Showing posts with label #oDoP. Show all posts
Showing posts with label #oDoP. Show all posts

Kota yang Mempertemukan Kami

Ternyata program #oDoP tidak terealisasi. Huhu...
Ini bukan karena aku tidak ingin mencorat-coret blog ini. Ada beberapa sebab sebenarnya. Semisal, di rumah sakit yang tidak memungkinkan untuk online, sinyal yang syusaaah, serta I'm on vacaition selama 3 hari tanpa laptop. Hihi, kalo mau beralasan sih, buanyaaak alasannya. Tapi yasudahlah... Aku tidak ingin mengemukakan alasan apapun lagi. Hehe...


Dua hari yang lalu, kembali aku menghirup udara sejuk Padangpanjang. Kesegaran yang dihadirkan oleh kota ini bukan hanya sebab suhu yang memang yang lebih dingin dan curah hujan yang lebih tinggi dibanding kampungku atau Solok; kota ibuku, atau Limah Puluh Kota; tempat ayahku berdomisili, ataupun kota Padang yang kami kunjungi satu hari sebelumnya. Tapi ada sensasi kesegaran yang berbeda.
Read More

Kadang Rindu Tak Mengenal Logika

Kadang rindu tak mengenal logika.
Ya begitulah.

Hari ini,sepertinya rindu tidak sedang berkompromi.
Aku tahu, 300 rupiah tidaklah cukup menggunakan call antar negara.
Aku tak perlu berpikir dua kali untuk segera isi ulang pulsa (sesuatu yang dulu sering membuatku berpikir panjang), lalu memencet kode +966 dan 9 digit angka selanjutnya yang tentu saja sudah sangat hafal bahkan aku bisa mengetikkan deretan nomor itu tanpa melihat keypad handphone saking akrabnya aku dengan deretan angka tersebut. 

Ya, rindu itu kadang tak mengenal logika.
Tak peduli seberapapun harga yang harus dibayarkan agar gelombang suara yang terpisah ribuan mil jarak itu terdengar dekat. Sangat dekat. Yang aku tahu, penggunaan pulsaku saat ini (dalam 7 bulan terakhir), meningkat sampai 5x lipat, tapi aku benar-benar tidak peduli. Sungguh tak peduli. Aku hanya peduli, bahwa aku sedang sangat ingin mendengarkan kabar seseorang di belahan bumi sana, terpisah daratan dan samudra. Itu saja.
Aku merindukan suara teduh dan menenangkan milik seseorang. Sungguh, aku benar-benar sedang ingin mendengarkannya. Apalagi, di saat tidak bisa menggunakan fasilitas skype.

Kadang rindu tak mengenal logika.
Ya begitulah yang kurasa.
Read More

Anak Didik Khadimat

Bloggie, aye 'bayar di muka' yaaah, program #oDoP kali ini. Maksudnya, hari ini aye posting dua, besok absen. Soalnya mau seharian di rumah sakit, in syaa Allah. Ga efektip bawa lepi sambil jagain anak yang sakit. Ga ada tempat naro' lepi yang strategis, hehe :D

Ini kisah tentang seorang anak yang diasuh oleh 'khadimat/pembantu'. Ini kisah nyata yang aku temui di lapangan. Sebut saja Bunga, anak usia sekolah dasar yang sehari-hari diasuh oleh pembantu. Sementara sang orang tua super duperr sibuknyaa. Sampai-sampai lupa menyanyakan sekedar PR anak atau gimana kabar anaknya hari ini.
Read More

Pengen Jadi Emak-Emak

Hari ini program #oDoP nya agak sedikit tersendat. Sebab aku lagi di rumah sakit, menemani si kakak yang harus dirawat (jadinya akses ke lepi agak susyaah). Sepertinya thypoid fever. Lagi wabah kayaknya. Meski tersendat, tapi setidaknya nda macet. Ya kan, Bloggie? ^__^

Hari ini, pagi-pagi, pas di IGD aku bertemu temanku, *temensatulingker* yang mau lahiran. Ma syaa Allah. Deg-degan banget dia kali yah? Sekaligus campur bahagia. Ditemani suaminya, mereka pindah ke ruang bersalin. Aku dan kakak beserta ayah kakak dan satu anggota kluarga lainnya dipindah ke ruang rawat anak. Sekitar siang ba'da dzuhur, aku mampir ke ruang bersalin. Ternyata temanku itu masih bukaan lima. Wajahnya tampak pucat sekali. Sesekali ia mengerang kesakitan. Deuuhh, pasti sakit bangeeeet yaah?
*tapi serius bikin aku mupeng sangat :D

