LDR cuma 7 bulan saja sebelum berangkat ke Riyadh (dan itupun sebagian waktu LDR nya diisi dengan kesibukan mengejar target tesis yang supeeerr extra menyita waktu) sudah terasa beraaaat... Padahal juga sudah didukung dengan teknologi video call (dan kami video call hampir tiap hari), tetap saja beraaaat rasanya. Apatah lagi yang LDR bertahun-tahun dan tidak didukung dengan teknologi yang mendekatkan yang jauh semisal video call. Duuhh.. yang pasti... berat bangeeett...

Ada yang lebih nyesek lagi. Ada salah seorang teman dari rekan kerja Abu Aafiya yang bercerita memilukan. Karena LDR, si anak beranggapan bapaknya ada di laptop. Ceritanya mereka tiap hari video call... Biar ada komunikasi antara anak dan bapak mungkin maksudnya. Suatu ketika si bapak pulang ke kampung halaman. Si anak tak mengenali bapaknya dan bilang, "bapakku yg ada di laptop bukan yg ini... " ahhh pasti sedih bangeeett...

Memang tak mudah untuk menjalani LDR. Aku... jika memang masi ada pilihan untuk tidak LDR, aku pasti memilih untuk tidak LDR. LDR adalah pilihan terakhir yang akan dipilih--di saat tak ada pilihan lain--.

Tapiii...
LDR akan membuat kita mengerti... akan berartinya sebuah rasa rindu. Dan akan membuat kita lebih menghargai saat-saar kebersamaan... :)
#Eaaaaaa
Salah satu hikmah LDR... :D

*****

Yang LDR lagiii... meski sebentar... tapi berasa beraaaat... separuh jiwaku masi di Riyadh.. ;)

Read More

الحمد الله على كل حل

Alhamdulillaah tsumma Alhamdulillaah...

I feel sooooooo releeeeeeease!! Alhamdulillaah.... Alhamdulillaah 'ala kulli Hal.

Terima kasih, Cinta...
Atas pengorbanan, do'a, waktu, cinta, support, suntikan semangat dan kasih sayangnya yang tak berhingga...
Aku sungguh bisa membaca ada banyak kekhawatiran yang sedang engkau coba sembunyikan, Sayang...
Juga lelah yang tiada bertepi....
Seiring dengan do'a tulus yang tiada henti...
Alhamdulillaah... kini kita sama-sama bisa berbafas lega dan tersenyum ceria...
Jazakallaahu khair katsiro, Zaujiy...
انا احبك في الله...


Terima kasih ayah ibu atas do'a tulus dan semangat yang terkirim nun jauh dari sana... dari balik samudera...

Jazakumullaahu khairan katsiro, ayah dan ibu...


Terima kasih my little princess.... telah mau menghadapi banyak tantangan ini... :)
Mencoba untuk mengerti meski belum saatnya mengerti... ;)


الحمد الله على كل حل

Read More

Living in Riyadh part 10: Alamat Rumah

Baiklaahh.... sepertinya mengenai 'alamat rumah' ini sudah diceritakan sebelumnya oleh suami tercinta di sini. Tapi aku pengen menceritakan juga dari sudut pandang aku. Agaknya kami memiliki point of view yang hampir sama yaa? Hehehe....

Jujur aja, kadang aku ingin ngakak ketika ingat bayanganku mengenai kota Riyadh sebelum aku menginjakkan kaki di ranah gurun ini. Aku pikir kota yang dahulu dikenal dengan nama Nejd ini adalah gurun semata dengan rumah penduduk yang jarang-jarang. Pemandangan yang kita saksikan hanyalah gurun 'sansai' alias gurun sahara dari ujung ke ujung. Hihihi.. Apalagi intip-intip dari koleksi foto Abu Aafiya, isinya kalo ga gurun yaa di ruang server serta Makkah al Mukarramah maupun Madinah. Kan abu Aafiya nda suka nge-mall, jadi kaga ada tuh yang namanya foto mall. Hihihi.... Ini (contohnya di sini ) salah satu foto yang aku liat sebelum ke Riyadh yang semakin menguatkan image dalam pikiranku bahwa ianya adalah gurun luas membentang.

Ternyataaah pemirsaaah, dugaanku 1000% SALAH BESAR! Ketika hendak landing (perjalanan dari Hongkong menuju Riyadh akhir tahun 2013 M), yang kusaksikan adalah pemandangan yang menakjubkan. Kota yang penuh dengan lampu-lampu benderang, tatakota yang rapiiih banget... pemandangan yang sungguh cantik. Tapi karena kangen yang menggebu-gebu ingin segera ketemu belahan jiwa (eheeemmm...), lupa motret-motret dan pikiranku sudah benar-benar terbagi, antara menyaksikan pemandangan menakjubkan dan ingin segera bertemu kekasih hati. Hehe...

Ya, kota Riyadh memang adalah gurun... tapi gurun yang telah disulap menjadi Metropolis City. Lebih metropolis dari pada jekardah. Waahhh... ternyata akuu salaaaahh menilaimuuu wahai Riyadh... hihihi....

Kota Riyadh adalah kota yang rapiih... Karena kota ini relatif baru (dibanding Makkah, Madinah dan Jeddah), maka planologinya pun sangat bisa didesain sedemikian rupa. Rapi. Sangat rapi. Daan terus mengalami gelombang perkembangan dengan amat sangat pesat. Namanya juga negara kaya raya--petrodollar--jadi membangun apa saja dengan cepat bukanlah sesuatu yang sulit bagi negara ini. Tidak seperti negeriku yang kaya rayaa juga tapi penduduknya kebanyakan miskin dan kekayaannya dikeruk oleh orang lain ulah segelintir pejabat yang tidak bertanggungjawab. :'(

Tadi mau cerita alamat yaa? Hahaha... udah ngalor ngidul ke mana-mana iniiih... >.<
Naah.... salah satu hal yang unik di Riyadh menurutku adalah menyoal alamat rumah. Seperti yang juga sudah diceritakan oleh Abu Aafiya (sila klik link di atas yees). Di Indonesia kalau memberikan alamat untuk kita kunjungi biasanya lengkap sekali.... Jalan A, RT/RW sekian, Kecamatan B, Kabupaten C dst dst.... Itu saja tidak lengkap. Sering kali kita butuh ancer-ancer, semisal luruus nanti perempatan belok kiri ketemu apotek masuk gang trus mentok belok kanan rumah ketiga setelah gedung X... dst dst... Jadi kalo minta alamat maupun ngasi ancer2, mesti nulis panjaaang lebaar. Dan itu pun pakai acara nyasar-nyasar. Hihihi...

Naahh jika di sini... kalau ngasi alamat bukannya ngasi nama jalan, nama district tapi alamat adalah berupa angka koordinat. Misal ada pengajian di rumah Ibu X, koordinat rumah 24.009865, 24.67799. Atau ada acara di istirahah Y pasti akan disertakan dengan angka koordinat. Nanti perjalanan menuju alamat tersebut akan dipandu oleh si GPS...

Seruu juga sih untuk aku yang suka peta. Aku selalu excited jika liat aplikasi maps. Doraa dong. Xixixi... Dan juga bertugas sebagai asisten suami tercinta jika kita bepergian. "Belok kiri.... belok kanan...". Biasanya Abu Aafiya akan selalu menertawakan aku yang bilang, "belok kiriii..." tapi nunjuknya ke kanan. Wkwkwkwkwk... "kiri apa kanan niiih?"
Disorientasi araaahh... hihihi

Read More

Not Easy as You Guess

Jalan pagi (dan sekarang malam) sekitar lima keliling di taman belakang adalah rutinitas yang kami jalani dalam minggu-minggu terakhir ini. Dan kadang lima keliling terasa sangat jauh. Padahal kalo jalan di mall, berasa nda begitu capek yaaa? Hihihi... Ini adalah ledekan dari seseorang niih... :P

Untuk mengatasi yang terasa sangat jauh itu, kita membuat permainan-permainan yang kira-kira akan membuat rutinitas jalan lima keliling terasa dekat dan mengalihkan perhatian dari menghitung jumlah keliling. Hihi...