Melahirkan.
Siapa saja yang pernah merasakannya, pasti tidak ada yang bilang "ga sakit." Seorang ibu, akan mempertaruhkan apapun bahkan nyawanya demi sang buah hati tercinta. Alhamdulillaah jika kehamilan dan persalinan berjalan lancar. Ada yang mesti bedrest total gara-gara mual muntah berat, hiperemesis gravidarum. Pastilah itu suatu hal yang sangat tidak nyaman. Aku salah satu contohnya, sangat parno dengan yang namanya emesis. Apalagi sampai hiperemesis. Bisa turun 10 kg berat badan dan melenyapkan segenap nafsu makan. Di ujung-ujung, mendekati hari lahir, ga sedikit juga yang disertai dengan diabetic gestasional, pre-ekslampsi dan ekslampsi, bleeding, yang mengancam nyawa si ibu.

Read More

Sedikit Demi Sedikit

Hari ini aku agak sedikit kaget ketika mendapati bak mandi belakang tiba-tiba cuma bersisa sedikit saja. Padahal, baru kemarin aku mengisi full bak tersebut setelah dikuras. Seingatku aku hanya menggunakan air di bak itu satu kali, tapi mengapa airnya tinggal sedikit? Apa baknya bocor?

Setalah dilakukan pemeriksaan dengan seteliti-telitinya, ternyata kesalahannya ada pada penutup saluran bak yang tidak tertutup rapat. Akibatnya, setetes demi setetes airnya keluar melalui saluran yang tidak tertutup rapat tersebut dan aku tidak menyadarinya.

Dari bak mandi bocor ini aku menyadari satu hal, bahwa kehilangan sedikit demi sedikit sering kali tidak kita sadari. Apa reaksi kita ketika kehilangan uang satu juta rupiah? Mungki ada berbagai macam reaksi, tapi yang jelas akan ada satu rasa yang disebut dengan kehilangan. Setidaknya kehilangan itu akan sangat berasa.
Namun, apakah kita menyadari jika uang kita hilang seratus demi seratus rupiah? Mungkin tidak berasa. Bahkan jika kehilangan itu berlangsung selama 28 tahun. Selama 28 tahun kehilangan 100 rupiah setiap hari akan sama jumlahnya dengan kehilangan 1 juta dalam sekejap. Tapi, rasanya pasti beda!

Begitulah...
Kadang kelalaian kita (aku terutama) yang sedikit demi sedikit akan membuat kita tidak menyadari bahwa sedikit demi sedikit pula kita menjauh dari-Nya....
Astaghfirullaah...
Ah sungguh, sungguh tak ingin jauh dari-Nya...
Read More

Cerpen-Cerpen Jahiliyah

Okay, ini sebentuk komitmenku terhadap program #oDoP hehehe... Semoga istiqomah yaa Fathel. Soalnya kadang di awal-awal semangat,di  ujung-ujung ga terlaksana...

Let's talk about Short Story or Indonesian is called it Cerpen. Hehe....
Sejak kelas 6 SD aku adalah 'penggila' cerpen, all about cerpen baik itu membaca maupun menulisnya. Cerpen pertama yang kutulis ketika kelas 6 SD. Dan puncak-puncak kepenulisan cerpenku itu adalah pas setingkat SMP kelas 2 dan 3. Saking tergila-gilanya (koq gila yah? heuu...) sampai-sampai fisika dan matematika ta' cerpenin jugaaa...hihihi :D
Hehe, masa SMP adalah masa 'kejayaan'ku di mana aku sedang asyik-asyiknya meng-eksplor hal-hal baru, ikut lomba ini dan itu, gabung di OSIS, merasakan apa itu yang disebut juara kelas. Dan kusadari sepenuhnya, semakin beranjak besar/tua, segalanya semakin merosot dengan kemerosotan yang tajjaaam... hiks. Ambil contoh semasa SMA (yang jarak waktunya dekeet sama masa SMP), aku ga pernah juara kelas (udah sepuluh besar ajah masih untung, alhamdulillaah), ga keutus lomba ini dan itu, ga gabung di OSIS. Pokonya 180 derjat banget bedanya ama jaman-jaman SMP. Pas jaman kuliah apelagii. IPK pas-pasan lapeh makan, buanyaaak membawa pulang rantai atom Carbon (hehe, baca nilai C), dengan berbagai variasi, yaitu C-, C dan C+) haha... Hal parah lainnya, tidak seperti jaman-jaman SMP, aku tidak pernah lagi menulis cerpen (terakhir aku menulis cerpen kalau tidak salah tahun 2009). Makin parraaaahhh... hiks.

Read More