Permainan kali ini, idenya muncul dari suamiku tercinta yang dibuat sendiri. Bukan nyontek dari permainan yang sudah ada. Hehe... The power of creativity ini mah namanya. Proud of him. :)
Pada mulanya, permainannya terlihat sangat simple ketika pertama kali suamiku menjelaskan rules nya. Hanya menyambungkan kombinasi huruf dan angka tiap langkah yang kita tempuh. Pemain yang pertama menyebutkan angka 1 di langkah pertama. Lalu di langkah kedua dan ketiga pemain kedua menyebutkan huruf A dan angka 2. Selanjutkan kembali ke pemain pertama menyambungnya dengan angka 3 dan huruf B di langkah keempat dan kelima. Lanjut ke pemain kedua menyebutkan angka 4 dan huruf C. Begitu seterusnya. Rules awal kita hanya sampai huruf E. Setelah both of us saling memahami rules nya, permainan ANGKA, HURUF, dan LANGKAH pun dimulai.

Meski terlihat simpel, tapi nyatanya setelah dilakukan; tak sesimpel yang kita bayangkan. Kerap kita melakukan kesalahan. Bahkan setelah kita melewati satu keliling taman (satu keliling setelah kita hitung sekitaran 350-400 langkah. Hihi... niat banget yaak ngitung?? Ya bukaaan! Ini adalah permainan kita sebelumnya. Sebelum permainan yang aku ceritakan di sini. Hehe). Nah, ternyata setelah melewati sekian ratus langkah, permainan yang sebenarnya cuma butuh 10 langkah untuk 1 circle itu pun belum berhasil dengan perfect. Bahkan untuk 2 circle saja sekali pun.

Ternyata, kuncinya adalah konsentrasi penuh! Jika kita berkonsentrasi untuk melakukan permainan ini, maka in syaa Allah memang simpel. Tapi jika kurang berkonsentrasi, sesuatu yang terlihat begitu simpel dan sederhana, akan menjadi sulit, seberapa simpel pun kita memandangnya.

Permainan ini mengajarkan kita tentang arti pentingnya konsentrasi dan kesungguhan. Berkonsentrasi dan bersungguh-sungguh. Bukan hanya soal permainan tapi juga soal banyak hal dalam hidup ini. Jangan pernah memandang remeh sesuatu yang terlihat simpel dan sederhana. Selama kita tidak berkonsentrasi dan bersungguh-sungguh, yang simpel dan sederhana itu pun akan menjadi sulit.

:)

Read More

Living in Riyadh Part 8: Romansa Taman



Kegiatan yang mulai rutin kami jalankan adalah jalan pagi ke taman kompleks yang ada di belakang apartemen. Riyadhoh. Rasanya begitu segar dan menyenangkan bisa mengunjungi taman ini (walaupun tidak setiap hari) sambil memperbanyak jalan kali, menikmati pemandangan hijau yang memang jarang adanya di sini, sambil pacaran juga, dan sambil menikmati kembali masa kecil yang sangat bahagia dengan main ayunan :P (seperti gambar di bawah ini :D)

Read More

Ramadhan 1435 H : So Different, So Amazing

Alhamdulillaah segenap syukur kehadirat Allah atas segala curahan nikmat dan rahmat-Nya, Dia sampaikan kami ke bulan yang penuh barokah ini. Alhamdulillaah...

Ramadhan kali ini terasa sangat berbeda dengan Ramadhan-Ramadhan sebelumnya. It's so different, and also Amazing! Ini puasa pertama yang aku lalui bersama suami jauuh di negeri rantau. Negeri dengan ribuan masjid. Negeri di mana peradaban Islam bermula. Itulah amazing yang pertama di Ramadhan kali ini, menjalaninya di tanah gurun bersama suami. Tahun lalu, Ramadhan masi kami lalui dengan LDR (hiks...). Alhamdulillaah... ini Ramadhan pertama bersama suami. :)

Ramadhan ini juga terasa sangat sangat sangat berbeda dan amazing karena dilalui pada musim panas (suhu sekitaran 42-45º C, dikabarkan mencapai puncaknya 53º C) dan siang yang lebih panjang dari malam. Malam terasa singkat dan ditambah pula waktu isya yang lambat dan waktu subuh yang cepat. Ma syaa Allah... perjuangan yang luar biasa... dan harus dilalui dengan penuh semangat!!!

Ramadhan ini sungguh berbeda dan amazing! Sebab ini Ramadhan pertama pula yang kulalui dalam kondisi hamil. Dengan kondisi panas dan waktu siang yang lebih lama dan dalam kondisi hamil, itu benar-benar amazing. Walaupun dokter berkata, "it's okay for you and your baby.", tapi tetap saja yang tau kondisi diri sendiri yaa kita sendiri. Butuh extra Semangaaaat dan mujahadah yang kuat... Semoga Allah memberikan kekuatan untuk menjalankannya. Aamiin yaa Allah...
Read More

The Luckiest Wife

=======ANTARA NIKMAT DAN SYAHAWAT
Bila seseorang mencari pasangan hidupnya dominan unsur syahawatnya, maka menikah baginya hanyalah kesengsaraan, bukan kenikmatan. Nikmatnya hanya beberapa menit dalam satu atau dua bulan pertama. Setelah itu yang ada hanyalah penderitaan. Bila istri sudah hamil, kenikmatan mulai berkurang. Apalagi kalau hamilnya bermasalah. Setidaknya rasa mual, tidak suka dengan aroma tertentu, muntah-muntah tiap sebentar, tidak berselera dengan makanan tertentu dan berbagai permasalahan lainnya. Apalagi kalau sampai terbaring, harus istirahat, sering pendarahan dan lain-lain.

Maka suami akan berubah menjadi pelayan istri. Menyiapkan makanan sendiri, mengurus rumah, mencarikan alternatif makanan bagi istri yang lagi tidak berselera makan. Tak jarang ada suami yang harus menggendong istrinya dari kasur kesumur dan sebaliknya. Mengangkatnya ke mobil dan tiap sebentar harus pergi ke dokter. Kalau sekali-sekali mungkin masih bisa dikerjakan dengan senang, kalau hampir tiap hari seperti itu, tentulah itu beban yang berat.

Apalagi bagi sang istri. Kondisi hamil telah membuat perubahan-perubahan pisik, jiwa dan emosional. Berbagai kepayahan akan dia tanggung dalam jangka waktu yang panjang. Selama masa hamil sampai melahirkan, hingga tuntasnya masa menyusukan. Lebih kurang 3 tahun lamanya. Karenanya, para pengumbar syahawat tidak berminat untuk menikah, karena itu penderitaan. Kalaupun menikah, biasanya tidak bertahan lama. Kalaupun bertahan lama, biasanya diselipi dengan selingkuh dan sejenisnya.
Read More

Bakso Terlezat Sedunia

"Uda, pengeeennn buangeettt bakso." Huaa aku lagi pengen2 nya makan baksoo... Kuah bakso yg slrruupphh rasanya terbayang-bayang di pelupuk mata.
"Hemmm bakso yaa? Adanya cuma di... " My luvely hubby menyebutkan sebuah nama warung Indonesia yang ada Riyadh. "Tapi di sana ga enak aromanya. Lagi pengen banget yaa?" Kata suamiku.
Aku mengangguk. "Tapi kalo ga malam ini, juga nda papa koq, Uda." Betapa rempongnya kalo mau cari bakso di sini. Ga tega ngerepotin suami yg pasti udah cape' banget seharian di kantor. Huhu... Tidak seperti di Indonesia yg ketika kepengen, langsung ajaaah ngacir ke warung bakso di sebelah, di sini makanan semacam bakso, sate, soto begitu langka adanya... huaaa...

"Ya udah, sini, Uda bikinin bakso." Kata suamiku.
"Hah?? Uda seriuusss?" Aku berseru girang.
"Iyaa... serius..."
Read More

Finally... Riyadh.... I'm Coming

Setelah menyelesaikan urusan beberes, akhirnya ngetem juga di depan laptop... Hihi... Tadinya mau tidur, soalnya di jam Indonesia ini sudah malam, hehe.... Tapi mungkin karena excited banget serasa mimpi berada di sini, di bumi Riyadh, akhirnya si mata masi melek deh. Ya sudah dari pada bengong, mending mulai deh mengetikan huruf demi huruf. Heuu...

Perjalanan ke Riyadh memang penuh cerita. Hehe... Serasa mimpi... Beberapa kali rejected bikin kami udah pasrah ajah. Memasrahkan segenap keputusan terbaik kepada-Nya. Seperti riak gelombang yang pasang surut. Sesaat begitu berharap dan sesaat kemudian kembali terhempas dengan berbagai kendala.
Mendarat di Riyadh ini terasa sangat wonderful... Ya, banyak hal yang akhirnya membuat kami mengerti bahwa memang lebih berasa manis sesuatu yang dicapai dengan perjuangan berat dari pada perjuangan yang biasa-biasa saja. Jika biasa saja, maka pencapaiannya mungkin terasa hambar dan akan memberikan rasa yang juga biasa biasa saja. Setidaknya, tidak se-excited yang disarakan ketika penuh perjuangan dalam pencapaiannya.

Ketika Chek-in di Bandara sempat deg-deg-an, soalnya petugas Chek-in dan petugas Imigrasi di Bandara heran banget melihat Visa aku yang tertulis "Not Permitted to Work." Biasanya kan TKI ke Arab buat kerja dan sepertinya aku dikira TKI gitu dengan Visa tertulis "Tidak Diijinkan Bekerja". Jadinya mereka bertanya-tanya, "Ngapain kamu ke Riyadh." Hehe. Setelah menjelaskan panjang dan lebar akhirnya aku diberikan boarding pass dan cap imigrasi. Alhamdulillaah...

Perjalanan menuju Riyadh di tempuh dalam waktu 14 jam lebih 50 menit. Nyaris 15 jam. Dari Soetta, pesawat bertolak terlebih dahulu ke Hongkong. Perjalanan menuju Hongkong ditempuh dalam waktu 4 jam 50 menit. Sebenarnya cuma 4 jam 10 menit, tapi karena terlambat terbang (arus lalu lintas di Soetta padat) dan landing di Bandara Internasional Hongkong juga padat akhirnya muter-muter dulu di udara sampai akhirnya landing dengan selamat. Alhamdulillaah...

Read More

Benda Hijau yang Menakjubkan

Alhamdulillaah tsumma alhamdulillaah...
Harapan yang ditunggu-tunggu pun akhirnya menjumpai nyatanya.
Rasanya menakjubkan sekali... melihat buku kecil hijau ini setelah melewati 8 bulan pengurusan.
Fiuufft 8 bulan! Bukan waktu yang singkat utk visa yang cuma 1 lembar.

Perjuangannya cukup berbelit-belit. Mulai dari change iqama, translet ini dan itu, cap dan stempel ini dan itu. Kalau dirangkai jadi sebuah cerita bakalan jadi kronologis yang puanjaaaang. Sungguh dalam 8 bulan ini, Harapan muncul, timbul tenggelam, di mana hari ini begitu berharap dan besoknya harapan tenggelam dan terpatahkan oleh rejection.

Hari ini, Melihat benda hijau bernama passport yang di dalamnya terdapat: VISA, ini rasanya sangat menakjubkan. Alhamdulillaah tsumma Alhamdulillaah... Terima kasih Allah...

Riyadh... I'm coming soon... in syaa Allah..

Rasanya udah ga sabaran pengen segera ketemu sang belahan jiwa.
See you soon Sayang, in syaa Allah...

Read More

Hari Ini Setahun yang Lalu

Tepat hari ini, setahun yang lalu di salah satu sudut Kota Depok, aku dipertemukan-Nya dengan seseorang. Rasanya, aku tidak pernah segugup itu sebelumnya. Tidak mampu mengangkat wajah dan lebih banyak menekuri ubin-ubin berwarna putih. Hanya hitungan detik saja bayangan seseorang itu terekam oleh retinaku... Setelahnya, kembali aku tatapi ubin seolah aku tengah menghitung benda persegi itu.

Satu tahun berlalu setelahnya... Begitu kencang waktu berlari. Dan aku tetap dengan doa yang sama; semoga sakinah mawaddah dan rahmah senantiasa hadir menaungi kami. Semoga dalam keberkahan-Nya selalu. Dan semoga kami kembali dipertemukan-Nya di tempat terbaik-Nya yang penuh kenikmatan
Dan itulah harapan tertinggi kami.

Read More

Istiqdam : Alhamdulillaah Tsumma Alhamdulillaah

Setelah sekian lama kami menunggu si istiqdam dengan beberapa urusan yang amat sangat puanjaaang (sejak Mai 2013 lalu) dan persyaratan yang ga sedikit serta beberapa kali rejection, alhamdulillaah tepat hari ini, 5 Desember 2013 jam 17.00 (jam 13.00 waktu Riyadh) aku menerima kabar gembira dari suami dari daerah Dammam, Saudi, bahwasanya istiqdamnya approved! Alhamdulillaah tsumma alhamdulillaah... Alhamdulillaah tsumma alhamdulillaah.... Alhamdulillaah tsumma alhamdulillaah.... Rasanya bahagiaaaaaa sekaliiii... Sungguh ingin segera berjumpa dengan suami tercinta...

Semenjak tadi pagi, aku sungguh-sungguh sangat ingin mendengar berita itu. Seperti yang biasanya suamiku tercinta bilang, yang aku simpan baik-baik dalam hatiku, "hope for the best, prepare for the worst." Aku hari ini pun demikian. Setelah beberapa kali rejection, aku belajar untuk tidak terlalu menggantungkan harapan setinggi langit asa yang membuatku bisa saja jatuh ketika sang asa tak menjumpai wujud nyatanya. Aku belajar bagaimana berharap, bahwa nanti kemudian apapun hasilnya, pastilah itu ketetapan terbaik dari-Nya... Untuk kami, keluarga kecil kami...

Menerima kenyataan hari ini adalah satu bagian ketetapan yang indah dari-Nya dari segenap ketetapan-ketetapan indah lainnya yang Dia hadirkan wujun nyatanya dalam kehidupan ini. Semoga Allah memudahkan dan melancarkan segala urusan selanjutnya, memudahkan perjalananku nantinya in syaa Allah, dan mengumpulkan kami dalam keberkahan-Nya. Aamiin... Allahumma aamiin yaa Rabb...

Really miss him so much... ;)
Read More

PASTI! Pasti Akan Ada Hikmahnya...

Ini tentang istiqdam. :'(

PASTI!
Akan ada hikmah atas segala sesuatu, seburuk apapun kita memandangnya saat ini...
Air mata boleh tumpah, tapi sama sekali tidak boleh menyurutkan semangat kita.
Kadang, kita terombang ambing antara harapan yang melambung dan ngilunya terhempas ketika lukisan asa yang kita coretkan di langit harapan belum menjumpai wujud nyatanya.
Begitulah.
Tapi, sekali lagi, PASTI akan ada hikmahnya.
Mungkin hari ini kita belum mengetahuinya. Tapi esok, entah lusa, entah beberapa dekade lagi, akan teranglah, mengapa Allah memilihkan jalan begini, bukan seperti ingin-ingin kita belaka.

Read More

Kadang Rindu Tak Mengenal Logika

Kadang rindu tak mengenal logika.
Ya begitulah.

Hari ini,sepertinya rindu tidak sedang berkompromi.
Aku tahu, 300 rupiah tidaklah cukup menggunakan call antar negara.
Aku tak perlu berpikir dua kali untuk segera isi ulang pulsa (sesuatu yang dulu sering membuatku berpikir panjang), lalu memencet kode +966 dan 9 digit angka selanjutnya yang tentu saja sudah sangat hafal bahkan aku bisa mengetikkan deretan nomor itu tanpa melihat keypad handphone saking akrabnya aku dengan deretan angka tersebut. 

Ya, rindu itu kadang tak mengenal logika.
Tak peduli seberapapun harga yang harus dibayarkan agar gelombang suara yang terpisah ribuan mil jarak itu terdengar dekat. Sangat dekat. Yang aku tahu, penggunaan pulsaku saat ini (dalam 7 bulan terakhir), meningkat sampai 5x lipat, tapi aku benar-benar tidak peduli. Sungguh tak peduli. Aku hanya peduli, bahwa aku sedang sangat ingin mendengarkan kabar seseorang di belahan bumi sana, terpisah daratan dan samudra. Itu saja.
Aku merindukan suara teduh dan menenangkan milik seseorang. Sungguh, aku benar-benar sedang ingin mendengarkannya. Apalagi, di saat tidak bisa menggunakan fasilitas skype.

Kadang rindu tak mengenal logika.
Ya begitulah yang kurasa.
Read More

MEMANCING IKAN : a spesial moment

Momen memancing ikan kali ini menjadi momen indah yang sangat tak terlupakan...
Kita sudah merencanakannya sejak kemarinnya, tapi baru tertunaikan sore hari Jum'at minggu lalu. Berbekal alat pancing yang 'dirakit' seadanya (sebab mengalami kerusakan sebelumnya, kita--yang tentu saja sama sekali tidak ahli sama sekali dalam dunia per-pancing-an--mencoba benerinnya sendiri dan ternyata 'perakitan'nya benar-benar seadanya dan tidak memenuhi standar alat pancing yang seharusnya --ini pe-lebay-an tingkat tinggi, heu..heu...heuu...--).

Read More